Chapter 9
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruHina
.
Udah update nih semoga suka ya minna :) selamat membaca... ^^v
.
Malam ini adalah malam yang paling indah dalam hidupnya. Ya, itulah yang dirasakan oleh Naruto sekarang. Melihat seseorang yang dicintainya berada tepat disampingnya dan menemaninya. Menggenggam tangan, seolah tidak ingin ia meninggalkannya.
Senyuman mengembang disana. Naruto merasa senang dengan adanya Hinata disaat ia tengah sakit seperti ini. Genggaman hangat tangan Hinata membuat dirinya merasa sangat bahagia.
Naruto mengelus lembut pangkal kepala Hinata, merasakan begitu lembut rambutnya itu "kamu bahkan rela tidur disisi ranjang hanya untuk menjagaku Hinata? Hihihi ternyata kamu wanita yang sangat baik. Arigato"
"Ngehh~" lenguhan lembut mengalun dibibir ranum Hinata. Mungkin dia sedikit terusik dengan belaian dikepalanya.
Kelopak matanya terbuka menampilkan kembali iris lavender "aahh kamu sudah bangun rupanya" ucap Hinata dengan suara serak khas bangun tidur.
Senyuman masih setia bertengger di wajah Naruto "apakah badanmu tidak sakit tidur seperti itu?"
"Tidur dimanapun aku bisa. Aku sangat kuat tahu" jawab Hinata memamerkan otot-otot kecilnya dan hal itu membuat Naruto terkekeh "hehehe baiklah-baiklah kamu memang kuat"
"Hmmm hmmm. Apa panasmu sudah turun?" Tanyanya lagi seraya memegang dahi Naruto dan dahinya sendiri untuk membandingkan "baguss panasmu sudah turun" lanjut Hinata lagi, Naruto hanya tersenyum melihatnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya"
Hinatapun beranjak berdiri dari sana, namun ketika kakinya akan melangkah grepp! Naruto bangkit dari tidur dan menahan lengan Hinata brug! Tanpa Hinata duga Naruto kembali memeluknya hangat membawa ia berbaring bersamanya.
"Na...naruto-kun" Hinata tergugup tidak seperti biasa.
"Arigato Hinata" ucapnya lembut.
Tanpa sadar Hinata membalas pelukannya juga "emm" angguknya.
Hening. Keduanya menikmati waktu bersama. Pelukan hangat membuat mereka terbuai akan dekapan masing-masing. Kedua mata Hinata menutup kembali saat merasakan belaian lembut yang dilakukan oleh Naruto.
'Nyamannya. Sentuhan ini, aroma tubuh ini, dekapan ini, kehangatan ini aku sangat menyikainya. Sangat sangat suka'
'Aku harap kamu membalas perasaanku. Rasa sayang sudah menjalar dihatiku, bagaimanapun aku sangat mencintaimu. Wangi lavender aku selalu menyukainya. Aku berjanji akan membuatmu benar-benar menjadi milikku'
Mereka hanya bermonolog sendiri. Merasakan betapa nyaman berada dalam posisi tersebut. Namun ketika jam berbunyi menandakan pukul 8 tepat keduanya tersadar.
"Aahhh Naruto-kun aku bisa terlambat kekantor." Hinata melepaskan begitu saja pelukannya mendorong pelan tubuh Naruto untuk menjauh darinya.
"Aaahhhh kamu benar Hinata ini sudah jam 8 tepat"
"Eemmm kalau begitu aku pulang dulu ya. Jaa" ujar Hinata buru-buru.
Setelah menyambar tas dan kunci mobil ia berlari keluar menghidupkan mobil untuk segera sampai kerumah.
Naruto terkekeh melihat Hinata yang tengah terburu-buru "hihihi kamu sangat lucu hime. Aahhh pagi yang indah" gumamnya seraya merentangkan kedua tangan melepaskan rasa pegal.
Ia turun dari ranjang dan brughh! Naruto jatuh dengan tidak elitnya. Kakinya tersandung oleh suatu benda.
"I...ittaii siapa sih yang naruh... eehhhh" ucapnya melihat benda yang sangat penting untuk seorang wanita. Naruto membawanya "bukankan ini dompet? Dompet siapa ya?" Tanpa permisi Naruto membukanya. Memang tebal dan itu membuatnya tersandung "Wwoowww uangnya banyak sekali. Tapi punya siapa ya?" Gumamnya masih melihat-lihat isi dompet itu dan akhirnya Naruto melihat sebuah foto didalam dompet tersebut "bukankah ini Hinata? Wahh dia manis sekali ketika masih kecil. Sepertinya ini Kaa-sannya tidak salah jika Hinata cantik ternyata turunannya. Hallo ibu mertua heheh gawat kalau Hinata sampai mencari-cari ini. Baiklah nanti aku kembalikan deh" lanjutnya berkicau sendiri diiringi dengan candaan.
.
Hinata akhirnya sampai dikediaman Hyuga. Ia langsung berlari setelah memarkirkan mobil di garasi rumah.
"Kkyyaaa bisa-bisa aku terlambat. Aku tidak boleh menjadi contoh yang buruk untuk pegawaiku" sibuk Hinata berlarian kesana kemari.
Hiashi, sang ayah hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putrinya itu "ckckck dasar anak muda" gumamnya dan berjalan menuju ruangan kerjanya yang kini sudah digunakan oleh Hinata.
Hiashi melihat-lihat tempat ini, ia duduk dikursi yang saat ini milik Hinata. Tatapannya berkeliaran keseisi ruangan.
Ketika beberapa saat iapun harus terganggu dengan ocehan putrinya yang masuk kedalam ruangan "Tou-san apa Tou-san melihat dompetku?" Tanyanya.
"Dimana kamu meletakannya?" Tanya Hiashi kembali melihat Hinata berdiri dihadapannya.
"Hinata simpan di tas ko. Tapi tidak ada"
"Semalam kamu kemana?"
"Se...semalam Hina nginap dirumah teman"
"Ya mungkin saja tertinggal disana."
'Apa mungkin tertinggal di apartemen Naruto-kun ya? Ahh karna tadi aku terburu-buru mungkin saja terjatuh' batin Hinata, sedetik kemudian iapun merona mengingat kembali kejadian tadi pagi.
"Kenapa dengan wajahmu itu? Kamu jatuh cinta?" Tanya polos Hiashi menyadarkan Hinata.
"A...aahhh tidak ko Tou-san" gugup Hinata. Dan untuk mengalihkan pertanyaan Tou-sannya tadi Hinata berjalan-jalan diruangan itu.
"Oh iyaa Tou-san Hinata selalu penasaran kenapa lemari ini selalu terkunci apakah ada sesuatu didalamnya?"
Degg... pertanyaan Hinata membuat Hiashi terkaget "tidak ada apa-apa ko" jawabnya mempertahankan raut muka yang wajar tanpa menampilkan ekspresi keterkejutan.
"Hhmmm baiklah Hinata pergi ke kantor dulu" ucap Hinata dan berlalu dari sana.
Sepeninggalan Hinata, Hiashi buru-buru mengambil sebuah kunci dan membuka lemari tersebut dan membawa dokumen penting itu untuk ia sembunyikan di tempat lain.
.
Tangan Hinata mencari-cari dan mengacak-ngacak isi tasnya. Dimanapun ia tidak menemukan benda yang ia perlukan "dimana kunci mobilku? Siall karna terburu-buru mungkin aku melupankannya dikamar" Hinatapun kembali kedalam rumah.
Namun brukhhh! Ia harus bertabrakan dengan seseorang membuat kertas-kertas yang dibawa olehnya berhamburan kemana-mana.
"I...ittai Tou-san apa yang Tou-san laku_ ini" ucap Hinata yang ternyata Tou-sannya. Matanya terfokus dan mengambil dua kertas didepannya.
"Bukankah ini Tou-san dan Kaa-sannya Naruto? Aahh sekarang aku ingat beliau adalah sekertaris dan bendahara pribadi Tou-sankan? Kenapa ada disini?" Tanya Hinata pada Hiashi "Bukankah kedua orangtua Naruto sudah meninggal?" Lanjutnya lagi.
Hiashi menegang disana. Kedua potret itu berada ditangan putrinya, dan ia tidak bisa apa-apa sekarang selain menjelaskan apa yang sebenarnya ia sembunyikan "itu karna aku ingin merahasiakan ini padanya"
"Kenapa?"
"Karena..."
.
Sama dengan Hinata, pagi ini Naruto terlihat sedang terburu-buru. Setelah siap akhirnya iapun pergi menuju tempat tujuan. Namun bukan kantor yang menjadi tujuannya melainkan kediaman Hinata untuk mengembalikan dompet tersebut. Naruto berpikir jika lebih baik dikembalikan secepatnya daripada dikantor yang mungkin bisa saja diketahui oleh pegawai lain. Dan untuk mencegah kecurigaan mereka Naruto memutuskan untuk datang saja kerumah Hinata.
"Permisi bibi apakah Hinata sudah berangkat?" Tanya Naruto kesalah satu pelayan yang tengah menyiram bunga dihalaman rumah Hyuga.
"Nona masih ada dirumah. Silahkan masuk saja" jawabnya mempersilahkan Naruto masuk.
Naruto mengangguk dan berjalan untuk masuk kedalam.
Kembali kedua kupingnya menangkap sebuah pembicaraan yang seharusnya tidak ia dengar. Tapi inilah yang terbaik untuknya.
"Karna aku tidak ingin melihatnya bersedih."
"Apakah jangan-jangan Tou-san tahu penyebab kedua orangtua Naruto meninggal?"
Deggg... mendengar itu hati Naruto tiba-tiba saja terasa sangat sakit.
"Kedua orang tua Naruto meninggal disebabkan karena waktu itu mereka ingin melindungi Tou-san. Malam itu kami berempat bersama Kaa-sanmu tengah rapat untuk menyipakan presentasi untuk besok. Namun tiba-tiba saja dari arah luar seseorang menerobos masuk memecahkan jendela kantor. Dia orang yang iri dengan kesuksesan Tou-san. Singkat cerita dia ingin perusahaan Tou-san beralih tangan padanya dia berkata bahwa dia juga telah menanamkan sahamnya. Tapi saham itu tidak banyak hanya 10% dari saham Tou-san. Tidak terima karna Tou-san tidak memberikannya iapun mengacungkan senjata api yang ia bawa. Kushina dan Minato serta Kaa-sanmu berdiri didepan Tou-san. Sedetik kemudian diapun membabi buta dan menembakan pistolnya kesegala arah. Mereka bertiga menjadi korban. Kejadian itu terjadi diruangan 103 yang berada dilantai 3. Itu sebabnya Tou-san tidak mengijinkanmu untuk memakai ruangan itu. Dan setelahnya bajingan tadi melarikan diri setelah mendengar suara sirine polisi. Kushina dan Minato mengatakan pada Tou-san untuk menjaga Naruto. Itu sebabnya Tou-san menjadikan ia sekertaris pribadimu. Tapi tenang saja sang pelaku sudah ditangkap dan telah dieksekusi mati" jelas Hiashi panjang lebar membuat kedua mata Hinata terbelalak tak percaya meskipun si pelaku sudah tertangkap dan diekskusi mati tetap saja Tou-sannya tidak harus menyembunyikan fakta ini. Air mata sudah mengalir dikedua mata Hinata tak sanggup membayangkan kejadian yang Tou-sannya ceritakan.
Sedangkan diluar ruangan itu Naruto tengah menahan emosinya. Kedua tangannya mengepal kuat seakan ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Sakit dihatinya sudah tidak bisa ia bendung lagi.
Brakk! Iapun membuka pintu dengan kasar, Hinata dan Hiashi terbelalak melihat kedatangannya. Kejadian beberapa hari yang lalu kini terulang kembali. Percakapan pribadi mereka mengenai dirinya terdengar lagi dan diketahuinya lagi.
"TEGANYA KALIAN MENYEMBUNYIKAN INI DARIKU. BISA-BISANYA KALIAN HIDUP ENAK SETELAH KEJADIAN ITU? TIDAK AKU SANGKA KALIAN PENIPU" teriaknya menyalurkan rasa sakit yang saat ini memenuhi hatinya.
Bukk! Naruto melemparkan dompet Hinata didepannya. Dan setelah itu iapun pergi meninggalkan mereka.
Rasa sakit juga sudah memenuhi hati Hinata. Bagaiaman melihat raut muka Naruto yang penuh dengan kemarahan dan kesakitan yang teramat sangat. Dan itulah sebabnya Hinata juga sakit hati karna ia juga merasakan bagaimana Tou-sannya ini mengembunyikan kebenaran itu. Bukankah Kaa-sannya juga menjadi salah satu korban? Itulah sebabnya Hinata juga marah dengan Tou-sannya.
"Kenapa Tou-san menyembunyikan ini pada kami? Seharusnya Tou-san mengatakan ini dari awal. Aku kecewa Tou-san" ucap Hinata menghapus kasar air matanya.
"Tou-san tidak ingin membuat kalian bersedih"
"Justru Tou-san sudah melakukannya dan malah lebih parah" setelah mengatakan hal itu Hinata pergi dari hadapan Hiashi dengan dokumen yang masih berserakan.
Hinata berlari untuk menyusul Naruto. Namun ia sama sekali tidak melihat dimana keberadaannya. Hinatapun masuk kedalam mobil, mungkin saja Naruto sudah dalam perjalanan kekantor.
.
Hinata berlarian setelah sampai dikantor. Ia terus saja mencari dimana keberadaan Naruto. Satu satunya tempat yang belum ia datangi adalah atap kantor.
Hinata harus berlari menaiki satu persatu tangga menggunakan high healsnya. Rasa pegal mengalahkan kekhawatiran dirinya pada Naruto. Hinata yakin jika perasaan pria itu tengah kacau sekarang dan Hinata tidak ingin melihatnya kesakitan. Sudah cukup melihat dia demam kemarin dan Hinata tidak ingin melihatnya sakit lebih parah lagi dari itu.
Brakk! Pintu dibuka dengan kasar.
Iris lavendernya menyalang mencari dimana keberadaan Naruto. Dan sedetik kemudian matanya menangkap kepulan asap disana. Hinata mendekat kearah itu, kedua mata ia terbelalak melihat Naruto yang tengah merokok disana. Hinata juga tahu bahwa selama ini pria itu tidak pernah sekalipun menyentuh barang itu. Dan sekarang ia memakainya? Mungkin Tou-sannya sudah membuat ia hancur.
Air mata kembali lolos dikedua mata Hinata melihat betapa menyedihkannya Naruto. Jas dan kemeja yang Naruto gunakan dengan rapih tadi pagi, kini terlihat acak-acakan.
"Ngapain kau kesini?" Tanyanya dingin membuat Hinata kembali terbelalak.
"Na...narut_"
Naruto beranjak dari duduknya dan menghadap Hinata "Jangan panggil namaku. Dasar penipu" ucapnya dan meninggalkan Hinata seraya menyenggol bahu kirinya membuat wanita itu sedikit goyah.
"Tunggu... Naruto-kun kenapa kau menyebutku seperti itu?" Tanya Hinata membuat Naruto berbalik dan menatapnya kembali.
"Bukankah kalian sama saja telah menipuku dengan menyembunyikan kebenaran itu?" Jawabnya dengan sorot mata penuh dengan kebencian.
"Aku... aku sama sekali tidak mengetahui hal itu. Dan baru hari ini aku mengetahuinya..."
"kehh kau pikir aku akan percaya? Tidak semudah itu" acuhnya dan melangkah pergi meninggalkan Hinata.
Benarkah tadi Naruto yang ia kenal? Kemana perginya Naruto yang selalu bersikap baik padanya walaupun Hinata selalu acuh tak acuh padanya.
"Tidak... tidakk... dia bukan Naruto. Naruto tidak sekasar tadi, Naruto selalu baik padaku. Aku harus menjelaskan semua padanya. Aku sama sekali tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan kejadian itu. Jadi jangan panggil aku penipu karna aku tidak menipumu Naruto-kun" gumamnya seraya memegang dada yang terasa sakit.
.
Dengan langkah tegap Naruto berjalan menuju salah satu ruangan di kantor. Ruangan 103 yang dikatakan Hiashi tadi pagi membuatnya ingin mendatanginya.
Naruto akhirnya sampai disana. Pintu yang sama sekali tidak pernah ia datangi. Ruangan yang selalu sepi tanpa seorangpun berada disana.
Dengan mencongkel pintu ditambah beberapa cara untuk mendobraknya, akhirnya pintu terbuka menampilkan ruangan yang sangat berdebu. Semuanya terlihat kacau dimata Naruto. Meja berserakan, debu berterbangan sarang laba-laba ada dimana-mana. Dan yang membuat ia terasa sesak adalah bercak darah yang sudah kering, mengabur bercampur dengan debu.
Naruto berjalan kearahnya, mungkinkah itu darah yang ditinggalkan oleh Tou-san dan Kaa-sannya? Hatinya kembali terluka.
Air mata mengalir dikedua mata itu. Semuanya seolah tergambarkan didalam pikiran Naruto.
"Aku sudah jatuh cinta dengan penipu itu" gumamnya menahan air mata. "Tou-san, Kaa-san gomen aku baru mengetahuinya" lanjutnya dengan suara lirih.
Disisi lain Hinata tengah merenung di ruangannya setelah apa yang terjadi tadi pagi. Bukankah semalam dia masih baik-baik saja dengan Naruto? Bahkan mereka sudah mengumbar kemesraan satu sama lain. Dan sekarang petir itu menyambar dengan cepat, semuanya hancur begitu saja.
"Sekarang aku harus bagaimana? Aku sama sekali tidak mengetahuinya. Dia menganggapku sebagai seorang penipu." Gumamnya lesu.
.
Ke esokan harinya Naruto bersikap dingin terhadap Hinata membuat wanita itu tak habis pikir bagaimana drastisnya perubahan Naruto terhadapnya.
Tokk... tok... tokk... pintu diketuk. Naruto masuk kedalam membungkuk hormat pada sang atasan.
"Ini dokumen yang harus anda tanda tangani" ujarnya dingin seraya menyerahkan dokumen yang ia bawa.
Hinata terbelalak melihat Naruto yang terlalu dingin padanya "Naruto-kun ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu"
Namun bukannya menjawab Hinata iapun langsung berlalu dari sana "kalau begitu saya permisi dulu"
Hinata hanya mampu menahan rasa sakit melihat Naruto yang seperti itu.
Jam berlalu begitu cepat siang sudah menjelang kembali. Hinata keluar dari ruangan untuk mencari makanan.
Tanpa sengaja mereka berdua berpapasan "Naruto-kun" ujar Hinata, tapi ucapannya tidak digubris sama sekali.
"Naruto-kun"
"Naruto-kun"
"Naruto-kun"
Sapaan demi sapaan ketika mereka bertemu selalu Hinata lakukan. Tapi jawaban yang ia terima selalu sama. Pria itu acuh tak acuh padanya dan selalu berlalu begitu saja. "Hahh~" hanya helaan nafaslah yang selalu ia lakukan menerima perilaku Naruto terhadapnya.
.
.
.
Semenjak kejadian itu sikap Naruto pada Hinata mulai berubah. Dia cuek, dingin dan selalu mengabaikan Hinata. Ini sudah berjalan hampir 2 minggu lamanya. Dan perubahan sikap Naruto pada Hinata semakin menjadi-jadi. Pekerja lain yang selalu mengawasi gerak gerik mereka juga terheran-heran dengan dua sejoli itu.
"Eehhh apa kalian merasa tidak jika Naruto dan Hyuga-sama kini terlihat berbeda?" Tanya Akiko pada teman-teman 1 kerjanya.
Ya memang ini masih pagi tapi kegiatan gosip disana sudah dimulai.
"Ya aku juga merasakan hal yang sama. Naruto seakan menjauhi Hyuga-sama. Apa mereka putus ya?" Jawaban serta pertanyaan di lontarkan oleh Shizuka.
"Benarkah? Ko aku tidak merasa ya." Kini giliran Shion yang berceloteh.
'Benarkah itu? Aahhh iya kenapa aku tidak menyadarinya ya? Biar aku tanyakan langsung saja deh' Ucap seseorang yang tanpa sengaja lewat dan mendengar pembicaraan itu.
"Sudah-sudah kalian bertiga kembali bekerja jangan bergosip saja" ujar Kiba mengganggu kegiatan mereka.
"Hhhuuuuu bilang saja kau juga mau ikutan" jawab Shizuka.
"Sudah aku mau ketoilet dulu ya minna. Jaa." Shionpun meninggalkan mereka bertiga.
Takk... takk... takk... suara high heals menggema disana. Sang pemilik nampak tidak semangat menjalani hari-harinya. Sudah selama ini penyemangat yang selalu ada disisinya hilang bak ditelan bumi. Walaupun mereka selalu bersama dalam berbagai kesempatan tapi Naruto selalu bersikap acuh tak acuh dan dingin padanya.
Brakk! Pintu ruangan dibuka. Ia duduk dikursi kebesarannya.
"Hah~" helaan nafas terdengar begitu berat. Pikiran wanita itu melayang jauh pada beberapa hari kebelakang. Dimana seseorang yang selalu ada disampingnya begitu perhatian terhadapnya kini hanya kekosongan yang ia rasakan. Tak ada lagi sarapan pagi dan makan siang yang biasa dilakukan orang itu padanya.
Sekarang mereka bak orang asing dalam satu pekerjaan.
Mereka bertemu jika Naruto memberitahukan jadwalnya. Dan setelah itu dia langsung meninggalkan Hinata begitu saja, membuat wanita itu tak habis pikir jika kenyataan yang tanpa sengaja terungkap itu bisa membuat sikap dan sifat Naruto berubah drastis.
Takk... takk... taakk... suara langkah berlari terdengar nyaring ditelinganya.
Brakk! "Hinata" teriaknya seketika membuat siempunya nama terlonjak kaget.
"AAHH... Sakura, kamu mengagetkanku ada apa?"
Langkah kaki wanita itu semakin cepat dan dalam beberapa detik iapun sudah duduk didepan Hinata.
"Ada apa sebenarnya dalam hubungan kalian?" Tanya Sakura to the point.
Hinata terbelalak mendengar pertanyaannya itu. Ternyata secepat itulah informasi beredar luas. Sudah sering ia mendengarkan pegawainya membicarakan tengang dirinya dan pria itu. Ada yang mengasihaninya dan ada juga yang mencemoohnya seolah ia sudah dicampakan oleh pria itu. Namun Hinata tak mempermasalahkan hal itu toh mereka juga tidak ada yang tahu dan mengerti bagaimana hubungan mereka berdua.
"Hahh~ ternyata sudah menyebar padamu ya? Baiklah akan aku ceritakan"
Hinata mulai menceritakan awal kejadian dimana Naruto tanpa sengaja mendengarkan semua pembicaraan mereka. Sebuah fakta yang selalu Tou-sannya sembunyikan dari mereka berdua. Mungkin Naruto berpikir jika Hinata juga menyembunyikan hal itu. Sekarang Naruto merasa tertipu, dan menjauh dari Hinata.
"Jadi seperti itu bagaimana semua orang disini membicarakan ku dan Naruto-kun. Setiap kami berpapasan dia selalu saja mengacuhkanku. Aku harus bagaimana karna aku juga disini sama sepertinya tidak tahu apa-apa tentang hal itu" lesu Hinata menenggelamkan wajahnya diatas meja.
Sakura melihat hal itu merasa kasian juga dengan Hinata. Naruto sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk wanita itu berbicara "apakah kamu mencintainya?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Sakura membuat Hinata kembali mendongakan kepala.
"Apakah terlihat jelas?"
"Jelas sekali. Aku yakin jika perasaan Naruto masih ada padamu. Dia hanya emosi saja. Aku kira jika kamu mengajaknya bicara baik-baik mungkin dia bisa memahaminya" nasihat Sakura.
"Apakah aku bisa berbicara lagi dengannya?"
Sakura mengangguk "tidak hanya berbicara jika kamu tidak menyerah untuk menjelaskannya aku yakin hubungan kalian akan kembali seperti semula"
Grepp! Hinata menggenggam kedua tangan Sakura "emm... aku yakin aku bisa. Arigato Sakura kamu sudah menyemangatiku. Dukung aku terus ne. Aku pergi dulu"
"Yaahh aku akan terus mendukungmu. Ganbette Hinata" teriak Sakura melihat Hinata yang sudah berada diambang pintu. Hinata berbalik mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban sedetik kemudian ia pun meninggalkan Sakura.
Wanita musim semi itu tersenyum melihat bagaimana mudahnya membuat Hinata kembali bersemangat "aku yakin kalian akan bersama" gumamnya.
.
Naruto sekarang sering menyendiri. Hanya rokoklah yang selalu menemaninya. Setiap kali ia berpapasan dengan wanita itu hanya perasaan sakitlah yang ia rasakan. Apakah perasaan cintanya sudah berubah? Apakah kebencian telah menyelimuti hatinya?
Naruto POV
Aku tidak menyangka jika mereka berdua sudah menipuku. Beberapa tahun telah berlalu dan selama itu pula mereka menyembunyikan kebenaran itu. Hiashi-san yang sudah aku anggap sebagai Tou-sanku sendiri sudah mengkhianatiku bertahun-tahun dan menjadikanku sebagai robot untuk bekerja diperusahaannya yang menjadi tempat kejadian. Sialnya lagi aku telah jatuh cinta pada putrinya.
Aku yakin diapun sama dengan Tou-sannya itu. Mereka pandai berbohong menyembunyikan sesuatu. Lalu buat apa minggu lalu dia berbaik padaku? Memberikanku rasa nyaman atas perhatiannya sehingga menimbulkan rasa sayang untuknya. Tuhan hukuman apa lagi yang Kau berikan padaku? Aku tidak sanggup jika harus berdiam diri terus disini. Aku harus pergi melupakan semuanya. Termasuk melupakan... dia.
"Naruto-kun" ku dengar seseorang meneriaki namaku. Aku tengokan kepala melihat siapa gerangan dia. Ahh ternyata dia, seorang wanita yang mirip dengannya.
.
"Hmm ada apa Shion?" Tanya Naruto melihat kedatangannya.
Shion berjalan mendekatinya, duduk tepat disamping Naruto.
"Kamu sangat suka berada disini ya?" Tanyanya membuat Naruto menoleh.
"Hmm" hanya gumaman yang keluar darinya.
"Apakah hubunganmu dan Hyuga-sama baik-baik saja?" Kembali Shion bertanya tentang tujuan awalnya datang kesini.
"Hubungan apa? Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan penipu itu"
Mendengar jawaban dari Naruto yang terkesan sangat dingin itu membuat Shion menyeringai menandakan ia telah menemukan sebuah fakta.
'Ahh ternyata seperti itu. Hahaha ini kesempatan emas buatku'
"Benarkah itu?"
"Ya itu benar"
"Jadi apakah aku mempunyai kesempatan?"
"Kesempatan apa maksudmu?"
"Kesempatan untuk dekat denganmu tentunya. Jujur sudah lama ini aku selalu memperhatikanmu" apa? Apa Shion tengah mengungkapkan perasaannya? Jadi dibalik dukungannya selama ini terhadap mereka berdua ternyata ia menyembunyikan sebuah perasaan.
"Mmm tentu saja" jawab Naruto enteng. Tahukah kau jika ucapanmu itu telah membuat harapan untuk wanita itu?
Brughh! Entah sadar atau tidak Shion memeluknya erat. Dan itu membuat kedua matanya terbelalak, ternyata Shion benar-benar mencintainya.
Dilain tempat Hinata tengah berlari menuju satu-satunya tempat yang ia ketahui dimana Naruto berada. Ya atap kantorlah menjadi tujuannya.
Langkah kaki yang tengah berlari menggunakan high heals itu terdengar nyaring memantul dengan lantai kantor yang terbuat dari marmer tersebut. Kembali ia harus menaiki tangga demi tangga untuk segera sampai ke atap.
Brakk! Pintu terbuka. Tatapannya langsung lurus kedapan menangkap sebuah pemandangan yang hampir membuat jantungnya berhenti berdetak. Nafas yang masih tersenggal-senggal harus ditambah dengan rasa sesak yang luar biasa dengan apa yang matanya tangkap.
Kedua sejoli tepat didepan matanya tengah berpelukan.
Naruto yang mendengar seseorang membuka pintu atap seketika menolehkan matanya kesana. Iapun menangkap wanita itu datang dengan bahu yang naik turun. Dan ia cukup pintar untuk menangkap jika Hinata berlari datang kesana.
Sebuah seringaiam tercipta, seakan ia mempunyai ide bagus untuk membalas perbuatan Hinata yang nyatanya tidak pernah dilakukan. Dan ia memanfaatkan wanita yang kini tengah memeluknya. Tangan tan itu membalas pelukan Shion dan menenggelamkan wajahnya dibahu kanan wanita itu.
Kedua mata Hinata terbelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat. Semudah itukah Naruto melupakan perasaannya? Tidak berartikah ia untuknya? Apakah semuanya sudah berakhir? Cinta yang ia dapatkan sekarang apakah harus berakhir seperti ini? Pintu hati yang sudah ia buka untuknya ternyata tak berjalan dengan mulus.
Air mata lolos dikedua matanya. Naruto benar-benar sudah berubah.
'Aku bukan penipu... kenapa kau melaukan hal ini terhadapku?'
Tbc...
Jangan lupa reviews ya jika suka heheh kalau ada kritik dan sarannya silahkan tuangkan saja ^^v
JustNaruHinaAndKibaTamaLover : hehehhe iyaa nih udah lanjut lagi moga suka wkwk ^^ arigato udah ngerevies :)
Wira : chap 9 udah update semoga suka ya hehehe :) wkwkwk terima kasih banyak sudah menyukai fic hyugana jadi terharu 0_0 ^^ apakah udah update kilat nih? semoga ya heheh :D arigato udah ngerevies :)
febrianzawira : heheh udah lanjut nih semoga suka :) terima kasih udah suka dengan fic ini ^^ wkwk entar ditambahin lagi deh momen"nya :D sekarang konflik dulu ya hahah :D arigato udah ngerevies :)
magendrik : udah lanjut semoga suka :) arigato udah ngerevies :)
