Tampak tuksedo putih telah melekat di tubuh semampai laki-laki yang memiliki iris kelam. Dia tampak mempesona dengan balutan itu, namun tak berlaku untuk hatinya yang tampak memburuk. Karena dia memakai tuksedo ini bukan untuk pesta untuk dirinya—melainkan untuk pernikahan. Juga bukan pernikahannya akan tetapi—

—pernikahan Kakaknya dengan pujaan hatinya, Sakura Haruno.

"Haruskah aku datang—"

Dia bergumam dalam hatinya yang pedih dengan melihat foto yang tertampil di layar ponselnya.

"—Sakura…"


Standar Disclaimer Applied

.

.

.

Love & Choice © Tsurugi De Lelouch

Part 9

.

.

.

[Sakura Haruno & Sasuke Uchiha]

.

.

Enjoying Reading & Reviewing

-I don't get any profit from this fict-

Y*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*X*Y

.

.

.

Ketika cinta datang padanya

Hal yang indah menemani di kehidupannya

Namun, saat pilihan ditentukan

Akankah cinta berpihak pada dirinya?

.

.

-9-


Aroma harum semerbak di ruangan tersebut, terlihat ada yang menarik untuk dilihat yakni wanita cantik terbalut dengan gaun putih mewah, bukan itu saja rambut merah muda-nya digelung dan diberi kerudung putih menutupi paras cantiknya dan mahkota yang melekat di kepalanya. Namun raut wajahnya tak sebanding dengan suasana hatinya, dia tampak kosong dan tak mempercayai kalau pada kenyataan dia akan menikah. Menikah? Seharusnya dia bahagia, namun ini berbeda. Karena dia akan menikah bukan dengan kekasih hatinya, melainkan kakak dari kekasihnya sendiri.

Entahlah, dia tidak memikirkan itu. Namun, pernikahan sebentar lagi dilaksanakan dan dia akan resmi menyandang gelar nyonya di depan namanya. Akan tetapi, kenapa harus dia yang menjadi suaminya. Seandainya dia adalah adik tunangannya. Pasti dengan senang hati, dia menerimanya. Namun ini berbeda dengan keinginan. Terkadang impian berbeda dengan fakta yang ada. Itu buktinya

Tok... Tok

Suara ketukan membuat wanita musim semi ini menyadarkan dari melamunnya, dia berusaha untuk bangkit namun penata rias pengantin lebih dulu membuka pintu. Iris teduh milik Sakura tampak terkejut ketika mendapati kekasih hatinya tepat di depan pintu itu. Sudah lama, dia tidak menemui sang kekasih hati. Ia sangat rindu bahkan melebihi apapun, bahkan kekasihnya menyuruh penata rias untuk keluar sebentar dan pintu ditutup-hingga hanya mereka berdua di dalam sana.

"S-sasuke-kun..."

Dengan senyuman tipis tanpa beban, Pria itu perlahan mendekati calon pengantin perempuan yang tak lain adalah kekasihnya sendiri."Hn, Sakura. Lama tak bertemu."

Suara khas pria itu lantas membuat Sakura bangkit dan langsung memeluk Pria itu tanpa aba-aba. Aroma maskulin yang sangat ia rindukan—dia hirup dengan serakus-rakusnya. Tampak sama dengan Sasuke membalas pelukan Sakura, bahkan dia meletakkan kepalanya di bahumu Sakura. Mereka melepaskan kerinduan tiada tara dengan waktu yang sangat singkat, sebelum mereka akan berpisah dengan status yang berbeda.
Sakura tampak memukul dada Sasuke dengan pelan, menumpahkan kekesalan, kesedihan segalanya karena bukan dia yang rindu melainkan calon anak yang berada di rahimnya, ini menambah lebih kerinduannya.

"Kenapa kau sangat bodoh, Sasuke-kun?" Seru Sakura memburu, "kau... Sengaja membuangku dan melemparkan tanggungjawab pada kakakmu? Pria macam apa kau hah?!" lanjutnya dengan tatapan tajam pada pria di depannya.

"Sakura, yang terpenting anak itu menyandang marga Uchiha di belakang namanya," ujar Sasuke.

"Terkadang aku ingin mati karena telah menyakiti dua pria, bahkan dua bersaudara, seharusnya aku tidak hadir diantara kalian!"

Sasuke mengusap punggung wanita musim seminya dengan lembut. Memang ia tak sepantasnya dia disini, dan kemungkinan pertahanan Sakura akan goyah menjalankan pernikahannya. Namun ini hanya satu kesempatan yang harus ia manfaatkan sebelum dia tidak ada di dunia lagi.

"Kau tidak boleh mati, karena di dalam—" Sasuke mengusap perut rata Sakura, "-ada kehidupan dan ini adalah titipanku. Ku mohon jaga dia, Sakura."

"Sasuke-kun! Seharusnya kau yang nikahkan aku, kenapa kau jadi pria lembek seperti ini?" Cecar Sakura.

Biarlah, Sakura menumpahkan seluruh uneg-unegnya hingga bebannya akan menguap ketika menikah, dan dia akan bahagia. Tanpa memikirkan apapun.

"Sakura, cobalah untuk mencintai kakakku nanti," pinta Sasuke.

Sontak mata Sakura membulat kaget, "t-tidak... Tidak, aku tak mau. Aku hanya akan selalu mencintaimu. I always love you, Sasuke-kun..."

Pria beriris kelam ini hanya tersenyum lembut dan mengucapkan kata yang tak diharapkan oleh Sakura."Terima kasih, Sakura."

"Bukan. Bukan itu jawa—"

Perkataan Sakura terpotong karena kerudung putih dibuka oleh Sasuke. Dan dirinya mendorong tengkuk sang wanita lalu memberi ciuman panjang sarat akan kelembutan dan penuh perasaan. Tampak Sakura menutup matanya dan meresap lumatan lembut bibir kekasihnya. Lumatan itu disambut oleh Sasuke hingga mereka saling membalas satu sama lain hingga pasokan oksigen, membuat mereka melepaskan ciumannya.
Sasuke merutuk dalam hati, dia telah mencium calon pengantin kakaknya bahkan saling melumat bibir satu sama lain. Dia lalu merogoh sakunya hingga memberikan benda berbentuk kalung pada Sakura.

"Ini apa Sasuke-kun?"

"Ini kalung dan bandulnya berisi foto kita. Lalu berikan pada anak kita nanti," ucap Sasuke.

"T-tidak, Sasuke-kun. Kau yang langsung memberikan padanya," pinta Sakura.

Dengan senyuman tipis, "Sakura, katakan kalau dia punya dua cahaya. Panggil Kakakku dengan Papa dan aku adalah Ayah." Dia mengecup dahi Sakura dengan lama lalu meninggalkannya disana.

Sakura tak bisa menahan kepergian Sasuke dan dia merasakan firasat buruk yang akan menimpa kekasihnya nanti. Dan lagi …lagi dia tertahan ketika penata rias itu masuk sehingga dia menyimpan kalung itu di dalam laci.

"Sasuke-kun, ku mohon jangan tinggalkan aku..." gumam Sakura dalam hati.

.

.

.

.


.

.

.

.

"Ayah memberimu kesempatan sekali lagi. Kau yakin dengan pernikahan ini, Itachi ?"

Pria yang telah berusia Lima puluh empat tahun ini dengan menyilangkan kedua tangannya—menatap anak sulung yang tengah duduk di kursi-tepatnya di dalam ruangan rias laki-laki. Itachi mengernyit alisnya bingung dengan pertanyaan Ayahnya. Bukankah ini perjodohan dan Ayah yang merencanakan, kenapa sekarang beliau menanyakan itu.

"Aku tak mengerti dengan pertanyaan Tou-san," jawab Itachi singkat.

Fugaku berdecak kesal dengan sikap anak sulungnya, padahal dia membanggakan anak sulungnya. Padahal dia tahu kalau anak yang didalam kandungan calon menantunya adalah anak Sasuke, tapi kenapa juga anak bungsunya tidak tegas. Apakah harus Ayahnya sendiri memutuskannya.

"Dengar, kalau kau menentukan pilihan yang salah. Maka bukan hanya kau yang tersakiti, tapi adikmu dan Sakura."

Sontak Itachi kaget dengan pernyataan sang Ayah. "A-apakah Tou-san mengetahui kalau—?"

"Tidak. Hanya menebak dari sikap kalian bertiga. Memang Tou-san mu ini mudah dibodohi hn, Itachi?"

Itachi lalu menyambar jas putih dan memakainya. "Kalau Tou-san tidak mudah dibodohi, kenapa harus menjodohkanku dengan Sakura?" Tanyanya.

Dengan senyum meremehkan, "karena kalian bodoh akan cinta, Itachi. Bahkan adik bungsumu. Kalian sama-sama tidak tegas dengan hal berhubungan cinta," ujar Fugaku..

"Lalu dengan pernikahan ini, apa yang harus aku lakukan?"

" Tou-san tidak tahu dengan pilihanmu, Itachi. Yang jelas cerdas dan tegas dalam bersikap," Fugaku meletakkan kotak warna merah di meja.

"Itu apa, Tou-san?"

"Jika kau menentukan pilihanmu, berikan itu pada adik bodohmu."

Itachi semakin tak mengerti, tanpa berpikir dia membawa itu dan memasukkan ke dalam saku jas putihnya. "Hn, sebentar upacara pernikahan dimulai, Tou-san."

"Kuharap kau memutuskan sebelum ikrar pernikahan terucap di bibirmu, Itachi."

Kakak dari Sasuke ini menatap mata Ayahnya dengan bingung kembali. "Tou-san berencana membatalkan pernikahanku. Kenapa baru sekarang mengatakannya?"

"Tou-san hanya menginginkan kebahagiaan kedua anakku tanpa ada yang menderita."

"Lalu buat apa memberikan kotak merah ini—" Dia mengeluarkan kembali kotak itu dan menunjukkan pada Fugaku. "—dan seharusnya diberi oleh Sasuke sebagai pembawa cincin pernikahanku?"

Fugaku hanya tersenyum kecil. "Bukalah kotak itu, anakku bodoh. Kau pasti menemukan apa keputusanmu." Dia melihat arlojinya, "-Tou-san duluan ke Gereja. Pikirkan baik-baik dan wanitamuakan hadir, Itachi."

Blam…

Itachi lalu membuka kotak merah itu lalu melihat ukiran cincin—ah, dia kagum dengan Ayahnya yang memberi petunjuk akan pilihannya. Lalu dia menutup kembali kotak itu dan memasukkannya ke dalam jas putihnya.

"Heh, Ototou sepertinya aku sudah menemukan jawabannya walau terlambat—dan jangan menghilang dari pernikahanku."

Kemudian calon pengantin pria itu menyusul Ayahnya ke Gereja—tempat pernikahannya sekaligus tempat mengatakan keputusan yang mengubah pikiran adiknya dan Sakura nanti.

"Keputusan ada di tanganmu, Nii-san."

"Tunggu aku, Sasuke."

.

.

.


.

.

.

Mars pernikahan mulai terdengar, begitu juga dengan tamu-tamu telah hadir untuk menyaksikan pernikahan salah satu anak dari pengusaha terkenal Fugaku Uchiha. Mereka bertanya-tanya apakah putra sulungnya menikah atau si bungsu. Karena di undangan yang tertera dipegang para undangan tidak menuliskan nama Itachi ataupun Sasuke disana. Hanya bertuliskan "Putra Fugaku Uchiha." Hingga mereka harus menebak siapa yang akan menikah dengan Sakura. Walau sebagian orang tahu kalau Sakura bertunangan dengan Itachi, namun sebagian pihak berkata lain.

Begitu juga dengan Itachi Uchiha yang tampak tenang dengan raut wajah yang cerah seakan ini memang pernikahannya dengan Sakura. Bahkan teman-teman dekat Itachi bingung dengan sikap putra sulung Fugaku itu, bukankah dia mengatakan dirinya ragu akan pernikahan ini. Tapi kenapa merasa senang dan bahagia, hanya Itachi dan Fugaku yang tahu akan permasalahannya ini.

"Nii-san."

Nyaris Itachi terkejut dengan kehadiran adiknya yang tiba-tiba dari belakang, dan tanpa mengatakan apapun Itachi menepuk bahu Sasuke. "Dengar Kakak akan memutuskan ketika ikrar pernikahan terucap di bibir kakak. Dan satu lagi, kau harus siap apapun dengan keputusan ini," bisiknya.

Dengan gemetar dan mata kelamnya tertuju pada kakaknya. "Bukankah aku sudah menyerahkannya padamu, Nii-san. Kau jaga dia," ucap Sasuke.

"Bodoh, kau harus bahagia juga, bukan hanya Kakak saja."

Itachi langsung memberikan kotak merah dan memasukkan ke dalam jas putih milik adiknya, Sasuke mengernyit bingung dengan apa yang dimasukkan oleh kakaknya. Hingga perkataan terucap di bibirnya.

"Apa maksudmu memasukkan—"

"Nanti kau akan tahu dan jangan pernah kabur dari pernikahan ini, Sasuke."

Seraya merogoh kotak itu, Sasuke berniat keluar untuk ke kamar kecil. Akan tetapi Kakaknya menahannya, namun Sasuke bersikeras untuk keluar. Hingga Itachi memberi waktu pada adiknya kurang lebih tiga menit untuk kembali, adiknya mengangguk lalu keluar darisana. Itachi hanya mengulum senyuman menyiratkan kekhawatiran tiba-tiba.

"Kenapa perasaanku sangat buruk sekarang?"

.

.

.

.


.

.

.

Sasuke berdusta akan ke kamar kecil, namun dirinya keluar untuk menenangkan hatinya karena pasti dia akan melihat Sakura. Apalagi nanti wanita yang dicintainya itu mengucap janji sumpah setia pada Kakaknya. Dia merasa belum siap dan takut akan menggoyahkan keteguhan Sakura untuk menikah dengan Itachi. Lalu dia pergi ke minimarket sebentar dengan membeli minuman isotonik demi melegakan tenggorokannya.

Kemudian dibalik kaca minimarket, dia melihat mobil yang membawa calon pengantin perempuan sudah sampai disana. Dia juga memandang Sakura yang dibalut gaun warna putih itu dan di sebelahnya Ayah Sakura—Kizashi sebagai pendamping untuk membawa anaknya menuju altar. Rasa takut kini menghampiri Sasuke dan dia memilih untuk keluar darisana namun menunggu sampai dua menit, hingga dia menyebrang jalan—karena lokasi Gereja berada di seberang jalan.

Jalan cukup lebar memungkinkan waktu yang digunakan Sasuke menyebrang kurang lebih satu menit. Tanpa keraguan pasti, Sasuke langsung menunggu di pinggiran jalan sembari menunggu lampu merah menyala. Dirinya kembali termenung dengan keputusan melihat Kakaknya dan Sakura menikah, kemudian dia merogoh saku dan mengambil kotaknya.

Lalu dia membuka kotak yang berwarna merah itu dan mengambil cincin, entah kenapa terasa aneh dia melihat ukiran disana. Dia tidak menyadari kalau lampu masih hijau, dirinya langsung berjalan lambat di jalan itu seraya membaca ukiran itu. Dan Sasuke terkejut dengan ukiran itu, lalu dia tak melihat ke samping hingga ada mobil berkecepatan agak tinggi melaju hingga…

Ckiit… Braak

Adik dari Itachi Uchiha ini tak dapat mengelak hingga dia terpental dengan kepalanya dan tubuhnya terkapar di jalan raya. Tubuhnya mengalami luka yang cukup parah hingga kesadarannya semakin menipis. Dan kotak itu berhasil ia lindungi kemudian iris kelamnya menutup tanpa mengucapkan apapun.

.

.

.

.

.

.

.

Deg

Sasuke…

Jantung Itachi berdetak cepat lalu melirik ke sana kemari dan tidak menemukan kehadiran adiknya. Dia ingin keluar namun calon pengantin wanita sudah berada disampingnya. Hingga upacara pernikahan akan dimulai. Bukan hanya Itachi saja, Sakura merasakan hal yang tidak enak di hatinya mengenai Sasuke. Wajahnya juga gelisah dan tidak fokus dengan pernikahannya. Hingga Pendeta memulai upacara itu.

"Baiklah kita memulai pernikahan yang suci hari ini, apakah kalian sudah siap?"

Tanpa berkata apapun, mereka dinyatakan siap oleh Pendeta hingga kembali mengucapkan perkataan selanjutnya kepada mereka berdua. "Dimulai dari Itachi Uchiha, apakah anda akan menerima perempuan disamping anda sebagai pendamping hidup sampai ajal me—"

Ucapan pendeta itu terpotong akan kehadiran pria berambut kuning jabrik yang menginterupsi perkataannya. Dengan napas tersenggal-senggal, dia tidak memberikan kesempatan kepada siapapun untuk berbicara. Satu tarikan napas dia keluarkan sampai seluruh yang hadir terkejut.

"Itachi-niisan, Sasuke kecelakaan di seberang jalan!"

Sontak tubuh Sakura menegang dan tanpa menunggu reaksi lain, dia langsung keluar dari Gereja itu—demi melihat kondisi sebernanya di luar—disusul dengan Itachi. Suasana Gereja menjadi kacau mendengar pernyataan dari pria itu, mereka ingin melihat kejadian sebetulnya dan benar saja ada banyak polisi dan ambulan baru saja datang, begitu juga kerumunan orang disana.

Wanita musim semi mencoba masuk ke dalam kerumunan orang itu dan mata teduhnya mulai berair. Sosok pria yang ia cintai sampai sekarang tergeletak bersimbah darah, dirinya pun memangku kepala Sasuke. Ia tak peduli dengan darah yang mengotori gaun putihnya. Dia menyesal membuat Sasuke seperti ini. Inikah firasat yang ia rasakan sejak tadi, dia berusaha menggelengkan kepalanya lalu tangisan mulai membasahi wajahnya.

"Ku mohon bangunlah, Sasuke-kun. Kau tidak boleh meninggalkanku sekarang. Kau begitu bodoh, pengecut hingga membatalkan pernikahan ini! Bangunlah Sasuke-kun!"

Itachi langsung sigap menyuruh petugas ambulan untuk membawa adik tercintanya ke rumah sakit. Hingga Sakura berteriak untuk menghentikan mereka membawa Sasuke ke dalam mobil ambulan. Sampai Itachi menahan pergerakan Sakura dengan memeluk dari belakang.

"Tenanglah Sakura, kita ke rumah sakit sekarang. Tenang!"

Perlahan titik hitam menyelimuti penglihatan Sakura hingga perempuan itu pingsan akan shock melihat kejadian ini di depan matanya. Lalu Itachi menggendong wanita yang dicintai adiknya keluar dari kerumunan itu. Rasa kekalutan menimpa seluruh tubuhnya, dia juga merasa terpukul hingga wanita berambut ungu menghampirinya.

"Itachi, biar aku yang membawa Sakura ke rumah sakit. Kau menyusullah dengan Ayah dan Ibumu didalam ambulan."

Konan—nama wanita itu membukakan pintunya lalu tanpa menunggu lama Itachi merebahkan tubuh lemah Sakura ke dalam. Dia mengusap kening Sakura sesaat lalu kembali menatap wanita yang ada di belakangnya.

"Terima kasih, Konan. Dan tunggu aku disana," Itachi memberi kecupan singkat di pipi Konan kemudian dirinya berlari ke sana dan memasuki ambulan.

Wanita itu hanya tersenyum tipis sembari melihat Sakura yang terbaring di dalam mobilnya. Kemudian dia tanpa berbasa basi langsung memasuki mobil dan mengendarainya—mengikuti mobil ambulan yang kini berada di depannya.

"Ku harap kau tidak mati, Sasuke. Karena kau membuat semuanya khawatir padamu sekarang."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

. *To Be Continued*


Wulanz Aihara Uchiha

Kembali dengan karyaku satu ini, Ini saja mencuri waktuku mengetiknya hahaha… apalagi sedang masa sibuk-sibuknya. Namun, melihat review yang meminta cepat update atau sekedar penasaran saja, maka dengan senang hati aku melanjutkannya. Lalu mungkin cerita agak nge-rush ya, mungkin mood-ku naik turun saat mengetik dan mungkin endingnya nggak sesuai dengan keinginan kalian.

Apakah ceritaku semakin membosankan atau apalah? Maklum aku kehilangan mood untuk menulis akhir-akhir ini, namun ketika mendengar lagu—aku terus mengetiknya hingga selesai sampai sekarang ini.

Makasih juga buat kritik dan sarannya, aku bangga dan menerima dengan senang hati.

Oke sekian bacotanku. Bye… ^^

Untuk pereview terima kasih semuanya,saya hargai segala perkataan kalian. Semoga kalian tidak bosan dalam membaca karyaku ini ^^

Lubuklinggau, 21 Januari 2014

Tsurugi De Lelouch