Galerians, in.

A/N: Chapter kali ini adalah Omake, dimaksudkan untuk mengungkap sedikit latar belakang dan masa lalu Naruto di universe fic The Radiant Sun of Kuoh Academy.

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Meets Girl

Omake 1

(You're Female?! Kyuubi the Demon Fox Finally Knows Taste!)

"Oi, Kyuubi, kapan kau mau bicara padaku sih?"

Yang menjawab Naruto hanya hening.

"Oi, Kyuubi!"

Dia kembali tak dihiraukan. Shinobi berusia dua belas tahun itu memberengut sebelum berjalan ke penjara besi berwarna merah di depannya. "Oi! Kyuubi!" dia memukul-mukul jeruji besi itu, menciptakan kakoponi berisik dari suara dentangan yang terdengar berulang-ulang. Ketika masih tak ada respon, Naruto menarik napas dalam-dalam. "OI~! KYUUBI~!"

"BERISIK!"

Cakar raksasa dari makhluk mistis yang dikatakan bisa menghancurkan gunung hanya dengan satu kibasan ekornya itu menghantam bagian dalam jeruji besi penjara, menimbulkan suara dengan volume yang pasti sudah menghancurkan gendang telinga andai dia sedang tidak berada dalam perwujudan jiwanya, dan tekanan angin yang melempar bocah itu terbang menyeberangi ruangan tempatnya berada sekarang.

"Ah ha!" suara jebur nyaring terdengar ketika Naruto berdiri dan menunjuk ke arah personifikasi segel yang ada di perutnya. "Akhirnya kau muncul juga, rubah sialan!"

"Siapa yang kau panggil rubah sialan, bocah semprul?!" suara menggema yang datang dari balik penjara itu membuat organ dalam Naruto terasa bergetar dan air yang menggenang dunia berbentuk gorong-gorong itu beriak-riak.

"Woy, siapa yang kau panggil bocah semprul, dasar rubah sialan?!" Naruto berseru balik dengan panas sambil menghentakkan kakinya untuk kembali mendekat.

"Bocah semprul!"

"Rubah sialan!"

"Anak ingusan!"

"Hidung pesek!"

"Tukang ngompol!"

"Kucing gundul!"

Saat ini Naruto sudah kembali berdiri di depan penjara dengan sebuah seringai terpasang di wajahnya. Akan tetapi, sepertinya makhluk yang ada di balik penjara itu benar-benar tak terima dipanggil gundul, karena hinaannya yang selanjutnya dilontarkan dengan jauh lebih kejam.

"Pelormu kecil!"

Naruto tiba-tiba tersungkur ke belakang ketika hinaan itu seakan berubah menjadi panah yang menusuk dadanya begitu dalam sampai ke sukma.

Tapi dia bisa bilang apa?! Umurnya masih dua belas tahun! Ya jelaslah pelornya masih kecil! Mimpi basah juga baru-baru aja kejadiannya!

Naruto melompat berdiri lagi dengan wajah yang menampangkan ekspresi ganas. Ia menarik napas kencang-kencang sampai punggungnya melengkung ke belakang, sebelum berteriak sekuat tenaga.

"BULUMU KUTUAN!"

Suara tersungkur yang jauh lebih nyaring terdengar dari balik penjara, namun kali ini, dilanjutkan dengan suara berguling-guling, koprol beberapa kali di udara, sebelum terhempas lagi ke lantai dengan suara kecipak keras. Naruto yang tahu bahwa dirinya sudah menjadi pemenang ronde saling hina kali ini mendengus bangga, walaupun mungkin dengan pengorbanan besar karena harga dirinya sebagai kaum Adam sudah ternoda!

Naruto tiba-tiba mendengar suara geraman dari balik segel Shiki Fuujin yang memenjarakan Bijuu terkuat di seantero dunia. Suara geraman itu kemudian jadi semakin dan semakin nyaring seraya suara ceburan-ceburan pertanda makhluk rubah raksasa berekor sembilan yang ada di sana kini sedang berlari ke arahnya.

Kening Naruto tiba-tiba berkerut heran.

Padahal geramannya masih terus bertambah nyaring, tapi kenapa suara-suara ceburan itu sekarang jadi kecipak-kecipak?

"BOCAH SIALAN!"

"Geboh!"

Naruto kembali tersungkur ke belakang, walau kali ini alasannya bukan disebabkan oleh tekanan angin, tapi karena ada yang menyeruduk perutnya macam kambing—eh salah, kerbau matador yang lagi melawan seorang torero!

"Bocah sialan!" Naruto mendadak harus mempertahankan diri dengan kedua lengannya ketika seseorang, yang ia mulai curiga siapa, mulai mencakar-cakarnya dengan penuh nafsu. "Akan kubunuh kau! Kurobek-robek! Kucabik...ca...bik..."

Suara yang entah mengapa terdengar feminin di telinga Naruto itu dan membuat telinganya berdenging di awal itu menjadi kian pelan dan kian pelan sampai akhirnya menghilang. Naruto mengintip dari balik lengannya, dan mendapati seorang cewek—

Tunggu dulu.

Cewek? Cewek?! Kenapa bisa ada seorang cewek di dalam jiwanya?! Apakah ini berarti dia memiliki sisi feminin yang disembunyikan?! Oh tidak, apakah ini berarti aspirasi Naruto yang sesungguhnya bukanlah menjadi seorang ninja, tapi crossdresser yang bekerja di salon waria?!

"Uoooh! Tidaaak!" Naruto berguling, melepaskannya dari cewek berambut merah yang masih kebingungan, dan hanya bisa melongo ke arah Naruto yang sudah berdiri dan sekarang tengah berlari muter-muter sambil menarik-narik rambutnya. "Aku nggak punya sisi feminin! Aku nggak mau jadi waria! Aku nggak mau kerja di salooon!"

Naruto tiba-tiba berlutut sembari mengacungkan kedua kepalan tangannya tinggi-tinggi ke arah langit. "Tuhan!" dia berseru dengan air mata bercucuran membasahi pipinya. "Kalau itu rencanaMu untukku, MAKA BUNUH SAJA AKU SEKARANG! BUNUH!"

"Oi."

"Aaaggh! Tidaaakk! Sisi femininku bicara lagiii! Tuhan, bebaskan aku dari siksaan ini! Cabut nyawaku sekarang!"

"Oi, bocah semprul."

Reaksi otomatis dari berhari-hari pertandingan saling ejek yang sudah ia jalani membuat Naruto langsung berdiri dan memberi respon tanpa sadar. "Siapa yang kau panggil bocah semprul, dasar rubah siala—!"

Naruto berhenti berteriak dengan mulut yang masih terbuka, mata sang Jinchuuriki bergerak untuk mengamati gadis di depannya. Rambut berwarna merah darah yang sangat panjang sampai melewati lutut. Mata yang irisnya berwarna merah delima dan pupilnya berbentuk irisan vertikal. Telinga berujung lancip yang dilapisi bulu-bulu sewarna dengan rambutnya. Kesadaran perlahan-lahan mewarnai shinobi berambut pirang yang berusia dua belas tahun itu. Ia tertegun, menunjuk ke si cewek, lalu ke penjara raksasa di belakangnya, lalu balik lagi ke cewek, balik lagi ke penjara.

Saat jari telunjuknya kembali mengarah ke gadis berambut merah itu, paras Naruto sudah benar-benar pucat pasi.

"Hehe, hehe—Ahahahaha!" sosok yang figurnya dibalut kimono merah itu mulai tertawa, tangannya berkacak pinggang dan wajahnya terdongak menghadap langit-langit. "Mwahahahahaha!"

"A-anu..." yep, otak Naruto masih belum mampu mencerna kenyataan.

"Aku bebas! Aku bebas!" ujung rambut merahnya yang sangat panjang kini tenggelam di air yang menggenangi lantai. "Kau dengar itu, Yondaime, Shinigami?! AKU BEBAS!"

"A-anu..." Naruto berucap bego.

"Akhirnya, setelah sekian lama terkurung, lalu bebas sebentar, lalu terkurung lagi, akhirnya aku bebas!"

"A-anu..." mari kita sepakati saja bahwa di usia dua belas tahun, Naruto memang tak terlalu cerdas dalam urusan mengendalikan situasi.

"Oi, bocah semprul—"

"Siapa yang kau panggil bocah semprul, dasar rubah sialan!"

Dan dari semua hal yang sebenarnya butuh respon dari Naruto, ia malah hanya menjawab ketika dirinya mendapat ejekan.

Orang yang dipanggil Naruto sebagai 'rubah sialan' itu hanya tergelak. "Kaukira aku mau melanjutkan permainan kekanak-kanakan itu lagi?! Aku, Kyuubi no Youko, akhirnya sudah bebas! Sekarang adalah saatnya aku membalas dendam! Dunia akan kembali tahu seperti apa teror yang dibawa oleh seorang Kyuub—"

"DIAM!"

Teriakan Naruto bergema di ruangan itu, membuat Kyuubi menatapnya dengan mulut yang masih terbuka karena sudah diganggu sebelum ia selesai bicara.

"Oke, aku perlu berpikir," kata Naruto sambil mencubit dagunya dan mulai berjalan bolak-balik. "Dia keluar dari penjara itu, jadi dia bukan sisi femininku. Itu artinya aku tidak ditakdirkan jadi waria—TERIMA KASIH, TUHAN!—dan aku juga tak perlu kerja di salon lagi. Masalah itu sudah selesai. Titik. Wassalam."

"Oi—"

"KUBILANG DIAM!" hardik Naruto sekali lagi sambil mengacungkan jari telunjuknya dengan penuh emosi ke arah Kyuubi. Dia mondar-mandir lagi. "Oke, masalah kedua. Penjaranya ada di sana, tapi ada cewek di sini. Tapi makhluk yang ada di balik penjara itu harusnya seekor rubah berekor sembilan yang ukurannya gede dan napasnya bau—"

"Napasku tidak bau, bocah semprul!"

"DIAM!"

"AKU NGGAK SUDI DISURUH OLEHMU LAGI!"

"KUBILANG DIAM!"

"NGGAK SUDI!"

"DIAM!"

"GAK SUDI!"

"DIAM!"

"GAK SUDI!"

Sesi saling hardik itu berlangsung hampir semenit lebih sampai suara mereka berdua menjadi serak dan napas mereka terkuras.

"Oi... Kyuubi..." Naruto terengah sambil mengangkat kedua lengannya. "Coba lihat ini..."

"Hm—Hmph," dengusan Kyuubi terdengar kurang paten karena harus disela tarikan napas. "Kenapa juga aku mau melihat tungkai kurus seperti itu, hah?"

Urat-urat bermunculan di pelipis Naruto, namun shinobi yang masih berstatus Genin itu hanya menggertakkan giginya dan lalu kembali bicara dengan suara tenang yang dipaksakan. "Kau tahu nggak kenapa di tanganku nggak ada luka sama sekali?"

Kyuubi tertegun, kali ini matanya yang berwarna merah dengan pupil menyipit vertikal itu terfokus ke arah lengan yang seharusnya sudah ia cakar mati-matian beberapa menit lalu. Naruto mengawasi bagaimana gadis berjalan dengan langkah lambat sampai ia tiba di depan sang Jinchuuriki.

"Oi, apa yang kau—"

Kyuubi tiba-tiba mencakar wajah Naruto.

"AAAAHH—Aa, aah...?" Naruto berteriak, berhenti, lalu menyuarakan kebingungannya. "Kok nggak sakit...?"

Kyuubi menatap Naruto dengan mata terbelalak sebelum mencakar wajahnya sekali lagi.

"Aaahh—Nggak sakit."

Kyuubi mengepalkan tangannya dan meninju pipi Naruto.

"Serius, nggak sakit."

Kyuubi kalap dan langsung menghajar Naruto tanpa ampun, namun cowok yang ada di depannya hanya menerima semua serangan itu dalam diam dengan wajah yang masih menampakkan ekspresi bingung bukan kepalang. Ia terus mengawasi Kyuubi yang mengamuk sampai tenaganya habis lagi dan jatuh berlutut.

"...Ada sengatan dikit sih pas kau nendang selangkanganku tadi."

Kyuubi hanya melolong panjang.

~•~

Naruto mengamati Kyuubi yang hanya duduk sambil memeluk lutut di seberang meja, dirundu rasa putus asa setelah mengetahui bahwa walaupun dia bisa melepaskan diri dari Shiki Fuujin, tapi Youki-nya, sumber kekuatan yang membuat Kyuubi sangat ditakuti, tetap tertinggal di belakang penjara. Tak hanya itu, ketika Naruto terbangun pagi harinya, Kyuubi yang ternyata bisa mematerialisasikan dirinya di dunia luar langsung mencoba kabur, dan kembali harus disiksa oleh kejamnya kenyataan karena jika dia memisahkan dirinya terlalu jauh dari Naruto, dia seakan-akan menjadi robot yang kehilangan baterainya dan hanya bisa jatuh tersungkur ke lantai karena tubuh yang total tidak bertenaga.

Mau tak mau, Naruto jadi merasa kasihan dengan cewek yang nampak begitu sedih sampai ada awan kelabu di atas kepalanya itu.

"Oi, Kyuubi."

Ada jeda sejenak sebelum Kyuubi menyahut. "...Apa?"

Naruto memandang cup ramen yang masih belum matang di depannya sebelum menatap Kyuubi lagi. "Aku masih punya satu cup ramen lagi. Kalau kau mau, kau bisa makan yang satu ini."

"Bijuu nggak perlu makan," Kyuubi mendesis sambil mengangkat kepalanya untuk mendelik ke arah Naruto. "Tidak seperti manusia rendahan seperti kalian, Bijuu tak pernah lapar."

Naruto mengangkat bahu, sadar bahwa Kyuubi yang sudah tak bisa memakai Youki-nya yang dahsyat luar biasa hanya bisa memakai kata-kata untuk mengungkapkan rasa tak senang dalam hatinya. Kyuubi yang sekarang bahkan lebih lemah dari manusia biasa, jika menilik bagaimana serangannya yang terlihat ganas namun tak sedikitpun bisa melukai Naruto, jadi sang Jinchuuriki itu merasa setidaknya ia bisa membiarkan Kyuubi meledek atau menghinanya asalkan itu bisa membuat perasaan sang personifikasi makhluk mistis jadi sedikit baikan.

Naruto meraih dan mengangkat cup ramen di depannya, melirik ke arah Kyuubi yang masih mendelik, lalu memutuskan untuk pasrah.

Kalau memang Kyuubi tidak mau makan, itu keputusan Kyuubi. Tapi kalau boleh jujur, Naruto sebenarnya ingin Kyuubi juga bisa menyantap makanan yang bisa memanjakan bahkan kaum dewa ini—

"...Mmh?!"

Naruto baru saja menelan satu suapan ketika ia mendengar Kyuubi sudah membuat suara aneh. Naruto mendongak hanya untuk mendapati Kyuubi yang masih memandanginya, namun alih-alih pelototan berisi benci atau marah, yang kini bersinar di mata Kyuubi adalah rasa bingung dan penasaran.

"Kyuubi?"

"Kau..." Kyuubi berkata lambat-lambat sambil menjilat bibirnya. "Ngapain kau tadi?"

"Hah?" Naruto memiringkan kepalanya sedikit, melirik cup ramen di tangannya sebelum menatap Kyuubi lagi. "Apa yang kau—"

Kyuubi tiba-tiba berdiri dan menghampiri Naruto sebelum merebut makanan di tangannya. Ia mencium cup ramen itu dengan dengusan-dengusan cepat, menjepit beberapa lembar mi yang kemudian dia makan, sebelum sebuah kerutan kembali muncul di dahinya.

"Oi, Kyuubi! Kalau mau makan bilang saja dong! Kenapa ngambil ramenku sih?!"

Tapi Kyuubi hanya meletakkan cup ramen itu sebelum bergerak untuk menyeret kursinya ke samping Naruto. Ia duduk menghadap sang Jinchuuriki yang masih menatapnya dengan terbelalak, tangannya terangkat dan menunjuk ke arah cup ramen yang tadi ia tinggalkan di atas meja.

"Makan." Perintahnya singkat.

"Kau ini kenapa si—"

"Ma. Kan." Sela Kyuubi dengan sorot mata tajam yang membuat Naruto bergidik.

Sang keturunan klan Namikaze dan Uzumaki meraih cup ramennya dengan gerakan ragu, menjepit beberapa lembaran mi sambil melirik wajah Kyuubi yang bersinar dengan antisipasi, lalu memasukkannya ke mulut.

"...Mmn."

Naruto baru mengunyah satu kali ketika ia mendengar rintihan Kyuubi, membuatnya menoleh lagi dengan heran.

"Te-teruskan..." ucap Kyuubi yang menunduk sembari bernapas tajam.

Naruto merasa ada yang sangat aneh dengan situasi ini, namun perut yang masih lapar membuatnya hanya mengangkat bahu sambil meneruskan kunyahan, pandangannya yang kembali fokus ke makanan tak melihat Kyuubi yang tengah menggeliat-geliat di atas kursinya dengan mata dipejamkan.

"...Nnnaah!"

Sisa kuah yang sudah dalam perjalanan masuk di setengah kerongkongannya hampir saja keluar lewat hidung Naruto ketika ia mendengar erangan nyaring dari sampingnya. Saat dia menoleh untuk kesekian kalinya pagi itu, Naruto melihat Kyuubi yang sudah tersandar pingsan di kursinya dengan wajah merah padam.

Naruto hanya bisa ternganga sambil menatap wadah mi instan yang sudah kosong di tangannya. Apakah dia sudah membeli sejenis cup ramen ajaib yang bisa membuat orang lain yang menyaksikan prosesnya dimakan bisa sampai pingsan begini?

"Wow..." ucapnya takjub.

To be Continued...

A/N: Seperti itulah kalau makhluk mistis yang tak pernah tahu seperti apa panca indera lidah manusia tiba-tiba langsung dibuat merasakan enaknya makan mi instan.

Satu-satunya alasan mengapa hamba tidak memakai nama 'Kurama' di Omake ini adalah karena Naruto masih belum tahu nama asli Kyuubi.

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.