Galerians, in.

A/N: Sebagai informasi, serangan Obito dan Kyuubi di Konoha dalam universe fic ini terjadi saat Naruto berusia lima tahun, yang berarti Naruto versi fic ini adalah Naruto yang sempat hidup dengan orangtuanya selama lima tahun, dan karena alasan inilah sifat Naruto benar-benar jadi campuran Minato dan Kushina karena dia memang sempat dibesarkan oleh mereka berdua, walau memang hanya untuk waktu yang sangat singkat. Dia punya sifat pemarah dari Kushina dan sifat kalem dari Minato. Di sekeliling temannya dia ceria seperti ibunya, tapi ketika kondisi atau situasi mengharuskan, dia juga bisa kalkulatif dan dingin seperti ayahnya. Naruto mewarisi tubuhnya yang kuat dan berdaya hidup tinggi dari Klan Uzumaki, tapi Naruto juga mewarisi gaya bertarung analitik, adaptif, kreatif, efisien dan efektif yang berasal dari Klan Namikaze.

Naruto jadi lebih mirip Minato daripada canon? Bagus kalau begitu. Karena itu bukti bahwa Naruto versi hamba adalah Naruto yang sempat mengetahui betapa besar kasih sayang dari orangtuanya, meski cuma sebentar saja.

BGM for this chapter!

1. (Kill la Kill OST – Gomen ne, Iiko ja Irarenai)

2. (Ao no Exorcist OST – Core Pride)

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Tries to Help a Devil

Chapter 2

(An Encounter in the Night?! To Invoke the Sun's Fury is to Ask for Death!)

Kalau Rias harus jujur, salah satu alasan kenapa dia terus memburu cowok pirang tak sopan itu adalah karena dia merasa sangsi atas kebenaran kisah yang telah diceritakan oleh kakaknya. Sirzechs adalah salah satu dari empat pilar terkuat, kalau bukan yang terkuat, di kalangan kaum Iblis penghuni Meikai, dan Rias merasa tak percaya bahwa ada seorang manusia yang bisa menyaingi dan bahkan sampai hampir membunuh kakaknya itu dalam sebuah pertarungan. Bukankah dia dan Sirzechs telah mewarisi Mezabi no Chikara (Power of Destruction) dari Okaa-sama yang berasal dari Klan Bael? Bukankah kemampuan itu memiliki kekuatan untuk memusnahkan segalanya sampai tak bersisa? Bukankah dengan kemampuan itu kakaknya menjadi kartu as, dan bahkan menjadi pahlawan di kalangan fraksi Anti-Satan dalam perang sipil yang memecah belah dimensi Meikai di masa lalu?

Semua itu adalah fakta, bukti-bukti yang tak diragukan lagi kebenarannya, tapi kalau memang begitu, lalu bagaimana caranya seorang manusia biasa mampu melawan kakaknya yang diangkat sebagai Lucifer karena dia memiliki keahlian tinggi dalam memakai Mezabi no Chikara, dan bahkan lebih ahli dari Klan Bael yang notabene merupakan pemilik original kemampuan itu?

Petunjuk pertama Rias dapatkan dalam pertengkaran dengan Sona yang ia alami hampir setengah minggu kemarin. Dalam pertengkaran itu, Rias dan Sona yang sempat buta situasi bersiap saling serang dan menggunakan kekuatan mereka masing-masing di tengah-tengah sekolah yang seharusnya mereka jaga keutuhannya. Naruto yang di waktu itu mungkin merasakan firasat buruk berusaha menengahi, namun mereka telah terlanjur melepaskan sihir masing-masing. Rias dan Sona, yang dalam sekejab mata menyadari bahwa kekalapan mereka akan membuat orang yang telah menarik perhatian mereka berdua menjadi korban, hanya bisa menyaksikan serangan mereka menghantam Naruto dalam sebuah ledakan yang menyilaukan mata dan memekakkan telinga.

Rias berani bersumpah bahwa jantungnya sempat berhenti berdetak saat ia menyadari bahwa tindakan sembrononya mungkin telah membunuh dan memusnahkan satu-satunya laki-laki yang bisa membuatnya merasakan hal-hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Seiring kepulan asap yang mulai pupus, Rias tersadar bahwa matanya telah basah, tenggorokannya terasa tercekat, dan dia merasa ingin terisak.

Hanya saja, ketakutan Rias tak terbukti. Dia yang sudah hampir menangis pilu dibuat terkejut tak kepalang saat garis penglihatannya menangkap remaja berambut pirang itu masih berdiri di pusat ledakan. Pendar kebiruan terlihat membungkus seluruh tubuhnya dan mungkin itulah penyebab kenapa shinobi itu bisa bertahan hidup walaupun telah menerima serangan yang seharusnya sudah membuatnya musnah tanpa sisa walau cuma setitik debu itu. Akan tetapi, belum sempat Rias bernapas lega, hatinya kembali dipenuhi oleh rasa khawatir karena ketika sinar itu menghilang, Rias menyadari kalau jaket dan celana Naruto telah robek-robek di sana-sini dan wajahnya nampak meringis seperti sedang menahan rasa sakit yang hebat, sebelum tubuh itu terhuyung dan jatuh terjerembab ke belakang.

Rasa khawatir itu semakin menjadi-jadi saat Rias dan Sona melihat tubuh Naruto menegang sesaat sebelum mulutnya terbuka dan memuntahkan cairan merah kental yang muncrat ke udara, membasahi dagu dan mengotori pipinya dengan darah segar.

Rias tak tahu kenapa, tapi rasa khawatir itu berubah jadi rasa tak senang saat ia melihat Sona telah lebih dulu meraih Naruto dan merebahkan kepala pemuda itu di pangkuannya, serta rasa terkejut saat Rias mendapati bahwa mata sahabatnya turut berkaca-kaca dan bibirnya terus-menerus memanggil nama Naruto. Jujur, Rias sangat yakin bahwa inilah pertama kalinya ia melihat Sona menampakkan emosinya secara begitu terang-terangan.

Rasa tak senang itu berubah menjadi rasa kesal ketika Sona menolak mentah-mentah tuntutan Rias yang ingin agar remaja pirang tak sopan itu diserahkan ke bawah pengawasannya, menyebabkan pertengkaran mereka meningkat lagi menjadi perang mulut. Mereka baru berhenti saat mata mereka dipenuhi kilatan sinar keemasan, dan detik berikutnya, Naruto telah menghilang dari pandangan.

Butuh waktu sampai larut malam itu bagi Rias untuk menyadari betapa seriusnya peristiwa tadi. Kemampuan yang ia warisi dari Okaa-sama, Mezabi no Chikara, kekuatan yang sampai hari ini selalu berhasil memusnahkan apapun yang ditarget Rias telah gagal menembus energi apapun yang Naruto gunakan untuk melapisi tubuhnya saat itu. Memang, kalau menilik tubuh Naruto yang terluka parah, lapisan energi pelindung itu tak sepenuhnya bisa memblokir tenaga penghancur yang Rias lancarkan. Namun itu tak mengubah fakta bahwa Naruto telah melakukan sesuatu yang luar biasa, karena dia telah berhasil bertahan hidup walau kemampuan khusus Rias telah menghantamnya dengan telak.

Sembari melucuti pakaiannya satu persatu karena Rias hanya bisa tidur kalau tubuhnya tidak dibalut selembar baju pun, Rias membuat keputusan untuk melakukan penyelidikan tentang sejauh dan sehebat apa sebenarnya kemampuan shinobi itu.

Bukannya terpuaskan, rasa penasaran Rias malah dibuat semakin menjadi-jadi ketika besoknya, sosok dengan rambut pirang jabrik dan berantakan itu sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya. Dan kenyataan bahwa Sona nampaknya juga mengincar orang yang sama adalah satu perkara lagi yang membuat Rias semakin kebat-kebit.

Dua puluh empat jam kembali berlalu dengan rasa penasaran dan hasrat kompetitif di hati Rias dan Sona yang menjadi semakin membara, dan ketika Naruto masuk sekolah keesokan harinya, emosi yang bergejolak dalam dada dua gadis Iblis itu membuat mereka melepaskan semua inhibisi dan mengerahkan semua sumber daya, baik itu diri sendiri atau anggota Peerage mereka, untuk memburu sang pemuda.

Ketika hampir sepuluh kaum Iblis hasil reinkarnasi Evil Pieces mengerahkan usaha sepanjang istirahat makan siang, Rias harus mengungkapkan bahwa menonton shinobi pirang yang kelabakan menghindari serbuan anggota OSIS dan Occult Kenkyu-bu itu entah kenapa terasa sangat menyenangkan, membuat Rias ingin menciptakan dan memainkan skenario-skenario di mana dia bisa membuat Naruto jatuh bangun, berguling-guling, bahkan terpental-pental di udara sekalian.

Sial bagi Rias, hari itu berakhir dengan kemenangan Sona, yang disebabkan karena ketua OSIS itu jauh lebih proaktif daripada Rias. Tapi sudah pasti Rias tak berniat untuk menyerah begitu saja, dia tak rela dan takkan membiarkan cowok pirang itu dimonopoli dan direbut cewek lain tanpa perlawanan.

...Tunggu, pikiran macam apa yang baru saja ada di kepalanya?! Mustahil! Kenapa juga dia harus peduli kalau cowok tak sopan itu direbut cewek lain?! Dia tidak—!

Oke, berhenti sampai di situ. Tarik napas dalam-dalam. Hembuskan.

Rias tak punya waktu untuk membiarkan pikirannya meleng ke mana-mana. Dia masih harus memuaskan rasa ingin tahunya tentang level keahlian Naruto, dan sebelum tujuan itu tercapai, pikiran lain yang kurang penting bisa dikesampingkan.

...Tapi nanti dulu memikirkan itu, prioritas utama yang paling penting dan harus mendapat perhatian penuh Rias saat ini adalah mengadakan pesta penyambutan bagi Asia yang bersedia menjadi anggota Peerage-nya. Rias sangat bersyukur karena kue tart berlapis krim dan berhias buah stroberi yang telah ia siapkan terlebih dahulu malam tadi akhirnya tidak menjadi sesuatu yang sia-sia.

Pesta meriah yang berlangsung selama beberapa jam itu berakhir ketika matahari sudah memancarkan cahaya kemerahan. Rias yang sekarang hanya tinggal sendirian di ruang klub telah duduk di meja kerjanya dan mulai menganyam benang-benang ide menjadi rencana yang akan ia andalkan untuk menangkap dan menyeret ninja yang tak sopan, namun entah mengapa sekaligus membuat Rias merasa dia bisa diandalkan itu ke ruang klub Occult Kenkyu-bu, di mana Rias bisa mengadakan interogasi, tes, eksperimen, atau entah apa lagi yang bisa dia lakukan. Tapi belum sempat ahli waris Klan Gremory itu membuat satu skenario, sebuah lingkaran magis yang menjadi penanda sihir transportasi kaum Iblis telah muncul di depannya.

Dia langsung mengenali pemilik rambut keperakan itu.

"Grayfia?"

~•~

Dengan sebuah hembusan napas panjang, Naruto berjalan menyusuri koridor Akademi Kuoh yang telah gelap setelah terbenamnya matahari. Tubuhnya memang sudah disembuhkan total oleh Asia, tapi itu tidak berarti stamina dan tenaganya sudah pulih, dan setelah seharian ia harus menjadi pesuruh (baca: diperbudak) Sona sebagai tebusan tindak pelecehan seksual yang Naruto lakukan pada Tomoe dan Reya, Naruto sudah siap untuk pulang dan langsung terkapar di ranjang.

Dia sudah hampir mencapai tangga yang akan membawanya ke lantai dua ketika pintu kelas di sampingnya terbuka cepat tanpa menimbulkan suara. Naruto menatap ke dalam kegelapan kelas itu sembari menelan ludah, dan ia sudah bersiap lari ketika sebentuk tangan berkulit putih pucat muncul mencengkeram lengan Naruto dan menyeretnya masuk ke dalam.

"Hantu~!" Naruto dengan cepat beringsut ke sudut kelas sambil melindungi wajah dengan kedua lengan, sebelum mulai komat-kamit dengan secepat-cepatnya.

"Hei—"

"Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku!" Dia bersujud dan menyembah-nyembah seperti orang kerasukan. "Ototku keras jadi dagingku pasti alot dan nggak enak! Aku juga belum mandi jadi rambutku pasti berminyak! Kumohon jangan makan aku!"

"Kau—"

Naruto sama sekali tidak membuat jeda dan mulai terisak. "Aku tidak mau jadi makanan hantu! Aku masih punya mimpi dan kewajiban! Aku masih belum pernah memborong ramen sewarung! Naskah Icha-Icha yang sudah kuedit juga belum kukirim ke penerbit! Setidaknya, aku tidak mau mati sebagai perjaka~!"

"Hei, kau—"

"Aku mau bertemu Iruka-sensei lagi! Aku juga mau bertemu Baa-chan lagi! Aku bahkan kangen sama Ero-sennin~!"

Kerah Naruto tiba-tiba dicekal dan dia mendapat satu tamparan untuk masing-masing pipi. Rasa takut berubah menjadi shock ketika ia mendapati bahwa seluruh tubuhnya masih utuh dan dia belum dirasuki atau dimakan oleh seorang roh pendendam.

Tapi kalau bukan hantu, lalu makhluk apa yang menariknya masuk ke ruang kelas kosong malam-malam begini?

Mata Naruto bertemu dengan rambut merah dan dua mata berwarna opal yang hanya berjerak sejengkal di depan wajahnya. "...Oh." dia tersadar. "Rupanya kau, Gremory."

"Hmph," Rias mendengus sembari melepaskan cekalannya dan membiarkan remaja pirang itu jatuh menggelosoh ke lantai karena tubuhnya lemas dari rasa lega. "Padahal kau bisa melawan Datenshi seperti mereka nggak ada apa-apanya, tapi baru segini saja kau sudah bertingkah seperti orang kesurupan."

"Iya, iya. Aku tahu kalau takut sama hantu itu sama sekali tidak keren," Naruto berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang sedikit berdebu. "Jadi kenapa kau menarikku ke ruang kelas kosong malam-malam begini? Sekedar informasi, kalau kau mencari penampakan supranatural, pelototi saja cermin dan lama-lama kau juga akan sadar kalau kau sedang melihat seorang Iblis."

Rias kembali mendengus, meski yang kali ini untuk menahan tawa. "Oh? Lalu kau sendiri? Apa yang kaulihat kalau kau bercermin?"

Naruto mengangkat bahu. "Aku kan cuma manusia, jadi mana mungkin ada penampakan supranatural dalam cerminanku," Naruto menunjuk wajahnya. "Kau bisa lihat wajahku sekarang kan? Apa yang kau lihat?"

Rias pura-pura berpikir keras. "Muka bego dengan tanda lahir menyerupai kumis?"

Naruto bersidekap sambil mencemberutkan wajah. "Kelebihan kata 'bego' noh."

"Eh, masa iya? Kurasa pas-pas aja tuh."

"Kenapa kau selalu ngajak aku kelahi sih?"

"Kalau kau nggak suka, sopan sedikit dong sama aku."

Naruto menghela napas dan memijit batang hidungnya. "...Jadi menurutmu apa yang harus kulakukan agar aku bisa 'sopan sedikit' padamu, Gremory?"

Rias mengumbang sambil mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari telunjuk, jari yang kemudian ia pakai untuk menunjuk ke wajah Naruto. "Ah, kau bisa mulai dengan memanggilku Rias!"

Yang disuruh hanya mengerutkan dahi. "Kau tahu kalau di negara ini memanggil nama depan itu dianggap menunjukkan keakraban dan hubungan dekat kan? Sopan di mananya kalau aku memanggilmu begitu?"

"...Ah," Rias membuang mukanya yang mulai diwarnai sedikit semburat merah. Dia memainkan dua jari telunjuknya selama beberapa saat sebelum mengeraskan postur dan menunjuk wajah Naruto lagi. "Aku tak peduli! Pokoknya mulai sekarang panggil aku Rias!"

"Oke, oke. Nggak usah teriak-teriak begitu dong," Naruto berhenti sebentar.

(Play Kill la Kill OST – Gomen ne, Iiko ja Irarenai)

"Rias."

Nama yang diucapkan dengan pelan itu ternyata begitu sarat efek samping sampai membuat wajah Rias penuh rona merah sampai pipinya terlihat menyala di kegelapan kelas kosong tersebut. Dia sama sekali tak menyangka bahwa suara yang agak sedikit serak khas remaja laki-laki dalam masa puber itu bisa mengandung efek yang sangat berbeda antara menyebutkan nama belakang atau nama depan dari orang yang sama.

"Rias?" Dan sekarang suara itu berisi nada khawatir, membuat jantung Rias berdegup sedikit lebih cepat saat tersadar bahwa rasa khawatir itu ditujukan padanya. "Oi, Rias, ada apa?"

"O-oh," Rias terbata. "Aku—"

Dia tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena Naruto sudah terlebih dahulu menarik sebuah kursi sebelum memegang lengan Rias dan membantunya duduk pelan-pelan.

"Kau kenapa?" Naruto berlutut di depannya dan mulai mengamati setiap inci wajah Rias. "Kenapa wajahmu merah? Apa kau sedang sakit?"

Rias yang tidak terbiasa menerima perhatian sampai sebegitunya oleh seorang laki-laki yang benar-benar khawatir tanpa sedikitpun maksud tersembunyi, akhirnya hanya bisa terbata lagi. "A-aku..."

Rias mengeluarkan pekik tertahan ketika Naruto menyingsing poni rambut Rias dan mendekatkan wajahnya sampai dahi mereka bersentuhan. Rias merasa degup jantungnya sudah begitu kuat sampai debarannya bisa terdengar sampai ke telinga. Napasnya tercekat dan seluruh tubuhnya jadi terasa panas, sementara benaknya mulai diserang pikiran-pikiran tidak rasional.

Dia akhirnya mengerti kenapa Sona begitu gigih dalam usahanya memonopoli Naruto, karena sekarang Rias telah mengetahui bahwa menjadi sasaran perhatian shinobi pirang adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.

"Padahal wajahmu semerah ini, tapi kau tidak demam..." selagi Naruto menggumam, mata Rias terpaku pada mata biru langit itu, sebelum turun ke arah bibir yang tidak sampai sepuluh senti terpisah dengan bibirnya sendiri. Rias yang tanpa sadar menjilat bibir merasakan tubuhnya mulai bergerak sendiri, memotong jarak antara wajahnya dan wajah Naruto dengan sangat pelan-pelan sampai Rias akhirnya bisa merasakan ujung terluar permukaan bibir atas mereka sudah saling bersentuhan dan siap melakukan pertemuan.

Ketika wajah itu tiba-tiba menjauh, Rias hampir saja mengerang protes, dan pasti sudah melakukannya kalau saja akal sehatnya tidak kembali dan menyadarkan Rias tentang hal macam apa yang baru saja dia lakukan. Tapi Rias lagi-lagi tak diberi kesempatan bahkan untuk merutuki dirinya sendiri karena Naruto telah menyelipkan tangannya di bawah kedua lutut Rias dan punggungnya sebelum menggendong gadis Iblis berambut merah itu dalam sebuah buaian.

"N-Namikaze?!" Rona merah padam di wajah Rias mencapai kekuatan penuh, dan jika menilik panas wajahnya, ahli waris Klan Gremory itu sangat yakin kalau ubun-ubunnya pasti sudah mendidih dan menguarkan uap. "A-apa yang kau—!"

"Jangan berontak," Naruto mengomel halus sambil memperbaiki posisi Rias dengan mengambungnya sedikit, membuat kepala gadis itu sekarang bersandar ke bahunya. "Kau memang tidak demam, tapi dengan wajah semerah itu, kurasa tak ada salahnya hati-hati." Naruto menelengkan kepalanya sedikit, membuat ujung dagunya bersentuhan dengan puncak kepala Rias. "Ruang UKS pasti sudah dikunci kalau sudah malam begini, jadi satu-satunya pilihanku adalah mengantarmu pulang."

"A-ah..." Rias kembali mengalami kesulitan membuat kata-kata. Gadis itu tengah sibuk membongkar memorinya dan mencari kapan terakhir kali dia diperlakukan seperti ini, hanya untuk semakin bertambah tersipu malu saat menyadari bahwa Naruto adalah laki-laki pertama yang memberinya pengalaman bertajuk [Digendong dalam Buaian].

"Jadi? Di mana rumahmu?"

Rias menelan ludah dan menarik sehela napas agar bicaranya tidak terlalu tersendat. "A-aku tinggal di bangunan tempat klub Occult Kenkyu-bu..."

"Oh, jadi masih di lingkungan sini. Bagus kalau begitu, masih masuk lingkup Hiraishin."

"T-tunggu...!" pancaran energi kecil dari tubuh Naruto membuat sang Iblis remaja sadar kalau shinobi itu akan melakukan jurus teleportasinya, membuat Rias cepat-cepat membuka mulut untuk menghentikannya, karena kalau Naruto membawa mereka berdua dengan Hiraishin, maka pengalaman ini akan selesai terlalu cepat. Rias memutar otak, mengingat-ingat kembali apa yang bisa ia katakan untuk merubah keputusan Naruto. "Jurus teleportasimu itu bisa membuat orang lain mual kan? Jadi bisakah kita jalan kaki saja ke sana?"

"Oh," Naruto sama sekali tidak menampakkan ekspresi keberatan, malah ia hanya tersenyum tipis. "Selama kau merasa nyaman, kurasa itu oke-oke saja."

Rias mengangguk dan menundukkan kepalanya sementara Naruto mulai berjalan dengan langkah yang ia ambil pelan-pelan agar tubuh Rias tak terguncang. Mereka baru saja keluar dari bangunan sekolah utama ketika Rias menarik perhatian Naruto dengan menarik kerah bajunya.

"Hei..." dia bicara tanpa menatap mata Naruto. "Kau benar-benar tidak apa-apa menggendongku seperti ini?"

"Tentu saja," Naruto mengangguk tanpa keraguan. "Memangnya kenapa? Kau sama sekali tidak berat kok."

"Bukan itu maksudku..." sejujurnya, Rias merasa senang karena komentar Naruto itu, tapi hal yang dia tanyakan tidak menyangkut soal berat tubuhnya. "Bukannya tubuhmu masih terluka setelah apa yang terjadi kemarin lusa?"

"Oh, kalau soal itu, kau nggak usah khawatir. Asia sudah menyembuhkanku siang tadi," sahut Naruto ringan. "Lagipula, kejadian kemarin itu nggak buruk-buruk amat kok. Aku sudah pernah mengalami yang jauh lebih parah." Naruto memiringkan kepalanya sedikit. "Cukup sering, malah."

Rias akhirnya mendongak untuk mengamati wajah Naruto, mencoba mencari pertanda apakah pemuda itu hanya berbohong untuk meringankan rasa bersalah Rias. "Lebih parah? Pengalaman macam apa maksudmu?"

Melihat ekspresi di wajah bertanda lahir mirip kumis itu, Rias yakin kalau Naruto sedang tidak menggendongnya, dia pasti sudah menggaruk pipi. "Yah, sebagai contoh, saat aku masih dua belas tahun, aku pernah ditelan dan sempat dicerna oleh seekor ular raksasa."

Rias tertegun untuk beberapa saat. "...Ditelan?" dia berbisik dengan nada tak percaya. "...Sempat dicerna?"

Naruto mengangguk. "Panjang ular itu mungkin ada sekitar tiga puluh meter. Bekal onigiri yang tak sengaja kujatuhkan saat itu saja langsung meleleh kena asam perutnya. Gede dan ngeri deh pokoknya." shinobi remaja itu tersenyum malu-malu. "Untung saja kulitku tebal, jadi aku sempat menemukan jalan keluar sebelum mendapat nasib yang sama."

"Ular raksasa? Kau tidak sedang bercanda kan?"

Mendengar respon bernada sangsi dari Rias itu, Naruto hanya balas menatapnya dengan satu alis terangkat. "Kau adalah seorang Iblis yang datang dari dimensi lain. Kau bisa terbang dan pakai sihir. Kau punya artifak aneh berbentuk bidak-bidak catur yang bisa membangkitkan manusia, baik yang masih hidup atau sudah mati, menjadi Iblis untuk kau jadikan pelayan. Dan kau malah tidak percaya saat mendengar kalau di dunia ini ada ular raksasa?"

Sekarang giliran Rias yang buang muka. "Ehehe..." dia tersipu malu. "Kurasa aku hanya tak menyangka kalau di dunia manusia ada makhluk yang seperti itu."

"Kalau ular raksasa saja sudah membuatmu terkejut, aku tidak mau membayangkan bagaimana reaksimu saat bertemu kaum kodok, keong, dan ular yang berakal dan bisa bicara seperti manusia."

"...Ada juga yang seperti itu?" Rias mencicit.

"Atau Raja Kera berkulit sekeras berlian yang bisa berubah menjadi senjata tongkat." Naruto meneruskan, tak sadar kalau mata Rias terus melebar mendengarkan ceritanya. "Atau Tanuki setinggi puluhan meter yang seluruh tubuhnya terbuat dari pasir dan punya gaya bicara yang funky abis. Atau—"

"Stop. Stop." Rias memohon sambil memijit pelipisnya. "Tolong berhenti sebentar. Kepalaku sudah mau pecah nih."

Naruto memandang gadis Iblis yang dirundung bingung itu dengan tatapan bersinar mengasihani. "Kalau segitu saja nyalimu sudah keok, kau nggak mungkin bertahan hidup seminggu di duniaku."

"Duniamu itu gila, tahu!" seru Rias sambil mencubit pipi Naruto dan menjewernya lebar-lebar ke samping.

"Shiapha jhuga yhang bhilangkh dhuniakhu wharhas?"

Rias melepaskan cubitannya dan menghela napas panjang seperti orang kelelahan. "...Jadi cuma itu pengalaman yang kau bilang lebih buruk dari apa yang terjadi kemarin lusa?"

"Oh, tentu saja tidak." Naruto menyahut cepat. "Semua tenketsu, atau bisa disebut juga titik energi, di tubuhku juga pernah ditotok. Rasanya kurang lebih seperti kalau ada urat nadimu yang pecah dan berdarah di dalam. Dan mengingat jumlah tenketsu-ku yang ditotok jumlahnya ada enam puluh empat biji, kau bisa bayangkan sendiri rasa sakitnya."

Nada santai Naruto tetap tak bisa mencegah Rias dari mengernyit saat membayangkan derita macam apa yang sudah dirasakan oleh shinobi pirang itu. Namun apa yang dikatakan Naruto selanjutnya hampir saja membuat Rias mengalami stroke.

"Satu kali, otot jantungku juga pernah robek dan sempat berhenti bekerja." lanjut Naruto dengan datar.

"...Jantung?" bisik Rias, tangannya tanpa sadar bergerak meraba bagian dada kiri Naruto di mana ia bisa memastikan kalau organ itu masih berdetak. "...Jantungmu robek?"

Naruto mengangguk untuk kesekian kalinya. "Kurasa itulah pertama kalinya aku benar-benar sekarat dan hampir saja tidak selamat."

"...Kenapa kau bisa setenang ini?" Rias bertanya dengan suara yang tak lebih nyaring dari sebuah bisikan. "Kau sudah hampir mati. Kenapa kau masih bisa menceritakannya dengan tenang seperti ini...?"

"Sekarat atau hampir mati tidak masalah bagiku," Naruto mengangkat bahu. "Karena saat itu aku berhasil menyelamatkan nyawa seseorang."

Naruto tersenyum, senyuman tipis yang sama persis dengan apa yang Rias lihat dua malam silam setelah Sirzechs membongkar rencana Naruto untuk mengorbankan dirinya demi membersihkan nama Rias dan meringankan hukuman Issei. Mata biru langit yang memancarkan kehangatan dan kebaikan hati tanpa pamrih itu menoleh ke Rias, membuat gadis Iblis itu teringat dan menyadari kemuliaan macam apa yang tersimpan dalam jiwa remaja yang menggendongnya itu.

"Alasan apa lagi yang kuperlukan?"

Entah mengapa, Rias ingin berdoa pada Tuhan agar Dia mau memperpanjang jarak yang harus mereka jalani untuk mencapai tujuan agar dia bisa lebih lama berada dalam buaian Naruto.

~•~

Naruto menurunkan Rias dari gendongannya dengan perhatian dan kehati-hatian yang sama seperti yang telah ia tunjukkan sepanjang perjalanan dari gedung sekolah utama ke bangunan sekolah lama ini. Dia yang terlalu berkonsentrasi agar Rias tak sampai merasa tak nyaman sama sekali tidak menyadari bahwa sebuah ekspresi kecewa telah terpasang di paras gadis Iblis yang sebenarnya enggan mengakhiri sesi menyenangkan itu.

"Oke," Naruto kembali berlutut di depan gadis itu sembari mengamati wajahnya dengan teliti. "Ah, wajahmu masih merah," tanpa menyadari bahwa justru tatapannya lah yang menciptakan rona di wajah Rias, Naruto mengangkat tangannya dan menyentuh dahi Rias untuk mengukur temperatur tubuh gadis Iblis itu.

Dahinya berkerut. "Aku benar-benar nggak tahu kau sedang sakit apa, Rias. Wajahmu merah tapi kau nggak demam. Kau tidak bersin-bersin atau batuk, hidungmu juga tidak ingusan jadi kau juga tidak sedang flu." Dia berdiri lagi. "Apa ada obat yang kau perlukan? Malam belum larut jadi aku yakin masih ada apotek yang buka."

Rias menggeleng. "Tidak usah. Kurasa aku hanya perlu istirahat."

Naruto nampak tidak puas. "Yakin? Aku bisa belikan tanpa harus lama-lama kok."

Rias mengangguk lagi. "Aku yakin."

Naruto mengamati gadis berambut merah yang duduk di ranjang di depannya itu untuk beberapa detik ekstra, sebelum akhirnya ia mengangkat bahu sambil menghembuskan napas. "Kalau kau pikir begitu, aku tak akan protes." Dia berlutut lagi. "Bagaimana kalau makan? Aku memang tidak terlalu pintar memasak tapi setidaknya aku tahu cara membuat bubur atau sup ayam yang kualitasnya masuk di atas rata-rata. Atau kau haus? Mau minum, teh, kopi, susu? Teh susu? Kopi susu? Aku juga bisa membuatkan wedang jahe kalau kau mau." Naruto terus mencerca Rias dengan pertanyaan-pertanyaan. "Atau mungkin kau mau mandi? Kalau kau mau, aku bisa menyiapkan air panas supaya kau bisa berenda—"

Rias menghentikan serbuan khawatir Naruto dengan mencubit sebelah pipi pemuda pirang itu. "Cukup, Namikaze." Rias sebenarnya sangat senang diperlakukan seperti itu, karena seingatnya Okaa-sama saja tak pernah menunjukkan perhatian tingkat tinggi seperti yang telah ditunjukkan Naruto setelah Rias menginjak usia remaja. Hanya saja, perhatian berlebih itu membuatnya jadi agak kikuk.

Rias melepaskan cubitannya dan menghela napas. "Ada apa sih denganmu? Kau ini seperti tak pernah melihat orang lain sakit saja."

"Ah, maaf." Naruto mengusap tengkuknya malu-malu. "Aku kebiasaan."

Ada sesuatu dalam suara Naruto yang membuat Rias merasa penasaran. "Kebiasaan?"

Naruto buang muka. "...Jangan dipikirkan. Bukan apa-apa kok." Senyum Naruto berikutnya nampak sedikit dipaksakan. "Jadi kau mau apa? Makan? Minum? Atau mandi?"

Mendengar kalimat yang jelas-jelas dimaksudkan untuk mengubah topik itu, Rias hanya bersidekap dan melotot ke arah Naruto dengan sorot mata setajam mungkin. Pemuda itu nampak kikuk kalau Rias menebak dengan benar arti tindakannya menggaruk kepala, dan tidak berapa lama kemudian, Naruto akhirnya pasrah dengan sebuah hembusan napas panjang.

"Aku hidup sendirian, oke?" walau nada suara itu terdengar datar, Rias bisa menemukan bahwa ada sedikit kepahitan yang tersembunyi di dalamnya. "Baik itu urusan makan, membersihkan rumah, menyapu halaman, mencuci baju, menyiapkan makan, atau memanaskan air bak mandi, semua itu harus kuurus sendiri." Pandangannya jadi menerawang. "Aku ingat, tiap sekali aku sakit, aku selalu berharap ada orang yang mengurusku. Makanya setiap kali aku melihat orang lain yang sakit, aku jadi ingin mengurus mereka, supaya mereka tak harus merasakan apa yang harus kurasakan dulu."

Kalau kau ragu dengan kebenaran informasi itu, maka tanya saja Jiraiya. Pertama kali petapa tua itu sakit dalam pengembaraan mereka, Naruto benar-benar kalang kabut seperti ibu rumah tangga yang khawatir pada anak satu-satunya ketika sebenarnya Jiraiya hanya menderita flu ringan, membuat sang Gama Sennin jadi benar-benar memperhatikan kondisi tubuhnya karena tak mau membuat sang murid khawatir setengah mati sampai jadi seperti ayam kehilangan kepala.

"...Sendirian?" Rias berbisik dengan suara yang jadi sedikit serak. "Sejak kapan kau...?"

Naruto bergerak gelisah untuk beberapa saat sebelum menjawab sembari membuang muka. "Dari sepuluh tahun yang lalu," dia berkata pelan. "Aku sudah jadi yatim piatu sejak umurku lima tahun."

Saat itu, tak ada yang Rias inginkan lebih dari menghambur ke depan dan mendekap pemuda yang terlihat sangat kesepian itu. Rias yang sejak kecil telah dikelilingi keluarga, dengan ayah dan kakak yang sangat memanjakannya, sama sekali tak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang telah Naruto lalui jika dia harus tumbuh besar sebatang kara tanpa siapapun yang mengurusnya. Mata Rias yang mulai basah menatap Naruto, melihat bahunya yang merosot dan punggungnya yang sedikit membungkuk, dan walaupun remaja pirang itu bertubuh lebih besar dan sedikit lebih tinggi darinya, entah kenapa Rias hanya bisa melihat seorang anak kecil kesepian yang telah terpaksa tumbuh tanpa kasih sayang orangtua dan saudara.

Rias tahu bahwa saat ini dia tak boleh diam saja. Insting keibuannya yang tergelitik dan bangkit membuat ahli waris Klan Gremory itu mengulurkan tangannya dan meraup kepala Naruto yang masih berlutut ke dalam dekapannya.

"Rias?" suara Naruto terdengar sedikit teredam karena wajah pemuda itu sekarang terbenam di dada Rias.

Rias tak menyahut, karena ia yakin jawaban seperti apapun pasti hanya akan menyebabkan shinobi dengan masa kecil miris itu menutup dirinya lagi. Rias mengeratkan dekapannya dengan satu tangan, sedangkan satu tangannya lagi ia gunakan untuk membelai dan menyisir rambut pirang yang jabrik dan berantakan itu.

Rias baru buka suara setelah beberapa lama, tepat setelah ia merasakan tubuh Naruto yang melemas seakan-akan mempercayakan dirinya pada Rias. "Kau mungkin cukup kuat untuk mengatasi masalahmu sendiri," dia berbisik sambil meletakkan pipinya di puncak kepala Naruto. "Tapi kalau kau perlu bantuan, jangan malu-malu untuk datang dan meminta tolong padaku, mengerti?"

Naruto mengangkat wajahnya untuk bisa membalas tatapan Rias, dan seperti anak kecil yang polos dan patuh, remaja berusia lima belas tahun itu mengangguk pelan.

Rias tersenyum dan mengelus pipi Naruto untuk satu kali terakhir. "Kau bisa pulang, dan tidak usah mengkhawatirkanku. Aku hanya butuh tidur."

Rencananya untuk memutus pertunangan yang tak ia inginkan dengan memberikan keperawanannya pada laki-laki lain harus dipupuskan. Padahal dia sangat yakin dia akan berhasil ketika dia menarik Naruto ke ruang kelas kosong itu, tapi setelah mendengar sedikit kisah kehidupan sang remaja pirang, Rias takkan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri kalau dia sampai memanfaatkan manusia berjiwa mulia itu hanya untuk kepentingannya sendiri.

Dia melihat Naruto terus mengamatinya untuk beberapa detik sebelum pemuda itu bangkit dan berbalik, berjalan dengan langkah-langkah pelan namun pasti menuju pintu kamar tidur Rias. Rias baru saja berniat merebahkan badan dan memikirkan rencana lain yang tidak menyangkut memanfaatkan orang lain ketika ia mendengar suara dari Naruto yang masih memegangi kenop pintu.

"Kau berkata agar aku datang padamu kalau aku punya masalah, tapi kau sendiri tidak memberitahukan masalahmu padaku." seluruh postur tubuh Rias mengeras, tak menyangka bahwa remaja yang berdiri membelakanginya itu bisa dengan sangat mudah mengetahui bahwa ada sesuatu yang membebani jiwa Rias. "Tapi tidak masalah. Aku bisa mengerti kalau kau harus merahasiakan beberapa hal dari orang asing sepertiku."

Rias ingin menyanggah dan mengatakan bahwa Naruto bukanlah 'orang asing', tapi seisi mulutnya telah menjadi kelu dan tak bisa dipakai untuk mengeluarkan suara.

"Tapi ada satu hal lagi yang harus kautahu tentangku. Aku adalah Namikaze Naruto, seorang manusia yang tidak sopan dan suka ikut campur urusan orang." Rias melihat Naruto melangkah melewati ambang pintu. Matanya melebar saat tersadar bahwa punggung Naruto terlihat sangat lebar, dan kembali mengingatkannya bahwa pemilik punggung itu adalah orang yang selalu bisa diandalkan. "Kau mungkin tidak ingin meminta karena tidak mau menyusahkan orang lain, kau mungkin tidak ingin meminta karena masalahmu terlalu berat, tapi setidaknya, ketahuilah satu hal, Rias Gremory."

Sebelum pintu tertutup, Rias mendengar kalimat terakhir Naruto malam itu. "Namaku adalah Namikaze Naruto, Konoha no Koganei Senkou."

"Dan aku pasti akan datang saat kau membutuhkan bantuan atau pertolongan."

~•~

Untuk kesekian kalinya, Rias mendengar erangan tertahan dari pria Iblis berambut pirang lurus yang telah ditentukan oleh orangtua sang ahli waris Klan Gremory sebagai tunangannya. Dan untuk kesekian kalinya juga, suara penuh rasa frustrasi tersebut berhenti di tengah jalan ketika kepala sang pemilik suara digilas habis oleh sebuah bola energi bertenaga penghancur tinggi yang membuat semua hati menjadi gentar hanya dengan mendengar suara desingannya yang seperti jet pesawat terbang.

Pemakai jurus itu sendiri kini berdiri menjulang di hadapan tubuh musuhnya yang tak berkepala, tangan kirinya terkulai santai di samping tubuh sementara tangan kanannya terangkat dengan jari-jari melengkung membentuk setengah cengkeraman. Biru langit yang seharusnya hangat dan menyiratkan kebaikan hati tanpa pamrih yang menjadi ciri khas pemiliknya kini hanya memancarkan tatapan sedingin gletser, sebuah delikan yang mampu membekukan dan mengubur segalanya di bawah timbunan es dan salju yang takkan memberi ampunan maupun kompromi. Sorotan matanya yang tajam dan kosong tanpa menyimpan perasaan sama sekali tak menunjukkan gentar walau leher lawannya yang buntung mengeluarkan percikan api pertanda bahwa tubuh yang seharusnya sudah mati itu akan segera kembali ke kondisi semula, sebuah kemampuan khusus Klan Phenex yang bisa menyembuhkan diri mereka dari segala macam luka sampai-sampai mereka mendapat julukan Iblis Abadi.

Rias Gremory, ahli waris Klan Gremory yang dianggap sebagai salah satu klan terkuat di kalangan pendiam Meikai, terutama setelah kakaknya Sirzechs mendapatkan gelar Lucifer, akhirnya tahu arti sesungguhnya dari [Teror] dan [Ketakutan]. Dan Rias sama sekali tak merasa ragu atau enggan untuk menyatakan bahwa merasakan dua emosi yang mengguncang hati itu adalah sesuatu yang lumrah bagi siapapun yang harus menyaksikan Namikaze Naruto ketika dia sedang [Marah].

~•~

Rias sama sekali tidak mengira, apalagi mengharapkan hal seperti itu akan terjadi.

Awal peristiwa yang terjadi siang hari berikutnya itu sebenarnya sudah mengisi benak Rias untuk waktu beberapa lama, dimulai ketika Grayfia datang ke ruang klubnya ketika ia sedang sendirian kemarin dan mengabarkan bahwa tunangannya, Riser Phenex, akan datang berkunjung ke dunia manusia. Dia bahkan sudah menyiapkan respon untuk pria Iblis tak tahu malu yang selalu berusaha menggerayangi tubuhnya dalam setiap kesempatan itu. Bahkan ketika Riser, yang arogansinya cukup terkenal di kalangan pendiam Meikai, menyambut provokasi Rias dengan sebuah ancaman kekerasan, Rias sama sekali tak terguncang karena itupun masih termasuk ke dalam rencananya agar Grayfia, yang juga berada di ruang klub Occult Kenkyu-bu saat itu, melerai mereka sebelum perkelahian terjadi serta memberi usulan agar konfrontasi itu diselesaikan dengan Rating Game di mana Rias memiliki kesempatan untuk mengakhiri pertunangan yang sama sekali tidak ia inginkan itu.

Namun terdapat satu kalkulasi keliru dalam rencana Rias yang seharusnya tidak memiliki celah itu. Dia sama sekali lupa bahwa di lingkungan Akademi Kuoh tidak hanya terdapat Sona yang telah mengetahui rencananya, tapi juga seorang shinobi yang bisa merasakan Youki, dan dia tak menyangka bahwa ketika Riser mengeluarkan sayap apinya, pancaran energi dari putra ketiga Klan Phenex itu ternyata cukup kuat untuk dirasakan bahkan oleh remaja pirang yang seharusnya berada di bangunan utama sekolah Kuoh.

"Akan kubawa kau kembali ke Meikai—"

Namikaze Naruto, remaja yang entah mengapa sering sekali berhasil membuat Rias habis kesabaran, shinobi yang membuat Rias merasakan sensasi aneh dalam hatinya tiap kali dia memandangnya, dan manusia yang telah berjanji untuk datang saat Rias butuh pertolongan, mendobrak masuk ke ruang klub.

"—walaupun aku harus menyeretmu dengan paksa dan membakar habis semua pelayanmu sampai mereka tinggal arang."

Tapi sang ahli waris Klan Gremory sudah tak lagi mendengarkan, karena saat itu perhatiannya telah teralih ke arah shinobi yang berdiri di pintu masuk ruang klub dan melihat mata biru langitnya menatap Rias dengan sinar khawatir. Tidak kurang dari satu detik kemudian, Rias menyaksikan ekspresi khawatir itu berubah menjadi keras, matanya yang semula bersinar cemas menjadi tajam dan dingin ketika Naruto akhirnya mencerna fakta bahwa pria dengan sayap terbuat dari api dan sedang berdiri di tengah ruangan itu telah mengancam Rias dan Peerage-nya.

Peerage yang berisi orang-orang berharga Rias. Peerage yang sekarang juga beranggotakan Issei dan Asia.

(Play Ao no Exorcist OST – Core Pride)

Tak ada satupun orang di ruangan itu yang mampu mengeluarkan suara. Mereka hanya sempat melihat selarik kilatan sinar keemasan sebelum tubuh Riser tiba-tiba saja terpental dengan kecepatan tinggi dan meremukkan dinding ruangan yang dihampirinya. Iblis-Iblis lain di ruangan itu baru saja memutar kepala dan Riser bahkan belum sempat menyuarakan keterkejutannya ketika sosok Naruto kembali muncul di depan putra ketiga Klan Phenex itu dengan gerakan yang tak tertangkap mata, sebentuk bola dari energi murni mengambang di depan tangan kanannya yang kemudian ia hantamkan ke perut Riser, sebuah jurus mematikan yang mengakibatkan muncratnya darah, hancurnya dinding, dan terpentalnya tubuh sang pria Iblis ke halaman depan bangunan sekolah lama yang menjadi ruang klub sekaligus markas Rias.

Rias kembali tak sempat mengucapkan walau cuma satu kata karena Naruto yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya itu telah terlebih dahulu melesat maju, niat untuk memburu Riser terpancar dari warna biru langit yang kini telah bercahaya, serta sorotan mata yang menjanjikan tumpahnya darah dan datangnya kematian.

Ada jeda selama beberapa detik yang tercipta di ruang klub Occult Kenkyu-bu karena penghuninya telah dibuat begitu shock dengan perkembangan situasi yang sama sekali tidak mereka antisipasi.

"Manusia kepara—Aaahk!"

Keheningan sejenak itu langsung pecah ketika mereka mendengar Riser melepaskan raungan marah yang lagi-lagi tidak sempat selesai karena kedengarannya pemilik suara dibuat menerima sesuatu yang harus ia ekspresikan dengan jeritan kesakitan.

Kembali tercipta jeda selama satu detik ekstra sebelum akhirnya Rias, Peerage-nya, dan Grayfia terbebas dari rasa terkejut yang melumpuhkan badan, memungkinkan mereka untuk bergegas menghampiri lubang besar di dinding demi melihat apa gerangan yang telah terjadi antara seorang manusia dan Iblis yang sedang bertarung di luar sana.

Namun pemandangan yang mereka dapati kembali membuat kelompok itu tertegun.

Naruto berdiri hanya satu langkah di depan Riser yang kini telentang di tanah, dan semua kaum Iblis yang memiliki mata jeli dapat melihat bahwa di tubuh pria Iblis itu terdapat luka-luka berjumlah tepat delapan buah. Menusuk hati dan paru-paru, menikam sela selangkangan dan ginjal, membelah tulang belakang dan leher, serta menembus jantung dan batok kepala, luka-luka mematikan yang jelas datang dari mana ketika mereka melihat kunai berlumuran darah yang masih tergenggam di tangan kiri Naruto.

Akan tetapi, kemampuan khusus yang dimiliki oleh semua anggota Klan Phenex dan membuat mereka mendapat julukan [Iblis Abadi] kembali menunjukkan tajinya. Cidera parah dan mematikan di sekujur tubuh Riser yang seharusnya sudah mencabut nyawa makhluk hidup lain membuncahkan api berkobar yang menjadi pertanda dimulainya regenerasi, dan tidak sampai tiga hitungan berselang, Riser sudah tegak berdiri dengan kondisi tubuh yang telah kembali ke keadaan semula seakan-akan dia tak pernah terluka.

Namun saat melihat kemampuan regenerasi tingkat tinggi yang seringkali telah membuat nyali lawan ciut itu, Naruto hanya mengangkat sebelah alis sebelum dirinya kembali lenyap dari pandangan. Rias dan hampir semua kaum Iblis yang menjadi penonton pertarungan itu berani bersumpah bahwa mereka telah menyaksikan sedikitnya lima kilatan sinar keemasan yang berlalu dalam satu kedipan mata, dan ketika sosok Naruto kembali muncul dalam pandangan, Riser telah terkapar di tanah dengan luka-luka yang sama seperti yang telah dia derita tidak sampai setengah menit silam.

Riser hanya butuh waktu beberapa detik untuk sembuh dari cideranya lagi, dan tak seperti yang sudah-sudah, kali ini Naruto tak nampak membuat gerakan menyerang dan hanya memandangi lawannya sembari sedikit menyipitkan mata. Pria Iblis itu menggeram garang seperti binatang buas sembari mengobarkan Youki yang dia jadikan sebagai sumber tenaga untuk kobaran api yang muncul di tangannya kemudian. "Keparat!"

Ekspresi wajah Riser berkeriut seperti orang kalap selagi ia membombardir musuhnya dengan melontarkan buncahan demi buncahan api membara yang membuat Naruto harus jumpalitan kesana kemari demi menghindari serangan dan mempertahankan kelangsungan hidupnya, sebuah aksi yang Riser sertai dengan tawa meremehkan dan seruan mengejek.

"Kenapa kau sekarang hanya menghindar, hah?! Apa kau takut?!" Rasa percaya diri bahwa dia takkan bisa dikalahkan membuat Riser menghentikan serangannya sejenak agar Naruto bisa mendengar suara tawanya yang arogan tanpa gangguan. "Bagaimana rasanya melawan musuh yang tak bisa mati?! Apa sekarang nyalimu sudah ciut?!"

Rias melihat Naruto menegakkan posisi tanpa menyahut, matanya yang berwarna opal mengamati dengan tatapan tak berkedip ke arah Naruto yang menyentuh pergelangan tangan kanannya dengan telunjuk dan jari tengah tangan kiri. Kepulan asap kecil yang tak ketahuan datangnya dari mana tercipta dan tiba-tiba saja dua tangan Naruto telah menggenggam empat kunai bercabang tiga.

Riser yang merasa bahwa usaha apapun yang dilakukan musuhnya pasti akan berakhir sia-sia hanya menyaksikan sementara Naruto mengiris permukaan telapak tangannya dan melumuri empat pisau aneh bercabang tiga miliknya itu dengan darah.

Dengan tangan yang masing-masing menggenggam dua kunai yang basah oleh darah, Naruto mengangkat wajah dan untuk pertama kalinya buka suara. "Apa ini pertama kalinya kau melawan seorang shinobi?"

Riser hanya bisa tertegun saat ia dilempari pertanyaan yang sama sekali tak disangka itu. "...Hah?"

Naruto tidak tersenyum ataupun merengut. "Kalau begitu kau harus tahu satu hal." Shinobi pirang itu hanya kembali bicara dengan suara datar yang tidak menyimpan emosi walau hanya sejumput. "Membiarkan seorang shinobi melakukan persiapan tanpa gangguan," kuda-kuda tubuh Naruto merendah. "Adalah sebuah tindakan yang hanya akan berujung pada penyesalan atau kematian."

Empat kilatan sinar keemasan beruntun kembali memenuhi pandangan, baik di mata penonton maupun sang lawan, dan tidak sampai dua detik berikutnya empat kunai bercabang tiga dan berlumuran darah yang tadi berada dalam genggaman Naruto telah tertanam di tanah sampai pangkal pisaunya, mengelilingi Riser dalam formasi segi empat dengan luas lima belas kali lima belas meter persegi. Perhatian Risei yang belum sempat selesai mengamati sekelilingnya harus teralih ketika matanya menangkap kilatan sinar di atas kepala, dan saat ia mendongak, sosok Naruto telah berada di atasnya dengan jurus berbentuk bola Chakra super padat yang siap dilancarkan mengambang di telapak tangan kanannya yang terbuka.

Rentetan serbuan itu berakhir dengan serangan yang menghancurkan setengah tubuh Riser, mulai dari bahu sampai ke pinggul kanan, menciptakan pemandangan menjijikkan yang pasti bisa membuat orang dengan mental lemah langsung mual hanya dengan melihatnya. Sang shinobi sendiri tidak menampakkan walau seserat rasa puas dengan keberhasilan serangannya, dia hanya memilih untuk melompat mundur hingga dia sekarang berdiri terpisah dari tubuh yang hanya tersisa setengah itu dengan jarak setidaknya lima belas langkah.

Iblis yang entah sudah berusia berapa tahun itu hanya tertawa seakan-akan serangan Naruto sama sekali tidak menyakitinya. "Cuma segini?! Setelah omongan sombong itu, cuma sebatas inikah kemampuan yang bisa kau tunjukkan?!" Riser mendengus sementara setengah tubuhnya yang hilang kembali mulai tumbuh kembali dengan munculnya buncahan api regenerasi. "Kukira aku akan mendapatkan perlawanan sengit, tapi ternyata cuma—"

Kalimat Riser menerima selaan ketika Naruto merendahkan tubuh dan menepukkan tangan di depan wajahnya. Suara yang keluar dari Naruto kemudian hanya berupa bisikan datar dan pelan, namun entah mengapa bisa terdengar di seantero halaman.

"Fuuin: Fuuka Houin."

Rias dan semua penonton pertarungan melihat semacam sinar putih kebiruan memancar dari keempat kunai yang mengelilingi Riser sebelum susunan aksara-aksara berwarna hitam yang belum pernah mereka lihat sebelumnya tertulis di tanah dan rumput tempat empat kunai bercabang tiga itu tertanam. Delapan pasang mata melebar sempurna ketika simbol-simbol itu turut bercahaya, dan rasa penasaran mereka terpuaskan bersamaan dengan kemunculan rasa shock ketika mereka melihat api dari proses kemampuan regenerasi tubuh Riser mengalir menjadi empat arus kobaran api dan mengarah ke pusat segel-segel yang terlukis di tanah.

Fuuka Houin (Fire Sealing Method), Fuuinjutsu aliran Uzumaki yang Naruto pelajari dari Jiraiya. Fuuin yang berfungsi menyegel api dengan bentuk, ukuran, dan jenis apapun, sebuah segel yang bahkan mampu memerangkap api Amaterasu Klan Uchiha yang konon bisa membakar segala ciptaan Tuhan di dunia.

Riser yang bisa melihat bahwa kecepatan regenerasinya telah menurun pesat membuka mulut untuk menyerukan rasa tidak percaya dan panik yang mulai mengisi seluk beluk sanubarinya, tapi sebelum dia sempat membuat suara, Naruto telah merentangkan tangan kanannya ke arah sang lawan dalam setengah cengkeraman dan mengucapkan nama jurusnya yang berikutnya.

"Fuuin: Zettai Kyuushi."

Susunan Aksara Semesta yang berderet menjadi dua garis berbentuk palang atau silang, tergantung dari arah mana mata memandang, tercipta dari cipratan-cipratan darah yang ada di sekeliling kaki Riser. Grayfia, Rias, beserta semua anggota Peerage-nya melihat mata pria Iblis itu melebar dan pupilnya mengalami dilatasi total saat seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai puncak kepala mengeras, dan dari bagaimana postur Riser yang terus bergetar, mereka tersadar bahwa putra ketiga dari Klan Phenex itu telah dibuat tak mampu bergerak dan tak berdaya.

"A-apa yang sudah kau lakukan...?" Mata pria Iblis itu nampak mengernyit seakan-akan sedang mengeluarkan usaha luar biasa hanya untuk sekedar mengeluarkan kata-kata.

Zettai Kyuushi (Absolute Dormancy), Fuuinjutsu aliran Namikaze dengan fungsi menyegel konsep [Gerakan] dari semua engsel dan sendi yang ada di dalam tubuh makhluk hidup, selama mereka memiliki tulang. Dan bagi kaum Iblis penghuni Meikai yang mempunyai anatomi serupa manusia, itu berarti tubuh mereka akan terimobilisasi total, tak ubahnya seperti patung batu, karena semua sendi mereka berhenti bekerja saat mereka menjadi korban segel yang telah Naruto ciptakan sendiri itu. Fakta bahwa Riser masih bisa bicara meskipun seharusnya engsel rahang laki-laki itu telah mengalami imobilisasi total adalah bukti bahwa anggota Klan Phenex dan tunangan Rias itu cukup kuat untuk mendistorsi sebagian fungsi segel yang telah memerangkapnya.

Dari semua pengalaman Naruto, satu-satunya orang yang bisa melawan pengaruh Zettai Kyuushi yang telah Naruto sempurnakan hanyalah Shishou-nya seorang. Untuk itu, dan hanya untuk itu, dia bisa memberi secercah hormat pada Iblis yang telah mengancam Peerage Rias ini.

Sayang bagi Riser, hanya sedikit hormat tidaklah cukup bagi Naruto untuk mengampuninya.

"Sebagai seorang Iblis, padahal kau cukup kuat untuk membuat tulangku rengat hanya dengan sekali pukulan telak." Naruto mulai berjalan maju dengan langkah-langkah yang terlihat santai namun pasti. "Sebagai seorang Iblis, padahal kau bisa membakar habis tubuhku hanya dengan satu serangan sihir api yang tepat sasaran." Suaranya tetap datar dan pelan, namun kali ini semua orang yang mendengarkan dapat merasakan gelimang besi yang tersembunyi di dalamnya. "Tapi walau kau punya semua kemampuan itu, walau kau punya semua kekuatan itu, kau malah bersikap arogan. Begitu banyak kesempatan yang bisa kau gunakan untuk menyerangku, begitu banyak waktu yang bisa kau manfaatkan untuk mencoba mengalahkanku, tapi kau malah berhenti untuk tertawa, dan membiarkanku melakukan persiapan tanpa gangguan."

Salah satu poin paling penting yang seringkali ditekankan Jiraiya selama latihan Naruto: [Apalah artinya kekuatan setinggi langit kalau pemiliknya terlalu bodoh dan sombong untuk menggunakannya?]

"Kau sudah membuatku kecewa," Ia tiba di depan sang lawan. "Dan bahkan sebelum itu, kau sudah membuatku marah." Andai Riser bisa bergerak maka dia pasti sudah berjengit saat mendengar desisan murka yang penuh dengan rasa muak itu, satu-satunya momen di mana Naruto terang-terangan menunjukkan emosi di sepanjang pertarungan. "Gertakkan gigimu kuat-kuat, Iblis, karena sekarang kau akan membayar setelah membuatku marah."

Mata Riser melebar sempurna saat sebentuk bola energi super padat yang merupakan hasil Keitai Henka (Shape Transformation) Chakra level tertinggi dan mengeluarkan suara berdesing nyaring seperti jet pesawat terbang tercipta di tangan kanan Naruto yang terangkat, mengambang di atas telapak tangan yang membentuk setengah cengkeraman.

"Padamu yang sudah berani datang ke dunia ini dan mengancam Rias beserta Peerage-nya." Naruto menarik tangan kanannya dalam persiapan untuk melancarkan serangan. "Aku cuma mau bertanya satu hal."

Nada suara Naruto yang datar berubah menjadi dingin dan mematikan.

"Berapa kali aku harus membunuhmu?"

~•~

Rasa penasaran tak tertahankan yang telah Rias simpan selama tiga hari terakhir setelah mendengar cerita bahwa kakaknya, Sirzechs Lucifer, bisa disaingi oleh seorang manusia, rasa ingin tahu yang terus membuatnya memburu seorang siswa Akademi Kuoh karena ingin tahu kemampuan sesungguhnya dari keturunan rival kakaknya yang telah terbukti bisa menandingi Malaikat-Malaikat yang telah jatuh dari Surga, akhirnya terpuaskan melalui sebuah peristiwa yang sama sekali tidak ada dalam rencananya.

Rias akhirnya sadar betapa berbahaya, betapa mematikan remaja pirang yang selalu memancarkan sinar dingin dan kalkulatif melalui matanya dalam pertempuran itu. Dia telah menyaksikan bagaimana Naruto menyarangkan luka-luka mematikan dalam hitungan detik, serangan yang pasti telah membunuh sang lawan andai musuhnya bukan Riser yang mewarisi kemampuan regenerasi level tinggi dari Klan Phenex. Rias akhirnya tahu bahwa teman sekelas Pion terbarunya itu adalah seorang petarung yang sama sekali tidak boleh diremehkan, karena sekali dia bertempur serius, Rias sangat yakin bahwa palu hakim telah diketok dan musuhnya hanya tinggal menunggu kematian.

Setelah melihatnya sendiri, rasa hormat Rias pada kakaknya meningkat dan semakin menjadi-jadi, karena Sirzechs telah berhasil selamat melalui serangan-serangan ayah Naruto yang ia duga lebih ahli dan lebih mengerikan lagi dalam aspek keahlian bertarungnya, jika apa yang tersirat dalam cerita Sirzechs telah ia simpulkan dengan benar. Rias sendiri bisa berkata pasti bahwa jika sampai dia yang menjadi sasaran metode serangan yang secepat kilat dan seberuntun bulir hujan lebat itu, dia takkan bisa bertahan hidup lebih dari lima detik. Tidak kepalang tanggung, jika melihat bagaimana Grayfia menyaksikan pertempuran antar Naruto dan Riser seperti orang yang terpukau, Rias sangat yakin kalau Ratu kakaknya itu juga berpikiran bahwa dia takkan mampu menang melawan jurus teleportasi yang belasan tingkat lebih berbahaya dari sihir yang kaum mereka miliki itu.

Naruto mungkin telah mengakui bahwa kekuatan fisik kaum Iblis bisa merengatkan tulangnya sekali pukul, dan kekuatan sihir mereka bisa menghabisinya dalam sekejab, tapi apa gunanya semua kekuatan itu kalau panca indera mereka yang notabene beberapa kali lipat lebih jeli dari panca indera manusia sama sekali tak bisa menangkap gerakan musuhnya? Bagaimana caranya serangan mereka bisa tepat sasaran kalau lawan mereka punya jurus teleportasi yang membuatnya bisa berpindah tempat beberapa kali hanya dalam satu kedipan mata? Bagaimana caranya mereka bisa menang kalau lawan mereka yang hanya seorang manusia bisa melancarkan serangan mematikan dari belasan arah hanya dalam tempo satu hitungan?

Rias sekarang mengerti kenapa Tuhan melihat manusia sebagai umat yang memiliki derajat tertinggi dalam pandanganNya. Manusia yang lemah, manusia yang rapuh, namun memiliki kegigihan yang tak tahu batas dan kepintaran yang lebih tinggi daripada ciptaanNya yang lain sehingga mereka selalu bisa mengatasi kekurangan mereka dengan memikirkan solusi dan membuat buah pikiran itu menjadi kenyataan. Manusia adalah kaum yang berada di tingkatan terbawah jika dibandingkan dengan kekuatan Malaikat atau Iblis, tapi justru karena itulah mereka menjadi makhluk yang paling disayangi Tuhan. Karena walau mereka tahu rasanya menjadi lemah, umat manusia tak pernah menyerah dan selalu berusaha untuk memperbaiki kehidupan mereka.

Manusia merayap sebelum bisa merangkak. Manusia merangkak sebelum bisa berjalan. Manusia berjalan sebelum bisa berlari. Manusia berlari sebelum akhirnya bisa berkelana ke ujung daratan, berlayar menyeberang samudra, menyelam ke lautan terdalam, dan terbang menembus angkasa sampai mereka akhirnya bisa mencapai bulan. Sehebat-hebatnya Malaikat dan Iblis dalam soal kemampuan fisik ataupun sihir, pencapaian mereka takkan pernah bisa menyaingi umat manusia yang seringkali terpuruk oleh kelemahan dan kegagalan, hanya untuk bangkit lagi dan lagi dan lagi untuk kembali mencoba sampai keberhasilan tergenggam di tangan mereka.

Dan dia tak perlu mencari jauh-jauh, karena buktinya telah disuguhkan ke depan matanya dalam bentuk seorang manusia bernama Namikaze Naruto. Rias telah mendengar bagaimana masa kecil remaja itu penuh dengan pedih dan kepahitan, tumbuh besar tanpa orangtua atau saudara dan harus mengurus dirinya sendiri dari usia yang teramat belia, namun dia berhasil melalui semua penderitaan itu dan bangkit lagi untuk menjadi seorang shinobi yang sekarang mampu melawan, bahkan menundukkan seorang Iblis berdarah murni yang seharusnya jauh lebih kuat dari Naruto baik itu dari aspek pengalaman, kekuatan fisik, ataupun kemampuan sihir.

Rias akhirnya tahu—tidak, dia akhirnya memutuskan, bahwa dua orang yang menyandang marga Namikaze, baik itu ayah atau anak, adalah manusia yang patut mendapat gelar monster karena telah berhasil mengalahkan kelemahan mereka sendiri dengan menciptakan teknik yang kegunaannya sangat luar biasa dan mengasah kemampuan yang membuat keahlian bertarung mereka menjadi sesuatu yang absolut, tak terbantahkan, dan tak terkalahkan.

Dan jalur pemikiran itu sekarang membuatnya merinding, jika ayah Naruto memang sekuat itu, lalu musuh macam apa yang sudah berhasil menewaskan shinobi yang mampu menandingi kakaknya dalam pertarungan satu lawan satu tersebut?

Sayang Rias tak mendapat kesempatan untuk meneruskan renungannya lebih jauh lagi.

Di bawah sana, ia melihat Naruto menghancurkan kepala Riser entah untuk yang keberapa kalinya, dan Rias mengakui bahwa dia sudah tidak menghitung lagi sejak jumlah peristiwa itu mencapai angka dua puluh. Perhatian Naruto yang selama sepuluh menit terakhir terus terfokus pada sang lawan akhirnya teralih ketika sebuah lingkaran sihir yang menyandang lambang Klan Phenex muncul tidak berapa jauh di belakang Riser, sihir transportasi dengan semburan api dari mana muncul lima belas gadis, dan jika menilik bagaimana mereka memandang Riser dengan tatapan khawatir berat dan Naruto dengan sorot mata penuh amarah dan kebencian, Rias harus menyimpulkan bahwa mereka adalah Peerage putra ketiga Klan Phenex itu.

"Riser-sama!" teriak wanita dengan rambut ungu yang bergelombang, dada yang menandingi ukuran dada Akeno, serta bibir yang ditaburi lipstik sewarna rambut dan matanya.

"Onii-sama!" seorang gadis berambut pirang yang kuncir kembarnya dibentuk menyerupai bor. Tatapan khawatirnya berubah jadi delikan murka ketika mata biru gadis itu beralih ke lawan orang yang ia panggil kakak. "Jahanam! Lepaskan Onii-sama!"

Tubuh kelima belas gadis itu menegang dan kuda-kuda mereka merendah persis seperti orang yang siap menyerang. Namun sebelum mereka menyerbu, suara lain telah lebih dulu menghentikan serangan mereka yang belum sempat dimulai.

"Hentikan!" Rias sama sekali tak menyadari kapan Grayfia telah bergerak, namun tiba-tiba saja wanita berpenampilan maid itu telah berdiri di antara Peerage Riser dan Naruto.

"Apa maksudnya ini, Grayfia Lucifuge?!" gadis pirang yang menyebut Riser sebagai 'Onii-sama' berseru dengan nada garang. "Kenapa kau melindungi orang yang sudah menyakiti Onii-sama?!"

Grayfia hanya mendesis balik. "Kalian kira keselamatannya yang kukhawatirkan?"

Dengan satu pertanyaan retorik itu, mereka tersadar apa arti posisi Grayfia. Dia berdiri lebih dekat ke mereka daripada remaja yang berdiri di depan Riser, dan seluruh tubuhnya menghadap Naruto seakan-akan bersiap agar dia bisa bereaksi pada tindakan apapun yang mungkin dilakukan oleh sang shinobi. Mereka yang punya pengetahuan soal pertempuran sadar bahwa Grayfia bukan sedang melindungi Naruto, dia sedang melindungi Peerage Riser.

Kesadaran itu membuat lima belas gadis Iblis itu terdiam dan tubuh mereka mengeras dalam posisi batal menyerang.

"Namikaze-san," Grayfia mulai bicara dengan suara hati-hati seakan berusaha untuk tidak memprovokasi remaja berseragam sekolah Akademi Kuoh yang hanya menatapnya balik dengan tatapan dingin itu. "Tolong lepaskan Riser-sama."

Naruto melirik Riser, yang kemampuan regenerasinya sudah begitu rendah sampai kepalanya baru tumbuh setengah padahal hampir lima belas detik telah berlalu, sebelum menatap Grayfia lagi. "Kenapa aku harus melakukan itu?"

Bukannya Grayfia, yang menjawab malah gadis pirang yang merupakan adik Riser. "Karena dia adalah Riser Phenex, putra ketiga Klan Phenex yang—"

"Lalu apa peduliku?" Naruto menyela dengan suara yang terdengar tak menyimpan emosi, namun bagi mereka yang benar-benar mendengarkan, mereka akan sadar bahwa di dalam sana tersimpan gelimang besi. "Dia sudah mengancam Rias dan Peerage-nya. Dia sudah mengatakan bahwa dia akan menyeret Rias dengan paksa dan membakar Issei, Asia, Kiba-san, Toujou-san, dan Himejima-san sampai mereka tinggal arang." Naruto sedikit menyipitkan mata, sebuah tindakan yang nampak tak penting namun membuat tubuh adik Riser yang menerima tatapannya mulai gemetaran. "Katakan, kenapa aku harus melepaskannya?"

Rias yang tahu bahwa situasi ini bisa dengan sangat cepat berubah buruk segera ikut terjun ke halaman itu dan melangkah ke arah Naruto. "Namikaze." Rias memanggil nama shinobi yang telah membuatnya takjub itu. "Sudahlah, lepaskan saja dia."

"...Kenapa?" Naruto menoleh ke arah Rias, dan gadis Iblis itu merasa senang karena melihat bahwa biru beku itu telah berubah kembali menjadi biru langit ketika mata mereka bertemu. "Rias, dia sudah mengancammu."

"Sebenarnya, kau tidak perlu mengkhawatirkanku," seserius apapun Rias saat ia mengatakan kalimat tersebut, tetap saja sang gadis Iblis berambut merah itu merasa sangat gembira dan harus menahan hasrat untuk tersenyum selebar-lebarnya karena mengetahui bahwa dia telah menjadi alasan kemarahan Naruto. "Walaupun kau tadi tidak datang, Grayfia pasti tidak akan membiarkan terjadinya hal itu."

Naruto kembali mengalihkan tatapannya ke arah Iblis yang memegang peranan Ratu di Peerage Sirzechs. "Kalau dia kulepaskan," Naruto mengedikkan dagunya ke arah Riser yang wajahnya sudah pucat dan bersimbah keringat. "Apa kau bersumpah kau tidak akan membiarkan dia menyakiti Rias dan yang lain?"

"Tentu saja, Namikaze-san." Grayfia mengangguk. Dia tahu bahwa jika dia sampai salah bicara, maka dia bisa saja gagal mencegah terjadinya pembunuhan seorang Iblis berdarah murni serta kelima belas Peerage-nya. "Kau bisa percaya padaku."

Naruto menatap sang lawan yang masih berdiri mematung di depannya untuk beberapa saat, sebelum seluruh posturnya melunak dan ia mulai berjalan ke arah Rias sembari mengucapkan satu kata. "Kai (Release)."

Empat segel Fuuka Houin berhenti menyerap api regenerasi Riser dan satu segel Zettai Kyuushi berhenti bersinar sebagai pertanda berhentinya fungsi mereka, membiarkan Riser jatuh terkapar di halaman depan bangunan sekolah lama dengan napas yang pendek dan cepat, serta mata melebar shock dan ngeri seakan-akan masih tak bisa percaya pada apa yang baru saja terjadi padanya dan bagaimana ia baru saja lepas dari maut yang sudah hampir menjagal nyawanya.

"Riser-sama!" teriakan wanita berdada paling besar di antara kelima belas anggota Peerage Riser menjadi pemicu yang membuat semua gadis itu menghambur ke depan dan mengelilingi majikan mereka. "Riser-sama, apa kau baik-baik saja?!"

Rias tak mengacuhkan mereka dan memilih untuk bicara pada pemuda yang hanya tinggal terpisah beberapa langkah darinya. "Apa kau tidak merasa kalau yang kaulakukan tadi itu sudah berlebihan?"

"Aku sudah dari dulu sekali belajar bahwa ketika melawan orang yang memiliki kemampuan regenerasi seperti itu, tak ada yang namanya berlebihan," Naruto mendengus halus saat melihat mata Rias yang sedikit melebar. "Apa? Kaukira ini pertama kalinya aku melawan makhluk yang belum juga mati walaupun sudah dibunuh berkali-kali?"

Rias tersenyum tipis. "Aku hanya bertanya-tanya kehidupan macam apa yang sudah kau jalani sampai sepertinya kau sudah punya strategi untuk mengatasi segala macam situasi."

Naruto menepis rasa ingin tahu Rias dengan ringan. "Bah, kau pasti akan bosan saat mendengarnya. Kau tahu sendiri tidak semua pengalamanku menarik untuk diceritakan."

Rias mengangkat tangan dan dengan gemas mencubit pipi remaja itu. "Kau itu orangnya kuat tapi terlalu suka merendah."

Naruto meraih tangan itu dan menurunkannya. "Dan kau itu orangnya terlalu ingin tahu tapi tetap suka main rahasia-rahasiaan."

Dua pelajar Akademi Kuoh itu saling tatap untuk sesaat sebelum tawa kecil sama-sama terlepas dari bibir mereka. Hanya saja, tawa Naruto dengan cepat berubah jadi batuk ketika ada orang yang menubruk perutnya.

"A-Asia?" dia menoleh ke bawah untuk melihat kepala penuh rambut pirang panjang itu, sebelum mendapati tangan kanannya dicengkeram oleh seseorang. "Issei?"

"Apa kau tidak apa-apa, Onii-san?!" Asia mendongak dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca yang berisi kekhawatiran.

"Naruto-san! Yang tadi itu benar-benar hebat! Kau menghajar orang yang sudah tak sopan pada Buchou itu sampai dia tidak berkutik!" Kalau Asia memberinya tatapan cemas, maka sebaliknya, Issei mengguncang-guncang tangannya dengan penuh semangat.

Koneko menghampiri kerumunan tiga teman sekelas itu dari arah kanan, sebelum mengacungkan ibu jarinya sembari tersenyum tipis. "...Hebat."

"Ara, ara, jadi ini rupanya yang membuat Rias sangat kebelet ingin mengetes kemampuanmu, Namikaze-kun." Akeno yang berdiri di tengah memujinya dengan telapak tangan kanan mengangkup pipinya.

Kiba mendekatinya dari arah kiri. "Kuakui aku sangsi saat mendengar cerita pertarunganmu melawan Datenshi yang membunuh Issei dari Buchou," pemuda berambut pirang lurus itu tersenyum. "Tapi setelah melihat pertempuran tadi, sekarang aku malah merasa Buchou sudah merendahkan kemampuanmu."

"Hei, kan aku sudah bilang kalau aku hanya sempat mengamatinya sebentar saja." Rias memprotes sambil bersidekap. "Lagipula, memangnya siapa orang yang sudah gagal menangkapnya kemarin gara-gara diserbu fanclub-nya sendiri?"

Mendapat balasan seperti itu dari sang majikan, Kiba hanya bisa tersipu dan mengusap-usap tengkuknya malu-malu. Dia kemudian menatap Naruto dengan secercah kekesalan. "Sebagai klarifikasi, yang kemarin itu benar-benar kejam, Namikaze-san."

Naruto mendengus sambil menepuk-nepuk kepala Asia. "Bah, siapa juga menyuruhmu melanggar pasal hukum solidaritas antar lelaki?"

"Tapi itu kan perintah Buchou." Kiba berusaha memprotes. "Aku bisa dihukum kalau ketahuan melanggar perintah Buchou."

"Ya kau kan bisa bohong kalau kau nggak bisa menangkapku!" Naruto menyahut balik sembari mengacungkan ibu jarinya ke arah ketua klub Occult Kenkyu-bu. "Dan biar ketahuan sekalipun, masa sih orang berjiwa lembek seperti ini bisa ngasih hukuman berat pada anak buahnya sendiri?"

Tangan Rias yang tidak terima disebut begitu langsung berkelebat untuk mencubit pipi Naruto lagi. "Siapa yang kau panggil berjiwa lembek, hah?"

"Nhih bhukthinyha," kata Naruto dengan mulut yang melebar dijewer. "Dhia hanyha mhenchubhitkhu whalhau sudhah dhikhathai shepherti ithu."

Rias meningkatkan kekuatan cubitannya. "Ehh, masih berani ngeyel ya."

Senda gurau ringan itu mungkin akan terus berlanjut andai saja mereka tidak diganggu oleh suara teriakan Riser.

"Manusia keparat!" Naruto menoleh ke arah bekas lawannya yang entah bagaimana tidak pucat lagi itu. "Kaukira kau bisa melangkah pergi begitu saja setelah mempermalukanku seperti ini?!"

"Ah," Rias menepuk dahinya. "Dia memakai Air Mata Phoenix."

"Air Mata Phoenix?" Naruto menatap Rias kebingungan. "Hah? Maksudmu dia sembuh gara-gara nangis atau apa gitu?"

"B-bukan, bukan begitu," sahut Rias sembari menahan hasrat untuk ketawa saat bayangan Riser yang menyembuhkan diri dengan mewek-mewek jelek muncul di kepalanya. "Eliksir khusus yang hanya bisa diproduksi oleh Klan Phenex dan bisa menyembuhkan luka apapun yang diderita oleh penggunanya," ahli waris Klan Gremory itu membalas tatapan teman sekelas Issei. "Tapi itu artinya kau sudah berhasil melukai anggota Klan Phenex yang semuanya dijuluki Iblis Abadi sampai cukup parah kalau dia menggunakan cairan itu untuk menyembuhkan dirinya sendiri."

"Oh, maksudmu dia sekarang dalam kekuatan penuh lagi?" Naruto mengarahkan pandangannya kepada Riser dengan satu alis terangkat sebelum menghembuskan napas. "Untung aku tadi hemat tenaga."

Kali ini, Rias beserta semua anggota Peerage-nya menatap Naruto dengan mata bersinar tak percaya. "...Yang tadi itu masih termasuk 'hemat tenaga'?" Rias bertanya dengan suara tercekik.

"Kurang lebih," Naruto mengangkat bahu sambil berjalan maju. "Anu, Grayfia-san?" dia menarik perhatian Iblis berpenampilan maid yang berada tak jauh dari gerombolan Riser. "Aku tahu kau tadi sudah bilang agar mempercayakan masalah ini padamu, tapi bisa tidak kau kasih aku waktu sebentar lagi?"

"Namikaze-san—"

Kalimat Grayfia mendapatkan selaan ketika Riser mendongakkan kepalanya dan tertawa lepas. "Apa kaukira kau masih bisa menang setelah semua Peerage-ku tiba di sini?! Jangan congkak kau, manusia jahanam!"

"Ehh," Naruto mengedarkan pandangannya satu kali agar ia bisa melihat kelima belas gadis yang akan mendampingi pertarungan majikannya itu. "Yah, kurasa aku memang takkan bisa menang semudah tadi." Shinobi itu membiarkan tangannya terkulai santai di samping tubuh. "Tapi paling tidak sekarang aku bisa serius."

Tepat setelah mereka mendengar kalimat Naruto, semua kaum Iblis di area itu merasakan keanehan. Untuk setidaknya satu detik, angin yang tadi mengalir semilir tiba-tiba saja berhenti bertiup dan alam di sekitar mereka menjadi sunyi senyap seakan-akan udara yang menjadi medium penghantar suara lenyap tak bersisa. Kaum Iblis yang jumlahnya dua puluh tiga orang sama sekali tak sempat berkomentar sebelum mereka merasakan ledakan energi dari tubuh Naruto yang berdiri sendirian di antara Rias dan Riser. Pendar biru yang melecut-lecut seperti kobaran api yang tengah mengamuk memancar dari tubuh sang shinobi, melapisi tubuhnya dan mensaturasi udara dengan energi, menciptakan gelombang kejut yang membuat semua Iblis di sana hampir jatuh terkena tekanannya, sebuah bukti kekuatan yang membuat napas mereka sesak dan hati mereka gentar.

Naruto yang berdiri di pusat ledakan itu mengangkat kedua tangan dan membentuk sebuah Insou (Hand Seal) bersilang, Insou khusus yang menjadi penanda bahwa ia akan menggunakan Jutsu yang menjadi ciri khasnya.

Suara Naruto hanya berupa ucapan pelan yang seharusnya ditelan oleh angin yang bertiup kencang di lingkungan tersebut, namun entah kenapa suara itu sanggup mencapai semua telinga orang yang berada di sana. Dan bagi orang yang menjadi lawannya, kalimat yang ia ucapkan membuat firasat buruk muncul dalam hati mereka.

"Tajuu Kagebunshin no Jutsu."

Satu kedipan mata dan tiba-tiba saja jumlah Naruto bertambah menjadi sepuluh. Kedipan kedua dan remaja yang mengenakan seragam Akademi Kuoh itu lagi-lagi meningkat jadi tiga puluh. Terulang dan terulang dan terulang terus begitu sampai akhirnya mereka semua dipaksa terperangah saat melihat bahwa halaman tempat mereka berdiri, serta hutan yang mengelilingi tempat itu, telah dipenuhi oleh sosok-sosok berambut pirang yang semuanya memiliki penampilan identik sampai sejauh mata memandang.

"Kau tadi bertanya apa aku mengira aku masih bisa menang?!" pertanyaan datang dari suara garang dan mengancam yang jumlahnya ratusan, kalau tidak ribuan, bergema dalam sebuah kakoponi yang memekakkan telinga, menciutkan nyali, dan menggetarkan jiwa siapapun yang mendengarnya.

"Kenapa tidak kita coba cari jawabannya sekarang, Riser Phenex?!"

To be Continued...

A/N: Kalau ada readers yang merasa tak percaya dengan level kemampuan ini, maka ingatlah kembali bahwa Naruto yang hamba buat dalam universe fic The Radiant Sun of Kuoh Academy dan Tale of The Radiant Sun adalah Naruto yang telah dididik Jiraiya dengan benar.

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.