DISCLAIMER: Created in the world belonging to J.K. Rowling and no money here. Just for fun.

Chapter 12: Déjà Vu

Fred, George, Bill, dan juga Ginny segera berlari keluar, menutup pintu cepat-cepat lalu berlindung di balik tembok yang agak jauh di luar toilet. Lima detik kemudian terdengar bunyi ledakan BLAAAMMM! yang sangat keras dan mengetarkan dinding. Goncangan terasa hingga ke tempat mereka berlindung, seakan seluruh dinding kastil akan ambruk. Tak lama setelah ledakan, mereka berempat segera berlari kembali masuk ke dalam toilet. Saat mereka masuk, asap tebal menyelimuti seisi toilet, beberapa pintu kamar mandi dan wastafel hancur, dinding dan lantai basah terkena semburan air dari pipa-pipa yang hancur. Rupanya dinamit yang mereka pasang telah menghancurkan wastafel yang berukir kepala ular, pintu masuk ke kamar rahasia tempat Ginny ditemukan oleh Harry. Sebuah lobang yang besar dan gelap tampak di lantai di bawah wastafel yang sudah hancur.

Mereka berempat, Bill, George, Ginny diikuti oleh Fred paling belakang segera menuruni tangga besi yang menempel di salah satu sisi lobang, meskipun beberapa terlihat hancur, namun mereka dapat memperbaikinya dengan cepat berkat "Reparo!"

Setibanya di dasar lobang, Ginny segera berjalan bergegas mendahului kakak-kakaknya, dia berjalan paling depan, karena dia pernah masuk ke sana. Jalan mereka kemudian terhalang oleh reruntuhan batu yang menyumbat jalan. Reruntuhan itu rupanya belum disingkirkan sejak peristiwa terbukanya kamar rahasia di tahun pertama Ginny masuk Hogwarts, hanya tersisa celah kecil yang dulu dapat dilalui olehnya dan Harry, tapi tidak sekarang karena tubuhnya telah tumbuh beranjak dewasa apalagi postur tubuh kakak-kakaknya. Tentu saja mereka kesulitan melewati celah kecil tersebut sehingga mereka harus memperbesar celah yang ada. Ginny menyalakan cahaya dari ujung tongkatnya, "Lumos" sementara ketiga kakaknya mulai menyingkirkan batu-batu yang menyumbat jalan mereka.


Severus Snape telah kabur dari Hogwarts tak lama setelah terdesak dalam bentrokan dengan McGonagall yang dibantu oleh Flitwick. Pihak ordo telah mengikat dan menahan Carrow bersaudara di salah satu ruangan kelas yang secara khusus telah disihir sehingga yang hanya dapat dibuka oleh anggota ordo. Bersama Carrow, juga ditahan beberapa death eater yang berhasil dilumpuhkan oleh para anggota ordo dan anggota Dumbledore's Army lainnya termasuk Harry yang sempat mengamuk tadi.

Saat ini bentrokan telah berhenti, sepertinya telah terjadi gencatan senjata. Pihak Hogwarts dan pihak Death Eater masing-masing menahan diri untuk tidak saling menyerang. Professor McGonagall telah meminta seluruh staf Hogwarts untuk memperbaiki sistem pertahanan Hogwarts. Beberapa patung, baju zirah telah dihidupkan oleh sihir. Mereka semua turut berpatroli di sekeliling Hogwarts, juga di sepanjang lorong dan tangga khususnya di dekat pintu dan jendela. Tak ketinggalan pula para hantu ikut serta berkeliling Hogwarts. Tonk, Lupin, dan beberapa anggota ordo lainnya tampak lalu lalang di sepanjang lorong berpatroli memantau situasi.

Di sudut-sudut kastil Hogwarts banyak orang duduk beristirahat. Beberapa tampak mengobati rekannya yang terluka. Mereka yang terluka parah telah dibawa ke Madam Promfrey. Bangsal rumah sakit sekolah sudah penuh dengan murid yang luka-luka. Katie Bell dan beberapa anggota ordo terlihat membantu menyembuhkan orang-orang yang terluka.

Molly Weasley dan suaminya Arthur, terlibat kebingungan karena mereka tak menemukan anak-anak mereka selain Percy dan menantu mereka Fleur. Molly terlihat menangis terus, sementara suaminya berusaha menghiburnya, "kurasa mereka selamat, karena mereka tak terlihat di rumah sakit" begitu ucapan suaminya, Arthur.


Harry, The Chosen One tampak terduduk di satu sudut ruangan kelas. Neville, Luna, Lavender, Jordan dan juga Hermione mencoba menghiburnya namun usaha mereka tidak berhasil. Pandangan mata Harry seakan hendak membunuh sedangkan nafasnya seakan tertahan karena menahan kemarahan. Neville mencoba memanterai Harry dengan mantera penenang, namun gagal karena Harry segera melontarkannya kembali dan mengenai dinding. "Jangan coba-coba mengangguku!" teriak Harry pada Neville.

Sambil menemani Harry, semua berbisik-bisik dan mengira-gira apa yang sekiranya akan terjadi setelah ini. Luna mencoba mencairkan suasana dengan menceritakan kondisi Harry saat ini sama seperti saat kehilangan Hermione dimana Dobby menguyurnya dengan air dingin sehingga Harry tersadar. Namun sepertinya saat ini mereka tak ingin menganggu atau berbuat iseng pada Harry. Beberapa dari mereka telah merasakan pedihnya kehilangan teman dan sahabat, bahkan Hermione yang melayang di dekat Harry tampak jelas mendelik ke Luna sebab menurutnya lelucon itu sama sekali tidak lucu.


Cukup lama mereka semua berdiam diri, Harry masih saja duduk termenung di ujung meja saat McGonagall memasuki ruangan kelas, dia meminta mereka semua ikut berkumpul bersama murid-murid lainnya di aula besar. Harry yang terluka menolak untuk diajak ke rumah sakit, dia ditopang oleh Neville dan Jordan menuju ke aula besar. Setibanya disana, hampir semua murid telah berkumpul, suasana tampak agak gaduh, banyak terdengar suara kekhawatiran murid-murid yang ketakutan, sementara sebagian lagi justru memilih berdiam saja sambil menikmati santapan sederhana yang disediakan bagi mereka. Meski hanya ditemani oleh Luna dan Neville di samping kanan kirinya Harry tak bersuara sedikitpun, dia hanya menatap lantai dan makanan yang telah diambilkan oleh Luna juga tak disentuhnya. Bahkan gosip tentang kaburnya Snape dari Hogwarts yang sedang hangat-hangatnya dibahas oleh seluruh asrama (kecuali Slytherin tentunya) diabaikan begitu saja meski murid-murid lainnya bersorak gembira untuk itu.

Selang beberapa waktu para professor telah menghitung jumlah murid dan staff yang berkumpul di sana, kemudian professor McGonagall meminta perhatian dari semua yang hadir khususnya para murid Hogwarts. Dia menekankan bahwa saat ini Hogwarts berada dalam kondisi darurat. Dia mengabarkan bahwa kondisi pertahanan sihir yang selama ini melingkupi kastil Hogwarts tak akan mampu bertahan lama bila pasukan death eater kembali menyerang karena pertahanan sihir Hogwarts telah melemah sejak tahun lalu sepeninggalan Dumbledore. Di samping itu para murid dilarang pergi jauh terutama ke arah gerbang Hogwarts yang telah porak poranda dan juga ke menara astronomi yang telah hancur bagian atapnya. Karena situasi yang sedang mereka hadapi cukup membahayakan bagi para murid, para proffesor dan staff Hogwarts berinisiatif mengambil beberapa tindakan darurat diantaranya termasuk mengungsikan semua murid khususnya yang masih berusia di bawah 17 tahun, yang sebagian besar adalah murid kelas lima kebawah. Mereka juga membuat larangan bagi murid-murid untuk berjalan sendirian di lorong-lorong Hogwarts.

Puncak dari berita yang disampaikan oleh McGonagall adalah tuntutan dari "Dia yang namanya tak boleh disebut" agar mereka menyerahkan Harry Potter secara sukarela tanpa syarat dalam waktu satu jam dan Voldemort menjanjikan seluruh pasukannya termasuk dirinya akan meninggalkan Hogwarts, dan apabila tuntutan itu tidak dipenuhi maka Hogwarts akan diratakan dengan tanah dan seluruh penghuninya akan dibantai.

Langsung saja kegaduhan terjadi, semuanya memandang ke arah Harry yang masih saja duduk termenung di meja Gryffindor.

Harry yang sedari tadi duduk tenang di samping deretan meja Gryffindor rupanya benar-benar tidak memperhatikan pengumuman dari McGonagall. Dia bahkan tak terganggu oleh keributan yang terjadi yang menyangkut dirinya padahal semua anak termasuk murid-murid Gryffindor larut dalam kegaduhan itu.

Di meja Slytherin semua anak sepertinya mendukung Pansy Parkison yang rupanya menuntut professor McGonagall agar Harry Potter diserahkan saja sehingga Hogwarts tetap utuh sambil menunjuk Harry yang berada di meja Gryffindor.

"Ini semua gara-gara Potter!. Kalau saja dia tidak kembali ke Hogwarts maka semua ini tidak akan terjadi. Kenapa tidak kita serahkan saja Potter, dan semua death eater serta dia yang namanya tak boleh disebut akan meninggalkan Hogwarts dan kita dapat belajar kembali dengan tenang".

Murid-murid asrama Slytherin yang lain bersorak mendukung pendapat Pansy. Melihat itu, murid-murid dari ketiga asrama lainnya segera bangkit berdiri dan mengarahkan tongkat mereka semua pada meja Slytherin.

"STOP!, semuanya turunkan tongkat kalian! dan terima kasih atas pendapatmu Miss Parkison. Sudah aku putuskan, sekarang semua murid asrama Slytherin akan menjadi rombongan pertama yang dievakuasi. Semuanya! Dari kelas satu hingga kelas tujuh, juga para prefek Slytherin. Kalian akan berjalan terlebih dahulu menuju Hogsmeade untuk naik kereta meninggalkan Hogwarts" teriak McGonagall dengan berapi-api sampai Flitwick berusaha menenangkannya dengan menepuk-nepuk punggungnya.

"Dan asrama yang lain, segera menyusul" lanjutnya.

Sebenarnya penjelasan dari Professor McGonagall sebenarnya sangat jelas, intinya mengenai keselamatan para murid dan mempertahankan Hogwarts. Artinya dia tidak akan menuruti keinginan Voldermort dan para pengikutnya. Dia sudah siap mempertahankan Harry dan juga Hogwarts hingga titik penghabisan.

Sementara para murid Slytherin sudah mulai berbaris meninggalkan aula besar, Harry masih saja duduk dengan pandangan kosong di kursinya, dan disekelilingnya, para murid asrama lain berbisi-bisik sebagian mungkin kuatir dan sebagian lagi memilih akan ikut bertahan, sebagian lagi menjadi resah karena perkembangan situasi di Hogwarts. McGonagall dan para professor sudah mulai mebagi tugas dengan para staff dan professor yang lain, mereka semua rupanya sudah sepakat untuk tidak menyerahkan Harry Potter dan akan mempertahankan Hogwarts. Murid Hogwarts kelas 5,6, dan 7 kecuali asrama Slyterin yang bersedia membantu diperbolehkan, namun untuk kelas yang lain dihimbau agar pergi dari Hogwarts menuju tempat evakuasi di dekat Hogsmeade. Begitu pula untuk mereka yang tidak ingin terlibat dalam peperangan ini diperbolehkan untuk mengungsi.

Entah karena melihat keributan yang ada di depannya atau mendengar suara McGonagall tepatnya, Harry tersadar dari lamunannya. Dia bangkit berdiri, berlari dengan agak terpincang-pincang menuju pintu depan tanpa seorang pun sempat mencegahnya.


Harry akhirnya tiba di halaman Hogwarts dekat pintu gerbang. Setibanya di sana Harry setengah berlari menuju pintu gerbang. Beberapa patung yang menjaga pintu gerbang membiarkannya keluar, rupanya mereka dapat mengenali siapa musuh dan siapa di pihak Hogwarts. Harry rupanya hendak berjalan menuju ke arah hutan, tempat Voldemort berada, menurut nalurinya.

Baru beberapa langkah Harry berjalan, lalu dia merasakan sesuatu bagaikan Déjà vu. Saat itu juga ia mendengar suara yang tak akan pernah dilupakan seumur hidupnya. Suara yang mampu membuat jantungnya berhenti berdetak. Harry menghentikan langkahnya.

"Gadis yang cantik… hehehe, traktiran yang bagus. Aku akan menikmatinya. Kulitmu kelihatannya sangat lembut dan putih"

"Tidak!..Tidak!.." terdengar suara gadis menjerit " Keluargaku berdarah murni. Kalian tak boleh…"

"Siapa yang perduli status darahmu, tidak akan ada yang menyangka kalau kami yang berbuat….hehehe.."

"TOLONG!…TOLONG.!" kembali suara itu berteriak meminta tolong

"Berteriaklah terus di sini tak ada yang mendengarmu. Hehehehe.."

Suara gadis itu terus berteriak meminta tolong sementara terdengar suara tertawa terbahak-bahak yang mengejek gadis itu.

Darah Harry seakan mendidih mendengar suara itu, suara yang sama yang dia dengar beberapa bulan yang lalu. Harry segera berlari ke arah suara itu, di balik pepohonan yang rimbun. Dia melihat seorang gadis berambut pirang sebahu sedang terduduk ditanah dikelilingi oleh lima orang berjubah hitam, sepertinya death eater, mereka mengelilingi gadis itu sambil tertawa-tawa. Jubahnya terlihat robek-robek dan wajahnya terlihat sangat ketakutan. Yang pasti dari hidung dan mulutnya terlihat menggeluarkan darah.

"LEPASKAN DIA!" seberkas sinar merah dari tongkat Harry melemparkan seseorang death eater yang sedang memegang tangan gadis itu. Segera para death eater lainnya mengambil posisi, Greyback yang suaranya SANGAT-SANGAT dikenali oleh Harry menarik rambut gadis itu, menariknya berdiri mendekat padanya, mengarahkan tongkatnya pada leher gadis itu. Rupanya Greyback menjadikan gadis itu sebagai perisai baginya.

"JANGAN MENDEKAT! ATAU KUBUNUH GADIS INI!"

"KAU…..KAU POTTER RUPANYA. HAHAHA.."

"Aku teringat gadismu yang dulu, gadis yang hebat, gadis ini sungguh mirip dengannya, sama-sama galak dan juga cantik, hahahaha..."

Harry tidak memperdulikan perkataan Greyback, dia tetap berjalan mendekat

"AWAS! KUPERINGATKAN KAU! JANGAN MENDEKAT! BUANG TONGKATMU ATAU DIA KUBUNUH!" kata Greyback sambil makin mendekatkan tongkatnya pada leher gadis itu.

"LAGI PULA APA PEDULIMU. INI GADIS SLYTHERIN!

"AKU TAK PEDULI DENGAN GADIS ITU! AKU HENDAK MEBUNUHMU KARENA PERBUATANMU PADA HERMIONE!" teriak Harry sambil tetap mengarahkan tongkatnya pada Greyback.

Para death eater lainnya mencoba menyerang Harry, namun meski beberapa kutukan menyambar tubuhnya, Harry membiarkan saja kutukan itu, bahkan beberapa kutukan kembali memantul lebih cepat setelah dia melancarkan protego yang cukup kuat sehingga dua death eater yang terdepan tak menduga serangannya berhasil dikembalikan, terlebih Harry juga langsung melancarkan serangan balik sehingga mereka yang tak sempat menghindar, jatuh pingsan sementara dua death eater lainnya sempat melompat untuk menghindari serangan balik Harry.

Kesempatan itu segera dimanfaatkan oleh Greyback dengan sangat baik "EXPELRIAMUS!" serunya dan tongkat yang dipegang Harry melayang. Greyback tertawa "Hahaha…tanpa tongkat mana bisa kau mengalahkanku"

Greyback melepaskan gadis yang menjadi sanderanya, mendorongnya ke depan sehingga gadis itu terbaring jatuh di tanah, sementara tangan satunya tetap memegang tongkat yang mengarah ke Harry.

Kini giliran Harry yang tersudut, Greyback dan dua death eater sudah mengarahkan tongkatnya pada Harry. Mereka kemudian melancarkan crucio pada Harry sehingga Harry jatuh dan berteriak kesakitan.

"Jangan sampai dia mati! Kita siksa saja sebelum kita serahkan ke sang pangeran" kata Greyback sambil mendang kepala Harry. "Kuserahkan dia pada kalian. Aku hendak kembali pada gadis itu. Hahaha…"