DISCLAIMER: Created in the world belonging to J.K. Rowling and no money here. Just for fun.
Chapter 14: The First Encounter
Mereka berempat berlari sepanjang lorong yang gelap hanya dengan diterangi oleh cahaya tongkat mereka. Lorong itu terasa panjang sekali tanpa ujung karena kegelapan yang begitu pekat, hingga akhirnya mereka tiba di pintu ruangan yang sudah terbuka lebar. Mereka kemudian menghentikan langkah mereka dan berembuk.
"Sudah dekat, sebaiknya kita berhati-hati" katanya sambil memimpin rombongan kecil itu memasuki ruangan yang tak kalah gelapnya itu.
"Lumos Maxima" terdengar dua suara bersamaan membuat cahaya tongkat yang menerangi ruangan itu makin terang.
Ruangan itu memang sudah lama ditinggalkan, bau apek atau pengap memenuhi seisi ruangan. Akhirnya di sudut ruangan mereka menemukan apa yang mereka cari, bangkai balisik.
"Fred, George itu dia bangkai balisiknya. Sekarang kita harus mencari taringnya, menurut cerita Harry, dia sempat memotong satu taringnya. Tentunya masih ada taring yang tertinggal di bangkai itu"
Tanpa menunggu lama mereka berdua segera memeriksa bangkai balisik dan segera menemukan apa yang mereka cari.
"KETEMU! Ginny, mana piala itu? kita harus coba hancurkan piala itu sekarang" kata Fred sambil membantu George memotong taring yang tersisa dari bangkai itu.
Ginny menurunkan tasnya, mengeluarkan piala yang terbungkus yang tadi diberikan Harry pada mereka. Dia membuka bungkusan itu, menyerahkan piala pada Fred.
"Hati-hati, tetap berjaga-jaga. Menurut Harry liontin yang pernah dihancurkannya sempat mencoba melawan dan mempengaruhi Hermione. Kita harus bersiap semua, tujuan kita hanya satu. Hancurkan secepatnya tanpa kecuali, apapun yang terjadi harus tetap kita lakukan. Jangan sampai ada yang terpengaruh. Semua siap?" tanya Bill
"Kau yang akan lakukan?" kata George sambil meyerahkan taring balisik pada Bill dengan hati-hati.
"Ya, baiklah" kata Bill sambil mengambil taring balisik dari tangan George.
"SIAP!" jawab Fred dan George bersamaan sambil memegang erat piala Hufflepuff yang mereka letakkan di lantai
"Dan kau Ginny?"
"Aku siap!" sambil memegang erat tongkatnya, mengarahkan tongkatnya untuk berjaga
"Pada hitungan ke tiga. SATU...DUA...TIGA"
"TRINGG" terdengar suara keras dari piala yang dipegang oleh si kembar, piala itu jatuh ke tanah.
Asap tebal biru kehitaman keluar dari piala Hufflepuff dan membumbung tinggi. Asap itu terus bergerak dengan cepat, memenuhi udara di sekitar mereka disertai rintihan kesakitan, dan tanpa mereka duga asap itu bergerak menuju Ginny, menyelimuti tubuhnya dengan cepat, lalu terdengar jeritan Ginny yang sangat memekakkan telinga Fred dan George.
"AWCHHHH….!"
"GINNY!" teriak Bill, Fred dan George bersamaan.
Ginny berusaha melepaskan diri dari asap yang tiba-tiba menyerangnya, asap itu menyelimuti dan membawa tubuh Ginny melayang di udara. Terlihat kedua tangan dan kedua kaki Ginny terentang ke empat penjuru, seolah terikat pada palang yang tak terlihat sementara ekspresi wajahnya terlihat kesakitan bercampur ketakutan. Ginny terlihat berusaha melepaskan diri dan membuka mulutnya , namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
"GINNY!" kembali mereka bertiga berteriak, kali ini dengan nada ketakutan yang keluar dari mulut mereka
Kini asap yang menyelimuti tubuh Ginny berubah bentuk menjadi bola cahaya berwarna hijau sekaligus kemerahan. Energi dari bola itu kini tersedot ke dalam tubuh Ginny secara perlahan namun pasti, makin lama bola cahaya makin meredup dan akhirnya menghilang. Tubuh Ginny langsung terjatuh tanpa sempat di tangkap .
-(0)x(0)x-x=||=||x-x(0)x(x)-
Mereka berempat segera meninggalkan tempat itu setelah merapikan jenasah Snape. Harry hanya menonton saja perbuatan teman-temannya, dia enggan membantu mereka karena mengingat perbuatan Snape padanya selama ini. Hatinya benar-benar dipenuhi rasa benci dan kelegaan secara bersamaan tapi di sisi lain ada suara yang membuatnya bertanya-tanya apa yang diinginkan oleh Snape sehingga mau bersusah payah meminta maaf padanya di saat seperti itu bahkan mau memberikan kenangan padanya. Harry memang tidak mengambil kenangan Snape, botol kenangan itu akhirnya diambil dan disimpan oleh Daphne.
Setelah itu mereka kembali berlari untuk memasuki hutan terlarang. Harry berjalan paling depan karena dia telah beberapa kali masuk ke sana. Dia memimpin teman-temannya memasuki hutan, dia memilih jalan yang menurutnya cukup mudah dilalui yang sedikit berbatu. Tidak seperti Harry yang sudah sering masuk hutan sehingga dia cukup leluasa berjalan dengan cepat, teman-temannya cukup kesulitan mengikutinya. Tak jarang Neville, Luna, dan Daphne tersandung akar pohon atau batu. Terlihat beberapa kali Nevile dengan muka yang memerah membantu Daphne berdiri saat terjatuh, bahkan membimbingnya naik di tanjakan walau kadang Daphne menolaknya. Mereka semua mengikutinya tanpa ada yang mengeluh sehingga Harry pun tidak terlalu kuatir.
Dalam perjalanan itu Harry merasa seperti ada yang mengawasi mereka namun sejauh ini tak ada yang menganggu perjalanan mereka, Harry sempat memberitahu Neville agar bersiap menghadapi hal tak terduga. Mereka terus berjalan hingga akhirnya terlihat di hadapan mereka suatu lapangan rumput yang cukup luas di depan mereka. Lapangan itu hanya sedikit ditumbuhi oleh semak dan jarang sekali pepohanan sehingga hampir tak mungkin untuk mendapatkan tempat bersembunyi yang baik di sana.
Berdiri di tengah hamparan rumput, seorang atau sesosok yang berkepala botak dengan jubah panjang warna merah darah yang menutupi tubuhnya. Di belakangnya tampak beberapa orang berjubah hitam, ya hanya beberapa saja, hanya sekitar 20 orang yang berada di belakang Voldemort, di antaranya terlihat Bellatrix, Lucius, dan Avery, tiga orang yang sangat diingat oleh Harry. Sementara di sela-sela pepohonan di sudut belakang tampak puluhan atau mungkin ratusan orang berjubah hitam yang sepertinya juga bagian dari mereka.
Harry melangkahkan kakinya mendekat, sebelumnya dia sudah meminta agar teman-temannya menunggu saja dan bersiap untuk lari bila situasi menjadi gawat.
"Well, selamat datang Potter. Aku tak menyangka kau mau memenuhi undanganku secepat ini"
Harry terdiam sesaat, dia masih menahan gejolak emosinya yang tiba-tiba bangkit saat melihat Voldemort.
"Sudahlah Voldermort, apa maumu sekarang, jangan berlama-lama"
"Kenapa kau terburu-buru, Potter? Kulihat kau datang bersama teman-temanmu, aku tak ingat telah mengundang mereka juga"
"Ya mereka hanya mengantarku saja, aku tak begitu mengenal tempat ini. Mereka yang menunjukan jalannya padaku"
"Ha..ha..ha.. Kau tak pandai berbohong, Potter. Aku yakin mereka yang ingin ikut bersamamu bukan"
"Dan kulihat kau habis membunuh seseorang. Tak kusangka ku bisa melakukannya, Potter. Ha..ha..ha..".
"Bagaimana rasanya Potter, apakah kau menikmatinya?" tanya Voldemort.
"Jadi kau tahu segalanya, Tom?"
"JANGAN KAU GUNAKAN NAMA TERKUTUK ITU!"
"Mengapa Tom, bukankah itu memang namamu? Atau kau hendak menyangkalnya? Apakah kau juga menyangkal perbuatan anak buahmu yang bejat, yang hendak melakukan perbuatan tak terpuji bahkan terhadap seorang yang berdarah murni juga?" kata Harry dengan lantang.
Voldemort terdiam mendengarnya, dari belakangnya terdengar suara bisik-bisik dari para pengikutnya.
"Tom, apakah kau tahu kalau Miss. Greengrass tadi sempat dipermainkan oleh anak buahmu? Padahal dia adalah anak dari keluarga berdarah murni yang selama ini kau banggakan" kata Harry sambil menunjuk ke arah Daphne di belakangnya.
Dan dari kerumunan orang-orang di belakang Voldemort, tampil 3 orang yang kemudian berlari menuju ke arah Harry. Namun saat berada di dekat Voldemort mereka berlutut "Tuan, kami mohon ijinmu untuk menemui anak kami"
Wajah Voldemort terlihat marah, kemudian dia berbalik menghadapi anak buahnya "SIAPA YANG BERBUAT?!" bentaknya
Semua anak buahnya segera berlutut tak ada yang berani memandangnya.
Harry tertawa mendengarnya, "Kukira kau tahu segalanya, Tom"
"DIAM! JANGAN GUNAKAN NAMA ITU LAGI!" kata Voldemort menoleh sambil mengarahkan tongkatnya ke arah Harry yang langsung terjatuh karena kesakitan terkena serangan mantera Voldemort.
"SIAPA YANG TADI BERBUAT?" kembali Voldemort bertanya pada anak buahnya.
Tak lama kemudian dari kerumunan majulah empat orang sambil berlutut mendekat ke Voldemort.
"Ampuni kami tuan, kami tak tahu dia berdarah murni" kata mereka ketakutan.
"Ha.. ha.. ha..." Harry tertawa
"Bagaimana tak tahu, jelas-jelas dia menggunakan seragam Slytherin"
"Kau dibodohi anak buahmu, Tom"
"DIAM KAU! AVADA KADRAVA!" sinar hijau meluncur dengan cepat mengenai dada Harry.
Luna dan Daphne menjerit melihat Harry jatuh di depan matanya.
-(0)x(0)x-x=||=||x-x(0)x(x)-
Dia membuka matanya, melihat sekelilingnya, putih. Kembali dia mengejapkan matanya dan membukanya kembali masih terlihat putih. Dia menyadari kalau dirinya sedang terbaring. Dia lalu bangkit berdiri tanpa kesulitan, mengucek matanya dan baru menyadari bahwa kacamatanya tak ada di depan matanya. Dia melihat sekelilingnya dan semuanya benar-benar hanya dipenuhi oleh satu warna saja, putih dan tak ada batas langit.
"Aku ada di mana? Apakah ada orang lain?" pikirnya
"HALLO, apakah ada orang di sini?" tanyanya dengan suara yang agak keras
Namun setelah dua tiga kali berteriak tetap saja tak ada yang menjawab.
Lama sekali dia hanya merasakan keheningan. Akhirnya dia mencoba berjalan tanpa arah, langkahnya terasa sangat ringan. Dia mencoba melihat sekelilingnya tapi segalanya tampak sama, putih. Dia benar-benar bingung dan tak tahu kemana harus melangkah, namun tetap saja dia mencoba melangkahkan kakinya meski tanpa tujuan yang jelas.
Sesaat dia merasakan seolah ada kabut putih yang terangkat dan menipis, dia mulai dapat melihat sekelilingnya. Dia mulai mengamati pakaian yang melekat di tubuhnya, jubah Gryffindornya terlihat merah dan bersih tanpa cacat. Berbeda dengan apa yang dia ingat, sebelumnya dia memakai jubah hitam dan dekil yang sangat kotor dipenuhi dengan debu dan lumpur. Dia bahkan tak melihat ada bekas luka di sekujur tubuhnya, padahal seingatnya banyak terdapat luka di tubuhnya.
Tak lama kemudian, dia melihat seseorang yang sudah dikenalnya selama tujuh tahun, dengan rambut coklat keriwil-keriwil panjang dan senyuman manisnya mengenakan jubah yang sama dengannya, jubah Gryffindor. Gadis itu sedang berjalan cepat menyongsongnya. Dia turut berlari menyongsong gadis itu, begitu pula gadis itu ikut berlari menyongsongnya. Mereka saling bertemu di tengah, saling melemparkan pelukan, mereka berpelukan sangat lama dan erat dan seolah tak mau melepaskan pelukan itu. Hingga akhirnya,
"EHEMM!"
Terdengar suara khas yang juga dikenalnya. Mereka berdua terkejut, masing-masing melompat ke belakang saling melepaskan pelukan.
Di hadapan mereka berdiri sosok tua yang juga sudah dikenalnya dengan jubah ungu serta tak ketinggalan kacamata bulan sabitnya. Pria tua itu berdiri sambil tersenyum padanya.
"Professor Dumbledore, andakah itu?" tanyanya
"Ya Mr. Potter, ini aku. Senang sekali bertemu denganmu"
Harry memandang sekelilingnya, dengan ragu dan bimbang dia kembali bertanya
"Kita sekarang ada di mana professor? Apakah aku sudah mati, professor?"
"Well, itu pertanyaan yang sama seperti yang pernah diajukan oleh Miss. Granger. Maukah kau membantuku menjelaskan pada Mr. Potter tentang situasinya, Miss. Granger?"
"Baik, Sir" kata Hermione, lalu dia melanjutkan,
"Harry, aku rasa tempat ini adalah tempatmu. Tempat ini akan selalu berbeda sesuai dengan kenangan orang yang datang ke tempat ini. Waktu aku datang kemari, tempat ini adalah perpustakaan Hogwarts. Aku rasa tempat ini akan berbeda bagimu, mengingat perpustakaan bukanlah tempat favoritmu, aku rasa" kata Hermione sambil tersenyum.
"Mungkin tempat ini bagimu adalah lapangan Quidditch" lanjutnya masih tetap tersenyum.
Harry melihat sekelilingnya, lalu menjawab dengan ragu
"Tapi Mione.., aku benar-benar tak mengenal tempat ini. Tempat ini hanya terlihat sebagai ruangan besar yang berwarna putih dengan lantai yang berwarna putih dan horizon yang jauh di ujung sana yang juga berwarna putih, serta langit yang berwarna putih pula. Semuanya hanya putih, putih, dan putih" katanya dengan nada suara yang menunjukan kebingungan.
Mendengar itu Hermione terdiam, lalu Dumbledore menyela
"Benarkah demikian Mr. Potter?"
"Iya, benar. Semua yang kulihat serba putih. Hanya kalian berdua yang jelas tidak berwarna putih" kata Harry.
"Bagaimana professor, saya jadi tidak mengerti. Bukankah seperti yang professor katakan bahwa tempat ini akan membentuk kenangan dari yang datang ke tempat ini?" tanya Hermione
Dumbledore terdiam terlihat berpikir, tak lama tampak sinar mata yang penuh harapan dari Dumbledore yang kemudian tersenyum
"Apakah Harry benar sudah meninggal, professor?" tanya Hermione
"Aku rasa tidak, Miss. Granger. Aku rasa Mr. Potter belum meninggal" kata Dumbledore dengan wajah berser-seri.
"Aku jadi kurang mengerti pembicaraan kalian" kata Harry
"Mr. Potter, tempat ini adalah tempat persinggahan sementara bagi mereka yang sudah meninggal. Seharusnya tempat ini akan terlihat sebagai tempat yang paling dikenang selama hidup mereka. Tapi, kau tiba di tempat ini tanpa kenangan yang berkesan, aku rasa kesalahannya adalah kau belum meninggal. Hanya saja mengapa kau bisa kemari meskipun kau belum meninggal itu yang masih aku pikirkan".
"Professor, aku rasa aku tahu mengapa Harry ke tempat ini meski belum meninggal" kata Hermione.
"Bukankah kita tadi sempat melihat sesosok atau segumpal anggota tubuh yang tak jelas bentuknya. Aku rasa itu adalah pecahan jiwa Voldemort yang datang ke tempat ini. Dan karena pecahan jiwa Voldemort itu menempel pada jiwa Harry, maka jiwa Harry ikut terbawa kemari" lanjutnya.
"Ya, tentu saja begitu. Kau memang cerdas sekali, Miss. Granger" kata Dumbledore.
"Terima kasih, professor" sahut Hermione dengan wajah menunduk malu.
"Jadi aku akan kembali ke dunia, ke bumi? Tidak bisakah aku tetap di sini? Aku ingin bertemu ayah ibuku, aku ingin bertemu dengan Sirius?" tanya Harry.
"Aku rasa tidak Mr. Potter. Kau harus kembali karerna kau masih hidup" kata Dumbledore.
"Aku juga yakin Voldemort masih hidup. Cobalah hitung sudah berapa banyak horcrux yang kau hancurkan? Ingat seperti yang pernah kita bahas, dia punya tujuh. Seingatku yang sudah aku musnahkan hanyalah cincin, sementara kau dan teman-temanmu telah memusnahkan liontin, tiara, dan buku harian" lanjutnya
"Serta horcrux yang ada di dalam tubuh Harry, professor" sambung Hermione
"Benar Miss. Granger, jadi semuanya sudah lima horcrux. Masih tersisa piala dan yang terakhir aku rasa ular besar yang selalu dibawa oleh Voldermort adalah horcrux terakhirnya" lanjut Dumbledore
"Harry, aku rasa karena itulah kau masih harus kembali. Kau masih punya tugas, tak bisa meninggalkan teman-teman kita, ingat masih ada Luna, Neville, Fred, George, Ginny, masih banyak teman-teman kita yang lain Harry. Apa jadinya mereka berjuang melawan Voldemort tanpamu" kata Hermione
Sejenak Harry merasa bimbang.
"Tapi aku juga ingin bersama orang tuaku di tempat ini, bersama Sirius, dan juga bersamamu, Mione"
Hermione hanya bisa memandang Harry dengan wajah sedih dan rindu.
"Professor, apakah kalau aku kembali aku bisa menyelamatkan mereka semua?" tanya Harry.
"Aku memang ingin menyelamatkan teman-temanku, tapi aku juga ingin bersama dengan orang tuaku di tempat ini. Apakah mereka ada di tempat ini professor?"
"Ya, mereka ada dan berbahagia di sini. Tapi Mr. Potter, sekarang bukanlah waktumu. Kau tak bisa tinggal di sini, kau harus kembali dan melindungi teman-temanmu yang lain. Aku yakin kau bisa mencegah Voldemort mengirim semua teman-temanmu yang lain ke tempat ini".
"Kau tahu Mr. Potter, kau harus lakukan itu semua. Aku tak ingin menyambut semua muridku di tempat ini, setidaknya tidak di saat ini".
Harry makin bimbang, sebenarnya hatinya menginginkan tetap tinggal di tempat ini, namun ada suara lain yang mengingatkan kalau teman-teman lainnya masih berada dalam bahaya.
"Kau tahu professor, jika mungkin, jika boleh, sebenarnya aku tak ingin kehidupan yang seperti ini. Aku ingin kehidupan yang biasa dengan ayah dan ibuku bisa memelukku saat aku membutuhkan mereka, juga saat aku merindukan mereka. Aku juga ingin, kalau memang mungkin untuk menyelamatkan Sirius, juga Cedric. Aku juga ingin melihat Neville berbahagia bersama ayah ibunya dengan normal".
"Tapi bagaimana mungkin caranya aku menyelamatkan mereka semua. Walau kalian semua menyebut aku si Anak Ajaib atau Anak Yang Bertahan Hidup atau apalah sebutannya untukku, apa artinya semua itu. Untuk apa semua sebutan itu kalau aku tak bisa berbuat banyak dengan gelar itu. Kalau bisa, aku ingin menukarkan itu semua . Aku ingin menukar semua sebutan dan kepopuleran itu hanya dengan mengembalikan nyawa Sirius, Cedric, juga ayah dan ibuku" kata Harry dengan sedih.
Dumbledore hanya tersenyum sedih lalu berkata
"Mr. Potter, kadang apa yang kita inginkan memang berlawanan dengan takdir. Kecuali kalau kau mampu melawan takdir maka semuanya akan seperti yang kau mau. Tapi, kau pasti tahu kita semua tak bisa melawan takdir"
"Miss. Granger di sini" lanjut Dumbledore sambil menunjuk ke arah Hermione "Dia sudah melawan takdirnya, dia ingin tetap kembali ke dunia menemuimu meskipun itu bukan jalan yang harus di tempuhnya. Dia mungkin akan terkena konsekwensi kalau dia masih melawan takdirnya. Hanya saja dia kini masih punya kesempatan untuk kembali menjalani takdirnya di tempat tanpa konsekwensi yang berarti."
"Professor..." potong Hermione
"Miss. Granger, kau harus tahu bahwa hampir tidak pernah roh yang sudah keluar dari tempat ini dapat kembali ke tempat ini. Kau sungguh beruntung bisa kembali ke tempat ini. Tapi aku tidak tahu apa akibatnya bila kau kembali pergi dari tempat ini. Waktu itu kau pergi karena ingin menolong Mr. Potter. Aku lihat kau sudah banyak membantunya. Janganlah kau lebih banyak merusak jalinan takdir yang ada di dunia. Biarkan takdir di dunia berjalan tanpa campur tangan kita"
"Tapi professor..." potong Hermione
"Mione.., professor Dumbledore benar. Aku rasa tempat ini adalah tempatmu yang sekarang. Kau jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Lagipula kalau sampai aku tewas, pasti aku kembali ke tempat ini, ke sisimu" kata Harry sambil tersenyum.
"Tapi Harry.." kata Hermione, terdiam tak melanjutkan kata-katanya, hanya saja dia lebih terlihat menjadi lebih tenang.
Lama mereka dalam keheningan
Tiba-tiba Hermione seperti teringat sesuatu, kata-katanya berapi-api.
"Professor, selama ini aku menyalahi takdirku dengan membantu harry dan teman-temannya di dunia. Tentu saja akan ada konsekwensinya, tapi sejauh ini aku melihat justru yang aku lakukan adalah membantu menyelamatkan orang lain. Apakah itu salah?"
"Aku tidak tahu Miss. Granger. Pengetahuanku memang tidak mencapai rahasia takdir. Tapi selama ini kulihat dirimu berjuang melawan takdir. Aku rasa memang kita bisa mencobanya berjuang melawan takdir meskipun kita tidak tahu pada akhirnya itu salah atau benar".
"Perbuatanmu membantu Mr. Potter dan teman-temannya tidak bisa aku katakan benar atau salah karena memang kita tidak boleh menilai dengan pandangan dari kita semata saja. Belum tentu takdir membenarkan perbuatanmu itu".
"Harry, menurutku kau harus mencoba melawan takdir juga" kata Hermione
"Maksudmu..?" tanya Harry.
"Saat aku sudah meninggal, aku masih berusaha sekuatnya untuk membantumu,membantu kalian. Menurut professor, aku sudah melanggar takdirku. Namun aku melihat selama ini apa yang aku lakukan setidaknya telah mengubah takdir kalian, mengubah jalan kalian. Meski aku belum tahu konsekwensi apa yang bakal aku terima, namun dalam hatiku, aku menyangkal kalau konsekwensi itu tidak pernah ada. Jadi aku akan rela dan ikhlas menerima apa yang akan terjadi setelah ini padaku"
"Jadi Harry, kau tetaplah berjuang demi kita semua, demi teman-teman kita yang masih hidup, dan jangan menyerah sekarang".
"Harry, aku percaya kau bisa melakukannya. Kau pasti bisa menyelamatkan semua teman-teman kita" sambung Hermione
"Dan aku akan bersamamu selalu"
-(0)x(0)x-x=||=||x-x(0)x(x)-
Harry merasakan kegelapan dan hawa dingin di sekitarnya, kepalanya terasa pening dan berat. Dia berusaha membuka matanya namun berhasil hingga kini. Sekujur tubuhnya terasa sakit, terutama di bagian dadanya. Sesaat dia mendengarkan suara-suara di dekatnya, suara orang yang sedang berbisik-bisik dan tangisan yang tertahan. Dia amerasa sangat mengenal suara-suara itu. Lama dia menunggu dalam kegelapan tanpa bisa menggerakan tubuhnya sedikitpun.
Kini tubuhnya terasa terguncang, rupanya seseorang sedang berusaha membangunkannya.
"Neville, lihat, dia bernafas lagi. Cepat bantu aku menyadarkannya"
"HARRY….HARRY!.. Kau sadarlah" terdengar suara yang tak asing lagi di telingganya
Kini Harry merasakan tubuhnya terasa hangat dan rasa seperti tersengat, rupanya seseorang berusaha menyadarkannya dengan bantuan mantera. Dia kini dapat membuka matanya, dia melihat Luna berada di atasnya dan juga Neville.
Melihat Harry sadar dan terbangun, Neville hanya terbengong seolah tak percaya, sementara Luna langsung melompat ke pelukan Harry, dia memeluk Harry dengan girang, tawa bercampur tangis melebur telah mencairkan suasana duka.
"Aduh Harry, aku tadi mengira kau sudah tewas, meski hati kecilku mengatakan kalau kau tak akan tewas, namun aku melihat dengan mataku kau terkena langsung kutukan avada kadrava. Tapi …tapi…."
Luna tak kuasa menahan tangis kegembiraannya melihat Harry kembali di hadapannya, dia kembali menangis, Neville juga turut bergembira melihat Harry telah kembali meski tak seheboh kelakuan Luna. Neville menyalami dan memeluknya sambil tertawa senang. Sejenak meluruskan badannya yang masih terasa sakit, Harry langsung menanyakan Voldemort dan kawanan death eaternya, juga Daphne yang tadi bersama dengan mereka. Neville menjelaskan kalau Daphne telah ikut bersama kedua orang tuanya, sementara Voldemort memutuskan untuk menyerbu Hogwarts.
"APA. Dia hendak menyerbu Hogwart?" Bukankah dia berjanji untuk melepaskan Hogwarts bila aku telah datang padanya. Kenapa sekarang dia bisa berubah pikiran?"
"Kau jangan terlalu polos Harry. Orang seperti dia tidak akan berhenti begitu saja, sekarang dia ingin menghapuskan penyihir berdarah campuran dan juga yang keturungan muggle" kata Neville.
"Dia meninggalkan kami berdua karena kami berdua keturunan berdarah murni" sambung Luna
Tanpa mereka sadari, peristiwa kembalinya Harry dari alam maut ternyata diketahui juga oleh seorang death eater yang bersembunyi di dekat mereka, dan tentu saja dia langsung menyampaikan kejadian luar biasa itu ke sang pangeran kegelapan. Sama tak terduganya dengan bangkitnya Harry, kembalinya Voldemort ke hadapan mereka pun tak pernah mereka mimpikan sebelumnya. Harry yang baru dibantu berdiri oleh Luna dan Neville dan dalam sekejap mata sosok yang mereka baru saja bicarakan muncul di belakang mereka.
"Kau sungguh menarik Potter, Kau benar-benar di luar dugaanku. Untuk kedua kalinya, kau lolos dari kutukan Avada Kadrava"
kata Voldemort sambil bertepuk tangan
Mereka bertiga terkejut dan menahan nafas, tiga tongkat segera mengarah ke Voldemort yang hanya diam saja tanpa mengeluarkan tongkatnya. Sementara itu mereka kembali dikelilingi oleh para death eater yang kembali berdatangan
-(0)x(0)x-x=||=||x-x(0)x(x)-
Dear friends, chapter ni saya rubah hampir 40% dan tentunya juga merubah alur cerita yang telah saya buat sebelumnya. Mungkin karena dulu saya terburu-buru, dan ide saat itu sedang buntu sehingga kurang greget (buat saya). Semoga versi yang ini cukup baik untuk menyambung ke chapter selanjutnya
