Galerians, in.
A/N: Apa yang ingin hamba sampaikan di awal ini hanyalah sedikit informasi ekstra mengenai timeline fic TOTRS dan TRSOKC bagi para pembaca sekalian yang masih agak bingung. Cerita yang anda baca di Omake terjadi sebelum Jiraiya mendaftarkan Naruto ke Akademi Kuoh (awal fic TRSOKC), dan cerita dalam fic TRSOKC terjadi sebelum Naruto pulang ke Konoha (awal fic TOTRS). Sederhananya, urutan timeline-nya adalah seperti ini: Omake - TRSOKC - TOTRS.
BGM for this chapter:
1. (Fate/Zero OST – Oath Sign)
2. (Kimi to Boku OST – Nakimushi)
Warning:
Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!
Selamat membaca!
~••~
When The Sun Tries to Help a Devil
Chapter 5
(We Live in a Different World)
"…Jadi," Naruto menghembuskan napas. "Ada alasan khusus kenapa kalian menyekapku seperti ini?"
"Ara, ara," Akeno tertawa kecil. "Namikaze-kun ini bisa aja. Jangan buat seakan-akan kami sudah melakukan kejahatan dong."
Naruto menatap gadis Iblis dengan rambut hitam yang dikuncir kuda itu dengan satu alis terangkat. "…Jadi kalian yang membekap mulutku dengan saputangan penuh chloroform lalu menyeretku yang sudah tak sadarkan diri ke ruang klub ini tidak bisa diklasifikasikan sebagai tindak kriminal, begitu?"
Dia sebenarnya bisa dengan mudah melawan, tapi Naruto tak ingin menciptakan kekacauan yang akan kembali menyusahkan Sona-ojousama mengingat saat itu dia sedang berada di bangunan sekolah utama yang masih penuh murid.
Naruto lalu berganti menatap Kiba dan Koneko dengan mata sedikit menajam. "Dan sebagai informasi, aku akan sangat berterimakasih kalau lain kali kalian tidak melakukannya dengan menyeret kakiku. Kepalaku sampai benjol-benjol parah gara-gara kebentur anak tangga dari lantai dua, tahu!"
Wajah Koneko sama sekali tidak menampakkan perubahan ekspresi, sementara Kiba hanya buang muka sambil bersiul-siul rendah, pura-pura tidak bersalah.
"A-anu," Asia menarik perhatian Naruto dengan menarik ujung lengan blazer remaja pirang itu. "Kalau kau mau, aku bisa menyembuhkanmu, Onii-san."
Naruto menimbang-nimbang tawaran Asia untuk beberapa saat sebelum menggeleng pelan. "Sudahlah, tidak apa-apa. Kalau cuma benjol-benjol seperti ini sih, satu atau dua jam juga pasti sudah sembuh." Shinobi berusia lima belas tahun itu menarik napas sekali lagi sebelum mengarahkan tatapan ke ketua klub yang masih duduk di belakang meja kerjanya. "Aku tanya sekali lagi. Ada alasan khusus kenapa aku ada di sini?"
Rias mengangkat bahunya. "Jangan lihat aku." Ahli waris Klan Gremory itu mengedikkan kepala ke arah orang yang memegang peranan Pion dalam Peerage-nya. "Issei yang punya ide, jadi tanya saja dia."
Garis penglihatan Naruto beralih lagi, dan saat sadar bahwa perhatian Naruto telah tertuju padanya, remaja berambut cokelat tua itu langsung melangkah ke depan teman sekelasnya sebelum nyengir lebar. "Naruto-san, aku yakin dari semua orang yang ada di ruangan ini, kaulah satu-satunya orang yang paling banyak memiliki pengalaman bertarung, ya kan?"
Ketahuilah bahwa walaupun Naruto amat tidak peka soal hubungan interpersonal antara pria dan wanita, kebegoan shinobi berambut pirang itu tidak menjangkau persoalan menyangkut perkelahian atau pertarungan. Karena itulah, gir-gir dalam kepala Naruto yang berputar cepat langsung bisa menyimpulkan keinginan apa yang ingin disampaikan Issei dengan pertanyaannya itu.
Naruto mengusap wajahnya sambil menarik napas panjang. Tak satu detik kemudian, ekspresi wajahnya sudah jadi keras ketika ia menatap Issei lurus-lurus. "…Tubuhmu akan hancur lho."
"…Hah?"
Walaupun kalimat Naruto telah sukses membuat semua orang lain di ruangan itu jadi terperangah, Issei yang berdiri di depannya hanya mengangkat bahu. "Aku sudah tahu bakal ada risiko seperti itu."
"Kuberi peringatan terakhir. Aku tidak akan berhenti walaupun kau menjerit kesakitan sekuat-kuatnya. Aku bahkan tidak akan berhenti walaupun kau memohon dan menghiba agar aku membunuhmu saja." Naruto berkata tanpa mengubah ekspresi. "Jadi kutanya sekali lagi. Apa kau benar-benar yakin mau melakukan ini?"
"O-Onii-san…" Asia mulai ketakutan dengan wajah sedikit memucat. "A-apa yang sedang kau—"
Namun Issei menyela perkataan Asia dengan meraih bahu gadis yang sudah hidup di bawah satu atap dengannya itu. Remaja yang belum sampai sebulan lalu dibangkitkan kembali menjadi kaum Iblis itu terus menatap Naruto tanpa sedikitpun terlihat gentar, dan dalam sinar matanya, Naruto bisa menangkap gelimang tekad api dan baja.
"Seperti yang kau bilang, Naruto-san," Issei nyengir lebar. "Jadi cowok itu harus tahan banting, ya kan?"
"…Aku mengerti." Ekspresi keras di wajah Naruto lenyap. "Beri aku satu minggu." Di bibirnya kini tersungging sebuah sengiran ganas. "Dalam rentang waktu itu, ototmu akan kurobek, tulangmu akan kupatahkan, dan sekujur tubuhmu akan kubuat remuk redam. Kau akan kulempar. Kau akan kubanting! Kau akan kuhajar, kuinjak-injak, kubakar, dan kutempa habis-habisan sampai baja mentah dalam jiwamu itu berubah menjadi sebuah pedang yang tajam!" Naruto mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Apa kau siap, Hyoudou Issei?!"
Issei melangkah maju dan membenturkan dahinya ke dahi Naruto sembari turut menyunggingkan sengiran ganas. "Ossu!"
Naruto tak mau kalah. "Ossu!"
"Ossu!"
"OSSU!"
"OSSU!"
"OSSU!"
"OSSU!"
Rias memaksa diri untuk mengalihkan perhatian dari dua remaja berdarah panas yang masih saling teriak itu untuk menoleh pada wakil ketua klub Occult Kenkyu-bu. "…Em, Akeno?" dia memanggil dengan suara kecil. "Apa yang baru saja terjadi?"
"Buchou, di dunia ini, ada cowok-cowok bego," Akeno menyahut dengan suara yang terdengar bijaksana. "Dan di antara semua orang itupun, masih ada cowok-cowok [Bego]."
Rias tertegun sesaat. "…Dengan huruf kapital?"
Akeno mengangguk. "Dengan huruf kapital."
Gadis Iblis yang memiliki marga Gremory itu terdiam lagi untuk beberapa detik ekstra, sebelum akhirnya dia menyerah dan memilih untuk mengusap wajahnya sembari melenguh panjang. Dia tak bisa memutuskan apakah membiarkan Naruto melatih Issei akan menjadi sebuah keputusan yang sangat benar, atau keputusan yang sangat salah.
~•~
/Hari pertama, 19.22 p.m./
"…A-anu, Naruto-san?" Issei menelan ludah saat memandang jurang menganga yang terlihat tak memiliki dasar di depannya. "Ngapain kita di sini?"
"Sudah kubilang berapa kali, panggil aku 'Naruto' saja!" Namun alih-alih melanjutkan luapan kekesalannya, Naruto hanya menghembuskan napas sebelum bersidekap. "…Kau kemarin memberitahuku kalau kau pernah bermimpi ditemui oleh seorang naga kan?"
"Oh, benar juga." Issei mengangkat tangan kirinya. "Aku tidak tahu dia siapa, tapi kelihatannya naga itu punya hubungan dengan Boosted Gear."
"Di malam kita menyelamatkan Asia, ada seorang Datenshi yang bernama Azazel kan? Kau ingat nggak apa yang ia katakan mengenai Sacred Gear-mu itu?"
Dahi Issei berkerut selama beberapa saat sebelum mata Iblis remaja itu melebar sampai sebulat bola pingpong. "D-dia…" Issei kembali menelan ludah. "Dia bilang bahwa Boosted Gear, yang juga dikenal sebagai Red Dragon Emperor's Gauntlet, menyimpan jiwa seorang naga bernama Ddraig…"
Naruto mengangguk. "Ddraig, satu dari dua Naga Surgawi yang ditakuti oleh tiga Kaum Akhirat karena memiliki kekuatan yang konon bahkan bisa membunuh Tuhan." Dia lalu menatap murid dadakannya. "Aku nggak bisa berkata pasti, tapi aku yakin saat itu Azazel tidak berbohong."
"T-tunggu dulu, jadi Sacred Gear-ku ini memang benar-benar didiami oleh jiwa seorang Naga Surgawi?!"
"Tadi sudah kubilang, aku nggak bisa berkata pasti." Naruto mengalihkan perhatian kembali ke jurang di depannya. "Tapi itulah alasannya kita sedang berada di tempat ini."
"…Aku nggak mengerti." Issei memiringkan kepala. "Apa hubungannya antara jiwa Naga Surgawi yang ada dalam Sacred Gear-ku dengan sebuah jurang?"
"Kalau memang benar-benar di dalam Sacred Gear-mu itu tersegel seorang naga, maka itu berarti kau juga akan kesulitan mengeluarkan seluruh potensinya tanpa bantuan Naga Surgawi bernama Ddraig itu. Aku tidak tahu seperti apa adat istiadat di dunia Iblis, tapi kau kan bekas manusia. Kau tahu tata krama kan? Masa kau mau memakai kekuatan orang lain tanpa minta ijin terlebih dahulu sih?"
"…Benar juga sih," Issei mengangguk setuju, sebelum alisnya bertaut lagi. "Tapi itu masih belum menjelaskan kenapa kita ada di depan jurang seperti ini."
"Kalau itu jawabannya mudah," Naruto berjalan ke belakang Issei. "Kalau kau tidak bisa mengontak Ddraig dan meminta bantuannya, maka kau akan mati di dasar jurang ini."
Issei tertegun. "…Hah?" dia menoleh pelan-pelan dengan wajah yang mulai memucat. "N-N-Naruto-san, a-apa yang kau—"
Perkataan Issei tidak sempat selesai karena Naruto telah terlebih dahulu mengangkat kaki dan menendang punggung teman sekelasnya itu. "Pergi sana gih."
"GYAAAAHHH!"
~•~
/Hari ketiga, 14.17 p.m./
"Wow…" Issei berdecak kagum ketika pukulan Naruto di perutnya tidak terasa sangat sakit. "Aku tidak pernah tahu kalau energi bisa dipakai untuk melindungi diri seperti ini."
"Bagus kalau begitu." Naruto mendengus. "Artinya rahasia teknik pertahanan yang diciptakan oleh Shishou-ku ini masih belum bisa dibongkar oleh pihak manapun."
Selama ini, hampir semua orang yang bisa pertahanan berbasis Chakra (ataupun energi jenis lainnya) hanya mengetahui cara melindungi diri dengan melapisi tubuh mereka dengan gabungan energi jasmani dan spiritual itu seperti kulit kedua. Namun Jiraiya, yang dulu sering sekali harus menderita pukulan mematikan milik Tsunade, berinisiatif menciptakan sebuah teknik pertahanan baru karena dia tidak mau mati muda. Dia baru berhasil menciptakan jurus itu saat dia meraih gelar Chuunin, jurus Ninjutsu defensif yang kemudian ia beri nama [Yousai Kabe]. Tidak hanya membentuk lapisan Chakra di atas kulit, jutsu defensif ini diberi nama [Dinding Benteng] karena penggunanya harus memasang lapisan energi perlindungan yang memiliki beberapa tingkatan. Pertama-tama, Chakra digunakan untuk melapisi tulang. Kedua, organ dalam. Langkah ketiga adalah melapisi semua otot lurik, dan langkah ini merupakan langkah paling susah karena ada setidaknya enam sampai delapan ratus serat otot lurik di tubuh manusia. Semua hal di atas harus dilakukan terlebih dahulu sebelum melapisi kulit seperti biasa.
Ada sedikit rasa iri dalam hati Naruto, karena dulu ia sendiri harus menghabiskan satu minggu penuh untuk mempelajari teknik ini, tapi Issei sudah berhasil mencapai level yang sama hanya dalam setengah hari.
"Anu, Naruto-san?" Issei tak urung menjadi agak sedikit takut ketika melihat Naruto yang mulai mengepal-ngepalkan tangan sampai buku-buku jarinya berderak. "K-kau sedang apa?"
"…Yah, 'bisa memakai' bukan berarti 'menguasai'." Naruto berjalan maju sambil mengangkat kedua tinju. "Jurus [Yousai Kabe] ini tidak akan banyak berarti kalau sang pengguna tidak bisa memakainya secara reflek."
Dia tersenyum lebar. "Jadi aku akan menghajarmu sekuat tenaga, dan kau harus bertahan sebisa mungkin, oke?"
Issei merasa sekelilingnya tiba-tiba menjadi begitu sunyi sampai-sampai dia berani bersumpah dia bisa mendengar suara derik jengkerik di kejauhan.
Ia menatap guru dadakannya yang masih tersenyum lebar untuk beberapa saat sebelum menelan ludah.
Cetar membahana.
~•~
/Hari kelima, 09.10 a.m./
"Oi, Issei," Naruto memanggil murid dadakannya yang nampak masih telungkup dengan wajah menempel ke tanah. "Kau mau tepar di situ sampai kapan? Kita belum selesai latihan."
"Naruto-san~!" Issei mendongakkan wajahnya dan merengek. "Aku sudah benar-benar capek nih! Istirahat sebentar apa salahnya sih?!"
"Berisik. Kaukira kita punya waktu untuk istirahat?" Naruto menyahut otomatis sebelum bersidekap. "Atau begini saja. Kalau kau mau, kau bisa istirahat kalau kau sudah mati."
"T-tapi—!"
"Nggak ada tapi-tapian." Naruto mengangkat tangannya dan membentuk sebuah Insou (Hand Seals) menyilang. "Kagebunshin no Jutsu."
Issei batal membuka mulut saat melihat bahwa dia telah dikepung oleh kembaran-kembaran berpenampilan identik dengan Naruto.
"Lawan mereka." Cetus Naruto dengan suara datar.
"…S-sepuluh?" dia bertanya takut-takut setelah menghitung jumlah Kagebunshin yang mengelilinginya. "N-Naruto-san, melawan lima saja aku sudah keteter-keteter nggak jelas seperti ini, tapi sekarang kau malah menyuruhku melawan sepuluh?! Apa ini nggak keterlaluan?!"
Naruto menimbang-nimbang pertanyaan Issei sebelum mengangguk. "Benar juga. Kau pasti tidak puas kalau hanya melawan sepuluh orang." Bukannya berkurang, Kagebunshin yang mengelilingi Issei malah bertambah dua kali lipat. "Nih, kutambah sepuluh lagi."
Issei baru saja berniat buka suara untuk menyanggah pernyataan guru dadakannya yang sudah amat sangat salah kaprah itu, namun belum sempat satu kata ia keluarkan, Kagebunshin-Kagebunshin Naruto telah lebih dulu berkelebat maju dan menyerbunya.
"Oh iya. Jangan lupa, setiap kali kau menang, maka di ronde berikutnya jumlah musuhmu akan kutambah sepuluh lagi."
Ketika melihat shinobi berambut pirang itu melempar sebuah sengiran sembari mengucapkan 'semoga sukses' padanya, entah mengapa Issei merasa kalau dengan merengek, bukannya mendapat belas kasihan, dia malah telah membuat Naruto semakin keukeuh berniat untuk membuatnya mati muda.
Cetar membahana!
~•~
/Hari ketujuh, 20.11 p.m./
(Play Fate/Zero OST – Oath Sign)
Naruto mengedipkan matanya yang bercahaya, kemampuan membaca [Aksara Semesta] yang ia warisi dari Klan Namikaze memberitahu sang shinobi bahwa jarak antara ia dan musuhnya adalah tiga puluh dua koma tujuh belas meter dan dengan kecepatannya berlari sekarang, orang yang memiliki tubuh dengan tinggi seratus tujuh puluh sentimeter dan berat enam puluh dua kilogram itu akan dapat menempuh perjalanan ke tempat Naruto berdiri sekarang hanya dalam waktu tiga koma tiga puluh tujuh detik.
Naruto menarik segumpal napas yang kemudian ia tahan, dan melompat maju ketika musuhnya yang memiliki rambut berwarna cokelat tua itu hanya tinggal berjarak lima langkah, lutut kanannya yang terlipat dan mengarah ke depan dengan sukses menghantam wajah remaja yang mengenakan jaket olahraga Akademi Kuoh tersebut dan membuatnya terpental kembali ke arah ia pertama datang. Tak berniat membiarkan ada jeda, sesegeranya setelah ia mendarat ke tanah Naruto langsung berlari memburu orang yang kini sedang terguling-guling di depannya.
"Boost!"
Mata Naruto melebar ketika melihat bahwa aksi terjungkal-jungkal tersebut hanyalah sebuah aksi pura-pura, karena setengah detik setelah deklarasi peningkatan kekuatan dari Sacred Gear-nya, remaja berambut cokelat itu sudah berhasil memperbaiki posisinya menjadi berlutut sebelum mengacungkan tangan kirinya ke depan dalam posisi setengah cengkeraman, membuat napas Naruto tercekat karena melihat Youki yang begitu terkondensasi sehingga hanya tinggal sebesar bola pingpong telah mengambang di depan sarung tangan besi berwarna merah tua itu. Instingnya yang meneriakkan peringatan bahaya menyebabkan reflek Naruto langsung bekerja dengan mengirim perintah yang membuat remaja berambut pirang itu mengangkat tangan kanannya. Chakra netral dan Elemen Angin berukuran besar ia bentuk menjadi sebuah jurus destruktif yang ia kembangkan dari Jutsu warisan sang ayah dan telah diajarkan padanya oleh Jiraiya.
"Explosion!"
Seruan dari Boosted Gear itu menjadi pemicu bagi mereka berdua, membuat remaja berambut cokelat itu mengepalkan dan menarik mundur tangan kirinya sebelum memukulkannya dalam waktu bersamaan dengan Naruto yang turut menyabetkan tangan kanannya ke arah sang lawan.
"Dragon Shot!"
"Fuuton: Rasengan!"
Dua jenis energi yang datang dari spesies berbeda berbenturan ketika Youki dan Chakra yang membentuk dua jurus yang berbeda bentuk namun sama-sama mematikan tersebut saling hantam, menciptakan sebuah ledakan yang mengguncang bumi serta mendorong mundur batang-batang pepohonan yang mengelilingi tanah kosong tersebut dengan gelombang kejutnya. Tak sampai sepersekian detik kemudian, dua tubuh remaja yang menjadi pelaku penyebab ledakan itu muncul kembali dalam pandangan, terlempar dan menembus keluar dari kepulan asap pekat bercampur debu yang membubung naik ke udara, jatuh terguling-guling sebelum akhirnya berhenti tidak seberapa jauh dari tepi tanah kosong di tengah hutan yang menjadi arena pertempuran mereka berdua.
Untuk beberapa saat, satu-satunya suara yang mengisi tanah kosong itu hanyalah hembusan angin serta keretak-keretak dari serpihan tanah dan batu kerikil yang berjatuhan, sebelum akhirnya ditambah oleh erangan dengan nada sama-sama penuh derita namun datang dari dua suara berbeda.
Naruto mengubah posisinya yang tadi meringkuk menjadi terbaring terlentang, mulutnya terbatuk-batuk dalam usaha mengeluarkan asap dan debu yang sudah tak sengaja ia hirup. Walau masih sangat kesakitan, remaja berambut pirang itu tetap saja memaksa tubuhnya yang serasa sudah dihantam oleh palu godam untuk berdiri.
"Boost!"
Baru saja Naruto berhasil memaksa dua kakinya untuk berhenti gemetaran saat menopang berat tubuhnya, ia sudah harus menahan diri untuk tidak mengerang panjang karena mendengar suara deklarasi dari Boosted Gear yang menandakan bahwa lawannya belum tumbang dan masih memiliki kapasitas untuk melanjutkan pertarungan. Dugaan tersebut menjadi kenyataan ketika pandangan Naruto yang sempat buram menjadi jelas lagi, hingga mata biru langitnya melihat bahwa remaja berambut coklat yang berada kurang lebih seratus meter di depannya itu telah turut berdiri dan sudah mengangkat kepalanya lagi. Dua remaja itu saling tatap untuk sesaat sebelum pipi mereka tiba-tiba menggembung, peristiwa yang mereka lanjutkan dengan membungkuk dan sama-sama memuntahkan darah segar ke atas permukaan tanah.
Ada sedikit rasa tidak percaya dalam hati Naruto selagi shinobi berambut pirang itu terus batuk-batuk untuk mengeluarkan semua darah yang menghalangi pernapasannya. Okelah, teman satu kelasnya itu memang sudah menjadi Iblis yang notabene memiliki kemampuan fisik dan panca indera beberapa kali lebih kuat dari umat manusia pada umumnya, dan dia juga mempunyai sebuah Sacred Gear teramat spesial yang konon bisa memberikan kekuatan untuk membunuh Tuhan pada penggunanya.
Tak hanya itu, dalam pertarungan ini Naruto juga membatasi dirinya dengan tidak memakai senjata tajam, serta Hiraishin dan segala macam jurus Fuuinjutsu lain yang ia miliki karena ingin mencegah agar dia tidak membunuh Issei secara tidak sengaja. Tapi itu tetap tak mengubah fakta bahwa Naruto sama sekali tak pernah menyangka bahwa dia, seorang shinobi yang telah melatih tubuh dan kemampuan bertempurnya selama lebih dari setengah dekade, bisa dibuat sedikit kewalahan oleh seorang remaja yang memiliki nama lengkap Hyoudou Issei ini, ketika tak lebih dari satu bulan yang lalu dia hanyalah seorang anak sekolahan yang sama sekali tak punya pengalaman bertarung dalam bentuk apapun.
Naruto tak tahu apakah metode latihan yang ia adaptasi dari Shishou-nya benar-benar efektif, atau Issei memang memiliki bakat alami sebagai seorang petarung. Namun satu hal yang pasti, teman sekelasnya itu memang benar-benar mempunyai potensi tak terbantahkan seperti yang telah diindikasikan oleh delapan biji bidak Evil Pieces yang ada dalam dirinya.
Memikirkan hal itu membuat Naruto jadi pingin menangis sekaligus ketawa, karena jujur saja, Naruto merasa seperti sedang melatih orang dengan bakat sama hebat dengan bekas rekan satu timnya yang memiliki marga Uchiha. Tapi apa kata dunia kalau sampai Sasuke punya sifat mesum dan terobsesi dengan liuk gemulai tubuh wanita seperti Issei?
…Yah, paling tidak, rentang satu minggu yang ia jadikan batas waktu untuk melaksanakan misi melatih Issei yang telah ia terima itu akan selesai hari ini. Setelah hari ini berakhir, dia akan punya kesempatan untuk terbahak atau menangis sepuasnya.
Naruto meludah sekali lagi untuk mengeluarkan darah yang ada di rongga mulutnya sebelum mengangkat wajah. "Oi, Issei!" ia memanggil. "Kurasa sudah cukup segitu untuk pemanasan!"
"Hah?! Apanya yang—O-oh!" Issei menyahut sambil menyeka darah yang mengalir di sudut mulutnya. Bibirnya yang masih sedikit dikotori cairan merah kental melengkung ke bawah dan wajahnya sedikit memucat. "Oh." Remaja mesum yang terobsesi dengan payudara besar itu menelan ludah. "...Oh."
Berkelahi sampai hancur berantakan begini masih dibilang pemanasan? Pemanasan?! Issei kembali menelan ludah yang kali ini terasa sekering pasir. Jujur, dia mungkin sudah mengatakan ini berkali-kali dalam durasi satu minggu terakhir sampai dia jadi bosan sendiri, tapi apa Naruto memang benar-benar berniat membuatnya mati muda?!
Namun bukannya ciut nyali, kesadaran bahwa dia masih punya banyak mimpi yang belum diraih malah membuat mata Issei jadi berapi-api. "Uooohh~!" dia meraung seperti harimau luka. "Aku nggak rela mati perjaka!"
Issei menerima respon untuk pernyataannya tersebut dalam bentuk Naruto yang mengobarkan Chakranya sampai tubuh remaja berambut pirang itu nampak diselimuti oleh energi biru transparan. Angin yang semula berhembus santai di tanah kosong itu seakan mendapat stimulan yang membuatnya berkecamuk dengan suara lolongan seperti binatang buas yang mengamuk.
Rasa nekat yang membara dalam hati Issei membuat bibir Iblis remaja itu melengkung sampai menjadi sebuah sengiran ganas. Remaja itu mengepalkan tangannya kuat-kuat sebelum berteriak, "Promotion: Queen!" Seakan tak mau kalah dengan lawannya, tubuh Iblis remaja itu meledakkan energi Youki berwarna hijau jamrud yang turut berkobar seperti gelora api membara, menciptakan gelombang kejut yang berbenturan dengan reaksi pengerahan energi dari Naruto. Membuat kecamuk angin di tanah kosong itu semakin tak beraturan serta menyebabkan terdistorsinya hukum fisika, sehingga serpihan tanah dan batu-batu kecil melayang ke udara sebagai akibat dari benturan energi Youki dan Chakra.
Kedua remaja yang sekolah di Akademi Kuoh itu sama-sama melepas jaket olahraga mereka yang sudah robek-robek parah di beberapa bagian dan hancur sedemikian rupa setelah satu minggu menjadi korban pertempuran sebelum mencampakkannya ke tanah. Sehingga kini Issei hanya memakai baju t-shirt merah tua dan celana hitam abu-abu, sementara Naruto hanya berbalutkan kaos hitam berlengan panjang dengan celana training berwarna biru tua.
Naruto mengangkat tinjunya yang ia saling pukulkan di depan dada. "Siapkan dirimu baik-baik, Issei!" Ia nyengir lebar. "Kuingatkan lagi, kali ini kita tidak akan berhenti sampai salah satu dari kita sudah sekarat!"
Issei berdiri tegak sebelum mengambil tindakan hormat grak. "Aku mengerti, Naruto-san!" Iblis remaja berambut cokelat itu melirik Boosted Gear-nya. "Bagaimana denganmu, Ddraig?! Kau sudah siap?!"
'Tentu saja, Aibou (Partner)!'
Naruto terdiam sesaat. "Haduh..." Dia menepuk pelan dahinya. Yang dia maksud dengan siap-siap sebenarnya adalah tarik napas atau pasang kuda-kuda, tapi murid dadakannya itu malah mulai bicara dengan penuh semangat pada naga yang tersegel dalam Sacred Gear-nya. "Padahal ketemu saja baru setengah minggu, tapi mereka sudah jadi seakrab itu..." Ia terkekeh pelan. 'Rada beda dengan kita, ya kan Kurama? Bikin ngiri aja…'
'Goshujin-sama!' teriakan kesal sang Bijuu yang mendiami jiwa Naruto bergema dalam benaknya. 'Bisa-bisanya Goshujin-sama membanding-bandingkan Kurama dengan naga kudisan itu!'
Naruto mengangkat sebelah alisnya. '...Kau lupa ya? Setelah kita pertama bertemu dulu, kita cuma saling ejek sampai lebih dari seminggu.'
Naruto bisa membayangkan bagaimana gadis personifikasi makhluk mistis itu menundukkan kepala sambil memain-mainkan dua jari telunjuk dan mengerucutkan bibir saat ia tidak mendengar sahutan untuk beberapa lama. '...I-itu kan karena Kurama masih belum benar-benar mengenal Goshujin-sama...'
'Aku ingat kalau dulu kau juga sering main pukul seenaknya.'
Okelah, pukulan atau tendangan Kurama yang saat itu terpisah dari Youki-nya kalau sudah keluar dari Shiki Fuujin memang sama sekali tidak terasa menyakitkan. Tapi mengingat bagaimana mereka hidup bersama, tak hanya dalam satu rumah tapi juga dalam satu tubuh dan satu [Nyawa], tingkah Kurama yang dulu cukup liar itu sebenarnya bisa dikategorikan sebagai 'kekerasan dalam rumah tangga'.
'...S-saat itu Kurama hanya—'
'Lalu dulu kau juga sering menyuruhku beli makanan ini-itu sampai dompetku jadi tipis.'
'T-tapi itu kan—' Kurama, yang suaranya sudah jadi kecil seperti anak SD kalau dimarahi, tiba-tiba berhenti bicara saat mendengar majikannya terkekeh geli, membuatnya tersadar bahwa dia hanya sedang diusili. 'Mou, Goshujin-sama jahat!'
Niat Naruto untuk menyahut terpaksa harus dibatalkan karena pemuda itu dengan reflek melengkungkan tubuhnya ke belakang untuk menghindari tendangan yang hampir saja mampir di wajahnya. Tangan Naruto berkelebat untuk menggenggam pergelangan kaki yang hampir mematahkan hidungnya itu sebelum mengayunkan pemiliknya dalam satu putaran penuh, menggunakan hukum lokomosi dengan mengarahkan kembali daya momentum dari serangan Issei untuk melemparkan teman sekelasnya itu kembali ke depan.
Pelajaran Jiraiya #14: 'Di medan pertempuran, setiap kesempatan yang muncul dari kelengahan lawan adalah kesempatan emas yang tak boleh gagal digenggam demi meraih kemenangan'.
Issei bersalto satu kali di udara untuk membenarkan posisi sebelum mendarat, sepatunya bergesekan dengan tanah untuk mengerem sampai dia terseret beberapa meter ke belakang. Dia seperti sama sekali tidak merasakan efek lemparan itu, karena detik berikutnya, Issei sudah kembali berkelebat maju sebelum melompat tinggi ke udara dengan sebuah teriakan membahana. "Partial Transformation! Equip: Right Leg!"
Pelajaran Jiraiya #11: 'Dalam pertarungan yang hasilnya bisa menentukan kelangsungan hidup atau kedatangan ajal pesertanya, menunggu sampai musuh siap memberi perlawanan adalah suatu tindakan yang hanya dilakukan oleh orang yang congkak atau orang yang berada di bawah garis kebodohan.'
Ketika melihat kaki kanan Issei dibungkus oleh armor dengan tiga cakar melengkung, berwarna sama persis dengan warna sarung tangan besi di tangan kirinya, wajah Naruto berubah sedikit memucat. "…Oh, sial."
"Boost!"
Permata hijau bundar yang ada di lutut Issei menyala terang. Naruto hampir saja tak punya waktu untuk menghindar ketika Issei mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi, dan dengan sebuah raungan yang memekakkan telinga, sang Sekiryuutei menghempaskannya ke bumi. "Earth Crusher!"
Sang shinobi dari Konoha melompat tinggi ke udara sambil menyilangkan lengan untuk melindungi tubuh dan wajah. Dari sedikit celah antara dua tangannya, ia menyaksikan bagaimana Issei meremukkan bumi hampir semudah palu yang menghantam kaca cermin, sebuah tindakan yang menyebabkan bongkahan-bongkahan tanah beterbangan ke mana-mana sampai memenuhi udara. Naruto hampir saja tidak sempat melapisi lengannya dengan Chakra ketika salah satu bongkahan tanah itu menghantam dirinya, mementalkan tubuh shinobi berambut pirang itu jauh ke belakang sampai menghantam sebuah pohon yang langsung tumbang.
Walau ia bisa merasakan darah yang menggelegak di kerongkongan dan mulai merembes melalui sudut bibirnya, Naruto hanya menggertakkan giginya kuat-kuat dan langsung berdiri lagi. Tanpa membuat jeda, shinobi itu menggerakkan tangannya menjadi sebuah Insou menyilang yang menjadi pertanda bahwa ia akan memakai jurus favoritnya. "Tajuu Kagebunshin no Jutsu!"
Pelajaran Jiraiya #8: 'Jangan biarkan musuh menguasai alur pertarungan'.
Seringai ganas yang terpasang di wajah Issei menjadi goyah, dan niatnya untuk terus melanjutkan serangan terpaksa dibatalkan ketika dia menyadari bahwa dia telah dikelilingi oleh dua ribu lebih Kagebunshin Naruto yang mengepungnya dari segala arah, kembaran-kembaran yang tidak membuang waktu dan langsung melompat maju untuk menyerbu lawan tuan mereka. Perhatian Issei yang masih terpaku pada kembaran-kembaran identik yang melompat itu membuatnya tak menyadari bahwa empat Kagebunshin telah lebih dulu berkelebat dan kini mendekam tidak satu langkah dari tempatnya berdiri.
"Na! Mi! Ka! Ze!—" Empat tendangan beruntun menghantam tubuh Issei dan mementalkan remaja Iblis itu lurus ke atas.
"—Naruto no Taijutsu Ougi!" (Namikaze Naruto's Taijutsu Supreme Technique!)
Dua ribu Kagebunshin menarik tangan mereka yang terkepal dan meraung secara bersamaan.
"Nisen Rendan!" (Two Thousand Combo!)
Karena dia masih melayang di udara, Issei hanya mampu meringkuk, memakai kedua lengan dan kaki untuk melindungi diri sebisa mungkin sambil menjerit kesakitan senyaring-nyaringnya ketika dua ribu pukulan beruntun menghajar tubuhnya tanpa ampun. Serangan dahsyat yang berlangsung sampai hampir setengah menit itu berakhir dengan Issei yang terjatuh dan mendarat di bumi dalam posisi terkapar sembari kejang-kejang tak beraturan karena memar-memar yang membaluri sekujur tubuhnya.
Namun kelihatannya daya tahan dan tekad pemuda berusia tujuh belas tahun itu memang patut diberi penghargaan, karena baru sepuluh detik kemudian, dia sudah memaksa tubuhnya untuk bangkit lagi.
"N-Naru—Ohogh!" Issei yang sudah setengah berdiri harus terbungkuk sekali lagi karena harus memuntahkan darah segar yang memenuhi kerongkongan dan tenggorokan sehingga menghambat jalur pernapasannya. "Naruto-san~!"
"Boost!"
Rasa bangga dalam hati Naruto semakin menjadi-jadi ketika melihat Issei yang tidak pernah menyerah walaupun sudah babak belur sedemikian rupa. Naruto bahkan bisa bersumpah dia bisa melihat bayangan dirinya sendiri dalam diri Issei. Merasa tak rela kalau sampai kalah dengan kegigihan murid dadakannya, shinobi yang telah mendapat julukan [Konoha no Koganei Senkou] dari Shishou-nya sendiri itu menyeka darah di sudut mulutnya sambil merendahkan tubuh menjadi sebuah posisi kuda-kuda secara bersamaan dengan ketika Issei mendongak dan kembali berdiri tegak, sebelum sama-sama melesat maju dengan tinju terangkat dan sebuah seringai ganas yang terpasang di wajah keduanya.
"NARUTO-SAN~!/ISSEI~!"
~•~
Satu minggu penuh telah berlalu sejak penyekapan yang sekaligus menjadi peristiwa penyewaan jasa Naruto tersebut, dan akhir pekan ini menjadi hari di mana Sona memutuskan untuk mengunjungi vila Rias untuk mengecek sejauh mana perkembangan yang sudah berhasil dicapai oleh sahabatnya, walau kalau ia harus jujur, Sona pergi ke sana untuk menemui si remaja berotak bebal yang sebenarnya diam-diam dia rindukan.
…Hanya saja, dia mendapati bahwa shinobi yang sudah tak tahan ingin Sona lihat wajahnya dan dengar suaranya itu malah tidak kelihatan batang hidungnya. Tak hanya itu, alasan Rias tentang kenapa Naruto tidak ada di sana justru membuatnya makin kesal dan memperburuk suasana.
"...Rias, sekedar informasi, kalau kau membohongiku, aku akan sangat marah."
Melihat bagaimana sahabat sekaligus rivalnya itu mulai bersidekap sambil menepuk-nepuk tanah dengan kaki kanannya, Rias hanya bisa menghembuskan napas panjang sambil memikirkan dosa apa yang sudah dia lakukan sehingga harus ditimpa nasib seburuk ini. "Sumpah aku nggak bohong, Sona." Gadis Iblis yang merupakan ahli waris Klan Gremory itu mengurut pelipisnya karena sakit kepala yang mulai menyerang. "Satu minggu lalu, setelah kami baru saja tiba di vila ini, Namikaze tiba-tiba membawa Issei pergi entah ke mana. Dan mereka nggak pulang-pulang sampai hari ini."
Sona mengangkat alisnya. "Kalau begitu kenapa kau tidak mencari mereka?"
"Aku sudah mencoba kok!" Rias berseru jengkel. "Kami semua sudah mencari mereka setiap kali ada kesempatan, tapi dua orang cowok bego itu nggak ketahuan batang hidungnya ada di mana!"
Shinra Tsubaki, wakil ketua OSIS sekaligus pemegang peranan Ratu dalam Peerage Sona, mengerutkan dahinya dengan mata bersinar sangsi. "Jadi maksudmu mereka lenyap begitu saja?"
"Bagaimana kalau mereka melarikan diri?" Genshirou Saji, sekretaris sekaligus Pion yang menerima empat biji bidak Evil Pieces, turut menambahkan.
"Awalnya kami juga takutnya begitu, tapi Issei-kun dan Namikaze-san sudah memberikan bukti bahwa mereka masih ada di wilayah ini."
Sona menatap cowok berambut pirang lurus itu dengan tatapan penasaran. "Apa maksudmu, Kiba-kun?"
Alih-alih Kiba, orang yang menyuplai jawaban untuk pertanyaan itu adalah Koneko, dan dia melakukannya dengan menunjuk ke satu arah sambil mengucapkan satu kata. "...Itu."
Sona, Tsubaki, dan Saji mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Koneko. Tidak lima detik kemudian, sebuah tanda tanya muncul di atas ubun-ubun tiga anggota organisasi intra sekolah yang memiringkan kepala mereka itu.
"Em..." Saji mengucek-ngucek matanya. "Kami harus ngeliat apaan nih?"
"…Kurang lebih dua hari yang lalu," Akeno turut mengacungkan jari telunjuknya yang lentik ke arah tersebut. "Gunung itu masih utuh."
Untuk beberapa saat, suasana halaman vila itu menjadi sesunyi kuburan sampai-sampai suara derik jengkerik di kejauhan bisa kedengaran. Ketiga Iblis remaja yang baru datang itu memang sudah melihat bahwa ada sebuah gunung yang dilapisi hijaunya pepohonan di arah yang ditunjuk oleh Akeno dan Koneko. Hanya saja, mereka baru sadar bahwa puncak gunung itu, sampai hampir seperlima tinggi totalnya, sudah lenyap seperti terpotong dari pangkalnya.
Sona menelan ludah. "Jadi itu..."
"Yep." Rias mengangguk.
Tsubaki turut menatap sahabat Rajanya itu dengan mata lebar. "Dan mereka berdua yang..."
"Yep."
Kali ini, Saji mengucek-ngucek matanya dengan lebih kuat. "K-Kaichou," Ia terbata sambil menatap Rajanya. "A-aku pasti sedang bermimpi kan...? Tidak mungkin si mesum Hyoudou itu bisa melakukan hal seperti ini kan...?"
"Aku tidak heran kalau kau mengira begitu, Saji..." Sona menggumam sambil terus memandangi gunung tak utuh di kejauhan itu. "...Aku saja merasa susah mempercayai mataku sendiri."
"Atau jangan-jangan itu ulah Namikaze?! Dia sedang melatih Hyoudou kan?!" Saji masih mencoba menyanggah. "Karena kalau dia yang melakukannya, aku masih bisa percaya!"
"Yah, memang sih saat ini Namikaze-san sedang ada bersama Issei-kun. Tapi saat gunung itu meledak, satu-satunya energi yang bisa kami rasakan adalah Youki." Kiba menjelaskan.
Saji ternganga. "T-tapi itu mustahil! Bukannya dia cuma seorang Pion?!" Saji mengibas-ngibaskan tangan untuk mengekspresikan rasa tidak percayanya. "Bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu, kalau aku yang dibangkitkan dengan empat biji bidak Pion Evil Pieces saja tidak bisa!"
"Saji, kau belum tahu ya? Aku memang perlu empat bidak Pion untuk menjadikanmu Iblis, tapi Rias perlu delapan biji bidak Evil Pieces untuk membangkitkan Hyoudou-kun," Sona membenarkan kacamatanya. "Dan kalau tidak salah, satu setengah minggu yang lalu, Hyoudou-kun juga sudah berhasil menghancurkan semua sihir penyegel kekuatan yang dipasang padanya. Benar begitu kan, Rias?"
Rias mengangguk. "Kau mau tahu yang lebih parah lagi?" gadis Iblis berambut merah itu menghela napas panjang. "Sebelum mereka hilang entah ke mana, Issei sempat meminta ijin untuk memakai kemampuan Promotion-nya."
Tsubaki tertegun. "Jadi maksudmu Hyoudou-san tidak hanya bisa memakai kekuatan penuhnya sebagai orang dengan delapan biji bidak Pion, tapi juga kemampuan untuk memakai kekuatan bidak yang lain, yang masih bisa digandakan kalau dia memakai Sacred Gear Kelas Longinus miliknya itu?"
Sona menepuk dahinya sambil mengerang panjang. "Rias~"
"A-aku nggak tahu, oke?! Kukira Issei cuma mau mengetes kemampuannya sudah sejauh mana atau apa! Mana aku tahu kalau dia dan si kepala duren bego itu akan langsung menghilang setelah kuberi ijin! Aku kan nggak bisa membaca pikiran orang lain!"
"…Minggu lalu, aku bertanya-tanya apa aku harus ikut denganmu." Sona mengurut pelipisnya. "Tapi tidak~, aku malah menyerahkan semuanya padamu setelah kau mengatakan bahwa kau bisa—" Sona mengangkat kedua tangan dan melakukan gestur 'tanda petik' dengan telunjuk dan jari tengahnya. "'Mengurus segalanya'."
"Jangan ngomong seakan-akan aku ini tidak bisa dipercaya dong!" Pipi Rias mulai menggembung karena kesal. "Dan jangan pandang aku dengan mata seorang ibu yang kecewa setelah melihat anaknya dapat nilai nol dalam ulangan akhir seperti itu juga dong!"
Sebagai responnya, Sona cuma mengangkat satu alis dengan ekspresi wajah yang sama sekali tak berubah. "...Aku belum ngomong apa-apa lho."
Pipi Rias telah menggembung sampai seukuran bola tenis. "Uuuhh~!"
Sementara dua orang Raja itu terlibat perang mulut lagi, Tsubaki mencondongkan tubuh sedikit ke arah gadis berambut hitam yang sama-sama memegang peranan Ratu dengannya sembari melemparkan sebuah pertanyaan. "'Kepala duren'?"
"Nama panggilan baru Buchou untuk Namikaze-kun," sahut Akeno. "Buchou tidak mau kalah dengan Kaichou-san, tapi karena dia terlalu pemalu untuk ikut memakai nama depan Namikaze-kun, maka lahirlah julukan 'kepala duren'."
Rias yang sudah membuka mulutnya membatalkan niat untuk melanjutkan argumen dengan Sona, dan berbalik untuk mendelik ke arah Ratunya. "Akeno, bukannya sudah kubilang kalau itu rahasia?! Kenapa malah kau bongkar sih?!"
"Ara?" Akeno menaikkan sebelas alis tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya. "Tapi kau tidak pernah bilang begitu, Buchou. Yang aku ingat, kau cuma mengatakan kalau kau tidak mau semudah itu membiarkan Namikaze-kun jadi milik Kaicho—"
"Uwawawaah~!" Rias memotong kalimat Akeno dengan menutup mulut Ratunya itu dan berteriak-teriak nggak jelas, dan turut berhenti ketika ia merasakan bulu kuduknya berdiri. Ahli waris Klan Gremory tersebut mendongak, dan mendapati bahwa Sona telah memelototinya dengan sorot mata tajam.
Akan tetapi, belum sempat dua rival itu kembali memulai cekcok verbal yang entah kenapa selalu terjadi kalau pembicaraan mereka sudah meleng ke topik menyangkut satu-satunya remaja yang memiliki okupasi sebagai shinobi di Akademi Kuoh, perhatian dua gadis Iblis yang sudah ada di tahun terakhir dan tinggal menunggu kelulusan tersebut teralihkan oleh suara derit nyaring yang terdengar dari arah gerbang besi yang menjadi jalan masuk ke vila.
Tak kurang dari delapan pasang mata ikut bergerak, namun semua pemiliknya langsung tertegun kala melihat siapa gerangan yang baru saja melangkah memasuki halaman vila Rias. Dalam hati mereka, rasa terkejut, lega, takut, senang, dan khawatir bercampur aduk jadi satu saat menyadari bahwa Naruto dan Issei telah pulang setelah menghilang selama satu minggu penuh, emosi-emosi yang berubah semakin intens saat melihat seperti apa tepatnya penampilan kedua remaja teman sekelas itu.
Jaket olahraga Akademi Kuoh yang sebelumnya mereka pakai saat menghilang satu minggu lalu telah lenyap, tak ketahuan juntrungannya ada di mana. Dan tidak seperti celana yang kelihatannya hanya menderita rusak ringan di samping kotor oleh debu, kaos mereka berada dalam kondisi menyedihkan. T-shirt merah berlengan pendek Issei nampak mengalami robek berat sampai bahu dan lengan kanan remaja itu sudah tak lagi tertutupi pakaian. Kaos berlengan panjang yang membalut tubuh Naruto sendiripun tidak bernasib lebih beruntung, karena saat ini di baju berwarna hitam itu tidak hanya terdapat begitu banyak sobekan, namun juga didampingi bekas hangus di sana-sini.
Namun seburuk apapun keadaan pakaian mereka, hal yang paling membuat khawatir Iblis-Iblis yang berdiri di teras di depan pintu vila tersebut adalah fakta bahwa dua remaja itu pulang dengan kondisi tubuh yang bisa diberi label [Hancur Berantakan]. Naruto memapah Issei yang kelihatannya sudah tak sadarkan diri, dan shinobi itu sekalipun harus berjalan dengan langkah yang diseret, terhuyung-huyung, dan keteter, seakan-akan dia sudah tak lagi memiliki tenaga dan bahan bakar yang membuat manusia remaja itu masih bisa bergerak hanyalah kekuatan tekad. Mereka juga mampu menangkap kalau Naruto seperti mengalami kesulitan menggunakan paru-paru, jika menilik dari suara hembusan napasnya yang pendek dan putus-putus.
"Naruto-kun!" Sial bagi Rias, dia yang sudah berniat mengutarakan pikirannya ternyata telah didahului oleh Sona. Namun dari suara panik Sona yang sudah kehilangan kekalemannya, ahli waris Klan Gremory itu sadar diri dan mengalah, tahu bahwa saat ini ada hal lain yang harus lebih ia khawatirkan. "Apa yang terjadi pada kalian?!"
"Eh?" Kekhawatiran yang tadi sudah mengisi hati kedua Iblis berdarah murni itu semakin menjadi-jadi saat Naruto mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk. Dibantu oleh cahaya bulan yang melimpah, mata mereka yang sangat jeli bisa menangkap bahwa darah terlihat mengalir dari dua sudut bibirnya yang bengkak dan pecah-pecah, serta dari satu lubang hidung Naruto yang miring ke kiri karena patah. Cairan merah lengket yang sama juga telah sepenuhnya membasahi bagian kanan wajah teman sekelasnya, tercurah dari salah satu bagian kepala Issei yang basah, mengalir turun melewati pelipis, menuruni pipi, sampai akhirnya menetes dari ujung dagu.
"O-Ojou-sama? Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Bukti bahwa Naruto berada dalam kondisi yang sangat tidak sehat semakin menguat karena penglihatan remaja pirang itu sudah benar-benar tidak fokus hingga dia harus memicingkan mata dan mengerjap berkali-kali hanya untuk bisa mengetahui identitas orang yang ada dalam garis penglihatannya.
"Apa yang terjadi pada kalian?!" Kekhawatiran yang membuncah dan terus memuncak dalam hati Sona membuat gadis Iblis itu kehilangan kekalemannya dan bertanya dengan volume suara yang meninggi.
Shinobi muda yang masih berusia lima belas tahun itu nampak bingung untuk sesaat, matanya melebar sedikit saat dia akhirnya menyadari apa yang ditanyakan oleh Sona. "Oh, maksudmu ini, Ojou-sama?" Naruto hanya terkekeh malu-malu dan mengusap belakang lehernya seperti tak sadar bahwa dia sedang terluka parah. "Kami cuma lupa diri saat latih tandi—"
Apapun yang ingin dia katakan tak sempat terselesaikan karena pipinya telah lebih dulu menggembung sebelum Naruto kembali membungkuk, mulutnya terbuka dan terbatuk-batuk hebat sampai bahunya gemetaran.
Lidah Sona menjadi kelu dan jantungnya berhenti berdetak sesaat ketika Naruto berhenti batuk, hanya untuk memuntahkan darah segar yang muncrat dan bercipratan mengotori tanah di depannya.
Seluruh perhatian Sona terfokus ketika ia akhirnya menyadari betapa pucatnya wajah Naruto, dan tanpa ia ketahui, tubuhnya telah bergerak sendiri saat mendengar napas Naruto telah berubah cepat, putus-putus dan berkali-kali tersendat. Sona bahkan tidak sadar bahwa dia telah setengah berlari, atau bahwa Rias dan Asia mengikutinya dari belakang, karena Sona hanya bisa merasakan kekhawatiran yang menjadi-jadi saat melihat mata Naruto menutup sepenuhnya.
Dia tidak sadar bahwa mulutnya telah menjeritkan nama sang pemuda ketika tubuhnya goyah dan perlahan-lahan rubuh ke depan.
"NARUTO-KUN!"
~•~
Rias adalah seorang Iblis berdarah murni yang lahir dari Klan Gremory, klan berderajat tinggi di Meikai sebagai satu dari 72 Pilar yang semakin dihormati setelah Sirzechs dianugerahi gelar Lucifer, gelar teramat prestisius yang tidak hanya mematri Klan Gremory sebagai penghasil salah satu Iblis terkuat di Meikai, tapi juga sebagai keluarga yang telah melahirkan salah satu pemimpin dari Yondai Maou. Namun tak hanya itu, Rias juga memiliki bakat hebat dalam mengendalikan kekuatan Mezabi no Chikara hingga dia dikenal dengan julukan Putri Pembawa Kehancuran.
Rias Gremory adalah seorang Iblis berdarah murni yang memiliki kekuatan politik dan kekuatan sihir yang sulit untuk ditandingi. Akan tetapi, malam ini adalah kali pertama Rias merasa semua kekuatan itu tidak berarti.
Dia yang hanya tahu sihir untuk menghancurkan hanya bisa menyaksikan selagi Asia, Sona, Akeno, dan Tsubaki mengerahkan setiap serat kemampuan penyembuhan mereka pada dua orang remaja yang kini terbaring melintang di dua sofa terpisah. Sebagai orang yang memiliki Sacred Gear dengan spesialisasi penyembuhan, Asia mendapat tugas untuk menangani Issei yang cidera paling parah dengan luka bocor di kepala.
Untungnya, kekhawatiran yang Rias tujukan pada Issei tak sempat memuncak. Karena menuru diagnosa Sona, luka bocor di kepala Pionnya itu hanya bersifat luka luar yang tidak mencapai tengkorak ataupun syaraf penting sehingga takkan jadi berbahaya selama tidak dibiarkan lama-lama. Bahkan, tepat setelah Asia menyembuhkannya, Pion Rias yang terbaru itu segera tersadar dari pingsannya.
"Issei-san!"
"…H-hueh?" Iblis yang baru bisa dibangkitkan setelah Rias memakai delapan Pion Evil Pieces tersebut hanya bisa mengerjap berkali-kali saat dirinya dipeluk Asia sekuat tenaga. "Asia, ada apa? Apa yang terjadi?"
Koneko melangkah ke depan sofa tersebut dan bersidekap. "…Harusnya kami yang menanyakan itu, Senpai."
"Hah? Kenapa kalian yang—O-oh!" tangan Issei bergerak cepat ke arah kepalanya. Ekspresi wajahnya menjadi lega saat ia tak menemukan luka di sana, namun berubah menjadi tersipu-sipu saat menyadari bahwa seisi ruangan itu tengah menunggu penjelasannya. "I-ini sebenarnya cuma kecelakaan kok. Karena kurang hati-hati, aku terjatuh dan kepalaku membentur sebuah batu."
…Yah, sebenarnya itu sih akibat dari ledakan yang tercipta setelah Issei mengadu [Dragon Shot] yang dilancarkan setelah mengakumulasi kekuatan dari [Promotion: Queen] yang telah dilipatgandakan oleh tujuh belas kali [Boost], dengan teknik Naruto yang saat itu Issei dengar memiliki nama [Fuuton: Rasenrengan]. Lalu, dia juga bukannya terjatuh dalam artian sederhana, tapi terpental begitu kuat dan jauh sampai dia merubuhkan tiga pohon, terguling-guling menuruni lereng gunung, jatuh dari tebing, dan akhirnya menabrak sebuah batu besar di kaki gunung.
Untung saja dia sudah diajari oleh Naruto bagaimana cara melapisi tubuhnya dengan Youki, karena tanpa itu, Issei ragu apakah dia bisa selamat dan hanya mendapatkan luka bocor setelah menghantam dan menghancurkan batu berdiameter satu setengah meter dengan kepalanya seperti itu.
"…Jadi kau benar-benar baik-baik saja, Issei-san?" Asia mendongakkan wajahnya yang tadi dia benamkan di dada Issei sembari bertanya.
"Tentu saja!" Issei berseru dan tersenyum lebar, sebelum mengarahkan pandangannya ke Naruto yang masih belum sadarkan diri di sofa seberang. "Ngomong-ngomong, Naruto-san bagaimana?"
"Aku baru saja mau memeriksanya," ucap Sona yang bersimpuh di samping sofa itu. "Saji, Tsubaki, bisa tolong bantu aku melepaskan baju Naruto-kun?"
"Tentu saja, Kaichou." Dua anggota Peerage Sona tersebut menjawab bersamaan.
Issei mengerutkan dahinya saat melihat Tsubaki yang mendudukkan Naruto dan merentangkan tangan pemuda itu ke atas. Matanya melebar dan ada sedikit sinar panik ketika ia menyadari apa yang ingin Saji lakukan dengan meraih tepian bawah baju yang terpasang di badan Naruto. "T-tunggu dulu, Saji! Jangan—!"
Dahi Rias sempat berkerut bingung karena melihat Issei yang bertingkah aneh, namun ketika Sona dan Tsubaki mengeluarkan pekik tertahan setelah setelah Saji menarik naik kaos hitam berlengan panjang di tubuh Naruto.
"—lakukan itu." Issei menyelesaikan kalimatnya dengan suara lemah.
(Play Kimi to Boku OST – Nakimushi)
Rias langsung mengerti kenapa Issei ingin mencegah apa yang ingin mereka lakukan.
Dari apa yang sudah ia lihat dari Naruto yang sepertinya selalu bisa membuat respon untuk setiap situasi, Rias bisa menyimpulkan bahwa kehidupan sebagai seorang shinobi yang telah dilalui oleh pemuda itu memang sepertinya selalu saja dirundung bahaya yang macam-macam sekali jenisnya sampai Naruto seperti selalu saja tahu cara untuk mengatasi semua masalah yang ia temui. Hanya saja, mau tak mau Rias harus mengakui bahwa dia telah meremehkan bahaya seperti apa yang sudah dihadapi oleh Naruto.
Karena jujur saja, dia tak bisa membayangkan hal macam apa saja yang sudah terjadi dalam kehidupan Naruto untuk membuat tubuhnya [Penuh Bekas Luka] seperti itu.
Rasa ngeri dan tidak percaya memancar dari mata opal Rias selagi gadis Iblis itu menyusuri badan Naruto yang mulai tersingkap sedikit demi sedikit. Memang, itu tidak berarti dia mendapati bekas luka di setiap inci tubuh Naruto, namun dia sangat yakin seorang anak SMA yang belum mencapai usia dua puluh tahun seharusnya tak memiliki bekas luka sebanyak ini. Kadang panjang, kadang pendek. Kadang besar, kadang kecil. Bekas luka sayatan atau tusukan dari benda tajam. Luka bakar. Rias bahkan sangat yakin di sana ada setidaknya dua bekas tembus yang pasti berasal dari timah panas muntahan senjata api.
Jalan pikiran Rias langsung macet saat mata gadis itu tertuju ke arah bagian tengah tubuh Naruto. Lidahnya terasa jadi sekeras batu dan kerongkongannya tiba-tiba saja menjadi sekering gurun pasir saat matanya menangkap dua [Bekas Luka] terbesar yang pernah ia lihat di tubuh seorang makhluk hidup, berukuran hampir sebesar kepalan tangan dengan warna campuran antara merah muda dan putih pucat. Satu ada di ulu hati, sedang yang lain menghiasi bagian dada tepat di mana paru-paru kanan Naruto harusnya berada. Tak seperti bekas luka lain yang tidak akan membahayakan nyawa Naruto selama mendapatkan perawatan yang segera, dua bekas luka tersebut adalah penanda yang memberitahu Rias bahwa shinobi di depannya itu telah menerima serangan yang seharusnya, dan sejatinya, telah membunuh sang remaja.
"…ngh…"
Rias tersentak dari lamunannya ketika dia mendengar suara Naruto yang perlahan-lahan terbebas dari ketidaksadarannya, mengerjapkan matanya yang tidak terfokus berkali-kali sebagaimana orang yang baru habis pingsan dan berniat membeningkan pandangan.
"…Ojou-sama?" dia berucap setelah mengenali siapa yang sedang berada tepat di depannya. "Apa yang kau—"
Apapun yang ingin Naruto katakan batal terselesaikan, matanya melebar dan tubuhnya mengeras saat pandangannya menjadi lebih jelas, namun tak seperti yang Rias sangka, tatapan Naruto tidak tertuju pada kaos hitam yang ada di tangan 'Ojou-sama'nya, atau pada tubuh bagian atasnya yang kini tak dilapisi apa-apa, namun pada wajah Sona yang memucat karena shock setelah melihat [Kerusakan] yang ada di tubuh 'Naruto-kun'nya.
"Ojou-sama?" seakan tak peduli bahwa tubuhnya masih dalam keadaan terluka, Naruto berdiri dan menghampiri Sona sebelum bertanya dengan suara khawatir. "Ojou-sama, ada apa?"
Naruto sama sekali tidak sadar bahwa dengan gerakan itu, dia malah semakin mengejutkan seisi ruangan dengan menunjukkan bahwa bekas luka di dada dan ulu hatinya ternyata menembus sampai ke punggung. Itu berarti, tidak hanya Naruto seharusnya sudah tak punya paru-paru kanan, kalau melihat lapisan kulit putih pucat yang ada di tengah-tengah barisan tulang belakang Naruto, maka seharusnya shinobi tersebut juga telah mengalami lumpuh total dari pinggang ke bawah.
Terdengar suara pelan ketika Sona secara tak sengaja menjatuhkan benda yang ada dalam genggamannya dan mengalihkan perhatian Naruto.
Mata Naruto melebar sesaat saat tersadar bahwa benda itu adalah baju kaos hitam berlengan panjang miliknya, yang berarti saat ini badan sang ninja tak tertutupi apa-apa.
"…Oh." Ucapnya singkat.
Naruto dengan cepat memungut baju itu dan memakainya kembali sebelum mengusap tengkuknya dengan kikuk.
"Namikaze, kau…" Rias menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. "Kenapa tubuhmu bisa sampai jadi seperti itu…?"
Naruto tak menjawab untuk beberapa saat. "Karena aku adalah seorang shinobi."
"…hanya itu?" Sona bertanya dengan suara tertahan, sebelum matanya menajam dan tangannya bergerak untuk mencengkeram kedua lengan Naruto. "Jadi karena kau seorang shinobi, tubuh yang penuh bekas luka seperti ini sama sekali tidak aneh?"
Walau tak mengerti apa yang membuat wajah Sona jadi terlihat garang seperti itu, Naruto tetap mengangguk. "Dari perpekstifku, hal ini sebenarnya berarti bahwa aku masih cukup beruntung. Bekas-bekas luka ini adalah bukti bahwa aku berhasil bertahan hidup sampai saat ini. Seperti yang kalian tahu sendiri, luka tidak akan membekas pada orang yang sudah mati."
"Lagipula, aku tak punya hak untuk protes." Naruto tersenyum tipis. "Karena seperti semua shinobi lain, tanganku ini juga sudah berlumuran darah."
"T-tapi…" Asia terbata. "Cara berpikir seperti itu…"
"Aku tidak berharap kalian mengerti." Naruto berkata dengan nada terjujur yang ia bisa. "Dan mungkin…"
"Mungkin kalian takkan pernah mengerti."
Naruto berbalik dan meninggalkan ruangan itu tanpa berkata-kata lagi.
Rias baru saja berniat berdiri dan mengejar Naruto ketika dia dihentikan oleh satu suara.
"Buchou," entah mengapa, suara Issei tidak terdengar seperti biasanya. "Kurasa akan lebih baik kalau kita membiarkan Naruto-san sendiri dulu."
Kalimat itu mungkin dimaksudkan sebagai saran, namun entah mengapa, Rias mendengarnya sebagai sebuah perintah. Dan ketika menyadari bahwa orang yang mengucapkannya adalah Issei membuat alarm berbunyi di kepala ahli waris Klan Gremory tersebut. "Issei, kalau kau sesuatu. Apa saja…"
Issei menundukkan kepala dan mengusap wajah. Tidak berapa lama, terdengar suara hembusan napas panjang darinya.
"…Di sela-sela latihan kami seminggu ini, Naruto-san memberitahuku beberapa hal yang terjadi di masa lalunya. Memang aku tidak bisa memahami semua yang ia ceritakan, tapi setidaknya, ada satu hal yang bisa dengan pasti kukatakan." Issei memulai. "Masa lalu Naruto-san bukanlah masa lalu yang menyenangkan."
"Oi, Hyoudou, kau yakin kau nggak sedang melebih-lebihkan?" Saji bertanya. "Kau sadar kan kalau dia tidak lebih tua dari kita semua? Jadi mana mungkin dia—"
"Naruto-san sudah menjadi shinobi ketika dia baru berusia dua belas tahun." Selaan Issei yang disertai dengan tatapan tajam membuat Saji langsung terdiam. "Apa kau mengerti apa artinya itu, Saji? Ketika kita masih duduk di kelas enam SD, Naruto-san sudah menjalani hidup sebagai seorang shinobi dan semua bahaya yang menyertainya."
Mulut Saji ternganga.
Issei mendengus getir. "Kau tahu, hal-hal yang kukhawatirkan ketika aku berusia dua belas tahun hanyalah hal sepele seperti pe-er yang belum dikerjakan atau ujian tengah semester. Tapi Naruto-san? Di usia itu dia sudah harus mengkhawatirkan musuh yang sedang mencoba membunuhnya, atau apakah teman-temannya masih hidup atau tergeletak mati entah di mana. Dia sudah mengalami bagaimana rasanya ditelan dan hampir dicerna seekor ular raksasa. Otot jantungnya pernah robek karena jurus musuh. Dia bahkan sudah pernah melawan seorang siluman tanuki berukuran belasan atau puluhan meter yang seluruh tubuhnya terbuat dari pasir."
"Tapi ada satu hal lain yang juga kusadari dari semua kisah yang telah diceritakan Naruto-san." Issei mengangkat kepalanya. "Dalam semua cobaan itu, dalam semua pertarungan melawan musuh selalu lebih kuat dari Naruto-san itu, dia tak pernah menang karena alasan sepele seperti harga diri. Naruto-san hanya tak bisa membiarkan dirinya kalah, karena ada orang yang harus dia lindungi."
Issei berdiri dan mengangkat tangannya yang terkepal sambil tersenyum lebar. "Karena itulah, aku tak peduli walaupun Naruto-san selalu saja menyebut dirinya sebagai orang dengan tangan yang telah berlumuran darah. Aku bahkan tidak peduli walau Naruto-san berkata bahwa aku mungkin takkan pernah mengerti! Itu bukan alasan bagiku untuk berhenti mencoba!"
Rasa tak percaya atau kekaguman apapun yang dirasakan oleh orang-orang dalam ruangan itu mendapat interupsi dalam bentuk bunyi perut Issei yang bergema nyaring.
"…Em." Issei mengusap kepalanya dengan wajah tersipu malu. "Sebelum itu… apa aku boleh minta makan dulu?"
To be Continued...
A/N: Hamba nggak akan bicara banyak. Cuma berharap semoga ada yang mau memberi komentar untuk chapter ini.
Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.
Thanks a zillion for reading!
Galerians, out.
