Galerians, in.

A/N: Akhirnya hal yang ditunggu-tunggu datang juga. Pertemuan dan interaksi antara Namikaze Naruto dan Rias Gremory, serta seluruh Peerage-nya! Bagi yang penasaran, hamba sarankan agar segera membaca!

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Goes into A High School

Chapter 3

(Blonde Shinobi Meets Red-haired Akuma?! Naruto's Past Encounter with The Devilkind!)

Dengan mata yang jeli, Rias Gremory mengamati pemuda yang duduk bersandar ke punggung sofa dengan tangan bersidekap dan mata tertutup, dikelilingi oleh anggota-anggota Peerage-nya yang turut mengamati remaja pirang itu bersama Rias.

Namikaze Naruto.

Ketua Occult Kenkyu-bu (Occult Research Club) itu melihat Pion terbarunya, Hyoudou Issei, yang duduk di seberang membuka mulut seakan mau bicara, hanya untuk mengatupnya kembali tanpa suara seperti tak yakin harus mengatakan apa, dan terus berkali-kali begitu sampai akhirnya ia menyerah dan terbungkuk ke depan dengan helaan napas panjang. Koneko duduk di sebelah Issei dengan postur tegak, tangan tertumpuk di atas paha, dan wajah lurus ke depan, namun matanya terus terpaku pada Naruto, atau lebih tepatnya, tangan kanan Naruto.

Sedangkan Kiba dan Akeno hanya berdiri di dua sisi sofa tempat Issei dan Koneko duduk, bibir mereka tersenyum namun mulut mereka tak mengucapkan apa-apa seakan-akan puas hanya dengan mengamati situasi. Rias merasa ingin mendesah, sadar bahwa tak satupun anggota Peerage-nya yang berguna untuk memulai percakapan. Apa gunanya Rias membawa Naruto ke tempat ini dengan tujuan menginterogasinya, kalau tak ada yang mulai bicara?

Rias menutup mata dan memijit pelipisnya sembari mengingat lagi rantaian peristiwa yang berakhir pada pemandangan di depannya ini.

~•~

Satu hari yang lalu, Rias telah melihat sendiri bagaimana remaja pirang yang memiliki tanda lahir (atau tato?) berbentuk kumis di wajahnya itu menghajar seorang Datenshi, makhluk yang jauh lebih kuat dari umat manusia dalam segala aspek, tanpa menunjukkan kesulitan sedikitpun. Awalnya, ia mengira bahwa Naruto juga merupakan seorang Iblis, mungkin dengan peranan sebagai Benteng atau bahkan Ratu jika melihat kekuatan pukulannya. Namun di tengah-tengah pertarungan, ia mendapat bukti pertama bahwa dugaannya itu keliru dalam bentuk energi yang meledak dari tubuh Naruto, karena apa yang ia rasakan saat itu sama sekali tak bisa dipanggil Youki. Bukti kedua, kalau Naruto memang seorang dari kaum Iblis, maka mustahil namanya masih tak dikenal di kalangan kaum pendiam Meikai kalau dia mempunyai kekuatan seperti itu. Bukti ketiga ia dapatkan saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Naruto menangkap sebuah tombak cahaya yang dilemparkan oleh musuhnya, sesuatu yang tak mungkin bisa dilakukan oleh kaum Iblis, kecuali kalangan elit, yang secara lumrah memiliki kelemahan khusus pada cahaya.

Dan bukti terakhir Rias dapatkan ketika ia pergi menemui Sona untuk bertanya apa hasil pertemuannya dengan remaja pirang yang telah menarik perhatian mereka berdua. Awalnya Rias mengira bahwa ia akan menemukan Naruto di ruangan OSIS itu, dengan status baru sebagai kaum Iblis dan anggota teranyar Peerage Sona, namun apa yang ia temukan ternyata jauh dari bayangan. Ia menemukan Sona duduk sendirian dalam ruangan yang seharusnya penuh personel itu, posturnya yang biasanya tegak dan penuh wibawa entah mengapa terlihat sedikit membungkuk seakan sedang dirundu letih, matanya yang bersinar tegas kini nampak kehilangan cahayanya, dan wajahnya yang biasanya dingin dan penuh percaya diri sekarang nampak lesu.

Sona mendongak dan melihat Rias, dan dengan sebuah senyum yang nampak tak bertenaga, Sona mempersilakan Rias duduk. Seperempat jam dan satu penjelasan kemudian, Rias meninggalkan ruangan OSIS itu sembari menyimpan sebuah amarah membara dalam hatinya, amarah yang tertuju pada seorang manusia yang telah berani melukai perasaan teman sekaligus rivalnya. Sona tak bersedia memberi detil penuh tentang apa yang sebenarnya telah diucapkan dalam ruangan itu beberapa jam sebelumnya, namun Rias adalah sahabat Sona, dan ia tak perlu menjadi seorang cenayan yang bisa membaca isi hati untuk tahu bahwa perubahan yang terlihat di penampilan sang ketua OSIS adalah bukti mati bahwa dia telah terpukul.

Sebelum ia tidur malam itu, Rias membuat tekad untuk memburu si cowok pirang di sekolah keesokan harinya. Dia akan menangkapnya, membawanya ke depan Sona, lalu kemudian ia paksa untuk berlutut minta maaf di depan sahabatnya itu, dan Rias akan memastikan hal itu terjadi walaupun dia harus mengerahkan semua anggota Peerage-nya.

Sial bagi Rias Gremory, saat ia mengutus Kiba dan Koneko ke kelas di mana Issei belajar, cowok pirang yang merupakan teman sekelas Pion terbarunya itu ternyata tak masuk sekolah.

Walaupun rasa kesal dalam hatinya telah meningkat dari bara obor menjadi api unggun, Rias dapat tetap tenang ketika Kiba dan Koneko hanya membawa Issei ke dalam bangunan sekolah lama yang menjadi markas mereka. Kegagalan ini bukan berarti dia akan berhenti, karena masih ada hari esok. Lagipula, walaupun dia gagal menangkap Naruto, Rias bisa merasa puas karena Issei telah berhasil membangunkan Sacred Gear-nya, dan yang membuatnya makin senang, ternyata Issei memiliki Boosted Gear, satu dari tiga belas Longinus, sebuah senjata keramat yang dipercayai bahkan bisa membunuh Tuhan.

Satu hari kembali berlalu, dan kali ini, Rias hampir saja membuat giginya beradu ketika Kiba dan Koneko kembali muncul di ruang klub hanya dengan membawa Issei. 'Tak mengapa,' Rias berkata dalam hati sembari menarik beberapa napas panjang untuk menenangkan diri. Dia masih punya kesempatan, dan kalau Naruto masih saja tidak masuk sekolah besok, dia bisa saja mencari alamat rumah pemuda itu dari staf sekolah. Rias takkan puas sebelum ia bisa menumpahkan kekesalan pada remaja pirang itu, dan kalau itu berarti Rias harus menyamperin ke rumahnya, maka dia tak keberatan!

Renungan Rias terpotong ketika Akeno mendekatinya dan mengatakan bahwa telah ditemukan seorang Iblis Liar di kota mereka, membuat ketua klub itu mendapat ide untuk menunjukkan pada Issei seperti apa gerangan pertarungan bangsa Iblis, dan juga sekaligus memamerkan kemampuan anggota Peerage-nya yang lain.

Keanehan langsung bisa terasa tepat setelah mereka muncul beberapa jauh dari bangunan terbengkalai yang menjadi sarang sang Iblis Liar. Youki yang terpancar dari dalam bangunan entah mengapa terasa begitu lemah, dan seiring setiap langkah Rias dan Peerage-nya yang bergegas, Youki itu semakin memudar sampai akhirnya pupus tanpa bekas tepat ketika mereka memasuki ruangan yang menjadi sumbernya.

"...Ara."

"Naruto-san?!"

Tak seperti Kiba dan Koneko yang hanya bisa diam karena terkejut, Akeno dan Issei menyuarakan rasa shock mereka dengan cara khas mereka masing-masing. Di sana, tanpa diduga-duga, terlihat orang yang telah Rias buru selama dua hari terakhir ini. Sosoknya yang tinggi tegap dibalut jaket dan celana panjang yang nampak robek di beberapa bagian, berdiri membelakangi mereka di tengah-tengah ruangan yang hancur berantakan. Di tangan kanannya tergenggam sebuah senjata, semacam pisau aneh karena bercabang tiga, sedangkan di tangan satunya lagi ada sebuah gulungan yang Rias tak tahu apa gunanya.

Rias beserta seluruh Peerage-nya tersentak ketika remaja itu menyadari keberadaan mereka dan berbalik, tak mampu untuk tidak kaget ketika mereka ditatap oleh sepasang mata biru langit yang bersinar di kegelapan malam.

Cowok pirang itu terus menatap mereka dengan sorotan mata yang tajam, wajahnya keras dan alisnya bertaut seakan mempertimbangkan sesuatu. Ekspresi tersebut melunak setelah beberapa saat, berubah dari keras menjadi datar, sembari mata birunya berhenti bersinar. Rias melihat ia memasukkan pisau dan gulungan di tangannya tersebut ke sebuah tas pinggang yang terikat di sabuk bagian kanan belakang.

Orang yang Rias ketahui mengaku sebagai seorang ninja itu berbalik kembali, mengambil beberapa langkah sebelum membungkuk untuk memungut sesuatu yang ada di lantai, benda yang tak ia lihat tepatnya apa karena Naruto dengan cepat mengantonginya.

Rias membuka mulut, siap meluncurkan pertanyaan untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang apa gerangan yang sudah terjadi sebelum mereka datang. Sayang, Issei telah mendahuluinya.

"Naruto-san, apa yang sedang kau lakukan di sini?!"

Rias menahan keinginan untuk cemberut karena kesempatannya untuk bertanya telah direnggut, namun berhasil menguasai dirinya untuk kembali mengkonsentrasikan tatapan ke arah teman sekelas Issei yang telah berbalik lagi untuk menghadap mereka.

Sayangnya, Rias harus puas dengan jawaban yang hanya terdiri dari dua kata. "Membersihkan sampah."

Akan tetapi, sependek apapun jawaban Naruto, ia tetap berhasil menarik perhatian mereka dengan cara ia menyampaikannya, karena ketika ia bicara, kata 'sampah' keluar dari mulutnya dengan begitu penuh kebencian, amarah, dan rasa jijik seakan-akan pencetusnya merasa muak hanya dengan membiarkan organ bicaranya mengucapkan kata itu. Dalam sepersekian detik kata dengan enam huruf itu dilontarkan, Rias melihat sekilas kemarahan murni mengisi ekspresi Naruto, membuat keturunan Klan Gremory itu berjengit ketika ia merasakan teror dalam hatinya.

Ketika sadar bahwa apa yang baru ia lihat telah membuat detak jantungnya menjadi tak beraturan, Rias menjadi makin penasaran. Kehidupan macam apa yang sudah dijalani oleh remaja di depannya, jika dalam usianya yang masih cukup belia dia sudah bisa memasang wajah yang bisa menakuti kaum Iblis kalangan atas seperti Rias?

"N-Naruto-san!"

Suara nyaring Issei membuat Rias tersentak, agak malu saat mendapati bahwa ia telah melamun dan tak menyadari bahwa Naruto telah melangkah melewatinya dan kini sedang dalam proses berjalan keluar dari bangunan. Bahu Rias menjadi gemetar ketika rasa kesal yang sudah ia simpan untuk si cowok pirang kembali menyeruak keluar, dan dengan wajah memerah menahan marah, ia menghentakkan kakinya untuk menyusul remaja yang sudah berani tidak mengacuhkannya seperti itu.

"Hei, kau!" dia berteriak memanggil. "Hei!" Rias harus menahan diri untuk tak tercengang ketika Naruto hanya mengabaikannya dan terus berjalan tanpa melambat sedikitpun.

"HEI!"

Teriakan yang bergema di halaman bangunan itu akhirnya sukses menghentikan langkah Naruto, yang menoleh kembali ke arah Rias dengan ekspresi sebal menghiasi di wajahnya.

"Sekedar informasi, namaku bukan 'Hei'."

Rias tersandung dan jatuh terjerembab ke tanah saat mendengar sahutan yang sama sekali tak disangka-sangka itu. Ia dengan cepat duduk, hanya untuk mendengar Akeno terkikik geli di sampingnya. Kiba juga buang muka, satu tangannya menutup mulut seakan-akan sedang berusaha menahan tawa, sementara Koneko kini nampak memasang sebuah senyum yang sangat tipis sampai Rias yakin pasti akan terlewat kalau ia tidak teliti. Issei... Issei sih cuma melongo dengan mulut terbuka dan rahang menggantung.

Rias cepat-cepat berdiri, lalu menunjuk Naruto dengan emosi. "Kau...!"

Naruto memiringkan kepalanya sedikit. "Aku?"

"K-Kau!"

"Ya?"

...Kutukupret, Rias lupa apa yang ingin ia katakan.

Dengan wajah merah menahan malu, Rias kembali berteriak. "KAU!"

"Oke, cukup," Naruto mengalihkan pandangannya ke arah Issei. "Oi, Issei."

"He?" Issei masih tetep keukeuh dengan longoannya.

"Bosmu ini cuma lagi konslet atau dia memang suka bertingkah macam kaset sendat seperti ini sih?"

"Ehhh," Issei melirik ke arah majikan barunya yang hanya mangap-mangap dengan wajah merah padam. "Entahlah, aku juga nggak yakin ini sebenarnya ada apa."

"Ara, ara," Akeno mendekat dan menepuk bahu Rias. "Buchou, apa kau begitu terpesona setelah bertemu Namikaze-kun sampai kau jadi tak bisa bicara normal?"

"HAH?!" satu detik kemudian, Rias sadar bahwa dia tidak berteriak sendirian. Ia mengembalikan tatapannya ke arah Naruto, pemilik suara yang tadi teriakannya memiliki konteks yang sama dengan teriakan Rias.

"'Terpesona'?!" mata biru langit itu mendelik ke Rias dengan tatapan campur aduk antara tak percaya, jijik, marah, sekaligus takut. "Kau juga mau menjadikanku budak?! Aku nggak bersedia!"

"Kenapa topik terpesona tiba-tiba berubah menjadi budak?!" Rias menyemprot. "L-lagipula siapa juga yang sudi membuat cowok nggak sopan macam kau jadi budaknya, hah?!"

"Apa kau bilang?! 'Nggak sopan'?!" Naruto menghardiknya balik. "Aku nggak mau dengar itu dari cewek yang nggak pake beha sepertimu!"

"Ng-nggak pake beha..." Issei melecutkan tatapannya ke arah dada Rias dengan mata terbelalak, sebelum darah tiba-tiba muncrat dari kedua lubang hidungnya. "Uooh, terima kasih, Tuhan—AAH!"

Rias mengabaikan Issei yang kini gegulingan di tanah sambil mencengkeram kepalanya. Sudah tahu sekarang dia sudah menjadi Iblis, siapa juga yang menyuruh dia menyebut nama Tuhan?

Oh tidak, sebagai ahli waris Klan Gremory yang tak suka kalah, Rias tahu bahwa dia tak bisa mengalihkan konsentrasi, bahwa untuk menang, dia harus memfokuskan perhatian penuhnya pada perang verbal antara dia dan Naruto.

"A-aku pakai beha kok!" ...Ah, sial. Kenapa dia memakai kalimat defensif seperti itu?

"Nggak mungkin kau pakai beha kalau putingnya masih nongol seperti itu!" Naruto menyahut panas.

"Apa kau bilang?!" Rias mencengkeram seragamnya dan membukanya dengan sekuat tenaga sampai kancing-kancingnya lepas dan berjatuhan ke tanah. "Lihat ini! Siapa yang bilang aku nggak pakai bra, hah?!"

Rias sama sekali tidak mengacuhkan pancuran cairan merah yang kembali tercurah dari lubang hidung Issei yang masih terbaring terlentang di atas tanah.

"K-kenapa kau malah buka baju di depanku sih?!" Cowok pirang di depannya sendiri memilih untuk menutup matanya sambil buang muka ke samping, pipinya begitu merah sampai hampir terlihat seperti menyala di kegelapan malam. "Dasar cewek nggak tahu malu! Mesum! Eksibisionis!"

Kali ini, Rias benar-benar hilang kontrol. Akal sehatnya mengalami shutdown, wajahnya tercengang, dan mulutnya ternganga seperti moncong buaya yang sedang berjemur.

Sementara otak Rias sedang melalui proses reboot, Kiba sudah membungkuk dengan wajah menghadap tanah, sambil menutup mulutnya sekuat tenaga dengan kedua tangan agar tak ada suara yang keluar. Akeno mengorbankan keanggunannya sebagai seorang wanita dengan status Yamato Nadeshiko dan tertawa terbahak-bahak dengan mata yang mulai berair. Senyum di wajah Koneko kini sudah mencapai kekuatan penuh, dan kalau dilihat baik-baik, ada getaran halus di bahunya yang kecil.

Issei... Issei sudah lama hilang kesadaran karena mengalami defisit darah, sebuah senyum bego namun bahagia terpasang di wajahnya yang pucat selagi ia berbaring di genangan darahnya sendiri.

Melihat itu, Naruto memutar badan seluruhnya dan berjalan ke arah Issei yang terlihat seperti orang yang sudah mencapai pencerahan, sambil berusaha sekuat tenaga untuk tidak melirik ke arah Rias yang masih beku dalam posisi membuka baju. Proses reboot otak Rias selesai tepat waktu untuk mendapati Naruto yang sudah berlutut di samping tubuh Pion terbarunya, dan ia kembali dirundung rasa penasaran ketika matanya menangkap pemandangan dua mata biru langit Naruto yang bersinar seperti beberapa menit yang lalu.

Sang ahli waris Klan Gremory itu terus mengawasi dengan teliti sementara mata yang bersinar itu kembali meredup sebelum pemiliknya melepaskan napas lega. Naruto mengulurkan satu tangannya, yang kemudian ia gunakan untuk menepuk pipi Issei. "Oi, Issei," setelah beberapa tepukan yang tak memberi hasil, Naruto meraih kerah Issei, mengangkatnya, lalu menampar pipinya sambil menghardik dengan kencang. "Oi! Issei!"

"Ah-auh, a-apa yang—?" Issei duduk dan mulai bicara terbata-bata, namun kelihatannya kehilangan banyak darah menjadikan remaja berambut cokelat tua itu masih berada dalam kondisi tak optimal dan membuatnya kembali oleng. Untungnya, sebelum ia rebah kembali ke tanah, Naruto sudah terlebih dahulu mengulurkan tangannya untuk menopang berat tubuh Issei. "N-Naruto-san...?"

Sembari menghembuskan napas panjang, Naruto menggunakan tangannya yang bebas untuk merogoh tas pinggangnya, mengeluarkan sebuah pil kecil berwarna hitam yang ia sodorkan ke arah teman sekelasnya dengan sebuah perintah singkat. "Telan ini."

Wajah Rias berkeriut curiga, namun Issei hanya mengamati pil itu untuk beberapa saat sebelum menelannya tanpa keraguan. Tanpa perlu menunggu lama, Rias mendapat bukti efek obat itu dalam bentuk wajah Issei yang semula agak pucat kini berwarna sehat lagi. Issei, dengan wajah yang terkagum-kagum, langsung melompat berdiri, menggerakkan tubuhnya seakan-akan sedang mengetes apakah obat itu benar-benar memiliki fungsi yang ia pikirkan. "Wow..." ia mendesah pelan, sebelum menghadap Naruto dengan mata berkelip. "Tubuhku jadi segar lagi!"

Naruto ikut menegakkan tubuhnya sembari tersenyum tipis. "Syukurlah kalau begitu."

Issei mengangguk bersemangat. "Naruto-san, pil apa itu tadi?"

"Zouketsugan (Blood Increasing Pill)," Naruto menjawab singkat. "Berguna untuk mempercepat fungsi sumsum dalam memproduksi darah sampai beberapa kali lipat." Ia mencubit dagunya. "Dan karena kau seorang Iblis, konstitusi tubuhnya juga lebih bagus dari manusia, sehingga Zouketsugan jadi bekerja lebih cepat dari biasanya."

Tangan Naruto tiba-tiba berkelebat untuk menutup mata Issei, membuat teman sekelasnya itu berkaok kaget. "Dan kau." Tanpa menoleh, Naruto memakai tangannya yang lain untuk menunjuk ke arah Rias. "Aku sudah mengerti sekarang kalau kau adalah cewek yang tak tahu arti kesopanan, tapi bisa tidak tutupi tubuhmu sebelum kau membuat Issei mimisan dan pingsan lagi?"

Pertama kalinya diperlakukan dan mendapat sebutan seperti itu, wajah Rias mulai merona sampai-sampai kulit lehernya ikut berwarna merah. "K-k-kau...!" ia terbata untuk yang kesekian kalinya.

"Sudah, sudah, sudah," Akeno berjalan ke tengah-tengah dua remaja yang kelihatannya takkan puas bertengkar itu. "Namikaze-kun, tolong maafkan tingkah Buchou. Dan Buchou, kau bisa masuk angin dengan baju terbuka seperti itu."

"Pengkhianat!" Rias berteriak kesal sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah wajah Akeno. "Akeno, kenapa kau malah membuat seakan-akan aku yang salah sih?!"

"Sudah, sudah, sudah," Akeno kembali mengulangi sambil berusaha menahan tawa. Sesungguhnya, ia mengucapkan kalimat itu karena sudah sangat lama ia tidak pernah lagi melihat Rias hilang ketenangan, dan kesempatan untuk mengusik ketua klubnya itu adalah sebuah kesempatan emas dan langka yang tak boleh ia lewatkan.

Wakil ketua Occult Kenkyu-bu itu menghadap orang yang mengisi peran Ksatria di Peerage Rias. "Kiba-kun, bisa tolong pinjam jasmu?" dengan cepat ia berbalik ke anggota klub laki-laki yang lain ketika ia melihatnya mulai buka mulut. "Ise-kun, sebelum kau protes, tolong ingat kalau kau tadi berbaring di genangan darah mimisanmu sendiri."

"Ini, Akeno-san."

"Terima kasih, Kiba-kun," Akeno menerima jaket itu dan membawanya ke Rias. Ketika ia melihat ketua klubnya itu mendelik dengan hidung yang kembang kempis, Akeno kembali terkikik geli. "Sudah, sudah. Kalau kau marah-marah terus nanti kau cepat keriput lho, Buchou."

Setelah pemandangan dada Rajanya yang besar tertutup sempurna, Akeno berbalik dan melihat bahwa Naruto telah berhenti menutup pandangan Issei serta bagaimana remaja berambut cokelat itu melempar tatapan penuh nestapa ke arah temannya dengan mata berkaca-kaca, membuat Naruto menghela napas panjang sebelum menjentik dahi Issei dengan jari telunjuknya.

Naruto mengedarkan pandangannya satu kali sebelum mengangguk. "Kalau begitu, sampai ketemu."

"Ah, Namikaze-kun," Akeno memanggil remaja yang sudah berbalik dan sudah dalam proses melangkahkan kaki itu. "Sebenarnya, Buchou sudah mencari-carimu sejak kemarin, jadi bisakah kau menunggu sebentar lagi untuk mendengar apa yang dia inginkan?"

Naruto membalas tatapan Akeno selama beberapa saat, lalu mengangkat bahunya dan kembali menghadap Rias. Ketika tak ada ucapan yang disuarakan walau waktu sudah berlalu beberapa saat sampai Naruto jadi tak sabar dan mulai mengetuk-ngetuk tanah dengan kakinya, Akeno menoleh ke arah ketua klubnya dengan dahi yang sedikit berkerut. "Buchou?"

"Aku tahu!" Rias menjawab balik dengan suara yang agak terlalu nyaring. Gadis berambut hitam panjang yang dikuncir itu melihatnya menarik napas, sebelum berjalan ke depan Akeno. "Namikaze Naruto," ia mengangkat wajahnya sedikit dan mengacungkan telunjuknya ke arah Naruto. "Aku mau penjelasan."

Mendengar tuntutan itu, mata Naruto menyipit seperti telah tersinggung. "Dan kau pikir kau itu siapa, berani menyuruh-nyuruhku seperti ini?"

"A-anu, Naruto-san," Issei menarik perhatian teman sekelasnya itu, tangannya mengusap belakang kepalanya. "Kau tidak tahu siapa Buchou?"

"Aku tahu kalau namanya Rias Gremory, dan dia seorang Iblis." Alis Naruto bertaut. "Memangnya ada hal lain yang harus kutahu selain itu?"

"Naruto-san," Issei meraih bahu Naruto, wajahnya serius bukan buatan. "Kau lihat dua gadis muda di depanmu?" ia mengibaskan tangannya yang bebas ke arah Rias dan Akeno. "Persembahkan, Rias Gremory dan Himejima Akeno~! Dua gadis paling cantik dan terkenal di seantero Akademi Kuoh!"

"...Lalu?"

"Ck, ck, ck. Kau masih belum mengerti, Naruto-san," Issei berdecak dan menggoyang-goyangkan jari telunjuknya sebelum merangkul bahu Naruto. "Lihatlah paras mereka yang menawan, tak ubahnya bidadari yang turun dari khayangan. Lihatlah rambut mereka yang lurus dan halus, seperti sutera kualitas tertinggi yang selalu menjadi dambaan. Lihatlah kulit mereka yang mulus, putih bagaikan susu dan membuat air liur menetes bagi siapapun yang memandang!"

"Dan yang paling penting, lihatlah dada mereka yang besar dan kencang, begitu anggun dan lembut! Teramat menawan! Sungguh menakjubkan!" binar mata Issei seakan-akan membuatnya seperti bercahaya. "Berteriaklah denganku, Naruto-san! Nyanyikan pujian untuk dua gadis yang menjadi berkah bagi semua kaum Adam!" Ia mengacungkan tinjunya ke langit. "Hidup Oppai!"

Namun selama apapun ia menunggu, yang menjawab Issei hanyalah hening. Manusia yang dibangkitkan kembali sebagai bangsa Iblis itu menoleh, dan melihat bahwa Naruto hanya memandanginya dengan aneh.

"...Sekali lagi, Naruto-san. Ikuti ucapanku!" Issei meninju langit lagi. "Hidup Oppai!"

Sunyi.

Issei tak mau menyerah. "Hidup Oppai!"

Sepi.

"HIDUP OPPAI—Guoh!"

Issei terjungkal ke belakang ketika Naruto tiba-tiba menyundul dahinya. Ia merintih kesakitan sebelum tubuhnya kembali tertarik ke depan, kerahnya dicekal oleh Naruto.

"Kau ini bego ya?!" Naruto berteriak tepat ke wajahnya. "Memangnya apa peduliku kalau mereka punya dada besar, hah?!"

"T-tapi...! Tapi...!" Issei terbata, lalu mengucapkan satu-satunya kata yang muncul ke kepala. "Oppai!"

"Makanya tadi kutanya, KAU INI BEGO YA?!" hardik Naruto sambil mengguncang-guncang tubuh Issei.

"Oppai!"

"Jawab pertanyaanku!"

"Oppai!"

"Kenapa kau juga malah ikut jadi kaset sendat seperti bosmu sih?!" Naruto berteriak kesal sekali lagi, melepaskan kerah Issei dan membiarkannya jatuh terduduk di tanah, sebelum memijit batang hidungnya. "...Ya Tuhan, kenapa semua orang yang kuanggap teman otaknya nggak pernah ada yang beres? Salahku apa, Ya Tuhan~?"

Naruto menarik napas panjang beberapa kali sebelum ia berjongkok di depan Issei. "Issei, dengarkan aku sebentar, oke?" Ia menampangkan telapak tangannya ke depan wajah Issei. "Pertama, lihat tangan ini." Dia lalu menunjuk ke arah Rias dan Akeno. "Kedua, perhatikan ukuran dada mereka." Issei mengangguk, matanya terfokus pada dada Rias dan Akeno secara bergantian. "Terakhir, aku ini orangnya tidak suka hal-hal yang berlebihan." Issei kembali memandang Naruto. "Nah, Issei, kaukira dada ukuran jumbo seperti itu bisa muat untuk tanganku yang cuma sebesar ini?"

"..." Issei diam. "...Oppai!"

"Brengsek!" Naruto kalap dan mencekik leher Issei. "Kau dengar aku ngomong atau nggak sih?!"

Sementara itu, orang-orang yang mengamati interaksi dua teman sekelas itu memiliki reaksi yang bermacam-macam. Rias menggantikan peran Issei sebagai anggota yang hanya bisa cengok seperti orang dongo. Kiba yang tadi sempat sembuh sekarang sudah jatuh bersujud dengan dahi menyentuh bumi, satu tangan digunakan untuk menutup mulut dan satunya lagi memukul-mukul tanah. Koneko mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil buang muka, gemetaran bahunya kini terpampang jelas.

"Ara, ara," dari keempat pengamat itu, hanya Akeno yang berhasil mempertahankan ketenangannya. "Namikaze-kun, biarpun sekarang Issei sudah jadi Iblis, dia tetap bisa mati kalau kau terus mencekiknya seperti itu lho."

"Oh," Naruto melepaskan Issei yang mulutnya mulai berbusa dan wajahnya sudah membiru, membiarkan cowok berambut cokelat itu terkapar di tanah untuk yang kedua kalinya malam itu. "Maaf."

"Uhuhuhu, tidak masalah," tepis Akeno dengan ringan. "Akan tetapi, mendiskusikan soal dada perempuan di depan orang yang dibicarakan? Tak disangka, ternyata Namikaze-kun juga punya sisi mesum."

"Ya aku kan juga cowok remaja! Wajar kan kalau aku juga jadi korban hormon!" cetus Naruto dengan defensif. Namun pemuda itu berhasil mengontrol dirinya dengan menutup mata dan menghela napas untuk kesekian kalinya. Desahannya terdengar lelah. "...Tapi kau benar, dan aku minta maaf kalau aku sudah membuatmu tersinggung. Aku hanya belum tidur dua hari ini."

"Dua hari belum tidur, katamu?" Informasi baru itu membuat Rias berhasil sembuh dari penyakit bengong. "Memangnya apa yang sudah kaulakukan dua hari ini?"

"Yah..." Naruto menggaruk belakang kepalanya sambil buang muka ke samping. "...Ini dan itu."

"Kau ini..." Rias menggeram.

"Oke, oke, aku mengerti," Naruto mengangkat tangannya dengan pasrah. "Tapi sebelum itu, dan aku minta maaf dulu, aku sebenarnya sudah capek banget nih. Jadi kalau kita mau bicara, bisa nggak kita lakukan di tempat lain? Paling tidak tempat yang ada kursinya supaya aku bisa duduk dan santai sedikit."

"Hmm. Ide bagus," Akeno mengusap dagunya. "Buchou, bagaimana kalau kita pulang ke ruang klub dulu sebelum melanjutkan?"

"Tapi sihir transportasi kita tak bisa membawa manusia seperti dia," sahut Rias. "Masa kita harus jalan kaki sampai ke sekolah sih?"

"Oh, jadi tujuan kita Akademi Kuoh ya?" tanya Naruto. "Aku punya solusi kalau begitu."

"So-solusi?" Issei berdiri sambil mengurut lehernya.

Naruto mengangguk. "Jadi tolong ngumpul di sini dulu," Naruto menunggu Rias dan Peerage-nya tiba di sisinya sebelum memegang bahu Issei. "Lalu pegangan seperti ini," Issei menurut dan meniru Naruto dengan memegang bahu Rias, Rias ke Akeno, Akeno ke Koneko, dan terakhir Koneko ke Kiba. Naruto tersenyum tipis. "Karena ini pengalaman pertama kalian, akan lebih baik kalau kalian tahan napas."

Mereka melihat Naruto mengangkat tangannya dalam posisi seperti apa yang sering mereka lihat di film-film ninja, telunjuk dan jari tengah teracung sementara jari yang lain terkepal. "Hiraishin!"

Pandangan mereka dipenuhi oleh cahaya keemasan untuk sesaat, dan detik berikutnya, Akademi Kuoh sudah ada di depan mata.

"...Eh?" Rias dan Akeno berucap bersamaan.

Issei nampak limbung, dan ia mungkin sudah jatuh kalau Naruto tidak memeganginya. "Uooh..." ia mengerang. "Aku mual..."

"Oh, sori, memang sering terjadi untuk orang yang baru pertama kali kubawa dengan jurus ini," Naruto merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah permen mint. "Nih makan. Pasti langsung baikan."

Naruto memperhatikan Rias dan sisa Peerage-nya sebelum berjalan ke arah Koneko, satu-satunya orang selain Issei yang kelihatannya menderita efek samping Hiraishin. Shinobi pirang itu mengeluarkan satu permen lagi dan menyodorkannya ke arah cewek bertubuh pendek itu. "Ini."

Koneko mengambil permen itu dan memasukkan isinya ke dalam mulut, membuat wajahnya yang tadi sudah agak menghijau dengan cepat kembali sehat, mulutnya mengemut jajanan manis itu dengan sebuah senyum tipis.

Tanpa disadari oleh pemiliknya, tangan kanan Naruto tiba-tiba terangkat dan ia mulai menggaruk bawah dagu Koneko. Tubuh gadis itu mengeras untuk sesaat, sebelum mulai menggeliat-geliat dan ekspresinya pun mulai melunak. Tak sampai lima detik, mata Koneko telah tertutup, bibirnya membentuk sebuah senyum simpul, dan tubuhnya sedikit condong ke depan untuk mempermudah akses bagi Naruto yang masih tak terlihat sadar dengan perbuatannya. Setelah kurang lebih seperempat menit berlalu, suara dengkuran halus terdengar dari dalam tenggorokannya.

"Namikaze-san?"

"Hmm?" Naruto mengumbang sembari menatap Kiba, orang yang memanggilnya. "Oh, kau... Kiba Yuuto kan? Ada apa, Kiba-san?"

Kiba mengangguk. "Anu," Ia melirik ke arah Koneko yang masih memejamkan mata dan sudah mulai berjinjit-jinjit. "Kau sedang apa?"

"Hm?" Naruto mengikuti arah tatapan Kiba dan memandang ke depannya. "Ah." Dia tersadar, sebelum menarik tangannya cepat-cepat. Ia tak melihat ekspresi kecewa di wajah Koneko karena Naruto sudah lebih dulu membungkukkan badannya sampai paralel dengan tanah. "Maaf! Aku benar-benar minta maaf! Aku tak tahu kenapa tanganku bergerak sendiri seperti itu!"

Atau jangan-jangan itu cuma reaksi otomatis yang terbentuk karena dia sudah terlalu sering memanjakan Bijuu yang tersegel di perutnya dengan cara yang sama? Yah, memang besar kemungkinan kalau itulah alasannya, tapi Naruto tak mungkin bisa mengatakan itu tanpa membongkar rahasia tentang eksistensi Kurama.

Mata Koneko tak pernah meninggalkan tangan kanan Naruto, tangan yang tadi sudah memanjakannya. "...Tidak apa-apa."

"Hei, kau," Rias yang sudah tak lagi terpana mendekat dari samping. "Yang kau lakukan tadi, sihir apa itu?"

"Sihir?" Naruto terkekeh. "Bukan sihir. Ninjutsu. Dan seperti yang kau dengar, namanya Hiraishin."

"Ninjutsu?" dahi Rias berkerut. Jadi cowok pirang di depannya ini benar-benar seorang ninja? Tapi bukannya ninja itu cuma legenda? "Beritahu aku cara kerjanya."

"Oi, oi. Kau pikir kita sedang ada di dalam manga?" Naruto menyeringai. "Mana mungkin aku mau mengungkap mekanisme jurusku hanya karena ada yang meminta."

Tuntutannya yang ditolak seperti itu membuat Rias menggeram, giginya beradu dan hidungnya kembang kempis. "Kau ini..."

"Sudah, sudah, sudah," Akeno kembali menengahi dua remaja yang entah mengapa seperti selalu siap untuk bertengkar itu. "Lebih baik kita pergi ke ruang klub dulu. Namikaze-kun, kau capek kan?" setelah melihat orang bertubuh sedikit lebih tinggi daripada lima orang lainnya itu mengangguk, ia berpaling ke Rias. "Buchou, kau tidak berniat meminjam jas Kiba-kun semalaman kan?"

Sang ketua klub itu nampak enggan, seperti tak puas karena sesi adu mulutnya sudah disela begitu saja, namun akhirnya ia mengangguk.

Akeno menepukkan tangannya dan tersenyum lebar. "Baiklah, apa lagi yang kita tunggu?"

~•~

Dan di sinilah mereka sekarang, di ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya lilin-lilin yang temaram. Di bawah penerangan remang-remang, bayangan yang tercipta dari lekukan-lekukan wajah Naruto semakin menekankan fakta bahwa ia memang benar-benar kelelahan. Mungkin itulah yang membuat Issei sering buka mulut tapi tidak buka-buka suara juga, karena ia tak tega mengganggu teman sekelasnya yang terlihat begitu letih dan kehabisan tenaga.

Masalah itu berakhir ketika Naruto membuka mata, namun tatapannya masih terarah ke bawah, tidak memandang siapa-siapa. "Jadi, apa yang mau kalian tanyakan?"

Setelah melewati lima menit hanya dalam diam, kesempatan untuk memecah kesunyian adalah sesuatu yang takkan Rias lewatkan. "Baiklah," ia bersandar ke tepi meja. "Pertama-tama, aku mau bertanya tentang apa yang terjadi tiga hari lalu di ruang OSIS."

Naruto akhirnya mengangkat kepalanya untuk menoleh ke arah Rias. "Shitori-san bukanlah Iblis pertama yang kutemui." Ia menurunkan pandangannya lagi sembari mendesah pelan. "Sepanjang kehidupanku sebagai shinobi, setidaknya sudah ada tiga kali aku berselisih dengan bangsa Iblis, dan tak pernah satu kalipun aku bertemu dengan Iblis yang memiliki niat baik pada kaum manusia." Leher Naruto tertekuk seraya ia menunduk kian dalam, tangannya yang tadi bersidekap kini berganti menjadi mencengkeram lutut dengan begitu kuat sampai buku tangannya mulai memutih. "...Dan dari tiga kesempatan itu, hanya satu yang berakhir dengan happy ending."

Seluruh ruangan terdiam, tak menyangka jawaban yang seperti itu. Rias sendiri harus menahan diri untuk tak terperangah. Tanpa sadar, dia telah bersikap naif. Jujur, awalnya ia hanya mengira bahwa Naruto berlaku seperti itu pada Sona dan anggota Peerage-nya karena asumsi yang didasarkan pada pengetahuan dari kitab-kitab religius. Rias tak pernah menyangka bahwa Naruto telah bertemu, bahkan berurusan langsung dengan kaum Iblis. Terlebih lagi, jika melihat bagaimana Naruto mencengkeram lututnya sampai seperti itu, entah mengapa Rias sama sekali tidak ragu bahwa apa yang dialami Naruto memang benar-benar sesuatu yang tak menyenangkan.

Serta jika menilik perkataan Naruto bahwa Iblis yang ia temui tak memiliki niat baik pada kaum manusia, serta bagaimana ia menyampaikan bahwa dua dari tiga kesempatan itu berakhir buruk, Rias mengerti bahwa di sana ada implikasi bahwa telah ada korban yang jatuh.

Merasa makin penasaran, Rias berusaha menggali lebih jauh. "Pengalaman seperti apa yang kaubicarakan?"

Tubuh Naruto mengeras sesaat. "...Bisakah kita lewati saja topik ini?"

"Oh, ayolah, Namikaze-san," Kiba mencoba membujuk. "Aku yakin apapun yang kau alami pasti tidak seburuk itu."

Kepala Naruto terangkat dan berputar ke arah Kiba dengan begitu cepat, dan sorotan matanya yang setajam belati membuat nyali sang Ksatria ciut sesaat, kakinya tanpa sadar mengambil satu langkah mundur.

"...Tiga ratus lebih," Naruto mendesis. "Tiga ratus lebih manusia dibantai habis dalam waktu dua hari dua malam." Sorotan matanya menjadi kian tajam, dan sinar kemarahan yang tersimpan di dalamnya tak dapat diabaikan. "Oh ya, memang tidak seburuk itu. Malah, mungkin di mata seorang Iblis sepertimu, itu tidak buruk sama sekali." Ia mengakhiri dengan sinis.

Kiba mengalihkan matanya, tak mampu lagi membalas tatapan Naruto yang jujur membuat ia ingin kabur dari ruangan itu. "...A-aku minta maaf, Namikaze-san."

Naruto menghempaskan punggungnya ke bantalan sofa yang empuk sambil mendesah panjang. "Tidak, aku yang seharusnya minta maaf," ia mulai memijit pelipisnya. "Kau tidak tahu seperti apa kejadiannya, jadi wajar kalau kau mengira bahwa aku hanya melebih-lebihkan."

Kiba mengangguk, kini merasa sedikit lega. "Tidak apa-apa, Namikaze-san. Aku juga salah."

"A-anu, Naruto-san," Issei menarik perhatian Naruto. Wajahnya jelas menunjukkan rasa takut, tapi kelihatannya rasa penasaran masih menang. "Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?"

"...Sekelompok anak muda yang terlalu menyukai hal-hal gaib mencoba melakukan ritual untuk memanggil setan dari alam lain. Ritual yang memerlukan tumbal." suara Naruto kini telah menjadi begitu rendah sampai hampir bisa dibilang hanya tinggal geraman. "Kalian mau tahu apa tumbal yang mereka pakai?" Tangan Naruto kini terkepal sampai buku jarinya berderak. "Janin."

Mereka semua tersentak, tak ada satupun wajah mereka yang tidak memucat.

"Kalian tahu apa yang lebih menjijikkan lagi? Para anak muda yang mungkin sudah tak waras itu berpikir bahwa akan lebih baik kalau mereka memakai tumbal segar. Dengan kata lain, janin hidup." Bahkan di bawah cahaya remang-remang sekalipun, bisa terlihat bahwa paras Rias dan semua anggota Peerage-nya sudah hampir kehilangan rona sehat. "Dan kalau itu masih belum cukup, kalian tahu metode mengerikan apa yang mereka pakai untuk memastikan bahwa janin itu masih segar? Mereka mengambilnya secara langsung dari ibu hamil yang sama sekali tidak dibius."

Issei mengeluarkan suara tersedak. Remaja berambut cokelat itu melesat ke kamar mandi, di mana sedetik kemudian, terdengar suara muntah yang bergema di ruangan klub yang kini sunyi.

Seakan tak peduli, Naruto meneruskan, "Gilanya, ide mereka membuahkan hasil. Ritual yang mereka laksanakan memang sukses." Ia berhenti sebentar. "...Terlalu sukses, malah."

Rias menelan ludah yang terasa sangat kental, dan bertanya dengan suara kecil. "...A-apa yang terjadi selanjutnya?"

"Seperti yang kukatakan di awal tadi, tiga ratus nyawa manusia melayang. Penduduk seluruh desa habis dalam waktu dua hari dua malam." Naruto menutup matanya seraya menarik napas panjang seakan-akan mengumpulkan kekuatan. "...Sayangnya, Iblis itu tak hanya berhenti sampai di situ, karena ketika aku dan Shishou-ku tiba di sana, kami menemukan fakta lain."

"...Fakta apa?" kali ini, Akeno yang bertanya.

"Iblis itu punya kemampuan untuk mengendalikan mayat yang ia bunuh," suara Naruto sekarang hanya sedikit lebih nyaring dari bisikan. "Tiga ratus lebih penduduk desa dia ubah, hanya saja, tidak seperti kalian, dia membangkitkan mereka sebagai mayat hidup dan bukannya bangsa Iblis. Tak ubahnya boneka-boneka wayang yang dikendalikan oleh seorang dalang." Tarikan napas Naruto yang selanjutnya terdengar lebih dalam dan tajam. "Lebih buruknya lagi, walaupun tubuh inang Iblis itu dihancurkan, dia bisa dengan mudah melompat ke tubuh lain yang ada di bawah kontrolnya. Jadi untuk menghabisi Iblis itu, kami juga harus membasmi habis semua mayat hidup yang ada di sana."

Jeda sejenak kembali tercipta. Baik itu Rias, Akeno, Kiba, apalagi Koneko, tak ada yang berani membuat suara.

"...Dari jumlah tiga ratus lebih mayat hidup yang kusebutkan, seratus sebelas di antaranya adalah anak-anak," Rias dan Peerage-nya kembali berjengit, tak hanya dari informasi yang mereka dapatkan, tapi juga nada sarat kesedihan yang tersimpan dalam suara Naruto. "Dari seratus sebelas anak-anak, empat puluh tujuhnya adalah balita," Rias dan Akeno mengeluarkan suara terisak secara bersamaan, mata Koneko telah melebar sempurna, dan Kiba buang muka ke samping sembari menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Dan dari empat puluh tujuh balita, dua puluh dua di antaranya adalah bayi. Bayi yang usianya tak mungkin lebih dari tiga tahun. Bayi, yang juga harus kuhabisi." Ketika ia bicara kembali, suara Naruto seperti orang yang sedang menahan tangis. "Itulah pengalaman pertama, sekaligus pengalaman terburukku dalam berurusan dengan kaum Iblis. Misi yang awalnya hanya untuk menyelidiki kenapa pemerintah setempat kehilangan kontak dengan sebuah desa, akhirnya berubah jadi malapetaka." Ia diam sesaat, dan menambahkan dengan suara sangat kecil yang tak lebih dari sebuah bisikan. "...Saat itu terjadi, aku baru berusia tiga belas tahun."

Dan mereka kembali terguncang, mata mereka bergerak ke arah pemuda yang kini duduk tertunduk dalam-dalam sampai wajahnya tak lagi terkena cahaya. Rias akhirnya mengerti kenapa pandangan Naruto pada kaum Iblis bisa jadi seburuk itu. Dia tak bisa lagi menyalahkan Naruto yang telah bereaksi dengan begitu kasar ketika Sona mengungkapkan bahwa dia adalah seorang Iblis. Dia bahkan bisa mengatakan bahwa reaksi Naruto masih bisa dibilang cukup enteng, karena dengan pengalaman semengerikan itu, Rias merasa Sona masih beruntung karena Naruto hanya mendampratnya secara verbal, dan bukannya dengan kekerasan fisik.

Naruto mendongak sebelum mengalihkan tatapan ke arah Rias, dan sang ketua klub mau tak mau harus meringis karena mata biru langit itu sekarang seakan-akan sudah kehilangan sinar hidupnya. "Kau sekarang mengerti kan, kenapa aku mengatakan apa yang kukatakan pada Shitori-san?"

Rias hanya mengangguk, tak tahu lagi apa yang bisa ia katakan.

~•~

Setelah penjelasan itu, Akeno cepat-cepat mengusulkan agar mereka istirahat sesaat. Namun Rias melihat bahwa ketika Akeno berbalik dengan alasan untuk membuat teh, setetes cairan mengalir dari sudut mata sahabat yang sekaligus mengisi peran sebagai Ratu dalam Peerage-nya itu. Koneko berdiri dari tempat duduknya di sofa dan mengambil tempat di samping Naruto, seakan-akan gadis muda bertubuh kecil yang menjadi maskot Akademi Kuoh itu berusaha menghibur si remaja pirang dengan kehadirannya.

Kiba mengambil alih tempat duduk Koneko, menyandarkan punggungnya ke sofa sembari menutup mata dan mulutnya rapat-rapat. Issei keluar dari kamar mandi dan duduk di tempatnya semula tanpa suara maupun komentar, berusaha bersikap seakan-akan dia tidak apa-apa. Namun Rias tahu, bahwa dia juga mendengar sisa penjelasan Naruto, tidak hanya karena sebagai seorang Iblis, pendengaran Issei jauh lebih baik dari manusia, tapi juga dari bagaimana Pion itu terus mencuri pandang ke arah teman sekelasnya yang telah kembali tertunduk dengan tatapan berisi campuran khawatir dan kasihan.

Tanpa perlu menunggu lama, Akeno kembali ke meja itu dengan sebuah talam perak dan enam cangkir berisi teh hijau panas. Mereka semua mengambil cangkir masing-masing, kecuali Naruto dan Kiba.

"Kiba-kun, Namikaze-kun," Akeno memanggil mereka dengan suara halus. "Aku sudah membuatkan teh. Ayo diminum sebelum dingin."

Kiba adalah yang pertama menuruti saran Akeno, namun mereka melihat bahwa pemuda itu sudah tidak lagi tersenyum sebagaimana biasanya. Mereka terus menunggu gerakan dari si pirang yang satunya lagi, tapi Naruto terus diam tanpa menjawab, seakan-akan ia sedang tenggelam dalam dunianya sendiri dan kehilangan kontak dengan dunia luar.

"Namikaze-kun," Akeno meraih bahu Naruto. Dan baru setelah kontak fisik itulah, Naruto tersentak dan kembali sadar dengan dunia sekeliling. "Aku sudah membuatkan teh."

"A-ahh," Naruto mengangguk. Tak ada satupun orang di ruangan itu yang berkomentar ketika mereka melihat matanya yang merah dan sedikit basah. "Terima kasih, Himejima-san."

"Kau bisa memanggilku Akeno, Namikaze-kun."

Naruto berhenti bergerak ketika cangkir di tangannya baru setengah jalan menuju bibirnya. "...Mungkin nanti, Himejima-san." Sahutnya pelan. "Mungkin nanti."

Akeno hanya mengangguk, sadar bahwa mendorong lebih lanjut malah bisa memperburuk situasi.

"...Kuakui kalian berbeda," saat teh mereka sudah habis setengah, Naruto tiba-tiba mulai bicara, dan kembali menarik perhatian Rias dan Peerage-nya. "Kalian berkata bahwa kalian adalah kaum Iblis, tapi dari apa yang kalian katakan dan lakukan, serta apa yang kurasakan dari kalian, aku tak bisa menemukan kesamaan dengan Iblis-Iblis lain yang sudah kutemui kecuali fakta bahwa kalian juga memakai Youki."

Rias meletakkan cangkirnya di atas meja dan menyela. "Kau bisa merasakan Youki?"

Naruto mengangguk. "Sedikit. Perlu pancaran Youki yang kuat, seperti kalau kalian memakai sihir, bagiku untuk merasakannya dari jauh, dan jarak itupun tidak seberapa. Kalau kalian tidak menggunakan kekuatan khusus atau sihir, seperti saat ini," kata Naruto sambil mengisyaratkan ke sekeliling dengan tangannya yang bebas. "Maka aku perlu berada dalam jarak sedekat ini sebelum bisa merasakan Youki kalian."

Naruto diam sesaat sebelum meneruskan penjelasannya. "Iblis yang kutahu, selalu tak jujur dalam setiap ucapannya, dan meskipun kadang ada kebenaran yang mungkin keluar dari mulut mereka, pasti itu adalah sesuatu yang mereka katakan demi kepentingan mereka sendiri. Iblis yang kutahu, selalu memiliki niat jahat di balik setiap perbuatannya, dan walau kadang manusia bisa menyalah artikan tindakan mereka sebagai bantuan atau kebaikan, pasti selalu ada akal bulus yang melatarbelakanginya," Naruto mengedarkan pandangan. "Tapi aku tak bisa menemukan sedikitpun kelicikan atau kejahatan dari diri kalian. Dan itu membuatku bingung. Bingung dan ragu."

"Aku ingin tahu. Aku ingin memastikan apakah semua yang kuketahui tentang kaum Iblis bisa diaplikasikan juga pada kalian atau tidak. Aku ingin tahu apakah Shitori-san telah berdusta padaku, atau dia telah berkata sebagaimana adanya dan aku telah keliru dalam semua perkataan yang kuucapkan padanya." Naruto menenggak habis teh di cangkir sebelum meletakkannya ke meja. "Itulah kenapa dua hari ini aku tak masuk sekolah. Dan aku belum tidur selama dua hari, juga karena alasan itu."

"Jadi..." Issei memulai. "Kau sedang... melakukan penyelidikan, begitu?"

Naruto mengangguk lagi. "Seperti yang kuberitahu tadi, walau terbatas, aku bisa merasakan Youki," Naruto meneruskan. "Jadi selama dua hari ini, aku berkeliling kota, mencari dan menemui orang-orang yang memiliki bekas Youki, orang-orang yang kemudian kuketahui telah membuat kontrak dengan bangsa kalian. Namun tak satupun orang yang kutemui mengalami perubahan berarti. Mereka tetaplah manusia, masih dengan pribadi dan perilaku yang sama. Mereka bahkan mengatakan bahwa bangsa Iblis telah sangat membantu dengan mengabulkan permintaan yang mereka buat."

"Info yang berguna, memang, tapi sayangnya belum cukup bagiku untuk merubah anggapan yang sudah begitu lama tertanam. Aku masih tidak yakin apakah mereka mengatakan semua itu berdasar dari pikiran mereka sendiri, ataukah perspektif dan jalan pikiran mereka yang sekarang hanya sesuatu yang difabrikasi."

Rias mengangguk. Dia sendiri merasa tak percaya bahwa dia bisa merubah anggapan yang lahir dari pengalaman sebegitu mengerikan hanya karena informasi dari beberapa orang. Ia kemudian mengumpulkan tekad untuk bertanya. "Lalu, apa penyelidikan itu juga yang membuatmu berurusan dengan seorang Iblis Liar?"

Naruto tampak bingung. "Iblis Liar?"

"Iblis yang kau kalahkan di bangunan terbengkalai itu adalah apa yang kami sebut Iblis Liar. Mereka mengkhianati majikan mereka, dan berbuat seenaknya di dunia manusia." Kiba menjelaskan. "Itulah kenapa kami pergi ke tempat itu, karena kami ingin membasminya."

Rias mencondongkan tubuhnya ke depan. "Sekarang, jawab pertanyaanku."

"Ah," ucap Naruto singkat. "Kalau Iblis Liar itu... sebenarnya kutemukan tanpa sengaja." Leher Naruto tertekuk lagi. "Siang tadi, aku didekati oleh seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun yang ingin meminta bantuan setelah melihat selebaran yang kupasang di sebuah tiang listrik—"

"Tunggu dulu, selebaran?" tanya Rias. "Selebaran apa?"

"Selebaran yang kupakai untuk mencari kerja," sahut Naruto sambil merogoh tas pinggangnya, mengeluarkan sebuah kertas terlipat yang ia sodorkan ke sang ahli waris Klan Gremory.

Rias membaca selebaran itu sementara Akeno mengambil giliran untuk bertanya. "Kau mencari informasi sambil mengedarkan selebaran?"

"Untuk menemukan orang-orang itu, aku juga harus keliling kota, jadi kupikir sekalian saja." Naruto mengangkat bahu. "Lagipula, salah satu pelajaran yang diberikan oleh Shishou-ku adalah shinobi harus bisa membuat setiap tindakan atau kegiatannya seefektif dan seefisien mungkin. Dengan kata lain, multi-tasking."

Rias meletakkan selebaran itu di atas meja kerjanya dan kembali memberi isyarat pada Naruto agar melanjutkan penjelasannya.

"Anak itu memberitahuku bahwa adiknya yang baru kelas empat SD tidak pernah pulang ke rumah sejak kemarin. Orangtuanya sudah lapor polisi, tapi saat melihat selebaranku, anak itu memutuskan untuk meminta bantuan."

"Pasti dia berpikir bahwa ninja lebih hebat daripada polisi dalam soal mencari orang hilang." Kata Issei dengan bersemangat.

Sementara itu, Rias dan Akeno bertukar pandang, merasa sedikit curiga dan mulai sadar ke mana arah pembicaraan ini.

"Mungkin," sahut Naruto dengan wajah datar. Ia kembali merogoh tas pinggangnya, dan mengeluarkan sebelah sepatu berukuran kecil. "Sepatu kanan ini ditemukan di depan salah satu taman yang ada beberapa blok dari SD tempat anak itu sekolah. Aku mencurinya dari kantor polisi."

Issei terperangah. "Wow, Naruto-san, kau bisa dengan santainya mengakui kalau kau sudah mencuri dari polisi."

Naruto mengangkat bahu lagi. "Aku punya cara untuk melacak ke mana gadis kecil itu pergi dengan mengamati jenis, ukuran, dan bentuk sol sepatu yang terakhir kali ia pakai." Kata Naruto sambil meletakkan sepatu itu di meja. "Lagipula, selama ini metodeku terbukti lebih efektif daripada usaha apapun yang dipakai oleh badan kepolisian. Jadi asal aku tidak ketahuan, tak ada salahnya kan?"

Kemampuan khusus yang ia warisi dari Klan Namikaze, keahlian membaca Aksara Semesta, di mana Naruto bisa mengekstrak [Data] langsung dari Bumi melalui segala benda yang ada di atasnya, walaupun hanya sekedar jalan aspal. Akan tetapi, karena jalan itu pasti sudah ditapaki oleh ratusan orang lain, dia harus tahu jelas apa yang ia cari. Untung bagi Naruto, dengan bantuan informasi spesifik dari sepatu yang ia curi dari kepolisian, sangat mirip dengan memakai keyword di sebuah search engine, dari ribuan data yang ia [Baca] Naruto berhasil mendapatkan jejak yang benar dan mengikutinya.

"Jejak yang kuikuti membawaku ke bangunan terbengkalai itu."

Ekspresi bersemangat di wajah Issei langsung lenyap dalam sesaat. Koneko, Rias, dan Akeno tersentak sambil menarik napas yang tajam. Kiba menutup mata dan ekspresinya mengeras. Namun mereka semua mengalami satu reaksi yang sama, yaitu wajah yang memucat.

"Anak lelaki yang menyewa jasaku memberiku ini agar aku bisa mengenali wajah adiknya dengan lebih baik," Naruto, yang kini ekspresinya sudah gelap, merogoh kantong kiri jaketnya dan mengeluarkan sebuah foto. Di sana ada seorang anak perempuan dengan rambut hitam legam yang dikuncir samping, lengannya memeluk seekor anjing berbulu putih. Dari senyumnya yang lebar, bisa terlihat satu gigi yang sudah tanggal. "Namanya adalah Makoto Mori, sepuluh tahun, kelas empat SD. Dia suka makan es krim dengan rasa vanilla. Hobinya membaca buku dongeng, serta memakai baju-baju berwarna cerah sambil berpura-pura bahwa dia adalah seorang putri raja. Dua hari lagi, orangtuanya telah berniat membawa Mori dan kakaknya ke Disneyland untuk merayakan ulang tahun Mori."

Naruto merogoh tas pinggangnya dengan tangan kanan, dan kantong jaketnya dengan tangan kiri. Ia mengulurkan kedua tangan itu ke depan dan membukanya. Di tangan kanan, adalah sebuah sepatu bagian kiri yang hanya tinggal setengah. Di tangan kiri, sebuah kalung dengan liontin yang berbentuk hati.

Dua benda itu berlumuran darah yang telah mengering.

"Dua benda ini," kata Naruto dengan suara yang getir. "Adalah satu-satunya benda yang tersisa dari seorang anak bernama Makoto Mori."

Di dua sisi Naruto, anggota wanita Occult Kenkyu-bu telah mulai mengalirkan air mata. Di depannya, Issei merosot ke belakang, punggungnya beradu dengan bantalan sofa, dan matanya melebar shock. Kiba kembali buang muka, tak mampu melihat dua benda di tangan Naruto, sambil menggertakkan giginya dan mencengkeram kelek sofa kuat-kuat sampai bantalannya melesak dan kayu yang menjadi fondasinya mengeluarkan suara berderak.

"Oh, tidak..." Rias terisak, matanya yang basah terus menatap bergantian ke arah gadis kecil yang ada di foto dan dua benda berdarah yang menjadi bukti bahwa anak itu sudah tak ada lagi di dunia, kehilangan nyawa karena menjadi santapan anggota kaumnya yang memberontak. "Oh, tidak..."

Akeno menggelosoh ke lantai, membiarkan air mata mengalir di pipi dan jatuh menetes dari dagu tanpa mampu bersuara. Dia mungkin masih bisa mengendalikan diri kalau yang menjadi korban adalah orang dewasa, tapi anak kecil? Anak kecil?

Koneko menyembunyikan wajahnya di lutut yang sekarang ia peluk, matanya yang terus merembeskan cairan kini tertutup rapat-rapat, dengan tubuh yang gemetaran.

Naruto mengumpulkan tiga benda yang ia keluarkan itu dan menyimpannya kembali, tas pinggang untuk sepatu dan kantong jaket untuk kalung. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan ke tengah ruangan sebelum berbalik hingga kini ia sudah menghadap ke semua anggota klub. "Aku tahu bahwa sebagai manusia, aku tak punya hak untuk menuntut apa-apa dari kalian. Tapi kuakui, keterbatasan kemampuanku untuk merasakan Youki juga merupakan penyebab ketidaktahuanku tentang Iblis Liar yang, jika melihat jumlah korban yang sudah ia santap, sudah berhari-hari ada di kota ini," semua pasang mata terarah pada sang pemuda pirang yang kini membungkuk dalam-dalam. "Kalian semua adalah bangsa Iblis, dan itu berarti kalian pasti lebih ahli dalam merasakan Youki daripada seorang manusia sepertiku. Karena itu, kumohon, kumohon, jika kalian menemukan Iblis Liar lain yang muncul di kota ini, atau apapun yang bisa mengancam keselamatan orang tak bersalah, tolong kabari aku. Aku akan berusaha melakukan apa yang kubisa untuk membantu."

"Aku akan sangat berterimakasih kalau kalian mengabulkan permohonanku." Naruto menegakkan diri dan mengucapkan satu kalimat lagi sebelum berbalik. "Selamat malam." Dan dengan itu, ia mulai melangkah ke arah pintu.

"T-tunggu, Naruto-san!" Issei berseru ketika Naruto meraih kenop pintu dan membukanya. "Kau... apa yang akan kau lakukan setelah ini...?"

Naruto tidak berbalik, namun entah kenapa, ketika sosoknya dimandikan oleh cahaya bulan yang menembus kaca jendela di lorong, aura letih dan lelah bisa terlihat dari bahunya yang merosot dan kepalanya yang sedikit tertunduk, perasaan yang semakin diperkuat oleh senyum sedih yang mereka tahu kini pasti sedang terpampang di wajahnya.

"Pekerjaanku masih belum selesai, Issei," shinobi pirang itu berkata dengan suara yang pelan dan letih. "Aku masih harus mengabari keluarga Makoto tentang apa yang telah terjadi pada Mori."

Seraya pintu berayun tertutup, mereka mendengar Naruto berbisik pada dirinya sendiri, dengan suara yang begitu kecil dan halus sampai-sampai telinga Iblis mereka yang sangat jeli saja takkan bisa menangkapnya kalau mereka tidak mendengarkan baik-baik.

"...serta menghadapi kenyataan bahwa aku gagal menyelamatkan satu orang lagi..."

~•~

Tepat setelah ia melewati gerbang Akademi Kuoh, sebuah suara yang familier kembali muncul dalam benak Naruto.

'Goshujin-sama baik-baik saja?'

'Mmm...' Naruto menjawab tanpa gairah, tak yakin apakah ia harus memberi respon positif atau negatif. 'Aku baru saja memberitahu mereka salah satu episode terburuk dalam hidupku, Kurama. Salah satu memori yang seharusnya tetap menjadi rahasia. Apa kau pikir aku baik-baik saja?'

'Tentu saja tidak,' Naruto tahu jawaban itu pasti disertai dengan gelengan kepala. 'Tapi Kurama juga tahu bahwa Goshujin-sama seharusnya tidak menyimpan beban sendiri.'

'...Bukannya Ero-sennin, serta kau, Kurama, sudah tahu tentang hal itu?'

'Kurama tahu, Goshujin-sama. Tapi Kurama juga tahu kalau akan lebih baik jika Goshujin-sama berbagi beban ini dengan orang selain guru mesum Goshujin-sama dan Kurama.'

'Kurama, kau tahu kenapa aku tidak suka curhat! Kau bisa melihat reaksi mereka tadi lewat mataku kan?! Kau lihat sendiri, gara-gara ceritaku, mereka jadi ikut sedih!' Naruto berteriak dalam hati. 'Kau tahu aku tak suka membuat orang lain ikut merasakan sakit yang kurasakan, Kurama! Aku benci dikasihani!'

Tapi Kurama juga tahu bahwa Naruto telah keliru mendeskripsikan perasaannya sendiri. Yang Naruto benci bukanlah dikasihani, dia hanya benci membuat orang lain khawatir. Dan mungkin hal itulah yang benar-benar paling Kurama khawatirkan tentang majikannya. Kurama tahu betapa Naruto sangat suka membantu orang lain. Naruto selalu dengan senang hati ikut memikul beban siapapun yang membutuhkan pertolongan. Akan tetapi, Naruto juga tak pernah rela membagi bebannya sendiri dengan orang lain.

Tidak, Kurama tak merasa ada yang salah dengan sifat tak butuh pamrih semacam itu. Hanya saja, jika menyangkut majikannya, tidaklah cukup mengatakan bahwa Naruto cenderung tidak mementingkan diri sendiri, karena apa yang majikannya miliki adalah sesuatu yang jauh lebih ekstrim.

Bukan 'cenderung', tapi 'terlalu sering'.

Bukan 'tidak mementingkan diri sendiri', tapi 'menganggap dirinya tidak penting'.

Naruto siap membiarkan dirinya ditusuk, dibacok, atau bahkan dicincang kalau itu demi melindungi orang lain, tapi dia tak rela orang lain terluka demi melindunginya. Naruto bersedia ikut memikul beban orang lain, tapi dia selalu menyimpan masalahnya sendiri dan tak pernah berbagi pedih yang tersimpan dalam jiwanya.

Dia bisa dengan mudah menepis segala pedih dan derita yang ia rasakan asalkan hal itu ia lakukan demi menolong atau hasil dari menolong orang lain, tapi ia sama sekali tidak bisa terima kalau ada orang lain yang tersakiti karena dirinya.

Kurama bahkan punya bukti untuk klaim itu, dan salah satunya adalah koneksi panca indera dan pautan mental yang ia miliki dengan Kurama. Walaupun hubungan tersebut sebenarnya sama sekali tidak menguntungkan Naruto, majikannya itu tetap dengan senang hati melakukannya demi Kurama. Untuk menjaga agar dua koneksi berbeda yang sangat sulit dilakukan itu tetap aktif, Naruto tidak boleh sampai lepas kontrol atas perasaannya. Karena sedikit saja salah satu emosinya melewati batas, tidak peduli itu senang, sedih, ataupun marah, maka salah satu koneksinya, baik itu hubungan panca indera atau pautan mental, yang sebenarnya berstatus sangat rapuh itu akan mengalami gangguan dan bisa putus seketika. Naruto tak cuma harus menjaga perasaannya, dia juga harus terus berkonsentrasi penuh sepanjang hari, menyebabkan Naruto jadi sangat sering sakit kepala dan seringkali harus minum aspirin untuk meredakannya tiap kali dia pulang ke rumah.

Sifat Naruto ini membuat Kurama terpaksa harus menghadapi sebuah kontradiksi. Di satu sisi, sifatnya yang terlalu mementingkan orang lain alih-alih dirinya sendiri membuat Kurama sangat khawatir, bahkan takut, andai suatu hari Naruto mendapati sesuatu yang tak mampu ia hadapi, dan menjadi terluka atau bahkan mati karenanya. Tapi di sisi lain, pengorbanan tanpa protes dan tanpa mengharap terimakasih ataupun balasan inilah yang membuat sang Bijuu terkuat itu menjadi sangat, sangat, sangat menyayangi Naruto.

Itulah kenapa, walau Kurama tak rela berbagi Naruto dengan siapapun, meski Kurama tak ingin agar Naruto dekat dengan orang lain selain dirinya, sekalipun Kurama ingin agar Naruto hanya menjadi miliknya seorang, kalau membuat Naruto bisa memiliki teman yang bisa menjadi tempat berbagi duka serta semua beban yang dipikul oleh jiwa majikannya, maka Kurama bisa memaksa diri untuk berbuat sesuatu yang sebenarnya tak ingin ia lakukan... sesuatu seperti menurunkan inhibisi Naruto yang membuat majikannya itu mau menceritakan salah satu pengalamannya yang paling mengerikan dengan si Iblis berambut merah dan Peerage-nya.

Sang Jinchuuriki mungkin tak tahu bahwa Kurama bisa melakukan sesuatu seperti mengubah perasaan Naruto melalui pautan mental mereka, dan walau sebenarnya Kurama berhasil melakukan hal tersebut hanya karena mental Naruto sedang sangat kelelahan, personifikasi Kyuubi no Youko itu tak berniat untuk memberitahu sang majikan bahwa ia bisa melakukannya. Hanya dengan memikirkan bahwa Naruto mungkin bisa marah padanya kalau sampai rahasia ini ketahuan (hanya marah, karena biar bagaimanapun, Kurama tahu Naruto takkan pernah membencinya) sudah bisa membuat hati Kurama terasa seperti diiris sembilu, namun gadis perwujudan makhluk mistis itu tetap memaksa diri untuk meneruskan niatnya. Asalkan Kurama bisa membuat beban majikannya sedikit lebih ringan dan membuat senyumnya lebih sering terpampang, Kurama siap menerima hukuman apapun yang mungkin diberikan Tuhan.

Sebagaimana Naruto yang dengan senang hati mengorbankan pikiran bahkan kesehatannya bagi membuat Kurama bahagia, Kurama siap mengorbankan harga diri dan keegoisannya asal itu bisa membantu majikannya. Sebagaimana Naruto yang selalu siap mati demi Kurama, Kurama juga siap membuang nyawa asal itu demi majikannya.

"Kurama...? Oi, Kurama...?!"

Suara Naruto membuat renungan Kurama buyar. Suara majikannya itu terdengar panik, dia bahkan tidak lagi menggunakan pautan mental mereka dan memilih memakai suaranya sendiri.

"Kurama, aku tak bermaksud berteriak seperti itu...! Maafkan aku...!" Panik dalam suara Naruto mulai meninggi, dan sebelum Kurama sempat menjawab, emosi Naruto yang memuncak telah terlebih dahulu mendistorsi dan memutus pautan mental mereka. "Kurama, tolong katakan sesuatu...! Jawab aku...! Kumohon... jangan diam saja!"

Dari hubungan panca indera yang masih bekerja, Kurama melihat bahwa majikannya itu tengah berada di sebuah jalan terbuka. Dan walaupun hari telah larut malam dan sama sekali tak ada orang, jalan itu masih mungkin dilewati oleh manusia lain, suatu hal yang mungkin bisa membahayakan kerahasiaan yang harusnya ia jaga.

Namun Kurama tak peduli.

Ia memisahkan dirinya dari Youki yang tersegel di jiwa Naruto, satu-satunya loophole yang bisa ia pakai untuk membebaskan wujud aslinya dari Shiki Fuujin dan pergi ke dunia luar, secepat dan sesegera yang dia bisa. Pandangannya yang semula meminjam mata Naruto kini digantikan oleh pandangan dari matanya sendiri, dan dengannya, ia melihat bahwa sang Jinchuuriki Konoha itu telah berlutut di atas aspal dengan rasa takut memenuhi wajahnya yang sudah pucat pasi.

"Kurama—!"

Kurama tak membiarkan Naruto menyelesaikan apa yang ingin ia katakan, dia telah lebih dulu melangkah maju dan meraup kepala sang majikan ke pelukannya, membiarkan pemuda itu mengalungkan tangan ke sekeliling tubuhnya dan membenamkan wajah dalam-dalam ke perut Kurama.

Tidak tidur selama dua hari, bekerja tanpa henti, serta menggunakan kombinasi dua puluh Kagebunshin yang dilengkapi Henge untuk membantunya, adalah tiga hal yang tak mudah dilakukan bahkan oleh shinobi berkemampuan tinggi. Dan jika itu belum cukup, ketika persediaan Chakra yang menjadi fondasi eksistensi para Kagebunshin itu habis di akhir hari kedua, semua ingatan dan pengalaman selama dua hari berturut-turut dalam kepala mereka merangsek masuk ke otak Naruto.

Bahkan setelah semua itupun, hanya dengan tekad api dan besi, Naruto masih mampu mendorong dirinya untuk mengalahkan seorang Iblis Liar, bahkan memaksa dirinya untuk meladeni tingkah sekelompok Iblis ketika dia sudah hampir pingsan karena lelah dari pertarungan. Kalau saja beban seperti itu terjadi pada orang lain, pasti mereka sudah lama kolaps, kalau tidak jatuh koma karena kelelahan fisik dan mental yang kelewat berat.

Inilah kontradiksi kedua yang harus dihadapi oleh seorang Kurama. Tekad sekuat karang yang takkan goyah walaupun didebur oleh ombak ataupun badai, tekad yang tak pernah gagal membuat Naruto selalu berhasil melalui setiap cobaan maupun pertarungan yang akan ia akhiri dengan kemenangan, adalah salah satu kualitas Naruto yang membuat Kurama khawatir, tapi sekaligus semakin sayang pada majikannya.

"Kurama, aku... aku tak bermaksud... aku tak tahu apa yang—"

"Ssshh..." ia mengeratkan pelukannya dengan satu tangan sementara tangan yang lain ia pakai untuk membelai kepala Naruto. "Kurama tahu Goshujin-sama tak bermaksud mengatakan semua itu. Kurama selalu tahu."

Air mata menetes dari mata Kurama selagi ia terus mendekap Naruto, merasakan bahu majikannya yang lebar gemetaran serta napasnya yang cepat dan tajam. Kurama tahu bahwa separah apapun kondisi fisik maupun mental remaja pirang di pelukannya, dia takkan pernah terisak atau menangis, karena air mata Naruto yang sekarang hanya bisa menetes untuk rasa sakit orang lain, namun tidak untuk derita yang datang dari jiwanya sendiri.

Naruto telah lama lupa cara menangis demi dirinya sendiri, karena itu, biarlah Kurama yang menangis untuk mereka berdua.

Naruto telah lama lupa cara untuk peduli pada dirinya sendiri. Karena itu, biarlah Kurama yang mengurusnya. Menjaganya. Menyayanginya.

Karena Kurama tahu, sebagaimana Kurama yang tak mau hidup tanpa Naruto, Naruto juga tak bisa hidup tanpa Kurama.

To be Continued...

A/N: Bisa hamba minta komentar dan kritik untuk chapter ini?

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.