DISCLAIMER: Created in the world belonging to J.K. Rowling and no money here. Just for fun.
Chapter 6: Her Story
Dia telah berhari-hari membaca banyak buku di perpustakaan, bahkan hingga larut malam pun dia tetap membaca berbagai buku-buku tua bahkan berbagai gulungan perkamen tua. Dari sejarah pendirian Hogwarts yang telah dia baca berulang kali untuk mencari informasi mengenai semua ruangan yang masih ada maupun yang sudah dipugar, baik yang kelihatan maupun yang tersembunyi, bahkan yang disembunyikan dengan sihir. Berbagai jalan masuk menuju Hogwarts dan berbagai lorong rahasia keluar dari kastil, yang tentunya sering digunakan oleh si kembar Fred dan George, juga seluruh pertahanan sihir yang ada, pokoknya seluruhnya tentang Hogwarts dari A hingga Z sepanjang masa.
Dia juga telah membaca berbagai buku mengenai sihir-sihir kuno dan terlarang atau terkutuk bahkan yang sudah dilarang penggunaannya oleh kementerian. Tak hanya pencekalan penggunaannya oleh kementerian sihir inggris saja, melainkan hampir semua kementerian sihir di seluruh dunia, terkecuali hanya ada beberapa negara yang masih memperbolehkan sihir-sihir kuno, khususnya beberapa negara yang tak mau terikat dengan kerja sama sihir nternasional seperti beberapa negara di afrika dan asia.
Kementerian akan dapat mendeteksi sihir kuno yang dilarang sehingga dapat mengetahui pelakunya. Mirip dengan peraturan yang tidak memperbolehkan penyihir di bawah 17 tahun melakukan sihir si luar sekolah.
Dari lemari yang paling depan hingga yang paling belakang, dari rak yang paling bawah hingga palingatas, dari bagian yang diperbolehkan untuk pelajar hingga ke bagian yang terlarang untuk murid. Hampir semuanya sudah disentuh olehnya dan baginya seolah waktu terhenti. Kini dia telah menemukan beberapa informasi yang berharga mengenai horcrux dan tentu juga cara menghancurkan horcrux. Salah satu cara yang terlihat mudah untuk menghancurkan adalah dengan melemparkan horcrux ke dalam magma gunung berapi yang akan meletus. Beberapa saat sebelum meletus, magma akan mencapai suhu yang sangat tinggi dan saat itulah magma akan mampu menghancurkannya. Cara ini tercatat pernah dilakukan oleh para penyihir Yunani pada abad ke 12. Pada masa itu beberapa tokoh penyihir terkemuka yang menghancurkan horcrux dengan cara melemparkan horcrux ke dalam magma gunung Etna di pulau Sisilia, kira-kira 5 menit sebelum meletus. Cara yang efektif, namun dengan demikian horcruxnya juga lenyap bahkan penyihir yang melakukan terkena resiko keracunan belerang atau asap lainnya maupun resiko terbakar. Dalam sejarah, ada 28 penyihir yang tewas bahkan tak ditemukan kembali dalam misi untuk menghancurkan horcrux . Mereka diprediksi tewas terbakar dalam letusan gunung Edna.
Cara lain adalah menggunakan racun. Namun hanya sedikit jenis racun yang dapat menghancurkannya, salah satunya adalah racun balistik. Untuk memperoleh racun balisik resikonya sangat besar karena serangan balisik sangat mematikan. Dalam sejarah, sekali lagi yang tercatat pada sejarah ada 11 penyihir yang tewas dalam tugas membunuh ataupun mencari racun Balisik.
Sihir api Salamander dan sihir petir Odin termasuk beberapa jenis sihir kuno yang dapat menghancurkan horcrux, namun kedua sihir itu juga sangat sulit dikendalikan dan sangat berpotensi menghancurkan segala yang ada disekitarnya. Dan tidak ada catatan sejarah untuk itu.
Hampir semua informasi mengenai horcrux itu dia dapatkan dari perpustakaan yang terbuka baginya di Room of Requirement, ruang kebutuhan. Dia menemukan perpustakaan itu dengan tidak disengaja. Saat itu dia sedang sedang mengejar hantu Helena Ravenclaw untuk menanyakan pusaka berharga milik Ravenclaw, dan saat dia mencapai lantai 7, dia sadar bahwa dia berada di koridor yang sama dengan ruang kebutuhan, lalu timbul pikirannya untuk mencari informasi dari membaca, dan saat memasuki ruangan, terlihat perpustakaan yang sangat luar biasa besarnya. Di sana dia juga menemukan kisah tentang keluarga-keluarga penyihir tua, sejarah Gringott dari masa ke masa, termasuk silsilah keluarga dari keempat pendiri Hogwarts.
Flashback
Dia membuka matanya, terlihat di hadapannya hanya warna putih, semuanya serba putih. Dia melihat sekelilingnya dan lagi-lagi semuanya putih. Tidak tampak ada batas langit, dia berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya, namun dia tak dapat memikirkan apapun semuanya terasa kosong.
"Di mana aku?, adakah orang lain di sini?" tanyanya
Lama sekali dia merasakan keheningan. Dia lalu bangkit berdiri dan kemudian mencoba berjalan, langkahnya terasa ringan. Dia melihat sekelilingnya dan segalanya tampak sama. Dia tak tahu kemana harus melangkah, namun tetap saja dia melangkahkan kakinya tanpa tujuan.
Lama kemudian, dia merasakan seolah kabut putih mulai terangkat dan menipis, dia mulai dapat melihat sekelilingnya. Dia mulai mengamati pakaian yang melekat di tubuhnya, putih bersih tanpa cacat. Berbeda dengan apa yang dia ingat, sebelumnya dia memakai jubah yang sudah kotor penuh debu dan lumpur. Dia tak melihat ada bekas luka di sekujur tubuhnya, padahal dia ingat banyak mendapat luka di tubuhnya. Tak lama kemudian, dia melihat seseorang yang sangat dikenalinya, dengan jangut panjang dan jubah ungu, tak ketinggalan kacamata bulan sabitnya. Pria itu sedang berdiri di depan sebuah pintu. Pintu yang dia sepertinya dia kenal dengan baik, pintu yang sering dimasukinya sepanjang tahun-tahunnya di Hogwarts, pintu perpustakaan.
"Professor Dumbledore" sapanya.
"Senang bertemu kembali denganmu, Miss Granger"
Dia memandang sekelilingnya, agak ragu dan bimbang, lalu "Kita ada di mana professor? Aku tak ingat kalau aku kembali ke Hogwarts tahun ini"
"Well, justru itu aku ingin bertanya kepadamu, menurutmu ada di mana kita sekarang" tanya Dumbledore
Kembali dia melihat sekelilingnya sebelum menjawab "Kelihatannya, seperti berada di depan perpustakaan Hogwarts. Hanya tak tampak seperti biasanya, ruangan ini terlihat lebih bersih dan kosong, dan tak terlihat seseorang pun di dalam".
Dumbledore tertawa "Benarkah?"
Kembali bimbang, lalu bertanya "Memangnya menurut anda, kita ada dimana?"
"Aku tak tahu sama sekali. Ini, adalah tempatmu, nak. Tempat yang berbeda bagi setiap yang datang kemari. Tempat ini akan menyesuaikan dengan memorimu yang cukup berkesan"
"Apa maksudnya professor, aku kurang mengerti. Apakah aku sudah meninggal, professor?" tanya Hermione
"Ya, Miss Granger. Kau sudah meninggal" kata Dumbledore dengan wajah sedih
Perlahan-lahan, pikiran Hermione mulai dapat mengingat kembali semua kejadian yang telah menimpanya. Hermione juga mulai menyadari akan apa yang kira-kira akan terjadi padanya
"Apakah aku memiliki jalan untuk kembali?"
Dumbledore menggelengkan kepala dengan sedih. "Miss Granger, sayang sekali. Kau tidak dapat kembali"
"Tapi aku harus menolong Harry, professor"
"Kamu tidak dapat, Miss Granger. Biarkanlah takdir berjalan dengan semestinya"
Hening sejenak.
Hermione lalu bertanya
"Professor, mengapa di Hogwarts terdapat banyak hantu. Apakah itu pilihan mereka atau takdir mereka?
Sir Nicholas, hantu Gryffindor pernah mengatakan bahwa menjadi hantu adalah pilihannya karena dia takut memnghadapi kematiannya.
Apabila aku tidak dapat kembali sebagai manusia. Apakah aku dapat kembali dalam wujud lain seperti halnya Sir Nicholas?"
Kembali hening.
Dumbledore lalu menjawab
"Sebenarnya, Itu tergantung padamu"
"Oh..., apakah itu berarti aku punya pilihan, professor?"
"Ya, kalau seperti itu yang kau maksudkan maka kau punya pilihan, Miss Granger" jawab Dumbledore sambil tersenyum sedih.
"Tapi tidak banyak orang yang mau memilih kembali sebagai hantu. Mereka yang datang ke tempat ini hampir semuanya selalu memilih untuk masuk ke dalam ketiadaan, ke tempat perhentian sementara, untuk kemudian mendapatkan kehidupan yang baru, takdir yang baru"
"Professor, mengapa anda sendiri masih disini, mengapa anda tidak memilih takdir yang baru?"
Hening sejenak
"Ini sebenarnya juga suatu pilihan, Miss Granger" jawab Dumbledore
"Kalau begitu berapa banyak pilihan yang aku miliki, professor?
Meskipun aku tidak dapat kembali sebagai Hermione, aku tetap ingin kembali. Masih banyak yang harus aku lakukan, khususnya untuk Harry".
"Miss Granger, meskipun kau bisa kembali ke dunia sebagai hantu seperti halnya Sir Nicholas, dan teman-teman hantu yang lain, kau tetap tidak boleh mencampuri urusan dunia. Apabila kau mencampurinya atau bahkan kau berusaha merubah takdir, akan ada konsekwensi yang harus kau tanggung nantinya"
"Apapun konsekwensinya, aku tidak mau memikirkan hal itu saat ini, professor. Nanti saja aku pikirkan hal itu".
"Sebagai hantu, aku punya banyak sekali waktu, bukan?"
Hermione kemudian melangkah masuk ke dalam perpustakaan, mulai mencari-cari buku dan membacanya.
Setelah beberapa lama, suasana mulai terasa gelap, tiba-tiba dia merasakan ada yang memperhatikannya, saat menoleh dia melihat professor McGonagall sudah berada di depannya, sedang memandangnya dengan ragu, seperti tak mempercayai apa yang ada dihadapannya.
"Miss Granger…! Kau….apa yang kau lakukan disini. Kapan kau kembali kemari? Aku tidak melihatmu datang ke Hogwarts. Aku mendengar kau pergi berkelana bersama Mr. Potter dan Mr. Weasley. Di mana mereka sekarang?" Dan potong 30 point dari Gryffindor atas keterlambatanmu datang di Hogwarts, Miss Granger..".
"Tapi professor…."
"Apa yang sedang terjadi Miss Granger? Dan mengapa kau …. melayang di atas tanah…O..Merlin?
"Aku juga tak tahu, professor. Yang aku tahu, aku sudah meninggal. Namun aku memilih untuk kembali kemari"
"Astaga…demi Merlin" kata McGonagall sambil membetulkan letak kacamatanya, sekilas tampak air matanya menggenang dan raut muka McGonagall menjadi sedih.
Beberapa kali Hermione bertemu muka dengan murid-murid Hogwarts, namun sepertinya mereka terkejut dan menghindarinya sambil berbisik-bisik. Beberapa bahkan berlari menjauh sambil berteriak. Dia pernah mencoba menyapa beberapa orang, namun mereka mengacuhkannya seolah tak melihatnya. Akhirnya Hermione mencoba ke menara Gryffindor, hendak mencari Ginny dan Neville. Namun dia tidak dapat masuk ke ruang rekreasi Gryffindor. Dia teringat penyebabnya, para hantu tidak diperkenankan masuk ke ruang asrama Hogwarts, juga memasuki kelas pada saat jam pelajaran berlangsung. Akhirnya Hermione mencoba menunggu mereka di aula besar, namun setelah lama bersembunyi di balik tembok sepanjang pagi hingga sore, mereka tak tampak juga meskipun sudah saatnya makan malam.
Hermione akhirnya bertemu dengan Sir Nicholas yang sangat antusias menerimanya bahkan hendak mengajaknya untuk berkeliling Hogwarts. Hermione langsung memprotes, "Aku sudah tahu Hogwarts, sudah 6 tahun aku bersekolah disini" Sir Nicholas tertawa, "Tapi tidak sebagai hantu kan. Banyak ruangan di bawah atap abahkan di bawah kastil yang tidak dapat dimasuki oleh murid-murid. Tapi sebagai hantu kau dapat menembusnya. Dan juga aku senang kau mau menemani aku di sini" katanya. Hermione hanya mendengus mendengarnya. Akhirnya dia mengetahui bahwa Neville dan Ginny sedang bersembunyi, namun Sir Nicholas sendiri tidak tahu dimana tempat persembunyiannya.
Beberapa waktu kemudian, Hermione berhasil juga bertemu dengan Helena Ravenclaw. Hermione berhasil mendapatkan informasi tentang diadem yang kemungkinan besar telah diubah menjadi horcrux oleh Tom Riddle, Voldemort. Untuk terakhir kalinya Hermione bertanya
"Tadi kau mengatakan, kau tewas di hutan, Albania. Bagaimana kau bisa ada di tempat ini?"
"Aku tak tahu bagaimana itu terjadi. Kau sendiri, kau tewas di mana, dana bagaimana caramu ke tempat ini?"
"Aku juga tak tahu caranya, aku hanya memikirkan tempat ini dan tahu-tahu aku menemukan tempat ini. Apakah kau pernah ke tempat lain selain Hogwarts?"
"Aku pernah beberapa kali kembali ke hutan di Albania, namun entah bagaimana caranya aku selalu dapat kembali ke tempat ini?"
"Mungkin aku dapat pergi kemana saja ke tempat yang aku mau hanya dengan memikirkannya. Sangat mirip dengan ber-apparte, namun yang ini lebih mudah" kata Hermione dalam hatinya setelah membaca buku tentang Hantu dan kisah perjalanan seorang hantu
"Buku yang aneh, entah siapa pengarangnya" kata Hermione sambil meletakkan kembali buku tersebut ke rak. "Mungkin aku dapat pergi ke tempat Harry berada hanya dengan memikirkannya"
