Si mbak Chie sudah kembali, tapi yang ngetik kisah absurd ini masih Rhie :D
Terima kasih kepada [Kiroyin9] atas review + fav -nya. Anda ingin membawa Armin pulang? Tapi sayang, saya (Rhie) tak memperbolehkan :D Soalnya Armin penting dalam kisah ini :3
Dan terima kasih kepada semuanya yang nyempatin baca tanpa meninggalkan jejak :D
Okay..., saya lanjutkan ya~
Usut punya usut, judul kisah diganti jadi Shingeki no Woman (ini usulnya Chie, padahal nanti juga ada bagian nyerang cowoknya)
Rated : masih T, tapi saya sharenya di rated M (untuk keamanan)
Genrenya macem-macem : Parody (untuk kisah yang nyolong dari abang Hajime), Humor (yang dipaksakan), Drama (untuk adegan yang kelewatan lebay), kayaknya ini dulu aja (nanti nambah sesuai selera)
Attention! : OOC 99,9%, alur kisah amburadul, bahasa gak baku, apalagi ya? Sudah.
-[xXx]-
Pada jaman dahulu kala, pada saat manusia hanya hidup dalam satu dinding bernama Sina. Hiduplah seorang ratu yang sangat cantik. Mengapa dia di sebut cantik? Itu karena tubuhnya yang mungil, matanya yang bulat berwarna biru langit, surai pirangnya yang nampak sangat lembut, serta perawakannya yang anggun dan juga baik hati. Cantik, kan?
Sang ratu ini sangat di puja-puja akan kecantikannya dan juga kewibawaannya. Banyak sekali para pria yang menginginkan dirinya untuk dijadikan sebagai mempelainya. Bukannya tidak mau, ratu menghargai perasaan setiap pria terhadap dirinya, hanya saja pada saat itu sang ratu sudah memiliki belahan jiwanya tersendiri. Seorang pria gagah dengan surai pirang telah mengambil hati sang ratu. Memang pria tersebut hanyalah seorang ksatria yang memberikan jiwanya untuk menjaga kerajaan, tapi keteguhan pada dirinya terhadap tugasnya membuat ratu buta akan cinta.
Sang ksatria sebenarnya juga menaruh hati terhadap ratu, tapi melihat statusnya saat itu ia tak mungkin mendekati sang ratu. Apalagi salah satu pelayan setia ratu yang tak di ketahui bergender apa selalu menatapnya tajam ketika sang ksatria mendekati ratu. Hubungan antara pelayan dan juga ksatria ini tak pernah baik, mereka berdua selalu saja adu mulut bahkan adu kekuatan jika membicarakan mengenai ratu. Ratu sering sekali melihat kedua bawahannya ini bertengkar tentang sesuatu yang ia sendiri tidak mengetahuinya. Perlahan perasaan cemburu muncul dalam dirinya ketika melihat si pelayan lebih dekat dengan si ksatria ketimbang dirinya. Tapi sebagai seorang ratu, ia tak mungkin berpikir negatif tentang dua orang kepercayaannya itu.
Suatu hari, si ratu sedang berjalan-jalan di taman kerajaannya yang luas. Dari arah pagar, banyak sekali para pria yang berlalu lalang lewat untuk bercuci mata. Si ratu hanya membalas tatapan serta sapaan mereka dengan senyuman termanis yang dia miliki. Dari kejadian tersebut, rumah sakit jadi di penuhi dengan para pria yang kekurangan darah akibat mimisan di tempat. Maaf, paragraf yang ini tolong di lupakan saja.
Indera pendengaran ratu mungil ini menangkap percakapan dua orang. Wajahnya nampak berseri ketika melihat si ksatria di antara semak-semak taman tersebut. Segera dirinya mengambil cermin mini yang selalu ia bawa kemana-mana. Di lihat pantulan dirinya dari cermin, memastikan apakah penampilannya saat ini acak-adul atau tidak. Setelah di rasa sudah cukup rapi ia segera mengangkat roknya tinggi untuk mempermudahkan dirinya melangkah. Tapi tunggu dulu, bukannya tadi indera pendengarannya menangkap dua orang yang sedang berbicara? Lalu dengan siapa si ksatria itu berbicara?
Ia tak jadi mendekati si ksatria, dirinya berjongkok di balik semak untuk melihat atau lebih tepatnya menguping pembicaraan dua orang tersebut. Ratu sedikit membulatkan matanya ketika mengetahui lawan bicara si ksatria adalah pelayan setianya, tapi ia pikir dua kali untuk apa membulatkan mata? Bukannya hal wajar ya jika si pelayan dan si ksatria ini sering sekali berbicara berdua. Mungkin yang membuat ratu penasaran adalah topik apa yang mereka bicarakan. Untuk kali ini tak menggunakan kekerasan atau kata kasar, sepertinya pembicaraan kali ini terbilang serius.
"Aku hamil…" terdengar si pelayan mengucapkan dua kata tersebut. Ratu mencerna kata 'aku' dan 'hamil'. 'Aku' itu maksudnya diri sendiri dan 'Hamil' adalah sebuah ungkapan yang menunjukan jika seseorang sedang mengandung. Iya kan? OMFG, tampaknya si ratu ini jalan otaknya agak lambat ya.
"Bagaimana mungkin kamu hamil!? Kamu kan laki-laki." sang ksatria membalas ucapan si pelayan, lebih tepatnya mengelak.
"Berpikirlah jernih, bodoh! Sudah jelaskan jika aku ini perempuan!?" lawan si pelayan bergender di pertanyakan itu.
Ratu tak mengerti, sebenarnya hubungan apa sih yang mereka jalani hingga si pelayan bisa hamil? Bukannya selama ini mereka selalu saja bertengkar, mana mungkin kan jika kedua belah pihak menjalin sebuah cinta kasih hingga menghasilkan buah hati? Jalan kerja otak si ratu mulai tak menentu, ia tak dapat mencerna setiap kata yang keluar dari perdebatan si pelayan dan juga si ksatria. Wajahnya yang semula manis berubah menjadi bengar penuh dengan perasaan benci dan dendam. Apalagi setelah kata 'Aku hamil…' telah ia cerna dengan baik.
Pertengkaran terjadi di antara kedua belah pihak. Mata si ratu tak bisa lepas dari penglihatan di depannya, ia melihat semua kejadian yang tak seharusnya ia lihat. Sang ksatria mendorong tubuh si pelayan ke arah tanah lalu dengan mesumnya menubruki sang pelayan. Ratu tak habis pikir ketika pakaian pelayan itu di koyak hingga tak tersisa sehelai benang pun, menunjukan kemolekan tubuh seorang wanita. Ternyata pelayan setia ratu itu gendernya wanita, sang ratu sendiri baru menyadari hal itu sekarang. Ia menelan air liurnya sendiri, entah untuk apa. Sang ksatria menahan tangan si pelayan agar tak terjadi pemberontakan, mata mesum milik ksatria menatap tajam ke arah tubuh si pelayan.
Teriakan sang pelayan terdengar cukup nyaring ketika tangan kekar ksatria mulai menggerayangi tubuhnya. Ratu tak kuat mendengar teriakan tersebut, teriakan yang menunjukan penderitaan serta pelecehan. Ia berusaha menutup telinganya tapi tetap saja teriakan itu masih terdengar samar. Mata biru langitnya membulat ketika melihat alat kelamin si ksatria dimasukan ke dalam alat kelamin wanita milik si pelayan. Teriakan pelayan makin menjadi. Ratu menjabak rambutnya, air mata mengalir dari matanya. Ia tampaknya tidak kuat menyaksikan pemandangan di hadapannya.
"KYAAAAA…!" teriakan frustasi sang ratu terdengar hingga luar dinding Sina.
Kejadian teriakan ratu tak ada yang mengetahui sebabnya. Bagai tak terjadi apa-apa, sang ratu tutup mulut dan sudah tak kembali bersikap normal. Ia memerintahkan beberapa pelayan wanita yang ia miliki untuk menendang para manusia bergender pria keluar dinding. Perintah ratu adalah mutlak, tak boleh ada yang melanggarnya. Bagai seorang diktator, sang ratu akan menyuruh orang yang pastinya perempuan, untuk membunuh siapa saja yang melanggar perintahnya. Apalagi jika ada satu saja orang pria yang berani menginjakan kakinya di dalam dinding Sina ini.
Sang ksatria yang merupakan dalang dari segala kejadian yang telah terjadi, dengan gagahnya menemui sang ratu. Ia tak terima jika para pria di telantarkan di luar dinding bersama dengan para raksasa yang mendapatkan makanan gratis. Dengan segala keberanian di balik ke takutannya, ia rela mengorbankan segalanya agar ratu mau mendengarkan permohonannya.
Hati ratu tersentuh, tapi bukan berarti ia telah mengijinkan para pria menginjakan kakinya ke dalam dinding Sina kembali. Dengan keajaiban yang entah bagaimana terjadinya, dinding 50 meter kembali tercipta di luar dinding Sina. Ratu menamainya 'Rose' karena di atas tangkai berduri terdapat sebuah bunga mawar yang cantik. Apa hubungannya coba?
Kejadian ini sudah berlangsung cukup lama, kaum Adam dan Hawa hidup di batasi oleh sebuah dinding. Banyak pemberontakan terjadi, tapi ratu tak peduli. Selang beberapa tahun, akhirnya dinding kembali tercipta di luar dinding Rose. Di beri nama 'Maria' entah artinya apa.
Jadi begini penjelasan mengenai dinding. Pertama dinding Sina, di sini adalah pusat kerajaan eh bukan, maksudnya keratuan. Dalam dinding ini yang hidup kebanyakan kaum Hawa soalnya kaum Adam gak boleh tinggal di sini. Kemudian dinding Rose, dinding ini yang bikin kaum Adam. Mereka menciptakan dinding ini untuk melindungi mereka dari buasnya para raksasa. Terakhir adalah dinding Maria, di ciptakan untuk para kaum Adam-Hawa yang tak ingin di pisahkan. Jauh dari keratuan, para pria dan wanita disini hidup bersama membentuk keluarga mereka masing-masing. Baiklah, itu tadi sedikit penjelasan mengenai si dinding. Jika diberi pertanyaan, akan tinggal di dinding manakah kalian?
-[xXx]-
Ruangan gelap. Penerangan hanya berasal dari lampu kecil di atas meja. Tabung disetiap sudut ruangan. Cairan aneh berwarna kekuningan berada dalam tabung tersebut. Kasur rumah sakit terletak di tengah ruangan. Seorang remaja lelaki menatap takut ke arah pria paruh baya yang perlahan berjalan mendekatinya. Tangan kiri pria paruh baya tersebut membawa sebuah tabung dengan bagian lancip di satu sisinya. Remaja ini melangkah mundur.
"Papa mau apa?"
"Kemarikan tanganmu nak!"
Remaja ini tak menurut. Tak berharap hal yang tak di inginkan terjadi, si remaja hendak lari dari ruangan gelap tersebut. Akan tetapi, tangan sang papa berhasil menahan lengan si remaja kemudian mendorong tubuhnya ke atas kasur yang sudah tersedia.
"Tu-tunggu! Apa maksud papa dengan suntikan itu!?"
"Suntikan ini nantinya akan membuat ingatanmu jadi tak menentu, jadi menjelaskannya sekarang pun akan percuma! Cepat kemarikan tanganmu!"
Pria paruh baya itu menubruki tubuh si remaja. Sekuat apa pun si remaja meronta, dirinya tak dapat bebas dari pria paruh baya yang saat ini posisinya berada di atasnya. Kedua tangan si remaja di tahan di bagian atas kasur, kakinya di tubruki, memberontak sekasar apa pun tak akan membuahkan hasil. Apalagi jika di lihat dari postur tubuh yang sedikit berbeda jauh.
"Dengar nak, setelah nanti kamu memiliki kekuatan ini diharapkan kamu dapat mengembalikan semuanya menjadi normal!"
Dengan perlahan, jarum suntik itu sudah tertanam dalam lengan si remaja, cairan dalam tabung sudah habis mengalir ke dalam tubuhnya. Nafas si remaja tak teratur, pandangannya sekilas memburam, tubuhnya terasa panas entah karena apa, pikirannya jadi tak menentu ke sana kemari. Perlahan mata hijaunya menatap ke arah si pria paruh baya dengan tatapan sayu, memohon sesuatu tapi tidak tau apa itu.
Pria paruh baya yang adalah dalang dari semua ini mengerti apa maksud dari tatapan si remaja. Perlahan tangannya menyentuh kaki sang remaja, mengelusnya secara lembut terus naik hingga bagian selangkangan.
"Hen… tikan…"
"Nak, kita harus menguji coba apakah ini berhasil apa tidak. Jadi tolonglah yang sabar ya…"
Bagaimana mungkin bisa sabar jika si remaja akan di serang oleh orang yang sudah berkepala empat atau lima? Apalagi orang itu adalah papanya sendiri, pria lagi yang nyerang.
"TIDAK…! Hentikan papa! Aku tidak mau…!"
-[xXx]-
"HAH…!?"
Mata hijaunya terbuka lebar. Di dapatinya seorang remaja lelaki bersurai kuning tengah menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Anoo…, kamu kenapa Eren?" si remaja bersurai kuning itu bertanya.
Mata remaja bernama Eren menyapu segala pemandangan yang ada di sekitar dengan pandangan takut serta cemas. Keringat dingin mengalir, mata mulai terasa basah, udara sekitar mulai terasa menusuk tulang, merinding seketika Eren serasa kebelet pipis. Bercanda…
Angin berhembus perlahan menggoyangkan dedaunan pohon juga rerumputan di taman luas tersebut. Eren bangun dari posisi tidurnya, ia duduk di samping si surai kuning. Tangan Eren meraih kepalanya, meremasnya secara perlahan.
"Ternyata hanya mimpi…" ucapnya pelan.
"Apa kamu mimpi buruk, Eren?" Eren mengalihkan pandangannya menatap ke arah orang yang bertanya. Terlihat dengan jelas jika si remaja bersurai kuning itu khawatir akan keadaannya Eren.
"Tidak buruk kok, Armin. Hanya aneh saja…" jawab Eren. Si remaja bersurai kuning yang ternyata adalah Armin, teman masa kecilnya Eren, hanya mengangguk tanda mengerti dan tak ingin bertanya kembali. Mata birunya beralih menatap kota.
Kedua teman masa kecil ini hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Waktu terus berjalan. Mata Eren menatap ke arah dinding tinggi yang berada jauh di sana, Armin pun juga demikian. Hening beberapa saat, tak ada suara di antara kedua belah pihak.
"Nee…, Eren…" Armin memanggil perlahan. Yang di panggil hanya berdeham, memperhatikan temannya itu melalui ekor matanya. Tak menoleh. Remaja bersurai kuning ini memejamkan kedua matanya kemudian menghirup dalam udara yang ada di sekitarnya. "Kupikir tidak buruk jika kita tinggal di sini," Matanya terbuka menunjukan maniknya yang berwarna biru cerah. "Distrik Trost…" lanjutnya.
Untuk kali ini, Eren memalingkan wajahnya menatap Armin. Sedikit tertarik dengan ucapan remaja surai kuning barusan. Berpikir sejenak, memutar memori kronologi mereka berada di distrik Trost.
-[xXx]-
Berjalan tanpa ada tujuan yang pasti, itulah yang dilakukan kedua ayah-anak Jaeger ini. Si anak melangkah gontai mengikuti ayahnya yang kelewat banter berjalan atau si anak yang lelet, kita tidak tau. Eren alias si anak, menatap punggung si papa yang semakin menjauh saja. Memikirkan segala kelanjutan dari kisah mereka pergi dari rumah. Ia menaikan syal pemberian Mikasa guna menutupi sebagian wajahnya.
"Shit…" si Eren mengumpat dengan sendirinya. Ia menarik dengan paksa syal yang melilit lehernya. "Apa-apaan sih Mikasa itu!" syal dimasukan kedalam ransel. Tampak Eren baru menyadari jika sedari tadi ia menggunakan syal pemberian Mikasa, rival abadinya itu. "Udara lagi panas begini malah pake syal…" runtuknya sembari menyusul langkah bokap Grisha. Si Mikasa itu, kenapa ya dia betah berpanas-panas menggunakan syal dalam segala cuaca?
Langkah bapak anak ini sudah sejajar. Si Grisha masih menatap lurus ke depan, tak memperdulikan segala macam kotoran yang ia injak. Berbeda dengan anaknya yang selalu waspada memperhatikan langkahnya, kali-kali aja nemu duit jatuh. Kan lumayan bisa buat beli gorengan.
"Pa…" akhirnya si Eren gak betah diam dalam bisu. Grisha memilih diam dan melanjutkan perjalanan. Eren mengembungkan pipinya, tak suka jika dirinya ini di cuekin. "Kita mau tinggal dimana?" akhirnya pertanyaan itu terlontar juga. Sang papa tiba-tiba langsung berhenti melangkah, Eren jadi nabrak tiang karena tak ada persiapan untuk berhenti.
Grisha memandang anaknya dengan tatapan yang sulit di tafsirkan dengan sebuah kata-kata. Kedua tangannya terulur meraih pundak Eren kemudian mencengkramnya, membuat Eren sedikit merintih. "Nak…" Grisha mulai berucap, pandangan Eren berubah menjadi horor ketika menatap kacamata ayahnya yang berwarna putih akibat pembiasan cahaya. Kepala ayahnya tertunduk dalam, tangannya mulai gemetaran. Eren? Tentu saja ia bingung, ada apa dengan ayahnya ini.
Grisha mengangkat wajahnya menatap Eren, raut mukanya aneh, seperti orang yang hendak buang hajat gitu. Remaja ini mengedipkan matanya berkali-kali, menetralisir apakah wajah ayahnya ini benar apa adanya atau menyalahkan matanya yang mulai gak bener.
"Sebenarnya papa juga bingung, nak, kita hendak tinggal dimana." ungkap Grisha akhirnya. Bong…, Eren melongo. Terus gimana nasib mereka jika tempat tinggal saja tidak tau mau dimana? "Tapi tenang saja!" pria paruh baya di hadapan Eren kembali bersemangat, ia mengepalkan tangannya kuat. "Setelah dipikir, sepertinya papa tau kita akan tinggal dimana…" ucapnya bangga, hidung Grisha terlihat memanjang.
Terus ngapain tadi pake desperate segala?
"HUUAAA…!" suara ini? Tampaknya kalian semua mengetahuinya sodara-sodara.
"Armin…!" Eren berteriak memanggil sembari berlari mencari darimana asal suara teriakan berasal, si Grisha ngikutin di belakang. "Ugh…" kedua orang dengan marga Jaeger ini terhenti terbengong menatap seorang gadis, maksudku pria bernama Armin.
Jika kemarin Armin di balut dalam pakaian lolita, kali ini pria bersurai kuning ini terbungkus oleh kain yang menyerupai pakaian seorang suster rumah sakit. Baju yang sangat ketat berwarna pink membungkus seorang Armin Arlert secara menyeluruh, rok yang mini sekali memperlihatkan paha putih mulusnya. Segala aksesoris-aksesoris lengkap digunakan, mulai dari apalah itu namanya yang biasanya di gunakan suster rumah sakit di kepala hingga segala macam tetek-bengek yang seharusnya tak digunakan seorang suster saat bekerja. Rambut lurus Armin tak perlu penambahan apa pun, itu sudah cukup bagus. Wajahnya yang manis hanya perlu penambahan make up natural biasa, bibir mungil Armin di poles menggunakan lipstik pink, wajahnya di beri bedak tak terlalu tebal, sedikit maskara membentuk bulu matanya agar terlihat lentik, rona merah terlihat jelas di pipi Armin entah karena make up atau dirinya malu didandani seperti ini. Eren menelan ludah, Grisha melongo. Ini Armin Arlert atau suster rumah sakit yang nyasar sampe Distrik Shingansina?
Ketiga gadis yang sama dengan kejadian beberapa hari yang lalu, tentunya menatap Armin puas. Tas besar berada di tengah-tengah mereka, bisa di tebak jika itu berisi segala macam pakaian wanita dan juga make up. Aneh. Kenapa mereka memiliki banyak sekali pakaian yang ukurannya bisa pas sama tubuh Armin ya?
"Ah…, kau datang Eren." salah satu dari tiga gadis tersebut menyadari kehadiran Eren dan juga bokapnya, yang lain menoleh termaksud Armin. "Eh, ada paman Grisha juga rupanya. Gimana Eren-paman, penampilan Armin kali ini menggoda sekali kan?" gadis ini melanjutkan dengan memberi pertanyaan.
Armin menundukan kepalanya tak ingin bertatap mata secara langsung dengan Eren atau pun Grisha. Dirinya sibuk menarik-narik ujung rok yang kelewat mini itu. Mata hijau Eren tak bisa lepas dari Armin, ia pandangi sahabatnya itu mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mulut Eren sedikit terbuka, tak tau ingin berkomentar apa.
"Hoo…, tidak buruk." si Grisha malah memberi komentar, tangannya mengelus dagu seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian beralih menatap anaknya yang masih tak mampu berkata-kata. "Mungkin jika kamu yang menggunakan pakaian ini akan sangat cocok, Eren."
"Ih, ngawur…" Eren terlonjak kaget mendengar ucapan santai Grisha barusan. "Papa jangan bercanda, mana mungkin aku menggunakan pakaian wanita! Aku kan laki-laki…" hardik Eren tak setuju.
"Iya-ya. Kenapa kamu malah laki-laki ya?" si Grisha melangkahkan kakinya menjauh dari kerumunan para remaja tersebut. Tuh bapak-bapak otaknya udah penyok kali ya? Daritadi ucapannya tuh kagak jelas aja.
Tangan seseorang meraih pundak Eren. "Bagaimana jika kamu juga kami dandani seperti Armini?" tanya salah satu remaja bergender perempuan di belakang Eren.
Kekesalan Eren sudah pada puncaknya. Dengan kasar ia menepis tangan laknat yang bertengker pada pundaknya. Para gadis yang berada di tempat kejadian perkara sedikit kaget dengan sikap kasar Eren yang di buat-buat. Tanpa ada perijinan dari siapa pun, Eren dengan segera menarik Armin keluar dari kerumunan para gadis.
"Sudah cukup main-mainnya!" tegas Eren sok gentle melindungi Armin. "Kalian pikir kalian siapa!? Hentikan tindakan kalian yang seperti menganggap bahwa Armin adalah boneka barbie yang bisa kalian mainkan sesuka hati!" remaja ini menaikan volume suaranya, berbicara selayaknya seorang pria berucap.
Armin terdiam menatap Eren, baru kali ini dia dilindungi sama teman masa kecilnya ini. Sedikir terharu, air mata mulai jatuh dari maniknya yang sewarna dengan langit. Para gadis menatap kedua pria dihadapannya dengan tatapan yang bervariasi, Eren tak peduli.
"Kamu kenapa'e, Ren? Biasanya kamu juga setuju-setuju aja waktu si Armin didandani…" elak salah satu gadis.
Eren menggeleng kuat. "I-itu dulu! Sekarang aku baru sadar jika Armin itu pria, makanya aku gak suka dengan tingkah kalian yang membuat Armin harus menggunakan pakaian wanita…!" jelas Eren, Armin tersinggung.
'Eh hello, Eren Cherry Jaeger! Jadi selama hampir 10 tahun lebih kita berteman dekat, loe anggap gue perempuan gitu? Memangnya loe kagak liat apa pas kita mandi bareng? Gue juga punya apa yang disebut dengan 'KEJANTANAN' ya, dan gue rasa punya gue juga lebih bagus dan terawat ketimbang punya loe…!' Armin kelewat OOC, hanyut dalam pikiran ngenesnya. Sayangnya pria berparas manis ini tak mampu mengutarakannya secara live action di depan konco tipisnya ini. Sedih Armin? Tentu saja! Si Eren juga kagak ada bakat ngebaca pikiran orang sih.
"Wait…!" gadis yang tampaknya paling diam mengangkat tangannya ke udara, memberikan isyarat kepada semua untuk fokus terhadap dirinya. "Memangnya kamu sudah cek Armin itu beneran perempuan apa laki-laki?" tanyanya sedikit santai.
Eren keselek air liurnya sendiri. "Dia ini teman masa kecilku, mana mungkin aku tak tau jika dia ini laki-laki." remaja ini masih mempertahankan tembok kewarasannya.
"Nee…, bukannya tadi kamu bilang jika kamu baru sadar jika dia itu laki-laki?" gadis pendiam itu membalas dengan nada menantang, memberikan beberapa point attack untuk menghancurkan tembok pertahanan Eren. "Lagian ya, Eren Jaeger. Mau Armin itu perempuan atau laki-laki, dia cocok kok menggunakan pakaian wanita rancangan kami. Wajah Armin juga manis, menandingi wajah kami para wanita, kan sayangkan jika dia masuk jejeran pria. Mending transgender aja jadi perempuan, nanti pasti lebih banyak orang yang mau deh."
Dan penjelasan panjang tersebut mampu menghancurkan tembok kewarasan Eren. Remaja bersurai coklat ini menatap sahabatnya, menganggukan kepalanya. "Iya juga ya, kamu mending jadi perempuan aja Min…"
Diesh…! Sebuah tendangan singkat mendarat dengan mulus di perut Eren, membuat yang di tendang terduduk kaku kesakitan yang pastinya. Walau pun terlihat seperti perempuan, gini-gini Armin jago nendang loh. Masa iya? Para gadis menaikan alisnya, takjub dengan pemandangan seorang suster yang tengah menendang pasien sakit jiwanya.
"Ooi Armin…, apa-apaan kamu menendangku seperti itu?" Eren memegangi perutnya yang entah kenapa terasa mules.
Armin menatap Eren tajam, matanya berkaca-kaca kayaknya sih mau nangis. Para gadis memilih tenang, tapi terkadang saling berbisik satu sama lain. "Hei, menurutmu apakah pasangan ini akan marahan?" "Mungkin akan terjadi perang suami-istri." "Entahlah, kita lihat saja kelanjutan kisah mereka!"
"Kamu memang teman terburuk yang pernah saya miliki, Eren Jaeger…" nada suara Armin terdengar mengerikan. Apa benar ini Armin Arlert yang di perankan oleh Inoe Marina?
Eren Jaeger, 15 tahun, kicep sama teman masa kecilnya yang kelihatan lebih lemah dari dirinya. Berusaha menelan air liur guna membasahi kerongkongannya yang kering, tapi gak bisa karena ada rangkaian kata-kata yang tersangkut di sana. Armin mengambil ancang-ancang tendangan elang milik Tsubasa Oozora. Tertolong karena perut mules, Eren berlari sekuat tenaga mencari toilet umum terdekat.
"Hei, kamu mau kemana Jaeger…!?" Armin mengejar, tak terima jika mangsa tendangannya ngacir dengan seenaknya. Para wanita? Tentunya tak mampu berkata-kata, sebenarnya sih bingung hendak berkomentar apa.
Kemudian~
"Jadi begitu…" Armin Arlert, sahabat terbaik Eren yang mau mendengar segala curhatan siapa pun baru saja mendapat kisah menarik seputar kehidupan Eren yang amburadul.
Eren baru saja menjelaskan ke sobatnya ini bahwa dia dan juga Grisha telah memilih untuk tidak tinggal lagi di rumah, walaupun sebenarnya rumah itu yang bayar uang kontraknya adalah Grisha itu sendiri. Tapi yang namanya wanita itu emang kurang ajar.
"Lalu kalian akan tinggal dimana?" pertanyaan Armin tak ada bedanya dengan Mikasa. Eren bingung hendak menjawab apa. Ini semua di luar rencana, mana mungkin dia bisa menemukan tempat buat tinggal. Saat ini saja dirinya tengah kehilangan si Grisha.
Remaja ini duduk di atas tong sampah di pinggir kota. Hatinya galau, tak tau mau berbuat apa untuk kedepannya. Armin dengan pakaian feminimnya juga tak bisa berbuat apa-apa. Remaja surai kuning ini juga galau, kenapa harus dirinya yang mengalami derita percobaan pakaian wanita? Gimana coba caranya untuk kabur dari penderitaan absurd ini? Kedua remaja ini hanyut dalam pikiran masing-masing.
Tak terduga, seseorang datang menghampiri mereka. "Rupanya kamu disini Eren…" suara ini? Eren maupun Armin pasti mengenalinya. Ini suara the papa Grisha. Dalam hati, Eren berjingkrak kegirangan telah berhasil menemukan papanya. Padahal kenyataannya, si Grisha-lah yang berhasil menemukan keberadaan anaknya. Ini sebenarnya yang mencari dan dicari itu siapa sih?
"Kabar gembira, nak…" Grisha senyam-senyum, Eren menunggu penjelasan mengenai kabar gembira itu. "Kenalan papa, si Hannes, punya kontrakan di distrik Trost. Sudah lama gak ke pakai tapi masih bisa di tinggali. Kita akan pindah ke sana sekarang!" jelas papa Grisha.
Wajah Eren jadi horor, apalagi Armin. Distrik Trost? Untuk menuju distrik Trost sama dengan keluar melewati dinding Maria bagian dalam yang katanya banyak raksasa lapar seliweran di sana. Alasan terakhir penduduk menetap di Shingansina karena mereka terjebak oleh dua hamparan luas sebelah utara dan selatan yang di penuhi oleh para raksasa. Itu terus gimana lewatnya coba?
"Saya permisi pulang dulu ya…" Armin bermaksud tidak ikut ambil bagian.
"Loh Armin, kakekmu rencananya juga akan tinggal dengan saya lantaran uang kontrak di sini sudah nunggak 3 bulan. Kamu gak mau mengikuti kakekmu itu po?" tanya Grisha santai. Skak Mat! Tuhan, jangan jadikan Armin sebagai karakter nelangsa dalam fic ini.
-[xXx]-
Empat pasang mata memandang takjub sebuah kendaraan masa kini. Sebuah mobil yang di sebut sebagai APV (Armored Performed Vehicle), terparkir dengan indah di dekat perbatasan dinding. Eren Jaeger, lakon utama kita makin bingung dengan waktu yang ia gunakan. Ini fic modern atau apa?
"Hmm hmm hmm, kalian pasti tak percaya kan jika kami para Garisson memiliki kendaraan ini?" pria yang kita kenal bernama Hannes membanggakan dirinya. "Ini namanya APV, kendaraan perang terhebat yang di gunakan oleh Chris Redfield di Amerika Utara."
"Well, tak usah banyak penjelasan Hannes." potong Grisha. "Jadi kamu akan mengantarkan kami menuju distrik Trost dengan menggunakan ini?" tanyanya.
"Wets, sabar dulu men. Slow!" Hannes mengangkat kedua tangannya. "Nganterin kalian masuk ke dalam dinding Maria sama saja dengan bunuh diri, gue belum mau mati cepet bro…"
Grisha memandang sobatnya ini, "Sejak kapan tata bahasamu jadi gehul begitu?"
"Jaman sudah berkembang, choy. Janganlah kau ketinggalan jaman menggunakan bahasa-bahasa jaman dulu." jelas Hannes makin menjadi saja. Eren sama Armin saling pandang, kakek Armin sih santai saja dari tadi. "Sudahlah, daripada kalian kebanyakan tanya, mending kalian segera GO! Dari antara kalian berempat ada yang bisa nyetir kendaraan kan?"
Hening, tak ada jawaban. Lalat lewat mengisi kekosongan scene yang hampa. Saling pandang satu sama lain. Si kakek Armin mana mungkin bisa nyetir kan?
"Eren, kamu yang nyetir ya…" suruh papa Grisha.
"Ha!? Kok aku? Aku masih 15 tahun, belum punya SIM, nanti ketilang titan di dinding Maria, gak bisa ngendarain apa pun kecuali sepeda…" terang Eren jujur.
"Nanti papa ajarin caranya…"
"Kalau papa bisa ngajarin kenapa gak papa aja yang nyetir?"
"Papa gak bisa nyetir tapi bisa ngajarin…"
Eren speechless. Mana ada orang bisa ngajarin tapi gak bisa praktekin? Hanya papa Grisha Jaeger-lah yang seperti itu sodara-sodara. Apakah mereka bisa melewati dinding dalam Maria dengan selamat?
-[xXx]-
Phew~ Merasa chap ini agak aneh tidak? Saya rasa tidak XD
Okay, sekian dulu ya. Silahkan tinggalkan pesan, saran dan kritik untuk chap berikutnya. Jika ada pertanyaan, silahkan bertanya. Saya (Chie/Rhie) pasti akan menjawab segala pertanyaan yang para pembaca berikan :3
See ya~
