Sialan kok si Rhie ini, aku gak tau ceritanya kok malah di suruh ngelanjutin coba. Tapi ya apa mau di kata? Laptop punya gue, akun juga punya gue. Hehe…, terserah gue kan mau ngelanjutin ceritanya jadi kaya apa.
Judul terakhir Shingeki no Woman kalo gak salah, itu sih sebenernya usulan dari gue waktu itu. Tapi kok ya gak ada unsur-unsur serang-serangan sama cewek ya?
Rated : T, tapi katanya mau jadi rated M. Gak tau deh kapan ada adegan M-nya? Aku harap yang baca kagak keburu-buru banget pingin ada adegan M-nya.
Genrenya banyak banget, gado-gado deh pokoknya : Parody, Humor, Drama, Friendship, kali aja ntar ada Romance. Terserah pembaca deh mau kasih genrenya apaan.
Attention! : OOC 99,9%, alur amburadul, bahasa gak baku, gak perlu di review, tapi kalo boleh kasih kritik saran dong. Kan cerita gak akan bisa maju kalo gak ada kritik ama saran dari pembaca, betul kan?
-[xXx]-
Sebuah pesan yang tak boleh dilupakan!
"Maju terus menuju utara! Maka kau akan menemukan di mana manusia tinggal."
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Keempat orang di dalamnya tak bisa duduk dengan tenang akibat jalan yang tidak mulus, kecuali sang pengemudi yang sepertinya santai-santai saja mengendarai APV.
Baiklah, di sini kita bisa melihat isi dari mobil tersebut yang terlihat seperti kapal pecah. Ada Eren Jaeger, pemeran utama kisah ini yang saat ini sedang berprofesi sebagai pengemudi. Grisha Jaeger, si bokap Eren yang entah kenapa bisa berada di bangku penumpang bagian belakang padahal sebelumnya ia berada di samping pengemudi. Bahkan kacamata berminus atau berples yang sering beliau gunakan, tak terlihat di wajah tuanya. Kakek Armin masih bisa duduk dengan tenang, soalnya dari awal sebelum perjalanan si kakek ini sudah berwaspada menggunakan sabuk pengaman. Kakek yang pintar. Dan hei! Ke mana si manis Armin? Pingsan dengan hiasan berupa benjol di kepala, terbaring tak berdaya di bawah bangku belakang. Kasihan~
Tangan sang papa meraih pundak putra semata wayangnya. "Eren…" nada memanggil terdengar parau. Eren tak menoleh, masih fokus dengan hamparan padang yang luas dihadapannya. "Bukannya di episode sebelumnya kamu jujur tak bisa menyetir…?" tanya papa Grisha, suara makin terdengar horor.
Eren berpikir. "Memangnya aku ngomong kayak gitu, pa? Kok aku gak ingat ya?" jawabnya santai. Si Eren ini memang benar-benar kamvret ya sodara-sodara?
Grisha menghela nafas. "Bisa tolong pelanin dikit kecepatannya, nak? Papa kehilangan kacamata papa nih…"
"Okay…" Eren lagi baik, padahal biasanya dia ini anak yang jarang-jarang nurutnya.
"Armin…, bangun woi! Jangan tiduran di situ, nanti kalau ketendang-tendang gimana?" Grisha yang baru menyadari si Armin pingsan di jok belakang, menoel-noel pipi mulus Armin.
"Ugh…" si paras manis ini akhirnya bangun. Tangan kiri memegang kepala yang terasa pusing, tangan kanan berpegangan pada jok supaya ia bisa bangun dengan mudah.
Papa Grisha bertumpu pada kedua tangan serta lututnya, merangkak-rangkak mencari di mana kacamata kesayangannya. Kepala berkali-kali terantuk bahkan hampir ketendang sama sikilnya Armin, tapi si Grisha tetap tabah menjalani panggilan alamnya ini.
"Hohoho, itu apa ya itu di belakang?" si kakek Armin tanpa di suruh akhirnya buka mulut juga sodara-sodara.
Armin menoleh, Eren liat lewat kaca spion, Grisha yang baru nemu kacamatanya juga ikutan lihat kebelakang. Si kakek tetap stay cool di bangkunya tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Loh loh loh loh, terus si beliau ini gimana caranya tau jika ada sesuatu di belakang?
Dari kejauhan yang entah jaraknya berapa. Terlihat seseorang tak berbusana tengah berlari dengan gaya yang aneh mengejar si APV. Di perhatikan dengan baik dan seksama, tuh orang kok lama kelamaan makin gede aja ya wujudnya? Mata Armin membulat gede hampir keluar, Eren santai-santai saja.
"Mak…, itu raksasa mak…!" Armin teriak histeris.
"Masa iya?"
"Seriusan, Ren…! Percepat kecepatannya ngapa!?" si Armin dengan seenak jidatnya yang tertutupi poni tebal menyuruh Eren supaya ngebut.
Raut muka Eren berubah menjadi gak enak. "Tadi katanya pelanin, kenapa sekarang malah di cepetin?" protesnya.
"Ada alasan lain dibalik ini semua!"
"Kenapa bisa ada raksasa ya?" Grisha malah bertanya sesuatu yang gak penting.
Eren berpikir dua kali bahkan lebih untuk mempercepat laju atau malah diperlambat. "Jangan deh, aku gak mau banter-banter. Nanti bisa kecelakaan…" jelasnya sok polos.
Armin ngucap-ngucap. Raksasa makin mendekat, sudah dekat malahan. Sebenarnya ya sodara-sodara, para raksasa itu memiliki wajah yang lucu. Ingin rasanya dipelihara, tapi kok ya nyeremin juga nek pelihara raksasa. Okay, lupakan! Si raksasa tampak sangat senang mendapat mainan baru, mobil-mobilan choy, siapa yang gak seneng coba?
"Waduh, kayaknya aku kudu ngebut nih…" ucap Eren akhirnya.
"Dari tadi kali!" protes Armin.
"Yang di belakang pegangan ya!"
"Tenang saja, nak. Kita semua yang di belakang sudah perpegangan satu sama lain kok…" terdengar suara sang papa dari arah belakang. Si papa Grisha ini kok gak balik ke bangku depan lagi ya?
Si pengemudi menoleh ke belakang, mendapati 3 manusia sedang berpelukan mesra. What the fuck!? Wajah Eren mengatakan demikian. Grisha yang merupakan salah satu tersangka dalam pelukan mesra di jok belakang mengibas-ngibaskan telapak tangannya, menyuruh Eren untuk tidak menonton adegan jok belakang. Lebih tepatnya, menyuruh Eren untuk kembali fokus pada kendaraan dan segera mempercepat laju mobil.
Bocah 15 tahun ini menghela nafas singkat, merasa kesal karena tidak di ajak dalam adegan peluk-pelukan kayak yang di pilem Slandytubies. Pandangannya kembali ke hamparan luas di hadapannya, matanya mulai fokus, keseriusan sudah terlukis jelas di wajahnya, wuidih…, udah kayak mau ikut balapan aja deh nih anak.
Si Eren tancap gas, mobil melaju dengan kecepatan 200km/jam. Apakah si raksasa bisa ngejar? Kurasa itu tidak mungkin. Menurut perhitungan para pasukan Garisson, raksasa itu hanya memiliki kecepatan maksimum sekitar 100km/jam. Itu untuk kelas 15 meter ke atas, bagaimana dengan kelas di bawahnya? Hanya bagian matematis dan fisikawan lah yang mengetahuinya.
"Kalian tau tidak?" di sela-sela mengemudinya, Eren buka suara.
"Apaan?" Armin si sahabat merespon, pria manis ini kini sudah berada di bangku sebelah pengemudi. Tak kembali ikut ambil bagian dalam pelukan di jok belakang.
Eren bungkam, tampaknya tak enak hati untuk mengatakan kebenarannya. Armin penasaran, matanya tak lepas fokus dari wajah sahabatnya. Eren nelen air liur, tahan nafas.
"Katakan ada apa, Eren! Jangan buat aku penasaran!" tak sabaran, Armin menarik-narik lengan baju Eren.
Manik hijau milik Eren menatap Armin, raut muka menunjukkan ketakutan. Mata bergetar dan mulai berair, Armin waspada. "Dari awalkan aku sudah bilang gak bisa nyetir…" ucapnya parau.
"Terus?" Armin masih mendengarkan tanpa menyadari situasi.
"Terus ini gimana cara berhentiinnya?" Eren bertanya sepolos-polosnya atau lebih tepatnya sebego-begonya.
Hening~
Armin menyentuh keningnya, menghela nafas, bergaya seperti seorang detektif yang sedang berpikir untuk menyelesaikan suatu kasus semata. Dirinya memalingkan wajah kebelakang, meminta sebuah petunjuk kepada saksi mata di belakang. Tak ingin ikut ambil bagian, Grisha geleng-geleng, kakek diam saja. Baiklah, sepertinya Armin bisa mengingat sesuatu.
"Eren…, bukannya tadi kamu bilang kamu tidak pernah ingat tentang ucapanmu yang tak bisa menyetir itu?" Armin mulai beragumentasi.
"Kapan…? Itu kan kamu lagi pingsan, harusnya kamu gak denger. Orang aku ngomong kayak gitu ke papa kok, bukan ke kamu!" hardik Eren. Armin kembali kicep
"Baiklah Eren, dengarkan aku! Kita semua yang ada di sini tentunya ingin mobil ini berhenti. Jadi tolong kurangi kecepatannya, jangan kamu injak terus gasnya!" perintah Armin dengan sabarnya.
Percuma, Eren sudah panik duluan. Kakinya gemetar disko, gak bisa lepas dari segala permukaan yang ia pijaki. Termasuk gas mobil. Well, terus gimana sekarang Armin? Apa anda ada ide?
Pria manis ini memejamkan mata, memikirkan apa yang saat ini ada dalam pikirannya adalah sebuah pemecahan masalah yang tepat atau tidak. Apa boleh buat, tak ada cara lain, jika begini terus nanti semuanya yang kena masalahnya. Armin dengan heroicnya merebut setiran mobil.
"Ooi Armin, a-apa yang kamu lakukan?" Eren tersentak kaget.
"Maaf Eren dan semuanya, tapi saat ini aku akan mengarahkan mobil ini untuk menabrak dinding yang ada di ujung sana!" jelas Armin, fokus mata tertuju pada dinding tinggi yang terlihat sekitar 10 km jauhnya.
"APA!?" Eren makin kaget, bocah ini tanpa di suruh langsung loncat ke bangku belakang, ikut aksi peluk-pelukkan bareng papa Grisha sama kakek Armin.
"Loh kamu kok malah ke belakang sih?" tanya Armin polos.
"Ini untuk keamanan Armin, aku gak mau luka konyol karena nabrak dinding!" terang Eren di ikuti anggukkan papa Grisha sama kakek.
"Depan belakangkan tetap luka?"
"Kau tidak tau ya? Presentasenya itu, jika mengalami kecelakaan mobil atau kendaraan apa pun, pastinya yang berada di depanlah yang akan mengalami luka lebih parah ketimbang yang di belakang…" Eren menjelaskan dengan teori yang di buat-buat.
Armin speechless. Konco-nya itu memang benar-benar konco tipis. Apa yang tidak enak pasti dia langsung pergi meninggalkan Armin. Beruntunglah Armin terlahir sebagai manusia murah hati yang penuh dengan kesabaran, jadinya dia gak masalah deh dengan sikap teman masa kecilnya itu. Ah, masa iya? :D
Mobil masih melaju dengan kecepatan tinggi, si raksasa sudah tak mengejar kembali. Dia sepertinya sudah lelah main kejar-kejaran. Armin panik dengan kelanjutan dari kisah perjalanannya ini, yang di jok belakang sudah mulai ngucap-ngucap doa atau mantra apa pun supaya selamat sampai tujuan. Dan…
BRAAKK…! Semuanya menjadi gelap gulita.
-[xXx]-
Suara riuh kerumunan orang, berisik-berisik bagai lalat mengerubungi tempat sampah, ada yang toel-toel pakai ranting atau batang kayu, ada yang nendang-nendang, berniat disiram pake air tapi sayang banget sama airnya, dan lain sebagainya. Yang tadi adalah beberapa tindakan yang dilakukan oleh sebagian penduduk yang mengetahui kejadian kecelakaan dari paragraf sebelumnya.
Eren terbangun, mendapati banyak mata melihat dirinya dan juga 3 korban lainnya. Mayoritas atau hampir semua pemilik mata tersebut adalah pria. Eren segera terduduk, meraih lengan Armin yang tidak jauh darinya kemudian menggoyang-goyangkannya, berharap pria manis di sampingnya segera membuka kedua matanya. Rupanya Grisha dan si kakek sudah tersadar.
Dari kecelakaan tadi, tak ada yang mengalami luka. Semuanya baik-baik saja, mungkin hanya mengalami pembengkokan tulang kepala akibat kejedot benda tumpul di hadapan mereka tadi di dalam mobil.
Mengetahui jika korban baik-baik saja, kerumunan tersebut mulai bubar. Merasa sudah tak ada yang menarik lagi dalam kecelakaan mobil APV. Dan ngomong-ngomong soal mobil, kalian tau? Mobil APV milik Chris adalah mobil yang tahan banting. Jadinya tuh mobil tidak mengalami lecet sama sekali, hebatnya saja ya, akibat tabrakan mobil APV, tembok yang tebalnya sekitar 5 meter mengalami retakan cukup ringan. Hebatkan?
"Akhirnya kita sampai juga…" Grisha mengawali pembicaraan.
Eren menatapnya sekilas, kemudian beralih kembali kepada sahabatnya yang masih juga belum siuman. Segala upaya ia lakukan, mulai dari di goyang-goyangin, di kelitiki, di tendang, bahkan di cium pun si Armin tetap gak bangun. Nih anak mati apa gimana?
"Nak…, bukan begitu cara membangunkannya." si kakek menghampiri Eren yang sepertinya sudah kewalahan. Eren menyingkir, mempersilahkan si kakek untuk mempraktekan cara ampuh untuk membangunkan si Armin.
Kakek Armin pasang kuda-kuda, tangan di goyangkan di udara seakan membentuk sebuah lingkaran. Si kakek narik nafas dalam-dalam, kemudian di hembuskan secara perlahan. Eren mulai was-was, nih kakek-kakek mau apa coba sama temennya ini? Jari telunjuk dan jari tengah dari kedua tangan bertaut, membentuk sebuah bentuk yang biasanya di gunakan ninja untuk mengeluarkan sebuah jurus. Dan….
"CIATTTT!" teriak kakek Armin yang membuat Eren tentunya mangap seketika.
SLUBBB!
"GYAAAA!" Armin-pun segera tersadar dari pingsan manisnya ketika tempat buang hajatnya disodok sama kakeknya sendiri dengan tidak terhormatnya.
"Ajaib! Armin, kau benar-benar telah sadar rupanya…." Puji Eren, terkagum-kagum melihat sahabatnya sungguh-sungguh bangun ketika disodok bagian "itu"-nya.
"Apa-apaan sih kau Eren!? Sakit tau…!" bentak Armin kesal terhadap sahabatnya sembari mencekik leher Eren.
"Bukan gueee! Bukan gue tau yang nyodok pantat kamu!" bantah Eren, mencoba melepaskan cengkraman tangan Armin pada lehernya.
"Kalau bukan loe terus siapa lagi!?" tanya Armin pada Eren, masih dengan nada marah yang semakin meninggi.
"Hoho…, kakek-lah pelakunya…." Jawab kakek Armin tanpa adanya rasa berdosa sama sekali.
Armin membalikkan wajahnya ke arah kakek. Tampak wajah kakek tengah tersenyum-senyum ke arah yang sedang menatap dirinya. Pingin rasanya si Armin berbalik menjadi mencekik kakeknya yang telah kurang ajar terhadapnya itu. Namun apa daya tangan tak sampai…, kakek sudah tua dan Armin tak ingin menjadi seorang cucu yang durhaka kepada kakeknya sendiri. Akhirnya Armin hanya bisa pasrah menghadapi sakitnya sodokan yang ia dapatkan dari sang kakek sialan itu.
"Ehem-ehem…."
Ketiga lakon dalam adegan penyadaran Armin membalikkan wajah mereka ke arah asal suara. Rupanya ada salah satu aktor yang terlupakan pada paragraf sebelumnya. Ya, kasihan bener ya Papa Grisha.
"Halo semua, selamat datang di distrik Trost. Pada akhirnya kita telah tiba di tempat yang merupakan surga dari para pria senasib sepenanggungan dengan kita…." Ujar Grisha sembari menunjukkan suasana distrik Trost kepada Eren, Armin dan kakeknya.
Sayangnya bukan wajah berbinar-binar yang didapat dari Eren dan Armin. Melainkan wajah mangap yang paling terjelek sedunialah yang Grisha dapatkan. Kakek Armin cuma angguk-angguk aja, entah maksud anggukannya itu apa?
Distrik Trost, merupakan surganya para pria. Seluruh mata memandang isinya hanyalah kaum kencing berdiri. Suasana tempatnya-pun cowok banget. Disain rumah mepet-mepet yang hampir gak ada tanemannya sama sekali. Mereka lebih suka pelihara ternak mulai dari sapi, kambing dan domba daripada harus ngurusin kebun di depan rumah. Ada juga pria-pria sarungan tanpa busana yang sedang maen poker di pos ronda. Ada juga yang lagi gosip di deket tiang listrik sambil tembak-tembakan pake pistol air alami.
Speechless? Tentu saja. Pemandangan seperti ini tuh belum pernah mereka lihat sebelumnya. Suasana baru, kota baru, dan tentu saja pengalaman baru. Okay lanjut!
"Jadi, dimana kontrakannya paman Hannes?" Eren mulai bertanya. Remaja ini tengah berjalan di samping papa Grisha yang lagi celinggak-celinggukan sambil beramah tamah serta menyapa orang sekitar. Armin dan kakeknya mengekori di belakang dua orang bermarga Jaeger ini.
"Sebentar lagi sampai kok, agak menjerumus ke pelosok kota. Santai saja, nak. Nanti juga pasti sampai kok…" ucap Grisha santai.
Ya, prediksi sampai menurut setiap orang itu berbeda. Kalau saat ini yang mengantar ke kontrakan adalah pemilik rumah itu sendiri. Si Paman Hannes. Mungkin daritadi bakalan udah sampai ke kontrakannya. La kalo si Papa Grisha? Apa mau dikata? Kemungkinan untuk sampai menjadi 20%. Udah berjam-jam keliling Distrik Trost, udah berjam-jam pula mereka berempat berhenti untuk beristirahat di angkringan samping jalan. Sembari tanya kanan kiri untuk memastikan kebenaran letak rumah Paman Hannes. Parahnya, yang ditanya cuma jawab "disana, disana". Ya buju busyet, sananya itu mana mas? Sana itukan ada banyak. Sana belok kiri, lurus, kanan, serong atau berhenti…? Nah loe!?
"Sampai kapan ini Paman? Daritadi kok gak nyampek-nyampek sih…?" Armin akhirnya mulai dongkol.
"Sabar saja Armin. Sebentar lagi pasti sampai kok…." Jelas Papa Grisha.
"Daritadi sih papa bilangnya sebentar lagi muluk! Kenyataannya…? Daritadi juga kita kagak nyampek-nyampek kontrakannya Paman Hannes. Pegel nih kaki gue, be!" rengek Eren.
Si Grisha sih bungkam aja. Dia percaya pada takdir, kalo sebentar lagi mereka pasti akan segera sampai. Dan yang namanya kepercayaan itu memang luar biasa. Sebuah rumah dengan bentuk sederhana, berpintu satu dengan dua jendela. Tanpa pagar karena memang pagarnya sudah reyot. Taman depan sudah seperti hutan. Yap, ilalang yang tinggi menutupi keindahan bentuk rumah Paman Hannes yang minimalis itu. Bunyi orkestra yang indah terdengar dari dalam ilalang-ilalang yang tinggi itu. Ada suara jangkrik, kodok, kucing bersetubuh, anjing mengeong, sampai suara desahan dua orangpun terdengar! ( 0.0)? Yang itu tadi dilupakan aja ya!
"Yakin ini rumahnya pa?" tanya Eren tidak percaya dengan pemandangan yang ia lihat di depannya.
"Kok buluk banget ya?" ucap Armin seenaknya sendiri.
"Hush, jangan menghina begitu! Masih mending kita dipinjemin rumah model beginian. Daripada kita tidur di jalan!" jelas Grisha.
"Masuk dulu saja mendingan. Siapa tau dalamnya lebih memuaskan daripada luarnya." Lanjut kakek Armin.
Merekapun menyetujui ide brilian yang diberikan oleh kakeknya Armin. Memang susah berjalan melewati ilalang yang tingginya hampir separuh tubuhnya Eren. Sudah begitu di dalam ilalang banyak sekali serangga-serangga mesum yang berebut untuk mencicipi tubuh mereka semua. Kebayangkan seberapa mesumnya serangga-serangga di dalam sana? Mereka berempatpun segera berlari menuju ke teras rumah Paman Hannes. Maunya sih langsung masuk. Tapi ternyata pintu rumahnya kagak bisa dibuka! Sial banget gak sih mereka. Berhubung si Eren sudah gak sabar buat masuk ke dalam rumah. Jadilah si pintu didobrak dengan sekuat tenaga oleh orang yang udah gak sabaran itu.
Hening sebentar…. Mari kita dengarkan sekeliling kita terlebih dahulu. Oke! Cukup. Kita lanjutkan lagi ya!
Bukannya lega karena sudah berhasil masuk ke dalam rumahnya Paman Hannes. Mereka berempat malah membatu untuk beberapa saat. Mulut menganga perlahan. Pingin teriak tapi tertahan. Tak kuasa melihat pemandangan yang ada di depan mereka.
Mari saya jelaskan pemandangan apa yang saat ini tengah mereka lihat….
Sebuah rumah biasa. Dengan berbagai macam ornamen yang tidak seharusnya berada di dalam rumah itu. Ya, sebut saja kotoran-kotoran yang ditinggalkan oleh laba-laba di ujung ruangan. Debu-debu yang tebalnya hampir 5cm menghiasi furnitur-furnitur yang ada di dalamnya. Sampah-sampah yang tidak tau darimana asalnya bertebaran di atas lantai rumah yang warnanya sudah tidak karuan. Ditambah lagi coret-coretan di dinding yang entah apa tulisan atau bentuk gambarnya.
"Repot juga kalau begini?" Grisha-pun angkat bicara.
"Ujung-ujungnya pasti harus bersih-bersih jugakan, pa? Padahal sebelumnya aku gak pernah bersih-bersih loh di rumah." Protes Eren.
"Mau gimana lagi nak, kalau keadaannya kayak gini. Masak ya mau tiduran di dalam rumah yang kotornya minta ampun kaya begini. Emang bakalan betah?"
"Sudahlah, mari kita bersihkan bersama-sama." Ucap Armin pada akhirnya sembari berjalan mencari alat-alat kebersihan.
Tapi belum sampai Armin mendekati alat kebersihan, dia-nya sudah keburu gatal-gatal duluan karena gak tahan sama debu. Jadilah, Eren sama Grisha doang yang bersihin rumah kotor itu. Soalnyakan gak enak juga kalo nyuruh kakeknya Armin buat bantuin bersih-bersih. Bisa memperpendek umurnya ntar.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, akhirnya kegiatan bersih-bersihpun dapat berakhir dengan sempurna. Eren segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia mencari di mana kamar yang menurutnya layak untuk ia gunakan. Namun, tak ada satupun kamar yang kosong di dalam kontrakannya Paman Hannes. Kamar pertama udah dipake sama Grisha dan juga kakeknya Armin. Kamar kedua udah dipake tidur sama sahabatnya sejak kecil. Jadilah pada akhirnya Eren tidur satu kamar sama Armin. Tapi suasana rumah yang masih baru membuat Eren tidak bisa terlelap dalam mimpi. Ia memilih untuk pergi duduk di jendela sembari melihat-lihat pemandangan Distrik Trost di malam hari. Mulai detik ini, ia akan memulai kehidupan baru di tempat ini. Eren sangat berharap bahwa kehidupannya akan segera berubah sesuai dengan yang ia harapkan. Tapi apa benar, Eren bisa hidup tanpa Mikasa dan juga Mama Carla?
Eren menghembuskan nafasnya pelan. Memalingkan wajahnya sedikit dan manik hijaunya berhasil menangkap sepasang mata hitam milik seseorang. Seorang pria yang ada di luar rumahnya tengah berhenti di depan rumah Eren. Pria dengan postur tubuh yang tinggi dan tegap. Surai hitamnya bergoyang tertiup angin malam. Pria itu tersenyum ke arah Eren, entah untuk apa. Bingung? Yang mendapatkan senyuman dari orang itu hanya bisa diam saja tanpa membalas. Tiba-tiba seorang pria dengan surai kuning bertubuh kekar datang menghampiri pria sebelumnya. Berbicara sebentar, kemudian mereka berdua pergi meninggalkan rumah Eren. Melihat kepergian kedua orang itu, Eren-pun segera beranjak pergi juga. Menuju ke kasurnya, mendorong Armin dan memberikan ruang yang cukup luas untuk dirinya. Hari ini berakhir dengan cukup menyenangkan kelihatannya….
-[xXx]-
"Oii…, Eren!"
Eren tersadar dari lamunan panjangnya ketika suara seseorang memanggil namanya. Yang tadi itu, rupanya cuma flashback. Itu artinya, sekarang Eren sudah kembali ke dunia nyata.
"Oii, jangan ngelamun! Lihat depan dong! Ada tiang listrik tuh!"
Tidak sempat ngerem karena pada dasarnya memang tidak punya rem. Mana ada coba manusia yang punya rem? Memangnya vario? Erenpun menabrak tiang listrik dengan tidak sempurna. Suara tabrakan yang cukup besar terdengar begitu menyakitkan. Benjol di kepala Eren besarnya bukan kepalang. Merahnya-pun pake banget. Kayak tomat baru matenglah pokoknya. Eren cuma bisa meringis sambil berucap pelan.
"Aduhhhh…."
"Makanya jangan ngelamun Eren!"
"Oii Armin! Seharusnya kau menarikku sebelum aku-nya bakalan menabrak tiang!" bentak Eren kepada sahabat setianya.
"Aku belum sempat melakukannya Eren, mungkin lain waktu…." Balas Armin.
Eren cuma bisa ngucap-ngucap menghadapi konco tipisnya yang satu ini. "Memang kita ini mau pergi kemana sih?" tanya Eren, mencoba melupakan kejadian tabrak tiang tadi.
Armin berhenti melangkah. Kepalanya ia miringkan menatap Eren yang juga tengah menatapnya dengan wajah polos atau lebih tepatnya dungu.
"Oii Eren…!" pria manis ini buka mulut.
"Apa?"
"Kau ini pikun atau apa? Perasaan tadi kita sudah diskusi buat nyari sekolahan deh."
Eren diem sambil mikir. "Seingatku, otak saya masih baik-baik saja deh. Mana mungkin aku pikun di usia muda." sangkalnya. "Eh, emangnya nyari sekolahan buat apaan sih?" remaja ini kembali bertanya.
"Sekarang coba deh loe pikir, ada orang nyari sekolahan kira-kira buat apaan?" si Armin malah balik nanya. Orang yang di tanya kembali berpikir.
"Buat sekolah, menuntut ilmu, jadi guru, mungkin jadi tukang bersih-bersih atau satpam…" jelas Eren mengeluarkan segala perkiraan yang lewat di otak minimnya. "Eh, emangnya di sini ada sekolahan?"
Setiap manusia pasti memiliki tingkat kesabaran, betul? Dan di sini kita mengetahui jika tingkat ke sabaran seorang Armin Arlert sudah mencapai 80% akibat menghadapi makhluk jejadian macam Eren Jaeger. Kira-kira, kapan ya sampai 100%?
"Eren…" si Armin manggil dengan nada penuh kesabaran. "Aku tadi sudah searching di Gugeel dan aku menemukan jika distrik ini memiliki sebuah sekolah bernama Recon Academy. Dan di akademi ini itu ya, nanti kita akan mendapatkan pelajaran khusus dari para pasukan pengintai."
Eren bingung sesaat. "Apaan tuh pasukan pengintai?"
Armin membusungkan dadanya, entah untuk apa?
"Ngapain juga kamu busung-busung'in dadamu kayak begitu Armin?" tanya Eren.
"Ini namanya tarik napas buat persiapan penjelasan panjang, Eren!" jawab Armin. "Sebaiknya, kamu segera siapkan bangku dan juga buku tulis. Kalo ada yang penting kamu harus segera mencatatnya. Kalo bingung, segera kau tanyakan padaku Eren. Mungkin saja penjelasanku ini akan keluar di ulanganmu besok."
Bodohnya si Eren angguk-angguk aja menerima suruhan dari Armin. Dia duduk di depan Armin yang saat ini tengah menyiapkan sebuah kerdus sebagai podium mininya.
"Oke, aku mulai penjelasannya ya Eren." Ucap Armin yang dibalas dengan anggukan lagi oleh Eren.
Negara kita ini memiliki beberapa bagian. Seperti yang sudah dijelaskan pada chapter sebelumnya. Kita memiliki tiga dinding di negara kita. Maria, Rose dan juga Sina. Setiap dinding memiliki kastanya masing-masing. Untuk saat ini, yang tertinggi masih Sina dan yang terendah adalah Maria. Silsilah terbangunnya dinding tersebut kalian tentunya sudah taukan untuk apa? Kalau belum tau lirik lagi chapter sebelumnya. Nah, di setiap dinding pastinya memiliki semacam pasukan pelindung. Anggep aja kaya polisi daerah gitu. Setiap daerah pasti punya polisinya masing-masingkan. Begitu juga di negara kita. Di tempat asal kita dulu, Shingansina. Kita punya pelindung. Mereka menyebut diri mereka sebagai Pasukan Garrison. Tugas mereka adalah menjaga daerah Shingansina dari tindak kejahatan dan juga mengawal perjalanan kita dari dinding Maria menuju ke distrik Trost. Makanya mereka punya alat-alat yang luar biasa canggih. Soalnya bisa kita lihat, musuh mereka itu abnormal. Bukan manusia, melainkan titan-titan lapar yang berkeliaran di dalam dinding Maria.
"Nah, Paman Hannes adalah salah satu Pasukan Garrison." Jelas Armin. "Tapi dia tidak menjalankan misinya dengan baik, kau lihat sendirikan Eren. Paman Hannes membiarkan kita terjun ke dalam bahaya, bukannya malah menjaga kita selama perjalanan menuju distrik Trost."
"Kau benar Armin." Ujar Eren membenarkan pernyataan Armin. "Untung saja kita bisa selamat sampai distrik Trost!"
Armin angguk-angguk. Ia kemudian melanjutkan kembali penjelasannya.
Nah, kalo Shingansina aja punya pelindung. Pastinya di distrik Trost ini juga punyakan. Kita sebut saja mereka pasukan pengintai atau kerennya sih Survey Corps.
"Itukan cuma bahasa inggrisnya doang!" komentar Eren.
"Yah, mau bagaimana lagi? Emang dari sononya namanya udah begitu! Aku sih cuma ngikutin aslinya aja!" protes Armin. "Udah ah, jangan motong-motong penjelasan gue ngapa!"
Eren kembali diam mendengarkan penjelasan dari Armin.
Terakhir adalah dinding Sina. Dia punya sebuah distrik kecil, namanya Hermiha. Nah, di dalam situ. Ada yang namanya polisi militer. Mayoritas perempuan semua. Kau mau tau kenapa? Soalnya polisi militer itu memiliki tugas untuk melindungi kaum hawa yang ada di dalam dinding Sina dari para pria laknat yang tinggal di dalam distrik Trost. Juga melindungi kerajaan atau kepresidenan yang ada di dalam dinding Sina dari kejamnya para masyarakat dinding Rose yang saat ini telah dikuasai sepenuhnya oleh para kriminal dari Underground.
"Kau jangan sebut para pria itu laknat Armin! Lihat apa gendermu! Kecuali kalau kau sudah benar-benar mengakui dirimu adalah seorang wanita, seperti yang diharapkan oleh para gadis di Shingansina dulu." Eren memberikan ceramah singkat pada Armin.
Armin hanya angguk-angguk. Ia baru saja melupakan apa gendernya yang sebenarnya.
"Oke, lalu apa tugasnya para pasukan pengintai?" tanya Eren penasaran.
"Kau penasaran Eren?" Armin balik tanya pada Eren. Hasilnya ia mendapatkan anggukan penasaran dari Eren. "Itu aku juga gak tau, Ren!"
"Kupikir kau tau segalanya, Min!?"
"Harusnya sih aku memang tau segalanya. Tapi ya, waktu aku cari di Gugeel tentang pasukan pengintai. Ternyata, situsnya itu tidak bisa dibuka oleh anak-anak di bawah umur!" jelas Armin mantap.
"Lah, kenapa bisa begitu!?" protes Eren. "Pasti ada apa-apanya ini!"
"Makanya, kalau kamu mau tau tentang mereka! Kamu harus masuk ke Recon Academy!" perintah Armin. Eren angguk-angguk mantap.
"Benar sekali Armin! Ayo kita cari di mana akademi itu berada!" ajak Eren.
Keduanya saling bertatapan, menganggukkan kepala tanda mereka berdua sepakat. Kemudian mereka melangkah mantap menuju ke arah matahari terbenam. Akankah mereka berhasil menemukan di mana Recon Academy berada? Hal apakah yang menanti mereka di dalam sana?
[T.b.C]
-[xXx]-
Okay, segini dulu. Terima kasih kepada para pembaca yang sempat meninggalkan jejak dan tidak, apa kalian mulai penasaran dengan kisah ini? Hehe, tunggu lah kelanjutannya. Maaf ya lama update, di usahakan akan update pada hari Minggu. Okay?
See ya~
