Lonely Day

.

Disclaimer: Death Note bukan punya saya

.

Pagi itu, dia duduk di sebuah ayunan bercat pelangi; merah, kuning, hijau, warna khas anak-anak yang ceria dan hangat. Persis seperti sinar keemasan matahari waktu itu. Cahaya itu menimpa kulitnya yang pucat, dia seketika berubah jadi makhluk bercahaya yang nampak indah. Rambutnya yang awalnya putih jadi terlihat sedikit pirang. Piyamanya juga, tidak lagi jadi kostum yang datar tak menarik.

Anak itu laki-laki.

Iya. Dia laki-laki.

Potongan rambutnya yang bilang begitu.

Angin berhembus pelan, mengajak helaian putihnya bergerak-gerak, meliuk, dan terlihat begitu lembut. Seperti kapas, atau bulu yang terlepas dari seekor domba di sebuah peternakan di dataran tinggi Skotlandia. Cantik.

Dia laki-laki yang punya rambut cantik.

Di bawah kakinya yang tidak menyentuh tanah, ada sebuah bayangan hitam yang selalu setia. Bergerak terus mengikuti anak itu tanpa lelah. Butiran pasir kecoklatan jadi alasnya. Di belakangnya, ada bangunan tua yang berdiri dengan segala kekurangannya. Itu adalah panti asuhan yang sedang dililit hutang.

Iya. Dia tinggal di situ.

Anak itu terus duduk di kursi ayunan sepanjang hari, menghiraukan anak-anak lain yang bermain di sekitarnya.

Seorang anak lelaki bertubuh gemuk berteriak, memberi tanda kalau dia telah selesai menghitung. Sekitar lima orang anak lain tampak bersembunyi. Satu di balik tembok, dua di dalam semak, satu di atas pohon, dan seorang lagi di balik sebuah pohon besar yang sudah mati.

Mereka main petak umpet.

Beberapa anak perempuan bermain di anak tangga pintu depan sambil memegang boneka usang yang warnanya telah berubah dari aslinya. Beberapa yang cukup beruntung, memiliki boneka dengan sepasang mata yang lengkap. Panti asuhan ini terlalu miskin untuk memberi mereka mainan yang masih bagus.

Lalu seseorang datang diiringi dengan suara langkah kaki yang ringan.

Dia seorang pria yang terlihat aneh. Tapi dia tidak terlihat seperti seorang penculik. Belakangan ini kabar tentang penculikan anak-anak memang marak terjadi. Setiap malam, stasiun tivi selalu memberitakan hal itu.

Pria itu bergerak mendekat, duduk di ayunan di sebelah anak laki-laki berambut putih.

Kalau disandingan seperti ini, mereka terlihat cukup kontras.

Yang satu putih seperti kapas, satunya lagi hitam seperti tinta.

Tapi kulit mereka sama-sama pucat. Dan mereka sama-sama tidak tersenyum. Dan lagi, mereka sama-sama berpandangan.

Saat ini.

"Hallo!" Si pria mengangkat tangannya, menyapa dengan ramah meski sungguh, wajahnya tak berubah.

Anak itu mengangguk, lalu berpaling. Dia bergerak, mengayunkan tubuhnya ke belakang dan ke depan. Orang di sampingnya ikut berayun.

Mereka terus berayun tanpa bicara lebih jauh. Begitu terus.

Tidak ada yang memperhatikan keanehan ini meski mereka dikelilingi anak-anak.

Debu sedikit berterbangan ketika kaki panjang berlapis jins biru terang itu memaksa ayunan berhenti. Anak yang berayun di sampingnya ikut berhenti. Orang berambut hitam itu lalu berbicara, "Mau aku beri mainan?"

Anak itu menoleh dengan mata besarnya, menimbang-nimbang apakah dia memang menginginkan sebuah mainan.

Pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, menunjukkan sebuah kubus aneka warna yang tidak beraturan. "Ini namanya rubix," dia bilang. "Kamu harus menyatukan semua warna yang sama dalam satu sisi." Dia menjulurkan sedikit tubuhnya, "Mau coba?"

Dia adalah bocah empat tahun yang sudah mengerti perkalian tiga bilangan.

Tapi dia ragu.

Pria itu bisa melihatnya. Dia lalu berdiri, meletakkan rubixnya di tangan anak itu, lalu pergi.

Ada waktu-waktu di mana anak itu cuma diam dan tak bergeming.

Tapi, sepertinya, rasa ingin tahu yang ditahan itu begitu mengganggu.

Sebentar saja, dia telah selesai menyusun semua warna dengan sempurna.

Selanjutnya, dia tidak mengerti. Dia seolah ditarik begitu saja ke dunia asing. Saat mengadah, dia melihat pergerakan teman-temannya yang melambat. Dia bahkan bisa melihat detil kepakan sayap kupu-kupu di atas sebuah mawar yang ditanam seorang pengasuh panti.

Ketika melihat rubixnya lagi, pandangannya memburam.

.

Sebuah tarikan kasar di kerah bajunya membuatnya tersadar. Seorang anak berambut pirang lurus yang panjangnya sebahu melihatnya dengan marah. Pandangan mata tajam itu tertuju ke arahnya yang tanpa pelindung, menghujam jauh, sampai-sampai dia bisa merasakan perasaan kelabu itu dalam dirinya sendiri.

Rasanya seperti angin musim dingin yang menghembus tengkuknya.

Sensasinya seperti itu.

Anak pirang itu mengumpat, memaki, dan pergi begitu saja. Sebelum benar-benar menghilang, dia mengucapkan sesuatu, "Aku akan jadi yang terbaik. Aku akan mengalahkanmu, Near."

Anak itu diam tak bergerak sambil terus melihat pintu yang terlihat semakin menjauh.

Tubuhnya lemas.

Kemudian, semuanya berputar, memenuhi kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing.

.

Dia tersadar dalam sebuah ruangan yang kelihatan seperti gudang. Tempatnya cukup luas, dengan beberapa orang dewasa bersenjata. Ada sebuah topeng di dekatnya. Ada juga tiga boneka karet di jarinya.

Dia tidak tahu kenapa dia bisa ada di situ. Di antara kumpulan manusia yang ketakutan dan kebingungan. Seseorang di sebuah sudut menarik perhatiannya. Dia, pria muda berambut coklat yang punya wajah bagus. Tubuhnya tinggi dan tegap, mengenakan jas, sepatu berkilau, dan potongan rambut yang rapi.

Dia seperti bangsawan.

Tapi tentu saja, dia bukan.

Dia hanya pria dewasa yang ketakutan.

"Light Yagami, L, Kira, sudah berakhir. Kau kalah."

Kala itu, waktu seakan berhenti. Mereka semua membeku.

.

Tengah hari, seorang wanita pengurus panti keluar dan menyuruh mereka semua masuk untuk makan siang.

Si anak berambut putih itu tak bergeming.

Wanita yang masih nampak muda itu menghela nafas sebelum mendekat. "Ayo masuk," ajaknya.

Si anak mengadah, berdiri, lalu menggandeng tangan pengasuhnya.

Mainannya jatuh dan tak dihiraukan.

Mereka berdua masuk dan menghilang di balik pintu.

Lalu, pria berambut hitam dengan mata lebar itu kembali datang, memungut mainannya, dan menelpon seseorang.

"Watari, aku dapat satu."

.

End

.