Standar Disclaimer Applied

.

.

.

Love & Choice © Tsurugi De Lelouch

.

.

.

Sakura Haruno & Sasuke Uchiha

.

.

Enjoying Reading & Reviewing

*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*


.

.

.

Ketika cinta datang padanya

Hal yang indah menemani di kehidupannya

Namun, saat pilihan ditentukan

Akankah cinta berpihak pada dirinya?

.

.

-6-

Setelah kejadian saat itu, hubungan kakak beradik Uchiha semakin retak saja. Terlihat saat pertemuan antara keduanya yang mengharuskan mereka hadir di depan Ayahnya sendiri. Pandangan mereka sangat tajam dan sengit, walau mereka sangat tenang membahas perusahaan yang keduanya pimpin. Tapi terkesan saling mengejek satu sama lain dalam keberhasilan perusahaan mereka.

Sekarang raut wajah sulung Uchiha tengah mengeras jikalau mengingat tatapan meremehkan adiknya saat itu. Dia berpikir kalau antara mereka bertiga harus mengalah, disini emosi dan perasaan harus jernih untuk memutuskan siapa yang harus mundur. Itachi merasa apakah sikapnya terlalu egois untuk memiliki Sakura. Padahal perasaannya masih dangkal dan mungkin bisa tergoyahkan kapan saja.

Lalu bagaimana dengan perasaan adiknya yang terlihat sangat dalam. Dirinya salut pada adiknya satu itu terlihat menahan perasaannya pada Sakura sampai sekarang ini. Bersikap tenang dan dingin seperti biasa—namun jika dihadapkan dengan Sakura, kenapa emosi yang selama ditahan oleh adiknya—bisa keluar begitu saja.

Itachi menyangga kepalanya dengan tangan. Otaknya terasa pening jika menyangkut tentang perasaan. Egois memang, tapi dia harus memastikan perasaan pada Sakura sebernanya adalah cinta atau keobsesian akan masa lalu. Kalau memang ini hanyalah mengingat masa lalu, dia terpaksa untuk melepaskannya. Tetapi, bila ini adalah cinta—dia akan memperjuangkannya.

"Permisi, Itachi-sama… ada yang ingin bertemu dengan anda."

Anak sulung dari Fugaku dan Mikoto tersentak ketika mendapati asistennya berbicara padanya. Dia mengangguk dan menyuruh orang itu untuk menemuinya. Perlahan asisten sekaligu sahabat dari Itachi—Deidara mempersilahkan seseorang itu untuk masuk. Kemudian Deidara permisi untuk keluar dan menutup pintu ruangan Itachi. Sejenak keheningan melanda Itachi sampai suara menyentakkan pikirannya dan atensi matanya terkejut melihat seseorang itu tepat di depan matanya.

"Lama tidak bertemu denganmu, Itachi."

Itachi menggeram dan kembali menatap seseorang itu tengah berdiri di depannya. "Kau… kenapa kau tiba-tiba muncul dihadapanku?"

"Kau tidak senang aku kembali atau kau—telah menemukan perempuan yang lain?" tanya wanita berperawakan tinggi dengan rambut keunguan yang terurai.

Kakak dari Sasuke Uchiha menyeringai lalu tersenyum miris. "Mengapa kau baru kembali sekarang heh? Puas membuatku menunggu terlalu lama hingga aku muak hah!"

"Maaf telah membuatmu menunggu, Itachi. Apakah aku terlambat sekarang?" tanyanya.

"Terlambat. Karena aku—sudah bertunangan," ucap Itachi.

Mendengar perkataan itu, perempuan itu tidak dapat menyembunyikan perasaan sakitnya. Ini memang salahnya terlalu membuat Itachi menunggu terlalu lama. Pasti Itachi mengiranya dirinya sudah lenyap dari dunia ini ketika enam tahun tak bertemu. Tapi apa daya, kalau dia kembali dan mendapati kenyataan pahit mengenai Uchiha sulung ini.

"Selamat kalau begitu, Itachi. Semoga kau berbahagia dengan tunanganmu dan saling mencin—"

Itachi bangkit dari duduknya dan berhadapan dengan perempaun masa lalunya itu. Atensi keduanya memaksa mereka untuk saling menatap. Laki-laki Uchiha itu memegang tangan perempuan itu untuk memastikan kalau ini memang dia. Lima detik kemudian, Itachi tersenyum tipis dan seakan lupa dengan statusnya sekarang.

"Mencintai? Apakah aku mencintai tunanganku? Aku tidak tahu," imbuhnya.

Perempuan itu agak menepis tangan Itachi. "Bukankah kalian sudah bertunangan dan pasti kalian saling mencintai?" sergahnya.

"Bagaimana kalau aku bilang ini adalah perjodohan heh? Lalu tunanganku mencintai adikku sendiri…," gumam Itachi.

"Kau terlalu egois dengan mereka, Itachi! Kalau memang mereka saling mencintai—kenapa kau tidak mundur saja?" geram perempuan itu menaikkan nada suaranya.

Itachi tertawa pelan. "Kau baru datang sudah menceramahiku. Kebiasaanmu tidak berubah, hn." Lalu laki-laki itu menarik tangan perempuan dan mengenggamnya. "Aku tidak punya pilihan! Ini terlalu sulit," lanjutnya.

Plak

Tamparan telak menghantam di pipi kanan Itachi. Perempuan itu kesal dengan sikap Itachi yang plin-plan dan terlalu egois. Dirinya tidak dapat menyembunyikan emosinya ketika laki-laki itu mengucapkan kata-kata seakan ragu dalam bertindak. Bersamaan itupula, Itachi meringis dan memegang pipinya lalu menatap perempuan yang menjadi masa lalunya.

"Terima kasih kau sudah menamparku…"

—tatapan Itachi melembut pada perempuan itu.

"…Konan."

.

.

.


.

.

.

Perempuan musim semi berjalan tanpa tahu arah kemana ia pergi. Padahal dia berniat untuk pergi ke minimarket sekarang, namun dia mengingat emosi yang berkecamuk pada diri kekasihnya—membuat dia serba salah. Dirinya tidak menyadari kalau dia hampir tertabrak oleh mobil jikalaU ada tangan menariknya dengan cepat.

Sakura menutup matanya dan dia menyerah kalau dirinya akan mati sekarang. Namun, rasa hangat menjalari tubuhnya—kemudian iris teduhnya membuka dan dia menoleh ke sana kemari sampai suara—menyentakkan kebingungannya.

"Tetap ceroboh kalau berjalan sendirian heh, Sakura?"

Suara laki-laki mau tak mau Sakura terkejut dan menatap siapa yang menyelamatkannya. Perempuan musim semi itu mendongak ke atas dan dirinya langsung melepas pelukan dari laki-laki itu.

"S-sasuke… kenapa kau ada disini?"

Sasuke menautkan alisnya. "Memangnya kenapa aku ada disini? Apakah kau takut kalau—"

"Bu-bukan begitu. Bukankah malam itu kau menghindariku?" tanya Sakura.

Anak bungsu dari Fugaku dan Mikoto ini menyilangkan kedua tangannya. "Soal itu, lupakan saja. Aku tidak mempermasalahkan itu, wajar saja kakakku begitu karena kau adalah tunangannya. Disini juga aku berhak melindungi calon kakak iparku."

Sakura tidak menyangka perkataan Sasuke terkesan sangat tenang. Apakah kekasihnya sudah bisa merelakannya pada kakaknya. Akan tetapi iris teduh Sakura sekilas mendapati—emosi kesakitan di mata Sasuke. Dirinya menyakini kalau Sasuke berusaha bersikap biasa walau mengorbankan perasaannya.

"Kau tidak sedang bercanda bukan, Sasuke? Apakah kau sudah bisa melupakanku?" tanya Sakura.

Pandangan mereka menyatu seakan tidak memperdulikan orang lain lewat diantara mereka berdua. Sasuke sendiri memang berusaha untuk memposisikan sebagai calon adik iparnya Sakura. Tapi entah kenapa, dia tidak bisa berbohong di depan Sakura. Malah terlihat dibuat-buat olehnya sendiri.

"Sakura…, rasanya aku tidak bisa menyerahkanmu begitu saja pada kakakku sampai saat ini. Aku sudah berusaha untuk melupakan perasaan ini, tapi kenapa semakin kuat saja!"

Perempuan musim semi itu langsung memeluk tubuh kekasihnya yang gemetaran. Dia tidak menyangka kalau Sasuke terus berusaha sejauh ini. Namun, bagaimana dengan dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya harus membicarakan perjodohan ini pada orang tuanya dan siapa yang akan dipilih. Dirinya tidak mau menyakiti keduanya lebih lama lagi, dia harus tegas dalam memilih. Biar salah satu akan tersakiti—karena porosnya tertuju padanya sekarang.

"Sasuke, aku sudah memutuskan siapa yang ku pilih." Sakura menepuk punggung Sasuke untuk meredakan rasa takut pada diri laki-laki ini.

"Kalau memang salah satu antara kami. Aku akan menerima keputusanmu itu, Sakura." Bungsu Uchiha menyesapi aroma parfum yang dipakai oleh Sakura.

Sakura melepaskan pelukan dan menatap iris kelam milik Sasuke sebentar—kemudian tersenyum kecil. "Baguslah. Kalau begini aku tidak akan menyakiti kalian lebih lama lagi." Lalu perempuan musim semi itu berjalan menjauhi Sasuke, namun tangannya tertahan oleh laki-laki itu dan membuatnya menoleh lagi.

"Malam ini aku akan menjemputmu, bolehkah Sakura?" tanya Sasuke.

"Baiklah, aku menunggumu nanti malam." Sakura melepas genggaman tangannya dari Sasuke lalu berjalan menjauh dari laki-laki itu.

Bersamaan itupula, Sasuke masih merasakan sentuhan tangannya dengan Sakura tadi dan—menghirup aroma yang menguar dan menempel di kemejanya. Sebentar lagi, dia akan bahagia dengan pilihan itu. Pilihan yang akan mengubah roda kehidupannya lagi.

"Malam nanti…" gumam Sasuke dalam hati

.

.

.


.

.

.

Pertemuan antara Itachi dan perempuan bernama Konan ini tidak terduga. Sang laki-laki tidak menyangka kalau perempuan yang menjadi bayangannya muncul tiba-tiba di saat tidak tepat. Ya, di saat Itachi sudah bertunangan dengan perempuan tak lain adalah—kekasih dari adiknya sendiri. Tapi tidak ada yang menyalahkan mereka, akan tetapi sikap mereka yang terkesan ragu-ragu membuat semuanya ikut terlibat.

Terlihat dari obrolan mereka berdua terkesan lebih menikmatinya walau pada awalnya mereka berdua—cekcok akan masalah dihadapi masing-masing. Keduanya membahas tentang masa lalu mereka dan melupakan kalau status keduanya telah berbeda.

"Tidak ku sangka kau sekarang menjadi direktur padahal kau sendiri tidak menginginkan saat itu?" celetuk Konan.

Itachi memutar bola matanya. "Ingat aku kuliah di jurusan Ekonomi dan itu pilihanku, Konan. Mana mungkin aku melepas tanggungjawab ketika Ayahku memintaku belajar memimpin perusahaan?" dengusnya.

"Anak yang bertanggungjawab. Pasti orang tuamu bangga akan kesuksesanmu sekarang," gumam Konan seraya menyeruput jus anggur yang ia pesan.

Anak sulung Uchiha tersenyum tipis. "Lalu bagaimana dengan karirmu sekarang, Konan?"

Konan mengaduk-aduk sendok di gelasnya. "Akhirnya mimpiku sebagai desainer terwujud juga, Itachi. Tak sia-sia kita sempat berpisah saat itu, kita sama-sama mengejar mimpi masing-masing," imbuhnya.

Itachi menghela napasnya berat. "Tak sia-sia perasaan ini masih melekat walau status kita sudah berbeda."

"Apakah kau tetap mempertahankan perjodohan kalian, Itachi?" tanya Konan dengan nada pelan.

Atensi Itachi menatap Konan lurus-lurus. "Aku harus memastikan kalau perasaanku pada tunanganku itu hanya sesaat saja atau ada maksud lain," sahutnya.

"Kau harus memilih untuk menyerah atau tidak. Bukannya aku bermaksud untuk memisahkan kalian, tapi melihatmu sekarang—kau tampak tersiksa, Itachi," ucap Konan.

Itachi tahu kalau Konan paling mengerti emosi yang terlihat di wajahnya. Memang hubungan mereka kandas enam tahun yang lalu karena mereka sama-sama ingin mengejar mimpi masing-masing. Tapi perasaan itu tidak bisa diubah, mereka sama-sama berpikir siapa yang menunggu dan ditunggu akan kehadirannya. Sempat hubungan mereka enam tahun yang lalu ditentang oleh Fugaku dan Mikoto, tapi saat Itachi mendapat restu—bersamaan itupula Konan menghilang.

"Ini akan menyakiti kedua keluarga, Konan. Orang tuaku sudah menyuruhku untuk memutuskan pernikahan kami lebih cepat. Di saat itupula aku merasa egois dengan adikku karena perempuan masa lalunya dan sekarang menjadi kekasihnya adalah tunanganku sendiri," kilah Itachi.

Konan sepertinya harus menampar Itachi lagi, tapi, perasaannya menahan untuk melakukan itu. dirinya mengenggam tangan Itachi dengan erat. Lalu mereka saling berpandangan satu sama lain.

"Kau harus tegas, Itachi. Tentukan pilihanmu sekarang dan bicara pada mereka. Pasti mereka mengerti karena mereka hanya menginginkan kebahagiaanmu," ucap Konan.

Itachi menarik sudut bibir membentuk lengkungan tipis—yang disebut senyuman. "Memang kau paling mengerti aku sampai sekarang, Konan."

"Aku akan bahagia bila kau bahagia—walau kau bersama dengan yang lain," lirih Konan.

Senyuman Itachi mengendur mendapati wajah muram Konan. Laki-laki itu membalas genggaman tangan Konan dengan meletakkan tangan di atas tangan Konan.

"Ku pastikan kita akan bahagia, Konan."

Konan tidak mengerti ucapan Itachi itu hanya membalas ucapan yang sama pula.

"Aku juga. Ku yakin kita akan bahagia, Itachi."

.

.

.


.

.

.

Tak butuh waktu lama, Sakura menunggu Bungsu Uchiha itu untuk menjemputnya karena—mobilnya sudah ada berhenti di depan pintu rumah sakit. Laki-laki yang memiliki rambut mencuat itu keluar dari mobilnya dan mengulum senyuman tipis pada Sakura.

"Sudah menunggu lama, Sakura?" tanya Sasuke.

Perempuan musim semi itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sasuke. Malah kau tepat waktu saat aku keluar dari rumah sakit," sahut Sakura.

"Baguslah. Kalau begitu masuklah, udara malam ini lebih dingin seperti biasa," pinta Sasuke.

Sakura langsung masuk ke dalam mobil pribadi milik Bungsu Uchiha dan memasang sabuk pengaman pada tubuhnya. Bersamaan itupula, Sasuke masuk dan melakukan hal yang sama seperti perempuan di sampingnya lalu menyalakan mesin mobilnya.

"Sebernanya kau mau mengajakku kemana, Sasuke?" seru Sakura.

Sasuke hanya tersenyum sangat tipis. "Kau lihat saja nanti, Sakura."

"Apakah kau berniat menculikku dan menyekapku di gudang?" tuduh pemilik iris teduh dan nama bunga musim semi ini.

Adik dari Itachi Uchiha tertawa kecil dengan pernyataan Sakura. "Buat apa aku menyekap kekasihku, Sakura?" tanya balik Sasuke.

"Bisa saja kan?" imbuh Sakura.

"Ada-ada saja pikiranmu itu, Sakura." Sasuke bergumam dan memberhentikan mobilnya tepat saat lampu merah menyala.

Sakura menyilangkan kedua tangannya. "Apa kau sudah memutuskan sesuatu, Sasuke?" tanyanya.

Sejenak keheningan melanda diantara keduanya sampai seringai tercetak di bibir Sasuke. "Keputusanku akan kau lihat nanti, Sakura." kemudian anak bungsu Uchiha ini kembali menyetir mobilnya.

Tak berlangsung lama, Sasuke memarkirkan mobil di depan apartemennya. Memang dia kadang-kadang menginap di rumahnya ketika dirinya tidak sempat untuk kembali ke rumah orang tuanya. Rumah itu hasil kerja kerasnya sebagai pemimpin di perusahaan elektronik, maka dari tidak ada yang menginap kecuali dirinya.

Sakura tampak terkejut ketika Sasuke memberhentikan mobilnya di tempat asing. Laki-laki itu paham akan kebingungan Sakura, dia menjelaskan kalau tempat ini adalah rumah pribadinya. Kemudian Sasuke keluar dari mobil dan menekan tombol garasi rumahnya agar terbuka.

Sasuke masuk kembali ke dalam mobilnya dan mendapati Sakura masih termenung. Dia menjentikan jarinya di depan wajah kekasihnya. Perempuan musim semi itu seakan tahu akan tatapan dari Sasuke, dirinya langsung turun dan menunggu di depan pintu rumah pribadi bungsu Uchiha.

Setelah Sasuke memasukkan mobilnya ke dalam garasi kemudian dia menutupnya lalu membuka pintu rumahnya—dan menyalakan lampunya. Alangkah terkejutnya, Sakura melihat suasana sepi di rumah Sasuke ini. Tapi walau sepi—tata ruangan rumah Sasuke sangat rapi dan terawat.

"Kalau kau mau tahu kenapa rumahku bisa terawat, karena setiap pagi pelayanku membersihkannya," seru Sasuke seakan tahu pertanyaan yang akan ditujukan padanya. Dirinya langsung menutup dan mengunci pintunya.

Sakura masih mengamati interior rumah pribadi milik bungsu Uchiha ini sampai ia mendahului pemiliknya. Mau tak mau, Sasuke tertawa pelan melihat kekaguman Sakura akan tempat tinggal pribadinya. Dirinya pun menyalakan lampu lain dan seketika suasana rumah ini menjadi terang dan berwarna.

"Ku pastikan kau membeli rumah ini sangat mahal hm?" tanya Sakura menatap Sasuke langsung.

Pemilik rambut mencuat itu hanya mengendikkan bahunya. "Kalau benar. Memang kenapa Sakura?" tanya balik Sasuke.

"Hanya bertanya saja. Tidak boleh," gerutu Sakura.

"Duduklah, Sakura," pinta Sasuke yang kemudian dia menempatkan tubuhnya di sofa empuk.

Sakura pun duduk di sofa dan berada di samping laki-laki Uchiha. Iris teduhnya masih melihat sekitar sampai ucapan Sasuke menyentakkan lamunannya.

"Karena kau berada disini, aku akan mengatakan pilihanku sekarang, Sakura."

Perkataan dari bungsu Uchiha itu membuat hati Sakura berdebar-debar, dia merasa tidak siap akan kelanjutan ucapan Sasuke nanti. Namun, otaknya berpikir untuk mendengar keputusan dari kekasihnya ini.

Seraya menyenderkan kepalanya, Sasuke memejamkan matanya dan menyembunyikan iris kelamnya itu. "Pilihanku adalah melepaskanmu, Sakura."

Seolah batu menghantam jantung Sakura. bukankah tadi siang Sasuke mengatakan kalau dia tidak melepaskannya—tapi kenapa ini sangat berbeda dengan kenyataannya. Sakura pun menunduk tanpa harus berucap apa lagi untuk menyahut ucapan Sasuke.

"Melepaskanmu bukan berarti melepas cinta kita, Sakura. Maksudku melepaskan keputusan sekarang padamu. Karena kau yang berhak memilih—bukan aku ataupun kakakku," lanjut Sasuke kemudian.

"Sasuke, seharusnya harus ada kakakmu disini. Tidak baik aku mengatakannya padamu saja," seru Sakura.

Laki-laki itu pun langsung bangkit kemudian berdiri dan duduk di hadapan Sakura. Dirinya sambil mengenggam tangan Sakura dengan erat. "Sakura…" helanya dengan napas sangat berat.

"Ada apa Sasuke?"

Sasuke menatap iris teduh milik Sakura dalam-dalam. "Jadilah milikku malam ini."

Perempuan musim semi ini kaget akan perkataan Sasuke. "Jangan bercanda saat seperti ini, Sasuke. Nanti aku akan ragu lagi mengatakan pilihanku," seru Sakura.

"Cukup malam ini saja. Besoknya terserah kau saja memilih siapa, karena aku akan menunggunya," ucap Sasuke.

"Pantaskah kau berkata seperti itu, Sasuke! Aku ini perempuan, bagaimana kalau aku hamil anakmu? Bukankah menjadi rumit lagi!" sergah Sakura.

Sasuke mengeratkan genggamannya. "Berdoa saja kau tidak hamil, Sakura. Untuk saat ini… jadilah milikku malam ini. Pikirkan aku saja sekarang. Aku tahu ini permintaan egoisku, tapi ku harap setelah ini kita menjalani hubungan lebih baik dari ini," imbuhnya.

"Ini tidak boleh, Sasuke. Bagaimana dengan kaka—"

"Pikirkan saja aku untuk malam ini saja, Sakura! kumohon…" pinta Sasuke.

Sakura menunduk tanpa berucap apa-apa, laki-laki bermarga Uchiha ini langsung memegang dagu kekasihnya lalu mencium bibir ranum miliknya. Awalnya Sakura memberontak, tapi lama kelamaan dia menyadari kalau mungkin besok akan terjadi sesuatu. Karena mendapati kekasihnya membalas ciumannya, Sasuke melumat dengan lembut dan menuntut bibir Sakura.

Mereka berdua tenggelam dalam dunia masing-masing. Keduanya saling beradu lidah hingga tubuh Sakura didorong pelan oleh Sasuke ke sofa. Mereka saling mengecap rasa cinta yang tercipta di ciuman mereka. Lalu pasokan oksigen memaksa mereka untuk menyudahi ciumannya, tanpa menunggu—Sasuke langsung menyerang leher Sakura dengan menyesapi lalu mencium dan menggigitnya.

Desahan pun tercipta di rumah pribadi milik bungsu Uchiha ini. Tanda-tanda kepemilikan tercetak di leher Sakura. Perlahan Sasuke melepas kancing baju milik kekasihnya ini dengan pelan kemudian laki-laki itu memindahkan ciuman di bagian dada Sakura yang masih dilapisi oleh bra. Tangan yang lain agak meremas dada yang satunya hingga desahan semakin kencang saja keluar dari bibir Sakura.

Pikiran mereka berdua berkabut. Nafsu dan cinta berbaur menjadi satu diantara keduanya—mereka saling menumpahkan perasaan setiap sentuhan yang masing-masing keduanya berikan. Dan—malam ini menjadi saksi bisu akan perbuatan mereka berdua.

.

.

.

.

.

.

.

*To be Continued*


Wulanz Aihara Uchiha Notes

Waaah sepertinya aku ngaret lagi dengan fic MC satu ini. Maafkan saya ya ^^ #digiles. Oh ya banyak yang kurang suka dengan sikap Sakura disini hihihi... ya ampun. Hm, kemungkinan setelah ini, aku tidak bisa update cepat karena semester ini aku mau nyusun skripsi dan aku tidak janji kapan updatenya^^.

Thanks for Reading and Review my fict ^^

Putri Hassbrina, mako-chan, hiruka aoi sora, Novi Shawol'Elf, ahalya, QRen, Karasu, ucciu, Morena L, sasusaku uciha, Mizuira Kumiko, Zecka S. B. Fujioka, Yara Aresha, emerallized onyxta, Franceour, MuFylin, hanazono yuri, Mo males login, Guest (2x), Uchiha Matsumi, Dark Courriel, LAW, Yoon Ji Yoo19, ocha chan, esposa malfoy, Uchiha Shesura-chan, hachikodesuka, Alifa Cherry Blossom, MasyaRahma, Yumi Murakami, Love Foam,Neko Darkblue, zhao mei mei, Clarione, jingga, ridafi chan, HazukiFujimaru, Alifa Cherry Blossom, The wind, Hatake Ridafi kun, Anka-Chan, amu, Guest, Matsukara flawdiwa, Yumi Murakami, Ay, franceour, MORPH, Uchiha Shesura-chan , hanazono yuri, dinosaurus, rina, MuFylin , Love Foam, Natsumo Kagerou, zhao mei mei

Palembang, 24 Agustus 2013

Tsurugi De Lelouch