Standar Disclaimer Applied
.
.
.
Love & Choice © Tsurugi De Lelouch
.
.
.
Sakura Haruno & Sasuke Uchiha
.
.
Enjoying Reading & Reviewing
*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*
.
.
.
Ketika cinta datang padanya
Hal yang indah menemani di kehidupannya
Namun, saat pilihan ditentukan
Akankah cinta berpihak pada dirinya?
.
.
-2-
Bunyi serta getaran telepon genggam tidak mengusik ketenangan seorang perempuan yang tengah bergelut dengan data pasien—yang harus diselesaikan hari ini. Salahkan pemimpin rumah sakit tempat dia bekerja sekarang adalah Tsunade tak lain bibinya sendiri. Walaupun masih ada darah Haruno yang mengalir di pembuluh milik Tsunade, tak menampik wanita itu untuk pilih kasih.
Dreet… Dreet…
—kembali getaran untuk ketiga kalinya mampu membuat pemilik rambut musim semi ini membuka telepon genggam flip-nya. Tanpa melihat siapa yang menghubunginya, dia langsung mengangkatnya sambil menulis data pasien.
"Sepertinya nona Haruno sedang sibuk hari ini ternyata…"
Putri tunggal Kizashi Haruno ini menghentikan penanya lalu matanya mengerjap kaget. Suara berat khas yang dimiliki oleh penelepon sangat dikenalnya—kemudian dia melihat layar telepon genggamnya.
Sasuke Uchiha
Segera perempuan pemilik netra teduh itu membalas ucapan laki-laki yang seenaknya menganggu ketenangannya—yang tak lain adalah calon adik iparnya sendiri. Atau lebih menyakitkan lagi disebut—laki-laki yang berhasil mencuri hatinya itu.
"Baka! Kau mengangguku pekerjaanku, Sasuke!" gertak Sakura.
Terdengar kekehan pelan darisana. "Dimanapun dan kapanpun pekerjaan nomor satu—persis masa SMP dulu."
"Itu karena kau mendapatkan posisi nomor satu dan menjadi sainganku saat pemilihan ketua osis," gerutu Sakura. Namun dibalik itu, ada sejuta kupu-kupu yang menggelitik perutnya mendengar ucapan laki-laki itu.
"Tapi seberapapun usahamu, aku mendapatkan jabatan ketua osis walau aku harus rela berada di posisi kedua setelahmu.
Sakura tertawa kecil. "Salah sendiri terlalu fokus dengan jabatan ketua osis—jadinya terlantar dengan pelajaran… hihihi."
"Hei, jangan mengejekku, wakil ketua osis. Eh, tapi kau beruntung…"
Pemilik iris teduh itu langsung bangkit dari tempat duduk kemudian menyenderkan tubuhnya di dinding tepat samping jendela. "Beruntung apanya, Sasuke? Ja-jangan kau akan mengatakan 'kau perempuan beruntung bisa berduaan denganku dari sejuta fans disini…" tebak Sakura.
"Tanpa kuucapkan—kau sudah mengetahuinya. Beruntung sekali aku mempunyai bawahan sepertimu dulu."
Dulu. Satu kata yang mampu membuat lidah Sakura kelu sesaat. Ya, itulah hanya kenangan masa lalu yang akan menjadi bagian memori mereka berdua. sejenak perempuan musim semi itu terdiam hingga Sasuke yang berada diseberang telepon—mengatakan sesuatu.
"—ada apa, Sakura?"
"Sasuke, maksud perkataanmu saat di café itu hanya halusinasiku atau kenyataan?" tanya Sakura kemudian.
"Sakura, coba kau buka jendela kamarmu. Maka kau akan mendapat jawabannya…"
Sakura mengerutkan alis tanpa berpikir langsung membuka tirai jendela kamarnya. Alangkah terkejutnya, laki-laki yang berada dibawah tengah menyenderkan tubuhnya di mobil—dengan menempelkan telepon genggam di telinga. Laki-laki itu tak lain…
"Sasuke! Kau ternyata berpindah haluan menjadi seorang stalker!" tuduh Sakura cepat.
Netra kelam nan tajam membuka dan menatap perempuan manis di balik jendela dengan tatapan sulit diartikan. Seulas senyuman tipis menguar di bibir tipisnya. "Apakah jawabanmu sudah ditemukan, Sakura?"
"Aku hanya menemukan seorang stalker. Itu bukan jawabanmu, Sasuke!"
"Kurasa aku mempertanyakan kejeniusanmu di bidang kedokteranmu itu."
Sakura menggertakan giginya kesal lalu membuka pintu balkon kamar dan tatapan menyalak ditujukan pada Sasuke. "Ini tidak ada hubungannya dengan jurusanku, tuan penggemar tomat!"
"Aku disini berarti itu kenyataan. Dan perkataan di café itu adalah kenyataan."
"Aku tidak mengerti maksud dari kalimatmu, Sasuke."
Kembali tersenyum kecil. "Aku ingin mengonfirmasikan hari ini perkataanku di café itu kalau… aku… mencintaimu…Sakura Haruno adalah benar."
Hati Sakura seakan bergetar bahagia mendengar pernyataaan secara langsung tanpa beban—diucapkan oleh laki-laki yang memiliki perasaan sama dengannya. Tapi—sekarang keadaan berbeda. Mereka sudah terpisah satu benteng yaitu status dimana dirinya adalah tunangan kakaknya—Itachi.
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Disaat aku sudah memutuskan menjalani pertunangan dengan kakakmu," lirih Sakura.
Sasuke terdiam sejenak. "…Sakura, apakah kau memiliki perasaan yang sama denganku?"
"A-aku…"
"Aku meminta konfirmasi darimu sekarang juga," tegas Sasuke. "Kutunggu kau dibawah dan katakanlah didepanku apa jawabanmu itu," lanjutnya mematikan telepon genggamnya.
Kini Sakura tengah bimbang. Menerima perasaan manis dari orang dicintainya namun akan menyakiti keluarga dan tunangannya atau menolak dengan rasa penyesalan dan kesakitan tak berujung di kedua pihak.
—mana yang kau pilih kembali, Sakura?
.
.
.
.
.
.
Putra sulung Uchiha tengah termenung. Ini bukan kebiasaanya yang memikirkan sesuatu sangat lama. Kadangkala sesuatu itu hanyalah sebatas klien ataupun proyek yang ia tangani sebagai pemimpin. Namun sekarang yang melandanya saat ini adalah perasaan adiknya pada Sakura. Ceh, bisa dibilang perempuan itu adalah tunangannya.
—Tatapan sang adik pada Sakura. Bukanlah tatapan biasa antar teman namun ada satu yang tersembunyi di balik manik mereka. Tatapan itu adalah saling mencintai satu sama lain.
Tapi entahlah mungkin kesimpulan sementaranya. Namun dirinya tanpa sengaja menangkap gelagat aneh ketika dia mengunjungi perusahaan yang dipimpin oleh adik bungsunya. Sejenak raut kaget sesaat terpasang di wajah adiknya mendengar ceplosan perkataannya waktu itu.
Sambil mengetuk-ngetukan jari di atas meja kerjanya. Itachi memandangi jari manis di tangan kirinya yang terpasang cincin perak putih lalu berlambang Uchiha. Dia berpikir kalau benda ini seharusnya milik adiknya, akan tetapi—kenapa harus adiknya? Apakah gara-gara bersileweran reaksi yang berbeda dari adiknya bila menyangkut tentang Sakura.
—ini tidak boleh terjadi.
Pertunangan baru berjalan dua hari dan sudah memunculkan reaksi ketertarikan Itachi terhadap Sakura. Namun apakah sama dengan Sakura yang merasakannya? Mungkin saja dan suatu saat nanti—pasti Sakura akan merasakan hal yang sama dengannya.
Yakin akan nantinya—Sakura dan dirinya akan merasakan satu perasaan yang sama suatu saat nanti. Lebih baik dia egois untuk kebahagiaan dirinya sendiri daripada memikirkan tidak-tidak yang akan—membuatnya berpikir dua kali memutuskan sesuatu.
Ya, dia tidak akan kalah dengan adiknya. Walau sekarang dirinya berstatus tunangannya Sakura.
.
.
.
.
.
.
Sakura kini sudah tepat dihadapan laki-laki yang tengah menyilangkan kedua tangannya. Angin semilir menghembuskan di permukaan kulit mereka masing-masing. Sasuke sendiri mengulas senyuman tipisnya memandangi Sakura yang menundukkan kepalanya.
"Katakan ap—"
Grep…
Perkataan si bungsu Uchiha berhasil terpotong akibat Sakura langsung memeluknya. Dirinya menenggelamkan kepala di dada bidang milik Sasuke. Secara tak sadar tangan Sasuke mengusap kepala pemilik rambut musim semi itu dengan lembut dan mencium aromanya.
"Apakah jawabanku ini akan menyakiti perasaan kakakmu dan keluarga kita?" tanya Sakura.
"Memang apa jawabanmu, Sakura?" tanya balik Sasuke.
Sakura menggigit bibirnya lalu melepaskan pelukannya kemudian—mengadahkan pandangan ke atas. Dirinya sedikit merona melihat wajah tampan yang dimiliki si bungsu Uchiha. Merasa dipandangi oleh Sakura, Sasuke menarik dagu Sakura hingga tatapan mereka saling bertemu.
"A-aku juga—hmmph…"
Bibir tipis milik Sasuke Uchiha melumat bibir Sakura tanpa aba-aba. Sedikit tersentak Sakura berusaha melepasnya karena walau dia merasakan hal yang sama akan tetapi ini salah. Karena posisi mereka berbeda. Dia adalah calon kakak iparnya Sasuke. Ini akan menyakiti keluarga mereka dan Itachi sendiri. Munafik kalau dia tidak menerima ciuman lembut dari Sasuke.
Lumatan-lumatan lembut mampu membuat Sakura memejamkan mata untuk menyesapinya sesaat. Walau sebentar… beberapa menit mereka bersama saling mengecap rasa manis satu sama lain. Tidak peduli dengan langit dan tanah yang mereka pijak sebagai saksi bisu dengan hubungan semu mereka.
Lidah mereka saling beradu satu sama lain, tidak mau saling mengalah—sampai saliva mereka mengalir di sudut bibir mereka. Lalu kedua pasang mata yang berbeda warna itu membuka dan saling menatap—seraya merasakan perasaan yang membuncah di hati mereka masing-masing.
Tak diam, tangan Sasuke mendorong punggung Sakura agar pagutan mesra mereka semakin intens. Begitu juga dengan perempuan musim semi yang menjambak rambut raven milik Sasuke. Merekapun melepas pagutannya dengan napas terengah-engah, namun tanpa tendeng aling—Sasuke menenggelamkan kepala di leher Sakura dan menciumi bagian itu hingga desahan tertahan dari bibir Sakura.
Bukan itu saja, bahkan sampai menjilatnya sampai menggigit leher itu dengan tandanya. Kemudian Sasuke menghentikan kegiatan itu dan menatap wajah manis Sakura yang sempat mengeluarkan desahan kecilnya. Setelah Sakura mendapat kesadaran kemudian dia melotot kepada Sasuke yang tanpa izin menyematkan tanda di lehernya.
"Apa yang kau lakukan, Sasuke?! Bagaimana kalau keluarga kita tahu atau kakakmu tahu tentang ini!"
"Lupakan tentang kakakku itu, Sakura. pikirkan kita berdua saja," dengus Sasuke.
"Sasuke, aku tunangan—"
"Sekarang kau adalah pacarku," potong Sasuke cepat.
"Jangan memutuskan seenaknya. Kita bukan sepasang remaja lagi tapi—"
Sasuke menggeram kesal. "…ucapanmu dan perasaanmu bertolak belakang. Buktinya kau menerima cintaku lalu membalas ciumanku. Bisakah jangan memikirkan hal yang lain?"
"Ini bukan dirimu, Sasuke."
"Sakura, dengar kita berpacaran diam-diam dan jika didepan keluarga kita—maka aku akan menganggap dirimu adalah calon kakak ipar. Aku tak mau kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya," mohon Sasuke.
Sakura tidak menjawab malah memeluk tubuh bungsu Uchiha. Bagi Sakura, inilah kesempatan walau hanyalah semu. Sebelum dia menyematkan marga Uchiha dan menjadi bagian dari kehidupan Itachi. Biarkan perasaan cinta ini membutakannya dan menikmati masa indah walau sesaat ini.
"I love you…"
"Love you too, Sakura."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Chapter two End*
Y*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*Y
Maaf ya jikalau pendek ataupun datar. Dengan updatean fic ini, kemungkinan aku semi hiatus dulu karena kesibukan sebagai mahasiswa semester 6 mendekati Ujian, banyak tugas dan laporan harus kuselesaikan.
Untuk review kemarin arigatouuu ya :3 nanti namanya digabung dengan review chapter ini.
Palembang, 18 Mei 2013
Tsurugi De Lelouch
