Chapter 5
Disclaimer by : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruHina
.
.
.
Akhirnya liburan yang mereka jalanai selama tiga hari telah berlalu. Merekapun telah sampai di kediaman masing-masing mengistirahatkan segala kepenatan yang melanda untuk kembali bekerja esok hari.
Begitupun dengan Naruto yang kini tengah membereskan barang bawaan di apartemen sederhananya. Tak banyak oleh-oleh yang ia beli, mengingat ia hanya hidup seorang diri. Tidak ada keluarga yang saling berbagi dengannya. Naruto remaja, sampai sekarangpun ia tidak pernah tahu apa penyebab kedua orang tuanya itu meninggal dan bagimana kejadiannyapun ia sama sekali tidak tahu.
Flashback...
Naruto POV
8 tahun yang lalu...
Sepulang sekolah, entah kenapa hari ini aku merasakan tidak enak hati. Sepanjang jalan yang aku lewati seolah tak menarik. Apakah akan ada sesuatu yang terjadi? Matahari sangat panas sekali menyinariku. Akupun membuka satu kancing seragm untuk mencari udara masuk.
Kakiku terus melangkah untuk segera sampai kerumah dan meminta Kaa-san membuatkanku es serut. Namun langakahku terhenti saat melihat begitu banyak orang yang memadati rumahku. Akupun berlari untuk melihat apa yang terjadi disana.
Sesampainya dirumah aku melihat sebuah ambulance, polisi dan rekan kerja Tou-san berkumpul diruang keluarga kami. Dan yang lebih membuatku bingung adalah mengapa semua orang menangis? Apakah ada sesuatu yang terjadi. Deggg... kurasakan jantungku berdetak dengan kencang saat melihat dua objek didepanku tengah terbaring lemah tak berdaya.
Tanpa sadar air mata mengalir dikedua mataku. Entahlah perasaan tidak enak itu berubah menjadi sakit setelah melihat hal itu. Buru-buru aku menghapusnya dengan kasar 'baka apa yang kau pikirkan' batinku seraya mendekat kearah dua orang disana.
Pukk! Seseorang menepuk pundakku. Ku tengok, ternyata itu adalah Hyuga Hiashi sahabat Tou-san sekaligus rekan kerjanya yang selalu mempir kerumah "Ikhlaskan ya nak"
Tunggu... apa maksudnya ini? Ikhlaskan? Ikhlaskan untuk apa?
"Ada apa sebenarnya ini?" Bentakku pada paman Hiashi.
"Tou-san dan Kaa-sanmu sudah tiada. Mereka berdua mengalami kecalakaan"
Ppplllaaarrrrrrr! Seakan terkena petir disiang bolong, hatiku begitu sakit mendengar ucapannya. Apakah aku tidak salah dengar? Kedua orangtua... ku mening...gal?
Buru-buru aku berlari dan menghampiri keduanya. Bisa kulihat wajah Tou-san dan Kaa-san sudah memucat. Air mata tak henti-hentinya mengalir dipipiku.
"Hiks... Kaa-san Tou-san Naru mohon bangunlah jangan tinggalkan Naru sendirian disini hiks... hiks..." tangisku dan memeluk tubuh mereka yang mulai mendingin.
"Sabarlah nak. Orang tuamu berpesan bahwa kau harus tabah menjalani ini semua. Aku janji akan membantumu" ucap seseorang yang ku yakini itu adalah paman Hiashi.
.
Sebulan setelah meninggalnya kedua orangtuaku hidupku terasa hampa. Hidup seorang diri hanya mengandalkan uang Tou-san yang paman Hiashi berikan.
"Aku berjanji, setelah kau lulus sekolah aku akan menjadikanmu sekertaris pribadi diperusahaanku" ungkap paman Hiashi padaku kemarin. Hahh~ entahlah aku bisa hidup hanya mengandalkan diriku sekarang.
Flashback off..
Apakah benar Kaa-san dan Tou-san meninggal karna kecelakaan? Karna yang aku tahu waktu itu hanya ada bekas luka di sekitar perut mereka. Hahh~ aku bingung jika harus memikirkan hal itu lagi, yang jelas kini kedua orangtuaku sudah tenang dialam sana.
Baiklah aku tidak boleh terpuruk kembali masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.
.
Hinata sudah kembali di kediamannya. Tengah sibuk memeriksa pekerjaan apa yang akan ia lakukan untuk besok. Tapi apakah ia tahu, sedari tadi sang ayah mengamatinya.
"Ada apa Tou-san?" Ucap Hinata yang ternyata sadar akan kehadiran Tou-sannya.
"Heheh ternyata kamu menyadarinya." Balas Hiashi masuk kedalam dan duduk dihadapan Hinata.
Melihat anaknya yang tengah bekerja seperti itu membuat Hiashi teringat akan kesibukannya dulu. Saat ia yang duduk disana yang kini sudah digantikan oleh putrinya "Hinata apakah kamu tidak lelah? Kamukan baru pulang liburan" ucap Hiashi kembali. Hinata sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari pekerjaannya itu "aku harus mengganti pengeluaran perusahaan yang aku gunakan saat liburan" ucapnya.
"Sudahlah Hinata jangan memaksakan dirimu. Makanlah dulu Tou-san yakin kamu belum sarapankan?"
"Tidak ada sarapan Tou-san. Tou-san sendirikan yang bilang bahwa aku harus giat bekerja" ucap Hinata dan berlalu darisana.
Hinatapun kembali didalam kamarnya. Duduk dimeja riasnya "apaan coba. Dulu ketika aku tidak semangat bekerja selalu memarahiku sekaranga aku semangat bekerja malah seperti itu. Hhaahhh~ aku tidak mengerti" ungkapnya dan menenggelamkan wajahnya disana.
Flashback ON
Hinata POV
5 tahun yang lalu...
Aku sudah lulus dari bangku sekolahku. Tidak seperti anak-anak yang lain saat mereka lulus mereka akan memutuskan untuk meneruskan sekolah atau bekerja. Namun berbeda dengaku, sejak dilahirkan hidupku memang sudah ditakdiran untuk menjadi pewaris perusahaan keluargaku. Setiap hari Tou-san selalu menyuapiku dengan pelajaran bisnis dan bisnis, uang dan uang, untung dan untung. Aku juga ingin seperti anak lain yang bebas memilih hidup mana yang akan mereka jalani. Namun sekarang aku ada disini tengah duduk seorang diri dan mendengarkan ceramah demi ceramah pelajar yang didatangkan khusus untukku oleh Tou-san.
Masih ingat dalam pikiranku 2 tahun yang lalu saat Tou-san kehilangan rekan kerjanya karna mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan, itulah yang Tou-san katakan padaku. Dan dari saat itu Tou-san terus memaksaku untuk memimpin perusahaan ketika umurku mencapai 20 tahun. Tersiksa memang setiap saat harus mendengarkan ceramahan demi ceramahan yang Tou-sanku katakan. "Hinata ini demi kebaikanmu. Ini demi kebaikan kita" 'kita' katanya kita? Itu semua hanya demi kebaikanmu Tou-san. Kau menjadikanku robot yang bisa kau suruh dengan seenaknya, yang bisa kau pekerjakan tanpa henti. Ketika perusahaan mulai menurun akupun yang harus menanggungnya untuk berjaya kembali.
.
Akhirnya usiakupun mencapai 20 tahun, dan untuk pertama kalinya aku memimpin perusahaan ini dengan seseorang yang aku kenal di masa sekolah. Aku hanya mengenalnya dan tidak akrab dengannya. Tuhan, apakah kebahagiaanku sudah terenggut? Baiklah aku akan mengabdikan semuanya untukmu... Tou-san.
Flshback OFF.
Hahh~ aku memang robot dirumah ini. Tapi bagaimanapun juga aku sudah nyaman hidup seperti ini, aku tidak butuh apapun lagi. Semua yang aku inginkan sudah bisa aku dapatkan. Sekarang hanya tinggal mempertahankan apa yang sudah aku miliki. Tidak akan aku biarkan perusahaan yang selama ini aku bangun roboh begitu saja.
.
.
.
Hari ini semua pegawai Hyuga Corp sudah kembali bekerja seperti semula. Pekerjaan demi pekerjaan mulai kembali mereka selesaikan.
Hinata sedang melihat persiapan yang sebentar lagi didalam ruangan itu akan diadakan pemotretan untuk memamerkan perhiasannya.
"Hyuga-sama. Jadwal anda hari ini_" ucap sang sekertaris harus dipotong begitu saja oleh Hinata "stop tidak usah kau teruskan lagi. Kau_" tunjuk Hinata "kenapa kau jadi tidak becus mengatur jadwalku HAH?" teriak Hinata padanya. Kelihatannya Hinata sedang kesal pada sekertarisnya itu yang kinerjanya tidak seperti biasanya.
"Gomen Hinata-sama aku lupa"
"LUPA KATAMU? KALAU KAU SELALU LUPA LEBIH BAIK KAU KELUAR SAJA DARI SINI" teriak Hinata lagi dan berlalu dari sana membuat semua orang yang berada disana menoleh padanya.
Sedangkan Naruto hanya bisa mematung ditempat dengan jadwal Hinata ditangannya.
'Sebenarnya aku kenapa?' Batinnya dan langsung mengejar Hinata yang sekarang entah pergi kemana.
.
"Hahh~ pusingnya" gumam Hinata seraya memegang kepalanya. Keberadaannya kini ada diatap kantor yang jarang orang datang kesana.
Angin sejuk sedikit menenangkan suasana hatinya yang nampak kacau sekarang. Pekerjaan padat yang seharusnya dijadwalkan oleh sekertrisnya itu ternyata harus ia kerjakan sendiri.
Brakk! Pintu terbuka, menampilkan seseorang yang saat ini enggan Hinata lihat.
"Mau apa kau kesini?" Tanya Hinata sinis.
"Aku kesini untuk meminta maaf. Hinata maafkan aku. Aku memang lupa menjadwalkan semua pekerjaanmu sejak liburan itu" ucap Naruto meyakinkan atasannya itu "apa kau marah padaku karna kejadian itu?" Lanjutnya lagi membuat mata lavender itu harus terbelalak.
"Jangan bodoh. Aku tidak akan semarah ini hanya gara-gara kelakuan konyolmu itu. Aku marah karna kau sekarang tidak becus mengatur jadwalku. Kau tahukan bahwa aku banyak pekerjaan yang harus diselesaikan?" Terlihat perempatan muncul didahi Hinata menandakan bahwa amarah wanita itu sudah meluap-luap.
"Iya Hinata ehh Hyuga-sama aku minta maaf. Aku janji tidak akan lupa lagi. Aku berjanji akan menjadwalkan semuanya dengan baik termasuk sarapanmu dan makan siangmu" ungkap Naruto dengan penuh ketegasan.
"Ya ya. Kali ini aku maafkan jika kau lupa lagi... kkrrrkkkkk aku potong lehermu" ucap Hinata seraya memeraktekan seolah memotong lehernya dengan tangan. "Aahh dan satu hal lagi soal makan jangan kau jadwalkan itu biar aku yang urus" lanjutnya lagi.
"Baiklah. Tapi aku akan menjadwalkan makanmu. Dan tidak ada penolakan"
"Hmm hmmm terserahlah. Aku akan kembali untuk melihat pemotretan siang ini. Itu ada dijadwalkukan?" Wajah Hinatapun mendekat padanya menampilkan aura kegelapan disekitarnya.
"Ha...ha'i itu sudah ada dalam jadwalmu" jawab Naruto ketakutan.
.
Jprett...
Jpprettt...
Jjjpreett...
Suara kamera menggema disana, lampu-lampu kamera menyoroti sang model yang tengah berpose.
"Bagus... ganti pose lain" ujar kameramen. Sang model mengangguk mengerti.
"Ino, cantik juga ya" ucap salah satu pegawai yang gengah menyaksikan pemotretan itu.
"Kau menyukainya Sai?" Tanya Naruto yang berada disampingnya.
"Sepertinya begitu. Apa terlihat jelas?" senyum Sai pada Naruto dan kembali melihat Ino.
"Baiklah model selanjutnya silahkan sekarang giliranmu" ucap kameramen lagi.
"Ha'i" sang modelpun berjalan karna sekarang gilirannya melakukan pemotretan.
Jprett...
"Tenten juga tidak kalah cantik... kkyyyaaa lihatlah posenya itu. Omo omoooo dia sangat menggoda" tiba-tiba saja sebuah suara ricuh terdengar disamping Naruto. Pandangan 2 pria itu menoleh kearah samping kiri Naruto, mendapatkan Lee yang tengah heboh sendiri.
"Dia tergila-gila sama Tenten" bisik Sai pada Naruto "hhmmm sepertinya begitu" jawab Naruto.
Narutopun diam-diam memperhatikan Hinata yang tengah bercakap-cakap dengan kameramen 'apa yang mereka lakukan ya?' Batinnya bertanya-tanya.
"Hyuga-sama sekarang giliranmu untuk melakukan pemotretan. Ini akan semakin bagus jika perancang perhiasannya ada dalam poster itu" ucapnya membuat Hinata harus berpikir keras.
Pemotretan? Bayangkan saja jika Hyuga Hinata yang jarang sekali tersentuh oleh kamera akan berpose didepan banyak orang disini? Ohh tidak apa yang akan dia lakukan? "Apa aku bisa?"
"Kamu pasti bisa Hinata. Percaya dirilah kau itu cantik inikan demi produkmu juga." Ucap Ino yang ikut bergabung bersama mereka.
"Baiklah... ayo lakukan" ujar Hinata mulai berhias dan mengganti pakaiannya untuk pemotretan perdananya.
30 menit berlalu Hinata kini sudah siap dengan pakaian dan riasannya. Iapun berjalan menuju tempat pemotretan berada.
"Hyuga-sama mau ngapain? Apa dia juga mau pemotretan?" Tanya Shikamaru penasaran. Mendengar nama atasannya itu disebut otomatis pandangan Narutopun langsung beralih menatap sebuah objek didepannya. Sedetik kemudian matanya terbelalak melihat Hinata melakukan pose yang menurutnya sangat indah dan cantik 'cantiknya' ujarnya berbatin.
Jprett... sebuah foto berhasil didapatkan.
"Hahh~ ini sangat memalukan" gerutu Hinata melihat hasil jpretannya.
"Kkkyyaaa kau sangat cantik Hinata" peluk Tenten tiba-tiba membuat wanita itu tersentak kaget dibuatnya.
"Kau mengagetkanku. Jangan peluk-peluk aku sembarangan. Lepaskan ahh" ujar Hinata melepaskan pelukan itu dengan kasar membuat Tenten mengerucutkan bibirnya.
Wanita itu memang tidak pernah peduli tentang kelakuannya. Entah itu pada rekan kerjanya atau pada siapapun.
.
Pemotretan yang dilakukan selama 3 jam itu akhirnya selesai sudah. Hinatapun tengah mengistirahatkan dirinya kembali diatap kantor dengan ditemani secangkir kopi panas didepannya.
"Aku tidak tahu jika pemotretan akan melelahkan seperti ini. Aku salut dengan Ino dan Tenten. Ughh... ughh" gumam Hinata seraya memukul-mukul bahunya sendiri.
Sedangkan ditempat lain Naruto terlihat heboh sendiri dengan perasaannya. Uring-uringan tidak jelas membuat sahabat-sahabatnya pusing melihatnya seperti itu.
"Jika kau memang tidak tahan lagi memendamnya lebih baik kau ungkapkan saja. Aku yakin dia akan mengerti" ujar Sakura menghentikan dirinya yang tengah mondar-mandir tidak jelas.
Grepp! "Sakura apakah aku bisa melakukannya?" Tanyanya dengan mencengkram kedua bahu Sakura. "Aku yakin kau bisa. Lepaskan baka ini sakit" perlahan Narutopun mulai melepaskan cengkramannya.
"Baiklah akan aku ungkapkan semuanya"
"Bagus kami mendukungmu" ungkap Shikamaru kemudian.
Narutopun menoleh padanya melihat rekan-rekan yang lain juga tersenyum padanya memberikan semangat untuknya.
"Arigato minna. Do'akan aku berhasil"
"Yyyeeee berjuanglah baka" teriak Kiba.
"Eeuummm" Narutopun berlari segera mencari sosoknya berada.
Namun sebelum itu "sepertinya dia belum makan. Baiklah pertama-tama aku akan membawakannya makanan. Makanan makanan makanan" gumamnya bersenandung bahagia.
"Apakah ada yang melihat Hyuga-sama dimana?" Tanya Naruto pada salah satu pegawai yang berada dikantin.
"Aku melihatnya tadi berjalan menuju atap"
"Yosh.. baiklah arigato" Naruto kembali berjalan untuk segera sampai ketujuannya dengan nampan yang berisi makanan ditangannya.
Tangga demi tangga ia lewati dengan sebuah senandung kecil keluar dari mulutnya. _Sebegitu bahagianyakah kau Naruto untuk mengungkapkan sebuah perasaan? Hhmmmm_
Kkreekkk! Pintu atap dibuka perlahan-lahan. Pandangannya langsung tertuju pada sosok yang tengah duduk memunggungi dirinya. Sebuah senyuman mengembang indah diwajah tannya.
"Hinata kau sudah makan?" Tanyanya setelah menghampiri Hinata dan duduk didepannya membuat wanita itu tersentak kaget.
"Kau mengagetkanku" ucapnya "kau membawakanku makanan lagi? Ohh arigato karna aku sangat lapar jadi akan aku makan" lanjut Hinata lagi dan mulai memakan makanan yang dibawakan Naruto untuknya.
Sepanjang Hinata makan Naruto terlihat menyiapkan kata-kata indah yang akan nanti diungkapkannya. Semilir angin menemani mereka, senja mulai datang itu artinya sekarang sudah sore hari.
Hinata makan dengan lahap tak sedikitpun menoleh pada pria didepannya, ia sibuk dengan mengunyah dan terus memasukan makanan kedalam mulutnya.
20 menit berlalu makanan yang semula terlihat banyak kini sudah habis tak berbekas. Ternyata atasannya itu sangat kelaparan.
"Terima kasih atas makananya. Aku akan kembali bekerja dan setelah itu pulang" ucapnya membuat Naruto tersentak melihat Hinata berdiri "tunggu Hinata" cegahnya, mencegah kepergian Hinata.
"Ada apa?"
'Tujuanku kesinikan ingin mengatakan semuanya. Ughh Hinata kau tidak peka sama sekali' ujarnya berbatin "ada sesuatu yang ingin aku bicarakan"
"Soal?"
"Soal...etto... eemmmm. Lebih baik kamu duduk dulu"
Hinatapun kembali duduk seraya menyilangkan kedua tangannya didepan dada menyambut ucapan selanjutnya yang akan dilontarkan oleh sekertarisnya itu.
"Aku... mencintaimu" satu kata mengubah segalanya.
Perlahan Hinata mulai melepaskan lipatan kedua tangannya. Mendengar kata yang terucap dari Naruto membuatnya tak percaya sama sekali "a...apa? Kau bilang tadi apa? Cinta? A...ahahahahahha apa aku tidak salah dengar? Kau jangan bercanda dengaku baka" ucap Hinata dan kembali melipatkan tangannya seraya bersender ditempat duduknya.
"Aku tidak bercanda Hinata. Aku sungguh-sungguh mencintaimu"
Melihat raut muka didepannya menampilkan keseriusan membuat Hinata dibuat bingung olehnya "alasan kau mencintaiku?" Tanya Hinata kemudian.
"Apakah ada alasan bahwa aku mencintaimu? Hinata cinta itu tidak butuh alasan. Sebuah rasa cinta yang aku rasakan ini datang begitu saja tanpa pernah aku duga dan tak pernah aku sangka"
"Kau... apa kau tahu artinya cinta?"
"Aku tidak mengetahui apa arti sebuah cinta. Namun aku merasa cinta adalah sebuah perasaan indah yang tak ingin aku lepaskan"
"Aku tidak bisa menjawabnya" gumam Hinata dan berlalu darisana membuat Naruto tidak bisa berkutik apa-apa selain melihat kepergian Hinata.
"Apakah aku salah mencintaimu Hinata?" Gumamnya dengan sorot mata kesedihan.
.
Blamm! Pintu ditutup olehnya. Pandangan itu kini menampilkan sebuah kekosongan yang kembali lagi padanya. Sebuah seringan tercipta disana. Sebuah ilusi kembali membayanginya. Sebuah kenangan kejam kembali hinggap dalam pikirannya. Sebuah kata cinta yang sudah tidak bisa ia percaya lagi.
"Aku mencintaimu"
"Aku tidak mencintaimu. Alasan apa kau mencintaiku"
"Aku tidak mempunyai alasan untuk mencintaimu"
"Kau berarti tidak mencintaiku. Aku hanya akan menjalin hubungan dengan gadis yang mempunyai alasan kenapa dia mencintaiku. Kau hanya gadis bodoh yang tidak memiliki alasan yang jelas dalam mencintaiku. Oohh atau mungkin kau hanya menginginkan hartaku saja ya? Pergi kau aku tidak suka melihat matamu yang seperti monster itu. Jangan pernah mendekatiku lagi. Aku tidak suka"
Bbrruugghh! Cuplikan kenangan buruk itu kembali berputar seolah sebuah film nyata yang ia tonton dihadapannya. Hiantapun terjatuh disana dengan air mata sudah membasahi pipinya. Kenangan buruk selama disekolah kembali mengganggunya. Pernyataan cinta yang ia umbarkan dibalas dengan ucapan kejam menyakitkan. "Aaarrgghhhh" erangnya meremas rambutnya untuk meredamkan sakit luar biasa bersarang dikepala. Matanya sudah tidak bisa lagi untuk ia pertahankan melihat cahaya sampai sebuah kegelapan menyambutnya.. bbruughhh!
"Hinataa~"
.
.
.
Naruto kini kembali harus mengantarkan atasannya itu menuju kediamannya. Apa yang harus ia lakukan saat bertemu dengan Tou-sannya. Namun rasa khawatir menyelimuti hatinya melihat wanita yang dicintainya jatuh pingsan dengan air mata membasahi wajah cantik itu.
'Apakah aku salah mengungkapkannya? Hinata ku mohon sadarlah'
Pukk! "Naruto"
"A...aahhh Tou-san"
"Ayo ikut Tou-san."
Narutopun mengikuti langkah Hiashi. Merekapun kini sampai dibalkon rumah.
"Kenapa Hinata bisa pingsan lagi? Apakah dia tidak memperhatiakan makannya lagi?" Tanya Hiashi membuat Naruto tersentak.
"A...aahh tidak Tou-san, aku selalu memberikannya makan ko kalau dia lupa. Tou-san aku ingin membicarakan sesuatu"
"Ya apa itu?"
"Sebelum Hinata pingsan aku mengungkapkan padanya bahwa aku mencintainya"
Pandangan Hiashi kembali menoleh padanya. Sedetik kemudian sebuah senyuman terpatri diwajah Hiashi "akhirnya kamu mengakuinya juga?"
"Apa maksud Tou-san?"
"Ya aku sudah mengira jika kamu mencintainya. Aku akan mendukungmu dan bersabarlah dengan sikapnya itu. Tou-san percayakan padamu"
.
Naruto kembali pulang membawa kendaraan Hianta. Hiashi kembali menyuruhnya untuk membawanya, bagaimanapun juga ia tidak ingin Naruto pulang jalan kaki ataupun dengan naik taksi sekalipun. Namun sebuah pertanyaan menyelimuti pikirannya, melihat Hinata pingsan apakah semua itu salahnya. 'Apakah aku yang menyebabkan Hinata pingsan? Ataukah Hinata terlalu senang dengan pernyataan cintaku? Tapi bagaimana dengan air mata itu. Apakah kau bisa menjelaskan bagaimana Hinata menangis? Aarrghhh aku memang baka' batinya merasa kesal dengan dirinya sendiri yang tak bisa memahami situasi.
Bbbrrmmmmmm... iapun melajukan mobil dengan kencang seolah membelah angin malam yang berhembus kencang malam ini.
.
Pagi kembali menjelang suara burung berkicauan diatas pohon. Cuaca begitu cerah hari ini, Hinatapun terbangun merasa tidurnya terusik oleh cahaya hangat yang masuk menerobos celah jendela kamar.
"Ngghhhh... kepalaku pusing" gumamnya dan mulai beranjak darisana.
Kaki mulus itucmulai turun dan berjalan menuju meja rias untuk melihat keadaan dirinya "oohh tidak aku sangat menyedihkan. Kau sangat menyedihakn bodoh" gumamnya melihat pantulan diri sendiri didalam kaca.
30 menit berlalu, Hinatapun turun untuk segera berangkat menuju kantor. Tapi ia sama sekali tidak menemukan kunci mobil dimanapun "TOUU-SANNNN APA TOU-SAN MELIHAT KUNCI MOBILKU?" teriak Hinata sambil mencari kunci itu yang tak ia temukan dimanapun.
"Aahhh mobilmu ya? Kemarin Tou-san menyuruh Naruto membawanya setelah dia mengantarkanmu pulang" teriak Hiashi didalam mandi menjalankan ritual paginya.
Hinatapun tidak menjawab lagi. Setelah mendengar jawaban Tou-sannya Hinata berjalan keluar untuk mencari taksi menuju kantor.
Brakk! "Hinata Tou-san_ eehhh kemana perginya anak itu?" Gumamnya celingak-celinguk mencari putrinya. "Aahhh perutku sakit" dan kembali kekamar mandi.
.
Suasana kantor nampak ramai seperti biasa, Hinatapun akhirnya sampai dikantor dan kini mulai merancangkan sebuah perhiasan baru. Tapi ia sama sekali tidak fokus dalam menggambar pikirannya entah kenapa terasa berat untuk ia pakai dalam mencari sebuah ide. Sebuah kenangan pahit itu ternyata masih bersemayam dalam pikirannya selama ini. Bbrrakk "aahhh aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi" ujar Hinata menyimpan pensil dengan sedikit mengebrak meja. Menundukan kepalanya dan memejamkan kedua mata untuk menghilangkan bayangan itu.
Tok... tokk... tokk... sebuah ketukan dipintu membuyarkannya "ya masuk"
Cklekk! Pintu dibuka menampilkan sosok yang berharga didalam hidupnya "Tou-san? Kenapa Tou-san datang kekantor?" Tanya Hinata bingung melihat kedatangan Hiashi.
"Apakah Tou-san tidak boleh datang kesini? Wwaahh Hinata kamu sangat menjaga ruangan ini ya. Eemmm bagus" ucap Hiashi "Tou-san datang kesini sebenarnya ada sesuatu yang ingin Tou-san tanyakan padamu"
"Tapi bisakan dibicarakan dirumah?"
"Entahlah Tou-san ingin membicarakannya sekarang"
"Apa itu?"
"Ini mengenai Naruto..."
.
Sedangkan ditempat lain...
Setelah Naruto memarkirkan mobil Hinata iapun berjalan menuju ruangannya untuk menyimpan tas dan sedikit melihat jadwal apa yang akan Hinata lakukan nanti.
"Aahhh aku harus mengatakan bahwa sekarang ada rapat dan juga aku harus mengembalikan kunci mobilnya" gumamnya dan berjalan untuk segera keruangan Hinata.
Namun sesampainya ia didepan ruangan Hinata, tangan itu harus mengambang untuk mengetuk pintu didepan karna sebuah percakapan yang tak sengaja ia dengar didalam. Merasa penasaran karna namanya disebut-sebut Narutopun hanya mampu berdiam diri disana.
"Ini mengenai Naruto..."
"Ada apa dengannya?"
"Tou-san dengar kemarin dia mengungkapkan cintanya padamu. Apakah kamu menerimanya?"
"Apa dia yang mengatakannya sendiri pada Tou-san?"
"Ya dia mengatakannya kemarin"
"Aku tidak menjawabnya"
"Kenapa?"
"Aku tidak menyukainya"
"Kenapa? Dia pria baik, bertanggungjawab dan sepertinya sangat mencintai dan menyayangimu"
"Tou-san tahu apa soal cinta? Aku tidak mencintainya. Kita berbeda Tou-san aku pemimpin perusahaan disini dan dia hanya sekertarisku, bawahanku. Dia tidak pantas untukku"
Tahukah kau Hinata bahwa ucapanmu itu sudah menyakiti hatinya?
"Hinat_" ucapan Hiashi terpotong dengan suara pintu yang dibuka oleh seseorang.
Brakk! Pintu dibuka, menampilkan sosok yang tengah mereka biacrakan. Mata Hinata terbelalak saat melihat dia ada didepannya.
"Naruto?" Ucap Hinata berdiri melihatnya.
"Naruto?"
Sebuah senyuman yang entah apa artinya itu muncul diwajahnya.
Tbc...
.
A/N : Yyeeeyyyy akhirnya Hyugana bisa update lagi wkwk... makasih untuk para readers yang setia membaca bahkan sampai menunggu kelanjutan fic geje ini... arigato gozaimasu hyugana akan berusaha untuk update secepatnya... karna kalianlah yang memberikan semangat untuk hyugana #hahahhaasudahlahlupakan ^^v ^^v :D :D
Baik sampai jumpa lagi ya minna mohon dukungannya. Jaa kalau berkenan silahkan tinggalkan jejak ya. Arigato :) ^^
Balasan reviews
uchiha narusuke (Guest) : udah lanjut nih semoga suka ya... arigato gozaimasu atas pendapatnya wkwk ^^ arigato udah ngereviews ^^
JustNaruHinaAndKibaTamaLover : hehehe iyaa nih biar tambah greget :D sabaarrr sabarrr dia emang udah baka darisananya wkwk ^^ :D #Naruto : apa kalian ngomongin gue ya? #kabbuuuurrrrrrrrrrrr hahahah :D :D arigato udah ngereviews ^^
Helena Yuki : hehehe entahlah tiba-tiba Hinata jadi seperti itu :D :D sudah biasa dia tidak peka #Naruto : apaan lagi nih -_- ngomongin gue terus ya -_-. heheh oke mungkin nanti akan ada scane pacaran mereka :D arigato udah ngeeviews ^^v
