DISCLAIMER: Created in the world belonging to J.K. Rowling and no money here. Just for fun.
Chapter 8: Luna versus Bellatrix
Luna mengambil benda mirip sickle dari sakunya yang sudah disiapkan oleh si kembar menjadi portkey. Memang tadi mereka belum mengaktifkannya karena mereka menyimpannya hingga situasi yang mendesak dan benar-benar diperlukan. Dia lalu mengarahkan tongkat sihirnya ke sickle palsu tersebut, berbisik "portus" sambil memutar tongkatnya 2 kali. Dalam sekejap sickle itu menyala kebiruan, Luna segera mengegamnya erat-erat. Seketika tubuhnya tersedot oleh suatu pusaran dan berputar. Namun tak disangka olehnya tubuhnya menghantam langit-langit vault beberapa kali dengan keras dan akhirnya dia jatuh terhempas ke tanah. Luna menjerit karena kesakitan, wajahnya terluka karena menghantam kumpulan piala yang menyengatnya, bahkan mungkin ada beberapa tulangnya yang retak. Lengan dan kakinya sepertinya memar. Segera tubuhnya pelahan mulai tenggelam dalam lautan piala yang makin menggunung karena tersentuh oleh tubuhnya. Sickle palsu-nya jatuh entah kemana.
Sialnya, sebelum Luna sempat bangkit berdiri, Bellatrix telah memasuki vault. Awalnya Bellatrix tertengun melihat tumpukan piala yang meluap ke arah pintu. Bellatrix segera mengarahkan tongkatnya, "Finite Incatem" dan kumpulan piala mulai menghilang satu-per satu hingga akhirnya tampaklah tubuh Luna, masih dalam wujud Bellatrix terbujur tak berdaya di dekat sebuah tengkorak yang berhiaskan permata. Bellatrix maju ke depan sambil tertawa.
"hahaha, akhirnya tertangkap juga penyusup ini. Berani-beraninya kau menyamar menjadi DIRIKU! Mana Potter dan temanmu yang satu lagi" tanyanya galak sambil menyodokkan tongkatnya ke wajah Luna.
Luna diam tak menjawab karena masih menahan sakit di sekujur tubuhnya. Dia hanya mengerang saja.
Bellatrix lalu kembali bertanya sambil menjambak rambut Luna, membuatnya berdiri. Tongkat Bellatrix menempel pada pipi Luna.
"Ah….aduh sakit….., lepaskan!" teriak Luna memohon.
Bellatrix mengindahkan permohonan Luna
"Ayo, lekas jawab pertanyaanku. Mana Potter dan temanmu yang satu lagi? Apakah kau mau pipimu berlubang?" sambil melototkan matanya, mendekatkan wajahnya ke kepala Luna
Kembali Luna diam tak menjawab.
"Sepertinya kau mau bermain-main dulu denganku, MANISS!" sindir Bellatrix sambil menjejalkan tongkatnya dalam-dalam ke pipi Luna.
"Ach…SAKIT!"
"SAKIT…HANYA BEGITU SAJA KAU BILANG SAKIT….HAHAHAHA…INI BELUM SEBERAPA"
"Aku…aku tak tahu Harry ada dimana, dia menyentuh portkey dan lalu menghilang" kata Luna dengan suara gemetar kesakitan.
"PORTKEYYY!. Kamu kira aku bodoh…" teriak Bellatrix
"LEVICORPUS…."
"WACHH…."
Luna menjerit kesakitan ketika tubuhnya tergantung terbalik dengan cengkraman yang menyakitkan di tumitnya
"KAU HENDAK BERMAIN KAN…. MANIS. AYO KITA MAIN-MAIN DULU…" "CRUCIO"
"ACHH….Ampun…sudah-su..dah. sakit sekali".
"SEKALI LAGI KUTANYA MANISSS….MANA POTTER DAN TEMANMU YANG SATU LAGI….."
"Aku…aku sudah katakan, tak tahu Harry ada dimana. Dia tadi sepertinya menyentuh portkey dan lalu dia menghilang" kata Luna terbata-bata menahan sakit.
"LAGI-LAGI KAU BILANG PORTKEYYY!" teriak Bellatrix.
"Asal kau tahu saja, tak ada portkey yang berfungsi di Gringott. Memangnya kamu tak tahu itu" jerit Bellatrix.
"Aku kira semua anak Hogwarts tahu tentang itu. Apalagi kalau keluargamu punya vault disini, pasti sudah diberitahukan pada saat kau pertama kali datang"
"HAYOOO ..CEPAT KATAKAANN…! MANA POTTERRRR!" teriak Bellatrix sambil kembali menjambak rambut Luna dengan kasar
"Ahhh…sakittt!. tak tahu. Aku kira itu Portkey.. soalnya ada cahaya biru menyertainya dan Harry seketika menghilang" jawab Luna
"CRUCIO…" Bellatrix kembali merapal sihirnya ke Luna
"AAACH…Ampuun….sung...guh aku tidak tahuuu ach…..Harrry lenyap se..te…lah meme..gang piala Haffle…puff ituu…ach…sakit. Tolong hentikan…." Jerit Luna terbata-bata karena kesakitan.
"KATAKAN!..Mengapa dia mengambil Piala Hafflepuff itu? Apakah KEISTIMEWAAN PIALA itu?" tanya Bellatrix
"Aku..aku tak tahu sungguh…" ratap Luna
"JANGAN BOHONG…!. Kalau piala itu tidak istimewa, mengapa dia repot-repot masuk keMARI. Apa dia mau cari mati..! KATAKAN SEJUJURNYA! Pasti ada yang spesial dengan piala itu"
"CRUCIO..!"
"ACHHHH AMPUNNNNNN Kumohon….ACHHHHHH!.
Kembali Luna merintih dan menjerit kesakitan karena berbagai siksaan yang dilakukan Bellatrix. Akhirnya setelah sekian lama, Luna terlihat menyerah dengan perbuatan Bellatrix. Dengan nada menyesal dan mimik wajah kesakitan Luna meratap
"Ba…baik. Baiklah…, se…sebenarnya…dia pernah mendapatkan catatan dari Dumledore, aku tak begitu paham. Bahwa kalau minum resep ramuan tertentu dengan menggunakan piala Hafflepuff itu, maka akan membangkitkan kekuatan sihir yang terpendam dalam tubuh. Ha..rry ..Harry mau menggunakannya untuk melawan…..Vol…de.."
"Jangan sebut nama itu. Aku saja tak boleh menyebutnya. APALAGI KAUUU,… darah murni penghianat. Seharusnya kaum penyihir malu dengan keberadaan penghianat darah murni seperti dirimu" ejek Bellatrix sambil kembali menyodokkan tongkatnya ke pipi Luna
"DAN…KAU BOHONGGGG. AKU TAK PERNAH MENDENGAR CERITA SEPERTi ITU"
"Aku tak bohong!." jerit Luna.
"Mulanya aku juga tak percaya, tapi catatan dari Dumbledore mengatakan itu. Jadi Harry berupaya untuk mendapatkannya" Luna kembali melanjutkan bualannya.
"LALU, KEMANA TEMANMU YANG SATU LAGI?"
"Dean …Dean sudah tewas terkena ledakan, gara-gara naga di depan itu…Hik…hik…hikk" tangis Luna
Saat itu rupanya pengaruh Polijuice sudah habis, tubuh Luna yang masih tergantung bergoncang keras karena tubuhnya kembali ke wujud aslinya, wujud Luna yang sebenarnya. Perubahan itu menambah rasa sakit yang dialami Luna. Tangis Luna semakin menjadi, entaah kesakitan atau takut atau karena mengingat kejadian Dean.
"HAHAHA…TERNYATA KAU LOVEGOOD. KAU BERANI SEKALI MENYAMAR MENJADI DIRIKU.…." teriak Bellatrix. "Kalian yang berdarah murni seharusnya berpihak kepada Pangeran Kegelapan. Dia berambisi untuk menyingkirkan semua darah kotor dan muggle"
"Apakah kau lihat situasi sekarang? Sekarang pembersihan sudah mulai di lakukan. Di tempat ini, pengunjung Diagon Alley sudah bersih dari darah kotor. Semuanya darah murni. Seharusnya seperti inilah dunia. Kau akan menyusul temanmu tak lama lagi"
Tanpa disadari oleh Bellatrix, Hermione muncul di belakangnya. Luna melihatnya. Hermione berbisik-bisik tanpa suara berupaya memberikan kode agar meneruskan ocehannya dan sambil menunjukan sickle palsu milik Luna dan menuding-nuding Bellatrix.
"Kalau aku pikir-pikir kembali, sebenarnya…, sebenarnya aku sudah cukup lelah menemani Harry. Aku tidak seperti Granger yang dapat menemaninya berbulan-bulan. Selama ini aku menemaninya karena aku ingin mendapatkan hatinya. Tapi dengan situasi seperti ini aku takut. Dan mungkin tidak bijaksana bila aku tetap di sisinya. Jadi aku berpikir untuk menjadi pihak yang netral setidaknya untuk saat ini.
Ngomong-ngomong, tadi aku melihat Weasley. Apakah dia berada di pihakmu?"
"KAU KIRA AKU PERCAYA OCEHANMU"
"Dengar, kubuktikan kalau aku tak bohong. Aku dapat memberitahukan kekuatan kami padamu. Begini saja, untuk awalnya, akan kujelaskan semua penyusup Gringoots.
Kami sebenarnya masih punya banyak penyusup. Tidak seperti yang kau lihat, hanya ber-tiga. Tapi ada beberapa penyusup lain yang sudah masuk dan juga masih menjaga di luar Gringotts. Lihatlah di sakuku ada sekeping galeon untuk berkomunikasi. Coba kau lihat" pinta Luna
"AWAS KALAU KAU BERBOHONG"
Bellatrix memeriksa saku jubah Luna, merabanya dan menemukan beberapa keping sickle dan 2 keping Galeon.
"Lihatlah galeon yang bentuknya lebih pipih dan berwarna agak kemerahan"
Bellatrix melihatnya dan segera membaca tulisan yang tertera "Bellatrix & Ron tiba"
"Kau lihat, sebenarnya kami sudah tahu kalian datang. Kami punya teman lain di atas"
"Nah untuk membalas berita itu, harus dengan sickle yang ada di sebelah kakimu" kata Luna tanpa memberi kesempatan Bellatrix untuk bertanya, sambil melihat ke arah sickle.
"Aku dapat mengarahkan mereka kemari pun dengan mengirimi pesan ke teman-teman kami lainnya"
"Baik, kita lihat nanti. Kalau mereka semua sudah tertangkap, barulah aku percaya ucapanmu. Mungkin aku akan memohon pada sang pangeran untuk mempertimbangkan kau menjadi bagian dari kami. Tapi tentunya tak semudah itu. Akan ada test untuk membuktikan kesetiaanmu sebelumnya."
Bellatrix membungkuk hendak mengambil sickle yang ditunjukan oleh Luna, namun tak disangkanya sickle itu berpendar kebiruan begitu menyentuh jemarinya. Namun dia tak sempat menariknya. "SIA… Waaaaaaau….!" teriak Bellatrix. Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, pusaran yang kuat menarik dan memutar tubuhnya. Tubuh bellatrix menghantam langit-langit dan dinding berkali-kali, terakhir tubuhnya terhempas pada tumpukan piala dan coin. Bellatrix setengah pingsan, namun masih berusaha bangkit. Tongkatnya entah jatuh di mana. Saat itu juga kutukan levicorpus Luna terlepas sehingga Luna kini jatuh dan terbebas. Luna segera bangkit, menghantam kepala Bellatrix dengan gagang pedang yang sempat diraihnya, dan Bellarix terbujur pingsan.
"Wahhh…Luna, kau lumayan juga ya" kata Hermione.
"Hermione! Apanya yang lumayan. Kau tahu, aku tadi sudah sangat ketakutan"
"Tapi akting kamu benar-benar sangat meyakinkan lho. Aku jadi berpikir lagi apakah kau benar-benar menyukai Harry? tanya Hermione dengan nada curiga dan pipinya terlihat makin memutih.
"Hermione, please deh…kan aku tadi hanya membual saja ke Bellatrix. Jangan diambil hati…Apakah kau masih punya perasaan pada Harry? Aku baru tahu ternyata hantu bisa cemburu juga yah" ledek Luna membalas gurauan Hermione, namun Luna juga tidak dapat menyembunyikan pipinya yang menjadi kemerahan.
"Hehe…Luna, sepertinya kau tidak sepenuhnya berbohong tadi…. Lagipula aku bersyukur kau mau menemani Harry hingga saat ini. Aku rasa kita tidak boleh membuang waktu. Aku punya akal, minumkan polyjuice dengan rambutmu pada Bellatrix, dan kau juga minum polyjuice dengan rambutnya. Jadi kalian saling bertukar. Jangan lupa juga bertukar pakaian dengan dia. Cepat sebelum dia sadar".
Luna segera membuka tasnya, dan melihat ramuan polyjuice tinggal sedikit.
"Sepertinya aku hanya sedikit waktu. Polyjuicenya tinggal sedikit, dan kalau harus diminum berdua, mungkin hanya sekitar 30 menit saja waktu yang kupunya" kata Luna
"Aku rasa tak apa, yang penting kau harus segera pergi dari tempat ini secepatnya" kata Hermione
"Lalu bagaimana dengan Harry" tanya Luna
"Biar aku saja yang mencari tahu dan sebaiknya kau segera kembali ke Hogwarts karena aku punya firasat di sana ada horcrux juga" kata Hermione
Luna segera mencabut beberapa helai rambut Bellatrix dan juga rambutnya, lalu meminumkan pada Bellatrix dengan susah payah membuka mulut Bellatrix karena masih pingsan. Terakhir dia meminum sisanya setelah sebelumnya ditambahkan rambut Bellatrix.
Luna dan Bellatrix segera bertukar penampilan, Luna segera melucuti jubah Bellatrix dan jubahnya. Dia segera memakai jubah Bellatrix dan sebaliknya jubahnya juga dikenakannya pada Bellatrix. Semuanya memakan waktu kira-kira 15 menit. Cukup yang tersisa makin sempit, mengingat khasiat polyjuice tinggal sebentar.
Kini Luna sudah berpenampilan bak Bellatrix , sebelumnya sempat menyita tongkat Bellatrix segera keluar dari vault. Dia melihat beberapa goblin masih sibuk mengendalikan naga yang mengamuk. Ron terlihat sedang berdiri di depan vault sambil mengamati. Luna lalu berteriak
"KALIAN, SEGERA BAWA GADIS ITU KE TEMPAT KU"
Avery yang masih dalam wujud Ron lalu bertanya "Kau tak apa-apa, Bellatrix?"
"Weasley, sejak kapan kau mencemaskan aku? Kau saja yang urus dia. CEPAT!. Aku harus buru-buru melapor pada pangeran!" dengus Luna
"Weasley? Kau memanggilku Weasley? tanya Avery curiga.
Avery segera melongok ke dalam vault dan melihat bellatrix dalam wujud Luna terbujur pingsan tak bergerak. Lalu dia bertanya "Mana lainnya?"
"Potter menghilang, Thomas, anak yang satu lagi sudah tewas menurut pengakuan gadis itu. Dan KAU!…Jangan sekali-kali berani bertanya padaku dengan nada seperti itu!" teriak Luna.
"Lakukan dengan cepat dan kita harus segera kembali. Aku harus melaporkan hilangnya Potter pada sang pangeran. Begini saja, kau urus gadis itu dan aku akan kembali dulu ke atas" kata Luna sambil menatap Ron.
"Dan kau, cepat antarkan aku kembali ke atas!" perintah Luna pada salah satu goblin di dekatnya "Pangeran harus segera tahu tentang menghilangnya Potter!".
Luna menaiki kereta yang ada di hadapannya, namun belum juga kereta melaju, Avery telah menghadang.
"Bellatrix, tadi kau memanggilku Weasley. Kau tahu kan seharusnya aku ini siapa. Coba sebutkan kata kunci untuk masuk ke lemari rahasia di kamarmu" kata Avery sambil mengarahkan tongkatnya ke arah Luna.
"Kau berani mengancamku" teriak Luna
"Maaf, aku hanya perlu membuktikan rasa curigaku" kata Avery
"KAU…KATA KUN…KATA KUNCINYA…..DARAH MURNI" teriak Luna sambil tangannya sudah bersiap dan memegang erat tongkatnya di dalam saku jubahnya.
"KAU PUAS?" tanya Luna
Avery tersenyum, "Ya, aku sangat puas. Puas karena kau salah. Kau berbohong. Aku tahu, kau bukan Bellatrix. Kau tahu, tidak ada kata kunci untuk membuka lemari"
"Kau sebaiknya menyerah dan aku hanya akan mengikatmu. Atau kalau kau melawan, jangan harap kau bisa selamat" kata Avery
Luna segera mengeluarkan tongkatnya, namun terlambat karena gerakan tongkat Avery lebih cepat darinya
"STUPEFY…"
