Chapter 4
Disclaimer by : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruHina
.
.
.
Perjalanan yang ditempuh menuju pantai terlihat sangat tidak membosankan. Lihat saja para pegawai Hyuga Corp sekarang nampak menikmati perjalanannya dengan iringan musik serta goyangan ringan yang mereka ciptakan. Bus yang semula damai dan tenang berubah menjadi kacau balau dengan tingkah laku mereka. Suara gitar, nyanyian yang tak seberapa beradu menjadi satu suara musik yang terdengar 'membingungkan'? Sang sopir hanya tersenyum melihat tingkah konyol yang dilakukan penumpangnya itu.
"Mereka tidak jauh beda seperti bocah ingusan" gumamnya seraya menggeleng-gelengkan kepala tersenyum melihat mereka lewat kaca yang menggantung diatasnya.
Sedangkan dikendaraan lain, Shizuka hanya heboh sendiri mendengarkan lantunan musik yang dimainkan dalam mobil Hinata. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepala melihat pegawainya yang kelewatan over itu. Lihat saja dia bak diva yang tengah menyanyi dalam konser besar miliknya sendiri. Tangan mengepal seolah itu mic untuk ia pakai menyanyi dan berteriak-teriak tidak jelas "Apa kau setiap hari seperti ini? Aku pikir kau sangat menjaga keanggunanmu" ungkap Hinata mengalihkan perhatian Shizuka.
Shizukapun tersadar dari tingkah konyolnya dan menoleh "e...eh hahaha gomen ne Hinata. Aku kalau diluar kantor memang seperti ini. Gomen" tunduk Shizuka menahan malu.
"Tidak apa-apa lanjutkan saja. Aku senang melihat tingkah konyolmu itu" Hinatapun tersenyum mengejek dan kembali berkonsentrasi menyetir. Wanita itu tidak tahu bagaimana tingkah konyol pegawainya yang lain dibelakang sana.
.
Perjalanan yang ditempuh hampir 5 jam itu akhirnya sampai ditempat tujuan. Hari mulai beranjak sore, jam sudah menunjukan pukul 16:00. Pemandangan sekitar sudah mulai berubah. Setiap mata memandang hanya satu objek yang menjadi pusat keindahan.
Aroma laut mulai tercium, suara gemuruh ombak terdengar begitu nyata, pohon kelapa menjulang tinggi, pasir putih terhampar luas menambah indah laut itu. Namun tempat itu masih terlihat sepi oleh pengunjung. Hanya ada beberapa wisatawan yang berada disana. Tentu saja, itu disebabkan pantai ini belum banyak orang yang mengetahuinya.
"Kita parkir disana saja Hinata, kebetulan hotelnya dekat dengan pantai." Ucap Shizuka menunjuk sebuah hotel mewah disana.
"Euumm... bagus sekali" jawab Hinata seraya memarkirkan mobilnya, disusul oleh 2 bus dibelakangnya.
Semua keluar dari bus, berkumpul kembali untuk memesan beberapa kamar hotel. Semua biaya ditanggung oleh Perusahaan dan tugas itu diberikan oleh Hinata kepada bendahara perusahaan yaitu Sakura. Tidak hanya bekerja dibagian pemasaran Sakura juga tentunya menjadi seorang bendahara perusahaan yang sudah sangat dipercaya oleh Hinata untuk menggantikan bendahara yang dulu.
"Sakura kau bisa mengurus semuanyakan?" Tanya Hinata menghampiri Sakura.
"Ha'i serahkan saja semuanya pada saya" ucapnya. Wanita itupun berjalan mendatangi meja resepsionis untuk memesan beberapa kamar hotel.
Beberapa kunci kamar sudah ada ditangannya, semua pegawai lain mengantri untuk menerima satu kunci untuk 4 orang.
Kunci sudah dibagikan dan semuanya mulai memasuki kamar masing-masing. Namun berbeda dengan Hinata disaat pegawainya masuk kekamar bersama teman-temannya hanya dialah yang menempati kamar seorang diri. Dan tentu saja ia memesan kamar yang berbeda dari pegawai-pegawainya yang lain, bagaimanapun juga walaupun mereka seumuran tetapi mereka adalah atasan dan bawahan. Semua pegawai wanita merasa canggung jika bersama Hinata, kecuali pegawainya yang satu ini...
Pukk! "Hinataa" ujarnya menepuk bahu Hinata pelan.
Wanita itupun menoleh dengan muka datarnya "apa?"
"Kamu satu kamar dengan siapa?" Tanyanya membuat Hinata sedikit terkejut "kalau tidak ada denganku saja"
Bugh! "Jangan berharap. BAKAAAA" ujar Hinata setelah memukul kepala kuning itu dengan tasnya dan berlalu dari sana dengan menarik kopernya.
Naruto menatap pungguh kecil itu dengan senyuman terpampang manis diwajah tannya.
.
Matahari terbenam adalah salah satu pemandangan terindah yang bisa terlihat jelas dipantai.
Tidak banyak orang yang menikmatai keindahannya dipantai ini, hanya sebagian kecil orang yang menyaksikan kecantikannya. Begitupun dengan wisatawan yang baru datang beberapa jam yang lalu. Semua pegawai Hyuga Corp tengah menyaksikan matahari terbenam itu bersama-sama. Tapi hanya ada satu wanita yang bisa melihat itu semua seorang diri tanpa ada siapapun disampingnya. Ya di adalah Hyuga Hinata si pemimpin perusahaan. Hinata merasa jika ia lebih nyaman sendiri daripada ada seseorang bersamanya. Namun jauh dilubuk hatinya yang paling dalam ia merindukan senyuman seorang sahabat. Objek didepannya menampilkan 2 orang sahabat yang tengah tersenyum hangat satu sama lain dan itu sangat memuakan bagi Hinata.
Pukk! Seseorang membuyarkan lamunannya. Tatapannyapun ia alihkan pada orang yang baru saja mendudukan dirinya disampingnya "hahh~ kau lagi? Mau apa lagi sekarang?" Tanya Hinata ketus.
"Haha kau tidak menginginkan kehadiranku ya?" Katanya kemudian.
"Itu kau tahu sendiri jadi ngapain masih disini?"
"Sudahlah Hinata, aku tidak ingin bercekcok denganmu. Aku hanya ingin bersamamu, menemanimu saja"
Tanpa mengalihkan pandangannya Hinatapun hanya membalas ucapan sekertarisnya itu hanya dengan sebuah gumaman kecil, entah itu terdengar atau tidak.
Suasana kembali sepi setelah perbincangan singkat itu. Keduanya terlihat menikmati pemandangan indah didepannya. Sang surya perlahan-lahan mulai turun, bersembunyi dibalik peraduannya untuk digantikan oleh sang raja malam.
Semilir angin menerbangkan rambut panjang yang terurai itu secara perlahan. Seseorang disampingnya hanya terpana akan ciptaan Tuhan yang berada disampingnya. Seolah pemandangan matahari terbenam didepannya tidak menarik sama sekali. Hanya dialah yang sudah mencuri perhatiannya
'indah. Kau sangat cantik Hinata' batinnya terus saja menatap sang atasan yang tak menyadari bahwa Naruto menatapnya.
Semua pandangan pegawai lain tentunya langsung tertuju pada mereka saat salah satu dari mereka memberitahukannya. Sorot mata terlihat penuh dengan kecurigaan. Benarkah mereka hanya memiliki hubungan atasan dan bawahan saja? Ataukah ada hubungan spesial diantara mereka? Entahlah yang jelas ekspetasi mereka mulai menerka-nerka pada dua objek didepannya.
.
"Kaa-san" gumam seseorang disamping Hinata membuat wanita itu menoleh padanya.
Merasa diperhatikan Narutopun membalas tatapan iris lavender disampingnya "aku rindu Kaa-san" ujarnya lirih "kau tahu setiap kali aku melihat langit disore hari bayangan sosok Kaa-san selalu hinggap dalam pikiranku."
Mata Hinata terbelalak saat melihat raut muka kesedihan disana 'ternyata dia bisa sedih juga. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman melihat raut muka itu' batinnya tanpa mengalihkan pandangannya. "Akupun merasakan apa yang kau rasakan. Kaa-sanku juga sudah lama meninggal, itu sebabnya aku tidak ingin mengecewakan Tou-san. Kita sekarang harus bangkit jangan pernah meratapi kesedihan" ucapnya membuat perasaan Naruto sedikit demi sedikit merasa lega dibuatnya.
"Ha'i kau benar Hinata. Aku tidak akan meratapinya lagi"
'Maka dari itu jadilah kekasihku Hinata' batinnya mulai ngawur.
.
Makan malam tergelar begitu mewah. Berbagai hidangan tersaji rapih disana. Mereka makan begitu lahap setelah menghabiskan waktu sore bermain-main dipantai, namun masih saja dua obejak itu mengganggu mereka semua menjadikan sebuah perbincangan menarik diantara mereka. Lihat saja mereka berdua makan dengan senyuman diwajah keduanya.
"Eehhh aku sangat yakin jika mereka mempunyai sebuah hubungan" ujar Shion memulai kegosipan mereka.
"Ya akupun sangat yakin denganmu Shion" jawab Akiko sahabatnya.
Tanpa mereka berdua sadari seorang wanita berambut permen kapas mendengar percakapan itu dan langsung menatap dua objek itu disampingnya. Iapun tersenyum merasakan ketenangan 'akhirnya kau mengakuinya juga. Bagus Naruto' batinnya dan kembali memakan makanannya.
"Sakura, kaukan dekat dengan Naruto apakah dia tidak bercerita padamu soal hubungan mereka?" Bisik salah satu sahabatnya yang duduk tepat disampingnya seraya menunjuk objek yang menjadi perbincangan mereka.
Sakura menatap wanita disampingnya itu "tidak, dia tidak bercerita apapun. Memangnya kau sangat penasaran ya? Kalau kau penasaran tanyakan langsung saja pada dia"
Wanita berambut blonde yang selalu diikat poni taily itu mengerucutkan bibirnya "mana bisa begitu. Bisa-bisa popularitasku menjadi turun saat mengintrogasi mereka. Masa seorang model menjadi ratu gosip"
"Hahaha kau memang ratu gosip I-n-o-s-a-n"
"Aaakkkhhh kau menyebalkan Sakuraaaa"
"Heii kalian berdua diamlah kita sedang makan" ujar Shikamaru yang berda didepannya.
Kedua wanita itupun mengangguk seraya tersenyum merasa malu.
Sedangkan disisi lain kedua orang yang menjadi perbincangan gelap dibelakangnya tak menyadari sedikitpun bahwa mereka tengah menjadi bahan pembicaraan. Keduanya nampak menikmati makanan yang tersaji "bagus makanmu banyak Hinata" puji Naruto saat piring disampingnya sudah kosong.
"Diam kau. Kau seperti Tou-sanku saja. Aku dualan" ucapnya dan berdiri dari sana.
"Aku akan mengantarkanmu"
"Tidak usah kau makan saja bersama yang lain" ujar Hinata dengan nada suara yang cukup tinggi membuat mereka semua menatapnya.
"A...aahhh gomen" kaku Hinata "saya duluan ya minna. Silahkan menikmati makan malamnya" setelah mengucapkan itu Hinatapun melangkah pergi darisana "Hinata tungguuuu" lanjut Naruto seraya berlari mengejar Hinata.
"Aahhhh~ pasangan yang romantis" ujar Tenten melihat kepergian mereka dengan menangkup kedua pipinya membayangkan dirinya yang juga bisa seperti itu.
.
Hiashi nampak tengah menyibukan diri diruangannya setelah kepergian Hinata. Ia sedang membersihkan ruang kerja yang sudah hampir 20 tahun ia pakai untuk bekerja disana. Namun tatapan lavendernya menangkap sebuah berkas usang yang tak pernah ia ingat sebelumnya.
Tangan itu terulur untuk membawanya, meniup debu yang menempel disekitarnya membuat pria paruh baya itu terbatuk. Lavendernya yang mulai berwarna pudar terbelalak saat tangan itu membawa isi didalamnya. Menampilkan sebuah potret didalamnya, seseorang yang sangat ia rindukan. Istrinya yang sudah lama meninggal serta kedua sahabatnya yang juga sudah lama meninggalkannya. Semua kejadian itu terjadi begitu cepat. Tak pernah ia duga dan tak pernah ia sangka. Apakah anak itu sudah mengetahui motif kejadian ini? Jika sudah mengapa ia masih bersikap biasa saja dan nampak ceria? "Aku yakin Naruto masih belum mengetahuinya" gumamnya kembali mengembalikan potret tersebut kedalam map. Ingatan kejadian itu kembali menghantuinya. Kehilangan istri beserta kedua sahabatnya yang merelakan nyawa mereka melayang demi ia selamat. Seseorang yang sudah mengahancurkan kebahagiaan 2 keluarga sekaligus. Keserakahannya yang membuat semua lenyap begitu saja. Dan menjadikan perbedaan diantara anak-anak mereka.
"Aku harap rahasia ini akan selalu aman. Untuk kebaikan mereka berdua" lanjutnya lagi dan kembali menyimpan map itu ditempatnya.
.
Langit malam dilautan lepas memang sangatlah berbeda. Begitu indah, menyejukan setiap hati yang memandangnya. Seolah beban hidup hilang begitu saja. Memang benar liburan adalah cara yang terbaik untuk menghilangkan stres yang selama ini menumpuk karna berbagai pekerjaan yang melanda.
"Ternyata kamu belum tidur?" Tanya Naruto pada seseorang yang berdiri dibalkon hotel.
"Kau juga sama. Ngapain kesini?" Jawab Hinata yang berada disana.
"Aku belum mengantuk"
Hening kembali melanda keduanya. Menatap langit malam yang bertabur bintang bersama. Rasa nyaman kembali memenuhi hati Naruto setiap ia berada disisi atasannya itu. Perasaan nyaman itu terus berkembang menjadi rasa suka bahkan berkembang lagi menjadi rasa... sayang dan ingin memiliki. Namun apakah Naruto memiliki keberanian untuk menyatakannya? Ataukah ia akan memendamnya tanpa ada kepastian?
"Ano... Hinata apakah kamu sudah memiliki seseorang yang kamu sukai?" Ucap Naruto yang entah kenapa pertanyaan itulah yang ia tanyakan. Tersentak, Hinata terkaget dengan pertanyaan yang barusan ditanyakan oleh Naruto.
"Kenapa kau tiba-tiba saja menanyakan hal itu?" Tanya Hinata sinis. Ia tidak ingin privasinya harus diketahui oleh orang lain.
"Aku ingin tahu saja"
"Itu tidak penting. Jangan pernah tanyakan hal itu lagi padaku." Jawab Hinata seraya menghentakan kakinya dan berlalu dari sana.
Sepeninggalan Hinata, Naruto menatap langit malam yang semakin gelap. Merasakan kesepian setelah Hinata meninggalkannya "Hahh~ apa aku salah menyukainya ya?" Gumamnya. Dan tiba-tiba... pukk! Tepukan lembut mendarat dibahunya. Sapphirenya menatap seseorang yang berdiri disampingnya "a..aahhh Sakura-chan kau mengagetkanku saja" ucapnya, ternyata itu adalah Sakura.
"Kau habis bersama Hinata ya?" Dan anggukan diberikan oleh Naruto pada wanita musim semi itu.
"Ucapanku benarkan?" Pertanyaan itu sukses membuat Naruto menatapnya. Seolah mengetahui hal apa yang Sakura maksudkan iapun langsung menjawabnya "ya kau benar. Aku terlalu bodoh menyadarinya. Ternyata aku benar-benar mencintainya"
"Bagus... ingat semua pegawai disini mendukungmu. Kau harus berjuang mendapatkannya"
"Eeuummm... aku akan berusaha"
Keduanya kembali menatap langit malam ditemani dengan desiran ombak yang tenang serta angin berhembus begitu lembut.
.
.
.
Langit gelap berganti kembali menjadi langit cerah hari ini. Matahari bersinar terang diatas sana, membuat mereka terlihat bersemangat bermain air laut sepuasnya. Lihat saja, gelak tawa serta cipratan demi ciptaran air mereka layangkan bak anak kecil. Namun itulah kebahagiaan yang mereka rasakan. Para pegawai Hyuga Corp entah itu pria ataupun wanita bermain satu sama lain, ya jika memang mereka tidak berada didalam kantor mereka adalah teman baik yang akrab satu sama lain.
Namun itu bagi mereka, tapi bagaimana dengan atasan mereka? Hinata hanya bisa menonton mereka dibalik kacamata hitamnya. Duduk diatas pasir putih sendirian dengan terik matahari yang terasa bergantung tepat diatas kepalanya. Ada sedikit iri yang melanda melihat semua pegawainya bersuka ria itu tanpanya.
Pukk! "Hinata~" tepuk seseorang dengan suara lembut dan duduk disampingnya.
Hinatapun menoleh mendapati wanita yang cukup akrab dengannya dimasa sekolah ataupun sekarang "aahhh Sakura? Ada apa?"
Sakura, wanita itu tersenyum padanya "tidak aku hanya ingin duduk bersamamu saja. Tidak salahkan jika teman lama ingin bersama?"
Mata Hinata terbelalak mendengarnya, seolah ucapan Sakura barusan terasa sedikit menyindirnya "o..ohhh tidak apa-apa"
"Haha tidak usah seformal itu. Ohh ya kenapa kamu tidak bergabung dengan mereka?" Tunjuk Sakura pada segerombolan orang yang berada dipantai yang tengah bermain air.
"Bermain air?" Sakura mengangguk "jangan konyol. Aku bukan seperti mereka yang seperti anak-anak"
"Meskipun mereka terlihat seperti itu, tetapi itu sangat menyenangkan loh"
Hinata terdiam tidak lagi membalas ucapan Sakura barusan.
Beberapa menit suasana menyepi. Sakura tidak lagi mengajaknya berbicara, walaupun tujuannya kesini adalah ingin menanyakan sesuatu pada teman dan atasannya itu. Dengan yakin Sakurapun memberanikan kembali bicara.
"Hinata?"
"Hhmm?"
"Apakah kamu sudah mempunyai kekasih?"
Pertanyaan itu lagi "kenapa sih tidak kamu tidak si baka itu menyanyakan hal privat padaku. Sebenarnya ada apa?"
Mendengar nada Hinata yang mulai meninggi Sakurapun menelan ludahnya tak percaya "aku hanya ingin tahu saja. Apakah kamu tidak lelah setiap saat bekerja dan terus bekerja?"
"Aku tidak butuh cinta. Semua sudah aku dapatkan. Aku tidak ingin mengecewakan Tou-san, aku akan membangun Hyuga Corp sampai benar-benar berjaya"
'Kau sudah gila kerja Hinata. Kau bilang tidak butuh cinta? Ckckck menggelikan' batin Sakura menatap Hinata begitu intens "ahahah ya sudahlah jika itu memang keputusanmu"
"WWWWOOOOOIIIIIII SAKURAA~ HINATAAA~ AYOO KESINI" teriak seseorang tak jauh dari depan mereka.
"Si baka itu ya aneh sekali dia. Memang aku mau bergabung bersamanya. Cciihh" delik Hinata saat melihat lambaian sekertarisnya.
"Hahah dia memang baka tapi diaa... adalah orang baik... AYOOOO HINATA kita ikut bergabung bersama mereka" Sakurapun menarik Hinata untuk kelaut ikut bergabung bersama mereka.
"A...aaahhhh Sakura aku tidak mau" berontak Hinata, namun kekuatan wanita itu yang menarik tangannya tidak bisa ia tahan. Sampai Hinatapun bergabung bersama mereka.
"Wwaahhhh Hyuga-sama ada disini. Ini bagus untuk hubungan kita sebagai atasan dan bawahan. Ayooo kita bermain bersama" teriak Lee sangat bersemangat dan kembali bermain air bersama yang lainnya.
Naruto tersenyum penuh kejahilan saat melihat Hinata sudah tiba didepannya. Hinata menggerakan bola mata kesisinya melihat wajah jahil diwajah Naruto "kenapa kau baka?" Tanya Hinata.
"Tidakkk aku hanya ingin melakukan... iniii" bbbbyyyuuurrrrr, air laut dicipratkan pada Hinata membuat rambut wanita itu lepek dan basah. "Kaauuu yaa... hhmmmm rasakan ini balasanku" bbyyuuurrrr... bbbyyuurrr bbbyyuurrr. Cipratan demi cipratan air sukses Hinata layangkan pada Naruto "ahahahah terimalah balasanku. Baka"
Melihat Naruto dan Hinata tengah bermain air pegawai lainnyapun ikut bermain bersama mereka. Dimulai dari Sakura yang juga melayangkan cipratan air kepada Hinata "oohhh kau mau melawanku juga ya?" Tanya Hinata dan langsung membalas cipratan air tadi pada Sakura "kkkyyaaa hentikan itu Hinata"
"Hahaha tidak kusangka kau lemah Sakura"
"Hahah sepertinya asyikkk..." bbbyyuurrr kini Ino yang menyerang mereka. Dan pada akhirnya semua ikutan menyipratkan air kesembarang orang. Gelak tawa menggema disana. Mereka semua terlihat bahagia seolah tidak ada yang namanya atasan dan bawahan, yang ada hanyalah teman baik.
Tiba-tiba saja sebuah ide melintas dikepala Sakura. Wanita itupun memberikan sinyal pada rekan-rekannya untuk melakukan hal itu. Seolah mengerti merekapun menjalankan instruksi dari Sakura.
"Ayooo kawan-kawan" teriak Sakura dannn bbbyyuuurrrrr! Cipratan demi cipratan air dilayangkan oleh mereka pada Hinata dan Naruto. Keduanya tidak bisa memberontak karna lawan mereka sangatlah banyak. Akhirnya Hinata dan Naruto hanya bisa melindungi dirinya dari air, sampai keduanya bersama dalam lingkaran mereka. Dukk! Tubuh Naruto dan Hinata beradu bertemu satu sama lain. Tatapan mereka saling mengunci. Cipratan air pada Naruto dan Hinata mulai menghilang, mereka yang tengah mengelilinginya menatap drama romantis yang sebentar lagi akan terjadi. Para wanita berteriak histeris saat melihat pandangan penuh cinta dari Naruto. Para pria mendukung Naruto untuk menjadi pria sejati.
"Hinata~" suara lembut Naruto membuat beberapa pegawai wanita entah kenapa tiba-tiba saja terpesona dengannya. Lihat saja rambutnya yang lepek dan acak-acakan terkena air, serta tetesan air dirambutnya membasahi wajah tannya, juga air mengalir ditubuh atletisnya membuat para wanita meleleh menyaksikan betapa tampannya ia hari ini.
Sorot mata lavender itu seketika membulat melihat betapa kerennya sekertarinya itu. Ternyata sejutek-juteknya Hinata ada sisi terpesonannya juga.
Sebuah senyuman ia tampakan menambah ketampanan darinya.
Satu langkah kaki itu Naruto langkahkan mendekati Hinata. Wanita itu menjadi sedikit tidak nyaman, wajah tan itu semakin dekat. Seakan membaca apa yang akan terjadi Hinatapun menutup kedua matanya menyambut sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.
Namun sedetik kemudian sebuah suara menghancurkan apa yang ia pikirkan "Hinata, kenapa kamu menutup mata? Apa yang kamu harapkan? Aku hanya mengambil kerang kecil dirambutmu. Ini" ucap Naruto berbisik begitu saja.
Hinatapun kembali membuka kedua matanya, melihat benda kecil diatas tangan pria itu. Wajahnya sudah memerah sekarang, marah? Tentu saja, siapa yang tidak marah akan kelakuannya itu.
"Sudah sudah kalian berdua... adegan mesranya sudah cukup. Kau tidak lihat bagaimana irinya para wanita disini?" Ujar Sakura menyadarkan dua sejoli yang berada ditengah-tengah mereka.
"Kau sama sekali tidak lucu" ujar Hinata dengan menghentakan kakinya dan berlalu dari sana. Membuat Naruto kebingungan sendiri.
"Kenapa dia pergi?" Gumamnya melihat Hinata semakin menjauh.
"Baiklah semuanya kita kembali ke hotel. Main-mainnya sudah selesai dan drama yang kalian tonton ternyata mengecewakan" ungkap Shikamaru dan mulai berlalu darisana. _ternyata dia juga mengharapkan sesuatu yang terjadi ckckck_
"Kau memperkalukannya baka" ujar Sakura menghampiri Naruto.
Sedangkan pria itu mengrenyitkan dahinya bingung "mempermalukannya gimana?"
"Adegan tadi... semua mengira kau akan melakukan 'itu' bahkan mungkin Hinata mengiranya seperti itu"
"Melakukan apa?"
Entah sahabatnya ini memang tidak peka atau kelewatan bodoh Sakura juga sedikit kesal dengan kelakuan Naruto. 'Katanya menyukai atasannya itu tapi... aahhh sudahlah itu urusan mereka' batin Sakura "melakukan... aahhh baka pikirkan saja sendiri" lanjut Sakura dan berlalu dari sana meninggalkan Naruto dengan pikiran-pikiran yang sudah memenuhi kepalanya.
.
Hinata sudah kembali dikamarnya serta sudah mengganti pakainnya. Rasa kesal menumpuk didalam hatinya sejak kejadian tadi siang. "Baka... baka... bakaaaaaaaa apa yang aku pikirkan tentangnya tadi... aaaarrrggghhhh semua pria memang menyebalkan. Baiklah aku tidak akan hidup tanpa pria" gumamnya terlihat wajah murka disana.
Ddrrttt... ddrrttt... ponsel di atas kasur terasa bergetar. Buru-buru Hinata menjawab panggilan tersebut siapa tahu itu adalah seorang clien "moshi... moshi"
'Hyuga Hinata... bukankah kita ada pemotretan hari ini?' Ujar sipenelpon.
Dahi Hinata mengkerut dan melihat siapa yang menelponnya tertera sebuah nama disana 'foto grafer' "a...aahhh gomen gomen kami hari ini sedang liburan kemungkinan besok kami kembali. Bisa kau undur lagi jadwalnya?"
'Hmmm baiklah aku tunggu sehari setelah kepulangan kalian'
"Ha'i arigato gozaimasu"
Klik! panggilan ditutup "hhahhh~ ini semua gara-gara si baka itu. Diakan sekertarisku kenapa dia tidak memberitahukan jadwal pemotretan."
Brughh! Hinatapun mendaratkan punggungnya diatas kasur empuk itu, menutup kedua matanya seolah ia begitu lelah.
Sedangkan dikamar lain, Naruto tengah memandang pantai dibalkon kamarnya. Pikirannya kembali melayang saat kejadian tadi "apa aku membuat Hinata marah?" Gumamnya "kenapa rasanya tidak nyaman ya." Lanjutnya lagi memikirkan kesalahannya.
"Kau galau baka?" Ujar suara bariton mendekatinya.
Sapphirenya menatap kesamping dimana orang itu duduk disana "tidak. Kau jangan so tahu Shika"
"Ya terserah lu dah. Ungkapin aja apa yang kau rasakan padanya." Jawab Shikamaru, sahabatnya.
"Tidak semudah itu. Aku belum siap untuk mengungkapkannya."
"Jika kau tidak mengungkapkannya bagaimana dia bisa berubah. Aku sarankan kau ungkapkan secepatnya"
Nasehat Shikamaru barusan begitu mengena dihatinya. Seolah membangkitkan percaya dirinya untuk segera mengungkapkan apa yang ia rasakan pada atasannya itu.
Tbc...
Semoga suka :) :) kalau berkenan silahkan reviews ya. Jaa sampai jumpa :) ^^
Ohh ya buat Hinata-hime Selamat Ulang Tahun yaa. Gomen baru mengucapkan hari ini hehehe semoga bisa menjadi istri dan ibu yang baikk ^^v :D :D (o_o)
piupiuchan : udah next semoga suka ^^ wkwk iyaa nih :) arigato udah ngereviews :)
JustNaruHinaAndKibaTamaLover : wkwk iyaa Hiashipun keluar dari characternya :D heheh semoga suka ya dengan scene yang seperti itu :D ^^v. Arigato udah ngereviews ^^
Helena Yuki : di update lagi nih semoga suka dan semoga seru heheh ^^ arigato udah ngereviews :D ^^
