Standar Disclaimer Applied
.
.
.
Love & Choice © Tsurugi De Lelouch
.
.
.
Sakura Haruno & Sasuke Uchiha
.
.
Enjoying Reading & Reviewing
*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*
.
.
.
Ketika cinta datang padanya
Hal yang indah menemani di kehidupannya
Namun, saat pilihan ditentukan
Akankah cinta berpihak pada dirinya?
.
.
-3-
Kalau dibilang bahagia, tentu saja bagi sebagian orang sangatlah bahagia karena akan menjadi bagian dari keluarga terpandang di Konoha. Namun, tidak bagi perempuan musim semi yang kini menjadi tunangan salah satu anak dari Fugaku Uchiha. Kini dia terlibat kasus yang rumit dan mau tak mau—dirinya harus terlibat di dalamnya. Karena, dia menjadi pacar dari adik tunangannya.
Sebernanya dia tidak mau terikat seperti ini, tapi perasaan dia tidak bisa dibohongi begitu saja. Dirinya membiarkan perasaan ini mengalir begitu saja untuk orang yang dicintainya. Sungguh jahatkah dia, kepalanya terasa pusing sekarang.
"Heii… heii… Sakura…"
Dia tidak peduli dengan apapun yang akan terjadi. Dirinya harus—
"…Sakura…kau mendengarkanku?"
—ah, dirinya tersentak kaget. Dia menatap iris kelam laki-laki yang di depannya, seraya tersenyum tipis membuat empunya iris itu tidak cemas.
"Itachi-san, maaf aku melamun," ucap Sakura.
Itachi hanya memiringkan kepala. "Memang kau memikirkan apa?" 'jangan bilang kau memikirkan adikku'
"Hmm…memikirkan kehidupanku."
"Kehidupan?" Itachi mengerutkan alisnya.
Sakura menggaruk tengkuknya meminimalisir rasa gugupnya. "Tidak menyangka kalau aku akan menjadi bagian keluarga yang terpandang di Konoha. Apalagi bertunangan dengan salah satu dari mereka."
"Apakah kau bahagia dengan pertunangan ini?" tanya Itachi membuat Sakura agak terkejut.
Iris teduh menilik kelamnya warna bola mata milik Itachi. "Maksud, Itachi-san?"
"Apakah kau terpaksa menjalani pertunangan ini? Atau ada laki-laki yang kau cintai sekarang?"
Lidah Sakura seakan kelu menjawab pertanyaan dari tunangannya. Di dalam hatinya dia ingin mengungkapkan 'Laki-laki yang kucintai adalah adikmu sendiri, Itachi-san'. Namun, dia tidak ingin mengatakannya, dirinya takut kalau akan menyakiti hati tunangannya. Tapi, apakah menjalani hubungan diam-diam dengan dia bisa membalikkan keadaan? Rasanya dia mengecewakan kedua belah pihak—yakni tunangan dan pacar—yang tak lain adalah kakak beradik Uchiha.
"Aku akan belajar untuk menerimamu, Itachi-san." Sakura menampilkan senyumnya. Tapi di mata kelam Itachi, senyuman yang menguar di bibir tunangannya—adalah palsu.
Itachi memejamkan sejenak lalu menatap dalam Sakura. "Awalnya aku tidak tertarik dengan ini, tapi setelah mengetahui kau adalah tunanganmu. Ternyata aku mulai jatuh hati padamu, Sakura."
Sakura kaget dengan pernyataan Itachi. Demi apapun, ia kini terlibat konflik rumit sekarang. Dicintai oleh kedua laki-laki kakak beradik. Cinta mereka tulus untuknya, namun dia sekarang menjadi kekasih adik dari tunangannya. Rasanya, dia ingin lari dari kenyataan ini. Mungkin bagi semua orang mencintai itu rumit, namun untuk dirinya salah—karena dicintai yang paling rumit.
"…lalu?" entah dia tidak mampu mengucapkan banyak kata untuk mengapresiasikan itu. senang.. sedih ataupun sakit.
"Kuharap kau tidak menjalin hubungan khusus dengan seseorang, Sakura."
Perkataan satu ini membuat Sakura tidak dapat berpikir jernih. Dia menghembuskan napas lamat-lamat dan membalas tatapan dari tunangannya. "Kujamin tidak akan terjadi, Itachi-san." Sakura mengenggam tangan Itachi dan dibalas erat oleh sulung Uchiha ini.
Itachi berusaha untuk mengindahkan kenyataan pahit kalau Sakura menjalin hubungan dengan adiknya sendiri. Dia tahu kenyataan ini dari adiknya sendiri—ah bukan melalui telepon genggam milik Sasuke. Dia melihat kalau mereka melakukan hubungan diam-diam di belakangnya, apalagi salah satu pesan adiknya—untuk Sakura. Tertulis kekasih. Sakit rasanya di permainkan adiknya sendiri.
"Sakura…"
"Ya?"
"Jangan mempermainkan hubungan pertunangan ini, Sakura," ucap Itachi bangkit dari kursi dan mendekatkan diri pada Sakura.
Apapun yang akan dikatakan Sakura, kalau dia tidak mencintai adiknya. Itu semua bohong belaka, karena dari tatapan Sakura terlihat dan terbaca. Sebernanya dia tidak ingin menjadi pemisah hubungan adiknya dan Sakura. Tapi kenyataannya, siapa yang menjadi pemisah hubungan? Dia tunangannya—dan yang jelas adalah penganggu adalah adiknya sendiri.
Itachi mencium kening Sakura sarat akan perasaan. Sedangkan Sakura hanya membeku mendapatkan afeksi dari tunangannya. Dia merasa sudah menyakiti dua cinta yang tulus diberikan padanya.
Di lain pihak, setelah mencium kening sang tunangan. Itachi menguar senyuman dan mengadahkan tangan pada Sakura. "Katanya ada jadwal shift, Sakura?"
"Uhm, ya."
"Aku akan mengantarmu,tuan putri" pinta Itachi.
Sakura hanya tersenyum geli dan menyambut uluran dari Itachi. "Baiklah."
Baik Itachi dan Sakura tahu kalau mereka sama-sama egois, tapi kalau menyangkutpautkan cinta. Siapa yang harus disalahkan?.
.
.
.
.
.
.
Tok…Tok…
Putra bungsu dari Fugaku Uchiha ini terusik dengan bunyi ketukan pintu kamarnya. Dia sekarang harus menyelesaikan laporan yang harus ditanda tangani. Memang dia membawa laporan itu ke rumah karena perusahaan elektronik miliknya—besok mendapat saham yang cukup besar.
Tok…tok…
"Masuklah, pintu tidak terkunci."
Seseorang masuk ke dalam kamar. Langkahnyapun pelan sehingga kehadirannya tidak disadari oleh pemilik kamar. Dirinya duduk di pinggiran kasur dan memandang ke langit kamar adiknya. Dia langsung merebahkan diri ke kasur sampai sang pemilik mendelik ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan, Nii-san?"
Itachi hanya tersenyum geli. "Hanya melihatmu saja. Tidak boleh, ya ototou…"
"Kurang kerjaan," gumam Sasuke membubuhkan tanda tangan di lembaran laporan.
"Memang kau banyak kerjaan, tuan direktur?" celetuk Itachi kemudian duduk di kasur milik adiknya.
Sasuke mendengus. "Bukan urusanmu, Nii-san."
Mimik Itachi yang ceria kini berubah menjadi serius. Dia memandang adiknya yang masih fokus dengan berkas laporannya. Dirinya mencoba menghela napasnya berulang kali untuk mengatakan sesuatu pada adiknya yang mungkin akan menjadi—jurang pemisah diantara mereka berdua.
"Kita ini memiliki banyak persamaan ya, Ototou," gumam Itachi.
"Aku tidak mau disamakan olehmu sampai kapanpun, Nii-san," cibir Sasuke masih serius membaca laporan.
Itachi menilik adiknya dengan tatapan tajam—walau Sasuke tidak tahu akan aura yang dikeluarkan oleh kakaknya."Heii, aku belum selesai bicara!"
"Cepatkan katakan segera. Aku harus menandatangani banyak berkas, Baka Nii-san!" ucap Sasuke tidak terima.
Sembari menatap seisi kamar adiknya, dia melihat satu pigura yang menunjukkan dia dan Sasuke sewaktu masih kecil. Sedikit menguar senyuman tipis. "Kita dilahirkan dalam keturunan Uchiha. Lalu memiliki wajah yang tampan dan mempunyai kecerdasan diatas rata-rata juga—"
"—ada perbedaan tentu saja," potong Sasuke cepat.
Itachi mendengus lagi. "Sudah kubilang jangan potong ucapanku!"
Uchiha bungsu ini merasa ada yang tidak beres dari perkataan kakaknya. Dia menyakini kalau nanti kakaknya akan mengucapkan sesuatu yang membuatnya terdiam. "Tsk, cepatlah," desis Sasuke menahan rasa takut akan kelanjutan ucapan kakaknya.
"—dan kita…" Itachi memelankan tempo bicaranya. "…menyukai satu perempuan yang sama."
Seketika konsentrasi Sasuke buyar dengan laporan di mejanya. Otak si bungsu Uchiha membeku dan tidak menerima kenyataan kalau sebetulnya—sang kakak sudah tertarik dengan Sakura—kekasihnya kini. Ah lebih tepat tunangan Itachi.
Mendapati sang adik berhenti memegang penanya hingga benda itu terjatuh di lantai. Itachi menyeringai kecil seakan ini saatnya menghentikan langkah adiknya sebelum—semakin dalam hubungan Sasuke dengan tunangannya, Sakura.
"…yakni bernama Haruno Sakura."
Iris mata milik Sasuke menoleh dan bertatapan tajam dengan sang kakak. Ia tidak gentar dengan konsenkuensi yang akan di dapat. Dia bukan menyukai—bahkan mencintai Sakura. Dirinya harus memperjuangkan cintanya apapun yang terjadi. Tak peduli, itu kakak kandungnya sendiri.
Tak membalas tatapan sang adik, Itachi langsung bangkit dari kasur milik adiknya lalu meninggalkan Sasuke yang terdiam dengan ucapannya tadi. Pria berumur dua puluh lima tahun itu keluar kemudian menutup pintu kamar adiknya dengan keras. Ia tidak peduli dengan umpatan kasar yang akan terlontar dari Sasuke, dia langsung masuk ke dalam kamar pribadinya.
Dilain pihak, bungsu Uchiha melemparkan pigura di mejanya hingga kaca sampai pecah. Ia tahu persis tatapan yang tadi terlihat di iris kelamnya, yakni tatapan persaingan. Namun, Sasuke mengingat seringai meremehkan sang kakak sebelum menutup pintu kamarnya. Masih membekas di otaknya akan ucapan Itachi.
"…tapi sayangnya ada satu perbedaan yang kau katakan tadi, Sasuke. Perbedaan itu adalah Sakura adalah tunanganku dan kau—hanya calon adik iparnya saja…"
Rahangnya mengeras, giginya bergelemutuk kesal. Dia mendelik pigura yang sudah terkapar di lantai dengan kacanya berserakan. Gambar di pigura itu adalah tak lain adalah dirinya dan sang kakak—Itachi.
"Brengsek…persetan! Kenapa dia harus tertarik dengan Sakura?! Kenapa aku menyatakan perasaan ini pada Sakura disaat waktu tidak tepat! Kenapa…harus dia yang menjadi sainganku, brengsek!" umpat Sasuke kesal.
Dia langsung berdiri dari kursinya dan meninju dinding kamarnya. Dirinya tidak peduli tangannya berdarah akan perbuatan bodohnya. Dia merasa hubungannya dengan Sakura semakin rumit karena—sang kakak sudah mengumumkan perang antara mereka—untuk memperebutkan Sakura.
.
.
.
.
.
.
Keheningan menyelimuti kedua insan yang tengah berkencan di taman. Sang laki-laki masih termenung dengan ucapan kakaknya empat hari yang lalu dan—menyebabkan dia dan Itachi menjadi musuh, mungkin?. Hanya untuk memperebutkan satu perempuan. Sedangkan perempuan mencoba menyadarkan kekasihnya dengan menempelkan minuman dingin di pipinya.
Sasuke menoleh dan mendapati kekasihnya—ah tunangan kakaknya, Sakura tengah tersenyum jahil dan mau tak mau dia juga mengacak rambut unik milik kekasihnya. Dan perbuatan itu mendapatkan delikan sebal dari Sakura.
"Apa yang kau lamunkan, Sasuke?"
"Dirimu…"
Seketika Sasuke mendapatkan pukulan manis dari Sakura. Perempuan musim semi langsung mengerucutkan bibirnya kesal, bungsu Uchiha menampilkan senyuman tipisnya melihat tingkah polos sang kekasih yang sebal dengannya. Tapi, apakah sang kakak juga melihatnya seperti ini.
"Tuuh kan… kau melamun lagi. Atau jangan-jangan kau memikirkan hal mesum!"
"Benarkah? Memangnya kau bisa membaca pikiranku, Sakura?" tanya Sasuke menyeringai tipis.
"Aku bukan psikolog, Sasuke," dengus Sakura mengerucutkan bibirnya.
Sasuke memiringkan wajahnya untuk menatap kekasihnya. "Aku tahu kau seorang dokter jenius, tapi kalau dulu aku kuliah di kedokteran pasti aku yang tercepat tamatnya."
"Kau menyebalkan sama seperti SMP dulu, Sasuke.." Sakura menyeruput minuman kotaknya.
Entah senang atau apa dia berhasil menjahili putri tunggal Kizashi ini. Suatu kebiasaan tersendiri untuknya membuat Sakura harus melontarkan kata "menyebalkan" untuknya. Hanya untuknya.
"Berarti kau masih mengingat dengan sifatku, Sakura." Seringai tipis tercetak di bibir tipis Sasuke.
"Terserah kau saja." Sakura tidak bisa dibohongi dengan tingkah calon adik iparnya ini. Walau Sasuke menyembunyikan sesuatu, entah kenapa terlihat jelas di mata kekasihnya kini.
Sasuke mengenggam tangan Sakura hingga sang empunya bingung. Kemudian mata mereka saling bertemu satu sama lain. Adik bungsu Itachi ini menghembuskan napasnya dan mengucapkan sesuatu yang membuat pemilik iris mata teduh itu terkejut.
Dengan pandangan serius dan tidak ada kebohongan di balik iris kelam milik Sasuke.
"…Sakura, batalkan pertunangan itu dan menikahlah denganku."
—Bisakah dia egois dalam hal cinta sekarang?
.
.
.
.
.
.
*To be Continued*
Maaaaaafkan diriku kembali dengan fict yang pendek sekali. Entah kenapa untuk fic ini sangat sulit mencapai 2000 kata #hiks. Aku tidak tahu kalau ini kecepatan atau nggak, karena alur untuk endingnya sudah dapat tapi progress-nya perlu mikir keras #sembunyi.
Thanks for Reading and Review my fict ^^
Putri Hassbrina, mako-chan, hiruka aoi sora, Novi Shawol'Elf, ahalya, QRen, Karasu, ucciu, Morena L, sasusaku uciha, Mizuira Kumiko, Zecka S. B. Fujioka, Yara Aresha, emerallized onyxta, Franceour, MuFylin, hanazono yuri, Mo males login, Guest (2x), Uchiha Matsumi, Dark Courriel, LAW, Yoon Ji Yoo19,
Palembang, 21 Juni 2013
Tsurugi De Lelouch
