Standar Disclaimer Applied

.

.

.

Love & Choice © Tsurugi De Lelouch

Part 8

.

.

.

Sakura Haruno & Sasuke Uchiha

.

.

Enjoying Reading & Reviewing

Y*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*Y


.

.

.

Ketika cinta datang padanya

Hal yang indah menemani di kehidupannya

Namun, saat pilihan ditentukan

Akankah cinta berpihak pada dirinya?

.

.

-8-

Keheningan sempat menyapa pada dua orang yang sama-sama merasa kesakitan dalam masalah percintaan. Yang satu—merelakan cintanya dijaga oleh orang lain dan yang kedua—merasa terombang-ambing dengan hubungan semu yang ia jalani bersama orang masa lalunya. Entahlah takdir mempermainkan mereka sekarang—karena orang yang mereka sama-sama mereka cintai—adalah orang yang dijodohkan dan akan menikah sebentar lagi.

Sang laki-laki hanya mengaduk-aduk jus tomatnya dengan pandangan kosong dan—itu membuat khawatir seseorang yang berada di depan matanya sekarang. "Ceritakan padaku apa yang membebanimu," seru Konan menatap adik Itachi Uchiha.

"Aku melakukan kesalahan fatal dan menyerahkan tanggung jawab pada seseorang," gumam Sasuke dengan nada sangat pelan.

Konan tidak mengerti apa maksud dari perkataan Sasuke, dia merasa tidak enak dengan menanyakan yang sensitif bagi bungsu Uchiha ini. Tapi dia berpikir kalau ada sangkut paut tentang perjodohan Itachi dan Sakura. apa sesuatu itu yang membuat adik Itachi ini sangat terpuruk sekarang.

"Kesalahan fatal apa, Sasuke?" tanya Konan hati-hati.

Sambil memejamkan mata, "aku telah membuat Sakura mengandung anakku, Konan-nee,"ucap parau Sasuke menundukkan kepala.

Konan membeku sejenak mendengar perkataan adik dari Itachi Uchiha ini dan dia berpersepsi kalau—Sasuke merelakan kekasihnya pada…

"Jangan-jangan kau menerima kalau Sakura menikah dengan—"

"Hn. Aku merelakan dia pada kakakku. Karena aku tidak punya kesempatan dan kedua orang tuaku mendukungnya—lalu mereka mengira kalau anak di dalam kandungan Sakura adalah anak dari Nii-san," lirih Sasuke memijit kepalanya.

Hati Konan mencelos dengan ucapan Sasuke. Begitu mudahnya Sasuke merelakan cintanya pada kakaknya, padahal ia yakin kalau Sasuke berjuang keras demi cintanya tapi—kenapa malah Sasuke menyerah akan perasaannya. Apakah ini demi kebahagiaan orang tua mereka—dia merelakan ini semua.

"Kenapa kau menyerah sekarang, Sasuke?" ucap Konan tidak percaya.

Sasuke tersenyum lemah. "Kakak pernah bilang padaku 'Bagaimana ada hal yang di luar pemikiran kita membuat kita harus menerimanya dengan berat hati' dan—ini dia maksud, Konan -nee."

"J-jadi Itachi sudah menyakini ini bakal terjadi?"

"Bukan. Dia berpikir karena kami sama-sama menjalin hubungan diam-diam bersama orang yang kami cintai. Tapi kenyataannya—tidak. Sakura bertunangan dengan Kakak dan itu faktanya," gumam Sasuke.

"Aku tidak percaya kalau kau melakukan ini, Sasuke."

"Demi kebahagiaan siapapun aku rela berkorban dan aku ingin menghilang dari pandangan mereka," ucap Sasuke.

Kepala Konan terasa pening mendengarnya—dia tidak tahu harus berbuat apa karena satu-satunya harapan berada di tangan Itachi. Dia-lah yang menentukan jalan ini maju atau mundur. Karena adik kandung Itachi ini telah lelah menjalani hubungan diam-diam dan nyatanya tiada gunanya.

"Jangan berdiri sebagai pengecut, Sasuke. Kau masih punya harapan karena Kakakmu dan Sakura belum menentukan pilihannya," timpal Konan guna memberi semangat pada Sasuke.

Sasuke menatap Konan—kekasih Kakaknya. "Aku harap itu terjadi, Konan-nee…"

Memang ada kalau cinta itu mengorbankan kalau ini demi kebahagiaan. Akan tetapi ini rasanya bukan kebahagiaan—melainkan kesakitan dan kepedihan di ke empat hati yang seakan ragu dan menyudahi dengan hubungan semu mereka. Mereka tahu kalau cinta yang mereka jalani hanya kebahagiaan sesaat saja dan hanya mereka yang tahu.

"Ya, aku juga berharap pada Kakakmu memutuskannya dengan cepat," ucap Konan.

"Ku rasa hanya Sakura yang menentukan karena keputusan sekarang berada di tangannya," timpal Sasuke memilih memalingkan waj ahnya.

Dahi Konan sedikit mengerut. "Apa maksudmu, Sasuke?"

"Karena Kakak menyerahkan keputusan menikah mereka pada Sakura," hela Sasuke tersenyum miris.

Tangan Konan yang semula memegang sendok untuk mengaduk minuman kini melemas—dan menjatuhkan benda itu ke lantai. Iris mata milik Konan meredup dan bersembunyi di kelopak matanya. Dia tertawa dalam hati. Bagaimana bisa perasaan ini dimain-mainkan? Dirinya tidak menyangka kalau kedua kakak beradik ini mengambil keputusan yang salah—menyerahkan itu pada seorang perempuan. Mereka tidak tahu kalau akan menghancurkan hati masing-masing. Dirinya langsung beranjak dari kursi sehingga Sasuke terkejut melihat Konan berdiri di depannya.

"Mau kemana, Konan-nee?"

Konan membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Sasuke dan sedikit menoleh ke belakang. "Bertemu dengan Kakakmu dan berbicara padanya secara langsung."

Lalu Konan pergi menemui Kakak dari Sasuke, sedangkan bungsu Uchiha ini juga bangkit dari tempat duduknya—namun tujuannya bukan ke kamar itu lagi—melainkan ke rumah sahabatnya untuk menenangkan perasaan yang sudah hancur akan kenyataan pahit ini.

Ck, sial.

.

.

.

.


.

.

.

.

"Ak-aku ada dimana?"

Kepala Sakura terasa pusing dan pandangannya sempat mengabur sesaat. Dia memasati penglihatannya ke sana kemari. Oh, dia merutuki dalam hati—dirinya berada di rumah sakit. Alhasil pasti keluarganya dan keluarga Uchiha berada disini—mengkhawatirkannya. Tanpa menunggu lama, Ayah dan Ibunya masuk begitu juga dengan keluarga Uchiha—minus Itachi dan Sasuke.

Mebuki langsung memeluk putri semata wayangnya dengan erat. "Sakura, kau baik-baik saja kan? Mukamu pucat sekali tadi… maafkan Ibu ya, nak," racaunya.

Sakura membalas pelukan Ibunya. Dia sayang pada Ibunya yang khawatir akan keadaannya, dia langsung mengusap punggung Ibunya dengan lembut. "Aku baik-baik saja, Ibu."

Kemudian dia memasati ke sana kemari namun dia tidak menemukan kedua kakak beradik itu. Padahal dia ingin mengatakan putusannya di depan mereka berdua—karena diantara mereka itulah yang ia pilih. Tapi kemana mereka berdua. Namun sebelum Sakura mengatakan sesuatu Mikoto langsung mengatakan sesuatu padanya.

"…bagaimana kau bisa mengandung, Sakura?" tanya Mikoto.

Eh? Sakura mengerjap matanya tidak percaya dengan pertanyaan dari Mikoto. Dia hamil? Di dalam perutnya ada kehidupan. Dia menggelengkan kepalanya dan baru tersadar kalau orang satu-satunya menyentuh dan mengubah dirinya menjadi wanita—adalah dia. Tapi mana mungkin bisa hamil.

"Jangan bertanya langsung ke inti, Mikoto. Dia masih lemah," tegur Fugaku dengan nada datarnya.

Tapi, sang Ayah—Kizashi menatap anaknya penuh tanda tanya. "Bagaimana itu bisa terjadi, Sakura?" serunya.

"I-itu…"

"Sayang, jangan tanya seperti itu. Pertanyaan itu terlalu berat," pinta Mebuki.

Perlahan Sakura menghembuskan napasnya pelan lalu menatap pada Ibunya sejenak dan tanpa sengaja melihat sesuatu di atas meja. Tangannya langsung mengambil kertas yang tak sengaja di tergeletak di meja kemudian membacanya. Hatinya terasa kebas karena kenyataan kalau dia—benar-benar mengandung. Dia mengira ini hanya lelucon atau candaan siang dari keluarganya. Namun terlihat raut serius yang terlihat membuat dia mundur dan memegang perutnya yang masih rata.

Demi Kami-sama, kami mendapatkan karma sekarang, batin Sakura dalam hati.

Akan tetapi, Sakura mengira-ngira apakah dia menyadari atau mengetahui bila ini terjadi. Dia mengingat perkataannnya membuat dirinya tersenyum kecut. Betapa bodoh dia merelakannya pada yang lain. Ini tidak boleh… ini tidak boleh terjadi. Dirinya kemudian tersenyum mantap dan menatap semua orang kecuali Itachi dan dia—tentunya.

"Maafkan aku kalau keputusan ini tidak sama dengan apa yang diinginkan…" ucap Sakura perlahan hingga orang tuanya dan orang tua Uchiha memandangnya.

"—katakanlah, Sakura…" pinta Mebuki.

Dengan memejamkan matanya, dia mengatakannya dengan lambat. "Selama ini aku salah menjalani dua pilihan yang menurutku membuatku bahagia. Tapi nyatanya salah, aku menyakiti semuanya. Aku merasa egois memilih dua pilihan itu. Aku tahu ini salah—tapi dua pilihan itu memberiku kesempatan untuk memilih."

Mebuki ingin memotongnya namun segera ditahan oleh Mikoto, mereka berdua tahu kalau keinginan menjodohkan—membuat kondisi seperti ini.

"—kata mereka, kaulah yang berhak memilih. Bukan aku ataupun dia. Aku sadar dan memilih—"

Nyatanya sang Sulung Uchiha muncul disaat tidak tepat karena dia membuka pintunya dan terkejut ketika—Sakura mengatakan kalau…

"—Itachi."

Eh? Sakura membeku atas ucapannya, dia ingin mengulangnya—namun tiba-tiba orang tua mereka bersuka cita. Akan tetapi Itachi terdiam tanpa bereaksi mendengar jawaban dari Sakura. Bahkan Fugaku dan Mikoto langsung membahas pernikahan mereka dipercepat, pikirannya tidak berada disana. Melainkan memikirkan hati adiknya yang ikut hancur mendengar jawaban atas pilihan Sakura.

"Nak, kalian mau kami yang mengurusnya atau mengurus sendiri?" tanya Mikoto.

Itachi berusaha menahan emosinya dengan berucap sangat datar. "Ayah dan Ibu saja."

Mikoto berusaha menanyakan lebih lanjut, akan tetapi Fugaku segera membawa istrinya keluar karena—Ayah dari dua anak laki-laki melihat raut anak sulungnya tengah mengeras menahan emosi. Fugaku memberikan ruangan privasi bagi anak sulungnya pada Sakura. Begitu juga dengan Kizashi dan Mebuki memilih mundur darisana dan meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.

Kesunyian sempat melanda mereka berdua sampai Itachi mendekat dan menatap iris teduh milik Sakura. "Apakah yang kau katakan tadi—benar atau kesalahan, Sakura?" tanyanya.

"Ini bukan… bukan. Aku tidak sengaja melafalkan namamu karena kau muncul tiba-tiba," seru Sakura.

Itachi menggertakan giginya. "Kenapa tidak menunggu kami?"

"Tidak ada gunanya. Kalian berdua bahkan tidak akan mungkin sanggup mendengarkan perkataanku," sergah Sakura.

"Tidak sanggup apa maksudmu, Sakura?" hela Itachi dengan menahan nada kesalnya.

Sakura membalas tatapan dari Itachi dengan sangar. "Dia pasti akan gembira namun dirinya merelakan kalau kami tidak bersama lagi. Dia sudah banyak berkorban demi kita, dirinya rela mengalah demimu!"

"—jadi menyalahkanku karena aku terlalu plin-plan dan egois begitu?"

"Kalau saja aku menolak perjodohan ini, keadaan tidak seperti ini dan kau bisa menjalani kehidupanmu yang normal,"gumam Sakura menundukkan kepala.

Seraya memejamkan mata, Itachi menghembuskan napasnya. "Lalu kau memilih siapa diantara kami berdua, Sakura?" tanyanya.

"Aku… memilih adikmu. Tapi kenyataan aku salah ucap dan mereka menganggap aku memilihmu lalu—pernikahan kita dipercepat," ucap Sakura dengan nada paraunya.

Bagaimana ada hal yang di luar pemikiran kita membuat kita harus menerimanya dengan berat hati

Sulung Uchiha perlahan lebih mendekati Sakura. "Cinta itu tidak hanya kebahagiaan. Tapi harus rela berkorban, bukan?"

Sakura tampak tidak bergeming sedikitpun dan menatap ke arah samping. "—kau mau bilang aku harus mengorbankan perasaan adikmu dengan menggantinya baru."

Itachi merutuk dalam hati dan akan meminta maaf pada Konan. Nyatanya mereka tidak bisa bersama, karena kesalahan fatal yang terucap menjadi roda kehidupan mereka berputar terbalik. Dia tahu kalau keputusannya memang tidak berpendirian dan berbeda jauh dengan kepemimpinannya sebagai direktur dari perusahaan.

"Sebelum terlambat, katakanlah pada kedua orang tua kita untuk membatalkannya."

Mendengar perkataan itu, Sakura langsung memindahkan atensinya pada Itachi. "Terlambat dan nyatanya kita menerimanya dengan suka cita."

Jaga dia baik-baik

Sial, Itachi menggumam dalam hati lagi. Kenapa perkataan adiknya tergiang di otaknya dan membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Kalau memang adiknya merelakannya—apakah dia sendiri mengorbankan perasaannya demi menjadi Ayah dari janin di kandungan Sakura.

"Sakura, kalau kau menerima apa yang terjadi. Apakah kau bersedia menjalani kehidupan yang baru?" tanya Itachi.

"Apa maksudmu?" seru Sakura.

"Belajar menjalani dengan status yang berbeda," Sulung Uchiha menghembuskan napasnya dan merutuk atas perkataannya ini.

Itachi memejamkan matanya perlahan, "Tapi—sebelum kata iya di altar nanti. Kau masih punya kesempatan bersama adikku, Sakura." lanjutnya sembari mengusap kepala Sakura dan meninggalkannya sendirian di ruangan itu untuk memikirkan perkataan Itachi—lebih tepatnya sekarang adalah—calon suaminya sekarang.

Keduanya mengumpat dan sama-sama tidak rela mengorbankan semuanya.

.

.

.

.

.

.

X~0

.

.

.

.

.

.

.

"Aaaw…"

Konan tanpa sengaja bertabrakan pada laki-laki yang terlihat terburu-buru pergi, namun melihat siapa laki-laki itu—membuatnya dia terkejut—begitu juga laki-laki itu menatap dirinya.

"Itachi, kenapa kau terburu-buru?"

Dengan sigap, Itachi langsung mengulurkan tangannya pada Konan dan membawa perempuan itu pergi dari sini. Itachi mencari tempat yang agak sepi dan tidak terlihat oleh orang tuanya ataupun adiknya sendiri.

"Konan, aku harus mengatakan sesuatu padamu sekarang."

Rasa takut kini menghampiri Konan dan memilih menundukkan kepalanya. "Katakanlah, Itachi."

"Sakura menerimanya dan pernikahan kami dipercepat. Lalu aku memberinya kesempatan untuk dia sebelum kata iya di altar nanti. Dia harus memilih menerimaku seutuhnya atau kembali kepada adikku," jelas Itachi panjang lebar.

Konan sudah menduga kalau apa yang akan dikatakan Itachi. Dirinya mengangkat wajah sulung Uchiha sehingga matanya saling berhadapan satu sama lain dan menyiratkan perasaan yang mendalam. Dengan senyuman tipis, Konan berikan dan itu membuat Itachi merutuk dirinya lalu—langsung memeluk tubuh Konan dengan erat.

"Aku egois, Konan…," lirih Itachi.

Dengan tegar, Konan menepuk punggung tegap Itachi. "Jangan terus menyalahkan dirimu, Itachi. Karena ini sudah terjadi, aku juga mempunyai permintaan untukmu."

Itachi melepaskan pelukannya lalu menatap Konan. "Apa?"

"Sebelum kata iya di altar nanti. Kau harus tegas memilih untuk melanjutkan sumpah pernikahan itu—atau—"

Perkataan Konan terpotong karena bibirnya berhasil dibungkam oleh Itachi dengan lembut. Konan merasakan perasaan yang melebur di ciuman mereka—dan mau tak mau dia membalas ciuman itu. Itachi merasakan kalau Konan menerima ciuman—dia sedikit melumat bibri manis Konan lalu melepasnya.

"—akan ku katakan nanti bersamaan Sakura memutuskannya." Itachi menghadiahkan kecupan di dahi Konan lalu beranjak pergi meninggalkan perempuan itu disana.

Konan pun tersenyum lemah. "Ku harap kau tidak salah dan melakukan kesalahan lebih fatal lagi, Itachi."

.

.

.

.

.

X~0

.

.

.

.

.

.

Setelah dua hari kemudian, Sakura diperbolehkan oleh rumah sakit untuk pulang. Namun, dia langsung diajak ke sana kemari oleh Ibunya memilih gaun pernikahan. Tapi karena pandangannya terasa kosong, dia menerima apapun yang disodorkan oleh Ibunya. Dia tidak peduli karena kepalanya masih terasa pening dan janin yang ia kandung. Sebagai dokter, dia tidak boleh sampai stress yang bila itu terjadi menyebabkan—kandungannya semakin melemah.

Bahkan saat memilih cincin pernikahan, Sakura memilih enggan dan memilih untuk pulang dengan alasan kelelahan. Sebernanya dia terlalu memikirkan bagaimana bisa lari dari pernikahan ini—tapi melihat antusias Ibunya yang bersusah payah memilih membuatnya tidak tega dan menerima begitu saja tanpa—penolakan. Apakah pengaruh kandungannya sehinga dia tidak sanggup untuk memberontak.

Seraya mengusap perutnya yang rata, dia bergumam dalam hati. "Maafkan Ibu, nak. Tidak mempertemukanmu dengan Ayah kandungmu."

Mebuki mendekati anak tunggalnya dengan perasaan cemas. "Kalau kau memang capek, kita pulang saja ya sayang."

Sakura mengangguk singkat dan mengikuti langkah kaki Ibunya. Sempat ia mendengar perkataan Ibunya, katanya—tentang cincin pernikahan—Ibunya menyerahkan pada keluarga Uchiha begitu juga dengan konsep pernikahan yang akan diadakan empat hari lagi. Terkesan terburu-buru tapi—kata mereka kecuali Itachi—mengutamakan janin yang dikandungnnya.

Dirinya sering bertanya-tanya kemana keberadaan kekasihnya itu, setelah insiden itu—dia tidak menemukannya—bahkan menghilang tanpa bekas. Seakan dia menghindar dan tidak ingin bertemu dengannya lagi. Padahal mereka sama-sama belum memutuskan atau tidak ingin meretakan hubungan kekasih diantara mereka berdua.

Namun, Sakura tidak mengetahui bahkan tidak menyadari kalau orang yang ia maksud selalu berada di belakang dan mengawasinya. Bukan menjadi seorang pengecut—namun dia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan yang terlintas dari Ibunya Sakura begitu juga dengan orang tua dirinya. Hatinya sudah siap menerima kalau ini akan terjadi, biarlah dirinya menjadi burung yang mengawasi daripada menjadi penganggu diantara mereka.

"Maafkan aku, Sakura." gumamnya dalam hati dengan memegang kepalanya dan pergi meninggalkan tempat itu—karena Sakura dan Mebuki masuk ke dalam mobil pribadi milik keluarga Haruno.

.

.

.

.

.


X~0


.

.

.

.

.

.

Duduk termenung kini dilakukan oleh bungsu Uchiha di tengah kesibukan sebagai pemimpin perusahaan elektronik. Bahkan dokumen-dokumen yang diberikan sekretarisnya dibiarkan begitu saja di meja—tanpa sedikitpun dilihat sampai ditanda tangani untuk meminta persetujuannya. Dia merasa hari-hari semakin cepat karena besok adalah pernikahan kakak sulungnya. Namun dia entah kenapa merasa ini bukan yang seharusnya—karena mempelai wanitanya adalah—kekasihnya—heh—calon kakak iparnya.

Dirinya tersenyum kecut ketika tanpa sengaja melihat sebuah undangan bertinta emas dan tertulis.

Our Wedding Ceremony

Itachi Uchiha

Sakura Haruno

Dia langsung melemparkan undangan itu ke lantai. Betapa dia tidak bisa menyembunyikan frustasinya ketika harus kedua kalinya melihat undangan itu—dan dia harus datang karena ini pernikahan kakak kandungnya. Namun, dia tidak bisa karena ada Sakura yang menjadi calon mempelai wanitanya.

Sasuke Uchiha—dia mencengkram wajahnya berulang kali. dia tidak tahu kalau hasilnya menjadi seperti ini. Padahal bisa saja dia mengatakan kalau anak yang dikandung Sakura adalah darah dagingnya—akan tetapi hatinya terasa pengecut dan mengatakan kalau menyerahkan tanggung jawabnya pada kakaknya. Dia merasa bodoh. Bodoh tidak bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan jahat pada semua orang karena dia bermain di belakang dengan menjalin hubungan semu ini.

Sempat dia merasakan kalau Sakura ingin sekali bertemu dengannya di setiap kali mereka tanpa sengaja bertemu—namun dirinya harus menghindar karena akan menimbulkan masalah baru diantara mereka. Maka dari itu, dia berusaha mengacuhkan dan membuang segalanya dan memasang tampang datarnya pada Sakura. Biarlah Sakura benci padanya. Benci padanya tidak bisa mempertahankan cintanya dan dia.

Iris kelamnya melihat sebuah cutter, niat gila terbersit di otaknya. Sasuke langsung mengambil benda itu dan perlahan mendekati ujung cutter itu ke nadinya sampai—

"Hentikan, Sasuke!"

Trak

Benda itu terjatuh ke lantai dan belum sempat menggores di urat nadinya Sasuke. Bungsu Uchiha itu menatap siapa yang menganggu ketenangannya dan dia langsung mengirimkan tatapan tajam pada orang itu.

"Naruto, kenapa kau datang?"

Naruto langsung mendekat dan mencengkram kerah baju Sasuke lalu membalas tatapan sahabatnya itu. "Dengan melakukan bunuh diri, semuanya selesai begitu! Kau tahu Sakura berusaha menerorku untuk bertemu denganmu. Dia menginginkan kehadiranmu! Kenapa kau menghindarinya, pengecut!" sergahnya dengan penuh emosi.

Sasuke menyeringai. "Kau pernah bilang kalau buatlah pilihan yang tidak akan menyakiti semuanya." Lalu tersenyum meremehkan, "—aku yang harus menghilang dari dunia ini dan tidak ada yang tersakiti."

Buaagh

Tinjuan berhasil mendarat di wajah Sasuke, Naruto yang penuh dengan emosi langsung melayangkan pukulan telak itu pada sahabatnya. "Demi Kami-sama, kenapa kau berpikir pendek seperti itu, SASUKE!" desis Naruto.

"Kau pikir bagaimana jika kau—berada di posisiku! Kau pasti melakukannya semua ini kan!" timpal Sasuke menyeka darah dari mulutnya.

"Sasuke, bukan yang kau tersakiti—tapi Sakura juga. Kau tidak—" menyentilkan dahi sahabatnya itu dengan keras. "—tahu kalau Sakura mengandung anakmu. Dia hampir stress karena tak bisa bertemu denganmu. Sekali saja sahabatku…" pinta Naruto,

Sasuke langsung memalingkan mukanya dan mengambil cutter lalu mengarahkan pada tangannya. "Jika kau bersikeras, maka aku akan memotong urat nadiku. Sekarang keluar!" usirnya.

Naruto menghela napasnya lelah lalu pergi meninggalkan sahabat yang tengah frustasi. Karena melihat emosi sahabatnya yang tengah terombang-ambing—dia memilih untuk menyingkir dan menutup kembali pintunya. Sempat dia mendengar pekikan pilu dari Sasuke dari ruangan itu, mau tak mau—Naruto pergi dan untungnya Hinata tidak berada di tempat karena perusahaan tengah libur.

Bersamaan itu pula, Sasuke membantingkan semua dokumen ke lantai dan terduduk kembali di kursi. Dia memikirkan bagaimana ia bisa menghilang dari dunia ini sekarang. Dirinya tidak peduli apapun dan berharap lalu berdoa—agar darah daging yang tumbuh di perut Sakura baik-baik saja. Dan—menjadi penghubung tidak kasat mata antara dia dan Sakura, dia lalu memejamkan matanya dan tersenyum tipis ketika mendapatkan ide yang bagus untuk besok—dimana hari menjadi hari terakhirnya

"Besok aku akan hadir di pernikahan itu dan—aku akan menghilang dari kehidupan kalian selamanya."

.

.

.

.

.

.

. .

.

.

.

.

.

. .

.

.

.

.

.

.

*To be Continued*

Y*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*Y


Wulanz Aihara Uchiha Notes

Maafkan bila alur ceritanya menjadi seperti ini. Pasti kali kesal dengan sikap mereka yang ada di ceritaku. Tapi karena inilah yang tersusun di otakku untuk mencapai akhir ceritanya—dan hampir mendekati ending. Maka dari itu, aku fokus dengan MC yang ini walau agak lambat update. Karena aku sudah semester akhir dan harus menyelesaikan skripsiku sampai tahun depan. Bismillah ^^ doakan saya

Thanks for Reading and Review my fict ^^

Putri Hassbrina, mako-chan, hiruka aoi sora, Novi Shawol'Elf, ahalya, QRen, Karasu, ucciu, Morena L, sasusaku uciha, Mizuira Kumiko, Zecka S. B. Fujioka, Yara Aresha, emerallized onyxta, Franceour, MuFylin, hanazono yuri, Mo males login, Guest (2x), Uchiha Matsumi, Dark Courriel, LAW, Yoon Ji Yoo19, ocha chan, esposa malfoy, Uchiha Shesura-chan, hachikodesuka, Alifa Cherry Blossom, MasyaRahma, Yumi Murakami, Love Foam,Neko Darkblue, zhao mei mei, Clarione, jingga, ridafi chan, HazukiFujimaru, Alifa Cherry Blossom,crystallized cherry, Dhezthy Uchiha Sasusaku Lovers, jitan88, Aozora Strawchan, Yumi Murakami, UchiHaruno, Mireren, franceour, Hatake Ridafi kun, Ay, SugarlessGum99, Radit, hanazono yuri, Natsumo Kagerou, The wind, Cimut Masakura, Heiwa Girl, Hany-chan DHA E3, franceour , Dhezthy UchihAruno, pinky kyukyu, allihyun, the wind, Cha KriMoFe Doujinshi,

Palembang, 23 September 2013

Tsurugi De Lelouch