Galerians, in.

A/N: Ada beberapa reviewer yang mengatakan bahwa 'Riser' seharusnya adalah 'Raiser'. Hamba jamin itu cuma kesalahan kaprah karena pada sesungguhnya, nama Riser ditulis dalam katakana (ライザー) sehingga fan-translation banyak yang menerjemahkannya sebagai 'Raiser'. Terserah anda mau percaya atau tidak, tapi bagi yang ingin memastikan bahwa katakana di atas memang seharusnya dibaca 'Riser', silakan cek sendiri ke Highschool DxD Wiki. Sebagai informasi tambahan, setahu hamba hal yang sama juga terjadi pada satu karakter Bleach. Nama Kapten Divisi 2 sebenarnya adalah Sui Feng (砕蜂), bukannya Soi Fon.

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Tries to Help a Devil

Chapter 3

(Let me Atone for My Mistake)

Pelajaran Jiraiya #3: 'Dalam dunia shinobi, kesombongan dan sifat arogan adalah salah satu penyebab utama kekalahan.'

Sembari mengenang apa yang telah diajarkan oleh shinobi yang Naruto hormati lebih dari siapapun itu, sang keturunan Klan Uzumaki dan Klan Namikaze mengamati lagi pertempurannya yang teranyar.

Di mata orang lain, atau tepatnya di mata orang yang tak pernah tahu betapa berbahaya dan mematikannya pertarungan di dunia shinobi jaman sekarang yang tidak hanya harus melawan shuriken dan kunai tapi juga peluru dan peledak, maka mereka akan mengatakan bahwa Naruto telah mengalahkan Riser dengan telak. Bahwa Naruto telah membuat putra ketiga Klan Phenex itu tak berkutik dan tak berdaya.

Namun Naruto tidak berpendapat sama. Dia yang telah dilatih oleh Jiraiya dalam semua aspek pertempuran bisa mengetahui dan menyebutkan apa saja yang salah dari pertempuran itu, celah-celah yang sebenarnya sangat mudah dieksploitasi oleh musuh dan bisa digunakan untuk mengalahkan Naruto dalam waktu cukup singkat.

Celah-celah yang Naruto ketahui bisa memastikan kekalahannya kalau saja dia sedang melawan Jiraiya.

Andai saja waktu itu Naruto sedang melawan Jiraiya dan bukannya Riser, maka tak ada keraguan dalam hati Naruto bahwa pertarungan itu pasti akan berakhir dengan kekalahannya. Kalau saja Jiraiya yang berdiri di depannya, sang Gama Sennin pasti akan menyebarkan Chakranya ke udara untuk mendeteksi di mana Naruto memakai Hiraishin serta memanfaatkan reflek-nya yang berasal dari puluhan tahun berprofesi sebagai shinobi untuk bisa bereaksi pada setiap serangan sang murid. Kalau saja Jiraiya yang berdiri di depannya, dia takkan memberi kesempatan bagi Naruto untuk bisa mengeluarkan empat Hiraishin Kunai dari segel penyimpanan dan melumurinya dengan darah. Kalau saja Jiraiya yang berdiri di depannya, ninja berusia paruh baya itu takkan pernah begitu saja membiarkan Naruto mengaktifkan satupun Fuuin dan memakai Chakranya sendiri untuk mencemari Chakra yang Naruto campurkan ke darahnya. Kalau saja Jiraiya yang berdiri di depannya, maka dia akan langsung membanjiri setiap inci tubuhnya dengan Chakra agar dia bisa mendistorsi dan menghancurkan Fuuin: Zettai Kyuushi sebelum fondasi susunan Aksara Semesta itu sempat terbentuk dan menjeratnya.

Kalau saja Jiraiya yang berdiri di depan Naruto, sang Shishou takkan hanya berdiri menunggu di satu tempat sementara muridnya menyerang dan menyiapkan jebakan. Dia akan terus bergerak agar tak terkunci di satu posisi, merespon setiap usaha Naruto sembari melancarkan serbuannya sendiri, serta mencari kelemahan yang bisa ia eksploitasi. Sampai hari ini, pertikaian antara mereka selalu berakhir tepat ketika salah satunya membuat kesalahan, tapi walau Naruto terus-menerus menjadi pihak yang kalah, paling tidak dia bisa menghibur diri dengan mengingat bahwa pertarungan terakhir antara guru dan murid itu berlangsung selama dua hari penuh, dan di fajar hari ketiga, Naruto yang sudah begitu lelah melakukan kesalahan yang dimanfaatkan Jiraiya untuk memperoleh kemenangan.

Tapi sayang, Riser bukanlah Jiraiya. Dia bahkan bukan seorang shinobi. Riser hanyalah seorang Iblis berdarah murni yang tak tahu bahwa di dunia shinobi, satu kecerobohan atau bahkan hanya satu kali lengah bisa berujung pada kekalahan yang seringkali didampingi kematian.

Baru satu bulan Naruto sekolah di Akademi Kuoh, dan baru satu minggu lebih sedikit dia membuat kontak dengan kaum Iblis, tapi Naruto yang tak pernah lupa melakukan investigasi setiap kali ia menemukan eksistensi yang berpotensi menjadi faktor berbahaya dalam kehidupannya, telah mengumpulkan cukup informasi dan data yang bisa ia pakai untuk mengetahui seperti apa tepatnya karakteristik umum spesies yang berwujud sangat mirip dengan umat manusia itu.

Baik dari aspek wujud maupun tingkah laku, mereka memang memiliki kemiripan yang hampir identik dengan manusia. Tapi kalau sudah bicara mengenai kapabilitas, maka Naruto tak punya pilihan selain memberi mereka label [Amat Sangat Berbahaya]. Naruto yang telah melakukan pengamatan melalui kemampuannya membaca Aksara Semesta pada Sona, Rias, Sirzechs, dan bahkan Riser, telah dapat [Membaca] bahwa kaum Iblis penghuni Meikai tidak seperti umat manusia yang harus meningkatkan kekuatannya dari nol, karena Iblis-Iblis itu adalah spesies yang telah memiliki kapasitas kekuatan sihir mereka sampai batas tertinggi sejak lahir.

Mungkin itulah alasan utama kenapa mereka memiliki sihir dengan fungsi menyegel Youki seperti yang telah digunakan Rias pada Issei. Mungkin segel itu diciptakan agar bisa digunakan pada setiap Iblis berdarah murni yang baru lahir, agar mereka yang masih bayi dan belum punya kontrol walau cuma sejentik itu tidak dihancurkan oleh kekuatan mereka sendiri.

Iblis berdarah murni tak perlu berlatih untuk meningkatkan kapasitas energi karena persediaan Youki mereka memang sudah dalam level tertinggi sejak mereka pertama kali menghirup udara, dan nampaknya fisik mereka juga memiliki kurva perkembangan yang teramat curam kalau melihat bagaimana kekuatan fisik kaum Iblis yang sangat superior jika dibandingkan dengan umat manusia. Karena itulah, Naruto menyimpulkan bahwa [Level Bahaya] kaum Iblis tidak bisa dilihat dari ukuran kekuatan mereka yang semuanya sudah sangat luar biasa, tapi dari bagaimana mereka [Mengendalikan]nya.

Dengan kemampuan khusus Klan Namikaze yang bisa [Membaca Aksara Semesta], Naruto telah melihat bahwa pada sesungguhnya Rias dan Sirzechs memiliki tingkat kekuatan sihir yang kurang lebih sama, tapi dia juga bisa melihat perbedaan jelas antara kakak dan adik itu karena Sirzechs telah memperoleh kendali penuh, sedangkan Rias yang masih belia masih tak punya cukup kontrol atas kekuatan yang terdapat dalam dirinya. Dan satu fakta ini semakin memperkuat keyakinan Naruto bahwa faktor terbesar yang menjadi penentu Iblis mana yang lebih kuat dan berbahaya dalam pertarungan adalah [Kontrol]. Bagaimana mereka mengendalikan Youki, bagaimana mereka mendistribusikan dan memfokuskan energi, bagaimana mereka meningkatkan kendali atas sihir agar bisa melancarkan serangan yang lebih cepat dan akurat, serta bagaimana mereka memakai aspek-aspek kemampuan khusus mereka dengan tepat untuk meningkatkan efektivitas tempur.

Dan dengan kemunculan Riser, keyakinan bahwa setiap Iblis berdarah murni yang telah dan mungkin akan dia temui pasti memiliki level kekuatan gila yang tak ada bedanya dengan ninja-ninja berkelas S menjadi semakin kuat. Namun nampaknya kekuatan dahsyat itu tidak disertai dengan mentalitas yang pantas, dan Naruto semakin diyakinkan ketika Iblis berdarah murni pertama yang ia lawan malah membuatnya kecewa.

Riser Phenex, Iblis yang memiliki kemampuan regenerasi yang tak kalah hebatnya dengan Souzou Saisei ciptaan Tsunade, Iblis dengan kekuatan api sihir yang mungkin lebih dahsyat daripada afinitas Klan Uchiha, dan Iblis yang tak diragukan lagi bisa melindas Naruto di bawah kakinya dan menggilas habis shinobi pirang itu sampai tak bersisa. Sayang, semua kekuatan itu tidak didampingi oleh keahlian.

Menyedihkan.

Apakah tadi Riser menggunakan kapabilitas fisik superior yang Naruto yakin bisa meremukkan tulang di tubuhnya? Tidak, tak sekalipun dalam pertarungan itu Riser melancarkan pukulan. Apakah tadi Riser menggunakan kekuatan sihirnya dengan efektif dan akurat? Tidak, dia malah berhenti di tengah-tengah bombardir yang sempat membuat Naruto kelabakan hanya untuk menertawakan Naruto.

Arogan.

Oh, sungguh Naruto jadi geram saat menyadari bahwa musuhnya memiliki sifat yang tak pernah gagal membuatnya ingin menggertakkan gigi keras-keras dan meratakan bangunan apapun yang ada di dekatnya ke tanah, karena sifat itu benar-benar mengingatkannya pada Orochimaru, shinobi yang telah membunuh Sandaime dan pengkhianat yang telah merampas nyawa orang yang Naruto anggap kakeknya sendiri itu dari kehidupan sang remaja. Sifat yang membuat seorang petarung menjadi terlalu percaya diri pada kemampuannya dan meyakini bahwa dirinya takkan bisa dikalahkan. Sifat yang di dunia shinobi telah seringkali membuat pemiliknya kehilangan nyawa karena meremehkan dan salah mengukur level bahaya lawan mereka.

Namun di balik semua perasaan tersebut, di balik semua amarah dan geram yang berkobar dalam hatinya, Naruto sadar bahwa apa yang sebenarnya dia rasakan saat itu adalah [Rasa Iri]. Andai saja dia yang memiliki semua itu, andai saja Naruto yang memiliki kekuatan dahsyat sejak lahir seperti kaum Iblis, maka mungkin dia bisa berbuat sesuatu ketika orang bertopeng itu menculik Kaa-chan. Andai saja dia yang memiliki kekuatan itu, maka mungkin dia bisa berbuat sesuatu ketika orang bertopeng itu melepaskan Kurama di Konoha. Andai saja dia yang memiliki kekuatan itu, maka mungkin dia bisa berbuat sesuatu ketika Tou-chan dan Kaa-chan melindunginya dari serangan Kurama yang mengamuk. Andai saja dia yang memiliki kekuatan itu, maka mungkin dia bisa mengalahkan Gaara lebih cepat, dan mungkin dia bisa pulang tepat waktu ke Konoha untuk mencegah Jiji mengorbankan nyawa demi memukul mundur bekas muridnya.

Kalau saja Naruto yang sekuat itu, maka mungkin saat ini Tou-chan, Kaa-chan, dan Jiji masih ada bersamanya.

Pada Iblis bernama Riser Phenex ini, Naruto merasa sangat iri, dan mungkin sedikit dengki. Berani-beraninya Iblis ini mengumbar kesombongan, tertawa meremehkan, dan petantang-petenteng di depan Naruto yang telah kehilangan begitu banyak orang berharga ketika dia masih lemah. Berani-beraninya dia memamerkan kekuatan, yang kalau ada di tangan Naruto pasti sudah bisa menyelamatkan tiga orang yang dulu paling ia sayangi di dunia ini. Berani-beraninya dia memiliki semua kemampuan dan semua kekuatan tersebut, hanya untuk memampangkan kecongkakannya di depan Naruto yang sudah sangat muak menghadapi orang seperti itu!

Dan sekarang, setelah semua yang terjadi, dia sama sekali tidak belajar dari kekalahan pertamanya dan malah masih berani menantang Naruto?! Hanya karena dia sekarang telah sembuh dengan bantuan Air Mata Phoenix produksi klannya, hanya karena dia sekarang dibantu oleh lima belas pelayannya, lalu dia mengira kulit dan dagingnya akan menjadi sekeras besi dan kunai Naruto tidak bisa menyayat lehernya lagi? Apa dia kira Naruto tidak bisa menikam jantungnya lagi? Apa dia kira Naruto tidak bisa memenggal atau menggilas habis kepalanya lagi?!

"Tajuu Kagebunshin no Jutsu."

Apa dia kira, hanya dengan kemunculan Peerage-nya, lalu Naruto tidak akan bisa membunuhnya lagi?!

"Kau tadi bertanya apa aku mengira aku masih bisa menang?!"

Naruto sangat, sangat membenci orang yang arogan.

"Kenapa tidak kita coba cari jawabannya sekarang, Riser Phenex?!"

~•~

Ravel mengamati situasi dan menggertakkan giginya sembari mulai memutar otak demi mencari jalan keluar. Sial bagi Ravel, dia mendapati bahwa situasi ini benar-benar tidak menguntungkan. Mereka tidak hanya berada di lokasi yang tidak mereka kenal, tapi juga sedang melawan musuh yang sama sekali tidak mereka ketahui set kemampuannya seperti apa saja. Dan dalam sebuah pertempuran, minimnya informasi adalah sebuah kelemahan yang mampu melumpuhkan setiap usaha yang dikerahkan untuk menang.

Riser dan Peerage-nya memang telah memenangi delapan dari sepuluh Rating Game yang mereka jalani, dan dua kekalahan yang mereka derita pun sebenarnya terjadi karena Riser dengan sengaja membiarkan lawan mereka menang karena mereka datang dari klan yang memiliki hubungan dekat dengan Klan Phenex. Namun Ravel yang merupakan otak setiap rencana atau strategi dalam semua pertandingan yang mereka jalani mengetahui jelas bahwa kakaknya seringkali terlalu bergantung pada kemampuan regenerasi Klan Phenex dan kekuatan sihirnya yang tinggi, bahkan taktik yang mereka pakai pun seringkali berhubungan dengan Air Mata Phoenix yang bisa mereka dapatkan dengan mudah.

Ravel sebenarnya enggan mengakui, tapi andai saja Riser tidak memiliki kemampuan regenerasi yang membuatnya tak bisa terbunuh walau mendapat serbuan fisik dan serangan berbasis Youki macam apa saja, Ravel tak memiliki keraguan bahwa mereka takkan pernah mengumpulkan jumlah kemenangan sebanyak ini. Tak seperti Ravel yang tak mempunyai kapasitas Youki terlalu besar sehingga harus belajar mengendalikan kekuatan sihirnya dan meningkatkan keahlian bertarungnya dengan lebih baik agar dia tak perlu terlalu sering menggunakan kemampuan regenerasi tersebut, Riser adalah seorang Iblis berdarah murni dengan persediaan Youki mentah yang menggunung, dan harus dibunuh sampai puluhan kali terlebih dahulu sebelum kapasitas energinya itu menjadi terlalu sedikit untuk melakukan regenerasi.

Ravel tahu bahwa ketergantungan kakaknya pada kemampuan penyembuhan Klan Phenex itu cepat atau lambat akan menempatkannya dalam masalah atau bahaya yang takkan bisa ia selesaikan hanya dengan memiliki kualitas tak akan mati walau dibunuh berkali-kali. Hanya saja, dia tak menyangka bahwa peristiwa yang sudah dia takut-takutkan itu akan datang begitu cepat. Ravel tak tahu apa yang telah terjadi sebelum dia dan semua Peerage Riser datang ke dunia manusia, tapi dari apa yang telah dia lihat, Ravel tahu bahwa kakaknya telah menemukan musuh yang punya cukup kemampuan untuk terus membunuh Riser sampai dia benar-benar mati.

Ravel bahkan sampai dibuat merinding saat menyadari bahwa tanpa Rias Gremory yang menghentikan usaha manusia bermata biru langit itu, maka mungkin kakaknya sudah akan tewas. Kesadaran itu makin diperkuat karena ketika Ravel memeriksa kakaknya yang telah dilepaskan oleh remaja berambut pirang itu, dia mendapati bahwa energi Riser telah hampir terkuras dan menandakan bahwa jika sampai orang berseragam sekolah itu menggilas kepala Riser sedikitnya empat kali lagi, Youki dalam diri Riser yang menjadi bahan bakar kemampuan regenerasi Klan Phenex akan benar-benar habis dan kakaknya itu akan benar-benar kehilangan nyawa saat dia dibunuh kali berikutnya.

Ketika kakaknya itu kembali menantang remaja yang kemudian ia ketahui memiliki nama Namikaze Naruto itu, Ravel harus menahan diri agar dia tidak berjalan ke pohon atau dinding terdekat dan menghantamkan kepalanya berkali-kali.

Apakah Onii-sama tidak sadar bahwa kalau musuh mereka itu bisa membunuh Onii-sama yang notabene memiliki kemampuan yang paling mendekati keabadian sampai dia hampir mati, maka ada kemungkinan besar manusia itu bisa melakukan hal yang sama ke anggota Peerage Oniisama?! Apa Onii-sama tidak sadar kalau saat ini mereka berada dalam keadaan yang sangat merugikan karena mereka sama sekali tak tahu apa-apa soal batas kemampuan manusia bermarga Namikaze itu?! Apa Onii-sama lupa kalau mereka tidak sedang berpartisipasi di Rating Game di mana kematian bukanlah sesuatu yang permanen?! Apa Onii-sama tidak sadar bahwa dalam situasi ini, bukan tidak mungkin yang berhasil bertahan hidup hanya dia dan Ravel?! Apa Onii-sama—

"Tajuu Kagebunshin no Jutsu."

Oh, bagus. Bagus sekali! Satu orang saja sudah memiliki potensi untuk menjadi lawan yang sangat merepotkan, tapi ternyata manusia pirang sialan yang ditantang oleh kakaknya itu juga punya jurus untuk membelah dirinya sampai mencapai jumlah ribuan?! Dasar Onii-sama bodoh! Nekat! Tidak pikir panjang! Kenapa Onii-sama tidak sekalian mencari tanah pemakaman dan menggali empat belas lubang kubur untuk pelayan-pelayannya yang tak punya kemampuan regenerasi?!

Ravel yang merutuk keras-keras dalam hati terpaksa berhenti dulu mengekspresikan luapan kekesalan itu ketika musuh mereka kembali buka suara.

"Kalian punya delapan opsi." Kalimat tersebut sebenarnya bervolume pelan, namun mampu melabrak gendang telinga sampai terasa bergema karena diucapkan oleh lebih dari seribu orang yang semua suaranya bertumpuk dan saling tumpah tindih. "Hati, paru-paru, jantung, ginjal, tulang belakang, leher, sela selangkangan, dan terakhir, batok kepala."

Mereka yang memiliki wawasan soal anatomi tubuh manusia, karena pada dasarnya tubuh Iblis memiliki desain serupa, mengetahui bahwa opsi-opsi tersebut adalah delapan titik yang dapat menyebabkan maut menjemput jika sampai menderita luka. Mereka sadar bahwa Naruto bukan sedang memberikan pelajaran, tetapi ancaman dalam bentuk delapan pilihan untuk mengundang ajal. Dan kesadaran itu semakin diperkuat ketika semua remaja berambut pirang dan mengenakan seragam sekolah yang jumlahnya ribuan itu mengeluarkan sebuah pisau bercabang tiga aneh secara bersamaan.

"Sekarang, pilih."

Hening sejenak tercipta saat tak ada satupun yang mampu, ataupun mau, mematuhi suruhan itu sampai akhirnya lawan mereka kembali mengeluarkan gertakan.

"Pilih!"

Mira, Pion terlemah dalam Peerage Riser, langsung gemetaran saat mendengar hardikan bernada kasar yang datang dari sang lawan. Ravel yang melihat bagaimana wajah gadis dengan rambut biru itu mulai dibasahi keringat dingin mau tak mau merasa mafhum, karena saat ini dia sendiri harus menahan diri agar tidak mulai menjambak dan menarik-narik rambutnya sendiri karena frustrasi.

Ahhh! Menghadapi musuh yang masih tidak jelas kemampuannya seperti apa, punya jurus untuk mendistorsi teknik regenerasi klan Phenex sehingga membuatnya jadi sangat boros Youki, serta jurus lain yang bisa membuat korbannya tak bisa bergerak, dan sekarang, dia ternyata juga punya kemampuan untuk membelah dirinya sampai berjumlah ribuan?! Ravel tidak bisa lagi menganggap situasi ini sebagai situasi merugikan, karena apa yang mereka alami sekarang lebih tepat jika dipasangi label [Mimpi Buruk]!

"Pilih."

Alih-alih ribuan, kali ini mereka hanya mendengar satu suara.

"PILIH."

"PIlIh."

"Pilih."

"PiLih."

Satu kata yang diucapkan berulang-ulang oleh suara yang sama namun datang dari arah berbeda-beda itu menciptakan efek psikologis yang membuat Riser dan Peerage-nya merasa tak ubahnya seperti mangsa yang sedang dikepung sekelompok hewan buas. Ravel bahkan tak perlu menoleh untuk melihat bahwa kali ini tidak hanya Mira yang dibuat pucat. Ravel hampir saja dibuat mengerang. Biasanya, musuh merekalah yang harus menderita serangan psikologis karena melihat Riser yang tak bisa dibunuh atau setelah berusaha begitu keras untuk mengalahkan salah satu Bidak Riser, hanya untuk melihat keberhasilan mereka ditangkal begitu saja oleh Air Mata Phoenix. Ravel takkan pernah menyangka bahwa pengalaman pertama mereka bukan berasal dari Iblis atau kaum Akhirat lain, tapi dari seorang manusia.

"PILih."

"piLIH."

"pIlIh."

"pilih."

Saat ini, Ravel hanya bisa pasrah dan menerima bahwa pertarungan takkan terelakkan. Oh, tentu dia masih yakin bahwa masih terdapat kemungkinan cukup besar bagi mereka untuk memperoleh kemenangan. Hanya saja, dia juga merasa bahwa persentase kemenangan itu juga disertai kemungkinan besar bahwa dia pasti akan kehilangan beberapa rekan sesama anggota Peerage di akhir pertarungan. Dia hanya tidak tahu berapa jumlah pelayan Riser yang akan berhasil melalui pertempuran ini hidup-hidup, dan itupun kalau memang di akhir nanti Peerage kakaknya masih akan tersisa.

Setidaknya, Ravel memutuskan untuk menyerang lebih dulu agar remaja pirang itu tidak mengendalikan alur pertarungan dari awal, satu hal yang Ravel yakini hanya akan memperkuat kans menang sang shinobi.

Beruntung bagi Ravel, belum sempat dua sisi yang bertikai itu mulai saling serang, konfrontasi mereka telah terlebih dahulu mengalami hambatan dalam bentuk air bah yang datang menghajar pasukan Kagebunshin Naruto dari arah belakang.

Ravel melihat Yubelluna yang memegang peranan Ratu sekaligus tangan kanan Riser dengan ahli menciptakan kubah pelindung sihir yang melindungi majikan dan rekan-rekannya dari serbuan tsunami tak alami yang membabat habis setidaknya seratus lebih kembaran Naruto, membuat mereka lenyap dalam kepulan asap putih, dan membebaskan jalan setapak yang tadi turut mereka penuhi.

Ravel jadi agak bingung ketika melihat wajah Naruto dan kembarannya yang berjumlah ratusan teralih dan memucat secara bersamaan, dan rasa bingung itu semakin menjadi-jadi saat ia mengikuti arah tatapannya.

Siapa Iblis yang sedang terbang di udara itu dan mengapa dia bisa membuat lawan mereka bereaksi seperti ini?

Sementara itu Naruto sendiri, baik yang asli maupun kembarannya, langsung dapat merasakan firasat buruk saat ia memandang wajah berhiaskan kacamata berbingkai ungu dan bibir merah muda kecil yang kini sedang menyunggingkan senyum teramat manis ke arahnya itu.

Sial, sial, sial, sial, sialsialsialsialsial—

"Namikaze-kun."

Mendengar namanya yang dicetuskan satu suku kata demi satu suku kata dan disertai suffiks yang mendapatkan empasis tersebut, Naruto langsung tahu bahwa dirinya sedang ada dalam masalah besar. Shinobi pirang yang tadi sudah hampir lupa diri dan melampiaskan kemarahan itu hanya mampu menelan ludah kental yang serasa tersangkut di kerongkongannya, sebelum mengucapkan satu-satunya kata yang muncul di kepala dengan dahi yang mulai dipenuhi keringat dingin.

"...Ojou-sama."

Cetar membahana.

~•~

"Kesimpulannya, perbedaan pendapat ini akan diselesaikan dengan Rating Game sepuluh hari dari sekarang," gadis berambut hitam itu kembali tersenyum manis. "Ada yang keberatan?"

Rias menggeleng cepat karena tahu bahwa di balik senyuman itu sudah menunggu hukuman berat bagi siapapun yang berani menyanggahnya. Riser dan Ravel mengikuti gerakan Rias karena tindakan memprovokasi seseorang yang bisa mengendalikan mesin pembunuh yang hampir memutus nyawa mereka hanyalah sesuatu yang dilakukan oleh orang-orang tak berotak atau memang sudah tak punya keinginan untuk melanjutkan hidup.

"Bagus." Sona menepukkan tangannya satu kali, bibirnya yang kecil masih menyunggingkan senyum manis dan menyenangkan namun entah mengapa malah membuatnya nampak semakin mengerikan. Mata ungunya terbuka dan teralih ke arah dua Phenex bersaudara. "Jadi karena sekarang kita sudah sepakat, kalau masih ada yang perlu ditanyakan, tolong sampaikan sekarang." Dua mata itu menyipit sedikit. Tiga Iblis berdarah murni yang duduk di sofa seberang Sona tiba-tiba merasakan bulu kuduk mereka berdiri. "Dan tolong ingatlah untuk memakai kata-kata sopan."

Ravel tiba-tiba menyikut lengan Riser sambil memberinya delikan tajam yang seakan-akan berkata, "Kau yang bikin masalah, jadi kau yang sekarang harus ngomong, Onii-sama!"

Tapi bukannya menurut, Riser malah mengalihkan pandangannya ke sisi lain dan turut menyikut lengan Rias, memelototi gadis itu dengan mata yang mengucapkan, "Rias, kau sahabatnya kan?! Ayo katakan sesuatu!"

Rias mendorong bahu Riser sambil membalas tatapan putra ketiga Klan Phenex itu dengan delikannya yang menyimpan, "Kau gila ya?! Kau kira aku tak punya otak sampai berani ngomong di depan Sona yang sudah jadi seperti ini?! Kenapa kau tidak sekalian menyuruhku gantung diri?!"

Merasa gagal di satu sisi, Riser memutar kepalanya ke arah lain, "Ravel, kau lebih pintar dariku dalam diplomasi kan?! Kau yang ngomong!"

Ravel hanya memberi kakaknya sebuah tatapan dengan mata lebar yang menyiratkan panik. "Aku masih mau hidup!"

Rias merenggut lengan Riser untuk menarik perhatian Iblis berdarah murni itu sembari membuka matanya selebar mungkin. "Kalau nggak ada yang ngomong, kita semua bisa nggak ada yang selamat!"

Riser menyeringai, "Kalau kau tahu itu, kok kau sendiri masih diam saja?! Kenapa kau malah ngeliatin aku?!"

"Kenapa kau malah menyuruh seorang gadis sepertiku mengadu nyawa?! Kau kan cowok! Di mana harga dirimu!?"

"Saat ini nyawaku lebih penting daripada harga diri!"

"Pengecut!"

Ravel mencondongkan tubuhnya sambil turut berpartisipasi. "Kau tak punya hak memanggil Onii-sama seperti itu kalau kau yang temannya sendiri saja tidak berani bicara!"

Setelah ada hening selama belasan detik tanpa siapapun yang membuka suara, mata Sona yang sedari tadi menyaksikan tingkah tiga Iblis berdarah murni di depannya menjadi semakin menyipit dan derajat lengkungan bibirnya pun turut berkurang sedikit. "...Kenapa tidak ada yang bicara?"

Merasa bahwa tak ada satupun yang bisa diharapkan, Rias, Riser, dan Ravel memutar kepala mereka secara bersamaan ke arah kiri di mana Grayfia sedang berdiri, memberi Iblis berbalut pakaian khas maid itu tatapan penuh harap dan memelas karena mereka tak tahu apa yang bisa mereka katakan tanpa membuat situasi berubah semakin buruk.

Iblis yang memegang peranan Ratu dalam Peerage sang Lucifer itu harus menahan keinginan untuk melenguh panjang. Dasar Iblis-Iblis remaja. "Sona-ojousama, saya rasa diamnya mereka ini bisa dianggap sebagai pertanda bahwa tak ada lagi yang mau mereka tanyakan atau sampaikan."

"Oh?" permukaan kacamata Sona berkilap. "Apa itu benar?"

Rias, Riser, dan Ravel mengangguk kuat-kuat.

"Baiklah, kalau begitu kurasa sudah saatnya kita mengakhiri pertemuan menyenangkan ini," Sona berdiri, gerakan yang dengan cepat diikuti oleh ketiga Iblis di depannya, sebelum membungkukkan tubuhnya sedikit. "Senang bertemu kalian. Kuharap kita bisa lekas bertemu lagi di masa depan."

"Sama-sama, Sitri." Riser mengerahkan seluruh kekalemannya demi mengeluarkan jawaban tanpa suara yang bergetar. Ia menoleh kepada adiknya. "Ravel?"

"S-senang bertemu denganmu, Sitri-san...!" Ravel menyahut dengan cepat, walaupun dalam hatinya ia berdoa sekuat tenaga agar pertemuan mereka selanjutnya bisa terjadi lagi setelah waktu yang sangat lama. "Sampai jumpa...!"

Sona mengangguk tanpa mengacuhkan bagaimana Iblis yang lebih muda darinya itu sudah melangkah (baca: terbirit-birit) lebih dulu ke bagian ruangan di mana anggota Peerage Riser yang lain berdiri menunggu, lalu mengalihkan wajah ke arah teman dekatnya. "Rias?"

"A-a-ada apa—Oh," Rias sempat terbata sebelum mengerti kenapa Sona memanggilnya. Gadis Iblis yang dengan penampilan remaja itu berdeham satu kali sebelum memutar tubuhnya ke samping untuk menghadap tunangannya. "Jadi, sampai ketemu sepuluh hari lagi?"

"Sepuluh hari." Riser mengangguk. "Persiapkan dirimu baik-baik, Rias. Jangan permalukan aku dengan menampilkan pertunjukan yang payah."

Rias hampir saja dengan reflek mengirim balik jawaban pedas, kalau saja sorot tajam mata violet dari sang sahabt yang masih terarah padanya tidak membuat ahli waris Klan Gremory itu sadar bahwa dia harus mengendalikan emosi dan hanya memakai kata-kata sopan kalau Rias tidak mau jadi sasaran tumpahan kekesalan Sona. Akhirnya dia memilih untuk hanya mengucapkan, "Tentu saja."

Riser membalas sahutan Rias dengan seringai lebar yang dipenuhi rasa percaya diri, walaupun nampaknya, sebagai bukti bahwa kekalahan yang ia terima dari seorang manusia, arogansi yang biasanya memenuhi hampir setiap tingkah laku putra ketiga Klan Phenex itu sekarang sudah berkurang banyak. "Yubelluna." Ia berbalik sembari memanggil nama Ratunya. "Kita pulang sekarang."

Ketika dia berjalan menuju tengah ruangan di mana Yubelluna telah menyiapkan lingkaran sihir teleportasi dan sedang berdiri menunggu bersama sisa Peerage-nya, Riser yang hampir melalui seorang sosok berambut sama-sama pirang mendadak berhenti ketika bahu mereka bersampingan.

"Aku tak akan melupakan apa yang terjadi hari ini." Dia mendesis tanpa menoleh.

"Bagus kalau begitu," sang lawan bicara menyahut dengan nada datar seperti orang yang tak tertarik, namun masih menyembunyikan sebuah gelimang besi. "Paling tidak, di kemudian hari kau akan mengingat bahwa apa yang kau alami hari ini takkan pernah terjadi tanpa arogansimu sendiri."

Riser mendengus. "Lalu kenapa aku masih berpikir bahwa walau aku melawanmu dengan kekuatan penuh dari awal pun, masih ada kemungkinan kau bisa mengalahkanku?"

"Karena aku adalah seorang shinobi," orang yang tadi sudah hampir berhasil membunuhnya itu bersidekap. "Dan kuharap kau sudah belajar bahwa meremehkan seorang shinobi hanya akan berujung pada penyesalan atau kematian."

Riser tertawa untuk beberapa saat sebelum senyumannya menjadi garang. "Persiapkan dirimu baik-baik, karena kali berikutnya kita bertemu, aku akan memburumu sampai kau jadi debu, Namikaze Naruto."

Naruto terkekeh dingin, warna biru langit matanya yang terbuka kini bercahaya. "Bagus. Karena dengan begitu kau mungkin bisa memaksaku untuk melawanmu dengan serius dari awal, Riser Phenex."

Sementara dua lelaki yang berbeda spesies itu saling ancam, Grayfia mengamati tingkah mereka untuk beberapa saat sebelum memutuskan bahwa konfrontasi itu hanyalah gertak sambal yang takkan berujung pada perkelahian lagi. Sang Iblis yang mendapat julukan Ratu Terkuat di seantero dimensi Meikai itu menghadap ke arah Sona dan Rias yang masih memandangi interaksi tak bersahabat antar Naruto dan Riser dengan siaga, sebelum menarik perhatian dengan berdeham kecil. "Ojou-sama, Sona-sama. Saya akan segera mengurus permohonan izin dan persiapan untuk Rating Game antara Ojou-sama dan Riser-sama, jadi saya harus pulang ke Meikai dulu."

"A-ah," Rias tersentak. "Baiklah. Terima kasih atas bantuannya, Grayfia."

Sona menganggukkan kepalanya. "Sampai ketemu lagi, Grayfia."

Wanita berpenampilan maid dengan kepang rambut di dua sisi wajahnya itu membungkuk sekali lagi sambil berkata. "Kalau begitu saya permisi."

Mereka hanya mengawasi sampai sosok wanita Iblis yang berdiri di atas lingkaran sihir dengan sinar putih bernuansa biru itu menghilang dari pandangan sebelum kembali mengalihkan perhatian ke arah Riser dan Naruto yang nampaknya sudah ada di akhir ajang gertak sambal mereka.

Sona dan Rias mendengar Riser mendengus untuk kali terakhir sembari mulai berjalan untuk pergi meninggalkan dimensi manusia itu, namun tidak sebelum memuntahkan satu umpatan terakhir. "Manusia jahanam."

Naruto hanya memejamkan mata sambil meludahkan balasan. "Iblis keparat."

Mereka berdua sama-sama menyunggingkan senyum tipis yang ganas, dan saling berjanji dalam hati bahwa pertarungan mereka di masa depan akan jauh, jauh lebih mengerikan sampai mengguncang bumi dan membakar alam. Bukan antara seorang Iblis dan manusia, tapi antara Riser dan Naruto, dua orang laki-laki yang saling mendendam dan sama-sama bertujuan memanfaatkan pertikaian mereka berikutnya sebagai ajang untuk mengirim lawan mereka ke alam kematian.

Tepat setelah sepeninggal Riser dan Peerage-nya, senyuman tipis namun ganas di wajah Naruto berubah menjadi seringai meringis ketika seseorang menjewer telinganya.

"Tidak sampai setengah hari kau lepas dari pengawasanku, dan hal seperti ini sudah terjadi," Sona memperkuat jewerannya sampai remaja pirang yang bertubuh lebih tinggi darinya itu mulai sedikit terbungkuk. "Apakah kau benar-benar hobi berkelahi, Namikaze-kun? Apa kau tidak pernah bosan membuat masalah untuk orang lain?"

"O-Ojou-sama—Auw!—A-aku hanya—"

"Jangan membuat-buat alasan, Namikaze-kun," Sona melepaskan jewerannya, dan dengan tangan yang sama, sang ketua OSIS itu menunjuk ke lantai. "Seiza."

Naruto kembali meringis. "Ojou-sama—"

Sona kembali menyela kalimat shinobi berambut pirang itu dengan menajamkan sorotan matanya. "Seiza." Ia mengulangi dengan nada yang lebih kuat.

Naruto yang tidak mau membuat 'Ojou-sama'nya itu semakin kesal langsung menurut dan bersimpuh di lantai dengan kepala sedikit tertunduk.

Sona yang berdiri menjulang di depan siswa juniornya itu bersidekap sambil. "Kau sadar apa yang sudah kau lakukan, Namikaze-kun? Apa kau sadar hal gila macam apa yang sudah kau lakukan?"

"Ojou-sama, aku hanya—"

"Kau hanya mendengar satu bagian percakapan antara Rias dan Riser lalu lagi-lagi dengan seenaknya membuat asumsi yang tidak-tidak tanpa mencari kejelasan terlebih dahulu," Sona menyela dengan nada yang tidak memberi ampun. "Apa kau belum belajar, Namikaze-kun? Apa kau sudah lupa bahwa sifat nekat dan tidak pikir panjangmu itulah yang seringkali bisa menyebabkan masalah?"

"A-anu, Kaichou," Issei berusaha membantu sebab merasa tak nyaman melihat teman sekelasnya dimarahi seperti itu. "Aku yakin situasinya tidak seburuk itu..."

Sona memutar wajahnya dengan cepat dan melepaskan delikan yang membuat Issei ciut, membuat remaja berambut cokelat itu mengambil satu langkah mundur. "Riser adalah seorang Iblis berdarah murni, keturunan Klan Phenex yang memiliki derajat tinggi di antara kalangan bangsawan penghuni Meikai. Apa kau tahu artinya itu, Hyoudou-kun?" Sona kembali mengarahkan tatapannya pada Naruto. "Itu artinya Namikaze-kun telah menyerang seorang anak bangsawan, dan di Meikai yang populasinya sudah menurun seperti sekarang, hal semacam itu tidak ada bedanya dengan menghajar anak seorang raja di dunia manusia, dan dianggap sebagai sebuah tindakan kurang ajar dan penghinaan yang membuat pelakunya seringkali harus mendapat hukuman sangat berat yang seringkali bisa berujung pada kematian."

Asia bergerak ke samping Issei dan turut memberikan pembelaan. "Tapi, Kaichou-san, Onii-san melakukannya karena orang itu sudah mengancam Buchou-san...!"

"Apa kaukira alasan itu akan membuat semuanya lebih baik, Argento-san? Maaf kalau aku harus memberitahu bahwa kau keliru, karena jika Namikaze-kun melakukannya dengan alasan membela Rias, maka dia tidak hanya sudah membuat dirinya dalam masalah. Dia juga sudah menjerumuskan Rias dalam masalah yang sama karena seperti apapun situasinya, karena mau diputar balik seperti apapun juga, faktanya adalah Riser tetaplah tunangan Rias." Sona melirik wajah sahabatnya yang mulai memucat sebentar sebelum kembali memandang ke depan. "Kalau sampai ketahuan Rias membela orang yang telah menyerang tunangannya, maka apa yang kaupikir bisa terjadi pada hubungan antara keluarga Gremory dan keluarga Phenex? Biar kuberitahu, hubungan yang sebenarnya cukup baik itu bisa berubah tegang, kalau tidak menjadi konflik sekalian."

Naruto mengangkat wajahnya yang juga mulai memutih, menampakkan bahwa dia sendiri sudah mulai sadar tentang kesalahan macam apa yang sudah ia lakukan dan konsekuensi macam apa yang mungkin terjadi karena tindakannya. "A-aku pikir—"

"Benarkah, Namikaze-kun? Apakah kau benar-benar berpikir?" tukas Sona cepat dan tanpa ampun. "Kalau begitu, apa yang kau pikirkan, Namikaze-kun? Apa kau pikir bahwa menyerang Iblis dari klan terhormat takkan menyimpan reperkusi? Apa kau pikir bahwa hanya karena kau bisa meraih kemenangan melawan Riser, lalu semuanya akan jadi baik-baik saja?" Sona mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Apa kau sudah sadar sekarang bahwa tindakan nekatmu tadi sudah menciptakan masalah, tidak hanya bagi dirimu sendiri tapi juga orang-orang di sekelilingmu? Orang-orang yang sebenarnya ingin kau bantu?" Sona mendengus. "Saat kau membantu Hyoudou-kun menyelamatkan Argento-san beberapa malam lalu, kau sudah membuktikan padaku bahwa kau cukup pintar untuk memikirkan solusi permasalahan sampai ke detil terakhir bahkan sebelum kau memutuskan untuk bertindak. Itulah kenapa, Namikaze-kun, aku harus menganggap bahwa kali ini kau sama sekali tidak memikirkan apa arti tindakanmu. Kau hanya nekat. Tidak kurang, tidak lebih."

Rias berdiri. "Sona—"

Sona menghentikan Rias dengan mengangkat satu tangannya. "Aku belum selesai." Gadis Iblis berambut hitam itu menarik napas sebelum melanjutkan. "Namikaze-kun, aku tahu kau sudah berhasil menang, tapi yang harus kau sadari adalah walau kau mampu membuat Riser tak berkutik, dia tetaplah anggota Klan Phenex, dan keahlian mereka dalam sihir api dan angin adalah salah satu yang terkuat di Meikai. Memang benar tadi kau telah membuatnya tak berkutik, tapi bagaimana kalau kau salah perhitungan...? Bagaimana kalau Riser tidak meremehkanmu dan dia menggunakan kekuatan penuhnya dari awal...?! Apa kau tahu bahwa dia bisa dengan mudahnya membakar tidak hanya bangunan tua ini, tapi juga seluruh sekolah dan seisinya?!" suara Sona terus meninggi sampai akhirnya dia telah berteriak. "Apa kau sadar bahwa dengan bertarung di siang bolong seperti tadi, kau sudah membahayakan Akademi Kuoh yang masih dipenuhi murid-murid?! Murid-murid yang tak tahu apa-apa soal dunia Iblis dan bisa saja menjadi korban karena kau memutuskan untuk menyerang Riser?!"

Mereka yang menonton Sona meluapkan amarah dan kekesalan itu hanya mampu terdiam, dan kalau melihat wajah Naruto yang terus berubah warna sampai akhirnya menjadi seputih kapur, mereka tahu bahwa kata-kata Sona memang tak bisa disangkal kebenarannya.

Tapi Sona masih belum selesai. "Dan kalau itu masih belum cukup buruk, setelah semua anggota Peerage Riser datang kemari, kau masih juga menerima tantangannya?! Apa kau sadar kau sudah membahayakan terbongkarnya rahasia tentang kaum Iblis dengan jurusmu tadi?!" Sona memijit batang hidungnya, wajahnya berkeriut karena dirundung rasa kesal tak terkira. "Kaukira kenapa aku hanya sendirian datang ke sini?! Karena aku harus mengerahkan semua anggota Peerage-ku untuk menghipnotis hampir setengah sekolah gara-gara ada orang yang membuat ribuan kembaran berpenampilan identik untuk memenuhi hutan yang jaraknya tidak sampai dua ratus meter dari bangunan sekolah utama!"

Sona yang sedikit terengah berjalan kembali ke sofa sebelum duduk terhenyak sambil memijit pelipis kepalanya. "Aku tak tahu kehidupan macam apa yang sudah kau jalani sebagai seorang shinobi, Namikaze-kun." Sona berkata dengan suara pelan yang menyiratkan rasa lelah. "Tapi tempat ini adalah sebuah sekolah. Kau tak bisa membahayakan nyawa siswa lain hanya karena kau ingin memenangi sebuah pertarungan. Aku tak bisa membiarkanmu bertindak seenaknya seperti itu."

Ada hening yang berlangsung cukup lama ketika tak seorangpun yang mampu memikirkan kata-kata untuk diucapkan. Rias dan Peerage-nya, terutama Issei dan Asia, sebenarnya ingin membela Naruto, tapi mereka juga tak bisa menyangkal logika yang telah dikemukakan oleh Sona. Bagaimanapun mereka mempertimbangkannya, mereka harus mengakui bahwa kali ini Naruto telah benar-benar salah bertindak, dan argumen apapun yang bisa mereka pikirkan hanya akan terdengar seperti sedang membuat-buat alasan.

Hening tersebut pecah ketika Naruto berdiri tegak dan mulai bicara. "Aku mengerti." Dia memalingkan wajah ke arah ahli waris Klan Gremory yang duduk di seberang Sona. "Rias."

Rias membalas tatapan tersebut dan mendapati bahwa mata biru langit itu menyiratkan sinar yang tak ia mengerti. "A-apa...?"

"Kalau keluargamu atau pihak lain menanyakan tentang masalah ini, katakan pada mereka bahwa apa yang telah kulakukan, semuanya kulakukan sendiri dan tak ada sangkut pautnya denganmu."

"H-hah?" Rias mengerutkan dahinya dalam kebingungan. "Tak ada sangkut paut? Kau sadar kalau dengan tidak menghentikan seranganmu, serta apa yang telah kuucapkan setelah kau membebaskan Riser, bisa dilihat sebagai aksi memberimu dukungan kan?"

"Aku tahu. Tapi di dunia shinobi, ada sebuah seni ninja bernama Genjutsu yang seringkali digunakan untuk mengendalikan pikiran korbannya. Aku yakin kakakmu pasti tahu apa yang kumaksud," Naruto melanjutkan penjelasannya seakan tak ada sanggahan. Dia tahu bahwa dia memang tak punya keahlian apapun dalam soal menggunakan seni ilusi tersebut, tapi karena Rias dan kaum Iblis yang lain tak tahu tentang hal itu, Naruto merasa tak ada salahnya berbohong kalau demi memperbaiki situasi. "Kau bisa mengatakan bahwa kau dan Peerage-mu telah menjadi korban Genjutsu yang membuatku bisa mengendalikan pikiran dan pandangan kalian sehingga kalian tak bisa melihat bahwa aku sudah melakukan sesuatu yang salah dengan mencoba membunuh tunanganmu. Dengan begitu, kau akan terbebas dari tuduhan. Dan konsekuensi yang mungkin mempengaruhi hubungan baik antara keluargamu dan keluarga Phenex bisa dihindarkan."

Sona menyipitkan mata, sama sekali tak senang dengan metode remaja berambut pirang yang selalu saja mencoba mengatasi masalah dengan mengarahkan semua kesalahan pada dirinya sendiri. "Namikaze-kun, apa kau mengira bahwa kau bisa bertanggungjawab hanya dengan membersihkan nama Rias?" Sona sebenarnya ingin menambahkan kata 'lagi-lagi', namun tak ingin membuat dirinya kedengaran seperti gadis cemburuan yang tak rela Naruto membantu gadis lain. "Kau mungkin bisa membuat hubungan antara Klan Gremory dan Klan Phenex tidak berubah buruk dan mencegah mereka salah paham, tapi kau sadar kalau kau juga sudah membahayakan siswa sekolah ini kan?"

Naruto hanya terdiam selama beberapa detik sebelum mengangguk. "Aku mengerti." Shinobi yang masih mengenakan seragam Akademi Kuoh itu mengeluarkan dompetnya dari kantong dan mengeluarkan kartu pelajarnya sebelum meletakkan benda itu di atas meja. "Aku akan mengundurkan diri dari Kuoh."

Kali ini, seluruh tubuh Sona mengeras dan matanya yang terarah ke kartu pelajar di meja melebar shock.

"H-hah?!" Issei berseru bingung. "Naruto-san, apa maksudmu 'mengundurkan diri'?!"

"Aku sudah membahayakan keselamatan para pelajar di sekolah ini karena aku tidak memikirkan baik-baik akibat dari tindakanku, Issei." Naruto menegakkan tubuhnya lagi. "Setelah semua yang kulakukan, berhenti sekolah di Kuoh adalah jalan terbaik agar aku tak bisa lagi membahayakan orang lain hanya karena aku adalah orang yang terlalu suka ikut campur."

"Ah..." salah satu tangan Sona terulur seakan berusaha meraih remaja yang berdiri terpisah hanya dua langkah darinya itu. Kening Naruto sedikit berkerut saat mendapati bahwa mata violet 'Ojou-sama'nya telah melebar seperti sedang terkejut. Mungkin dia tak menyangka bahwa Naruto akan menyerah begitu saja tanpa argumen atau perlawanan. "N-Namikaze-kun, itu—itu bukanlah apa yang kumaksud dengan 'tanggung jawab'..."

Mata Naruto turut melebar selama beberapa hitungan sebelum akhirnya terpejam. Dia mengerti. Sebenarnya dia berniat pindah ke sekolah yang lebih jauh dan tak memiliki kaitan apapun dengan kaum Iblis, namun dia bisa mengerti kenapa Sona berpikir bahwa hanya melakukan itu tidaklah cukup. Mengingat separah apa konflik yang ia miliki dengan Riser, Naruto merasa bukanlah hal yang mustahil kalau pria Iblis itu, ataupun keluarganya, langsung menuntut balas dalam waktu dekat. Dan kalau Naruto membiarkan dirinya tetap berada dalam lokasi yang penuh orang, maka mungkin saja akan jatuh korban orang tak bersalah ketika dia mendapat serangan.

"Kau benar, Sona-ojousama." Bahu Naruto merosot sedikit seraya segenggam napas panjang terhembus dari sela bibirnya. Sona benar, mengundurkan diri dari Kuoh dan pindah ke sekolah lain masih belum cukup sebagai solusi. Kalau dia benar-benar tidak ingin menjaring orang lain dalam konflik yang telah ia ciptakan dengan kesembronoannya sendiri, maka hanya ada satu hal yang Naruto bisa lakukan dalam situasi seperti ini.

"Aku akan segera meninggalkan kota ini."

Naruto sama sekali tak melihat ekspresi shock yang terpasang di wajah semua Iblis dalam ruangan klub tersebut, baik yang direinkarnasi ataupun yang berdarah murni, karena dia telah lebih dulu mengambil beberapa langkah mundur sampai kakinya meninggalkan karpet dan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

"Aku minta maaf atas semua kesalahan yang kulakukan dan semua masalah yang sudah kusebabkan. Tapi paling tidak, sekarang aku takkan merepotkan kalian lagi," dia bicara dengan nada menyesal. Sebenarnya, Naruto masih ingin tetap sekolah di Kuoh untuk setidaknya satu atau dua bulan ekstra agar ia bisa mengawasi Issei dan Asia lebih lama lagi serta memastikan mereka baik-baik saja. Dia juga sebenarnya masih mengkhawatirkan Sona dan Rias, tapi sekarang dia sudah kehilangan kesempatan untuk menjaga mereka, bukan karena terpaksa, tapi akibat kesalahannya sendiri. "Aku... aku hanya ingin mengatakan bahwa aku senang dan berterimakasih karena sudah bisa bertemu dan mengenal kalian. Waktuku di Akademi Kuoh memang tidak panjang, tapi setidaknya aku sudah bisa mempelajari beberapa hal berharga selama aku sekolah di sini."

Naruto menegakkan tubuhnya. Saat melihat ekspresi terpana di wajah Sona dan yang lain, dia hanya memberi mereka sebuah senyuman tipis. "Aku sudah membuat persiapan kalau sewaktu-waktu aku harus pergi mendadak, jadi kalian tak perlu khawatir harus menunggu lama. Selambat-lambatnya, sore ini aku sudah tidak akan ada di kota ini lagi."

"Jaga diri kalian." Dia berbalik dengan niat melangkah pergi, sembari berusaha menahan keinginan untuk menoleh pada orang-orang yang dia sendiri tak yakin akan ia temui lagi.

"Selamat tinggal."

To be Continued...

A/N: Kali ini hamba menyuguhkan apa yang terjadi kalau Naruto memakai jalur tindakan [Serang Dulu, Mikir Belakangan], dan menunjukkan pada readers sekalian bahwa keputusan yang Naruto ambil tidaklah selalu benar. Peristiwa dengan Riser ini adalah kebalikan dari apa yang terjadi di malam Issei memutuskan untuk menyelamatkan Asia di mana Naruto memakai taktik [Rencanakan Dulu, Kelahi Kemudian]. Kali ini, gara-gara khawatir sama Rias dan Peerage-nya, Naruto jadi kalap dan langsung saja main hajar tanpa memikirkan konsekuensi.

Ingatlah sekali lagi bahwa di fic ini, Naruto adalah seorang manusia tak sempurna, dan tidak hanya itu, dia juga seorang remaja yang masih berusia lima belas tahun. Ingat apa yang hamba katakan di chapter dua? Dia masih labil dan cenderung emosian. Sehebat-hebatnya Naruto versi fic ini dalam membuat rencana, dia tidak akan selamanya mampu mengambil keputusan yang benar. Kadang ada juga saatnya dia keliru dalam bertindak dan harus bertanggungjawab atas kesalahan tersebut.

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.