DISCLAIMER: Created in the world belonging to J.K. Rowling and no money here. Just for fun.
Chapter 4: The Empty Tomb
Saat mereka kembali ke pertanian, hari sudah mulai gelap. Sementara yang lain bersiap untuk makan, Harry mengajak Luna berbicara berdua saja, menghindar dari yang lainnya. Harry dan Luna pergi ke tepi sungai kecil di hutan, mereka duduk berdampingan sambil menatap air. Tak lupa Harry memberi mantera privasi agar suara rmereka tak terdengar hingga radius yang cukup. Harry kemudian bercerita bahwa dia masih tidak mempercayai Ron. Dia masih mencurigai sikap Ron, yang hanya bersikap biasa saja tidak menunjukan kesedihan atau penyesalan sedikitpun saat Dean mengantarnya ke makam Hermione. Dean bercerita padanya bahwa bahwa Ron cukup lama berlutut di makam Hermione tapi hanya diam saja. Bahkan hingga kini Harry juga belum mendengar Ron bertanya kepada siapapun mengenai kejadian yang menimpa Hermione. Kepada Luna, Harry menceritakan sikap Ron saat tiba bersama death eater menangkap dia dan Hermione di tenda. Saat di tenda, Ron menunjukan sikap yang sangat membencinya, bahkan Ron tidak menunjukan sikap menyesal atas perbuatannya itu.
Menanggapi cerita Harry, Luna lalu bercerita tentang peristiwa dirinya dan Ginny diculik oleh para death eater dari Hogwarts Express dalam perjalanan pulang untuk liburan natal. Ginny berulang kali diinterogasi oleh Bellatrix, sementara dirinya hanya dua kali diintrogasi tentang kegiatan ayahnya dan tentang persembunyian Harry Potter. Selain itu dirinya diberi vitaserum, sementara Ginny dikenai kutukan crucicatus (itu yang Luna tahu karena Ginny sendiri yang bercerita dan menunjukan bekas luka pada sekujur tubuhnya). Namun beberapa hari sebelum Harry ditangkap, mereka bertiga (dengan Mr. Ollivander) khususnya Ginny mendapat perlakuan yang lebih baik. Tak lama kemudian Ginny telah dibebaskan sesaat sebelum Harry dijebloskan ke penjara bawah tanah.
Setelah berbincang-bincang tentang sikap Ron, mereka menyimpulkan bahwa mereka harus tetap berhati-hati, khususnya terhadap Ron. Tak lama, Harry dan Luna kemudian memutuskan untuk kembali karena hari sudah gelap. Dengan berjalan beriringan mereka kembali ke pertanian, namun tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang mengamati mereka dari balik pepohonan yang rimbun.
Makan malam berlangsung seperti biasa, sama seperti biasa. Sama seperti di Hogwarts, Ron menyendok begitu banyak lauk dan makan seperti orang barbar yang kelaparan. Mr. Ollivander dan Mr. Griphook hanya melongo melihat cara Ron melahap makan sebanyak itu. Mr. Ollivander sambil tertawa bertanya kepada Ron, kapan dia terakhir makan. Ron hanya mendengus mendengarnya dan tertawa.
Selepas makan malam, mereka berempat Harry, Dean, Ron dan Luna memeriksa barang-barang yang berhasil mereka temukan di tenda. Harry terlihat mencari-cari sesuatu dengan menggeluarkan semua isi tas Hermione. Sampai-sampai Ron bertanya pada Harry apa yang dicarinya. Harry mengatakan kalau dia sedang mencari pedang putih perak yang didapatnya di hutan bersama Hermione. Mr. Griphook yang kebetulan mendengar obrolan mereka berkata kalau pedang yang dimaksud Harry telah diambil dan disimpan oleh Narcissa atas permintaan Bellatrix. Mr. Griphook lalu bercerita bahwa dia mendendam pada Bellatrix karena dirinya disiksa saat diminta oleh Bellatrix memeriksa keaslian pedang itu. Karena merasa iba pada Hermione, Mr. Griphook akhirnya menyatakan bahwa pedang itu palsu, walau sebenarnya dia tahu bahwa pedang Griffindor yang saat itu dipegangnya adalah pedang yang asli yang dibuat oleh kaumnya. Mendengar cerita Mr. Griphook, Harry menjadi murung dan sedih. Luna melihatnya berpikir "Tentunya Harry teringat akan Hermione". Luna lalu mengalihkan perhatian Harry dengan bertanya tentang snitch yang pernah dilihatnya saat di penjara bawah tanah. Luna bertanya kenapa Harry membawa-bawa snitch itu kemana-mana.
Harry menceritakan tentang snitch berisi batu bertuah yang diperolehnya dari Dumbledore, bahkan Harry sempat menanyakan pendapat Luna apakah menurut Luna, dia dapat menggunakan batu itu untuk mengembalikan Hermione. Luna tersenyum dan merasa iba pada Harry.
"Harry, coba dengarkan kata hatimu, benar-benar menurut hatimu. Menurut kata hatimu, apakah Hermione akan setuju bila kau menggunakan batu itu? Apa kata Hermione bila kamu menggunakannya? Lalu apakah kamu yakin bahwa tak ada pengorbanan harus kau lakukan dengan menggunakan batu tersebut?"
"Harry, menurutmu mengapa Dumbledore tak menggunakan batu itu untuk mengembalikan adiknya, mengembalikan keluarganya?"
Mendengar penjelasan Luna, Harry berdiam dan berpikir lama sekali sampai-sampai Luna berteriak kencang di telingganya, "Hoi… .Harry!, kau masih sadarkan?"
"Sorry Luna...aku terlalu memikirkannya" sahut Harry sambil tersenyum masam.
Pikiran Harry pun melayang membayangkan Hermione yang mencak-mencak memprotes keras tindakan Harry yang menghidupkannya kembali. "Kau menyalahi hukum alam dan mengubah takdir yang telah terjadi. Apakah kau tahu bahwa apa yang telah terjadi di alam ini kau tidak boleh campur tangan dengan menghidupkan kembali seseorang yang telah meninggal. Apakah kau tahu apa jadinya bila hukum alam kau langgar, hal itu akan dapat merusak tatanan alam semesta, yang akan membuat keseimbangan lama menjadi kacau sehingga.. .maka... dst"
Keesokan harinya setelah sarapan dan kembali dari makam Hermione, Harry menemui Mr. Ollivander dan menunjukkan tongkatnya yang patah kepada Mr. Ollivander kalau-kalau dia dapat memperbaikinya. Suara Mr. Ollivander menjadi gemetar ketika menerima patahan tongkat Harry, "Kayu Holly dan bulu Phoenix, 11 inch. Aku ingat saat kau membelinya dariku 7 tahun yang lalu. Kau hampir menghancurkan setengah dari tokoku. Dan tongkat ini adalah kembaran dari yang dimiliki oleh pangeran kegelapan". Mr. Ollivander lalu menggelengkan kepala, mengembalikan patahan tongkat dan meminta maaf karena dia tak sanggup memperbaiki tongkat Harry yang patah.
Luna, Dean, dan Harry lalu berdiskusi tentang kepemilikan tongkat dengan Mr. Ollivander, tentang cara memiliki tongkat lain tanpa perlu membunuh pemilik sebelumnya, tentang Elder Wand yang dicari oleh Kau-Tahu-Siapa. Akhirnya mereka dapat menyimpulkan bahwa Harry sekarang dapat memiliki tongkat milik Wormtail, Luna dapat memiliki tongkat Bellatrix, sementara tongkat Draco dapat dimiliki oleh Dean. Awalnya Harry hendak memberikan tongkat milik Wormtail pada Mr. Ollivander "Untuk berjaga-jaga" katanya karena menurutnya dirinya masih memegang tongkat milik Hermione dan tongkat Blackthorn. Namun Mr. Ollivander menolaknya dan menyatakan terima kasih atas niatnya.
Siangnya Harry berdua dengan Luna mengobrol dengan Mr. Griphook. Goblin itu berterima kasih kepada Harry dan teman-temannya atas pertolongan padanya. Harry lalu mengutarakan niatnya untuk membobol Gringotts untuk memasuki tempat penyimpanan Lestrange dan mengambil sesuatu di sana. Awalnya Mr. Griphook menolak keras dan tidak menyetujui pencurian di Gringotts. Namun Harry menyakinkan bahwa hal itu bukan untuk kekayaan dirinya, barulah Mr. Griphook lebih dapat menerimanya. Dia mengatakan akan memikirkan hal ini dan memberikan jawabannya nanti.
Seminggu kemudian Mr. Griphook menyatakan bahwa dia mau membantu Harry dan teman-temannya dengan syarat bahwa dirinya tidak mau terlibat secara langsung dalam usaha pembobolan ini. Untuk itu Mr. Griphook meminta agar Mr. Ollivander mau membuatkan tongkat sihir untuknya sebagai pembayaran atas bantuan yang dia berikan. Permintaan Mr. Griphook ini sebenarmya merupakan pelanggaran atas kesepakatan antara Goblin dan Penyihir, yang menyatakan bahwa goblin tidak diperkenankan memiliki tongkat sihir. Namun Mr. Griphook tetap menginginkan tongkat sihir, akhirnya setelah Harry berdiskusi cukup lama dengan Luna dan Mr. Ollivander dia kemudian menyerahkan tongkat milik wormtail. Menurut Harry, saat ini Mr. Ollivander tidak dapat membuat tongkat yang baik tanpa bahan yang baik. Tongkat pembuluh jantung naga milik wormtail merupakan pilihan yang bagus saat ini. Mr. Griphook akhirnya setuju dengan penawaran tersebut.
Lantas Mr. Griphook menceritakan tentang detil penjagaan di Gringotts dan perlindungan keamanan di dalamnya, termasuk lokasi penyimpanan milik keluarga Lestrange yang ada di basement level 5, ditambahkannya tentang lokasi jebakan, lokasi pemunah sihir, dan lokasi mahkluk gaib yang juga turut menjaga keamanan di sana.
Mendengar penjelasan Mr. Griphhok, awalnya Dean shock dan menjadi pesimis kalau-kalau mereka mampu menembus Gringotss. Akhirnya disepakati bahwa Harry, Luna dan Ron yang akan masuk ke Gringotts, sementara Dean akan berjaga di luar Gringotts, dengan berusaha mengalihkan perhatian orang-orang di sekitarnya saat mereka akan melarikan diri dari Gringotts. Dengan adanya rencana itu Luna lalu membuat coin galleon palsu mirip lencana DA mereka. Galleon itu akan saling mengirimkan pesan dan bergetar bila ada pesan yang dikirimkan. Karena keterbatasan waktu yang ada, Luna hanya membuat dua buah, satu diserahkan pada Harry dan satu lagi diserahkan pada Dean. Melihat coin tersebut Harry teringat kembali pada Hermione, mengingat bahwa lencana DA dibuat oleh Hermione. Harry menanyakan bagaimana Luna dapat membuat lencana seperti itu. Luna hanya tersenyum "Memang idenya aku dapat dari Hermione, namun ingat, aku kan di Ravenclaw. Anak-anak Ravenclaw lebih rajin membaca dibandingkan dengan anak dari asrama lain kecuali Hermione". Mendengar itu Harry tertawa, benar juga pikirnya "Hanya Hermione yang kutu buku di Hogwarts. Seharusnya Hermione berada di Ravenclaw, bukan di Gryffindor. Dan kalau Hermione di Ravenclaw, mungkin dia masih hidup saat ini. Dan... dan…" Dengan kenangan akan Hermione, air matanya kembali menggenang, Harry lalu keluar dari ruangan berjalan menuju makam Hermione. Alangkah terkejutnya dia saat melihat kondisi makam tersebut. Baru nisan Hermione sudah terbelah dua dan tampak lobang besar di tanah, dan kosong.
"Luna!...Dean..! Dobby..!. kemari semuanya" teriak Harry.
"Ada apa Harry, mengapa kau berteriak seperti itu" tanya Dean sambil berlari mendekat
"Itu!...lihat itu!" teriak Harry panik sambil menunjuk-nunjuk lobang pada makam Hermione. Makam itu terlihat berantakan, lalu Harry melompat masuk ke dalam lobang, membungkuk dan mencari-cari di dalamnya.
"Mione ...Hermione hilang...Kemarin masih ada saat aku kemari" kata Harry dengan parau seperti suara hendak menangis
Dobby dalam sekejap muncul bersama Luna diikuti Mr. Ollivander yang berjalan mendekat.
"Kenapa bisa begitu ?" tanya Luna
"Mana Ron...Ron...Ron! kau di mana?" teriak Harry dengan panik
Karena Ron tak kunjung datang, akhirnya mereka semua segera mencari Ron di seluruh pelosok pertanian, namun mereka tak menemukannya.
"Ron juga tak kelihatan" kata Harry cemas.
"Jangan-jangan dia yang mengambil jenasah Hermione" kata Dean menuduh
"Buat apa dia mengambilnya?" tanya Harry
"Siapa tahu, kemarin dia mendengar kau bercerita tentang batu bertuah..."
"Astaga Harry...jangan-jangan….." kata Luna sambil memegang bibirnya.
"Apakah batu itu masih ada padamu?"
Harry merogoh kantung yang selama ini digantung dilehernya, dibukanya sambil menahan nafas. Harry melepas nafas lega saat melihat snitch-nya masih ada di dalamnya.
"Ya, masih ada di sini" kata Harry lega.
Lalu Harry menempelkan snitch pada bibirnya, dan snitch itu membuka. Harry melotot memandang snitch itu. Wajahnya menunjukkan ketidak percayaan kalau snitch itu kosong dan batu bertuah yang seharusnya masih ada di dalamnya kini telah raib.
"Dobby...!" teriak Harry dengan cemas,
"Tolong Dobby, tolong bantu aku menemukan Ron dan bawa dia kemari"
"Baik... Harry Potter, Sir. Dobby akan segera mencarinya dan membawanya kemari" kata Dobby
"Sebentar…tunggu sebentar….Dobby jangan pergi dulu" potong Luna.
"Harry…, menurut aku kalau Ron yang melakukannya, kita semua harus segera pergi dari tempat ini.
Kau ingat kan waktu para death eater menangkapmu dulu. Saat ini kita sedang mencurigai Ron dan kita harus mengantisipasi bahaya yang akan datang setiap saat. Aku tidak mau tertangkap lagi".
"Luna.. kau benar. Aku juga tak mau tertangkap lagi. Sebaiknya kita pergi dulu dari tempat ini" kata Harry.
Luna lalu berkata pada lainnya, Kita harus cepat berkemas lalu pergi dengan segera. Coba cek barang-barang kita apakah ada yang hilang?"
"Memangnya kita punya barang berharga saat ini" Dean menyahut
Bagai tersambar kutukan, Harry terlompat dan segera berlari ke kamarnya. Tak lama dia kembali dengan tasnya (juga tas Hermione ada di dalam tasnya) dan berkata dengan lesu.
"Jubah gaibku juga raib.." kata Harry lemas.
