DISCLAIMER: Created in the world belonging to J.K. Rowling and no money here. Just for fun.


Chapter 2 - Death of a Friend

Harry merasakan seseorang memegang bahunya erat, lalu Harry merasakan dirinya diajak ber-apparte. Mereka semua tiba di depan sebuah bangunan, seperti kastil tua. Harry masih berusaha berpikir apa yang membuat Ron melakukan semua ini. Lalu tak lama pintu besar kastil itu terbuka, seberkas cahaya menerangi mereka semua.

"Ada apa ini?" terdengar suara dingin seorang wanita.

"Kami menangkap Harry Potter!" sahut Greyback

"Bawa mereka masuk" katanya.

Harry dan lainnya didorong menaiki tangga, memasuki aula yang besar.

"Ikuti aku" kata suara itu.

Lalu terdengar sura yang tak asing lagi di telingga Harry, suara Lucius Malfoy

"Oh, Mr. Potter. Suatu kehormatan kau datang di tempat ini" sindirnya

Harry tampak tersadar, ia melihat sekelilingnya, tampak Hermione disampingnya, dan Ron yang di belakangnya. Lalu dilihatnya juga seorang goblin, dan seseorang yang dikenalnya, Dean Thomas. Mereka semua sepertinya mengalami nasib yang sama seperti dirinya dan Hermione. Tertangkap.

Lalu tanpa diduga oleh semuanya, Harry berteriak dan bergerak cepat ke arah Ron sambil melayangkan tinjunya ke wajah Ron. Ron tak sempat menghindar, bibirnya pecah dan berdarah berdarah terkena tinju Harry, sepertinya giginya juga ada yang patah.

"Kau...! kau memang sialan...!" teriak Harry.

"Apa kau tahu apa yang telah kau perbuat...?"

Ron tak mampu menghindar ketika Harry kembali melayangkan tinju ke rahangnya.

"Stupeffy!" seberkas sinar mengenai Harry dan membuatnya pingsan.

"Harry...!" teriak Hermione sambil bergerak maju, namun seorang death eater menahannya dari belakang.

"Ron... aku benci padamu. Kau bukan temanku lagi" teriak Hermione pada Ron.

"Bawa Potter dan lainnya ke ruangan bawah" terdengar suara Bellatrix.

"Dan bagaimana dengan gadis Mudblood itu?" geram Greyback sambil menyeret Harry.

"Aku mau mendapatkannya untuk hadiahku"

"Ya tentu saja, Greyback. Kau boleh mendapatkannya nanti setelah semua selesai" sahut Bellatrix sambil masuk ke ruangan.

"tida...tida bole...dia punya..ku" teriak Ron tak jelas sambil memegang pipinya

"Kau ngoceh apa Weasley? Kau kan setuju Potter untuk ganti adikmu.

Perjanjian tadi tidak ada kaitannya dengan gadis lumpur ini" kata Bellatrix.

"Ron..Ginny, kenapa dengan Ginny, Ron" tanya Hermione

"Gini..Gin-ny ditangkap mereka. Mereka mau melepasnya bila aku membawa Harry" jelas Ron tertunduk sedih.

"Nah...kau sendiri yang bilang kan...ha..ha..ha..."

"Sekarang, bawa adikmu pergi dari tempat ini dan jangan kembali lagi".

"Greyback, selagi kau ke bawah, ambil gadis rambut merah itu kemari" perintah Bellatrix.

Nacrisa dan Lucius melihat semuanya sambil memeriksa barang-barang rampasan milik Harry dan Hermione yang dibawa oleh Greyback.

"Wah..sepertinya aku pernah melihat pedang ini" kata Lucius sambil mengangkat pedang Gryffindor.

"Sebentar Greyback, darimana kau dapatkan pedang itu?" tanya Bellatrix.

"Dari tenda mereka" kata Greyback.

"Tinggalkan gadis itu, aku hendak menanyainya" kata Bellatrix.

Greyback dan teman-temannya membawa para tawanan ke bawah, penjara bawah tanah. Tak lama mereka kembali dengan membawa Ginny, yang terlihat kumal dan memar, dengan mata merah karena banyak mengeluarkan air mata.

"Ron...Hermione..." Ginny menyapa mereka, merangkul Hermione. Namun dengan agak kasar Hermione melepaskan pelukan Ginny.

"Kau pergi saja dengan Ron" kata Hermione ketus.

"Apa yang akan mereka lakukan pada Harry" isak Ginny sambil melihat ke Roh dan Hermione bergantian.

"Sekarang cepat kau bawa adikmu dan segera pergi dari sini!"

"Kalian antarkan mereka ke pintu" perintah Bellatrix pada anak buah Greyback yang tersisa.

Ron segera menarik tangan Ginny, namun Ginny melawan "Bagaimana dengan Hermione dan Harry?"

"Nanti kita pikirkan caranya. Maaf Hermione" kata Ron sambil menyeret Ginny pergi.


Entah berapa lama Harry pingsan.

Saat dia membuka matanya, dia tidak melihat apapun, sekelilingnya terlihat gelap dan seluruh tubuhnya terasa sakit. Tak lama kemudian barulah dia mulai bisa melihat dalam remang-remang kegelapan, Harry kemudian mencoba bangun.

"Harry, kau sudah siuman?" tanya suara perempuan yang dikenalnya.

"Luna...kaukah itu?" balas Harry.

"Ya...ini aku, Luna".

"Disini masih ada Dean dan Mr. Ollivander".

"Mana Hermione?" tanya Harry

"Sepertinya masih di atas. Mereka masih menyiksanya" kata Luna.

Dari atas terdengar teriakan Hermione yang kesakitan.

Harry menoleh ke arah suara itu dengan wajah cemas.

"Apa yang mereka lakukan terhadap Hermione?" tanya Harry.

"Sepertinya kutukan crucio" kata Luna.

"Sudah hampir satu jam berlangsung seperti itu"

"Apa...sudah satu jam" balas Harry.

Harry bangkit berdiri, meraba seluruh kantungnya, mencari-cari sesuatu.

"Apa yang dapat kita lakukan sekarang. Apa kita tidak dapat melakukan sesuatu? Aku kuatir dengan Hermione. Sangat kuatir" kata Harry panik.

"Kita tidak dapat melakukan apapun" kata Dean,

"Tanpa tongkat dan pintu kayu itu terkunci. Bahkan tidak ada jendela di sini. Kita sepertinya juga akan berakhir disini".

"Aku tidak melihat Ron, kalian tahu dimana dia?" tanya Harry.

"Ron kelihatannya sudah pergi bersama Ginny" kata Luna.

"Ginny...apa Ginny juga disini?" tanya Harry

"Ya...Ginny tadinya ikut tertangkap bersamaku di kereta" kata Luna.

Dari atas kembali terdengar teriakan kesakitan Hermione.

Harry kembali meraba dan mencari sesuatu diseluruh kantung jubahnya, dia mengeluarkan kantung yang dia gantungkan di lehernya, mengeluarkan tongkatnya yang patah, mencoba mengayunkannya...sambil berbisik reparo, namun tak terjadi apa-apa. Harry mengeluarkan snitch, mengeluarkan pecahan cermin. Sekilas dia melihat mata milik orang lain...

"Tolong...tolong kami tertangkap di kediaman Mafloy, di bawah tanah" bisik Harry. Namun mata itu menghilang. Harapan Harry kian menipis ketika kembali terdengar teriakan Hermione dari atas.

Tiba-tiba terdengar suara "Crack" di dekat mereka.

"Harry Potter, Sir...ini Dobby" terdengar suara Dobby

"Dobby, kau disini... ?" tanya Harry

"Dobby datang untuk menyelamatkan Harry Potter, Sir" balas Dobby.


Di ruangan atas, "Apa itu?" terdengar suara Lucius saat terdengar suara crack dari gudang bawah tanah,

"Draco, panggil Wormtail! Suruh dia yang periksa!"


"Kita harus mencoba menangani dia" Harry berbisik ketika terdengar langkah orang menuruni tangga ruangan bawah tanah

"Kalian semua mundur dari pintu! dan jangan coba-coba berbuat hal yang aneh-aneh" terdengar suara Wormtail dari balik pintu

Kemudian pintu terbuka dan masuklah Peter aka Wormtail, sambil menyalakan tongkatnya.

Belum sempat dia bersuara, Wormtail langsung dibekuk oleh Dean, Harry, dan Dobby menutup mulut Wormtail agar tidak bersuara, sementara Luna berusaha merebut tongkatnya. Dan Mr. Ollivander tanpa disangka memukul kepala Wormtail dengan batu, entah dari mana dia memperolehnya hingga pingsan.


Kembali di atas "Ada masalah, Wormtail?" tanya Lucius.

"Tak ada!" Dean berteriak dengan suara mencicit yang hampir mirip dengan suara Wormtail.

"Tidak ada, semuanya baik-baik saja!"


"Dobby, mereka menahan Hermione di atas. Aku ingin membawanya pergi. Apakah kau bisa membantu kami mengalihkan perhatian?" tanya Harry

"Tentu saja Harry Potter, Sir" kata Dobby

"Tapi sebelumnya sebaiknya kau keluarkan dulu Mr. Ollivander dan mereka berdua" kata Harry sambil menunjuk ke Luna dan Dean.

"Tidak Harry, aku ikut bersamamu. Aku juga ingin menolong Hermione" kata Luna sambil menyerahkan tongkat wormtail pada Harry.

"Tapi..." bantah Harry ragu.

"Tidak ada tapi Harry. Ingat aku temanmu juga. Aku juga anggota DA kan" balas Luna

"Ya... Harry, biarkan aku juga membantumu" lanjut Dean.

Sejenak Harry merasa ragu, namun dia melihat kemantapan di mata teman-temannya sehingga keraguannya pun sirna.

"Baiklah, Dobby, aku ingin kau membawa Mr. Ollivander ke tempat yang aman. Tempat di mana para death eater takkan mencari. Kau tahu dimana tempat seperti itu?" tanya Harry.

"Dobby akan mencari tahu, Hary Potter, Sir" jawab Dobby.

"Dan segera kembali lagi" kata Harry.

"Bisakah kau lakukan, Dobby?"

"Tentu saja, Harry Potter" bisik Dobby

Mr. Ollivander sepertinya menolak namun Dobby sudah memegang tangannya dan seketika terdengar suara crack.

Harry, Luna, Dean saling berpandangan, lalu bersama berlari menaiki tangga hingga mereka mencapai pintu, yang terbuka sedikit.

Sekarang mereka bisa melihat dengan jelas.

Terlihat Bellatrix sedang tertawa-tawa dengan penuh kemenangan, di hadapannya ada Lucius dan Draco. Sedang Hermione tak terlihat.

"Kita akan memanggil Pangeran Kegelapan!"

Lalu dia menyingkap lengan bajunya ke atas dan menyentuhkan jari telunjuknya ke Tanda Kegelapan.

Belum sempat telunjuknya menyentuh, Dean dan Luna keluar dari persembunyian. Bellatrix terkejut dan mengarahkan tongkatnya ke arah Dean, namun terlambat.

"Expelliarmus!" teriak Harry. Dan tongkat bellatrix terbang di udara dan ditangkap oleh Luna.

Lucius, dan Draco mencoba bangkit dari duduknya namun Harry lebih cepat.

"Stupefy!" dan Lucius terlempar pingsan.

"Expelliarmus!" teriak Luna ke arah Draco, dan tongkat Draco terlempar lalu disambar oleh Dean.

Luna dan Dean mengarahkan tongkatnya ke arah Bellatrix, sedangkan Harry mengarahkan tongkatnya ke Draco sementara tangan satunya mengambil 2 tongkat yang tergeletak di atas meja. Tongkat Hermione dan tongkat yang dia gunakan selama ini.

"Dimana Hermione?" tanyanya pada Draco.

Belum sempat Draco menjawab tiba-tiba ada kilatan cahaya meluncur ke arah Dean dan Luna. Mereka berdua sempat menghindar, namun Bellatrix dengan sigap dan cepat mengeluarkan pisau perak, menarik tangan luna ke belakang, menempelkan pisau di leher Luna.

"Berhenti dan jatuhkan tongkat kalian. Atau dia kubunuh" teriak Bellatrix sambil menyeret Luna.

Namun terdengar suara dari atas, otomatis Bellatrix melihat ke atas dan melihat tempat lilin kristal terjatuh ke arahnya. Bellatrix mundur menghindar dan melepaskan Luna. Tempat lilin yang jatuh itu hampir saja mengenai Luna yang terjatuh karena terdorong oleh Bellatrix dan dia hampir saja tertimpa tempat lilin besar itu kalau saja tak ada perlindungan "Protego!" teriak Harry mengarahkan tongkatnya ke arah Luna.

Dean segera mengarahkan tongkatnya ke arah pintu asal serangan gelap itu. Namun terlihat Nacrisa terbaring di lantai dan si goblin, Mr. Griphok sedang memegang tempat lilin di sebelahnya. Sepertinya Mr. Griphok telah memukul kepalanya hingga pingsan.

Harry kembali menatap Draco, "JAWAB! mana Hermione?" tanyanya sambil mengarahkan 3 tongkat ke arah Draco.

"Di ruangan itu" jawab Draco dengan wajah yang menjadi pucat sambil menunjuk satu pintu di sudut kanan.

"Stupefy" Harry menembakkan tongkatnya dan draco terjatuh pingsan.

Bellatrix berteriak dan maju hendak menyerang luna dengan pisaunya, namun dia lupa kepada Dean yang masih mengarahkan tongkat kepadanya dan dengan sigap memingsankannya sebelum dia lebih mendekat ke Luna yang masih terduduk di lantai.


Harry berlari ke arah ruangan yang tadi ditunjukkan oleh Draco, diikuti oleh Dean, Luna, serta Dobby. Harry membuka pintu "alohomora" pintu langsung membuka dan mereka semua melihat pemandangan yang sangat mengerikan.

Ruangan itu cukup luas dengan latar belakang hijau kehitaman, di tengah ruangan ada ranjang yang cukup besar dan di sana terlihat Hermione terbaring tanpa busana. Tangannya terikat pada kedua tiang di ujung ranjang, yang paling mengerikan adalah tampak sebilah pisau tertusuk pada perutnya. Sementara Greyback duduk di atasnya bertelanjang dada.

Greyback sempat menoleh, namun tiga buah tongkat yang dipegang Harry telah terarah padanya. "SECTUM..SEMPRA!..." teriak Harry

Kutukan yang dilancarkan oleh Harry berasal dari 3 buah tongkat. Tampak sangat besar dan sangat cepat, mengenai dada Greyback dan merobeknya. Juga terdengar suara tulang retak. Sepertinya kutukan itu turut membelah tulang rusuk Greyback. Greyback terlempar menembus jendela sehingga hancur berantakan. Dia segera berlari menghampiri Hermione.

"Hermione...Mione" isak Harry.

Hermione membuka matanya, berbisik,

"Grin..gotts"

"Hor..crux...di Gringotts" bisik Hermione lemah

Setelah itu mata Hermione terpejam dan nafasnya terhenti. Harry segera merangkulnya sambil berteriak.

"Hermione...sadarlah" isak Harry tanpa memperdulikan bekas lukanya yang tiba-tiba sangat sakit.

Luna, Dean, dan Dobby mendekat. Luna mengambil jubah Hermione yang tergeletak di lantai, menyelimuti tubuh Hermione.

Berbisik kepada Harry

"Harry, sebaiknya kita pergi dulu dari tempat ini".

Tanpa menunggu jawaban Harry, Luna lalu berkata kepada Dobby.

"Dobby, sebaiknya kau segera membawa kami semua pergi dari tempat ini. Juga bawa Mr. Griphook".