Warn: OOC, Misstype
Disclaimer: Death Note is not mine
.
Train
.
"If you board the wrong train, it is no use running along the corridor in the other direction."
Dietrich Bonhoeffer
.
[New York Subway, 17.00]
Suara bising kereta yang berhenti terdengar seperti udara yang berhembus keluar dari balon yang kempes. Lebih besar, tapi tetap tenggelam hiruk-pikuk manusia yang seperti sekumpulan semut berebut gula.
Ini hampir malam dan kesibukan belum berhenti.
Ketika pintu gerbong terbuka, orang-orang itu masuk.
Seorang anak, mungkin siswa SMP, masuk tepat sesaat sebelum pintu kembali ditutup. Dia berjalan sambil memeluk tasnya, melihat-lihat tempat yang kira-kira kosong, dan senang ketika celah cukup besar seolah menantinya.
Di sana, di dekat seseorang dengan rambut putih dan pakaian putih.
Dia membenarkan kacamatanya, tersenyum, lalu dengan penuh semangat duduk.
Kemudian, kereta melaju.
.
Lima menit, dan anak itu tidak tahan untuk tidak melihat ke arah pria serba putih yang duduk di sampingnya.
Dia penasaran.
Benar-benar penasaran.
Orang berambut putih dengan piyama putih dan mata besar yang seolah menghisap keingintahuan siapapun yang melihatnya.
Dan sekarang, mata itu melihatnya.
Si Bocah hampir meloncat.
"Kenapa?"
"T-tidak."
Hening.
"Kau takut?"
"T-tidak."
Mata besar itu berkedip. "Okay…" orang serba putih itu kembali melihat ke depan, ke suatu titik imajiner di sana, dan bergumam cukup keras sampai anak di sampingnya bisa mendengar dengan jelas, "Setidaknya tahan suaramu agar tidak bergetar."
.
Lima belas menit yang berjalan sangat lama.
Tidak ada pergerakan berarti yang bisa membuatnya tidak memperhatikan orang di sebelahnya. Tidak dengan seorang wanita tua yang tertidur, tidak juga dengan pria yang mengumpat dengan orang di seberang telepon. Bahkan pohon dan lingkungan luar yang terus bergerak di balik jendela tidak banyak membantu.
Saat kereta memasuki sebuah terowongan, dia sedikit menjauh dari orang berambut putih itu. Tubuhnya menempel dengan wanita gemuk berjas hitam yang tidak merasa terganggu dengan anak kecil yang sedikit mendesaknya.
Hanya sekedar berjaga-jaga.
Beberapa menit kemudian, kereta tiba di stasiun.
Banyak penumpang yang turun. Ketika kembali jalan, hanya ada tiga orang di gerbong itu.
Salah satunya adalah lelaki paruh baya yang bersandar di ujung kursi di seberang. Dia memegang sebuah botol bekas minuman keras. Wajahnya benar-benar merah. Dan saat ini, dia sedang tertidur.
Anak itu benar-benar merasa terjebak.
Dia melirik arlojinya.
Setidaknya, butuh sekitar satu jam untuk tiba ke stasiun berikutnya; stasiun perhentiannya.
Suara mesin kereta berdengung pelan, mengiringi doanya yang mulai ketakutan.
'Maafkan aku yang jarang ikut sekolah Minggu. Maafkan aku yang tadi membentak bibi Jane…'
Kereta yang berjalan sedikit berguncang.
Mata anak itu melebar ketakutan ketika sebuah pandangan tajam tertuju ke arahnya dari sepasang lensa biru yang membuka.
Si pria mabuk itu terbangun dan mulai meracau tidak jelas.
'Maafkan aku juga yang cuma mengingatMu kalau ada perlu. Maafkan aku. Maafkan aku.'
Si Pemabuk mulai berdiri, berjalan sedikit terhuyung. Setengah karena kesadarannya yang mulai pergi, setengah lagi karena kereta yang terus bergerak. "Hey, kau!" katanya, menunjuk tak fokus ke depan. Seketika rasa dingin merayap cepat dari ujung-ujung jari kaki dan tangannya ke seluruh tubuh.
Langkah kaki itu terdengar begitu jelas di gerbong yang sepi.
'Tolong aku. Ya Tuhan, kumohon…' ucapnya dalam hati sambil menutup mata. Yang dilihatnya terakhir kali adalah saat pria itu tepat di depan dia dan si Orang Serba Putih yang sama sekali tidak bereaksi.
"Kau!" Teriak orang mabuk itu dengan sangat keras, si Anak membuka lagi matanya takut-takut. "Hentikan menatapku dengan mata besarmu itu!"
"Jika kau tidak ingin kulihat, jangan di depanku. Bukankah tadi awalnya aku tidak melihatmu?" orang di sampingnya menyahut tenang.
"Kau berani melawanku?"
"Bukannya kau cuma manusia?"
Pria itu kelihatan marah, "Memangnya kau siapa? Kau cuma orang dengan pakaian putih dan rambut putih. Hah?! Kau malaikat?" semburnya, tapi tak lama kemudian dia berhenti. Raut wajahnya pelan-pelan berubah seiring langkah mundur yang dia ambil. "Iya, kan?" suaranya semakin pelan dan terdengar mencicit, "K-kau bukan…" dia ketakutan.
"Malaikat?" orang berambut putih itu meneruskan untuknya. Dia mulai berdiri, mengambil langkah sementara yang didekati mundur. Mundur, mundur, dan terus hingga punggung besar itu menabrak tiang besi di kanan gerbong.
Anak itu takjub meski masih ketakutan. Dia melihat botol bekas minuman keras itu jatuh dan berguling pelan, bersembunyi di pojok bayangan kursi penumpang.
Orang mabuk itu terduduk dan menunduk…
Lalu, dia terisak.
Pelan, kemudian semakin keras. Lalu dia dibawa duduk di samping si anak oleh orang yang diasosiasikannya sebagai malaikat.
"Aku benar-benar berusaha, Benar-benar ingin menyembuhkannya," racauannya terdengar lagi, "Tapi tidak. Aku justru membuatnya mati." Dia menangis.
Si bocah lalu tersadar.
Pria mabuk ini mengenakan kemeja mahal yang berantakan dan kusut, sebuah topi, kacamata tanpa bingkai, lalu wajah yang bersih. Dia kelihatan seperti seorang dokter.
"Darahnya seakan tidak mau hilang," dia melihat telapak tangannya yang bersih dengan jijik, "Anne… maaf…" lalu menangis lagi.
Lima belas menit berikutnya hanya diisi tangisan memilukan dari seseorang yang bahunya lebar.
"Jika aku memberimu kunci ke masa lalu, apa yang akan kau lakukan?"
Orang ini… bukan malaikat.
Iya, kan?
Hening.
Suara kereta yang melaju serasa memenuhi gerbong yang lempang. Suasananya sesak dan menegangkan. Bulan mulai muncul di langit, menyapa bintang dan bersinar sedikit lemah. Untuk beberapa saat, dia bersembunyi di balik awan tipis di atas sana.
"A-aku… tidak tahu. Mungkin aku akan mencegah diriku untuk menolongnya, tapi kalau begitu dia akan mati. Tapi aku menolongnya dan dia tetap mati."
"Dia memang akan mati, kau tahu itu."
"Ya," dokter itu menyahut lemah, lalu menunduk. Tubuhnya yang kelelahan memaksanya tertidur. Punggungnya bersandar di dinding gerbong. Meski berantakan dan wajahnya kusut, dia terlihat jauh lebih baik sekarang.
.
"Wow, yang tadi itu… menegangkan," anak itu bersuara sambil melirik sosok yang pulas di dekatnya. Dia lalu melihat sosok bermata lebar yang duduk di depannya. "Kau benar-benar hebat, Sir."
"Ah?" Dia melirik kecil, "Aku pikir kau takut?"
Si anak memerah, merasa tertangkap basah.
"Siapa namamu?"
"Mathias," sahutnya antusias, "Dan kau…"
"Near."
Suara ponsel berbunyi, memainkan irama lembut di celah gerbong. Near mengambil ponselnya dan segera menjawab. "Aku salah naik kereta," katanya pelan dengan nada monoton yang membosankan. Gumaman selanjutnya yang terdengar hanya pernyataan mengiyakan dan sebagainya.
Mathias yang melihat jendela segera sadar bahwa kereta telah berhenti.
Dia berdiri, lalu tersenyum kecil ke arah Near. "Sampai jumpa," lalu berlari kecil keluar stasiun. Dia tidak sabar ingin bercerita pada Mom tentang pengalamannya di kereta sore ini. Ibunya pasti akan sangat takjub.
Near berdiri dan keluar, lalu duduk di kursi tunggu peron stasiun, menanti seseorang berjas hitam yang datang sekitar lima belas menit kemudian.
"Kenapa tidak berhenti di stasiun sebelumnya?"
"Aku ingin pergi sedikit lebih jauh."
"Dan kau akan semakin tersesat."
"Ini pertama kalinya aku naik kereta… dan aku sendirian. Apa salahnya kalau tersesat?"
.
Owari
.
A/n:
Mau ke mana Mathias yang siswa SMP naik kereta selama hampir dua jam?
Anggap saja dia pulang ke rumah di akhir pekan, menikmati udara bebas dari asrama sekolah tempat dia belajar. Keterbatasan kapasitas otak saya hanya mampu memberikan penjelasan yang seperti itu. #peace
Apakah Near jadi banyak bicara di sini? Saya harap tidak. Dan soal ke OOC-an,semoga kadarnya masih bisa ditolerir. Satu-satunya Near yang tidak OOC adalah Near yang ada di dalam animanganya. Bener, kan?
Fiksi kedua di fandom ini. Semoga tidak mengecewakan.
Terima kasih buat teman-teman yang bersedia meriview fiksi sebelumnya. Kesenangan tersendiri membaca tanggapan pembaca tentang apa yang saya tulis.
Salam,
Marineblau12
