Galerians, in.

A/N: Keterlambatan apdet terjadi karena hamba adalah seorang penggemar semua seri game Final Fantasy, dan ketika minggu lalu teman hamba mengabari bahwa english patch untuk FF Type-0 sudah komplit 100%, hamba akhirnya langsung membongkar lemari dan mengeluarkan PSP hamba yang sudah berdebu agar bisa cepat-cepat main. Dan karena itu game musti dimainin sebanyak dua kali playthrough dulu supaya story-nya bisa komplit seratus persen... yah, makanya hamba sampai perlu waktu seminggu buat nyelesaiinnya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Sekarang, menyangkut urusan fic. Pertama, hamba mau mengingatkan satu hal. Semirip apapun penampilan mereka dengan manusia, Sona, Rias, dan yang lainnya, tetaplah kaum Iblis. I-B-L-I-S. Bahkan di canon sekalipun telah dijelaskan bahwa Iblis adalah kaum yang serakah, seperti yang sudah dikatakan oleh Rias dalam Highschool DxD New, episode 7. Sona dan Rias bukan manusia, dan tidak hanya itu, mereka juga berasal dari kaum Iblis bangsawan berdarah murni. Itulah konsep yang ingin hamba tekankan. Jadi saat anda membaca fic ini, tolong jangan menilai atau mengukur tingkah laku dan perbuatan mereka dari standar-standar dunia kita, seakan-akan norma dan budaya dunia Meikai itu sama dengan dunia manusia. Namanya juga beda spesies, jadi apa mau dikata?

Lalu satu lagi, ingatlah bahwa di fic The Radiant Sun of Kuoh Academy, Naruto adalah seorang ninja. Jadi jangan harap dia akan bertingkah seperti karakter utama novel-novel bertema kehidupan anak sekolahan yang seringkali hanya berisi kisah cinta monyet, pacaran, atau romansa tipikal anak-anak remaja.

Lastly, my deepest apology for this rant. Right, on to with the chapter!

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Tries to Help a Devil

Chapter 4

(How to Properly Take Responsibility)

Otak Naruto langsung berputar dengan kecepatan tinggi untuk membuat rencana. Dari jadwal transportasi yang terpasang di dinding ruang kerja di rumahnya, Naruto mengetahui bahwa walau dia bisa lebih cepat pergi kalau memilih kereta api yang akan berangkat lima menit lagi. Tapi setelah dipikir-pikir ulang, shinobi yang sudah tiga tahun lebih mengembara dunia itu memutuskan untuk memilih pergi ke bandara karena dia perlu setidaknya sepuluh menit untuk pulang dan mengemasi semua barang-barang penting di rumah sewaannya. Lagipula, dengan pulang terlebih dahulu, dia bisa mem-booking tiket pesawat terbang melalui telepon rumah mengingat ponsel genggamnya sudah rusak beberapa hari yang lalu. Kalau semuanya lancar, maka dia akan bisa mengambil penerbangan jam tiga sore yang akan membawanya ke Bandara Miyakejima di prefektur Tokyo, dan dari sana dia bisa naik bis atau taksi ke Bandara Haneda yang bisa membawanya keluar dari negeri kepulauan ini.

Walau nampaknya panjang, renungan itu sebenarnya sudah Naruto pertimbangkan dan canangkan sejak hari pertama ia tiba di kota ini sehingga sudah hampir selesai ketika shinobi itu baru mengambil satu langkah. Hanya saja, ketika dia baru berniat menggunakan Hiraishin agar bisa pulang ke rumahnya dengan lebih cepat seiring jejakan kakinya yang kedua, Naruto mendapati bahwa langkahnya tidak bisa selesai karena gerakannya sudah lebih dulu ditahan seseorang.

Naruto menoleh, dan dibuat bingung mendapati bahwa tangan yang memegangi ujung lengan kiri blazernya itu dimiliki oleh ketua OSIS yang sekarang menatapnya dengan mata bersinar panik. "...Ojou-sama?"

Sona mencoba untuk mengatakan sesuatu namun mulutnya hanya bisa mangap-mangap tak berdaya karena otaknya masih dalam keadaan buntu. Setelah beberapa kali percobaan yang tak membuahkan hasil, Sona membatalkan niat untuk mengekspresikan isi hatinya melalui kata-kata dan memilih untuk melakukan satu-satunya hal yang muncul di kepala.

Sona menarik dan memutar tubuh remaja pirang di depannya dengan paksa, sebelum suara 'plak' nyaring berbunyi dan bergema dalam ruangan untuk sepersekian detik ketika tangannya menampar pipi sang shinobi yang hanya bisa melongo karena tak mengerti kesalahan apa lagi yang sudah dia lakukan untuk menerima hukuman seperti itu.

"Dasar cowok bego!" Gara-gara rasa panik yang telah menyapu bersih kekalemannya, Sona berteriak dengan suara keras sambil mencekal kerah Naruto dan menariknya hingga wajah mereka hanya terpisah jarak beberapa inci. "Jalan pikir macam apa yang sudah kau gunakan, sampai kau memutuskan bahwa kau bisa menyelesaikan semua permasalahan dengan meninggalkan kota ini?!"

"T-tapi..." shinobi pirang itu terbata. Dia sendiri tak tahu kenapa, tapi otak Naruto yang seharusnya sekarang sudah mempersiapkan argumen malah hanya termangu karena tak mengerti apa yang menjadi alasan kemarahan Sona. "A-aku pikir—"

"Kau tidak berpikir!" sang ketua OSIS menyela sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Kau! Tidak! Berpikir!" Sona menghardik sambil mengguncang tubuh remaja berotak bebal yang selalu saja membuatnya khawatir itu. "Apa kau tidak sadar kalau meninggalkan kota ini sama sekali tidak mengatasi apa-apa?! Setelah membuat situasi jadi runyam, kau seharusnya bertanggungjawab! Bukannya malah lari dari masalah!"

"...Lari?" dahi Naruto berkerut. "Kaukira aku memutuskan meninggalkan kota ini karena aku mau lari?"

Sorot mata yang menajam itu membuat Sona sedikit terintimidasi, namun reaksi itu adalah bukti bahwa Naruto sudah mematuk umpannya. "Lalu apa lagi yang sebenarnya ada dalam kepala bebalmu itu?!"

"Aku berniat pergi karena aku tak mau menyusahkanmu lagi!" Naruto melangkah maju sampai ujung hidung kedua remaja itu hampir bersentuhan. "Kau tahu sendiri orang seperti apa aku ini! Tidak setengah bulan yang lalu, aku sudah meneriaki dan memaki-makimu, bahkan sampai menyakiti perasaanmu hanya gara-gara aku dengan seenaknya berprasangka buruk, prasangka yang ujung-ujungnya tidak terbukti! Dan kali ini, gara-gara aku yang terlalu panas hati, aku hampir saja membuat sekolah ini jadi tempat untuk ajang saling bunuh dan membahayakan siswa-siswa lain hanya karena ulahku yang tidak disertai pikir panjang! Aku sudah membuatmu terpaksa mengerahkan semua Peerage-mu untuk menjaga rahasia keberadaan kaum Iblis! Aku bahkan sudah membuatmu harus ikut turun tangan secara langsung untuk menghentikanku dan menyelesaikan masalah antara Rias dan Riser yang sebenarnya takkan jadi seburuk itu andai saja aku lebih berkepala dingin!"

Naruto menggertakkan giginya kuat-kuat dan memejamkan matanya rapat-rapat. "Setelah apa yang terjadi karena sifatku yang serampangan, keberadaanku di sekolah ini... keberadaanku di kota ini tidak akan menguntungkan siapapun! Bagaimana kalau Riser memutuskan untuk menuntut balas?! Bagaimana kalau dia menyerangku ketika aku sedang berada di dalam kelas?! Kalau sampai hal itu terjadi, sebagai ketua OSIS yang peduli pada keselamatan murid maka kau pasti akan terlibat lagi! Aku tak mau kalau kau sampai harus terlibat masalah dan turut menanggung konsekuensi hanya karena aku sudah berbuat sembrono!" Naruto meraih dan mencengkeram bahu Sona dengan frustrasi tergambar jelas di mata biru langitnya.

"Aku tak rela melihat kau terjerumus dalam bahaya karena aku, Ojou-sama!"

Sona hanya mampu terpana saat ia lagi-lagi dihadapkan dengan sifat tanpa pamrih yang selalu berhasil membuat hati sang gadis Iblis renyuh. Selalu, selalu, selalu, dan selalu saja dia dibuat tak bisa mengucapkan kata-kata oleh sisi mulia Naruto yang tak pernah mendahulukan kemauannya sendiri dan memilih untuk selalu memikirkan kepentingan orang lain. Bahkan ketika situasi sudah menjadi begitu berbahaya, remaja berambut pirang dengan mata biru langit yang senantiasa hangat itu tak pernah gagal untuk mendahulukan keselamatan orang lain, seakan-akan dia menganggap keselamatan dirinya sendiri bukanlah hal yang pantas dikhawatirkan. Seakan-akan dia telah menutup pintu hati bagi seorang [Namikaze Naruto], sehingga kepedulian dan kasih sayang dalam hati pemuda itu hanya bisa dicurahkan pada orang-orang di sekelilingnya.

Dia selalu siap membantu, selalu siap menolong, selalu siap berkorban, seakan-akan Naruto sudah tak tahu lagi cara untuk mencintai, menyayangi, dan mempedulikan dirinya sendiri.

Sona mendongak, dan dia takkan pernah bisa menyangkal bahwa hatinya sempat berhenti berdetak ketika melihat mata biru langit itu menyimpan perhatian dan kekhawatiran yang saat itu ditujukan untuk Sona dan hanya untuk Sona.

Tanpa ia ketahui, hasrat dalam hati Sona membulat dan mengeras menjadi tekad. Dia yang sudah menerima perhatian dan kepedulian seperti ini takkan pernah lagi bisa dipuaskan oleh yang lain. Sona takkan pernah lagi puas kalau bukan Naruto yang memperhatikannya, takkan pernah lagi puas kalau bukan Naruto yang mempedulikannya... dan takkan pernah lagi puas kalau bukan Naruto yang menyayanginya.

"Naruto-kun," dia berbisik pelan. "Aku mengerti kalau kau tidak ingin membuatku berada dalam bahaya. Tapi kau harus sadar bahwa saat ini, mau tidak mau aku sudah terlalu terjerumus dalam masalah yang kausebabkan ini."

Mata Naruto melebar dan memancarkan sakit, seakan-akan memikirkan bahwa dia telah melakukan hal yang menimbulkan kemungkinan bahaya bagi Sona sudah cukup untuk menciptakan pedih di jiwa yang begitu dalam sampai turut menjalar ke setiap syaraf fisiknya.

Sona hanya tersenyum tipis. "Tapi karena itulah kau tidak boleh meninggalkanku, Naruto-kun," Sona meraih dan menangkupkan tangannya di pipi wajah yang dihiasi tanda lahir menyerupai kumis itu. Sona tak mengerti bagaimana dia masih bisa hanya menyunggingkan senyum tipis ketika sukmanya sudah dirundung rasa bahagia yang begitu meluap-luap sampai jantungnya berdebar sangat kuat seperti mau meledak. "Kalau kau memang benar-benar ingin bertanggungjawab, maka mulai sekarang, kau harus tetap ada di sini untuk melindungiku. Menjagaku." Sona terus mendekat sampai dada mereka bersentuhan. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa suaranya kini telah serak dan hanya tinggal berupa desahan. "Mendampingiku."

Tanpa ia sadari, kaki Sona telah berjinjit tinggi-tinggi selagi tangannya menarik turun kepala Naruto. Wajah mereka mendekat dengan begitu pelan-pelan sampai Sona bisa merasakan hembusan napas Naruto yang hangat di permukaan kulit wajahnya. Biru langit dan ungu violet terus saling tatap sementara bibir mereka yang basah dan sedikit terbuka terus memotong jarak, membuat dada Sona berdebar begitu keras sampai rasa-rasanya jantung gadis itu sudah bergerak naik ke tenggorokannya yang terasa kering oleh dahaga yang hanya bisa dipuaskan oleh bibir yang sudah hampir bisa ia cicipi hanya dengan berjinjit sedikit lagi—

"Ehem."

Sona yang sempat lupa diri langsung menghentikan gerakannya ketika teringat dia sedang berada di mana.

Dengan sangat cepat sampai hampir terlihat berkelebat, tangan Sona berubah posisi dan mendorong dada Naruto sampai tubuh mereka yang tadi sudah begitu rapat sampai seperti menyatu langsung terpisah oleh jarak selangkah. Tak butuh waktu lebih dari satu detik sampai akal sehat Sona dibentur oleh kesadaran bahwa dia hampir saja melakukan sesuatu yang bersifat sangat pribadi dan teramat memalukan di depan banyak orang, membuat ahli waris Klan Sitri itu hanya mampu menundukkan kepala dalam-dalam sebagai usaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam dan begitu panas sampai dia yakin pipinya pasti sudah bersinar seperti bara menyala.

"...Wauw," kesunyian yang baru berlangsung sebentar itu kembali dipecahkan oleh suara Issei. "Bener-bener—Aku nggak—Tadi itu—" dia berkali-kali mencoba dan terus saja gagal mengekspresikan pendapatnya, sehingga akhirnya Iblis remaja dengan rambut cokelat tua itu hanya memilih untuk mengucapkan, "Wauw."

Asia telah lama bersembunyi di belakang Issei, walaupun rona merah delima yang mewarnai pipinya adalah bukti bahwa gadis bekas biarawati itu tak henti-hentinya mengintip dari balik lengan Issei tempatnya menyembunyikan wajah karena malu.

"Ufufufu..." di wajah Akeno kini sudah terpasang ekspresi yang begitu cerah seakan-akan dia baru saja memenangkan lotere jumbo seharga ratusan ribu yen. Senyum di wajah gadis Iblis berambut hitam yang dikuncir kuda itu terus melebar sembari tangannya mengipas-ngipas wajah. "Aduh, kenapa ruangan ini tiba-tiba jadi panas ya?"

Kiba berdiri dalam posisi istirahat di tempat sembari membuang muka dengan mata dipejamkan dan pipi sedikit merona, sementara Koneko memberi satu komentar yang hanya berisi dua kata. "...So sweet."

Rias yang tadi berdehem berdiri dan bersidekap sambil menatap Sona dan Naruto bergantian dengan mata menyipit dan bersinar begitu tajam seperti sedang berusaha membacok dua remaja satu sekolah itu dengan tatapannya. Tanpa banyak ba, bi, atau bu, sang ahli waris Klan Gremory melangkah maju untuk menghampiri remaja berambut pirang yang entah mengapa masih cengok karena shock. "Na. Mi. Ka. Ze." Tangannya terangkat untuk menjewer pipi Naruto yang sama sekali nggak mengaduh atau ngeh atas situasi. Melihat cowok yang pikirannya masih mengawang entah di mana itu menyebabkan rasa kesal dan cemburu dalam hati Rias meningkat pesat sampai menyebabkan urat di pelipis gadis Iblis berambut merah itu semakin jelas terlihat. "Na! Mi! Ka! Ze!"

Mata Naruto berkedip."...Phoh?" Dia menyahut bego. "Adha apha?"

Rias menyunggingkan senyuman teramat manis yang kalau dicampur dengan matanya yang bercahaya dari buncahan Youki, malah membuat penampilan cewek SMA itu semakin mendekati deskripsi Iblis yang sesungguhnya. "Sudah puas senang-senang?" dia bertanya sinis dengan gigi beradu dan suara mendesis.

"...Phah?" Naruto memiringkan kepalanya sedikit ke kiri. "Shenangh-shenangh aphanyha?"

Rias melepaskan jeweran pada pipi Naruto dan menggunakan tangan yang sama untuk mengacungkan telunjuk ke wajah shinobi itu. "Kau!" jari telunjuknya berpindah ke Sona yang masih tertunduk. "Dan Sona!" Rias mengentakkan kakinya kuat-kuat ke lantai. "Sudah berani bermesraan di depanku!" Rias menarik napas dalam-dalam sampai punggungnya melengkung ke belakang sebelum berteriak. "DASAR COWOK TAK TAHU MALU!"

Kesunyian kembali tercipta dan berlangsung untuk waktu beberapa lama, sampai akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh deheman Sona yang nampaknya sudah berhasil meraih ketenangan diri dengan menjejalkan emosinya di bawah kendali. "Kau tidak perlu teriak-teriak seperti itu, Rias." Suaranya mungkin sudah kembali terdengar tenang, namun rona merah yang masih tersisa di pipinya menjadi petunjuk bahwa gadis Iblis berambut hitam itu harus memaksa diri untuk membuat getar malu tidak mencapai pita suaranya. "Tingkah kekanak-kanakan seperti ini sama sekali tidak pantas untuk seorang bangsawan Iblis sepertimu—"

"Berisik!" Rias kembali mengentakkan kakinya sebelum mengepalkan tangan kanan sementara tangan kirinya dipakai untuk menunjuk wajah Iblis berambut hitam pendek yang merupakan sahabat sekaligus rivalnya itu. "Aku nggak sudi mendengar itu dari cewek yang suka cari kesempatan dalam kesempitan sepertimu!"

Mata Sona terbuka dan menajam sampai tatapannya berubah menjadi delikan. "... Siapa yang 'cari kesempatan dalam kesempitan'?" dia mendesis. "Lagipula, sejak kapan kau punya hak mengomentari setiap tindakanku?"

"'Sejak kapan', katamu?" Rias maju selangkah sambil membalas tatapan Sona dengan mata yang menyipit. "Kau masih berani bertanya 'sejak kapan' setelah bertingkah tidak senonoh di ruang klubku?"

"...'Tidak senonoh'?" alis Sona terangkat tinggi untuk sesaat sebelum mulutnya melepaskan desisan seperti kucing yang marah. "Baiklah, kita bisa bicara soal topik ini kalau kau mau." Sang ketua OSIS menunjuk ke arah bagian ruangan di mana terlihat tirai putih. "Kalau perbuatanku tadi memang tidak senonoh, lalu sebutan apa yang harus kita pakai untuk orang yang tidak hanya membangun kamar shower di ruangan tempat anggota-anggota klubnya berkumpul, tapi juga selalu tidur dengan telanjang bulat sepertimu, hm? Kenapa kita tidak bicara soal itu?"

"K-kau tahu sendiri kalau dari kecil aku hanya bisa tidur kalau nggak pakai baju!" Wajah Rias merona sebelum pipinya menggembung kesal. "Dan memangnya kenapa kalau kebiasaan tidurku seperti itu? Kenapa aku harus malu kalau tak ada satupun cacat di tubuhku?"

Sona turut menyipitkan mata. "Kaukira kau bisa lepas dari aturan etika dan sopan santun hanya karena dadamu besar?"

Walau Sona mencoba terdengar dingin, suaranya tetap menyimpan secercah rasa iri yang membuat Rias menyeringai. "Oh ho?" Gadis Iblis itu melirik dada sahabatnya dengan tatapan sedikit sombong sembari mengangkat-angkat alisnya. "Aku nggak pernah tahu kalau kau merasa tidak puas dengan ukuran dadamu. Apa itu berarti—"

Perkataan Rias macet dan seringainya lenyap dalam sepersekian detik ketika dia teringat sesuatu yang ia dengar beberapa malam silam. Wajah Rias berpaling dan mata opalnya yang melebar terpaku pada tangan Naruto, sebelum kepalanya kembali menyabet ke samping untuk menatap dada Sona dengan mata yang bersinar penuh perhitungan. Dia terus mengulangi dua perbuatan tersebut berkali-kali sampai akhirnya Sona jadi mulai merasa tak nyaman.

"A-apa yang sedang kaulakukan?" Sona bertanya dan menyilangkan tangan di depan dadanya, suaranya sedikit tersendat karena rasa heran tak kepalang saat melihat Rias yang biasanya sangat penuh percaya diri kalau sudah bicara soal ukuran payudara mulai memelototi dada Sona dengan tatapan penuh arti dan... kenapa Sona juga bisa melihat rasa iri? "Kenapa kau terus-terusan—"

Pertanyaan Sona tidak sempat selesai karena Rias sudah terlebih dulu menggeram sebelum menghampiri si cowok pirang dan mencekal kerahnya dengan sebuah sabetan cepat. "Jadi begitu ya? Jadi rupanya begitu ya, Namikaze?" suaranya manis, sangat manis, walau kalau diamati baik-baik, entah mengapa di wajah Rias sedang terpasang ekspresi menyeramkan khas seekor hewan buas yang siap mencabik-cabik mangsanya. "Jadi itu rupanya alasan kenapa kau sama sekali tidak protes dengan perbuatan Sona?! Karena ukuran dada Sona pas di tanganmu, begitu?!"

Jadi itu alasan kenapa Naruto selalu memperlakukan Sona dengan lebih baik?! Dan juga alasan kenapa, tidak seperti remaja-remaja lelaki lain di sekolah ini, Naruto selalu bisa menghadapi Rias dengan tenang?! Karena dia sudah lebih dulu terpikat oleh Sona?! Karena apa yang dimiliki Sona jauh lebih menggiurkan dan cocok dengan selera Naruto dibanding apa yang ada di tubuh Rias?!

Tapi bukankah seharusnya semua cowok-cowok di dunia ini selalu lebih suka dada yang besar?!

Bagi dia yang selalu dilempari pujian dari segala arah menyangkut kecantikan dan keindahan tubuhnya, saat ini adalah kali pertama Rias merasa tak puas dengan tubuhnya sendiri. Dan yang membuat Rias semakin kesal adalah fakta bahwa dia bukannya merasa tidak puas karena terdapat cacat atau kekurangan di tubuh gadis Iblis itu. Dia justru merasa demikian karena apa yang dia miliki malah sudah berlebihan untuk selera seseorang!

Rasa kesal yang terus melangit membuat Rias kalap dan mulai mengguncang-guncang tubuh Naruto. "Dasar mesum! Tak tahu malu! Cowok abnormal!"

Sejujurnya, Naruto masih mencoba mencerna situasi, walau memang terus gagal berkali-kali. Tapi rupanya diteriaki seperti itu menciptakan cukup stimulasi, sehingga setelah mengheningkan cipta sejenak, mulut remaja pirang itu tetap terbuka untuk melancarkan sebuah pertanyaan meskipun akal sehat dan intelegensi Naruto masih tidak nyambung.

"...Kau masih haid ya?"

Efek pertanyaan itu langsung bisa terlihat dalam bentuk Rias yang melepaskan cekalan dan berjalan mundur beberapa langkah sambil mangap-mangap seperti ikan keluar dari air. Sial bagi Naruto, rupanya dia telah melancarkan pertanyaan yang salah di waktu yang tidak tepat, karena tak berapa lama, kondisi Rias yang sempat tak mampu mematerialisasikan kata-kata berubah seratus delapan puluh derajat sampai rambut merahnya turut melayang-layang seakan menjadi bukti kemarahan membara yang sedang dialami pemiliknya.

Sona yang melihat gelagat buruk dari tingkat kekesalan rivalnya itu melangkah ke samping Naruto sambil berusaha memperbaiki situasi. "Rias, tenangla—"

Sayang bagi Sona, sang sahabat yang nampaknya sudah tak bisa diajak kompromi mulai mengeluarkan Youki hitam bernuansa merah dari kedua tangannya sembari menggeram nyaring. "Na~mi~ka~ze~!"

Geraman marah yang menjanjikan siksaan itu mengaktifkan insting bertarung dalam diri Naruto yang masih dalam mode siaga penuh setelah pertikaiannya dengan Riser. Otaknya melakukan kalkulasi dengan secepat kilat dan membuat keputusan bahwa jika Rias benar-benar sampai melepaskan serangan, maka Sona-ojousama akan turut terkena karena posisinya yang berdiri terlalu dekat dengan Naruto. Otak, insting, dan reflek bercampur jadi satu dalam sebuah kerja sama apik yang tercipta dari bertahun-tahun bertempur sebagai seorang ninja dan mengirim perintah yang membuat tubuh Naruto berkelebat untuk bertindak.

Di sudut pandangannya, Sona melihat Naruto mengeluarkan sebuah benda dengan warna kuning abu-abu dari dalam kantongnya sebelum melemparkan benda berbentuk seperti bola kecil itu ke lantai, menciptakan kepulan asap tebal yang menyelimuti seluruh ruangan, menyesakkan napas dan menghalangi pandangan. Sona terus saja tak diberi kesempatan untuk bereaksi karena seseorang telah terlebih dulu meraup tubuhnya sampai kaki ketua OSIS itu meninggalkan lantai, dan dia baru sadar kalau pelaku perbuatan tersebut adalah Naruto ketika pemuda itu membawanya serta sambil melompat keluar dari bangunan sekolah tua itu melalui lubang di dinding ruang klub Occult Kenkyu-bu yang merupakan salah satu produksi dari pertarungannya melawan Riser.

Kata-kata apapun yang ingin diucapkan oleh sang ahli waris Klan Sitri lenyap di kerongkongannya ketika ia tersadar bahwa metode yang dipakai Naruto untuk membawanya adalah dengan menggendong Sona dalam sebuah buaian.

Sona bahkan tak lagi mampu untuk peduli ketika Naruto makin mempercepat larinya sampai pemandangan pepohonan di samping jalan setapak yang dia jalani berubah menjadi kabur sebagai reflek dari mendengar suara teriakan marah Rias yang menggema di belakang mereka. Perhatian gadis Iblis itu hanya bisa terpaku pada lengan berotot keras yang menopang punggung dan lipatan lututnya, serta ekspresi serius yang terpasang di wajah sang remaja.

Dengan wajah yang perlahan-lahan mulai dipenuhi rona merah padam, Sona sama sekali tak sadar kalau dia telah mengalungkan tangan rapat-rapat ke leher Naruto yang membuatnya diliputi kehangatan dan rasa aman, karena intuisi dan hati kecilnya telah memberitahu bahwa selama dia ada di bawah pengawasan dan perlindungan Naruto, selama dia berada dalam pelukan Naruto, tak ada suatu hal apapun di dunia ini yang bisa menyakiti Sona.

Sona tak tahu kapan, tapi saat dia tersadar, gadis Iblis itu mendapati bahwa ia telah membenamkan wajahnya rapat-rapat ke leher Naruto, rasa aman yang dia rasakan semakin menguat kala hidungnya mencium aroma daun segar dan angin musim semi menguar dari tubuh sang remaja berambut pirang yang entah kenapa membuat Sona ingin perjalanan ini tak pernah berakhir agar ia tak perlu terlepas dari pengalaman menyenangkan ini.

~•~

Sona harus bertahan agar tidak meringis ketika dirinya dirundung rasa kecewa, karena ternyata perjalanan yang mereka tempuh berakhir setelah mereka sampai di depan ruang OSIS yang menjadi tujuan. Saking kecewanya, Sona bahkan sama sekali tidak menggubris fakta bahwa Naruto telah mendobrak salah satu jendela bangunan sekolah utama Akademi Kuoh untuk mencapai lantai tiga tanpa harus lewat pintu depan atau belakang dalam usaha agar tak ada orang yang melihat mereka.

Sona yang tahu seperti apa sifat Rias sadar bahwa dia takkan melanjutkan luapan kemarahannya di bangunan yang penuh siswa Kuoh ini, namun keningnya berkerut ketika melihat pemuda itu nampak mengambil kuda-kuda seakan bersiap-siap untuk kembali melesat. Sang ketua OSIS yang sudah mulai mengenal jalur tindakan Naruto tak perlu waktu lama untuk bisa membuat kesimpulan bahwa Naruto pasti ingin pergi lagi untuk mengalihkan perhatian Rias supaya konfrontasi seperti dua malam silam bisa terhindarkan. Dan mungkin memang seperti itulah template jalur tindakan sang shinobi. Memastikan orang yang ia lindungi sudah aman, lalu langsung mengalihkan perhatian musuh walaupun itu berarti dia harus membahayakan dirinya sendiri.

Sona harus menahan diri agar tidak mengeluh frustrasi karena modus operandi Naruto yang selalu saja siap menanggung beban sendirian itu tak pernah gagal membuatnya cemas.

...Yah, walaupun demikian, Sona juga tak bisa menyangkal bahwa justru sifat mulia itulah yang pertama kali membuatnya tertarik, sampai akhirnya dia jadi memiliki perasaan seperti ini pada cowok bebal yang sepertinya hanya bisa mengkhawatirkan orang lain itu.

Dan karena itulah dia harus cepat-cepat berbuat sesuatu sebelum remaja pirang itu sempat menjauh dari jangkauannya.

Naruto yang sudah mengambil ancang-ancang membatalkan niat untuk berlari ketika merasakan tangan Sona yang kecil dan berjari lentik memegangi pergelangan tangan Naruto. "Ojou-sama?"

Sona sadar bahwa tindakannya itu mungkin terlihat agak sedikit terlalu personal bagi mereka yang notabene masih berstatus tak lebih dari teman, Namun walaupun wajahnya mulai kembali merona merah, Sona mengukuhkan pegangannya karena dia masih harus memastikan sesuatu.

"...Naruto-kun," walaupun dia agak malu karena mengetahui bahwa wajahnya yang masih dipenuhi semburat merah pasti sama sekali tidak menyiratkan kekaleman yang biasa ia tunjukkan, Sona tetap mengambil satu langkah mendekat dan membuat pegangannya lebih erat, sambil menguatkan diri untuk mendongak dan menatap Naruto lurus-lurus. "Janji kau tidak akan pergi?"

Kerutan di dahi shinobi itu menjadi kian dalam, dan Sona bisa melihat beberapa emosi yang berkecamuk dan tumpah tindih di wajah Naruto. "Tapi Ojou-sama, aku tak ingin membahayakan siapapun. Bagaimana kalau Riser dan klannya—"

"Mereka takkan menyerangmu," Sona menyela. "Aku bisa jamin itu."

Melihat ekspresi bingung bercampur sangsi di wajah Naruto, Sona cepat-cepat menjelaskan. "Aku sudah memberitahumu kalau Riser adalah anggota Klan Phenex yang memiliki derajat dan reputasi tinggi di Meikai kan? Dia tak mungkin memberitahu keluarganya tentang apa yang terjadi hari ini kalau dia tak mau membuat mereka harus menanggung malu karena salah satu keturunan mereka kalah dalam pertarungan melawan seorang manusia. Riser yang pasti ingin tetap merahasiakan soal kekalahannya tak mungkin melancarkan balasan begitu saja karena hal itu hanya akan mengundang pertanyaan." Sona berhenti sebentar untuk membiarkan informasi itu meresap. "Setidaknya, dia takkan berusaha menyerangmu di tempat terbuka di mana bisa terdapat saksi. Jadi kau bisa tenang."

Mendengar itu, kekhawatiran yang ada di mata Naruto bukannya menipis, tapi malah semakin menjadi-jadi. "Tapi kalau benar Iblis itu merasa malu dan ingin merahasiakan hasil pertarungan kami, bukankah itu berarti kau dan Rias, orang yang menjadi saksi kekalahannya, sekarang juga berada dalam bahaya, Ojou-sama? Bagaimana kalau dia memutuskan untuk membungkam kalian berdua?"

"Apa kau lupa kalau Klan Phenex memiliki hubungan baik dengan Klan Gremory? Kaukira apa yang akan mereka lakukan kalau putra mereka sendiri sampai menyerang Rias yang merupakan ahli waris Klan Gremory?" Sona tersenyum kecil. "Kau juga harus ingat bahwa aku adalah ahli waris Klan Sitri. Riser pasti tahu kalau menyerangku hanya akan menjerumuskannya dalam masalah besar."

Dia sendiri tak mengerti apa yang terjadi padanya, tapi ketika dihadapkan dengan mata biru langit yang sekarang menyiratkan sedikit rasa lega itu, entah kenapa Sona seperti berubah kembali menjadi anak kecil yang tidak ingin ditinggal sendiri, membuat suara Iblis remaja itu turut mengecil sampai hanya berupa bisikan ketika ia mengulangi permintaannya. "Jadi kumohon... jangan pergi."

Andai saja Sona masih seperti dia yang dulu, maka gadis Iblis berambut hitam itu pasti sudah mengucapkan perintah "Kau tidak boleh pergi." alih-alih mengutarakan sebuah permintaan. Namun Sona yang sekarang, Sona yang telah melihat sifat mulia seorang Namikaze Naruto dan tahu bahwa remaja itu pasti menuruti semua permintaan yang Sona suarakan, hanya tahu bahwa dia akan menyesal selamanya kalau dia sampai memanfaatkan Naruto demi keinginannya sendiri. Sona yang sekarang takkan tega, takkan rela, kalau sampai dia tak mampu mengekang sifat egoisnya dan semakin menyusahkan Naruto hanya karena Sona tak tahan kalau remaja itu tak lagi ada di sisinya.

Naruto terdiam sesaat sebelum mengalihkan wajah, alisnya bertaut seperti sedang berpikir keras. Ketika dia bicara lagi, suaranya kecil dan pelan, namun di sana Sona mendapati ada secercah harapan. "...Benarkah tidak apa-apa kalau aku tidak pergi? Benarkah tidak apa-apa kalau aku tetap di sin—"

Sona menyela dengan meraih kedua pipi remaja yang bertubuh lebih tinggi darinya itu dan menggerakkannya agar mereka kembali saling tatap. "Tentu saja."

Ketika Naruto menangkupkan tangannya di atas tangan Sona, Sona bisa bersumpah jantungnya seperti sedang berontak untuk keluar dari rongga dadanya dari bagaimana organ itu terus berdebar kuat sampai degupannya bisa terasa sampai gendang telinga.

Naruto memejamkan mata sembari berkata pelan. "Aku mengerti, Ojou-sama."

Kali ini, Sona yang masih sadar diri harus benar-benar berusaha mengontrol desakan hormon agar tubuhnya tidak bergerak maju dan melumat bibir yang melengkung menjadi senyum tipis itu. Sona harus ingat dia sedang ada di gedung sekolah yang penuh dengan penghuni, dan sebuah koridor di lantai tiga di mana besar kemungkinan dia bisa dipergoki oleh seseorang bukanlah tempat yang tepat untuk melampiaskan luapan emosi yang semakin membuncah dalam hatinya. Saat merasakan Naruto meremas tangannya pelan, Sona cepat-cepat menarik tangannya kembali karena takut kalau-kalau dia gagal mengekang emosinya.

"B-baguslah kalau begitu." Suara Sona sedikit terbata karena dia masih berusaha untuk mengendalikan napas yang sekarang cepat dan pendek demi menenangkan debar jantungnya.

Naruto tidak menyahut. Remaja berambut pirang itu hanya terus menatap Sona dengan senyuman tipis dan tatapan lembut yang membuat hati 'Ojou-sama'nya kebat-kebit dan makin tak tenang.

Sona yang tak yakin apakah dia akan terus bisa mengendalikan diri kalau dihadapkan dengan Naruto yang menatapnya seperti itu segera mengibaskan tangannya dengan sembari setengah menyuruh-setengah memohon. "A-aku yakin kau cukup lelah setelah apa yang terjadi siang ini, Naruto-kun. Kau bisa pulang dulu."

"Baik, Sona-ojousama."

Sona tak tahu apa yang merasukinya. Mungkin instingnya sebagai kaum Iblis yang cenderung impulsif berhasil menang melawan kendali dirinya, atau mungkin Sona hanya merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk memastikan Naruto sudah benar-benar membatalkan niatnya untuk pergi dari Kuoh, atau mungkin berbagai alasan lain yang bisa dia pikirkan ketika di masa depan dia mengingat kembali apa tepatnya yang menyebabkan Sona bertindak seperti itu.

Tapi satu hal yang pasti. Tanpa ia sadari, kaki Sona telah berjinjit tinggi-tinggi dan tangannya meraih lengan baju Naruto untuk menarik sang shinobi pirang yang hanya bisa menerima ketika Sona mendaratkan ciuman singkat di pipinya, sebuah kecupan yang mampir cukup jauh ke samping hingga sudut bibir mereka ikut bersentuhan.

"S-sampai ketemu lagi...!"

Sona cepat-cepat mengucapkan salam perpisahan sebelum berbalik seratus delapan puluh derajat. Dengan terburu-buru, ia segera melangkah masuk ke ruang OSIS sembari menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan pipi yang merona hebat sampai seluruhnya diwarnai merah padam, meninggalkan Naruto yang hanya mampu termangu bego karena otaknya lagi-lagi mengalami konslet hebat dan akal sehatnya menderita arus pendek berat.

Benang-benang intelegensi Naruto yang kusut dan sekarang meringkuk di sudut batok kepalanya cuma mengirimkan satu respon melalui mulut sang pemilik yang masih cengok tak berdaya.

"...Auh?"

~•~

Sore telah menjelang dan mewarnai langit hingga kemerahan ketika pada akhirnya Naruto pulang ke rumah tempatnya berdiam. Namun tak seperti biasanya, setelah reaksi Shiki Fuujin yang jauh lebih kasar dari biasanya, sekarang shinobi hanya bisa berdiri kaku di tempat tanpa melangkah menuju ruang tengah karena jalannya telah dihalangi oleh seorang gadis berambut berbalut kimono, dan entah mengapa, mata merahnya nampak bersinar di kegelapan.

Naruto mau tak mau dibuat berjengit ketika melihat mata bercahaya itu melepaskan kilatan tajam yang membuat sang majikan menggeliat tak nyaman.

"K-Kurama?" Naruto bertanya takut-takut, dan langsung harus menelan ludah karena tenggorokannya mendadak jadi kering saat gadis personifikasi makhluk mistis itu telah melakukan sesuatu yang Naruto beri label fase [Berkacak Pinggang].

Dua tahun lebih yang ia lalui bersama Kurama telah membuat Naruto memiliki wawasan mendalam tentang kemarahan sang Bijuu yang boleh dibilang tidak normal. Melalui proses trial-and-error yang Naruto akui sangat rumit dan berbahaya, sang Jinchuuriki akhirnya berhasil menyimpulkan bahwa Bijuu yang mendiami jiwanya itu memiliki setidaknya lima level luapan kemarahan, dan tak seperti orang kebanyakan, fase [Menghajar] dan [Berteriak-teriak] justru merupakan dua level terendah kalau Kurama sudah memutuskan untuk melampiaskan kekesalannya. Tiga level lain yang lebih tinggi dari itu adalah fase [Wajah Cemberut] yang dilanjutkan dengan fase [Mata Menyipit].

Satu level terakhir yang paling jarang terlihat sekaligus paling berbahaya, adalah fase [Berkacak Pinggang]. Dalam fase ini, ekspresi datar akan turut terpasang di wajah Kurama, suaranya bungkam dengan bibir menipis membentuk garis horizontal lurus. Mata merahnya akan mengeluarkan sinar mengerikan dan kadang-kadang melepaskan kilatan seperti pedang baja memantulkan cahaya. Semua fitur tersebut akan bercampur menjadi satu menjadi sebuah penampilan menakutkan seperti yang tengah Naruto hadapi sekarang.

Naruto harus menahan diri karena instingnya mulai meneriakkan anjuran bahwa ia harus segera mengerahkan jurus Lari Terbirit-birit no Jutsu, karena dia tahu bahwa melakukan hal itu hanya akan memperburuk situasi yang harusnya sekarang ia atasi ini.

"Em, Kurama...?" Naruto mencoba lagi, sembari melancarkan taktik pertama yang telah ia ciptakan untuk menghadapi Kurama yang sedang kesal. Teknik yang ia beri nama [Nyengir Selebar-lebarnya].

Mendapat senyuman itu, mata Kurama malah semakin menyipit.

...Cetar membahana.

Melihat kekesalan Kurama yang justru semakin mendalam, Naruto merutuki dirinya karena sudah berani berpikir bahwa taktik yang sudah terlalu sering ia kerahkan itu akan mampu meringankan suasana. Dan yang semakin sial, taktik-taktik lain yang ia punya bergantung pada kontak fisik, sesuatu yang Naruto anggap menyimpan potensi bahaya karena aura dingin yang masih memancar dari sang gadis yang sudah mulai menepuk-nepukkan kaki kanannya ke lantai.

Apa mau dikata. Kalau sudah begini, maka Naruto hanya bisa pasrah dan melancarkan metode terakhir yang bisa ia pikirkan dengan otaknya.

"Aku minta maaf," Naruto membungkuk begitu rendah sampai bagian bawah dan atas pinggangnya membentuk sudut sembilan puluh derajat. "Aku benar-benar minta maaf."

"...Hmph." alih-alih menerima, Kurama hanya mendengus sembari memejamkan mata.

Gadis yang merupakan perwujudan sesungguhnya dari Kyuubi no Youko itu sadar kalau dia mungkin sudah bersikap sedikit tidak adil pada majikannya. Kurama juga harus mengakui bahwa dia sendirilah yang dulu menginginkan agar Naruto bisa mendapat teman di sekolah ini, tapi kalau ada satu hal yang membuat Kurama berpikir bahwa idenya itu sudah keliru, maka hal itu adalah kenyataan di mana Naruto lagi-lagi didekati oleh perempuan lain. Apakah tidak cukup ketika Kazehana Koyuki, tuan putri dari Yuki no Kuni (atau sudah benar-benar berubah menjadi Haru no Kuni?) menawarkan agar Naruto jadi lawan mainnya dalam film adaptasi Icha-Icha yang notabene pasti akan mendapat rating Dewasa? Apakah tidak cukup ketika Shion, seorang gadis kuil dari Oni no Kuni, meminta agar Naruto membantunya melanjutkan garis keturunan, sebuah permintaan yang kurang lebih tak ada bedanya dengan meminta agar Naruto menghamilinya?

Apakah tidak cukup, ketika remaja bernama Temujin yang telah Naruto selamatkan di penghujung insiden Batu Gelel itu sempat melempar lirikan-lirikan tidak biasa ke arah majikannya sebelum mereka berpisah jalan. Kurama yakin, bahkan teramat sangat yakin, bahwa tatapan-tatapan aneh itu bukanlah sesuatu yang seharusnya ada antara dua orang yang berjenis kelamin sama!

Sebenarnya ada apa sih dengan majikannya? Setahu Kurama, tak banyak yang bisa dikatakan untuk Naruto dari segi penampilan. Okelah, mengingat dia adalah seorang ninja yang telah melatih tubuhnya dari usia sangat belia, majikannya itu memang bertubuh tinggi dengan postur tegap, dada yang bidang, dan bahu yang lebar. Tapi setiap lekuk-lekuk fisik tersebut hampir tak pernah terlihat karena majikannya selalu memilih untuk mengenakan pakaian longgar yang menutupi seluruh badan, selain untuk mempermudah gerakan tapi juga demi menyembunyikan tubuhnya yang penuh bekas luka. Kurama memang tak begitu mengerti seperti apa standar penilaian manusia jadi dia tak bisa dengan pasti mengatakan apakah tuannya itu berwajah tampan atau buruk rupa, namun setidaknya, Kurama sangat yakin kalau Naruto tidak memiliki paras dengan kulit tanpa cacat yang mulus, licin, dan berkelip bling-bling-kling seperti yang dimiliki oleh artis-artis tenar di televisi.

Sejauh pengetahuan Kurama, satu-satunya fitur di penampilan sang majikan yang benar-benar patut dipuji keindahannya adalah mata biru langit Naruto. Berlawanan dengan mata rubi Kurama yang sepekat darah segar dan seterang matahari terbenam, mata Naruto memiliki warna batu topas yang setinggi langit dan sedalam lautan, dan kualitas yang membuatnya paling indah, mata biru beku yang terpasang ketika ia menghadapi lawan itu akan langsung berubah menjadi bersinar dengan kehangatan ketika ia sedang berada bersama orang-orang yang Naruto anggap sebagai teman atau orang-orang yang Naruto sayang. Akan tetapi, walau mata Naruto memang sangat indah dipandang, itu tidak lantas membuatnya menjadi makhluk yang punya kemampuan untuk menyemprotkan feromon dan menggugah birahi lawan jenis di mana-mana hanya dengan kedap-kedip nggak jelas!

Kurama benar-benar tidak habis pikir, apa gerangan yang sebenarnya membuat Naruto selalu saja dikerubuti perempuan seperti gula bertemu semut?! Bukankah masih banyak cowok lain yang lebih tampan di dunia ini?! Bukankah masih banyak cowok lain yang sama atau bahkan lebih pintar di dunia ini?! Kenapa mereka harus mengincar majikan Kurama?! Kenapa mereka semua harus mengincar orang yang harusnya hanya menjadi milik Kurama?! Apa perempuan-perempuan itu mengira kalau mereka bisa dengan mudah merebut Naruto dari Kurama?!

Ha! Terlalu cepat seratus tahun kalau mereka berpikir Kurama akan menyerah tanpa perlawanan!

"Kurama?" suara khawatir Naruto yang terdengar di telinga membuyarkan renungan Kurama dan menyebabkan matanya terbuka.

...Oh, ini benar-benar tidak adil. Bagaimana caranya Kurama bisa terus marah kalau dia sedang ditatap dengan biru langit yang tak pernah gagal membuat sang gadis siluman ingin bermanja-manja pada sang majikan itu?

"Goshujin-sama," Kurama hampir saja gagal menahan diri untuk tidak menghambur ke depan dan memeluk Naruto sekuat-kuatnya ketika melihat bahwa perhatian Naruto sedang terfokus padanya dan hanya padanya. "Goshujin-sama benar-benar ingin Kurama memaafkan Goshujin-sama?"

Walau dia sendiri tidak yakin dia sebenarnya salah apa, Naruto tetap dengan segera mengangguk kuat-kuat karena tak ingin menyia-nyiakan secercah kesempatan yang telah Kurama berikan. Persetan dengan pendapat orang, kalau itu demi mendapat maaf Kurama, maka Naruto bersedia melakukan apa saja!

Saat itu, Naruto sudah siap disuruh berlari dari satu ujung ke ujung lain pulau Jepang, berenang menyeberang lautan, atau bahkan terjun ke jurang terdalam. Dan karena itulah, dahinya berkerut bingung ketika Kurama hanya mengambil satu langkah ke depan sebelum menjinjitkan kakinya tinggi-tinggi.

Kerutan di dahi Naruto bertambah sampai alisnya bertaut ketika melihat Kurama mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dan mendongakkan wajahnya sambil menggumam dengan mata terpejam. "Mmn."

Hening.

Kalau saja otak Naruto diibaratkan sebuah mesin, maka saat ini batok kepala remaja itu pasti sudah mengeluarkan asap berkepul karena saking beratnya bekerja. Tapi bahkan dengan semua usaha itupun, dia masih gagal menangkap apa yang sebenarnya diinginkan Kurama.

"Mmn." setelah kesunyian yang berlangsung cukup lama, Kurama menggumam lagi dengan suara yang sudah mulai tidak sabar. "Mmn!" Kurama mendesak sekali lagi. Kali ini, dia bahkan sedikit mengerucutkan bibirnya agar sang majikan bisa menyimpulkan apa yang dia inginkan.

Tapi bahkan dengan semua petunjuk itu, Naruto yang pada dasarnya memang agak bebal dalam segala hal berbau hubungan interpersonal antara pria-wanita hanya mampu menelan ludah.

"Kurama..." Naruto memanggil dengan suara pelan pertanda bahwa dia telah menyerah. Hatinya sudah pasrah dan siap menerima hukuman apa saja. "Maafkan aku, tapi aku benar-benar nggak mengerti apa yang sebenarnya kau mau kulakuka—"

Naruto tak diberi kesempatan selesai bicara karena mata Kurama sudah menjeblak terbuka dan menyiratkan sinar ganas yang membuat napas Naruto tercekat. Akan tetapi, asumsi bahwa dia akan menerima hukuman dan rasa sakit lagi-lagi keliru karena Kurama ternyata tidak mengangkat tangannya untuk menampar Naruto, tapi untuk mencengkeram dua sisi wajah Naruto—Deja vu?—dan menariknya turun.

Gir-gir yang berputar di otak Naruto ambrol sampai tak bersisa ketika Kurama mengecup bibirnya, membuat wajah sang majikan meledak dengan rona merah dan panas yang menggelora sampai dia yakin ubun-ubun kepalanya pasti sudah menguarkap uap. Namun kelihatannya personifikasi makhluk mistis tersebut belum puas, karena baru satu detik berlalu, Kurama sudah mengalungkan lengan kirinya ke leher Naruto sedang tangan kanannya dipakai untuk menekan belakang kepala sang Jinchuuriki demi merapatkan ciuman mereka, melumat habis bibir sang majikan sampai-sampai kalau ada orang lain yang menyaksikan maka mereka pasti akan berpikir bahwa gadis berambut merah itu sedang berusaha mengulum seluruh mulut Naruto.

Sayang, Naruto tak tahu kegiatan itu berlangsung berapa lama karena otaknya mengalami shutdown sesaat karena kelebihan muatan, dan saat ia sudah sadar lagi, Kurama telah berhenti berjinjit dan sedang menatapnya dengan sebuah senyuman teramat lebar terpasang di bibirnya yang merah dan sedikit membengkak.

Kurama melepaskan pelukannya pada leher Naruto dan melangkah mundur sambil terus nyengir ceria. "Kurama akan menyiapkan makan malam!" dia berseru sebelum berbalik dan mulai berjalan ke dapur dengan langkah-langkah yang begitu ringan sampai gadis itu seperti sedang melayang.

Tidak sampai sepuluh detik kemudian, Naruto akhirnya ngeh pada hal macam apa yang baru saja dikatakan Kurama.

"K-Kurama! Tunggu!" saking tergopoh-gopohnya, Naruto tersandung saat mencoba melepas sepatu dan jatuh terguling-guling ke lantai. "Kurama, rumah ini rumah sewaan! Kita bisa dapat masalah kalau—JANGAN! JANGAN SENTUH KOMPOR ITU!"

~•~

Selesai makan malam dan mandi berendam, Naruto pergi ke ruang tengah sebelum menjatuhkan diri ke sofa yang berseberangan dengan televisi, sehingga tubuh shinobi berambut pirang yang lahir di Desa Konoha itu terbaring melintang dan memenuhi seluruh permukaan furnitur tersebut. Dia sama sekali tak bereaksi walau seorang gadis siluman dengan rambut merah sedang duduk di atas perutnya, mungkin karena tubuh personifikasi makhluk mistis sama sekali tidak terasa berat baginya, atau karena dia memang sudah terlalu terbiasa.

Dengan sepasang sumpit, Kurama menjepit satu gyoza lagi yang kemudian ia sodorkan ke dekat mulut majikannya sambil berkata dengan suara ceria. "Aaa."

...atau bisa juga karena dia memang tidak bisa mengeluarkan rasa keberatan kalau sudah menyangkut tingkah Kurama yang selalu berekspresi cerah ketika dia menyuapi majikannya. Dia tak mengerti kenapa Kurama sangat menyenangi aktivitas yang seharusnya menyusahkan itu, tapi Naruto tak akan pernah protes selama itu bisa memasang senyum di wajah gadis yang telah menjadi bagian setiap kisah kehidupannya sejak mereka pertama bertemu hampir tiga tahun yang lalu.

"Goshujin-sama?" lamunan Naruto buyar ketika ia mendengar suara Kurama dan melihat gadis itu memiringkan kepala dengan sebuah tanda tanya dalam sinar matanya.

Naruto hanya tersenyum malu dan membuka rahangnya, membiarkan Kurama memasukkan gyoza itu ke dalam rongga mulutnya sebelum mengunyah lambat-lambat. Dia menelan makanan tersebut dan membuka mulutnya lagi, namun kali ini Kurama malah meletakkan piring berisi gyoza dan sumpit di tangannya ke atas meja di depan sofa dan memilih untuk menatap majikannya lurus-lurus. "Ada apa, Goshujin-sama?"

Ah.

Naruto harusnya sudah sadar kalau dia takkan pernah berhasil menyembunyikan apapun dari Kurama. Mungkin karena mereka sudah terlalu lama bersama, atau mungkin karena Kurama memang satu-satunya orang di dunia ini yang mengenal Naruto sampai ke sudut mentalnya yang terdalam, tapi gadis siluman itu selalu saja bisa mengetahui kalau ada sesuatu yang membebani benak majikannya.

Dia sangat tidak suka membuat orang lain khawatir, tapi entah mengapa, dia tak pernah lagi bisa memberi label [Orang Lain] pada Kurama, seakan-akan eksistensi gadis itu telah menjadi bagian dirinya sendiri, seakan-akan Naruto tak akan lagi bisa menjadi seorang [Namikaze Naruto] kalau tidak ada seorang [Kurama].

Naruto menghela napas panjang dan berdiam diri untuk beberapa detik ekstra sampai akhirnya dia bicara. "...Dua minggu yang lalu, walaupun ada ratusan siswa di Akademi Kuoh, aku sama sekali tak berharap bisa memiliki hubungan dekat dengan seseorang. Tapi sekarang, aku sudah memiliki lebih dari sepuluh kenalan. Dan dari semua orang itu, empat di antaranya bahkan bisa kupanggil sebagai [Teman]." Dia tersenyum masam. "Nggak tahu kenapa, tapi rasanya aneh saja saat sadar kalau orang yang tidak sopan dan suka ikut campur urusan orang sepertiku bisa mendapat teman sebanyak itu hanya dalam waktu kurang dari sebulan."

Kurama mengangguk tanpa berkomentar, sadar bahwa sang majikan memang selalu berpikiran bahwa dirinya bukanlah seseorang yang patut diperhatikan, apalagi mendapat teman. Remaja yang sekarang selalu ia panggil dengan sebutan 'Goshujin-sama' itu selalu saja berfokus pada sifat-sifat buruknya, dan seperti tak pernah sadar kalau kebaikan hati dan sifat tanpa pamrih yang ia miliki adalah sesuatu yang telah berkali-kali membuat shinobi berambut pirang itu mendapat hormat, serta perhatian bahkan kasih sayang dari orang-orang di sekelilingnya.

Kurama bersidekap. "Kalau Goshujin-sama ingin menghentikan tren itu, mungkin Goshujin-sama harus berhenti membantu setiap orang yang memiliki masalah terlebih dahulu."

Walau ia berkata demikian, Kurama sadar kalau dia sendiri tak punya hak untuk protes, mengingat dialah yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi emosi negatif. Dari sekian lama bergantung pada kemampuan Kurama, Naruto perlahan-lahan turut bisa mengetahui kalau seseorang sedang terbebani masalah dengan mengamati ekspresi wajah, bahasa tubuh, bahkan nada suara yang orang itu pakai. Dan walau Kurama tidak suka melihat majikannya turut menanggung beban orang lain, itu tidak berarti Kurama juga bisa begitu saja berhenti meminjamkan kemampuannya. Karena dia tahu bahwa selama Naruto yang meminta, Kurama selalu siap melakukan apa saja.

Apa mau dikata? Walau sejujurnya Kurama sama sekali tidak peduli pada semua makhluk hidup lain yang ada di dunia ini, Naruto tetaplah satu-satunya orang yang pernah mengenalkan Kurama pada rasa kasih sayang, dan membuatnya merasakan kebahagiaan yang begitu besar sampai seorang makhluk mistis sakti lagi digdaya dan dianggap sebagai yang terkuat di antara sembilan Bijuu itu sekarang telah berubah menjadi gadis yang suka dimanja. Dia tidak rela membiarkan kehidupan majikannya sampai jadi lebih rumit cuma karena dia cemburu melihat Naruto memberi perhatian pada orang lain.

Naruto hanya terkekeh malu-malu. "Kau tahu sendiri aku sudah sangat sering mencoba berhenti, dan terus saja gagal berkali-kali."

"...Hmph." Kurama mendengus. "Goshujin-sama sudah seperti orang yang kecanduan narkoba saja." Gadis itu menaikkan kaki sebelum merebahkan tubuhnya di dada Naruto, membuat sang remaja berambut pirang secara otomatis menggerakkan tangannya untuk melingkupi tubuh gadis personifikasi Bijuu bereekor sembilan itu dalam dekapannya yang selalu memberikan rasa aman dan kehangatan. "Kenapa Goshujin-sama harus selalu baik hati pada semua orang?"

"Entahlah," Naruto memposisikan mulut dan hidungnya di puncak kepala Kurama sembari menghirup aroma rambut gadis itu. "Mungkin karena aku tahu seperti apa susahnya menghadapi semua masalah sendirian. Lagipula, menolong orang itu bukan sesuatu yang salah kan?"

Kurama menggeliat beberapa kali sampai mendapat posisi paling nyaman. Gadis personifikasi makhluk mistis yang dulu mendapat julukan Kyuubi no Youko itu menyusupkan wajahnya ke lekukan leher Naruto dengan sebuah senyuman puas. "Kalau itu memang keputusan Goshujin-sama, maka Kurama tidak akan protes. Tapi Goshujin-sama tidak usah khawatir. Selama Kurama ada di sini, Kurama akan selalu mengurus Goshujin-sama."

Bukan hanya sebuah janji, tapi sebuah sumpah. Kurama tak peduli dia harus melakukan apa dan untuk berapa lama, baik itu sebulan, setahun, atau bahkan sampai ujung masa. Selama dia bisa terus melayani Goshujin-sama, selama dia bisa terus bisa bersama Goshujin-sama, Kurama rela mengorbankan tenaga, jiwa, atau bahkan nyaw—

Kurama tersentak dan lamunannya buyar saat suara terkekeh Naruto yang pelan menghampiri telinganya, sebelum tersadar bahwa pelukan majikannya telah menjadi lebih erat dan tubuh mereka menjadi kian rapat. "Kurasa itulah alasan kenapa aku tak bisa lagi hidup tanpamu, Kurama."

...Ah.

Bagaimana dia bisa lupa? Bagaimana dia bisa lupa bahwa Naruto dan Kurama adalah [Dua Eksistensi] yang berbagi [Satu Nyawa]?

Sungguh, kalau saja dekapan Naruto tidak begitu rapat sampai Kurama hampir tak bisa bergerak, maka gadis itu pasti sudah menampari pipinya sendiri berkali-kali karena sudah berani berpikir bahwa dia punya hak untuk membuang nyawanya yang terikat dengan nyawa majikannya. Namun sebelum pikiran itu sempat terselesaikan, bahkan sebelum Kurama sempat merutuki dirinya sendiri, perhatian gadis siluman itu kembali teralihkan ketika tangan majikannya bergerak untuk mengelus kepala Kurama, membuat wajahnya terasa panas seakan-akan ada api yang tiba-tiba membuncah di balik kulit pipinya.

"...Tentu saja, Goshujin-sama." Kurama membenamkan wajahnya yang merah padam lebih dalam ke lekukan leher Naruto sebelum melanjutkan bisikannya dalam hati.

'...Sebagaimana Goshujin-sama yang tak bisa hidup tanpa Kurama, Kurama juga tak mau hidup tanpa Goshujin-sama.'

To be Continued...

A/N: Hamba akui, fic buatan hamba memang seringkali beralur lambat. Kenapa? Karena menurut hamba, perkembangan hubungan antar karakter itu tidak mungkin terjadi dalam waktu sebentar. Dalam perspektif hamba, rasa suka atau kedekatan itu harus jelas munculnya dari mana, dan melalui proses yang bisa dipercaya. Lalu, jujur saja hamba paling nggak suka kalau membaca tokoh-tokoh yang langsung jatuh hati sampai jungkir balik dan klepek-klepek sama seorang karakter hanya setelah satu kali pandang, seakan-akan karakter itu adalah keturunan bidadari yang harusnya cuma ada di surga. Jatuh cinta hanya karena penampilan atau kemampuan, dengan alasan seperti 'Karakter itu tampan', 'Karakter itu cantik', atau 'Karakter itu kuat'? Sori saja, jalan cerita yang superfisial dan dangkal semacam itu sama sekali bukan style hamba.

Hamba akui hamba ini cuma seorang penulis amatiran, tapi di mata hamba, rasa cinta atau kasih sayang itu tak boleh diberikan hanya karena penampilan menawan macam cinta monyet anak-anak ABG di sinetron tv, tapi berdasar pada sifat. Tapi hamba juga sadar bahwa setiap orang punya selera berbeda, jadi pada readers yang tidak setuju dengan gaya menulis hamba, hamba tidak akan memaksa. Hamba tidak keberatan anda meninggalkan fic ini kalau memang anda sudah merasa bosan. Hamba yakin di luar sana masih banyak fic lain yang sesuai dengan selera anda.

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.