Chapter 11

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

Pairing : NaruHina

.

.

.

Degg... perasaan tidak enak tiba-tiba saja masuk kedalam hatinya, detak jantung Naruto memompa begitu cepat. Entah apa yang akan terjadi, firasatnya mengatakan bahwa akan ada suatu hal yang akan terjadi "ada apa ini?" Gumam ia seraya memegang dadanya.

Tringg! Terdengar suara ponselnya berbunyi, ada 1 pesan masuk yang tertera dilayar. Iapun membuka pesan tersebut. Entah ekspresi apa yang kini ada diwajah tampan itu, tidak bisa terbaca sama sekali tapi yang jelas detak jantungnya sekan terhenti sejenak melihat seseorang yang selama ini sudah membolak-balikan hatinya tengah terbaring tak berdaya.

Terdapat sebuah tulisan mengancam, itu dilakukan oleh sahabat musim seminya. Siapa lagi jika bukan Haruno Sakura, 'jika kau tidak datang kesini. Aku bersumpah seumur hidupku akan membencimu' itulah pesan yang ada dibawah gambar yang baru saja masuk kedalam ponselnya.

"Hina...ta" gumamnya pelan. Dengan kedua mata yang terbelalak lebar.

.

Sakura tengah menunggu di depan ruangan. Setelah mendengar jika atasan Hyuga Corp mengalami kecelakaan Sakura langsung berlari dan datang kerumah sakit tanpa memberitahu rekan kerja yang lain. Namun ketika sudah berada disana ia harus menunggu Hinata sampai selesai ditangani oleh dokter.

Perasaan cemas dan khawatir sangat dirasakan oleh Sakura sekarang. Bagaimanapun juga Hinata adalah sahabatnya walaupun mereka memang jarang terlihat bersama.

"Sakura-chan" teriak seseorang mendekatinya yang tengah duduk disana "Sasuke-kun"

"Bagaimana keadaan Hinata?" Tanya Sasuke yang beberapa menit lalu dikabari oleh Sakura perihal kecelakaan Hinata.

"Hinata masih mendapatkan penanganan medis"

"Aku harap dia tidak apa-apa"

"Emm"

Mereka berduapun menunggu Hinata yang masih dalam penanganan dokter. Berdo'a dan terus berharap dilakukan oleh keduanya. Sasuke juga telah menganggap Hinata sebagai sahabat baiknya, karna berkat wanita itulah Sasuke bisa mendapatkan Sakura yang sudah lama diam-diam ia cintai. Tak hanya itu berkat Hinata juga dia bisa mendapatkan kepercayaan dirinya lagi

.

Ditempat lain, Naruto masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Seorang wanita yang selama ini ia tinggalkan tengah terbaring tak berdaya dengan darah dimana-mana. Ya Sakura sampai disana bersamaan dengan Hinata yang baru dikeluarkan dari ambulance.

Ada perasaan sakit disana, rasa penasaran juga mulai tumbuh dalam hatinya tentang bagaimana bisa wanita itu mengalami kecelakaan sampai seperti ini. Biasanya walaupun Hinata memacu mobil secepat bagaimanapun hal ini tidak pernah terjadi. Tapi takdir Tuhan sudah berkata lain, dan tidak ada siapapun yang bisa mengelaknya. Jika Tuhan sudah mengatakan 'terjadi' maka terjadilah.

Tatapannya terkunci pada sebuah kotak merah di nakas samping ranjang, tangan tan itu terulur untuk mengambil dan melihat isi didalam kotak. Itu adalah sebuah liontin berbandul mata yang sudah susah payah ia dapatkan dari seorang pemimpin Sabaku Corp tempo hari.

Flashback ON

"Gaara-san bisakah aku membelinya lagi"

"Hahh? Apa?" Tanya Gaara bingung ketika mendengar Naruto meminta liontin itu kembali "tidak. Jika barang yang sudah aku dapatkan tidak bisa lagi aku kembalikan"

"Tapi liontin itu sangat berarti untukku. Terutama bagi Hinata"

"Hyuga-san? Kenapa? Apakah kau menyukainya?"

"Ya benar aku sangat menyukainya... aahhh tidak aku sangat mencintainya. Didalam liontin itu terdapat berlian yang ditinggalkan Kaa-san untuknya, namun dia merelakan itu semua dan memendam perasaan sedihnya sendiri. Aku sudah berjanji untuk mengembalikan berlian itu padanya dan aku berjanji akan menghapus perasaan sedihnya itu. Jadi Gaara-san berapapun harga itu sekarang aku akan mencoba membayarnya" jelasnya penuh dengan ketegasan.

"Tapi walaupun dengan gajihmu selama setahun itu tidak akan cukup. Aku tidak perduli dengam perasaanmu itu. Kau tahukan jika ini adalah kesepakatan kami agar perusahaan dapat bekerja sama lagi"

Brughh! Tiba-tiba Naruto beranjak dari kursinya. Ohh tidak dia tengah bersujud pada pria merah itu "aku mohon Gaara-san ijinkan aku untuk membelinya"

"Ada apa ini?" Terdengar suara asing masuk dalam telinga Naruto. Namun ia sama sekali tidak merubah posisinya saat ini.

"Ma...matsuri?" Tanya Gaara melihat tunangannya yang tiba-tiba saja datang.

"Bagaimana bisa kamu tega membiarkan dia bersujud seperti ini. Sudah bangunlah" ucapnya membantu Naruto bangun "ada apa sebenarnya ini?" Lanjutnya lagi.

Gaarapun menjelaskan bagaimana Naruto yang mengingikan liontin itu untuk wanita yang dicintainya "sudahlah Gaara-kun berikan saja. Aku tidak tahan melihat seorang pria sangat mencintai wanitanya sampai sejauh ini"

"Tapi benda inikan syarat kerjasama antar perusahaan"

"Sebegitu pentingnyakah pekerjaanmu itu? Apakah aku juga bagian dari syarat pekerjaanmu. Benarkah kau mencintaiku?" Ucap Matsuri sedikit menggoyahkan pendirian Gaara.

"Tapiii..." ujarnya seraya menyentuh liontin itu.

Lama ia berpikir sampai akhirnya Gaarapun memutuskan yang terbaik untuk mereka "ya Matsuri benar cinta memang membutuhkan pengorbanan. Ini ambilah pembayarannya kau transfer saja"

Mata Naruto tebelalak tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ternyata kekuatan cinta mampu mengubah segalanya "be...benarkah ini? Arigato arigato gozaimasu Gaara-san Matsuri-san" ucapnya membungkuk hormat juga berterima kasih pada mereka.

Flashback OFF

Perjuangan itulah yang dilakukan oleh Naruto 1 bulan yang lalu. Bagaimana ia hampir tidak bisa membawa liontin itu kembali padanya. Tapi apakah semuanya akan menjadi sia-sia? Karna kini ia sudah membenci wanita itu.

"Hinata" lirihnya menggumamkan nama seseorang yang sudah ia tinggalkan. Kenangan demi kenangan yang sudah dilakukan bersama Hinata hinggap kembali dalam kepalanya menyebabkan luka dihati digantikan dengan rasa bersalah. Apakah ia tidak melihat bagaimana perjuangan dirinya sendiri saat mendapatkan Hinata? Dan sekarang ia malah menyia-nyiakan perasaan itu. Hah... sebenarnya kau memikirkan itu tidak sih? Jangan karna dengan kesalahpahaman kau menyakiti wanitamu dan juga dirimu sendiri.

.

Setelah mendapatkan penanganan medis selama 1 jam lamanya kini Hinata sudah dipindahkan keruang rawat inap. Disana Sakura tak bisa menahan isak tangis saat melihat kondisi Hinata. Dimana kepala yang terbalut perban, alat bantu bernafas serta beberapa luka yang menyayat kulit mulusnya. Ya itu disebabkan karena kaca mobil yang pecah akibat benturan mobil mereka. Sedangkan pengendara mobil yang satunya mendapatkan beberapa luka saja tidak separah yang didapatkan oleh Hinata.

"Hinata... hiks... kenapa kamu melakukan sampai sejauh ini untuk menemukan si baka itu hiks... hikssss..." lirih Sakura menahan tangis.

Grepp! Sasuke merangkul bahu wanitanya menenangkan kekasihnya itu "Sudahlah aku yakin Hinata kuat. Ayo kita keluar dulu biarkan Hinata istirahat" ajaknya membawa Sakura keluar.

Namun ketika tangan putih itu membuka pintu seseorang sudah berdiri disana. Tatapan mereka bertiga saling mengunci tak percaya jika si pelaku bisa datang secepat kilat.

"KAUUU" kedua tangan Sakura mengepal kuat siap untuk meninju wajah tan itu.

Bugh! Satu pukulan telak mendarat diwajah tampannya. Tak sampai disana kini Sasukepun siap untuk melayangkan pukulan selanjutnya.

Bughhh! Pria itu terpental jatuh kelantai. Darah mengalir disudut bibir, mendapatkan 2 pukulan telak sekaligus. Baru juga dia mengatur nafas setelah berlarian mencari dimana ruangan Hinata kini ia harus menerima hadiah selamat datang dari kedua sahabatnya.

Grepp! "KAU MEMANG PANTAS MENDAPATKANNYA. KAU LIHAT SEKARANG DIA SEDANG TERBARING TAK BERDAYA KARNA SIAPA HAHHHH?" teriak Sakura mencengkram kuat kerah bajunya.

"Sudahlah Sakura kita bicara pelan-pelan saja ini rumah sakit" ajak Sasuke. Mendengar itu Sakura melepaskan cengkramannya "Kau ikut bersama kami" lanjut Sasuke.

Mereka bertigapun pergi dari sana meninggalkan Hinata yang belum sadarkan diri.

Beberapa menit peninggalan mereka bertiga sang ayah, Hyuga Hiashi datang kesana setelah mendapatkan pesan dari Sakura. Pria baya itu menatap lirih anag putri yang tengah terbaring tak berdaya. Hatinya begitu sakit, langkah Hiashi mendekat kearah Hinata. Menggenggam tangan putri semata wayangnya itu.

Tatapan penuh kecemasan dan juga penyesalan terlihat diwajah yang sudah tak muda lagi.

"Hinata Tou-san minta maaf. Karna Tou-san kamu harus menerima semua ini" lirih Hiashi penuh dengan rasa sesal.

.

"Kau tahu bagaimana Hinata menderita selama ini?" Ucap Sakura yang tak sabar untuk membeberkan bagaimana perjuangan Hinata setelah peninggalan pria itu. "Setiap hari dia selalu saja mencarimu kemanapun. Kenapa kau tidak menjawab panggilannya HAHH? Aku sudah tahu masalah kalian apa, dengar ya Naruto Hinata sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian waktu itu. Jadi cobalah dengarkan dia, tapi sekarang semua sudah terlambat. Jika ada apa-apa dengan Hinata aku tidak akan memaafkanmu"

"Seharusnya kau tidak mementingkan perasaanmu saja. Kau tahukan bagimana masa lalu Hinata ketika tersakiti oleh Sasori? Dia tidak percaya lagi dengan cinta, tapi kau telah berusaha supaya Hinata percaya lagi dengan cinta. Dan setelah kepercayaan itu didapatkan lagi olehnya kau kembali menyakitinya. Jadi apa yang kau pikirkan sekarang tentang Hinata? Apakah wanita itu akan percaya lagi atau sebaliknya. Itu tergantung padanya" balas Sasuke menasehati sahabat kuningnya itu.

Mendengar Sakura dan Sasuke yang menasehatinya Naruto tak bisa berkata apa-apa penyesalan sudah tidak berguna sekarang. Kepalanya menunduk merasakan sakit hati yang teramat sangat.

Grepp! Ia mencengkram kuat dada kirinya. Begitu sakit penyesalan yang kini ia rasakan. Kalaupun dia meminta Hinata untuk kembali seperti semula akankah wanita itu sanggup setelah apa yang ia lakukan terhadapnya? Benar, jika rasa kebencian telah mengalahkan perasaan cintanya. Sekarang ia harus apa? Berlari dan berteriak meminta Hinata untuk segera bangun? Jangan gila bahkan dokter bilang kemungkinan Hinata untuk bangun tidaklah besar.

"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Naruto lirih.

"Temui dialah dulu" saran Sasuke lagi.

"Kami akan membawa keperluan Hinata dulu. Kau jaga dia" lanjut Sakura. Dan mereka berduapun pergi meninggalkan Naruto sendirian.

Tatapannya menatap kosong pintu yang masih tertutup. Sungguh Naruto tidak sanggup untuk melihat Hinata yang terbaring disana. "Aku memang bodoh. Kenapa kau mencari orang bodoh sepertiku Hinata?"

Tesss... air mata penyesalan menetes diwajah tampannya. Mungkinkah ia benar-benar menyesal dengan apa yang sudah diperbuat selama ini pada Hinata. Setelah mengumpulkan tekad yang kuat Naruto beranjak dari saja melihat Hinata yang masih tidak sadarkan diri.

Namun sayang langkahnya harus terhenti saat seseorang memanggil namanya.

"Naruto" iapun menoleh mendapati seorang pria paruh baya berlari kearahnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

"Bisa kita bicara sebentar?" Ajaknya. Tanpa banyak bicara Naruto kembali duduk diikuti dengannya.

"Kau hanya salah paham dengan Hinata. Dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian itu. Aku, hanya aku sendirilah yang menyembunyikan fakta itu. Kau tahukan jika Kaa-san Hinata juga menjadi salah satu korban? Aku memang egosi waktu mengorbankannya pada mereka dan sampai saat ini aku masih egois telah menyembunyikannya pada kalian berdua. Aku tidak mau kalian mengetahui hal ini karna aku tidak ingin melihat kalian bersedih" jelasnya, ya itu adalah Hiashi Tou-san Hinata yang datang untuk melihat putrinya yang tengah mengalami kecelakaan.

Naruto beranjak dari sana setelah mendengar penjelasan yang diucapkan oleh Hiashi "Ya arigato Tou-san" ucapnya dan pergi keruangan Hinata meninggalkan Hiashi sendiri.

.

Naruto POV

Ohh Tuhan apa yang sudah aku perbuat padanya? Wanita sebaik Hinata harus menanggung semuanya sendiri. Ya aku memang egois sudah mementingkan perasaanku sendiri. Aku berjalan mendekat kearahnya. Seseorang yang aku cintai tengah terbaring dan itu salahku. Ya kalian benar Sasuke, Sakura aku memang pantas untuk tidak dimaafkan.

Ya aku pantas untuk dibenci.

Aku duduk disisi ranjangnya. Ku genggam tangan putih itu dengan lembut. Ku mohon Hinata bangunlah beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Aku benar-benar sangat menyesal. Ya aku memang bodoh telah menyakitimu dengan keegoisanku.

Ijinkan aku untuk menemuimu lagi Hinata. Bangunlah, aku mohon. Aku masih mencintaimu Hinata. Maafkan aku, sungguh aku sangat menyesal telah melakukan itu semua padamu.

.

Sudah 4 jam Naruto berada disana. Namun masih belum ada tanda-tanda Hinata untuk sadarkan diri. Mungkinkah Tuhan tidak memberi ia kesempatan untuk bertemu dengan Hinata lagi? Ataukah ini hukuman atas kesalahannya pada Hinata. Ternyata hidup yang ia jalani begitu berat tak semudah yang ia pikirkan.

Banyak kejadian demi kejadian yang tak di inginkan kini nyatanya malah terjadi. Memang sebuah penyesalan selalu datang ketika ingin memperbaiki segalanya.

"Naruto kau pulanglah dulu biar kami yang menjaga Hinata" ucap Sakura yang sudah kembali tiba.

Naruto menoleh "tidak, aku ingin menjaga Hinata sampai dia sadar"

"Kalau dia tidak sadar?"
Mendengar pertanyaan dari Sasuke membuat Naruto langsung berdiri dan mencengkram kuat baju sahabatnya itu "apa maksudmu berbicara seperti itu HAH?" Teriaknya penuh emosi.

"Ternyata kau masih peduli ya. Namun sayang kepedulianmu itu sudah terlambat." Suara lembut nan menusuk itu terdengar dari mulut manis Sakura.

"Sudahlah aku memang bersalah. Aku pergi dulu, jaga Hinata" jawab Naruto lesu dan berjalan keluar dari sana.

"Hahh~ dia memang begitu bodoh"

"Hinata kenapa kau bisa mencintai si bodoh itu?"

Langlah demi langkah terasa begitu berat. Sepeninggalannya dari rumah sakit Naruto berjalan menyusuri jalanan Konoha yang sudah lama ia tinggalkan. Tidak banyak yang berubah disana.

Setiap jalan yang ia lewati masih sama saat ia pergi meninggalkannya. Bahkan kenangan bersama Hinata tak ada yang berubah. Takdir berkata lain, ternyata keegoisan yang ia lakukan berdampak buruk bagi Hinata. Tapi bagaimanapun juga Naruto harus bertanggungjawab dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap Hinata.

Naruto tak pernah berpikir bagaimana perasaan Hinata ketika ia memeluk Shion begitu saja. Mungkinkah dia biasa saja? Ataukah dia sakit hati? Naruto sama sekali tidak memikirkan perasaan itu sama sekali. Naruto melakukannya atas keinginan ia sendiri. Tanpa memikirkan bagaimana dampak bagi kedua wanita yang sudah ia permainkan.

'Andaikan ada mesin waktu aku ingin memperbaiki semuanya' batinnya menerawang kelangit lepas yang kini sudah tak secerah tadi.

"Tuhan aku mohon ijinkan aku untuk bertemu dengannya lagi" gumamnya memohon dengan bersungguh-sungguh.

.

.

.

3 hari sudah berlalu dan selama itu Naruto selalu menjaga Hinata tanpa lelah. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk melihat mata indah itu terbuka kembali, bahkan sedetikpun Naruto tidak ingin melewatkannya.

'Hinata aku mohon bangunlah' batinnya yang terus saja menggenggam tangan Hinata. Memberikan rasa hangat itu. Dan tak berapa lama tangan putih itu bergerak membuat Naruto tersentak kaget.

Tatapannya menoleh pada Hinata. Perlahan, kelopak mata itu membuka sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya memperlihatkan iris lavender yang selama ini tidak pernah ia lihat keindahannya lagi.

Ketika kedua matanya sudah terbuka kini pandangan Hinata mengarah pada seseorang yang berada disampingnya tengah tersenyum bahagia juga tengah menggenggam tangannya.

"Hinata kamu sudah sadar?" Tanya Naruto dengan lembut.

Namun hanya keheningan yang menjawab pertanyaan itu, Hinata masih saja menatapnya tanpa berminat untuk menjawab.

Namun setelah beberapa menit berlalu Hinatapun memberikan sebuah pertanyaan yang membuat Naruto tak percaya menerima semua ini.

"Kau... siapa?" Dengan nada suara yang dingin Hinata berujar.

Pllaaarrrrrrr! Bagaikan petir disiang bolong menyambar hatinya, menerima semua kenyataan ini. Kedua mata Naruto terbelalak lebar. Jantungnya berdetak dengan cepat, hatinya terasa sakit ketika melihat Hinata dengan raut wajah dingin lagi seperti dulu. Tubuh itu menegang seketika tak percaya dengan apa yang ia dengar tadi.

"Hinata kamu pasti bercandakan?"

Raut wajah Hinata sama sekali tidak menujukan bahwa wanita itu tengah bercanda "aku bilang siapa kau?" Ujarnya lagi dengan nada yang meninggi.

"Ini aku Naruto. Apakah kamu tidak mengenalku Hinata?"

"Naruto? Tidak aku tidak mengenalmu mau apa kau kesini hah? Aahhh kau mau membunuhku dan setelah itu kau mau merampas perusahaankukan?" Ohh Hinata kenapa kau jadi seperti ini?

"A...apa Hinata kenapa kamu berpikiran seperti itu? Aku Naruto, Uzumaki Naruto sekertarismu dulu"

Mendengar itu Hinata beranjak dari tidurnya duduk dan melepaskan masker oksigen diwajahnya. Dengan tatapan tak percaya Hinata kembali berujar "tidak aku tidak mengenalmu. Pergi kau dari sini PERGIIIII" amuk Hinata membuat Naruto sama sekali tidak percaya melihat Hinata yang seperti ini.

"Ada apa ini? Hinata kamu sudah sadar?" Tanya Sakura yang berlari mendekati Hinata.

Grepp! Hinata langsung memeluk Sakura "Sakura-chan siapa dia? Kenapa dia ada disini?" Tanganya menunjuk kearah Naruto yang kini tengah menganga masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Di...dia dia_"

"Dia baka dobe Hinata. Sudahlah Hinata jangan pikirkan dia lebih baik kau istirahat saja" lanjut Sasuke yang sudah datang.

"Sasuke. Baiklah aku serahkan urusan dia padamu"

Sedangkan Naruto yang melihat hal itu tak habis pikir dengan apa yang Hinata lakukan. Apakah kecelakaan itu membuat Hinata melupakannya? Beberapa pertanyaan hinggap dalam pikirannya. Ataukah Hinata memang sengaja melakukan itu?

"Baka ayo ikut denganku" ajak Sasuke, mau tak mau Narutopun mengikutinya.

Sedangkan Hinata masih saja memeluk Sakura erat seolah wanita itu tidak boleh pergi dari sisinya.

"Hinata?" Tanya Sakura pelan.

"Hmm?" Balasnya seraya melepaskan pelukan itu.

"Apakah kamu memang tidak me...mengetahui Na...naruto?" Lanjut Sakura gugup dengan pertanyaannya itu.

"Iya aku memang tidak tahu siapa dia. Memangnya dia itu siapa?"

"A...aahahaha di...dia dia_"

"Ahh pasiennya sudah siuman ya? Kita periksa dulu ya" ujar sang dokter menginstrupsi mereka berdua. Perasaan lega dirasakan oleh Sakura merasa dokter itu adalah penyelamatnya atas pertanyaan Hinata tadi.

Dokter dengan name tag Tsunadepun mulai memeriksa Hinata lagi, tidak ada yang berarti. Ada 1 fakta yang mencengangkan Sakura mendengar hal itu.

"Apakah dia baik-baik saja dok? Tadi aku sempat melihat bahwa dia tidak mengetahui seseorang" ucap Sakura penasaran.

"Dia mengalami kehilangan ingatan sementara. Karna benturan dikepalanya cukup keras maka inilah yang terjadi"

"Tapi kenapa hanya ke satu orang saja?"

"Mungkin saat kecelakaan terjadi ingatannya hanya tertuju pada 1 orang saja. Orang yang mungkin paling berharga untuknya"
Mendengar perkataan itu Sakura mulai mengerti kenapa Hinata bisa melupakan Naruto begitu saja 'aku pikir dia hanya bercanda tadi. Ternyata kamu memang benar-benar mencintainya' batin Sakura melihat Hinata yang tengah memakan buburnya tak perduli dengan percakapan mereka.

.

Di sisi lain, Sasuke membawa Naruto duduk ditaman rumah sakit yang cukup indah untuk ditinggali. Suasana hati pria itu sangat kacau sekarang. Ingatan Hinata tentang dirinya tidak pernah ia duga hilang begitu saja. Apakah Hinata tengah bercanda? Karna ia sudah menyakiti Hinata? Dan apakah sekarang ia tengah balas dendam? Pertanyaan itu yang selalu ada dalam pemikiran Naruto.

"Apakah kau masih mencintainya?"

"Tentu saja aku sangat mencintainya" balas Naruto langsung begitu saja tanpa ada keraguan sedikitpun.

"Tapi kau bodoh telah membuat wanita yang kau cintai terpuruk. Hinata adalah wanita yang baik, kau beruntung bisa dicintai olehnya"

"Ya kau benar aku memang bodoh telah menyia-nyiakan kebaikan Hinata"

"Hei kalian berdua" teriak Sakura menghampiri mereka.

"Bagaimana dengan keadaan Hinata?" Tanya Naruto langsung setelah kedatangannya.

"Kata dokter dia mengalami kehilangan ingatan sementara. Dan mungkin saat kecelakaan itu terjadi Hinata masih memikirkanmu. Kau adalah orang berharga untuknya maka dari itu Hinata tidak mengingat siapa kau"

"Ternyata Hinata sudah melakukan sampai sejauh ini? Aku harus mengembalikan ingatannya"

"Ya kau harus bisa dan kau juga harus mencari tahu sendiri bagaimana persaannya padamu" ujar Sakura.

"Emmm. Arigato kalian"

.

Naruto berjalan kembali menuju ruang rawat inap untuk melihat kondisi Hinata lagi. Ia memang bodoh telah menyia-nyiakan wanita itu. Kini Hinata sudah melupakannya rasa sesal didalam hati sudah tidak bisa ia tahan.

Naruto tidak ingin jika Hinata melupakannya. Biarkanlah ia bersikap egois lagi supaya Hinata bisa mengingatnya kembali.

Disana Naruto melihat Hinata tengah duduk diatas ranjang, menatap kearah luar lewat jendela kamar. Dalam pandangan Naruto, Hinata terlihat rapuh saat ini. Dan itu memang salahnya. Perlahan kaki itu berjalan mendekati Hinata, tanpa sepengetahuan wanita itu.

"Hinata" ujarnya membuat Hinata tersentak kaget melihat Naruto kembali kedalam ruangan.

Hinata menoleh melihat kedatangannya, dengan cepat wanita itu memeluk bantal seolah Naruto adalah penjahat yang akan melukainya kapanpun saat ia lengah.

"Kenapa kau kesini lagi? Jangan harap kau bisa melukaiku disaat keadaanku seperti ini" ujarnya dengan penuh kewaspadaan.

Naruto tersenyum melihat kelakuan Hinata, ia terus berjalan kearah jendela menatap kearah luar. Sedangkan tatapan Hinata terus saja mengikuti setiap gerak gerik yang dilakukan oleh Naruto.

Naruto berbalik menatapnya dengan senyuman masih bertengger "kau lucu Hinata hihihi. Aku bukan orang jahat sungguh" kikiknya, mendengar itu Hinata mulai melonggarkan bantal yang tengah ia peluk dengan erat. Entah kenapa melihat senyuman itu membuat Hinata sedikit percaya bahwa pria itu tidaklah berbahaya.

.

.

Seminggu telah berlalu dan kini Hinata sudah keluar dari rumah sakitnya. Ingatannya masih sama tidak bisa mengingat siapa sebenarnya pria kuning yang ia temukan setelah sadar dari tidur panjangnya.

Semakin ia mengingatnya semakin sakit pula sakit yang dirasakan dalam kepalanya.

"Kenapa aku bisa pindah ke apartemen ya? Apa Tou-san sudah tidak ingin tinggal bersamaku?" Gumam Hinata masih bingung ketika Sakura mengantarkannya ke sebuah apartemen dan bukan kediaman Hyuga. "Aahhh aku ingatt waktu itu Tou-san menyuruhku untuk segera menikahkan. Kkyyaaaa jangan-jangan aku diusir dari rumah karna tidak bisa mengabulkan permintaannya" racau Hinata lagi dengan sebuah pemikiran yang telah pergi kemana-mana.

Teng... nong! Terdengar suara bel pintu ditekan oleh seseorang. Dahi Hinata mengkerut "siapa ya pagi-pagi sudah bertamu?" Lanjutnya lagi dan beranjak dari sana.

Brakk! Pintu terbuka menampilkan pria kuning itu lagi tengah tersenyum manis padanya dengan sebucket bunga mawar ditangannya. Hinata memutar bola matanya bosan. Ini sudah ketiga kali pria itu datang dan mengganggunya di apartemen.

"Mau apa lagi?" Tanya Hinata acuh tak acuh.

Grepp! Tak banyak bicara Naruto langsung mencengkram pergelangan tangan Hinata membawa masuk kedalam.

Hinata melipat kedua tangan ketika melihat Naruto seenaknya lagi disana. Menggunakan dapurnyalah, tidur di sofanyalah, membersihakan apartemennyalah itu dilakukan oleh Naruto ketika datang ke apartemen.

Namun Hinata tidak bisa mengusirnya, entah kenapa dalam hati kecil wanita itu dia sedikit nyaman dengan adanya Naruto. Toh ada gunanya juga Naruto datang jadi dia tidak usah susah-susah membersihkan apartemennya sendiri. 'Hihihi ternyata dia memang berguna. Bagus bagus' batinnya.

Naruto tengah sibuk mengolah makanan yang ia bawa tadi didapur. Sedangkan Hinata sedang menyimpan bunga yang Naruto bawa tadi untuknya, sebuah senyuman mengembang diwajah cantik itu saat melihat Naruto heboh sendiri didapur.

Meskipun ingatannya masih belum kembali tapi Hinata sedikit nyaman dengan kehadiran Naruto. "Apakah di masa lalu aku dekat dengannya ya?" Gumam Hinata masih saja memperhatikan betapa menariknya Naruto dengan celemek yang dipakainya.

Merasa ada yang merhatikan Naruto menoleh membuat wanita itu gelagapan karna tingkahnya ketahuan "Hihihi kau sangat lucu Hinata" kikik Naruto membuat Hinata mengembungkan kedua pipinya

"Hmmpphhh" lagi-lagi dia mengatakan hal itu lagi. Bukannya tidak suka tapi Hinata merasa kata 'lucu' itu sudah tidak pantas dipakai untuk wanita yang bukan lagi remaja.

Akhirnya setelah menghabiskan waktu kurang dari 1 jam masakan yang dibuatnya matang juga. Dengan malu-malu Hinata makan dengan tenang. Tak pernah ia pikirkan jika 'orang asing' itu sangat baik padanya. Bukankah selama ini ia selalu bersikap acuh tak acuh padanya? Lalu kenapa dia masih bersikap baik pada Hinata?

Hinata mengingat kembali saat Sakura mengantar dirinya pulang "Naruto adalah seseorang yang sangat baik, dia juga sangat dekat denganmu. Cobalah untuk menerimanya dulu, dan yakinkan dirimu bahwa dia bukanlah orang jahat. Tenang saja kalau dia macam-macam terhadapmu aku yang akan membalas si baka itu" dan berkat ucapan Sakuralah akhirnya Hinata bisa membuka sedikit hatinya untuk membiarkan Naruto masuk kedalam hidupnya.

Mereka makan dalam diam sesekali pandangan keduanya melirik kearah masing-masing tanpa diketahui.

"Kenapa kau selalu baik padaku?" Tanya Hinata mencairkan suasana.

"Karna aku ingin membalas kesalahanku"

"Kesalahan?"

'Kenapa kau selalu baik padaku?'
'Karna aku mencintaimu'

Deg... satu ingatan tiba-tiba saja mengagetkan dirinya. Tubuhnya menegang, kedua mata lavendernya membulat sempurna. Sumpit yang digunakan terjatuh begitu saja dari tangannya. Pandangan wanita itu kosong menatap kedepan entah apa yang ia pikirkan. Nyuuttttt... denyutan dalam kepalanya terasa begitu sakit. "Aarrgghhh" Hinata mencengkram kuat rambut panjang yang terurai mencoba mengenyahkan pemikiran yang melintas begitu saja.

Naruto melihat hal itu membelalakan matanya tak percaya. Apakah dia telah menyakiti Hinata lagi? Dengan cepat iapun menghampiri Hinata yang tengah mencengkram rambutnya kuat.

"Hi...hinata kamu tidak apa-apa?" Tanya Naruto dengan nada suara penuh kekhawatiran.

Tak ada jawaban, hanya ada erangan kesakitan yang terdengar dari mulut Hinata. Rasa khawatir semakin menjadi-jadi dirasakannya.

Lama Hinata tak menghiraukan Naruto sampai iapun berkata dengan lirih "a...aku me...ngingat se...suatu ha...l ta...di. Ketika a...aku ing...in men...gingatnya lagi... kepalaku... ter...asa sakit"

Mendengar itu perasaan Naruto bercampur menjadi satu. Ada perasaan senang, sedih dan juga cemas. Ia senang jika ingatan Hinata tentang dirinya bisa kembali lagi, namun ia juga sedih dan cemas jika melihat Hinata kesakitan seperti ini untuk memaksakan sebuah ingatan yang tak diingatnya.

"Sudahlah Hinata jangan dipikirkan." Jawabnya seraya membantu Hinata berdiri untuk mengistirahatkannya.

Mungkin Tuhan memang adil. Disaat Hinata seperti sekarang Naruto ada disisinya, menemaninya sampai ia tertidur lelap. Kenangan waktu itu hadir kembali dalam pikiran Naruto ketika ia tengah terbaring sakit tak berdaya Hinata ada disisinya mengurusinya sampai iapun sembuh. Dan sekarang Naruto ingin membalas itu semua untuk Hinata. Wanita yang sudah ia sakiti dengan keegoisannya sendiri.

Dibaringkannya Hinata diatas king size miliknya. Keringat sudah mengumpul didahi wanita itu. Nafas yang naik turun menandakan jika Hinata sangat kesakitan dengan apa yang dirasakannya. Pemandangan itu sangat mengerikan untuk dilihat dalam pandangan Naruto.

Tak habis pikir jika dirinya akan menyakiti Hinata sampai separah ini. Hinata yang biasanya selalu kuat akan bekerja setiap hari, kini harus terbaring lemah tak berdaya. Dan itu semua salahnya... salahnya.

"Gomen ne Hinata. Aku memang pantas untuk dilupakan" ucapnya masih saja menggenggam tangan Hinata. Namun nafasnya masih terdengar berat, Naruto sangat khawatir dengan keadaan Hinata sekarang.

Perlahan diapun mulai mengelus puncak kepala Hinata dengan lembut. Sedikit demi sedikit nafasnya mulai teratur, Naruto tersenyum dibuatnya. Tak lupa, Naruto juga mengelap keringat yang sudah membanjiri dahi Hinata.

Hinata sudah jatuh tertidur dengan lelapnya. Melihat wajah damai nan indah itu ketika tertidur desiran akan cintanya pada Hinata semakin bertambah walaupun rasa penyesalan masih saja menghantui. Namun selama ia masih bisa bertahan dengan kondisi Hinata yang seperti ini tidak menutup kemungkinan jika mereka akan kembali seperti semula. Itulah yang akan Naruto lakukan, ia akan membawa Hinata kembali untuk mengingatnya.

Dilupakan oleh wanita yang sangat ia cintai membuat ia akan menjadi gila.

"Cepatlah sembuh Hinata. Aku ingin melihatmu yang mengingatku" cup! Kecupan didahi mengakhiri segalanya. Tangan mereka saling berpautan, Naruto merasakan bagaimana rasa sakit dikepala Hinata. Lihat saja genggaman kuat ditangan tan itu.

.

.

.

Matahari sudah menampilkan sosoknya. Cuaca hari ini benar-benar begitu cerah. Bunga-bunga berguguran memperindah jalanan yang setiap saat orang-orang lewati. Burung bernyanyi riang didahan pohon mengusik kenyamanan tidur dari seorang wanita bak putri itu. Lenguhan halus terdengar dari bibir ranumnya.

Iapun merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Matanya yang sudah terbuka memandang lurus kedepan langit-langit kamar merasa ada yang hilang dalam dirinya.

"Semalam aku mimpi indah. Betapa nyamannya" gumamnya pagi ini.

"Hhmmm... jam berapa ya sekarang?" Lanjutnya lagi seraya melihat jam disamping. "Kkkyyyaaaaa tidak tidak aku bisa terlambat pu...pukul 09:30? HHHAAAAHHHHH" dengan cepat Hinata turun dari king sizenya berlarian kesana-sini bersiap untuk berangkat kekantor.

Merasa sudah siap dengan dandanannya Hinata secepat kilat berangkat menggunakan mobil barunya. Hinata memang tahu jika mobilnya rusak disebabkan oleh kecelakaan minggu lalu. Namun penyebab kecelakaan itulah yang tidak bisa ia ingat.

30 menit Hinata sampai dikantor. Setelah memarkirkan mobil Hinata mulai membenahi dandanannya serta bajunya yang sedikit kusut. "Yosh" dengan langkah mantap bak pragawati Hinata masuk kedalam kantornya ini.

Senyuman mengawali langkahnya ketika para pegawai menyambut kedatangannya. Bungkukan hormat tak lupa dilakukan oleh mereka. Senyuman itu semakin mengembang melupakan bahwa ia sudah terlambat masuk kantor. _Ckckck tidak patut dicontoh_

Bisikan demi bisikan tengah dilayangkan oleh beberapa pegawai yang melihat kedatangannya dengan penuh percaya diri itu. Ya memang sejak kecelakaan yang terjadi Hinata cuti selama 1 minggu penuh untuk beristirahat, urusan kerja ia serahkan pada sahabat kepercayaannya Sakura.

"Ternyata Hyuga-sama sudah sehat" bisik Shziuka pada rekan kerjanya.

"Ya kau benar. Aku kira sangat parah" balas Shion entah kenapa dalam nada bicaranya terdengar ada niat tersembunyi.

"Apa kamu menyumpahi Hyuga-sama mengalami kecelakaan dengan parah?" Balas Akiko yang ternyata mengerti maksud dari wanita blonde itu.

"A...aahh aku tidak bermaksud seperti itu ko Akiko. Hahah" tawa hambar mencairkan suasana. Sedangkan Akiko dak Shizuka yang melihatnya bertingkah aneh memicingkan mata padanya membuat wanita itu tidak bisa berkutik.

Baiklah kembali ke Hinata...
Kini wanita itu sudah duduk manis dikursi kebanggaannya. Tersenyum kaku melihat begitu banyak dokumen demi dokumen munmpuk dengan indah di meja kerja.

Inilah balasan jika ia meninggalkan pekerjaannya begitu lama. Tapi bukankah itu bukan kesalahannya? "hah~ kenapa harus sebanyak ini? Aku tidak akan sanggup" keluh Hinata "tapi bagaimanapun juga aku harus mengerjakannya" lanjutnya lagi membawa salah satu dokumen.

Tok... tokk... tokk... terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang.

"Iiihhhhh siapa sih yang berani-beraninya menggangguku dalam bekerja." Geram Hinata mengepalkan kedua tangannya "Ekhmmm masuk" kembali ia masuk dalam mode wibwanya.

"Hallo Hinata"
Pandangan mereka bertemu. Senyuman yang dilayangkan oleh orang didepannya membuat Hinata seketika menegang, orang yang masuk kedalam ruangannya juga membawa nampan berisi makanan yang ia yakini itu untuk sarapan pagi.

'Kejadian ini sepertinya pernah aku rasakan'

Tbc...

Gomen jika ada yang kurang hehehe, reviewsnya silahkan :) :D

JustNaruHinaAndKibaTamaLover : hahaha iyaa beneer :D arigato udah reviews :)

pengagumlavender26 : udah lanjut semoga suka :) arigato udah reviews :)

Baenah231 : okee makasih udah baca dan juga makasih banyak udah suka udah lanjut nih hehe :) arigato udah reviews :)

Ana : iyaa ga papa ko, oke makasih banyak :) arigato udah reviews :)

febrianzawira : hehehe iya gomen ne di chap sebelumnya tidak memuaskan heheh semoga disini sesuai dengan apa yang diinginkan hahah :D arigato udah reviews :)

magendreik : udah lanjut semoga suka :) okee semangatt ^^/ arigato udah reviews :)

lumi790 : wwiiihhhh hebat udah ditebak heheh :D arigato udah reviews :)

UzumakiHyuga13 : udah lanjut nih semoga suka :D makasih banyak udah mau nunggu ^^ arigato udah reviews :)

permatadian : hehehe iya bener-bener :) entahlah mungkin penyakit itu sudah mendarah daging hahah :D tebakannya bener ko :) udah update semoga suka ^^ arigato udah reviews :)

PAINAKATSUKI78 : udah up semoga suka ^^ arigato udah reviews :)

Desi Rei Hime : udah lanjut semoga suka ^^ arigato udah reviews :)