Galerians, in.

A/N: (Warning: A/N chapter ini cukup panjang. So please, bear with me.)

Apdet jadi sangat lambat karena hamba ngambil libur nulis dulu selama pulkam buat Hari Raya, jadi baru sempat beberapa hari menulis. Hamba mohon kesediaan hatinya untuk memaafkan hamba, sekaligus hamba juga ingin mohon maaf lahir batin.

Baiklah, lanjut ke urusan fic.

Seperti yang sudah diposting sebelumnya, chapter Omake ini dimaksudkan untuk mengungkap sedikit latar belakang dan masa lalu Naruto di universe buatan hamba. Jujur, sebenarnya hampa pingin memposting chapter yang satu ini di fic Tale of The Radiant Sun, tapi diposting di fic The Radiant Sun of Kuoh Academy karena beberapa alasan. Pertama: seperti yang sudah berkali-kali hamba ungkapkan, universe fic TOTRS dan fic TRSOKC adalah universe yang sama, jadi cerita background-nya juga tidak berbeda. Kedua: kalau dihitung rata-rata, jumlah Views fic TRSOKC lebih banyak daripada fic TOTRS. Jadi dengan begini, akan lebih banyak orang yang bisa membaca Omake ini. Ketiga: hamba gak kepingin memposting satu chapter di dua fic secara sekaligus karena hal itu bisa dilihat sebagai usaha menambah jumlah reviews.

Dengan alasan-alasan di atas, hamba mohon pada readers supaya bisa menganggap apdet ini sekaligus sebagai apdet fic Tale of The Radiant Sun.

Hamba juga menulis Omake ini untuk kepuasan pribadi. Karena jujur saja, hamba sudah lama sekali tidak menulis interaksi antara Naruto dan Jiraiya yang sebenarnya sangat hamba suka. Hamba juga gak tahu kenapa, tapi komunikasi antara guru mesum dan murid bego seperti mereka berdua terasa sret aja di hati hamba. Ngomong-ngomong, HarisHeavenStar? Keinginan anda terkabul.

Selanjutnya, hamba ingin mengungkit kebingungan soal Kurama dan Yasaka. Hamba mau mengingatkan dulu, Kurama adalah Kyuubi no Youko (Nine Tailed Demon Fox), sedangkan Yasaka adalah Kyuubi no Kitsune (Nine Tailed Fox). Kurama adalah seorang Bijuu, sedangkan Yasaka adalah seorang Youkai. Penjelasan singkatnya, mereka berbeda spesies.

Pertanyaan dari review Motochika Chokosabe juga patut mendapat perhatian, jadi akan hamba copy-paste jawaban hamba pada dia kemarin hari.

1. Dari chapter pertama saja diberitahukan bahwa Jiraiya mendaftarkan Naruto ke sekolah dengan harapan agar muridnya itu bisa [Mempelajari Cara Bersosialisasi] lagi, karena dalam pengembaraannya bersama Jiraiya, hidup Naruto sudah sedikit terisolasi dari khalayak ramai, padahal ninja di jaman modern harus bisa membaur dengan masyarakat. Masalahnya dengan tujuan ini? Naruto itu orangnya suka dapat nasib apes. Hamba tekankan, A-P-E-S. Bukannya masuk ke sekolah normal, dia malah masuk gudang Iblis. Apalagi kalau ditambah dengan kebiasaannya yang selalu mencoba membantu kalau ada orang yang terbebani masalah, dan yang makin buruk lagi, dia juga punya sifat suka ikut campur urusan orang. And there you have it, such profound ingredients for a recipe of Trouble with a capital T.

Jadi sebenarnya [Tujuan Utama] yang ada di kepala Naruto itu tetaplah [Mempelajari Cara Bersosialisasi Lagi]. Tapi gara-gara faktor-faktor di atas, dan di sini hamba harus menekankan sekali lagi bahwa Naruto itu orangnya sangat sangat APES, ujung-ujungnya dia jadi terlibat dengan tiga kaum Akhirat dan segala intrik yang ada di dalamnya. Seperti yang Naruto bilang, "Apa mau dikata, nasib apes biar nggak dicari juga memang nggak bakal kemana."

2. Naruto tidak memihak fraksi manapun. Dia juga nggak bakalan menyukai salah satu fraksi dan memusuhi fraksi yang lain. Kenapa? Karena Naruto tidak memandang [Spesies]. Dia memandang [Individual]. Dia membantu Issei menyelamatkan Asia bukan karena ingin membantu pihak Iblis, tapi karena Issei dan Asia adalah orang yang patut ditolong. Dia menghajar Riser habis-habisan bukan karena Riser seorang Iblis, tapi karena dia sudah mengancam akan menyeret Rias dengan paksa dan membakar Peerage-nya (yang saat itu sudah beranggotakan Issei dan Asia) sampai tinggal arang. Dan... entah hubungan apalah yang dia miliki dengan Sona, tapi mereka jadi seperti itu bukan karena Sona adalah seorang Iblis, tapi karena Sona adalah seorang individual bertanggungjawab yang telah terbukti akan langsung meluruskan Naruto kalau sampai remaja labil itu berbuat salah.

Sebagai bukti, ketika dia mendapati bahwa Dohnaseek, Kalawarner, dan Mittelt membantu Raynare hanya karena Raynare sudah mengancam mereka, dia tidak ragu-ragu menghalangi Azaazel dan memastikan agar tiga malaikat buangan itu tidak mendapat hukuman.

Naruto tidak peduli apakah mereka Iblis, Malaikat, atau Malaikat Jatuh. Dia hanya memihak [Teman], [Orang Tak Bersalah], serta [Orang yang Perlu Bantuan].

Hmm, hamba rasa cukup segitu. Sekali lagi, maafkan hamba kalau anda berpikir bahwa Author's Notes ini agak kepanjangan.

BGM untuk chapter yang—Sumpah!—penuh musik ini. Hamba tuliskan sesuai dengan urutan mainnya di chapter:

1. (Naruto OST – Morning)

2. (Naruto OST – Fooling Mode)

2. (Naruto OST – Evening)

3. (Naruto OST – Jiraiya's Theme)

4. (Naruto OST – Daylight of Konoha)

5. (Naruto Shippuuden OST – God of War)

6. (Naruto Shippuuden OST – Long Kiss Goodbye)

7. (Naruto OST – Bad Situation)

8. (Naruto OST – Sadness and Sorrow)

9. (Naruto Shippuuden OST – Anger Remix)

10. (Naruto Shippuuden OST – Despair)

11. (Jormungand OST – Under/Shaft)

12. (Naruto Shippuuden OST – Crushing)

13. (Naruto 1st Movie OST – Home Sweet Home)

Satu hal terakhir. Chapter ini panjangnya 16.000 kata. Wauw. Chapter terpanjang yang pernah hamba tulis selama ini.

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

Omake

When The Sun Meets Girl

(You're my New Bodyguard?! To Protect a Princess is Every Shinobi's Dream!)

Pertama kali Kazahana Koyuki bertemu dengan cowok yang di masa depan akan mengubah kehidupannya itu, adalah ketika dia baru saja berhasil terbebas dari para pengejarnya setelah kabur karena tak mau dibawa pergi ke pulau lain hanya untuk melanjutkan peran main sebagai Fuu'un-hime yang saat itu ia pegang. Saat itu, dia yang sedang duduk di tepi sebuah kolam untuk membiarkan kudanya minum, dikejutkan oleh sosok seorang cowok berambut pirang jabrik dengan badan berbalut jaket hitam berkerah tinggi yang tiba-tiba saja muncul dalam posisi berlutut tepat dua langkah di sampingnya.

(Play Naruto OST – Morning)

"Apa anda terluka, Hime?"

Cowok itu mengangkat kepalanya, dan Koyuki berani bersumpah dia tak pernah melihat mata biru lain yang lebih cemerlang daripada mata orang yang berlutut di depannya itu.

"K-kau siapa…?" Koyuki bertanya dengan suara kecil dan sedikit terbata. "D-dan ada urusan apa kau denganku…?"

"Namaku adalah Naruto. Namikaze Naruto." Dia menjawab cepat dengan suara bernada datar. "Dan aku telah diperintahkan untuk melindungi anda, Hime."

Mata Koyuki melebar sebelum ia akhirnya berhasil mengendalikan diri. "Jadi kau bodyguard baru yang disewa oleh Sandayuu, begitu?" Wanita muda yang baru berusia dua puluh tahun lebih sedikit itu kembali mengistirahatkan dagu di puncak lutut yang ia lipat ke dada. "Jadi orang macam apa lagi yang dia sewa sekarang? Tukang pukul? Preman? Bekas penjahat?"

Cowok itu terkekeh. "Aku nggak tahu kalau anda suka bercanda, Hime." Ia terkekeh lagi untuk sesaat. "Tapi tidak. Aku nggak punya latar belakang mencurigakan seperti itu."

"Karena aku hanya seorang shinobi."

Koyuki yang sudah siap melemparkan komentar pedas sebagaimana yang selalu ia lakukan terhadap semua bodyguard yang disewa oleh Sandayuu membatalkan niatnya dan memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah cowok bernama Namikaze Naruto itu dengan mata membulat. "…Shinobi?" dia bertanya. "Maksudmu… kau ini ninja, begitu?"

Naruto mengangguk.

Koyuki tersedak sebelum mulai tertawa terbahak-bahak. "Ninja?! Ninja?! Apa Sandayuu sudah pikun sampai-sampai dia menyewa anak sekolahan dengan penyakit Chuunibyou (Eight Grader Syndrome) seperti ini?!" saking lamanya tertawa, Koyuki sampai harus menyeka cairan bening yang mulai mengalir dari matanya. "Aku nggak tahu kau siapa, bocah ingusan, tapi kalau kau kira kau bisa menipuku seperti ini, maka kau sudah keliru berat—"

Apapun yang selanjutnya akan Koyuki katakan batal terlepas dari bibirnya ketika dia membuka mata dan menyadari bahwa Naruto telah berdiri di depannya.

Bukan di atas tanah, aspal, atau batu, tapi di atas permukaan air kolam.

Lidah Koyuki menjadi kelu dan dia hanya bisa mangap-mangap, tak berdaya untuk mengeluarkan komentar lainnya.

Naruto mengangkat sebelah alisnya. "…Ada hal lain yang harus kulakukan agar anda percaya bahwa aku benar-benar seorang ninja, Hime?"

Sifat Koyuki yang cenderung keras kepala membuatnya menolak untuk dibuat mati kutu begitu saja. Karena itulah, dia menyebutkan hal paling gila yang bisa dipikirkan oleh otaknya. "K-kalau kau memang benar-benar seorang ninja, maka buatkan aku seekor naga sekarang juga!"

Bahkan walaupun dia sudah sering melihat hal-hal fiksi yang konyol setelah memainkan peranan sebagai Fuu'un-hime, Koyuki sadar bahwa permintaannya itu sudah sangat berlebihan bahkan bisa dibilang tidak waras. Memangnya ninja macam apa yang bisa membuatkan naga?

Namun gilanya, Koyuki kembali dibuat terperangah saat cowok berambut pirang jabrik yang berdiri di depannya itu hanya mengangguk. "Aku mengerti, Hime."

Cowok yang mengaku sebagai seorang shinobi itu membalikkan tubuh dan mulai melakukan sesuatu dengan kedua tangannya, semacam sekuens yang sering Koyuki lihat dilakukan oleh para aktor dan aktris di film-film ninja dan selesai hanya setelah lima detik berselang.

"Suiton: Suiryuudan!" (Water Release: Water Dragon Bullet!)

Bola mata Koyuki hampir saja membebaskan diri dari rongganya ketika ia melihat deburan besar di tengah-tengah danau kecil tersebut yang kemudian meninggi sampai akhirnya membentuk seekor [Naga]. Rahang aktris terkenal itu terbuka lebar dan menggantung di engselnya saat Naruto mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke atas, membuat [Naga] air yang memiliki mata kuning menyala itu melayang di udara dan berputar-putar dengan liukan anggun di atas kepalanya.

Oh Tuhan… dia sudah benar-benar bertemu dengan seorang ninja.

Naruto membuyarkan naga air tersebut sembari membalikkan tubuh. "Jadi, apa aku sudah berhasil menepis keraguanmu, Hime—" perkataan shinobi pirang yang baru saja berulang tahun kelimabelas beberapa hari lalu itu macet di tengah jalan, dan mulutnya ternganga saat melihat bahwa orang yang seharusnya dia lindungi kini telah menaiki kudanya dan sedang dalam proses kabur dari sang ninja.

"Hime!" Napas Koyuki yang sudah mulai panik menjadi tercekat ketika cowok pirang itu ternyata bisa menyangi kecepatan lari kudanya. "Aku tidak tahu aku salah apa, tapi anda tidak perlu kabur dariku seperti ini!"

Respon Koyuki untuk bujukan itu adalah memacu kudanya untuk berlari lebih cepat lagi.

Setelah hampir lima menit tak mendengar suara menyebalkan itu lagi, Koyuki memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Jantungnya hampir saja copot ketika melihat bahwa cowok itu ternyata telah turut duduk di atas kuda yang Koyuki naiki dalam posisi bersila membelakanginya.

"Ternyata cara berkuda anda hebat juga, Hime." Naruto berkomentar santai. "Suer, guncangannya hampir nggak terasa."

Koyuki sebenarnya ingin berteriak bahwa 'guncangan hampir nggak terasa' itu seharusnya sudah membuat shinobi yang duduk tanpa pengaman atau pegangan itu terlempar dan jatuh terguling-guling ke atas tanah, tapi entah mengapa, Koyuki merasa komentar pedas apapun yang ia keluarkan takkan mampu mengenyahkan cowok menyebalkan yang kelihatannya sudah bertekad untuk mengikutinya ke mana saja itu.

Karena itulah, dia memilih untuk mengembalikan tatapannya ke depan dan memacu kudanya lagi, tak peduli walaupun dia sudah memasuki sebuah desa kecil yang jalannya cukup penuh pejalan kaki.

"Er, Hime? Kuda ini larinya nggak kecepetan ya?" suara yang mulai membuat Koyuki ingin menarik-narik rambutnya karena frustasi itu kembali terdengar. "H-Hime…?!" Koyuki hampir saja mendengus puas saat mendengar suara yang mulai terisi nada panik itu. "Hime, bisa tolong dilambatkan sedikit?! Kalau begini terus, nanti kita bisa terlibat kecelakaan nih!"

Sial bagi Koyuki, kepuasan yang ia dapat dengan membuat Naruto panik ternyata hanya berupa kemenangan sementara, karena alam semesta kelihatannya berniat untuk merampas rasa senang Koyuki dengan membuat peringatan Naruto menjadi kenyataan, dalam bentuk anak-anak yang keluar dari gang dan melangkah tepat ke tengah jalan yang akan dilalui oleh kuda Koyuki, mengejutkan sang gadis muda yang dengan secara reflek menarik tali kekang di genggamannya kuat-kuat, membuatnya menutup mata rapat-rapat ketika kuda yang ia tunggangi mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi.

Koyuki membuka mata, dan dia kembali dibuat terperangah saat sadar bahwa tak ada sakit yang bisa dia rasakan, karena alih-alih terjatuh ke tanah, Koyuki malah sudah berdiri di tanah, dengan sebentuk tangan berotot keras melingkari pinggangnya dari belakang. Gadis itu menoleh ke belakang, dan menyadari bahwa walaupun remaja berambut pirang itu terlihat lebih muda darinya, ternyata shinobi berbalut jaket hitam itu memiliki tubuh yang lebih tinggi dari tubuh Koyuki.

"Hime?" Naruto bertanya khawatir, dan entah mengapa, Koyuki merasa bahwa dia takkan bisa terancam oleh bahaya apapun selama tangan berotot keras itu terus melingkari pinggangnya. "Hime, apa anda baik-baik saja?"

Bibir Koyuki yang masih merah karena lipstik yang belum dibersihkan terpisah untuk memberikan sahutan, namun dia dihentikan oleh suara jepretan foto yang tiba-tiba terdengar di jalan yang entah kenapa jadi sunyi tersebut. Koyuki mengerjap, sebelum tersadar bahwa dia dan Naruto sedang berada dalam posisi yang pasti terlihat sangat intim di mata orang lain.

Dengan kata lain: skandal.

Koyuki menarik dan merenggut lengan Naruto sampai tungkai tersebut melepaskan pelukan pada pinggangnya sebelum mengambil satu langkah maju. Ketika Naruto melihat 'Hime'nya itu berbalik dengan delikan tajam dan wajah memerah karena marah, shinobi berambut pirang yang tengah mengenakan jaket hitam berleher tinggi itu langsung tahu bahwa dia akan segera menerima hukuman.

Suara 'plak' nyaring memenuhi jalan yang masi~h saja hening tersebut ketika tangan Koyuki menghampiri pipi Naruto. "Aku—Kau—Kenapa—!" Koyuki terus mencoba, dan terus saja gagal mengungkapkan isi hatinya. Akhirnya dia memilih untuk meneriakkan, "Dasar cowok mesum!"

Koyuki berbalik dan mulai berjalan pergi dengan langkah-langkah yang diempaskan sekuat tenaga. Aktris terkenal itu baru berjalan sekitar sepuluh langkah ketika dia menoleh ke belakang lagi, menunjukkan bahwa dia masih mempertahankan delikannya yang tajam, namun entah kenapa, wajahnya kini sudah benar-benar merah padam. "Awas kalau kau berani dekat-dekat denganku lagi!"

Naruto mengusap pipinya pelan-pelan, dan walaupun tamparan 'Hime'nya itu sama sekali tak terasa sakit, dia harus mengaku bahwa dia sama sekali tak habis pikir dia sudah melakukan kesalahan apa sehingga layak untuk menerima hukuman fisik seperti itu.

Tanpa sepengetahuan Koyuki, Naruto berbicara dalam hati. 'Kurama, ada ide kenapa aku ditampar?'

'Hmph.' Personifikasi makhluk mistis yang mendiami jiwanya itu mendengus. 'Goshujin-sama no baka.'

'Kenapa kau juga kesal begitu sih?'

'…Bodo.'

Naruto menghela napas dan menahan keinginan untuk mengerang panjang sembari mulai berjalan ke arah Koyuki telah pergi. Dasar Ero-sennin brengsek, tidak bisakah dia menerima misi yang lebih mudah daripada ini? Daripada misi semacam mengawal aktris yang seringkali punya tingkah laku susah dimengerti seperti ini, Naruto sama sekali tidak keberatan kok walau dia disuruh menangkap Nukenin, atau bahkan menyerbu sarang Youkai lagi.

… Yah, sebagai seorang shinobi pengembara yang selalu perlu uang, Naruto mengakui bahwa dia seharusnya tidak boleh pilih-pilih misi. Tapi kalau begini terus, agaknya dia perlu meminta kursus pelajaran khusus pada Ero-sennin tentang bagaimana cara yang paling tepat untuk meladeni tingkah perempuan yang tak pernah masuk akal baik dalam logika maupun inteligensi Naruto.

~•~

(Play Naruto OST – Fooling Mode)

Dia mungkin tak bisa melihat sosok berbalut jaket hitam itu, tapi Koyuki berani bersumpah bahwa cowok pirang menyebalkan itu selalu saja ada di sudut jangkauan panca inderanya, cukup dekat untuk terasa namun cukup jauh hingga tak tertangkap mata ataupun telinga. Sial bagi Koyuki, walaupun dia telah cukup terbiasa untuk bisa terlepas dari kejaran penguntit atau semacamnya, aktris terkenal itu kembali dipaksa menerima kenyataan bahwa dia yang tak punya kemampuan khusus takkan bisa kabur dari seorang ninja seperti Naruto.

Tapi itu tidak berarti dia akan menyerah begitu saja.

Koyuki mengambil belokan kiri di simpangan gang yang lain tanpa melambatkan laju larinya, dan entah bagaimana, dia sudah tak bisa lagi merasakan keberadaan cowok menyebalkan itu di belakangnya. Koyuki menoleh ke belakang untuk memastikan, dan kali ini dia memang benar-benar yakin bahwa Naruto sudah tak lagi mengikutinya dari belakang.

Rasa lega yang sudah hampir mengisi rongga dada Koyuki kembali pupus ketika ia mengembalikan pandangan ke depan—

"Kyaah!"

—dan dibuat terkejut setengah mati karena melihat Naruto yang berdiri terbalik seperti seekor kelelawar.

"Sudah puas jalan-jalan, Hime?" Cowok yang kini sudah tak diragukan lagi memang memiliki profesi sebagai seorang shinobi itu melompat turun dan mendarat di depan Koyuki sebelum mengulurkan tangannya. "Biar kubantu berdiri."

Saat ia meraih tangan yang kapalan tersebut, Koyuki bisa merasakan bagaimana tatapan Naruto yang terarah ke bagian dadanya. Gadis yang baru dewasa itu hampir saja mendengus jijik. Dia seharusnya sudah mengira bahwa mau preman kek, tukang pukul kek, atau bahkan ninja sekalipun, mereka semua hanyalah cowok hidung belang yang selalu mengincar tubuh perempuan.

Koyuki meraih anting khusus yang ia beli sebagai alat anti orang mesum dan menyemprotkannya ke wajah Naruto, membuat remaja berambut pirang itu mengerang kesakitan dan melangkah mundur sehingga menabrak sebuah tiang yang menopang bahan-bahan bangunan, dan akhirnya dijatuhi lebih dari dua puluh balok kayu yang menimbuni dan mengubur Naruto sampai hanya tinggal satu kakinya yang nampak di pandangan.

"Dasar cowok mesum." Koyuki menggerutu kesal.

"…Yah, aku tak bisa berkata pasti, tapi kembaranku yang satu ini mungkin memang kebagian personalitas mesumku." suara orang yang seharusnya sudah terkubur di bawah timbunan balok-balok kayu tersebut terdengar dari samping telinga kanan Koyuki.

"K-k-kau…" telunjuk Koyuki yang kini sudah gemetaran teracung secara bergantian ke arah shinobi yang berdiri di sampingnya dan sosok yang masih tepar di bawah tumpukan bahan bangunan. "A-a-apa yang—Aku nggak—"

"Oh, belum pernah ngeliat Kagebunshin ya?" Naruto bertanya sebelum mengedikkan kepala ke arah kembarannya yang tak satu detik kemudian menghilang dalam kepulan asap. "Tada~"

Koyuki membuka dan menutup mulutnya berkali-kali, namun tak satupun komentar keluar dari mulutnya. Gadis muda itu akhirnya menyerah dan memilih untuk mengurut pelipis kepalanya.

Setelah diam beberapa lama, dia baru bicara lagi. "…Aku butuh minum."

Seperti biasa, Naruto yang saat itu sudah hidup cukup terisolasi selama tiga tahun dan kadang tidak tahu apa artinya sarkasme atau sinisme langsung menganggap serius perkataan Koyuki. "Baiklah kalau begitu." Naruto yang kadang juga masih memiliki kesulitan dalam membedakan mana tindakan yang sopan dan mana tindakan yang intim itu meraih tangan Koyuki dan mulai menggandengnya pergi ke suatu tempat. "Ada sebuah bar yang kita lewati tadi. Kita bisa pergi ke situ."

Koyuki benar-benar tidak mengerti kenapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat ketika tangannya digenggam oleh tangan kapalan yang tanpa alasan jelas juga memberinya rasa aman itu.

~•~

(Play Naruto OST – Evening)

"Oi, cowok mesum."

"…Hime~" Naruto mengerang. "Kan sudah kujelaskan kalau yang kupandangi saat itu bukan dada anda, tapi kalung yang anda pakai."

"Nggak bisa," Koyuki bersikeras dengan suara kurang jelas. "Sekali cowok mesum, tetap cowok mesum."

Naruto menahan keinginan untuk melenguh panjang. Bagaimana tidak? Dia tak mengerti hal macam apa yang sebenarnya telah dia lakukan hingga dia patut mendapat julukan seperti itu. Dan kalau itu masih belum cukup, dia juga tidak mengerti bagaimana caranya Koyuki bisa cepat sekali mabuk! Kenapa 'Hime'nya itu ingin minum alkohol ketika dia adalah orang yang langsung setengah teler ketika baru menenggak dua cangkir sake sih?! "Hime. Kuulangi sekali lagi, namaku Naruto."

Ditegur seperti itu, Koyuki malah tertawa. "Nama apa itu? Masa ada orang yang mau memakai nama dari kue ikan seperti itu sih?" Gadis muda dengan rambut hitam panjang itu menggeleng-geleng. "Tidak, tidak. Orang sepertimu lebih cocok disebut cowok mesum. Lebih pas di lidah, soalnya."

Naruto menyerah, dan kali ini dia benar-benar melenguh.

Koyuki menenggak segelas sake lagi dan cegukan ringan. "Kau tahu nggak? Jadi aktris itu sebenarnya pekerjaan yang sangat menyedihkan lho…"

"…Eh?" Naruto mengerutkan dahinya. "Tapi bukannya anda juga seorang aktris? Kenapa malah menjelek-jelekkan pekerjaan anda sendiri seperti itu?"

Koyuki mendengus sinis. "Mau bagaimana lagi? Akting itu tidak ada bedanya dengan memainkan sebuah kebohongan, mengisi peran dalam sebuah kehidupan yang semuanya cuma dusta dan khayalan belaka." Kali ini Koyuki tidak menuangkan minumannya ke gelas. Dia meminumnya langsung dari botol porselen sake. "…Hanya orang-orang yang menyedihkan lah yang mau bekerja berakting di depan kamera."

Naruto memerhatikan bagaimana gadis muda itu terhuyung-huyung selama beberapa saat sebelum mengambil botol sake yang tergenggam di tangan Koyuki dan menuangkan isinya ke gelas kecil di atas meja.

Koyuki harus mengakui bahwa dia sedikit kaget saat alih-alih menyodorkan gelas itu pada Koyuki, Naruto malah mengangkat sendiri gelas tersebut dan menelan sake di dalamnya.

"Sori saja, tapi aku tidak setuju dengan pendapatmu itu." Naruto meletakkan gelas sakenya dengan begitu pelan sampai-sampai tak ada suara yang keluar ketika benda tersebut bertemu meja. "Kau bilang hanya orang-orang menyedihkan yang mau berakting di depan kamera, bahwa akting itu tidak ada bedanya dengan memainkan sebuah kebohongan. Tapi kau mengatakan itu hanya karena kau tidak mengerti apa tepatnya yang kau lakukan ketika syuting sedang berlangsung."

Koyuki tidak menggubris bagaimana Naruto tak lagi memakai 'anda' dan telah mulai memakai 'kau', dia lebih tertarik tentang apa yang bisa diungkapkan sudut pandang bodyguard terbarunya itu tentang pekerjaan yang Koyuki jalani beberapa tahun terakhir ini.

Mata Naruto menerawang seakan sedang mengingat memori yang telah lampau. "Kau tahu tidak, Hime? Ketika aku menonton film yang kau bintangi itu, sepuluh menit masuk ke film aku tersadar bahwa apa yang ditunjukkan dalam layar itu sudah tidak lagi berupa buah khayalan seseorang. Di mataku, mereka yang ada di balik layar itu bukan lagi aktor-aktor yang mengisi sebuah peran. Di mataku, Fuu'un-hime, Brit, Shishimaru, dan Tsukuyaku adalah individual-individual yang memiliki masa lalu dan kehidupan mereka sendiri."

Naruto menelengkan kepalanya sedikit ke arah Koyuki dan tersenyum tipis. "Menurutku, itulah yang kau lakukan di depan kamera, Hime. Kau bukannya memainkan sebuah kebohongan. Kau diberikan satu set personalitas dan penampilan, lalu menghidupkannya menjadi seorang karakter yang benar-benar ada seakan menyihirnya dari khayalan menjadi kenyataan."

"…Yah," Naruto mengangkat bahu sebelum berputar di kursinya dan menyandarkan punggung ke tepi meja. "Itu cuma pendapatku sih. Tapi karena aku sendiri tidak pernah tahu rasanya jadi bintang film, kurasa apapun yang keluar dari mulutku pasti tidak patut dianggap."

Koyuki tak tahu apa, tapi dia merasa bahwa dia harus memberikan setidaknya satu sahutan sebagai balasan kata-kata Naruto yang telah sempat membuatnya tercengang.

Sayang, sebelum ia sempat buka suara, pintu bar itu menjeblak terbuka dan suara Sandayuu turut terdengar menyertainya.

"Yukie-sama!" bapak-bapak paruh baya yang wajahnya dihiasi satu set kumis, janggut, dan jambang itu menghampiri meja bar dengan tergopoh-gopoh."Namikaze-dono!"

"Yo, Sandayuu-occhan!" Naruto menyapa dari samping Koyuki. "Kenapa lama sekali baru nyampe?!"

Koyuki menyabetkan kepalanya ke arah Naruto dengan mata melotot tajam. "…Apa kau yang memberitahunya kita sedang ada di mana?"

"Hah? Ngapain juga aku mesti melakukan hal seperti itu?" tanya Naruto bingung. "Kau nggak sadar ya, Hime? Occhan sudah memasang alat pelacak padamu. Kalau mau, cek saja dompetmu."

Sementara Koyuki sibuk merogoh kantong jaketnya untuk mencari dompet, Sandayuu menghampiri Naruto, mencekal kerahnya, sebelum mengguncang-guncang tubuh shinobi remaja itu. "Namikaze-dono, hal itu seharusnya dirahasiakan! Kenapa malah kau bongkar?!"

"O-oh, em, anu…" Naruto berucap kikuk sambil mengusap tengkuknya. "…Ups?"

"Aha!" Koyuki yang sudah agak mabuk akhirnya menemukan tracker GPS yang ternyata memang benar-benar tersembunyi di dalam salah satu kompartemen dompetnya dan langsung ia lempar ke lantai sebelum diinjak-injaknya sekuat tenaga. "Sekarang kau tak punya cara untuk menemukanku lagi, Sandayuu!"

"Er, Hime? Kau sedang bicara apa?" Naruto bertanya sambil memiringkan kepala. "Kau nggak lupa kalau Occhan adalah orang yang sudah menyewaku kan? Dia bisa dengan mudah menyuruhku untuk melakukan itu."

Koyuki berhasil mempertahankan ekspresi kemenangan untuk beberapa detik ekstra sebelum dia menghempaskan sisi wajahnya ke atas meja sembari mengeluh keras. Tentu saja… dia sekarang sudah dijaga oleh seorang ninja! Ninja! Di dunia ini, mana ada manusia biasa yang bisa terbebas begitu saja kalau sudah diekori orang seperti itu?! "Kami-sama… kenapa aku harus mendapat bodyguard mesum seperti ini?"

(Play Naruto OST – Jiraiya's Theme)

Suara gelak tawa tiba-tiba membahana dari arah pintu seakan-akan menjadi pembuka munculnya seorang pria bertubuh tinggi besar dengan rambut perak panjang yang dikuncir. "Belum satu hari, dan kau sudah dipanggil mesum oleh klienmu sendiri?!" pria yang berpakaian sangat tradisional, dengan kimono hijau lumut, haori merah tua, dan sandal kayu geta tersebut menghampiri shinobi di samping Koyuki sebelum menepuk-nepuk punggungnya dengan kekuatan yang membuat tubuh remaja berambut pirang itu seperti diguncang gempa. "Aku tahu kau memang masih dalam masa puber, gaki, tapi kita ini sedang menjalankan misi! Kau itu harusnya sadar diri dan menahan libidomu dong!"

"Kenapa kau malah ngomong seakan-akan aku sudah melakukan pelecehan seksual sih?!" Koyuki cukup kaget saat melihat remaja yang selalu bisa meladeni Koyuki dengan tenang sejak mereka pertama bertemu itu kini wajahnya sudah berkeriut malu dengan pipi sedikit merona. "Dan kau juga nggak punya hak ngomong begitu, dasar Shishou brengsek! Kau membuatku menjaga Hime seorang diri sepanjang siang tadi gara-gara kau mau menyempatkan diri untuk mengintip onsen besar yang ada di tengah kota itu kan?!"

"Hei, jangan meremehkan penelitianku dong! Kau tahu nggak berapa banyak bahan baru yang kudapatkan?!" Shinobi tua itu mengeluarkan sebuah album foto kecil dari saku haori-nya. "Bagaimana? Mau lihat? Kujamin deh, kualitasnya mantap semua lho!"

"…Seingatku, kau tak pernah bersedia menunjukkan album foto penelitianmu itu padaku, Shishou," Naruto memicingkan matanya tajam-tajam. "Atau jangan-jangan kau mau bermuslihat lagi? Kaukira aku sudah lupa ya bagaimana kau menuduhku sebagai kaki tangan dalam kejahatan sampai aku dipenjara beberapa minggu lalu?"

"Oh, ayolah! Itu kan cuma latihan!"

"Kau sudah membuatku dikurung di Kastil Houzuki cuma karena ingin aku punya pengalaman ditahan dalam penjara berkeamanan tinggi! Guru macam apa yang dengan sengaja membuat muridnya sendiri punya catatan kriminal seperti itu, hah?!"

Yah, alasan sebenarnya sih karena Jiraiya mendapat bocoran bahwa ada tetinggi-tetinggi Kusagakure yang bertindak di luar jurisdiksi Desa Tersembunyi mereka dan berencana untuk membuka kembali Gokuraku no Hakou (Box of Ultimate Bliss), sebuah artifak dari jaman Rikudou-sennin yang sangat berbahaya dan disembunyikan di penjara tersebut, untuk meningkatkan kekuatan dan mengembalikan masa kejayaan Kusagakure, sehingga dia mengirim Naruto ke sana untuk menyelidiki kebenaran informasi itu.

Sial bagi mereka berdua, kedatangan Naruto di sana malah dimanfaatkan sang kepala sipir, Mui, yang menyekap Naruto dan menggunakan Chakra Kurama hingga dia berhasil membuka Gokuraku no Hakou demi mengeluarkan anaknya, Muku, yang dulu terjebak di dalam sana. Dobel sialnya, yang keluar malah Muku yang telah dirasuki oleh Satori, seorang Iblis yang merupakan wujud asli dari [Kegelapan] yang tersimpan dalam Gokuraku no Hakou.

Situasi yang telah berubah sangat genting akhirnya membuat Jiraiya harus turut menyerbu ke dalam Kastil Houzuki dan bertarung bersama-sama muridnya. Saat itulah kali pertama Naruto benar-benar melihat seperti apa kekuatan sang guru kalau dia sudah bertarung serius dan memakai Senjutsu. Dan di penghujung insiden tersebut, Naruto dan Jiraiya akhirnya harus memakai jurus kolaborasi mereka yang paling dahsyat untuk menghancurkan Gokuraku no Hakou untuk selama-lamanya.

…Tapi Naruto tak bisa menyebutkan hal itu sekarang mengingat insiden yang terjadi di Kastil Houzuki tersebut telah diklasifikasikan sebagai rahasia internasional dan ditutup-tutupi karena Kusagakure tak mau reputasi mereka tercoreng di mata dunia shinobi.

Naruto tahu bahwa di masa depan dia akan menghadapinya juga, tapi dunia politik memang tak pernah menyenangkan.

Hmm, mengingat insiden itu membuat Naruto jadi bertanya-tanya. Bagaimana kabar Ryuuzetsu sekarang ya?

Renungan Naruto buyar ketika Jiraiya bersidekap dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan bangga. "Guru hebat seperti aku ini dong!"

Naruto kalap. "Dasar Shishou brengsek!"

Ketika menyaksikan bagaimana Naruto yang langsung menghajar Jiraiya di saat itu juga tanpa peduli dia sedang berada di mana, Koyuki membuat sebuah kesimpulan, seprofesional apapun Naruto dalam pekerjaannya, dia tetaplah punya sisi lain yang hanya ditunjukkan pada orang-orang yang dekat padanya.

…Tunggu dulu.

Kenapa Koyuki tiba-tiba jadi merasa cemburu? Kenapa setelah mendapati bagaimana tingkah asli sang shinobi, Koyuki jadi ingin bodyguard pribadinya itu berhenti bersikap formal dan mulai memperlakukan Koyuki dengan lebih familier?

Sembari berpikir bahwa dia sudah terlalu mabuk, Koyuki menatap botol sake di tangannya dengan curiga. Seingatnya, sake yang dia beli ini tidak terlalu kuat. Atau jangan-jangan ada substansi khusus di dalam minuman keras ini yang membuatnya jadi mulai dilanda perasaan-perasaan aneh yang tidak seharusnya dia rasakan?

Belum sempat Koyuki menyelesaikan renungannya, suara Sandayuu kembali memenuhi pendengarannya.

"Yukie-sama, kapal yang akan pergi ke Yuki no Kuni akan segera berlayar. Kita harus bergegas kalau tidak mau ketinggalan!"

Mood Koyuki jadi buruk lagi. Dia meraih gelas yang tadi diambil oleh Naruto dan menuangkan sake ke dalamnya lagi. "Aku tak peduli." Dia mengangkat gelas tersebut ke mulut. "Aku tak mau main sebagai Fuu'un-hime lagi."

Suara gebak-gebuk yang tadi terdengar di ruangan itu tiba-tiba berhenti seiring dengan Sandayuu yang tersentak dengan ekspresi kaget bukan kepalang. "Apa yang sedang anda bicarakan?!"

"Nggak ada salahnya kan?" Koyuki menyahut santai. "Di dunia akting, tidak aneh kalau ada perubahan pemain utama atau sutradara karena situasi—"

"Diam!" Sandayuu menghardik sambil menggebrak meja. "Dari semua aktris di dunia ini, Fuu'un-hime hanya bisa diperankan oleh anda seorang, Yukie-sama!" Ada hening sejenak sebelum pria paruh baya itu bicara lagi. "Lagipula, berhenti di tengah-tengah kontrak seperti ini bisa jadi jurang untuk karir anda. Tawaran main, atau bahkan reputasi dan pandangan fans pada anda bisa jatuh, Yukie-sama."

"Nggak ada salahnya kan?" Mata Koyuki menerawang. "Memangnya siapa yang peduli kalau aku tidak bisa main film lagi…?"

"Hime," Koyuki menoleh ketika ia mendengar suara Naruto lagi. Dahinya berkerut saat mendapati bahwa shinobi itu telah kembali berdiri di sampingnya dengan tangan kanan terangkat serta telunjuk dan jari tengah yang teracung. "Sebelumnya, aku mau minta maaf dulu."

"Hah? Kau sedang ngomong apa si—"

Kalimat Koyuki tak bisa selesai karena kesadarannya langsung lenyap setelah Naruto menotok sebuah titik di lehernya.

~•~

(Play Naruto OST – Daylight of Konoha)

Naruto menarik napas dalam-dalam, menikmati segarnya angin laut yang menerpa wajah sembari meregangkan kedua lengannya. Dibanding dengan pengalaman terakhirnya di mana dia harus menyeberangi lautan dengan berenang—dasar Ero-sennin brengsek!—bisa menikmati enaknya menaiki kapal layar seperti ini membuat Naruto tak habis-habisnya memanjatkan rasa syukur.

Dia baru saja habis menguap ketika telinga Naruto mendengar suara pintu yang menjeblak terbuka.

"APA MAKSUDNYA INI?!"

Sembari mengorek-ngorek telinganya yang terasa berdenging, Naruto berjalan menghampiri 'Hime'nya yang baru bangun dan masih mengenakan piyama berwarna kuning tersebut. "Apa tidurmu nyenyak, Hime?" dia bertanya sambil menyunggingkan senyum. "Apa kau mau makan? Minum? Ah, sebelum kau bertanya, toiletnya ada di sebelah sit—"

Jawaban Koyuki untuk pertanyaan Naruto adalah mulai memukul-mukul dada remaja berambut pirang yang bertubuh sedikit lebih tinggi darinya itu.

Walau pukulan-pukulan itu sebenarnya sama sekali tidak menyakitkan bagi Naruto yang sudah melatih tubuhnya sedemikian rupa sebagai seorang ninja, alis sang shinobi tetap bertaut dalam kebingungan karena tak mengerti apa yang membuat Koyuki bertingkah aneh seperti itu. "…Aku salah apa lagi sih?"

"Oke, oke, berhenti dulu."

Semua kru film langsung keteter. "Kenapa?!"

Koyuki tak mengacuhkan protes tersebut dan memilih untuk memanggil manajernya. "Sandayuu, bawa ke sini obat tetes matanya!"

Koyuki baru saja mau menengadahkan kepala agar Sandayuu bisa memakaikan obat tetes mata itu ketika dia mendengar suara gelak tawa yang terdengar dari arah Naruto dan Jiraiya.

"Oi, oi, adegan ini harusnya adegan menyedihkan kan?! Lalu kenapa aku menangis gara-gara ketawa nih?!" sang Gama Sennin menyerukan komentarnya.

Di samping Jiraiya yang terbahak sambil memegangi pagar kapal untuk menopang dirinya, Naruto telah berlutut dan kini tengah terbungkuk-bungkuk, kepalan tangannya meninju-ninju lantai dengan tawa yang terus membahana.

Dengan rasa kesal yang melangit, Koyuki meraih puing kayu yang berada paling dekat dengannya dan menimpuk kepala dua ninja tak sopan itu agar mereka berhenti menertawakannya. "Hei!"

"Oi, gaki, kau belum tidur?"

Mendengar panggilan sang Shishou yang sudah terbungkus futon, Naruto menggelengkan kepalanya sedikit dan menjawab singkat, "Nanti."

Jiraiya membuka matanya dan menoleh, hanya untuk mendapati murid satu-satunya itu tengah duduk menghadapi gulungan-gulungan kertas yang berjumlah setidaknya empat belas. "Masih mencoba memecahkan fondasi Fuuin yang membentuk Hiraishin ciptaan ayahmu itu?"

"Mmhm." Naruto mengangguk pelan tanpa berhenti menuliskan simbol-simbol [Aksara Semesta] di gulungan kelima belas yang ada di tangannya. "Aku masih harus memecahkan bagaimana Tou-chan memakai [Aksara Semesta] untuk mengalterisasi dimensi hingga menciptakan [Pintu] yang menghubungkan lokasi A dengan lokasi B." Naruto menelengkan kepala untuk mengamati kunai bercabang tiga yang ada di tengah-tengah gulungan-gulungan yang tersebar di lantai tersebut, benda yang dulu Jiraiya berikan sebagai hadiah ulangtahun keempat belas Naruto. Di kamar mereka yang gelap, bisa terlihat jelas bahwa kini mata biru langitnya telah bercahaya. "Setelah itu, aku juga masih harus menafsirkan susunan [Aksara Semesta] yang tepat agar aku bisa membawa orang lain ketika aku memakai Hiraishin. Lalu, aku juga masih harus—"

Naruto tak sempat selesai bicara karena Jiraiya telah berdiri dan duduk di sampingnya sebelum mengacak-acak rambut anak wali yang sangat ia sayangi tersebut.

"Shishou~" Naruto merengek. Tak peduli dia sudah berapa lama hidup mengembara Jiraiya, Naruto tetap tak pernah terbiasa saat mentornya itu memperlakukannya seperti anak kecil.

"Berisik, dasar bocah workaholic," Jiraiya bersidekap. "Kau sadar kan kalau ini sudah jam satu malam? Kapan kau mau tidur?"

Naruto membuang muka dengan malu. "…Tapi kan baru empat jam."

"Makanya tadi kubilang, kau itu terlalu kecanduan bekerja," ketika murid kesayangannya itu mengerucutkan bibir, Jiraiya melepaskan sebuah hembusan napas panjang. "Aku mengerti kalau kau ingin cepat-cepat menguasai jurus yang diwariskan oleh ayahmu ini, tapi kau juga harus ingat kalau kita sedang menjalankan misi. Apa yang akan kau lakukan kalau kau sampai gagal melindungi 'Hime'mu itu hanya karena kau kurang tidur?"

Ketika wajah Naruto mulai menampakkan rasa bersalah, Jiraiya dengan segera mengusir ekspresi itu dengan mengacak-acak rambut pirang jabrik keturunan Klan Namikaze dan Klan Uzumaki itu sekali lagi. "Sudahlah, pergi tidur sana, gih."

Naruto terdiam selama beberapa detik sebelum mengangguk. "…Baik, Shishou."

Seperti apa yang Jiraiya khawatirkan, muridnya itu memang benar-benar lelah kalau melihat bagaimana dia langsung tertidur tidak berapa detik setelah kepalanya bertemu bantal.

Jiraiya beringsut hingga kini ia duduk di samping futon Naruto. "…Dasar murid bego," ucapnya pelan sambil mulai mengelus kepala sang murid. "Kerja keras sih boleh-boleh saja, tapi jangan buat bapak walimu ini khawatir terus dong…"

"Jadi…" Naruto menguap dan memasang jaketnya. "Kenapa kita berlabuh di daratan es seperti ini?"

"Produsernya bilang, dan aku mengutip," Jiraiya turut mengenakan jaket panjang yang akan melindunginya dari rasa dingin. "'Lokasi ini adalah berkah yang telah diberikan oleh dewa dunia perfilman! Kita harus menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin!', seperti itu."

Naruto melangkah untuk bergabung dengan para kru film yang telah mulai bersiap-siap untuk syuting. "Mereka nggak sadar ya kalau tempat seperti ini rawan serangan?"

"Yah…" Jiraiya mengangkat bahu. "Itulah kenapa kita ada di sini kan?"

Naruto merenung singkat. "Kurasa memang begitu."

"Adegan tiga puluh enam, cut dua puluh dua. Action!"

(Play Naruto Shippuuden OST – God of War)

Baru saja setengah menit rol kamera berputar, tubuh Naruto dan Jiraiya telah mengeras. "…Gaki."

"Aku tahu." Naruto menggerakkan kepala ke kanan kiri dan menderakkan tulang lehernya. "Mau maju sama-sama atau aku duluan?"

Jiraiya tidak menjawab. Dia hanya mengedikkan kepalanya ke depan.

Koyuki sudah bersiap untuk mengucapkan dialog ketika sosok Naruto tiba-tiba saja muncul di depannya. "Oi, cowok mesum!" dia berseru kesal. "Kau pikir kau sedang apa?!

Naruto tidak berbalik. Dia bahkan tidak menoleh. "Hime," panggilnya singkat. "Tolong kembali ke kapal sekarang juga."

Koyuki mungkin akan meneruskan labrakan verbalnya kalau saja suara Naruto tidak membuatnya merasa bahwa shinobi berambut pirang itu tidak sedang main-main.

"Hei!" sang sutradara yang bernama Makino dan sewot karena syutingnya sudah diganggu turut berteriak. "Hei, bocah! Kau ini sedang ngapain sih?! Tidak tahu ya kalau kami ini sedang bikin film?!"

"Oi, kalian semua!" mendadak saja, Jiraiya juga muncul di depan Koyuki, dan beberapa langkah di belakang Naruto. "Mau sembunyi sampai kapan?! Kalian sudah lama ketahuan, bego!"

Dua laki-laki dan satu wanita dewasa dengan penampilan serba putih dan Hitai-ate (Forehead Protector) dengan simbol yang baru kali ini pernah Naruto lihat menyeruak keluar dari bawah salju. Pria dengan rambut panjang keunguan dan dikuncir yang berdiri di tengah, shinobi yang kelihatannya merupakan pemimpin kelompok tersebut, mulai buka suara, "Selamat datang di Yuki no Kun—"

Naruto tidak membiarkan shinobi yang kelihatannya tak punya niat baik itu selesai bicara dan langsung melemparkan sebuah kunai padanya sembari membentuk beberapa Insou. "Kunai Kagebunshin no Jutsu."

Mata Naruto sedikit melebar saat melihat seratus kunai yang telah ia lancarkan berhasil dipentalkan. Mata biru langitnya mulai bercahaya, dan dengan kemampuan membaca [Aksara Semesta] yang ia warisi dari Klan Namikaze, Naruto berhasil mengekstrak informasi bahwa shinobi tersebut dilindungi oleh semacam medan kakas yang digenerasi oleh kontrapsi besi aneh yang ada di pundak kirinya.

Kunoichi yang berada di sebelah kiri sang pemimpin tertawa nyaring. "Apa kau baru pernah melihat Chakra no Yoroi (Chakra Armor), boya?!" Tepat setelah tawanya selesai, shinobi perempuan itu langsung melancarkan serangan balasan. "Hyoton: Tsubame Fubuki!" (Ice Release: Swallow Snow Storm!)

Naruto tidak nampak membuat gerakan untuk bertahan, karena hal itu memang tidak perlu ia lakukan.

"Katon: Endan!"

Peluru api yang tercipta dari semburan minyak yang dinyalakan itu membuncah dan meluncur hampir tiga kaki di atas kepala Naruto, berbenturan dan menyapu habis burung layang-layang dari es yang dilepaskan oleh kunoichi tersebut.

Kerjasama teramat apit antara guru dan murid yang tercipta setelah bertahun-tahun mengerjakan misi bersama-sama membuat Naruto langsung tahu apa yang harus ia lakukan berikutnya. "Kagebunshin no Jutsu!"

Sembilan kembaran identik muncul di depan shinobi dan langsung menyerbu maju, dengan formasi tiga orang untuk masing-masing musuh.

"Koyuki-himesama!"

"…Eh?" Naruto berbalik dan wajahnya berkeriut bingung. "…'Hime-sama'…?"

Lalu dia melihat bahwa 'Hime'nya telah duduk berjongkok dengan mata membeliak selebar-lebarnya dan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia sedang shock. "Hime!" Naruto segera melesat menghampiri Koyuki dan meraih bahunya. "Hime, ada apa?! Apa yang—"

"TIDAK!" Koyuki berteriak histeris sambil menepis tangan Naruto, sebelum mulai menggigil hebat dan mencengkeram kepalanya. "Aku tak peduli walau aku harus mati! Aku tidak mau pergi ke Yuki no Kuni!"

Naruto tersentak, dan menoleh ke arah Jiraiya yang juga telah turut menghampirinya. Satu saling tatap antara guru dan murid tersebut sudah cukup bagi mereka untuk bertukar pikiran dan memutuskan bahwa ya, mengurus Koyuki yang sekarang sedang berada dalam kondisi mengkhawatirkan lebih penting daripada melanjutkan pertarungan.

Naruto dan Jiraiya membentuk satu Insou dan menyuarakan jurus mereka secara bersamaan. "Kagebunshin no Jutsu!"

Setelah mereka masing-masing menciptakan satu kembaran, Naruto dengan cepat membopong Koyuki di atas pundak kanan sementara Jiraiya mengapit Sandayuu di ketiak kirinya. Guru dan murid tersebut saling tatap sekali lagi, mengangguk, dan satu detik berselang, mereka langsung melancarkan jurus selanjutnya. "Lari Terbirit-birit no Jutsu!"

Rouga Nadare, Kakuyoku Fubuki, dan Fukuyama Mizore menghajar dan melenyapkan Kagebunshin terakhir yang menghalangi jalan mereka sebelum menatap ke depan, hanya untuk mendapati bahwa lawan mereka tengah dalam proses melarikan diri setelah masing-masing membuat satu Kagebunshin. Mereka baru saja berniat untuk mengejar ketika dua kembaran yang ditinggalkan oleh tuannya itu mengangkat tangan kanan mereka secara bersamaan dan mengerahkan jurus yang menciptakan rasa ragu di hati ketiga shinobi tersebut.

Di atas tangan kanan Naruto kini telah mengambang sebuah bola Chakra murni berwarna putih kebiruan dan dikitari elemen angin yang berputar seperti baling-baling. Sedangkan di tangan kanan Jiraiya terdapat sebuah bola Chakra putih kebiruan yang sama, namun kemudian ia semburi api hingga berubah warna menjadi hitam dan dikitari oleh buncahan api berwarna jingga dengan nuansa kemerahan.

"Fuuton: Rasengan!" (Wind Release: Spiralling Sphere!)

"Katon: Gouen Rasengan!" (Fire Release: Great Flame Spiralling Sphere!)

Kembaran identik Naruto dan Jiraiya tersebut menyunggingkan sengiran ganas dan berputar hingga saling hadap, sebelum meneriakkan nama jurus yang kemudian malah mereka lancarkan ke arah satu sama lain.

"Konbijutsu: Oni Satsugai Rekka!" (Combination Technique: Demon Slaying Conflagration!)

Ketika ditambah dengan elemen alam yang kompatibel dan saling menguatkan, dua Jutsu berdaya hancur super tinggi yang dibenturkan itu menghasilkan sebuah jurus kombinasi yang dulu telah digunakan oleh Jiraiya dan Naruto untuk mengalahkan Satori dan memusnahkan Gokuraku no Hakou sekaligus di penghujung insiden di Kastil Houzuki, menciptakan sebuah ledakan luar biasa besar dengan lebar dan tinggi belasan meter hingga meliputi dan meremukredamkan seluruh daratan es tersebut.

~•~

"Koyuki-himesama! Hamba mohon, jatuhkan Dotou dan jadilah pemimpin baru untuk negeri ini!" Sandayuu bersujud dalam-dalam sampai keningnya menyentuh lantai. "Hamba yang bernama Asama Sandayuu ini bersumpah untuk melindungi anda, meski harus mengorbankan nyawa!"

"Hamba mohon, berjuanglah bersama kami!"

Ada hening sesaat.

"Aku menolak." Koyuki menjawab ketus.

Sandayuu mengangkat kepalanya dan terperangah. "T-tapi, bagaimana dengan penduduk negeri ini?!"

"Memangnya apa peduliku?! Kukatakan sekali lagi, aku menolak!" Koyuki membuang muka. "Menyerah sajalah! Kau ini punya otak atau tidak sih?! Sekeras apapun kau berusaha, kau takkan bisa mengalahkan Dotou!"

"Oh?" Suasana yang jadi sedikit tegang itu dipecahkan oleh suara Naruto. "Jadi itu masalahnya, Hime? Kau tidak mau mencoba karena kau tidak yakin ada orang yang bisa mengalahkan Dotou?"

"Naruto-dono…"

"Kalau kau tidak menyerah, maka kau bisa memiliki mimpi. Dan selama kau memiliki mimpi, maka kau akan bisa menyambut datangnya esok hari." Makino, sang sutradara, buka suara. "Hmm, bagus sekali. Tema seperti ini sangat sempurna untuk dijadikan tema film penutup serial 'Fuu'un Hime'!"

Naruto mengangguk sambil bersidekap. "Lagipula, Hime, karena Dotou sekarang sudah tahu bahwa kau masih hidup, tak ada lagi tempat bagimu untuk lari. Satu-satunya jalan yang bisa kau ambil sekarang adalah berjuang. Sampai titik darah penghabisan, kalau perlu."

"Diam!" Koyuki membentak. "Kalian kira kita masih main film?! Kalian kira kenyataan bisa disamakan dengan khayalan?!" Tuan putri muda itu menggertakkan giginya. "Kalian kira… di dunia ini ada yang namanya akhir bahagia?!"

"Tentu saja ada," Jiraiya yang sedari awal hanya diam akhirnya turut mengutarakan pendapatnya. "Hanya saja, manusia takkan bisa meraih akhir bahagia kalau kita tidak mau berusaha."

Keinginan Koyuki untuk membantah lagi terpaksa dibatalkan karena Naruto yang berdiri dari kursinya dan melangkah sampai dia berdiri di depan Koyuki. "A-apa?"

Shinobi itu menatap sang tuan putri lurus-lurus untuk beberapa saat, sebelum menurunkan dirinya ke satu lutut.

"Hime," Naruto menundukkan kepalanya. "Aku tahu kau mungkin susah mempercayai orang yang baru kau temui beberapa hari lalu sepertiku. Aku tahu kata-kataku mungkin tak bernilai dalam pandanganmu. Tapi setidaknya, aku bisa memberitahumu satu hal," dia mengangkat kepalanya.

"Namaku adalah Namikaze Naruto, dan aku berjanji aku akan membawakan akhir bahagia itu ke hadapanmu."

"Baiklah!" Makino keluar dari mobilnya. "Semuanya, kita mulai syuting sekarang!"

"P-Pak Sutradara!" sang asisten berlari tergopoh-gopoh ke arah bosnya. "Pak Sutradara, Yukie melarikan diri lagi!"

"Apaa?!" sutradara berusia paruh baya yang rambutnya sudah uban semua itu berseru tak percaya. "Cepat, kita harus segera mencarinya—!"

"Hei," sang Gama Sennin yang berdiri di dekat situ menepuk bahu sutradara tersebut. "Hal seperti ini, serahkan saja pada kami."

Jiraiya menguncupkan telapak tangan di depan mulutnya dan berteriak. "Gaki!"

Naruto melongok keluar dari jendela mobil yang ia tumpangi. Sekali saling tatap dengan Shishou-nya sudah cukup bagi Naruto untuk membaca situasi. "…Hime kabur lagi ya?"

"Kalau sudah tahu, cepat pergi sana!"

Naruto melangkah turun dari mobil dan membunyikan ruas-ruas tulang lehernya. "Oke."

(Play Naruto Shippuuden OST – Long Kiss Goodbye)

Tak perlu lebih dari sepuluh menit bagi Naruto untuk menemukan Koyuki yang ada di tengah-tengah hutan dan kini terkapar di atas tumpukan salju. Dia berjalan menghampirinya sambil menggumam. "Hime, berapa kali kau harus melarikan diri sebelum kau puas?"

Koyuki tidak menjawab, dia hanya mengangkat kepalanya dengan ekspresi yang tidak terbaca.

Naruto mengangkat wanita muda itu dan menggendongnya di punggung sambil mendesah pelan. "…Kenapa kau suka sekali membuatku cemas sih?"

Koyuki lagi-lagi tidak memberikan respon. Gadis yang lahir sebagai putri Daimyo di Yuki no Kuni itu terus bungkam sampai akhirnya mereka kembali menyusuri terowongan yang tak sampai sejam lalu telah dilewati oleh konvoi kru film.

"Aku tidak mengerti. Kenapa kau selalu bisa menemukanku…?" dia bertanya dengan suara kecil.

"Tidak mengertinya di mana?" Naruto menghembuskan napas. "Kau adalah tanggung jawabku, Hime. Ya pastilah aku selalu bisa menemukanmu." Naruto berpikir sebentar sebelum menambahkan, "Lagipula, mau lari kemanapun juga, kalau kau masih seharum ini, aku pasti akan menemukanmu."

Sejujurnya, dia hampir tidak pernah memakai parfum karena suka membuatnya bersin-bersin, dan itu berarti bau harum yang Naruto cium pastilah bau tubuh Koyuki sendiri. Pipi Koyuki jadi sedikit memerah karena secara tidak langsung, Naruto telah mengatakan bahwa dia menyukai aroma alami yang datang dari tubuh Koyuki.

Dia mengetok kepala bodyguard-nya itu untuk sedikit menepis rasa malu. "Dasar. Kau ini sudah seperti anjing herder saja."

Mendengar ejekan 'Hime'nya yang entah mengapa tidak berisi nada sinis itu, Naruto hanya tertawa. "Jangan bilang anjing dong. Paling tidak panggil aku serigala atau apa gitu. Kan lebih cocok."

Merasa ada desakan untuk bertingkah usil, Koyuki mencubit pipi Naruto. "Haa? Serigala? Tampang culun macam ini, cocok di mananya?"

Senyum di wajah Koyuki melebar saat mendengar Naruto yang mulai mengerang tidak jelas.

Sesegeranya setelah tawanya selesai, Koyuki meletakkan dagunya di pundak Naruto. "Hei, Naruto, aku boleh tanya sesuatu?" tanpa menunggu konfirmasi sang shinobi, Koyuki langsung melanjutkan pertanyaannya. "Kenapa kau bisa gigih sekali, menjaga dan mengurusku sampai seperti ini?"

"Oh, Hime, kau tidak tahu ya?" Naruto menyahut ceria. "Melindungi seorang tuan putri itu adalah mimpi setiap shinobi!"

Mendengar jawaban itu, wajah Koyuki langsung jadi masam. Jadi seperti itu ya? Jadi Naruto cuma memperlakukannya sebaik ini setelah mengetahui bahwa Koyuki adalah seorang tuan putri asli?

Koyuki yang sudah siap marah-marah lagi tiba-tiba otaknya mengirim sebuah memori. Dia dibentur oleh kesadaran bahwa sangkaan tersebut tidak benar adanya, karena dia ingat, Naruto telah memanggilnya 'Hime' sejak mereka pertama bertemu. Dan itu berarti, selama ini Naruto selalu memandang Koyuki sebagai tuan putri, bahkan sebelum dia mengetahui identitas asli Koyuki.

…Ah, sial. Kenapa wajahnya mendadak jadi terasa panas seperti ini? Bukannya mereka sedang ada di Negeri Musim Dingin?

"…Er, Hime?" lamunan Koyuki buyar ketika suara Naruto menyapa gendang telinganya lagi. "Hime, lihat sini deh."

Koyuki mengikuti arah tatapan Naruto. "…Rel?" cetusnya singkat, sebelum wajahnya mulai memucat. "T-tapi… itu berarti…"

Mereka berdua saling tatap, sebelum memandang ke arah belokan di ujung terowongan, di mana mereka bisa melihat pancaran cahaya yang semakin dan semakin terang seiring tiap detik yang berjalan.

Koyuki dan Naruto sama-sama menelan ludah saat mereka mendengar suara peluit nyaring yang disertai munculnya moncong sebuah kendaraan lokomotif besi. "…Kereta api." Mereka berucap bersamaan.

(Play Naruto OST – Bad Situation)

Naruto berbalik dan kembali mengerahkan jurus Lari Terbirit-birit yang telah ia peroleh dari sang Shishou. "Dari semua kendaraan yang ada di dunia ini—!" dia menjerit nyaring-nyaring. "Kenapa yang muncul harus kereta api sih?!"

"Kita bakal ditabrak!" Koyuki memekik ketakutan.

"Nggak akan!" Naruto berteriak balik. "Aku nggak akan membiarkan itu terjadi!"

"Naruto, kita nggak mungkin bisa lari kalau terus begini!" Koyuki menyanggah. "Tinggalkan saja aku! Kau pasti bisa lari lebih cepat kalau seorang diri!"

Koyuki tak bisa melihatnya, tapi dia hampir berani bersumpah bahwa ketiadaan jawaban dan menguatnya pegangan Naruto adalah bukti bahwa dia telah membuat shinobi itu marah.

Koyuki membenamkan wajahnya dalam-dalam ke pundak Naruto. "Sudahlah…" dia berbisik. "Kau tidak perlu berusaha sekeras ini. Sudah cukup, aku sudah tidak tahan lagi—"

"DIAM!" Seluruh tubuh Koyuki mengeras ketika suara raungan Naruto bergema dan bahkan bisa mengalahkan suara berisik kereta api yang mengejar mereka. "Apa kau sudah lupa, Hime?! Aku sudah berjanji aku akan membawakan akhir bahagia ke hadapanmu!"

Koyuki tersentak.

"Shinobi macam apa aku ini—!" Koyuki mengangkat wajah, dan lewat matanya yang berkaca-kaca, dia melihat bahwa kecepatan lari Naruto telah bertambah dua kali lipat. "Tidak, laki-laki macam apa aku ini… kalau aku tidak bisa menepati janji pada seorang gadis?!"

Tepat di detik itu juga, dinding yang telah Koyuki bangun untuk membentengi hati dan melindungi perasaannya rubuh seketika, hancur berkeping-keping sampai sama sekali tak bersisa.

"Sandayuu-occhan, JANGAN!"

Walau Naruto mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari, Jiraiya tahu bahwa muridnya itu takkan bisa tiba tepat waktu. Shinobi berusia lima puluh tahunan itu juga sadar bahwa dia hanya bisa melindungi diri dengan Hari Jizou (Needle Jizou) dan menyaksikan ketika Sandayuu dan lima puluh laki-laki lain yang setia pada Koyuki dihujani kunai secara bertubi-tubi, memuncratkan darah yang mengotori salju dan gugur satu persatu.

Jiraiya harus mengakui kekuatan tekad Sandayuu, karena ketika serangan itu berakhir, bapak paruh baya itu masih mampu berdiri walaupun badannya telah dipenuhi kunai-kunai yang mencuat di sana sini. Namun kelihatannya kekejaman Dotou memang tak berbatas, karena walaupun kematian pak tua itu telah terjamin, dia tetap saja mengirim sebuah gelombang hujan kunai untuk menghabisinya.

Mata Jiraiya melebar saat melihat bahwa Naruto telah berdiri di depan Sandayuu, menggigit ibu jarinya, sebelum menepukkan tangan yang ternoda darah itu ke salju.

"Fuuin: Kabe o Gekitai!" (Seal: Repel Wall!)

Kunai-kunai yang jumlahnya mencapai angka seratus itu berhasil ditangkal oleh dinding pelindung tak terlihat yang telah diciptakan oleh Fuuin paling pertama yang diciptakan oleh muridnya itu.

Merasa bahwa dia sudah tak bisa lagi hanya diam saja, Jiraiya dengan cepat melompat hingga tiba di sisi muridnya dan ikut melancarkan serangan balik. "Katon: Karyuu Endan!" (Fire Release: Fire Dragon Flame Bullet!)

Setelah memastikan dia telah mengerahkan hampir tiga kali lipat dari ukuran Chakra yang dibutuhkan, Jiraiya menghembuskan peluru api berbentuk seekor naga raksasa dengan dua cakar yang menyerbu ke arah kanan, kiri, dan depan secara bersamaan. Jutsu elemen Katon dengan tinggi dan lebar beberapa meter itu menghantam kereta api sehingga lima gerbong paling belakangnya langsung meledak dan dilahap oleh kobaran api membara. Dotou yang nampaknya sadar bahwa meneruskan pertempuran melawan seseorang dengan level seperti Jiraiya hanya akan merugikannya, langsung memerintahkan untuk memutus sambung ke gerbong-gerbong yang sudah tak bisa diselamatkan itu dan kabur dari tempat itu.

Jiraiya menoleh. "Naruto!" dia berseru saat melihat bahwa Naruto sudah bersiap untuk mengejar dari bahasa tubuhnya yang menegang. "Jangan kejar mereka!"

Naruto membalas tatapan gurunya untuk beberapa saat, sebelum membuang muka sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai telapak tangannya mengeluarkan darah.

(Play Naruto OST – Sadness and Sorrow)

Koyuki menatap Sandayuu yang sudah tidak bernapas lagi dengan wajah yang datar. "Kau ini benar-benar bodoh, Sandayuu…" dia berbisik. "'Jangan menangis' apanya? Obat tetes matanya kan ada di tanganmu."

"Hime…"

"Kalian sudah puas kan?" Koyuki berdiri. "…Ayo, lebih baik kita pergi sekarang."

Ketika tak ada sahutan, Koyuki menambahkan, "Kalau kalian tetap bersikeras untuk bertahan di negeri ini, kalian juga tidak akan selamat…!"

Koyuki berjalan menuju ke konvoi, namun baru beberapa langkah ia ambil, gerakannya terhenti saat Naruto bicara lagi. "Pergi ke mana, Hime?" shinobi itu bertanya pelan. "Negeri ini adalah tempat kelahiranmu kan? Apa kau tidak mau menyelamatkan kampung halamanmu sendiri?"

Koyuki mengepalkan tangannya. "Kau tahu apa…?" dia mendesis. "Di negeri ini, tidak ada yang namanya musim semi. Di negeri ini, air mata akan membeku, dan hati pun bisa menjadi kaku!" dia berjalan lagi. "'Menyelamatkan negeri ini'…? Mustahil!"

Langkah Koyuki kembali dihambat ketika Naruto memegangi pergelangan tangannya. "Hime, tunggu—!"

"Lepaskan aku!" Koyuki meronta.

"Hime, aku tak bisa membiarkanmu melakukan hal yang nantinya hanya akan kau sesali seperti ini!"

Koyuki memberi Naruto delikan terbaik dan tertajam yang dia miliki. "Apa kau bilang?! Memangnya kau pikir kau ini siapa, hah?! Kau ini cuma orang yang disewa oleh Sandayuu, dan itu berarti kau tak punya hak untuk mengatur-aturku! Aku tidak mau—!"

Koyuki tiba-tiba terdiam ketika Naruto menariknya hingga tubuh mereka merapat dan wajah Koyuki menghampiri dada sang bodyguard. Dia hanya bisa terus bungkam ketika Naruto membuka jaket panjangnya dan menutupi seluruh tubuh Koyuki dengannya.

"…Dulu kau pernah bilang bahwa air matamu telah kering, Hime," bisik Naruto pelan. "Tapi saat ini, apapun yang ingin kau lakukan, takkan ada orang yang bisa melihatnya."

Ada hening yang berlangsung cukup lama sebelum tubuh Koyuki melemas dan tangannya bergerak untuk mencengkeram jaket Naruto.

"KENAPA?!" Ketika Koyuki meraung sekuat tenaga, Naruto sama sekali tidak bereaksi. Dia tidak meringis atau berjengit, dan hanya terus berdiri diam tanpa melepaskan dekapannya. "Kenapa, Naruto?! Kenapa Sandayuu harus melakukan tindakan setolol ini?! Kenapa dia tidak sadar bahwa aku tidak mau pergi ke Yuki no Kuni karena aku tahu bahwa dia pasti akan melakukan hal bodoh yang akan membuatnya kehilangan nyawanya sendiri?!"

Di balik jaket panjang Naruto yang melindunginya dari pandangan maupun prasangka semua orang, Koyuki mencampakkan topeng dingin dan indiferen yang telah ia sempurnakan dalam karirnya sebagai aktris, dan mengeluarkan semua emosi yang semula terkekang dalam hatinya.

"Kenapa…?!" Koyuki membenamkan wajahnya dalam-dalam ke dada Naruto dan mulai terisak. "Padahal aku sudah cukup bahagia walaupun dia hanya mengurus semua kontrak dan jadwal kerjaku…! Padahal aku sudah cukup senang walaupun dia cuma membantu memakaikan obat tetes mata setiap kali aku perlu pura-pura menangis di depan kamera…! Lalu kenapa…?! Kenapa dia harus mati?! Apa tidak cukup saat aku harus kehilangan ayahku?! Kenapa Sandayuu juga harus meninggalkanku?!"

Naruto sama sekali mengatakan apa-apa, karena dia tahu bahwa takkan ada jawaban memuaskan untuk setiap pertanyaan yang telah Koyuki lontarkan. Satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah mengeratkan dekapannya, walaupun mungkin hal itu hanya bisa memberi sedikit rasa aman dan secercah pelipur lara demi sang tuan putri yang tengah disiksa duka karena telah kehilangan orang yang Koyuki anggap sebagai ayah kedua.

Sayang, bahkan hal itupun tidak berlangsung lama.

"Naruto!"

Dalam usahanya untuk menjadi penopang penderitaan Koyuki walau cuma sesaat, dan saat Jiraiya meneriakkan peringatan, Naruto tersadar bahwa dia telah lengah dan menurunkan kesiagaannya. Mata shinobi remaja itu melebar saat melihat bahwa beberapa kunai yang turut membawa semacam bom aneh berbentuk bola biru telah melesat dan sudah hampir sampai di tempatnya berdiri. Kalkulasi luar biasa cepat yang berlangsung dalam kepalanya memberitahu Naruto bahwa dia takkan sempat menghindar, hingga dengan reflek, shinobi itu mendorong Koyuki jauh ke depan agar dia terhindar dari serangan.

Hati Koyuki yang sempat dilanda bingung saat Naruto melemparkannya ke belakang berganti menjadi dipenuhi rasa ngeri ketika ia dipaksa menyaksikan bagaimana tubuh bodyguard-nya itu ditusuk oleh tak kurang dari lima paku es. Koyuki sama sekali tak menggubris rasa sakit yang ia terima saat tubuhnya menghantam salju, karena saat itu, seluruh perhatiannya terfokus pada dan hanya pada sang shinobi.

Rasa takut dalam hatinya melangit ketika Naruto memuntahkan cairan merah kental yang mengotori seluruh dagu dan menodai salju. Namun rentetan peristiwa itu tak berhenti di sana. Ketika Koyuki yang baru saja bangkit dan berniat untuk menghambur ke arah laki-laki yang telah menyelamatkan Koyuki dengan mengorbankan keselamatannya sendiri itu, sesuatu tiba-tiba mencengkeram punggungnya, dan satu detik kemudian, kaki Koyuki telah meninggalkan tanah.

"H-Hime—Ahak!" Walaupun kedua pundak, perut bagian kanan, satu lengan, dan kaki kirinya kini telah ditembus es-es runcing yang merupakan senjata rahasia khusus dari Yukigakure, walaupun mulutnya kembali memuntahkan darah sebagai pertanda bahwa kondisi tubuh shinobi itu telah terluka parah, entah mengapa, Koyuki tahu bahwa saat itu kekhawatiran Naruto malah ditujukan untuk dan hanya untuk Koyuki, dan bukan pada dirinya sendiri.

Naruto meronta sekuat tenaga sampai es-es runcing yang memaku dan mengekang tubuhnya mulai retak dan patah. "HIME!"

Koyuki mengulurkan tangannya, seakan-akan dengan melakukan itu ia bisa meraih tangan Naruto yang kini juga terjulur ke arahnya.

"NARUTOO!"

~•~

Saat pria bertubuh besar dengan rambut hitam sebahu tertangkap oleh matanya, Koyuki langsung berteriak garang. "Dotou!" Dia berlari ke depan dengan dua tangan terentang ke arah pria yang tak hanya telah menyebabkan kehidupan Koyuki menjadi penuh derita, tapi juga telah berani membuat bodyguard pribadinya terluka. Tapi ketika ujung jarinya sudah menyentuh leher yang sungguh ingin ia cekik itu, gerakan Koyuki terhenti karena Mizore telah mengekang kedua lengannya.

"Lepaskan aku!" Koyuki meronta sekuat tenaga sambil melemparkan sorot mata penuh kebencian pada ninja yang telah membantu Dotou memutus nyawa ayah Koyuki dan Sandayuu itu. "LEPASKAN AKU!"

Dotou tertawa keras. "Walaupun wajahmu sudah jadi begitu cantik, rupanya kehidupanmu di luar sana sudah membuatmu punya tingkah polah anjing liar seperti ini." Gelak tawa Dotou berhenti dengan begitu mendadak. "…Serahkan kristal heksagonal itu."

"Tak akan!" teriak Koyuki. "Lebih baik aku mati daripada menyerahkan peninggalan Chichiue padamu!"

Wajah Dotou berubah menjadi dingin dan seram. "Jangan banyak tingkah, Koyuki." Tangannya berkelebat dan mencengkeram kedua pipi tuan putri Yuki no Kuni itu. "Sepuluh tahun aku sudah menunggu. Sepuluh tahun aku sudah bersabar." Dotou menyeringai kejam. "Kaupikir, saat ini aku peduli dengan nyawamu? Aku bisa saja mengambil kristal itu sesudah membunuhm—"

Kalimat Dotou disela oleh sebuah getaran yang terasa mengguncang lantai pesawat terbang tersebut.

(Play Naruto Shippuuden OST – Anger Remix)

Dotou menyabetkan kepalanya ke arah operator mesin yang berdiri di samping pilot. "Ada apa?!"

"Mesin mendeteksi aktivitas Chakra, Dotou-sama! Dan datangnya dari lantai dasar—bukan, dari lantai satu—Eh?!" ninja tak bernama yang memakai penutup wajah itu menghentikan kata-katanya sendiri dan mendekatkan wajahnya ke layar untuk meneliti informasi yang ditunjukkan di sana dengan lebih teliti. Tak lebih dari satu detik kemudian, dia berbalik menghadap bosnya dengan mata melebar horor. "Dari bawah ruangan ini!"

Dotou bahkan tak sempat mengumpat ketika lantai besi di tengah-tengah ruangan dilantakkan oleh sesuatu sampai menciptakan sebuah lubang dengan jari-jari hampir semeter. Mata seluruh penghuni ruangan melebar sempurna ketika seseorang dengan rambut pirang berantakan yang mengenakan jaket hitam dan jubah tebal panjang berwarna kuning pucat meloncat keluar dari lubang tersebut dan mendarat di dalam ruangan.

Kepala orang itu terangkat, dan meskipun wajah pucatnya nampak dikotori oleh lumeran darah, dua mata biru langit yang entah mengapa masih bersorot tajam itu menunjukkan bahwa jiwa pemiliknya masih dipenuhi semangat juang. "HIME!"

"…Naruto…" Koyuki berbisik dengan suara sedikit terisak. "Naruto!"

Nadare mencambukkan satu tangannya ke depan dan meneriakkan perintah. "Tahan dia!"

Gerakan Naruto yang sebenarnya berniat melari dihambat ketika tubuhnya dibelit tali-tali yang berasal dari ninja-ninja berpenutup wajah di catwalk.

Naruto menggertakkan giginya. "Fuuton: Kamaitachi!" (Wind Release: Sickle Weasel!)

Sebentuk tornado kecil yang berisi puluhan pisau angin tak terlihat mengelilingi tubuh Naruto dan memotong habis tali-tali yang menjeratnya. Tanpa jeda, shinobi berusia lima belas tahun itu mengangkat tangannya dan melancarkan jurus selanjutnya. "Fuuton: Juuha Shou!" (Wind Release: Beast Tearing Palm!)

Melihat Naruto yang menebaskan tangannya berkali-kali dan mengirimkan gelombang demi gelombang Chakra elemen angin berbentuk bulan sabit ke arah atasannya, Nadare dengan cepat melompat ke depan Dotou dan memposisikan tubuh sedemikian rupa hingga berhasil menangkal semua serangan berbasis energi itu dengan medan kakas yang diciptakan oleh Chakra no Yoroi di pundak kirinya.

Menyaksikan bagaimana jurusnya bisa ditangkal dengan begitu mudah, Naruto tak lantas kecil hati dan mencoba cara lain. Ia mengeluarkan lima kunai yang semuanya ia lapisi dengan Chakra elemen angin dan lemparkan sebagai serangan selanjutnya. "Fuuton: Hien!" (Wind Release: Flying Swallow!)

Mata Nadare melebar saat melihat bagaimana kunai-kunai berlapis Fuuton tersebut menciptakan friksi hebat ketika berbenturan dengan energi Chakra no Yoroi, bukti yang menandakan bahwa jurus lawannya kali ini memiliki konsentrasi tinggi hingga hampir berhasil menembus medan kakas yang melindunginya.

Ketika dia lagi-lagi dipaksa menyaksikan serangannya gagal membuahkan hasil, Naruto kembali menggertakkan gigi dan mengangkat kedua tangannya dalam posisi setengah cengkeraman. Dua bola energi super padat yang merupakan hasil Keitai Henka (Shape Transformation) level tertinggi muncul di atas telapak tangannya.

"Rasenrenga—!"

Naruto kelihatannya sudah benar-benar meremehkan seburuk apa kondisinya sekarang, dan tubuhnya yang terus dipaksa mengerahkan jurus yang sangat membebani satu demi satu seperti itu tiba-tiba berontak, menyebabkan mulutnya menyemburkan darah segar seraya dua bola chakra di tangannya terurai ke udara. Shinobi berambut pirang itu terjatuh hingga berlutut dan kembali memuntahkan darah segar.

"Naruto…!" melihat bagaimana remaja yang tak pernah berhenti berusaha melindunginya itu, Koyuki kembali meronta dalam usaha membebaskan diri, namun cekalan Mizore tak pernah bergeming walaupun cuma sekali. "Naruto!"

Nadare tak menyia-nyiakan kesempatan emas yang telah ia dapatkan. Yukinin (Snow Ninja) tersebut membuka sebuah kompartemen di dinding dan mengeluarkan sebuah benda sebelum melesat ke arah ninja Konoha yang kini sudah kembali mulai berusaha bangkit lagi itu.

Mata Naruto yang masih berkunang-kunang karena tubuhnya yang mulai mengalami defisit darah hanya bisa menyaksikan ketika Nadare menghantamkan sebuah kontrapsi aneh ke perutnya. Benda besi tebal dengan desain seperti roda gir tersebut mengeluarkan lima tentakel yang menusuk dan menancap di sekeliling perutnya.

Naruto menjerit sekeras-kerasnya ketika kontrapsi aneh itu mengalirkan setruman listrik bertenaga tinggi yang membuat tubuhnya seperti ditusuk ribuan jarum dari ujung kaki sampai puncak kepala.

"Naruto!" Koyuki kembali berteriak sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Nadare yang kini sudah melompat kembali ke samping Dotou. "Apa yang sudah kau lakukan padanya?! Benda apa itu?!"

"Piranti pengekang Chakra, kontrapsi unik yang hanya ada di Yukigakure," jawab Dotou sambil mengamati Naruto yang terus menggeliat kesakitan. "Tak hanya berguna untuk menghisap dan mengekang Chakra korban, alat itu juga memiliki pelindung yang sangat kuat sehingga takkan pernah bisa dilepaskan atau dihancurkan—" Dia menyeringai lebar. "—Selama-lamanya."

Fubuki yang tadi sebenarnya sudah berniat ikut terjun dalam pertempuran melompat turun dari catwalk dan mendengus. "Setelah dipasangi alat ini, dia takkan lagi bisa melawan." Dia terkikik kejam. "Sekarang, dia tak lebih dari seorang bocah ingusa—"

Kata-kata Fubuki mendapat selaan ketika Naruto tiba-tiba meninju lantai sampai papan besi itu melesak di bawah kepalan tangannya.

Naruto menggeram ganas, dan meskipun percikan-percikan listrik masih beterbangan di sekeliling tubuhnya sebagai pertanda bahwa dia masih menderita setruman listrik ribuan volt yang sangat menyiksa, shinobi berambut pirang itu tetap berhasil memaksa dirinya untuk berdiri. "…kembalikan Hime…"

"…Naruto?" Koyuki berbisik.

Naruto menciptakan kekuatan untuk mengambil satu langkah ke depan dengan menggigit bibirnya sekuat tenaga sampai mengeluarkan darah. "Kembalikan Hime…!" dia kembali menggeram. Kepalanya terangkat, menunjukkan bahwa mata biru langitnya telah bercahaya seakan-akan ada lampu yang menyala di baliknya. "Kembalikan Hime!"

Tak seperti bawahan-bawahannya yang dibuat gentar sampai mengambil satu langkah mundur, Dotou malah tergelak nyaring. "Bisa melawan efek piranti pengekang Chakra yang telah kuciptakan sendiri sampai seperti ini… kau benar-benar orang yang menarik, bocah!" dia berjalan ke sisi ruangan dan mengeluarkan satu piranti pengekang Chakra lain dari kompartemen di dinding sebelum melangkah maju untuk menghampiri Naruto. "Dan karena pertunjukan yang sangat menarik ini, kau akan kuberi hadiah!"

Intensitas dan volume jeritan Naruto bertambah dua kali lipat ketika Dotou memasang benda itu ke dada Naruto. Kali ini, kekuatan setruman yang juga berlipat ganda akhirnya berhasil mengalahkan tubuh Naruto yang sudah didera luka-luka, menggelapkan pandangannya dan mengirim Naruto ke alam ketidaksadaran.

Tanpa mampu berbuat apa-apa, Koyuki hanya bisa kembali menyerukan nama orang yang telah mencoba sekuat tenaga untuk melindunginya itu. "Naruto!"

"Serahkan ini pada kami, Dotou-sama," Nadare melangkah ke samping bosnya. "Kami akan mengenyahkannya sekarang juga."

"Hmm," Dotou mengumbang sambil mencubit dagunya. "Tak perlu melakukan itu, Nadare." Dia berbalik dan melemparkan sebuah seringai kejam ke arah Koyuki.

"Aku punya rencana yang lebih bagus."

~•~

(Play Naruto Shippuuden OST – Despair)

"H-hentikan…!" Koyuki berseru lirih. "Kumohon, jangan lakukan ini…! Jangan lukai Naruto lagi…!" Dia terisak hebat sampai bahunya gemetaran, tak menggubris bagaimana air mata telah membasahi seluruh pipinya.

Jeritan nyaring penuh derita kembali memenuhi ruangan yang sangat luas itu.

"Kumohon, hentikan…!" Koyuki merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan kristal heksagonal yang diincar oleh pamannya. "Dotou, kau menginginkan kristal ini kan…?!" Koyuki terus menghiba dengan putus asa. "Ambil saja kalau begitu…! Aku tak butuh harta keluarga Kazahana, tapi kumohon, jangan siksa Naruto lagi…!"

Walaupun keponakannya telah memohon-mohon seperti itu, Dotou hanya tertawa. "Harusnya kau memikirkan itu saat kau pertama membangkang, Koyuki!" dia memberi isyarat pada bawahannya dengan satu kibasan tangan. "Lakukan lagi!"

Nadare mengangguk dan meraih satu jarum lain yang telah dipanaskan sedemikian rupa sampai warnanya menjadi jingga seperti bara, dan menusukkan benda itu ke tubuh sang shinobi berambut pirang yang dipasung sampai dia kembali menjerit kesakitan, sebelum mencabut jarum besi itu pelan-pelan untuk efek yang lebih mendalam.

"Cup cup cup cup. Aduh kasihan, sakit ya…?" Mizore mencondongkan tubuhnya untuk berbisik di telinga shinobi Konoha yang dipasung itu. Di tangannya, tergenggam sebuah botol. "Sini, biar kubantu menyembuhkan lukanya."

Shinobi dari Yuki no Kuni itu membuka tutup botol berisi alkohol yang ia genggam dan mencurahkan isinya banyak-banyak di puncak kepala Naruto hingga membasahi sekujur tubuhnya yang dipenuhi luka.

Kali ini, saking nyaring dan lamanya ia meraung kesakitan, pita suara Naruto turut mengalami kerusakan hingga suaranya menjadi serak.

Koyuki yang kini tengah dipegangi oleh Fubuki hingga tak bisa bergerak hanya mampu menangis walau tahu bahwa hal itu takkan merubah apa-apa. Bukankah mereka telah menyiksa Naruto selama beberapa jam, mulai dari sore sampai lama setelah matahari terbenam? Dan tak hanya itu, mereka juga sama sekali tak memberinya rehat, karena setiap kali Naruto hampir pingsan, mereka akan langsung menyuntikkan adrenalin yang sebenarnya juga berpengaruh buruk bagi tubuh kalau digunakan secara berlebihan. Tapi kenapa? Kenapa mereka belum puas-puas juga? Apakah mereka berniat menyiksa Naruto sampai dia kehilangan nyawa? Apakah—?

Renungan Koyuki terpaksa dihentikan karena mansion tempat mereka berada tiba-tiba saja bergetar hebat seperti sedang diguncang oleh gempa.

"Ada apa?!" Dotou berdiri dari singgasananya, sedikit rasa panik terpancar di matanya. "Apa yang baru saja terjadi?!"

Seakan-akan bisa mendengar pertanyaan Dotou, pintu ruangan tersebut menjeblak terbuka, menunjukkan seorang Yukinin tak bernama yang menyeruak masuk ke dalam sambil berteriak, "Kita sedang diserang, Dotou-sama!"

"Aku sudah tahu itu!" Dotou menghardik. "Tapi oleh siapa?!"

Ninja dari Yukigakure itu meletakkan jari di alat komunikasi yang terpasang di telinganya. Tak sampai lima detik berselang, walau dia memakai penutup wajah, mereka semua bisa melihat bagaimana air mukanya telah menjadi pucat pasi dan matanya melebar total. "K-kita diserang oleh s-satu orang…" dia terbata.

"Apa?!" tepat setelah Dotou berteriak, mansion itu kembali berguncang. Dan kali ini, bisa terasa jelas bahwa penyebabnya berasal dari empat arah berbeda. "Mana mungkin serangan seperti ini hanya dilakukan oleh satu orang?!"

"K-kita diserang oleh satu orang…" bawahannya tersebut menelan ludah. "D-dan… t-t-tiga ekor kodok raksasa…"

Hening sesaat yang tercipta di ruangan itu dipecahkan oleh suara raungan murka yang bisa terdengar walaupun asalnya jelas-jelas sangat jauh dari sana.

"KAZAHANA DOTOU!"

Koyuki dan Naruto tersentak secara bersamaan. Harapan kembali berkembang dalam hati mereka setelah mendengar suara yang diikuti oleh dentuman ledakan bertubi-tubi yang kembali mengguncang mansion tersebut.

Karena suara itu adalah suara Jiraiya.

Tak hanya itu, suara itu adalah suara raungan Jiraiya yang sedang [Marah].

Sadar akan hal mengerikan macam apa yang sekarang sedang mengincar dirinya, wajah Dotou yang biasanya penuh percaya diri kini terisi sedikit rasa takut dan panik. "Nadare, Fubuki, Mizore!" dia meraungkan perintah. "Pergi dan urus orang itu!"

Ketiga ninja itu berlutut. "Baik, Dotou-sama!"

"Dan kau!" pria bertubuh besar itu melangkah dengan tergesa-gesa ke arah Koyuki. "Cepat serahkan kristal itu padaku!"

Sadar bahwa saat ini adalah satu-satunya kesempatan yang bisa ia gunakan, Koyuki menggigit bibirnya dan membuat keputusan. Saat Dotou hanya tinggal berjarak dua langkah, bukannya mengeluarkan benda yang dia inginkan, Koyuki malah mencabut pedang wakizashi yang dia ambil dari Sandayuu setelah kematiannya, dan menusukkan benda itu ke dada Dotou.

Napas Dotou tercekat. Wajahnya berubah murka dan tangannya berkelebat untuk mencekik leher Koyuki.

"Hime!" melihat tuan putrinya yang sedang dalam bahaya, Naruto kembali meronta.

"Aku sudah tahu kalau aku akan mati kalau kembali ke negeri ini, Naruto…" Koyuki berkata dengan suara mengecil karena persediaan oksigen yang mulai menipis. "Karena itulah, setidaknya… setidaknya…"

Naruto tak menggubris rasa sakit ketika tubuhnya kembali disetrum listrik berkekuatan ribuan volt dan terus meronta sekuat tenaga. "Hime! Hime!"

"Chichiue…" Koyuki mengingat ayahnya. "…Sandayuu…" Dia mengingat ayah keduanya.

Dotou melepaskan cekikannya dan memilih untuk memukul perut Koyuki hingga pegangan sang gadis muda pada pedangnya terlepas dan tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai.

Suara derak besi nyaring memenuhi ruangan itu ketika Naruto berhasil memaksa diri untuk menghancurkan rantai yang telah mengekang tangan dan kakinya. Seakan-akan dia tidak baru saja menerima siksaan selama beberapa jam, shinobi berambut pirang itu langsung berdiri dan menghambur ke arah Koyuki. "HIME!"

Perjalanan Naruto tidak sampai ke tujuan karena tinju Dotou sudah terlebih dahulu menghampiri pipinya dan mementalkan remaja itu ke seberang ruangan.

Dotou mendengus sambil membuka jubah dan kimono yang membungkus tubuhnya. "Dia kira dia bisa membunuhku hanya dengan menusukku seperti ini?" suara dentingan terdengar ketika wakizashi itu terjatuh ke lantai seiring dengan terungkapnya fakta bahwa di balik bajunya, tubuh Dotou terbungkus baju besi berwarna hitam.

"Benar," ucap Dotou saat melihat mata Naruto yang melebar. "Baju besi ini adalah Chakra no Yoroi paling mutakhir yang pernah ada di dunia ini!"

Tubuh Naruto menegang dalam persiapan untuk bertempur, namun perhatian kedua lelaki itu teralih ketika mereka mendengar suara batukan yang datang dari Koyuki.

"Hime!" rasa lega yang menyertai seruan Naruto tidak berumur panjang karena Dotou telah lebih dulu mengangkat dan menggotong tuan putrinya. "Brengsek, lepaskan Hime!"

Namun selagi dia berlari, pandangan Naruto tiba-tiba memburam sesaat dan langkahnya terhuyung, menciptakan celah yang Dotou gunakan untuk menghajar sang shinobi hingga dia kembali terpental jauh ke belakang.

"Naruto!"

"Kau pikir kau bisa apa dengan Chakra yang dikekang penuh dan luka-luka separah itu?" Setelah beberapa detik mengamati Naruto yang terus berusaha untuk bangkit lagi walau tubuh dan pakaiannya kini telah penuh lumuran darah, Dotou menoleh ke arah Koyuki yang memukul-mukul kakinya tanpa hasil.

"Sudah waktunya pergi, Koyuki."

"Hime!"

"Naruto!"

Naruto sebenarnya ingin menyahut, namun takdir telah berbicara dan dia yang terjatuh dari ketinggian puluhan meter hanya bisa menyaksikan ketika tuan putrinya dibawa pergi. Naruto yang sekarang adalah Naruto yang hanya bisa mementingkan orang lain, dan karena saat ini satu-satunya emosi yang mengisi hati Naruto adalah rasa khawatir pada sang Hime, dia hampir saja tidak menggubris rasa sakit ketika dia terjatuh menghantam beberapa pohon hingga otot punggungnya memar hebat dan tulang belikatnya retak.

"…Hime…" Tapi bahkan dengan tubuh yang sudah hancur sedemikian rupa, Naruto tetap memaksa diri untuk merangkak keluar dari lubang yang tercipta saat ia mendarat, berdiri, dan mulai berlari tertatih-tatih hanya dengan dibantu oleh kekuatan tekad api dan baja. "Hime~!"

Sial bagi Naruto, tubuhnya memilih saat itu untuk kembali berontak, membuat pandangannya mengabur dan tubuhnya terayun seperti mau jatuh ke depan.

Wajah Naruto tiba-tiba menabrak sesuatu. Aroma teh hijau, kertas tulis, dan tinta yang tercium di hidungnya membuat Naruto sadar siapa orang yang kini memegang bahunya hingga Naruto bisa terus berdiri itu.

"…Shishou…" dia berbisik pelan.

"Dasar murid bego," pria berusia paruh baya dengan tubuh setinggi hampir dua meter itu mendesah lirih. "Kenapa, Naruto? Kenapa kau suka sekali tidak mengacuhkan keselamatanmu sendiri seperti ini?"

Naruto meletakkan tangannya di dada sang guru dan menggunakannya sebagai penopang agar dia bisa berdiri tegak lagi. "Kita tak punya waktu buat diskusi, Shishou…" bahkan untuk bicara sekalipun harus Naruto lakukan dengan napas terengah. "Hime… aku harus menyelamatkan Hime…"

Wajah Jiraiya berubah garang. Tangannya mencengkeram bahu Naruto dan mengguncang tubuh muridnya itu. "Apa kau tidak sadar bahwa saat ini kau sudah mati setengah, hah?!" dia menghardik. "Apa kau—?!"

Naruto dengan cepat meraih pergelangan tangan Jiraiya dan meremasnya. "Shishou." Dia mendongak, dan menunjukkan bahwa semangat juang masih menyala dalam matanya. "Kita. Sedang. Menjalankan. Misi."

Jiraiya tertegun sesaat. "…Puh." Dia tersedak, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.

Jiraiya menggeleng-gelengkan kepala. "Ahh, ampun, ampun, ampun, ampun. Puluhan tahun aku menjadi shinobi, dan sekarang aku harus diingatkan oleh muridku sendiri?"

Naruto mendengus. "Mungkin kau cuma sudah mulai pikun…"

"Siapa yang kau panggil pikun, bocah bego?" Jiraiya menjitak kepala Naruto dan tersenyum. "Kau yakin kau bisa melakukan ini?"

Naruto menaikkan sebelah alisnya. "Shishou, kau sudah pernah melemparku ke dalam jurang, dan menyuruhku berenang menyeberangi lautan. Kau bahkan sudah pernah membuatku terjun bebas dari pesawat terbang tanpa parasut." Dia bersidekap. "Tentu saja aku yakin."

Jiraiya kembali tertawa lepas. "Baiklah kalau begitu—heit, heit, heit." Dia mencekal bahu Naruto ketika sang murid itu sekonyong-konyong sudah mencoba berlari lagi.

Naruto mengerutkan dahi. "Ada apa lagi sekarang?"

"Tunggu sebentar."

Tidak sampai lima detik setelah Jiraiya mengatakan itu, suara derung motor terdengar dan tak berapa lama, sebuah kendaraan khusus untuk digunakan di medan bersalju berhenti di depan mereka.

"…Pak Sutradara?" tanya Naruto.

"Hei, bocah," sapa sang bapak tua yang memakai kacamata berwarna biru itu. "Kau tidak berpikir bahwa syuting sudah berakhir kan?"

"Minum ini dulu," Jiraiya mengangkat telapak tangan Naruto dan meletakkan satu Zouketsugan (Blood Increasing Pill) di atasnya, sebelum menepuk punggung sang murid. "Pergi sana gih."

Naruto menelan pil yang akan memberi mengisi kembali darah di tubuhnya itu. "Kau tidak ikut, Shishou?"

Jiraiya tidak menjawab, dia hanya berbalik dan bersidekap.

Naruto dengan cepat memandang ke arah Jiraiya menghadap dengan mata yang sudah bercahaya. Walau dia tak bisa melihat menembus kegelapan, kemampuan untuk membaca [Aksara Semesta] dan mengekstrak [Data] dari Bumi yang ia warisi dari Klan Namikaze mengirimkan ratusan info ke otaknya sampai ke detil terkecil, memberitahu Naruto bahwa getaran kecil yang terasa di lapisan salju dan pepohonan itu adalah hasil derap lari yang datang dari—

—Oh Tuhan.

Getaran itu berasal dari kaki tiga ratus tiga puluh delapan shinobi Yukigakure yang sedang menuju lokasi tempat mereka tengah berdiri.

"Ngapain kau, gaki? Bukannya kau sudah kusuruh pergi?"

Bahasa tubuh Jiraiya memberitahu Naruto bahwa mereka memang hanya pilihan seperti ini. Agar Naruto bisa mengalahkan Dotou dan menyelamatkan Koyuki tanpa gangguan, maka Jiraiya harus tinggal di belakang untuk mengurus sisa pasukan.

Tapi itu tidak berarti Naruto akan meninggalkan gurunya begitu saja tanpa bantuan.

"Shishou," dia menarik perhatian Jiraiya. "Chakra no Yoroi punya satu kelemahan. Medan kakas yang digenerasi oleh benda itu hanya bisa diaktifkan kalau para penggunanya terpisah dalam jarak setidaknya lima meter." Itulah mengapa dalam pertempuran di pesawat sore tadi, hanya Nadare lah satu-satunya orang yang menggunakan medan kakas Chakra no Yoroi miliknya untuk melindungi Dotou dari jurus-jurus Naruto. "Tak hanya itu, aku juga sudah [Membaca] bahwa energi Chakra no Yoroi itu sangat tidak stabil, hingga kalau dua medan kakas diaktifkan dalam jarak dekat, akan tercipta reaksi keras yang akan membuatnya mengalami disfungsi total, kalau tidak ledakan besar."

"…Aku mengerti," Jiraiya mengangguk. "Terima kasih buat infonya."

Naruto naik ke kendaraan. "Jangan sampai kalah, Ero-sennin." Dia menggunakan nama panggilan sayang yang paling sering ia pakai untuk gurunya.

Selagi kendaraan yang membawa murid yang sangat ia sayangi itu pergi, Jiraiya terkekeh pelan. "Harusnya aku yang mengatakan itu padamu, gaki."

Jiraiya tak perlu menunggu lama, karena baru dua menit sepeninggal Naruto, seluruh bagian hutan di hadapan sang Gama Sennin telah dipenuhi oleh ninja-ninja berpenampilan serba putih yang dipimpin oleh dua shinobi dan satu kunoichi.

Jiraiya tersenyum. "Hai."

Nadare menggertakkan giginya dengan gusar. "Mizore!"

"Baik!"

Shinobi dengan tubuh besar itu melesat ke depan, dan melancarkan pukulan dengan tangan kiri yang seluruhnya dilapisi sarung tangan besi.

Mata Mizore membulat sempurna hingga menyerupai bola pingpong ketika Jiraiya menahan pukulannya itu hanya dengan tangan kanan. Tanpa bergerak sedikitpun.

Jiraiya mencengkeram, dan Mizore langsung dilanda rasa panik hebat saat melihat sarung tangan besinya yang mulai penyot perlahan-lahan di bawah tekanan jari-jari sang musuh. "Oh, aku kenal kau." Senyuman yang tadi menghiasi wajah Jiraiya lenyap dalam sekejab, digantikan ekspresi teramat dingin yang menghentikan detak jantung siapapun yang harus melihatnya.

"Kau orang yang sudah menyiksa muridku."

Tinju kiri Jiraiya menghampiri wajah Mizore, membuatnya terpental begitu jauh dan keras sampai merubuhkan lima batang pohon yang dipaksa memperlambat kecepatan terbangnya. Saat Yukinin itu mendarat di tanah, dia hanya bisa mengerang kesakitan karena pipi membelesak ke dalam dan gigi patah yang berhamburan.

"Apa kalian tahu—" Nadare dan Fubuki yang tadi menatap rekan mereka dikalahkan hanya dengan sekali pukul menyabetkan pandangan mereka ke depan saat lawan mereka kembali buka suara. "—bahwa aku menganggap Naruto seperti anakku sendiri?"

Suasana malam yang tadi sebenarnya normal berubah saat Jiraiya mengambil satu langkah ke depan. Nadare, Fubuki, dan ratusan Yukinin yang menyertai mereka dicekam rasa takut luar biasa karena aura opresif Jiraiya telah memenuhi udara, membuat mereka merasa tak ubahnya seperti serangga kecil di depan seekor kodok besar yang sangat lapar.

"Dan apa kalian tahu?"

Jiraiya tidak menggeram. Tidak menyeringai. Dia bahkan tidak mendelik.

Dia hanya berjalan ke depan.

"Seperti apa amarah seorang ayah?"

~•~

(Play Jormungand OST – Under/Shaft)

Naruto melompat turun dari kendaraan yang ia tumpangi dan mulai berkelebat secepat-cepatnya. "Hime!"

Koyuki menoleh dengan ekspresi kaget. "Naruto!"

"Cih…!" Dotou mendecih dengan gusar dan memulai sekuens Insou (Hand Seals) untuk memakai Jutsu andalannya. "Hyouton: Kokuryuu Boufuusetsu!" (Ice Release: Black Dragon Blizzard!)

Naruto tidak terlihat gentar sedikitpun, dan dengan sigap, dia melompat dan bersalto ke udara di atasnaga hitam bermata merah menyongsongnya. Mata shinobi pirang itu melebar ketika mendapati bahwa satu naga hitam lain telah dilancarkan untuk memburunya, dan seakan itu belum cukup, Naruto dikejutkan lagi ketika naga yang tadi sudah ia hindari ternyata memiliki kemampuan untuk mengubah arah dan memburunya dari belakang.

Ketiadaan Chakra membuat Naruto hanya bisa menyilangkan tangannya dan menggertakkan gigi sekuat tenaga ketika dua naga hasil jurus Dotou itu menabraknya dari dua arah.

Mata Koyuki melebar shock saat melihat bagaimana sosok bodyguard-nya yang lenyap ditelan asap. "Naruto!"

Kesadaran Naruto hampir menghilang ketika dia akhirnya terjatuh dan terkapar di atas lapisan es. Kali ini, tulang belikatnya benar-benar terasa seperti remuk dan setidaknya ada tiga tulang rusuk yang patah di dadanya.

Namun Naruto bukanlah orang yang gampang menyerah. Lebih dari itu, dia bukanlah orang yang pernah menyerah.

Karena itulah, walaupun tubuhnya sudah remuk redam sedemikian rupa, remaja berusia lima belas tahun itu tetap mampu untuk bangkit lagi.

"Kumohon, Naruto, hentikan! Kalau kau terus memaksa seperti ini, kau benar-benar akan mati!" setetes air mata jatuh di pipi Koyuki. "Kau tidak perlu melindungiku lagi!"

Naruto terhuyung dan terkekeh. "Hime, apa kau lupa? Melindungi seorang tuan putri adalah mimpi setiap shinobi…"

"Tapi!" Naruto menginjakkan kaki kanannya dengan begitu keras sampai lapisan es yang ia pijak kembali retak. "Lebih dari itu, aku sudah berjanji!" Naruto mengangkat kepala, menampakkan mata biru langit yang bercahaya. "Apapun yang terjadi…! Walau aku harus mati!"

Dia mendongak dan berteriak senyaring-nyaringnya.

"AKU AKAN MEMBAWAKAN [AKHIR BAHAGIA] ITU KE HADAPANMU!"

Naruto menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. "KAZAHANA DOTOU!"

Dotou yang telah berlari maju turut memberikan teriakan balasan. "BOCAH JAHANAM!"

Dua tinju bertemu, menghasilkan gelombang kejut yang begitu kuat sampai seluruh lapisan es di bawah kaki Naruto hancur dan membuat shinobi itu jatuh ke dalam air. Seiring tubuhnya yang tenggelam perlahan-lahan, mulut Naruto terbuka dan membuncahkan darah yang menggelegak keluar dari kerongkongannya.

Dia menutup mata.

Saat mata Naruto terbuka kembali, dia telah terbaring di sebuah ruangan dengan lantai berlapis genangan air yang berpendar kuning kehijauan.

Tepat di sampingnya, telah berjongkok seorang gadis dengan telinga berujung lancip yang dilapisi bulu merah.

"Hmph." Perwujudan asli Kyuubi no Youko itu mendengus. "Goshujin-sama no baka."

"…Aku benar-benar nggak ngerti apa yang sudah kulakukan sampai layak diejek seperti itu, Kurama."

"Soalnya Goshujin-sama terlalu suka berkelahi sendirian sih," sahut Kurama sambil mencubit pipi sang majikan. "Bukannya Kurama sudah bilang kalau Goshujin-sama bisa minta bantuan pada Kurama kapan saja?"

"…Yah," Naruto membuang muka dengan malu-malu. "Aku kan cuma pingin mandiri…"

Kurama bergerak ke depan dan menunggangi perut sang majikan. "Berapa kali harus Kurama katakan, Goshujin-sama?" tangannya bergerak untuk mencubit kedua pipi Naruto dan menjewernya lebar-lebar ke samping. "Goshujin-sama nggak boleh jadi mandiri. Goshujin-sama harus membutuhkan Kurama selamanya."

"Thaphi—"

"Nggak boleh." Kurama menggeleng.

"Akhu khan—"

"Nggak. Boleh." Kurama mendelik.

Naruto menghembuskan napas panjang, membuat Kurama tersenyum dan melepaskan cubitannya karena tahu majikannya telah menyerah.

"Jadi…" Naruto duduk dan mengusap tengkuknya. "Bisa tolong bantu aku, Kurama?"

Senyuman di wajah Kurama menjadi semakin lebar. "Tentu saja, Goshujin-sama."

Tubuh gadis berambut merah itu mulai menyinarkan cahaya, yang menjadi pertanda dimulainya salah satu kemampuan khusus Kurama. Dia bisa mengambil Youki mentah yang tersegel di balik Shiki Fuujin dan [Memurnikan]nya hingga bisa dipakai dan takkan lagi berbahaya untuk seorang manusia. Cahaya yang membungkus tubuh Kurama menjadi semakin kuat secara perlahan-lahan sampai dunia gorong-gorong itu berubah dari gelap menjadi terang, karena jika Youki Kurama [Dimurnikan], energi itu akan berubah menjadi Chakra berwarna [Keemasan].

Gadis personifikasi makhluk mistis itu menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Naruto. "Karena kekuatan, hati, tubuh, atau bahkan jiwa Kurama—"

Mereka berdua memejamkan mata, sebelum Kurama mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengecup dahi sang majikan.

"—Semua itu adalah milik Goshujin-sama."

(Play Jormundgand OST – Under/Shaft again or play Naruto Shippuuden OST – Crushing)

Dotou yang baru saja berbalik karena mengira dia telah berhasil mengalahkan musuhnya, dikejutkan ketika lapisan salju dan es yang ia pijak tiba-tiba bergetar. Dia berbalik lagi, dan dengan mata bersinar tak percaya, Dotou menyaksikan bagaimana air di mana musuhnya tenggelam mengeluarkan pendar keemasan.

Lapisan air itu meledak dengan kekuatan hebat, dan beberapa detik berikutnya, shinobi berambut pirang itu telah berdiri di atas permukaannya.

Tak hanya dua alat pengekang Chakra yang telah hancur, hal lain yang membuat mata semua orang di tempat itu melebar sempurna sampai tak ubahnya seperti bola-bola pingpong adalah pemandangan sosok Naruto yang kini dibungkus oleh energi dengan pendar keemasan, berkobar terang dan melecut-lecut seperti api matahari.

"Kau!" Dotou berteriak gusar. "Kenapa kau tidak mati-mati juga?!"

"Apa ini pertama kalinya—" tangan Naruto berkelebat untuk membentuk empat puluh empat Insou. "—kau melawan seorang shinobi Konoha?!"

Sekuens pembentukan Insou tersebut berakhir dengan segel Tori (Bird). "Suiton: Suiryuudan!" (Water Release: Water Dragon Bullet!)

Seekor naga yang terbentuk dari air di sekeliling Naruto muncul dan melayang ke udara. Namun alih-alih menyerbu musuh, naga air itu malah hanya terbang beberapa meter di atas kepala tuannya, meliuk-liuk dengan anggun di udara seakan-akan dia bukanlah produk sebuah Jutsu, tapi seekor makhluk gaib yang datang dari alam lain.

Ketika shinobi berambut pirang itu mengangkat tangannya yang dibungkus cahaya hijau ke atas, membuat naga air yang terbang meliuk-liuk di atas kepalanya mulai berubah warna menjadi seperti sinar yang terpancar oleh tangan tuannya. Gerakan terbangnya semakin cepat dan permukaan tubuhnya mulai beriak-riak, sehingga penampilan naga itu berubah dari menjadi binatang gaib yang tenang menjadi makhluk sakti yang buas bukan buatan.

Tahu bahwa menerima Jutsu itu tanpa perlawanan bukanlah tindakan bijaksana, Dotou membentuk beberapa Insou untuk mengerahkan jurus andalannya sendiri.

Naruto mencambukkan tangannya ke depan. "Konbijutsu: Haranryuudan!" (Combination Technique: Raging Dragon Bullet!)

Dotou turut meneriakkan nama Jutsu balasan. "Hyouton: Souryuu Boufuusetsu!" (Ice Release: Twin Dragon Blizzard!)

Dua Jutsu dengan kekuatan penghancur dan daya konkusif tinggi itu berbenturan, menampilkan pertunjukan di mana satu naga campuran elemen angin dan air melawan dua naga hitam elemen es dalam sebuah pertempuran yang begitu ganas dan mematikan sampai-sampai menciptakan sebuah tornado yang membubung tinggi sampai menembus awan.

Sial bagi Naruto, karena dia tidak seperti Dotou yang dilindungi oleh medan kakas dari Chakra no Yoroi miliknya, shinobi berambut pirang itu ditelan oleh tornado tersebut dan turut diterbangkan ke langit.

Dotou yang sudah siap tertawa karena mengira dia sudah berhasil menang lagi-lagi harus didera kekecewaan ketika sebuah teriakan terdengar dari arah atas.

"Tajuu Kagebunshin no Jutsu!"

Semua orang di area itu mendongak, dan melihat bahwa langit telah dipenuhi oleh ninja-ninja berpenampilan identik.

"Namikaze Naruto no Ninjutsu Ougi!" (Namikaze Naruto's Ninjutsu Supreme Technique!)

Naruto dan ratusan kembarannya yang terjun bebas menuju bumi dengan kecepatan sangat tinggi karena bantuan manipulasi elemen angin itu mengangkat tangan kanan mereka dalam posisi setengah cengkeraman, di mana kemudian tercipta sebuah bola energi super padat yang mengeluarkan suara berdesing seperti jet pesawat terbang.

Mereka semua berteriak bersamaan.

"Rasen Chou Tarengan!" (Spiralling Sphere Super Barrage!)

Dotou hanya bisa menyilangkan tangannya di depan wajah dan membiarkan medan kakas yang digenerasi oleh Chakra no Yoroi untuk melindungi dirinya. Tak urung, walaupun Chakra no Yoroi yang ia pakai adalah baju besi paling mutakhir berkekuatan tertinggi yang pernah diciptakan oleh Yukigakure, walaupun Chakra no Yoroi itu harusnya bisa menangkal deraan Jutsu sekuat apapun juga, tetap saja benda itu dipaksa tunduk dan kelebihan muatan ketika harus bertahan melawan ratusan jurus berdaya hancur tinggi yang menghajarnya dengan begitu bertubi-tubi sehingga mulai retak perlahan-lahan.

Hampir satu menit kemudian, di balik kepulan asap hasil serbuan yang sangat dahsyat itu, sosok Dotou kembali muncul. Dan walaupun Chakra no Yoroi-nya telah retak-retak sedemikian rupa, tubuh pria berambut sebahu itu sama sekali tak menunjukkan luka-luka.

"Cuma seperti itu?!" Dia tertawa. "Jadi cuma seperti itu usaha terbaikmu, bocah jahanam?!"

Kepulan asap yang pupus turut menunjukkan Naruto yang kini berdiri dengan kepala tertunduk. Walau tubuhnya sudah tak lagi memancarkan sinar keemasan, tapi saat remaja itu mendongak, mata biru langitnya yang penuh semangat juang masih bercahaya terang.

"Naruto!" suara Koyuki tiba-tiba terdengar di telinga dua petarung itu. "Aku percaya!" mata Naruto sedikit melebar saat mendengar deklarasi itu. "Aku akan percaya padamu! Karena itulah, kau harus menepati janjimu dan membawakan [Akhir Bahagia] itu ke hadapanku!"

Mata Naruto menajam dan bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.

"Baik, Hime!"

Tangan kanan Naruto terangkat, dan dengan serat-serat energinya yang masih tersisa, murid sang Gama Sennin itu menciptakan sebuah bola energi murni sebagai aksi terakhir.

"Kenapa kau tidak menyerah juga, bocah jahanam?!" Dotou berteriak, tapi dalam suaranya, tersimpan rasa takut. "Apa kau masih berpikir bahwa kau bisa menang?!"

"Tentu saja!" Naruto merendahkan tubuhnya dan melesat maju dalam kelebatan cepat yang berasal dari kobaran tenaganya yang penghabisan. Cahaya matahari terbit muncul dan menyinari kaca-kaca raksasa di tempat tersebut, yang memantulkannya menjadi pelangi dengan tujuh warna.

Namun yang tak disangka, apa yang dipantulkan oleh cermin-cermin itu bukan hanya cahaya, tapi juga energi tujuh rupa yang mensaturasi udara dan merembes ke jurus di tangan Naruto sampai bola energi itu turut memancarkan cahaya tujuh warna.

Dotou mengayunkan tangan untuk memukul musuhnya, tapi tak seperti yang sudah-sudah, serangannya hanya berhasil menghentikan lari sang pemuda yang sama sekali tak bergeming dan hanya menggertakkan gigi walaupun tinju itu sudah menghampiri pipinya.

Naruto menggeram sambil menghajarkan jurusnya ke dada sang lawan.

"Rasengan!"

(Play Naruto 1st Movie OST – Home Sweet Home)

"Tapi aku masih ragu," Koyuki kecil yang ada dalam rekaman itu berkata. "Soalnya aku masih punya satu cita-cita lagi."

"Cita-cita apa?" sang ayah bertanya.

"Aku mau main film dan jadi aktris!"

Koyuki terdiam selama beberapa saat, teringat bahwa pekerjaan ini memang benar-benar cita-citanya dari kecil. Ia akhirnya tertawa, sebuah tawa murni dan bahagia yang sudah bertahun-tahun tak pernah terdengar dari mulutnya.

"Hime…"

Koyuki berhenti tertawa dan menoleh, hanya untuk melihat Naruto yang berjalan tertatih-tatih ke arahnya.

Ninja yang sekaligus merupakan bodyguard pribadinya itu tersenyum tipis. "Apa kau baik-baik saja, Hime…?"

Koyuki benar-benar tak mengerti. Dia tak mengerti bagaimana remaja yang berusia lebih muda beberapa tahun darinya itu bisa terus memaksa diri sampai tubuhnya luka-luka dan hancur sedemikian rupa hanya demi melindungi Koyuki. Dia tak mengerti kenapa Naruto bisa tidak mengacuhkan dirinya sendiri, dan memilih untuk hanya mementingkan keselamatan Koyuki.

Dan yang lebih ia tidak mengerti, adalah kenapa dadanya menjadi sesak seperti ada tangan tak terlihat yang mencengkeram paru-parunya ketika mereka saling tatap, serta kenapa detak jantungnya menjadi lebih cepat ketika Koyuki melihat senyuman Naruto.

"Hime?"

Koyuki menggelengkan kepala untuk membuyarkan lamunan. Dia tahu bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan hal yang tidak penting.

Karena itulah, Koyuki memilih untuk berlari menghampiri sang shinobi yang kini mengisi seluruh seluk beluk benaknya, dan menghadiahkan sebuah pelukan paling rapat yang pernah ia berikan.

"…Hime?"

Dia tak menggubris pertanyaan Naruto yang disertai sedikit nada khawatir dan tidak mengerti.

Koyuki hanya menyusupkan wajahnya yang merah padam ke leher Naruto dan semakin mengeratkan dekapan.

"Kau bisa istirahat sekarang, Naruto…" dia berbisik.

Naruto diam selama beberapa saat, sampai akhirnya rasa aman yang diberikan pelukan Koyuki membuat shinobi itu mengangguk pelan, sebelum membiarkan kepalanya jatuh ke bahu Koyuki dan matanya terpejam.

~•~

"Shishou," Naruto menyodorkan sebuah dokumen. "Bisa tolong bantu aku menyerahkan ini ke teknisi istana?"

Jiraiya menerima dan mengamati laporan yang tebalnya lebih dari dua puluh halaman itu. "…Kau menyelesaikan ini dalam satu malam?" dia menatap muridnya dengan mata bersinar curiga. "Gaki, apa kau tidak tidur dan bekerja semalaman lagi?"

Dituduh seperti itu, Naruto hanya buang muka sambil mengusap-usap tengkuknya.

Jiraiya mengangkat tangan dan menjitak kepala muridnya itu. "Dasar murid workaholic." Dia menggerutu. "Dan kenapa harus aku yang menyerahkan ini sih? Kenapa laporan ini tidak kau serahkan sendiri?"

Naruto mengecurutkan bibir. "Aku cuma nggak mau harus menjelaskan bagaimana aku bisa menemukan kekurangan apa saja di mesin generator musim semi itu." dia menghembuskan napas. "Lagipula, bukannya kemampuanku membaca [Aksara Semesta] dan mengekstrak [Data] dari Bumi harus dirahasiakan?"

Jiraiya berpikir selama beberapa detik sebelum mengangkat bahu. "Benar juga. Oh ya, ngomong-ngomong besok kita sudah harus—"

"Naruto!"

Perkataan Jiraiya disela ketika panggilan itu membuat muridnya menoleh dan mendapati bahwa Koyuki tengah berlari ke arah mereka. "Hime!" Naruto melambai dan berjalan maju untuk menghampiri tuan putrinya itu.

Jiraiya mengangkat sebelah alis ketika melihat bagaimana Koyuki langsung meraih satu tangan Naruto dan menggenggamnya erat-erat.

…Dan tentu saja, muridnya yang jenius dalam soal pertempuran tapi berotak bebal kalau sudah menyangkut perasaan perempuan menganggap bahwa tindakan itu normal-normal saja, dan bukannya pertanda bahwa dia lagi-lagi sudah membuat seorang gadis muda kesengsem berat pada dirinya.

Jiraiya jadi ingin melenguh panjang.

Mungkin dia memang benar-benar harus membuat Naruto, yang hidupnya sudah agak terisolasi selama tiga tahun ini, masuk sekolah dulu agar muridnya itu bisa belajar kembali seperti apa tepatnya cara bersosialisasi anak-anak remaja, serta kembali mengenal seperti apa hubungan antara pria dan wanita. Karena kalau begini terus, Jiraiya mau tak mau jadi sangat khawatir tentang kehidupan cinta muridnya itu di masa depan.

Dan jujur saja, Jiraiya tak bisa membayangkan seburuk reaksi Tsunade nantinya saat sang Godaime itu mendapati bahwa Naruto terlalu tak berpengalaman dalam soal cinta dan romansa sampai tak bisa memberikannya seorang cucu.

…Tuhan, Jiraiya hanya bisa berdoa semoga hari itu tak pernah tiba. Atau kalau memang benar-benar kejadian, maka biarkan dia sedang ada jauh dari Konoha karena Jiraiya tahu bahwa pasti dia yang lagi-lagi bakal disalahkan.

"Bagaimana rasanya jadi Daimyo, Hime?"

Suara Naruto membuyarkan lamunan Jiraiya dan mengembalikan perhatian ninja tua itu ke dunia nyata.

"Capek," Gadis muda dengan rambut biru gelap itu menjawab singkat. "Tapi entah kenapa, masih tidak separah ketika dulu aku kebanjiran tawaran main film."

Koyuki menggeleng-gelengkan. "Ahh, bukan itu yang tadi ingin kubicarakan!" sang tuan putri menggenggam tangan Naruto lebih erat. "Naruto, apa kau benar-benar harus pergi besok?"

Melihat ekspresi sedih yang terpasang di wajah Koyuki membuat Jiraiya jadi agak kasihan, tapi sesungguhnya, Jiraiya membuat keputusan itu bukan karena dia punya niat buruk pada Koyuki. Hanya saja, dia agak khawatir bahwa bagaimana tuan putri itu tak pernah membiarkan Naruto jauh-jauh darinya selama seminggu terakhir ini adalah pertanda bahwa dia takkan mengijinkan muridnya pergi kalau sampai dibiarkan lama-lama. Dan hal itu hanya akan membuat masalah mengingat Naruto dan Jiraiya masih harus melanjutkan pengembaraan.

…Lagipula, mengingat Koyuki sekarang memiliki jabatan sebagai pemimpin Yuki no Kuni yang kini sudah berubah nama menjadi Haru no Kuni (Spring Country), Jiraiya merasa bahwa membiarkan gadis muda yang semakin hari semakin berani menunjukkan perhatian pada Naruto itu bisa berujung pada skandal yang akan mengguncang seluruh negeri.

Jiraiya sudah bisa membayangkan bagaimana seluruh penduduk negeri ini mengejar-ngejar mereka dan menuntut agar kepala Naruto dipenggal karena sudah berani 'menodai' tuan putri mereka.

Sang Gama Sennin mengingat ajarannya sendiri. Pelajaran Jiraiya #41: 'Jangan membuat masalah kalau memang bisa dihindari'.

"Begitulah, Hime," Jiraiya mendengar Naruto menyahut dengan sedikit rasa menyesal. "Misi kami sudah selesai, dan kami juga harus melanjutkan pengembaraan." Dia kemudian menggaruk-garuk pipinya. "Yah… kalau aku boleh jujur, sebenarnya aku juga masih kepingin menjaga Hime lebih lama lagi."

Melihat bagaimana pipi Koyuki yang sedikit merona merah membuat Jiraiya ingin menepuk dahinya keras-keras. Bagaimana sih caranya Naruto yang bebal soal perasaan perempuan itu selalu saja mengatakan hal-hal yang malah membuat gadis-gadis yang dia temui semakin kesengsem padanya?

"Tapi kurasa itu cuma harapan muluk, mengingat Hime sekarang sudah jadi Daimyo, jadi Hime pasti bisa memilih siapa saja sebagai pendamping."

Oh, bagus! Bagus sekali! Jiraiya tahu kalau maksud Naruto dengan mengatakan 'pendamping' adalah sebagai pengganti istilah 'bodyguard pribadi', tapi apa dia tidak sadar kalau kata dengan makna ambigu itu malah akan memberi ide-ide aneh di kepala seorang gadis yang sedang kasmaran seperti Koyuki?! Apa yang akan mereka lakukan kalau sampai Koyuki melamar Naruto di saat itu juga?!

Apa mau dikata. Kalau sampai hal itu terjadi, maka Jiraiya akan langsung membekap muridnya, memanggil Gamabunta, lalu melarikan diri dari Yuki no Kuni secepat-cepatnya.

Beruntung bagi Jiraiya, rencananya itu tidak kesampaian karena Koyuki tidak sampai memutuskan untuk meminta agar Naruto menikahinya dan memilih untuk terkikik kecil. "Kau sudah lupa ya, Naruto? Lebih dari setengah kekuatan militer Yukigakure kan dalam keadaan hancur berat setelah melawan gurumu ini."

Jiraiya hampir saja bersujud syukur karena satu lagi masalah sudah terhindarkan.

"Yah, salah mereka sendiri sih. Siapa juga yang menyuruh mereka untuk membuat Shishou marah?" Naruto turut tertawa. "Tapi sayang sekali ya. Padahal sebenarnya aku kepingin menonton film lain yang dibintangi Hime."

"Oh? Siapa yang bilang kalau aku berhenti main film?" Koyuki tersenyum simpul. "Ah, aku tahu! Bagaimana kalau kali ini kau jadi lawan mainku, Naruto?"

…Hah? Apa yang baru saja dia bilang?

"Eh? A-ah, aku sih nggak keberatan, tapi aku kan nggak punya pengalaman main film. Bagaimana kalau—"

"Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu," Jiraiya memilih momen itu untuk menyela. "Ojou-chan, apa kau lupa film seperti apa yang selanjutnya akan kau mainkan itu?! Kenapa kau malah mengajak muridku ini jadi lawan mainmu sih?!"

Naruto mengerutkan dahi sembari memandang 'Hime'nya. "Memang judul film-nya apa, Hime?"

Koyuki tersenyum lebar sambil mengangkat sebuah skrip ke depan Naruto, membuat mata shinobi itu melebar saat membaca judulnya yang hanya berisi dua kata.

[Icha-Icha].

Hening sesaat.

"…Ero-sennin?" Naruto berkata lambat-lambat sambil memalingkan wajahnya yang kini dihiasi senyuman teramat manis ke arah sang guru.

Jiraiya menelan ludah sambil memejamkan mata, dan hanya menerima dengan pasrah ketika kaki sang murid kesayangan menghantam puncak kepalanya sampai membuat lantai yang ia pijak berlubang.

"Dasar Shishou sompret!" Naruto berteriak kesal pada sang guru yang kini terbenam di lantai sampai setengah dadanya. "Apa maksudnya ini, hah?! Berani-beraninya kau membuat Hime membintangi film adaptasi buku mesummu itu!"

"Oi, aku cuma memberi lampu hijau saat mereka mengatakan kalau bukuku akan diangkat menjadi film! Mana aku tahu pada siapa mereka menawarkan peranan!"

"Kalau begitu pakai wewenangmu sebagai penulis asli untuk membatalkan tawaran pada Hime!"

"Itu namanya penyalahgunaan wewenang, bego! Apa kau mau aku ditahan polisi?!"

"Bagus kalau begitu! Orang mesum sepertimu memang pantasnya ada di balik jeruji besi!"

Jiraiya melompat keluar dari lubang tempatnya terbenam dan mengepalkan tangan. "Apa kau bilang, duren sialan?!"

Naruto melangkah maju sambil menyingsingkan lengan baju. "Aku bilang tempatmu adanya di penjara, dasar petapa mesum!"

Melihat guru dan murid yang mulai berkelahi tanpa peduli bahwa mereka ada halaman istana tempat pesta sedang dilaksanakan itu, Koyuki hanya bisa tertawa.

"Ah, benar juga, Hime," Naruto mengusap tengkuknya dengan malu-malu. "Anu… apa aku boleh minta tanda tanganmu?"

"Daripada cuma tanda tangan," Jiraiya mengeluarkan sebuah kamera Polaroid entah dari mana. "Kenapa nggak foto bersama sekalian?"

"Foto bersama?"

Jiraiya mengangguk. "Nanti kau bisa minta fotonya ditandatangi sekalian supaya jadi autograf."

"Ah, ide bagus!" Koyuki menggenggam dan menarik tangan Naruto. "Naruto, kau mau pose seperti apa?"

"Pose?" Naruto menggaruk kepalanya. "Em… kurasa mau pose seperti apa juga nggak masalah."

Mendengar itu, Jiraiya yang masih sedikit merasa bersalah karena harus memisahkan Koyuki dengan muridnya itu mengedipkan mata pada Koyuki, sebuah indikasi dan muslihat kecil yang langsung dimengerti oleh sang tuan putri.

"Satu, dua, tiga…" Jiraiya memposisikan kamera Polaroid itu di depan wajahnya. "Katakan 'Chuu'!"

Alis Naruto bertaut. "…'Chuu'?"

Remaja yang baru berusia lima belas tahun itu hanya bisa melebarkan mata ketika Koyuki tiba-tiba mengalungkan lengannya di leher Naruto dan mencium pipi sang shinobi dalam waktu bersamaan dengan terdengarnya suara jepret dari kamera di tangan Jiraiya.

Otak Naruto konslet dan jalan pikirannya mengalami macet.

Ketika waktu telah mencapai larut malam, Naruto membuka pintu salah satu kamar tidur di istana Daimyo yang telah khusus disediakan untuknya dan Jiraiya. Kamar itu ia masuki sendirian karena sang guru masih terkapar pingsan entah di semak belukar atau selokan mana, hasil dari Naruto yang menghajar dan melemparnya keluar jendela ketika petapa mesum itu mencoba untuk mengintip kamar mandi istana.

Naruto baru saja duduk di ranjang ketika dia merasakan sensasi seperti ada tarikan kait di balik kulit perutnya, namun yang membuat remaja itu mengerutkan dahi, adalah karena sensasi itu jauh lebih kasar daripada biasanya.

Dia sudah terbiasa menghadapi fase [Menghajar] dan [Berteriak-teriak]. Naruto bahkan sudah mengenal fase [Wajah Cemberut] dan [Mata Menyipit] yang jauh lebih susah diatasi daripada dua fase sebelumnya.

Tapi ketika sosok dengan rambut merah yang sangat panjang itu muncul di depannya, Naruto kontan menelan ludah karena ini adalah pertama kalinya Naruto melihat kekesalan Kurama yang ada dalam level fase [Berkacak Pinggang].

"K-Kurama…?" suara Naruto kecil dan sedikit terbata karena sumpah, shinobi berambut pirang itu benar-benar tidak tahu apa yang sudah dia lakukan hingga membuat gadis perwujudan asli dari Bijuu berekor sembilan itu sampai sekesal ini. "Kurama? Aku sudah salah apa?"

Mata merah Kurama yang berkilat bergerak perlahan ke pipi kanan majikannya sebelum memberi pernyataan singkat. "…Goshujin-sama dicium oleh perempuan lain."

Naruto yang baru saja mau menyahut terpaksa membatalkan niatnya karena Kurama sudah menerjang dan menindih tubuh majikannya di atas ranjang.

Saat ini, mata Kurama yang melotot tajam telah penuh sinar posesif.

…Cetar membahana.

"Goshujin-sama sudah dicium oleh perempuan lain." Dia mengulangi.

Naruto yang tak pernah bisa menolak kalau sudah Kurama yang meminta hanya bisa menerima ketika gadis siluman yang mendiami jiwanya itu memegangi sisi kepala sang majikan, walau sejujurnya, ia benar-benar tak mengerti alasan apa yang membuat Kurama mulai mencium kedua pipi Naruto berkali-kali.

…Kelihatannya dia memang benar-benar harus meminta kursus khusus itu pada Jiraiya.

Omake

The End

A/N: Omake ini juga menjadi bukti bahwa walaupun Naruto versi buatan hamba adalah Naruto yang kuat, dia tidak lantas punya semacam [God-mode] hingga bisa melawan dan mengalahkan musuh-musuhnya cuma dengan sekali hajar. Setiap cobaan yang ia hadapi tidak selalu bisa dilalui dengan mudah. Di Omake ini, Naruto sudah menerima lima luka tusuk, disiksa dengan jarum-jarum besi yang dibakar sampai membara, jatuh dari ketinggian puluhan meter sampai tulang belikatnya retak, dan tulang belikat tersebut kemudian remuk ketika Naruto menerima serangan Dotou yang sekaligus juga mematahkan tiga tulang rusuknya.

Anda pikir hanya karena kuat lalu Naruto bisa membuat musuhnya keteter kesana kemari dengan sesuka hati? Kalau begitu, hamba meminta agar anda membaca chapter ini dan berpikir sekali lagi.

Oh, informasi ekstra. Katon: Gouen Rasengan (Flame Release: Big Flame Spiralling Sphere) yang digunakan oleh Jiraiya berasal dari game Naruto: Ultimate Ninja 3. Anda bisa lihat sendiri videonya di Youtube kalo nggak percaya. Ketik aja Big Flame Rasengan di search box.

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.