Galerians, in.
A/N: Arc II telah dimulai! Yeey! Oh iya, bagi readers sekalian yang perlu bantuan untuk membayangkan seperti apa penggambaran wujud Naruto dan Kurama di fic ini, hamba telah menyisipkan beberapa gambar yang hamba jadikan contoh selama pembuatan fic, dan bisa anda temukan di akun hamba. Semoga bisa membantu!
BGM for this chapter!
1. (Haiyore! Nyaruko-san OST – Taiyou Iwaku Moeyo Chaos)
2. (Highschool DxD OST – Study x Study)
Warning:
Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!
Selamat membaca!
~••~
When The Sun Tries to Help a Devil
Chapter 1
(Can't You Leave Me Alone for One Day?! Please, One Day is All I Ask!)
Setelah insiden di gereja terbengkalai itu, Naruto memilih untuk menambah satu hari ekstra, selain untuk mengistirahatkan dirinya setelah hampir tiga hari penuh bekerja untuk mencari kebenaran yang juga diselingi beberapa misi di sana-sini tapi juga karena rantai peristiwa malam kemarin lusa itu sudah berujung pada insiden yang membuatnya luka-luka, sebelum memutuskan untuk mengakhiri aksi tidak masuk sekolahnya.
Akan tetapi, kalau Naruto mengira bahwa empat hari berturut-turut tidak masuk sekolah adalah waktu yang cukup untuk meredakan bisik-bisik penghuni Akademi Kuoh atas dirinya, maka Naruto sangat keliru.
Usut punya usut, para siswa dan siswi yang ternyata cukup jeli telah melihat perubahan sikap Sona tepat setelah ketua OSIS itu memanggil Naruto ke ruangannya, menciptakan desas desus yang semakin diperkuat ketika Rias mengirim dua anak buahnya selama dua hari berturut-turut untuk mencari tahu di mana keberadaan Naruto. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Rias dan Sona mempunyai hubungan cukup dekat, ketiga hal tersebut membuat Naruto kembali dicerca tuduhan-tuduhan yang tidak mengenakkan.
Dan kalau itu masih belum cukup, Naruto cukup sadar diri bahwa penampilannya saat ini malah membuat bisik-bisik itu semakin tidak nyaman didengar telinga. Tidak percaya? Dengar sendiri contohnya.
"Lihat...! Itu dia cowok tak sopan yang sudah melukai perasaan Kaichou-sama...!"
"Sialan...! Berani-beraninya dia menampangkan wajah di sekolah ini setelah melakukan hal seperti itu...!"
"Lihat penampilannya...! Penuh perban seperti itu...! Pasti dia terlibat perkelahian lagi...!"
"Anak nakal di mana-mana semuanya sama saja...! Bikin eneg ngeliatnya...!"
"Kenapa dia belum dikeluarkan dari sekolah ini...?!"
Dengan kata lain, hari-hari sekolah di Akademi Kuoh yang biasa tanpa perubahan berarti.
Naruto menahan keinginan untuk melenguh panjang. Tubuhnya sudah cukup sakit hanya untuk sekedar berjalan seperti ini, dia tak punya cukup hasrat atau tekad untuk bereaksi atau merespon semua tuduhan dan celaan yang dilemparkan padanya. Cuma buang-buang tenaga yang bisa digunakan untuk meneruskan perjalanan. Hanya saja, agaknya metode mengeraskan-ekspresi-dan-mencemberutkan-wajah yang diaplikasikan oleh sang shinobi pirang cukup ampuh, karena setidaknya tak ada seorangpun yang mengusik perjalanannya menuju kelas tempat dia bisa menyantaikan tubuh walau hanya sedikit.
Tapi agaknya niat mencari kedamaian itu tidak digubris oleh Tuhan, karena baru saja dia membuka pintu kelas, suara nyaring yang sudah menjadi familier di telinganya kembali terdengar membahana.
"Selamat pagi, Naruto-sa—APA YANG SUDAH TERJADI PADAMU?!"
Hmm, apakah ada Jutsu yang bisa menjahit mulut orang dalam sekejab? Paling tidak, Naruto bisa mempelajarinya sebagai persiapan kalau-kalau suatu hari Issei memutuskan untuk memecahkan gendang telinga Naruto dengan suaranya yang seringkali kelewat nyaring.
"Met pagi, Issei," ia menyapa remaja berambut cokelat tua itu dengan santai. Mata Naruto yang sedikit sayu melebar sedikit saat mendapati bahwa Issei juga ditemani oleh gadis biarawati yang telah diselamatkan oleh teman sekelasnya itu, gadis bernama Asia Argento, yang sekarang mengenakan baju seragam untuk menandakan statusnya sebagai siswi Akademi Kuoh. "Ou, ternyata juga ada Asia. Apa kabar?"
"Kenapa kau masih sempat-sempatnya menanyakan kabar kami kalau kondisimu saja seperti ini sih?!" Issei yang sudah menghampirinya kembali berseru.
"Apa yang terjadi padamu, Namikaze-san?! Kenapa kau bisa luka-luka begini?!"
Naruto melirik tubuhnya sendiri, tak mengerti apa yang membuat kedua remaja di depannya itu sangat panik dan khawatir hanya karena melihat badannya yang penuh balutan perban, baik itu tangan, leher, dan siapa yang tahu apa yang tersembunyi di balik seragam, sampai hanya tinggal menyisakan wajah dan kepalanya itu.
"Asia, cepat, sembuhkan Naruto-sa—!"
"Heit, heit, heit, tunggu dulu," Naruto bergegas menutup mulut Iblis remaja itu sembari berbisik. "Kau ini. Sebelum ngomong, mikir dulu dong kita lagi ada di mana. Apa kau mau membuat seisi sekolah tahu tentang kemampuan Asia?"
Issei merenggut dan menurunkan tangan Naruto, wajahnya masih menampakkan ekspresi cemas. "T-tapi—"
"Nanti," Naruto berucap singkat, menajamkan matanya untuk membungkam teman sekelasnya itu. "Semua ini tidak seburuk kelihatannya kok. Kita bisa tunggu dulu sampai istirahat makan siang, oke?"
"T-tapi, Namikaze-san—"
"Nanti." Naruto mengulangi dengan nada yang menyiratkan bahwa dia tak mau mendengar argumen lagi.
Naruto kembali melangkah dan sudah setengah jalan menuju mejanya ketika ia mendengar salah satu teman Issei yang berkepala botak membuka suara. "Oi, Issei, sejak kapan kau adem-anyem dengan si preman itu?"
"Siapa yang kau panggil preman, brengsek?!" Issei membela Naruto dengan nada sengit, tak rela temannya dipanggil dengan sebutan menghina seperti itu.
"Issei," Naruto memanggil nama Issei tanpa berbalik. "Sudahlah, terserah mereka mau memanggilku apa. Aku sudah terbiasa. Kau tidak perlu membelaku seperti itu."
"Tapi Naruto-san bukan preman!"
Naruto menghela napas sambil memanggil temannya yang satu lagi. "Asia, bisa kau bantu aku menjelaskan pada si kunyuk ini?"
"Sejujurnya aku juga tidak mengerti," Gadis biarawati itu meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Kenapa orang yang sangat baik hati seperti Namikaze-san bisa dipanggil preman? Apa semua orang di sekolah ini sudah salah paham?"
Kali ini, Naruto menepuk dahinya keras-keras dan melenguh panjang sebelum berbalik. "Oke, kalian berdua, dengarkan aku." Naruto mengibaskan tangannya ke sekeliling. "Mereka sudah mencoba untuk mengenalku, tapi akunya yang tidak merespon, jadi tak peduli mereka memanggilku apa, anak nakal yang suka bolos kek, preman yang suka menyakiti orang kek, aku tak punya hak untuk tersinggung. Dan kalau aku saja tidak tersinggung, itu artinya kalian juga tidak perlu marah atau membelaku, oke?"
"Tapi Naruto-san tidak mungkin menyakiti orang lain!" Issei mendebat lagi.
"Kalau begitu kau keliru, karena aku memang sudah pernah menyakiti orang lain." Naruto menyahut balik. "Kalau kau tidak ingat, aku sudah membuat tiga orang anak SMA masuk rumah sakit. Kau perlu bukti apa lagi?"
"Oh, Issei-san, ini soal peristiwa yang itu kan?"
"Ah, kau benar, Asia!" wajah Issei yang sempat mendung saat mendengar pernyataan Naruto, dengan sangat cepat berubah cerah kembali. "Naruto-san, bukannya tiga orang yang kau sebutkan itu suka merokok, minum alkohol, bahkan memeras anak-anak lain? Dan bukannya kau menghajar mereka sampai masuk rumah sakit karena kau menemukan mereka sedang mengeroyok seorang anak SMP sampai tangan anak itu patah?"
Melihat Naruto yang hanya bisa terdiam dengan wajah tertegun, Issei bersorak. "Tuh kan! Naruto-san tidak mungkin melakukan perbuatan seperti menyakiti orang lain kalau mereka memang tidak layak mendapatkannya!"
Naruto memejamkan mata dan memijit batang hidungnya. "...Darimana kalian tahu tentang hal ini?"
"Dari Rias-senpai dong!" sahut Issei dengan bangga. "Jadi, Naruto-san, seharusnya kau—"
"Oke, cukup sampai di situ." Naruto mengangkat satu tangannya dan menyela Issei sebelum teman sekelasnya itu membongkar rahasianya yang lain. Naruto mungkin memang suka menolong orang, tapi dia sama sekali tidak suka kalau perbuatannya itu diumbar di depan publik. Dia tidak butuh perhatian semacam itu. Dia menolong orang karena dia ingin melakukannya, bukannya demi mendapat pengakuan apalagi pujian. "Ini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan hal ini, Issei. Lagipula, homeroom sebentar lagi mau dimulai."
Dengan kalimat itu, Naruto berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju meja tanpa menggubris apapun lagi. Karena itulah, dia tidak melihat bagaimana anak-anak lain di kelas itu memandanginya dengan mata yang lebar dan bersinar seakan-akan mereka baru pertama kali mengenal remaja berambut pirang yang sudah menjadi teman sekelas mereka sejak sebulan lalu itu.
Naruto sama sekali tidak tahu menahu tentang emosi yang berkecamuk di dada para siswa-siswi yang sekelas dengannya, tidak peduli bahwa perasaan mereka mulai terisi rasa bersalah karena sudah seenaknya memasang label dan anggapan yang tidak-tidak pada sang remaja pirang. Shinobi yang masuk ke Akademi Kuoh dengan tujuan mempelajari kembali cara bersosialisasi itu hanya menghampiri kursinya, duduk, lalu merebahkan setengah tubuhnya di atas meja.
Persetan dengan pelajaran. Tubuhnya capek, badannya sakit, dan dia masih sangat mengantuk. Naruto membiarkan matanya terpejam, dan dia sudah jatuh ke alam tidur beberapa saat kemudian.
Lagipula dia punya urusan.
~•~
Sesungguhnya, semenjak mereka mengetahui bahwa Kurama bisa meninggalkan Shiki Fuujin, Naruto dan Kurama selalu memilih untuk bertemu di dunia luar. Tidak hanya karena sampai hari ini Naruto belum bisa seratus persen memasuki personifikasi jiwanya sesuka hati, tapi juga karena permasalahan yang tercipta karena Naruto yang selalu terlempar ke dunia gorong-gorong ini tiap kali dia sekarat... membuat Kurama jadi semakin tidak suka bertemu di tempat ini karena personifikasi jiwa Naruto selalu mengingatkan Kurama pada majikannya yang meregang nyawa.
Seingat Naruto, terakhir kali mereka bertemu di tempat ini adalah ketika dia melawan Mouryou dan mendapat luka tikam dari sang Iblis kuno. Dia tiba dalam keadaan terbaring di alam gorong-gorong bawah tanah ini dengan ulu hati yang berlubang sebesar kepalan tangan, darah yang mengalir dari luka, mulut, dan hidungnya, serta Kurama yang menangis sembari berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan majikannya dengan Youki yang telah ia murnikan. Proses penyembuhan itu sebenarnya akan berlangsung lebih cepat andai Kurama memakai Youki mentah dari balik segel, tapi setelah apa yang terjadi terakhir kali Naruto mencoba menyalurkan Youki seorang Bijuu yang tidak dimurnikan ke tubuhnya... Kurama tak pernah ingin hal yang puluhan kali telah mengisi mimpi buruknya itu terulang lagi untuk kedua kalinya.
Dan di sinilah Naruto sekarang, karena kali berikutnya ia membuka mata, dia sudah ada di dunia gorong-gorong berlantaikan genangan air yang berpendar kuning kehijauan, dunia yang merupakan personifikasi jiwa seorang Namikaze Naruto. Walau masih agak kaget karena usaha memasuki jiwanya kali ini ternyata sukses, Naruto tetap dengan segera mengambil waktu beberapa saat untuk menajamkan telinga dan mengedarkan matanya berkeliling, namun dia tetap gagal menemukan orang yang dia cari.
Naruto mendongak dan menatap penjara merah raksasa di depannya. "Oi, Kurama!"
Panggilannya hanya dijawab hening, membuat dahi Naruto berkerut. Inilah salah satu alasan mengapa dia menambah satu hari ekstra untuk bolos, karena sejak peristiwa malam itu Kurama tidak pernah lagi menjawab ketika Naruto mencoba bicara padanya. Padahal dia sangat yakin bahwa koneksi panca indera dan pautan mental mereka sudah aktif dan dalam efektivitas terbaik, tapi sepanjang hari, Kurama tak pernah sekalipun berkaok atau bercuit.
Entah apa yang sudah terjadi, Naruto sendiri tidak yakin, tapi demi Tuhan, satu hari tanpa bertemu atau mendengar suara Kurama sudah cukup untuk membuat Naruto menderita dan dunianya serasa berubah menjadi Neraka.
Tanpa ragu, Naruto melangkah maju dan memasuki penjara itu sembari berseru sekali lagi. "Kurama! Kau ada di man—?!"
Naruto hanya diberi waktu sepersekian detik untuk melebarkan mata sebelum sebuah ekor raksasa yang panjang dan penuh bulu merah menghantam tubuh sang shinobi pirang, melemparkannya keluar penjara dan terbang sampai menghantam dinding di seberang ruangan.
Orang lain mungkin akan marah, atau setidaknya kaget, kalau diperlakukan seperti itu. Tapi tidak Naruto, karena bagi sang Jinchuuriki, reaksi apapun sudah jauh lebih baik daripada sunyi dan sepi yang sudah harus ia alami selama satu hari terakhir.
Naruto bangkit, dan kali ini ada senyum di wajahnya ketika ia melangkah untuk memasuki penjara itu lagi. "Kurama—!"
Tubuhnya kembali dihajar sampai terpental ke seberang ruangan. Tapi Naruto hanya berdiri lagi dan kembali melangkah maju dengan bibir yang masih tersenyum lebar.
Singkat cerita, Naruto terlempar keluar, berdiri, lalu berjalan memasuki personifikasi segel itu lagi, sebuah rentetan peristiwa yang sama terus menerus berulang sampai Naruto lupa menghitung setelah jumlah kejadian itu melebihi angka sepuluh. Sial bagi Kurama, dia seharusnya sudah tahu bahwa sifat gigih dan pantang menyerah Naruto bukanlah sesuatu yang bisa dikalahkan begitu saja, seperti yang sudah terbukti berkali-kali sampai hari ini.
Ketika Naruto memasuki penjara segel itu entah untuk yang keberapa kalinya, remaja pirang itu akhirnya mendengar sesuatu yang membuat senyumannya semakin lebar. "Goshujin-sama no baka!" Alih-alih ciut nyali, mendengar suara Kurama yang asli, dan bukannya geraman si rubah raksasa, malah membuat langkah Naruto menjadi semakin cepat untuk menghampiri sosok yang berada beberapa jauh darinya itu. "Stop! Jangan ke sini! Jangan dekati Kurama!"
"Ku~ra~ma~!" Kurama melihat majikannya mulai berlari, dan sesegeranya setelah ia mendekat, sosok rubah raksasa yang ia projeksi langsung pupus menjadi cercahan Youki merah yang beterbangan, menunjukkan wujud asli serta isi hati sebenarnya dari sang gadis siluman yang sama-sama kangen pada majikannya.
Kurama hanya bisa mengerang dengan suara rengekan panjang ketika Naruto meraup pinggangnya dan mengangkat gadis dengan telinga berujung lancip itu ke udara. Sang shinobi membenamkan wajahnya ke perut Kurama, mendekapnya rapat-rapat sembari mulai berjalan ke arah luar penjara di mana setidaknya ada sedikit penerangan.
"Goshujin-sama no baka!" Kurama kembali berteriak, walaupun umpatannya kali ini dilemparkan hanya setengah hati. Gadis personifikasi makhluk mistis itu memukul-mukul puncak kepala Naruto dengan satu tangan, sedang tangannya yang lain digunakan untuk menarik-narik rambut pirang sang majikan. Namun sayang bagi Kurama, insting yang tercipta setelah bertahun-tahun membiarkan dirinya dimanja oleh sang majikan ternyata lebih kuat daripada keinginannya untuk terus merajuk, sehingga akhirnya Kurama mulai menggosok-gosokkan wajahnya ke rambut jabrik tersebut, dan tak lama kemudian, suara dengkuran halus sudah terdengar dari tenggorokannya.
"Kurama?"
Kurama tersentak, baru saja sadar bahwa mereka telah berdiri tepat di luar segel Shiki Fuujin. Ia menoleh ke bawah dan melihat Naruto yang masih tersenyum walau dahinya berkerut pertanda bingung. Wajah Kurama mulai memerah karena sudah tertangkap basah saat bermanja-manja pada sang majikan, membuat sang gadis siluman yang seharusnya masih mengambek tersebut melakukan satu-satunya hal yang muncul di kepalanya saat itu: buang muka. "Hmph!"
"Kurama..." Naruto menurunkan sang personifikasi Kyuubi no Youko dari gendongannya. "Kurama, ada apa? Kenapa kau tidak menjawab panggilanku seharian kemarin? Aku sudah salah apa?"
Kurama menggembungkan pipinya sambil terus buang muka. "Goshujin-sama no baka!"
Naruto yang masih tidak mengerti kenapa dia terus diejek seperti itu hanya bisa menggaruk pipi dengan kebingungan tergambar di wajahnya. Oh, sekarang dia tahu jelas bahwa saat ini Kurama sedang marah, namun Naruto benar-benar tidak habis pikir mengenai apa gerangan yang menjadi penyebabnya. "Kurama, aku nggak bakal tahu aku salah apa kalau kau tidak mau mengasih tahu..."
Kurama mendelik ke arahnya, melewek, sebelum buang muka lagi. "Bodo!"
Sweatdrop di dahi Naruto jadi makin besar. Pemuda lima belas tahun itu mulai mengingat-ingat lagi alasan-alasan kekesalan Kurama di masa lalu dan mencoba mengingat hal mana yang sudah dia langgar. Hmm, dia kemarin sudah makan sampai kenyang, tidur sampai puas, dan mandi sampai bersih. Dia juga sudah membersihkan rumahnya yang sedikit berdebu setelah ditinggalkan tiga hari, dia bahkan sudah menyikat kamar mandi sampai lantai porselen itu kinclong. Dan seingat Naruto, dia sudah setahun terakhir tidak pernah membeli atau melihat-lihat buku porno lagi!
Lalu apa?! Perbuatan apa yang sudah dia lakukan sampai Kurama jadi semarah ini padanya?!
Naruto menahan keinginan untuk menjambak rambutnya karena frustrasi.
"Kemarin..." Naruto yang sudah mulai merutuki dirinya sendiri berhenti menyumpah dalam hati ketika suara Kurama menyapa gendang telinganya. "Kemarin... Goshujin-sama..."
Naruto mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, hatinya dag dig dug seperti suara genderang karena sudah benar-benar diserang rasa penasaran.
(Play Haiyore! Nyaruko-san OST – Taiyou Iwaku Moeyo Chaos)
Kurama menggigit bibirnya, menatap ke depan, lalu berteriak sekuat tenaga. "GOSHUJIN-SAMA MENCIUM PEREMPUAN LAIN!"
Naruto terperangah, mulutnya terbuka dan rahangnya bergerak turun. Kesunyian yang kemudian mengisi alam gorong-gorong itu terasa begitu pekat sampai-sampai Naruto bersumpah dia bisa mendengar derik jengkrik di kejauhan.
Intelegensinya yang biasanya selalu bisa dipercaya untuk mengatasi setiap situasi sekarang sedang mengalami konslet berat sampai otak abu-abu itu hanya bisa mengirimkan satu respon bego melalui mulut pemiliknya. "...Hoh?"
"Goshujin-sama mencium perempuan lain!" Kurama berteriak sekali lagi dengan suara serak dan mata berkaca-kaca. "Goshujin-sama sudah—dasar Goshujin-sama tukang selingkuh!"
Dituduh seperti itu, Naruto hanya bisa mangap-mangap tak berdaya. Dia bahkan tidak mengerti kenapa di sana juga ada tuduhan selingkuh, ketika pada kenyataannya selama ini Naruto tak pernah punya cewek yang bisa disebut pacar atau kekasih. Sadar bahwa akal sehat, kepintaran, dan logikanya sedang tidak memiliki kohesi, Naruto melangkah ke penjara raksasa yang menjadi perwujudan segel Shiki Fuujin dan menghantamkan kepalanya beberapa kali ke jeruji besi.
Dia baru puas saat darah sudah muncrat di sana sini.
Pemuda itu kembali berjalan menghampiri Bijuu yang menghuni jiwanya dan mulai bicara. "Kurama, kau sadar kan kalau yang kucium itu cuma kakinya Sona-ojousama?" Naruto sendiri kurang mengerti kenapa dia masih memanggil Sona dengan sebutan tersebut, walau memang entah kenapa titel 'Ojou-sama' memang sangat cocok kalau dianugerahkan pada ketua OSIS yang sosoknya seperti selalu diselimuti aura bangsawan itu. "Lalu, kau sadar kan kalau aku cuma melakukan itu karena aku sedang dalam proses memohon maaf?"
"Tapi... merendahkan diri seperti itu! Apa Goshujin-sama tidak punya harga diri?!"
"Kurama, aku sudah mencerca Ojou-sama dengan hinaan dan anggapan yang keliru, dan yang lebih buruk lagi, semua itu kulakukan di depan bawahannya. Aku tidak hanya sudah melukai perasaannya, aku juga mungkin sudah merusak wibawa Ojou-sama di mata Peerage-nya. Hal semacam itu tidaklah ringan atau mudah dimaafkan. Kaukira sesudah melakukan hal seperti itu, aku masih punya hak untuk berlindung di balik harga diri?"
Sepanjang penjelasan Naruto, wajah Kurama yang dipenuhi kekesalan dan amarah perlahan-lahan berubah menjadi mafhum. Tentu saja, majikannya yang sangat benci kalau sampai ada orang lain yang tersakiti akibat perbuatannya tentu akan bersedia berbuat apa saja untuk meringankan sakit yang sudah ia sebabkan itu. Tapi itu masih belum menjelaskan satu hal.
"Kalau memang begitu, kenapa Goshujin-sama tidak mau ketika disuruh menjadi anggota Peerage ketua OSIS itu? Seingat Kurama, Goshujin-sama tak pernah benar-benar mempermasalahkan soal kemanusiaan Goshujin-sama atau semacamnya." Kurama mengamati wajah majikannya yang tiba-tiba ditekuk seperti sudah melakukan sesuatu yang tak pantas diperbuat dan memalukan. Mata Kurama perlahan-lahan melebar. "...Goshujin-sama sudah bohong, iya kan?"
Kali ini giliran Naruto yang buang muka. "...Aku tak tahu kau sedang ngomong soal ap—"
"Goshujin-sama bilang Goshujin-sama tidak mau menjadi Iblis karena Goshujin-sama ingin menjalani kehidupan dan menyambut kematian sebagai manusia, tapi alasan sebenarnya bukan itu kan?" gerigi otak Kurama yang sebenarnya jauh lebih cerdas daripada Naruto itu mulai berputar, mencari alasan apa gerangan yang sebenarnya membuat majikan Kurama tidak ingin menjadi Iblis?
Inteligensi Kurama yang jenius tak butuh lebih dari sepuluh detik untuk menemukan alasannya. Dan saat jawaban itu tiba di benaknya, mata Kurama yang semerah delima terbuka lebar-lebar untuk menatap tuannya.
Peerage, sebuah sistem majikan-pelayan kaum Iblis yang dimungkinkan karena adanya Evil Pieces. Dengan Evil Pieces yang diciptakan dalam bentuk bidak-bidak catur itu, kaum Iblis berdarah murni atau yang memiliki derajat tinggi bisa mereinkarnasi makhluk hidup lain menjadi Iblis agar bisa menjadi anggota Peerage mereka.
Dan di situlah letak kunci jawabannya. Reinkarnasi.
Reinkarnasi, yang juga berarti kelahiran atau kebangkitan kembali orang yang sudah mati untuk menempuh kehidupan selanjutnya. Itu berarti, jika seorang manusia menerima sebuah bidak Evil Pieces, maka tubuhnya sebagai manusia harus mati terlebih dahulu sebelum dia dibangkitkan kembali sebagai kaum Iblis.
Tapi Naruto tidak seperti manusia kebanyakan. Dia adalah Jinchuuriki yang memiliki pertalian kehidupan dengan Kurama, sang Kyuubi no Youko, dalam bentuk segel Shiki Fuujin yang mengikat mereka menjadi [Dua Eksistensi] yang berbagi [Satu Nyawa]. Sebuah sistem tersembunyi yang dipasang oleh Yondaime untuk memastikan Kurama takkan bisa dirampas dari sisi Naruto, fitur rahasia yang hanya diketahui oleh Naruto dan Jiraiya. Sistem yang akan menjadi senjata terakhir untuk membuat Akatsuki tak akan mampu memperoleh semua Bijuu secara lengkap karena mengekstrak sesuatu yang disegel dengan Shiki Fuujin hanya akan berakhir dalam kematian wadah segel yang berarti Kurama akan langsung lenyap tanpa sisa tepat setelah ia dirampas dari majikannya.
Shiki Fuujin dari Shinigami dan sistem [Ikatan Nyawa] rancangan Minato membuat Naruto dan Kurama takkan bisa dipisahkan bahkan oleh pintu Kematian, karena Shinigami hanya bisa mencabut nyawa mereka secara berpasangan.
Itulah alasan mengapa Naruto tak mau menjadi seorang Iblis walau apapun yang terjadi. Karena meski dia yakin dia bisa dibangkitkan kembali, sang Jinchuuriki tak tahu apakah Evil Pieces yang diberikan padanya akan membangkitkan Kurama juga. Naruto yang terlalu takut kehilangan Kurama, Naruto yang tak bisa hidup tanpa Kurama, takkan pernah berani mencoba. Karena jika sampai dia terbangun lagi dan tak menemukan Kurama di dalam jiwanya, Naruto tahu pasti mentalnya akan mengalami rusak permanen dan mungkin dia akan mengamuk sejadi-jadinya. Bahkan walaupun dia masih waras, walau persentasenya begitu kecil dengan angka di belakang beberapa digit nol setelah koma, kalau dia sampai menemukan bahwa Kurama telah tiada karena dia menerima tawaran untuk menjadi seorang Iblis, Naruto tetap akan memutuskan untuk bunuh diri agar bisa menyusul Kurama.
Karena seperti itulah kenyataan, takkan bisa disangkal, takkan berubah, dan tak terbantahkan. Sesering apapun kalimat itu keluar dari bibir mereka berdua, Naruto dan Kurama tak pernah sekalipun bercanda saat mereka mengatakan bahwa [Sebagaimana Kurama yang tak mau hidup tanpa Naruto, Naruto juga tak bisa hidup tanpa Kurama].
Dengan kesadaran bahwa Naruto tak bersedia menjadi Iblis karena tak rela berpisah dengannya, Kurama melangkah maju dan melingkarkan kedua tangannya ke sekeliling tubuh Naruto, mendekap dan membenamkan wajah ke dada majikannya erat-erat, membuat bisikannya menjadi sedikit teredam. "...Kurama juga tidak mau berpisah dengan Goshujin-sama."
Naruto hanya tertawa kecil sembari membalas pelukan Kurama. Dia agak bingung jalur pemikiran macam apa yang membuat Kurama mengucapkan kalimat di atas, atau mungkinkah perubahan mood drastis tidak hanya dimiliki oleh ibu hamil, tapi juga seorang Bijuu yang berjenis kelamin perempuan? "Jadi... apa aku sudah dimaafkan?"
Tubuh Kurama mengeras sesaat. Dekapannya menjadi begitu kuat sampai hampir menyakitkan selagi kepalanya terangkat untuk menatap sang majikan dengan wajah sedikit ditekuk. "Tentu saja tidak, Goshujin-sama."
"Sudah kukira begitu," Naruto menghela napas sebelum tersenyum tipis. "Lalu apa yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku?"
Kurama terus menatapnya dalam diam sampai hampir setengah menit telah berlalu, dan berikutnya, suara Kurama kembali terdengar dalam bentuk sebuah bisikan yang sangat halus dan cepat sampai tak bisa dimengerti. "...Ci..m Kur..ma."
Ada jeda sejenak selagi Naruto menelan ludah. "...Eh?"
"Cium Kurama," sang Bijuu mengulangi dengan suara yang lebih keras. "Kalau Goshujin-sama mau Kurama memaafkan Goshujin-sama, Goshujin-sama harus mencium Kurama."
Naruto lagi-lagi menelan ludah yang serasa begitu susah melewati kerongkongannya, tak menyangka dia akan diminta melakukan sesuatu semacam itu. Dan yang lebih buruk lagi, kalau dengan Sona, dia masih bisa beralasan bahwa dia hanya melakukannya demi menebus kesalahan. Tapi Naruto tahu Kurama takkan pernah menyalahkannya andai Naruto tidak mengabulkan permintaan itu. Kalau Naruto memerintahkan Kurama untuk memaafkannya tanpa perlu melakukan macam-macam, Kurama tak akan mendebat dan hanya akan mengangguk tanpa protes.
Tentu saja, kalau dia mau membuat Kurama senang, maka dia hanya punya satu pilihan.
Naruto menekan punggung gadis bermata dan berambut merah itu untuk memotong jarak, sembari menurunkan wajahnya pelan-pelan mendekati Kurama yang memejamkan mata, dengan paras yang mulai diwarnai rona merah sampai hampir memenuhi seluruh pipi seraya gadis itu mengerucutkan bibirnya.
Sekujur tubuh Kurama mengeras ketika ia merasakan bibir Naruto mengecup dahinya dengan lembut, dan bertahan dalam posisi itu selama sedetik sebelum Naruto menaikkan wajahnya lagi.
Naruto menoleh ke arah lain sambil mengusap-usap tengkuknya. "Anu... apa itu sudah cukup atau kau masih—"
Kurama tak membiarkan majikannya selesai bicara. Dia telah lebih dulu mengangkat tangannya dan mencengkeram dua sisi wajah Naruto, menariknya turun dengan paksa, lalu menabrakkan bibir mereka berdua.
Kali ini giliran Naruto yang dibuat terdiam selagi Kurama mengalungkan satu tangannya ke leher sang Jinchuuriki, serta satunya lagi dipakai untuk menekan kepala Naruto ke arah wajah Kurama.
Satu-satunya deskripsi yang bisa diberikan untuk ciuman itu adalah 'amatiran'. Bibir mereka bertemu dengan berantakan dan gigi depan mereka saling hantam, namun sepayah-payahnya kedua orang itu di awal ciuman, Kurama bisa membayarnya dengan antusias dan pengetahuan. Dia yang telah ikut melihat dunia bersama Naruto dalam pengembaraannya, tentu saja pernah melihat bagaimana pasangan-pasangan yang berani menunjukkan bukti cinta mereka di tempat terbuka, tapi tidak seperti Naruto yang berusaha melupakan pengalaman-pengalaman tersebut, Kurama malah mematri apapun yang ia lihat ke dalam memorinya.
Berbekal pengetahuan itu, Kurama memastikan agar bibir mereka bertemu namun tidak terlalu kuat saling tekan. Ketika Naruto, yang sepertinya lupa cara bernapas lewat hidung, membuka mulutnya untuk menghirup udara, Kurama tak membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja dan menyerbu masuk dengan mulut terbuka. Kurama menggunakan lidahnya untuk mengitari daging tak bertulang di dalam mulut Naruto, dan merasa senang saat mendengar suara seperti erangan parau yang datang dari dalam tenggorokan sang majikan.
Dulu dia sama sekali tidak mengerti apa tepatnya yang membuat pertemuan antar bibir ini sangat digemari, tapi setelah sekarang mencobanya sendiri, Kurama akhirnya tahu kenapa pasangan-pasangan manusia itu sangat suka melakukan hal yang terlihat tidak higienis dan agak menjijikkan, tapi sangat memuaskan ini.
Kurama bahkan tidak menyadari kalau dia sendiri tak pernah berhenti mengerang dan merintih sejak bibir dan lidah mereka mulai berdansa.
Walaupun kedengarannya kompleks dan memakan waktu, ciuman itu sebenarnya tidak berlangsung lebih lama dari setengah menit. Wajah dua orang yang berbeda gender dan spesies itu akhirnya terpisah, cairan liur yang terentang seperti benang menghubungkan dua pasang bibir yang sedikit bengkak, merah, dan basah, kulit wajah keduanya yang terpisah kurang dari sejengkal terasa panas dari napas yang masih terengah.
Naruto yang nggak sepenuhnya ngeh atas apa yang baru saja terjadi hanya mampu tertegun, dengan mata terbuka lebar dan wajah merah padam. Bahkan untuk otaknya yang terbiasa kerja berat, shinobi keturunan Klan Namikaze dan Uzumaki itu perlu belasan detik sebelum akhirnya dia mengeluarkan kata tanpa terbata. "Kurama—"
Sial bagi Naruto, Kurama tak pernah berniat membiarkan kalimat itu selesai karena dia yang belum puas (dan mungkin takkan pernah puas) telah mendahului dengan berjinjit dan menarik turun wajah sang majikan untuk mempertemukan bibir mereka kembali.
Sistem otak Naruto kembali mengalami arus pendek.
~•~
"...aze-san...!"
Naruto menggeliat.
"Namikaze-san!"
Kali ini dia tersentak. "...Muh?"
"Akhirnya bangun juga...!" Naruto yang masih mengumpulkan nyawa, serta masih sedikit shock karena peristiwa yang terjadi di dalam alam bawah sadarnya, mulai mengenali suara feminin yang halus itu. "Issei-san, tidak usah mengambil tandu...! Dia tidak benar-benar pingsan kok...!"
"Ampun!" suara derap langkah terdengar mendekatinya. "Jangan bikin orang cemas dong, Naruto-san!"
"O-oh, 'met pagi, Issei, Asia," Naruto mengucek-ngucek mata sebelum menguap dan meregangkan tubuhnya. "Homeroom sudah selesai ya? Pelajaran pertama hari ini apa?"
Asia tertawa kecil mendengar pertanyaan itu sementara Issei memasang wajah sebal, tangannya menunjuk jam dinding di atas papan tulis yang sudah menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh menit. "...Oh."
Dia kadang lupa kalau waktu antara jiwanya dan dunia luar sama sekali tidak konsisten. Kadang satu jam di alam bawah sadarnya hanya jadi satu detik di kenyataan, tapi tidak satu kali hal sebaliknya juga berlaku.
Issei bersidekap sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kau nggak bangun-bangun sampai istirahat makan siang dan satu-satunya komentarmu cuma 'Oh'?"
Naruto menggaruk kepalanya malu-malu. "Kenapa nggak ada guru yang marah dan membangunkanku?"
"Setelah melihat tubuhnya yang penuh perban seperti itu, mereka jadi tidak tega karena mengira kau masih luka-luka setelah berkelahi." Issei menghembuskan napas sebelum wajahnya jadi khawatir lagi. "Kau yakin kau baik-baik saja, Naruto-san?"
"Apa maksudmu?"
"Yah..." Asia menggaruk pipinya dengan senyuman tak nyaman. "Salah satu alasan para guru membiarkanmu begitu saja adalah karena kau hampir tidak membuat suara. Membangunkanmu saja susah sekali, sampai Issei-san tadi berniat menandumu ke ruang UKS."
"Ahaha, memang kalau tidur aku sering dibilang kayak jadi orang mati..." Naruto tersipu. Atau mungkin itu cuma karena dia terlalu berkonsentrasi untuk menemui Kurama?
"A-anu..." Asia mengetuk bahu cowok pirang yang kelihatannya masih belum sepenuhnya sadar itu. "Bagaimana kalau Namikaze-san ikut kami saja? Aku bisa menyembuhkan Namikaze-san selagi kita makan siang."
"Oh, ide bagus itu!" Naruto menyahut ceria dengan senyuman lebar. Shinobi pirang itu menggeliat sekali lagi sembari berdiri dari kursi. "Pas banget, aku lupa bikin bekal. Gimana kalau kita ke—"
(Play Highschool DxD OST – Study x Study)
Perkataan dan gerakan Naruto terhenti ketika pintu kelas terbuka dengan suara gebrak nyaring, membuat tiga teman sekelas dan siswa-siswi lain yang belum meninggalkan kelas menoleh bersamaan. Lengkungan bibir Naruto berkurang sedikit ketika ia melihat sosok Tsubaki yang berdiri dengan satu tangan berkacak pinggang di pintu yang terbuka, lalu wajahnya memucat sedikit saat menyadari bahwa di belakang wakil ketua OSIS juga berdiri gadis Iblis dengan rambut hitam pendek yang malam kemarin lusa jadi sasaran permohonan maafnya.
Bibir kecil berwarna merah muda itu melengkung jadi sebuah senyuman tipis. "Namikaze-kun."
Naruto menelan ludah saat menyaksikan mata Sona menampakkan kilatan tajam, tak ubahnya karnivora lapar bertemu daging mentah, persis seperti dua malam kemarin setelah ketua OSIS itu melempar telepon genggam Naruto sampai remuk. Naruto baru saja mengangkat tangan dan berniat balik menyapa ketika pintu satunya lagi yang ada di depan kelas terbuka dengan suara yang kurang lebih sama nyaringnya.
"Namikaze!"
...Cetar membahana.
Naruto mengakui kalau dia sudah berkali-kali menanyakan ini hingga siapapun yang mendengarnya jadi bosan, tapi sebenarnya dosa apa sih yang sudah dia lakukan sampai Tuhan benar-benar berniat menghukumnya sampai seperti ini?
Shinobi remaja berusia lima belas tahun itu menahan diri untuk mengerang penuh derita ketika mata Rias yang akhirnya menangkap sosok Naruto nampak berkilat tajam seperti predator yang bertemu mangsa.
Naruto mungkin masih bisa mengatasi situasi kalau hanya harus meladeni ketua OSIS dan wakilnya, tapi bahkan ahli strategi dan informasi seperti Naruto bisa dibuat kelabakan kalau ahli waris Klan Gremory dan sang sahabat yang rambut hitamnya dikuncir itu juga ikut-ikutan memperburuk suasana! Apa Rias dan Sona sudah lupa kalau konfrontasi mereka dua malam silam lah yang membuat sekujur tubuh Naruto sampai harus dibalut perban seperti ini?! Nggak bakal selesai perkaranya kalau sampai insiden itu terulang lagi di kelas yang lagi dipenuhi orang lain!
Tidak bisakah dia lepas dari permasalahan ini untuk sehari saja?!
Rutukan hati Naruto batal berlanjut ketika suara Kurama terdengar dari benaknya. 'Apa Goshujin-sama sudah lupa pelajaran guru mesum Goshujin-sama?'
Naruto tertegun untuk sepersekian detik. 'Oh.'
Naruto mencondongkan tubuhnya ke arah Asia dan Issei yang terlihat bingung tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi dan berbisik, "Temui aku di atap."
Kedua remaja itu menoleh untuk bertanya, tapi Naruto sudah berjalan mundur dengan langkah sesunyi mungkin, memanfaatkan perhatian Sona dan Rias yang teralih karena dua gadis Iblis itu baru saja menyadari bahwa rival mereka memiliki tujuan yang sama. Tapi agaknya insting dan intuisi mereka memang jempolan, karena mereka batal membuka mulut untuk berargumen, memilih untuk kembali mengarahkan pandangan ke target mereka yang secara mencurigakan sama sekali tidak bersuara.
Pelajaran Jiraiya #7: 'Dalam situasi yang tak teratasi, jalan terbaik adalah lari.'
Seseorang menjerit ngeri, "KYAA!"
"Dia lompat dari jendela!"
Semua pelajar Akademi Kuoh yang ada di kelas, tak terkecuali Sona dan Rias, langsung bergerak ke arah jendela untuk melihat apa hasil perbuatan nekat sang pemuda. Sial bagi kedua ahli waris Klan Iblis terkemuka itu, ternyata ketinggian belasan meter bukanlah masalah bagi Namikaze Naruto yang telah dilatih sedemikian rupa sebagai seorang ninja.
Motohama memperbaiki posisi kacamatanya yang berkilap diterpa cahaya matahari sembari terus memandang sosok Naruto yang mulai menghilang dari pandangan, sebelum menoleh ke arah sobatnya. "Oi, Issei."
"...Apa?" Issei yang masih belum benar-benar ngeh menyahut pendek.
Remaja berkacamata itu menunjuk ke luar jendela. "Itu orang sebenarnya preman atau ninja sih?"
Issei hanya bisa terkekeh masam. Oh, andai saja mereka tahu...
~•~
Naruto baru saja mau memutar ke belakang sekolah untuk mencari tempat persembunyian sementara ketika penghalang pertama muncul dalam bentuk cowok remaja dengan rambut cokelat muda.
"Berhenti!" dia berseru sambil berpose macam polisi yang sedang mencoba menahan kriminal buron saja. "Atas nama Kaichou-ku tercinta, kau harus ikut denganku ke ruang OSIS sekarang jug—!"
Belum selesai dia membuat ultimatum, yang diteriaki sudah berbalik dan melesat ke arah berlawanan.
"Hei!" anggota OSIS itu berseru sambil mengambil ancang-ancang untuk berlari. "Berhenti!"
"Nggak mao!" Remaja pirang yang dikejar Saji itu menyahut tanpa menoleh.
"Kubilang berhenti, dasar kumis sialan!" Saji kembali berteriak sambil mengerahkan semua kemampuan fisiknya sebagai Iblis untuk menambah kecepatan lari.
"Kubilang nggak mao, monyet lepas!"
"Pirang jahanam!"
"Mata sipit!"
"Udel bolong!"
"Perjaka ting ting!"
Saji tiba-tiba tersandung dan jatuh terguling-guling ketika ditikam dengan hinaan yang begitu mengena ke jiwanya sebagai remaja yang sedang dalam masa puber membara.
"Uooh~, brengsek~!" Saji mulai mewek-mewek jelek sambil memukul-mukul tanah. "Memangnya salahku kalau aku masih perjaka?! Aku juga gak sudi terus-terusan gak punya pacar begini~!"
"Er... em..." Naruto berhenti berlari, mau tak mau jadi merasa kasihan juga kalau disuguhi pemandangan menyedihkan seperti itu. "Anu... masih ada hari esok? Jodoh nggak bakal kemana?"
Naruto sendiri masih perjaka, tapi dia asik-asik aja tuh.
Saji tiba-tiba memukul tanah dengan begitu kuat sampai tinjunya mengepulkan debu. "Kalau sudah begini, aku nggak mau tahu lagi!"
Naruto entah kenapa merasa terancam saat dihadapkan dengan mata berapi-api didampingi cucuran air mata yang sangat mengingatkannya pada Rock Lee itu.
Saji mulai berdiri. "Aku bersumpah, atas nama Kaichou-ku tercinta, kau akan kuseret ke ruang OSI—"
Saji tiba-tiba terdiam, pernyataannya macet saat menyadari bahwa dia harus mendongak untuk bisa melihat Naruto.
"Dia bisa lari di dinding?!"
~•~
Penghalang kedua muncul ketika Naruto menyusuri sebuah koridor kosong, dalam bentuk Toujou Koneko yang melangkah keluar dari belokan. Gadis remaja bertubuh kecil dengan rambut pendek berwarna keperakan itu merentangkan tangannya sambil mengucapkan satu kata yang begitu pelan sampai hampir tak kedengaran. "...Berhenti."
Naruto tidak menyahut dan terus berlari.
Ketika jarak mereka hanya tersisa paling banyak lima langkah dan Koneko sudah mengeraskan tubuhnya untuk bersiap menerima tabrakan, sebuah sengiran lebar tiba-tiba tersungging di bibir Naruto seraya shinobi itu melompat tinggi ke udara.
Koneko hanya bisa terdongak dengan mata lebar dan wajah terperangah saat menyaksikan Naruto yang sama sekali tidak memperlambat larinya... di langit-langit.
"...Ninja sialan."
~•~
"Halo, Namikaze-san."
Naruto masih dalam proses mengintip dulu koridor yang akan ia lalui untuk mendeteksi keberadaan anggota OSIS atau Occult Kenkyu-bu dari balik belokan ketika suara itu terdengar dari arah belakang. Dia memutar kepalanya cepat dengan tangan terangkat, bersiap untuk melakukan pertahanan, hanya untuk melihat bahwa remaja berambut pirang lurus itu hanya berdiri di depannya dengan senyuman ramah.
"Kiba-san...!"
Naruto melunakkan kuda-kudanya yang siaga, merasa bahwa postur non-agresif Kiba adalah pertanda bahwa siswa yang sama-sama di tahun kedua tapi belajar di kelas berbeda itu tidak sedang mengincarny—
"Bisa ikut aku ke ruang klub Occult Kenkyu-bu?"
—Cetar membahana. Rupanya di balik wajah ramah itu tersembunyi ular berbisa yang siap mematuk dan menyuntiknya dengan racun mematikan.
Keparat.
Harapan bahwa dia bisa mempercayai Kiba yang pupus tak bersisa membuat Naruto merasa terkhianati dan menimbulkan hasrat untuk balas dendam. Dengan tatapan datar, Naruto melangkah maju, sempat membuat senyum Kiba makin lebar karena mengira Naruto mau menurut, hanya untuk berhenti di sebuah pintu yang kemudian ia buka.
Naruto yang sosoknya terlindung di balik daun pintu menarik napas dan berteriak, "Kyah~! Ada Kiba-kun~!" dengan nada suara yang ditinggi-tinggikan, dibumbui sedikit cadel, dan ditaburi genit yang selangit.
Senyuman dan warna sehat di wajah Kiba lenyap dalam sekejab. Iblis remaja itu hanya sempat melihat sengiran garang yang terpasang di wajah Naruto sebelum pandangannya dipenuhi oleh serbuan gadis-gadis remaja yang menghambur keluar dari ruang loker tempat mereka ganti baju setelah pelajaran olahraga untuk menemui 'pangeran' mereka.
Naruto mendesis. "Rasain." Sebelum berbalik dan melangkah pergi.
~•~
Naruto yang tadi lagi-lagi harus memutar kembali ke lantai satu demi menghindari Saji dan Koneko akhirnya berhasil menaiki tangga untuk meneruskan perjalanan ke atap. Namun memang sungguh nasib apes gak bakal ke mana, karena baru saja dia menapakkan kaki di lantai dua, Naruto tiba-tiba sudah berdiri berhadapan dengan seorang dua cewek yang ia kenali sebagai anak buah Sona.
Gerigi otak Naruto kembali berpusing cepat untuk meraih memori yang tepat demi mengenali dua gadis remaja di depannya. Hmm, rambut cokelat kemerahan yang dikuncir dobel, satunya lagi rambut coklat yang dikepang, dan dua-duanya sama-sama panjang. Meguri Tomoe dan Kusaka... Reye? Rese?
"Perkenalkan, namaku Kusaka Reya."
Oh, oke. Jadi Reya ternyata.
"Dan aku Meguri Tomoe."
Yah, setidaknya Naruto nggak keliru menebak nama gadis Iblis yang pertama.
"Kaichou telah meminta kami untuk membawamu ke ruang OSIS, Namikaze-kun. Jadi tolong jangan melawan."
Set dah. Rupanya kalau manusia dijadikan Iblis, bukan cuma kemampuan fisik mereka yang naik, keras kepala sama gigihnya juga meningkat pesat! Di kondisi lain, sebenarnya Naruto bisa menghormati itu, tapi dalam situasinya sekarang, Naruto jadi kepengen melolong panjang bak manusia serigala di malam bulan purnama, mengutuk dunia dan memprotes Tuhan yang telah menjatuhi takdir semacam ini padanya!
Karena ini benar-benar ngeselin, setan!
Si cewek berkepang, yang kelihatannya punya jabatan lebih tinggi, kelihatan berniat melangkah maju dan menangkap Naruto, namun agaknya si cowok yang sudah benar-benar frustrasi punya ide lain.
Matanya menatap dua cewek anggota OSIS itu tajam-tajam, sementara tangan kanannya bergerak turun ke arah... ritsleting celana?
"Kalau kalian mendekat," Naruto berkata dengan suara mengancam. "Ritsleting ini akan kubuka."
Dua gadis yang menjadi Iblis melalui proses reinkarnasi Evil Pieces itu saling pandang.
Naruto mengambil satu langkah maju. "Sekedar informasi, aku nggak pake celana dalam." Dia berbohong.
Reya dan Tomoe menelan ludah sambil melangkah mundur.
Satu langkah maju lagi. "...Anuku gede lho."
Oke, mungkin di sana dia sudah sedikit melebih-lebihkan. Naruto tak tahu jelas juga karena dia tak pernah membanding-bandingkan si 'Naruto kecil' dengan milik cowok-cowok lain, tapi kalau ditanya pendapatnya sih Naruto cuma akan mengatakan kalau ukuran 'itu'nya normal-normal saja.
Dua gadis itu menampakkan ekspresi yang sungguh membingungkan, karena rona merah ikut mewarnai wajah mereka yang memucat.
"Hora." Satu langkah lagi. "Hora, hora." Dia maju, mereka mundur. Sengiran di wajah Naruto jadi makin lebar sementara tangannya mulai menarik turun ritsleting itu. "Hora, hora...!" Sang shinobi tiba-tiba berteriak. "Hora!"
Reya dan Tomoe memekik kencang, membalikkan tubuh seratus delapan puluh derajat, lalu lari terbirit-birit dengan air mata berlelehan dan wajah yang merah padam. Hanya saja, aksi kabur mereka malah membuat jagoan kita tertegun dengan mata melebar tak percaya.
"...Nggak nyangka rencana gila macam itu bisa berhasil..." Naruto berbalik dan berjalan lagi untuk menaiki tangga selanjutnya sambil menggaruk kepala. "...Yah, namanya juga sekolah nggak beres, ya pastilah isinya sama-sama nggak beres."
Dia sama sekali nggak sadar kalau dirinya sendiri juga masuk kategori 'anak tidak normal'.
~•~
"Wow..." Issei bersiul. "Sepuluh menit gak ketemu, dan tiba-tiba saja kau sudah jadi berantakan, Naruto-san..."
"Berisik kau, Issei," Naruto menggeram sambil menjatuhkan pantatnya di samping teman sekelasnya itu, membuat Issei duduk diapit olehnya dan Asia. "Kau nggak punya hak untuk berkomentar. Memangnya kau pernah nyoba diburu dua klub yang semua anggotanya kaum Iblis?"
"Yah, kuharap aku nggak akan pernah sampai bernasib sesial itu."
"Hwarakadah..." Naruto mengumpat sambil menyandarkan kepalanya ke dinding. "Mau dua cewek itu apa sih sebenarnya? Apa mereka lupa kalau mereka yang sudah membuatku luka-luka seperti ini?"
Asia turut bertanya dengan dua alis yang terangkat tinggi. "Jadi penyebab tubuhmu penuh perban seperti ini adalah Buchou-san dan Kaichou-san?"
Naruto mengerang panjang sambil membenamkan wajahnya dalam-dalam ke telapak tangan. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan mereka? Dua malam silam, walau Naruto sudah menghabiskan lebih dari seperempat kapasitas energi total untuk menyelimuti sekujur tubuhnya dengan Chakra padat ketika dia mencoba melerai Rias dan Sona yang memutuskan untuk mengakhiri perselisihan itu dengan kekerasan di akhir perang mulut mereka, ujung-ujungnya tetap saja tubuh Naruto jadi remuk redam.
Nasib Naruto malam itu sepertinya sudah tersandung batu kerikil, diinjak pejalan kaki, dan diteruskan dengan digilas kendaraan, karena bukannya langsung membawa dia yang mengerang-erang penuh derita karena tubuh hancur berantakan ke rumah sakit, dua gadis Iblis itu malah lagi-lagi mempertengkarkan soal siapa yang harus bertanggung jawab untuk mengurus Naruto yang terluka. Setelah hampir sepuluh menit argumen itu berlangsung, Naruto yang sudah habis kesabaran memaksa tubuhnya yang cidera untuk membakar sedikit Chakra sebelum kabur dari tempat itu melalui Hiraishin dan pulang ke rumahnya, di mana dia bisa menemukan rasa aman dan kedamaian.
"Stop. Jangan tanya." Naruto sudah tahu apa yang akan keluar dari mulut Issei bahkan sebelum dia sempat bersuara. "Aku tak bisa memberitahu detil-detilnya seperti apa, tapi kita katakan saja kalau aku ngeri hanya dengan mengingatnya." Pemuda pirang itu menoleh ke arah Asia. "Dan soal itu, Asia, bisa bantu sembuhkan aku?"
Asia tersenyum lebar. "Tentu saja, Namikaze-san."
Asia beringsut maju dan berlutut di depan Naruto, dua cincin berbentuk identik muncul seakan tercipta dari udara kosong dan terpasang di kedua jari tengah Asia, sebelum tangannya mengeluarkan cahaya hijau muda. Perlu waktu hampir setengah menit sampai akhirnya pendar kehijauan itu menghilang sebagai tanda berakhirnya proses penyembuhan. Naruto mengetes tubuhnya dengan memutar tangan dan meregangkan kakinya berkali-kali, dan mendengus puas saat mendapati bahwa dia sudah tak bisa merasakan sakit lagi.
"Twilight Healing-mu itu benar-benar hebat, Asia," puji Naruto dengan sengiran lebar. Deskripsi macam apa lagi yang bisa dia berikan untuk kemampuan yang hanya butuh setengah menit untuk menyembuhkan luka yang akan perlu hampir setengah minggu kalau dia hanya bergantung pada penyembuhan alami tubuhnya sendiri? "Terima kasih banyak."
"Senang bisa membantu, Namikaze-san," Asia membalas senyuman Naruto sebelum mengambil sebuah kotak berwarna hitam dari samping Issei. "Ini silakan, aku juga sudah membuatkan bagianmu."
"Uooh! Buatan sendiri ya?! " Naruto menerima kotak bento itu dengan mata berbinar-binar. Naruto mengamati isinya sebentar lalu melirik ke kotak bento di pangkuan Issei dan Asia yang baru habis setengah, namun memiliki kesamaan isi dengan bento Naruto. "Hoo, jadi kau sekarang membuatkan bekal untuk Issei ya?"
"Tentu saja...! Setidaknya aku bisa melakukan ini, mengingat sekarang aku tinggal di rumah Issei-san...!"
Nasi dan telur dadar yang sudah selesai dikunyah dan sekarang sudah setengah jalan masuk ke kerongkongan hampir saja berubah jalur ke tenggorokan saat Naruto mendengar itu, sampai dia hampir gagal menelan dan akhirnya terbatuk-batuk.
Issei melihat teman sekelasnya menarik napas dalam-dalam beberapa kali, dan ketika remaja pirang itu menoleh ke arahnya, Issei tersentak dan napasnya tercekat ketika mendapati bahwa mata Naruto sudah bersinar.
"Issei."
Issei menahan keinginan untuk mengerang ketakutan. "A-a-ada apa, Naruto-san?"
"Kau tahu kan apa artinya ini?" menurut pendapat Issei, daripada tatapan iri dan cemburu seperti yang ia terima dari Matsuda dan Motohama, kilatan tajam dan sinar berbahaya di mata Naruto sekarang jauh lebih mirip seorang kakak overprotektif yang langsung jadi garang dan khawatiran saat mengetahui bahwa adik perempuannya sedang jalan dengan seorang cowok asing. "Kalau kau sampai berani macam-macam sama Asia—"
"Dadaku bakal jebol, jantungku copot, dan kepala sama badanku misah! Dimengerti!" sahut Issei cepat dengan gerakan hormat grak yang kaku dan gugup. Keringat dingin mulai membasahi kening remaja berambut cokelat itu ketika temannya menyipitkan mata, sebelum akhirnya Issei bisa menarik napas lega saat Naruto mengalihkan tatapannya.
"Bagus kalau begitu." Naruto berkata pendek sebelum meneruskan makan.
"A-anu, Issei-san...?" Asia menarik perhatian penyelamatnya itu dengan meraih ujung blazer Issei sembari bertanya takut-takut. "Ada apa tadi sebenarnya?"
"Ahh, tenang saja," Issei menggeleng-gelengkan kepalanya. "Naruto-'oniisan' cuma mau memastikan bahwa adiknya tidak akan kenapa-kenapa selama tinggal di rumahku."
Asia merenungkan jawaban itu selama beberapa saat. "'Onii-san'...? 'Adik'...?" semburat merah muda mulai mewarnai pipinya. "Namikaze-san sekarang jadi... Onii-san?"
"Yah, apa salahnya kan? Mengingat kau sekarang jadi sasaran 'insting kakak tertua' Naruto-san. Lagipula, rambut kalian sama-sama pirang." Issei menyikut bahu Naruto yang masih sibuk makan. "Bagaimana, Naruto-san? Kau nggak keberatan kan jadi 'Onii-san'nya Asia?"
Naruto menelan makanannya sebelum menoleh. "Kalau Asia nggak masalah, aku sih oke-oke saja," dia lalu tersenyum tipis. "Tapi kuperingatkan dulu ya, Issei. Kalau Asia jadi adikku, maka di masa depan kau harus menghadapiku dulu sebelum kau bisa bertukar janji setia Asia."
"Ou! Kalau saat itu tiba, aku bersumpah aku akan—tunggu, tunggu, a-apa tadi kaubilang?!" Issei berseru dengan wajah yang mulai terisi warna merah mulai dari pangkal leher sampai ke puncak dahi.
"Bertukar janji setia," tukas Naruto tanpa jeda. "Menikah. Kawin. Membangun keluarga. Tanam bibit di ladang. Bikin anak. Gunjang ganjing ranjang. Ritual tantrik. Kamasutra. In de hoy." Seiring setiap istilah yang lepas dari mulut Naruto, corak merah yang mewarnai wajah Issei dan Asia semakin bertambah sampai akhirnya uap mengepul dari ubun-ubun kepala mereka. "Terserah kalian mau milih perumpamaan yang mana, tapi pokoknya itu ide utamanya."
"Ah ah ah ah," Naruto mengangkat jari telunjuknya ketika Issei membuka mulut dengan niat mendebat. "Kalau aku keliru, maka aku keliru. Kalian nggak usah ngeles."
Asia menundukkan wajahnya yang merah padam dalam-dalam. "Auu..."
Naruto tertawa renyah sambil menghabiskan bentonya. Dalam diam dan dengan wajah sedikit cemberut, Issei merogoh kantong kresek di samping tempatnya duduk dan menyodorkan sebotol air mineral ke arah teman sekelasnya yang sudah selesai makan.
"Oh, makasih," Naruto meminum beberapa tegukan air sebelum duduk bersila menghadap dua temannya, wajahnya yang tadi santai kini berubah serius. "Jadi ada apa?"
Sikap sang remaja pirang yang berubah sebegitu cepat mau tak mau membuat Issei dan Asia jadi agak kikuk dibuatnya. "A-apa maksudmu, Naruto-san...?"
"Maksudku adalah, apa yang mau kalian bicarakan dengan mengundangku makan siang seperti ini?" Naruto dengan cepat mengangkat telapak tangan kanannya sebelum Issei sempat menyanggah. "Sori, bukan maksudku membuat seakan-akan kalian mengundangku begini karena kalian punya maksud tersembunyi." Dia bersidekap. "Tapi sejak aku tiba di atap ini, gerak-gerik kalian sudah memberitahuku kalau kalian sedang ada masalah. Aku tak tahu apakah aku bisa membantu mengatasi masalah kalian, tapi setidaknya aku bisa memberikan sedikit pemikiran dan saran."
Issei dan Asia saling tatap sesaat. Gadis biarawati itu membenarkan posisinya dan duduk bersimpuh dengan punggung tegak dan wajah lurus menatap Naruto. "Sebenarnya kami memang sedang butuh bantuan, Namikaze-sa—"
"'Onii-san'." Naruto mengoreksi.
"A-ah," rona merah kembali menyeruak di pipi Asia. "O-O-Onii-san," dia sedikit terbata, walau senyum kecil di wajahnya menandakan bahwa dia sama sekali tidak keberatan. "Kami butuh saranmu, Onii-san."
"Baiklah," Naruto mengangguk. "Tentang apa?"
Issei menghela napas sebelum bicara. "Buchou menawarkan posisi sebagai Menteri di Peerage-nya pada Asia."
Asia menyambung. "Dan aku berniat menerimanya."
Mereka berdua berhenti sejenak untuk menunggu respon dari Naruto. Jantung mereka yang sudah dag dig dug menjadi semakin gugup ketika Naruto hanya berdiam diri tanpa berubah ekspresi sampai beberapa lama.
Ketika ia buka suara lagi, Naruto menatap Issei dengan sorotan mata tajam. "Melihat raut wajahmu, apa kau tidak setuju?"
"Aku juga tidak tahu pasti, Naruto-san," Issei mengaku. "Tapi kalau aku boleh jujur, aku tidak ingin Asia mengorbankan kemanusiaannya. Dia seorang biarawati, dan kalau dia menjadi Iblis, Asia tidak akan pernah bisa berdoa, membaca alkitab, dan segala macam hal religius lainnya." Ekspresi wajahnya lalu menggelap sedikit. "Dan aku juga kurang mengerti kenapa Buchou menawarkan posisi ini pada Asia."
"Issei..." Naruto menghembuskan napas panjang. "Bukankah setelah dua malam kemarin, aku sudah memberitahumu bahwa setiap tindakan Gremory selalu memiliki makna tersembunyi? Apa kau tidak bisa melihat apa yang tersirat?"
"Aku sudah mencoba, Naruto-san~!" Issei mengerang keras. "Tapi aku bisa mengatakan apa? Tindakan Buchou itu sangat sulit dimengerti!"
"Yah, kuakui si Gremory itu memang kadang terlalu suka main rahasia-rahasiaan. Apa dia tidak sadar kalau IQ Pionnya ini jongkok?"
"Naruto-san~!" Issei merengek miris.
"Oke, oke, aku mengerti. Biar kujelaskan." Naruto memejamkan mata. "Setelah insiden menyangkut Raynare kemarin, kurasa bukanlah hal yang terlalu muluk kalau kita berasumsi bahwa kabar tentang Sacred Gear milik Asia, Twilight Healing yang diketahui sebagai Sacred Gear langka, pasti cepat atau lambat akan beredar. Karena itulah, Gremory menawarkan posisi itu pada Asia sebelum ada pihak lain yang memutuskan untuk berbuat hal yang sama."
"...Tunggu dulu," ekspresi wajah Issei menjadi keras. "Apa maksudmu Buchou melakukan ini hanya karena dia ingin memanfaatkan kesempatan? Karena Buchou tidak ingin keduluan orang lain?"
Naruto mengangkat satu tangan dan menjentik dahi Issei. "Jangan marah-marah dulu. Aku bisa berkata pasti bahwa Gremory memang ingin cepat-cepat memberi tawaran sebelum ada pihak lain yang memikat Asia, tapi itu baru salah satu alasan. Ada setidaknya dua alasan lain yang lebih penting mengapa Gremory melakukan ini."
"Alasan apa yang kau maksud, Nami—O-Onii-san?"
"Sampai hari ini, satu-satunya Iblis berdarah murni pemilik Peerage yang pernah kita temui hanyalah Gremory, kakaknya yang berpangkat Maou itu, dan Sona-ojousama, dan kita bisa melihat bahwa mereka memperlakukan Peerage mereka dengan baik." Naruto membuka matanya dan menatap Issei lurus-lurus. "Tapi bisakah kita mengatakan hal yang sama tentang kaum Iblis yang lain?"
Wajah Issei mulai memucat saat ia sadar ke mana arah pembicaraan Naruto. Tapi daripada membuat dugaan tidak-tidak yang keliru, ia memilih untuk mengklarifikasi. "...Apa maksudmu, Naruto-san?"
"Kita masih belum tahu Iblis macam apa yang ada di luar sana, dan kita juga tak bisa berasumsi bahwa mereka semua memperlakukan Peerage mereka sebaik Klan Gremory dan Klan Sitri. Malah, dari apa yang kudengar dari Grayfia-san dan Sirzechs-san kemarin, ada kemungkinan besar bahwa di kalangan pendiam Meikai, hanya ada sedikit kaum Iblis yang memperlakukan Peerage mereka sebaik apa yang sudah kita lihat dari Gremory dan Sona-ojousama. Tak hanya itu, walau Gremory dan Sona-ojousama memberi manusia-manusia yang mereka tawari posisi sebagai anggota Peerage kesempatan untuk menerima atau menolak, itu tidak berarti semua kaum Iblis di luar sana juga mematuhi aturan. Mereka bisa saja datang dan merubah Asia dengan paksa." Naruto berhenti sebentar agar Issei dan Asia dapat mencerna informasi yang baru dia tuturkan. "Itulah kenapa Gremory memberi tawaran ini pada Asia, karena dia tidak ingin melihat Asia menjadi bagian Peerage milik Iblis yang mungkin akan memperlakukannya dengan buruk."
"Jadi..." Issei menelan ludah, rasa bersalah tergambar di wajahnya karena sudah menyangka yang bukan-bukan. "Buchou menawarkan posisi Menteri pada Asia... karena dia memikirkan keselamatan Asia... dan ingin melindunginya?"
Asia nampak mengamati wajah Naruto untuk beberapa saat sebelum dia bertanya, "Apa ada alasan lain yang masih belum kau sebutkan, Onii-san?"
"Yah, kurasa aku bisa memikirkan satu lagi sih," Naruto berdeham. "Kalian tahu kan kalau kita masih tidak tahu siapa dalang sebenarnya di balik insiden menyangkut Raynare? Nah, dengan menjadikanmu sebagai anggota Peerage-nya, Gremory yang merupakan bagian dari klan terhormat di kalangan penghuni Meikai secara otomatis memberimu perlindungan politik, tak hanya dari kaum Iblis lain yang mungkin mencoba memanfaatkanmu, tapi juga dari atasan Raynare yang mungkin masih belum menyerah dalam usahanya untuk mencuri Twilight Healing darimu." Naruto melirik teman sekelasnya. "Sama sepertimu, Issei. Dengan menjadikanmu dan Asia sebagai anggota Peerage-nya, Gremory membuat pihak-pihak lain harus berpikir dua kali, kalau tidak tiga atau malah empat kali, sebelum mereka memutuskan untuk mengincar kalian."
"Uwah..." Issei tersandar ke dinding sambil mengucek-ngucek rambutnya. "Jadi dengan menawarkan posisi Menteri pada Asia, Buchou tak hanya sekedar berniat menambah kekuatan Peerage-nya, tapi lebih ke tujuan untuk melindungi Asia dari kaum Iblis lain dan juga kalangan Datenshi yang mungkin memiliki niat buruk terhadap Asia...?" remaja yang baru dibangkitkan kembali menjadi Iblis itu mengusap wajahnya. "Aku tak menyangka Buchou bisa memikirkan sampai sejauh itu..."
"Begitulah," Naruto mengangguk, lalu mengangkat bahu. "Kuakui Gremory mungkin memang temperamental, suka bertingkah seperti kaset sendat, dan sedikit arogan," Issei dan Asia sama-sama sweatdrop karena mengetahui bahwa sang Iblis berambut merah hanya pernah bertingkah emosian seperti itu kalau sudah menghadapi shinobi pirang yang duduk bersila di depan mereka. "Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa dia adalah seseorang yang baik hati." Naruto menjentik dahi Issei sekali lagi sebelum tersenyum tipis. "Jadi lain kali, jangan langsung berpikiran yang bukan-bukan kalau bosmu itu melakukan sesuatu yang kelihatannya buruk. Cobalah pikirkan dulu makna tersembunyi macam apa yang ada di balik tindakannya, atau paling tidak, tanyakan dulu padaku supaya aku bisa menjelaskannya padamu."
Issei terkekeh masam sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Kurasa aku harus minta maaf lagi pada Buchou..."
"Memang seharusnya begitu," Naruto mengangguk puas, sebelum perhatiannya kembali terpusat ke gadis berambut pirang yang duduk di sebelah Issei. "Nah, kita sudah menjabarkan alasan kenapa Gremory menawarimu posisi di Peerage-nya, tapi aku masih belum tahu pasti alasan kenapa kau mau menerima tawaran itu."
"Naruto-san?" Issei menatap teman sekelasnya itu dengan bingung. "Tapi bukannya kau yang tadi menjelaskan—"
"Penjelasanku tadi hanya menyangkut alasan Gremory, dan kalau melihat wajah Asia sekarang, kurasa alasan yang ada di kepalanya, kenapa dia ingin menerima tawaran itu, bukanlah karena dua alasan yang tadi kusebutkan." Naruto kembali bersidekap dan menatap gadis yang kini memanggilnya kakak itu dalam-dalam. "Jadi, ayo mengaku."
Asia tertunduk. "A-anu..." Dia menoleh pada Issei dengan tatapan meminta pertolongan.
Issei turut mencondongkan tubuhnya. "Aku juga penasaran."
"Auu..."
Sayang bagi Asia, tatapan penuh rasa ingin tahu yang dilancarkan Naruto dan Issei padanya nampak takkan hilang dalam waktu dekat. "Aku berniat menerima tawaran Buchou-san karena..." Rona sehat di wajah Asia lagi-lagi meningkat sampai pipinya memerah delima. "S-sebagaimana Issei-san yang sudah bersumpah untuk melindungiku selamanya..." wajahnya tertunduk kian dalam. "A-aku juga..." suaranya mengecil sampai hanya berupa bisikan. "...bersumpah untuk mendampingi Issei-san selamanya..."
Naruto melirik Issei, dan membuat kesimpulan bahwa jika ada semacam reaksi kimia atau biologis atau entah apa yang bisa membuat wajah kaum Iblis meledak sampai merah padam dengan ubun-ubun beruap dalam waktu sepersekian detik, apa yang terjadi pada wajah Issei sekarang pasti adalah contohnya.
"Hoo..." dia melirik Asia dan Issei, yang sekarang sama-sama tertunduk, bergantian sambil mengusap-usap dagunya. "Hoo... hoo..." Ketika dua remaja yang benar-benar dirundung malu itu tak mampu membalas tatapannya, Naruto hanya bisa tergelak. "Baiklah kalau begitu," dia berdiri tegak dengan sengiran lebar tersungging di wajahnya. "Kurasa inilah saatnya bagi si 'obat nyamuk' untuk pergi dan tidak mengganggu lagi, ya kan?"
"Naruto-san~!/Onii-san~!"
Naruto melangkah pergi dengan tawa renyah yang bergema di seluruh atap.
Tawa itu langsung terhenti ketika dia sudah ada di balik pintu yang menghubungkan atap dengan bangunan sekolah dan melihat siapa orang yang menunggunya di sana.
"Selamat siang," mata violet itu kembali berkilat tajam. "Namikaze-kun."
Dia tidak mungkin kabur ke belakang setelah salam perpisahan macam itu, dan dia juga tak bisa kabur ke depan karena sang gadis berambut hitam telah menghalangi jalannya dengan berdiri di depan tangga. Setelah hampir lima detik matanya meleng kesana kemari namun tetap gagal menemukan jalur untuk lari, Naruto menghela napas pasrah. "...Selamat siang," Apa mau dikata, nasib apes biar nggak dicari juga memang nggak bakal kemana. "Ojou-sama."
Senyuman sangat tipis di wajah Sona entah mengapa sudah cukup untuk mengungkapkan bahwa ketua OSIS itu sangat senang... dan juga sedikit garang?
"Bisa tolong jelaskan kenapa aku mendengar laporan bahwa kau sudah melakukan pelecehan seksual pada dua anggota OSIS-ku, Namikaze-kun?"
...Cetar membahana.
To be Continued...
A/N: Hmh! Arc II starts with a very lighthearted chapter! Jangan lupa ngasih komentarnya ya!
Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.
Thanks a zillion for reading!
Galerians, out.
