Galerians, in.

A/N: Setelah chapter sarat emosi yang lalu, hamba kembali mempersembahkan apa yang hamba bisa dalam membuat chapter penuh action! Dan kali ini anda sekalian tidak hanya akan melihat aksi Naruto! Mau tahu siapa yang hamba bicarakan?! Ayo semuanya tekan tombol bawah dan baca secepatnya!

Kembali ada BGM!

1. (Bad ∞ End ∞ Night [Wotamin, Pokota, Nobunaga, amu, 96Neko, Yamai, Cocolu & Purikuma])

2. (Black Lagoon OST – Red Fraction)

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Goes into A High School

Chapter 4

(A Shinobi's Vow of Loyalty?! This is The Power of A Devil and His Red Dragon Emperor!)

Naruto berdiri di atap sebuah bangunan, rumah di mana sehari sebelumnya telah terjadi pembunuhan.

'Kurama?'

'Tak salah lagi, Goshujin-sama. Kurama bisa merasakan sisa-sisa Youki dan Tengeki dari dalam rumah ini.' personifikasi Kyuubi no Youko yang tersegel dalam jiwanya itu menjawab dengan cepat, selalu siap memenuhi keinginan majikannya.

Naruto melompat turun ke halaman dan mengintip lewat salah satu jendela, matanya kini bersinar di tengah kegelapan.

'Ngh,' Naruto mengernyit sedikit sementara influks [Data] yang jumlahnya hampir ratusan merangsek masuk ke dalam otaknya. Ia memejamkan matanya dan berkonsentrasi untuk mengkatalog [Data] yang ia anggap relevan, dan tidak butuh lima detik sebelum Naruto menemukan info yang ia cari. 'Oke, waktu kematian malam kemarin, jam delapan lewat dua puluh dua menit, tujuh belas detik.' Naruto berpaling dari jendela. 'Kurama?'

'Berdasar dari jenis dan signatur energi, Kurama bisa mengatakan bahwa setidaknya ada lima pengguna Youki, yang kelima-limanya adalah kaum Iblis, serta tiga pengguna Tengeki, dan satu dari tiga orang ini adalah Datenshi. Satu lagi, jika menilik tingkat pemudaran energi yang masih membekas ini, Kurama bisa dengan pasti mengatakan bahwa yang paling pertama tiba di rumah ini adalah dua dari pengguna Tengeki itu, tapi bukan si Datenshi.' Kurama berhenti sebentar. 'Waktu spesifik dia tiba di rumah ini adalah dua puluh empat jam, empat belas menit yang lalu.'

Naruto mengeluarkan sebuah telepon seluler dari kantong celananya dan melirik jam digital yang tersedia di layarnya. Pukul delapan malam lewat tiga puluh tiga menit. '...Yang artinya siapapun pengguna Tengeki itu, dia tiba dua menit sebelum tempat ini menjadi TKP. Bagaimana dengan pengguna Youki yang tiba paling pertama?'

'Hampir sepuluh menit setelah pembunuhan terjadi, Goshujin-sama.'

'Dan sekarang kita sudah mengkonfirmasi siapa pelaku pembunuhan.' Naruto mengerang panjang. 'Ada apa sih sebenarnya dengan kota ini? Tidak hanya kaum Iblis yang 'baik', tapi sekarang kita juga menemukan pemakai tenaga suci yang membunuh manusia?'

'Memang susah dipercaya, tapi bukan berarti ini hal yang mustahil, Goshujin-sama. Goshujin-sama tahu sendiri kalau di dunia ini ada banyak organisasi ekstremis yang mengatasnamakan agama demi berbuat tindakan-tindakan terorisme dan tidak manusiawi. Ini bukan pertama kalinya Kurama dan Goshujin-sama menemui grup radikal yang dengan mudahnya membunuh orang tak bersalah hanya karena sesuatu yang belum terbukti.'

Mendengar itu membuat Naruto teringat salah satu cerita Kurama saat sang Bijuu itu dulu masih bebas dan bisa fokus pada tugasnya untuk mendeteksi tempat yang menjadi sarang hal-hal negatif dan membasminya. Salah satunya adalah sebuah desa di mana ada seorang pendeta yang malah mendorong penduduknya untuk membakar siapapun yang dicurigai telah berurusan dengan sihir atau ilmu hitam, tak peduli apakah tuduhan itu memiliki dasar atau tidak.

...Atau serangan 11 September yang terjadi lebih dari sepuluh tahun silam. Serangan bunuh diri dengan menabrakkan pesawat terbang ke gedung di mana jatuh korban yang jumlahnya ribuan. Naruto tak tahu jelas apa jalan pikiran mereka sampai bisa dengan bodohnya berpikir bahwa membunuh orang-orang tak bersalah adalah sesuatu yang layak dilakukan hanya karena mereka berpikir bahwa apa yang mereka lakukan bisa disebut sebagai tindak keadilan.

Tindakan mereka seperti tak ada bedanya dengan membakar habis seluruh hutan hanya karena mengincar seekor ular berbisa.

Naruto merenungkan masukan Kurama untuk beberapa saat sebelum mengangguk setuju. 'Kau benar, Kurama.'

Naruto yang telah berkeliling kota selama tiga hari terakhir demi penyelidikannya kini tahu bahwa ada cukup banyak orang di kota ini yang membuat kontrak dengan kaum Iblis. Walau demikian, hampir semuanya cenderung tidak berbahaya, bahkan mayoritasnya hanya berupa hal-hal tidak serius atau malah konyol. Dia mungkin tidak mengetahui seperti apa kontrak Iblis di tempat lain, tapi dari semua orang yang melakukannya di kota ini, Naruto telah memastikan sendiri bahwa kontrak-kontrak itu tak pernah berisi sesuatu yang dimaksudkan untuk menyakiti orang tak bersalah.

Akan tetapi, Naruto juga tahu bahwa di mata orang yang religius, tindakan mengontrak Iblis tersebut tetaplah merupakan sesuatu yang sangat tidak terpuji bahkan dianggap sebagai dosa yang harus mendapat hukuman berat. Tapi haruskah mereka dibunuh hanya karena hal seperti ini? Setidaknya biarkan mereka mendapat kesempatan untuk bertobat!

'Hmph, tentu saja. Kurama selalu benar.' Gadis siluman yang mengakui Naruto sebagai majikannya itu kembali menggunakan salah satu jawaban favoritnya yang selalu disertai dengusan bangga.

'Aahh...' Naruto mengerang dalam hati sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal. 'Aku jadi benar-benar rindu mengembara dengan Ero-sennin. Paling tidak, dulu semuanya masih simpel. Jelas siapa yang harus dibasmi dan siapa yang harus ditolong.'

Kurama terkikik saat mendengar protes majikannya. 'Mou, Goshujin-sama. Goshujin-sama sepertinya lupa bahwa tidak semua yang kita temui di dunia ini bisa diklasifikasikan sebagai hal yang sederhana. Apa Goshujin-sama sudah lupa dengan peristiwa menyangkut Batu Gelel?'

Ingin Naruto mendengus, bagaimana bisa dia lupa dengan Shogun dari daratan seberang yang awalnya mengaku bahwa dia ingin membuat sebuah surga dunia di mana tak ada perang dan kekerasan itu? Ujung-ujungnya, ternyata dia cuma seorang psikopat yang haus kekuatan dan berniat membuat orang-orang lemah yang tak bisa melawan menjadi budak. Orang yang berkata bahwa perbuatannya didasari oleh keadilan, tapi pada kenyataannya, dia cuma orang egois yang mendambakan kekuasaan.

Wajah Naruto berubah cemberut selagi ia melompat ke atas atap rumah itu. 'Kenapa kau tidak pernah salah sih, Kurama?'

'Hmph,' Kurama mendengus lagi, dan kali ini Naruto bisa membayangkan personifikasi makhluk mistis itu turut menepuk dadanya. 'Kurama tak pernah salah karena Kurama tahu segalanya, Goshujin-sama.'

Naruto tiba-tiba tersenyum. 'Ho? Kalau itu memang benar, bisa kasih tahu nggak kenapa kompor gasku selalu meledak setiap kali kau sentuh?'

Ada jeda sejenak yang tercipta, dan seiring setiap detik yang berdetak, sengiran Naruto menjadi semakin lebar.

'...Goshujin-sama no baka.'

Naruto mungkin sudah akan tergelak, kalau saja telepon seluler yang masih ada di tangannya tidak berdering.

"Halo," tak kurang dari tiga hitungan kemudian, keningnya berkerut. "...Hah?"

~•~

Issei yang bersandar pada dinding di samping gerbang Akademi Kuoh menegakkan tubuh ketika matanya menangkap kilatan sinar keemasan beberapa langkah di depan gerbang. Tak sampai dua detik kemudian, sosok dengan wajahnya dihiasi tanda lahir menyerupai kumis kucing itu telah muncul di depannya dengan ekspresi keras.

Issei sudah siap membuka mulut ketika Naruto mengangkat tangannya. "Stop. Kau sedang panik." Tangan itu meraih bahu Issei. "Tarik napas dalam-dalam sampai kau tenang. Lalu jelaskan semuanya dari awal."

Issei memejamkan mata dan menuruti perintah Naruto tanpa protes, cengkeraman kencang namun tidak sampai sakit di bahunya entah kenapa terasa seperti jangkar yang menghalanginya jatuh lebih jauh ke dalam kepanikan. Saat matanya terbuka lagi, Issei menceritakan segalanya. Pertemuannya dengan seorang biarawati dari seberang lautan yang memperkenalkan dirinya dengan nama Asia, perselisihannya dengan seorang pendeta haus darah kemarin malam, kencannya dengan Asia yang juga membuatnya tahu masa lalu sang gadis yang dibuang oleh Gereja itu hanya karena menolong seorang Iblis, pertemuannya kembali dengan Raynare dan pengorbanan Asia agar Datenshi itu tidak membunuh Issei, dan yang paling akhir, pertengkarannya dengan Rias saat Issei menyampaikan keinginan untuk menyelamatkan Asia.

Walau wajahnya tetap datar sepanjang penjelasan Issei, roda-roda dan gigi di kepala Naruto sudah berputar dengan kecepatan tinggi selagi ia memikirkan apa implikasi semua hal itu. Kalau benar malaikat buangan yang membunuh Issei beberapa hari lalu itu bekerja dengan orang lain, maka besar kemungkinan dia bertindak atas perintah dari seorang atasan, seseorang yang mungkin adalah salah satu tetinggi di kubu Datenshi. Dan kalau asumsinya itu benar, maka membiarkan Issei pergi sendirian sama saja dengan mengirim teman sekelasnya itu untuk bunuh diri.

"Yang aku tidak mengerti adalah kenapa Buchou tidak mengizinkanku menyelamatkan Asia! Dia hanya mengatakan bahwa aku sekarang sudah menjadi bagian Klan Gremory, dan itu berarti aku tak boleh menolong Asia hanya karena hubungannya dengan seorang Datenshi! Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan Buchou!"

"Itu hanya karena kau tidak memandang masalah ini dengan pandangan yang lebih luas, Issei."

Issei terperangah. "Naruto-san?" Wajahnya yang bingung kini berubah marah. "Apa kau juga berpikir bahwa aku tidak boleh menolong Asia?"

"Aku tidak mengatakan itu. Aku hanya mengatakan bahwa aku mengerti kenapa bosmu tidak mengizinkan kau pergi." Naruto bersidekap. "Issei, apa kau tahu bahwa saat ini ada gencatan senjata antara kubu Iblis, Malaikat, dan Datenshi?"

Ekspresi Issei yang kembali menjadi bingung telah cukup sebagai jawaban bagi Naruto. "Buchou-mu itu memiliki Peerage, yang berarti dia juga memiliki Evil Pieces. Jika apa yang kuketahui sampai saat ini benar, maka Evil Pieces hanya diberikan pada kaum Iblis yang memiliki derajat tinggi di kalangan pendiam Meikai. Hal itu berarti setiap tindakan bosmu itu akan diawasi oleh pihak lain, yang juga berarti ia tak bisa berbuat seenaknya tanpa memikirkan konsekuensi."

"Tapi apa hubungannya status Buchou sebagai Iblis kalangan atas dengan gencatan senjata yang tadi kau sebutkan?"

"Jika penjelasanmu tadi benar, maka kita berasumsi bahwa siapapun Datenshi yang membawa pergi Asia itu—"

"Raynare."

"...Hah?"

"Namanya Raynare," ulang Issei sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Dia memperkenalkan dirinya sebagai Amano Yuuma padaku, tapi nama aslinya adalah Raynare."

"Oh, oke," sahut Naruto, sama sekali tidak merasa tersinggung walau sudah disela begitu. "Baiklah, jika Raynare memang benar bekerjasama dengan seorang pendeta, itu artinya dia memiliki bekingan dari tetinggi dari kubu Datenshi. Karena itulah bosmu tidak bisa bertindak terang-terangan dengan statusnya sebagai kalangan elit kaum Iblis."

"...Aku masih tidak mengerti."

"Kurasa penjelasanku akan bisa lebih mudah dimengerti kalau kita memikirkan apa yang bisa terjadi. Andai saja malam ini bosmu itu bersedia membantumu, dan kalian berhasil menolong Asia. Lalu atasan Raynare merasa marah karena ada kaum Iblis yang berani mencampuri urusannya, dan dia menuntut balas. Dan kalau Gremory terbunuh—"

"Itu tak mungkin terjadi!" seru Issei sambil melototkan matanya tajam-tajam ke arah Naruto.

Shinobi pirang itu sama sekali tidak terintimidasi. "Makanya di awal tadi kubilang 'andai'. Sekarang, biarkan aku menyelesaikan penjelasan." Naruto menutup matanya. "Kalau Gremory sampai terbunuh dalam konflik ini, maka secara logis keluarganya juga akan membalas dendam. Hal yang sama akan terjadi berulang-ulang. Jika pihak di kubu yang satu menang, maka pihak lain di kubu satunya lagi yang tidak terima akan melancarkan serangan balik. Dendam akan menumpuk, darah akan tertumpah. Dan mungkin, mungkin, reaksi berantai ini akan terjadi terus dan terus sampai akhirnya gencatan senjata berakhir dan api peperangan kembali dikobarkan. Perang yang di masa lalu sudah membuat ketiga fraksi itu hampir punah, dan entah berapa jumlah manusia yang turut jadi korban." Naruto berhenti sesaat untuk membuka matanya dan menatap dalam-dalam ke arah Issei yang kini wajahnya sudah sepucat mayat. "Dan semua itu bisa berawal lagi hanya karena kau ingin menolong Asia."

Issei jatuh berlutut dan terpuruk. "T-tapi... tapi..." Ia meninju aspal yang retak di bawah pukulannya. Naruto melihat ada cairan bening menetes jatuh di bawah wajahnya yang tertunduk. "Asia tidak bersalah apa-apa! Dia dikucilkan dan dibuang hanya karena dia menyembuhkan seseorang yang saat itu ia tidak tahu adalah seorang Iblis! Bahkan setelah ditelantarkan, dia ditemukan oleh orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan kekuatannya, orang-orang yang sudah menyakitinya dan sama sekali tidak peduli akan keselamatannya!" Issei terisak. "Asia—Asia tidak pantas mendapat perlakuan seburuk ini! Dia tidak pantas mendapat kehidupan sekejam ini! Dia tidak pantas dikucilkan, dibuang, dan tidak diperhatikan, hanya karena dia orang yang terlalu baik hati dan tak bisa melihat orang lain dalam penderitaan!"

Wajah Naruto masih keras ketika ia kembali buka suara. "Apa kau masih ingin menyelamatkannya?" ia bertanya singkat. "Walau kau tahu bahwa perbuatanmu ini mungkin bisa menyebabkan peperangan kembali terjadi, apa kau masih ingin menyelamatkannya? Apa kau berani menghadapi semua konsekuensi, membahayakan keselamatan atau bahkan membuang nyawamu, hanya demi seorang gadis yang baru kau kenal satu hari yang lalu?"

Issei mendongak, dan walau wajahnya bersimbah air mata, ia menjawab tanpa keraguan. "Ya."

Ekspresi keras Naruto menghilang. "Kau telah menunjukkan tekadmu, Hyoudou Issei, dan aku memutuskan bahwa kau adalah orang yang pantas dibantu." Shinobi pirang itu mengeluarkan sebuah hitai-ate dari kantong jaketnya, berbentuk plat besi yang terpasang ke kain hitam, dengan sebuah ukiran simbol daun yang menjadi lambang desa Konoha, lalu mengikatkannya ke kepala. "Namaku adalah Namikaze Naruto, Konoha no Koganei Senkou (Konoha's Golden Flash). Dan aku bersumpah untuk membantu dan mendukung seperti apapun keputusanmu."

Issei hanya bisa ternganga, belum sadar bahwa dia baru saja memperoleh sumpah setia dari seorang shinobi.

Naruto mengulurkan tangannya sembari tersenyum. "Jadi kenapa kau masih berlutut di situ, Issei?"

~•~

Suara tawa kejam kembali terdengar dari atas kepala Naruto yang terus melompat ke belakang lebih jauh ke dalam lebatnya pepohonan.

"Larilah! Melompatlah! MENARILAH UNTUKKU!"

Ketika ia melihat kelebatan sinar merah muda, Naruto harus melompat jumpalitan ke belakang agar kepalanya terhindar dari nasib ditusuk seperti sate. Mata Naruto yang baru saja mendarat ke tanah kembali melebar ketika instingnya menyalakan alarm bahwa akan ada bahaya yang datang dari arah belakang.

"Kena kau!"

Tanpa menoleh, Naruto koprol ke samping dan kembali berhasil menghindari kematian. Tapi saat ia kembali memperbaiki posisi, Naruto sadar bahwa dia telah dibuat bergerak ke tengah-tengah tanah kosong yang ada di hutan itu, berdiri dikelilingi oleh sosok-sosok bersayap hitam yang mengepungnya dari tiga arah.

Suara tawa yang lebih pantas dibilang menyebalkan daripada kejam kembali terdengar dari seorang Datenshi perempuan dengan rambut pirang dan pakaian ala gotik yang terbang tepat di depannya.

"Dan sekarang kau tak bisa lari lagi."

Naruto tak perlu menoleh untuk tahu bahwa suara yang menyimpan nada meremehkan itu datang dari Datenshi dengan pakaian tak senonoh yang kelihatannya terlalu kecil untuk tubuhnya bombastis dan rok yang terlalu pendek untuk kakinya yang panjang. Yah, walau dia memang tidak berharap bahwa malaikat yang jatuh dari surga punya cukup otak untuk memilih baju yang pas ukurannya, setidaknya pemandangan ini enak di mata.

Naruto mengernyit dan kebingungan ketika suara teriakan marah dan cemburu bergema di dalam benaknya.

"Tunggu, jangan bunuh dia dulu," suara yang kali ini terdengar maskulin menyapa gendang telinga sang shinobi remaja. "Aku mau bertanya sesuatu, bocah bodoh."

"Hoo," Naruto menegakkan tubuhnya sambil melirik ke arah satu-satunya musuh yang bergender pria, tubuhnya dibalut jas panjang yang kepalanya ditutupi topi fedora, orang yang di awal pertarungan memperkenalkan dirinya sebagai Dohnaseek. "Aku tidak menyangka seorang malaikat yang sudah dibuang dari surga masih bisa punya rasa sopan santun." Ucapnya sinis.

Di masa lalu, mungkin sekarang dia sudah akan berteriak-teriak sambil mengacungkan jari telunjuk dan menghentak-hentakkan kakinya, tapi setelah begitu sering bertarung bersama Jiraiya, Naruto mulai meniru gaya sang Shishou yang selalu kalem dan tenang setiap kali melawan musuh-musuhnya.

Dan bagaimana Shishou-nya menyebut taktik ini? Men-troll musuh untuk membuat mereka kalap dan jadi tak tenang saat bertarung? Yap, kurang lebih seperti itu.

"Setidaknya ukuran otakku masih lebih besar daripada manusia rendahan sepertimu yang menyerang wilayah kami sendirian, bocah bodoh." Datenshi lelaki itu menggunakan tangannya yang bersarung untuk mengusap-usap dagunya. "Jadi beritahu aku, bocah, kemampuan macam apa yang kau miliki sampai kau berpikir kau bisa menang melawan Datenshi seperti kami?"

"Siapa juga yang bilang aku berniat menang?" tanya Naruto, mengalihkan topik pertanyaan dengan sebegitu mudah sambil membalas seringai Dohnaseek dengan sengirannya sendiri. "Aku hanya perlu mengalihkan perhatian kalian sebentar~ saja, agar temanku Issei bisa masuk ke gereja itu tanpa halangan dan menyelamatkan Asia."

"Ha~? Maksudmu bocah mesum dan goblok yang sudah ditipu Raynare-neesama dengan begitu mudahnya itu?" si baju gotik bertanya sinis sembari terkikik geli. "Ha! Kaupikir—"

"Diam kau, pendek. Aku tidak sedang bicara padamu," Naruto menukas cepat tanpa mengalihkan matanya dari Dohnaseek.

"P-p-pendek...?" Datenshi berwujud gadis kecil dengan rambut dikuncir dengan pita hitam berenda itu terbata, wajahnya yang tadi tersenyum mengejek kini cengok seperti orang keterbelakangan mental. "S-siapa yang kau panggil pendek, monyet kurap?!"

"Dia ada benarnya, Mittelt," Naruto mengangkat sebelah alisnya ketika mendengar komentar dari si bimbo berdada gede. "Biar umurmu sudah ratusan tahun seperti kami, tubuhmu masih saja terlihat seperti anak kecil."

Mulut Mittelt mangap-mangap, tak menyangka bahwa dirinya mendapat hinaan yang disetujui oleh rekannya sendiri. Malaikat buangan itu menggertakkan giginya dan menggeram marah, tapi sebelum ia sempat membalas, Naruto telah mendahuluinya.

"Oi, kau tak punya hak mengejek temanmu seperti itu," mata sang Datenshi yang bernama Kalawarner melebar ketika mendengar kalimat yang diucapkan dengan nada seperti seorang guru yang sedang menasihati muridnya itu. "Bercerminlah sedikit. Kau sendiri umurnya sudah ratusan tahun, tapi kenapa kau masih juga memakai baju yang kekecilan seperti itu? Apa kau kena tipu saat membeli baju?" Naruto memasang wajah kasihan sambil mengeluarkan dompet. "Kalau kau mau, aku bisa meminjamkan uang agar kau bisa beli baju baru dan tampil sedikit sopan. Bagaimana?"

"K-k-kau..."

Naruto mengacuhkan Kalawarner yang masih mencoba mencerna bahwa dia baru saja dihina oleh seorang manusia, dan kembali menghadap satu-satunya cowok di antara ketiga Datenshi itu. "Dan kau," Ia mengacungkan jari telunjuk ke arah Dohnaseek yang turut ternganga atas perlakuan yang diterima oleh kedua rekannya. "Penampilan macam apa itu, hah? Kaukira kau sedang ada di film bergenre crime gitu? Atau kau cuma sedang pura-pura menjadi seorang detektif?" Naruto mendongakkan kepalanya dengan mata terpejam, dan mulai bicara dengan nada yang dramatis dan dibuat-buat. "'Ahh, aku adalah penjelajah malam, dinaungi langit kelam, yang menyusuri jalanan sunyi senyap demi mencari secercah keadilan.' Semacam itu?"

Diejek sampai sebegitunya, bahu Dohnaseek mulai gemetaran karena murka. Ketika ia bicara, suaranya telah berubah menjadi geraman. "Kau... setelah mengatai kami seperti ini, kaukira kami akan melepaskanmu begitu saja?"

Naruto mengangkat bahu sambil tersenyum tipis. "Kalian ini tidak hanya bego, tapi juga budek ya? Bukannya tadi sudah kubilang kalau aku tidak berniat menang? Asalkan aku bisa memberi Issei jalan masuk, itu sudah cukup bagiku."

Suara kikikan Mittelt yang menyebalkan kembali bergema, membuat Naruto mulai mempertimbangkan apakah dia harus merontokkan semua gigi Datenshi itu untuk mendiamkannya. "Bahkan walau kau sudah berhasil mengalihkan perhatian kami, dia masih harus menghadapi segerombolan pemburu setan dan Raynare-neesama sebelum dia bisa menyelamatkan biarawati buangan itu!" kikikannya berubah menjadi gelak tawa. "Setelah kau tahu ini, apa kau pikir bocah bego itu masih bisa menang?!"

"Tentu saja."

Jawaban Naruto yang diutarakan tanpa jeda membuat senyuman ketiga Datenshi itu menjadi sedikit goyah.

"Seperti yang kalian bilang, Issei memang baru-baru saja dibangkitkan sebagai Iblis dan kekuatannya masih rendah. Tapi yang kalian lupa adalah sebelum dia jadi Iblis, dia adalah seorang manusia. Manusia yang bego," Dohnaseek, Kalawarner, dan Mittelt memandang cowok yang berdiri di tanah itu dengan tatapan seperti sedang melihat orang gila. "Satu fakta yang harus ketahui tentang manusia bego adalah sekali mereka memfokuskan diri untuk satu tujuan," senyuman di wajah Naruto menjadi semakin lebar. "Maka walau mereka harus terjun ke jurang terdalam, mendaki tebing tercuram, menembus awan ataupun membelah lautan, mereka pasti akan mencapai tujuan itu."

Dan entah kenapa, mereka percaya. Padahal kata-kata itu diucapkan oleh seorang manusia rendahan yang seharusnya tak bernilai di mata mereka, tapi ketika Dohnaseek, Kalawarner, dan Mittelt mendengar kalimat yang diucapkan tanpa sedikitpun keraguan itu, mereka harus mengakui bahwa mereka percaya.

Namun itu justru membuat mereka kalap. Karena mereka sudah dibuat merasakan hal itu bukan oleh Iblis atau Malaikat, Youkai ataupun dewa, tapi hanya oleh seorang manusia biasa.

"Manusia sialan!" Mittelt berteriak.

"Riwayatmu tamat hari ini!" Kalawarner membentak.

Dohnaseek mengeluarkan tombak cahaya bernuansa biru yang menjadi ciri khasnya, sebuah tindakan yang diikuti oleh kedua rekannya, sebelum meraungkan perintah dengan suaranya yang berat. "Bunuh dia!"

Mereka melontarkan senjata bersama-sama, ke arah sang remaja pirang yang hanya tersenyum tipis tanpa membuat gerakan untuk menghindari serangan yang tidak berapa detik kemudian bersarang, menembus tubuhnya dan menciptakan luka fatal yang memuncratkan darah ke tanah.

(Play – Bad ∞ End ∞ Night [Wotamin, Pokota, Nobunaga, amu, 96Neko, Yamai, Cocolu & Purikuma])

Dohnaseek, Mittelt, dan Kalawarner tertegun.

Mereka mendarat di bumi dalam diam, tak menyangka bahwa setelah semua yang ia ucapkan, manusia itu seperti tak membuat usaha untuk melawan dan seakan-akan menerima kematiannya dengan tangan terbuka. Mereka memandangi mayat yang kini sudah terkapar di tanah itu dengan mata terbuka lebar, terus dan terus begitu sampai akhirnya tawa Mittelt memecah keheningan di antara mereka bertiga.

"D-dia...!" wajah Mittelt terdongak, dengan tangan memegangi perutnya karena tak bisa berhenti tertawa. "Dia mati...! Setelah semua sikap sombong itu, dia mati begitu saja!"

"Hoo..." tawa Mittelt serta merta berhenti ketika seseorang menepuk bahunya dari belakang, dan suara yang seharusnya sudah tidak ada itu kembali terdengar tepat dari samping telinga kanannya. "Jadi aku sudah 'mati' ya...?"

Ketiga Datenshi itu memutar tubuh mereka secara bersamaan, namun siapapun yang tadi bicara pasti sudah menghilang karena mereka tak melihat siapa-siapa. Tapi saat Dohnaseek dan Kalawarner melihat wajah Mittelt yang memucat, mereka sadar bahwa tepukan di bahunya tadi pasti adalah sesuatu yang nyata. Kedua Datenshi yang lebih tua itu mengembalikan pandangan mereka ke tengah-tengah tanah kosong, dan setengah yakin bahwa mereka akan mendapati bahwa mayat itu seharusnya masih terbaring di sana.

Tapi mereka hanya melihat tiga tombak cahaya. Tak ada darah, tubuh, apalagi mayat siapa-siapa.

Tubuh mereka kembali mengeras dan wajah mereka makin memucat ketika mereka mendengar suara terkekeh yang tidak hanya datang dari satu arah. Suara itu mengelilingi mereka, mengepung mereka.

Memerangkap mereka.

"Jadi..." kata itu dicetuskan lambat-lambat, pengucapannya berisi nada datar yang tak menyimpan kemarahan, kebencian, apalagi niat jahat. "Apa ini pertama kalinya kalian melawan seorang shinobi...?"

"Keluar kau!" Dohnaseek meraung. Ia tak mau mengakui, tapi juga tak bisa menyangkal bahwa wajahnya telah pucat pasi dan telapaknya yang ditutupi sarung tangan terasa basah oleh keringat dingin. "Keluar kau, manusia jahanam! Pengecut!"

Suara yang terdengar dari mana-mana itu terkekeh lagi. "Pengecut? Kalian, tiga Datenshi dengan kekuatan jauh di atas umat manusia, mengeroyok seorang remaja yang hanya sendirian dan kalian memanggilku pengecut?" ketika orang itu, siapapun dia, bicara lagi, suaranya menyimpan gelimang besi. "Karena hinaan itu, kau akan menjadi mangsaku yang pertama."

Mittelt dan Kalawarner baru sempat berbalik ketika mata mereka menangkap Dohnaseek yang diseret ke dalam hutan, dan tak sampai satu detik berikutnya, yang ada di tanah kosong itu hanya mereka berdua.

"Aaaahk!"

Suasana sunyi di tanah kosong yang sudah menjadi cukup seram itu berubah kian menakutkan ketika Mittelt dan Kalawarner mendengar jeritan Dohnaseek yang entah datang dari arah mana. Mittelt hanya bisa berdiri membisu dengan postur keras bagaikan batu tanpa mampu membuat suara, sementara kaki Kalawarner sudah berguncang hebat sampai-sampai wanita berdada besar itu hampir tak bisa mempertahankan keseimbangannya.

"Agh...!" wajah Mittelt hampir tak bisa memutar ketika ia mendengar suara cekikan tertahan yang datang dari arah Kalawarner, dan melihat bahwa Datenshi seksi itu kini berdiri dengan kawat yang bergelimang melilit leher, kedua tangan, perut, serta kakinya. Kalawarner membalas tatapan Mittelt dengan mata yang bersinar penuh ketakutan, satu tangannya terulur ke Datenshi berambut pirang itu seakan sedang meminta pertolongan. "Mitte—!"

Mata Mittelt melebar sempurna ketika ia menyaksikan Kalawarner tiba-tiba ditarik ke belakang dengan begitu cepat sampai-sampai ia tak sempat menyelesaikan panggilannya. Tidak seperti Dohnaseek, Kalawarner yang lenyap ditelan kegelapan di antara pepohonan sama sekali tidak mengeluarkan jeritan maupun pekik kesakitan. Datenshi berambut pirang itu hanya mendengar suara grasak-grusuk yang berlangsung beberapa saat sebelum semuanya kembali menjadi sunyi senyap.

"Kenapa diam...?" suara yang lebih mirip dengan desahan itu kembali terdengar tepat di samping telinga kanan Mittelt, tapi ketika ia berbalik, Datenshi termuda di antara kelompoknya itu kembali tak menemukan sosok yang menjadi pemilik suara.

"Kenapa kau tidak tersenyum lagi...?"

Mittelt mencoba menutup telinganya untuk meredam bisikan yang seakan bergema di dalam batok kepalanya itu, namun entah karena alasan apa, dia tetap bisa mendengarnya.

"Kenapa kau tidak terkikik lagi...?"

Dia harus kabur. Dia harus kabur. Dia harus kabur. Dia harus kaburkaburkaburkabur dan lari dan tidak menoleh ke belakang lagi.

Namun kakinya yang sudah bergetar seperti diguncang gempa bumi itu hilang kekuatan dan memaksanya jatuh bersungkur sampai kulit kedua lututnya yang bertemu tanah terkikis karena bertemu batu kerikil yang tajam.

Ketika ia mendongak, Mittelt hanya melihat dua mata biru langit yang bersinar di kegelapan, tidak sampai setengah jengkal di depan wajahnya sendiri, dan seringai yang begitu lebar dan keji dan kejam dan mengungkapkan kegilaan dan menjanjikan siksaan—

"Kenapa kau tidak tertawa lagi...?"

Nyali Mittelt punah. Bola matanya berputar ke belakang, mulutnya berbusa, dan seluruh tubuhnya kehilangan tenaga sebelum pandangannya dipenuhi kegelapan.

Ada hening sejenak di tanah kosong itu sebelum seseorang dengan rambut yang sangat panjang dan telinga berujung lancip yang dipenuhi bulu merah muncul seakan tercipta dari udara kosong. Sosok yang mengenakan kimono merah tua itu berjongkok, dan menggunakan jari telunjuknya untuk menyodok-nyodok pipi Datenshi pirang yang kini terbaring pingsan.

Ia menoleh ke arah shinobi yang juga berjongkok di sampingnya dan tersenyum lebar. "Pertunjukan yang sangat menakjubkan, Goshujin-sama."

"Bah," Naruto menepis pujian Kurama dengan santai sembari berdiri, walaupun sengiran yang menghiasi wajahnya mengatakan hal sebaliknya. "Ini sih gara-gara memang mereka yang cemen. Ngakunya umur ratusan tahun, tapi segitu aja sudah tepar."

Kurama ikut berdiri, menutup mulutnya sembari terkikik kecil, sisa-sisa dari gelak tawa terbahak-bahak yang ia keluarkan ketika ikut menyaksikan reaksi ketiga Datenshi itu melalui mata majikannya. "Tapi tetap saja Goshujin-sama hebat, bisa melakukan semua ini hanya dengan beberapa Kagebunshin dan satu Fuuin."

Mata Kurama menyusuri leher Naruto, dan di pangkalnya, ia menemukan sebuah simbol Aksara Semesta. Fuuin: Meimei Mensou (Invisible Countenance). Segel paling pertama yang diciptakan oleh Klan Namikaze puluhan tahun lalu, yang gunanya untuk menyegel [Konsep] pantulan cahaya pada objek dan membuat pemakainya tak bisa dilihat karena sebuah benda harus memantulkan cahaya sebelum bisa masuk pandangan makhluk hidup.

Kurama tertawa kecil lagi. "Harus Kurama akui, Goshujin-sama, Kurama sudah lama sekali tidak tertawa seperti ini."

"Hmph!" Naruto meniru Kurama dengan mendengus sambil menepuk dadanya penuh rasa bangga. "Aku adalah Tukang Jahil Nomor Satu di seantero Konoha! Tentu saja aku hebat!"

Kurama tertawa geli. "Goshujin-sama, bukan begitu caranya. Lihat contoh Kurama." Gadis personifikasi makhluk mistis itu mengambil posisi di samping Naruto sebelum menepuk dadanya. "Hmph."

"Lalu? Memang ada bedanya ya antara "Hmph!" dengan "Hmph."?"

"Kalau Goshujin-sama pakai tanda seru, yang ada malah kedengarannya jadi kekanak-kanakan. Dengan menggunakan "Hmph." alih-alih "Hmph!", kita bisa mengungkapkan rasa bangga namun tetap terdengar elegan. Sama seperti cewek kalau malu, mereka lebih sering mengucapkan "Kyah!" padahal seharusnya mereka memakai "Kyah...!"."

"Tidak, tidak, tidak. Aku nggak setuju," Naruto menggeleng-geleng, lalu menghadap Kyuubi sambil bersidekap. "Kalau lagi malu, harusnya cewek memakai "Iyan~"—"

"Oi, dua sejoli yang lagi sibuk diskusi hal gak penting di situ," Naruto dan Kurama sama-sama menoleh ke arah kembaran Naruto yang baru keluar dari hutan, tangannya mencengkeram pergelangan kaki Dohnaseek dan menyeret Datenshi laki-laki yang juga tak sadarkan diri itu sembari berjalan ke arah Naruto yang asli. "Bisa berhenti ngebanyol sebentar? Kita harus mutusin ini makhluk harus diapain, soalnya."

"Bos!" Naruto baru saja membuka mulutnya ketika satu suara lagi, kali ini nadanya penuh semangat, terdengar dari arah yang lain. Dua Naruto dan satu Kurama melirik ke kanan, di mana kini satu orang Naruto lagi membawa sosok Kalawarner yang pingsan... dengan menggendong Datenshi berwujud perempuan dewasa itu sedemikian rupa sampai kepalanya nangkring di antara dua payudara bohai milik sang wanita. "Bos, yang satu ini dadanya gede! Lembut! Harum lagi! Pasti enak kalo dijadiin bantal guling nih!"

Kalau saja dia sedang di dalam sebuah anime, Naruto pasti sudah jatuh tersungkur dengan begitu hebat sampai wajahnya terkubur beberapa senti di dalam tanah karena melihat tingkah Kagebunshin yang pasti mendapat bagian personalitas mesumnya. Tapi karena ini kenyataan, Naruto hanya bisa membenamkan wajah dalam-dalam di telapak tangannya.

"Sudah, sudah," Kurama mengelus kepala majikannya yang mengerang penuh derita. "Bukan salah Goshujin-sama kalau Kagebunshin Goshujin-sama cenderung bego semua."

Tentu saja kembaran Naruto yang satu lagi tidak terima. "HEI!"

~•~

Setengah jam yang lalu...

Issei memperhatikan ketiga Datenshi yang bertugas menjaga pintu depan gereja itu terbang mengikuti Naruto yang sudah mulai melompat menjauh dari tempat itu. Ia menggigit bibir, khawatir dengan teman sekelasnya, namun kata-kata Naruto kembali muncul dalam ingatan sang pemuda.

...

"Prioritasmu adalah keselamatan Asia, bukan keselamatanmu sendiri, apalagi keselamatanku."

...

Issei memaksa dirinya untuk berhenti, menjejalkan rasa cemas itu jauh-jauh di lemari benaknya yang terdalam. Naruto benar, dia datang ke sini dengan niat menyelamatkan Asia, dan untuk sekarang, tak ada hal yang lebih penting dari mencapai tujuan itu.

Sesegeranya setelah sosok Naruto dan tiga Datenshi itu menghilang dari pandangan, Issei keluar dari persembunyiannya dan melangkah ke pintu gereja yang bisa ia buka dengan begitu mudahnya. Mungkin karena mengira bahwa ketiga Datenshi rekan Raynare itu sudah cukup sebagai asuransi keamanan, mereka bahkan tidak mengunci jalan masuk ke gereja itu.

Hal yang sangat bodoh bahkan bisa dibilang ceroboh, namun Issei hanya peduli dengan fakta bahwa keteledoran kelompok Raynare telah memudahkan jalannya.

Langkah yang ia ambil cepat, tangannya terkepal di dua sisi tubuh dan matanya memperhatikan keseluruhan isi ruangan seteliti mungkin tanpa sedikitpun mengorbankan kecepatannya berjalan, bergegas namun selalu siap mengantisipasi usaha pertahanan maupun serangan yang bisa muncul mengancamnya kapan saja.

Dugaannya benar. Belum sampai ia di altar yang membelakangi salib yang sudah hancur setengah itu, suara tepukan tangan menyertai munculnya lawan pertama yang menjadi penghalang jalannya.

"Hei, hei, hei...!" suara memuakkan milik pendeta psikopat yang terlalu haus darah untuk bisa dibilang seorang pemakai tenaga suci itu kembali terdengar di telinganya, membuat gigi Issei bergertak dan kepalan tangannya semakin erat. "Kita ketemu lagi! Ahh~, ini membuatku sangat tersentu—"

"Dimana Asia?"

Freed merasa kesal karena sudah disela, tapi kalau toh Iblis di depannya ini akan segera mati di tangannya, Freed rasa bukanlah hal yang terlalu berat untuk menjawab pertanyaan itu.

Freed mulai bicara dengan nada suara yang ditinggi-tinggikan sembari menoleh ke altar tempat jalan rahasia tersembunyi. "Dia ada di aula ritual di dasar tangga rahasia itu. Tapi itu tidak penting karena—"

"Promotion: Queen," Issei menggunakan salah satu keahlian spesialnya sebagai Iblis yang memegang peranan Pion, dan seperti saran Naruto, ia harus memakai kemampuan spesial ini untuk mendapatkan kekuatan setinggi mungkin. Saking fokusnya, Issei sama sekali tak mengacuhkan ekspresi terkejut Freed yang tak menyangka monolognya akan kembali dipotong begitu saja. "Sacred Gear."

...

"Ketika kau sudah di dalam, jangan pernah berhenti untuk apapun atau siapapun. Tak peduli kau terkejut atau takut, enyahkan semua perasaan yang mungkin akan menghalangimu mencapai tujuan. Jika ada musuh, kalahkan. Jika ada halangan, hancurkan! Kalau kau perlu mencari informasi dari musuh, maka lakukan, tapi kuulangi lagi, prioritasmu adalah keselamatan Asia! Dan setiap detik yang kau habiskan untuk ngobrol atau mendengarkan monolog tidak penting dari lawan adalah satu detik yang mungkin mereka pakai untuk membahayakan Asia!"

...

"Boost!"

"Kau—"

Freed bahkan baru sempat mencetuskan satu kata ketika Issei tiba-tiba saja sudah berlari melesat ke arahnya. Pendeta yang dikucilkan dari Vatikan karena selain dia memang pada dasarnya tak pernah beriman, tapi juga karena sifatnya yang terlalu vulgar dan suka membunuh tanpa pandang bulu itu tersenyum lebar sembari mengantisipasi pertarungan menyenangkan. Senyum itu mulai hilang hampir sepersekian detik kemudian ketika Issei terus berlari tanpa jeda, mementalkan semua tembakan yang senjata Freed muntahkan dengan kecepatan dan kekuatan yang ia dapatkan dari Promotion: Queen dan dilipatgandakan dengan Sacred Gear.

Sengiran Freed lenyap seluruhnya ketika Issei tiba dan kepalan tangannya menghampiri wajah sang pemburu setan liar, mementalkannya ke belakang dengan momentum tinggi sampai bertemu dengan podium yang langsung hancur ketika ia jatuhi.

"K-kau...!" Freed berdiri lagi sambil memegangi hidungnya yang patah dan mengucurkan darah, matanya melebar saat menyadari bahwa Issei sama sekali tidak berniat membiarkan ada jeda dalam pertarungan dan sudah kembali berlari untuk memburunya. "G-gh, aku tidak rela dibunuh Iblis di tempat seperti ini! Ciao!"

Cahaya luar biasa terang dan menyilaukan membuat gerakan Issei terhenti sesaat, memakai tangan kanan untuk menutup mata serta menyiapkan tangan kiri di mana Sacred Gear-nya terpasang untuk bertahan kalau-kalau ada serbuan mendadak. Saat cahaya itu mati, ia mendapati bahwa Freed telah lari. Issei sama sekali tidak memberi perhatian berlebih pada fakta bahwa musuhnya berhasil kabur, matanya telah tertuju ke lubang tempat tangga rahasia terletak dan kakinya sudah mulai kembali membawa tubuhnya berkelebat maju.

Ia menuruni tangga rahasia itu hanya dengan dua kali lompatan panjang, menemukan sebuah lorong tunggal di dasarnya dan mendapati bahwa di ujung lorong pintu yang terbuka dengan cahaya di baliknya. Issei kembali berlari, seluruh otak dan benaknya hanya terisi dengan gadis biarawati yang telah mengorbankan diri demi menyelamatkan dirinya yang lemah, dan ia kembali mengucapkan sumpah bahwa apapun yang terjadi, Asia akan selamat malam ini.

Issei mendapati dirinya tiba di sebuah ruangan dengan luas setidaknya seratus meter persegi, ruang ritual yang diterangi cahaya temaram lilin dan obor, dipenuhi oleh segerombolan orang dengan jas hitam panjang dan topi fedora yang semuanya hampir terlihat sama. Di seberang sana, ada sebuah tangga, dan di puncak tangga itu, Issei melihat Datenshi yang telah membunuhnya hampir seminggu lalu serta satu-satunya gadis berambut pirang yang kini memenuhi setiap seluk beluk sukmanya.

"ASIA!"

Remaja yang terpasung di salib yang menjadi media pelaksanaan ritual itu mengangkat kepalanya, matanya yang semula tertutup sekarang terbuka. Ketika ia melihat bahwa orang yang merupakan teman terbarunya itu telah tiba, mata hijaunya menjadi basah dan berkaca-kaca. "...Issei-san..."

Raynare serta rombongannya berbalik dalam satu gerakan bersamaan, dan wajah sang Datenshi menampakkan ekspresi seakan tak percaya bahwa seseorang yang baru saja dilahirkan kembali menjadi seorang Iblis bisa dengan begitu cepatnya mengalahkan penjaga-penjaga yang telah ia pasang di jalan masuk ke ruang ritual. Tapi Raynare dengan cepat mengendalikan emosi, mulutnya terbuka dan menggeram pada bawahannya.

"Tahan dia! Jangan sampai dia kemari sebelum ritualnya selesai!"

Akan tetapi, sebelum mereka sempat bergerak, bahkan sebelum Raynare sempat menyelesaikan perintahnya, Issei telah mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. Sebuah kotak kaca berbentuk persegi panjang yang terbagi menjadi tiga kompartemen, masing-masing bagian berisi pil sebesar kelereng dengan warna hijau, kuning, dan merah. Naruto telah memberikan ketiga pil ini, yang ia katakan adalah hadiah dari sahabatnya di kampung halaman sebelum dia pergi mengembara bersama Shishou-nya, demi menambah persentase keberhasilan Issei dalam misinya menyelamatkan Asia.

Ia membuka kompartemen pertama, lalu memasukkan pil yang hijau ke dalam mulutnya.

...

"Namanya adalah Sanshoku no Gan'yaku (Three Coloured Pills). Tapi ingat, pil ini hanya kuberikan dengan kondisi kau menemukan situasi luar biasa yang tak bisa kau atasi dengan Promotion dan Sacred Gear-mu. Kutekankan, hanya situasi luar biasa, dan dengan itupun, kau hanya kuperbolehkan menelan pil hijau."

"Jangan pandang aku seakan aku ini pelit, kau bisa menelan semua pil ini sekali jalan kalau kau mau, tapi yang harus kau tahu, tiga pil ini adalah pedang bermata dua. Walau memang berguna untuk meningkatkan kekuatanmu berkali-kali lipat, tapi pil ini juga akan meracuni dan merusak tubuhmu."

"...Aaaghh, aku mengerti! Baiklah, karena kau bilang kau siap membuang nyawa demi Asia, kau juga kuberi izin menelan pil kuning kalau, dan hanya kalau dengan pil hijau kau masih tak bisa menyelesaikan pertarungan! Tapi jangan, jangan sampai kau menelan pil merah. Aku tak peduli kalaupun tubuh dan kondisi jasmani bangsa Iblis jauh lebih baik dari manusia, kau pasti mati kalau kau sampai menelan pil yang itu! Jangan biarkan situasi jadi terlalu buruk sampai kau perlu minum pil itu, oke?!"

...

(Play – Black Lagoon OST – Red Fraction)

"Haaa~!"

Baru dua detik pil itu ia telan dan mencapai lambungnya, energi Youki meledak dari tubuh Issei dengan gelombang kejut yang menimbulkan angin sekuat topan, mengibarkan jas, menerbangkan fedora, serta mendorong jatuh beberapa pendeta kafir di ruangan, serta menciptakan tekanan hebat yang meretakkan bata lantai di bawah kakinya. Aura hijau yang di masa depan akan menjadi ciri khas tiap kali Issei mengobarkan Youki-nya terlihat menyelimuti sekujur tubuh remaja berusia tujuh belas tahun itu, menekankan fakta bahwa Raynare dan rombongannya tidak sedang menghadapi seseorang yang baru menjadi Iblis... tapi seorang Iblis yang sedang marah.

"Kembalikan Asia...!" Issei mendesis sambil mengabaikan rasa sakit di tubuh yang disebabkan oleh Youki yang meluap-luap seperti badai di tengah lautan. Ketika ia mengangkat wajahnya, bahkan Raynare sendiri terpaksa mengambil satu langkah mundur karena tak mampu bertahan ketika dipandang oleh mata Issei yang bersinar dengan tekad murni yang membara seperti api Neraka. "KEMBALIKAN ASIA!"

"Boost!"

Entah karena terlalu dikuasai rasa takut, atau karena dia memang nekat, salah satu pemburu setan bertopeng yang berkumpul di dasar tangga tiba-tiba berlari maju dengan teriakan panjang dan pedang yang siap ditebaskan. Issei sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari puncak tangga di mana Asia terpasung, dan ketika pemburu setan itu sudah dalam jarak serang, sang Iblis mengayunkan tangan berlapis Sacred Gear-nya yang berkelebat begitu cepat sampai menjadi tak terlihat.

Tubuh sang pendeta terbang, kakinya meninggalkan lantai dan tubuhnya terlipat hingga membentuk sudut tiga puluh derajat, sebelum menghantam dan terbenam di dinding kiri ruangan bawah tanah tersebut. Ketika kepulan debu yang menyelimutinya pupus, tubuh pendeta pengkhianat yang telah mengasosiasikan dirinya dengan seorang Datenshi itu sama sekali tidak bergerak, dan tak ada napas yang nampak menggerakkan dadanya.

...

"Ada satu hal lagi yang harus kuberitahukan padamu, Issei. Aku tak bisa berkata pasti, tapi demi menyelamatkan Asia, ada kemungkinan besar di akhir malam ini tanganmu akan berlumur darah. Tidak, aku tidak mengatakan ini untuk membuatmu berubah pikiran, aku hanya ingin kau tahu bahwa terkadang, demi menyelamatkan seseorang, kau harus menyiapkan dirimu untuk memikul beban yang berasal dari melenyapkan nyawa orang lain."

"Tapi dengarkan aku, kau tidak boleh memikirkan itu selama pertarungan masih berlangsung. Seperti yang sudah kutekankan berkali-kali, misimu malam ini hanya dan hanya menyelamatkan Asia, apapun caranya. Kalau kau harus merobek kulit musuhmu, maka robeklah. Kalau kau harus mematahkan tulang musuhmu, maka patahkanlah. Kalau kau harus membunuh musuhmu, maka bunuhlah. Tapi kau tidak boleh memikirkannya, fokuskan seluruh otak dan kehidupanmu untuk menyelamatkan Asia. Nanti, setelah Asia aman, kau akan punya waktu untuk merenungkan apa yang akan terjadi malam ini. Tapi hanya setelah Asia aman."

"Yah, tapi setidaknya aku bisa meringankan bebanmu sedikit. Kau tahu bahwa mereka bekerja dengan seorang Malaikat yang dibuang dari Surga kan? Orang yang baik takkan mungkin bekerjasama dengan makhluk seperti itu tanpa terpaksa atau karena sudah ditipu, dan setelah mendengar ceritamu, aku tahu bahwa orang dengan deskripsi itu hanyalah Asia seorang. Dan jika menilik pembunuhan yang terjadi kemarin malam, aku yakin bahwa tangan orang-orang yang mungkin akan kau temukan di sana juga pasti berlumur darah orang tak bersalah."

"Karena itulah, Hyoudou Issei, gertakkan gigimu rapat-rapat dan kepalkan tanganmu kuat-kuat. Kalau kau mau melakukan ini, maka bersiaplah, karena setelah malam ini berakhir, tanganmu akan berlumuran darah dan kau akan memikul beban yang berat."

...

Issei memaksa diri untuk tidak menggubris korban pertamanya itu dan berkelebat maju, tangannya mencengkeram wajah dua pemburu setan yang kemudian ia hempaskan ke lantai. Ia merendahkan tubuhnya dan mencengkeram pergelangan kaki salah satu orang, yang kemudian ia gunakan seperti pemukul baseball untuk menghajar lima lelaki bertopeng yang lain.

"Boost!"

Issei terus melesat, tangan dan kakinya melayang dalam serbuan dengan hasil yang sangat mudah diperkirakan. Promotion: Queen yang ditambah dengan Boost membuat kekuatannya, yang kembali ditingkatkan dengan pil hijau dari Naruto sampai hampir sepuluh kali lipat dari level semula, terus dan terus berganda sampai Issei hanya membutuhkan satu pukulan atau tendangan untuk melumpuhkan satu orang, membuat Raynare seakan sedang menyaksikan sebuah buldoser berkecepatan tinggi yang mampu melibas habis apapun yang menghalangi jalannya.

Raynare merasakan napasnya tercekat ketika sadar bahwa Issei sudah berhasil melewati bawahannya dan sekarang sudah setengah jalan menaiki tangga.

"Brengsek!"

Raynare seakan-akan kembali ke sore hampir satu minggu silam, ketika dia dipaksa tunduk dan dibuat tak berdaya oleh orang yang awalnya sama sekali tak ia anggap sebagai faktor yang berbahaya ketika ia menyaksikan Issei menepis tombak cahaya sang Datenshi dengan Sacred Gear-nya tanpa kesulitan apa-apa.

"Boost!"

Kekuatan dan kecepatan Issei kembali bertambah dua kali lipat, membuat wajah Raynare pucat pasi saat mendapati bahwa bocah yang ia bunuh sendiri di sore hari setelah kencan palsu mereka itu mencapai posisinya hanya dengan sekali lompat. Raynare tak sempat menghindar, tak sempat bergerak, dan dia bahkan tak sempat mengumpat ketika tinju yang dilapisi Sacred Gear berwarna merah itu menghampiri wajahnya, menciptakan rasa sakit dan mematahkan batang hidung sang malaikat buangan sebagaimana Issei meremukkan hidung Freed beberapa menit lalu.

"Issei-san..."

Raynare yang sekarang terpental ke samping hanya sempat melihat Issei yang membabat dan merobek-robek rantai pengekang Asia seakan-akan benda itu hanya terbuat dari kertas dan bukannya besi, sebelum ia terhempas dan terbenam ke dinding seperti nasib beberapa bawahannya.

"Boost!"

Issei merentangkan tangannya dan meraup tubuh Asia yang terjatuh ke depan setelah terbebas dari rantai yang memasungnya ke salib, dan dengan kekuatannya yang kembali berlipat ganda, Issei menjejakkan kakinya sampai lantai menjadi remuk di bawah pijakannya, meloncat begitu tinggi dan jauh sehingga dia terlihat seakan-akan terbang ke seberang ruangan.

Tepat setelah mendarat, dengan gerakan yang sangat hati-hati Issei mendudukkan Asia yang masih menatapnya dengan mata berkaca-kaca, masih tak bisa percaya bahwa dia telah diselamatkan oleh orang yang telah membuat apa yang Asia kira akan menjadi hari terakhirnya di dunia begitu spesial dan menyenangkan.

"Asia..."

Mendengar suara itu membuat sang biarawati mendongak, dan ketika Asia menatap mata cokelat yang bersinar khawatir itu, kekhawatiran dan perhatian yang ditujukan untuknya dan hanya untuknya itu, mata Asia terasa semakin panas dan tangisannya berubah tak tertahankan. Ia mengalungkan tangannya ke leher Issei, memeluk remaja berambut cokelat itu kuat-kuat seakan-akan takut bahwa semua ini akan berubah menjadi mimpi kalau dia melepaskannya, menangis dan terisak dengan air mata bercucuran, tidak dari kesedihan, namun kebahagiaan tak tertahankan.

Didekap sekuat tenaga seperti itu, Issei sama sekali tak protes, karena rasa cemas, khawatir, dan takut yang sudah terus merongrong hatinya sekarang telah pudar tak bersisa, digantikan oleh rasa lega dan gembira yang membuat paru-paru dan rongga dadanya terasa menggelembung seperti balon yang dipompa udara sampai siap pecah. Ia turut menggerakkan lengannya dan membuat pelukan mereka kian rapat, dan untuk sesaat, ruang bawah tanah yang gelap dan suram di sekelilingnya seakan lenyap dan mengecil menjadi alam terang benderang yang diperuntukkan hanya bagi mereka berdua.

"Boost!"

Saat ia mendengar deklarasi penggandaan kekuatan dari Sacred Gear yang dia miliki, Issei tahu bahwa momen menyenangkan itu takkan berlangsung selamanya.

"Asia..." Issei melonggarkan pelukannya, tindakan yang diikuti oleh Asia, dan kelihatannya gadis itu sama-sama diserang rasa enggan karena tangannya masih bersarang di tengkuk Issei. "Asia, pekerjaanku masih belum selesai, jadi bisakah kau tunggu sebentar lagi?"

Asia sebenarnya ingin menggeleng, tapi tahu bahwa sekarang bukanlah saatnya bersikap egois. Ia melepaskan Issei, lalu mengambil satu langkah mundur dengan wajah tertunduk.

Issei mengangkat tangannya dan mengelus puncak kepala Asia. "Asia, tutup mata dan telingamu rapat-rapat, oke?"

Asia hanya mengangguk, dan hampir saja mengerang protes saat merasakan tangan Issei meninggalkan kepalanya.

"IBLIS JAHANAM!"

Teriakan itu menjadi pemicu yang kembali membakar amarah Issei. Setelah memastikan Asia menuruti perintahnya, remaja berusia tujuh belas tahun yang baru saja dibangkitkan sebagai Pion Rias Gremory itu berbalik dan berjalan maju, wajahnya yang lembut ketika menatap Asia sekarang sudah berubah ekspresi menjadi keras lagi.

Di sana, berdiri Raynare dan bawahannya yang masih tersisa. Melihat ekspresi ganas seperti hewan buas sekarang terpasang di wajah sang Datenshi, matanya yang bersinar merah dengan kebencian, serta giginya yang entah mengapa sekarang semua tajam, Issei benar-benar tak mengerti bagaimana dia bisa bersandiwara dengan begitu hebatnya sampai-sampai Issei harus mengakui bahwa ia sempat jatuh cinta walau hanya untuk sementara.

Tapi ketika Issei ingat seperti apa kondisi Asia saat ia pertama kali tiba di ruangan bawah tanah itu, rasa suka yang ia simpan untuk gadis yang semula ia kenal sebagai Amano Yuuma itu habis terbakar oleh api amarahnya yang membara.

Issei meraih kotak kaca yang ada di kantong celananya untuk mengambil dan menelan pil berwarna kuning.

Raynare sudah siap memimpin serangan ketika energi Youki kembali membuncah dari tubuh bocah Iblis di depannya, dan kali ini, gelombang kejut yang diciptakan ledakan energi itu cukup kuat untuk membuat seisi ruang bawah tanah itu seperti sedang diguncang gempa. Lantai di bawah kaki Issei retak seperti baru saja dijatuhi batu karang, dan Youki yang semakin meluap-luap membuat serpihan-serpihan bata meninggalkan lantai dan mulai mengambang naik di udara dengan tekanan auranya yang begitu kuat sampai mendistorsi hukum fisika. Energi Iblis berwarna hijau jamrud membanjiri ruangan tertutup itu dengan intensitas yang tak ada bedanya dengan air bah, membuat para pengguna Tengeki itu seakan sedang dilahap oleh murka seluruh penghuni Neraka, menghentikan napas mereka di tenggorokan, telinga berdenging, dan pandangan menjadi buram.

Issei merasa tak ubahnya orang yang dibakar hidup-hidup. Semua syaraf dari telapak kaki sampai ke kulit kepalanya terasa seperti disambar kilat, paru-parunya seakan diisi oleh timah panas yang membuat setiap tarikan napasnya pendek, cepat, dan menyakitkan. Matanya seakan menjadi bara yang siap menyala kapan saja, darahnya bergolak seperti lahar yang membuat semua uratnya menderita. Kulitnya seperti dipanggang, dan setiap serat ototnya serasa seperti diterjunkan ke minyak panas yang membuatnya ingin menjerit kesakitan.

"Boost!"

Ketika kekuatan yang sudah hampir tak tertahankan itu kembali berlipat ganda, Issei merasa bahwa seluruh tubuhnya seakan-akan baru saja dijejalkan ke sebuah lubang berisi api Neraka. Tapi Issei hanya menggertakkan giginya sekuat tenaga, karena ia telah bersumpah, bahwa demi melindungi Asia, Issei siap menerima derita apapun walau itu membuat rongga dadanya serasa mau jebol dan batok kepalanya seperti bom yang siap meledak.

Sebisa mungkin, Issei memaksa tubuhnya yang sudah begitu kesakitan untuk mematuhi perintahnya, untuk membuat wajahnya mendongak dan menatap lawannya. Ekspresi penuh kebencian yang tidak berapa detik lalu ia lihat di wajah Raynare telah memberitahunya bahwa malaikat buangan itu siap melakukan apa saja untuk memperoleh Asia kembali, membuatnya sadar bahwa selama sang Datenshi dan bawahannya hidup, keselamatan Asia akan terus terancam dan takkan pernah menjadi sesuatu yang pasti. Namun bagi seorang Hyoudou Issei yang telah melihat ekspresi bahagia di wajah Asia, dia sadar bahwa dia takkan tahan, takkan bisa menerima, dan takkan bisa hidup kalau sampai gadis berambut pirang itu kembali dirampas dari sisinya.

Dia telah bersumpah untuk menyelamatkan Asia, sekarang dan untuk selamanya, dan agar tujuan itu tercapai, Issei menyadari bahwa Raynare tak bisa lagi dibiarkan hidup di dunia.

Tinju Issei terkepal dengan begitu kuat sampai semua tulang di buku tangannya berderak. "Kalian yang berani memanfaatkan Asia...!"

"Boost!"

Issei hampir saja hilang keseimbangan dan kesadaran ketika tenaga, sekaligus rasa sakit di tubuhnya lagi-lagi berlipat ganda. "Kalian yang berani menyakiti Asia!"

"Boost!"

Issei mengernyit dan giginya beradu keras ketika organ-organ dalamnya hampir gagal bekerja dan otot-ototnya hampir robek semua ketika dipaksa mengkontain energi Youki yang kembali berlipat ganda di tubuhnya. Tapi Issei berhasil mengendalikan dan menundukkan semua energi yang seharusnya sudah membuat tubuhnya hancur dan terurai menjadi serpihan-serpihan kecil itu hanya dengan tekad api dan baja.

"KALIAN YANG BERANI MEMBUAT ASIA MENANGIS!"

Issei mengangkat Sacred Gear-nya dan mengarahkan senjata itu ke depan, tak menyadari atau tak peduli bahwa satu dari tiga belas Longinus itu telah berubah bentuk menjadi sarung tangan besi yang menutupi seluruh permukaan tangannya. Sebentuk bola energi merah yang terbuat dari Youki murni tercipta, mengambang di depan Sacred Gear-nya, awalnya hanya sebesar kerikil, namun terus dan terus dan terus membesar.

Issei meraung dengan segala murka dan kemarahan yang membara seperti api Neraka di hatinya.

"KALIAN TAK AKAN KUMAAFKAN!"

"Explosion!"

Kalau ia ditanya apa yang membuat ia mengucapkan dua kata yang tercetus dari mulutnya satu detik kemudian, Issei hanya bisa menjawab bahwa dua kata itu muncul begitu saja di kepalanya seakan-akan memang sudah ada di dalam sana sejak ia pertama dilahirkan, atau karena ada sesuatu yang membisikinya.

"DRAGON SHOT!"

Dan jika di masa depan ia diminta untuk mendeskripsikan apa yang mampu ia lakukan dengan jurus itu, Issei akan menjawab bahwa dengannya, dia hanya bisa melakukan satu hal.

...Bahwa dengannya, Issei hanya bisa [Memusnahkan Segalanya.]

~•~

Di pintu gereja yang sekarang terbuka lebar, Naruto berdiri sendirian, tangan di kantong jaket, dan wajahnya menghadap ke depan.

Dia tak perlu menunggu lama, karena di kesunyian yang meliputi tempat gelap itu, ia bisa mendengar langkah-langkah yang semula hampir tak bisa didengar telinga namun terus dan terus menjadi lebih keras dari sebelumnya.

Hal pertama yang masuk ke pandangan Naruto adalah kepala penuh rambut cokelat tua, muncul dari lubang di depan salib yang setengah utuh, sampai akhirnya remaja yang hampir dua tahun lebih tua darinya itu muncul sepenuhnya dari apa yang Naruto ketahui sebagai tangga rahasia.

Hyoudou Issei, Iblis, teman sekelas, sekaligus teman dengan siapa Naruto telah memberikan sumpah setia sebagai seorang ninja.

Langkah yang diambil Issei dilakukan dengan lambat-lambat, sedikit kaku namun tetap pelan, seakan tak ingin membangunkan gadis berambut pirang yang sekarang terbaring di buaiannya. Wajah dan sekujur tubuh remaja itu kotor dengan percikan darah dan debu, namun Naruto harus mengakui bahwa ekspresinya terlihat begitu damai, seakan-akan tak akan tak ada hal lain yang lebih penting baginya daripada terus mengawasi gadis yang tertidur di gendongannya.

Mereka hanya terpisah dengan jarak paling banyak lima langkah ketika akhirnya Issei mendongak, dan ekspresi damai di wajahnya semakin dicerahkan oleh rasa lega ketika ia melihat bahwa teman sekelas yang telah membantunya menyelamatkan Asia ternyata berhasil memenangi pertarungannya sendiri dan tetap dalam kondisi baik-baik saja.

Bibir Naruto yang semula membentuk garis datar kini melengkung ke atas. "Kau juga minum pil yang kuning?"

Kalau saja lengan Issei tidak sedang digunakan untuk menggendong Asia dalam sebuah buaian, Iblis remaja itu pasti sudah mengusap kepalanya dengan malu.

Naruto menghela napas tanpa membuang senyuman. "Tidak usah pasang muka bersalah seperti itu. Seperti yang sudah kubilang, aku sama sekali tidak keberatan kau memakai pil itu selama kau bisa memenuhi tujuanmu." Shinobi pirang itu melirik gadis yang tertidur di pelukan Issei. "Dia bagaimana? Baik-baik saja?"

"Cuma kelelahan," paras Issei yang bersimbah keringat dan nampak begitu kehabisan tenaga itu kembali melembut saat matanya teralih ke wajah Asia. "Tapi setelah apa yang ia alami hari ini, aku tidak heran."

Naruto mengamati Issei selama beberapa saat sambil mengusap-usap dagunya. "Kau sendiri? Dari apa yang kulihat, kau bahkan seperti tidak kuat untuk hanya sekedar berdiri."

"Memang sakit sedikit," melihat ekspresi sangsi Naruto yang mengangkat sebelah alisnya, Issei kembali tersipu. "Oke, sangat sakit. Malah saking sakitnya, rasanya aku bisa pingsan kapan saja." Ia menoleh ke arah Asia lagi. "Tapi Asia sudah aman. Asal bisa memastikan itu, kurasa menghancurkan tubuhku adalah harga yang sepadan."

Naruto tertawa kecil. "Begitu dong. Jadi cowok harus tahan banting."

Issei ikut terkekeh. "Yah, daripada 'tahan banting', kurasa lebih tepat kalau kukatakan aku yang sekarang ini 'tahan bakar'."

Mereka bertukar sengiran. Tapi sebelum kedua remaja itu sempat tertawa lagi, mereka telah terlebih dahulu disela suara yang familier di telinga.

"ISSEI!"

Naruto menoleh dan Issei mendongak, hanya untuk mendapati bahwa, di halaman gereja terbengkalai itu, telah berdiri Iblis yang membangkitkan Issei kembali dari kematian sebagai Pion dan didampingi oleh semua anggota Peerage-nya.

"Buchou?" tanya Issei pelan, dan di sana ia juga menemukan sosok ketua OSIS yang berdiri satu langkah di belakang Rias, diapit oleh Saji dan Tsubaki. Mereka semua memiliki ekspresi yang sama, khawatir, penasaran, bingung, takut, dan marah dicampur jadi satu.

Issei menoleh ketika mendengar Naruto tertawa masam. "Naruto-san?"

"Ahh, Issei. Kurasa aku harus memberitahumu sesuatu," sahut Naruto yang sekarang mengusap tengkuknya dengan malu-malu, seakan-akan pandangan semua kaum Iblis yang berdiri di halaman membuatnya merasa seperti seorang anak yang tertangkap basah mencuri kue dari dapur. "Setelah kau meminum pil kuning itu, ledakan Youki yang kau keluarkan bisa terasa sampai lokasiku di tengah-tengah hutan."

Wajah Issei masih berkerut bingung, tak yakin apanya yang salah dengan hal itu.

"Tapi kalau aku yang manusia biasa saja sampai bisa merasakannya dari jarak sejauh itu," mata Issei mulai melebar oleh kesadaran. "Artinya ledakan energimu tadi cukup kuat untuk dirasakan semua Iblis yang ada di kota ini."

"Seluruh kota?" kedua remaja itu mendengar Kiba berkata, dan bagaimana Iblis berambut pirang lurus itu menatap Issei dengan mata yang bersinar tak percaya membuat Naruto merasa bahwa hipotesisnya telah keliru. "Seluruh kota? Youki yang datang dari tempat ini bisa dirasakan oleh seluruh pulau!"

"Tidak hanya itu," Rias menyambung dengan wajah berkeriut seakan bingung dia harus merasa marah atau bangga. "Tidak kepalang tanggung, energi Youki-mu bisa terasa bahkan oleh kaum Iblis di Meikai, yang adanya di dimensi lain!"

Naruto menepuk dahinya keras-keras dan melenguh panjang.

Issei hanya bisa melongo dan bertanya dengan nada tak mengerti. "...A-anu, memangnya itu buruk ya?"

Naruto mengangkat tangan dan menampar belakang kepala sobatnya.

To be Continued...

A/N: Bagaimana? Apa pendapat readers sekalian menyangkut pertunjukan Naruto dan penampilan Issei? Kalau anda menyukai chapter ini, atau benci atau marah atau apalah, tolong kasih hamba komentarnya!

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.