DISCLAIMER: Created in the world belonging to J.K. Rowling and no money here. Just for fun.
Chapter 15: Deathly Hallows
Ginny merasakan dirinya melayang tanpa bobot, langit berwarna kemerahan berada di atasnya, sementara daratan di bawah tak kelihatan. Sama seperti sensasi yang dia rasakan beberapa tahun lalu pada tahun pertamanya di Hogwarts, ada perasaan nyaman namun sekaligus menakutkan baginya berada di tempat itu karena ada sesuatu yang mengontrol tubuhnya di luar kehendaknya.
Seperti waktu ditahun pertamanya, dia tak dapat melawan kuasa yang berusaha menekannya. Setiap kali dia berusaha melawan kepalanya menjadi sangat sakit dan kemudian dia tak dapat mengingat kejadian yang dialaminya beberapa waktu setelah itu. Hingga setelah buku diary tua itu dihancurkan oleh Harry, dia menjadi terbebas kembali. Dia menjadi mengerti apa sebabnya dia memiliki masa "hilang ingatan" dalam periode-periode tertentu. Kini dia merasakan kejadian itu berulang kembali, perasaaan yang sama, dia kembali merasakan kegelapan kembali hendak menguasainya.
Dia menjadi ketakutan, tapi dia tak memiliki kekuatan untuk melawannya, meskipun dia sudah banyak berlatih dan skill sihirnya sudah banyak mengalami kemajuan, tapi kali ini kuasa yang merasukinya itu jauh berlipat-lipat lebih kuat dari pada yang pernah dialaminya. Akhirnya setelah berjuang lama, dia akhirnya hanya bisa pasrah, menyerah dan membiarkan tubuhnya dikuasai oleh kegelapan yang merasukinya meskipun pikiran dan kesadarannya masih dikuasainya, namun dia merasa tak memiliki kuasa atas tubuhnya.
Setelah kegelapan menguasai tubuhnya, pikiran Ginny mulai dijejali dengan kilasan ingatan masa lalunya, berbagai peristiwa gembira dan sedih yang dialaminya sejak dulu kembali terhampar di hadapannya. Dari perasaan suka saat bertemu Harry pertama kali sebelum dia masuk Hogwatrs, duduk di kereta bersamanya di tahun berikutnya dan lalu topi seleksi menempatkannya seasrama dengan Harry. Lalu kenangan yang masih tersisa di hatinya yang masih dikenangnya hingga kini saat dia dan Harry berciuman saat memenangkan piala Quidditch dan kebanggaannya yang bisa dipamerkannya pada semua temannya kalau dia berhasil mendapatkan pasangan yang luar biasa, Harry Potter, Sang Anak Ajaib, Anak yang Bertahan Hidup.
Tapi ingatan luka lamanya juga kembali terbuka, perasaan cemburu pada Hermione karena sikap Harry dan Hermione yang sangat akrab, dan saat Harry pacaran dengan Cho. Kekecewaannya saat diputuskan oleh Harry
Tanpa disadari oleh Ginny, pikiran-pikiran di kepalanya terus berulang sehingga tanpa disadarinya tumbuh di hatinya bibit-bibit kemarahan, kedengkian dan rasa ingin memiliki dan mendapatkan Harry Potter kembali dan menyingkirkan semua pesaingnya.
_&%- -%&%- -%&_ _&%- -%&%- -%&_
..._ _...
Sementara Ginny sedang melayang di dunia yang lain, ketiga saudaranya mengelilingi tubuh Ginny yang tak sadarkan diri di lantai batu. Bill terlebih dahulu memeriksa kondisi Ginny dengan sihir, dia mengarahkan tongkatnya pada tubuh Ginny, pelahan arah tongkat itu digerakan dari ujung kepala hingga kakinya. Sementara itu Fred dan George memandang dengan kuatir. Setelah Bill yakin tak ada yang aneh pada Ginny, dia mencoba menyadarkan Ginny.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Fred
"Entahlah" jawab Bill "Tapi tak ada yang aneh pada dirinya" lanjutnya
"Tapi….bukankah tadi asap hitam menyelimutinya. Kau yakin dia tak apa?" tanya George
"Aku juga tak tahu, tapi setidaknya tidak ada luka fisik padanya"
Tak lama kemudian, Ginny mulai sadar, dia membuka matanya lalu meringis seolah menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Kau tak apa, Gin?" tanya George dengan nada kuatir
Ginny diam tak menjawab, dia hanya memandang sekelilingnya, lalu tatapan matanya berhenti pada piala Hufflepuff yang tergeletak tak jauh darinya.
"Apakah kita sudah berhasil menghancurkannya?" tanya Ginny
"Sepertinya belum. Tadi terjatuh sewaktu kita mencobanya, dan kita lebih mengkhawatirkan dirimu" kata Fred
"Tadi asap yang keluar dari piala itu menyerang dirimu dan membuatmu pingsan"
"Tapi aku tak apa, koq"
"Apa kau yakin, Gin?"
"Ya, aku rasa aku baik-baik saja"
"Baiklah mari kita coba sekali lagi" kata Bill
Kembali Fred dan George mengambil piala dan memegangnya sementara Bill kembali megarahkan taring balisik
"Pada hitungan ketiga, SIAP?!" tanya Fred dan George bersamaan sambil memegang erat piala Hufflepuff
"Kau sudah siap, Ginny?"
"Aku siap!" kata Ginny sambil mengarahkan tongkatnya ke arah saudara-saudaranya,
Ketiganya memandangnya bingung dan sebelum mereka sadar
"OBLIVIATE!" kata Ginny dan cahaya putih kebiruan melingkupi Bill, Fred, dan George
..._ _...
_&%- -%&%- -%&_ _&%- -%&%- -%&_
Profesor McGonagall tampak kebingungan saat mendapatkan laporan mengenai banyak murid-muridnya yang menghilang, diantaranya Harry Potter, Weasley bersaudara, Neville, Luna, kakak beradik Greengrass. Tadi saat dia mengumumkan kalau mereka akan dipulangkan, suasana langsung menjadi kacau, mungkin di saat itulah beberapa anak menghilang. Dengan terpaksa tanpa mencari mereka yang menghilang, dia memimpin langsung pemulangan murid-muridnya, perhatian dia ditujukan secara khusus bagi mereka yang duduk dari kelas lima ke bawah. Sekilas dia mendengar dari rekannya Flitwick hanya ada beberapa murid kelas enam dan tujuh saja yang ingin pulang, selebihnya ingin membantu di Hogwarts. Dia secara khusus meminta semua murid asrama Slytherin tanpa kecuali untuk meninggalkan Hogwarts. Dengan dibantu oleh rekan-rekannya dan para prefek dan di kawal oleh para auror, mereka akhirnya bisa meninggalkan Howarts menuju statsiun Hogsmeade.
Awalnya rombongan yang dipimpinnya berjalan dengan tertib sesuai rencananya, namun pada saat mereka mendekati pintu gerbang, ada hal yang tak terduga. Tiba-tiba saja di hadapan mereka tampak barisan death eater yang menghadang membentuk setengah lingkaran, dengan Voldemort berdiri di tengah-tengah. Sepertinya para death eater sudah membaca atau mengetahui rencana mereka dan mencegat mereka di tempat itu.
Beberapa anak terlihat pucat ketakutan, anak kelas satu dan dua bahkan ada yang menangis bahkan histeris karena ketakutan. Para Auror dan para professor segera mengambil posisi bertempur dengan tongkat yang terhunus. Begitu juga tanpa ada komando, berapa murid juga langsung mengarahkan tongkatnya, khususnya anggota Dumbledore's Army, para prefek dan anak kelas enam dan tujuh, sementara sisanya berlindung di belakangnya.
"Tahan semuanya"
"Mr. Riddle, apa yang hendak kau lakukan? Setidaknya biarkan kami semua lewat, anak-anak ini tidak ikut bertempur, biarkan mereka pulang ke rumahnya masing-masing" pinta McGonagall
Spontan semua kawanan death eater tertawa mendengar perkataan McGonagall, bahkan ada di antara mereka yang mengejek dan menganggap tolol perbuatan McGonaggall.
"DIAM SEMUANYA! Siapa yang menyuruh kalian tertawa?" terdengar suara dingin yang tak jelas memecahkan suasana tegang itu dan dalam sekejap semua death eater terdiam
"Minerva, apa kau kira mereka masih bisa pulang ke rumah mereka? Mungkin rumah mereka saat ini sudah hancur atau ditinggalkan para penghuninya. Kami telah mengadakan pembersihan di pusat kota London. Setelah ini kami akan segera membersihkan kota-kota lain, Greenford, Hounslo, Kingston dan sekitarnya dan kami tidak yakin mereka semua bisa pulang dengan selamat".
"Biarlah mereka yang berdarah murni akan kami ajak bergabung sementara sampah sisanya terpaksa kami singkirkan".
"Mr. Riddle, kau tak bisa …."
Namun belum selesai profesor McGonagall berbicara, entah siapa yang memulai serangan, suara desigan dan ledakan sihir terdengar melintas di samping wajahnya, dan dalam sekejap berbagai kutukan beraneka warna segera bertebaran disusul dengan jeritan ketakutan murid-muridnya dan tawa, tentu saja tawa dari para death eater.
Tanpa dikomando pertempuran pecah, dalam sekejap mata terlihat korban-korban berjatuhan dari kedua pihak, korban terbanyak tentu saja berasal dari pihak Hogwarts yang belum siap dan sepertinya tak menduga akan terjadinya serangan mendadak dan licik bahkan keji karena serangan tersebut tak pandang bulu. Serangan mereka terjadi begitu saja dan mematikan, banyak kutukan yang mengenai murid-murid yang masih muda tanpa kecuali yang mengenakan seragam Slytherin sehingga spontan kubu Hogwarts menjadi kacau.
Sementara dari pihak death eater hanya segelintir saja yang terkena serangan balik. Rupanya di tengah kekacauan itu, banyak pula murid Slytherin yang berlari ke arah death eater, sepertinya mereka hendak mencari selamat dengan berpihak pada pangeran kegelapan, namun tanpa mereka sadari serangan para death eater juga mengenai mereka sehingga hal ini juga mengakibatkan pihak death eater kehilangan kekompakkannya karena beberapa dari mereka berusaha menyelamatkan kerabatnya.
Di tengah kekacauan, para professor segera meminta semua anak kembali ke kastil, namun usaha itu sia-sia karena keadaan terlalu kacau sehingga tak ada yang mendengar perintah-perintah semacam itu, semuanya hanya fokus untuk bertahan, berlindung, dan menyerang balik. Para auror dan para anggota ordo sedapat mungkin membuat perlindungan sihir. Namun sepertinya usaha mereka sia-sia karena belum sempat mereka menyempurnakan perlindungan sihir, di hadapan mereka telah berdiri Voldemort yang dalam sekejap mampu memporak-porandakan sebagian besar perlindungan sihir yang sedang dibuat.
Profesor McGonagall dan Flitwick segera menyerang Voldemort, namun dalam duel dua lawan satu itu Voldemort berada di atas angin, semua serangan mereka berhasil dipatahkan, bahkan sempat Flitwick terjatuh setelah tongkatnya patah terkena kutukan Voldemort, dan beruntung baginya karena McGonagall dengan cepat membuat perisai sihir baginya yang melindungi Flitwick dari kutukan ganas ala Voldemort. Namun sial baginya karena tongkat Voldemort sudah mengarah padanya dan melontarkan mantera pembeku yang tak sempat dihindarinya. Tubuh McGonagall langsung kaku, Voldemort tertawa melihat calon korbannya tak berdaya di hadapannya, senyumnya mengejek dan merendahkan McGonagall,
"Katakan padaku, apakah kau mau bergabung dengan kami. Aku punya tawaran menarik untuk kedudukanmu, Minerva.."
"Jangan mimpi, Riddle. Aku tak akan sudi menjadi pengikutmu"
"Ha..ha..ha…kau terlalu tinggi hati untuk menjadi anak buahku. Kau lebih suka memimpin seperti sekarang ini bukan, mengantikan Dumbldore sebagai Kepala Sekolah Hogwarts. Aku rasa aku akan tetap memberikan jabatan itu padamu kelak" kata Voldemort masih dengan nada dingin
"Jangan sok yakin, Riddle" balas McGonagall
"Aku hendak mencoba apakah imperius-ku bisa mengontrolmu"
"Jangan harap!"
Seberkas cahaya ungu menerpa profesor McGonagall, sesaat tubuh McGonagall menegang dan pupil matanya tampak mengecil
"Hahaha…."
Voldemort sepertinya kegirangan melihat imperiusnya berhasil, namun tak berlangsung lama karena beberapa kutukan hampir mengenainya kalau saja penyerangnya tidak tolol dan berseru keras-keras di dekatnya sehingga secara reflek dia dapat menghindari serangan itu. Dia melihat Remus dan beberapa auror sudah mengarahkan tongkat padanya, namun dalam sekejap dia membuat hujan batu bercampur api yang memaksa Remus dan kawanan auror mundur menghindar.
Kesempatan itu digunakan oleh Voldemort untuk berhadapan kembali dengan McGonagall. McGonagall sudah mulai sadar dari pengaruh imperius namun dia tetap pasrah karena tubuhnya masih kaku, dia hanya memejamkan matanya menunggu kutukan lanjutan dari Voldemort.
Sesaat tak terjadi apapun, dan selagi terbaring di tanah, dia mendengar pembicaraan antara voldemort dan orang lain, namun pembicaraan itu tak terlalu terdengar jelas karena dirinya terlalu tegang dan mungkin juga takut, yang pasti dia mendengar nama Harry disebut beberapa kali. Terdengar olehnya Voldemort terdengar berteriak marah dan samar-samar ada cahaya merah yang diduganya telah menerbangkan lawan bicara Voldemort, kemudian dia tak mendengar apa-apa lagi.
Lama kemudian, seseorang tiba di sampingnya
"Minerva, kau baik-baik saja?" terdengar suara Mr. Weasley di sampingnya
"Ya, aku sepertinya baik-baik saja"
Mr. Weasley kemudian membebaskan kutukan pembeku pada McGinagall sambil melanjutkan pembicaraan,
"Entah kenapa, semua death eater telah mundur bersama Kau Tahu Siapa …" kata Mrs. Weasley yang juga ada di dekatnya
"Bagaimana dengan anak-anakmu Molly, apakah mereka sudah kau temukan ?" tanya McGonagall
"Ya mereka sudah kembali, tadi mereka sempat bercerita kalau mereka ke ruang rahasia Slytherin untuk menghancurkan Horcrux" kata Mrs. Weasley
"jadi mereka sudah berhasil menghancurkannya?"
"Aku kira begitu, dan tentunya mereka belum kembali kalau belum berhasil menghancurkannya"
_&%- -%&%- -%&_ _&%- -%&%- -%&_
-... -... ...- ...-
"Kau sungguh menarik Potter, Kau benar-benar di luar dugaanku. Untuk kedua kalinya, kau lolos dari kutukan kematian, Avada Kadrava" kata Voldemort sambil bertepuk tangan dan tertawa sinis, ekspresi mukanya campuran tak keruan, antara kagum, takjub dan juga sinis bahkan mungkin sedikit gusar atau takut.
Mereka bertiga terkejut mendengar suara itu dan otomatis menahan nafas, tiga tongkat segera mengarah kepada Voldemort yang hanya diam saja tanpa mengeluarkan tongkatnya, malahan melipat kedua tangan di depan dadanya. Sementara itu para death eater kembali berdatangan dan mengelilinggi mereka semua.
"Kau sungguh istimewa, entah sihir apa yang dilakukan ibumu sehingga perlindungannya masih aktif hingga kini" lanjut Voldemort
"Apa maumu sekarang, Tom? Setidaknya aku sudah datang padamu dan tepati saja janjimu untuk pergi dari Howgarts"
" .ha.., aku ingatkan sekali lagi Potter" dengan nada dingin
"Jangan pernah lagi memanggilku dengan nama itu"
"Atau apa…? Kau mau membunuhku lagi ?"
"Tidak, aku tak akan membunuhmu lagi. Masih banyak kutukan yang bisa kugunakan padamu. Masih banyak kutukan yang lebih mengerikan daripada kutukan kematian, misalnya ini…."
Voldemort mengarahkan kutukannya dengan cepat, refleks Harry menghindar namun dia lupa kalau masih ada Neville dan Luna di belakangnya, dan kutukan yang pertama mengenai Neville dan Luna terkena kutukan yang kedua.
Tubuh Neville langsung kaku dan dari sekujur tubuhnya menjadi seperti pohon, dari pori-porinya keluar akar dan daun, dan tentu saja Neville meraung kesakitan, wajah harry menjadi pucat melihat kejadian itu tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sementara di sebelahnya tubuh Luna terkena kutukan pembelah sehingga terluka memanjang dari pinggang hingga kaki kirinya, dia terjatuh dan berteriak kesakitan sepertinya itu merupakan versi yang lebih kuat dari "Sectum Sempra"
" .ha.. Itu baru dua kutukan, kuberitahu kau kalau aku punya banyak sekali koleksi kutukan"
Melihat kedua temannya tak berdaya, Harry meremas tinjunya menahan marah.
"Apa yang kau lakukan pada mereka Tom?"
"Kau tanya padaku apa yang aku lakukan? HAHHH….! Harusnya aku yang bertanya mengapa kau menghindari seranganku bukannya menangkisnya"
"STUPEFFY" Harry mengarahkan tongkatnya pada Luna
Melihat aksi Harry menyerang Luna dengan sihir membuat Neville dan para death eater yang ada di dekatnya terdiam, bahkan Voldemort sendiri sempat terdiam sesaat .
"Harry, apa yang kau lakukan ?" tanya Neville
"Aku memingsankan Luna agar dia tak kesakitan" sambil mengarahkan tongkatnya pada luka-luka di tubuh Luna.
Sesaat kemudian luka-lukanya telah menutup kembali. Setelah itu Harry mengarahkan tongkatnya pada Neville dan mengucapkan seusatu yang membuat tubuh Neville berangsur kembali normal.
"Harry, bagaimana kau bisa…?" tanya Neville
"Nanti saja penjelasannya, cepat bawa Luna ke dalam Hogwarts dan lindungi dia" potong Harry
"Hebat! Kau juga sudah tahu sihir-sihir kuno, kau makin menarik, Potter . Ha..ha..ha..."
"Cukup Tom, cepat katakan apa maumu dan segera pergi dari Hogwarts"
" .ha, kau sungguh tak suka basa-basi. Tapi sebelumnya biarkan aku menunjukan sesuatu padamu"
"Apakah kau mengenal tongkat yang kugunakan ini ?" tanya Voldemort sambil menunjukan tongkatnya
Sesaat Harry mengamati tongkat yang dipegang oleh Voldemort,
"Merlin..., itu tongkat milik Dumbledore, bagaimana dia bisa.." bisik Neville
"Matamu cukup awas juga, Longbottom" potong Voldemort
"kau juga sama seperti ayahmu yang cukup teliti mengingat sesuatu"
"Selanjutnya bagaimana dengan yang ini?" lanjutnya sambil menggeluarkan sesuatu dari balik jubahnya
Dari balik jubahnya, Voldemort menggeluarkan benda-benda yang sangat dikenal oleh Harry, sebuah batu yang hilang beberapa waktu yang lalu dan juga kain keperakan yang sangat diyakininya sebagai jubah gaibnya yang hilang dicuri oleh "Ron" aka Avery (yang menyamar menjadi Ron)
"itu milikku…"
"Tidak lagi, Potter! Kutegaskan, ini semua pernah menjadi milikmu, tapi itu dulu dan kau sudah menghilangkannya"
"Itu tak benar" bantah Harry
"Pengikutmu yang mencurinya dari aku"
"Dan kau tahu apa artinya bila ketiga benda ini dimiliki oleh satu orang? Apa kau sudah pernah mendengar tentang Deathly Hallows, Relikui Kematian?" lanjut Voldemort tanpa meladeni protes Harry
Harry terdiam, dia pernah tahu kalau Hermione dulu pernah menyinggung tentang "Deathly Hollow" sewaktu mereka masih tinggal di tenda, namun bukankah itu hanya sekedar dongeng yang dibaca dari buku pemberian Dumbledore, The Tales of Beedle the Bard.
"Hahaha…Potter, kali ini aku yang menang. Yang pasti kau salah kalau kau hanya mengira bila Deathly Hallows itu hanya sekedar dongeng belaka" kata Voldemort seakan membaca pikiran Harry.
"Aku dulu sempat berpikiran sama denganmu yang hanya menganggap semuanya itu omong kosong dan dongeng belaka. Namun belakangan, setelah para pengikutku menemukan buku ini di tendamu, aku menyadari bahwa temanmu yang pintar itu tak mungkin hanya bersantai-santai membaca dongeng saja" lanjutnya sambil menunjukan buku The Tales of Beedle the Bard yang langsung dilemparkannya pada Harry
"Aku yakin ada sesuatu di sana, dan akhirnya aku benar, aku sudah mendapatkan semuanya, ketiganya dari Deathly Hallows. Ketiga benda sihir yang sangat sakti milik Peverell bersaudara kini kukuasi semuanya dari Resurrection Stone, Batu Kebangkitan - Cloack of Invisibility - Jubah gaib, dan Elder Wand - Tongkat Elder"
Harry menangkap buku itu, dia melihat sampulnya sekilas, dia hafal sebagian isinya karena Hermione sering membacakannya waktu di tenda dulu. Karena teringat akan nasib Hermione dan juga kebenaran dari "dongeng" membuat emosinya makin memuncak, dia menyesal karena tak menyadarinya dari awal, dia menyesal karena tidak menjaga barangnya dengan baik. Tentu saja dia akan sangat hati-hati menyimpannya bila tahu kalau benda-benda itu sedemikian berharganya.
"Aku akan menjadi tak terkalahkan, bahkan kematian pun tak bisa menyentuhku, kau tahu itu Potter, artinya aku akan hidup abadi. .ha.." tawa Voldemort
Tawa Voldemort seakan membuat dunia berduka, cuaca menjadi gelap, awan mendung bergulung-gulung di atas, petir menyambar-nyambar dan angin bertiup cukup kencang, bahkan bumi sempat bergoncang (gempa bumi) beberapa kali.
"Nah, sekarang kutanya padamu, maukah kau menjadi pengikutku?"
"Kau tak tahu malu Tom, kau sendiri berdarah campuran, namun kau tak mengakuinya. Munafik sekali kau ini Tom"
"HA..HA…HA…HA..HA…" suara Voldemort terdengar dingin
"EXPLERIAMUS" teriak Harry
Namun dengan mudah Voldemort menangkis serangan Harry yang terburu-buru dan tidak fokus
"Mau merebut tongkat ini? Jangan mimpi Potter"
"AVADA KADAVRA"! teriak Harry
"Ha..ha..ha.. Ku lihat kau sudah mulai berani menggunakan kutukan itu. Kau sepertinya sangat cocok bila bergabung denganku, Potter" tawa Voldemort sambil menhindar serangan Harry dengan mudah
"Avada kadavra..avada kadavra..avada…kadavra"! serang Harry, namun semuanya sia-sia karena Voldemort dengan mudahnya menhindar bahkan serangan Harry yang terakhir sempat ditangkisnya langsung.
Setelah serangannya dipatahkan oleh Voldemort, Harry jatuh terduduk
"Kau harusnya sadar kalau kau tak punya kemampuan untuk melukaiku, apalagi membunuhku. Mungkin kau harus belajar 100 atau bahkan 1000 tahun lagi untuk bisa melukaiku. Aku tanya sekali lagi padamu, maukah kau bergabung denganku"
"Apa sih maumu Tom, apakah kau tuli. Sudah kukatakan dari tadi aku tak tertarik dengan tawaran murahanmu itu"
"Ting tong. Jawaban yang salah. Kini rasakan hukumanmu" kata Voldemort sambil mengarahkan tongkatnya
Cahaya keemasan dari tongkat Voldemort mengenai Harry yang langsung membuat Harry menjerit kesakitan. Dari mulutnya mengalir darah segar.
"Harry!" teriak Neville
"Menyingkir kau Longbottom, atau kau juga mau merasakan kutukanku ini" desis Voldemort sambil kembali menyerang Harry
Neville membeku mendengar suara Vodemort, mentalknya jatuh setelah meilhat Harry tersiksa oleh kutukan Voldemort.
Namun rintihan Luna di dekatnya membuatnya kembali tersadar dan membuatnya mengangkat tongkat mencoba memblokir kutukan Voldermort pada Harry.
"Protego" teriaknya. Namun sihirnya menguap begitu mengenai aliran sihir keemasan yang tertuju pada Harry.
Tanpa ada yang satupun orang yang menyadari karena mata semua orang tertuju pada Harry yang tersiksa, terdengar suara yang menggelegar
"TOMMY! kalau kau bukan pengecut hadapi aku!"
Karena terkejut konsentrasinya menjadi goyah sehingga dia langsung menyerang pada sesuatu yang mendekat padanya dari atas. Dia tak menyadari sepenuhnya kalau ada sesuatu yang terlempar padanya, adalah sesuatu gelondongan yang hijau kecoklatan besar yang dia mulanya tak tahu apa itu. Baginya hanya ada satu fakta, serangan itu cukup licik, dan baginya serangan balik secara mendadak (counter attack) adalah strategi terbaiknya untuk menghadapi seranganmacam itu. Dengan reflek yang sempurna Voldemort memutus serangannya pada Harry, dan langsung menyerang dengan kutukan pembelah sambil melompat menghindari serangan gelap yang tertuju padanya.
Dua detik berikutnya, Voldemort telah sadar dengan apa yang terjadi dihadapannya, dia berteriak marah dan menjerit-jerit bagaikan kesetanan
"JAHANAM! SIAPA YANG MELAKUKAN INI. DIA HARUS MEMBAYARNYA"
_&%- -%&%- -%&_ _&%- -%&%- -%&_
