Standar Disclaimer Applied
.
.
.
Love & Choice © Tsurugi De Lelouch
.
.
.
Sakura Haruno & Sasuke Uchiha
.
.
Enjoying Reading & Reviewing
*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*
.
.
.
Ketika cinta datang padanya
Hal yang indah menemani di kehidupannya
Namun, saat pilihan ditentukan
Akankah cinta berpihak pada dirinya?
.
.
-1-
Dimana keputusan selalu harus dipilih walau itu sulit. Jika pilihan ada tiga itu masih bisa dimaklumi, namun pilihan ada dua yang sama-sama menjadi prioitasnya. Harapan orang tua dan perasaan cintanya. Inilah yang dirasakan oleh perempuan yang memiliki rambut sebahu warna merah muda. Lalu dirinya memilih walau itu sangat kelu diucapkan. Entah ini benar atau tidak.
Iris teduhnya memejamkan sejenak kemudian menatap datar dan kosong. Dirinya mengucapkan satu kalimat dan seluruh pasang mata mengfokuskan ke arahnya. Keempat orang tersenyum bangga minus dua orang yang memandang datar—walau salah satunya hanya merasa sedikit senang. Namun satu orang dimana langsung merasa nyawanya menghilang karena perempuan yang ia cintai—sangat memilih…
"Aku menerima perjodohan ini."
.
.
.
.
.
.
Putra bungsu Fugaku dan Mikoto membantingkan tubuhnya di kasur, juga tanpa menghiraukan panggilan sang kakak. Dia mengunci kamar tak peduli dengan amarah baik ayah dan ibunya yang mengambil alih. Dirinya harus menyembunyikan rasa kecewa sekaligus nyeri di hatinya. Entah kenapa gadis yang ia cintai begitu saja memutuskan pilihan itu.
Braak…
Ia lemparkan begitu saja buku tebal yang ada di mejanya. Pikirannya kini kalut, salah dia sendiri tidak menyatakan perasaan itu sebelum pergi ke Amerika Betapa pengecutnya ia tidak berani mengungkapnya padahal mereka selalu berdua. Dia tidak bisa merubah kejadian tadi karena perempuan itu sudah menjawabnya dengan sangat jelas. Bahwa Haruno Sakura menerima perjodohan itu dengan kakaknya.
Dirinya menghela napas berulang kali kemudian mengambil smartphone-nya yang ia sengaja letakkan di kasur. Dengan cekatan pemuda itu mencari kontak seseorang lalu mengetik pesan lalu mengirimkannya ke kontak tersebut.
Pemuda beriris kelam itu memandang pigura manis di atas meja. Dirinya mengambil pigura berisi foto dirinya dan perempuan itu sewaktu masih SD. Ia pun terkekeh pelan melihat betapa lucunya mereka berdua dijepret foto itu. Ini menjadi kenangannya dengan Sakura dan sekarang berbeda. Karena perempuan itu telah menjadi milik orang lain—terlebih lagi kakaknya sendiri.
Eh—tunggu, bukankah dia baru menerima perjodohan ini. Belum tentu mereka saling mencintai. Bisa saja kakaknya menyukai orang lain … bisa saja. Ah kenapa dia memikir hal yang tidak-tidak, namun mau dikemanakan perasaan yang sudah menancap di hatinya kini. Dia tidak mau hanya bermain-main dengan perempuan, dia hanya ingin satu saja—anak tunggal Haruno itu saja.
Karena terlalu memikirkan perempuan musim semi, tanpa sadar matanya lelah dan kembali ke alam bawah sadarnya. Dia tertidur sambil memeluk pigura itu dengan mengulum senyuman tipis.
"Aku mencintaimu… Haruno Sakura…"
.
.
.
.
Ingin rasanya menjambak rambut panjang milik kakaknya itu. Sudah diganggu saat meeting berlangsung dengan suara dering Smartphone-nya, juga permintaan yang membuatnya membatalkan pertemuan dengan klien secara mendadak. Permintaan sang kakak itu adalah menemui sebentar seseorang yang penting di café, hanya menemani sebentar saja.
Dirinya pun langsung mengambil kunci kontak mobil lalu keluar dari perusahaannya. Tanpa menunggu lama, dia berjalan ke parkiran dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi. Dia tidak peduli dengan suara dering smartphone-nya yang selalu berbunyi dua—tiga detik setiap ia menekan tombol reject.
Putra bungsu Uchiha Fugaku itu menghentikan mobilnya dan tepat di café—tempat orang yang akan di temui kakaknya. Dirinya masuk ke dalam café dan melirik ke sana kemari dan menemukan seseorang yang dikenalnya. Sesaat matanya membulat kaget ketika sepasang iris teduh menatapnya.
"Sasuke, mengapa kau ada disini? Bukannya kakakmu yang ingin menemuiku?" tanya Sakura seraya meletakkan buku menu di atas meja.
Pemuda itu terdiam menenangkan detak jantungnya yang memompa keras. Dirinya pun duduk berhadapan dengan Sakura. Bungsu Uchiha menetralkan suasana emosinya dengan memasang raut datarnya.
"Dia sebentar lagi datang. Dia yang menyuruhku untuk menemuimu, Sakura."
"Ooh, apakah kau sibuk?"
Sasuke menautkan alis."Darimana kau tahu aku sibuk?"
"Terlihat dari wajahmu, Sasuke. Pasti kau meninggalkan meeting-mu?"
Skakmat, itulah yang dipikirkan Sasuke. Kenapa gadis musim semi ini mengetahuinya, apakah bakat alaminya mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang bersangkutan.
"Kakakku yang memaksaku, Sakura."
Sakura terkekeh pelan. "Kau ini lucu sekali, Sasuke."
"Aku tidak lucu, Sakura. Memang raut wajahku lucu?" geram Sasuke.
"Nah begitu, wajahmu segar sekarang. Tadi kau terlihat kaku atau jangan-jangan malu bertemu denganku?" tanya Sakura.
Sejenak pemuda itu melihat benda kecil yang melingkar di jari manis Sakura. Ah, benar juga kalau kini gadis musim semi ini telah bertunangan dengan kakaknya. Itu berarti sekarang ada pengikat diantara mereka dan dirinya tidak berhak untuk masuk ke dalam kehidupan mereka.
Hatinya mencelos pada saat itu, kakaknya memasangkan cincin itu di jari manisnya. Begitu juga dengan Sakura melakukan hal yang sama. Tapi terlebih lagi mereka melakukannya di depan matanya.
Dirinya pun menahan perasaanya sambil menyeringai kecil. "Siapa yang malu denganmu, nona pink?"
Pesanan telah datang, satu Strawberry milkshake dan Tomato Juice. Lalu Sakura memberikan segelas jus pada Sasuke sampai pemuda itu mengerutkan dahinya bingung. Ah, dia ingat ketika SMP dulu—Sakura tahu kalau kesukaannnya adalah tomat. Entahlah kenapa setiap memandang gadis cantik itu, dirinya mengingat masa lalu.
"Nona pink?! Dasar kau tuan ayam…" tukas Sakura sambil menyeruput minumnya.
"Nona Pink!"
"Tuan Ayam!"
"Nona Pink!"
Merekapun tersenyum kecil sembari meminum minuman kesukaan mereka sampai suara deritan pintu café. Iris kelamnya menoleh ke belakang dan mendapati sang kakak sudah muncul, dirinya pun langsung bangkit dan membuat Sakura agak kebingungan.
"Ada apa Sasuke?"
"Kakakku sudah datang. Tugasku selesai, Sakura."
Sasuke melambaikan tangannya dan direspon oleh Itachi. Dengan tersenyum kecil Sasuke meninggalkan Sakura namun seketika tangannya ditarik oleh Sakura. si Bungsu Uchiha ini harus cepat sebelum sang kakak salah paham. Diapun mendekatkan diri dan tepat di telinga Sakura lalu membisikkan sesuatu.
Selang beberapa detik, Sasuke segera menjauh dan meninggalkan Sakura yang tengah mematung. Mungkin ini salah mengucapkannya. Namun, ini adalah kesempatan untuk mengungkapnya. Sembari menepuk pundak sang kakak, Sasuke segera keluar meninggalkan café itu lalu mencari mobilnya. Tanpa menunggu lama, ia masuk ke dalam mobil itu.
Brak…
Ia memukul kemudi mobil pribadinya. Dirinya tengah merayakan kebodohannya. Tertawa miris menguar di bibir tipisnya. Ucapannya tadi pasti akan membuat gadis musim semi ini ragu dengan keputusan kemarin. Seharusnya dia tidak berkata seperti itu tapi—bibirnya tanpa komando memutuskan untuk bicara.
Sesaat ia melihat kejauhan di dalam café. Mendadak kembali hatinya membeku karena melihat sang kakak dan Sakura melakukan ciuman disana. Napasnya memburu dan memalingkan mukannya. Dia tidak sanggup untuk melihatnya, langsung ia menghidupkan mobil dan meninggalkan café itu.
Bersamaan itu pula, apa yang dilihat oleh Sasuke itu adalah terlihat mereka ciuman padahal—Itachi memiringkan kepalanya sambil melambaikan tangan di wajah Sakura. Anak sulung dari Fugaku dan Mikoto itu heran dengan Sakura yang terus diam walau ia melambaikan tangannya.
Sakura masih memikirkan ucapan itu—suatu perkataan yang menggoyahkan pendiriannya sesaat. Tepukan di bahunya, membuat Sakura tersentak kaget dan dirinya menggaruk kepalanya.
"Ah, maaf. Itachi-san… aku melamun tadi."
"Daijobu, ayo kita duduk. Tidak enak kita berdiri saja."
"Mmm, baiklah. Itachi-san..."
Mereka pun duduk di kursi yang sama dan Itachi memesan minuman lagi. Namun untuk gadis musim semi itu memandang lurus ke jendela. Dia kecewa karena mobil milik Uchiha Sasuke sudah tidak ada disana lagi. Jantungnya berdegup dengan kencang pada saat Sasuke mengucapkan satu kalimat dengan pelan. Dirinya pun melamun lagi…
Jangan memberiku harapan kosong, Sasuke.
.
.
.
"Aku sangat mencintaimu Haruno Sakura…"
.
.
.
"Aku sangat mencintaimu Haruno Sakura…"
.
.
.
Arghh…
Dokumen yang dibaca oleh Sasuke pun ia lempar begitu saja di lantai. Dia masih mengingat ucapannya pada Sakura. Satu kalimat yang membuatnya tidak tenang… satu kalimat yang mampu memecah konsentrasinya sesaat. Dia hampir saja membanting gelas berisi air putih kalau saja ia sadar ini sia-sia saja. Melampiaskan dengan melemparkan sesuatu barang itu bukan perkara baik. Tapi—
Cklek…
Pintu ruangan direktur terbuka dan mendapati sepasang iris kelam yang sama dengannya. Sang kakak yang tersenyum cerah padanya. Si Bungsu Uchiha berusaha untuk tidak melempar sesuatu pada kakaknya. Bisa-bisa dia intrograsi dengan kakak sulung yang menyebalkan itu.
"Sepertinya adikku yang tampan ini sibuk sekali…"
"Kalau datang ke sini untuk mengangguku. Sebaiknya kakak kembali ke perusahaanmu," tukas Sasuke cepat.
Itachi menangkap selembar kertas yang terjatuh di lantai, kemudian dia membaca dokumen itu dan mengerutkan dahinya. "Ada apa Sasuke? Kau terlihat kurang baik hari ini."
"Aku tidak apa-apa, kakak. Mungkin gara-gara kau menghubungiku saat aku meeting membuatku ingin memukulmu."
"Hahaha, maafkan aku Sasuke. Itu tadi benar-benar darurat, ada pertemuan klien mendadak," seru Itachi duduk di kursi tamu.
"Kau tahu aku hampir membatalkan proyek gegara kau, Itachi-nii!" geram Sasuke.
"—mungkin kau akan ditangkap oleh petugas kepolisian lalu lintas karena mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi."
Sasukepun menyeringai. "Beruntungnya aku tadi karena aku lewat jalan pintas, kakak."
"Wah, adik kakak ternyata masih ingat dengan jalan di Jepang rupanya…" kekeh Itachi.
"Kau meremehkanku, kakak?"
Itachi bangkit dari kursi tamu lalu duduk di kursi yang saling berhadapan dengan adik satu-satunya. "Ah tidak, Sasuke. Kukira kau lupa karena lama di Amrik…"
"Di Amrik dan di Jepang beda, kakak. Yang jelas aku masih mengingatnya."
Kakak sulung dari Uchiha Sasuke ini tertawa kecil sebentar lalu memasang wajah serius. "Apa kau menyukai Haruno Sakura?"
Pertanyaan restoris itu sukses menancap hatinya dan membuatnya terdiam sesaat. Berbeda dengan Itachi yang menganggap sikap diam adiknya itu adalah jawaban iya. Itachi menopangkan dagunya di meja kerja Sasuke lalu menatap lurus sang adik.
"Aku pernah bilang kalau sebernanya aku tidak tertarik dengan perjodohan ini."
"…"
"Namun setelah bertemu dengan Haruno Sakura. Aku tertarik padanya, Sasuke. Mungkin saja seiring berjalan aku akan jatuh cinta dengannya."
"…"
"H-hei, kau mendengarkan aku, Sasuke."
"Hn."
Itachi menyeringai kecil. "Kalau memang nanti kami resmi… kau akan menjadi adik iparnya," kekehnya sembari meninggalkan sang adik. "Good Luck…" Itachipun menutup pintu ruangan adiknya.
Ini sama sekali bukan masuk perhitungannya. Kakaknya tertarik dan kemungkinan akan mencintai Sakura. Lalu bagaimana dengan Sakura sendiri? Bisa saja mereka memilih perasaan yang sama dan dia harus menyerah.
Tidak. Tidak ini … tidak boleh terjadi. Gumam Sasuke frustasi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Chapter One End*
Y*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*Y
Wulanz Aihara Uchiha
Maafkan kalau author satu ini kena WB mendadak alhasil hasil ketikannya sampai disini. Entahlah aku ragu untuk melanjuti lagi padahal untuk chapter terakhir sudah aku persiapkan. Bisa aku kasih saran untuk menghilangkan rasa WB ini. Harap maklum kesibukan sebagai mahasiswa membuat moodku berubah tidak terkendali
Thanks for Review, Following and Favorite my Fanfict
Putri Hassbrina, mako-chan, hiruka aoi sora, Novi Shawol'Elf, ahalya, QRen, Karasu, ucciu, Morena L
Oke sekian :*
Tsurugi De Lelouch
Palembang, 13 April 2013
