DISCLAIMER: Created in the world belonging to J.K. Rowling and no money here. Just for fun.
Chapter 13: Early Friendship with a Slytherin
Sambil tertawa Greyback berbalik, baru dua langkah dia berjalan tiba-tiba dia menghentikan tawanya lalu tubuhnya membeku dan jatuh ke tanah. Melihat kejadian itu kedua teman Greyback sesaat lupa pada Harry karena kejadian itu diluar dugaan mereka sehingga "crucio" yang mereka lakukan pada Harry terlepas. Tanpa membuang waktunya Harry segera mengeluarkan tongkat sihir satunya, milik Hermione yang masih dibawanya dan segera menyerang dengan cepat kepada dua death eater yang masih terbengong melihat Greyback terjatuh. Dalam sekejap, dua bola cahaya segera menerbangkan mereka entah kemana.
Setelah itu dari balik pepohonan muncullah Neville dan Luna, rupanya dari tadi mereka mengikuti Harry secara diam-diam. Tentunya kedatangan mereka berdua yang tak direncanakan itu rupanya telah menyelamatkan Harry dan juga gadis Slytherin. Luna secara spontan segera menghampiri gadis itu, dia membantunya berdiri serta menolong memperbaiki dan merapikan jubahnya juga menyembuhkan beberapa memar dan lecet. Gadis itu masih terisak saat Luna mengobatinya. Luna kemudian memeluknya untuk menenangkan gadis itu. Belakangan Harry sadar kalau dia sudah mengenal gadis itu dari dulu, Daphne Greengrass.
Sementara Luna masih sibuk menolong Greengrass, Harry memungut tongkat sihirnya yang tadi sempat dirampas oleh Greyback. Selagi manusia serigala itu masih pingsan, Harry memandangnya dengan penuh kebencian. Dia berdiri dengan diam tanpa bergerak sedikitpun, nafasnya mulai tak beraturan, dan sekejap tubuh Greyback yang masih pingsan mulai terangkat ke udara dan sedikit demi sedikit mulai mengembung dan makin membesar secara perlahan seperti balon yang diisi gas. Kejadian ini sama dengan yang dilakukannya tanpa sadar 4 tahun lalu terhadap bibi Marge Dursley. Bedanya kali ini Harry benar-benar menuangkan perasaan bencinya berkali-kali lipat pada Greyback. Neville yang ada di sampingnya hanya terbengong saja melihat kejadian itu, sepertinya dia agak bingung karena dia tak mengira Harry yang melakukan perbuatan itu sebab Harry sama sekali mengarahkan tongkatnya, dia kemudian melihat sekeliling mencari-cari siapa yang mungkin menerbangkan Greyback. Namun dia tak melihat ada orang lain di sekitar sana selain mereka.
Tak lama kemudian Greyback mulai sadar, dia berteriak-teriak panik. Rupanya tanpa tongkat di tangannya dia tak bisa berbuat banyak. Pandangan Greyback kemudian melihat ke arah Harry, dia masih saja berusaha melototkan matanya saat memandang Harry.
"APA YANG KAU LAKUKAN! LEPASKAN AKU!" jerit Greyback
Harry hanya menatapnya dengan pandangan sengit, dia berjalan mendekat, mengeluarkan sebilah pisau dari balik jubahnya. Pisau itu adalah pisau perak yang diambilnya dari tubuh Hermione yang tewas beberapa waktu lalu. Rupanya selama ini pisau itu diam-diam disimpannya dan kemanapun dia pergi pisau itu selalu dibawa. Greyback menjadi ketakutan melihat pisau itu. Bagi manusia serigala, benda atau senjata yang terbuat dari perak dapat membunuh mereka. (Hal ini tentu disadari oleh Harry yang dulu sering ikut membaca komik milik Dursley tentang manusia serigala.) Dan sepertinya Harry menggunakan sihir tanpa suara bahkan tanpa tongkat yang membuat pisau itu perlahan melayang, dan dengan sangat cepat pisau itu meluncur menusuk dada Greyback dan tentu saja Greyback tentu saja menjerit kesakitan. Harry lalu perlahan mengangkat kedua tangannya mengarahkan tongkatnya pada Greyback. Tidak hanya satu, melainkan dua. Ya, dua tongkat sihir terarah pada Greyback yang tak berdaya tergantung di udara, dan bagai kesetanan, Harry mulai melancarkan serangannya.
"SECTUM SEMPRA!.. SECTUM SEMPRA!... SECTUM SEMPRA!.. MAXIMA…SECTUM SEMPRA!"
Berkali-kali kedua tongkat di tangan Harry mengeluarkan cahaya kuning kemerahan yang meluncur dengan cepat ke tubuh Greyback. Greyback yang sudah tak berdaya dan hanya bisa menjerit-jerit kesakitan terkena serangan Harry. Percikan darah Greyback telah membasahi tanah di bawahnya dan sekitarnya termasuk wajah dan lengan Harry namun hal itu seakan tak menganggunya. Jeritan Greyback sudah makin melemah tapi Harry masih tetap mengabaikannya, dia terus saja menyerang tanpa henti.
"Hentikan! Hentikan! POTTER hentikan itu. HARRY POTTER!"
Terdengar teriakan Luna dari belakang, namun Harry sepertinya sudah mati rasa, dia tak menanggapi teriakan Luna. Kedua matanya terlihat sangat merah dan raut wajahnya sangat mengerikan. Neville yang ada di sampingnya pun terkejut melihat perbuatan temannya itu. Dia jatuh terduduk melihat perbuatan Harry dan menatap kejadian yang ada di depan matanya dengan wajah yang pucat pasi, dia sepertinya ketakutan melihat sisi lain Harry yang benar-benar tak terduga olehnya.
Karena teriakannya tak ditanggapi, akhirnya Luna mendekati Harry dan berusaha menghentikan perbuatan Harry dengan cara menarik lengan Harry dari belakang, namun tanpa diduganya dan tanpa disadari juga oleh Harry, siku tangan Harry menyikut perut Luna sehingga Luna memekik kesakitan dan terjatuh. Tapi Harry tanpa sadar terus saja melancarkan serangannya pada tubuh Greyback yang sudah penuh luka dan darah tanpa menyadari bahwa Greyback bahkan sudah tak bernyawa lagi ataupun pada Luna terjatuh di sampingnya. Neville bukannya tidak berusaha membantu menghentikan perbuatan Harry, dia juga mencoba menyadarkan Harry dengan menarik lengannya, namun usahanya tak sepenuhnya berhasil karena meski dia berhasil menahan tangan kiri Harry, tongkat kedua yang ada di tangan kanan Harry masih saja melancarkan serangan.
Akhirnya Daphne turut membantu menghentikan Harry. Dengan usaha yang cukup keras dari mereka bertiga akhirnya Harry bisa mereka sadarkan. Harry akhirnya jatuh terduduk setelah mereka bertiga, Luna, Neville dan Daphne menarik Harry ke belakang dengan paksa. Begitu terduduk Harry langsung menangis tanpa malu-malu lagi di hadapan mereka bertiga. Sepertinya Harry telah melepaskan beban yang selama ini dipikulnya. Neville, Luna dan Daphne hanya terdiam melihat Harry yang tiba-tiba menjadi rapuh sangat berbeda dengan perbuatannya barusan. Luna dan Daphne kemudian berusaha menenangkan diri Harry sementara Neville memberanikan diri untuk memeriksa tubuh Greyback yang sudah tak berbentuk itu, meski awalnya ragu, tapi rupanya keberaniannya mulai kembali mucul setelah Luna memaksanya (atau mungkin mengancamnya).
"Mione!..Mione" bisik Harry dalam tangisnya.
Hantu Hermione lalu muncul di sampingnya, memandang Harry dengan ekspresi wajah yang sedih dan juga iba
"Harry, kau tak apa Harry? Tenangkan dirimu Harry. Kau kenapa Harry, perbuatanmu tadi benar-benar mengejutkan" katanya
Setelah beberapa lama akhirnya Harry mulai tenang dan mulai mengatur nafasnya. Dia mulai memandang teman-temannya dan tersenyum malu.
"Maafkan aku tadi. Aku tak bermaksud membuat kalian takut. Aku benar-benar lepas kontrol tadi" katanya
"Tak apa Harry, aku mengerti kondisimu. Hanya jangan lagi kau ulangi. Kau benar-benar membuat kami sangat takut tadi" kata Luna
Hantu Hermione yang melayang di sebelahnya ikut tersenyum pada Harry. Senyumannya mengartikan banyak kata dan pesan yang tak terucapkan bagi Harry. Dan sepertinya Harry sudah mengerti apa yang hendak disampaikan oleh Hermione meski hanya lewat senyuman.
Gadis Slytherin cantik berambut pirang, Daphne Greengrass, begitulah yang diingat oleh Harry merupakan salah satu gadis yang diseleksi bersamanya saat memasuki tahun pertama di Hogwarts. Sebenarnya saat itu Harry sudah sempat memperhatikannya karena gadis itu cukup cantik menurut seisi kereta Hogwarts Express tak kecuali Harry. Namun setelah acara seleksi asrama, Harry tak pernah memperhatikannya lagi karena gadis itu diseleksi masuk ke Slytherin dan dia masuk ke Gryffindor bersama Ron dan Hermione sehingga tentu saja gadis itu langsung terlupakan dari pikirannya, terlebih selama ini asrama mereka saling bermusuhan sehingga Harry hampir-hampir tak pernah berbicara dengannya kecuali di kelas saat mereka dipasangkan dalam kelompok, itupun mereka lebih banyak saling berdiam diri. Hanya sesekali Harry pernah mencuri pandang padanya selama ini.
Rupanya sikap Daphne tidak seperti para Slytherin kebanyakan, dia tidak angkuh atau norak seperti para Slytherin umumnya. Setidaknya itu menurut pendapat Neville dan Luna, dua anak yang termasuk dalam kategori biasa saja di Hogwarts, Neville yang pelupa dan Luna yang dianggap error oleh kebanyak anak di Hogwarts. Daphne tanpa beban bisa berterima kasih pada mereka. Ucapan terima kasih dari Daphne terasa tulus, baru kali ini Neville merasa nyaman berbicara dengan seorang Slytherin. Memang nada suara Daphne masih terasa dingin pada Harry namun sepertinya dia tak memperdulikan itu. Saat Luna menanyakan sebabnya, Daphne menjelaskan kalau Potter tak memperdulikannya keselamatannya. Potter seperti membencinya dan tidak peduli apakah dia terluka atau tidak. Potter terlalu mementingkan egonya sendiri saat menghadapi Greyback. Luna hanya tertawa mendengarnya kisah Daphne saat Harry datang dan mencoba "menyelamatkan" sambil melirik ke arah Harry.
Sebelum cerita Daphne selesia, Harry meminta mereka semua kembali ke Hogwarts dan tentu saja semua menolak, bahkan Daphne pun menolak usul itu. Mereka berkeras menemani Harry karena tak mungkin Harry dapat menghadapi Kau Tahu Siapa seorang diri.
"Memangnya kau bisa sendirian menghadapinya seorang diri?" sindir Luna
"Setidaknya kalau aku tewas, aku tidak melibatkan kalian" balas Harry
"Tidak Harry, kami sudah terlibat dari awal. Bahkan nenekku telah mendukung tindakanku untuk berperang di sampingmu." kata Neville
"Bahkan aku dan Luna telah menghubungi teman-teman lain, maksudku para anggota kita untuk bersiap membantu" lanjutnya
"Anggota kalian itu bukankah yang waktu itu sering berkumpul untuk berlatih sihir dan akhirnya tertangkap oleh Umbridge, bukan?" potong Daphne
"Sayang sekali aku di Slytherin, kalau tidak aku ingin sekali bergabung dengan kalian" sambungnya
Pernyataan dari Daphne cukup mengejutkan bagi mereka bertiga, pasalnya mereka tak menduga hal itu bisa keluar dari mulut seorang Slytherin.
Harry kemudian menanggapi pernyataan Daphne
"Ya benar Daphne, kelompok yang dimaksud oleh Neville adalah Dumbledore's Army. Memang kita tidak mengajak satupun anak Slytherin karena...karena..." Harry mencoba menyelesaikan kalimatnya
"Banyak anak Slytherin mendukung Umbridge dan selain itu kami sepertinya menjengkelkan bagi kalian maksudu" potong Daphne dengan muka masam.
"Bukan begitu, kami berpikir para Slytherin akan melaporkan perbuatan kami, dan lagipula sebagian besar dari kami melihat bahwa Slytherin terlalu angkuh untuk ikut hal semacam itu.." kata Luna sambil tertawa
Neville ikuta tertawa mendengarnya lalu berkata "Kalau nanti kami masih hidup, aku akan meminta Harry secara khusus untuk mengijinkanmu bergabung dengan kami. Bagaimana Harry kau setuju kan?"
Harry hanya mengangkat bahunya tanpa mengiyakan dan mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Kita tak punya waktu sekarang. Aku harus cepat mencari Voldemort sebelum dia menyerang Hogwarts kembali"
"Ya, kau benar Potter, kita harus bergerak cepat. Aku sendiri ingin segera menemukan adikku. Biarlah aku ikut denganmu juga karena aku rasa adikku masih di sekitar sini"
"Kami juga Harry, kami telah meminta para anggota lainnya untuk bersiap-siap sementara kita menemui Kau Tahu Siapa" kata Neville
"Aku merasakan kalau Voldemort menungguku di dalam hutang terlarang itu, aku hendak memasukinya. Kalian sebaiknya bersembunyi di pondok Hagrid saja"
"Tidak Harry, kita harus pergi bersama-sama" protes Luna.
"Baiklah, tapi kalian semua berjalan di belakangku saja" kata Harry dengan jengkel
Akhirnya mereka berempat berlari beriringan menuju hutan terlarang. Saat melewati pondok Hagrid, Harry melihat ada sosok tubuh terbaring di dekat pohon besar dekat pondok. Jantung Harry seakan berhenti berdetak, pikiran buruk segera menghampirinya.
"Tak mungkin Hagrid" katanya dalam hati.
Harry segera mengarahkan langkahnya berlari mendekat ke pohon besar itu dan semuanya turut mengikutinya. Sesampainya di sana dia melihat wajah yang tak asing lagi dengan rambut hitam berminyak yang tiada duanya, dan tubuh itu sepertinya terluka parah, banyak darah mengalir dari bahunya, darah yang mengenang di sekitar tubuhnya telah mengental dan berwarna hitam. Daphne terpekik melihatnya dan segera berlari mendekati tubuh yang terbaring itu, sementara Harry hanya diam tak bergerak. Pandangan matanya seakan menunjukan kepuasan.
"Gara-gara dia si penghianat bermuka dua Dumbledore tewas. Kalau dari awal Dumbledore tidak mempercayainya tentu dia masih hidup hingga kini. Kenapa Dumbledore bisa sangat bodoh untuk percaya pada Snape" kata-kata itu berkecamuk di dalam pikirannya.
Harry berbalik dan melangkah meninggalkan tempat itu diikuti oleh Neville, sementara Luna mendekat menemani Daphne yang sepertinya menangisi Snape. Belum jauh Harry melangkahkan kakinya, Daphne memanggilnya.
"Potter, apakah kau tak mau melihat professor Snape sekali ini saja, untuk terakhir kalinya?" tanya Daphne dengan nada memohon.
"UNTUK APA! Dia sudah membunuh Dumbledore! Dia sudah membenci aku selama ini. Untuk apa aku menangisinya. Setidaknya aku sudah merasa lega kalau dia tewas juga" teriak Harry
"JUSTRU DIA YANG MENANYAKANMU. DIA INGIN BICARA PADAMU!" teriak Daphne tak kalah kerasnya
"BUAT APA DIA BICARA PADAKU. TOH SELAMA INI DIA BEGITU MEMBENCIKU" teriak Harry sambil kembali mendekat karena penasaran.
Berdua Daphne dan Harry saling melotot namun hal itu tak berlangsung lama. Harry melihat Snape berusaha duduk dibantu oleh Daphne dan Luna, kemudian Snape berbisik kepada Daphne. Daphne kemudian mengeluarkan tongkatnya memberikannya pada Snape. Snape kemudian memunculkan botol kecil dari udara kosong, lalu meletakan ujung tongkat di pelipisnya dan segumpal cahaya keperakan muncul di ujung tongkat, kemudian dengan gemetar Snape memasukan gumpalan keperakan itu ke dalam botol, menyumbatnya lalu memandang kepada Harry
"Potter, aku tahu kau tak bisa memaafkan aku. Tapi setidaknya aku telah mencoba untuk minta maaf padamu, atas segalanya" kata Snape
"ini akan menjelaskan segalanya" sambil menyerahkan botol itu pada Harry.
Harry diam dan bereaksi, dia hanya menatap Snape, nafasnya tak tak beraturan karena berusaha mengendalikan emosinya. Tanpa menunggu jawaban dari Harry, Snape merosot dari duduknya, terkulai lemas, matanya menutup.
