Chapter 8

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : NaruHina.

.

.

.

Sepulang dari makan siang Hinata memutuskan untuk langsung pulang kerumahnya dan tidak lagi datang ke kantor tapi hanya Naruto sendirilah yang kembali kesana. Perasaan Hinata sungguh sulit ditebak. Mungkinkah ia telah jatuh cinta padanya? Ataukah perasaan bersalah karna sikap Naruto yang selalu baik padanya? Entahlah yang jelas hanya dirinyalah yang bisa merasakannya.

.

Naruto kembali kekantor setelah mengantarkan Hinata pulang. Pandangan pegawai lain mulai bertanya-tanya kenapa Hinata tidak kembali bersamanya.

"Naruto" ujar Sakura yang melihat kedatangannya.

Naruto menghentikan jalannya dan menoleh "ahh Sakura, ada apa?"

"Ayo ikut denganku" ajaknya membawa Naruto menuju atap kantor.

Sesampainya mereka disana Naruto hanya menunggu ucapan selanjutnya yang akan wanita musim semi itu lontarkan.

"Hinata kemana?" Tanyanya.

"Dia pulang, katanya dia lelah" jawab Naruto.

"Eemmm... apakah hubungan kalian sudah berkembang? Apakah kalian tidak terganggu dengan gosip-gosip yang sudah menyebar?"

"Hubungan kami masih sama tidak ada perubahan. Juga aku dan Hinata sama sekali tidak terganggu dan aku lihat Hinata baik-baik saja dengan gosip itu."

"Apakah mungkin Hinata akan membalas perasaanmu?"

"Entahlah. Aku tidak berharap dia akan membalas perasaanku. Aku hanya tidak ingin melihat dia terluka"

"Terluka? Maksudmu Hinata telah terluka?"

Tanpa sadar Naruto sudah memberitahukan keadaan Hinata yang sebenarnya "hhahhh, ya sudahlah karna sudah ketahuan akan aku ceritakan..."

Naruto mulai menceritakan kejadian yang dialami oleh Hinata saat pesta dansa minggu lalu. Dimana masa lalu Hinata kembali lagi dengan datangnya pria yang bernama Sasori.

"Ka...kau bilang namanya Sasori?" Naruto mengangguk mengiyakan nama yang ia ucapkan setelah ia selesai menceritakannya. "Bukankah pria dengan nama Sasori itu datang bersama Sasuke. Ahhh apa jangan-jangan malam itu kau yang membuatnya babak belur?"

"Bagaimana kau tahu?"

"Waktu itu aku tengah bersama Sasuke dan Itachi-nii. Dan pria bernama Sasori itu datang dengan wajahnya yang penuh luka"

"Bagaimana kau bisa bersama Sasuke... aahhh kau telah menerima cintanyakan?" Goda Naruto.

Bletakk! "Baka kita lagi membahas tentang Hinata" geram Sakura menyembunyikan wajah merahnya.

"Hahahahha sudahlah Sakura kau mengaku saja. Aku tahu dari teme. Kau ini ya"

"Ya ya baiklah baiklah. Kembali pada Hinata."

"Haha. Oke oke. Sasori adalah pria yang sudah membuat Hinata terluka dengan pernyataan cintanya yang tidak terbalaskan. Serta perkataan pria itu yang membuat Hinata tidak percaya lagi dengan namanya cinta"

"Wahh kalau seperti itu susah juga"

"Iya makanya" jawab Naruto lesu.

.

Malam kembali menjelang, suasana seperti inilah yang membuat Hinata tidak nyaman dengan keadaannya. Ditambah dengan sebuah perasaan aneh semakin membuatnya merasa gelisah akan sesuatu.
Sesuatu yang membuatnya tidak bisa lepas dari dekapan seseorang yang telah membuat ia nyaman dan aman didekatnya. Ya mungkinkah ia telah jatuh hati padanya? Sekertrisnya yang juga mencintai dirinya bahkan sudah mengatakan cinta. Mungkin bisa dibilang ia telah menggantungkan perasaan pria itu tanpa memberikan jawaban yang pasti.

Perlahan iris lavendernya menerawang jauh keatas langit gelap yang menampilkan banyak bintang malam ini. Perasaan Hinata sedikit demi sedikit mulai merasa tenang ketika angin lembut menyapu wajahnya. Apakah ia akan segera memberikan jawaban? Apa yang ia rasakan sudah benar? Entahlah, yang jelas hanya dia yang dapat merasakannya.

Hinata POV

Angin menyapaku kembali, seolah membelaiku, memberiku ketenangan dalam perasaan gelisah yang tengah aku rasakan saat ini. Aneh, memang aneh. Ya aku akui kita memang telah bersama selama hampir 5 tahun lamanya. Bohongkan jika diantara kita tidak memiliki perasaan apapun satu sama lain? Bahkan kita selalu bersama kemanapun. Dikantor, bertemu dengan clien serta mengunjungi kantor lainpun kita selalu bersama. Namanya juga atasan dan sekertarisnya sudah pasti kita selalu bersama.

Dan bodohnya lagi kenapa harus muncul perasaan itu diantara kami yang membuat aku merasa tidak nyaman padanya? Berkali-kali aku mencoba menepis semua perasaan aneh dihatiku, aku kira hanya perasaan kasihan saja padanya tapi aku rasa perasaan ini bukan karna kasihan. Tapi karena aku nyaman dan merasa aman didekatnya. Aku merasa dia berbeda dengan si brengsek Sasori itu.

Ya dia benar ternyata semua pria tidak sama dengannya. Dia berbeda, dia memiliki hati yang lembut walaupun sedikit ceroboh tetapi bukankah aku selalu tertawa dengan kecerobohannya itu? Ya sungguh aku merasakan kebahagiaan jika bersamanya. Aku rasa semua sudah jelas tentang perasaan apa yang ada dalam hatiku ini.

.

Naruto masih harus bekerja di kantor yang suasana mulai menyepi. Bisa dibilang ia tengah lembur menggantikan Hinata untuk menyelesaikan dokumen-dokumen penting itu juga mengatur jadwal Hinata untuk keesokan harinya. Badannya sudah sangat letih dipaksakan untuk terus menerus bekerja tanpa henti. Namun ia sama sekali tidak mengeluh dan menyerah dalam menjalankan tugasnya itu. Baginya jika Hinata merasa senang dan puas dengan hasil kerjaannya itu, maka diapun akan merasa bahagia.

Brugg! "Hahh~" helaan nafas beriringan dengan ia menghempaskan tubuhnya untuk bersandar dikursi. Memijat pelan pelipisnya ketika ia merasakan mulai pusing dengan semua pekerjaan itu.

"Aku tidak menyangka jika Hinata melakukan semua ini sendirian" gumamnya melihat dokumen-dokumen yang menumpuk didepannya.

Tangan tannya terulur mengelus pelan dokumen tersebut sebuah senyuman tercipta disana.

.

Ditempat yang berbeda Sasuke terlihat tengah mondar-mandir tidak jelas di ruang kantornya dan itu menimbulkan keheranan di benak Itachi melihat adiknya yang seperti itu.

"Kenapa kau mondar-mandir terus sih?" Gerutunya.

Mendengar hal itu Sasuke menghentikan kegiatannya "eeummmm... aku masih penasaran saja kenapa Sasori bisa babak belur waktu pesta" ujarnya seraya duduk didepan Itachi.

"Hah~ kau ini. Inikan sudah lewat 1 minggu dan kau masih penasaran?" Sasuke mengangguk 'seperti bukan Sasuke saja' batin Itachi.

"Kalau kau penasaran kenapa tidak tanyakan langsung saja padanya"

Brakk! "Kau benar. Aku pergi dulu"

"Dia memang masih anak-anak. Hahaha"

Kaki tegapnya melangkah begitu cepat mencari sosok yang sangat ia temui sekarang. Dan iris hitamnya menangkap rambut merah tengah duduk ditempatnya bekerja.

"Sasori" panggilnya. Sasori yang merasa terpanggilpun menengok melihat siapa gerangan yang datang.

"Ahh Sasuke ada apa datang kesini?"

"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Baiklah langsung saja, sebenarnya dipesta minggu lalu kenapa kau bisa babak belur seperti itu? Apakah ada seseorang yang menyerangmu?" Tanya Sasuke terlihat begitu penasaran.

"Woww... kau memang sangat perhatian ya tidak aku sangkaa" senyum Sasori "Baka. Sudahlah ceritakan saja cepat" geram Sasuke.

"Hahaha baiklah-baiklah. Ya aku memang diserang ketika tengah bersama seorang wanita dimasa laluku"

"Apa? Siapa?"

"Kau ingat akukan pernah menceritakannya waktu disekolah. Akukan seniormu dan gadis diangkatanmu ada yang mengatakan cintanya padaku"

"Benarkah? Ko aku lupa ya?" Ucap Sasuke dengan posisi tangan diatas dagu seraya menerawang keatas seolah tengah memikirkan sesuatu.

Gubrakk! Sasori kaget dengan apa yang ia lihat didepannya. Benarkah itu Sasuke yang ia kenal? 'Selemot itukah dia?' Ujarnya dalam hati.

"Jadi siapa wanita itu?" Tanya Sasuke lagi membuat pria itu kembali tersenyum.

"Pemimpin Hyuga Corp"

"BENARKAHHH?"

"Aku rasa pendengaranmu masih baik. Itu benar"

Sasuke diam sekejap setelah mendengar penuturan Sasori "lalu siapa yang menghajarmu"

"Pria berambut kuning yang menyebalkan"

"APAAA BENARKAHH?"

"Heyyy Sasuke aku tidak tuli jangan teriak-teriak napah" gerutu Sasori membuat Sasuke kembali terdiam.

Sepertinya pria dingin itu tidak sadar jika ia telah berteriak didepan sahabatnya itu.

Dia sekarang ini benar-benar bukan seorang Uciha Sasuke.

.

.

.

Keesokan harinya Hinata sudah kembali bekerja, namun tidak bisa dipungkiri jika dirinya tak semangat sama sekali dalam menjalankan pekerjaannya. Dan hal itu membuat Naruto dibuat ekstra keras dalam menghiburnya. Seperti biasa ia membawkan kembali sarapan untuk Hinata.

"Hinata... kenapa kamu masih seperti ini?" Gumam Naruto yang menghentikan kegiatan Hinata.

Hinata menoleh padanya "entahlah aku sendiripun bingung"

Naruto kembali terdiam setelah mendapatkan jawaban dari Hinata.

Tanpa mereka berdua ketahui bahwa diluar sana seseorang telah tiba.

"Sasuke-kun?" Panggil Sakura melihat kekasihnya datang.

"Ahh Sakura-chan bisa kamu antarkan aku ke ruangan Hyuga?"

"Mau ngapain?"

"Ada sesuatu yang ingin aku ketahui"

"Baiklah. Ayo"

Mereka berduapun berjalan bersama menuju ruangan Hinata.

Tokk... tok... suara pintu ruangan Hinata diketuk oleh Sakura.

"Iyaa silahkan masuk" ujar seseorang didalam.

Cklekk! Pintu dibuka Sakura masuk dan membungkuk hormat padanya "Hyuga-sama ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda"

"Persilahkan dia masuk" jawab Hinata. Setelah mendengar itu Sasukepun masuk kedalam seraya membawa Sakura untuk duduk disampingnya.

"Baguslah pelakunya ada disini juga. Jadi bisa sekalian saja" ujar Sasuke yang sudah mendudukan dirinya dihadapan Hinata.

Mendengar ucapan Sasuke membuat Naruto yang masih berada disana serta Hinata dan Sakura menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Ada perlu apa anda datang kesini? Bukankah pertemuan antar perusahaan akan dilakukan 2 hari lagi?" Tanya Hinata.

"Ini bukan masalah perusahaan. Sekarang kita hanya teman jadi aku ingin bertanya ada hubungan apa kau dengan Sasori?"

Degg... lavender Hinata kembali terbelalak mendengar pertanyaan Sasuke begitupun dengan Naruto, ia langsung menatap Hinata penuh dengan kekhawatiran.

"Sasuke kenapa kau bertanya seperti itu. Karna kau Hinata ja_"

"Sudah Naruto-kun aku tidak apa-apa. Baiklah akan aku ceritakan kembali"

Mendengar ucapan Hinata tadi membuat Naruto, Sasuke dan Sakura terfokus padanya.

Flashback ON

Hinata POV

Aku masih sama, gadis arogan yang mungkin semua murid tidak menyukaiku. Namun dibalik sikap arogan ini aku menyembunyikan sebuah perasaan pada seniorku, kakak kelasku. Entah kenapa perasaan itu muncul begitu saja saat tanpa sengaja aku mendengar dia pernah mengatakan 'aku tidak perduli dengan sikap gadis yang tidak feminim selagi aku nyaman hal itu tidak masalah buatku' perkataannya itu selalu terngiang-ngiang dikepalaku.

Semenjak hari itu aku mencintainya.

.

"Kira-kira Sasori-senpai dimana ya?" Gumamku seraya mencari-carinya.

Hari ini aku berniat untuk menyatakan perasaanku padanya. Aku sudah tidak bisa memendamnya lebih lama lagi. Mataku menangkap dirinya yang tengah duduk dibangku taman belakang sekolah yang selalu sepi. Dia tengah membaca buku ditemani oleh angin yang berhembus dengan lembut. Angin menerbangkan rambut merahnya, sungguh aku tidak sanggup melihat betapa kerennya dia.

Perlahan kakiku mulai melangkah mendekatinya.

Setelah berdiri disamping Sasori-senpai jantungku berdetak semakin cepat. Apakah aku akan terkena serangan jantung? Ohh tidak kenapa dia keren sekali.

"A...ano... Sasori-senpai?" Tidakkk aku tergagap.

Ku lihat Sasori-senpai menatapku dengan senyum menawannya.

"Ya ada apa Hinata?"

Apaaa dia memanggilku dengan Hinata? Di...dia mengetahuiku namaku? Aku tidak mimpikan?

"A...ano a...aku" aahhh baka kenapa aku semakin tergagap sih.

"Hhmm?" Ku lihat Sasori-senpai beranjak dari duduknya dan berjalan mendekatiku. Kami saling berhadapan, pandangan kami saling mengunci. Kegugupanku semakin bertambah dibuatnya.

Pukk! Tepukan lembut mendarat diatas kepalaku "tenang katakan saja. Ada apa hmm?" Ujarnya penuh dengan kelembutan.

Aku mengepalkan kedua tanganku erat. Ku kerahkan semua keberanianku untuk menyatakannya.

"Aku mencintaimu" hening setelah aku mengatakannya tidak ada respon sedikitpun darinya.

Namun sedetik kemudian Sasori-senpai akhirnya menjawab pernyataanku walaupun jawaban tersebut menyakitiku.

"Aku tidak mencintaimu. Alasan apa kau mencintaiku" senyuman yang semula sangat aku sukai kini entah kenapa senyuman itu seperti mengejek padaku.

"Aku tidak mempunyai alasan untuk mencintaimu" jawabku penuh dengan ketegasan, memang aku tidak mempunyai alasan kenapa aku bisa mencintainya. Semua itu mengalir begitu saja setelah mendengar perkataan dia waktu itu.

"Kau berarti tidak mencintaiku. Aku hanya akan menjalin hubungan dengan gadis yang mempunyai alasan kenapa dia mencintaiku. Kau hanya gadis bodoh yang tidak memiliki alasan yang jelas dalam mencintaiku. Oohh atau mungkin kau hanya menginginkan hartaku saja ya? Pergi kau aku tidak suka melihat matamu yang seperti monster itu. Jangan pernah mendekatiku lagi. Aku tidak suka"

Deggg... plaarrrr! Benarkah pria yang ada didepanku ini seseorang yang aku cintai? Ke...kenapa dia berbeda? Siapa dia sebenarnya? Kemana Sasori-senpai yang aku kenal? Aku tidak menyangkan seperti inikah sosoknya yang asli?

"Se...senpai? Kenapa kau tega mengatakan hal itu padaku? Kenapa? Aku tidak mengenalmu yang seperti ini"

"Kehh. Kau memang tidak mengenalku sama sekali. Ya seperti inilah aku. Aku bersikap baik hanya untuk kesenanganku saja. Kau cari saja pria lain. Jangan ganggu aku lagi"

Setelah mengatakan hal itu dia pergi meninggalkanku. Air mata sudah tidak bisa terbendung lagi. 'aku telah ditipu dengan sikap baiknya'

Flashback OFF

.

"Jadi seperti itu kenapa aku dan dia saling mengenal" ujar Hinata mengakhiri ceritanya.

"Hi...hinata aku tidak sangka kamu mengalami masa lalu percintaan dengan sangat menyakitkan" ujar Sakura yang mulai menitikan air matanya.

Sasuke maupun Naruto tak habis pikir bagaimana kejamnya Sasori sebagi seorang pria dengan mudahnya telah menghancurkan hati seorang gadis.

"Brengsek kau Sasori" geram Naruto emosi setelah mendengarkan lebih jelas tentang masa lalu Hinata.

"Aku tidak menyangka dia melakukan hal sekejam itu" ujar Sasuke.

Tapi kenapa Hinata tersenyum mendengar setiap ucapan yang dilontarkan oleh ketiga orang disana? "Sudahlah minna aku tidak ingin melihat kalian mengsihaniku. Aaahhhh rasanya aku lega sekali mengatakan hal itu pada kalian" ucapnya lagi dengan raut wajah kelegaan. Mungkin Hinata sudah kembali.

"Baiklah karna kau telah membantuku, akan aku balas semua kebaikanmu. Sekarang aku sudah mengerti kenapa Naruto sampai menghajarnya" ujar Sasuke.

.

Sasori sekarang tengah bercakap-cakap dengan Itachi diruang pribadi mereka. Memang benar Sasori adalah rekan kerja mereka. Kedua perusahaan itu saling bekerja sama jadi tidak heran jika Sasori selalu menghabiskan waktu di Uciha Corp ini.

Namun tiba-tiba saja sebuah suara mengganggu mereka.

Bbraakkk! Pintu dibuka paksa oleh seseorang.

"Ohh hai Sasuke kau telah kembali bagaimana dengan_"

Buaghh! Ucapan Itachi terpotong dengan tindakan tiba-tiba Sasuke yang menonjok pipi Sasori.

"Kenapa kau memukulku?" Amuk Sasori.

"Aku hanya melakukan balas budi saja" kekeh Sasuke 'balas dendammu sudah aku sampaikan Hinata' lanjut batinnya.

Setelah melakukan hal itu Sasukepun pergi dari hadapan mereka seraya merapihkan jasnya dengan sebuah tanda tanya besar bagi mereka berdua. Sasori meringis merasakan sakit kembali wajah tampannya yang kena pukul. Darah kembali mengalir disudut bibirnya. "Cihh... aku tahu kau melakukan ini untuk siapa. Hahhh~ aku memang pantas mendapatkannya" gumam Sasori mengelap dengan kasar darahnya.

Sedangkan Itachi yang tidak tahu apa-apa hanya diam tak berkutik dengan ekspresi kebingungan.

.

"Katanya Sasuke sudah memberikan balas dendamnya pada Sasori" ucap Naruto pada seseorang disampingnya yang kini mereka ada di atap kantor.

"Benarkah? Aku tidak menyangka dia melakukan hal itu untukku ahh aku harus mentraktirnya"

"Apa? Kau mau mentraktir Sasuke-teme? Heii heii aku juga waktu itu telah menolongmu dan telah membuat si brengsek itu babak belur"

"Haha itu sama sekali berbeda" ujarnya dan berlalu dari sana.

"O...oiiii Hinata ini sama sekali tidak adil untukku. Hinata Hoiiiii" teriak Naruto melihat Hinata yang telah berjalan jauh darinya. Tapi tanpa dia ketahui Hinata tersenyum menyembunyikan sesuatu 'aku tidak akan mentraktirmu, tapi aku akan menjadikanmu kekasihku, ne'

Hinata kini sudah tiba di ruangan khusus untuk membuat perhiasan barunya. Sudah sangat lama ia tidak melihatnya. Semua pekerja tengah mengerjakan perhiasannya satu persatu.

Melihat Hinata datang semua pekerja membungkuk hormat dan tersenyum padanya.

"Aahh tenang saja lakukan pekerjaan kalian" ujar Hinata melihat kecanggungan diantara mereka 'sepertinya aku mengganggu saja jika berada disini' lanjut Hinata. Baru beberapa langkah kakinya keluar dari sana seorang pegawai mendekatinya.

"Hyuga-sama"

"Iya ada apa Sakura?" Tanya Hinata melihat kedatangannya.

"Tadi Sabaku-sama dari Sabaku Corp menghubungi kita katanya dia mengingikan perhiasan ini dan diantarkannya kesana" ujar Sakura seraya menyodorkan memperlihatkan sepasang cincin padanya.

"Benarkah? Baiklah nanti akan saya kirim seseorang untuk mengantarnya"

Hinata berlalu dari sana untuk menemui seseorang.

Iapun sampai dimejanya "Naruto bisa kau antarkan perhiasan ke Sabaku Corp? Kaukan pernah menemuinya dan bercakap-cakap dengannya jadi lebih baik kau saja yang mengantarkannya. Boleh?" Pinta Hinata pada Naruto yang tengah mengerjakan pekerjaannya.

"Benarkah? Tentu saja boleh. Itu pasti sangat memudahkan untukku"

"Baguslah kalau seperti itu. Kau pergi ke Sakura dan minta alamat dan perhiasannya"

"Ha'i"

.

"Sakura-chan" ujar Naruto yang sudah tiba ditempat Sakura berada.

"Ohh jadi kau Naruto. Ada apa?"

"Begini tadi Hinata menyuruhku untuk mengantarkan perhiasan ke Sabaku Corp. Apakah itu benar?"

"Aahhh jadi Hinata menyuruhmu? Baguslah daripada kamu mengikuti Hinata terus hahaha"

Naruto nampak tersipu mendengar penuturan Sakura barusan "ka...kata siapa aku mengikutinya terus? Tidak ko. Sudahlah cepat mana alamat Sabaku Corp itu"

"Haha baiklah baiklah, bentar" Sakura mulai menuliskan alamatnya dan segera membungkus perhiasan tersebut.

"Ini, jangan sampai lecet"

Setelah mendapatkan alamatnya Naruto segera berangkat menuju tujuan dengan mobil kantor yang telah sedia.

.

Jalanan yang Naruto lewati lumayan sepi tak begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang. Ia jadi bebas menjalankan mobilnya dengan kencang. Alamat yang ia tuju berada di Suna. Kota yang terkenal akan pasirnya serta panas yang luar biasa membuat siapapun datang kesana pasti selalu merasakan dahaga yang tak kalah luar biasanya.

Namuk ketika mobil hitam itu mulai memasuki kota tersebut kemana mata memandang hanya ada hamparan putih salju disetiap jalan. Mungkin di kota ini tengah musim dingin dan salju ada dimana-mana.

"Kenapa Sabaku-sama tidak memberitahu bahwa sekarang tengah bersalju?" Gumam Naruto melihat kesekeliling.

Butuh waktu 2 jam lebih untuk benar-benar sampai ke Sabaku Corp. Tubuhnya mulai menggigil merasakan hawa dingin masuk lewat celah jendela mobil.

"Tahu gini aku bawa jaket. Jas ini tidak membantuku untuk menghangatkan tubuh" bibirnya komat kamit merasakan begitu dinginnya kota ini.

"Ssssssss hhheeee tidak ku sangka Su...suna yang selalu panas jika musim salju akan sedingin ini hhhhhh..." gumamnya yang sudah memarkirkan mobilnya tepat didepan kantor.

Brakk! Naruto membuka mobil... wwuuusshhhhh~ angin dingin menyambut kedatangannya.

Tubuhnya kembali menggigil merasakan sangat dingin udara diluar sini "hhaattccciiihhhhh" suara bersin yang mengejutkan.

"Anda mau bertemu dengan siapa?" Tanya seseorang menyadarkan Naruto.

"Anoo... aku ingin bertemu dengan Sabaku-sama"

"Ohh anda pasti dari Hyuga Corpkan? Mari ikut dengan saya" tawarnya mulai berjalan dan diikuti oleh Naruto.

Merekapun masuk kedalam lift menuju lantai 3 dimana sang pemimpin perusahaan berada disana.

Ting! Pintu lift terbuka, Naruto dan pegawai Sabaku tadi keluar dan berjalan menuju tempat tujuan.

Tok...tokk...tokk... pintu diketuk olehnya.

"Ya masuk" sahut seseorang didalam.

"Sabaku-sama, seseorang dari Hyuga Corp telah datang"

"Persilahkan dia masuk"

Pegawai tadi keluar "silahkan anda masuk" ujarnya, Narutopun mengangguk dan masuk kedalam ruangan.

Naruto membungkuk hormat pada seseorang yang tengah duduk dihadapannya.

"Aahh ternyata kau Naruto-san" ucapnya membuat Naruto tersenyum "silahkan duduk" lanjutnya lagi.

"Iya. Hyuga-sama memerintahkanku untuk mengantarkan ini pada anda. Sepasang cincin bukan?" Kata Naruto menyodorkan bungkusan yang didalamnya terdapat sepasang cincin.

"Gomen aku tidak memberitahu bahwa tengah hujan salju. Salju turun beberapa jam yang lalu. Juga jangan bicara normal seperti itu. Panggil saja Gaara. Oh iya saya memang memesannya, dan tolong berikan undangan ini pada Hyuga-san" jawab Gaara menyerahkan sebuah undangan.

"Ahh ahaha iyaa tidak apa-apa ko aku bisa mengatasi hawa dingin ini. Oh jadi Gaara-san akan bertunangan ya. Waahh, nanti saya serahkan padanya."

Pandangan Naruto menjelajah keseisi ruangan itu. Matanya tak lepas memandang sebuah liontin yang menggantung didalam ruangan.

"Liontin itu" tunjuknya "ahh liontin yang waktu itu. Bahan kesepakatan kita" jawab Gaara.

"Aku hanya mengingat Kaa-san saja. Kenangan indah saat bersamanya melintas dipikiranku. Apakah aku bodoh sudah merelakan barang berharga yang Kaa-san berikan untukku?" Ucapan Hinata waktu itu hinggap kembali dalam kepalanya. Ketika wanita itu menangis terasa begitu sakit untuk disaksikan oleh kedua matanya.

"Gaara-san bisakah aku membelinya lagi"

"Hahh? Apa?"

.

Naruto kini berada dalam perjalanan pulang. Entah kenapa ia merasa tidak enak badan. Seluruh tubuhnya masih menggigil "sepertinya aku masuk angin... ha...haccuuhhhhh" Naruto kembali bersin.

"Hachihhhh"

"Hhhaaaccchhhiiihhhh"

"Hhhaaaccchhhiiihhhh"

Naruto bersin berkali-kali seraya menyetir mobil. Tubuhnya mulai memanas. Berada diluar dengan suhu 4.7˚C tanpa adanya jaket ataupun sarung tangan penghangat memudahkan ia untuk masuk angin.

"Aku harus buru-buru sampai ke Konoha" gumamnya seraya menahan pening kepala.

Akhirnya Naruto tiba di Hyuga Corp. Setelah memarkirkan mobil ia berjalan menuju ruangan Hinata untuk memberikan undangan Gaara.

Krekk! Pintu dibuka "Hinata"

Melihat seseorang yang datang dan memanggilnya Hinata menoleh menghentikan kegiatannya "Naruto kau sudah kembali"

"Iya dan Gaara-san memberikan ini untukmu"

Hinata menerima undangan tersebut "oh jadi Sabaku-san akan bertunangan pantas saja membeli sepasang cincin. Kerja bagus Naruto silahkan kembali bekerja"

"Ha'i saya permisi dulu" Naruto berlalu dari sana.

"Kenapa wajahnya pucat ya? Ahh mungkin dia kelelahan" gumam Hinata dan melanjutkan pekerjaannya.

.

Naruto berjalan dengan gontai, langkahnya terasa berat untuk menopang tubuh yang mulai melemas "sepertinya aku akan pulang cepat saja." Gumamnya, setelah sampai dimeja kerja iapun membawa tas berniat untuk pulang.

Ketika ia melewati tempat kerja Sakura, Naruto menyampaikan sesuatu padanya "Sakura-chan aku pulang duluan ya. Aku tidak enak badan" ucapnya dengan suara lemah.

Sakura yang melihat wajahnya sudah pucat menganggukan kepala dan mempersilahkan dia pulang.

.

Sesampainya Naruto diapartemen ia langsung menjatuhkan tubuh lemasnya di atas kasur. Jas yang masih melekat ditubuhnya perlahan ia mulai membuka dan melemparkannya kesembarang tempat. Mungkin Naruto terlalu lelah untuk sekedar berganti baju.

.

.

.

Pagi kembali menjelang, ketika jam sudah menunjukan pukul 11:30 siang Hinata merasa ada yang tidak beres. Pasalnya sebelum jam menunjukan makan siang sekertarisnya pasti sudah membawakan sarapan untuknya. Namun sampai sekarang Hinata menunggu kedatangannya dia sama sekali tidak ada.

"Kemana dia pergi" gumamnya dan berlalu darisana "coba kulihat saja deh" lanjutnya mulai berjalan keluar ruangan.

Namun sesampainya ia ditempat biasa Naruto bekerja Hinata sama sekali tidak mendapati dirinya dimanapun.

"Sakura apakah kamu tahu kemana Naruto pergi?" tanya Hinata ketika melihat Sakura lewat didepannya.

"Katanya dia hari ini tidak masuk. Dia sakit, dan oh ya ini surat sakitnya" balas Sakura menyerahkan surat.

"Benarkah? Pantas saja kemarin dia terlihat pucat. Sakura aku serahkan urusan kantor padamu ya"

Tapp...tapp...tapppp Hinata berlari meninggalkan Sakura yang tengah tersenyum padanya "ganbatte Hinata. Aku yakin kamu sudah merasakannya jugakan?"

.

Setelah menyambar tas dan kunci mobil Hinatapun mulai meninggalkan kantor. Mobilnya berlaju dengan kecepatan tinggi. Entah kenapa dia merasa khawatir dengan keadaan Naruto saat ini.

"Bakaaa akukan tidak tahu dimana rumahnya"

Cckkitt! Dengan sembarang Hinata memarkirkan mobil mencari ponsel dan menghubungi Sakura kembali.

"Moshi-moshi Sakura dimana kediaman Naruto" tanya Hinata to the point.

'...'

"Ahhh baiklah arigato"

Tanpa dia tahu Sakura tengah tersenyum disana 'jatuh cinta memang sangat menyenagkan'

Bbrrmmmm! Mobil lavender itu kembali melaju.

Sesampainya Hinata disebuah apartemen sederhana jari lentik itu mulai menekan-nekan bel dengan tidak sabarnya.

Cklekk! Pintu didepannya dibuka menampilkan Naruto yang acak-acakan "Hi...hinat_"

Brughh! Iris sapphire itu terbelalak merasakan kehangatan seseorang yang kini tengah memeluknya.

"Hi...hinata?" Gumamnya lirih.

"Bakaa~"

"Eehhh"

Hinatapun melepaskan pelukannya dan membawa Naruto kedalam.

"Kenapa kamu tidak menghubungiku kalau lagi sakit" ucap Hinata dengan nada sedikit membentak.

"I...itu " 'tunggu kenapa Hinata berubah? Apakah dia mulai... aahh tidak tidak pasti dia hanya mencemaskanku saja. Tapi aku senang ketika melihat wajah penuh kekhawatirannya tadi'

"NARUTO-KUN" bentak Hinata membuat Naruto tersadar.

"Go...gomen Hinata. Aku tidak ingin mecemaskanmu" ucapnya dengan suara serak.

"Apakah kamu tidak apa-apa?" Tanya Hinata memegang keningnya membuat Naruto benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang terjadi "Badanmu panas sekali, lebih baik kamu berbaring saja" lanjut Hinata membantu Naruto kembali dalam kamarnya dan membaringkannya disana.

Hinata melihat-lihat kesekitaran kamar sekertarisnya itu tidak ada yang istimewa sebenarnya, hanya ada beberapa bingkai foto saja. Jas, kemeja, celana serta kaos kaki yang digunakan Naruto kemarin masih tergeletak dimana-mana 'sepertinya dia tidur sebelum membereskan bajunya' batin Hinata. Iapun mulai melangkah memungut? satu persatu barang-barang itu.

"A...ahhh sudah tidak apa-apa Hinata, aku merepotkanmu saja" lirih Naruto yang melihat Hinata membereskan baju-bajunya.

"Sudah tidak apa-apa aku senang melakukannya"

'Senang? Ada apa sebenarnya dengan Hinata?'

"Ohh apakah ini foto Kaa-san dan Tou-sanmu?" Tunjuk Hinata pada sebuah bingkai foto disana.

"Iya itu adalah Kaa-san dan Tou-sanku"

'Sepertinya aku pernah melihat mereka tapi dimana ya?'

"Naruto-kun aku buatkan bubur dulu ya. Aku yakin kamu pasti belum makan"

"Tapi Hina_"

"Jangan membantah. Lebih baik kamu diam dan menurut saja" ancam Hinata dan berlalu dari sana untuk membuatkannya bubur. Narutopun menurutinya.

30 menit berlalu, ketika Naruto hampir terlelap dalam tidurnya Hinata kembali dengan semangkuk bubur hangat ditangannya. Sebuah senyuman mengembang diwajah cantik Hinata seolah puas dengan hasil yang ia dapatkan.

"Naruto-kun ayo makan dulu" ujarnya dengan suara lembut tidak biasanya, hal itu membuat Naruto merinding?

"A...aahhh iya Hinata, arigato"

Hinata mulai menyuapi Naruto dengam bubur yang ia buat.

"Bagaimana rasanya?"

"Ini sangat enak Hinata. Sungguh ini benar-benar enak. Ditambah kamu yang menyuapinya jadi semakin enak"

Pukk! "Jangan menggodaku" balas Hinata memukul pelan lengan Naruto.

"Heheh gomen gomen"

"Kenapa kamu bisa demam seperti ini?" Tanya Hinata khawatir.

"Kemarin ketika aku ke Suna ternyata kota itu sedang musim salju dan karna aku tidak memakai pakaian hangat jadinya aku seperti ini. Tenang saja aku hanya masuk angin saja ko" jelasnya di akhiri dengan sebuah cengiran.

"Gomen... ini salahku yang sudah mengirimmu kesana" sesal Hinata.

"Tidak apa-apa ko. Ini bukan salahmu. Sudah ya Hinata jangan salahkan dirimu sendiri"

.

Selesai memakan buburnya kini Naruto kembali berbaring dengan Hinata yang masih berada duduk disampingnya.

"Hinata kenapa kamu begitu baik hari ini?" Tanya Naruto tiba-tiba dengan menolehkan pandangannya pada Hinata.

Hinata tersenyum padanya "aku ingin saja" jawabnya lembut.

Tangan tan itu terulur memegang pipi kanan Hinata, membuat Hinata terbelalak dan merona "arigato Hinata" lirihnya membelai pelan pipi gembil itu.

Tangan putih Hinata menyambut tangan tan Naruto sedangkan sebelahnya lagi mengelus pelan surai pirang itu.

"Cepat sembuh" cupp! Sebuah kecupan mendarat didahi Naruto.

Benarkah wanita yang bersikap manis itu adalah Hinata? Naruto begitu merasakan kembali kasih sayang yang sudah lama tidak ia rasakan. Perlakuan Hinata hari ini benar-benar membuatnya kembali dan kembali jatuh cinta padanya.

Malam ini wanita itu memutuskan untuk menemani Naruto. Lihatlah tangan mereka saling bertautan seolah tidak ingin melepaskannya barang sedetikpun.

Namun mampukah mereka bersatu dalam ikatan sebuah cinta? Itu hanya merekalah yang tahu.

Tbc...

Semoga suka ya minna jangan bosen-bosen untuk tinggalkan reviewsnya heheh kritik dan sarannya silahkan tuangkan saja. Terima kasih jaa ^^ ^0^

magendrik : sudah lanjut semoga suka :) arigato udah ngereviews ^^

JustNaruHinaKibaTamaLover : heheh iyaa nih hime mulai tersadar ^^ wkwk cciieee diplesetin :D gomen :) apakah pukulan Sasuke sudah cukup buat dia? hahahha arigato udah ngereviews ^^

Wira : sudah update semoga suka ya heheh terima kasih banyak sudah suka dengan fic ini heheh. arigato udah ngereviews ^^

piupiuchan : heheheh arigato piu-san :D wkwkwk bingung gimana emangnya :D udah next nih. arigato udah ngereviews ^^