Love Saves The Earth

Author: Levio Kenta Uzumaki

Genre: Supernatural,Fantasy,Romance/Drama.

Rated:T+ / M(for violent, nudity)

Pairing: [Naruto Uzumaki, Sakura Haruno] and others.

Disclaimer: Masashi Kishimoto's own.

Warning: OOC,abal,Typo,DLDR, etc.

Maaf saya nggak bisa update cepet.*Hontouni Gomenasai. Masih dengan alasan yang sama yaitu tugas yang selalu datang tiap hari. *Harap maklum .

Makasih yang udah mau review, fol & fav. Ok let's read!

.

.

.

Chapter 4

.

"Perkenalkan, Saya Haruno Sakura dari Konoha. Mohon kerjasamanya." Ujar Sakura sembari membungkukkan badan.

Lelaki disampingnya mengangguk paham, "Baiklah Haruno-san kau akan ditempatkan disini, dibagian Kelas Sastra, kau akan menjadi patner dari Sabaku Kankuro. Kuharap waktumu seminggu yang lalu untuk training bisa bermanfaat kedepannya. Lebih jelasnya aku serahkan kepadamu Sabaku-san."

Kankuro mengangguk mengerti, "Hai', Azuma-san."

Melirik kearah Sakura "Mari kuantar keliling." Ajak Kankuro.

Sakura lantas mengikutinya dari belakang.

Sudah seminggu ini Sakura berada di Suna dan ia telah menjalani training selama seminggu. Banyak sekali hal yang harus ia pelajari dalam kegiatan yang akan dijalaninya nanti. Pada saat training ia dibimbing oleh Azuma, Consultant Manager & Employee Manager di Fee Center Suna.

.

Lapangan yang cukup luas dihiasi pepohonan Sakura, semilir angin membuat Sakura merapatkan mantelnya. Sedang pria disampingnya tengah mematikan rokok miliknya.

"Jadi kau berasal dari sekolah ternama itu?" ceplos Kankuro yang berjalan mendahului Sakura.

Tak tau menjawab apa Sakura berguman lirih, "Hai'"

"Hm.." hanya itu respon yang keluar atas jawaban yang Sakura berikan.

Langkah Kankuro yang semula didepan Sakura, kini ia pelankan sehingga mereka kini berjalan berdampingan.

"Oh, ya?! Tak perlu seformal itu kepadaku.. aku sedikit tak suka apalagi kau patnerku. Dan panggil saja aku Kankuro." Terang Kankuro.

Entah bagaimana Sakura merasa tak ingin menurutinya namun ia tak punya pilihan ini permintaan dari atasannya dan itu sama aja perintah-kan?, jadi ia memilih mengangguk saja. "Em.."

"Oh… Kecuali jika ada Azuma-san, formal saja kalau bisa." Lanjut Kankurou seraya memandangi para muridnya bermain futsal.

"Maksudmu Sarutobi-san?" tanyanya.

Kankuro tersenyum, "Yah.."

Patner-ralat atasannya ini cukup unik juga, batin Sakura dengan senyuman.

"Kenapa Kankuro-san juga memanggil, Sarutobi-san, 'Azuma' ?"

"Hh~ Dia tak suka jika seseorang memanggilnya dengan nama belakangnya. Aku tak tahu alasannya dan aku juga tak ingin tau." Kankuro mengendikkan bahunya.

Saat sampai di kantin mereka berhenti, dan duduk di bangku. Kankuro memesan kue dango untuk mereka.

"Disini seperti sekolah-sekolah pada umumnya, karena setiap programnya terjadwal hampir seperti kegiatan di sekolah." Tutur Kankuro.

Yah memang terlihat sekali, Dari gedung depan sampai Sakura sampai disini bangunan ini memang seperti sekolah pada umumnya. Ada lapangan futsal, basket dan sepakbola bahkan kantin.

Setengah jam berkeliling membuat perutnya lapar, untung saja Kankuro mengajaknya berhenti di kantin.

"Ini.." Kankuro menyodorkan sebotol minuman disusul pesanan mereka.

"Arigatou, Kankurou-san."

"Sama-sama. Setelah ini kita kembali."

"Hai'"

.

.

.

Namikaze Building

Ting..

Pintu lift terbuka menampakkan sosok pemuda bermahkota pirang dengan dua bola beriris biru laut menawan seindah batu safir bersama pemuda bermahkota merah bata berjas hitam formal yang seragam dan menenteng beberapa dokumen.

"Paspor dan tiketnya sudah terbawa, kan?" tanyanya ke pemuda disampingnya.

Anggukan pasti ia berikan. Keduanya melangkah memasuki mobil yang telah menunggu mereka begitu sampai di pintu depan.

Brumm…

"Kuharap tak akan lama…" Ucap pemuda beriris safir seraya mengendurkan dasinya di dalam mobil. Ia memijit pelipisnya pelan dan memejamkan matanya.

Menyadari ucapan atasannya, pemuda berambut merah bata itu memeriksa kembali jadwalnya. "Kemungkinan pastinya lusa malam kita sudah bisa kembali. Dengan 2 kali pertemuan serta 1 kali acara jamuan."

"Baguslah." Nafas kelegaan meluncur kuat dari Namikaze muda, ia berharap segala sesuatu untuk proyeknya kali ini akan berhasil dan lancar. Dan bisa mengerjakan kerjaannya yang lain yang sedang menunggu.

Keberangkatanyya pukul 6 petang dan sekarang masih ada dua jam sebelum keberangkatannya itu, Naruto melihat ponselnya, mengetikan pesan singkat ke kakaknya untuk mengawasi Phoenix selama ia berada di luar negeri. Melihat pesannya telah dibalas ia mengantongi ponselnya kembali. Semoga semua baik-baik saja.

.

.

Stasiun kereta ramai seperti biasanya, langit yang kian meredup dan matahari yang menurunkan sinarnya serta hembusan angin yang mengalun bagai sebuah bisikan merdu, menuntun gadis secerah mutiara laut memasuki kereta tujuannya. Ia memilih bangku yang kosong sebelah pintu masuk.

Raut wajahnya menampakkan ketenangan. Meneduhkan siapa saja yang memandang.

"Hh…"

Desahan nafas mengalun mulus dari hidungnya. Jemari lentiknya mengambil sebuah buku di tas yang ia bawa. Demi mengusir rasa bosan di dalam kereta gadis itu mulai membaca isi buku tersebut yang telah ia tandai dimana ia akan melanjutkan bacaannya.

Demon's Love

How that feel?

Cinta, demon, tak sedikit berbeda dengan cinta manusia pada umumnya. Karena pada dasarnya Inang itu juga seorang manusia. Hal inilah yang akan memusnahkan jiwa iblis demon. The Immortal Love.

Cinta yang mengikat bukan sekedar rasa suka namun juga takdir, tak terpungkiri oleh ikatan, darah, dan kebencian.

Kesatuan abadi, mengubur dosa yang lalu, ikatan yang sebenarnya, masa depan yang terbentuk karena takdir.

Kekuatan besar yang tertidur akan bangkit ketika ketiga bintang fajar bertemu, membangunkan sosok jati diri asli yang bersinar.

Guardian Angel, gadis yang penuh misteri dalam dirinya. Aura yang memancarkan siapa ia sebenarnya. Tidak semua Guardian berwatak sama. Bagaimana cara mereka untuk menemukan jati dirinya, mereka berbeda.

Suatu takdir akan membawa kesembilan Guardian Angel itu ketika sang tiga lentera langit dengan 100 lentera saksi.

Dosa secawan dalam demon akan tumpah ketika takdir dan ramalan terpenuhi. 1 kekurangan berjuta keburukan. Kegelapan yang termuntahkan melenyapkan apapun yang dilalui dan dilihatnya. Tak tersisa, seluruh kebencian menelan sang Inang.

Lantas dunia akan hancur tak tersisa. Bagaimana dunia akan bertahan jika semua manusia musnah atau saling membunuh dengan penuh kebencian dan dendam pada diri mereka?.

Banyak yang mengincar kekuatan menakutkan ini, demi tujuan yang bermacam-macam yang pastinya bukan tujuan yang baik.

Saat bulan purnama merah beberapa abad silam meluluh lantahkan segalanya, biru yang menjadi magenta membuat siapa saja yang ada atau melihat akan ketakutan. Selama beberapa abad terakhir kekuatan mengerikan ini tersegel dan tak ada yang mengetahui siapa yang menyegel dan memiliki kekuatan Demon ini.

Namun disebutkan dalam ramalan bahwa segel Demon akan melemah dan akan memuntahkan kekuatan yang bahkan lebih dahsyat dari peristiwa sebelumnya. Dan disaat yang bersamaan satu energy akan bangkit karenanya.

Pernah dengar Malaikat jatuh (The Fallen Angel), mereka malaikat-malaikat yang berdusta dan berdosa, mendapat kutukan serta dijatuhi hukuman untuk tinggal di alam manusia. Jiwa yang tak suci seiring berjalannya waktu di alam manusia mereka semakin lama akan semakin memudar, dan jika semakin memudar maka ia akan lupa akan penebusan dosa-dosanya. Hatinya akan dipenuhi dendam dan kebencian hingga timbul keinginan untuk menghancurkan dunia atau bahkan melawan Dewa.

Dengan keinginan itu the fallen angel (Devil) berusaha menguasai demon untuk kehendaknya demi melancarkan tujuannya.

Lalu apa hubungannya dengan cinta?

Kebencian dan kegelapankah yang akan menguasai atau terlahirnya sesuatu yang bahkan hal yang mustahil sekalipun.

Sakura menyudahi acara membacanya, Melipat sudut halaman untuk menandai bacaannya. Ia melirik jam, ia mendengus. "Kenapa aku bisa kelupaan sih?"

Pemberhentian selanjutnya stasiun kota Suna. Penumpang harap bersiap.

Kereta berhenti, Sakura melangkah keluar. Ia berjalan menuju ke mal. Ia melupakan sesuatu. Sikat penggosok titipan neneknya. Ah, kenapa juga dirinya bisa kelupaan.

Sakura masuk disalah satu toko saat tengah melihat barang yang ia cari. Langsung saja ia mengambil dan membayarnya dikasir. Sekeluarnya dari toko tersebut ia mampir ketoko aksesoris dan yukata. Ia membeli sanggul rambut dan yukata soft pink bercorak bunga sakura. Ia teringat jika Sabtu nanti akan ada festival hanabi dikuil tak jauh dari rumah neneknya. Sakura berencana pergi, dirinya sangat suka festival.

Lelah memilih perlengkapan yang dibelinya serta risih akan suara keroncongan perut yang lapar, Sakura mampir di salah satu kafe. Ia memesan sandwich ikan tuna dan secangkir teh hijau. Dirinya sengaja memesan itu karena neneknya pasti sudah memasakkan makanan kesukaan Sakura dirumah, ia tak ingin makan kekenyangan diluar dan membuat neneknya kecewa.

Selesai menyantap makanannya, Sakura bergegas pulang, ia mengemasi barang belanjaannya setelah ia meletakkan beberapa lembar uang dimeja yang ditempatinya.

Sakura mempercepat jalannya menuju stasiun, merasa ada yang mengikutinya ia menoleh kebelakang namun tidak ada siapa-siapa yang mengikutinya, hanya beberapa orang yang nampak berlalu lalang. Ia memilih jalan alternatif karena tidak ingin ketiggalan kereta. Namun sebenarnya juga takut karena ia sendirian dan jalan yang ia lewati ini terbilang sepi.

Ketika hendak berbelok ke stasiun, tiba-tiba seorang pemuda menghadangnya.

"Mau kemana, nona?" goda pemuda itu.

Sakura tak mengubrisnya dan terus berjalan. Langkahnya ia percepat demikian pula lelaki dibelakangnya itu.

"Hai nona, jangan terbur-buru." Dengan cekatan lelaki itu menghadang Sakura.

Sakura seketika menghentikan langkahnya-takut. "Mau apa kau?"

Saat hendak berlari seorang pemuda bergaya metal menghadangnya dari belakang. Sakura semakin takut, ia ini perempuan, jurus atau teknik apapun yang ia gunakan untuk melawan mereka tak akan mempan.

Saat tangan pemuda yang berapa didepannya hendak menarik dagu Sakura, Sakura menepisnya.

"Hey, kasar juga kau nona." Sentak pemuda itu.

Pemuda yang satunya tak tinggal diam, ia mencoba merangkul pundak Sakura. "Ayolah nona, kami ingin bersenang-senang denganmu."

"Hentikan!" teriak Sakura. Ia melepas rangkulan pemuda bergaya metal itu dan menendang kaki pemuda di depannya. Ia segera berlari.

"Hey, kembali kau nona." Teriak pemuda bermahkota abu-abu.

Namun langkah Sakura kalah cepat dengan kedua pemuda itu. Alhasil mereka berhasil menahan Sakura dan menyudutkannya.

"Lepaskan, brengsek!" Sakura meronta.

"Diam! Kami hanya ingin bersenang-senang sedikit, nona. Jangan kawatir kami tidak akan kasar padamu." Pemuda itu menahan tangan Sakura yang berusaha melepaskan cengkramannya.

"Lepaskan kubilang." Sakura semakin meronta, namun tangannya tak kuasa karena lelaki berambut abu-abu mencengkram tangannya dari belakang.

Pemuda bergaya metal itu menarik dagu Sakura hendak menciumnya, tapi Sakura menarik kasar dagunya kembali, tingkah Sakura semakin membuat kedua pemuda itu geram.

"Kau ingin bermain-main rupanya."

"Cepatlah Hidan." Keluh pemuda satunya.

Hidan melepas jaketnya, Sakura menerka apa yang akan dilakukan Hidan itu. Ia sekuat tenaga mencoba melepaskan cengkraman mereka. Namun Hidan segera menarik kemeja yang dikenakan Sakura, alhasil sebagian kancing kemejanya terlepas.

"Tubuhmu indah juga, nona." Mendengar kata-kata itu Sakura bergidik dan semakin takut atas apa yang akan dilakukan pemuda dihadapannya ini.

Tangan Hidan meraba pinggang Sakura, membuat Sakura seketika terjengat kaget.

"Hentikan!" isaknya, namun sama sekali tak diindahkan oleh kedua pemuda itu.

Sakura meronta, mencoba menendang kaki pemuda didepannya itu lagi, tapi tak bisa karena kakinya dikunci rapat oleh pemuda yang satunya.

Hidan membuka paksa kemeja Sakura yang sebagian kancingnya telah terlepas, hingga mengekspos kedua buah dadanya-yang untungnya masih terlindungi.

Kedua pemuda tersebut tertawa keras, membuat Sakura sangat kesal dan ingin menangis. Ia lemas tak kuasa melepas diri. Kedua pemuda itu semakin melucutinya, menyentuh-meraba Sakura membabi buta. Kemejanya robek tak karuan, bahkan branya hampir lepas. Tangan mereka semakin jahil, seakan tak puas atas apa yang telah mereka lakukan itu.

Sakura tak kuasa, air matanya berjatuhan, dadanya sesak. Ia sudah berusaha berteriak dan meronta namun tak ada yang mendengar. Gang kecil semacam ini tidak memungkinan orang bisa mendengar teriakan minta tolong seseorang. Apalagi ini jalanan yang tak begitu banyak orang melaluinya. Sakura sangat menyesali keputusannya yang telah mengambil jalan ini, ia tak tau harus menyalahkan semua ini pada dirinya sendiri atau siapa. Niatnya ingin cepat sampai rumah malah terhenti dengan hal yang sangat ia tak harapkan. Bagaimana jika aku tidak bisa pulang, bagaimana jika aku tak selamat, bagaimana? Apa yang harus aku perbuat? Kami-sama, andai saja ia tak mengambil jalan ini sebagai pilihannya.

"Kumohon.. le-paskan aku!" suara serak Sakura tak dihiraukan kedua pemuda brengsek itu. Mereka hendak melucuti sisa pakaian yang Sakura kenakan. Namun..

Buuugh..

Kedua pemuda itu terlempar menghantam tembok sebelum menjalankan aksinya.

Sakura seketika lemas dan hampir saja terjatuh jika seseorang tak menahannya. Ia memejamkan matanya berat, lalu membukanya lagi.

"Naruto nii-san…" ujar Sakura parau.

Iris saphir itu melebar sempurna tatkala melihat sosok yang didekapnya ini, matanya menajam menatap kedua pemuda yang terkapar karena ulahnya dengan tatapan membunuh.

"Enyalah Bedebah!" Naruto mengeluarkan mantra, tangan kanannya bercahaya putih kebiruan. Sai yang mengetahuinya, segera menghentikan perbuatannya.

"Hentikan, Naruto!" Sai menggunakan pembatal mantra, seketika cahaya ditangan Naruto menghilang.

"Kau tak harus menggunakan mantra itu, biar aku saja yang mengurus mereka. Jangan terbawa emosi! Ingat tujuan kita. Lebih baik kau bawa Haruno-san pergi dari sini."

Perkataan Sai benar, Naruto memandangi kedua pemuda bajingan itu-masih tak mengurangi aura membunuhnya serta kilatan kebencian matanya. Jika saja Sai tidak menghentikannya pasti kedua pemuda itu sudah lenyap.

"Jangan pernah kalian sentuh gadis ini seujung jaripun. Aku tak akan pernah mengampuni perbuatan kalian ini! Sai, segera bereskan mereka."

"Hai'"

Sakura hanya bisa mendengarnya lamat-lamat dalam dekapan Naruto. Segera saja Naruto memakaikan jaketnya pada Sakura lalu menggendongnya dan membawanya ke mobil meninggalkan rekannya, Sai yang mengurus pemuda yang telah membuatnya sangat geram.

Naruto mengencangkan sabuk pengaman Sakura, dan melesatkan mobilnya setelah ia memasang sabuk pengamannya sendiri.

Ia tak serta merta membawa Sakura pulang. Ia membawanya ke Phoenix-tentu tanpa sepengetahuan Sakura, dan meminta bantuan Konan untuk mengganti pakaian yang Sakura kenakan. Ia tak ingin membawa pulang Sakura dengan keadaan sepeti sekarang, jika itu ia lakukan maka akan membuat cemas orang-orang rumah terutama kakek dan nenek Sakura.

"Kenapa kau bisa seceroboh itu Sakura." Ratap Naruto-mengelus kepala Sakura yang tengah terlelap.

Melihat Sakura seperti ini membuatnya ingin menghancurkan apapun yang ada didekatnya. Gadis ini begitu mungil dan lemah.

Konan yang mengobati luka Sakura menatap sendu Naruto. "Bukankah seharusnya Anda ada di Italia, Naruto-sama?"

"Benar.. Aku sudah mengutus Gaara untuk pergi terlebih dulu."

Konan mengerti perasaan Naruto saat ini. Ia hanya memilih mengangguk mendengar jawaban Masternya itu. Kini Gaara yang menghandle jadwal mereka untuk hari ini, Naruto mengatakan pada Gaara bahwa ada sesuatu yang harus ia lakukan dan ia melupakannya. Jadi, Gaara memaklumi, dan Naruto juga mengatakan bahwa besok ia pasti sudah akan tiba di Italia, ketika urusannya ini telah selesai.

Naruto mengusap pipi Sakura dengan lembut. Ingin sekali Naruto merengkuhnya, namun ia tak mampu. Entah kenapa, ia sekuat tenaga untuk tak melakukannya.

"Kau…" Naruto menghentikan kalimatnya, ".. maaf." Nada putus asa nan lemah tercucur dari mulutnya.

Jika saja, ia tak terikat, andai saja takdir ini bisa ia ubah. Dan jika saja ia takdir ini tak membelenggunya. Semua akan berbeda dan tidak akan seperti ini.

.

.

.

Sudah dua hari semenjak kejadian di stasiun berlalu. Sakura mencoba mengingat ingat kejadian yang menimpanya itu.

"Percuma! Kenapa aku tak ingat sama sekali?!" gerutunya.

Kankuro melirik kearahnya tanpa ia sadari. "Kau baik-baik saja kan, Sakura?"

"Eh.. Tentu." Sakura memperbaiki posisi duduknya.

Sakura dan Kankuro tengah menikmati istirahat siang diruangan mereka. Lantai 2 Gedung 4 Fee Center Course.

"Baiklah… Mmm.." Lega mendengar jawaban Sakura, ia meneruskan perkataannya kembali "Kita akan mengajar sastra di Gedung 1. Ayo."

"Baik." Sakura segera membawa perlengkapannya dan segera menyusul Kankuro dari belakang.

Keduanya berjalan kearah Gedung 1 yang tak jauh dari ruangan mereka.

Greekk

Kankuro membuka pintu ruangan itu, keduanya melangkah masuk kedalam, disusul para anggota kelas yang kembali ke bangkunya masing-masing.

"Hai'-hai', mari kita mulai kelasnya minna."

"Hai' Sensei." Jawab anggota kelas serempak.

Gedung 1, berisi anggota kelas sastra. Anggotanya kebanyakan siswa tingkat 3 SMP, dan siswa tingkat 1 SMA. Kelas sastra hanya punya 20 murid, karena ini kelas khusus atau disebut juga Kelas 1 jadi jumlah anggotanya dibatasi. Beruntunglah Sakura ditempatkan disiswa khusus jadi ia tak kerepotan.

"Ne, Sakura-sensei, Apa sensei sudah punya pacar?" celetuk salah seorang siswa saat Sakura sedang menjelaskan didepan kelas, dan itu membuat Sakura tersipu.

"Te-Tentu saja belum." Jawab Sakura malu-malu disusul suara tawa murid-muridnya.

Greekkkk

"Sepertinya kalian bersenang-senang ya? Perhatikan sensei kalian saat mengajar, minna."

Ujar Kankurou saat mengetahui murid-muridnya tertawa.

"Hai'."

Tiba-tiba seorang siswa menjadi pusat perhatian seisi kelas termasuk Kankuro dan Sakura dengan perkataan siswa tersebut. "Jaa.. Kalau begitu Sakura-sensei pacaran saja dengan Kankuro –sensei. Kalian sangat serasi."

Sontak kedua pipi Kankurou dan Sakura diwarnai semburat semerah tomat, membuat seluruh muridnya bersiulan menggoda mereka.

Suasana itu tak bertahan lama untungnya, Kankurou secara cepat mengalihkan perhatian mereka dengan janji akan membelikan mereka kue monji saat istirahat nanti.

.

.

Ruang pengajar yang luas itu hanya ada beberapa orang saja yang ada didalamnya, seorang wanita cantik mengenakan pakaian abu-abu muda dengan rambutnya yang disanggul keatas. Dan pemuda disampingnya, kelihatannya asisten wanita itu, mungkin umurnya tak terlalu jauh dengan Sakura. Kankurou mengenal mereka, wanita itu Kurenai Yuhi dan asistennya Foo.

"Maaf Kankurou-san, membuatmu mentraktir mereka semua karenaku."

Kankurou tersenyum geli dibalik kesibukannya mengoreksi lembaran-lembaran kerja muridnya mendengar kata maaf Sakura.

"Yah.. Tak apa, sebagai gantinya kau juga akan kutraktir. Jika kau ingin maaf dariku." Pekiknya menahan tawa.

Sakura jadi serba salah, "Ba-Baiklah."

"Hahaha.. Sakura.. Sakura kau tak perlu khawatir, aku hanya bercanda. Tapi tidak untuk kue monjinya. Lagi pula menyenangkan murid itu perlu-kan? itung-itung mengurangi kebosanan mereka." Celotehnya panjang lebar menatap Sakura yang terbengong akan kata-kata Kankurou.

"Sudah.. cepat kita selesaikan." Lanjut Kankurou mengacak rambut pinky Sakura.

"Hai'."

Kankurou masih teringat kejadian yang beberapa menit baru saja berlalu, tanpa sadar ia tersenyum mengingat kata-kata yang diucapkan muridnya itu, heh-jika saja itu menjadi kenyataan. Mungkin aku akan senang. Tersadar atas apa yang baru saja ia pikirkan, ia cepat-ceepat menghilangkan pikiran itu.

"Kankuro-kun, besok pagi sebelum program dimulai akan diadakan rapat. Kita semua diminta untuk hadir, termasuk Sakura-chan juga." Ujar salah seorang tiba-tiba yang melangkah masuk diruang kerja pengajar, yang tak lain seorang gadis. Ia cantik rambutnya seleher lurus kecoklatan, senada dengan kemeja dan bawahanya. Dirinya menghampiri Kankurou dan Sakura.

"Oh.. Baiklah. Oh ya, apakah itu tentang program untuk siswa semester 3?"

"Sepertinya begitu." Jawaban singkat yang dilontarkan untuk pertanyaan Kankurou barusan. Sedangkan Sakura hanya memilih diam karena ia masih baru dalam pembahasan kedua orang itu. Yah, Kankurou dan Rin.

.

.

Meja kantin yang tadinya masih lenggang kini hampir terisi penuh. Ternyata Kankurou benar-benar menepati janjinya. Sakura tak menyangka hal itu. Karena kini ia juga tengah menyantap kue monji yang ukurannya tak bisa dibilang kecil itu.

Sekarang aku tahu alasan mereka sangat senang saat Kankurou-san bilang mentraktir mereka kue monji.

Memang ukuran kue ini besar tidak seperti kue monji lainnya, dan rasanya juga enak.

"Apa kau menyukainya Sakura?"

"Em.. tentu." Disusul anggukan pasti, "Aku tak menyangka ada kue monji sebesar dan seenak ini pantas saja mereka sangat senang."

Kankuro terkekeh, "Kue itu hanya ada disini, kue ini sengaja dibuat besar agas murid-murid sennag dan kenyang saat memakannya. Meski harganya terbilang tidak murah tapi mereka suka."

Jelas Kankurou.

Sakura mengobrol tentang menu makanan yang ada di kantin Fee Center dengan Kankurou sembari menunggui murid-muuridnya selesai makan. Keduanya tertawa bersama seperti sudah sangat aakrab padahal baru kenal selama 2 minggu. Mereka juga bercerita tentang para pengajar Fee Center. Sebenarnya Sakura tidak hanya akrab dengan Kankurou saja, ia juga akrab dengan Rin, salah seoraang pengajar yang baru saja lulus SMA. Sakura sangat suka berteman dengan Rin, tidak hanya baik tapi Rin juga sangat ramah dan royal terhadap orang lain.

"Hei.. Sakura-chan.." seru seorang yang nadanya seperti tak asing bagi Sakura dan Kankurou.

"Rin-san."

Rin menghampiri keduanya dan mengambil salah satu kursi dan duduk disebelah Kankurou.

"Ne.. ne Sakura-chan. Bukannya nanti ada festival hanabi di kuil Dewa Gunung?"

Sakura mengangguk mengiyakan.

"Apa Sakura-chan nanti akan kesana?"

"Iya. Apa Rin-san juga mau datang?"

Rin tampak mengulas senyum, "Tentu, karena nantikan juga ada festival obon, sayang kalau melewatkannya." Ia meneguk segelas air yang entah sejak kapan ia memesannya.

"Bagaimana kalau kita nanti datang bersama?" lanjut Rin.

"Dengan senang hati."

"Bagaimana kalau Kankurou ikut juga? Pasti akan menyenangkan.. benarkan Sakura?"

Kankurou yang tiba-tiba disebutkan namanya langsung menoleh menatap kedua perempuan disampingnya itu dengan tatapan penuh tanya, yah karena sedari tadi ia tidak terlalu memerhatikan obrolan mereka.

"Aku setuju, pasti sangat menyenangkan jika kita semua melihat festival bersama." Timpal Sakura.

"Nah, kalau begitu kita langsung bertemu di rumah Sakura dulu saja, karena kuilnya dekat dari rumah Sakura."

Tanpa menunggu jawaban dari Kankurou, Rin memutuskan begitu saja namun kelihatannya Kankurou tak keberatan akan hal itu, ia pasrah dan tanpa keduanya sadari terukir raut senang diwajah Kankurou.

Rumah saudara Rin tak terlalu jauh dari rumah nenek Sakura, jadi Rin lumayan hafal dengan komplek itu. Sedangkan Kankurou, kebetulan sering bermain didaerah komplek rumah nenek Sakura dan ia pernah mengantar Sakura pulang tempo hari.

"Kalau begitu bantu aku mencari kimono setelah ini!"

Kedua gadis itu saling mengangguk riang mendengar jawaban yang Kankurou berikan.

.

.

.

Jalanan komplek Rumah nenek Sakura ramai dengan orang-orang yang memakai yukata dan kimono yang indah. Akses jalan utama memang berada di komplek itu. Seorang gadis yang cantik dengan jepitan rambut berwarna hijau toska yang senada dengan yukatanya sedang berusaha menerobos beberapa pejalan kaki, ia melambaikan tangannya ke pemuda yang duduk di motor yang kelihatannya Sakura mengetahui siapa mereka. Sakura kembali kedepan cermin untuk memastikan sekali lagi jika penampilannya kali ini sudah-cantik.

Sakura menuruni tangga secepat yang ia bisa seraya berusaha agar dandannya tidak berantakan. Di ruang tamu sudah ada Kankurou dan Rin yang menunggunya. Rupanya mereka cepat sekali sampai sini, padahal baru berapa menit mereka masih didepan.

"Maaf membuat Kankurou-san dan Rin-san menunggu lama."

Kankurou mengulas senyum manisnya, "Tidak apa, lagipula kami baru sampai."

Rin mengangguk mengiyakan penuturan Kankurou.

Sakura berjalan menuju dapur, disana ada nenek dan bibi Kushina yang tengah mengisi kotak makan untuk dibawa saat festival. Kakeknya sudah terlebih dulu berangkat ke kuil untuk mengawasi jalannya festival nanti. Terdengar suara neneknya sedang bertanya, Sakura memutuskan menghampiri mereka.

"Bukankah Minato panitia kegiatan ini, Kushina?"

"Benar bibi, namun tidak semuanya ia ikut mengatur."

Sungguh bibiku ini, selain cantik dan ramah ia juga lembut dalam yah tak kusangka paman Minato yang menangani festival ini. Seperti apa ya festivalnya nanti. Sakura tersenyum simpul atas pemikirannya.

"Nenek, bibi Kushina, aku dan teman-temanku akan berangkat dulu. Kalian tak keberatankan?"

"Tentu, Sakura-chan. Pergilah."

Sakura berbalik pergi.

"Eh.. tunggu sebentar Sakura-chan." Langkah kaki Sakura terhenti ucapan bibinya, ia membalikkan badan, Kushina menghampirinya. Meletakkan sesuatu di rambut Sakura, kemungkinan jepit rambut. Selesai memasangkannya, Kushina mengulas senyum cantiknya. Sakura meraba jepitan itu.

"Jepitan ini untukmu Sakura-chan, sepertinya sangat cocok dengan yukata milikmu. Kau sangat cantik!" Kushina menatapnya dengan kagum.

"Terima kasih, bibi. Aku sangat senang sekali."

"Baiklah, cepatlah berangkat."

Sakura segera melenggang pergi menuju kuil bersama Rin dan Kankurou. Mereka berjalan kaki karena memang tidak terlalu jauh tempatnya. Kankurou menitipkan motornya di rumah Sakura, jika tidak dipaksa Kankurou berniat membawanya ke kuil. Sungguh!

.

Kankurou berusaha menyembunyikan rona merah dipipinya, entah bagaimana ia sangat terpesona melihat Sakura mengenakan yukata. Cantik!.

Kankurou mengikuti setiap langkah yang kedua gadis itu tuju, tanpa ragu ia juga ikut terhanyut akan tawa mereka. Mengunjungi tiap kedai entah membeli sesuatu yang dijual atau tidak.

Sesekali mereka menjajal permainan, Sakura mengajaknya untuk menangkap ikan dan dengan senang hati Kankurou melakukannya.

Selesai menagkap ikan koi, Sakura membeli permen kapas sedangkan Rin membeli takoyaki dan Kankurou membeli permen apel.

"Sepertinya kita bisa berfikiran sama juga." Terang Kankurou melihat makanan yang dibawa Sakura dan Rin.

"Haha.. yah aku berpikir tidak enak jika hanya membeli 1 saja, eumm.. ini untuk kalian."

Sakura memberi anggukan dan mengucapkan terima kasih, Kankurou merasa Sakura tak banyak bicara sejak ia kembali dari membeli permen kapas.

Mereka duduk di bangku ujung dekat kuil, dan saling membagikan makanan yang mereka beli, lucunya mereka sama-sama membeli tiga buah tiap makanan.

Kankurou menengadah kelangit melihat bulan yang sudah berada tepat diatas kepala mereka. "Sepertinya akan segera dimulai."

Sakura dan Rin yang mengerti akan perkataannya mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba Rin menarik tangan Kankurou dan menyeretnya ke kerumunan orang-orang yang berkumpul seperti membentuk barisan untuk melihat jalannya festival obon. Kankurou mengikutinya dan dia juga menarik Sakura tanpa ia sadari.

Kerumunan orang semakin bertambah dan penuh sesak, Kankurou mengeratkan pegangannya pada tangan Rin dan Sakura takut-takut kalau sampai kedua gadis itu akan tersapu kerumunan. Entah kenapa dia merasa seperti seorang kakak yang sedang menjaga kedua adiknya. Memang sih umur Kankurou lebih tua dari Sakura dan Rin. Dia lebih tua 2 tahun dari Rin sedangkan dengan Sakura dia 4 tahun lebih tua. Jelas seperti kakak beradik. Tapi ia menganggap Sakura lebih dari sekedar adik baginya, setiap kali ia berada didekat Sakura entah kenapa dirinya merasa sangat nyaman dan hangat. Tiap Kankurou bertatap mata dengan Sakura tanpa ia sadari pipinya sudah memerah. Awalnya ia pikir itu hanya hal biasa yang dialami setiap laki-laki, namun entah bagaimana hal ini sangat berbeda, bisa disebut ini cinta. Dengan cepat ia menepis pikiran itu. Ia baru bertemu dengan Sakura belum penuh satu bulan dan sudah menganggap Sakura melebihi seorang adik! lancang sekali aku ini!.

Perlahan kerumunan orang-orang semakin sesak dan meyeret ketiga insan yang tadinya bergandengan tangan itu, pegangan tangan Kankurou dan Sakura terlepas.

"Sakura!"

"Kankurou-san!"

Tak selang lama Rin pun juga ikut terseret arus dan membuat tangannya terlepas dari genggaman Kankurou. Mereka panik tapi akhirnya memilih mengikuti saja arus kerumunan itu.

.

.

Dung.. Dung.. Dung.. Dung… Dung.. Dung…

Suara gendang mulai berterbangan, barisan para karnaval mulai memasuki kuil. Sakura berusaha mencari Rin dan Kankurou saat kerumunan orang-orang itu berhenti berjalan. Ia mencoba menerobos kerumunan orang dengan paksa, seperti singa dikerumuanan banteng usaha yang Sakura lakukan sia-sia malah justru dirinya terdorong kebelakang dan hampir jatuh jika saja seseorang menahan tubuhnya. Syukurlah aku tidak terjatuh!

"Arigatou…"

"Ah.. Sama-sama.."

Dengan gerakkan kaku dan jantung berdebar kencang mendengaar suara yang tak asing, gadis itu berbalik perlahan. Melebarkan mata hingga membulat penuh melihat seorang laki-laki mengenakan kimono dan memandangnya melalui dua iris safirnya.

"Naruto-nii…"

Naruto setengah terperanjat, "Sakura.."

Sakura terkejut, tak menyangka ternyata yang menolongnya itu kakaknya sendiri.

"Kenapa kau bisa sampai disini? Kau tidak bersama nenekmu?"

"Tidak… Aku tadi bersama kedua temanku.. tapi kami terpisah saat orang-orang mulai berkerumun."

Naruto mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

Sakura masih tak menyangka, ia bertemu Naruto. Ia terpaku melihat Naruto yang mengenakan kimono, Keren!.

Selama ini Sakura hanya melihat Naruto mengenakan pakaian-pakaian casual yang menurutnya saja sudah tampan dan keren namun saat mengenakan kimono Naruto terlihat lebih dewasa dan bertambah tampan. Paduan antara kimono yang berwarna biru donker dan kulit tan serta sepasang mata safir dan mahkota kuningnya sangat serasi. Pipi Sakura merona hanya dengan memandangnya saja.

"ra.. Sakura.."

Sakura bangun dari lamunannya, "aa.. Iya… Naruto-nii.."

Naruto menaikkan aksen suaranya agar terdengar, "Disini semakin ramai, sebaiknya kita mencari tempat lain untuk melihat."

Sakura mengiyakan ajakan Naruto, Naruto menggangdengnya keluar dari kerumunan orang-orang. Sakura hanya diam mengikuti dengan jantung yang berdegup lebih cepat akibat perlakuan Naruto dan berusaha menghilangkan kegugupannya.

Naruto membawanya menaiki bukit dibelakang kuil tanpa berkata apa-apa dan dengan tangan masih menggandeng Sakura. Sakura tak tau harus berkata apa ia juga memilih diam dan mengikuti pemuda yang notabene kakaknya itu dari belakang. Sakura bisa melihat bahu lebar milik kakaknya, surai kuning yang terkena terpaan angin memperlihatkan leher yang begitu mempesona.

Tiba-tiba Sakura merasakan yukatanya mengendur dan talinya hampir terlepas. Ia pun menghentikan langkahnya membuat Naruto ikut menghentikan langkahnya dengan mimik wajah penuh tanda tanya.

"Na.. Naru-nii..duluan saja, aku akan menyusul.. sepertinya aku menjatuhkan sesuatu tadi." Sakura berbohong menutupi apa yang sebenarnya terjadi padanya.

Naruto tak merespon, ia memilih mengamati Sakura. Melihat gerak-gerik Sakura ia mendesahkan nafas dan memutar bola mata. Tidak harus berbohong, Sakura.

"Berbaliklah." Perintah Naruto tiba-tiba, membuat gadis bersurai merah muda itu tak mengerti

"Ha?"

Apa Naru-nii tahu kalau yukataku ingin lepas.

"Ta..Tapi.."

"Aku tak akan berbuat sejauh itu. Cepat berbaliklah." Pinta Naruto.

Bukan seperti itu yang Sakura pikirkan, ia tahu kakaknya tak akan berbuat seperti itu. Namun ia malu jika kakanya yang membantu membenahi yukatanya.

Sakura tak punya pilihan selain menurut dan percaya pada kakaknya. Dengan jantung yang berdegup kencang ia pasrah.

Ia bisa merasakan tangan Naruto dipinggangnya membenahi tali yang tadinya terlepas. Sakura berusaha meredam kegugupannya, terpaan nafas hangat kakaknya itu bisa ia rasakan karena tepat mengenai kulit lehernya lantaran jarak keduanya sangat tipis.

Selesai membenahi yukata Sakura, dan hendak meneruskan menuju ketempat yang ingin ia tuju, Naruto mengurungkan kemabali niatnya itu. Dengan jarak yang begitu dekat dan diterangi oleh cahaya bulan ia bisa melihat Sakura yang mengenakan yukata merah muda dan surai yang dihiasi jepitan berbentuk bunga yang seindah namanya. Pemuda itu baru menyadari bahwa adiknya ini sangat berbeda saat mengenakan yukata. Cantik! Hanya itu kata yang ia gumankan dalam benaknya saat ini.

Sakura terdiam menatapnya dengan mata sehijau zamrud itu, Naruto seperti terhipnotis akan pesonanya, secara perlahan namun pasti ia mengecilkan jarak antara dirinya dengan Sakura. Naruto mendekatkan bibirnya mengecup bibir ranum itu lalu melepasnya kembali.

Mata Naruto yang terus menatap Sakura secara inten, beriringan dengan itu Naruto mengangkat dagu Sakura mau tak mau membuat sepasang mata saphir dan emerald itu untuk saling bertatap. Iris saphir itu menatap dalam-dalam mata sang gadis, tatapan yang kian melembut diiringi desahan nafas keduanya yang saling beradu. Pipi merona milik Sakura menambah kecantikan gadis itu. Perlahan nan pasti Naruto mendekatkan kembali bibirnya tanpa ada penolakan dari Sakura. Ia menautkan bibirnya kembali, kali ini lebih lama dari pada kecupan yang tadi.

Naruto bisa merasakan lembutnya bibir Sakura dan aroma cherry yang menyeruak indra penciumannya, membuatnya sangat nyaman. Entah apa yang membuatnya seperti ini.

Sadar akan perlakuannya, Naruto melepas tautan bibirnya dengan Sakura. Dengan dada yang masih bergemuruh serta pipi yang berhias coretan semerah tomat Sakura merasa bingung, kecewa, senang sekaligus tak mengerti, kakak sekaligus orang yang ia cintai ini menciumnya dua kali. Tak ada kata-kata yang keluar dari keduanya, kata marah atau protes pun tak terdengar. Sebelum akhirnya Naruto membuka suara.

"Um.. Sebaiknya kita lihat festivalnya sebelum berakhir, Ayo… Sakura-chan." Ajak Naruto mengulurkan tangannya untuk Sakura.

Entah apa arti dari semua ini, dan yang baru saja mereka lalui berapa detik yang lalu membuat pikiran Sakura tak menentu. Ia tak mau memusingkan hal itu sekarang. Ia meraih uluran tangan pemuda blonde itu dan berusaha menghilangkan rasa gugup dan rona merah yang masih melekat.

Kedua insan itu berjalan kemudian berhenti disebuah pohon Sakura tepat ditepi bukit dimana mata mereka bisa melihat jalannya festival dibawah sana. Ditemari cahaya bulan dan gemerlap bintang yang ikut memeriahkan, serta semilir angin mengalun perlahan menyentuh kulit mereka.

Lima menit lagi kembang api akan dinyalakan hingga meluncur dan bertebaran di angkasa.

Mata sebiru lautan itu memandang sang gadis yang menorehkan senyum mengamati arak-arakkan dibawah sana. Bibirnya mengulas senyum, sekedar teringat kejadian yang baru saja berlalu pemuda itu menatap langit memikirkan apa yang tadi ia lakukan, haruskah ia bahagia atau sedih ia tak tahu. Ego dan perasaan yang bertalu membuat sang empu bimbang nan ragu, jangan sampai ia membuat gadis itu sampai terjatuh karenanya. Ia tak akan memaafkan dirinya sendiri jika itu terjadi. Namun… ramalan dan takdir ikut andil dalam setiap keputusan, ia memilih pasrah dan tak akan pernah lelah berusaha.

"Wah… Kirei…"

Pemikiran Naruto terhenti karena interupsi gadis yang berada di sampingnya ini. Tangannya mengarah ke langit yang menyala-nyala menujuk kerlap-kerlip yang tak lain adalah kembang api festival.

"Kau menyukainya?" kata-kata mengalun dari mulut si pria jabrik.

Senyum simpul terlukis, "Aku sangat menyukainya. Kalau Naruto-nii?"

"Ya. Aku juga."

Setelahnya tak ada untaian kata dari mereka, hanya suara debuman kembang api yang terus meletus dilangit menghantarkan kedua insan itu menautkan tangan mereka. Kenyamanan ini tak ada yang ingin mengakhirinya. Apa ini yang namanya sebuah ikatan?

.

.

.

Sepuluh menit beralu, masih tersisa beberapa orang di ruang rapat, gadis bersurai merah muda dan coklat tengah bercengkrama membahas kegiatan study akhir yang akan dilaksanakan bulan depan yang baru saja selesai dirapatkan. Tiba-tiba salah seorang pemuda menghampiri keduanya.

"Konichiwa." Sapa pemuda bersurai hitam legam sebahu-menghampiri kedua gadis yang tengah bercengkrama.

Rin berdiri mengetahui siapa yang menyapanya. "Konichiwa." Balasnya sopan, Sakura memandang temannya itu dengan heran, lalu ia melihat dengan siapa Rin berbicara.

"Hisashiburi, Haruno-san."

Mata Sakura melebar mengerti siapa yang tengah bebicara dengan mereka, pria yang tiba-tiba mentraktirnya parfait beberapa bulan lalu. Kalau tak salah namanya Izuna.

"I-Izuna-san." Reflek ia berdiri membungkukkan badan. "Hisashiburi desu."

Izuna mengulas senyumnya, "Kau masih seperti biasa… Sakura-chan?" goda Izuna namun masih menampakan kesan formalnya "Bolehkan aku memanggilmu 'Sakura-chan'?"

Pipinya memerah , "Tentu, Izuna-san."

Izuna mengambil kursi terdekat lalu mendudukinya, "Jadi, kau juga panitia study akhir?"

Sakura menganggukkan kepalanya. Rin menyikut lengan Sakura, "Kau kenal dia?" bisiknya pada Sakura.

Sakura tak menghimbau pertanyaan Rin. Izuna menepuk kepala Sakura, "Mohon kerjasamanya, Sakura."

Setelahnya Izuna berlalu pergi meninggalkan kedua gadis muda itu dengan tatapan saling tak percaya diantara mereka.

Rin menempatkan pantatnya di bangku samping Sakura. "Jadi, Kau kenal dengannya? Sejak kapan" nada yang cukup kuat dari Rin pertanda sebuah interogasi dimulai.

Sakura bingung harus memulai dari mana, ia mendesah "E..to.." ia mengubah posisi duduknya, "Beberapa bulan yang lalu, mungkin." Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Rin menatap Sakura tanda masih meminta penjelasan meski ia tahu Sakura tak akan berbohong atau menyembunyikan sesuatu. "Lalu? Dimana kalian bisa bertemu?"

"Café Parfait di Konoha, saat itu aku dan sepupuku habis belanja sepulang dari sekolah. Disana ia tiba-tiba bergabung dengan kami, mengobrol dan mentraktir kami makanan." Sakura mengambil jeda, menyandarkan punggungnya "Dia tidak mengatakan nama belakangnya."

"Hmmm…" Rin melirik dan menatap Sakura "Nee, Kau tahu siapa itu Izuna-san, Sakura?"

Siapa memang? Sakura mengendikan bahu, karena memang ia tak tahu dan ia juga penasaran sih siapa sebenarnya Izuna.

"Beliau Direktur disini, pemilik lembaga ini." Bisiknya ketelinga Sakura yang disambut raut tak percaya Sakura.

"Izuna Uchiha direktur FEE Center International Course." Jelas Rin.

"Uchiha?" ucap Sakura cukup keras, Rin membungkam Sakura seketika.

Ia menaruh telunjuknya didepan bibir, "Shhhh! Pelankan suaramu!" ia melihat kesekeliling, semua orang yang berada diruang besar itu tak tuli untuk mendengarnya. Rin dan Sakura menghembuskan nafas lega setelah semuanya kembali pada aktivitas mereka.

Sakura tak habis pikir, Izuna adalah seorang dengan marga Uchiha?. Itukan salah satu marga yang cukup terkenal. Dan ia tak menyangka jika lembaga ini adalah milik Izuna. Memang ia sempat bertanya-tanya kenapa Izuna bisa ada disini dan jika ia pemilik lembaga ini seharusnya ia yang memimpin rapatnya namun malah Azuma. Dan sejak kapan ia ada di ruangan itu?

"Memang kenapa dengan 'Uchiha', Sakura?" Rin menaikkan alisnya-ingin tahu.

Sakura menggeleng, "Bukan apa-apa, Cuma aku tak menyangka saja. Aku punya teman seorang di Konoha yang juga bermarga sama. Dia pernah bilang kalau punya sepupu di Suna. Ternyata Izuna-san yang dimaksud. Pantas seperti aku tak asing dengan beliau saat pertama bertemu dulu." Jelasnya panjang lebar.

"Hmmm…" gadis berambut coklat itu berdiri. Rin teringat sesuatu, ia melirik kearah Sakura yang sedang merapikan dokumen yang dibawanya.

"Hei Sakura, aku menunggu untuk menanyakan ini padamu." Sakura menoleh kearah Rin yang memandangnya dengan tatapan tajam dan senyum yang terlihat-mengerikan.

Sakura memundurkan langkahnya, "A..Apa?"

"Jadi kemana saja selama hampir 2 jam kau meninggalkanku dan Kankurou saat festival lusa lalu?"

Sakura meringis menunjukan giginya, "Itu.. A..Aku bersama kakakku, Rin-chan."

Rin masih dengan tatapan detektifnya, "Lalu apa yang kalian lakukan hingga begitu lama?"

Sakura menatap sekeliling-memutar bola matanya, "Kami hanya melihat festivalnya di atas bukit." Jawabnya.

"Lalu?" tukas Rin.

"Lalu…" Sakura teringat kejadian yang dialaminya saat bersama kakaknya, pipinya berubah menjadi semerah kepiting lautan. "Lalu kami kembali dan berdo'a di kuil." Alih Sakura.

Rin menatap curiga melihat ekspresi yang ditunjukan oleh Sakura. Ia memilih menyudahinya, "Baiklah.."

Sakura terlihat mendesah lega mendengar Rin menyudahinya.

"Nee.. Sakura." Jeda Rin, ia mengemasi berkas-berkasnya "Apa kau menyukai kakakmu itu? Brother Complex? Ucap Rin membuat Sakura terkejut dan tersipu.

"A..Apa yang kau katakan?"

"Yah… Dari reaksimu seperti tadi dan sekarang terlihat kau menyukai-Ah tepatnya mencintai kakakmu, bukankah tebakanku benar?" gadis beriris violet itu memasang senyuman yang tak bisa diartikan dan dengan percaya diri mengatakannya.

Sedangkan Sakura berusaha menyembunyikan rona pink dipipinya, "Tentu saja tidak. Ah.. aku harus ke ruangan Azuma-san. Maaf ya Rin-chan… Jaa…"

Rin hanya terpaku melihat Sakura menghilang dibalik pintu. Ia-pun mendesah lelah memijit pelipisnya. Awas saja jika kau mengelak lagi Sakura. Rin mengangkat sebelah alisnya kemudia terkikik geli dan ikut berlalu menuju ke ruangannya.

.

.

.

Desah lelah pemuda bersurai kuning mengalun dengan mulus melalui bibir seksinya-yang tengah menyibukkan diri dengan buku-bukunya. Diruangan sebesar ini ia biasa menghabiskan waktu untuk berkonsentrasi saat ada pekerjaan yang sangat banyak atau sekedar bersantai dari hiruk piruk diluar sana. Ruangan ini ruangan yang tidak sembarang orang tahu meskipun letaknya di perusahaan miliknya. Sengaja dibuat secret room agar tak ada orang yang menginterupsinya disaat-saat tak ingin diganggu. Ruangan ini hanya terisi buku-buku lebih tepatnya perpustakaan dengan sofa beserta mejanya, satu set meja kerja dan kursinya, serta dapur mini untuk sekedar membuat kopi atau makanan.

Sudah hampir dua jam ia termanggu dengan bacaannya membalik halaman demi halaman dari beberapa buku sesekali membenahi letak kacamatanya dan mengubah posisi duduknya. Laki-laki yang juga memiliki tangan kekar itu meraih secangkir kopi yang hanya tinggal setengah bagian lalu meneruputnya kemudian meletakkannya kembali.

Siang menjelang sore seperti ini memang waktu dimana orang mulai lelah, entah itu seorang direktur, karyawan, pelajar maupun orang lainnya. Hal yang sama dirasakan oleh pemuda berkulit tan ini, lelah dengan apa yang menyibukkannya dan menyita kesempatannya untuk sekedar membaca buku atau memikirkan lainnya. Meski penasehatnya yang notabene ayahnya sendiri sering menyuruhnya untuk istirahat jika memang lelah tapi kadang sifat keras kepala yang diturunkan ibunya itu melawan.

Pemuda itu menutup bukunya, meletakkannya dimeja berjejer dengan buku yang lainnya. Ia melepas kaca matanya menaruhnya di meja kerja lalu berjalan menuju jendela kaca melihat betapa ramainya kota Suna. Dibilang secret room juga karena meski pemandangan kota terlihat indah dari dalam namun kau tidak akan bisa melihat isi ruangan ini atau orang yang sedang berdiri tepat di balik jendela menggunakan helicopter atau kamera apapun.

Sang empu melihat sepasang burung yang terbang melintas diluar sana-ia tersenyum sesaat, melihat kedua burung berlawan jenis itu berkicau dan terbang bersama. Sepintas memori merasuki otaknya, ia menopang dagu-meraba bibirnya. Kenapa aku melakukan hal itu?! Ia berguman dalam hati. Ia menyandarkan punggung mengingat kejadian difestival kemarin lusa.

Ia tak mampu berkata, ia tak punya tepatnya tak tahu alsan kenapa ia bisa mencium adiknya itu.

Ia ingin menyangkal tapi tak bisa, ia takut tapi juga tak kuasa. Salahkah jika itu terjadi?Saat aku ingin mengatakan sesuatu kenapa aku malah menciumnya?Apa ini kutukan juga?Atau seperti hal yang rumit yaitu ci-

"Naruto… Kau mendengarku?"

Konflik batinya terhenti, seseorang menginterupsi pikirannya.

"Sai… Ada apa?"

"Kau dimana sekarang?" terdengar nada tak biasa dari pikiran yang ia dengar.

"Aku masih dikantor? Kenapa? A.. Ada apa? Apa yang terjadi?"

"Cepatlah kau kemari! Tempat tetua diserang Eater. Saint laten terkapar lemah sebagian mati. Kami masih mencari tetua."

Iris sapirnya melebar, tangannya mengepal. "Aku kesana."

"Kami menunggumu."

Mereka mengakhiri teleportasi pikiran itu. Mata pemuda jabrik itu berkilat tajam lalu menghilang dalam temaran.

.

.

Lelaki bermahkota kuning mengerjapkan mata dengan apa yang dilihatnya, meskipun tak roboh darah dan sebagian tubuh tercecer disekeliling bangunan tempat dimana tetuanya tinggal. Ia berjalan melewati tubuh yang tak bernyawa itu menuju ke dalam.

Ia melihat teman-temannya membantu Saint yang terluka. Sai, Gaara, Yahiko dan Kakanya sedang , merapalkan mantra segel baru untuk melindungi tempat ini. Naruto mengecek setiap petunjuk yang ditemukannya.

"Beraninya kau membuat kekacauan seperti ini, Madara." Naruto menggegat giginya.

Seseorang menepuk pundaknya dari belakang tak lain pemuda bermahkota merah marun berjubah yang sangat ia kenal. "Gaara.. Kau sudah selesai dengan segelnya?!"

Pemuda itu mengangguk, "Nagato dan Pain sedang mencari lokasi tetua."

Dada Naruto seakan terhujam pisau ia berharap sesuatu yang sangat buruk tidak terjadi. "Kuharap tetua tak terluka."

"Aku telah menemukan tetua, aku membawanya ke bilik. Kalian kemarilah." Sebuah telepati melintas-terdengar kegetiran disana.

Naruto segera turun diikuti Gaara menuju bilik tempat sang tetua dibaringkan dengan cemas. Ia membuka pintu bilik, matanya membola menatap tak percaya dengan apa yang ada didepannya seketika bahunya pun merosot.

"Tetua?!"

.

.

.

To Be Continue….

~~~~Love Saves The Earth~~~~


Alhamdulillah kelar chapter 4 ini. Saya sangat sangat minta maaf tidak update dengan cepat. #Sumimasen deshita minna-san

Terima kasih atas dukungan dan semangat yang minna berikan, termasuk teman-teman saya yang juga ikut memberi saya saran. #Arigatou Gozaimasu

Saya sangat senang siapapun yang menyukai fic ini. Terima kasih sudah mau membaca, mereview dll. Terima kasih.

Maaf jika masih banyak typo yang bertebaran. Saran yang membangun sangat saya harpkan.

Mungkin saya mau hiatus dulu, fokus sama Ujian yang akan datang.

#Balas review

HyperBlack Hole. Wahhh maap.. habis mikirnya sambil lari #onlyjoke … semoga chapter ini bisa cukup menghibur dan nggak terlalu monoton.. makasih udah mau baca & kasih sarannya

Paijo Payah. Souka? Semoga aja kamu betah ya bacanya…

Laffayete. Gomen.. saya usahakan untuk tidak keluar jalur lagi dah… #Hehe.. Terima kasih sarannya

Dear God. Iya… di chapter ini mulai saya munculin… gimana? Nge-feel/tidak? Kedepannya akan saya buat lebih baik lagi #Amiin

Loray29 Alus. Nih.. lanjutanya.. maaf lama updatenya

Guest. Wah.. wah.. gomen.. telat banget updatenya…

AiKeane. Oke.. nih udah dilanjut.. semoga tetep betah bacanya..

Guest. Siipp..

Aim. Yahiko sama Pain itu sengaja saya buat saudara kembar. Hehe..

Untuk asal usul Phoenix pasti saya jabarkan, namun bukan di chapter ini. Jadi sabar dulu ya.. #peace

See you in next chapter….

mind to review?

.

.

.

.

.

.

.

.