Chapter 6
Disclaimer by : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruHina
.
.
.
Suasana terlihat menegang disana setelah kedatangan objek yang mereka berdua perbincangkan. Hinata tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, begitupun dengan Hiashi. Pria paruh baya itu tak habis pikir bagaimana mungkin Naruto ada disini setelah Hinata mengucapkan kata-kata menyakitkannya. Hanya ada 1 yang menjadi pertanyaan didalam pikiran Hinata saat ini 'apakah dia mendengarkan apa yang aku ucapkan?' Batinya melihat Naruto yang hanya berdiri disana.
"Aahhh Naruto. Ada keperluan apa kemari?" Tanya Hiashi kikuk.
"Oohhh hehe Tou-san ada disini? Tidak saya hanya ingin mengatakan pada Hyuga-sama jika sekarang jam 11:00 ada rapat di aula lantai 2. Dan ohh ya ini kunci mobilnya. Arigato sudah meminjamkannya kepada saya" ucap Naruto formal dan menyerahkan kunci mobil Hinata "baiklah saya permisi dulu" lanjutnya lagi dengan sebuah senyuman masih berada diwajahnya, membingkuk hormat pada mereka dan berlalu dari sana.
Blamm! Pintu tertutup.
"Hahh~" Hinata kembali duduk dikursi masih syok dengan kejadian barusan. Sedangkan Hiashi hanya terdiam "Hinata apakah dia mendengarkan ucapanmu itu?" Tanyanya merasa khawatir.
"Entahlah. Biarkan saja, biar aku yang mengatasinya. Sekarang Tou-san pulang dan jangan mengkhawatirkan kami" ujar Hinata dan kembali melanjutkan kegiatannya.
.
Naruto berjalan dengan langkah berat, sorot matanya meredup seolah sebagaian nyawanya sudah hilang begitu saja ketika dirinya keluar dari ruangan atasannya itu.
Naruto POV
"... Aku tidak mencintainya. Kita berbeda Tou-san aku pemimpin perusahaan disini dan dia hanya sekertarisku, bawahanku. Dia tidak pantas untukku"
Ucapan wanita itu barusan sangat mengganggu pikiranku. Apakah aku memang tidak pantas untuknya? Apakah aku memang tidak bisa bersamanya? Apakah perbedaan status menjadi penghalang cinta ini? Kenapa rasanya sakit sekali setelah mendengar ucapannya? Dan kenapa aku tersenyum? Aahh pasti aku sudah gila, aku tersenyum bukan berarti disini tidak sakit tapi aku tersenyum karna kebodohanku yang tak bisa berbuat apa-apa disana. Tuhan, apakah perbedaan itu menjadi penghalang cinta kami? Jika memang ia kenapa aku harus dilahirkan seperti ini?
Jujur aku sama sekali tidak membencinya. Tidak, aku tidak bisa membencinya. Memang benar aku mencintainya, tapi aku tidak menuntut dia untuk membalas cintaku. Memang, ini salahku karna terlalu cepat mengatakannya. Pasti dia bingung dengan pernyataan cintaku. Ya benar dia pasti bingung.
Baiklah lupakan ucapannya barusan, anggap saja aku sama sekali tidak mendengarnya. Baiklah Naruto kau harus mulai dari awal lagi. Kau harus mendekatkan diri lebih baik lagi Naruto.
Yoshh oke kembali bekerja dan lupakan yang tadi. Okee pendekatan pertama dimulai...
.
Sepeninggalan Hiashi, Hinata sama sekali tidak meneruskan pekerjaannya. Sekarang yang ia lakukan hanyalah memandang langit lewat jendela besar diruangan itu, pikirannya masih berkecambuk tentang apa yang barusan saja terjadi.
'Apakah aku melukainya ya? Apa... aarrgghhhh baka baka baka ngapain juga aku memikirkannya. Sudahlah lupakan, kembali bekerja' batinnya dan kembali menghadap meja memulai menggambar sketsa perhiasan barunya.
Tok... tok... tok... suara pintu kembali diketuk. Hinata harus kembali mendiamkan pekerjaannya itu untuk melihat siapa gerangan orang yang mengganggunya.
"Gomen Hyuga-sama, saya hanya membawakan sarapan anda. Saya yakin anda pasti belum sarapankan?" Tanya Naruto yang kini sudah kembali lagi dengan sarapan pagi untuk atasannya itu.
Iris lavender Hinata membulat tak percaya dengan apa yang ia lihat. Benarkah sekertarisnya itu tidak mendengar apa yang ia ucapkan tadi?
'Apa benar dia tidak mendengar kata-kataku? Kelihatannya tidak, lihat saja dia bersikap seolah semuanya tidak ada yang terjadi. Benarkah seperti itu? Kalau benar bagus deh aku tidak usah pusing-pusing untuk tidak enak hati padanya'
"Ta...Hinata... HINATA"
"Aaahhh. Kau menaggetkanku"
"Apa yang kamu lamunkan? Sarapannya?" Sodor Naruto memberikan makanan itu pada Hinata.
Hinata menggeleng "tidak, tidak ada yang aku lamunkan. Baiklah aku akan memakannya. Arigato"
"Ohh... baiklah kalau begitu saya permisi dulu. Setelah selesai anda sarapan segeralah keruang rapat" ucapnya membungkuk hormat dan berlalu darisana.
'Tapi kenapa dia berbicara formal padaku ya?' Batinnya lagi melihat kepergian Naruto.
.
Jam sudah menunjukan pukul 10:40 dan seperti yang sudah dijadwalkan bahwa sebentar lagi ada rapat yang harus di hadiri oleh Hinata. Setelah membereskan semua barang-barangnya Hinatapun melangkah keluar dengan beberapa berkas untuk bahan rapatnya nanti.
Krekk! Pintu dibuka. "Aahh... kalian mengagetkanku" pekiknya, terlonjak kaget melihat beberapa pegawai yang akan menemaninya rapat sudah berada diluar ruangan. Bisa dilihat disana ada Naruto, Kiba, Shikamaru dan beberapa pegawai lainnya.
"Apakah anda siap Hyuga-sama?" Tanya Naruto.
"Hmm... kapanpun aku siap. Ayo nanti kita terlambat" balasnya melangkah pergi dan disusul oleh mereka.
Sedangkan diruang rapat sudah banyak orang mulai memadati ruangan. Disana sudah ada Shizuka dan Akiko yang bertugas untuk menerima tamu yang menghadiri rapat tersebut.
"Apakah Hyuga-sama belum datang?" Bisik Akiko pada Shizuka.
"Sepertinya bel_" pukk! Ucapannya terhenti saat seseorang menepuk pundaknya.
"Ahh Hyuga-sama silahkan masuk. Para clien sudah menunggu kedatangan anda"
"Baiklah" Hinatapun masuk kedalam berjalan menuju salah satu meja didepan sana sedangkan Naruto dan yang lain berjalan menuju kursi-kursi kosong bergabung dengan yang lain.
"Baiklah minna rapat akan segera dimulai" ujar moderator menyerahkan tugas lainnya pada Hinata yang kali ini akan mempresentasikan sesuatu untuk produk perhiasan barunya.
"Baik terima kasih. Saya Hyuga Hinata pemimpin Hyuga Corp. Saya berdiri disini akan mempresentasikan sebuah produk perhiasan baru untuk memperbaharui produk lama. Seperti yang sudah saya sebutkan tadi_" lampu meredup dan menampilkan sebuah gambar lewat LCD proyektor. Dengan menggunakan Laser Pointer Hinatapun bisa menujukan bagian-bagian penting dalam gambar tersebut.
"Ini adalah sebuah cincin dimana saya mendesainnya dengan sederhana. Cincin tersebut bisa digunakan oleh pasangan yang akan tunangan ataupun menikah..." itulah ucapan demi ucapan yang dijelaskan oleh Hinata didepan para cliennya. Mereka semua terlihat serius mendengarkan presentasi Hinata.
Rapat berlangsung selama 1 jam, membahas bagaimana produk baru itu bisa laku dipasaran. Banyak clien yang begitu menyukai desain baru dari Hinata, dan sudah dipastikan cincin itu akan laku dipasaran terutama bagi mereka yang memiliki pasangan.
.
.
.
Hinata beserta rombongan sudah tiba dikantin. Mereka memutuskan untuk makan siang bersama setelah rapat itu berakhir. Tidak ada salahnyakan jika atasan kantor makan bersama bawahan dikantinnya? Namun ketika mereka tengah menikmati makan siang seseorang menghampiri Hinata membuat wanita itu harus menghentikan kegiatan makannya.
"Hyuga-sama?" Tunduknya hormat "ya ada apa, Sakura?" Tanya Hinata yang ternyata itu adalah Sakura.
"Begini seorang pengusaha datang ketoko kita dan dia ingin bertemu dengan anda" jelasnya membuat Hinata mengerutkan dahinya bingung, pasalnya selama ia melakukan pemasaran tentang perhiasannya tidak ada seorangpun yang mempermasalahkan apapun.
"Baiklah, dimana dia?"
"Dia menunggu diruangan VIP"
"Bisa kau antar aku kesana?"
"Ha'i"
Mereka berduapun pergi, menampilkan kebingungan-kebingungan pada pegawainya yang lain.
"Naruto apakah kau tidak ikut? Kaukan sekertarisnya" ucap Kiba setelah kepergian mereka.
Dengan tampang bodohnya ia pun menjawab "haruskah?"
"Aarrgghhh baka cepat kau ikuti dia" balas Shizuka geram.
Tanpa pikir panjang lagi Narutopun langsung beranjak dari sana mengikuti kemana Hinata dan Sakura tadi pergi.
.
Sesampainya didepan ruang VIP Hinata menoleh pada Sakura yang saat itu ada didalam toko karna wanita itu adalah kepala bagian pemasaran dan tentu saja itu adalah tugasnya untuk selalu ada di toko untuk meninjau bagaimana larisnya perhiasan.
"Dia mengatakan apa tadi?" Tanya Hinata ragu.
"Beliau tidak mengatakan apa-apa, beliau hanya ingin bertemu dengan anda itu saja"
"Baiklah" kkrreekkk! Pintu terbuka, Hinata masuk dan melihat seseorang tengah memunggunginya sekarang. Hinata begitu ragu untuk menemuinya. Karna ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tersebut.
Tak... tak.. takk "hahh~ hhaahh~ Sakura-chan Hinata dimana?" Tanya Naruto yang datang dengan terengah-engah.
"Naruto? Dia sudah masuk kedalam. Kita tunggu saja disana" tunjuk Sakura kesalah satu kursi yang ada didepan ruangan itu, Narutopun menerutinya dan duduk disana.
Sedangkan didalam ruangan...
Hinata berjalan dengan pelan mendekati orang itu. Ia tahu dia adalah seorang pria, dengan tubuh tinggi tegap dan dengan potongan rambut yang tak dikenal Hinata tidak tahu siapa gerangan orang yang mengganggu kegiatan makan siangnya itu.
"Ano..." sebelum Hinata menyelesaikan ucapannya, pria itu menoleh dengan raut muka datar dan dingin tanpa ada ekspresi sedikitpun.
"Anda Hyuga Hinata? Pemimpin sekaligus desainer perhiasankan?" Tanyanya, Hinatapun mengangguk mengiyakan ucapannya "kau tahu liontin ini?" Lanjutnya lagi menunjukan sebuah kalung dengan bandul bunga sakura.
"Memangnya ada masalah apa dengan liontin itu? Oh ya dan anda siapa?" Tanya Hinata mulai tidak sabar.
"Saya adalah Uciha Sasuke Presdir dari Uciha Corp"
Seketika lavender Hinata membulat mendengar pemimpin Uciha yang terkenal dengan barang-barang elektroniknya datang secara pribadi ke toko perhiasannya.
"Ahh Uciha-san gomennasai saya tidak mengenali anda" seketika perubahan raut wajah Hinata berubah.
"Hn tak apa. Saya datang kesini ingin mendengar penjelasan anda selaku desainernya tentang bandul liontin ini"
"Ohh itu... kalau begitu silahkan duduk dulu. Tak enak jika menjelaskannya sambil berdiri"
Sasukepun menuruti Hinata dan kini mereka sudah duduk saling berhadapan.
"Bunga sakura memiliki beberapa filosofi." Ujap Hinata mulai penjelasannya "Pertama bunga itu memiliki arti kesejukan, kebahagian, keheningan dan ketenangan. Kesejukan didatangkan dari bunganya yang bermekaran secara rimbun mampu memberikan kelembutan ketika angin berhembus. Keheningan dan kebahagiaan berarti bunga sakuara datang karna sekeranjang kebahagian. Kedua bunga sakura bermakna perpisahan. Ketika bunga mulai bergururan saat diterpa angin dan saat itulah dimulainya perpisahan akan terjadi. Memang dalam hidup ini pastinya ada pertemuan dan perpisahan. Namun perpisahan dari bunga sakura menjadi pengingat untuk kita walaupun perpisahan sangat menyakitkan tapi percayalah suatu saat pertemuan akan kembali lagi. Seperti halnya bunga sakura yang setiap musim semi selalu datang lagi. Dan pada saat pertemuan itu kita bisa menikmati waktu bersama saling memberikan kasih sayang. Dan ketiga kecantikan dari bunga sakuara melambangkan kegembiraan dan kesedihan. Pasti diantara kita tidak bisa menolak keindahan bunganya namun seiringnya waktu bunga pasti layu dan berguguran. Begitupun dengan fisik manusia dimasa muda kita memiliki fisik yang sempurna dan ketika waktu bergulir fisik kita akan berubah tidak menarik lagi. Tetapi bukannya kita memiliki hati? Ya didalam hatilah keindahan sejati itu berada. Jadi ketika saya mendesain bandul itu ingatan saya tertuju pada mendiang Kaa-san. Bahwa perpisahan dan kesedihan sejatinya bukanlah untuk diratapi tetapi kesediahan dan perpisahan adalah senjata ampuh bagi kita untuk terus berjuang mengikhlaskan apa yang sudah meninggalkan kita dan kita harus percaya bahwa suatu saat nanti kebahagiaan akan menggantikan keduanya"
Penjelasan Hinata barusan mampu membuat Sasuke terdiam. Dia memandangi bandul liontin itu. Ingatannya kembali saat ia berada di toko tersebut dimana disana ia menemukan salah satu wanita dengan rambut setara dengan warna bunga sakura. Niatnya datang kesini semata-mata hanya ingin melihat-lihat saja siapa tahu ada yang cocok untuk diberikan pada Kaa-sannya yang sebentar lagi ulang tahum. Tapi pertemuan dengan wanita itu membuat ia merasakan ada sesuatu didalam hatinya. Pikiran masa lalu hinggap dikepalanya. Wanita itu cantik bak bunga sakura, tak salah jika ia langsung mendapati liontin dengan bandul bunga sakura karna penasaran diapun mendekatinya yang ia yakini wanita itu bekerja disana.
Sasukepun langsung meminta ia untuk mengantarkannya pada desainer yang mendesain bandul ini untuk menanyakan apa arti yang berada disana. Karna Sasuke yakin setiap bandul yang dibuat pasti memiliki sebuah makna.
"Jadi apakah anda sudah memahaminya?" Tanya Hinata penasaran saat Sasuke hanya memandangi bandul liontin itu.
"Hn. Saya sangat memahaminya. Menurut anda siapakah yang pantas memakai liontin ini?" Tanya Sasuke balik tanpa sedikitpun menolehkan pandangannya.
Hinata tersenyum mendengar apa yang pria itu tanyakan padanya "seorang wanita yang berarti dalam hidupmu. Aku yakin kau pasti akan mendapatkannya" ungkap Hinata membuat pikiran Sasuke hanya mampu mengingat 1 wanita yang baru saja melintas dalam pikirannya, karna selama ini Sasuke tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun jadi pantas saja jika wanita tadilah yang ada dalam kepalanya.
"Baiklah saya akan membeli ini" lanjut Sasuke lagi berdiri dan menatap Hinata.
"Eeummm" angguk Hinata dan beranjak juga darisana "kalau begitu anda harus kebagian pemasaran. Ohh tidak usah khawatir kepala bagian pemasarannya tadi datang bersama saya. Mungkin dia ada diluar" lanjut Hinata dan mulai berjalan untuk keluar ruangan.
Sedangkan diluar ruangan, Naruto dan Sakura terlihat begitu penasaran dengan apa yang terjadi didalam.
"Kenapa mereka lama ya?" Tanya Naruto.
"Entahlah akupun penasaran."
Tak berapa lama pintu didepan mereka mulai terbuka. Menampilkan Hinata yang tersenyum kearah mereka. Namun sedetik kemudian seseorang yang muncul dibalik Hinata mengejutkan Naruto, iris blue sapphire itu terbelalak bukan main ketika mereka saling bertatap muka seperti itu.
"Sa...sasuke Teme?" Ucapnya membuat Hinata dan Sakura seketika menoleh padanya.
"Naruto baka?" Tanya Sasuke lagi membuat Hinata dan Sakura terlihat penasaran pada mereka berdua.
"Kalian saling kenal?" tanya Hinata.
"Apakah kalian lupa? Diakan Uciha Sasuke teman sekelasku dulu." Mendengar Naruto mengatakan hal itu kini gantian Sakura dan Hinata membelalakan matanya.
"A...APAAA?" teriak kedua wanita itu tak percaya.
Benar sekali waktu memang sudah berlalu, tentu saja fisik juga sangat mendukung perubahan dirinya. Tapi kenapa Naruto tahu? Itu karna mereka berdua satu kelas terlebih kebersamaan mereka sebagai sahabat terjalan sangat lama sebelum Naruto masuk keperusahaan Hyuga dan menjadi sekertaris Hinata. Dan pada saat itulah mereka sudah tidak lagi saling berkomunikasi.
"Jadi ada apa kau kesini?" Tanya Naruto lagi.
"Aku hanya ingin membeli ini" tunjuk Sasuke memperlihatkan sebuah liontin dengan bandul bunga sakura.
"Aahh anda bisa membayar itu padanya. Baiklah kalau tidak ada yang diperlukan lagi saya permisi dulu banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan" ucap Hinata dan berlalu darisana menyisakan Naruto, Sakura dan Sasuke disana.
"Ayo mari Uciha-san" ucap Sakura mempersilahkan Sasuke untuk ikut dengannya guna membayar liontin itu meninggalkan Naruto sendirian disana. Namun sedetik kemudian senyuman muncul kembali diwajah tan itu 'aku yakin kau akan mendapatkan kebahagiaanmu Sakura, Sasuke'
"Aahhh senangnya jatuh cinta" gumamnya merentangkan kedua tangan seolah ia baru saja mengetahui sesuatu dan berlalu darisana.
.
Hinata sudah kembali kemeja kerjanya. Menyusun ulang desain baru lagi. Namun pikirannya sudah dipenuhi oleh bayang-bayang seseorang yang sangat berharga untuknya. Seorang wanita yang selalu memanjakannya. Seorang wanita yang sangat menyayanginya.
"Kaa-san" gumamnya menghentikan jari lentik itu yang tengah memberikan garisan demi garisan dalam kertas putih. Tanpa sadar setetes air mata meluncur indah dipipi putih itu membasahi kertas yang ia pakai.
Tarikan nafas ia lakukan untuk sekedar menenangkan diri "hhuuuu lupakan kosentrasilah Hinata" gumamnya lagi menyemangati dirinya sendiri.
"Hinata" ucap seseorang yang masuk begitu saja keruangan, membuat wanita itu harus menghapus dengan kasar air matanya. Naruto yang melihat hal itu mengerenyitkan dahi bingung, ia yakin jika wanita didepannya tengah menangis "kau tidak apa-apa Hinata?" Tanyanya seraya berjalan menuju sebuah kursi didepan Hinata.
Hinata menggeleng tanpa menatap Naruto sedetikpun "aku tidak apa-apa"
"Ahh baiklah." Ujarnya tanpa mempermasalahkan lagi "karna penasaran aku datang menemuimu. Jadi, kenapa Sasuke menemuimu?"
"Dia hanya ingin mengetahui arti dari bandul liontin itu ko" lanjut Hinata, kembali menatap kosong sebuah kertas didepannya membuat Naruto semakin bingung dengan kelakuan Hinata.
"Hinata benar kamu tidak apa-apa?" Tanya Naruto merasa khawatir.
"A...aku e..ehh" air mata kembali mengalir, membuat wanita itu kembali menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah berlinangan air mata.
"Hi...hinata?"
"A...aku tidak apa-apa ko sungguh. Setelah menjelaskan arti bandul dari liontin itu aku hanya teringat Kaa-san saja" senyum Hinata menatap Naruto.
Naruto beranjak dari kursinya, berjalan menuju kearah Hinata berjongkok padanya dan membalikan Hinata untuk menatapnya.
Kedua tangan tan itu terulur, menangkup kedua pipi Hinata mengusap dengan lembut air mata yang mengalir disana. Rona merah muncul dipipi putih itu menerima semua prilaku Naruto yang hangat padanya setelah ucapan menyakitkan yang ia lontarkan tadi pagi.
"Na...naruto-kun" bisiknya, menatap netra indah didepannya.
"Ssyyuuttt sudahlah Hinata. Kau tahu 2 hal apa yang aku benci didunia ini?" tanyanya, Hinatapun menggeleng menjawab pertanyaan itu "yang pertama saat kedua orang tuaku meninggal dan yang kedua melihat wanita yang aku cintai menangis" lanjut Naruto lagi membuat perasaan Hinata menghangat tanpa sebab. Ada rasa aneh didalam hatinya. Ada sebuah rasa nyaman disana saat melihat senyuman di wajah Naruto.
"Jadi kenapa kamu menangis hmm?" Kembali Naruto bertanya.
"Aku hanya mengingat Kaa-san saja. Kenangan indah saat bersamanya melintas dipikiranku. Apakah aku bodoh sudah merelakan barang berharga yang Kaa-san berikan untukku?"
"Kristal itukah?" Hinata mengangguk sebagai jawaban.
"Tidak, kamu tidak salah Hinata aku yakin kamu sudah melakukan hal yang benar"
'Maka dari itu Hinata aku akan membawa liontin itu kembali' batinya kembali tersenyum.
.
Sasuke kini tengah membayar liontin yang ia beli. Setiap ada kesempatan tanpa sepengetahuan wanita itu ia selalu mencuri-curi pandang padanya ketika Sakura tengah membungkus liontin. Entah kenapa Sasuke begitu tertarik akan kecantikan Sakura. Ternyata benar apa yang diucapkan oleh desainer bandul liontin itu bahwa bunga sakura memiliki arti kecantikan yang mengantarkannya pada "Sakura" yang sesungguhnya.
"Kenapa anda menatap saya terus? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Sakura membuat Sasuke tersentak kaget karna ia ketahuan selalu memperhatikannya.
"A..ahh tidak ada. Sudah dibungkus liontinnya?"
"Sudah. Bagaimana apakah anda suka? Pasti wanita yang menerimanya akan senang" senyum Sakura seraya menyerahkan liontin yang sudah dibungkus dengan cantik itu padanya.
"Hn. Arigato"
Sasukepun pergi darisana tanpa menjawab ucapan Sakura, karna ia sudah tak kuasa melihat betapa indahnya senyuman itu.
Ia terus berjalan untuk keluar darisana sebelum sebuah suara yang ia kenal menghentikannya.
"Teme"
Sasuke menoleh mendapati Naruto mendekat kearahnya "ada apa?"
"Kau masih sama dinginnya seperti dulu. Kitakan baru ketemu kembali ayo kita ngobrol-ngobrol dulu" ajak Naruto.
"Hn baiklah"
Mereka berduapun berjalan menuju keatap perkantoran yang Naruto rasa disana pasti tidak ada seorangpun yang bisa melihat mereka.
Sesampainya disana mereka duduk berdampingan menatap langit yang hari ini sangat cerah.
"Apakah kau sudah membeli liontin itu? Pasti untuk seorang wanitakan? WOWW aku tidak menyangka jika pria dingin sepertimu mendapatkan seorang kekasih"
"Bukan, aku tidak memiliki seorang kekasih. Aku membelinya karna arti dari bandul ini yang sangat indah. Kau tahu Hinata pandai dalam mengartikan setiap bandul yang ia bikin"
"Ya karna itulah aku jatuh cinta padanya"
"APAAA?"
"Ya wajar saja kau kaget. Karna aku juga berpikiran sama sepertimu. Seorang bawahan mana pantas untuk atasan" senyum kecut Naruto.
"Tidak, aku tidak berpikiran seperti itu. Justru aku bangga padamu kau bisa mengekspresikan perasaanmu padanya. Sedangkan aku hanya bisa memandangnya sampai sejauh ini"
Mendengar penuturan Sasuke barusan Naruto tak habis pikir jika sahabatnya itu ternyata memiliki perasaan cinta yang ia pendam selama ini. Ternyata benar apa yang ia pikirkan tadi tentang Sasuke
"Ka...kau jatuh cinta? Sejak kapan da...dan sama siapa?" Lihat kini Naruto mulai penasaran.
"Aku jatuh cinta pada wanita musim semi itu disaat-saat terakahir sekolah kita. Dia tersenyum padaku saat tanpa sengaja kita saling berpapasan. Aku sedikit kecewa ketika hari ini kita bertemu kembali dia tidak mengingatku"
"Ma...maksudmu ka...kau jatuh cinta pada Sakura?"
"Tak kusangka ternyata kau tak sebaka yang aku pikirkan. Ya dialah orangnya. Aahhh aku harus merayakan ini. Kau, aku dengar kau sekertaris pribadi Hinatakan? Nahh katakan pada dia jika malam minggu ini aku akan mengadakan pesta, digedung ini pasti ada aula tempat perayaankan?" Naruto mengangguk "ya bagus. Katakan itu semua pada Hinata ok. Aku permisi dulu lain kali akan aku traktir kau" Sasukepun pergi meninggalkan kebingungan yang sudah memenuhi dirinya.
"Tidak kusangka dia jadi banyak bicara setelah sekian lama kita tidak bertemu. Baiklah aku akan memberitahukannya pada Hinata"
.
Hinata kini sedang bersama teman-teman lamanya. Disana ada Sakura, Ino serta Tenten yang tengah berbincang-bincang bersama dengan secangkir kopi hangat menemani.
"Sakura bagaimana hasil penjualan hari ini?" Tanyanya, wanita itupun menoleh.
"Hmm... bagus seperti biasanya berjalan dengan lancar. Dan ohh ya Sasuke yang membeli liontin itu membayarnya dengan harga yang pantastis. Dia bilang jika harganya seperti yang anda tawarkan tak sebanding dengan kecantikan dan arti dari bandul tersebut maka dari itu dia membayarnya dengan harga yang luar biasa. Kita untung banyak" semangat Sakura memberitahukannya.
"Wahhh dia pasti sangat menyukainya" ucap Ino dan anggukan dari Hinata.
"Bagaimana jika kita merayakan keberhasilan perusahaan ini? Aku dengar anda mendapatkan keuntungan yang besar hari ini?" Kini giliran Tenten berbicara.
Namun sebelum Hinata menjawab seseorang mendekati mereka "gomen mengganggu acara kalian. Aku hanya ingin mengatakan ini pada Hyuga-sama"
"Ya ada apa Naruto?" Tanya Hinata profesional setelah apa yang barusan terjadi pada mereka berdua.
"Uciha Sasuke presdir dari Uciha Corp ingin mengadakan sebuah pesta persahabatan yang akan diselenggarakan digedung ini tepatnya diaula lantai 1. Beliau menginginkan anda untuk menyetujuinya" balas Naruto melaporkan.
"Aahhh kebetulan. Saya akan menyetujui usulan Tenten dan usulan itu" ucap Hinata membuat mereka senang mendengarnya "jadi kapan dia akan menemuiku dan merencanakan semuanya?" Tanya Hinata lagi.
"Mungkin besok dia akan kembali kesini"
"Ahh baiklah"
"Yyeeee pesta aku harus menyipakan semuanya. Kkyyaaaa" betapa antusiasnya Ino saat mendengar sebuah pesta akan digelar.
Ketiga wanita yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Ino.
.
Namun ternyata prediksi Naruto tadi sedikit melenceng. Bukannya besok tetapi sore ini Sasuke sudah menghubungi Hinata. Melalui ponsel mereka saling bercakap-cakap tentang apa yang akan mereka selenggarakan bersama.
"Jadi kenapa anda menginginkan sebuah pesta disini?"
'Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Kau mau membantukukan?'
"Selama tidak merepotkan aku siap membantu. Apa itu?"
'...'
"Ahhh baiklah. Saya akan menyiapkannya. Sampai jumpa nanti"
Klikk! Panggilan tertutup.
"Kau sedang berbicara dengan siapa Sasuke?" Tanya seseorang yang datang keruangannya.
"Aahhh aniki. Saya berbicara pada Hyuga-san bahwa malam minggu nanti aku akan mengadakan sebuah pesta disana"
"Hyuga-san? Maksudmu Hyuga Hinata?" Tanya seseorang lagi yang juga berada disana.
"Ya darimana kau tahu?"
"Aahh itu. Tidak aku hanya sekedar tahu saja"
Sedangkan Sasuke dan Itachi hanya menganggukan kepala acuh dengan ucapannya itu.
Tbc...
Bagimana semoga kalian suka ya. Jika berkenan jangan lupa tinggalkan jejek. Jaa arigato :) ^^
JustNaruHinaAndKibaTamaLover : wkwkwk gomen ne :p arigato udah ngereviews :)
Helena Yuki : hehhe iyaa nihh gomen ne ^^ udah lanjut semoga suka ya :) arigato udah ngereviews :)
Yudha Bagus Satan Lucifer : wkwk ^^ udah lanjut semoga suka :) arigato udah ngereviews :)
mauriceandreane : wkwkwk gomen gomen udah lanjut ko semoga suka ^^ arigato udah ngereviews :)
agna : udah lanjut, semoga mengerti ya dibalik senyumannya Naruto wkwk :D arigato udah ngereviews :)
magendrik : arigato gozaimasu, udah lanjut semoga suka ^^ arigato udah ngereviews :)
piupiuchan : heheh gomen gomen ^^ arigato udah ngereviews :)
