Galerians, in.
A/N: Chapter ini telat keluar karena hamba harus melakukan setidaknya tiga koreksi. Ada sekitar 2.000 kata yang akhirnya harus disisihkan, serta hampir seperempatnya ditulis kembali karena tidak memenuhi standar kualitas yang hamba inginkan.
Warning:
Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!
Selamat membaca!
~••~
When The Sun Goes into A High School
Arc I - Final Chapter
(This is The True Extent of His Sacrifice?! It's Time for Reconciliation!)
"Baiklah, aku sudah mengerti duduk permasalahannya," setelah mendengar detil peristiwa, Sirzechs yang sekarang duduk di kursi yang diambil dari belakang meja kerja Rias menganggukkan kepala. Pria Iblis itu melempar senyum masam ke arah Naruto. "Di saat-saat seperti inilah aku benar-benar harus mengakui kalau kau anak Minato, Naruto-kun. Kedok cerita yang kau buat bisa membersihkan nama adikku dan memastikan bahwa Issei takkan bisa mendapat hukuman terlalu berat karena kami takkan bisa menyalahkan orang yang memang belum tahu menahu mengenai gencatan senjata antara Tiga Fraksi Besar." Suara Sirzechs yang cenderung santai dan ramah berubah tajam. "Tapi membuat kedok cerita seperti ini... kenapa kau tidak memikirkan keselamatanmu sendiri?"
Sona dan Rias tersentak secara bersamaan. Gadis yang mengisi jabatan ketua OSIS Akademi Kuoh itu menatap sang Raja Iblis dengan mata bersinar bingung sebelum melempar delikan menuduh ke arah sang ninja yang berdiri sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. "Apa maksudnya ini, Namikaze-kun?"
Naruto hanya menundukkan kepalanya makin dalam, tangannya yang bersidekap nampak mengeras sesaat. "...Tidak usah khawatir. Aku yakin aku bisa jaga diri."
"Itu tidak menjawab pertanyaanku..." Sona mendesis.
"A-anu, Maou-sama," Issei menatap Sirzechs yang terus memandangi sang shinobi pirang dengan mata tak berkedip dan Naruto yang tidak mau membalas tatapan kakak ketua klubnya itu secara bergantian. "Apa maksudmu Naruto-san tidak memikirkan keselamatannya sendiri? Bukannya dia hanya akan berbagi hukuman denganku?"
"Aku yakin dia hanya mengatakan itu karena dia ingin mengalihkan perhatianmu dari apa yang sebenarnya akan terjadi kalau kalian benar-benar memakai kedok cerita ini, Hyoudou-kun." Sirzechs melihat bagaimana bahu Naruto merosot sedikit seperti maling yang telah tertangkap basah.
"Mengalihkan perhatian?" Tsubaki bertanya.
Melihat Issei, serta beberapa Iblis remaja lain yang masih kebingungan, Grayfia memutuskan untuk mengambil alih penjelasan. "Hyoudou Issei, kau adalah anggota Peerage Rias Gremory-sama, dan itu membuatmu menjadi bagian Klan Gremory, klan Iblis berdarah murni yang memiliki kedudukan tinggi di Meikai dan terkenal selalu memperlakukan Peerage mereka dengan baik. Apabila kita menambahkan fakta tentang ketidaktahuanmu atas duduk persoalan antara ketiga kubu Akhirat, serta poin lain yang menyatakan bahwa kau menyerang Datenshi itu karena dia yang telah membunuhmu, maka aku yakin kau hanya akan mendapat hukuman ringan, dan itupun kalau kau memang diberi hukuman." Saat Grayfia berhenti sejenak untuk membiarkan info itu meresap, ekspresi di wajah Issei nampak menjadi lebih cerah, membuat sang maid jadi agak tak tega untuk melanjutkan penjelasan. "Tapi itu baru dari sisi kalangan Iblis. Bagaimana dengan kubu Datenshi yang mungkin tidak terima karena sudah kehilangan bawahan mereka?"
Iblis yang memegang peranan Ratu di Peerage Sirzechs itu ikut mengalihkan tatapannya ke arah sang shinobi yang mengambil posisi sedikit terpisah dari yang lain. "Dengan membuat cerita yang mengatakan bahwa dialah yang memengaruhi dan menghasutmu sehingga kau memutuskan untuk menyerang, Namikaze-san tidak hanya semakin meringankan hukuman yang mungkin kau terima, tapi juga mengalihkan perhatian apapun yang mungkin dimiliki kubu Datenshi pada dirinya sendiri."
"Tunggu dulu!" Rias berdiri cepat, matanya bergerak untuk menatap remaja pirang yang sepertinya tak mau membalas tatapan siapa-siapa itu. Ketika tangannya bergerak seperti biasa untuk menunjuk Naruto, jari yang ia angkat terlihat gemetaran. "Tapi itu artinya... kau...!"
"Dia membuat kedok cerita yang bisa membebaskan namamu dari tuduhan dan memastikan Hyoudou-kun mendapat hukuman paling ringan, tapi sekaligus menciptakan situasi yang membuat dirinya sendiri menjadi satu-satunya orang yang kemungkinan paling besar akan diincar pihak Datenshi andai mereka memutuskan untuk menuntut balas." Tangan Sirzechs yang diletakkan di atas lututnya nampak mengepal. "Seperti inikah sifat semua orang yang berasal dari Klan Namikaze, Naruto-kun? Selalu membuat rencana dengan efektivitas dan efisiensi tertinggi, namun tak pernah gagal membuat dirimu sendiri berada dalam bahaya terbesar."
Naruto mengabaikan tatapan shock dan tak percaya yang berasal dari semua Iblis remaja di ruangan klub itu, memilih untuk hanya mengangkat bahu. "Seperti yang tadi kubilang, tidak usah khawatir. Aku bisa jaga diri."
"T-tunggu sebentar...!" kali ini Sona yang berdiri. "Itu hanya akan terjadi kalau kita memakai cerita ini kan? Lalu kenapa ceritanya tidak kita ubah saja?"
"...Sialnya, aku sendiri tak bisa menyangkal bahwa kedok cerita inilah jalan terbaik yang kita punya, terutama kalau kita memang ingin menghindarkan pecahnya konflik antara kubu Iblis dan Datenshi." Sirzechs mengusap wajahnya dengan satu tangan, sebuah tindakan yang mengungkapkan rasa frustrasi. Kadang, dia sangat benci memegang jabatan sebagai seorang Maou. Dengan posisi seperti ini, dia dipaksa untuk membuat keputusan paling logis yang bisa menjaring keuntungan terbesar dengan kerugian terkecil, walaupun keputusan itu bertentangan dengan moral dan hati kecilnya. "Jika orang yang menjadi instigator permasalahan ini hanyalah seorang manusia yang bertindak tanpa bekingan siapa-siapa, maka kubu Iblis dan Datenshi tak akan punya alasan untuk berselisih."
Sona sendiri harus mengakui bahwa analisa itu sangat masuk akal, namun itu tak berarti dia bisa menerima begitu saja bahwa Naruto harus mengorbankan diri untuk menjadi solusi permasalahan. "Bagaimana kalau dia menjadi anggota Peerage-ku, atau Peerage Rias...?! Dengan begitu, setidaknya Namikaze-kun bisa mendapatkan perlindungan—!"
"Idemu itu hanya akan memperburuk keadaan, karena dengan melakukan itu, kalian sama saja memberi perlindungan pada seorang penjahat. Tuduhan akan berlayangan, dan konflik bisa jadi tak terhindarkan," Naruto dengan cepat menyela. "Tidak, cara inilah yang terbaik. Selama orang yang menjadi incaran hanyalah seorang manusia biasa yang tak memiliki aliansi atau dukungan dari Tiga Fraksi Besar, maka resikonya juga akan kecil—"
"[Resiko kecil] yang kau bicarakan di sini adalah keselamatan, atau bahkan mungkin nyawamu sendiri, Namikaze-kun!" Sona balas menyela dengan suara yang mulai meninggi, tak mengerti bagaimana seseorang bisa dengan begitu mudahnya dan dengan sengaja membuat dirinya menjadi target seperti itu tanpa sedikitpun keraguan. Sungguh, dia ingin berjalan maju dan mulai menampari pipi dengan tanda lahir berkumis itu untuk memastikan apakah dia memang masih waras atau sudah gila. "Kenapa kau yang harus berkorban?! Kenapa kau yang harus membahayakan dirimu seperti ini?!"
"Kenapa tidak?" Naruto memejamkan mata dan menghembuskan napas panjang, tak bisa memahami apa tepatnya yang menyebabkan dia terus dilempari protes. "Aku hanyalah seorang manusia biasa yang tidak memiliki derajat maupun posisi di mata Tiga Fraksi Besar. Kalau memang keselamatan atau nyawaku ini adalah harga yang harus dibayar untuk memastikan kelangsungan perdamaian antara kubu-kubu Akhirat, bukannya itu harga yang sepadan? Kalau memang aku harus mati—"
"Aku tidak terima!" Issei yang sudah mulai memucat ketika Grayfia memberitahunya tentang pengorbanan teman sekelasnya itu tiba-tiba meraung sambil berjalan menghampiri Naruto, sebelum mencekal kerah jaket shinobi berambut pirang tersebut. "Aku tidak terima, Naruto-san! Kenapa kau harus membahayakan dirimu sendiri seperti ini, ketika akulah orang yang membuat keputusan untuk menyelamatkan Asia?!"
"Kau masih ingat pertanyaanku beberapa jam lalu? Kau masih ingat saat aku bertanya padamu apakah kau siap membuang nyawa demi menyelamatkan Asia, dan kau menjawab 'ya'?" Naruto bertanya dengan tenang, bahkan terlalu tenang. "Aku telah bersumpah untuk mendukung dan membantu seperti apapun keputusanmu, Issei. Kalau kau saja sudah siap membuang nyawa, lalu kenapa aku tidak bisa melakukan hal yang sama?"
"Yang kumaksud saat itu hanyalah nyawaku sendiri!" Issei berteriak balik sembari mengguncang tubuh Naruto. "Aku tak pernah meminta agar kau ikut mengorbankan nyawa!"
"Aku tahu, Issei," Naruto meraih pergelangan tangan Issei untuk melepaskan cekalannya pelan-pelan, bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis seakan ingin mengungkapkan bahwa dia tidak keberatan dengan pengorbanan ini. "Tapi seperti yang sudah kukatakan, jangan anggap remeh sumpah setia seorang ninja."
Issei hanya bisa ternganga saat ia akhirnya sadar betapa besar arti sumpah yang telah diberikan oleh Naruto, dan seberapa jauh dia rela berkorban demi sumpah itu. Tanpa sadar, kakinya mengambil beberapa langkah mundur sebelum tungkainya kehilangan tenaga, membuat jatuh terduduk ke belakang dengan suara pelan. Tatapannya masih terarah ke teman sekelasnya, matanya yang berwarna cokelat muda kini sudah berkaca-kaca dan bibirnya gemetaran seakan menahan isakan.
Dia masih mencoba untuk mencari kata-kata ketika seseorang berjalan maju dan menampar Naruto.
Naruto mengacuhkan sengatan pedih di pipi kanannya yang mulai memerah, wajahnya bergerak ke posisi semula dan mata biru langitnya terarah untuk memandang pemilik kepala penuh rambut merah yang beberapa senti lebih pendek darinya itu. "...Gremory?"
"Kalau Onii-sama tidak datang," Rias memulai dengan kalem, walau getaran kecil yang terlihat di bahunya adalah pertanda bahwa gadis Iblis itu harus mengerahkan setiap serat kontrol emosinya untuk bisa tetap tenang. "Kalau saja Onii-sama tidak datang dan membongkar rencanamu, apakah kau hanya akan diam saja dan menanggung semua resiko ini tanpa memberitahu kami?"
Keheningan yang berasal dari Naruto sudah cukup sebagai jawaban, membuat Rias menggertakkan giginya dan mengangkat tangannya yang lain untuk menampar pipi kiri Naruto.
"Kenapa kau masih saja setenang ini?!" Rias berteriak dan menampar Naruto sekali lagi. "Bukannya kau membenci kaum Iblis?! Bukannya kau membenciku?!" tangannya kini membentuk kepalan yang ia gunakan untuk memukul-mukul dada sang shinobi yang hanya menerima semua serangan itu tanpa mengeluh seakan-akan dihajar oleh seorang Iblis adalah kebiasaan sehari-hari baginya. "Lalu kenapa?! Kenapa kau bisa mengorbankan diri sampai seperti ini, menerima semua bahaya ini, hanya untuk membersihkan namaku dan meringankan hukuman Pionku?!" Rias mendongak, menunjukkan bahwa mata biru-hijaunya telah berkaca-kaca dan mengalirkan air mata. "Beritahu aku! Kenapa?!"
Naruto membalas tatapan Rias untuk beberapa saat, sebelum tangannya terangkat dan menepuk puncak kepala gadis Iblis itu. Saat ia bicara lagi, kalimatnya hanya mempunyai satu makna sederhana dan tak mungkin disalah artikan. "Karena kau butuh pertolongan. Pertolongan yang bisa kuberikan." Ia kembali menyunggingkan senyum tipis. "Alasan apa lagi yang kuperlukan?"
Rias menggigit bibir dalam usaha untuk memadamkan gejolak emosi yang membara dalam dadanya ketika ia mendengar jawaban tanpa pamrih dan penuh kejujuran itu. Ia hampir saja gagal dan mungkin akan melakukan sesuatu yang memalukan kalau saja tidak ada suara kekeh pelan yang terdengar dari arah pintu.
Saat Rias berbalik untuk mencoba mengidentifikasi pemilik suara tak dikenal itu, Naruto tiba-tiba saja sudah bergerak ke depannya, memenuhi pandangan Rias dengan punggung lebar berlapis jaket itu ketika Naruto mengambil postur protektif yang sama dengan yang ia lakukan untuk Issei dan Asia saat kakaknya pertama kali muncul di ruang klub Occult Kenkyu-bu.
"Siapa kau?" suara Naruto kembali berubah dingin, walau kali ini, dia tidak menguarkan nafsu membunuh seperti yang sudah terjadi hampir setengah jam yang lalu.
"...Azazel." suara sang kakak memuaskan rasa ingin tahu Rias yang masih bingung harus merasakan apa karena dilindungi oleh Naruto seperti itu. "Bolehkah aku bertanya apa yang sedang dilakukan pemimpin kaum Datenshi di wilayah kekuasaan Iblis seperti tempat ini?"
"Sirzechs," saat ia membalas anggukan Sirzechs, suara Azazel terdengar santai. Wajahnya yang kebapakan dan dihiasi janggut hitam hanya menyunggingkan senyuman yang mengungkapkan bahwa dia tidak datang dengan membawa niat jahat. "Kuakui, sebenarnya alasan asli aku mendatangi kota ini adalah untuk mengurus persoalan bawahanku yang kudengar telah membangkang dan berbuat seenaknya, bahkan sampai berniat mencuri Sacred Gear dari seseorang."
Sirzechs mengangkat sebelah alisnya. "Oh? Tapi bukannya kau sangat menyukai segala hal yang berbau Sacred Gear? Apa bukan kau yang menyuruhnya untuk melakukan hal seperti itu?"
Azazel yang mengenakan baju yukata hitam keabu-abuan itu mendengus. "Kau tahu ketertarikanku pada Sacred Gear berasal dari hasrat ilmiah murni, Sirzechs. Aku mencari pengetahuan, bukannya koleksi. Lagipula, Sacred Gear yang dicuri dari pemilik asli takkan pernah mencapai potensi terbaiknya." Azazel mengalihkan wajah. "...Tapi aku tidak menyangka aku akan menemukan Sekiryuutei, pemilik Boosted Gear, serta satu orang lagi yang sama menariknya."
Pemimpin kaum Datenshi itu mengambil satu langkah mendekat ke arah Naruto dan mencondongkan tubuhnya ke depan, mengamati sang shinobi pirang dengan mata yang bersinar jeli sambil mengusap-usap dagunya yang dipenuhi janggut berwarna hitam. "Macan Menunduk Siap Menerkam. Kuda-kuda dengan respon bahaya tertinggi yang diciptakan oleh Sarutobi Hiruzen, Shinobi no Kami, dalam masa keemasannya." Ia mendongak untuk menatap wajah Naruto, menyaksikan bagaimana alis pemuda itu terangkat begitu tinggi. "Sepertinya si Gama Sennin itu benar-benar sudah melatihmu dengan baik, Namikaze Naruto."
Mata Sirzechs berkerlip, menyiratkan rasa penasaran. "Sarutobi Hiruzen? Bukannya itu nama Sandaime, pemegang jabatan Hokage sebelum Minato?" sang Raja Iblis turut mencondongkan tubuhnya. "Bagaimana kau bisa tahu nama itu, Azazel?"
Azazel terkekeh. "Kau bukanlah satu-satunya penghuni Akhirat yang pernah membuat kontak dengan kaum shinobi, Sirzechs. Walau harus kuakui, aku tak pernah menyangka bahwa kau yang dulu takkan pernah memandang umat manusia dua kali bisa menjadi sahabat Namikaze Minato, salah satu shinobi terkuat yang pernah hidup." Azazel mengangkat bahu. "Yah, kurasa aku juga tak pantas banyak bicara, mengingat aku sendiri sampai hari ini belum pernah menang melawan si Kodok Tua itu."
"Kau kenal Jiji? Dan juga Ero-sennin?"
Azazel menatap Naruto dengan mata lebar untuk sepersekian detik sebelum tergelak. "'E-Ero-sennin'?! Ya ampun!" dia terus tertawa sampai matanya merembeskan air. "Manusia yang bisa bertarung seimbang melawanku, ninja yang dihormati oleh seluruh dunia shinobi, dan dia dipanggil 'Ero-sennin' oleh muridnya sendiri?! Aduh, perutku!"
"Hei!" Naruto berseru dengan wajah tersipu menahan malu. "Memangnya salah kalau aku memanggilnya seperti itu?! Pertama kali kami bertemu, dia lagi mengintip para wanita yang sedang mandi di onsen, tahu?!"
Azazel malah semakin keras tertawa. "I-i-itu pasti yang dia sebut 'penelitian', ya kan?! Penelitian untuk buku mesumnya itu, ya kan?!" Ia jatuh terduduk sambil memegangi perutnya. "Oh Tuhan, aku nggak bisa berhenti ketawa...!"
Naruto sudah berniat menyahut lagi ketika ia merasakan bulu kuduknya merinding, membuatnya membalikkan tubuh pelan-pelan. Rona wajahnya mulai memucat ketika melihat Rias dan Sona berdiri tepat satu langkah di depan sang shinobi, memandanginya dengan sebuah senyuman yang sama sekali tidak memudarkan aura haus darah yang mereka pancarkan.
"Namikaze-kun, apa aku tadi tidak salah dengar?" Sona bertanya dengan nada sopan sebagaimana biasa, membuat Naruto tak mengerti kenapa dia malah merasa seperti diterpa angin badai di musim dingin saat mendengarnya.
"Namikaze, jadi kau dilatih oleh seorang guru yang mesum, hmm?" kalau nada pertanyaan Sona membuatnya seperti diserbu badai salju, maka suara Rias membuat Naruto seperti diguyur lahar yang baru tercurah dari gunung meletus.
"A-anu... aku belum pernah bilang ya?" keringat dingin mulai membasahi dahi dan pelipis sang ninja berambut pirang. "Shishou-ku memiliki pekerjaan sampingan, yaitu penulis serial literatur berjudul Icha-Icha yang ditujukan untuk pembaca berusia delapan belas tahun ke atas."
"Oh?" Sona mengambil satu langkah maju dan membuat jarak antara kedua remaja itu hanya tinggal kurang dari sejengkal, bibirnya yang kecil masih tersenyum menyenangkan. "Kenapa aku masih merasa ada hal lain yang belum kau sebutkan, Namikaze-kun?"
"Er..." Naruto melirik ke arah pintu, menimbang-nimbang apakah dia punya cukup waktu untuk kabur dari ruangan itu. Hanya saja, rencana itu terpaksa ditelantarkan karena Rias telah terlebih dahulu mendekat dan memegangi ujung lengan jaketnya.
"Jangan coba-coba lari." Mata Rias sudah sangat menyipit sampai-sampai Naruto tidak yakin apakah yang ada di balik kelopak itu memang mata atau api Neraka. "Kita tidak mau ada hal buruk yang terjadi padamu kan, Namikaze?"
"Tapi hal lain apa yang belum ku—Oh," Naruto mencoba mengabaikan Azazel yang terus saja tertawa terbahak-bahak di belakangnya. "Oh, apa aku belum menyebutkan kalau aku juga bekerja sebagai co-writer, beta reader, sekaligus editor naskah buku Icha-Icha terbaru?"
Peningkatan intensitas aura dari Sona dan Rias membuat Naruto langsung tahu bahwa dia sudah salah bicara.
"Aah." Dua gadis Iblis itu berucap bersamaan. Senyuman di dua wajah cewek remaja itu makin melebar, sesuatu yang berlawanan dengan hawa mematikan yang menguar dari mereka dan memenuhi ruangan, sementara anggota Peerage mereka semuanya sudah berdiri menempel ke dinding dengan wajah ketakutan.
"Er, em... maaf?"
"Kaukira semua ini bisa selesai dengan hanya meminta maaf?" Sona mengangkat tangan kanannya yang sudah dilapisi Youki berwarna putih kebiruan.
"T-t-tapi... aku bahkan nggak tahu aku salah apa!"
Rias mengangkat tangan kirinya yang dilapisi Youki hitam bernuansa merah, rambutnya yang panjang melayang-layang melawan gravitasi bumi. "Tidak apa-apa kalau kau tidak tahu salahmu apa. Kau hanya harus tahu bahwa kau perlu dihukum."
"T-tunggu, jangan gegabah dulu—"
Sona dan Rias menyabetkan tangan mereka secara bersamaan. "DIAM!"
"NGAAAAH!"
~•~
Sirzechs mengambil waktu sesaat untuk mengamati Naruto yang masih terbaring telungkup di lantai dengan pipi bengkak dan kepala penuh benjolan-benjolan merah menyala, serta gadis biarawati yang telah diselamatkan oleh Pion terbaru Rias dan sedang bersimpuh di depan sang shinobi pirang dengan tangan berselimut cahaya hijau terang yang nampaknya berasal dari Sacred Gear.
"Twilight Healing," Sirzechs menoleh saat mendengar suara Azazel. "Sacred Gear dengan spesialisasi penyembuhan luka fisik."
Issei menoleh. "Kau tahu mengenai Sacred Gear milik Asia, Azazel-san?"
"Tentu saja. Mana bisa aku menyebut diriku sebagai seorang penggemar Sacred Gear kalau aku tidak tahu hal seperti ini," pemimpin kaum Datenshi itu menyahut dengan senyuman lebar. "Twilight Healing, juga dikenal dengan nama Smile of the Holy Mother, adalah Sacred Gear langka yang kabarnya hanya dimiliki oleh segelintir orang di seluruh dunia. Memang, Sacred Gear ini sama sekali tidak bisa digunakan untuk menyerang, tapi baik di Bumi atau Akhirat, tak ada makhluk yang tidak bisa disembuhkan oleh Twilight Healing."
Azazel berbalik dengan begitu cepat sampai Issei merasa jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat. "Tapi selangka-langkanya Twilight Healing, itu masih kalah jauh dengan Sacred Gear unik yang kau miliki," sengiran di wajah Azazel yang semakin melebar mau tidak mau membuat Issei menelan ludah karena nyali yang agak ciut. "Sacred Gear sakti yang merupakan satu dari tiga belas Longinus, Sacred Gear yang konon bisa memberi penggunanya cukup kekuatan bahkan untuk membunuh Tuhan. Boosted Gear, yang juga dikenal sebagai Red Dragon Emperor's Gauntlet, adalah Sacred Gear yang menyimpan jiwa Ddraig, satu dari dua Naga Surgawi yang ditakuti oleh Iblis, Malaikat, dan Datenshi karena memiliki kekuatan untuk membunuh Tuhan dan Satan."
Datenshi yang mengenakan yukata itu bersiul. "Tapi inilah pertama kalinya aku melihat seorang Sekiryuutei yang sudah bisa mengerahkan kekuatan penuhnya tanpa mengetahui apa tepatnya fungsi Boosted Gear! Oh, benar, kau memang butuh bantuan untuk mencapai level kekuatan itu, dan kau hanya bisa mempertahankannya paling lama tiga puluh detik, tapi tetap saja itu tak mengubah fakta bahwa kau telah berhasil mengkontain Youki yang cukup kuat untuk mensaturasi seluruh pulau dengan hanya dengan kekeraskepalaan dan tekad! Kau bahkan—"
"Azazel," Sirzechs memperingatkan dengan halus. "Tolong jaga sikapmu. Kau membuat Issei-kun tidak nyaman."
"Oh, maaf. Aku terlalu bersemangat," sang Datenshi menegakkan tubuhnya kembali. Dia kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit. "Sebenarnya salah satu alasanku datang kemari adalah karena aku ingin meminta maaf padamu, anak muda."
Issei tertegun. "...Eh?"
"Kalau saja aku lebih jeli mengawasi tingkah dan tindakan anak buahku, maka kau mungkin tidak akan kehilangan nyawa dan harus dibangkitkan kembali menjadi seorang Iblis. Sekali lagi, atas kelalaian ini, aku minta maaf."
Sirzechs mengangkat alis. "Apa aku tidak salah lihat? Pimpinan kaum Datenshi menurunkan kepalanya pada seorang Iblis?"
Azazel menegakkan tubuhnya kembali. "Aku tidak akan membuat alasan. Aku menyuruh Raynare pergi ke kota ini hanya untuk mengintai dan mencari orang-orang yang berpotensi memiliki Sacred Gear. Aku tidak menyangka dia malah membunuh pengguna Sacred Gear pertama yang ia temukan," Azazel melirik Issei. "Dan mencoba mencuri Sacred Gear dari pemilik aslinya." Kali ini matanya tertuju pada Asia.
"Ah, kalau aku boleh jujur, sebenarnya kau tidak perlu minta maaf," sahut Issei sambil mengusap tengkuknya. "Mungkin kedengarannya aneh, tapi sebenarnya aku mensyukuri perubahanku ini. Karena kalau aku tidak menjadi Iblis, maka kemungkinan besar aku takkan mampu menyelamatkan Asia."
"Jarang sekali aku menemui Iblis yang rendah hati seperti ini," Azazel tertawa renyah. "Tapi aku tetap berpegang pada pernyataanku, Hyoudou Issei. Aku meminta maaf untuk kesalahan yang telah dan yang mungkin telah kulakukan."
"Dan kenapa kami harus percaya kata-katamu?" Naruto yang sudah sembuh dan berdiri lagi buka suara. "Kau bisa saja sedang berbohong pada kami. Kau bisa saja mengatakan semua ini, padahal pada sesungguhnya Datenshi sialan itu kau kirim untuk membunuh pengguna Sacred Gear yang mungkin bisa menjadi bahaya, serta merampas Sacred Gear langka yang bisa dia temukan."
"Jangan remehkan aku, anak muda. Kukatakan sekali lagi, aku mencari pengetahuan, bukannya koleksi. Aku tidak pernah dan takkan pernah merampas Sacred Gear milik seseorang hanya demi penelitianku sendiri. Bagiku yang selalu penasaran seperti apa kemampuan Sacred Gear, perbuatan seperti mencuri dari pemilik asli, yang membuat sebuah Sacred Gear takkan pernah bisa mencapai potensi tertingginya, adalah sesuatu yang takkan mungkin kulakukan." Azazel memutar tubuh sepenuhnya agar ia berdiri menghadap ke sang shinobi pirang yang bertubuh hampir sama tinggi dengannya itu. "Lagipula, kaupikir aku akan membiarkan kalian berdua meninggalkan gereja terbengkalai itu hidup-hidup kalau memang benar aku mendukung apa yang dilakukan Raynare?"
"...Kalau memang benar Datenshi itu membangkang, bukankah kau seharusnya senang karena Issei sudah melenyapkannya untukmu? Lalu kenapa kau masih di sini?"
"Aku memang senang, tapi setelah mendengar pembicaraan di ruangan ini, sekarang aku jadi penasaran," Azazel bersidekap, dan sinar matanya menajam. "Kau mengatakan bahwa kau melakukan semua ini, menjaga kelangsungan gencatan senjata antara fraksi Iblis dan Datenshi, membersihkan tuduhan dari nama Rias Gremory, bahkan memastikan Pionnya mendapatkan hukuman teringan, karena adik sang Lucifer ini butuh pertolongan yang bisa kau berikan. Sekarang, yang ingin kutanyakan adalah, apakah hanya Gremory yang jadi sasaran pertolonganmu ini, ataukah ada yang lain?"
Naruto terdiam sesaat sebelum ia buang muka. "...Cih."
Azazel mengambil satu langkah maju, membuat postur tubuh sang shinobi pirang mengeras ketika didekati seperti itu. "...Keluarkan mereka."
Naruto mencoba memasang wajah tidak mengerti. "...Aku tak tahu apa yang kau bicarakan."
"Jangan kira aku bisa dibodohi semudah itu, bocah. Aku tahu kau yang menyembunyikan mereka," melihat tubuh Naruto yang menegang seperti mulai bersiap-siap untuk lari dari ruangan, Azazel menghembuskan napas panjang. "...Aku hanya ingin bicara, oke?"
Naruto menatap Azazel selama beberapa saat tanpa menjawab, seakan masih dalam proses memutuskan apakah dia bisa dipercaya atau tidak. Renungan itu terputus ketika Sirzechs menepuk salah satu bahu Naruto. "Tenang saja, Naruto-kun, sekolah ini adalah teritori Iblis. Aku bisa jamin dia tidak akan berani macam-macam di tempat ini, terutama karena seorang Maou sedang berada di ruangan yang sama."
Mendengar peringatan halus itu, Azazel hanya tertawa. "Itu benar, itu benar." Dia menatap Naruto dan meminta sekali lagi. "Jadi bagaimana, anak muda? Apa yang akan kaulakukan?"
Naruto memejamkan matanya dan berpikir. Tidak sampai setengah menit kemudian, matanya telah terbuka dan kakinya telah melangkah, membawa Naruto ke dinding ruangan di mana shinobi muda itu merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang ia buka di atas lantai, membuat mereka melihat bahwa di kertas itu juga terlukis sebuah susunan aksara yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Naruto menggigit sampai menciptakan luka yang merembeskan darah, kemudian mengoleskan cairan merah lengkat itu di tengah-tengah segel yang ada di gulungan.
"Kai (Release)." Ia mengucapkan satu kata yang membuat Fuuin penyimpanan di kertas gulungan menyala terang sesaat sebelum kepulan asap tercipta di atasnya. Ketika kepulan asap itu pupus, hampir setiap pasang mata melebar ketika melihat bahwa di sana telah tersandar tiga orang dengan sayap hitam yang menjadi pertanda status mereka sebagai Datenshi.
Mittelt, Kalawarner, dan Dohnaseek membuka mata mereka perlahan-lahan. Hal terakhir yang mereka ingat sebelum semuanya jadi gelap adalah bertarung di tengah-tengah hutan melawan seorang shinobi yang entah bagaimana seakan-akan berubah menjadi hantu gentayangan setelah terbunuh oleh serangan mereka.
Saat menyadari bahwa mereka tidak sendirian, ketiga Datenshi itu segera berdiri dan mengeluarkan tombak cahaya masing-masing dengan niat mempertahankan diri. Hanya saja, wajah mereka langsung memucat saat mendapati bahwa mereka dikepung dari segala arah oleh kaum Iblis yang berjumlah hampir tiga kali lipat lebih jumlah mereka sendiri.
"Berhenti."
Wajah Mittelt, Kalawarner, dan Dohnaseek kehabisan warna sehatnya dan berubah pucat pasi saat mereka mengenali suara itu. Kepala mereka bergerak perlahan-lahan untuk menoleh, mendapati bahwa atasan tertinggi dari kaum Datenshi memang sedang berdiri di samping mereka, dan nyali mereka hampir saja putus saat melihat sorotan mata tajam dan ekspresi tidak senang yang terpasang di wajah Azazel.
...Hanya untuk kembali dikejutkan ketika menyaksikan shinobi berambut pirang yang telah mengalahkan tiga Datenshi itu mengambil posisi di depan mereka, membalas delikan Azazel dengan tatapan dinginnya.
"...Apa maksudnya ini, Namikaze Naruto?" sang pemimpin kalangan malaikat buangan bertanya, nada suaranya yang kalem menyembunyikan ancaman.
"Kau sedang apa, Naruto-san?! Kenapa kau melindungi mereka?!" Issei turut berteriak. "Apa kau lupa kalau mereka bawahan Raynare?!"
"Mereka memang bawahan Raynare," Naruto menyahut datar. "Tapi aku tidak mencium bau darah manusia dari tangan mereka."
Issei mengerutkan dahinya tak mengerti. "...Hah?"
"Sebelum menjadi anak buah Raynare, Mittelt, Kalawarner, dan Dohnaseek ini hanya pernah mendapat tugas untuk memburu Iblis Liar yang menyusup ke teritori kubu Datenshi," Azazel mengambil alih peran sebagai penyuplai jawaban sambil terus menatap Naruto yang melindungi ketiga bawahannya itu. "Akan tetapi, walau mereka tidak pernah membunuh manusia, itu tidak mengubah fakta bahwa mereka telah membantu Raynare berbuat kejahatan, Namikaze Naruto."
"Dan itu juga tidak mengubah fakta bahwa kau tak boleh menghukum orang yang tidak diberi pilihan."
Implikasi sahutan Naruto membuat alis Azazel bertaut. Ia mengalihkan matanya dari Naruto untuk menatap ketiga Datenshi yang terlindung di balik punggungnya. "...Apa itu benar? Apa Raynare mengancam kalian?"
"Kalau itu tidak benar," Naruto dengan cepat menyela. "Kaukira aku akan membiarkan mereka hidup begitu saja?"
Ada ketegangan yang tercipta ketika dua orang yang berbeda spesies itu terus saling tatap dengan sorotan mata yang sama-sama tajam. Namun nyali Naruto sama sekali tidak ciut. Bagi dia yang telah melewati belasan sesi saling ejek dengan seorang rubah raksasa berekor sembilan ketika dia masih berusia dua belas tahun, Naruto sama sekali tidak akan takut kalau hanya harus bertatapan dengan seorang malaikat yang telah jatuh dari Surga.
Azazel memperpanjang umur delikannya untuk beberapa detik ekstra sebelum ia akhirnya memejamkan mata, bibirnya terpisah dan menghembuskan napas panjang. "Baik, baik, baik. Kau menang."
"...Kenapa kau melindungi kami?" suara pelan Mittelt membuat Naruto berbalik, hanya untuk melihat seorang Datenshi berambut pirang yang menundukkan kepala dan mengepalkan tangannya. "Setelah apa yang kami lakukan, setelah kami mencoba membunuhmu, kenapa kau masih membela kami seperti ini?!"
Naruto habis kesabaran.
"...Ada apa sebenarnya dengan kalian semua ini?!" Naruto melotot dengan rasa tak percaya sembari melempar tangannya ke atas. "[Kenapa kau menolong kami?], [Kenapa kau membantu kami?], selalu saja pertanyaan semacam itu!" Teriakannya yang berisi amarah membuat beberapa orang berjengit. "Kalian terpaksa melakukan apa yang kalian lakukan, karena kalau tidak nyawa kalian akan terancam! Kalian butuh bantuan, dan aku bersedia membantu! Alasan apa lagi yang kuperlukan?!"
"A-aku..." Mittelt yang tak menyangka dirinya akan diomeli hanya bisa terbata. "A-aku hanya—"
"DIAM!" hardikan Naruto membuat Datenshi bertubuh kecil itu berjengit. "Kenapa sepertinya susah sekali bagi kalian untuk menerima pertolongan dariku, hah?! Atau jangan-jangan karena aku cuma seorang manusia, begitu?! Karena aku hanya seorang manusia rendahan, lalu aku perlu berbagai macam alasan hanya untuk menolong orang lain, begitu?! Apa itu alasannya?!"
Naruto mengedarkan pandangannya, dan tak satupun dari ketiga Datenshi itu yang membalas tatapannya. "Jawab pertanyaanku!"
Sebelum Naruto sempat melanjutkan luapan kemarahannya, sebuah tangan telah terlebih dahulu memegang dan meremas bahunya. "Tenanglah, Naruto-kun."
Sirzechs tidak melepaskan pegangannya sampai Naruto akhirnya memejamkan mata dan menghela beberapa napas panjang. Ekspresi wajahnya sudah melunak ketika kelopak matanya terbuka kembali, walau bahasa tubuhnya masih menyiratkan kekesalan.
"Aku mau makan," dia tiba-tiba berucap, perkataannya mengejutkan seisi ruangan. "Aku masih lapar, jadi aku mau makan. Aku tak peduli apa yang harus kalian lakukan atau bagaimana, tapi kalau kau," dia menunjuk Sirzechs. "Kau," jari telunjuknya sekarang terarah ke Azazel. "Kau, kau, kau, dan kau," Rias, Sona, Issei, dan Mittelt. "Tidak senang dengan rencanaku, maka duduk dan bicara dan berdiskusilah sampai kalian menemukan solusi yang bisa membuat semua orang senang." Dia menoleh dan menatap Sirzechs tajam-tajam. "Dan saat aku sudah selesai makan, masalah ini sudah harus punya jalan keluar. Mengerti?"
Dihadapkan dengan mata biru langit yang mengingatkan sang Raja Iblis pada sahabatnya yang telah tiada itu, jawaban Sirzechs keluar dengan sedikit terbata. "T-tentu saja, Mina—Naruto-kun."
Naruto tidak menggubris bagaimana Sirzechs hampir mengucapkan nama ayahnya. Dia hanya melangkah ke arah kardus berisi cup ramen dan kompor portabel sebelum kembali bekerja untuk menyeduh mi instan.
Azazel mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Sirzechs dan berbisik. "...Salahkah kalau aku tiba-tiba merasa kita ini seperti anak kecil yang dimarahi saja?"
Sirzechs terkekeh malu-malu untuk menandakan bahwa dia berpikiran sama.
~•~
Setelah menyuruh Saji dan Tsubaki untuk pulang ke rumah masing-masing, Sona yang tersadar bahwa dia telah melupakan beberapa dokumen penting di ruang OSIS dalam ketergesaannya untuk menyelidiki insiden menyangkut ledakan energi Hyoudou Issei beberapa jam lalu, sekarang sedang mendaki tangga yang menghubungan lantai dua dengan lantai tiga bangunan utama Akademi Kuoh seorang diri. Matanya menatap ke depan, namun pikirannya masih terfokus pada akhir peristiwa yang terjadi di bangunan sekolah lama yang menjadi markas rival sekaligus sahabatnya, Rias Gremory.
Sementara menunggu sang shinobi pirang menyelesaikan makan malamnya, diskusi yang dilaksanakan antara Sirzechs dan Azazel berhasil memperoleh titik temu yang akan bisa menghindarkan konflik antara dua kubu pimpinan mereka, dengan hasil yang cukup positif. Mereka tetap akan memakai kedok cerita yang telah dibuat oleh Naruto, dan Azazel, sang pemimpin kaum Datenshi, yang telah mengetahui duduk permasalahan membuat keputusan untuk melepaskan Mittelt, Kalawarner, dan Dohnaseek dengan hukuman ringan, menyelidiki siapa dalang sebenarnya di balik pembangkangan Raynare, serta menjamin bahwa dia akan memastikan tak ada bawahannya yang akan mengincar Naruto di kemudian hari. Setelah membuat kesepakatan dengan kaum Iblis untuk terus menyambung jalur komunikasi agar di kemudian hari kejadian yang sama tak terulang kembali, Azazel menciptakan sebuah lingkaran sihir transportasi dan membawa ketiga bawahannya pergi.
Sona mengingat apa yang terjadi sebelum kepergian keempat Datenshi itu. Dia teringat bagaimana Datenshi bertubuh kecil dan berambut pirang bernama Mittelt menarik perhatian Naruto dengan meraih lengan jaketnya. Sona diserang rasa bingung ketika mendapati hatinya tiba-tiba terasa seperti dicubit saat mengingat bagaimana wajah sang Datenshi yang tertunduk itu terlihat merona selagi ia berterimakasih dengan bisikan yang sedikit terbata.
Sensasi cubitan di hatinya terasa semakin menyakitkan ketika ia mengingat Naruto membalas haturan terimakasih itu dengan sebuah senyuman dan sebuah tepukan di puncak kepala Mittelt. Sona sama sekali tak bisa mengatakan apa alasannya, tapi dia jelas-jelas ingat benaknya dipenuhi rasa tidak suka ketika melihat bagaimana rona di wajah Mittelt meningkat menjadi merah padam ketika gadis Datenshi itu mendongak untuk membalas senyuman sang shinobi pirang.
Dia juga tak tahu mengapa dia mengulurkan tangan seperti mencoba meraih punggung yang dilapisi jaket itu ketika Naruto mengucapkan sampai jumpa dan meninggalkan ruang klub Occult Kenkyu-bu, sebagaimana dia juga tak yakin mengapa lidahnya menjadi kelu ketika dia mencoba mengucapkan salam perpisahan pada orang yang sudah tak ia temui, sekaligus orang yang telah menjadi bagian renungannya selama tiga hari terakhir.
Dia adalah seorang [Shinobi], suatu jenis pekerjaan yang hanya pernah ia ketahui dari legenda atau cerita fiksi. Okupasi dengan kewajiban dan keahlian beragam yang seringkali diasosiasikan dengan kegiatan berbau penipuan, infiltrasi, bahkan tindakan yang seringkali berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang. Tidak hanya itu, dia juga seorang [Manusia], umat yang Sona ketahui sebagai ras yang lemah dan seringkali bergantung pada cara-cara tak terpuji dan licik, bahkan membengkokkan fakta untuk memuaskan keserakahan mereka.
Namun Namikaze Naruto adalah orang yang hanya bisa ia deskripsikan dengan dua kata: [Teka-teki]. Satu eksistensi yang merubah semua prasangka yang Sona miliki atas apa yang seharusnya disebut sebagai seorang manusia. Dia telah melihat dan merasakan sendiri bagaimana shinobi yang masih remaja itu menunjukkan keahliannya dalam persoalan menyembunyikan fakta bahkan mempermainkan kebenaran. Hanya saja, semua tipuan yang dia buat tak pernah ditujukan untuk kepentingannya sendiri. Mulai dari memastikan kelangsungan gencatan senjata antara fraksi Iblis dan Datenshi, membersihkan nama Rias, meringankan hukuman Issei, bahkan sampai melindungi tiga Datenshi bawahan Raynare yang hanya membantu atasannya karena mereka diancam, Naruto melakukan semua itu dengan membahayakan keselamatan bahkan nyawanya sendiri.
Dan Sona tak bisa mengerti kenapa dia bisa melakukan semua itu dengan begitu mudah, seakan-akan menyelamatkan orang sudah menjadi santapannya sehari-hari. Lalu ia tersadar. Namikaze Naruto pada dasarnya adalah orang sangat [Serakah], tapi bisakah Sona menyebutnya seperti itu kalau deskripsi [Keserakahan] Naruto adalah hasrat untuk membantu dan menolong sebanyak mungkin orang, tanpa peduli bahwa dirinya sendiri yang akan menjadi korban? Bisakah Sona menyebut Naruto sebagai orang yang sebenarnya [Sangat Serakah], kalau [Keserakahan] pemuda itu selalu ditujukan untuk menguntungkan orang lain, tapi hampir selalu merugikan dirinya sendiri?
Tak ayal, jalan fikir semacam itu mulai membuat Sona membandingkan Naruto dengan dirinya sendiri.
Sebagai seorang Iblis yang berasal dari kalangan atas, sebagai ahli waris klan Sitri setelah kakaknya dilantik menjadi salah satu dari empat penguasa Meikai, Sona telah dididik dari kecil untuk selalu mengutamakan kepentingannya sendiri. Itulah mengapa kata-kata Naruto di ruang OSIS beberapa hari lalu benar-benar membuatnya terpukul, bahkan sampai hampir depresi.
Walau Naruto telah keliru dalam beberapa poin, walau anggapan Naruto bahwa Evil Pieces bisa membuat manusia kehilangan kemerdekaan dan kehendak pribadi mereka saat dibangkitkan kembali menjadi Iblis adalah sesuatu yang salah, Sona tak bisa menyangkal kenyataan bahwa dia telah menjadikan anak-anak remaja yang baru saja akil balig sebagai Peerage-nya karena Sona ingin meningkatkan status dan derajatnya di kalangan pendiam Meikai.
Dia bahkan tidak seperti Rias yang telah beberapa kali menggunakan Evil Pieces-nya untuk menyelamatkan nyawa seseorang, karena Sona, pada dasarnya, menjadikan Tsubaki, Saji, dan yang lain sebagai anggota Peerage-nya karena dalam pandangan Sona, mereka memiliki potensi yang akan bisa dia manfaatkan untuk memperkuat posisi dan memperoleh pengakuan dari kalangan Iblis elit penghuni Meikai yang suatu hari akan menjadi dunianya.
Jika dihadapkan dengan laki-laki pemilik mata biru langit yang selalu bersinar tanpa pamrih itu, maka Sona, seorang Iblis berdarah murni yang memegang peranan Raja dalam sebuah Peerage, tak ada bedanya dengan seorang gadis remaja yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Di hadapan manusia berjiwa mulia yang selalu mementingkan orang lain itu, Sona merasa bahwa dirinya tak lebih dari seorang makhluk egois yang tak pantas disukai.
...Sona tidak mengerti kenapa pikiran itu membuat rongga dadanya seakan-akan menyempit sampai setiap tarikan napasnya menjadi sesak dan sakit.
Mungkin itulah alasan kenapa dia masih ada di Akademi Kuoh yang telah lama kosong, menapaki lorong-lorong sunyi, jalannya hanya diterangi oleh sinar bulan yang menembus kaca jendela. Mungkin karena itulah sekarang dia pergi menuju ruang OSIS, hanya ditemani suara pelan yang tercipta ketika hak sepatunya bertemu anak tangga. Dokumen-dokumen yang telah ia sebutkan memang penting, tapi bukan berarti dia harus menyelesaikannya hari ini. Tapi ruangan yang telah menjadi markasnya sejak dia memasuki tahun sekolah kedua di Akademi Kuoh itu selalu membuatnya merasa betah, dan mungkin rasa betah itulah yang membuat Sona ingin pergi ke sana untuk sedikit menenangkan emosi, mungkin dengan meminum teh hijau panas dan ditemani makanan kecil.
Rencana itu pupus bahkan sebelum sempat dimulai.
Jarak antara Sona dan pintu ruang OSIS masih tersisa belasan langkah ketika ia mendongak, dan Sona bersumpah jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat ketika ia melihat sosok berbalut jaket telah ada di dalam garis penglihatannya. Pemilik kepala penuh rambut pirang jabrik itu bersandar ke dinding tepat di samping pintu, matanya terpejam dan tangannya bersidekap seakan sedang menunggu sesuatu.
"Namikaze-kun?"
Panggilan yang ia ucapkan tanpa sadar itu membuat sang remaja pirang membuka matanya yang langsung terarah pada Sona. Tangannya berhenti bersidekap dan terkulai santai di samping tubuhnya selagi Naruto memberikan sapaan balik. "Shitori-san."
Sona tak tahu apa yang terjadi padanya, dan Iblis remaja itu tidak habis pikir mengapa mendengar suara itu membuat sang ketua OSIS ingin berbalik dan kabur dari tempat itu tanpa menoleh ke belakang.
Sadar bahwa jalan pikirannya mulai tidak rasional, Sona berdeham dan mengerahkan setiap serat kendali emosinya agar tetap terlihat tenang.
"Apa kau ada perlu denganku, Namikaze-kun?"
Naruto tidak menjawab. Dia hanya membuka pintu geser ruangan OSIS dan memberi isyarat dengan tangannya untuk mempersilakan Sona masuk terlebih dahulu, membuat Sona harus menahan diri untuk tidak mengomentari sikap gentleman yang tidak ia antisipasi itu. Saat mereka berdua sudah ada di dalam, rasa kaget dan bingung kembali menyertai perasaan Sona karena mendapati ada rasa kecewa dalam hatinya ketika dia tak mendengar Naruto mengunci pintu.
Saat tersadar apa implikasi dari situasi menyangkut dua remaja berbeda gender yang terkunci di dalam sebuah ruangan dan hanya berdua saja setelah larut malam, Sona harus menggelengkan kepala berkali-kali untuk mengusir rona merah yang pasti sudah mewarnai pipinya.
"Shitori-san?"
Jantung Sona terasa melompat sampai ke tengah-tengah kerongkongannya ketika mendengar suara yang sekarang berisi nada khawatir itu. Sona menghela napas dalam-dalam sembari diam-diam mencubit punggung tangannya untuk menenangkan diri, membuat suaranya tidak bergetar ketika dia bicara lagi. "Aku baik-baik saja, Namikaze-kun."
Sona menarik dan memutar sebuah kursi berpunggung tinggi dari meja panjang yang ada di tengah ruangan, sebelum duduk di atasnya dengan tangan bersidekap dan paha disilangkan. "Aku tanya sekali lagi, apa kau ada perlu denganku, Namikaze-kun?"
Dia sebenarnya memiliki dugaan tentang apa yang ingin dibicarakan oleh sang shinobi pirang. Hanya saja, dia sama sekali tidak bisa menduga kalau manusia remaja itu akan bersimpuh di depannya sebelum membungkuk sampai kepalanya menyentuh lantai dalam posisi dogeza.
"Aku memohon maaf."
Saking terkejutnya, ucapan Sona kembali menjadi terbata. "N-Namikaze-kun?"
"Aku memohon maaf," Naruto berucap sekali dari dari wajahnya yang masih paralel dengan lantai. "Aku telah bersalah karena dengan semena-mena melemparkan tuduhan-tuduhan yang tidak benar padamu. Aku telah menyakiti perasaanmu hanya karena aku memiliki pengalaman buruk dengan kaum Iblis yang sama sekali tidak mempunyai hubungan denganmu. Ketika pada seharusnya aku mencari kebenaran dulu, aku malah dengan seenaknya meneriakimu dengan hanya berdasar pada prasangka dan asumsi, bukannya fakta sejati."
Dihadapkan dengan permohonan maaf yang jujur seperti itu, Sona hanya bisa melempar satu pertanyaan pintar. "...Kenapa?"
Naruto mengangkat kepalanya agar ia bisa menatap Sona mata-ke-mata. "Karena aku telah keliru."
"Tidak seperti anggapanku, Evil Pieces tidak merebut kemerdekaan ataupun memperbudak seseorang. Aku bahkan tidak perlu mencari jauh-jauh, buktinya bisa terlihat jelas dari Issei. Evil Pieces yang digunakan Gremory untuk membangkitkan Issei mungkin telah merubah tubuhnya menjadi Iblis dan memenuhinya dengan Youki, tapi jiwa dan nilai moral yang Issei miliki sebagai manusia sama sekali tidak mengalami perubahan. Tidak hanya itu, aku juga telah melakukan penyelidikan pada manusia-manusia yang membuat kontrak dengan kaum Iblis di kota ini, dan satu-satunya kesimpulan yang bisa kutarik dari semua informasi itu adalah walaupun kau dan Gremory adalah Iblis, kalian bukanlah Iblis yang sama dengan yang telah kutemui di masa lalu."
"T-tapi... aku sudah mengubah siswa dan siswi dari Akademi ini menjadi Iblis untuk Peerage-ku—"
"Yang kau lakukan setelah meminta persetujuan mereka dan menjelaskan apa saja yang akan terjadi kalau mereka menjadi Iblis di bawah kepemimpinanmu, dan mereka tetap memilih untuk menerima. Mereka melakukannya atas dasar kehendak mereka sendiri, dan aku takkan pernah lagi menyalahkanmu karena hal itu."
"...Tapi—"
"Kau menawarkan, dan mereka menerima." Naruto dengan cepat menyela. "Tak ada yang salah dengan itu, Shitori-san."
Saat ia menarik napas selanjutnya, Sona menyadari bahwa dadanya dipenuhi rasa lega dan volume paru-parunya seakan meningkat beberapa kali lipat. Sona merasa seakan-akan bahunya telah terbebas dari semacam beban berat, membuat tubuhnya serasa jauh lebih ringan.
"Aku sepenuhnya sadar bahwa aku takkan bisa menghapus fakta bahwa aku telah menyakitimu hanya dengan kata-kata, karena itulah, sampai kau bersedia memaafkanku, aku mau melakukan apa saja," Sona melihat Naruto menundukkan kepalanya lagi. "Selama kau tidak menyuruhku berbuat kejahatan atau melukai orang tak bersalah," Naruto menjelaskan tanpa sedikitpun merubah posisi. "Maka perintah apapun yang kauberikan, akan kulaksanakan."
Ada kesunyian yang cukup lama antara mereka berdua. Sona terdiam karena tak tahu harus mengatakan apa serta masih berusaha mencerna bahwa dia baru saja diberi sebuah hak kuasa istimewa atas seorang ninja, membuatnya bertanya-tanya apakah Naruto dibesarkan oleh keluarga samurai, karena setahu Sona, ninja bukanlah tipe pekerjaan yang menjunjung tinggi kehormatan dan harga diri. Naruto terdiam karena dia telah selesai menyampaikan apa yang ingin ia katakan, dan sekarang dia hanya tinggal menunggu apa keputusan ketua OSIS di depannya.
"Pertama-tama, tolong angkat dulu kepalamu," merasa ingin mengetes sejauh mana kuasa yang telah diberikan Naruto padanya, Sona segera melempar pertanyaan pertama. "Bagaimana kalau aku menyuruhmu untuk menjadi bagian Peerage-ku?"
Jawaban Naruto datang dengan cepat. "Aku tak bisa melakukan itu."
"Kenapa?" Mendengar sahutan tanpa jeda maupun keraguan itu, kening Sona berkerut. "Apa yang salah dengan perintah itu?"
"Karena aku adalah seorang manusia. Aku ingin menjalani kehidupan dan menyambut kematian sebagai manusia." Naruto tersenyum masam. "Anggap saja begini: apa kau sendiri mau membuang identitasmu sebagai seorang Iblis hanya karena suruhan seseorang? Aku mohon maaf, tapi menjadi Iblis adalah salah satu dari sedikit permintaan yang tak bisa kukabulkan."
Sona mengerucutkan bibir, tapi walau hatinya tak senang, otaknya bisa menerima alasan itu sebagai sesuatu yang valid.
Sona mengangguk dalam hati. Kelihatannya dia harus memulai tes ini dari hal paling kecil. "Panggil aku Sona."
"Baik... Sona-san."
Mata Sona melebar sedikit saat mendapati Naruto menuruti perintahnya itu tanpa protes.
"Lalu... lalu..." Sona berpikir keras untuk mencari ide lain. "Ah, panggil aku 'Ojou-sama'...!"
Perintah itu kembali dituruti tanpa keluhan. "Baik, Sona-ojousama."
Naruto tidak hanya bersedia memanggilnya dengan sebutan itu, tapi nada yang digunakan oleh cowok pirang itu bahkan terdengar penuh hormat dan takzim seakan-akan dia sama sekali tak merasa ada yang salah dengan memanggil Sona seperti itu.
Ketika hasrat untuk mengetes sebatas apa kekuasaan yang telah diberikan Naruto padanya menjadi semakin besar, membuatnya semakin bersemangat, Sona mencetuskan perintah selanjutnya. "Berlutut di depanku."
"Baik, Ojou-sama." Naruto berdiri dari posisi bersimpuh dan berjalan maju, berhenti tepat satu langkah di depan Sona yang duduk di kursi dan menurunkan dirinya ke satu lutut layaknya seorang ksatria di depan tuan putrinya.
Saat ini, pikiran Sona mulai menjadi tidak rasional lagi. Instingnya sebagai Iblis yang pada dasarnya selalu memiliki sifat nakal dan suka mendominasi orang lain keluar ke permukaan. Dia bahkan tidak sepenuhnya sadar dengan perintah yang keluar dari mulutnya kemudian.
"Cium kakiku."
Hanya butuh satu detik bagi Sona untuk menyadari hal macam apa yang sudah ia ucapkan, membuatnya mulai panik. Padahal dia punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka, untuk berbaikan dengan sang pemuda, tapi dia malah menyalahgunakan kesempatan itu untuk membuat perintah yang pasti akan mempermalukan siapapun selama mereka masih punya harga diri.
"Baik, Ojou-sama."
Sona sudah hampir membuka mulutnya untuk menyangkal dan merubah perintahnya, ketika kalimat konfirmasi itu membuat otaknya mengalami macet total. Alasan untuk disfungsi antara input dan output ini adalah karena Sona benar-benar tak bisa mempercayai apa yang ia lihat sampai-sampai akal sehatnya mengalami konslet berat yang berpengaruh buruk pada kemampuannya membuat kata-kata.
Ia melihat bagaimana Naruto memandangnya selama tak lebih dari satu detik, kemudian mengangkat kaki kanan Sona. Shinobi berambut pirang itu bekerja melepaskan sepatu Sona dalam diam, kemudian menggunakan tangan kirinya untuk menopang kaki Sona sementara tangan kanannya perlahan-lahan menarik kaus kaki Sona sampai katun putih itu teronggok di lantai.
Dada Sona mulai berdetak dengan kecepatan tiga kali lipat ketika Naruto menopang telapak kakinya yang sudah telanjang dengan tangan kanan dan mendorongnya naik pelan-pelan. Debar jantungnya menjadi begitu kuat sampai dadanya serasa jebol ketika mata violet Sona menyaksikan Naruto menurunkan kepala sampai wajahnya bertemu dan bergesekan dengan kulit kaki Sona. Sona begitu yakin wajahnya sudah jadi merah padam dan mengumbar uap ketika ia merasakan sepasang bibir mengecup punggung kakinya dengan lembut, ditemani belaian hembusan napas yang hangat, menyetrum semua syaraf dari ujung ibu jari kaki sampai ke pangkal tengkuk dan membuatnya merinding.
Saat Naruto mendongak untuk menatapnya lagi, Sona tersadar bahwa napasnya telah mulai berat.
...Dan tentu saja mereka tiba-tiba diganggu suara ponsel berdering.
"Oh, maaf," dengan begitu tidak sensitifnya, cowok yang mulai Sona pandang dengan mata menyiratkan sinar posesif itu merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan ponsel yang masih berbunyi sebelum menerima panggilan tersebut. "Hal—"
Satu kata yang belum habis dia ucapkan itu terputus ketika Sona merebut ponsel itu dari tangan Naruto. "Halo?—Oh, Rias, apa kau ada perlu dengan Namikaze-kun?—Ya, memang benar ini ponselnya, lalu kenapa?—Aku tak perlu menjelaskan apapun padamu, satu-satunya hal yang perlu kau ketahui adalah malam ini aku dan Namikaze-kun sedang sibuk.—Walau kau teriak-teriak, kau tetap tak punya hak untuk tahu kami sedang apa.—Kalau kau tak punya hal penting untuk dibicarakan, tolong jangan ganggu kami."
Suara Rias yang sudah mulai meningkat volumenya itu terpotong saat Sona melempar telepon genggam Naruto ke seberang ruangan di mana perangkat keras elektronik itu menghantam dinding dan hancur berantakan.
"Ponselku!"
Naruto tak sempat menyuarakan kemalangannya lebih lanjut karena perhatiannya harus teralih ketika Sona menginjakkan kakinya yang tak dilapisi apa-apa ke dada sang shinobi dengan satu perintah singkat. "Teruskan."
Namikaze Naruto adalah milik Sona, dan dia tidak rela berbagi cowok itu dengan perempuan lain, walaupun dengan sahabatnya sendiri. Dalam benak ahli waris Klan Sitri itu, Naruto hanya boleh memandang Sona, hanya boleh bicara pada Sona, hanya boleh memperhatikan Sona, dan hanya boleh menuruti permintaan Sona.
Tatapan tajam dan posesif dari sang ketua OSIS membuat Naruto sedikit ciut seakan-akan merasa bahwa menolak hanya akan memperburuk nasibnya. Dia sudah kembali menopang kaki Sona dan menurunkan wajahnya, membuat debar jantung Sona menjadi cepat dan kuat kembali, ketika pintu ruang OSIS tempat mereka berada tiba-tiba meledak, menciptakan kepulan debu dan asap yang memburamkan pandangan.
"Na~mi~ka~ze~!" Sona dan Naruto menoleh bersamaan dan melihat sebuah siluet dengan bayangan sepasang sayap berdiri di pintu yang telah hancur, sebelum satu sapuan sayapnya menciptakan angin yang memupuskan kepulan debu. Matanya yang berwarna biru-hijau seperti permata opal menyala dengan Youki ketika ia melihat pemandangan menggugah imajinasi dalam bentuk Naruto yang berlutut di depan Sona dan sedang memegangi tungkai sang ketua OSIS yang sudah tidak dilapisi sepatu maupun kaus kaki. Rambut panjang Rias mulai melayang-layang dan tubuhnya turut diselimuti aura merah. Sebuah senyuman manis nampak terpasang di wajahnya, sebuah fitur kontras kalau dibandingkan dengan urat-urat yang bermunculan di pelipisnya. "Jadi ini ya? Ini ya kesibukan kalian?"
Naruto memejamkan mata dan menghembuskan napas panjang. "...Dosa apa aku kemarin, Kami-sama?"
Arc I - Final Chapter
The End
A/N: Hmm, politik, drama, dan dibumbui sedikit romansa. Bagaimana pendapat Anda sekalian soal chapter kali ini?! Jangan lupa ngasih komentarnya ya!
Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.
Thanks a zillion for reading!
Galerians, out.
