DISCLAIMER: Created in the world belonging to J.K. Rowling and no money here. Just for fun.


Chapter 7: Dungeon under the Gringott

"Mereka sudah masuk, dan mereka akan terjebak, Mrs. Lestrange"

"Kerjamu bagus sekali Griphook. Kita akan lihat kelanjutannya"

Bellatrix kemudian berkata kepada partnernya,

"Avery, apakah persediaan polyjuice-mu cukup hingga kita menemukan Potter di bawah nanti?"

"Aku rasa cukup. Persediaan rambut si Weasley juga masih banyak. Aku rasa, aku masih dapat menggunakannya hingga beberapa bulan lagi. Tadi aku sempat mengecek si Weasley sebelum kita berangkat. Kondisinya sudah lemah, tapi dia masih bertahan dan semangatnya juga masih tinggi. Jadi aku tetap meminta penjaga untuk tetap waspada. Dia selalu menanyakan adiknya, aku hanya mengatakan kalau adiknya sudah aku antarkan ke rumah dengan selamat sesuai janji kita, namun tetap saja dia tidak puas"

"Acuhkan saja dia. Biar saja si Potter mengira sahabatnya telah menghianatinya".

"Bellatrix, aku salut padamu. Sungguh. Kali ini siasatmu benar-benar licik. Kau benar-benar telah mengadu domba Potter dan Weasley"

"Hihihihi…." Bellatrix tertawa seram.

"Ini merupakan bentuk pengabdianku pada sang Pangeran Kegelapan. Dia berjanji akan menjadikan aku abdinya yang setia, bahkan tangan kanannya, malah mungkin istrinya. Hihihihi…". "Ide itu muncul begitu saja pada saat dia datang ke rumah untuk meminta kita melepaskan adiknya. Saat itu aku langsung berpikir kalau dia sebenarnya lebih berguna daripada adiknya karena ternyata hubungan Potter dengan adiknya sudah putus. Jadi mereka tentu sudah tidak berhubungan lagi. Tapi kalau dia, tentu sering berhubungan karena mereka selalu bersama. Tapi hampir saja siasatku berantakan, gara-gara mereka bertiga bertengkar, hampir saja. Untung saja sebelumnya kau telah melihat isi pikirannya juga memberinya vitaserum, jadi kamu dapat segera merespon dengan tindakan yang sesuai".

"Ya, kalau hendak menyamar, pastikan tindakan kita sudah sesuai dengan subyeknya agar tidak ada yang curiga. Aku belajar dari pengalaman si Barty Jr. Kalau saja dia tidak kehilangan akal pada saat itu, tentunya dia tidak bakal ketahuan dan dicium oleh dementor".

"Ya, kau benar. Tapi cukup sampai di sini dulu, kita masih harus menangkap Potter dan teman-temannya di bawah sana".


Jauh di bawah Gringotts, kereta yang dinaiki oleh Harry dan kawan-kawan telah melewati air terjun di level 4. Harry sempat kewalahan karena meskipun mereka sudah mengenakan jas hujan sebagai pelindung dari air terjun pemunah sihir, mereka lupa mengenakan pelindung pada goblin yang mengendalikan kereta, akibatnya si goblin segera tersadar dan saat melihat mereka mengenakan pelindung air, dia sempat bereaksi untuk memberontak sehingga kereta sempat bergoncang, namun Luna segera mengantikan Harry merapal Imperius pada goblin sehingga gangguan kecil itu dapat dikendalikan lagi. "Thanks, Luna" kata Harry.

"You're welcome" balas Luna sambil tersenyum manis.

"Suit..suit…" potong Dean sambil tersenyum dan terbatuk-batuk.

Luna dan Harry memandang Dean sambil melotot. Sebelum Dean sempat berkata-kata, tiba-tiba Harry merasakan hangat dari kantung jubahnya, rupanya ada kiriman pesan melalui galleon palsu. Harry melihat pesan berasal dari Fred "Bellatrix & Ron tiba"

"Luna, Dean!. Kalian menerima pesan dari Fred? Sepertinya Bellatrix bersama Ron datang ke Gringott, mereka sepertinya bersekutu dan telah merencanakan untuk menjebak kita di tempat ini."

"Ronald…., benar-benar keterlaluan. Sungguh tak bisa dipercaya. Kali ini dia bersama Bellatrix. Sepertinya sudah pasti dia yang mencuri barang-barangmu, Harry. Dan pasti dia yang membunuh Mr. Griphook. Luna, teori konspirasi Lovegood-mu sepertinya terbukti" kata Dean dengan nada marah.

"Kalau memang demikian, kita harus lebih cepat bergerak" kata Harry

Harry terdiam kembali, darahnya seakan mendidih mengingat semua perbuatan Ron padanya. Dari kejadian di tenda, tewasnya Hermione, hilangnya barang-barang miliknya termasuk jubah gaib dan batu bertuah, hingga tewasnya Mr. Griphook. Dan kini dia bersekutu dengan Bellatrix pula.

Karena konsentrasi mereka terpecah dengan kabar itu, tak heran rapalan mantera imperius pada goblin sempat terlupakan oleh Luna, namun segera dia menguatkan kembali rapalannya sebelum terjadi apa-apa.

"Dean, kita sebaiknya mulai menjalankan rencana A dahulu" kata Luna dengan nada serius.

"Memangnya rencana A itu yang mana" tanya Dean dengan polos dan bingung.

"Aduh, kau ini….memangnya kita punya berapa rencana sih…Kita kan cuma punya satu rencana" protes Luna, "Ya…jalankan segera rencana itu"

"Oh, yang itu….baik, segera Miss Lovegood" balas Dean dengan sebal.

Dean segera membuka tasnya, mengeluarkan Petasan Naga, Dragons Firecracker, lalu mengarahkan tongkatnya untuk menyalakan petasan itu. Dragons Firecracker buatan duo Fred dan George, merupakan petasan yang mirip dengan petasan yang pernah dipasang oleh Fred dan George saat mengerjai Umbridge di Hogwarts. Bedanya petasan ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa oleh si kembar, hanya ada perbedaan kecil menurut mereka berdua. Perbedaannya adalah petasan ini hanya dapat dipadamkan dengan tongkat yang sama untuk menyalakannya. Jadi orang lain tak bisa memadamkan petasan ini. Begitulah penjelasan Fred pada saat memberikan petasan tersebut. Dalam sekejap, petasan ini segera menerangi lorong bawah tanah Gringotts, mengaktifkan segala jebakan yang ada, bahkan ada jebakan yang berusaha memadamkannya sehingga nyala petasan semakin besar dan semakin banyak bola api yang di hasilkan petasan tersebut. Sisi baiknya, Harry dan kawan-kawan dapat melihat tempat jebakan yang terpasang dan menghindarinya. Sisi buruknya saat ini, mereka hanya punya one-way ticket untuk ke vault milik Bellatrix karena saat ini Bellatrix sedang menyusul mereka ke dalam Gringotts.

Dengan adanya gangguan dari dragon firecracker, tentu saja segala jebakan jadi ketahuan, maka dengan mudah mereka melewati level 5 dan level 6. Sebenarnya Harry curiga bahwa dengan perjalanan mulus mereka ini. Sebelumnya dia berpikir bahwa mereka harus menghadapi beberapa serangan penjaga maupun monster di bawah tanah, tapi kenyataannya sungguh berbeda. Dalam hatinya dia berpikir apakah karena memang sudah diatur oleh Bellatrix yang sedang menjebak mereka.

"Luna, kita berhenti sebentar. Aku rasa kita perlu membuat sedikit gangguan di lorong ini agar para pengejar kita terhambat" kata Harry.

"Apa idemu Harry?"

"Aku ingin mentransfigurasi rel ini menjadi sesuatu"

"Baik, mari kita lakukan bersama. Dean tolong gantikan imperis pada goblin ini. Harry, bagaimana kalau kita ubah menjadi tangga batu saja sepanjang 500 meter. Sementara lantainya kita jadikan es sehingga licin? "

"Ide bagus, baiklah. Aku yang merubah rel, kamu yang merubah lantainya. Ayo bersama-sama pada hitungan ketiga. Satu, dua, tiga… "

Harry dan Luna mengarahkan tongkat mereka pada rel dibelakang kereta mereka. Segera ujung tongkat Luna dan Harry segera bergetar, memancarkan cahaya biru, Pekerjaan itu mereka selesaikan dalam waktu beberapa menit saja.

"Ayo Luna, kita harus bergegas kembali ke kereta"


Setelah beberapa waktu, kembali Harry dan Luna membuat hambatan yang sama pada tempat lain, Harry menambahkan bubuk kegelapan yang sempat diambilnya dari kamar si kembar, sehingga dia cukup yakin kalau usaha mereka ini akan cukup menghambat para pengejar mereka. Memasuki level 7, Harry baru menyadari bahwa entah disengaja atau memang goblin terlalu percaya diri dengan pertahanan di Gringotts, pada setiap pintu vault terpasang kode atau lambang keluarga penyihir. Bahkan ada beberapa pintu yang dengan jelas menyertakan nama pemiliknya, sementara nomor vault hanya tercantum kecil di samping pintu.

"Coba perhatikan, kalau pada tiap pintu ada lambang atau nama keluarga, kita akan cepat menemukan vault Bellatrix"."Lihat itu pasti vault milik keluarga Black" kata Harry sambil menunjuk pintu yang memiliki lambang 3 ekor gagak

Kereta yang mereka naiki terus melaju makin dalam ke perut bumi. Tak lama kemudian kereta berhenti.

"Kita sudah hampir sampai, Sir. Perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki" kata goblin sambil membungkuk, lalu menunjukan arah.

"Saya akan menunggu anda semua di tempat ini"

Harry segera turun dari kereta diikuti oleh Luna dan Dean. Mungkin karena terlalu bersemangat, Dean lupa dengan imperiusnya, akibatnya si goblin mulai tersadar. Setelah beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba kereta berjalan dengan cepat meninggalkan mereka, dan lorong itu menjadi remang-remang.

"Aduh, sorry. Aku lupa bahwa mantera imperiusku tidak bertahan lama" kata Dean penuh penyesalan. "Kita kali ini benar-benar terjebak"

"Sst…diamlah, kita akan mencari jalan" kata Harry

Harry mengarahkan tongkatnya ke arah bola api Dragon Firecracker yang masih terlihat untuk menambah jumlah bola apinya. Usahanya berhasil, bola api petasan makin bertambah banyak sehingga cahayanya cukup menerangi tempat itu.

Mereka lalu berjalan merayap dan perlahan hingga akhirnya mereka menemukan semacam tugu batu. Harry mengamati tugu itu dengan seksama.

"Itu tempat obor, mari kita coba nyalakan" kata Luna.

"inflammo…"

Segera dari ujung tongkat Luna muncul bunga api yang langsung menyalakan obor. Api dari obor itu segera merambat menuju tugu obor selanjutnya, dan selanjutnya dan selanjutnya membentuk lingkaran yang cukup luas. Setelah hampir semua obor menyala, tampaklah di hadapan mereka, di tengah-tengah aula yang dikelilingi obor, seekor naga yang sangat besar yang terikat dengan belasan rantai yang besar-besar di lantai. Kulit naga itu merupakan sisik yang berwarna pucat dan pecah-pecah matanya berwarna merah kekuningan. Sayapnya yang besar, terlipat di dekat tubuhnya, dan tentu akan memenuhi aula apabila direntangkannya. Naga itu lalu mengaum dengan suaranya yang mampu merontokkan langit-langit lorong atau gua. Rupanya tadi naga itu sedang tertidur ketika mereka datang dan cahaya obor itulah yang sepertinya membangunkannya. Tangan Luna segera mencengkram lengan Harry, sepertinya dia sangat ketakutan.

"Harry, apakah kita bisa keluar dari tempat ini"

Harry diam tak menjawab, sepertinya dia sedang berpikir.

"Lihat sepertinya di ujung-ujung sana ada beberapa pintu. Dan itu vault milik Bellatrix, pintu kedua dari kanan. Aku pernah melihat lambang itu sama dengan kalung yang dikenakan Bellatrix. Kita harus masuk ke sana" kata Harry.

"Luna, jangan kuatir, naga itu terikat, kita dapat ke sana, namun jangan sampai kita terkena semburan api dari mulutnya. Dean, sementara kita menyebrang ke sana, bisakah kau tetap di tempat ini dan mencoba alihkan perhatian naga itu?"

"Harry, kau gila. Enak saja kau bicara seperti itu. Baru kali ini aku berhadapan langsung dengan naga. Kalau kau mungkin sudah pernah saat pertandingan triwizard dulu. Aku tidak tahu cara mengalihkan perhatiannya" sembur Dean dengan nada ketakutan.

Harry lalu mengarahkan tongkatnya ke arah bebatuan yang ada di dekat naga, mentransfigurasinya menjadi beberapa anjing yang langsung menjadi sasaran amuk si naga. Pada saat naga itu menghadapi anjing buatan Harry, dengan segera Harry meraih tangan Luna, mengandengnya dan berlari menyeberangi aula menuju pintu vault. Sialnya, anjing-anjing buatannya tak bertahan lama, dalam sekejap langsung hancur di terjang naga, dan perhatian naga itu kembali ke Harry dan Luna, menutupi jalan di depannya. Luna spontan menjerit ketakutan dan Harry segera menarik Luna mundur di belakangnya, melindunginya.

"Avis…maxima…Avis...Maxima AVIS MAXIMA…" Dean mengayunkan tongkatnya beberapa kali, segera puluhan burung berbagai ukuran terbang ke arah naga dari tongkat Dean. Tentu saja naga itu terusik dengan hadirnya banyak burung mengitarinya. Sejenak perhatian naga itu teralihkan dan berbalik arah, Harry segera kembali menyeret Luna kembali berlari ke arah pintu vault.

Tapi tanpa diduga oleh mereka khususnya oleh Dean, naga itu menjadi sangat marah dan segera mendekat ke arah Dean, membuka mulutnya lebar-lebar, menyemburkan api yang sangat besar. "DEAN….AWAS…!." teriak Luna.

Rupanya Dean cukup beruntung, dia sempat berlindung dibalik batu besar. Tapi keberuntungan itu tak bertahan lama karena batu itu meleleh terkena api naga. Segera saja tas yang dikenakan Dean ikut terbakar. Dean lalu berguling ke belakang, hendak memadamkan api yang menyambar tasnya yang terbakar di punggungnya. Namun rupanya takdir berkata lain, Dean sepertinya lupa kalau tasnya juga berisikan dinamit yang diberikan oleh Fred dan George.

Tas itu meledak di punggung Dean dan melemparkan potongan tubuh Dean kemana-mana. "DE…DEANN!" jerit Luna. Harry dan Luna terduduk lemas, melihat kejadian di depan mata mereka. Luna tersedu-sedu memanggil nama Dean. Harry tak bisa berkata-kata apapun, dan hanya terdiam lemas. Harry shock, dia merasa bersalah. Seharusnya dialah yang menghadapi naga itu. Dialah yang sebelumnya pernah menghadapi naga. Dean tadi sudah mengatakan kalau dia belum pernah menghadapi naga. Dean tadi sangat ketakutan menghadapi naga. Kalau saja dia tadi menyuruh Luna dan Dean menyeberang duluan, tentu ini tidak terjadi. Harry merasa dirinya yang bersalah. Mungkin dia ingin dipuji oleh Luna, dia ingin terlihat pemberani di depan Luna. Dia ingin dekat dengan Luna…. Dia merasa….bersalah ….Setelah Hermione, kini Dean yang menjadi korban. Semuanya gara-gara dia.

"HARRY…HARRY…." seseorang memanggilnya dari belakang.

Harry menoleh ke belakang dengan segera, dia merasa suara itu tak asing lagi baginya.

"Her….Her..Mio…ne..Hermione" suara Harry terbata-bata. "Apa yang terjadi padamu? Kau…kau…"

"Cepat masuk ke dalam vault. Temukan segera horcrux itu. Piala Huffelpuff. Bellatrix hampir tiba, dia sudah hampir tiba di pintu level 7. Luna kaukah itu? Selagi kau masih dalam wujud Bellatrix, kau harus segera memegang lambang keluarga Lestrange itu dan mengucapkan PURE BLODD"

Luna juga berpaling dan terkejut dengan kedatangan Hermione yang transparan dan melayang-layang.

"Kau..kau..Her..Mione..kau" jawab Luna terbata-bata.

"HUEIIIIII, KALIAN ! cepatlah sadar. Cepat masuk dan temukan dengan segera. Tentang aku nanti saja" sahut Hermione dengan keras dan galak.

Segera Luna bangkit bediri menuju ke pintu vault diikuti oleh Harry. Luna meletakkan telapak tangan kanannya dan berkata "PURE BLOOD" sejenak tak terjadi apa-apa. Sang naga juga makin mendekat. Namun sesaat, tiba-tiba gua bergetar keras, beberapa batu mulai berjatuhan. Lalu tergeserlah pintu vault membuka.

Bersamaan dengan itu, puluhan goblin telah tiba di aula besar dipimpin oleh Belatrix Lexstrange dan Ronald Weasley. Mereka tampak berantakan dan kecapaian, beberapa diantaranya terlihat memar dan pincang. Rupanya siasat Harry dan Luna cukup menghambat mereka.

"POTTER! Kena kau kali ini" teriak Bellatrix sambil mengarahkan tongkatnya, namun serangannya batal karena sang naga mulai menyerang gerombolan yang baru tiba.

"Ron!.." desis Harry ketika melihat sahabatnya di samping Bellatrix. Namun Luna segera menarik masuk Harry ke dalam vault.

Harry dan Luna masuk ke dalam vault dan pintu vault segera menutup. Harry dan Luna melihat bahwa gua itu merupakan tempat yang penuh dengan tumpukan galeon dan sickle, juga piala-piala, baju zirah perak, botol-botol berisi ramuan yang berwarna hijau berkilauan, beberapa tengkorak yang masih memakai mahkota, beberapa pedang bertahtahkan permata, dan masih banyak lagi perhiasan bertumpuk-tumpuk.

Harry hanya memandang berkeliling saja, sementara Luna perlahan maju, lalu dia menjerit kesakitan, Harry otomatis mengarahkan tongkat padanya dan melihat piala emas berguling dari tangannya. Saat piala itu jatuh, piala itu membelah, menjadi puluhan piala, sehingga sedetik kemudan, dengan bunyi gemerincing yang berisik, lantai sudah tertutup dengan piala-piala emas di semua penjuru, yang asli mungkin tak dapat dibedakan lagi.

"Piala itu hampir membakarku!" jerit Luna sambil mengibas-ngibaskan tangan yang sudah melepuh.

"Mereka tentu sudah menambahkan Kutukan Pembakar dan Geminio" sahut Hermione yang ternyata ikut masuk ke dalam vault bersama mereka.

"Sebaiknya kita jangan menyentuh apapun hingga kita menemukan apa yang kita cari" kata Hermione melanjutkan. "Piala itu bentuknya kecil dan terbuat dari emas. Ada lambang Musang Hafflepuff terukir di sisinya. Pegangannya ada dua".

Mereka memandang sekeliling mereka, berusaha mencari piala yang digambarkan oleh Hermione. Harry menambah koleksi ratusan piala dengan kakinya. Kini ruangan itu telah penuh dengan piala palsu sebatas betis mereka. Beruntung mereka, Harry dan Luna mengenakan celana panjang kulit sehingga rasa panas dari piala palsu itu cukup teredam. Akhirnya Hermione berteriak sambil menunjuk ke rak bagian atas gua.

"Harry. Itu dia pialanya. Hafflepuff Cup".

"Acio..Hafflepuff Cup!" kata Harry sambil mengarahkan tongkatnya.

"No..Harry..kau tak akan bisa memanggilnya dengan sihir. Kau harus mengambilnya langsung".

"Ini dia….aku akan menggunakan sapu" kata Harry sambil membuka tas milik Hermione, mengeluarkan sapu pinjaman si kembar.

"Hermione, tasmu sangat berguna. Kau harus mengajarkan padaku cara membuat tas seperti ini" kata Harry

Hermione tersenyum, "Tentu Harry, aku akan mengajarimu nanti".

"Hati-hati" kata Hermione saat Harry menaiki sapunya.

Harry mengarahkan sapunya ke atas bebatuan, mendekat ke piala Hafflepuff. Segera tangannya meraih piala dan piala itu berpendar kebiruan, dalam sekejap perutnya terasa terbalik, dia merasa dihisap dan berputar hingga akhirnya dia jatuh di suatu tempat.

Luna terkejut dalam sekejap mata Harry lenyap dan berteriak "HARRRYYYY !..."

"Itu PORTKEY!. Ternyata portkey bisa dilakukan di vault ini" kata Hermione.

"Kemana portkey itu membawa Harry?"

"Aku tidak tahu Luna. Bisa jadi ke tempat Mafloy atau Kau-Tahu-Siapa. Seperti 2 tahun lalu".

"Merlin, Harry bisa mati kalau begitu …" kata Luna dengan ekspresi yang marah bercampur sedih

"Cepat Luna, kau juga harus segera pergi dari tempat ini. Apakah kau bisa membuat portkey?"

"Tapi bagaimana dengan Harry?" tanya Luna

"Kita tak bisa apa-apa sekarang. Kau kembali saja dulu. Serahkan Harry padaku. Bagaimana apakah kau bisa membuat portkey?"

"Ada, kami tadi sudah memiliki portkey untuk berjaga-jaga, tapi aku belum mengaktifkannya"

"Cepat aktifkan dan segera pergi. Aku akan menghambat mereka" kata Hermione sambil melemparkan piala-piala sehingga vault menjadi sangat-sangat penuh.

"Kau jangan kuatirkan aku, nanti aku akan menyusulmu dan mencari tahu di mana Harry".