Standar Disclaimer Applied
.
.
.
Love & Choice © Tsurugi De Lelouch
.
.
.
Sakura Haruno & Sasuke Uchiha
.
.
Enjoying Reading & Reviewing
*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*
.
.
.
Ketika cinta datang padanya
Hal yang indah menemani di kehidupannya
Namun, saat pilihan ditentukan
Akankah cinta berpihak pada dirinya?
.
.
-4-
"A-apa yang kau katakan tadi?"
Perempuan musim semi itu sesaat membulatkan matanya terkejut dan otaknya berhenti berpikir. Dia tidak menyangka kalau laki-laki disampingnya mengatakan kalau dirinya harus membatalkan pertunangan ini. Padahal hubungan antara mereka berdua masih seminggu setelah—pernyataan cinta dari adik tunangannya. Namun, dia sendiri yang menerima cinta dari laki-laki yang memiliki rambut mencuat ini walau—mereka berdua menjalani hubungan ini diam-diam dan dalam bayangan pertunangannya dan kakaknya.
Pemuda itu menghela napasnya tertahan lalu dirinya menatap perempuan yang dia cintai sejak SMP dulu. "…Batalkan pertunangan dengan kakakku dan menikahlah denganku."
"I-ini tidak mungkin, S-sasuke…" pemilik mata teduh itu menatap iris kelam milik Sasuke dengan tatapan sendu. "…Kau tahu aku yang menerima perjodohan ini. Bagaimana kalau mereka akan kecewa denganku?"
"Kau menerimanya dengan dalih membahagiakan orang tuamu, bukan?" Sasuke menahan emosinya mendengar ucapan kekasihnya itu.
Sakura melepas genggaman tangan kekasihnya itu dan menutup matanya. "…Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Dari matamu…"
Kembali Sakura membuka matanya dan menatap taman bunga di depannya. "Bahkan aku tidak bisa membohongimu, ne Sasuke? Sejak SMP dulu kau selalu mengetahui aku bohong dan tidak. Lalu—" dia menggigit bibirnya. "—sampai sekarang setelah sekian kalinya kau tahu. Betapa bodohnya aku…"
Sasuke menarik tubuh kekasihnya itu hingga berhadapan dengannya lagi. Merekapun saling menghubungkan kontak mata dengan tatapan menyakitkan. Dari mata keduanya menyiratkan kesedihan dan penyesalan tak berujung. Mereka menjalani hubungan ini yang menyebabkan pihak keduanya tersakiti.
"Kau tidak salah, Sakura. Aku yang berhak disalahkan disini." Pemuda itu menghembuskan napasnya pelan. "—kalau saja aku menyatakannya saat SMP dulu. Pertunangan itu tidak akan terjadi. Aku yang bodoh disini—bukan kau," ucapnya gentar.
Sakura menggeleng kepalanya dan tersenyum lirih. "Kita sama-sama bodoh. Coba saja aku menolak perjodohan ini—maka aku tidak akan menyakiti dua laki-laki sekarang. Namun sudah terlambat ya," gumamnya.
"Hahaha… aku berpikir kalau menjalani hubungan ini bahagia. Tapi—"
Sakura memiringkan kepalanya seolah tak mengerti dengan ucapan kekasihnya yang terpotong. "Tapi…"
"—aku menyakitkan hati kakakku sekaligus keluargaku. Aku egois, Sakura. aku hanya memikirkan kebahagiaanku sendiri bukan untuk keluargaku terlebih lagi—kakakku. Dia mulai menyukaimu, Sakura." Sasuke tertunduk lemas.
Kini hubungan mereka berdua agak retak gara-gara pernyataan kakaknya itu. Keduanya mengumumkan perang dingin. Biasanya mereka saling bertegur sapa satu sama lain saat makan pagi ataupun malam. Namun, sekarang tidak. Hanya tatapan tajam nan menusuk diantara keduanya, seolah persaudaraan mereka merenggang dan tidak berlaku lagi.
Pemilik iris teduh itu memegang dagu adik tunangannya itu hingga saing berhadapan. "Jangan menyalahkan dirimu terus. Kita sama-sama salah disini." Sakura menghadiahkan kecupan di dahi kekasihnya itu.
Sejenak anak bungsu Fugaku itu meresapi kecupan yang dihadiahkan dari Sakura. Perasaan cinta dan kasih sayang menyalurkan dirinya untuk membuat Sasuke tersenyum tipis. "…Lalu bagaimana dengan jawaban atas pernyataanku tadi?"
"Aku belum bisa menjawabnya. Tapi bukan berarti menolak karena aku harus berpikir. Tenang saja, aku hanya mencintaimu," ucap Sakura dengan mantap.
Mau tak mau Sasuke harap-harap cemas, karena kekasihnya sangat ingin membahagiakan orang tuanya. Walau mereka saling mencintai, akan tetapi apa yang terjadi selanjutnya,dirinya tidak tahu.
"Baiklah kalau itu keputusanmu. Aku juga tidak memaksamu," gumam Sasuke.
Sakura menyengir. "Bukankah kau dulunya pemaksa kehendak sejak SMP? Kau menyuruhku untuk menjadi pemimpin festival sedangkan—kau hanya bersantai ria."
Pemuda itu memutar bola matanya. "Ini bukan sangkut pautnya dengan festival, Sakura. dulu aku hanya menguji kemampuanmu sebagai pemimpin ternyata—memuaskan," ucap Sasuke menggunakan nada meremehkan.
"Ya, kau benar. Ini tidak ada hubungannya dengan festival namun—perasaan." Sesaat suasana menjadi hening diantara keduanya. "…ne, Sasuke. Apapun jawabanku—kau harus menerimanya walau menyakiti salah satu pihak."
Sasuke memejamkan matanya untuk menetralisir rasa takutnya kemudian membukannya kembali, "Hn, nona pink."
Alis mata Sakura berkedut sebal. "Baguslah kalau begitu, tuan pemaksa."
"Terserah kau saja, nona pink."
"Kalau itu ucapanmu, aku akan menjawabnya sekarang, tuan pemaksa," tantang Sakura menyilangkan kedua tangannya.
Sasuke menyentilkan dahinya. "Tidak punya pendirian, nona pink. Katanya kau memikirkan dulu, dasar."
Pemilik iris teduh itu memegang dahinya yang barusan disentil oleh Sasuke. "Kenapa kau sentil dahiku?" sergahnya.
"Karena dahimu lebar, nona pink." Sasuke mengeluarkan tawa kecil melihat raut kesal dari kekasihnya.
Sakura mengerucutkan bibirnya dan menjawil pipi Sasuke dengan keras—sampai mendapat tilikan tajam dari kekasihnya yang terkenal akan ketampanannya itu. Dengan terpaksa, tawa kecil berganti menjadi ringisan kesakitan dari mulut Sasuke.
"Tenagamu besar sekali dan mungkin jika berhadapan pasienmu, kau mengeluarkan seluruh kekua—adaw," ringis Sasuke lagi karena Sakura mencubit pipinya lagi.
"Jangan memancing emosiku, tuan pemaksa," geram Sakura.
Sasuke mengusap pipinya untuk mengurangi rasa sakitnya lalu dirinya menatap perempuan di sampingnya. Tanpa sadar, nalurinya bergerak memegang dagu Sakura dengan lembut. Mau tak mau mereka saling bertatapan kembali. Keduanya menipiskan jarak mereka hingga napas merek saling menerpa wajah masing-masing.
Dengan dorongan sedikit, bibir mereka bertemu dan menyalurkan rasa cinta sekaligus kerapuhan diantaranya keduanya. Saling mengecap satu sama lain—tanpa peduli dengan pihak yang tersakiti. Keduanya saling melumat bibirnya dan tidak mau kalah sampai pasokan udara memaksa mereka menyudahinya.
"Sakura…"
Sakura yang masih napas tersenggal-senggal akibat ciuman tadi menatap kekasihnya. "Ada apa?"
"Ibuku mengundangmu makan nanti malam di rumah," ucap Sasuke.
"Lalu?" tanya Sakura belum memahami ucapan setengah-tengah dari kekasihnya ini.
Iris kelam itu menatap bunga yang ada didepannya. "—dan yang akan menjemputmu adalah kakakku… bukan aku saat pertama sekali kita bertemu," lanjutnya getir.
"Aku paham akan ucapanmu, Sasuke." Sakura menyenderkan kepalanya di bahu kekasihnya. "…Aku akan bersikap di depan mereka bahwa tidak ada hubungan apa-apa diantara kita."
"Hn, aku juga."
Mereka berdua menahan rasa sakitnya lagi ketika mengucapkan perkataan itu tadi. Keduanya merasa telah berbohong pada mereka. Bukan hanya mereka—tapi langit dan bumi menjadi saksi keduanya. Apapun yang akan terjadi nanti malam, mereka harus bersikap layaknya teman biasa bukan sepasang kekasih. Walau mereka tidak menginginkan itu, namun keadaan yang memaksa keduanya melakukan ini demi—keegoisan cinta mereka masing-masing.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah mengantar kekasihnya ke rumah sakit kembali karena ada shift siang. Dia kembali ke perusahaan elektronik yang ia pimpin. Dengan pandangan agak kosong, direktur muda ini hampir bertabrak dengan pintu ruangannya—kalau saja seseorang menepuk dari belakang tak lain adalah—sahabatnya dari kecil.
Sahabatnya membantu membuka pintu ruangannya, lalu dia masuk tanpa menoleh ke belakang karena dari panggilan dan suara khas sahabatnya—dia hapal walau mereka jarang berkomunikasi. Dirinya duduk di kursinya dengan menyenderkan kepalnya seakan lelah kondisi fisiknya, tapi bukan fisik namun perasaan yang lelah membuat dia menyakiti semua pihak.
"Hoii, temee… apa yang membuatmu menjadi orang linglung tadi?" tegur laki-laki yang memiliki iris biru langit itu.
Sasuke membuka matanya dan mendapati sahabatnya sudah duduk di sofa tamu dengan tatapan selidik. "Bukan urusanmu, dobe."
Naruto—nama laki-laki itu tahu kalau sahabatnya itu tengah menyembunyikan sesuatu. Dia tidak bisa dibohongi oleh adik dari Itachi ini, sekecil apapun masalahnya—pasti pemilik perusahaan mi ramen ini pertama sekali tahu.
"Kau tidak pandai menyembunyikan masalahmu di depanku, teme. Dan kutebak kalau ini menyangkut soal perempuan yang kau cintai sejak SMP dulu," persepsi Naruto.
Pemilik iris kelam itu menilik tajam Naruto. "Apa maumu, dobe? Mencampuri urusanku—atau hanya sekedar mengejekku," desis Sasuke.
"Pandai sekali kau berkilah, Sasuke." Naruto mengucapkan nama sahabatnya itu berarti kini sedang serius. "—aku datang kesini hanya sekedar berkunjung tapi naluriku berkata kau memiliki masalah yang rumit, eh?" seringainya.
"Rumit? Ini bahkan lebih rumit dari yang kau kira, Naruto."
Naruto menghela napasnya panjang kemudian menyenderkan kepala di sofa. "Sudah kuduga kalau menyangkut pertunangan kakakmu dan Sakura?" imbuhnya.
Adik dari Itachi sejenak terdiam lalu tertawa—namun bukan tawa menyenangkan akan tetapi, lebih disebut tawa menyakitkan dan miris. Dia kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menatap pemandangan kota Konoha dari kaca perusahannya.
"Kau tidak akan mengerti dengan hubungan ini. Menjalani dalam bayang-bayang kakakku… menyakitkan semua pihak lalu membohongi seluruhnya. Apa ini disebut bahagia?" ucap Sasuke dengan nada getir.
Pemilik nama depan Namikaze ini sedih dengan ucapan sahabatnya. Dari nadanya saja—sudah menyiratkan kegetiran dan kerapuhan. Kalau dirinya berada di posisi sahabatnya—pasti tidak akan kuat akan keadaan ini.
"Kau… menjalin hubungan dengan Sakura? benarkah pendapatku kali ini, Sasuke?" tanya Naruto.
Sasuke berbalik menghadap ke depan dan kembali menatap sahabatnya dengan senyuman tipis. "Kali ini… benar. Kami saling mencintai tapi terhalang dengan pertunangan antara dia dan kakakku. Kami sama-sama egois." Getirnya.
"Sasuke, aku tahu kalian saling mencintai sejak SMP dulu. Aku mendukung apapun yang kau ambil," ucap Naruto dengan nada simpatik. "tapi—kau tidak memikirkan kalau kakakmu tahu akan hubungan kalian?" tambahnya.
"Dia sudah tahu, Naruto," gumam Sasuke.
Anak dari Minato Namikaze ini agak terkejut. "Apa maksudmu? Kalau dia sudah tahu—kenapa dia—"
"—Dia membiarkannya, Naruto! Dia bahkan memberikan keleluasanku berhubungan dengan Sakura. Karena mungkin sebentar lagi—Sakura menjadi kakak iparku."
Naruto bangkit dan mendekati sahabatnya yang rapuh. Dirinya menepuk pundak Sasuke hingga kedua sahabat sejak dari kecil itu saling berpandangan. "Aku tahu kalau kau adalah orang yang kuat akan apapun masalahmu. Kau tidak perlu menyakiti dirimu sendiri di dalam bayang-bayang kakakmu menjalani hubungan ini. Buktikan kau bisa memiliki cintamu tapi tidak menyakiti semua pihak."
"Itu tidak bisa, Naruto," ucapnya seduktif.
"Saling memahami satu sama lain, Sasuke. Kalau kau terus melanjutkan ini, kau akan hancur dengan kebohongan yang kau buat. Karena cinta itu harus saling memahami dan mengorbankan bukan?" ucapnya dengan cengiran khasnya bersamaan dia menurunkan tangannya dari bahu Sasuke.
"Aku tidak apa yang harus kuperbuat, Naruto? Menyimpan perasaan itu sangat menyakitkan."
"Jangan pesimis, Sasuke. Aku tahu kau menemukan caranya, aku yakin itu," ucap Naruto.
"Tumben kau berkata bijak begini, dobe," imbuh Sasuke menepis sesaat masalah yang kian hari menjadi rumit.
Naruto tercengir lagi. "Lupa kalau aku adalah pemilik perusahaan juga, teme."
"Terserah kau saja, dobe."
"Bagaimana kau memesanku secangkir kopi pada asisten cantikmu itu, aku haus," pinta Naruto.
Sasuke mendengus kesal. "Pesan saja sendiri,. Dia istrimu, baka."
Naruto menggaruk kepalanya. "Kau kan pemilik perusahaan ini, aku tidak enak padamu karena Hinata adalah asistenmu," kilahnya.
"Hhh…, kau sudah mendapat izin dariku. Silahkan pesan saja sendiri," usir Sasuke.
Sahabat Sasuke ini menyeringai. "H-ha'i, tuan direktur. Aku juga tidak datang kesini bukan karena sahabatku tapi istriku."
Alis Sasuke berkedul sebal. " Jangan mengulur-ulur waktu. Sekarang keluar dan aku sibuk."
"Baiklah, tuan direktur."
Narutopun segera berlalu dan keluar dari ruangan sahabatnya. Sedangkan bersamaan itu pula Sasuke memejamkan matanya dan meresapi ucapan sahabatnya itu beberapa kali. Membuktikan tanpa harus menyakiti semua pihak. Memang apa bisa? Batinnya dalam hati sejenak ragu akan pikirannya sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Semenjak perjalanan dari rumahnya sampai di mansion tunangannya, Sakura hanya membisu dan membuat suasana menjadi hening tanpa suara. Bukannya dia takut memulai pembicaraan dengan tunangannya, namun dia cemas jika berada di dalam mansion itu, mereka saling bertemu dan tak mampu menahan perasaan yang bergejolak—bisa jadi akan terjadi kesalahpahaman di kedua belah pihak.
Bersamaan itupula, Itachi tidak menginginkan kebisuan ini, tapi melihat raut wajah Sakura yang tidak memungkinkan. Dengan berat hati, dia menggunakan sikap pengecutnya berbicara duluan untuk memecahkan keheningan yang ada. Terlebih lagi keduanya sudah sampai di mansion Uchiha. Laki-laki itu keluar dan berbalik membuka pintu mobilnya lalu mempersilahkan Sakura untuk turun.
Keduanya bahkan tampak canggung untuk bergandengan tangan walau mereka adalah sepasang tunangan. Mereka berdua bergumul dalam pikiran masing-masing—Sakura memikirkan kekasihnya kalau saling bertemu kontak mata, sedangkan Itachi tidak ingin memaksa kehendak dirinya demi tunangannya.
Ketika pintu mansion terbuka, nyonya besar—Mikoto Uchiha sudah menunggu dan tersenyum sumringah melihat keduanya sudah berada di depannya. Ibu dua anak itu langsung memeluk calon menantunya ini lalu melepaskannya dan menatapnya dengan lembut.
"Lama sekali kalian ini…" gerutu Mikoto.
Itachi hanya tersenyum terpaksa. "Ibu pasti tahu kalau perempuan itu berdandan pasti lama." Dan atas ucapan itu dia mendapatkan sikutan dari ibunya.
"Sakura terima kasih sudah diundang makan malam disini," ucap Sakura.
Mikoto tersenyum tipis. "Sudah menjadi kewajiban karena kau adalah calon menantuku, Sakura."
Bahkan Mikoto memandang takjub penampilan sang calon menantu dengan memakai dress sebatas lutut dengan motif bunga dan memakai sepatu ber-highless rendah—juga make up biasa dan rambutnya hanya disanggul dan menyisakan helai rambut saja.
"Ngomong-ngomong dimana ototou?" ucap Itachi memecahkan lamunan sang ibu yang memandang Sakura.
Istri dari Fugaku Uchiha itu hampir lupa dengan anak bungsunya satu itu. "Kebetulan dia masih di dalam kamar. Bisa kau panggilkan dia, Itachi?" Mikoto melirik Sakura. "—Sakura, bisa tolong ibu menyiapkan makan malamnya."
"B-baiklah bibi Mikoto," ucap Sakura.
Mikoto menggelengkan kepalanya. "Panggil aku Ibu, Sakura. biasakanlah itu, ne?" mohonnya.
"I-iya, ibu…" ucap Sakura kembali.
"Oke—" Mikoto menepuk bahu anak sulungnya."Sekarang panggilkan adikmu satu itu, kami tunggu di ruang makan." Lalu Ibu dua anak itu menarik Sakura hingga menjauh dari Itachi.
Berbeda dengan Itachi yang memikirkan raut wajah Sakura yang tampak takut dicampur cemas. Dirinya langsung menghembuskan napasnya dengan kasar lalu menaiki tangga menuju kamar adik bungsunya. Sebernanya dia ingin menolak karena mereka terlibat perang dingin, tapi karena perintah sang Ibu. Dia berat hati melakukannya.
Dirinya mengetuk pintu kamar adiknya dan mendapati sang adik memperbolehkan untuk membuka pintu. Itachi memutar kenop pintu kamar Sasuke dan mendapati sang adik tengah berdiri di balkon kamarnya yang tampaknya melamunkan sesuatu.
"Ehem… kau tidak sopan sekali membiarkan seorang tamu masuk ke kamarmu tanpa kau toleh," tegur Itachi menjaga nada suaranya tetap tenang.
Sasuke kemudian menoleh dan menatap datar sang kakak yang sudah berdiri di belakang kasurnya. Sesaat angin menerpa dua saudara ini sampai Sasuke tersenyum meremehkan. "Kalau bukan perintah Ibu atau Ayah, pasti kau tidak bersedia memanggilku untuk turun ke bawah," desisnya.
"Aku juga tidak sudi menyuruhmu. Aku hanya menuruti perintah Ibu dan terserah kau mau atau tidak turun," sergah Itachi.
"Heh, benarkah? Aku hanya tidak mau menganggu keromantisan kalian berdua," balas Sasuke kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Anak sulung Fugaku itu menyeringai. "Bukankah kau takut bertemu dengan kekasihmu dan tidak menahan gejolak diantara kalian berdua, heh?"
Mau tak mau Sasuke terdiam mendengar ucapan yang terkesan menantangnya. Dia tak habis pikir mereka akan beradu mulut seperti ini. Sejenak dia memejam matanya. "Kau pernah mengatakan kalau aku hanya calon adik iparnya? Mengapa aku harus takut? Kau terlalu banyak memikirkan hal yang tidak-tidak, Nii-san," ucapnya.
"Kalau begitu… buktikan. Buktikan sebernanya kau tidak takut dengan bertemu kekasihmu—atau kau tidak mau melihat kami bermesraan di depanmu?" ucap Itachi meremehkan dan memancing emosi adiknya yang semakin menaik.
Sasuke menggertakan giginya. "Berusaha memancingku, brengsek…" desisnya pelan.
"Kau yang brengsek juga pengecut! Menjalin hubungan kekasih di belakangku sama saja… menyakiti hatiku, pengecut!" sergah Itachi melepaskan emosi dengan memukul adiknya hingga Sasuke hampir tidak menjaga keseimbangannya.
Bungsu Uchiha ini mengusap bibirnya yang berdarah akibat pukulan sang kakak dan dia tersenyum meremehkan lagi. "Kenapa kau tidak menghentikan hubungan kami berdua—malah membiarkan kami, heh? Otomatis itu mempererat hubungan kami."
"Itu karena semakin kalian lama membina hubungan itu akan semakin menyakitkan kalian berdua dengan sebab—membohongiku di belakangku. Aku tunggu sampai kapan kau akan bertahan?" pancing Itachi.
"Sampai kau menyerah dengan pertunangan ini, brengsek!" ucap Sasuke langsung melayangkan pukulan di wajah sang kakak hingga Itachi terjatuh karenanya.
"Aku tidak akan menyerah dengan pertunangan ini, Sasuke," desis Itachi bangkit dan mengusap wajahnya yang nyeri akibat pukulan dari sang adik.
Sasukepun membalasnya. "Aku juga tidak akan menyerah…"
Tanpa sadar perempuan yang mereka berdua rebutkan mematung berdiri di depan pintu kamar Sasuke. "Apa yang kalian bicarakan dan lakukan?"
Sesaat Itachi dan Sasuke menoleh dan membeku melihat Sakura memandang mereka berdua dengan wajah lebam—dan bersamaan menyebutkan satu nama.
"Sakura…."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*To be Continued*
Kali ini update cepat gegara baca fic galau-galauan di FNI sampai mengurai air mata #lebai. Kali ini agak panjang dari sebelumnya ya. Maafkan kalau kurang memuaskan ya^^ karena aku masih belajar membuat karya ini. Ini berkat Kak Aya yang meminta agak panjang #heh.
Thanks for Reading and Review my fict ^^
Putri Hassbrina, mako-chan, hiruka aoi sora, Novi Shawol'Elf, ahalya, QRen, Karasu, ucciu, Morena L, sasusaku uciha, Mizuira Kumiko, Zecka S. B. Fujioka, Yara Aresha, emerallized onyxta, Franceour, MuFylin, hanazono yuri, Mo males login, Guest (2x), Uchiha Matsumi, Dark Courriel, LAW, Yoon Ji Yoo19, ocha chan, esposa malfoy, Uchiha Shesura-chan, hachikodesuka, Alifa Cherry Blossom, MasyaRahma, Yumi Murakami, Love Foam,hanazono yuri, Neko Darkblue.
Palembang, 26 Juni 2013
Tsurugi De Lelouch
Ms. Uchiha.
