Chapter 7
Disclaimer by : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruHina
.
Gomen jika kelanjutannya lama. Hyugana benar-benar minta maaf karena laptop serta ponsel hyugana eror jadi tidak bisa update secepatnya sekali lagi hyugana minta maaf ya minna ^^, terima kasih yang masih setia nungguin kelanjutan fic abal-abal ini :)
.
Selamat membaca :)
.
Naruto telihat begitu sibuk sekarang, tentu saja karna ia ditugaskan untuk mengawasi pekerja yang sedang mendekor aula yang akan dipakai 2 hari lagi untuk acara besar. Bak mandor, Naruto mondar mandir melihat-lihat dengan seksama. Ia juga tentunya tidak ingin mengecewakan Hinata dan sahabatnya.
Sudah sebagian besar aula itu didekor dengan bunga-bunga semuanya terlihat begitu indah dan anggun. Tentunya semua itu tidak lepas dari Hinata yang memutuskan untuk mengambil tema "Pesta Dansa" yang tentunya dikhususkan untuk para wanita yang bagaikan putri semalam. Hinata juga ingin pegawai serta cliennya yang akan datang menikmatinya walaupun itu hanya 1 malam.
Ketika Naruto sibuk dengan mengurusi di aula, Hinata tengah sibuk menyipkan beberapa gaun yang nantinya akan dipakai untuk dirinya dan teman-temannya. Namun yang jelas hanya Inolah yang kembali antusias dalam memilih gaun.
"Hinata bagaimana menurutmu apakah ini cocok denganku?" Tanya Ino memperlihatkan sebuah gaun padanya.
"Ya itu sangat cocok untukmu" jawab Hinata, pikirannya teringat pada permintaan seseorang tempo hari. Iris lavendernya menerawang mencari-cari gaun yang cocok untuk wanita itu. Hanya ada satu gaun yang menjadi objek perhatiannya sekarang, iapun berjalan dan mengambilnya "menurutku ini cocok untukmu" ucap Hinata yang berjalan dan menyodorkan gaun itu padanya.
"Benarkah? Apa tidak terlalu mewah?"
"Kkyyaaa itu sangat indah dan aku yakin kau sangat cocok menggunakan itu" teriak Ino kembali.
"Baiklah aku akan memakai yang ini saja. Arigato Hinata kau sudah memilihkannya untukku"
Hinatapun mengangguk dan tersenyum.
.
.
.
Hari H-pun tiba, jarum jam kini sudah menunjukan pukul 07:00 malam. Para tamu undangan mulai berdatangan. Gemerlap cahaya lampu menambah kesan mewah disana. Tatanan dekorasi begitu rapih.
Hinata sangat tercengang saat tadi siang menyempatkan diri untuk melihatnya lebih awal. Ternyata sekertarisnya itu pandai dalam mengarahkan mereka.
Beberapa bunga hidup menghiasi dibeberapa sudut ruangan. Makanan enak juga tersaji disana. Kesan mewah dan elegan sangat kental dirasakan dalam pesta itu.
Mobil hitam mewah berhenti tepat didepan gedung, seseorang turun dari sana. Tampilannya sangat gagah malam ini. Tentu saja ini adalah kesempatan baik untuknya guna mencurahkan semua yang ia rasakan selama ini.
'Aku tidak menyangka Hinata menyiapkan semua ini dengan mewah' batinya dan berjalan kedalam di ikuti oleh beberapa orang yang juga datang bersamanya.
"Teme" panggil seseorang mendekat kearah mereka.
"Dobe?" Ujarnya.
"Apakah kau Naruto?" Tanya seseorang disamping Sasuke.
"Aahhh Itachi-nii?"
"Aahhh ternyata benar kau Naruto. Lama tidak bertemu ya kau tambah tampan saja" ujarnya membuat pria itu tersenyum malu "Itachi-nii bisa saja. Ayo silahkan nikmati pestanya" ujarnya mengalihkan topik pembicaraan.
35 menit berlalu para tamu undangan nampaknya sudah semua datang.
Hinata yang sudah selesai berdandanpun mulai berjalan masuk keruangan. Para pria memandang kedatangannya dengan tatapan penuh takjub. Hinata terus berjalan menuju podium.
"Selamat malam semuanya. Terima kasih untuk sudah bersedia hadir. Sebenarnya acara ini bertujuan untuk menjalin persahabatan dengan beberapa perusahaan terutama untuk Uciha Corp yang baru saja bergabung. Pesta ini memang keinginan khusus dari salah seorang pengusaha maka dari itu nikmatilah pestanya karna sekarang kita bukanlah pengusaha ataupun pegawai kita ada disini sekarang sebagai seorang teman yang menikmati waktu bersama. Terima kasih" ucap Hinata memberikan beberapa ulasannya malam ini dan disambut tepukan meriah oleh para tamu.
'Hinata, kau begitu cantik malam ini' batin Naruto yang tak henti menatap lurus atasannya itu.
Malam ini Hinata menggunakan gaun yang sudah dipilihkan oleh Ino siang tadi. Tak banyak perubahan dari diri Hinata malam ini tentang make upnya. Hanya make up sederhana yang mampu membuat Naruto terpana, begitupun dengan rambutnya. Ia tidak memusingkan menata rambut panjangnya Hinata hanya menggerai sederhana rambut panjang indahnya itu.
Suara alunan musik mulai terdengar ketika Hinata pergi meninggalkan podium. Tuts demi tuts ditekan oleh sang pianis. Musik ringan sederhana membawa setiap tamu undangan mulai mencari pasangan untuk berdansa dibawah lampu temaram yang menyoroti mereka dengan indah.
Begitupun dengan Naruto, langkah kakinya berjalan mendekati seseorang yang saat ini ingin ia ajak berdansa. Tetapi diarah berlawanan ada seseorang yang lebih dulu menghampiri Hinata.
"Maukah anda berdansa denganku?" Tanyanya sopan seraya berjongkok menyodorkan tangan kanannya untuk disambut oleh Hinata.
Hinatapun menoleh mendapati seseorang didepannya mengajaknya berdansa bersama. Namun Hinata sedikit bingung ketika tidak dapat melihat wajahnya disebabkan pria tadi memakai topeng. Tanpa pikir panjang Hinata menyambut tangan itu "eemmm tentu" angguknya. Pria itupun berdiri langsung mengapit pinggang Hinata dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menggenggam erat tangan kiri Hinata.
Mereka mulai berdansa tanpa mengetahui bahwa sedari tadi Naruto mengawasi mereka. Ada perasaan sakit ketika melihat Hinata menyambut uluran tangan pria itu 'siapa dia sebenarnya?' Batinnya lagi dengan sorot mata penuh dengan ketegasan dan kecurigaan.
.
Disisi lain Sakura yang tengah berbincang-bincang dengan Ino seraya ditemani dengan segelas wine ditangannya dan tanpa mereka berdua sadari seseorang mendekat kearah mereka. Seorang pria berbadan tegap kini sudah berdiri disamping Sakura.
Ino yang melihat kehadirannya terkaget seolah tak percaya "a...ahhh Uciha-san" kikuk Ino menyapanya.
Mendengar nama Uciha, Sakurapun menoleh kearah samping melihatnya "Uciha-san?" Tanyanya bingung.
"Maukah kamu berdansa denganku?" Uluran tangan dilakukan olehnya.
'Ohh sungguh kau pria keren Sasuke. Kau rela melepas jabatanmu untuk seorang wanita' batin Ino melihat kejadian yang tepat didepannya.
Sakura tak percaya, iris emerladnya terbelalak sempurna melihat seorang pemimpin perusahaan seperti Sasuke mengajaknya berdansa bersama. Sakurapun menaruh gelas diatas meja, dan menerima uluran tangan Sasuke yang sudah beberapa detik mengambang didepannya.
Tangan halus bak sutra menyambut tangan besar Sasuke. Perlahan ia mulai mengapit pinggang Sakura. Mereka mulai berdansa, meninggalkan Ino dengan tatapan penuh kekaguman. Tak berapa lama seseorang menghampiri Ino.
"Nona, maukah kau berdansa denganku?" Tanyanya, tak lupa dengan senyum menawan. Tentu saja dia merasa terpesona ketika melihat Ino dengan gaun berwarna ungu cerahnya.
"Tentu" balas Ino menerima uluran tangan pria itu.
.
'Tak ku sangka Hinata bisa merubah itik menjadi angsa yang cantik' batin Sasuke yang tak pernah sedetikpun menolehkan pandangan dari wajah cantik didepannya. Tentu saja Hinata telah memilihkan gaun yang cocok untuknya. Gaun berwarna merah yang terlihat elegan sangat bagus dengan warna rambutnya, tidak salah jika Sasuke terpesona dengannya malam ini.
Sebuah permintaan yang diajukan olehnya pada Hinata kemarin adalah untuk merubah Sakura menjadi wanita tercantik dipesta ini. Hinata menurutinya dengan tawaran kerja sama antar Uciha dan Hyuga Corp.
Sakura juga merasa ia tak sanggup jika harus melewatkan wajah tampan itu. Entah kenapa ia terbuai akan pesona yang dipancarkan pria didepannya.
Lihat saja ketika Sasuke dengan lembutnya membawa Sakura menuju sebuah taman kecil dibelakang gedung itu, ia sama sekali tak menolaknya.
Bintang menghiasi indahnya langit malam hari ini. Sang raja malampun turut hadir untuk menyaksikan dua insan yang tengah duduk berdampingan ditepi kolam air mancur.
Perasaan canggung dan romantis sangat mendominasi keduanya. Tak pernah sedikitpun Sakura membayangkan jika dirinya akan seperti putri dalam dongeng yang pernah ia baca. Dimana putri tersebut hidup dengan kesusahan dan berakhir dengan pangeran yang membawanya pada kehidupan yang lebih baik lagi.
Dan sekarang kehidupan nyatanya sedang berjalan dengan baik. Duduk berdampingan dengan pengusaha kaya dan tampan adalah dambaan semua wanita dan sekarang dialah salah satu dari semua wanita beruntung itu.
"Ada perlu apa anda membawa saya kemari?" Ucap Sakura formal memulai pembicaraan.
Sasuke yang mendengar pertanyaan Sakura seketika memalingkan wajahn kearahnya "apakah benar kamu tidak mengenalku?" Tanpa menjawab pertanyaan dari Sakura, Sasuke memberikan pertanyaan lain padanya dengan perkataan biasa seolah mereka berdua sudah kenal lama.
"Kata Naruto, anda adalah Uciha Sasuke teman masa sekolah dulukan."
"Aahh kalau kita teman sekolah harusnya kamu tidak berbicara formal denganku"
"A...ahh gomen. Sebenarnya aku juga sudah mengetahuinya saat pertama kamu masuk ke mall ini. Tapi aku ragu apakah kamu mengenalku atau tidak" ucap Sakura menjelaskan.
"Benarkah?"
"Iya. Lalu kembali kepertanyaan awal, jadi kenapa kamu membawaku kemari?"
Hening kembali melanda Sasuke belum menjawab pertanyaan yang di lontarkan Sakura barusan. Detak jantungnya berpacu begitu cepat bagaikan mengikuti lomba lari 10 kali putaran, perlahan Sasuke mulai menenangkan dirinya.
Kembali ia menatap wajah cantik Sakura yang menatapnya penuh tanya "ada sesuatu yang harus aku katakan" jawabnya lembut tak seperti Sasuke yang biasanya.
Sakura memiringkan kepalanya menyambut ucapan selanjutnya yang akan dilontarkan oleh Sasuke 'manisnya.' Batinnya tak sanggup melihat ciptaan Tuhan yang begitu sempurna di sampingnya itu.
"Aku mencintaimu"
Satu kata berjuta makna kini sudah terlontar dari mulut Sasuke, emerlad Sakura harus kembali terbelalak mendengar ucapan sakral itu. Jantungnya berdetak kencang saat ini, melihat tatapan penuh ketegasan orang disampingnya.
"Ba...bagaimana bisa kamu mencintaiku?" Tanyanya ragu dengan pernyataan Sasuke barusan.
"Aku telah jatuh cinta padamu saat kau memberikan senyuman manis itu saat kelulusan sekolah kita."
"A...apa? Sudah selama itu?" Sasuke mengangguk mengiyakan ucapan Sakura.
"Ta...tapi aku ak_"
"Aku tidak memaksamu untuk langsung menjawabnya"
"Tidak. Tunggu bagaimana mungkin..." tes... air mata lolos mengalir dikedua pipinya.
"Aku tidak mimpikan? Selama ini aku kira hanya hiks... hanya aku hiks... yang memendamnya sendiri hiks... tapi kamu juga sama?"
Mendengar pernyataan Sakura membuat Sasuke tak percaya "a...apa kamu juga_"
"Ya aku juga mencintaimu. Sejak masa sekolah dulu aku selalu mencintaimu. Aku hiks... selalu memperhatikanmu dari jauh hiks... hiks.. " sanggah Sakura cepat dan tegas tak ada keraguan dimatanya menjelaskan apa yang ia rasakan saat ini.
Mendengar itu Sasukepun kembali tersenyum "jadi apakah kamu menerimaku?" Tanyanya memastikan kembali.
Dan dengan 1 anggukan telak dari Sakura semuanya terjawab sudah.
Brugg! Sasuke membawa Sakura kedalam pelukan hangatnya. Seolah penantian ia selama bertahun-tahun terbayarkan sudah.
"Ahh aku ingat sesuatu" ujarnya, dan melepaskan pelukannya.
Sasuke merogoh saku jas untuk membawa benda yang telah ia dapatkan tempo hari.
"Ternyata wanita yang pantas menggunakan ini hanya kamu, Sakura" gumamnya membuka kotak yang didalamnya terdapat sebuah liontin dengan bandul bunga sakura.
Iapun memakaikan liontin itu dileher Sakura. Senyuman mengembang diwajah wanita itu "cantik. Arigato" balasnya penuh dengan keharuan.
"Hn. Ternyata dari awal liontin ini hanya cocok untukmu"
Brugg! Kembali Sasuke membawa Sakura kedalam pelukannya.
Bintang dilangit berkelap-kelip seolah memberikan tepuk tangan untuk penyatuan dua insan itu. Perasaan mereka kini sudah menyatu. Cinta dalam diam mereka tidak sia-sia. Sebuah liontin berbandul sakuralah yang telah menemukan mereka kembali, membawa pada cinta mereka yang sesungguhnya.
.
Sedangkan didalam gedung suasana begitu kental dengan romantisme yang dipancarkan oleh pasangan yang tengah terbuai oleh iringan musik lembut. Saling berpelukan terbuai oleh gerakan dansa mereka. Semuanya sangat menikmati pesta malam ini.
Itu untuk mereka yang benar-benar menjadi pasangan tetapi bagi mereka yang sekedar berdansa tidak begitu terbawa suasana. Dan itu terjadi pada Hinata yang saat ini tengah berdansa dengan seorang pria yang sebenarnya tak ia kenal.
"Ternyata kau masih cantik ya Hinata"
Deggg... mendengar namanya disebuat oleh orang itu, Hinata otomatis menghentikan gerakan dansanya dan memandang pria itu.
"Ka...kau siapa kau?" Tanyanya takut-takut.
Pria itu tersenyum dibalik topengnya begitu saja pada Hinata "kau sudah melupakanku? Bagaimana kalau kita keluar, disini terlalu banyak orang" tanpa aba-aba pria tadi menarik pergelangan tangan Hinata meninggalkan mereka yang tengah terbuai. Namun tanpa ia sadari, sedari tadi Naruto memperhatikan mereka tanpa henti dan iapun mengikuti kemana pria itu membawa Hinata.
Akhirnya Hinata dan pria itu sudah berada diluar, dimana tidak ada seorangpun disana.
"Se...sebenarnya kau siapa?" Hinata terlihat takut sekarang.
"Yahhh sangat disayangkan. Ternyata kau sudah melupakanku ya?" Perlahan pria itu membuka topeng yang masih ia pakai. Sedetik kemudian lavender Hinata terbelalak melihat sosok didepannya "Aku Sasori, pria yang dulu pernah kau cintai. Apakah kamu lupa?"
Deggg... lagi-lagi perasaan tidak enak memenuhi hatinya saat pria yang bernama Sasori itu mengucapkan sebuah kata yang membawanya pada masa lalu menyakitkan.
"Sa...sasori-senpai?" Gumam Hinata, iapun mundur kebelakang saat pria tadi melangkah mendekatinya.
Kepingan demi kepingan masa itu teringat kembali didalam kepala Hinata. Seolah menusuk hati dan pikirannya. Hinata kembali menegang melihat senyuman meremehkan itu ditampilkan kembali diwajahnya.
"Ke...kenapa kau datang kemari?" Tanya Hinata memberanikan diri menatap matanya.
"Hahh~ kau tega ya tidak mengundangku. Apakah kau tidak mencintaiku lagi."
"TIDAKKK. AKU SANGAT MEMBENCIMU" teriak Hinata.
Naruto yang melihat itu mulai khawatir dengan Hinata, tetapi ia masih harus sembunyi 'kenapa Hinata berteriak? Aku yakin mereka berdua saling mengenal' batinnya masih mengawasi mereka berdua.
Kembali ke Hinata yang kini dengan sekuat tenaga menahan air mata.
"Kenapa? Kalau mau menangis, nangis saja. Ternyata kau masih sama ya. Gadis cengeng. Kau tidak pantas untuk dicintai tahu" seringainya tajam.
Hinata mencengkram erat gaunnya, kepalanya menunduk merasakan betapa berat kenangan busuk itu hinggap kembali. Air mata sudah mengalir di kedua pipinya.
Brughh! Hinata jatuh terduduk seraya mencengkram kuat rambutnya untuk mengusir kenangan menyakitkan itu "per...gi kau brengsek" gumam Hinata.
Sasori yang dipanggil brengsek oleh Hinata seketika berjongkok menghampirinya "APA KAU BILANG AKU BRENGSEK? KHEHH SUNGGUH MENGGELIKAN. DASAR KAU WANITA JA_"
Buaghh! Sebelum Sasori menyelesaikan ucapannya seseorang terlebih dahulu menonjok wajahnya.
"KAU JANGAN BERANI-BERANINYA MENYENTUH HINATA" Teriaknya penuh emosi.
Mendengar suara yang dikenalnya, Hinatapun memberanikan diri untuk mendongakan kepalanya. Iris lavender itu kembali terbelalak melihat pria yang dibencinya sudah jatuh tersungkur dengan darah mengalir disudut bibirnya.
"Na...naruto-kun" gumam Hinata saat melihat pria lain berdiri tegap didepannya.
Mendengar namanya digumamkan oleh Hinata, Naruto menoleh kebelakang mendapati Hinata dengan raut muka ketakutan "Hi...Hinata kamu tidak apa-apa?" Tanya Naruto lembut menangkup wajah mungil Hinata.
Namun Hinata tak membalasnya saat iris lavender itu menangkap bayangan Sasori yang hendak memukul Naruto "Naruto-kun AWASSS" Teriaknya.
Buaghh! Narutopun berhasil mencegah Sasori yang akan melayangkan pukulannya. "Jangan harap kau bisa mengenaiku dengan pukulanmu itu" geram Naruto mencengkram kuat kerah jas Sasori.
Wajah yang sudah berdarah itu tersenyum meremehkan Naruto yang kini berada didepannya "siapa kau berani-beraninya mengangguku dengan jalang itu" plakk! Tamparan dilayangkan oleh Naruto "jangan panggil Hinata dengan sebutan itu. Aku adalah kekasihnya. Jika kau berani mengganggu dia lagi kau akan mendapatkan akibatnya lebih dari ini" ancam Naruto menghempaskan Sasori begitu saja.
Naruto berjalan kembali kearah Hinata yang sama sekali tidak merubah posisinya. Dengan berani iapun menggendong Hinata ala bridal style. Tentu saja wanita itu terkejut bukan main dengan prilaku Naruto yang tiba-tiba ini.
Naruto terus berjalan meninggalkan keramaian dilantai satu. Tujuannya kini hanya atap kantor yang sepi. Hinata yang berada didalam gendongannya tidak menoleh sama sekali kearah wajah tan itu. Ia menempelkan kepalanya didada bidang Naruto. Hinata bisa merasakan bagaimana jantung Naruto berdetak begitu cepat.
'Sebegitu khawatirnyakah ia padaku?' Batinnya, rona merah tanpa sadar muncul dipipinya.
.
Sesampainya mereka disana Naruto segera mendudukan Hinata dikursi. Iapun duduk disampingnya. Naruto bingung harus bagaimana saat air mata mengalir dikedua pipi Hinata. Jujur ia sangat benci melihat wanita yang dicintainya itu menangis. Wajah cantik itu harus rusak oleh lelehan air mata, raut mukanya tak menampilkan ekspresi apapun serta sorot mata yang begitu kosong. Naruto benar-benar tak menyangka jika Hinata yang terlihat cuek dan tegas ternyata mempunyai sisi yang begitu memprihatinkan.
Brughh! Dengan berani Naruto menarik Hinata kedalam pelukannya. Mengelus pelas punggungnya memberikan ketenangan.
"Aku mohon Hinata jangan kamu tunjukan sisi ini padaku" gumam Naruto yang menahan perasaan sedih dihatinya. Sedangakan Hinata hanya terdiam menerima prilakunya itu.
Sebuah desiran aneh dirasakan olehnya, entah apa itu. Yang jelas Hinata menjadi tenang dan nyaman saat ini.
Setelah cukup lama Naruto menenangkan Hinata akhirnya iapun melepaskan pelukannya dan mencoba bertanya pada Hinata dengan hati-hati takut jika melukai hati wanita itu.
"Pria tadi itu siapa? Gomen jika aku mengatakan jika aku adalah kekasihmu" ucapnya memulai pembicaraan.
Hinatapun menoleh padanya "dia adalah pria yang dulu pernah aku cintai. Dia adalah orang yang membuatku tidak percaya lagi akan yang namanya cinta" jawab Hinata membuat Naruto terkaget mendengarnya.
"A...apa. Gomen sudah mengingatkanmu pada masa lalu"
"Tidak. Benar kata dia aku memang tidak pantas dicintai" senyum Hinata. Dan hal itu sangat menyakitkan untuk dilihat oleh iris sapphirenya.
"Kau salah Hinata. Kau sangat pantas untuk dicintai. Kau tahu masih ada aku, seorang pria yang tidak pantas untukmu tetapi aku memiliki sebuah cinta yang tulus untukmu. Aku tidak perduli bagaimana pandanganmu padaku tapi yang jelas aku sangat mencintaimu, Hinata"
Genggaman tangan Naruto terasa begitu hangat dirasakan olehnya. Entah kenapa ucapan Naruto barusan sungguh membuat Hinata merasakan ketenangan.
'Kenapa dia masih berbaik hati padaku? Dan kenapa aku merasa aman ketika didekatnya? Dan tunggu... kenapa aku kembali merasakan detak jantung ini? Tuhan... apakah aku... ahh tidak tidak aku hanya merasa terpesona saja. Mana mungkin aku jatuh... cinta padanya?' Batinnya menerka-nerka apa yang ia rasakan saat ini.
"Hinata benar kamu tidak apa-apa?"
"Kenapa kamu masih baik padaku. Aku yakin waktu itu kamu mendengar ucapanku kan?"
"Ya aku memang mendengarnya. Tapi jujur Hinata aku sama sekali tidak membencimu bahkan aku tidak akan bisa membencimu. Karna cinta ini mengalahkan segalanya. Aku sangat tulus mencintaimu"
"Benarkah? Jujur aku sudah tidak percaya lagi dengan kata cinta. Kau tahu pria brengsek itulah yang sudah membuatku begitu terluka"
"Tapi aku berbeda dengannya. Jangan pernah kau menganggap semua pria seperti itu. Masih banyak pria yang memiliki perasaan cinta yang tulus. Bukalah hatimu kembali dan lihatlah kedalamnya maka kau akan mendapatkan seseorang yang tulus mencintaimu"
Degg... jantung Hinata berdetak dengan cepat. Bukan perasaan sesak ataupun sakit tapi sebuah perasaan nyaman dan hangat yang ia rasakan.
'Sungguh aku bisa gila dengan perkataanmu Naruto. Aku harus bagaimana? Apakah aku harus menerimamu sebagai kekasihku atau... aarrgghhh aku bingung. Kenapa cinta ini membingungkan sih?' Batin Hinata histeris melihat sorot mata penuh dengan ketegasan.
.
Narutopun berinisiatif untuk kembali mengantarkan Hinata menuju kediamannya. Dengan perlahan iapun menuntun Hinata yang masih nampak lemas akan kejadian tadi.
Setelah membantu Hinata masuk kedalam mobil iapun tak lupa memberitahukan pada Sasuke bahwa malam ini ia harus menutup pesta yang masih berlangsung.
'Hinata tidak enak badan jadi aku antar dia pulang. Aku harap kau mau menutup pestanya' isi pesan teks yang Naruto kirim untuk Sasuke.
Dilihatnya seseorang yang kini tengah menatap jalanan dengan pandangan kosong. Mungkin Naruto tahu jika masa lalu yang dialami Hinata sangatlah menyakitkan.
'Aku akan menghapus masa lalumu itu Hinata. Dan aku gantikan dengan masa depan yang penuh dengan kenangan manis' Batinnya fokus menyetir.
Sedangkan didalam pesta Sasuke hanya bisa menghela nafas ketika membaca sebuah pesan singkat masuk kedalam ponselnya.
"Kenapa?" Tanya Sakura yang berada disampingnya.
"A...ahhh tidak" kikuknya.
Dan tak berapa lama Itachi datang kerahnya "ngomong-ngomong dimana Sasori?" Tanyanya.
"Bukankah tadi bersama nii-san?"
Itachi menggeleng, sebelum ia menjawabnya lagi orang yang tengah mereka bicarakan tiba-tiba saja datang begitu saja dengan wajah yang sudah babak belur.
"Sasori kau kenapa?" Tanya Itachi bingung.
"Ahhh.. tidak, tadi ada gangguan sedikit" kilahnya seraya meringis menahan sakit diwajahnya "kalau begitu aku pulang duluan ya" lanjutnya lagi, dan hanya anggukan yang diberikan oleh Sasuke dan Itachi dengan penuh rasa penasaran.
.
.
.
Seminggu telah berlalu, setelah kejadian dipesta waktu itu sikap Hinata berubah begitu saja. Semula ketika Naruto berada disekitanya dia selalu mengomel dan merasa kurang nyaman. Namun berbeda dengan sekarang, dimana ada Hinata disitulah Naruto juga berada.
Keduanya saling bersama dalam keadaan apapun. Dan itu semakin membuat gosip-gosip baru disekitar kantor. Entahlah, walaupun Hinata tahu mengenai gosip tentang dirinya dan Naruto ia sama sekali tidak terganggu yang jelas ada perasaan aman ketika gosip itu beredar.
"Hinata" ucap Naruto masuk kedalam ruangannya.
Lihat sekarang ia sudah tidak peduli lagi jika sekertarisnya itu memanggil ia dengan namanya.
Hinata menoleh mendapati Naruto yang sudah membawa nampan seperti biasa. Iapun tersenyum lemah seraya berjalan menuju kursi lain disana.
'Hinata masih sama. Dia terlihat terpuruk setelah kejadian minggu lalu' batin Naruto menatap Hinata yang mulai menyantap makanannya.
"Makanannya enak tapi aku tidak selera" gumam Hinata setelah mencicipi sarapan yang dibawakan oleh Naruto.
"Kenapa? Apakah kamu sakit?"
Hinata menggeleng "Aku hanya tidak selera saja"
"Eeuummmm bagaimana kalau siang nanti kita makan diluar kamu maukan?"
Dengan lemah Hinatapun hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Baiklah sampai jumpa nanti aku kembali bekerja dulu ya"
.
Sakura terlihat tengah bercakap-cakap dengan Ino beserta Tenten dikantin seraya makan siang bersama.
"Aku dengar Hinata terlihat aneh sekarang" ujar Ino memulai pembicaraan.
"Iya juga sih. Sejak pesta itu Hinata terlihat berbeda" ucap Tenten menambahkan.
Sedangkan Sakura hanya terdiam menanggapi percakapan kedua sahabatnya itu. Karna ia belum bisa menyimpulkan ada apa sebenarnya pada Hinata. 'Aku harus menanyakan ia pada Naruto' batinnya.
Naruto kembali masuk kedalam ruangan Hinata. Disana ia melihat wanita itu tengah menelungkupkan wajah dimejanya. Terlihat ia sama sekali tidak melakukan pekerjaan seperti biasanya. Dan itu bukan Hyuga Hinata sama sekali.
"Hinata" ujar Naruto buru-buru menepuk pundak Hinata.
Hinata menoleh menampilkan raut wajah tanpa ekspresi.
'Hinata semakin terpuruk. Tidak, aku harus merubahnya kembali'
"Ayo Hinata kitakan mau makan siang diluar" tanpa permisi Naruto menarik Hinata begitu saja. Mau tidak mau Hinata mengikuti kemana Naruto membawanya pergi.
Mulai lagi. Pegawai yang lain mulai berbisik-bisik saat Naruto menggenggam tangan Hinata seraya menariknya.
"Waahhh Naruto sekarang mulai berani ya"
"Kkkyyaaa mereka sungguh pasangan yang membuatku gemas saja"
"Akhirnya"
Itulah bisikan demi bisikan yang dilontarkan oleh pegawai wanita yang melihat mereka melintas begitu saja dihadapannya.
Naruto membawa Hinata pergi entah kemana. Perjalanan menuju tempat yang dituju membutuhkan waktu 25 menit, untung saja jalanan terlihat tidak begitu banyak kendaraan jadi mereka bisa sampai dengan cepat.
Setelah memarkirkan mobil, Naruto berlari kearah Hinata membukakan pintu mobil dan menuntunnya keluar. Perlahan Naruto dan Hinata berjalan menuju sebuah tempat dimana Naruto meyakini jika disini Hinata setidaknya bisa melupakan apa yang telah terjadi.
Lavender Hinata terbelalak ketika matanya menangkap sebuah pemandangan yang indah luar biasa. Ia melihat sebuah danau dengan hamparan bunga lavender disekitarnya. Matahari bersinar begitu terang memantulkan bayangan dasar danau yang airnya begitu jernih. Ditambah bukit-bukit menambah kesan indah yang membuat mata Hinata tak bisa memalingkan pandangannya barang sedetikpun.
"I...indahnya" gumam Hinata, Naruto menoleh mendapati Hinata dengan pandangan penuh takjub. Sebuah senyuman menghiasi wajah tan itu.
"Kamu suka Hinata?" Tanya Naruto.
"Eemmm aku sangat suka. Arigato Naruto-kun"
"Baiklah kalau begitu ayo kita duduk disana dan pesan makanan" ajak Naruto menuntun Hinata untuk duduk disalah satu bangku.
Setelah mereka mendapatkan tempat duduknya Naruto berlari untuk memesankan makan siang mereka.
10 menit kemudian Naruto kembali dengan membawa makanan yang sudah dipesan. Mereka menyantap makan siang ditemani dengan semilir angin dan pemandangan yang begitu menyejukan hati.
'Kenapa pria ini begitu baik padaku. Ya Tuhan apakah Kau telah memberikanku seorang malaikat? Dia begitu baik dan perhatian padaku. Sialnya aku sudah menyakitinya. Aku memang tidak pantas untuknya. Mungkin dia lebih baik menemukan seorang wanita yang jauh lebih baik dari pada aku' tatapan Hinata masih saja terfokus pada Naruto yang tengah menyantap makanannya. Dan tanpa ia sadari juga Naruto mulai merasa diawasi. Pandangan mereka bertemu tanpa keduanya sadari.
Tangan putih itu tanpa sadar terulur memegang pipi kanan tan yang dihiasi dengan 3 coretan menyerupai kumis kucing itu. Jari jemari lentiknya mengelusnya pelan.
"Ada satu pertanyaan yang selalu membayangiku. Kenapa kau selalu baik padaku setelah apa yang kuperbuat?" Suara lembut itu menyadarkan lamunan Naruto. Tangan tannya mendekap hangat tangan putih yang bertengger indah dipipinya.
Kembali, kehangatan itu dirasakan lagi oleh Hinata.
"Aku mencintaimu. Itulah alasanku selalu baik padamu. Aku tidak ingin melihatmu terluka" balasannya dengan suara penuh dengan kelembutan.
"Aku harus bagaimana menanggapi semua perasaan ini. Disisi lain jika kita bersama aku takut melukaimu."
"Pikirkanlah, apapun yang kamu rasakan terhadapku. Itulah yang akan menjadi jawaban terbaik untuk kita"
'Aku...'
Tbc...
JustNaruHinaAndKibaTamaLover : wkwkwk iyaa nih ^^ atigato selalu ngereviews :)
Helena Yuki : wkwk kira-kira siapa hayohh :D arigato udah ngereviews :)
piupiuchan : udah next :) arigato udah ngereviews :)
