Galerians, in.

A/N: Seperti yang sudah bisa anda duga, hamba memang tak pernah berniat membuat Naruto jadi satu-satunya protagonist di fic ini. Sejujurnya, hamba cukup suka karakter Issei di Highschool DxD, hanya saja kadang prioritasnya itu lho yang bikin hamba gregetan pingin ngehajar tu anak. Saat dia harusnya lebih peduli dengan nyawa orang lain yang mungkin melayang (episode 12, Highschool DxD New), hal yang paling meningkatkan kekuatannya malah ketika diberitahu bahwa Vali bisa membuat dada Rias mengecil ke setengah ukuran semula. Maksud hamba di sini adalah, Vali mengancam akan membunuh orangtuanya, Rias, bahkan Asia, tapi Issei malah paling marah ketika menyangkut masalah payudara yang mengecil?!

Okay, I'm done ranting. Please proceed to read the chapter.

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Goes into A High School

Chapter 5

(The Two Fools are in Big Trouble?! A Demon Lord Comes to Visit!)

Suasana klub Occult Kenkyu-bu malam itu terasa berbeda, bukan karena penerangan lilin yang masih temaram, tapi karena jumlah orang-orang yang berkumpul di dalamnya. Di tengah-tengah ruangan, tepat di depan meja kerja sang ketua, seorang remaja gadis berambut pirang panjang tertidur nyenyak di atas sofa dengan sebuah bantal untuk menopang kepalanya dan selimut tebal untuk menutupi tubuhnya. Di seberang sofa itu, satu sofa lain yang seharusnya berhadapan kini sudah diputar agar menghadap ke dinding, diduduki oleh dua remaja putri yang berasal dari kaum Iblis tulen.

Satunya bernama Shitori Souna, alias Sona Sitri, gadis muda dengan rambut hitam pendek, mata ungu violet, serta kacamata yang membuat pembawaannya menjadi terlihat pintar nan cerdas dan duduk di sebelah kiri. Satunya lagi, yang duduk di sebelah kanan, adalah Rias Gremory, gadis seusia Sona yang sama-sama merupakan ahli waris Klan mereka masing-masing, dengan ukuran dada hampir dua kali lipat dari sahabatnya dan rambut berwarna merah menyala yang begitu panjang sampai menyentuh bantalan sofa tempatnya duduk sekarang.

"Jadi walau kau sudah diberitahu kenapa aku melarangmu, walau kau sudah tahu ulahmu ini memiliki konsekuensi, kau masih saja pergi?"

Hyoudou Issei, remaja tujuh belas tahun dan baru saja menjadi Iblis, yang duduk bersimpuh dengan tangan terkepal di atas lutut di lantai di depan sofa itu hanya bisa mengangguk dengan wajah tertunduk. Ia melirik ke samping dan menahan keinginan untuk mengerang miris ketika melihat teman sekelasnya yang sama sekali tak mengacuhkan hawa marah dari dua gadis muda di depannya. Namikaze Naruto, remaja berambut pirang yang memiliki profesi sebagai seorang ninja itu malah memilih duduk bersila, sebuah kompor portabel yang ia peroleh entah dari mana kini menyala di bawah sebuah ceret yang mulutnya masih menguarkan uap sebagai pertanda air mendidih di dalamnya, serta sebuah kotak kardus penuh berisi cup ramen di sebelahnya.

Sebuah lenguhan puas kembali bergema di ruangan yang diterangi cahaya temaram itu ketika Naruto menghabiskan mi instan yang kesepuluh sampai ke sisa kuahnya, sebelum kembali meraih cup ramen lain yang sudah dia siapkan sebelumnya tanpa memedulikan urat-urat kekesalan yang bermunculan di pelipis Rias dan Sona.

"Naruto-san~!" Issei merengek panjang, meminta pertolongan sekaligus memohon agar Naruto lebih sadar akan situasi berbahaya yang mereka alami sekarang.

"Hm?" Naruto menoleh dengan mata biru langit yang bersinar polos dan bibir yang masih menjepit beberapa lembar mi. Ia mengunyah, menelan, lalu menyahut. "Ada apa?"

"Satu-satunya 'ada apa' di sini adalah kau!" Rias menunjuk-nunjuk wajah Naruto dengan emosi. "Kenapa kau bisa-bisanya makan mi dengan tenang ketika ada masalah penting seperti ini sih?!"

Naruto memasang wajah cemberut sembari memanyunkan bibir. "Tapi aku kan lapar..."

"Lapar sih lapar, tapi sampai sebelas biji?!"

"Ya aku kan sudah tiga hari belum makan," sahut Naruto sebelum membusungkan dada seakan-akan sedang bangga. "Lagipula, aku kan masih dalam masa pertumbuhan."

"Persetan dengan masa pertumbuhan!" Rias yang sudah habis kesabaran berteriak, rambut merahnya mulai terangkat dan melayang-layang dalam aura kemarahan. "Apa kau tidak sadar kalau kita sedang dalam masalah?! Tapi setelah tingkahmu malam ini, kau malah berani-beraninya makan mi?! MI?!"

"Oi," Naruto menyahut dengan nada tersinggung. "Aku kan anak indekos, jadi memangnya salah ya kalau aku makan mi? Selain ekonomis, kau tahu nggak kalau cup ramen ini makanan kaum dewa—"

"AKU NGGAK PEDULI!"

Naruto hanya mengamati Rias yang sudah melotot berapi-api selama beberapa saat, sebelum mengalihkan matanya ke Akeno yang berdiri di sisi sofa beserta semua sisa Peerage-nya. "Himejima-san, bosmu ini lagi datang bulan ya? Ngomel-ngomel mulu nih kerjaannya."

Pertanyaan yang dihaturkan dengan nada polos namun penuh hinaan itu membuat Rias kembali seperti orang yang baru diserang gegar otak, mulutnya yang mangap-mangap hanya bisa mengucapkan satu kata berulang-ulang. "Kau...! Kau...! Kau...!"

Naruto sekarang menoleh ke arah Issei yang mulutnya turut ternganga. "Sial benar kau, Issei," Ia menatap sobatnya itu dengan mata penuh rasa kasihan. "Kau sudah jadi korban pembunuhan, tapi rupanya Tuhan menganggap itu belum cukup, dan sekarang kau malah dapat majikan temperamental yang suka bertingkah seperti kaset sendat." Naruto meraih bahu teman sekelasnya itu sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Nasibmu benar-benar naas. Kudoakan semoga kehidupanmu lebih bahagia di alam selanjutnya."

"Kenapa kau ngomong seakan-akan aku mau mati sih?!"

Naruto tidak menjawab dan hanya mengacungkan jari telunjuknya ke depan.

Setelah mengikuti arah jari Naruto, wajah Issei langsung kehilangan warna sehat saat mendapati bahwa Iblis yang sudah menyelamatkan nyawanya sekarang sudah berdiri tegak. Matanya tak terlihat karena tertutup oleh bayangan hitam, satu ujung mulutnya nampak seperti kejang-kejang, dan rambutnya melayang-layang dalam kemarahan. Tangan kirinya terkepal kuat di samping tubuh, dan yang paling akhir serta yang paling membuat Issei ketakutan, tangan kirinya terangkat dengan energi Youki hitam bernuansa merah terbentuk di atas telapak tangannya.

Di sampingnya, Sona menghela napas sembari memijit batang hidungnya.

"B-B-Buchou..." Issei berkata terbata-bata sambil berusaha beringsut ke belakang secepat yang ia bisa. "T-tenanglah, Buchou. Kita bisa membicarakan ini baik-baik tanpa perlu kekerasan..."

Rias tak menggubris permohonan Issei. "Ne~, Namikaze~" gadis Iblis yang berdiri dengan postur mengancam itu bicara dengan senyuman lebar yang terlihat palsu dan suara yang dimanis-maniskan. "Ada kata-kata terakhir yang mau kau ucapkan sebelum kepalamu kuledakkan...?"

Naruto bersidekap dengan wajah berkerut seperti orang yang sedang berpikir keras. "Ah," dia menepuk telapak tangan kiri dengan kepalan tangan kanan. Shinobi remaja itu nyengir lebar. "Boleh aku makan satu cup ramen lagi?"

"NA~MI~KA~ZE—!"

"Karena Issei kau jadikan Iblis tanpa meminta persetujuannya."

Keheningan tercipta hanya dengan satu kalimat dan suasana yang semula ringan, walau terkesan mematikan, langsung berubah menjadi berat. Youki berkekuatan tinggi yang sudah siap dilontarkan di tangan Rias pupus tanpa suara, dan pemiliknya kini tertegun seperti tak tahu harus bicara apa.

"...Hah?" adalah satu-satunya sahutan anggun dan sarat makna yang terlepas dari bibir Rias.

"Itu alasan pertama yang akan kita pakai: karena Issei kau jadikan Iblis tanpa meminta persetujuannya," Naruto mengulangi. "Aku tak tahu mengenai anggota-anggota Peerage-mu yang lain, dan jujur kuakui aku tak peduli, tapi satu hal yang kutahu pasti adalah Issei sudah mati ketika kau membangkitkannya sebagai bangsa Iblis. Dia tidak punya pilihan selain menerima karena dia memang sudah tidak dalam kondisi untuk menolak. Yang dia tahu hanyalah bahwa dia telah meninggal, mati dibunuh, dan tahu-tahu saja besok harinya dia terbangun sebagai seorang Iblis dan bukannya manusia."

"Walau kau menyelamatkannya dari kematian, reinkarnasinya menjadi Iblis tetap membuatnya shock sehingga kau memberi Issei waktu untuk merenungkan fakta bahwa dia takkan pernah menjadi manusia lagi. Secara otomatis, agar Issei tidak menjadi semakin terguncang, kau memutuskan untuk tidak memberitahunya tentang hal apa saja yang harus ia ketahui sebagai seorang Iblis, baik itu kewajiban, sejarah Tiga Fraksi Besar, atau peraturan yang tidak boleh ia langgar."

"Di kurun waktu yang kau berikan agar Issei bisa menerima kenyataan, Issei bertemu Asia, serta mendapati bahwa gadis itu telah dimanfaatkan oleh seorang Datenshi yang secara kebetulan merupakan orang yang sama dengan yang membunuh Issei beberapa hari silam. Tanpa memiliki pengetahuan tentang gencatan senjata antara kubu Iblis, Malaikat, dan Datenshi, Issei pergi untuk menyerang Raynare, tak hanya demi menyelamatkan Asia, tapi juga demi membalas dendam karena Datenshi itu telah membunuhnya."

"Itulah kedok cerita yang akan kita pakai kalau ada yang menanyakan 'Apa' atau 'Kenapa'." Naruto berhenti sebentar sembari mengedarkan pandangan. "Ada pertanyaan?"

Seluruh ruangan kini sudah terdiam, semua pasang mata tertuju ke arah shinobi yang sekarang menjadi pusat perhatian. Rias telah kehilangan ekspresi marahnya dan sudah terhenyak kembali ke sofa, matanya lebar dan mulutnya sedikit terbuka, sesuatu yang ditiru hampir oleh semua Iblis lain di ruangan, terkecuali Shitori Souna.

Sang ketua OSIS nampak membenarkan kacamatanya, sebuah tindakan yang menjadi ciri khas ketika Iblis muda itu sedang berpikir keras. "Masuk akal. Jika Evil Pieces digunakan untuk mereinkarnasi manusia yang tidak memilih untuk menjadi Iblis, entah karena mereka sudah terlebih dulu mati atau alasan lainnya, memang sangat dianjurkan agar mereka diberi waktu setidaknya beberapa hari agar bisa menerima kenyataan bahwa mereka bukan manusia lagi. Dan dengan kedok cerita seperti itu, nama Rias akan bersih dari tuduhan." Sona memberi analisa, sebelum menatap sosok sang remaja pirang yang duduk bersila dengan tangan bersidekap di depannya.

"K-kau..." Rias terbata. "Kau memikirkan semua itu...?"

"Tentu saja," Naruto mendengus seakan-akan membuat kedok cerita yang baru ia sampaikan adalah sesuatu yang wajar dan bukanlah hal yang patut diberi perhatian berlebih. "Kalau urusan Datenshi yang hanya sekelompok kecil seperti ini saja sudah membuat nyawa manusia terancam bahkan sampai jatuh korban," Ia melirik Asia dan Issei bergantian. "Aku tak mau membayangkan berapa orang tak bersalah yang mungkin akan terluka atau terbunuh kalau pertikaian antara kubu-kubu dari Akhirat kembali pecah. Walaupun aku memang seorang ninja, aku lebih memilih perdamaian daripada peperangan."

Sona mengangguk, dia bisa menghormati jalan pikiran seperti itu. Dia mungkin hanya tahu mengenai Perang Akbar di Akhirat melalui buku atau cerita, tapi jika perang yang terjadi ribuan tahun silam itu sampai membuat spesies Iblis, Malaikat, dan Datenshi hampir punah, Sona merasa bahwa menjaga agar gencatan senjata tidak berakhir adalah keputusan terbaik.

Sang ketua OSIS kembali menatap remaja pirang yang sudah tidak ia temui selama tiga hari terakhir itu. "Tapi tentunya kau sadar, Namikaze-kun. Kalau kita memakai kedok cerita ini, walau Rias bebas dari tuduhan, kesalahan sepenuhnya akan jatuh pada Hyoudou-kun."

"Memang begitu tujuannya, Shitori-san. Tapi setidaknya, Issei tidak akan sendirian," mendengar pernyataan itu, Issei yang tadi sudah tertunduk pasrah dengan cepat menoleh ke arah teman sekelasnya yang terus menatap ke depan dengan ekspresi tanpa keraguan. "Kita juga akan menambahkan fakta bahwa aku telah membantunya, lalu menambahkan cerita bahwa Issei membuat keputusan untuk menyerbu tempat itu karena aku yang memengaruhi dan menghasutnya. Dengan begitu, tidak seluruh kesalahan akan dibebankan pada Issei, dan kalaupun dia tetap diminta bertanggungjawab atas perbuatannya, maka paling tidak aku bisa mengemban hukuman itu bersamanya."

Issei tertegun sesaat, perlahan-lahan sadar bahwa Naruto rela ikut menanggung beban yang diakibatkan oleh keputusannya menolong Asia. "Naruto-san..." Issei berbisik dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. "Kau... kau serius? Kau benar-benar bersedia melakukan itu untukku?"

"Aku telah bersumpah untuk mendukung dan membantu seperti apapun keputusanmu, Issei. Jangan anggap remeh sumpah setia seorang ninja," Naruto menelengkan kepala sedikit ke arah teman sekelasnya dan tersenyum tipis. "Lagipula, itulah gunanya teman kan?"

Issei sekarang sudah sesenggukan, air matanya mulai menetes dan bibirnya gemetaran. "N-Naruto-san..."

Naruto yang menyaksikan tubuh temannya yang mulai bergetar tiba-tiba diserang firasat buruk. "Oi, kau mau ap—Geboh!"

Issei yang menubruk Naruto mengalungkan kedua lengannya kuat-kuat ke sekeliling tubuh teman sekelasnya, menangis dengan air mata bercucuran, ingus yang berlelehan, serta wajah yang menempel ke dada sang shinobi pirang. "Huwaaa~! Naruto-san~!"

"WOY! LEPASIN, SETAN!" tapi Issei yang sudah terlalu jauh tenggelam dalam rasa haru sama sekali tidak mendengarkan. Firasat buruk yang sudah bersarang dalam hati Naruto semakin menjadi-jadi ketika ia merasakan pelukan Issei yang menempel ke sekeliling dadanya itu terus dan terus bertambah kuat. "Oi, Issei, ingat tenagamu! Rusukku—!"

KRAK.

"NGAAAAH!"

~•~

"Rasakan itu, Iblis bego!" Naruto menepuk-nepuk tangannya, mendengus puas sambil berdiri menjulang di depan tubuh Issei yang terkapar, penuh memar-memar dan benjol-benjol yang masih berasap. "Kau lupa kalau aku ini cuma manusia ya?! Senang sih boleh-boleh aja, tapi meluk orang juga ada batasannya, tahu!"

"D-dia..." Saji ternganga sambil mengangkat telunjuknya yang gemetar. "Dia menghajar seorang Iblis dengan tangan kosong, tanpa memakai kekuatan apa-apa..."

Sebelum ada orang lain yang sempat berkomentar, Issei yang seharusnya sudah babak belur tiba-tiba melompat berdiri lagi seperti tak merasakan sakit apa-apa. Dengan senyum lebar dan mata yang berbinar-binar, remaja tujuh belas tahun itu kembali menghambur ke depan dengan tangan terentang.

"Naruto-san~!"

"Hiaat!"

Sang shinobi berambut pirang mencekal kerah blazer Issei, dan dengan memanfaatkan momentum yang tercipta dari gerakan teman sekelasnya itu, Naruto memutar tubuh dan melemparkan Issei ke seberang ruangan, terbang menghantam pintu yang ambruk berantakan.

"Mampus kau, anak edan!" teriak Naruto yang sudah mulai terengah. Akan tetapi, ketika Naruto mengira bahwa dia sudah menang, Issei kembali bangkit dan langsung kembali melesat ke arahnya, membuat Naruto berbalik dan mulai berlari mengelilingi ruangan itu sembari dikejar-kejar terus oleh teman sekelasnya. "Cetar membahana! Dosa apa aku kemarin, Kami-sama~?!"

"Hmh...?" mungkin karena dia sudah puas istirahat, atau karena keributan yang dibuat oleh Issei dan Naruto, Asia terbangun dari tidur lelapnya sebelum duduk dan melihat berkeliling sambil mengucek-ngucek mata. "Issei-san...?"

"ASIA!" dengan gerakan otomatis yang mungkin disebabkan oleh reflek dari rasa khawatirnya atas keadaan sang gadis biarawati, Issei mampu mengubah fokus pikirannya dengan begitu cepat dari mengejar-ngejar Naruto dan melompat menyeberangi ruangan itu untuk berlutut di samping sofa tempat Asia berada. "Asia, kau tidak apa-apa?! Apa ada yang sakit?! Apa kau lapar, atau haus?! Apa kau perlu ke kamar mandi untuk pipis—Buhh!"

Cercaan rantai pertanyaan penuh kekhawatiran Issei, yang membuat wajah Asia terus berubah warna sampai hampir merah padam tiba-tiba macet di tengah jalan ketika Naruto menjitak kepalanya sampai kepala penuh rambut cokelat tua itu mampir ke lantai.

"Kau sadar nggak kalau jalur pertanyaanmu itu sudah mulai meleng ke pelecehan seksual?!" dia mengomel sambil berkacak pinggang, membuat Asia menoleh ke arah remaja dengan rambut berwarna sama dengan rambutnya namun tidak ia kenal siapa itu.

"T-t-tapi...!" Issei kembali melompat berdiri tanpa jeda, membuat semua kaum Iblis di ruangan itu mulai melihatnya seperti batu karang yang sama sekali nggak terpengaruh meski sudah dihajar sampai sedemikian rupa. "Tapi aku kan cemas...!"

"Dan seperti yang tadi sudah kubilang, aku nggak peduli mau kau lagi senang atau cemas atau marah, semua itu ada batasannya!" Naruto menghardik balik sambil menunjuk wajah Asia. "Lihat, gara-gara pertanyaanmu, wajah Asia sampai merah seperti itu! Di mana sopan santunmu?!"

"A-anu..." Asia menyela kedua remaja yang mulai ia lihat sebagai teman dekat itu. "Issei-san, boleh aku tahu ini siapa...?"

Tiba-tiba saja, Naruto menghilang dari sisi Issei dan sudah ada di tengah-tengah ruangan. Berdiri dengan pose menyamping, Naruto merentangkan tangan kirinya ke depan dan tangan kanan ke belakang, tubuhnya merendah dengan kaki terkangkang lebar dan lutut ditekuk sehingga membuatnya terlihat seperti orang sedang berselancar di ombak lautan.

Semua pasang mata melebar shock ketika dengan ajaib musik instrumen Kabuki mulai bermain, menghampiri gendang telinga mereka namun tak diketahui dari mana asalnya.

Semua mulut ternganga lebar-lebar ketika Naruto memulai monolognya sembari mulai melompat-lompat dengan satu kaki.

"Aku adalah laki-laki yang telah menjelajahi seluruh dunia! Langit rupawan adalah atapku dan Bumi dermawan adalah ranjangku! Setiap derap langkahku memaksa jiwa musuh gemetar dan kepiawaianku membuat hati rekan berdebar! Tak peduli siapa yang harus kuhadapi di medan pertarungan, hatiku takkan pernah gentar maupun ragu! Manusia telah kukalahkan, Youkai telah kutundukkan, dan Iblis telah kutaklukkan!" Ninja pirang itu memutar kepalanya mulai dari pangkal lehernya satu kali. "Patri namaku di ingatan dan kenangan kalian karena akulah Sang Jagoan! Perkenalkan, Namikaze Naruto!"

Reaksi yang datang dari penontonnya bermacam-macam. Rias beserta bawahannya hanya bisa terdiam dengan mata berkedip-kedip seperti tak bisa mencerna hal gila macam apa yang baru saja mereka pandang. Issei dan Asia sibuk ber-'ooh' dan ber-'aah' ria dengan mata yang bersinar berkelip-kelip seakan baru saja melihat sesuatu yang menakjubkan. Dua anggota OSIS pimpinan Sona berdiri dalam postur beku, rahang mereka tergantung dan mulut ternganga selayaknya orang yang tak tahu harus mengatakan apa.

Sona hanya bisa mengurut pelipisnya sembari menutup mata dan melepaskan hembusan napas yang panjang, hatinya berharap untuk mengakhiri malam ini tanpa sakit kepala yang bisa membuat tidurnya tak tenang.

Ketika melihat bahwa ia hanya berhasil mengumpulkan dua reaksi positif dari pertunjukkan yang baru ia suguhkan, Naruto kembali bersidekap sambil mencubit dagu. "Hmmh, penampilan Ero-sennin masih jauh lebih baik. Atau mungkin performaku yang kurang karena rambutku tidak panjang?"

"Oh? Tapi kurasa yang tadi itu sudah cukup menarik."

Reaksi Naruto adalah sesuatu yang instan. Sebelum sempat suara yang tidak ia kenal itu menyelesaikan kalimatnya, Naruto telah lebih dulu berkelebat ke depan Issei dan Asia dalam lesatan yang tak terlihat mata, tangan kirinya yang terentang melindungi kedua remaja itu kini memegang sebuah kunai bercabang tiga yang tidak ketahuan kapan muncul di genggamannya, dan telapak tangan kanannya kini mengarah ke atas dalam setengah cengkeraman dengan sebuah bola energi Chakra murni, yang berpusar ganas dan mengeluarkan suara seperti jet pesawat terbang, dapat dilihat mengambang di udara.

Terkecuali Issei dan Asia yang terlindung di balik punggung Naruto, semua kaum Iblis remaja yang sekolah di Akademi Kuoh tersebut langsung merasa napas mereka tercekat ketika nafsu membunuh yang sangat menyesakkan dan tak pernah mereka rasakan sebelumnya memenuhi ruangan, sesuatu yang hadir bersamaan dengan mata biru langit Naruto yang menajam dan bersinar mengerikan di tengah-tengah kegelapan.

"Siapa kau?" dua kata tersebut diucapkan dengan nada datar dan tak menyimpan emosi, hanya sebuah pertanyaan yang tak menuntut apalagi mengancam, namun menyembunyikan gelimbang besi seperti senjata setajam belati yang selalu siap untuk disabetkan.

"Naruto...san...?" Issei berbisik, masih tidak mampu mencerna situasi ataupun mengerti kenapa teman sekelas yang telah mengucapkan sumpah setia padanya itu bisa berubah sikap seratus delapan puluh derajat dalam waktu yang teramat singkat.

Tawa kecil terdengar dari arah pendatang baru di ruang klub Occult Kenkyu-bu, suara yang menyenangkan dan ramah ketika membelai gendang telinga namun gagal melunakkan suasana karena postur Naruto malah menjadi semakin tegang.

Issei tersentak dan mulai mengambil ancang-ancang untuk memanggil Sacred Gear-nya, mengeraskan nurani untuk bersiap melaksanakan pertarungan. Siapapun orang yang ada di depan Naruto itu, dia telah membuat temannya menjadi begitu waspada dan bagi seorang Hyoudou Issei, itu adalah alasan yang cukup untuk ikut siaga.

"Kuulangi lagi." suara Naruto yang tadi datar sekarang menyimpan dingin. "Siapa kau?"

Akan tetapi, apa yang ingin Naruto ketahui tidak datang dari orang yang mana pertanyaan itu ditujukan, karena jawaban itu diucapkan oleh suara yang lain.

"Onii-sama?!"

"'Onii-sama'?" Ulang Issei sambil melirik sang Buchou. Remaja tujuh belas tahun itu menunduk untuk mengintip lewat bawah lengan Naruto. Di sana, berdiri sekitar tiga langkah dari daun pintu yang remuk, adalah seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan pakaian yang meneriakkan statusnya sebagai kaum bangsawan, namun yang paling mengejutkan Issei adalah rambut dan matanya, yang memiliki warna sangat identik dengan rambut dan mata ketua klub Occult Kenkyu-bu. "T-tunggu dulu... 'Onii-sama'? Buchou tadi memanggilnya 'Onii-sama'?"

Dia tersentak dan menunjuk ke arah sang pendatang baru dengan jari telunjuk yang gemetar. "...J-jadi dia kakaknya Buchou?"

"Maou-sama!"

Entah siapa yang berseru, Issei tidak tahu pasti, namun ketika julukan itu disuarakan, semua kaum Iblis di ruangan itu seakan tersadar dari lamunan. Mereka langsung berdiri tegak sebelum berlutut di depan sang pria berpenampilan bangsawan, membuat Issei dan Asia saling tatap kebingungan.

"Maou?" tanya Naruto dengan suara yang masih dingin dan bernada berbahaya. Dia mulai mengerti sekarang kenapa orang yang bisa menyusup di belakangnya tanpa ketahuan ini membuat semua alarm di kepalanya berbunyi nyaring. Kurama bahkan memperingatkannya untuk ekstra hati-hati saat menghadapi orang ini. "Kenapa seorang Raja Iblis datang ke dunia manusia? Ada apa ini?"

Pria dengan rambut merah sebahu itu kembali tertawa kecil. "Ahh, maaf, maaf. Perkenalkan, namaku Sirzechs Lucifer." Dia tersenyum ramah. "Setelah datang tanpa memberi kabar atau peringatan, harusnya aku sudah bisa mengira akan disambut seperti ini."

"Tidak usah basa-basi dan jawab pertanyaanku, Iblis."

"Hei...!" Tsubaki mendesis. "Jaga nada bicaramu...! Apa kau masih belum sadar kalau kau sedang berhadapan dengan salah satu dari empat penguasa Meikai...?!"

"Kaukira kenapa lagi aku bersikap seperti ini, hah?" Naruto membalas tanpa mengalihkan matanya yang masih bersinar dari orang yang memperkenalkan diri dengan nama belakang Lucifer itu. "Setelah mengetahui bahwa Youki Issei bisa terasa sampai ke dimensi lain, tentu saja aku sudah mengira-ngira mereka akan mengirim seorang utusan. Yang aku tidak mengerti, kenapa yang datang kemari adalah seorang Raja Iblis sendiri?"

"Alasan pertama aku datang secara pribadi adalah karena aku kakak Rias Gremory, yang berarti, anak muda bernama Hyoudou Issei yang membutuhkan delapan biji Pion Evil Pieces agar bisa dibangkitkan kembali dan sedang berdiri di belakangmu itu adalah anggota Peerage adikku tersayang," Sirzechs menjelaskan dengan sabar seperti tak ingin memperburuk konfrontasi dengan remaja berambut pirang di depannya. "Alasan kedua, adalah karena aku ingin menyambut bergabungnya Sekiryuutei (Red Dragon Emperor), sang pengguna Boosted Gear, di kubu kaum Iblis secara pribadi."

"Sekiryuutei? Boosted Gear?" Issei bertanya bingung.

"Oh, kau belum tahu? Ah, aku mengerti, kau baru saja dibangkitkan jadi Iblis jadi kau bisa dibilang masih dalam masa orientasi. Agar tidak membuatmu makin shock, Rias pasti belum menjelaskan semuanya padamu."

Komentar yang dinyatakan masih dengan nada santai itu mengkonfirmasi apa yang ditakutkan oleh Naruto, bahwa sang Maou ini telah mendengarkan pembicaraan mereka dari awal sehingga dia juga mengetahui kedok cerita yang akan mereka pakai untuk melindungi status Rias.

Mungkin dia melihat Naruto yang semakin resah dan semakin dikuasai oleh rasa waswas, tapi ketika mereka bertemu tatapan sekali lagi, Sirzechs mengedipkan satu matanya. Gestur yang cepat, kecil, dan sama sekali tidak ditangkap oleh orang selain Naruto itu memberitahu sang shinobi pirang bahwa pria ini memang benar-benar kakak Rias, dan menyiratkan bahwa ia juga setuju untuk menggunakan kedok cerita Naruto demi melindungi nama baik adiknya itu.

Ketika personifikasi Bijuu yang ada dalam benaknya memberi konfirmasi bahwa dia juga tak merasakan emosi negatif dari Sirzechs, ekspresi keras di wajah Naruto langsung melunak, matanya berhenti bersinar, dan Rasengan yang mengambang di atas tangan kanannya pupus ke udara.

Melihat perubahan sikap sang shinobi yang menjadi sedikit lebih bersahabat, senyum Sirzechs bertambah lebar. Ia kembali menghadap Issei untuk melanjutkan penjelasannya. "Sekiryuutei adalah gelar yang diberikan untuk pemakai Boosted Gear, nama dari Sacred Gear yang kau miliki itu."

"Boosted... Gear?" ucap Issei sambil menatap tangan kirinya dengan mata lebar. "Jadi nama Sacred Gear-ku bukannya Twice Critical, tapi Boosted Gear?"

"Benar," Sirzechs mengangguk. "Rias telah memberitahuku dalam salah satu suratnya bahwa karena dia takut kau tidak bisa menampung kekuatan dari delapan potong Pion saat baru saja dibangkitkan, dia telah memasang sihir yang berlapis-lapis untuk menyegel semua Youki-mu sembari menunggu tubuhmu cukup kuat untuk menanggung semua kekuatan itu."

Senyuman di wajah Sirzechs menjadi semakin lebar dan diwarnai oleh kekaguman serta rasa bangga. "Bayangkan rasa terkejutku ketika malam ini, aku menemukan bahwa kau tidak hanya berhasil menghancurkan sihir-sihir berlapis yang menyegel kekuatanmu, tapi kau juga berhasil mengeluarkan seporsi besar kekuatan penuh yang bisa diberikan oleh Boosted Gear. Walau hal itu hanya berlangsung selama beberapa detik, energi yang kau kobarkan memiliki intensitas yang sebegitu kuat sampai aku bisa merasakannya dari kantorku di Meikai. Dan kalau itu masih belum cukup, aku datang kemari sambil merasa setengah takut kalau-kalau aku akan mendapati Pion terbaru milik adikku tersayang akan terbaring koma, kalau tidak sekarat, karena sudah mengeluarkan energi berukuran raksasa seperti itu, hanya untuk kembali dikejutkan karena ketakutan itu terbukti keliru."

"A-ah, terima kasih, tapi kurasa aku tidak pantas mendapat dipuji seperti itu," Issei menyahut dengan pipi merona merah sembari mengusap tengkuknya untuk menahan rasa malu. "Satu-satunya alasan aku bisa melakukan semua itu adalah karena aku ingin menyelamatkan Asia. Lagipula, aku juga mendapat bantuan dari Naruto-san."

"Hmm, sebenarnya aku akan merasa lebih senang kalau mendengar kau bisa mencapai level ini demi adikku tersayang. Tapi kuakui penilaianku akan sedikit miring kalau sudah menyangkut Rias, mengingat aku adalah kakaknya," sang Maou melirik Asia sebelum senyumannya kembali melebar. "Lagipula, kurasa alasan yang kau ungkapkan juga tidak kalah penting. Gadis ini pasti sangat berarti bagimu, karena aku sangat yakin bahwa inilah pertama kalinya aku menemukan seorang Iblis yang baru beberapa hari dilahirkan kembali sudah bisa mengerahkan kekuatannya sampai setinggi itu hanya karena didorong keinginan untuk menyelamatkan seseorang."

Sirzechs terus menatap Asia selama beberapa saat, menikmati bagaimana komentarnya membuat wajah gadis yang tertunduk itu benar-benar menjadi merah padam sampai hampir menyala dalam ruangan dengan penerangan temaram itu, sampai akhirnya ia puas dan mengalihkan perhatiannya ke orang terakhir. "Dan sekarang kita sampai ke orang yang paling membuatku penasaran."

Mata semua Iblis remaja, yang sudah berdiri semenjak Sirzechs mulai bicara mengenai Issei, kembali berpindah ke shinobi berambut pirang yang hanya mengangkat sebelah alisnya, seakan-akan fakta bahwa rasa penasaran seorang Sirzechs Lucifer, satu dari empat Maou penguasa alam Meikai, yang ditujukan padanya sama sekali tidak membuat pemuda itu merasa senang atau terhormat.

Naruto menyimpan kembali pisau bercabang tiganya dan bersidekap. "Maksudmu?"

"Hei, kau!" Rias berteriak kesal, tak tahan melihat tingkah Naruto yang sama sekali tidak menunjukkan respek pada kakaknya yang notabene diakui oleh seluruh pendiam Meikai sebagai salah satu Iblis terkuat. "Telingamu itu lagi gangguan atau memang tuli sih sebenarnya?! Berapa kali harus kami katakan kalau kau sedang berdiri di depan Iblis yang memiliki derajat Maou?!"

"Maafkan aku, Gremory, tapi kurasa saat ini harusnya kau sudah tahu kalau kita punya nilai-nilai yang berbeda," Naruto menoleh ke Iblis yang memiliki peran sebagai Raja Issei itu sembari berbicara dengan nada yang masih datar. "Aku tak memberi hormat hanya karena derajat. Bagiku, hormat harus diberikan dengan berdasar pada sifat."

Mata Sirzechs nampak melebar untuk sesaat seakan-akan sedang mengalami shock berat, sebelum sang Raja Iblis itu mendongakkan kepalanya dan mulai tertawa terbahak-bahak.

Naruto menatap ke arah kakak Rias yang terus tergelak sampai sudut matanya yang terpejam mulai merembeskan cairan. "Oi, ada apa lagi ini?"

"Tidak usah khawatir," suara feminin itu membuat semua mata terarah ke samping Sirzechs, di mana seorang wanita berambut perak dengan penampilan ala maid berdiri beberapa sekitar dua langkah di belakang sang Raja Iblis yang terus terbahak-bahak tanpa henti. Mungkin karena aura Sirzechs yang sangat mendominasi, mereka bahkan baru saja sadar kalau dia tidak datang ke dunia seorang diri.

"G-Grayfia!" Rias berseru, sedikit tersipu malu karena dia sendiri baru sadar akan keberadaan Ratu kakaknya itu setelah dia buka suara.

"Tidak usah khawatir? Tapi dia sudah tertawa sampai sebegitunya tuh," kata Naruto sembari menunjuk Sirzechs yang sudah terbungkuk-bungkuk sambil memegangi perut. Ia melirik ke samping untuk mengamati reaksi dari kaum Iblis yang lain. "Dan kalau melihat wajah mereka, kurasa hal ini pasti bukan sesuatu yang normal. Apanya yang lucu dari perkataanku tadi sampai dia tertawa seperti ini?"

"Dia tertawa bukan karena ada yang lucu. Sirzechs-sama hanya merasa sangat senang, terharu..." Maid itu melirik majikannya yang masih tak berhenti tertawa. "...Dan mungkin juga sedikit rindu."

"Hah? Rindu? Apa pula maksudnya itu?"

Lanjutan penjelasan datang dari Sirzechs, yang bisa berhenti tertawa cukup lama untuk mulai bicara lagi. "Dulu aku punya seorang rival, seorang manusia yang mampu bertarung menandingiku yang saat itu baru-baru saja mendapat gelar Lucifer." Kalimat itu Sirzechs ucapkan dengan nada lembut seakan-akan orang yang dia bicarakan bukan hanya sekedar rival, tapi juga orang yang ia anggap teman. "Kalimat yang tadi kau cetuskan memiliki kesamaan dengan kalimat yang ia utarakan, benar-benar persis sampai dengan nada yang ia gunakan ketika kami pertama bertemu dulu, lebih dari dua puluh tahun yang lalu."

Mata Naruto melebar.

"Dan namanya adalah Namikaze Minato. Konoha no Kiiroi Senkou."

~•~

Naruto menelan ludah yang terasa sekering pasir dan sekeras batu. "...Kau pernah bertemu Tou-chan?"

"Tidak hanya bertemu," sang Raja Iblis menggoyangkan-goyangkan jari telunjuknya. "Tapi juga menantang, bertarung, dan hampir saja dibunuh olehnya dalam waktu kurang dari semenit."

Satu-satunya tatapan yang tidak beralih ke Sirzechs dengan mata melebar shock hanyalah Grayfia, yang sudah tahu menahu mengenai pertemuan suaminya dengan sang rival, serta Naruto, yang memang sudah sedari tadi terus mengarahkan matanya pada sang Maou.

"Ada manusia yang bisa membunu—maaf, hampir membunuh Maou-sama? Hanya dalam waktu kurang dari semenit?" Kiba bertanya dengan suara yang sedikit kedengaran seperti orang dicekik.

"Makhluk sekuat apa yang kita bicarakan ini?" Saji mendesis dari samping Sona.

"Kalian tadi tidak mendengarkanku ya? Minato hanya seorang manusia biasa," kakak Rias kembali mengibas-ngibaskan jari telunjuknya. "Kalau statistik profisiensi fisik kami dibandingkan, maka saat itu aku sudah jauh lebih kuat darinya, baik itu dalam soal urusan kekuatan otot, sihir, atau bahkan kapasitas energi yang kami punyai. Satu pukulanku bisa membuat tulangnya rengat, dan kalau sampai dia terkena Mezabi no Chikara-ku (Power of Destruction) satu kali saja, Minato pasti sudah tamat."

Tsubaki nampak bingung. "Lalu... lalu bagaimana bisa?"

Sirzechs tersenyum tipis, matanya terpejam seakan-akan sedang mengingat salah satu memorinya yang paling berkesan. "...Saat itu, aku baru-baru saja menjadi Lucifer. Seperti hampir semua kaum Iblis, aku masih memandang manusia sebagai ras yang lemah. Kuakui, ketika aku pertama bertemu shinobi itu, aku masih sangat arogan. Waktu itu, desa tempat tinggal Minato sedang ada dalam perang dengan tiga desa lain." Ia melirik Naruto. "Perang Dunia Shinobi, kalau tidak salah?"

Naruto mengangguk dengan gerakan yang kaku. "Perang Dunia Shinobi III, yang terjadi antara Konoha melawan desa Kumo, Kiri, dan Iwa."

Jawaban itu membuat mata semua remaja di sana kembali terarah ke shinobi pirang dengan tatapan berisi sedikit sangsi tapi lebih banyak menyimpan rasa penasaran. Naruto mengabaikan semua tatapan itu, lebih memilih untuk berkonsentrasi penuh pada sang Raja Iblis dan kisah yang sedang ia ceritakan.

"Saat itu, aku sedang ada di dunia manusia untuk sebuah urusan, dan ketika aku mendengar seorang shinobi yang berhasil membantai habis batalion musuh yang berkekuatan tiga ratus personel seorang diri, aku merasa penasaran. Aku mendapati Minato sedang meninggalkan baris depan agar skuad pimpinannya bisa mendapat istirahat sejenak, perawatan, serta suplai ulang peralatan. Dengan arogannya, aku mengamati mereka dari dekat hanya dengan sebuah sihir untuk membuatku tak terlihat. Kontan saja Minato mendeteksi keberadaanku dan melancarkan serangan. Aku memperkenalkan diri sebagai seorang Iblis berpangkat Maou, tapi tidak seperti reaksi yang kuharapkan, Minato malah menjadi semakin memusuhiku."

"Dia memerintahkan skuadnya, yang saat itu sudah luka-luka dan tidak dalam kondisi untuk bertarung, agar kabur terlebih dahulu selagi ia bertahan di belakang untuk menghadapiku. Aku yang masih meremehkan umat manusia tapi masih suka bertarung saat itu, kontan saja menantang Minato karena berpikir bahwa setidaknya aku bisa tahu seperti apa sebenarnya kemampuan seorang shinobi. Aku telah meremehkannya, sebuah kesalahan yang hampir saja kubayar dengan nyawaku," Sirzechs menarik turun kerahnya sedikit, memperlihatkan sebuah bekas luka melintang di lehernya, luka yang ada dalam ingatan Rias tapi tak pernah ia tahu apa yang menyebabkannya. "Hanya setengah menit kemudian, tubuhku sudah penuh luka irisan terbuka. Kalau saja Grayfia yang saat itu mengikutiku ke dunia manusia tidak memperingatkanku, Minato pasti sudah berhasil menggorok, kalau tidak memenggal leherku."

"Bayangkan rasa terkejutku saat mendapati bahwa semua luka itu, serta satu luka yang sedikit lagi saja pasti sudah memutus nyawaku, diakibatkan oleh seorang manusia. Bayangkan rasa terkejutku saat mendapati bahwa di sepanjang pertarungan, aku tak bisa menyentuh bahkan seujung rambutnya. Namikaze Minato, manusia yang jauh lebih lemah dariku dalam segala aspek fisik maupun energi, manusia yang jauh lebih muda dariku, dan manusia yang seharusnya bisa kukalahkan dengan mudah, tapi memiliki intelegensi luar biasa dan penguasaan keahlian bertarung yang tak terbantahkan, telah mampu membuatku lebih tersudut daripada musuh-musuh lain yang kuhadapi selama satu abad terakhir." Sirzechs berhenti sebentar untuk membiarkan informasi itu meresap ke dalam benak Iblis-Iblis muda yang terpana di depannya. "Dan untuk semua itu, dia hanya menggunakan satu senjata berlapis elemen angin, serta sebuah Jutsu yang bisa dibilang sederhana, tapi juga sekaligus luar biasa."

"Sederhana tapi luar biasa?" Issei bertanya bingung.

"Secara teknis, kegunaan Hiraishin yang Minato ciptakan tidak ada bedanya dengan sihir teleportasi yang sudah ribuan tahun bisa dilakukan oleh kaum yang berasal dari Akhirat. Tapi bagaimana Minato melakukannya, bagaimana ia bisa melakukan teleportasi itu berkali-kali hanya dalam satu detik dan membuatku seperti binatang kecil yang dibuat kocar-kacir. Itulah yang membuatnya luar biasa. Oh Tuhan—" Sirzechs mengernyit ketika tanpa sadar menyebut nama yang seharusnya dilarang untuk kaumnya. "Seratus tahun. Itulah kali pertama dalam seratus tahun darahku kembali dibuat mendidih dalam pertarungan sampai seperti itu. Yang semakin membuatnya menakjubkan dan hampir tak bisa dipercaya, adalah fakta bahwa aku tidak sedang melawan Iblis, Malaikat, Datenshi, Yokai, ataupun dewa, tapi hanya seorang manusia biasa."

"Jadi siapa yang menang? Kau atau Tou-chan?"

"Sejujurnya, hari itu kami berdua sama-sama mundur teratur. Aku, karena dia sudah membuat sekujur tubuhku berantakan dan berdarah-darah, dan Minato, karena dia sudah kelelahan bahkan sebelum kami mulai bertarung sehingga akhirnya ia kehabisan tenaga. Tapi tentu saja itu bukan terakhir kalinya kami berselisih jalan, dan setiap kali kami bertemu kembali, Minato selalu berhasil menyuguhkan kemampuan yang membuatku semakin sadar bahwa bangsa Iblis juga bisa mati di tangan manusia." Senyuman di wajah Sirzechs menjadi agak getir. "Ahh, aku benar-benar kangen dengan si pirang yang selalu bisa kalem saat melawanku itu..."

Melihat kebingungan di wajah Naruto, Grayfia segera menjelaskan. "Setelah mendapat kabar tentang... apa yang terjadi di Konoha sepuluh tahun lalu, Sirzechs-sama mengunci diri di kantornya dan tidak pernah keluar sampai hampir setengah minggu."

"...Si pirang brengsek itu," Sirzechs tiba-tiba mengumpat, walau nada miris dalam suaranya jauh lebih kuat dari kekesalan seperti yang ia coba tunjukkan. "Padahal dia tahu dia bisa meminta bantuanku. Padahal dia tahu aku siap mengerahkan Peerage, atau bahkan pasukan Iblis pribadiku. Dia bisa memperoleh semua itu dengan begitu mudah, dan satu-satunya hal yang perlu dia lakukan hanyalah meminta."

Naruto tersenyum tipis. "Tou-chan memang tak pernah suka menyusahkan orang lain untuk mengatasi masalahnya sendiri."

"Tapi gara-gara sifat keras kepalanya itu, sekarang dia...! Dia...!" Sirzechs mengatupkan mulutnya kuat-kuat, sadar akan apa yang baru saja ia katakan. Matanya terpejam menyakitkan, dan sekarang ekspresinya terisi oleh rasa bersalah. "...Tidak, aku yang seharusnya tidak perlu menunggu sampai dia meminta...! Aku yang seharusnya tidak merisaukan posisiku dan mengirim bala bantuan tanpa perlu memikirkan soal harga diri! Aku yang seharusnya pergi untuk mendampinginya menghadapi masalah!" Sirzechs menggertakkan giginya. "Aku yang seharusnya ada di sana, ketika sahabatku ada dalam bahaya!"

Semua kaum Iblis di ruangan itu, atau Asia yang masih manusia, tak bisa menyangkal bahwa mereka sedang diserang rasa tidak percaya dan kaget yang tak kepalang. Tak ada satupun dari Iblis-Iblis remaja itu yang menyangka bahwa malam ini mereka akan menyaksikan seorang Maou menunjukkan emosinya tanpa malu-malu, seakan-akan apa yang terjadi pada sahabatnya telah terlalu lama merongrong jiwa, membuat rasa bersalah dalam hatinya bisa mengalahkan inhibisi dan kendali perasaan yang seharusnya dimiliki oleh seorang Iblis yang memiliki derajat tertinggi di Meikai sepertinya.

Naruto berjalan maju dan meletakkan satu tangannya di pundak sang Maou yang kemudian ia remas pelan, sebuah senyuman tipis masih terpasang di wajahnya. "Aku tahu Tou-chan tak pernah menyalahkanmu atas apa yang telah terjadi."

Sirzechs mendengus. Getir, sedih, rindu, dan menyesal bercampur menjadi satu dalam suaranya. "...Aku berani bersumpah kalau dia masih di sini, Minato pasti juga akan mengucapkan kata-kata yang sama persis seperti itu."

To be Continued...

A/N: Hmm, hamba rasa cukup segini dulu. Hamba mohon komentarnya lagi ya?

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.