DISCLAIMER: Created in the world belonging to J.K. Rowling and no money here. Just for fun.


Chapter 3: Ron's Secret

"Mione..." kembali Harry memanggil nama Hermione dalam tidurnya.

Sudah 2 malam ini Harry demam. Menurut Dean, itu penyakit umum di kalangan muggle.

Dean sempat meminta Luna meletakkan kain yang sudah dibasahi dengan air dingin pada kening Harry dan mengantinya setelah beberapa saat agar demamnya turun. Tapi meskipun sudah 2 hari 2 malam, sepertinya hasilnya nihil.

Luna akhirnya bertanya kepada Dean, "Bagaimana cara kalian mengobati penyakit ini?"

"Kami biasanya memberinya obat penurun demam" kata Dean

"Bagaimana kalian membuatnya?" tanya Luna

"O...kami tidak membuatnya. Kami biasa membelinya di apotek" kembali Dean menerangkan

"Apakah kamu bisa memperolehnya sekarang?" kembali Luna bertanya

"Kalau saja kita tidak terpencil seperti ini atau kalau aku ada di rumah, tentu saja bisa. Masalahnya aku juga tidak mempunyai uang muggle" kata Dean

"Di rumah..., apakah...kamu ada menyimpannya di rumah? Kalau ada kenapa kita tidak meminta tolong Dobby saja untuk mengambilnya?" Luna bersemangat

Dean belum sempat menjawab, namun Luna telah berseru memanggil Dobby

" Dobby...Dobby kau ada dimana? Maukah kau menolong kami mengambil obat di rumah Dean? Obat untuk Harry" kata Luna

Tak lama kemudian Dobby masuk ke kamar

"Apa yang dapat Dobby bantu Miss Lovegood?" tanya Dobby

Luna dan Dean lalu menerangkan ke Dobby

"Tentu saja Dobby bisa. Dobby harus mengambil di mana Mr. Dean Thomas?" tanya Dobby

"Dobby apa kau tahu rumahku. Obatnya ada di kotak putih di depan kamar mandi, di lantai 2" kata Dean sambil memberikan alamat rumahnya dan menerangkan wujud kotak obat pada Dobby.

Tak lama, Dobby menganggukkan kepalanya tanda mengerti akan penjelasan Dean, lalu dia segera pergi.

Sepeninggalan Dobby, Luna kembali menganti kain basah untuk membasahi kening Harry. Pikirannya kembali pada 2 hari yang lalu. Dobby telah menyelamatkan mereka semua. Ternyata Dobby membawa mereka ke bekas pertanian yang sepertinya sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Dari cerita Dobby, Luna menyimpulkan kalau mereka sekarang ada di kaki pegunungan Alpen, di negara Swiss. Dan tanah pertanian yang mereka tempati sekarang ini benar-benar tempat yang terpencil. Dean dan Mr. Olivander sudah sempat berkeliling dan mereka tidak menemukan ada penghuni lain di dekat mereka.

Saat mereka tiba di sana, Harry masih memeluk Hermione dan tidak mau melepaskannya. Namun setelah sekian lama dibujuk oleh Luna, Harry akhirnya mau juga melepaskan pelukannya. Lalu dengan dibantu Dean dan Mr. Ollivander, Harry mengali lubang untuk memakamkan Hermione. Harry menolak menggunakan tongkatnya, dia lebih memilih menggunakan sekop tua yang dia temukan tergeletak di dekat semak-semak liar. Dean dan Mr. Olivander akhirnya juga menemukan cangkul dan sekop kecil yang setidaknya dapat digunakan untuk mengali juga. Sementara mereka bertiga mengali lubang, Luna membersihkan tubuh dan luka Hermione, lalu mengenakan kembali jubah yang sudah bersih padanya.

Mr. Griphook, si goblin tanpa disangka-sangka ternyata mau juga membantu membuatkan nisan. Pekerjaannya sangat bagus menurut Luna.

Pukul 2 siang mereka telah selesai memakamkan Hermione. Mereka semua sekarang kecapaian, apalagi setelah pengalaman pagi tadi di rumah Mafloy yang sangat menyeramkan menurut Luna. Dobby turut membantu menyiapkan makanan bagi mereka. Mereka sangat beruntung meskipun pertanian itu sudah kosong, namun masih ada ayam-ayam yang berkeliaran bahkan mereka berhasil menangkap beberapa ekor kelinci untuk turut dijadikan santapan. Di tepi hutan kecil yang ada di belakang pertanian, mereka memetik buah-buah liar. Sambil makan siang, mereka semua mengobrol sambil berbisik-bisik. Namun Harry hanya duduk diam, melamun di pojokan tanpa sedikitpun menyentuh makanannya. Harry seakan tidak mendengar panggilan Dean atau Luna. Harry benar-benar merasa kehilangan semangatnya sepeninggalan Hermione. Malam harinya Harry jatuh sakit, terkena demam hingga kini.

Keheningan malam itu lalu dikejutkan dengan bunyi "crack..." di luar pintu kamar. Luna terkejut dan melompat dari duduknya di samping Harry, sementara Dean sudah mengeluarkan tongkatnya. Ternyata Dobby yang datang, kembali dari rumah Dean sambil membawa kotak obat.

"Thanks...Dobby, benar ini kotaknya. Apakah di rumahku ada orang?" tanyanya sambil membuka kotak dan memilah obat yang ada di dalamnya.

"Rumah Mr. Thomas kosong, tak berpenghuni dan gelap" jawab Dobby

Dean sepertinya berpikir dan hendak mengatakan sesuatu, namun tidak jadi. Dia akhirnya menemukan obat yang dicarinya lalu diberikan pada Luna.

"Ini obatnya...coba minumkan pada Harry sebutir dulu dan kita lihat kondisinya besok pagi" kata Dean

Luna mengambil obat dari tangan Dean, lalu mengambil segelas air, meletakkannya di meja samping tempat tidur Harry. Lalu dia duduk di samping Harry, mengangkat kepala Harry dan meletakkan kepala Harry di atas pahanya, menjejalkan obat ke mulut Harry dan terakhir meminumkan air. Setelah itu dia membaringkan Harry kembali dan merapikan selimutnya. Luna terlihat sedih melihat kondisi Harry seperti itu. Sepertinya bukan Harry yang selama ini dia kenal, Harry yang selalu kelihatan tegar, yang biasanya tak pernah menunjukkan kesedihannya pada orang lain. Harry yang selalu menyimpan sendiri masalahnya. "Ini benar-benar sisi Harry yang lain" pikir Luna.

Kembali Luna menganti handuk basah sambil mengingat hubungannya dengan Harry selama ini, Harry selalu menganggapnya teman, hanya teman yang baik. Harry tidak seperti teman-teman lainnya yang menganggap dirinya agak aneh, bahkan Harry tak pernah memanggil dirinya dengan sebutan "Loony"

"Harry...Harry..." kembali Luna melamun.


Sinar matahari pagi menembus jendela, Luna merasakan pipi dan rambutnya dibelai oleh seseorang. Luna langsung terbangun, rupanya dia tertidur di samping ranjang. Ternyata Harry yang membelai rambutnya sambil tersenyum,

"Thanks Luna...sepertinya kau sudah semalaman merawatku ya..." kata Harry.

"Sekarang kau kelihatan pucat, jangan sampai kau jatuh sakit ya...sebaiknya kamu istirahat yang banyak ya..." lanjutnya sambil tersenyum.

Luna ikut tersenyum "Harry ... kau sudah sembuh? Bagaimana demammu" tanya Luna sambil memegang kening Harry "Kelihatannya kamu sudah tidak demam"

"Badanku masih terasa pegal, namun kepalaku sudah tidak sakit lagi. Tapi aku sekarang merasa lapar" kata Harry.

Luna tertawa mendengarnya.

"Tunggulah sebentar aku akan menyiapkan sarapan" kata Luna sambil bangkit berdiri spontan dia merangkul Harry, mencium pipinya sejenak, lalu segera keluar kamar sambil bernyanyi kecil. "Demi Merlin...apa yang telah aku lakukan" pikir Luna sementara wajahnya merona merah

Pagi itu mereka semua sarapan bersama sambil bercerita tentang pengalaman masing-masing. Mr. Ollivande bercerita kalau dia ditangkap oleh sekelompok death eater yang mengenakan topeng di depan tokonya sendiri saat hendak menutup toko, sementara Dean tertangkap saat dia dan keluarganya pergi berlibur, dia juga terpisah dengan keluarganya. Mr. Griphok tertangkap saat berlibur, saat itu dia sedang berjalan seorang diri berburu di hutan dan tiba-tiba sekelompok death eater menyergapnya. Luna kemudian bercerita kalau dia dan Ginny ditangkap oleh gerombolan death eater yang ternyata sudah menyusup masuk di Hogwarts Express. Saat itu mereka hendak kembali dari Hogwarts untuk liburan natal. Dean menambahkan bahwa Ginny telah dilepaskan oleh Bellatrix dan pergi bersama Ron.

Harry mencoba berpikir, mencoba mencari hubungan mengapa Ron tega menghianati dirinya dan Hermione. Dia juga memikirkan bagaimana Ron dapat pergi dari kediaman Mafloy bersama dengan Ginny dengan begitu mudah. Namun dia tidak mau lama-lama memikirkannya, dia berkata kepada Luna dan Dean kalau hendak kembali ke tendanya mencari sisa-sisa barang yang mungkin tertinggal. Mereka sepakat untuk pergi bersama. Sebelum berangkat Harry menyempatkan diri datang ke makam Hermione.

Harry kembali memandangi ukiran pada nisan "RIP : Hermione Jean Granger, born 19-09-1979, die 22-01-1998" lalu dia meraba setiap hurup pada nisan, duduk bersila di samping batu nisan menyandarkan kepalanya, "Mione...Hermione... maafkan aku, aku tidak bisa menjagamu.. Seandainya saja aku waktu itu pergi sendiri, kau tentu masih hidup. Aku menyesal sekali Mione...aku menyesal telah mengajakmu pergi bersamaku mencari horcrux." desah Harry dan ujung-ujungnya Harry kembali hanyut dalam kesedihan.


Lama sudah Luna dan Dean menunggu Harry yang tak kunjung kembali padahal rencananya mereka hendak segera pergi dan kembali sebelum gelap. Mereka akhirnya menyusulnya ke makam Hermione. Di sana mereka melihat Harry sedang terduduk di samping makam Hermione dan berbicara sendiri. Luna berusaha menyadarkan Harry dengan memanggil namanya dengan keras, menarik tangannya, namun usahanya sia-sia.

"Waduh...kenapa lagi si Harry...apakah dia jatuh sakit lagi? Dean...apakah kau tahu mengapa Harry ...apa kau punya obatnya?" tanya Luna setelah sekian lama mencoba

"Bagaimana kalau kau cium saja dia" kata Dean dengan nada serius "Biasanya kejutan seperti itu dapat menyembuhkan"

"Apakah benar itu bisa?" tanya Luna dengan polosnya. "Sebenarnya aku sudah menciumnya tadi" kata Luna malu-malu sambil tersenyum

"Ku pikir kau mencium di tempat yang salah" kata Dean

"Mencium di tempat yang salah...maksudmu?" tanya Luna

"Bukankah tadi pagi kau hanya mencium pipinya saja, seharusnya kau mencium bibirnya" kata Dean sambil tertawa

Pipi Luna langsung merona merah..."Kau..Kau rupanya kau tadi mengintip ya" kata Luna sambil melemparkan kerikil ke arah Dean.

Dean hanya tertawa dan menghindar lemparan Luna sambil tersenyum-senyum mengoda

Luna lalu berkata

"Dean, coba kau tunjukkan caranya.."

"Maksudmu aku harus mencium bibirmu" tanya Dean dengan penuh harap

"Bukan kau yang cium bibir Harry, aku akan lihat caranya" balas Luna

"Huek...gila aja... masa aku harus mencium cowok" protes Dean

Mereka berdua tertawa kecil sambil memandang Harry, mereka merasa iba padanya.

Kemudian Dobby muncul di samping mereka, berkata "Miss Lovegood, Dobby mungkin punya cara untuk menyembuhkan Harry Potter. Apakah Dobby boleh mencobanya?" tanya Dobby

"Tentu saja Dobby, kau boleh mencobanya" kata Dean dan Luna bersamaan

Dobby lalu menjentikkan jarinya "tikkk..." dan entah dari mana di atas kepala Harry muncul air dingin bergalon-galon dan tumpah ke atas kepala Harry.

"Huah...sialan...siapa...siapa yang melakukan ini" teriak Harry sambil bangkit berdiri.

Dobby lalu kabur menghilang, sebelum menghilang dia sempat menjentikkan tangan, memunculkan baskom besar di tangan Luna. Harry lalu melihat baskom itu , menatap Luna, lalu berteriak

"Luna...kau..."

Luna hanya melongo melihat Harry yang basah kuyup dan baskom yang ada di tangannya.


Harry, Luna dan Dean tiba di dekat tenda. Mr Ollivander dan Mr Griphok tidak ikut menyertai. Mereka menunggu di pertanian saja bersama Dobby. Harry melihat dari kejauhan kalau tendanya sudah tidak utuh lagi. Ada bekas terbakar dan berlubang di sana-sini. Mereka bertiga lalu memasuki tenda. Harry melihat isi tenda, kursi dan meja terbalik semuanya, di hadapannya tampak sisa tempat tidur yang terbakar menyisakan hanya sedikit matras dan rangkanya. Harry maju, lalu membungkuk di samping tempat tidur, tangannya meraba-raba kolong tempat tidur. Dia menemukan apa yang dicarinya, tas hitam miliknya. Dia membukanya dan mengintip isinya, dia melihat jubah gaibnya masih di sana juga peta mauraders, peta Hogwarts. Sementara itu Luna dan Dean membetulkan posisi kursi dan meja, lalu duduk sambil melihat-lihat seisi tenda. Harry akhirnya menutup kembali tasnya, lalu melihat-lihat sekeliling berusaha mencari sesuatu.

"Apa lagi yang kau cari, Harry" tanya Dean.

"Tas milik Hermione" jawab Harry.

Harry lalu mengeluarkan tongkatnya "Accio... Tas" Dari belakang lemari terdengar bunyi "duk...duk..." ringan, Harry lalu pergi ke lemari, kembali membungkuk, meraba-raba di belakang lemari. Dia akhirnya menemukan tas milik Hermione. Tas yang sudah diberi mantera perluasan. Saat hendak membuka dan melihat isinya, mereka bertiga dikejutkan bunyi langkah mendekat. Segera mereka memandang berkeliling mencari tempat persembunyian. Namun terlambat, langkah itu sudah di depan tenda. Harry bahkan belum sempat mengeluarkan jubah gaibnya. Jadi dia hanya bersiap dengan tongkat di tangannya dan mengarahkan ke pintu tenda, begitu pula Luna dan Dean pun sudah siap dengan tongkat masing-masing.

"Ron ... !" teriak Harry pelan, "Apa yang kau lakukan disini...kau masih berani datang kemari?" tanya Harry.

Ron pun terkejut bertemu dengan Harry. "Demi Merlin...Harry. Kau selamat. Kau berhasil menyelamatkan diri" jawab Ron.

"Ya...aku berhasil selamat. Kau kecewa ya..." sindir Harry sambil tetap mengarahkan tongkatnya ke arah Ron.

Luna yang menyadari bahwa emosi Harry mulai naik, segera melerai.

"Tahan... Harry"

"Lepaskan aku! Biarkan aku menghajarnya" kata Harry dengan marah

Dean langsung membantu Luna menarik Harry menjauh

"Apa yang kau mau Wasley?" tanyanya

"Ya, mau apa kau kemari?" tanya Luna

"Please, biar aku jelaskan,

"Tak perlu ada penjelasan" bantah Harry yang masih berusaha melepaskan diri dari Luna dan Dean

"Ini tentang Ginny" lanjut Ron


Ron pergi meninggalkan Harry dan Hermione dengan ber-apparte kembali ke The Burrow. Dia sudah bosan melihat keakraban Harry dan Hermione di depan mukanya. Dia juga sudah bosan dengan masakan Hermione yang menurutnya berantakan, bahkan kadang masakannya masih mentah atau kurang matang. Dia sudah bosan hidup di tengah hutan yang sepi dan setiap hari harus berjaga-jaga, walau dia tak pernah mau serius melakukan tugasnya. harus diiakuinya kalau sebenarnya dia cemburu dengan keakraban Harry dan Hermione. Harusnya dia dan Hermione kembali saja ke Hogwarts di sana makanan selalu terjamin, namun Hermione memaksanya untuk ikut serta bersama Harry. Bahkan ayah serta saudara kembarnya Fred dan George juga mendukung rencana itu. Makanya selama ini dia selalu berusaha mencari perhatian Hermione, namun usahanya sia-sia belaka karena pasti dan selalu berakhir dengan kemarahan Hermione. Hari itu dia sangat lapar, namun Harry kembali dengan tangan kosong, alasannya dementor.

"Yang benar aja...kan dia yang mengajari anggota DA lainnya patronus, masa dia gagal, alasan saja. Kenapa tidak bilang terus terang kalau tidak menemukan apa-apa"

Saat hampir tiba di The Burrow, terlihat di depan pintu ibunya sudah berlari menyambutnya dengan teriakan

"Ronald Billius Weasley!..kau kemana saja. Kau pergi tanpa berpamitan!. Apakah kau tidak tahu kami semua mengkhawatirkan kamu. Lalu kau masih juga berani kembali ke sini" teriak ibunya sambil menangis

"Mom, aku akan cerita nanti. Aku kelaparan" Ron menjawab

"Mana Harry dan Hermione? Apakah kau bersama mereka?" tanya Mrs. Weasley

"Ya...tidak" jawab Ron singkat

"Apa maksudmu ya...tidak" tanya Mrs. Weasley

"Tadinya aku bersama mereka, namun aku ... mereka.. Mereka menyuruhku pulang untuk mencari berita tentang keadaan di sini" jawab Ron berbohong. Ron tidak berani bercerita kalau dia dan Hermione bertengkar dan dia meninggalkannya berdua hanya bersama Harry

"Syukurlah kau kembali dengan aman. Apakah kau tahu kalau Gin...Ginny diculik...ditangkap oleh Kau-Tahu-Siapa"

"Apa...apa Ginny..apakah Ginny tidak apa-apa? apakah Ginny selamat?" tanya Ron

"Aku tidak tahu..aku hanya menerima surat dari mereka, kalau mau Ginny kembali dengan selamat, Harry harus menemui mereka" Mrs. Weasley kembali menangis "Tapi kan tidak mungkin kita meminta tolong Harry menemui mereka"

Malam harinya setelah bertemu dengan ayahnya dan berbincang-bincang mengenai kabar terbaru dan terutama tentang Ginny. Ron kembali membaca surat dari Bellatrix yang isi meminta Harry datang ke tempat kediaman Mafloy dan Ginny akan dibebaskan setelahnya. Tak lama kemudian Ron naik ke tempat tidurnya. Setelah lama membaringkan badannya di ranjang, Ron masih saja gelisah dan tidak bisa tidur. Akhirnya setelah beberapa saat dia turun dari tempat tidurnya, mengenakan kembali jubahnya, lalu meninggalkan The Burrow dengan diam-diam. Dia ber-apparte dan tiba di depan kediaman Mafloy. Dia berjalan ke arah pintu dan mengetuknya. Tak lama kemudian seseorang membuka pintu, menyanyakan keperluannya, lalu dia masuk ke dalam setelah mengatakan hendak menemui Bellatrix.


"Sorry Harry...aku terpaksa...aku sungguh minta maaf..kalau bukan karena Ginny, aku tak akan melakukan ini. Sungguh aku tak bisa melihat Ginny disiksa di depan mataku. Apa kata Mom, kalau melihat Ginny tersiksa, bahkan bagaimana kalau sampai-sampai Ginny..." Ron tak melanjutkan ceritanya. Ron kelihatannya benar-benar menyesali perbuatannya.

"Sudahlah, lupakan saja. Ok, Pal" komentar Harry di akhir cerita Ron sambil menepuk pundak Ron.

Harry berpikir keras, sepertinya ada yang janggal, Ron tidak menanyakan Hermione. Tapi Harry diam saja, tidak mengatakan apa-apa tentang kecurigaan pada cerita Ron.

Luna melihatnya, dan hendak bertanya namun Harry memberi kode padanya agar nanti saja mereka bicara saat tidak ada Ron.

Tak lama mereka segera meninggalkan tenda dan Ron ikut pergi bersama Harry, Luna dan Dean.