Standar Disclaimer Applied
.
.
.
Love & Choice © Tsurugi De Lelouch
.
.
.
Sakura Haruno & Sasuke Uchiha
.
.
Enjoying Reading & Reviewing
*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*
.
.
.
Ketika cinta datang padanya
Hal yang indah menemani di kehidupannya
Namun, saat pilihan ditentukan
Akankah cinta berpihak pada dirinya?
.
.
-5-
Perempuan musim semi terpaku melihat kejadian yang ada di depan matanya. Dirinya tidak percaya dua kakak beradik berkelahi dan samar-samar ia mendengar namanya disebut. Sejenak dia melangkah maju untuk melihat kondisi mereka berdua dan menanyakan alasan mereka melakukan itu.
Berbeda dengan dua laki-laki yang saling memalingkan mukanya seolah tidak ada yang terjadi. Sedangkan pemilik mata teduh itu menghela napasnya pendek lalu menatap lurus dua bersaudara tersebut.
"Kalian membicarakan apa tadi?" tanya ulang Sakura.
Pemilik rambut mencuat itu melirik perempuan musim semi atau dibilang adalah kekasihnya sekarang. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami. Kebetulan terjadi kesalahan kecil akan tetapi kami sudah menyelesaikannya, Sakura."
Itachi memandang aneh adik bungsunya yang kini menjadi rivalnya. "Berusaha melindungi fakta, eh" batinnya.
Sakura bukannya tidak mempercayai ucapan Uchiha bungsu itu, akan tetapi ada yang mengganjal hatinya dan dirinya ingin tahu penyebabnya. Namun, sebelum Sakura mengucapkan beberapa kata lagi—segera dipotong oleh Itachi sendiri.
"Sebaiknya kau kembali ke bawah saja, Sakura. Kami akan menyusul," potong Itachi.
"Tapi—" Sakura masih bersikeras untuk mempertahankan posisinya di depan kedua kakak beradik itu.
"Kami akan ke bawah, Sakura," pinta Sasuke.
Dengan terpaksa, Sakura meninggalkan mereka berdua dengan sejuta pertanyaan. Akan tetapi, ia tepis sesaat firasat buruk itu. Dia harus berpikir positif, apapun yang terjadi pada mereka berdua bukan masalah berat. Dia bahkan tidak menyadari kalau yang membuat kedua kakak beradik itu berkelahi gara-gara dirinya.
.
.
X~0
.
.
Setelah mendapati Sakura telah kembali ke ruang makan. Laki-laki sulung Uchiha ini berdehem keras sampai lawan bicara ini menoleh—lalu menatap tajam kakaknya itu. Dengan senyum meremehkan, Itachi membalas tatapan adiknya tersebut.
"Ceh, perkataanmu tadi itu bermaksud melindungi fakta eh?" sindir Itachi menyilangkan kedua tangannya.
Sasuke berdecih pelan. "Kau mau masalah tadi ketahuan oleh Sakura, heh? Lalu kau mau perjodohanmu yang semula mulus menjadi berantakan?" balasnya.
Emosi Itachi tersulut lalu dirinya menarik kerah kemeja adiknya. "Kau sungguh memalukan mengatakan itu. Padahal kau sendiri menjalin hubungan di belakangku? Adik macam apa kau ini hah?" sergahnya.
Bungsu Uchiha langsung menepis tangan kakaknya dan menyeringai tipis. "Tch, bodoh! Kalau kau memang tidak hubunganku dengan Sakura berjalan mulus. Lalu kenapa kau tidak bunuh saja aku kemudian—kau bisa leluasa mendapatkan hati Sakura hah?!" desis Sasuke.
"Benarkah? Kau menginginkan mati ya, adikku…" Itachi tersenyum lalu kembali mengirimkan nada serius di balik perkataannya. "—tapi itu masih terlalu awal dan aku tidak suka cara itu."
Sasuke memicingkan matanya. "Tidak suka atau—"
"Cih, jangan memancingku untuk membuat wajahmu babak belur, Sasuke…" geram Itachi dan dirinya langsung meninggalkan sang adik dengan emosi yang masih memuncak.
Sedangkan Sasuke sendiri kembali berdecih sebal. "Tch."
.
.
X~0
.
.
"Kalian lama sekali sampai Sakura tadi menyusul ke atas," tegur Mikoto melihat kedua anaknya yang sudah duduk di posisi masing-masing.
Itachi kembali mau tak mau duduk di samping adiknya. Entahlah dia lebih memilih itu karena kalau dirinya duduk di sebelah Sakura, mungkin terjadi adu mulut kembali diantara dia dan Sasuke. Maka dari itu, dia memilih aman daripada memancing emosinya dan rivalnya itu. Sama halnya dengan Sasuke, sesaat dia melirik kakak yang berada disampingnya. Merasa situasinya memang agak buruk diantara mereka berdua, dia kembali fokus menatap depan dan melihat perempuan musim semi yang berada disamping ibunya.
"Tidak ada, Kaa-san," jawab Sasuke lalu dia meneguk air putih sedikit.
Fugaku menangkap ada yang tidak beres dengan kedua anaknya itu. Dia melihat wajah baik Itachi dan Sasuke terdapat plester melekat disana. "Apa yang terjadi di antara kalian berdua? Kenapa wajah kalian ditempel plester hm?" tanyanya.
"Hanya luka kecil saja, Tou-san," jawab Itachi seadanya.
Seakan tidak percaya, Fugaku mempertanyakannya lagi. "Luka kecil?"
"Biasa kakak beradik kalau bermain kelewatan, Tou-san. Maafkan kami," timpal Sasuke.
Kepala keluarga Uchiha itu melirik sebentar kemudian berusaha mempercayai apa yang dikatakan oleh anak bungsunya. "Lain kali hati-hati. Kalian ini tidak malu dengan Sakura?"
"Hn baiklah," ucap Itachi dan Sasuke bersamaan.
Mereka pun memulai acara makan malam dengan suasana senyap dan tenang. Bahkan kedua kakak beradik itu melakukan tatapan tajam jika setiap kali bersenggolan. Namun, bagi Fugaku dan Mikoto itu hal biasa karena mereka adalah saudara. Akan tetapi, berbeda dengan Sakura yang melihatnya penuh tanda tanya.
"Ehm, ngomong-ngomong Sakura…" sang empunya nama menoleh pada Mikoto. "—bagaimana dengan pekerjaan rumah sakitmu disana?" lanjut ibu dari dua anak itu pada calon menantunya.
"Baik-baik saja, Kaa-san. Tidak ada masalah," jawab singkat Sakura kemudian melanjutkan makanannya yang belum selesai.
"Lalu bagaimana dengan hubunganmu dengan Itachi?" tanya Mikoto.
Sakura sedikit terbatuk lalu meminum air putih yang ada di meja. Mikoto melihat itu agak terkejut sekaligus khawatir dengan kondisi perempuan musim semi ini. "Aku tidak apa-apa, Kaa-san. Aku hanya tersedak saja."
"Kalau seperti itu, bagaimana kalau kita mempercepat pernikahan kalian berdua?" gumam Mikoto.
Perkataan Mikoto membuat yang mendengarnya terkejut, apalagi bagi tiga orang yakni—Itachi, Sasuke dan Sakura sendiri. Anak sulung Uchiha merasa sang Ibu berhasil mempermulus jalannya untuk memiliki Sakura, sedangkan bagi Sasuke—itu hal yang sangat buruk untuk kelangsungan hubungannya dengan Sakura. Lalu untuk Putri Haruno ini kembali dilema dengan hubungan yang ia jalin sekarang.
"Mikoto, mereka masih terlalu cepat untuk membina rumah tangga. Lagipula biarkan beberapa minggu lagi untuk mereka melakukan pendekatan," ucap Fugaku memecahkan keheningan diantara mereka.
Istri dari Fugaku ini agak menggerutu. "Aah…, aku kan tidak sabaran menggendong cucu…" ucapnya.
"Sepertinya usul Kaa-san boleh juga, karena dengan pernikahan—kami akan lebih dekat lagi," timpal Itachi sambil memandang adiknya yang kini menggertak giginya kesal.
"Itachi, kau memang anak paling mengerti Kaa-san." Mikoto melirik kembali Sakura yang berada disampingnya. "—kau mau kan, Sakura?" tanyanya dengan pandangan penuh harap.
Perempuan musim semi ini kebingungan dengan tatapan Mikoto. Dirinya mau menjawab tapi dia takut kalau ucapannya salah. "Tapi apa ini terlalu cepat, Kaa-san?" kilahnya.
Mikoto yang mendengarkannya mendesah akan jawaban dari Sakura. Uchiha bungsu yang melihat ketegangan diantara mereka terlebih lagi untuk Sakura yang tampak panik disaat yang bersamaan.
"Bagaimana kalau pernikahan tanpa cinta, Kaa-san? Bisa jadi belum seumur jagung, mereka berdua sudah cerai," sahut Sasuke.
Tanpa sadar, adik dari Itachi ini mendapat lirikan tajam dari Ibunya sendiri. "Kau menyumpahi kakakmu ya, Sasuke?" ucap Mikoto.
"Bukan begitu maksud Sasuke, Mikoto. Banyak kasus seperti itu, tunggu sampai benar-benar siap. Lagipula kalau diadakan terburu-buru, hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi," ucap Fugaku menengahi pembicaraan mereka.
Sasuke bersyukur Ayahnya berhasil kembali menemukan solusi untuk menyelesaikan debat diantara mereka. Jujur kalau Ayahnya tidak melakukan ini, pasti dirinya terpojok karena mengucapkan kalimat tadi.
"Waakata… Waakata…, anak dan Ayah sama saja pemikirannya. Kalau begitu—" Mikoto menatap manis pada Sakura. "—kami akan tunggu keputusan darimu, Sakura."
Perempuan musim semi itu mengangguk paham, kemudian tanpa sengaja bertatapan dengan Itachi. Anak sulung Uchiha membalas tatapan dari tunangannya itu dengan lembut, kemudian bibirnya mengucapkan sesuatu pada Sakura.
"Sekarang bisa ikut aku, Sakura."
Itachi yang memang telah menyelesaikan makanannya langsung beranjak dan permisi pada orang tua—kemudian dengan adiknya. Dia berjalan menuju balkon yang agak jauh dari ruangan makan dan diikuti oleh Sakura dari belakang.
Bersamaan pula Sasuke penasaran apa yang akan dikatakan oleh kakak sulungnya itu memilih untuk permisi darisana—dengan dalih kembali kamarnya. Dia mengikuti dengan pelan mereka berdua. Sebetulnya dia tidak menjadi seorang penguntit—tapi ada sesuatu yang mendorongnya untuk lebih tahu.
.
.
.
.
X~0
.
.
.
.
"Kau mau bicara apa, Itachi-san?" tanya Sakura tengah berdiri membelakangi Itachi yang memilih untuk menikmati taman.
Anak sulung Fugaku ini menggertakan giginya pelan mendengar panggilan yang ditujukan padanya—sangatlah asing. Berbeda dengan adiknya yang kelihatan lebih akrab dibandingkan dirinya. Itachi langsung membalikkan tubuhnya dan menatap langsung Sakura dengan tatapan sulit diartikan oleh siapapun.
"Sebernanya di hatimu ada siapa, Sakura?" tanya Itachi.
"It-itu…" ucap Sakura terbata-bata.
Tanpa tendeng aling, Itachi langsung memegang bahu Sakura dan jarak mereka berdua hanya berjarak tiga puluh senti lagi. Dengan menahan emosi yang telah membludak, dia memegang dagu Sakura hingga mata mereka saling bertemu.
"Kau menerima perjodohan ini sekaligus—menjadi kekasih adikku. Sebetulnya kau memilih yang mana, Sakura?" sergah Itachi menekan nada suaranya.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, Itachi-san?" kilah Sakura.
Itachi menggertakan giginya kesal. "Seperti itu. Kau bahkan tidak menyadari suatu hal bahwa—kau adalah tunanganku, Sakura! teganya kau mempermainkan perjodohan ini dengan bermain di belakangku?!"
Sakura mendengar kata-kata kasar dari Itachi—mau tak mau menghantam hatinya seketika. Semua perkataan yang disampaikannya semuanya benar, dia merasa bodoh menjalani ikatan rantai yang membelenggunya. Lalu sekarang, dia mendapatkan akibatnya kalau ini terasa rumit di kehidupannya.
"Hahaha…, aku jahat bukan? Aku mempermainkan perasaan kalian berdua. Aku menyia-yiakan kepercayaan keluarga kita. Aku orang egois bukan!" ucap Sakura dengan tawa yang sangat miris.
Lamat-lamat Itachi menghembuskan napasnya panjang. "Kalau begitu lupakan adikku. Hilangkan semua… dan isilah keberadaanku di hatimu, Sakura."
Sakura menggelengkan kepalanya. "Aku terlanjut cinta dengan adikmu sejak SMP dulu. Keberadaannya membuatku merasa nyaman, perhatian dan tatapannya mampu membuatku terbius untuk selalu bersamanya," lirihnya.
"Lalu kenapa kau menerima perjodohan? Coba saja kau menolaknya, Sakura. Aku tidak akan jatuh dalam cintamu juga," ucap Itachi menurunkan tangannya dari bahu Sakura.
"Maaf. Tapi kata maaf ini tidak cukup untukmu, benarkah Itachi-san?" tanya Sakura pelan.
Sebetulnya Itachi ingin sekali memarahi Sakura, tapi dia tidak berhak karena jika dia melakukan itu—hubungan mereka akan semakin renggang saja. Seharusnya dia tadi tidak membentak tunangannya. Namun, memang dia yang bersalah. Sekarang yang disalahkan itu siapa? Cih, umpatnya dalam hati.
"Aku tidak akan menyalahkanmu," ucap Itachi dengan nada sedatar mungkin.
"Jangan salahkan aku… jangan salahkan ak—hmpph"
Itachi tanpa meminta izin dari perempuan musim semi langsung menekan kepala Sakura dan mencium bibirnya. Bersamaan pula Sakura membulat kaget dan berusaha memberontak akan serangan tiba-tiba dari tunangannya. Dia merasa bersalah akan Sasuke karena dirinya mengkhianatinya dengan berciuman dengan Itachi. Namun, Itachi kan tunangannya—dan dia menerima perjodohan itu. Sakura merasa ini karmanya menjalin dua hubungan yang bertolak belakang.
Tatapan Sakura terasa kosong akan perlakuan Itachi—walau ciumannya sangat lembut dan memabukkan. Tapi, tidak rasa hangat yang tersirat di ciuman mereka. Berbeda dengan ciumannya dengan Sasuke yang terkesan hangat akan rasa cinta diantara dia—dan Sasuke.
Tanpa mereka menyadari kalau Sasuke Uchiha melihat keduanya. Dia mengepalkan tangannya erat-erat memandang pemandangan yang sangat dia tidak ingin lihat. Dia berusaha untuk menekan emosinya dengan menghela napasnya berat.
Anak sulung Uchiha itu melepaskan ciuman itu lalu menundukkan kepalanya. Begitu pun dengan Sakura yang memegang bibirnya dengan kaku. Kemudian Itachi menggerakan kepalanya dan membisikkan sesuatu di telinga Sakura.
"Maafkan aku. Aku harus mendinginkan kepalaku. Kalau membicarakan pernikahan, terserah kau saja," bisik Itachi kemudian menghadiahkan kecupan di kening Sakura.
Tanpa sadar sedikit air mata meleleh di iris teduh Sakura. Dirinya langsung menghapus air matanya sebelum Itachi tahu akan hal ini. "Aku harus pulang, Itachi-san…"
"Sebaiknya—"
"Aku yang akan mengantarnya, Nii-san." Sontak Itachi dan Sakura menoleh ke belakang—dan mendapati Sasuke sudah di dekat mereka berdua.
Itachi agak memicingkan matanya pada adiknya itu. "Apa ucapanmu bisa dipercayai, Sasuke?" tanyanya.
Bungsu Uchiha itu menyeringai tipis. "Sebagai calon adik ipar, aku harus bersikap baik bukan?" seru Sasuke lalu melirik ke arah Sakura. "—sekarang kau mau diantar olehku atau Itachi-niisan?"
"Sepertinya kau harus istirahat, Itachi-san. Tenang saja aku selamat diantar oleh adikmu," jawab Sakura.
Setelah mendapat kepastian dari Sakura, pemilik rambut mencuat ini menampilkan senyum kemenangan pada Itachi. "Kalau begitu kami pergi dulu… Jaa Nii-san," ucap Sasuke kemudian disusul Sakura dari belakang.
Sebernanya Itachi ingin mencegahnya akan tetapi keberadaan Sakura terasa jauh di matanya. Dirinya pun meninju pagar balkon rumahnya. "Brengsek."
.
.
.
.
X~0
.
.
.
.
Kedua manusia berbeda gender ini terlibat keheningan yang lama di dalam mobil. Mereka berdua sempat dicegah oleh Mikoto, namun Sakura berhasil menyakinkan kalau dia diantar oleh Sasuke karena beralasan Itachi ingin istirahat. Setelah mendapat izin dari Mikoto, mereka berdua pun keluar dari mansion itu sekarang. Namun pada saat ini—hanya dentingan musik mengiringi kepergian mereka menuju ke kediaman Haruno.
"Maafkan aku telah melibatkan perasaanku sampai kau dilema sekarang, Sakura," ucap Sasuke memecahkan kebisuan diantara mereka berdua.
Sakura melihat air muka Uchiha bungsu itu menyimpan banyak emosi. Walau dia memasang wajah dengan sangat datar. Dengan mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan kota Konoha, dirinya tertawa miris.
"Aku sungguh egois. Aku sudah memainkan kepercayaan kalian semua. Hanya aku yang salah… aku sangat jahat membuat hubunganmu dan Itachi-san renggang," lirih Sakura.
Sasuke yang mendengarnya membuat hatinya bergetar sakit sekali. "Kau tidak salah, Sakura. Aku juga yang salah. Seharusnya aku menyatakannya disaat sebelum kau dijodohkan. Tapi dalam situasi begini, ada yang harus berkorban sebelum bertambah rumit."
"Maksudmu? Jangan bilang kau akan—"
"Awalnya aku akan mengalah demi kebahagiaan kakakku—daripada membuat orang tuaku kecewa. Tapi jika aku menyerah sekarang maka perasaan yang selama ini kujaga akan sia-sia saja, Sakura," jelas Sasuke dengan fokus menyetir kemudi mobilnya. "—aku tidak akan mengalah walau dia adalah kakakku sendiri," lanjutnya.
Ini. Ini tidak boleh. Dirinya sudah memperunyam hubungan kakak beradik sekarang mereka tidak mau saling mengalah. "Aku yang seharusnya berkorban disini, karena aku adalah penyebab hubungan kalian retak."
"Kalau kau mau bilang untuk berkorban dan melarikan dari masalah ini. Itu namanya tidak bertanggung jawab Sakura?" geram Sasuke menahan emosinya yang agak tersulut.
Sakura memandang tajam Sasuke. "Memangnya aku adalah barang yang harus kalian rebutkan? Kau mau aku hanya diam menyaksikan kalian berkelahi demi aku. Walau kalian berusaha menyembunyikannya—aku tidak bodoh untuk tahu akan hal ini!" sergahnya.
"Maaf…"
Semua menjadi kembali membisu, mereka sama-sama diam dan meredam emosi mereka masing-masing. Sasuke melanjutkan mengemudi sedangkan Sakura memandang pemandangan luar yang jauh lebih menarik dibandingkan—dengan masalah yang ia hadapi sekarang.
Tak berlangsung lama mereka sudah sampai di kediaman Haruno. Keduanya masih diliputi kebisuan sampai Sakura kelar dari mobil milik Uchiha bungsu itu. Bersamaan pula Sasuke keluar dari mobil lalu perempuan musim semi itu menoleh ke belakang—dan berbalik hingga mereka berdua berhadapan satu sama lain.
"Masuklah," perintah Sasuke menyilangkan kedua tangannya di dada kemudian berbalik menuju pintu masuk mobil.
"Tunggu…" pinta Sakura menghentikan Sasuke membuka kenop pintu mobil dan mau tak mau atensinya mengarah pada—perempuan musim semi itu.
Sedikit berdecih. "Aku harus pulang, Sakura," ucap Sasuke.
"Apa kau tidak memberiku—" lidah Sakura seakan kelu mengucapkan itu. Uchiha bungsu itu paham akan kelanjutan perkataan dari kekasihnya namun—ia urungi untuk melakukannya.
"Maaf untuk kali ini, Sakura. Aku tidak bisa melakukannya," kilah Sasuke.
Sakura menundukkan kepalanya. "Kau merasa bersalah akan masalah rumit ini, tapi aku juga—"
Dengan cepat, Sasuke menarik tubuh Sakura lalu menipiskan jarak diantara mereka berdua. Akan tetapi, mengingat kejadian di mansion tadi. Laki-laki itu langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Sakura—walau tadi sedikit lagi dia menempelkan bibirnya di bibir kekasihnya. Tapi keadaan sekarang ini memaksanya untuk tidak melakukannya. Dengan berat hati, Sasuke langsung masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan kata selamat malam pada Sakura.
Sama halnya dengan Sakura. Dia kemudian merosot terjatuh ke bawah dan menutup mukanya. Kepalanya terasa pening seketika mendapati benang kehidupannya semakin kusut dan sulit untuk membuatnya menjadi lurus.
"Maafkan aku…"
—dirinya tenggelam dalam kesalahannya tanpa tahu arah penyelesaiannya.
.
.
.
.
.
.
*To be Continued*
Wulanz Aihara Uchiha Notes
Haiii, kembali denganku #disepak. Maafkan aku kalau ngaret lagi updatenya. Ini saja pengerjaannya dua hari #eh malah curhat. Habis aku buat draftnya dulu mumpung ingat dan sekarang aku berhasil menyelesaikannya hihihi…
Spesial ini buat kak Ay ^^ semangat ya mau mendapatkan gelar wisuda cieee :3 aku akan menyusul tahun depan. Dan semangat buat Moo, Mpuut dan Asakura Ayaka yang sedang pengerjaan skripsi.
Thanks for Reading and Review my fict ^^
Putri Hassbrina, mako-chan, hiruka aoi sora, Novi Shawol'Elf, ahalya, QRen, Karasu, ucciu, Morena L, sasusaku uciha, Mizuira Kumiko, Zecka S. B. Fujioka, Yara Aresha, emerallized onyxta, Franceour, MuFylin, hanazono yuri, Mo males login, Guest (2x), Uchiha Matsumi, Dark Courriel, LAW, Yoon Ji Yoo19, ocha chan, esposa malfoy, Uchiha Shesura-chan, hachikodesuka, Alifa Cherry Blossom, MasyaRahma, Yumi Murakami, Love Foam,Neko Darkblue, zhao mei mei, Clarione, jingga, ridafi chan, HazukiFujimaru, Alifa Cherry Blossom,
Palembang, 26 Juli 2013
Tsurugi De Lelouch
