Standar Disclaimer Applied
.
.
.
Love & Choice © Tsurugi De Lelouch
Part 7
.
.
.
Sakura Haruno & Sasuke Uchiha
.
.
Enjoying Reading & Reviewing
Y*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*Y
.
.
.
Ketika cinta datang padanya
Hal yang indah menemani di kehidupannya
Namun, saat pilihan ditentukan
Akankah cinta berpihak pada dirinya?
.
.
-7-
Sungguh beruntung bagi perempuan musim semi berada di suatu kota kecil sekarang—karena ada jadwal praktek selama tiga minggu berturut-turut. Bagaimana tidak setelah kejadian itu, dia tengah dilanda kebingungan lagi. Dirinya takut jika kemungkinan terburuk yang akan terjadi, bisa-bisa semuanya menjadi kacau dan rumit. Lalu kedua, dia kena omel oleh orang tuanya gegara pulang pagi. Itupun dirinya mengarang cerita kalau menginap di kediaman temannya dan bersyukur kalau mereka mempercayainya.
Iris teduhnya melihat kalender yang terpajang di dinding dan mendapati sudah dua minggu dirinya ada disini. Tidak begitu banyak pasien saat malam hari. Berbeda dengan pagi sampai sore—pasiennya membludak dan dirinya nyaris tidak terlayani dengan baik. Dia menyenderkan tubuhnya di kursi kerjanya dan menggesernya hingga berhadapan dengan cahaya bulan—menerpa jendela kamarnya.
Dia masih mengingat bagaimana malam itu terjadi—lalu baik dia dan laki-laki itu melupakan hal apapun, kecuali rasa cinta yang membutakan mereka melakukan hal yang tidak sepantasnya. Dirinya telah menjadi wanita seutuhnya berkat sentuhan kekasihnya itu dan kemungkinan hal itu menjadi yang terakhir untuk mereka berdua.
"Bagaimana aku bisa memutuskan yang tepat jikalau bayanganmu masih menghantuiku," gumamnya.
Memang dirinya sudah mantap memilih salah satu diantara kakak beradik itu. tapi berbalik saat, kekasihnya itu memilih agak menjauh dari diirinya—begitu juga tunangannya sepertinya sibuk akan dunianya sendiri. Dua hal yang terumit bagi dirinya adalah—pertama dia menghormati keputusan orang tua demi kebahagiaan mereka walau dia merelakan cintanya, lalu kedua—yakni dia sangat mencintai adik tunangannya yang terjalin diam-diam selama ini.
"Ingat esok hari—aku harus berangkat ke Korea dan mungkin aku tidak bisa menemuimu selama dua minggu. Tenang saja, aku akan baik-baik disana."
Pemilik nama secantik musim semi—Sakura menangkupkan kepalanya ke meja. Benar apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu—keesokan harinya pelayan rumahnya mengatakan kalau—dia pergi ke luar kota. Sempat ia menghubungi nomor ponselnya, tapi nihil tidak bisa dihubungi—bahkan sampai sekarang. Apakah ini semacam permainannya ataukah dia memilih untuk menghilang dari jangkauannya.
"Aku tetap mencintaimu—walau nanti kau bukan milikku. Tetaplah untuk mengingatku, Sakura."
Brengsek.
Air mata mengalir di wajahnya dan kini membasahi meja kerjanya. Hubungan mereka ditengah ambang antara kehancuran dan kekokohan, dia tidak ingin menyebrang di jalan yang salah. Tapi sudah resiko memilih dan dirinya tidak boleh menyesali keputusan pilihan nantinya.
Dreet…dreet…
Ponselnya berdering dan dirinya langsung mengangkat telepon tanpa memperdulikan—air mata yang membasahi wajahnya. Kepalanya masih terasa pening dan dia sedikit terkejut mendapati sang Ibu yang menghubunginya. Mau tak mau dia menormalkan suaranya demi agar mereka tidak khawatir akan keadaannya.
"Halo sayang. Bagaimana dengan keadaanmu disana?"
"Baik-baik saja, Ibu. "
"Syukurlah kalau begitu. Begini Ibu mau menyampaikan sesuatu yang menggembirakan tentang perjodohan kalian."
Sakura menggelengkan kepalanya dan berharap ini tidak membuatnya semakin tambah kacau. "Sesuatu apa, Ibu?" cicitnya.
"Keluarga Uchiha mempercepat perjodohan ini ke hubungan pernikahan dan nak Itachi yang memutuskan kalau kau yang harus memutuskan—menyetujuinya atau tidak. Ibu harap besok atau hari berikutnya kau pulang dan sampaikan jawabanmu ya."
Wanita musim semi ini menghela napasnya berat dan menjawab iya lalu menutup sambungan telepon. Kemudian dirinya meletakkan ponselnya di atas meja-dan ia beranjak darisana dan berbaring di kasur pribadinya. Dia perlu mengistirahatkan pikirannya demi keputusan agar tidak goyah. Matanya pun terpejam dan berjalan menyusuri alam mimpi yang indah dan sambil bergumam pelan diiringi—dengan tangisan pedih.
"Maafkan aku… semuanya… maafkan aku…"
Lalu perempuan bernama Sakura benar-benar tertidur di alam mimpi yang indah.
.
.
.
.
.
.
Laki-laki berambut emo ini telah sampai di kediaman orang tuanya. Sebernanya dia pulang besok—tapi dia mendapat telepon dari Ibu untuk pulang. Entahlah ada kabar apa sampai dirinya harus pulang hari ini. Beruntung pesawat dari Korea ke Negara asalnya masih ada, bagaimana kalau tidak. Bisa-bisa dia tidak ada disini. Dia hanya membawa tas koper kecil saja—itupun dokumen dan sedikit baju didalamnya.
Sampai di rumah, dia disambut oleh para pelayan dengan senyuman hangat. Namun sedangkan dia membalasnya dengan datar saja. Dirinya merasa kabar yang akan disampaikan oleh orang tuanya—mengenai perjodohan kakaknya. Kemungkinan pertama kalau mereka akan mempercepat pernikahan dan kemungkinan kedua—perjodohan ini batal. Tapi kemungkinan pertama yang ia yakini pasti terjadi.
"Hn. Tadaima…"
Pria itu tahu kalau tidak aka nada yang menjawab salamnya kecuali—
"Okaeri… Ototou…"
Langkah bungsu Uchiha ini terhenti ketika mendapati sang kakak tengah bersender di sofa dan menatapnya. Mereka saling memandang satu sama lain—sampai sulung Uchiha ini tersenyum remeh tertuju pada adik bungsunya itu. Pemilik rambut mencuat itu langsug berjalan meninggalkan sang kakak yang masih menatapnya.
Dia menoleh ke belakang dan atensinya tertuju pada kakak sulungnya itu. "Ku pikir masih ada perang diantara kita, kakak? Bukankah kau tidak sudi untuk berbicara padaku heh?"
"Walau ada perang diantara kita. Sebagai kakak, kita harus menjalin persaudaraan dengan baik bukan? Kau mau Ayah dan Ibu tahu akan hal ini," ucap Itachi seraya menyilangkan kedua tangannya.
Sasuke mendengus sebal. "Ku kira Ayah kita sudah tahu akan hal ini, kakak? Beliau saja tidak membahas hal ini—karena akan membahayakan kondisi fisik Ibu."
Sulung Uchiha langsung beranjak darisana dan mendekati adik bungsunya itu. "Aku tebak kau pulang ke rumah karena ada kabar yang akan disampaikan oleh orang tua kita, bukan?" ucap Itachi.
Laki-laki hanya menyeringai tipis. "Tebakanmu benar, kakak. Mana mungkin aku harus repot untuk pulang demi kepentingan perjodohan kalian berdua…," desis Sasuke.
"Jadi…" Itachi menatap iris yang sama dengannya. "…kau menerima kalau kekasihmu itu menikah denganku hm?" lanjutnya.
"Kalau ku bilang tidak, bagaimana?" pancing Sasuke.
"Kau belum menerima kenyataannya kalau—"
Sasuke memotong ucapan kakaknya dengan cepat. "Coba kau sadar kalau kau belum bisa menerima kenyataan kalau Sakura hanya pelampiasanmu saja! Ataukah kau tidak mengingat dia heh?" sergahnya.
Itachi langsung mencengkram kerah baju adiknya. "Kau pikir aku saja yang harus yang sadar. Kau juga… bodoh!"
Adik dari sulung Uchiha ini melepas paksa cengkraman kakaknya dan berbalik meninggalkan kakaknya yang—menahan emosi tidak terbendung. Dia berjalan menaiki tangga dan kembali menoleh ke belakang lagi.
"Semoga kita bahagia nantinya…" Sasuke berbalik. "…kakak." Kemudian dia menjauhi menuju kamar pribadinya.
Sedangkan bagi Itachi mengepalkan tangannya kuat-kuat seakan itu adalah pelampiasan emosinya. Dia tersenyum miris dan bergumam dalam hatinya yang paling terdalam. "Kau benar, adikku."
.
.
.
X~0
.
.
.
Tidak terasa pertemuan antara dua keluarga hari ini diadakan. Baik Itachi dan Sasuke membuang emosi mereka masing-masing demi kelancaran pertemuan malam ini. Mereka tampak akur walau sedikit cekcok ringan dan membuat orang tua mereka menganggap pentengkaran kakak beradik biasa. Tapi tanpa orang tua mereka tahu kalau keduanya mengalami pentengkaran hebat dan menyangkut seorang perempuan.
Setelan jas dan kemeja melekat pada tubuh kakak beradik ini walau berbeda warna. Sebelumnya mereka tidak ingin berjalan bersamaan—tapi hanya untuk hari ini mereka memilih untuk jalan bersama menuruni tangga—menuju ruangan makan. Terlihat wajah bahagia yang melekat pada Fugaku dan Mikoto melihat kedua anak mereka tampak akur, lalu mereka menyuruh keduanya untuk duduk bersama mereka.
"Hm, bagaimana dengan proyekmu di Korea, Sasuke?" tanya Fugaku.
Pemilik nama itu tersenyum tipis. "Mereka mau untuk bekerja sama dengan perusahaanku, Tou-san. walau semulanya mereka bersikeras untuk tidak menyetujui gambaran yang kami ajukan."
Itachi menepuk bahu adik bungsunya itu. "Kejeniusanmu memang berguna, adikku…" cibirnya.
Sasuke mendengus kesal dan melirik tajam kakak sulungnya. "A-apaan kau, kakak? Atau bisa ku bilang kalau proyekmu juga nyaris gagal karena kesalahan teknis heh?"
Kakak sulung Uchiha mengirim sinyal pada Sasuke. "Darimana kau tahu, baka?" dan Sasuke hanya menyeringai tipis. "Bukankah asistenmu adalah teman baikku. Lagipula pasti kau tahu kesalahan perusahaanku bukan?"
Fugaku kembali menepukkan dahinya melihat kedua anaknya mengirimkan tatapan membunuh—juga saling meremehkan. Tidak salah kalau keduanya memiliki tujuan yang berbeda di perusahaan masing-masing dan juga saling berebut saham yang diajukan.
"Cukup kalian berdua," tegur Fugaku akhirnya.
Lalu keduanya menghentikan tatapan mereka dan langsung memalingkan mukanya masing-masing. Itachi memberikan kertas kecil di hadapan adiknya itu dan segera bungsu Uchiha itu membacanya dan melirik sekilas kakak sulungnya itu.
Dengar kita harus bersikap biasa. Anggap saja perkataanku itu hanya candaan bukan sindiran.
Sasuke meremas kertasnya dan memasukkan ke dalam saku celananya. "Itu aku sudah tahu… kakak."
"Eh, kalian membicarakan apa? Kenapa sembunyi-sembunyi begitu?" tanya Mikoto.
Itachi hanya tertawa kecil. "Rahasia kakak beradik, Kaa-san," ucapnya.
"Haaah, dasar kalian berdua. mentang-mentang kalian laki-laki semua…" dengus Mikoto.
Seorang pelayan memasuki ruangan makan dan menunduk hormat pada majikannya. Sejenak Mikoto bertanya pada pelayannya itu. "Ada apa, Erin?"
"Keluarga Haruno sudah datang, nyonya."
Mikotopun tersenyum tipis. "Persilahkan mereka masuk langsung ke ruangan makan, Erin."
"Baiklah, nyonya." Erin pun kembali dan mempersilahkan keluarga Haruno memasuki ruangan yang di tuju.
Sasuke memandang Ibunya. "Mereka sudah datang?" tanyanya.
Ibu dari dua anak laki-aki ini tersenyum ceria. "Iya. Haaah.. Ibu tidak sabar mendengar jawaban Sakura mengenai perjodohan ini?" cerocos Mikoto.
Mau tak mau bungsu Uchiha ini membenarkan pemikirannya tadi—kalau yang akan dibahas malam ini adalah perjodohan kakaknya. Dia ingin sekali kabur dari ruangan ini, tapi kalau dia lari—dirinya dianggp pengecut dan takut akan kenyataan bila harapannya bukan di pihaknya. Sama halnya dengan Itachi, dia masih kepikiran obrolannya bersama Konan kalau dia harus jujur dengan perasaannya. Tapi, apakah dia mampu mengatakan jikalau Sakura berkata lain didalam jawabannya.
Tanpa menunggu waktu lama, keluarga Haruno—Kizashi, Mebuki serta Sakura masuk ke dalam ruangan makan keluarga Uchiha. Tampak salam sapa terjadi diantara orang tua masing-masing. Sedangkan Sakura masih berdiri dan tanpa sengaja iris matanya bersirobok dengan—kedua kakak beradik. Semua perasaan tercurahkan dari tatapan mereka masing-masing—merasakan kepedihan dan kesakitan secara bersamaan.
Sasuke terlebih dahulu menelisik kekasihnya yang mungkin akan menjadi kakak iparnya itu. Well—gaun yang dipakai sangat simpel dan tidak mencolok, namun berbeda dengan wajah perempuan musim semi ini. Terlihat lebih pucat dari biasanya. Walau disamarkan oleh make up, tapi matanya tidak salah melihat ada yang tidak beres dari Sakura. Keinginan untuk berbicara dengan Sakura pupus karena kakaknya lebih dulu berucap padanya. Dan Sasuke rela untuk menahan rasa demi kelancaran pertemuan ini.
"Kenapa wajahmu pucat, Sakura?"
Sakura terkejut mendengar pertanyaan tunangannya itu, sesekali matanya melirik ke arah pria yang disebelanya—namun dia memalingkan wajahnya. Dia menghela napasnya dan menyunggingkan senyuman pada anak sulung dari Fugaku dan Mikoto.
"Hanya kelelahan saja, Itachi. Karena aku baru sampai dari kota kecil—Oto," sahut Sakura.
"Lain kali kau lebih memperhatikan kesehatanmu, Sakura," ceplos Itachi.
Baik Mebuki dan Mikoto saling berpandangan satu sama lain. Mebuki lebih dulu menyampakan kegembiraan akan perhatian Itachi pada Sakura. Padahal di lain pihak, Itachi mengatakan itu hanya menunjukkan kekhawatiran saja karena Sakura seorang dokter. Mana mungkin dokternya sakit, bagaimana merawat pasien jika dokternya sakit. Tapi ditanggap lain oleh Ibu dari mereka masing-masing.
"Kalau Ibu dan Bibi berbicara lebih lama lagi. Bisa-bisa Sakura tidak tahan berdiri disana…" celetuk Sasuke seraya menyeruput air putih di gelas.
Wanita musim semi ini bersyukur kalau perhatian kecil dari kekasihnya itu membuat Mikoto dan Mebuki—menghentikan ucapan mereka. Lalu bungsu Uchiha menyuruh Sakura untuk duduk dan ditanggapi oleh Ayahnya Sakura—dan mau tak mau Sasuke hanya menyahutinya engan senyuman tipis. Acara makan malam pun dimulai dan Mikoto langsung membicarakan tentang perjodohan Itachi dan Sakura. Alhasil ketiga anak muda itu menghentikan makannya dan memperhatikan Mikoto berbicara.
"Seperti yang kita akan bicarakan hari ini adalah perjodohan Itachi dan Sakura. Maka dari itu…" Mikoto langsung melirik ke arah perempuan musim semi. "…Sakura, apakah jawabanmu setuju atau tidak mempercepat pernikahan kalian?"
Sasuke berusaha menulikan segala apapun dari perkataan yang akan terlontar dari mulut Sakura. Walau siap secara fisik—namun hati yang belum siap menerima. Kami sama batin Sasuke dalam hati. Sedangkan Sakura sudah memantapkan perkataannya dan pilihan tentunya. Dia telah menetapkan siapa yang menjadi pelabuhan cinta terakhirnya.
"Sebelumnya saya meminta maaf jika nantinya keputusanku berbeda apa yang kalian nginkan. Tapi ini adalah pilihanku dan aku tidak akan menyesali pilihan ini. Aku tidak ingin memilih salah untuk kedua kalinya," ucap Sakura.
Fugaku menangkap tidak ada yang beres dengan kondisi fisik dari calon menantunya itu. "Kau baik-baik saja, Sakura?" tanyanya.
Perempuan musim semi itu terpaku mendengar ucapan Fugaku. Dia tidak menyangka kalau wajah pucatnya bisa diketahui oleh calon mertuanya itu—berbeda dengan Mikoto—istri dari Fugaku Uchiha. "Aku baik-baik saja, paman."
"Oh begitu," respon Fugaku.
Sedikit berdehem pelan, Sakura melanjutkan ucapannya. "…tentang perjodohan ini sebernanya aku belum siap maka dari itu aku terima saja—kemungkinan aku bisa belajar tapi—" wanita beriris teduh itu merasakan rasa sakit di kepalanya dan pandangannya perlahan mengabur.
Adik bungsu dari Itachi Uchiha ini sangat khawatir dengan kondisi Sakura. Seharusnya pembicaraan ini tidak dilanjutkan karena—wajah Sakura semakin terlihat pucat. Tapi lagi dan lagi—Sasuke ingin mengucapkan kata protesnya, Sakura langsung melanjutkan ucapannya.
"…nyatanya aku tidak—"
Bruuk…
Sontak mereka yang ada disana terkejut dan yang terlebih dulu cepat reaksinya adalah si bungsu Uchiha. Dia langsung menggendong Sakura di tubuhnya. Baik orang tuanya dan orang tua Sakura kaget ketika Sasuke yang lebih sigap dibandingkan Itachi. Tapi segala kebingungan itu segera dijawab oleh Itachi sendiri.
"Wajar saja dia lebih cepat, karena dia yang terlebih dulu melihat dan bergerak. Lagipula ini demi—"
Sasuke cepat memotongnya. "—demi calon kakak iparku. Kalian jangan salah paham dulu," dustanya.
"Ayo, kita bawa ke rumah sakit sekarang," ajak Fugaku.
Mereka pun berjalan keluar dan diikuti oleh Sasuke yang menggendong Sakura—sedangkan Itachi masih terdiam disana. Dia tertawa kecil dalam hati mendengar perkataan Sasuke, apalagi dia pikir kalau ucapan adiknya itu adalah kebohongan. Mana mungkin dia bisa membohongi ucapan itu padanya, dia sudah tahu kalau hubungan antara Sakura dan adik bungsunya sangat jauh dibanding dengan perkiraannya. Jikalau berbicara tentang hubungannya, dia merasa sama halnya dengan adiknya sendiri. Kini dia menjalani diam-diam hubungan akhir-akhir ini.
Demi apapun dia ingat perkataan perempuan yang perlahan mengisi hatinya lagi.
"Kau harus memilih, Itachi."
Sial, rutuknya dalam hati. Dirinya mengindahkan pemikiran itu dan langsung menyusul mereka ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Sakura. Bahkan dalam hatinya dia belum siap kemungkinan di luar pemikirannya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Konan?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Raut panik terlihat jelas di wajah Mebuki dan Mikoto. Mereka tidak menyadari bahkan hanya para laki-laki yang tahu akan kondisi fisik Sakura sekarang. Mereka berdua terlanjur menikmati ketidaksabaran akan kelanjutan perjodohan Itachi dan Sakura, Berbeda dengan Sasuke dan Itachi yang memilih untuk masuk di mobil yang berbeda. Sebelum Fugaku dan Kizashi menanyakan lebih lanjut—kakak beradik itu mengatakan tidak muat jika hanya satu mobil saja.
Sekarang kakak beradik ini memilih untuk di dalam mobil yang sama dan yang mengendarainya kali ini—adalah Itachi. Sedangkan Sasuke duduk di kursi penumpang di sebelah kakaknya. Keheningan sempat melanda kakak beradik Uchiha ini—sampai Itachi memecahkan kesunyian ini.
"Kau mengatakan hal yang berbeda dengan hatimu, bukan begitu Sasuke?" tanyanya.
Sasuke menatap kakaknya dari samping kemudian berbalik lagi menghadap pemandangan di luar kaca mobil. "Aku hanya mengatakan yang sebernanya, kakak…"
"Itu tidak berlaku padaku, baka! Dari tatapanmu dan ucapanmu sangat berbeda," seru Itachi.
Laki-laki berambut emo itu menyeringai tipis. "Aku sudah bilang—aku harus bersikap biasa dan hal itu yang katakan padaku hm?" ujar Sasuke.
"Kita ini seperti menjalani hubungan diam-diam dan di depan banyak orang kita selalu berdusta…" ucap Itachi.
Sedikit tertarik, Sasuke melirik kakaknya. "Kenapa baru sekarang?"
"Karena baru sekarang dia muncul."
Sasuke menghela napas gusar. "Mau menyakiti Sakura lebih dari ini? Ku harap kau tidak lakukan itu, kakak," pintanya.
"Bagaimana ada hal yang di luar pemikiran kita membuat kita harus menerimanya dengan berat hati?" tanya Itachi.
Sasuke hanya terdiam mendengar perkataan kakaknya dan melihat kalau mereka sudah sampai di rumah sakit. Tak berlangsung lama mereka menghentikan laju mobil dan keluar darisana. Akan tetapi, Sasuke yang terlebih dulu mengangkat tubuh Sakura menuju kasur yang disediakan oleh perawat yang siap sedia—bila ada pasien yang datang.
Mereka berenam mengikuti dari belakang—para perawat yang membawa Sakura ke dalam ruangan pemeriksaan. Mau tak mau mereka rela menunggu hasil pemeriksaan dokter kurang lebih sepuluh menit. Mebuki dan Mikoto duduk di kursi sedangkan Kizashi dan Fugaku memilih untuk berdiri di samping istri mereka. Berbeda dengan kakak beradik yang menyenderkan tubuhnya dinding dan saling berhadapan.
Raut wajah mereka terbaca kecuali untuk Sasuke yang memilih untuk memasang wajah datar di depan mereka semua. Bungsu Uchiha itu agak menjauh dari mereka, karena dia pikir yang dokter cari adalah orang tuanya atau tunangan—lebih mudah adalah kekasihnya. Dia tersenyum merendahkan diri sendiri. Padahal dia adalah kekasih dari wanita musim semi itu, tapi kenapa dia rela kakaknya untuk berdiri disana. Bukan dia.
Suara deritan pintu ruangan pemeriksaan terbuka dan Mebuki serta Mikoto terlebih dulu—berhadapan dengan dokter yang memeriksa Sakura. Dengan senyum sumringah, dokter itu memandang semua orang yang menunggu hasil pemeriksaannya.
"Siapa diantara kalian yang dekat dengan pasien bernama Sakura?"
Mikoto yang langsung menjawab pertanyaan dari dokter perempuan itu. "Ini…" Ibu dari dua anak ini menunjuk Itachi. "…adalah tunangannya." Lanjutnya.
Dokter itu sedikit berdehem pelan. "Kalau begitu ku ucapkan selamat padamu Itachi-san."
"Memangnya apa yang terjadi pada anak kandungku, dok?" tanya Mebuki penasaran.
"Pasien bernama Sakura Haruno sekarang tengah—"
Sasuke langsung menjauh ketika dokter perempuan itu mengatakan hal yang tidak ingin didengarnya. Namun langkahnya terhenti untuk tidak dicurigai oleh kakaknya. Dirinya siap akan apapun kemudian berbalik menghadap mereka dari kejauhan.
"—mengandung dua minggu."
Seolah ini bukan mimpi baik orang tua Itachi dan Sasuke serta orang tua Haruno. Mereka tidak mempercayai kalau hubungan perjodohan mereka sudah sejauh ini. Mikoto langsung menghamburkan pelukan pada Fugaku, sama halnya dengan Mebuki bersama Kizashi. Akan tetapi, berbeda dengan Itachi yang terpaku mendengarnya. Padahal anak yang di perut Sakura sekarang bukanlah anak kandungnya.
Itachi tahu—sangat tahu jika benih yang tertanam di rahim Sakura adalah—
Puuk…
Bahu anak sulung Uchiha itu tertepuk dan pelakunya adalah adiknya, seraya mengulum senyuman tipis—adiknya mengucapkan selamat untuknya. Tapi terdengar itu bukan hal yang paling tidak ingin dia ucapkan sebernanya. Tanpa menunggu balasan ucapan, adiknya langsung pergi meninggalkan mereka disini.
"Selamat kakak atas kehamilan tunanganmu, dan aku harap kau tidak akan menyakitinya."
Lagi dan lagi, Itachi menjadi pengecut sekarang. Dia mengumpat dalam hati kalau dia tidak bisa mengatakan apa-apa, melainkan adiknya yang banyak berkorban. Dia bahkan merelakan kekasihnya untuk dilindungi, cih, seharusnya yang berada di posisinya adalah adiknya—bukan dia.
Seraya menatap adiknya dari belakang, Itachi berkata sangat pelan. "Ternyata kau orangnya… Sasuke. Seharusnya kau ada di posisi ini—bukan aku."
.
.
.
.
.
.
.
Anak bungsu Fugaku dan Mikoto ini langsung menyender di dinding dan membantingkan tangannya di lantai. Dirinya langsung duduk lalu menundukkan kepalanya untuk menutupi rasa sakit yang ia rasakan sekarang. Bisa-bisanya, dia kabur dari tanggungjawab ini. Padahal kalau dipikir seharusnya dia berkata yang sebernanya. Tapi pada kenyataan, dia tidak bisa jujur—melainkan meminta sang kakak untuk menggantikannya.
Ini namanya mempermulus dan mempercepat pernikahan kakaknya dengan Sakura. Bahkan terlihat raut bahagia tercetak jelas pada orang tua mereka masing-masing. Lagi—dia tidak bisa menghancurkan kebahagiaan itu. Seharusnya dirinya bahagia—melihat kakaknya bahagia. Tapi kenapa. Kenapa rasanya sepedih dan sesakit ini. Tanpa ia sadari air mata meluncur di kelopak matanya dan mengartikan dia sangat rapuh sekarang.
"Benarkah kau Sasuke?"
Sasuke terkejut lalu langsung menghapus air matanya dan menatap siapa yang memanggilnya. Perempuan berambut ungu ini tersenyum tipis lalu melanjutkan perkataannya tertuju pada Sasuke, akan tetapi sebelum ucapannya keluar—Sasuke terlebih dulu berkata dengan raut keterkejutannya.
"—Konan-nee, kaukah itu?"
.
.
.
.
.
.
. .
.
.
.
.
.
.
*To be Continued*
Y*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*Y
Wulanz Aihara Uchiha Notes
Sepertinya fic MC ini dulu yang saya update dikarenakan idenya muncul yang ini. Aku tidak akan menelantarkan fic MC-ku yang lain. Tapi ide itu belum muncul juga hehehe^^.kalau memang alurnya agak cepat dan agak datar, saya mohon maaf. Karena antara ide MC dan OS saling bertabrakan. Lagipula aku juga memikirkan Dunia nyata juga, aku harus menyelesaikan skripsi .
Thanks for Reading and Review my fict ^^
Putri Hassbrina, mako-chan, hiruka aoi sora, Novi Shawol'Elf, ahalya, QRen, Karasu, ucciu, Morena L, sasusaku uciha, Mizuira Kumiko, Zecka S. B. Fujioka, Yara Aresha, emerallized onyxta, Franceour, MuFylin, hanazono yuri, Mo males login, Guest (2x), Uchiha Matsumi, Dark Courriel, LAW, Yoon Ji Yoo19, ocha chan, esposa malfoy, Uchiha Shesura-chan, hachikodesuka, Alifa Cherry Blossom, MasyaRahma, Yumi Murakami, Love Foam,Neko Darkblue, zhao mei mei, Clarione, jingga, ridafi chan, HazukiFujimaru, Alifa Cherry Blossom,crystallized cherry, Dhezthy Uchiha Sasusaku Lovers, jitan88, Aozora Strawchan, Yumi Murakami, UchiHaruno, Mireren, franceour, Hatake Ridafi kun, Ay, SugarlessGum99, Radit, hanazono yuri, Natsumo Kagerou, The wind, Cimut Masakura
Palembang, 03 September 2013
Tsurugi De Lelouch
