Galerians, in.

A/N: Pertama-tama, hamba perlu kasih tahu dulu bahwa hamba akan memakai kata aslinya (dalam bahasa Jepang atau Inggris) untuk istilah-istilah yang tidak memiliki padanan yang nyaman dikatakan dalam Bahasa Indonesia. Iblis dan Malaikat memang dipakai di fic ini, tapi untuk istilah Malaikat yang Jatuh, hamba akan menggunakan kata Datenshi, karena lebih pendek. Lalu, bagi readers yang tidak tahu, 'Goshujin-sama' berarti 'Master', kata sebutan bagi majikan yang dipakai oleh maid atau pelayan.

Sebagaimana fic hamba yang biasanya, jika ada action, maka itu berarti ada BGM. Nama lagu yang hamba sebutkan bisa dengan mudah anda temukan di Youtube. Please prepare at your own convenience.

1. Howling – Abingdon Boys School

2. Ludo – Sakura Drops Piano Cover

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Goes into A High School

Chapter 2

(You're a Devil?! Trouble is Brewing in Kuoh Academy!)

(BGM Starts. Howling – Abingdon Boys School)

Dari sekian banyak emosi yang berkecamuk di dalam hati Raynare, dua yang paling terdepan adalah rasa bingung dan takut.

Dia adalah seorang Datenshi, malaikat pembangkang yang dicampakkan dari surga karena telah berani melawan keinginan sang Pencipta dan mengabaikan tugas mereka. Status sebagai malaikat buangan yang tidak akan diterima oleh surga lagi membuat mereka memberontak, dan kekuatan mereka yang bisa menyaingi baik kaum malaikat atau bangsa Iblis membuat mereka mendapat status sebagai salah satu dari Tiga Faksi dalam Perang Akbar di akhirat yang berlangsung beberapa millenium silam.

Dan itulah yang membuatnya bingung. Sebagai seorang Datenshi yang memiliki cukup kekuatan untuk menyaingi malaikat dan Iblis, dia seharusnya tidak perlu merasa takut kalau hanya harus berhadapan dengan kaum manusia yang lemah dan rapuh.

Namun walaupun dia adalah kaum buangan, Raynare tetaplah seorang malaikat. Kemampuan fisik, sihir, dan panca indera yang ia miliki jauh lebih besar dari makhluk hidup manapun yang lahir di Bumi. Dia bisa melihat melalui mata seorang manusia dan mengintip apa isi jiwanya.

Dan ketika ia membalas pandangan dua bola mata biru itu, kebingungan Raynare berakhir, ketidaktahuan tentang alasan apa yang membuatnya merasa takut pada manusia yang berdiri di depannya langsung pupus seketika.

Karena di balik biru beku yang sama sekali tidak menampakkan emosi macam apapun itu, Raynare melihat seorang monster. Bukan Iblis, bukan Malaikat, bukan Youkai, namun monster.

Kekuatan yang bergejolak ganas seperti badai tak terbendung. Tekad yang berpusar macam tornado yang menyapu habis apapun yang dilaluinya. Dan nafsu membunuh yang bisa menghentikan langkah makhluk apapun yang harus ada di bawah pandangannya.

Renungan Raynare yang tak berlangsung lebih dari beberapa detik itu buyar ketika tubuh sang remaja pirang akhirnya bergerak. Gemeletuk gigi Raynare menjadi semakin intens sampai suaranya terdengar di telinga.

Napasnya berhenti seketika saat remaja dengan tanda lahir menyerupai kumis kucing itu tiba-tiba saja sudah berdiri di depan air mancur dalam gerakan yang hampir saja tak bisa ditangkap bahkan oleh matanya yang jauh lebih jeli dari makhluk fana.

Kedua kakinya hilang tenaga dan Datenshi itu hampir hilang keseimbangan ketika Naruto mengangkat tangan kanannya yang terkepal dan dilapisi aura biru langit.

Dia sama sekali tak bisa bergerak menghindar ketika tinju itu menghajar wajahnya mentah-mentah.

Saat itu adalah pertama kalinya seorang manusia berhasil membuat Raynare terlempar menyeberangi taman dengan begitu hebat sampai tubuhnya terhempas ke sebuah pohon yang langsung roboh ketika batang kayunya tak cukup kuat untuk menahan momentum yang tercipta oleh serangannya.

Kalau saja dia bukan seorang Datenshi dengan tubuh yang takkan terluka ketika ditabrak mobil sekalipun, maka saat ini rahangnya pasti sudah lepas dan semua gigi geraham bagian kiri Raynare rontok habis.

Namun rasa sakit yang ia terima menjadi faktor yang cukup untuk membuat Raynare akhirnya terbebas dari rasa takut yang sejak satu menit lalu telah membuat tubuhnya kaku seperti patung batu. Rasa sakit ia ubah menjadi kemarahan, dan dengan api yang menyala kembali di belakang mata ungu gelapnya, Raynare berdiri tegak dan melemparkan tatapan tertajam yang bisa ia berikan ke arah Naruto.

Namun Naruto hanya mengedipkan mata satu kali. Bagi Naruto, yang sudah pernah berdiri berhadapan dengan makhluk mistis pengendali pasir semacam Ichibi no Shukaku atau Iblis kuno dari dunia lain seperti Mouryou, dan bahkan berhasil menang melawan mereka, nafsu membunuh yang dipancarkan oleh Datenshi di depannya terasa tak lebih dari sebatang jarum tumpul yang bahkan tak mampu menembus kulitnya.

"Bocah keparat!" Raynare mengumpat keras, membuat Naruto bisa melihat bahwa semua giginya telah berubah menjadi taring. "Makhluk rendahan sepertimu berani memukul seorang Datenshi sepertiku?! Sekarang aku takkan puas hanya dengan membunuhmu! Tungkaimu akan kucabik-cabik, perlahan-lahan, satu demi satu, sampai kau memohon agar nyawamu diakhiri!"

Alih-alih dengan suara, Naruto merespon ancaman itu dengan mengobarkan Chakra yang telah sebulan terakhir ia kekang dan sembunyikan.

Untuk sepersekian detik, angin tiba-tiba berhenti berhembus. Dunia menjadi sunyi ketika serangga dan pohon dan daun berhenti bernyanyi. Detik berikutnya, energi Chakra meledak keluar dari tubuh Naruto dengan tekanan tinggi, menciptakan gelombang kejut yang menghajar area sekelilingnya tanpa ampun. Angin dibuat mengamuk. Pohon mengerang seakan kesakitan. Dedaunan berpisah dari tangkainya dan menghambur, beterbangan di udara seakan-akan mendapat hasrat tak tertahankan untuk menari di bawah kekuatan yang terpancar dari tubuh Namikaze Naruto, seorang shinobi dengan kapasitas Chakra terbesar di seluruh daratan Hi no Kuni.

Mulut Raynare ternganga dan tanpa sadar perempuan itu mengambil satu langkah mundur. Wajahnya yang tadi berkeriut marah kini berjengit saat ia kembali melihat dua mata biru beku yang menatapnya dengan dingin, bersinar di dalam kegelapan, di antara dedaunan melayang.

Rasa takut yang menyerangnya menjadi tak terperi, sehingga akal sehat Raynare mengalami disfungsi untuk sesaat dan membuat Datenshi itu akhirnya bertindak nekat. Didorong oleh rasa panik, Raynare kembali mengeluarkan tombak cahaya merahnya, senjata yang langsung ia luncurkan ke arah si remaja pirang yang sama sekali tidak terlihat membuat gerakan untuk menghindar.

Alam semesta nampaknya benar-benar bertekad untuk menghukum Raynare atas pembunuhan yang telah ia lakukan. Di atas rasa takut yang sudah membuat jantungnya berdebar begitu kencang sampai dadanya terasa sakit, kali ini Raynare harus dirundung oleh rasa terkejut dengan level yang sama hebatnya ketika ia melihat serangannya telah gagal menjadi solusi. Tombak merah yang ia lesatkan berhenti beberapa inci tepat di depan dada sang pemuda, gerakannya diblokir oleh tangan kanan berlapis cahaya biru di mana tombak itu kini tergenggam.

"K-kau..." Raynare terbata, seraya kakinya mengambil dua langkah mundur.

Namun Naruto sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun, baik itu senang, bangga, atau sombong, setelah berhasil bertahan melawan serangan yang baru beberapa menit lalu telah merenggut nyawa manusia lain dengan sebegitu mudahnya. Naruto hanya menoleh singkat ke tombak di genggamannya sebelum mencengkeram senjata tersebut sekuat tenaga, begitu keras sehingga walaupun kulitnya telah dilapisi Chakra padat, sisi tajamnya tetap berhasil mengiris permukaan jari-jari Naruto sampai darahnya mulai mengalir dan jatuh menetes ke aspal.

Kelopak mata Raynare melebar penuh dan pupilnya mengalami dilatasi total ketika beberapa detik kemudian tombak cahayanya remuk dan hancur seperti kaca yang pecah, kepingannya pudar dan lenyap tak bersisa bahkan sebelum mereka mencapai tanah.

Raynare melihat Naruto mengangkat tangannya untuk mengamati luka yang ada di sana dengan ekspresi yang tidak berubah, seakan-akan dia sudah terlalu sering terluka dan hanya mempertimbangkan apakah luka di tangannya akan mengurangi profisiensi bertarung yang bisa ia kerahkan. Napas sang Datenshi kembali tercekat ketika dua mata biru yang bersinar itu kembali terarah padanya, dan kali ini, satu kesadaran yang sudah ada sejak awal pertarungan namun tidak ia akui akhirnya merangseknya dengan ganas sampai tak bisa ia sangkal lagi.

Melawan remaja pirang ini, si manusia rendahan namun memiliki kekuatan untuk menyaingi seorang Datenshi ini, hanya akan berakhir dengan kematiannya.

Ketika Naruto kembali mengambil langkah, tubuh Raynare beku total, berpikir bahwa membuat gerakan mendadak hanya akan membuat remaja di depannya memutuskan untuk mengakhiri nyawa Raynare lebih cepat. Namun walaupun tubuhnya tidak membuat mosi, mata Raynare terus berkelebat kesana kemari demi mencari cara untuk kabur dan bertahan hidup sampai hari esok. Seiring setiap langkah yang diambil Naruto, malaikat yang telah dibuang dari surga itu bisa merasakan persentasenya untuk bertahan hidup semakin mengecil dan mengecil.

Kesempatan untuk kabur yang telah dicari-cari Raynare datang ketika letusan Youki kembali terasa di taman, berasal dari arah pancuran air, membuat perhatian Naruto buyar dan teralih untuk sepersekian detik. Untungnya, waktu itu sudah cukup bagi Raynare untuk menggunakan sihir transportasinya, sehingga ketika mata Naruto kembali berpaling padanya, sosok Raynare telah menghilang, hanya menyisakan lembaran-lembaran bulu hitam yang melayang sebelum lenyap di udara.

Naruto yang telah kehilangan target menggertakkan rahangnya kuat-kuat sampai giginya beradu, namun dia tahu bahwa dia tak punya waktu untuk memarahi dirinya sendiri karena ada hal lain yang lebih butuh perhatiannya. Remaja pirang berusia lima belas tahun itu berbalik arah, dan melesat ke tempat di mana tubuh Issei yang sudah tak bernyawa masih terbaring.

Namun secepat apapun Naruto memaksa kakinya berlari, dia tetap tidak berhasil sampai tepat waktu. Dia hanya sempat melihat rambut merah, dua sayap menyerupai kelelawar, dan lingkaran sihir yang bersinar. Detik berikutnya, sosok itu telah membawa tubuh Issei pergi, hilang dari pandangan dan hanya menyisakan darah segar yang masih menggenang.

Naruto berhenti berlari, tangannya masih terulur seakan mencoba meraih orang yang telah gagal ia selamatkan. Ia jatuh berlutut, dengan bahu gemetar dan gigi gemeretak, sebelum tinjunya melayang dan meretakkan aspal.

"...Sial!" dia meninju aspal lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi. "Sial! Sial! Sial! Sial!"

Naruto berusaha menahan cairan yang mulai menggenangi matanya. Dia tidak hanya gagal menyelamatkan nyawa seseorang, tak hanya gagal membalaskan dendam pada pembunuhnya, dia bahkan gagal mencegah tubuhnya diambil oleh seseorang. Jika menilik energi Youki yang ia rasakan, dan dari pengalamannya berurusan dengan kaum setan dalam pengembaraannya, maka implikasi peristiwa ini membuat perut Naruto serasa bergejolak dengan timah panas.

Naruto meninju sekali lagi, dan kali ini aspal itu remuk di bawah timpaan pukulannya. "BRENGSEK!"

'...ujin-sama!'

Ketika ia mendengar suara itu, Naruto mendongak. "...eh?"

(BGM Starts, Ludo – Sakura Drops Piano Cover)

'GOSHUJIN-SAMA!'

Sensasi seperti ditarik oleh sebuah kait kembali terasa dari area perut Naruto, walaupun reaksi kali ini jauh lebih kasar daripada yang biasanya sampai hampir terasa sakit. Saat sosok dengan kimono dan rambut yang sama-sama merah itu muncul di depannya, Naruto hanya bisa tertegun saat melihat ekspresi penuh kemarahan yang terpasang di wajah Kurama.

Naruto belum sempat mengucapkan apa-apa ketika tangan Kurama mendadak melayang dan menampar pipinya.

Naruto hanya bisa terpana oleh tindakan yang sama sekali tak disangka itu. Sakit menyengat yang terasa di pipinya sama sekali tidak ia hiraukan karena ketika ia kembali mengarahkan pandangan ke wajah Kurama, dia menemukan bahwa mata personifikasi Bijuu terkuat itu basah dan berkaca-kaca.

"...Kurama?"

"Goshujin-sama no baka!" Kurama berteriak tepat ke arah wajah Naruto dengan volume yang mau tak mau membuat sang Jinchuuriki berjengit. Gadis siluman itu mengangkat kedua tangannya dan mulai menampar pipi kanan dan kiri sang keturunan terakhir klan Namikaze secara bergantian. "Baka! Baka! Baka! Baka! Baka!"

Sesi penamparan itu berlangsung beberapa lama. Naruto tidak yakin sudah berapa kali dia ditampar, dia sudah berhenti menghitung di hitungan dua puluh, namun yang pasti, saat Kurama akhirnya berhenti, kedua pipi Naruto sudah lebam dan bengkak, lengkap dengan bekas tanda cetak telapak tangan yang masih merah menyala.

"A-anu..." dia mencoba bicara, namun mengucapkan satu kata saja membuat pipinya terasa sakit. "K-Kurama...?"

Ketika Kurama menundukkan kepalanya dan mulai menangis, Naruto akhirnya sadar apa alasan yang membuat gadis itu berperilaku demikian.

Dia lupa bahwa koneksi yang ada antara Naruto dan Kurama yang memungkinkan personifikasi makhluk mistis itu bisa berbagi semua panca indera Naruto bukanlah sesuatu yang sempurna. Koneksi yang masih bisa dibilang rapuh itu akan menghilang kalau Naruto membiarkan dirinya hilang kontrol, sesuatu yang sangat mudah terjadi kalau dia membiarkan dirinya dikuasai oleh perasaan atau emosi yang terlalu intens. Dan jika sampai koneksi itu putus, maka Kurama akan kehilangan semua kontak dengan dunia luar dan dia akan kembali mendapati dirinya di balik segel yang ada di dalam kungkungan jiwa Naruto.

Naruto tersadar, bahwa dalam kemarahannya, dia telah membuat Kurama harus kembali ke penjara itu, terkurung sendirian di balik jeruji besi dalam dunia berbentuk gorong-gorong yang gelap, di mana ia hanya ditemani oleh sunyi dan sepi.

Rasa bersalah yang bersarang di hatinya menjadi semakin membesar ketika ia memandang personifikasi Bijuu yang terisak sunyi di depannya. "Kurama..." Naruto berdiri perlahan-lahan, satu tangannya terangkat dan menghampiri bahu Kurama. "Maaf..." dia berbisik pelan. "Aku benar-benar minta maaf..."

Kurama tidak menjawab, dia hanya menghambur ke depan, mengalungkan kedua tangannya erat-erat di sekeliling tubuh sang majikan, dan membenamkan wajahnya dalam-dalam ke dada Naruto. Lengan Naruto bergerak secara otomatis untuk mendekap bahu gadis yang masih gemetaran itu, melingkupinya dengan perlindungan dan kehangatan sebagai tebusan sebuah kesalahan.

Naruto meletakkan dagunya di puncak rambut merah Kurama dan menutup matanya, seraya berbisik sekali lagi. "Maaf."

"...baka..." Kurama berbisik balik. "Goshujin-sama no baka..."

~•~

Ketika bel pertanda pelajaran berbunyi, tidak seperti biasanya, Naruto memasukkan buku-bukunya kembali ke dalam tas dengan gerakan yang yang lebih cepat. Sebenarnya Naruto tidak ingin pergi ke sekolah hari itu demi memburu Datenshi keparat yang telah membunuh Issei, namun ia berubah pikiran karena Kurama memperingatkannya bahwa dengan tidak pergi ke sekolah, dia akan kembali menarik perhatian organisasi OSIS dan itu hanya akan kembali menambah masalah. Jadi dia memaksa diri untuk duduk di kelas sepanjang hari, bertahan melalui pelajaran-pelajaran yang membosankan selama berjam-jam dengan mood buruk yang tidak ia sembunyikan, dan sukses membuat semua siswa lain, atau bahkan guru sekalipun, tak berani menarik perhatian apalagi mendekatinya.

Naruto melangkah ke arah pintu kelas, tidak mengacuhkan bagaimana beberapa siswa perempuan yang memekik pelan dan menjauh agar tak menghalangi jalannya setelah melihat ekspresi keras yang terpasang di wajah teman sekelas mereka. Di kepalanya, Naruto sudah mulai menyusun strategi untuk menemukan targetnya, serta menyelesaikan pekerjaan yang kemarin terganggu setengah jalan.

Saking konsentrasinya, Naruto hampir tidak sadar bahwa dia hampir saja menabrak seseorang saat keluar dari kelas. Dari jarak kurang dari satu jengkal dari orang tersebut, Naruto mengangkat pandangannya dari lantai dan bersiap untuk meminta maaf. Sayangnya, kalimat apapun yang akan ia katakan terhenti di tengah-tengah kerongkongan dan batal terlepas dari mulut ketika ia sadar siapa gerangan yang sedang berdiri di depannya.

"Namikaze-kun."

'Oh, sial...' Naruto mengumpat dalam hati. Salah satu hal yang ia ketahui setelah diburu oleh organisasi OSIS selama hampir dua minggu adalah siswa-siswa di Akademi Kuoh bisa bertemu dengan anggota OSIS hanya kalau mereka punya urusan penting, dan kalau anggota OSIS itu sendiri yang mencari siswa, itu biasanya berarti pelajar itu sedang terlibat atau malah seorang sumber masalah.

Dan kalau yang memburumu adalah ketua dan wakil ketua organisasi itu sendiri, maka masalah yang dibicarakan di sini pasti memiliki tingkatan di atas rata-rata.

"Shitori-san," Naruto mengangguk pada gadis muda di depannya, tak yakin apa lagi yang sudah ia lakukan kali ini untuk menarik perhatian sang ketua OSIS. "Kalau ada yang ingin kaubicarakan, bisakah kita lakukan di lain waktu? Maaf, tapi sebenarnya aku sedang terburu-buru—"

"Ikut aku ke ruang OSIS," Sona menyela. Dia berbalik dan mulai melangkah, namun berhenti dan menoleh saat ia melihat Naruto masih diam di tempat. "Sekarang."

Naruto menahan diri untuk tidak menggeram. Dia tak punya waktu saat ini! Dia mungkin tidak akan senang saat melakukannya, namun Naruto sebenarnya oke-oke saja meladeni keinginan sang Kaichou ini di waktu lain, asal tidak hari ini!

'Goshujin-sama, Kurama rasa ada baiknya Goshujin-sama menuruti perempuan itu. Setidaknya, semakin cepat urusan ini selesai, semakin cepat Goshujin-sama dan Kurama bisa memburu Datenshi itu, kan?'

Hembusan napas Naruto berikutnya terasa jauh lebih ringan. 'Kau benar, Kurama.'

'Hmph,' Naruto mendengar Kurama mendengus. Dia bahkan bisa membayangkan gadis berambut merah itu membusungkan dadanya dengan bangga. 'Tentu saja Kurama selalu benar.'

Naruto mulai melangkah seraya terkekeh dalam hati. Percayakan pada Kurama untuk selalu mampu menghiburnya.

Bercakap-cakap dengan Kurama membuat perjalanan ke ruang OSIS hampir tidak terasa. Naruto bahkan hampir tidak sadar kalau Sona telah berhenti berjalan, dan kali ini, dia sukses menabrak cewek yang tubuhnya hanya setinggi dada Naruto itu.

Naruto mengambil satu langkah mundur lalu mengusap belakang kepalanya dengan malu. "Ah, maaf, Shitori-san."

"Jangan suka berjalan sambil melamun, Namikaze-kun. Nanti kau terlibat kecelakaan," Sona menasihatinya dengan halus, sembari membuka pintu geser di depannya. "Silakan masuk."

Naruto mengangguk sebelum melangkah masuk, dan langsung merasakan sesuatu yang aneh. Tidak, yang membuatnya tidak nyaman bukanlah fakta bahwa hampir semua anggota organisasi intrasekolah Kuoh berjenis kelamin feminin, karena dia sudah mengantisipasi hal itu dari populasi total yang perbandingan gender antara laki-laki dan perempuannya memang berat sebelah. Hanya saja, ketika dia melangkahkan kaki melewati pintu itu, semua pasang mata yang ada dalam ruangan langsung tertuju padanya dengan tatapan yang tak berkedip.

"P-permisi...?" Naruto mengusap belakang kepalanya lagi, merasa tidak nyaman karena sedang dipandangi dengan sebegitu tajamnya. "S-selamat siang...?" rasa tak nyaman dalam sukma Naruto makin bertambah ketika tidak ada jawaban. "Auh..."

Perhatian seisi ruang OSIS teralih ketika Sona bertepuk tangan satu kali untuk menarik perhatian. "Semuanya," dia memulai. "Tolong hentikan tingkah kalian. Kalian membuat Namikaze-san tidak nyaman."

Sadar akan perbuatan mereka yang cenderung dianggap tidak sopan, bawahan sang ketua OSIS mengalihkan mata mereka, seraya gumaman-gumaman maaf terdengar di sana-sini. Anehnya, satu-satunya anggota lelaki di ruangan itu terus memandang Naruto, dan shinobi pirang itu bisa merasakan aura kesal yang terpancar dari remaja berambut cokelat muda itu.

"Em," Naruto menggaruk pipinya sambil berusaha mengabaikan delikan cowok itu. "Jadi kenapa aku dipanggil ke sini, Shitori-san?"

"Silakan duduk dulu," Sona menjawab singkat sambil berjalan ke mejanya yang ada di depan jendela. Walaupun masih merasa bingung, Naruto mematuhi suruhan itu dalam diam, mempercayakan pantatnya pada kursi yang telah dipersiapkan di depan meja kerja Sona.

Sona menumpukkan tangannya di atas meja di atas satu sama lain lalu menatap Naruto lurus-lurus. "Rias sudah memberitahuku soal kejadian kemarin."

Rasa curiga yang telah lama Sona rasakan terhadap Naruto terkonfirmasi sesegeranya kalimat itu lepas dari bibir sang cewek remaja. Postur Naruto yang semula santai, walaupun agak gugup, langsung menegang dalam satu kedipan mata. Dia tak menelengkan kepala, namun mata biru langitnya langsung berkelebat menyurvei sekelilingnya seakan-akan berusaha mendeteksi jebakan, menghitung jumlah orang dalam ruangan, mengkalkulasi kemungkinan bahaya, serta mempertimbangkan setiap jalan kabur yang ada.

Apapun yang dilakukan Naruto selesai hanya dalam tempo tiga detik, dan ketika mata remaja pirang itu kembali mendarat padanya, Sona bisa melihat—tidak, dia bisa merasakan gelimang besi yang tersembunyi di baliknya, seperti sebuah senjata tajam yang siap ditebaskan kapan saja.

Naruto memberi sebuah gestur dengan dagunya. "Lanjutkan."

Tak hanya Sona, namun seluruh anggota OSIS ikut tersentak saat mendengar satu kata yang dicetuskan oleh sang pemuda. Nadanya memang datar, tak ada nada autoritatif, tegas, apalagi memaksa, namun mereka bisa merasakan sesuatu dalam suara remaja itu yang membuat mereka merasa seperti tak punya pilihan selain mematuhinya. Kalau saja Sona bukan seorang Iblis kalangan atas, dan terlebih lagi memiliki peran sebagai seorang Raja dalam Peerage-nya, maka mental Sona takkan cukup kuat untuk menahan diri dari impuls itu.

Namun alih-alih ciut nyali, Sona malah menjadi semakin penasaran.

"Pertama-tama, aku ingin menyampaikan terimakasih dari Rias karena kau sudah bertarung dengan gagah berani untuk melindungi salah satu murid dari sekolah ini."

Ekpresi Naruto yang semula keras mendadak berubah menjadi getir. "Melindungi? Heh." Naruto mendengus. "Aku hanya bisa menyaksikan satu-satunya orang yang bisa kuanggap teman di sekolah ini terbunuh di depan mataku. Aku bahkan tidak bisa membalaskan dendamnya." Remaja itu menundukkan kepala. "Melindungi apanya? Yang ada aku gagal melindungi siapa-siapa."

"Kau keliru, Namikaze-kun," sahut Sona. "Rias juga ingin agar aku menyampaikan padamu bahwa Hyoudou-kun sudah baikan."

Kepala Naruto mendongak dengan sebegitu cepat sampai-sampai Sona jadi agak ngeri dibuatnya. Lelaki berusia lima belas tahun itu hanya menatap Sona selama beberapa saat sebelum matanya berubah tajam. "...Tolong jangan main-main denganku, Shitori-san. Aku melihat Issei meninggal dengan mata kepalaku sendiri." Ia mendesis. "Atau kau mau mengatakan bahwa siapapun Rias ini punya kemampuan untuk membangkitkan orang yang sudah mati?"

Sona tersenyum tipis sebelum mengangguk. "Kaum Iblis memang memiliki kemampuan seperti itu." Ia menjelaskan, sembari mendapati bahwa bahasa tubuh Naruto mengeras lagi. "Rias Gremory adalah seorang Iblis, dan dia telah membangkitkan Hyoudou-kun dari alam kematian dengan menjadikannya salah satu anggota Peerage-nya."

Sona melihat mata Naruto melebar sampai menjadi sebulat bola pingpong, pupilnya mengalami dilatasi dan napasnya pun ikut tercekat. Mata biru langit itu kembali berkelebat ke sekeliling, dan kali ini, Sona bisa merasakan aura siaga dari postur Naruto.

"...Dan kalau Rias memberimu informasi ini," Naruto memulai lambat-lambat. "Apakah aku bisa berasumsi bahwa kau memiliki keterlibatan dengan kaum Iblis?"

"Benar, tapi kurasa 'terlibat' masih kurang tepat." Sahut Sona dengan tenang. "Karena aku juga seorang Iblis." Gadis itu menggunakan tangannya untuk membuat isyarat ke arah seisi ruangan. "Dan semua anggota OSIS sekolah Kuoh ini adalah anggota Peerage-ku."

Tsubaki berdiri dan berjalan ke samping ketuanya, ia mengamati Naruto sesaat sebelum memberi komentar. "Kau tidak nampak terkejut, Namikaze-san."

Naruto menoleh ke arah Tsubaki, kesiagaan yang terpancar tidak berkurang sedikitpun. "Kuakui, aku sudah lama curiga bahwa kalian berdua bukan sepenuhnya manusia," ia mengaku. "Hanya saja, aku tidak menyangka bahwa semua orang yang ada di ruangan ini adalah Iblis." Naruto mengembalikan arah pandangannya pada Sona. "...Aku tidak mengerti kenapa kau memberitahuku semua ini."

"Aku akan jujur padamu, Namikaze-kun," Sona memautkan jari-jarinya lalu mengistirahatkan dagunya di puncak. "Rias memberitahuku tentang kepiawaianmu dalam melawan Datenshi yang membunuh Issei kemarin. Karena itu, aku ingin menawarkanmu posisi sebagai anggota Peerage-ku."

Naruto berdiri dengan begitu mendadak sampai kursi yang ia duduki oleng dan jatuh ke belakang, mengejutkan seisi ruangan. Tatapannya berubah menjadi setajam mata pisau, delikannya begitu panas sampai Sona mau tak mau tersentak saat melihatnya.

"Kau ingin aku menjadi budakmu?" Naruto mendesis, dan kali ini ini dia sama sekali tak menyembunyikan kemarahan dalam suaranya. "Dan kaukira aku akan setuju begitu saja, keparat?"

"Hei!" satu-satunya anggota pria di organisasi itu berdiri dengan ekspresi marah. Matanya mendelik pada Naruto sebelum kakinya mulai melangkah mendekati Naruto dengan tinju terkepal yang mulai terangkat. "Beraninya kau bicara pada Kaichou seperti it—"

Naruto mengangkat tangan kanannya dengan telapak terbuka, dan satu detik kemudian, sebuah bola energi murni telah tercipta di atasnya, berpusar dengan begitu ganas dan membuat suara seperti jet pesawat terbang memenuhi ruangan itu. Sebuah jurus yang menjanjikan kehancuran dan kematian.

"Kecuali kau mau batok kepalamu hancur," Naruto memiringkan kepalanya untuk menunjukkan bahwa dia sedang bicara pada Saji. Remaja berambut cokelat muda itu ternganga dan mengambil satu langkah mundur saat melihat bahwa mata biru Naruto sudah bersinar bagaikan ada lampu yang dinyalakan di baliknya. "Kusarankan kau mundur, Iblis."

Suasana di dalam ruangan itu menjadi tegang. Sona sendiri tidak mengerti kenapa hal ini terjadi, dan apa alasan yang membuat Naruto menjadi sangat antagonistik setelah ia mengungkapkan niat untuk menjadikan remaja pirang itu sebagai bagian Peerage-nya.

"Dan kau," Sona harus mengendalikan diri untuk tidak berjengit ketika mata yang menyala itu kembali terarah padanya. "Melihat bagaimana anggota organisasi ini juga merupakan bagian Peerage-mu, apakah itu berarti kau ada di sekolah ini dengan tujuan untuk mencari siswa yang bisa kau jadikan budak?"

Sona terdiam selama beberapa saat, tak yakin bagaimana ia harus menjawab.

Naruto hilang kesabaran. "Jawab!"

"A-asumsimu itu benar, Namikaze-kun, tapi tidak seluruhnya. Apa yang kita bicarakan ini, sistem yang disebut Evil Pieces, tidak ditujukan untuk mencari budak," ketenangan Sona mulai pupus, dan itu terbukti ketika ia terbata di awal kalimatnya. "Biar kujelaskan. Beribu tahun silam, sebuah Perang Akbar yang berlangsung di Akhirat membuat ketiga fraksi besar yang terlibat di dalamnya hampir saja punah sebelum mereka akhirnya setuju untuk melakukan gencatan senjata. Karena jumlah kaum Iblis jatuh drastis setelah berakhirnya perang, Ajuka Beelzebub, salah satu dari Yondai Mao (Four Great Satans), menciptakan sistem Evil Pieces yang memungkinkan para bangsawan dari kaum kami untuk membangkitkan kembali manusia sebagai Iblis untuk dijadikan pelayan. Daripada menambah jumlah pasukan Meikai (Underworld), sistem Evil Pieces lebih dimaksudkan untuk memastikan kelangsungan kaum Iblis sebagai spesies."

"Hoo," Naruto mengangkat sebelah alisnya. Bola energi yang melayang di tangannya pudar. "Jadi, berdasar pada penjelasanmu tadi, manusia yang dibangkitkan kembali dengan Evil Pieces ini hanya berstatus pelayan, bukan budak? Yang berarti kau tidak mengendalikan mereka, dan mereka membantumu karena keinginan mereka sendiri?"

Sona mengangguk sembari menahan keinginan untuk menghela napas lega setelah berhasil memperbaiki situasi. Sayangnya, jika Sona berpikir bahwa semuanya sudah menjadi baik-baik saja, maka dia telah keliru, karena ketika ia menatap ke Naruto lagi, dia tersadar bahwa kilatan tajam yang ada di mata Naruto masih belum berkurang walau barang sedikit.

"Kau benar-benar berpikir bahwa aku akan percaya kata-kata seorang Iblis sepertimu begitu saja?"

Dan dengan satu kalimat itu, suasana ruangan OSIS yang tadi sudah mulai meringan kini kembali menjadi tegang.

Naruto terkekeh pelan, namun suaranya sama sekali tidak memberi kesan bahwa dia merasa ada sesuatu yang lucu. "Tolong koreksi aku kalau aku salah, tapi setahuku, Iblis adalah kaum yang mana pintu surga telah tertutup selamanya bagi mereka, dan mereka telah bersumpah untuk umat menggoda manusia untuk berbuat maksiat agar mereka juga ikut dijebloskan ke neraka, terus dan terus sampai saatnya kiamat tiba."

Naruto mencubit dagunya seakan sedang berpikir keras. "Dan kau mengatakan bahwa manusia yang kau jadikan pelayan bertindak atas kehendak mereka sendiri. Tapi sebagai kaum yang setiap kata-katanya adalah dusta, dan tindakannya tak lain dari tipu daya, apakah itu berarti penjelasanmu tadi adalah kebenaran sebagaimana adanya?" Naruto melangkah maju dan meletakkan kedua tangannya di meja tanpa membuat suara. "Atau hanya kebohongan belaka?"

"A-aku..." Sona kembali terbata, dan wajahnya mulai memucat.

"Atau jangan-jangan, kau hanya tidak memberitahu mereka bahwa pada sesungguhnya, Evil Pieces yang kau gunakan untuk menjadikan mereka sebagai bangsa Iblis telah merenggut kemerdekaan mereka, dan dengan benda itu, kau membuat mereka berpikir bahwa apapun yang mereka lakukan untukmu, mereka lakukan atas kehendak mereka sendiri." Naruto mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga jarak antara wajahnya dan wajah Sona hanya tinggal sejengkal. "Bahwa pada sesungguhnya, bagaimanapun kau menyebutnya, anggota Peerage ini tak lebih dari segerombolan budak." Mata Naruto menyipit berbahaya. "Dan kau ingin aku menjadi bagian dari sesuatu yang seperti itu? Apa kau benar-benar berpikir bahwa aku tak punya otak?"

Sona harus mengerahkan setiap serat kekuatan mentalnya untuk tidak berjengit dan melangkah mundur dari konfrontasi. Sepahit apapun kesadaran yang ia alami, Sona harus mengakui bahwa ia tak pernah menyangka bahwa dirinya, seorang Iblis kalangan atas, bisa merasa begitu terintimidasi oleh seorang manusia. "...K-kau keliru, Namikaze-kun..."

"Keliru?" Naruto mendesis. "Keliru?!" ia menghardik dan menggebrak meja, membuat Sona meringis, walaupun gadis remaja itu tetap memaksa dirinya untuk membalas tatapan Naruto. "Kau membuat sekolah ini menjadi semacam... semacam kebun atau peternakan! Tempat di mana kau bisa mencari bibit yang berbakat yang kemudian kau petik, lalu kau rebut kemanusiaannya, merampas kesempatan mereka untuk masuk surga selamanya! Dan kau masih berani mengatakan bahwa aku keliru?!"

Naruto mengibaskan wajahnya, memandang berkeliling, dan tak ada satupun orang di ruangan itu yang mampu membalas tatapan Naruto. Bahkan Saji sendiripun sudah melangkah mundur begitu jauh dan kini sudah duduk kembali di kursi di mana Naruto pertama kali melihatnya ketika ia baru masuk ke ruangan, wajahnya tertunduk dan terbenam di kedua telapak tangannya.

Naruto kembali memandang Sona, mendelik tajam seraya menegakkan tubuhnya kembali. "Kau merubah anak-anak sekolahan yang tak bersalah dan baru mencapai umur akil balig menjadi Iblis hanya karena kau bisa melakukannya," perkataan itu ia muntahkan dengan nada yang begitu pedas dan asam sampai karang sekalipun bisa meleleh. Kali ini, mental baja Sona akhirnya rubuh dan gadis berambut hitam itu mengalihkan pandangan, tak mampu lagi menatap mata yang penuh sorot kebencian padanya. "Kuharap kau senang, Shitori-san."

Naruto berbalik, dan meninggalkan ruangan OSIS itu dengan rasa muak yang membuat rongga mulutnya terasa pahit, sepahit empedu.

~•~

Dalam perjalanan pulang, Naruto melihat Issei, yang berjalan tanpa sedikitpun pertanda bahwa dia telah mengalami luka mematikan, dan seakan-akan nyawanya belum pernah hilang. Naruto ingin menyapanya, ingin memastikan bahwa remaja berambut cokelat tua itu baik-baik saja, bertanya mengapa dia tidak masuk sekolah atau bicara apalah, namun ketika dia ingat bahwa orang yang ada tak lebih dari seratus meter di depannya itu sudah tak lagi seorang manusia, Naruto kembali teringat kegagalannya sore kemarin. Anak SMA berambut pirang itu membatalkan niat, memutar arah, sebelum mengambil rute lain untuk mencapai tempat tinggalnya.

Ketika dia sudah sampai rumah, mood Naruto sudah sebegitu buruk, terutama jika ditambah dengan sakit kepala yang membuatnya merasa seperti ada palu godam yang menghajar bagian dalam tengkoraknya. Setelah melepaskan sepatu, tangan Naruto bergerak otomatis ke arah tombol di dinding untuk menyalakan lampu. Kakinya melangkah lurus ke arah dapur di mana ia mengambil gelas terbesar yang ia miliki dan mengisinya dengan air dari keran, mengambil dua tablet aspirin dari kotak obat sebelum melangkah ke meja makan.

Naruto melempar dua tablet itu ke mulutnya sebelum menenggak air di cangkir itu tanpa berhenti sampai habis. Mood yang buruk membuatnya menghempaskan gelas itu ke meja dengan terlalu kuat dan akhirnya menyebabkan gelas kaca itu pecah berantakan. Remaja itu mengerang panjang, dan merebahkan lehernya ke punggung kursi.

Sebagaimana yang sudah menjadi rutinitas setiap kali ia pulang sekolah, Naruto menarik kursi di sampingnya ketika sensasi kait di perutnya kembali terasa. Namun anehnya, walaupun ia tahu Kurama telah muncul di sisinya, kali ini gadis itu sama sekali tak mengucapkan apa-apa dan terus diam sampai beberapa lama.

Merasa ada yang salah, Naruto membuka mata dan menoleh ke samping. "Kurama?"

Gadis dengan telinga lancip yang dilapisi bulu semerah delima itu terus diam, menggigit bibir dan memainkan jemarinya.

"Kurama?" Naruto mencoba sekali lagi.

Ia melihat Kurama menutup mata sebelum menarik napas panjang. Ketika matanya terbuka, Kurama menatap Naruto lurus-lurus dan akhirnya buka suara. "Goshujin-sama, Kurama rasa ada baiknya Kurama dan Goshujin-sama membicarakan apa yang terjadi siang ini..."

Naruto kembali merebahkan lehernya ke punggung kursi sambil mengerang panjang. "Aku tahu..." ia menggumam. "Aku tahu kalau aku sudah berlebihan. Aku tak pernah bermaksud untuk mengatakan semua hal itu," ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan. "...Kurasa apa yang terjadi kemarin benar-benar membuatku terguncang lebih dari apa yang kukira."

Kurama meletakkan tangannya di pipi Naruto dan mulai mengusapnya, sebuah tindakan yang tak pernah gagal meringankan beban mental sang majikan. "Kurama tahu kalau bukan cuma peristiwa kemarin yang membuat Goshujin-sama mengatakan semua hal itu," dia berkata lembut, karena dia tahu jelas pengalaman-pengalaman Naruto yang sudah berurusan dengan kaum Iblis dalam pengembaraannya bersama Jiraiya. Pengalaman-pengalaman yang sama sekali tidak menyenangkan, dan membuat pandangan Naruto pada kaum Iblis menjadi sangat buruk. "Kurama benar kan, Goshujin-sama?"

Naruto melepaskan hembusan napas panjang sembari tersenyum tipis. "Aku tahu kau mungkin sudah bosan mendengar ini, tapi kau selalu tahu aku, Kurama..." bagian awal perkataan Naruto tak terbukti kebenarannya, dan itu bisa dilihat dari wajah Kurama yang berubah jadi lebih cerah. "Entah kenapa, rasanya kau sudah seperti psikiater pribadiku saja."

"Jangankan psikiater, selama Goshujin-sama yang meminta, maka Kurama siap mengisi peran apa saja untuk Goshujin-sama!" Kurama memiringkan kepalanya sedikit ke samping, wajahnya berubah ragu. "Tapi... Kurama rasa Kurama masih perlu latihan kalau Goshujin-sama ingin Kurama jadi koki..."

Kalimat itu membuat mau tak mau Naruto teringat bagaimana Kurama selalu berhasil membuat kompor meledak setiap kali ia mencoba memasak. Naruto mendengus, lalu mulai terkekeh, sampai akhirnya ia tertawa. Intensitas tawanya terus bertambah hingga akhirnya Naruto terbahak-bahak lepas sambil memegangi perutnya.

"Jangan tertawa dong, Goshujin-sama!" Kurama berteriak kesal. Dia sendiri tidak tahu kenapa kompor begitu benci padanya! Pernah satu kali, kompor itu sudah meledak ketika Kurama baru menyalakannya. "Mou, Goshujin-sama~!" Kepalan tangannya yang kecil memukuli punggung Naruto yang sudah terbungkuk-bungkuk karena tertawa. Merasa bahwa pukulannya sama sekali tak memberi hasil, Kurama akhirnya bersidekap dan buang muka ke samping dengan pipi menggembung. "Goshujin-sama no baka!"

"Ahehe... sori..." Naruto terengah, namun tak tahan untuk tak tertawa kembali. Rasa kesal Kurama memuncak, membuat gadis itu berdiri dan menendang Naruto sampai majikannya itu jatuh dari kursi, sebelum mulai menginjak-injak sisi perut orang tersungkur yang hanya bisa berusaha menghindar dengan beringsut itu. "Ahahauw! Kurama! Aku kan sudah minta maaf! Ahahaha! Auw! Kurama~!"

Ketika tawa Naruto akhirnya selesai, ia sudah bersandar di dinding, memegangi perut yang tidak hanya sakit karena terlalu banyak tertawa tapi juga karena sudah menderita apa yang ia kategorikan sebagai kekerasan rumah tangga. Kurama berdiri di depannya dengan pipi yang masih menggembung dan wajah merah, tubuhnya tegang seperti kucing yang siap menerkam.

Naruto menarik napas beberapa kali sebelum ia membuka mata. Melihat Kurama yang masih nampak kesal, ia langsung tahu bahwa ia hanya punya dua pilihan. Membuat kompensasi dengan segera, atau pasrah menerima serangan berikutnya.

"Kurama," Naruto bersila dan menepuk pahanya. "Sini."

Gadis berambut merah di depannya menatap paha Naruto, kekesalan di parasnya pupus perlahan-lahan. Dengan wajah yang masih agak cemberut, personifikasi Kyuubi no Youko itu bergerak maju dan duduk di pangkuan Naruto, menggeliat-geliat sampai menemukan posisi paling nyaman, sebelum menghempaskan punggungnya ke dada sang tuan.

Namun wajahnya masih berkeriut. Kurama menoleh ke kanan kiri, lalu meraih kedua lengan Naruto dan menggerakkannya ke depan, membuat shinobi pirang itu secara otomatis mendekap tubuh gadis di pangkuannya.

Kurama menggeliat untuk kali terakhir sebelum ia akhirnya mendengus puas.

Untuk beberapa menit, mereka diam dalam posisi itu tanpa mencetuskan suara, cukup puas dengan kesunyian dan kehangatan yang diberikan oleh satu sama lain. Naruto meletakkan dagunya di pundak Kurama, sementara sang gadis mengangkat satu tangan dan mulai mengelus kepala orang yang telah berhasil memperoleh kesetiaannya.

"Kurama..."

"Hmm?" Kurama mengumbang sambil terus mengusap dan menyisir rambut Naruto dengan jari-jarinya yang lentik.

"Apa yang terjadi siang tadi... bisakah kau memberikan pendapatmu?"

Kurama mengumbang sekali lagi. "Goshujin-sama, bisa angkat kepala Goshujin-sama sebentar?"

Meskipun agak bingung dengan permintaan itu, Naruto tetap menurut tanpa protes.

"Baik, Kurama rasa cukup segitu."

Gadis berambut merah yang duduk di pangkuan Naruto itu mengulurkan tangan kanannya jauh-jauh ke samping, membuat Naruto mengikuti gerakan tungkai itu dengan satu alis terangkat.

Plak!

Naruto dibuat melongo ketika Kurama menamparnya untuk yang kesekian kali.

"K-Kurama?"

"Itu hukuman karena siang tadi, Goshujin-sama lagi-lagi membiarkan diri Goshujin-sama dikuasai emosi," kata Kurama sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. "Gara-gara itu, pertalian antara Kurama dan Goshujin-sama jadi tidak stabil. Walaupun semua panca indera Goshujin-sama masih terhubung dengan Kurama, tapi sayangnya, pautan benak Kurama dan Goshujin-sama jadi terputus." Kurama mendengus kesal. "Kurama tidak salah kan? Padahal Kurama sudah berteriak-teriak senyaring mungkin, tapi Goshujin-sama sama sekali tidak bisa mendengar suara Kurama."

"Benar..." Naruto berbisik pelan sambil membenamkan wajahnya di pundak Kurama. "Kau benar, aku tidak sadar kalau selama aku ada di ruangan itu, aku sama sekali tidak mendengar suaramu."

"Tentu saja! Kurama selalu benar!" sahut Kurama sambil menepuk dadanya. Gadis itu berbalik, lalu mencubit pipi Naruto, menjewernya lebar-lebar ke samping. "Dan gara-gara ulah Goshujin-sama, Kurama jadi tidak bisa memberitahu Goshujin-sama tentang informasi yang Kurama dapatkan saat itu."

"Phinfhorphashi phapha?" tanya Naruto.

"Hm?"

Naruto menarik turun pergelangan Kurama agar personifikasi makhluk mistis itu melepaskan cubitannya. "Informasi apa?"

"Baiklah, pertama-tama, Goshujin-sama ingat kan alasan yang membuat Kurama dan Goshujin-sama curiga bahwa ketua OSIS dan wakilnya itu bukan manusia?"

Naruto mengangguk. "Karena mereka memiliki Youki."

"Sekarang, Goshujin-sama tahu kan tentang kemampuan khusus Kurama?"

"Em..." sebenarnya, dari sudut pandang Naruto yang hanya manusia, Kurama memiliki kemampuan khusus yang cukup banyak. Tapi kalau ia mencoba memakai perspektif Kurama, maka hanya ada satu kemampuan yang bisa akan gadis itu beri label 'khusus'. "Kau bisa mendeteksi emosi negatif."

"Goshujin-sama benar!" sahut Kurama sambil menepuk-nepuk kepala Naruto sebagai pujian. "Nah, siang tadi, sepanjang waktu Kurama dan Goshujin-sama ada di ruangan OSIS itu, walau Kurama bisa merasakan Youki yang mereka miliki, Kurama sama sekali tak bisa merasakan emosi negatif yang berarti."

Pernyataan itu membuat Naruto tertegun. Dia terus terdiam sampai beberapa lama, dan seiring waktu yang berdetak, wajahnya pun mulai berubah menjadi semakin pucat.

Ekspresi Kurama berubah khawatir. "Goshujin-sama?" gadis itu menangkupkan telapak tangannya ke pipi Naruto. "Goshujin-sama tidak apa-apa?"

"A-ah..." Naruto menelan ludah yang entah mengapa terasa sekeras gumpalan kertas. "K-Kurama..." ia menatap gadis yang duduk di pangkuannya. "Kau... kau serius?"

"Tentu saja Kurama serius, Goshujin-sama. Kurama takkan pernah bohong pada Goshujin-sama."

"J-jadi..." gumpalan di kerongkongan Naruto turun ke lambung, dan berubah menjadi rasa bersalah yang terasa seperti bara yang masih menyala. "Saat Shitori-san memberikan penjelasannya... kau tidak mendeteksi kelicikan atau kebohongan? Sedikitpun?"

Kurama menggeleng dengan penuh kejujuran.

Satu-satunya buah persatuan dari garis darah klan Namikaze dan Uzumaki itu kembali tertegun selama beberapa saat, sebelum ia mengayunkan kepalanya ke belakang dan menghantamkannya ke dinding sambil mengerang panjang. "Ya Tuhan..." ia memukul-mukul dinding dengan batok tengkoraknya berkali-kali sebelum menunduk dan membenamkan wajahnya dalam-dalam ke telapak tangannya. "Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan...?"

Ketika ia mendeteksi rasa bersalah yang terus bertambah ukuran dalam sanubari Naruto, Kurama dengan segera bergerak untuk menenangkan majikannya. Ia meraih kepala Naruto, kemudian memeluknya erat-erat ke dadanya. Satu tangan ia gunakan untuk membelai kepala yang penuh rambut pirang itu, seraya tangan Naruto sendiri bergerak mengalungi tubuh Kyuubi dan membuat dekapan mereka semakin rapat.

"Ya Tuhan..." Naruto berbisik dengan suara yang teredam karena wajahnya masih terbenam di dada Kyuubi. "Kurama, apa yang sudah kuperbuat...?"

"Goshujin-sama hanyalah seorang manusia. Dan manusia adalah tempatnya khilaf." Kurama melepaskan wajah sang majikan dari dekapannya. Ia memegang kedua sisi wajah Naruto dengan tangannya, lalu menunduk sedikit untuk mempertemukan dahi mereka. "Goshujin-sama bukan makhluk sempurna."

Naruto terkekeh masam. "Tapi bukannya umat manusia harus selalu berusaha mencapai kesempurnaan?"

"Goshujin-sama nggak boleh jadi makhluk sempurna," Kurama merengut. "Karena kalau sampai itu terjadi, maka Goshujin-sama tidak akan membutuhkan Kurama lagi."

Kurama dan majikannya saling pandang untuk sesaat sebelum mulai tertawa kecil, dan terus diam dalam posisi itu untuk beberapa lama.

Naruto menegakkan tubuhnya sekali lagi, dan senyum di wajah Kurama semakin lebar saat ia merasakan bahwa rasa bersalah dalam hati Naruto kini telah sedikit berkurang. "Terima kasih, Kurama," shinobi itu berucap pelan. "Tanpa kau, mungkin aku takkan pernah tahu bahwa aku sudah menyakiti Shitori-san dan yang lainnya."

Kurama menyentuhkan jari telunjuk ke bibirnya, sebelum memiringkan kepala sedikit dalam kebingungan. "Tapi Kurama tidak peduli apakah mereka merasa disakiti atau tidak," ia berkata, masih dengan nada sedikit bingung. "Kurama hanya ingin memberitahu Goshujin-sama bahwa Goshujin-sama sudah membuat asumsi yang keliru, dan juga memperingatkan Goshujin-sama agar Goshujin-sama berusaha mengendalikan emosinya dengan lebih baik esok-esok."

Ah.

Mungkin karena interaksi mereka yang sudah jadi sedemikian rupa semenjak awal mereka bertemu, Naruto jadi lupa bahwa semirip apapun Kurama yang sekarang dengan seorang manusia, dia tetaplah seorang Bijuu. Kurama sendiri yang mengakui padanya bahwa dari semua makhluk hidup yang ada di dunia ini, Kurama hanya pernah dan hanya akan peduli pada Naruto seorang.

Hal itu mungkin akan terdengar aneh di telinga orang lain, namun bagi Naruto, dia sudah terbiasa. Dan saat ini, mendengar Kurama mengatakan itu dan mengetahui implikasinya justru membuat Naruto sangat senang.

Naruto meraih tangan Kyuubi dan meremasnya. "Oh, Kurama..." dia melepaskan hembusan napas yang kali ini lebih ringan dari sebelumnya. "Aku tak tahu apa yang akan kulakukan kalau kau tak bersamaku."

"Hmph," Kurama kembali mendengus dengan nada campuran antara senang dan bangga. "Tentu saja, sudah sewajarnya Goshujin-sama merasa seperti itu. Goshujin-sama tak bisa hidup tanpa Kurama, sebagaimana Kurama juga tak mau hidup tanpa Goshujin-sama."

"Tapi sebagai manusia yang bertanggung jawab, bukannya aku harus jadi mandiri?"

"Nggak boleh," Kurama menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Goshujin-sama nggak boleh jadi mandiri. Goshujin-sama harus membutuhkan Kurama selamanya. Titik."

Tuntutan itu terdengar sangat egois, namun Naruto sama sekali tidak merasa keberatan. Dia tertawa untuk yang kesekian kali.

"Goshujin-sama," suara Kurama kembali membuat perhatian Naruto terpusat padanya. "Ada satu hal lagi yang perlu Goshujin-sama dengar."

"Apa?"

"Goshujin-sama ingat tidak, apa yang dikatakan ketua OSIS itu ketika dia menyebutkan nama dimensi tempat mereka berasal?"

Dahi Naruto mengerut untuk sedetik, sebelum kesadaran membuncah dalam benaknya.

"D-dia..." Naruto terbata. "Dia menyebut nama Meikai..."

"Bukan Yomi (Underworld)," Kurama mengkonfirmasi. "Kurama tahu bahwa salah satu alasan Goshujin-sama sangat tidak menyukai bangsa Iblis adalah karena dari setiap bangsa Iblis yang pernah Goshujin-sama temui, tak ada satupun yang bisa mendekati kata 'baik'. Tapi di sinilah letak masalahnya, Goshujin-sama. Iblis-iblis yang pernah kita temui selama ini, mereka semua berasal dari Yomi, bukannya sebuah tempat bernama Meikai."

"Ya Tuhan..." Naruto mendesah. "J-jadi... apa itu berarti...?"

Kurama mengangguk. "Saat ini Kurama hanya bisa membuat asumsi, tapi Kurama rasa bangsa Iblis yang berasal dari Meikai, bukanlah bangsa Iblis yang sama dengan yang berasal dari Yomi. Deskripsi Goshujin-sama tentang Iblis memang benar kalau hanya merujuk pada penghuni Yomi, tapi hal itu belum tentu juga berlaku bagi kaum Iblis yang mendiami dimensi Meikai ini."

Sadar bahwa apa yang baru ia ungkapkan bisa membuat majikannya kembali dirundung rasa bersalah, Kurama cepat-cepat menambahkan. "Tapi ini semua hanya asumsi, Goshujin-sama. Kurama masih belum tahu pasti apakah Yomi dan Meikai adalah dua dimensi yang berbeda, atau apakah Iblis yang berasal dari dua dimensi itu memang tidak sama. Karena itu, Kurama menyarankan agar ke depannya, Goshujin-sama menyelidiki dulu soal masalah ini sebelum membuat kesimpulan lebih lanjut."

Naruto menarik napas panjang demi memperoleh walau secercah ketenangan jiwa. "Kau benar, Kurama. Aku tak mau apa yang terjadi siang tadi terulang lagi hanya karena dugaan tanpa fakta yang jelas."

"Tentu saja Kurama benar," Kurama mendengus bangga sambil menepuk dadanya. "Kurama selalu benar."

To be Continued...

A/N: Kalau readers sekalian merasa bahwa reaksi Naruto pada Sona dan anggota OSIS-nya berlebihan, maka ingatlah bahwa di fic ini dia masih lima belas tahun. Ingatlah bahwa anak muda umur segitu biasanya sangat emosional, dan cenderung berbuat tanpa pikir panjang.

Sekali lagi, hamba tak tahu apakah kualitas chapter ini memuaskan, jadi tolong pada readers sekalian untuk membantu hamba dengan komentar dan kritiknya.

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.