Galerians, in.

A/N: Sebelum kita mulai, mari hamba jelaskan dulu kenapa Issei bisa jadi sekuat itu di chapter yang lalu, kalau memang ada yang masih penasaran. Anda bisa melihat anime-nya, Season 1 Episode 10, atau membaca Light Novelnya, Volume 2 Life 4, dan di situ anda bisa menemukan informasi bahwa Rias telah memasang sihir penyegel kekuatan berlapis-lapis pada Issei karena pada saat dia baru dibangkitkan, tubuh Issei belum mampu menampung semua kekuatan yang diberikan oleh delapan biji bidak Pion Evil Pieces. Nah, ada yang masih ingat apa yang dulu Sirzechs katakan di Arc 1 Chapter 5 fic ini? Kalau anda ingat, di sana telah dituliskan bahwa dalam misinya menyelamatkan Asia, Issei sudah berhasil menghancurkan semua sihir penyegel kekuatan yang dipasang padanya. Dan saat hamba mengatakan semuanya, maksud hamba adalah SEMUANYA.

Anda mau bukti ekstra? Oke. Masih dari Light Novel, Volume 2 Life 4, Rias telah mengatakan kalau saja Issei bisa memakai semua kekuatan dari delapan biji bidak Pion Evil Pieces dalam dirinya, maka dari segi kekuatan mentah, dia ada di peringkat kedua, tepat di bawah Akeno. Tak hanya itu, Hyoudou Issei versi fic The Radiant Sun of Kuoh Academy adalah Hyoudou Issei yang telah mendapat latihan neraka dari Naruto, dan seperti yang dulu pernah diungkapkan di fic TOTRS, Naruto adalah slave driver yang tidak berbelas kasihan kalau dia sudah melatih seseorang.

Jadi, setelah penjelasan di atas, apakah kekuatan Issei di fic ini masih tidak masuk akal atau sudah bisa dipercaya? Hamba akan biarkan anda sendiri yang memutuskan.

P.S.: Chapter ini sebenarnya sudah diposting oleh teman hamba (karena masa aktif modem hamba habis) sekitar jam 3 siang, tapi dia hapus lagi setengah jam kemudian dengan alasan seperti ini, "Sistem review-nya lagi gabrek. Tunggu bener dulu baru diposting lagi.". Mengingat saat itu hamba belum sempet beli paket internet baru, jadi hamba nurut aja. Hamba meminta maaf, sambil berdoa mudahan masih ada yang mau mereview chapter ini.

Here are BGM to keep you company for this chapter:

1. Kimi to Boku OST – Nakimushi

2. Chuunibyou Demo Koi ga Shitai! OST – Kimi no Tonari ni

3. Kakumeiki Valvrave 2 OST – Kakumei Dualism

4. Highschool DxD OST – Study x Study

5. Black Lagoon OST – Red Fraction

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Tries to Help a Devil

Arc II – Final Chapter

(Once again, the Red Dragon Emperor's Fury shall Engulf the Night!)

Rias membenarkan posisi kacamatanya untuk yang kesekian kali, namun sekeras apapun ia mencoba, gadis Iblis itu tetap tidak mampu memfokuskan pikirannya pada buku yang sedang ia baca. Merasa bahwa meneruskan hanya akan sia-sia, sang ahli waris Klan Gremory berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar dengan niat pergi keluar vila karena berpikir bahwa mungkin dia cuma perlu udara segar.

Namun ketika dia sedang berjalan menyusuri koridor di lantai dua yang kini hanya diterangi cahaya bulan, langkah Rias terhenti ketika sebuah pintu di depannya terbuka dan seorang remaja berambut pirang muncul dalam pandangannya.

(Play Kimi to Boku OST – Nakimushi)

"N-Namikaze…!"

Cowok itu menoleh dan mengerjap berkali-kali. "…Rias?" Naruto bertanya dengan suara kecil sebelum memandang berkeliling, ekspresi wajahnya menandakan kalau dia seakan-akan baru sadar bahwa hari telah larut malam. "Kenapa kau masih bangun di jam segini? Apa kau tidak bisa tidur?" matanya berubah khawatir. "Tunggu dulu, kau tidak sedang sakit kan?"

"Harusnya—!" Rias menghentikan dirinya sendiri karena sadar bahwa dia hampir saja berteriak dan membangunkan seisi vila. Dengan langkah cepat, Rias melangkah menghampiri Naruto dan meraih lengan remaja berambut pirang itu dengan tangannya yang tidak memegang buku sebelum mendesis. "Harusnya aku yang menanyakan itu padamu, dasar kepala duren bego…! Kau tahu tidak kalau kau sudah tidur selama dua hari dua malam…?!"

"Hah…?" Cowok yang kelihatannya belum benar-benar sukses mengumpulkan nyawa itu mengerutkan dahinya dengan bingung. "…Oh." Matanya yang tadi masih sayu melebar sedikit. Dia terkekeh pelan sambil mengusap tengkuknya dengan malu. "Mungkin aku cuma kelelahan…"

Ketika Naruto tiba-tiba mulai batuk-batuk, kekhawatiran dalam hati Rias meningkat dan membuat gadis berambut merah itu meraih pergelangan tangan Naruto sebelum menariknya berjalan menuruni tangga.

"Rias?"

Rias terus bungkam sampai akhirnya mereka tiba di ruang makan. Iblis muda dengan rambut yang panjangnya mencapai pinggang itu menarik kursi dari bawah meja dan menunjuknya sembari memberi sebuah perintah singkat, "Duduk."

Sementara Rias pergi ke arah dapur, Naruto tidak yakin apakah dia langsung menuruti perintah itu tanpa protes karena dia masih belum benar-benar ngeh gara-gara baru terbangun setelah tidur selama dua hari penuh, atau karena nada suara Rias saat itu mengingatkan sang shinobi pada Tsunade setiap kali sang Godaime menyuruh Naruto untuk makan malam bersamanya.

Lamunan singkat Naruto tiba-tiba dipecahkan oleh Rias yang telah kembali ke ruang makan dengan sebuah gelas berisi air putih yang ia sodorkan di depan hidung Naruto. "Kau sudah tidur selama dua hari, jadi tidak mengherankan kalau kerongkonganmu kering."

"Oh." Naruto berucap singkat sambil menerima gelas itu.

Rias menarik kursi lain untuk duduk di samping Naruto, mengamati dengan tatapan tajam untuk memastikan bahwa Naruto menghabiskan minumannya. "Sudah baikan?"

Naruto meletakkan gelasnya di atas meja dan mengangguk. "Terima kasih." Naruto kembali mengusap tengkuknya dengan malu-malu, sebuah tindakan yang mulai Rias lihat sebagai kebiasaan pemuda itu kalau dia sedang merasa tak nyaman. "Maaf kalau aku sudah membuatmu khawa—"

Sebelum remaja pirang itu bisa menyelesaikan kalimatnya, tangan Rias telah bergerak cepat untuk mencubit dan menjewer kedua pipi Naruto. "Jangan minta maaf."

"Thaphi—"

"Jangan minta maaf." Rias mengulangi dengan suara yang lebih tegas sambil menjewer pipi Naruto lebih lebar ke samping. "Kau jadi selelah itu gara-gara melatih Pionku, jadi kau tidak perlu minta maaf karena kau tidak salah apa-apa."

Rias tersenyum puas ketika Naruto mengangguk beberapa saat kemudian. "Dan ngomong-ngomong soal itu," kata Rias sambil melepaskan cubitannya. "Kenapa kau bisa jadi selelah itu? Aku tahu kalau kau dan Issei sudah berlatih tanding selama lebih dari setengah hari, tapi Issei saja tidak sampai tidur sampai dua hari sepertimu."

"Itu sih karena selama melatih Issei, aku sama sekali tidak tidur."

Kening Rias berkerut. "Kenapa bisa begitu?"

"Yah, kurasa aku sudah meremehkan seperti apa susahnya menjadi seorang guru." Naruto tersenyum malu-malu. "Aku tidak menyangka kalau membuat menu latihan yang efektif dan efisien ternyata sesuatu yang benar-benar rumit, makanya aku tidak bisa menyempatkan diri untuk tidur." Wajah Naruto berubah cemas. "Oh, ngomong-ngomong, jangan kasih tahu Issei. Sebenarnya cuma tidak tidur tidak akan terlalu mengurangi kemampuan bertarungku, tapi nanti dia jadi tidak enak karena sudah berlatih tanding melawan aku yang sedang kurang istirahat."

Ketika mendengar Naruto yang malah mencemaskan perasaan Issei ketika dia sendiri harus melatih murid dadakannya itu dengan tubuh dan pikiran yang kelelahan hampir secara konstan, bahkan memaksa diri untuk berlatih tanding dengan Issei sampai tubuhnya hancur berantakan, Rias sekali lagi diingatkan pada sifat Naruto yang selalu, selalu, dan selalu mementingkan orang lain.

"…Kenapa kau harus berusaha sekeras itu?" Rias menundukkan kepala dan bertanya dengan suara yang hampir sepelan bisikan.

"Hah?" Naruto yang tidak sadar seperti apa gejolak hati Rias hanya menautkan alisnya dengan bingung.

"Kenapa kau mau saja saat Issei memintamu untuk melatihnya? Apa kau tidak sadar kalau kau sama sekali tidak diuntungkan?"

"…Hah?" kerutan di dahi Naruto menjadi semakin dalam. "Rias—"

"Seharusnya kau menolak…!" Rias berdiri dan berteriak. "Apa yang kau peroleh dari melatih Issei?! Apa?! Cuma tubuh yang hancur berantakan dan sangat kelelahan sampai kau tak sadarkan diri selama dua hari!"

Ketika melihat Rias yang mulai mengepalkan tangannya yang dan menggigit bibirnya yang gemetaran, Naruto segera berdiri dan meraih bahu gadis Iblis itu. "Rias, tenanglah—"

"Tidak!" rasa khawatir yang tak tertahankan membuat Rias berontak tanpa sadar, yang kemudian langsung terhenti dalam sekejab ketika Naruto menarik dan melingkupi tubuh gadis Iblis itu dalam sebuah dekapan yang sangat rapat.

Walau sempat tertegun untuk sepersekian detik, kondisinya yang masih dilanda gejolak emosi membuat tubuh Rias bergerak sendiri hingga kini gadis itu sudah membenamkan wajahnya dalam-dalam ke leher pemuda yang bertubuh lebih tinggi darinya itu.

"…Pilihan apa lagi yang kupunya, Rias?" Naruto bertanya sambil meletakkan dagunya di puncak kepala Rias. "Sebagai seorang manusia, aku tak bisa berpartisipasi langsung dalam Rating Game yang akan kau hadapi. Jadi satu-satunya cara aku bisa membantumu, adalah dengan melatih Issei sebaik mungkin agar kau punya kesempatan menang yang lebih besar. Aku tak bisa begitu saja membiarkanmu dipaksa menjalani pernikahan yang tidak kau inginkan itu, dan terlebih lagi, dengan seorang laki-laki yang punya sifat seperti Riser."

Mendengar pengakuan itu malah membuat tubuh Rias langsung mengeras karena sadar bahwa justru hal itulah yang dia takutkan. Dia tidak mau. Rias tidak mau kalau harus seperti ini! Dia tidak tahan kalau Naruto harus mengorbankan kesehatan dan keselamatan dirinya seperti ini hanya gara-gara Rias ingin memenangkan Rating Game melawan Riser! Bukankah tubuh Naruto sudah penuh bekas luka?! Bukankah Naruto sudah menjalani kehidupan yang penuh bahaya?! Lalu kenapa?! Kenapa Naruto selalu saja membantu orang lain ketika hidupnya sendiri sudah penuh beban?!

Kenapa Naruto tidak mengerti kalau dia hanya akan membuat Rias khawatir dengan tidak memikirkan dirinya sendiri seperti itu?!

Rias mendongak, menunjukkan bahwa mata biru topasnya telah berkaca-kaca. "…Kenapa…?" dia berbisik dengan suara kecil dan bibir yang gemetaran. "Beritahu aku… kenapa…?"

Naruto tersenyum tipis. "Karena kau perlu pertolongan. Pertolongan yang bisa kuberikan." Naruto mengulangi jawaban yang dulu sudah pernah ia sampaikan. "Alasan apa lagi yang kuperlukan?"

Ketika melihat senyuman Naruto yang tipis, namun lembut bukan buatan itu, gejolak emosi laksana api membara yang membakar dan menyesakkan dada Rias berubah menjadi deburan ombak yang mendamaikan, namun sekaligus membuat jantung Rias mulai berdetak kencang. Sadar bahwa saat ini pipinya sudah mulai terasa panas dan tak lama lagi akan segera berubah warna menjadi merah padam, Rias dengan cepat menunduk dan menyembunyikan wajahnya kembali ke dada Naruto.

"Rias?"

Saat mendengar suara yang masih berisi rasa khawatir untuknya itu, Rias membuat keputusan. Dia harus menjadi orang yang kompeten, tidak hanya dalam soal kekuatan sihir atau politik tapi juga sebagai seorang wanita. Walaupun menjadi target perhatian Naruto adalah sesuatu yang membuat Rias sangat senang, Rias jauh lebih berhasrat untuk menjadi seseorang yang selalu bisa Naruto andalkan, dan tak lagi seperti dirinya sekarang yang selalu saja memerlukan bantuan.

Alih-alih menerima, Rias ingin menjadi orang bisa memberi bantuan pada Naruto. Alih-alih memberikan, Rias ingin menjadi orang yang bisa turut menanggung beban Naruto.

Dan alih-alih menyusahkan, Rias ingin menjadi orang yang bisa menopang dan meringankan kehidupan Naruto.

"…Naruto," dia mendesah dengan suara yang sedikit teredam karena wajahnya masih menempel ke dada sang remaja pirang. "Kau mau menunggu sampai aku bisa menjadi orang itu kan…?"

Kalau boleh jujur, saat itu Naruto sama sekali tidak tahu hal macam apa yang sebenarnya sedang Rias bicarakan, serta kenapa Rias tiba-tiba saja mulai memanggil Naruto dengan memakai nama depan. Hanya saja, insting Naruto memberitahunya bahwa di saat ini hanya ada satu jawaban yang bisa dia berikan.

Naruto mengangkat satu tangannya dan menepuk puncak kepala Rias. "Tentu saja."

Sebuah senyuman kini menghiasi wajah Rias yang merah padam dan masih tersembunyi di dada Naruto, melebar dan terus melebar seraya gadis itu semakin mengeratkan pelukannya. Rias tahu bahwa besok dia akan kembali menjadi dirinya semula yang entah kenapa selalu saja perang mulut dengan Naruto, tapi setidaknya untuk malam ini, dia ingin menikmati rasanya menjadi Rias yang dimanja oleh selimut kehangatan, serta rasa aman yang bisa Rias rasakan saat hidungnya samar-samar mencium aroma daun segar dan angin musim semi ketika dia berada dalam dekapan Naruto.

Hmm, Rias jadi bertanya-tanya. Apakah mungkin aroma itu akan jadi lebih kuat kalau Rias menggosok-gosokkan wajahnya di dada Naruto? Memang Rias akan terlalu malu melakukan hal seperti itu di depan publik, tapi mengingat sekarang mereka cuma berduaan, tidak ada salahnya mencoba kan—

"Ehem."

Rias yang saat ini sedang sangat senang sampai hampir mabuk diri dan lupa sekeliling tiba-tiba mengeras tubuhnya saat mendengar sebuah deheman yang datang tidak lebih dari tiga langkah dari tempat dia dan Naruto sedang berdiri. Identitas pemilik suara itu terungkap ketika Naruto mengatakan, "Oh, Ojou-sama. Selamat malam."

"S-S-Sona!" Rasa panik yang memenuhi hatinya membuat Rias dengan cepat memisahkan diri dari Naruto. "A-apa yang sedang kau lakukan di sini?!"

"Aku terbangun gara-gara ada orang yang berteriak-teriak walau hari sudah larut malam," suara Sona terdengar cukup kalem di telinga, namun perasaan sesungguhnya sang ketua OSIS bisa terlihat dari bibir merah mudanya yang membentuk garis rata dan tangannya yang sudah bersidekap. "Dan saat aku memutuskan untuk memeriksa, lihat apa yang kutemukan."

Mata Sona menyipit berbahaya. "Jadi bisa aku minta penjelasan apa yang sedang kalian lakukan di tengah malam dan dalam ruangan gelap seperti ini?"

"Ojou-sama, aku dan Rias cuma sedang—"

"Sedang mencari makanan ringan!" Rias dengan cepat menyela sambil menutup mulut Naruto karena takut kalau-kalau kepala duren bego itu mengatakan hal yang akan membuat Sona salah paham. "Kami cuma nggak bisa tidur, dan sedang mencari makanan ringan!"

"Ohh. Jadi seperti itu ya?" Ekspresi Sona yang sama sekali tidak berubah menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak mempercayai penjelasan Rias. "Kalau begitu aku mau tanya, sejak jaman kapan peluk-pelukan begitu dianggap sebagai 'makanan ringan'? Lalu, mengingat Naruto-kun sudah tidur selama dua hari dan belum makan, apa itu berarti kalian sudah mau masuk ke segmen 'hidangan utama'?"

"K-kami—itu—aku—" rasa malu karena sudah tertangkap basah sedang bermanja-manja pada Naruto membuat ucapan Rias jadi terbata-bata. "A-aku dan Naruto hanya—"

"Oh?" Sona menyela sambil mengangkat salah satu alisnya. "Jadi sekarang dia sudah menjadi 'Naruto', dan bukannya 'Namikaze' lagi?"

"A-aku…" Darah Rias berkumpul di kepala, rasa malu yang amat sangat membuat matanya berkaca-kaca dan semburat di pipinya berubah menjadi merona hebat sampai warna merah di wajah gadis Iblis itu seakan-akan menyala dalam kegelapan ruang makan. Ketika dia tak bisa menemukan alasan yang bisa menampik fakta bahwa dia baru saja mencoba bermanja-manja pada Naruto, Rias memutar tubuhnya dan langsung berlari tanpa ba-bi-bu lagi. "Sona no baka~!"

Melihat bagaimana sahabat sekaligus rivalnya itu kabur dari ruangan, Sona hanya mendengus.

"Ojou-sama," suara Naruto mengalihkan perhatian sang ketua OSIS. "Aku tahu kalau aku tak punya hak mengatur-aturmu, tapi tolong ingat kalau mengusili orang lain itu juga ada batasnya."

Nada menasihati dalam suara Naruto membuat wajah Sona serta merta jadi merengut. Rasa kesal dan cemburu sempat menyeruak dalam hati sang ahli waris Klan Sitri karena mendengar Naruto membela gadis lain. Akan tetapi, Sona juga harus mengakui bahwa mungkin dia sudah agak berlebihan dalam perkataannya pada Rias.

Sona menghembuskan napas. Sebagai orang yang telah menjadi teman Rias sejak kecil, Sona sangat tahu bahwa walaupun ahli waris Klan Gremory itu selalu menunjukkan persona gadis yang pintar, anggun, dan dewasa, di balik semua [Kulit Luar] tersebut, pada sesungguhnya Rias hanyalah seorang gadis yang seringkali lebih polos dan berhati murni daripada kaum perempuan pada umumnya.

Itulah kenapa dulu dia memutuskan untuk masuk mengikuti Rias masuk ke Akademi Kuoh, agar dia bisa terus mengawasi dan menjaga sahabatnya yang terlalu baik hati sampai sering sekali tanpa sadar terjerumus dalam masalah itu. Orang lain mungkin akan menganggap Sona sebagai orang yang paranoid, overprotektif, atau terlalu khawatiran, tapi dia cuma tak bisa membiarkan kalau sampai ada sesuatu yang terjadi pada Rias.

Dan pada sesungguhnya, Sona takkan keberatan, bahkan malah akan mendukung Rias, kalau saja sahabat dan rivalnya itu tidak menjatuhkan pilihannya pada Naruto. Dia takkan bisa, takkan mampu, menyerahkan remaja berambut pirang dan berotak bebal itu pada orang lain, bahkan walaupun orang itu adalah Rias yang sejak dulu telah Sona anggap sebagai adiknya sendiri.

Karena dalam sudut pandang ketua OSIS itu, Naruto adalah milik Sona. Hanya milik Sona.

"Kuakui, mungkin aku memang sudah sedikit berlebihan," Sona menyahut setelah beberapa lama, namun terus melempar sorot mata tajam ke arah remaja pirang yang berdiri di depannya. "Tapi aku tak pernah menyangka kalau ternyata kau adalah seorang playboy, Naruto-kun."

Naruto bungkam sesaat. "Playboy itu apa?"

Sona menepuk dahinya sambil menahan diri agar tidak melenguh panjang. "…Kadang aku lupa bahwa kau bukanlah anak sekolahan biasa, Naruto-kun."

Ketika mata Sona melihat Naruto menyunggingkan senyum bingung dengan sebuah tanda tanya melayang di atas kepalanya yang sedikit dimiringkan, sang ketua OSIS tiba-tiba diserang rasa gemas dan hampir saja menggerakkan tangannya untuk mencubit pipi serta mengacak-acak rambut pirang jabrik berantakan di kepala remaja itu.

Walaupun dia juga adalah seorang gadis muda yang lemah terhadap hal-hal imut dan menggemaskan, tetap saja Sona tidak akan rela membiarkan hal itu membuatnya kehilangan wibawa di mata Naruto.

"Aku perlu udara segar." cetus Sona setelah menghabiskan waktu beberapa saat untuk mengendalikan diri. Dia mendongak untuk kembali menatap Naruto. "Mau ikut?"

Naruto mengerucutkan bibir sambil menimbang-nimbang tawaran itu. Sayang, dia tidak sempat menyelesaikan renungannya karena Sona sudah terlebih dulu mulai melangkah tanpa menunggu jawaban Naruto, membuat sang shinobi hanya bisa geleng-geleng kepala dan turut menggerakkan kaki untuk mengikuti 'Ojou-sama'nya yang nampak berjalan menuju arah halaman depan.

Mereka baru berhenti ketika sudah berdiri di samping paviliun yang letaknya berdampingan dengan kolam. Sona menghirup napas dalam-dalam selagi bibir merah mudanya menyunggingkan sebuah senyum tipis, menikmati udara alam terbuka yang selalu jauh lebih segar daripada ruangan tertutup. Mata violet Sona berkelana, menyantap habis pemandangan kolam yang dimandikan sinar bulan purnama, membuatnya nampak bercahaya dengan kerlap-kerlip seakan-akan ada permata-permata yang kasat mata dan selalu berubah bentuk sedang berenang di bawah permukaannya.

(Play Chuunibyou Demo Koi ga Shitai! OST – Kimi no Tonari ni)

Sona berbalik. "Bagaimana, Naruto-kun? Tempat ini jauh lebih baik daripada—"

Sona tidak jadi menyelesaikan kalimatnya saat melihat Naruto yang hanya berdiri diam sambil terus memandang kolam di depannya dengan tatapan yang tak berkedip, seperti orang terpana dan tak percaya pada keindahan alam yang sedang terpampang di depan matanya.

"Naruto-kun?"

"E-eh…? A-ah," Naruto mengerjap beberapa kali sebelum bicara dengan sedikit terbata. "M-maaf, Ojou-sama. Aku nggak sengaja melamun."

Sona menghampiri Naruto sebelum meraih tangan pemuda itu dan menggenggamnya. "Ada apa?"

Nada penasaran dalam suara Sona dan sinar khawatir matanya membuat Naruto buang muka ke samping. "Tidak ada apa-apa. Aku cuma—"

"Naruto-kun," Sona menyela dengan cepat. "Sebelum kau menyelesaikan kalimat itu, mungkin kau perlu mengingat dulu bahwa aku sangat tidak suka dibohongi."

Walau di wajahnya kini tergambar ekspresi bersalah, Naruto tetap tidak membalas tatapan Sona. "…Entahlah, Ojou-sama. Aku juga tidak yakin apa yang baru saja terjadi padaku." Naruto menghela napas dan kembali mengarahkan pandangannya ke depan dengan mata menerawang. "Kurasa aku cuma agak terkejut saat melihat keindahan kolam ini di malam hari."

Sona mengamati wajah Naruto selama beberapa saat lagi sebelum kesadaran membentur Sona dengan sensasi seperti hantaman sebuah palu godam. Pada saat itu, tatapan Naruto bukanlah tatapan orang yang terlalu terkesima sampai dia jadi tak bisa bicara. Sona tersadar bahwa sinar yang kini terkandung dalam mata biru langit itu adalah sinar mata seseorang yang telah begitu lama menjalani kehidupan yang keras, sampai-sampai dia sempat terlupa bahwa dunia ini tidak hanya bisa memberikan penderitaan dan keburukan, tapi juga kebahagiaan dan keindahan.

Sona mengenali tatapan itu karena dia juga berkali-kali melihatnya di mata Serafall-oneesama, kakaknya yang tak hanya telah berpartisipasi dalam Perang Akbar Tiga Kaum Akhirat, tapi juga dalam perang sipil yang telah membelah kaum Iblis menjadi fraksi Pro-Satan dan Anti-Satan, terutama ketika kakak Sona itu sedang sendirian di kamarnya.

Kesadaran itu membuka jalan untuk kesadaran yang lain. Sona teringat bagaimana di malam hampir dua minggu silam, Naruto pernah mengatakan bahwa walaupun dia memang seorang ninja, Naruto lebih memilih perdamaian daripada peperangan. Tapi apakah itu berarti bahwa Naruto membuat pernyataan itu bukan hanya sebagai buah pikiran semata, tapi karena dia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri kengerian macam apa yang disimpan peperangan, sama seperti Serafall-oneesama?

"Yah…" Naruto akhirnya menoleh pada Sona sambil berusaha nyengir seperti biasa. Namun hati Sona malah serasa seperti dicubit saat melihat bahwa senyum itu sedikit dipaksakan. "Kurasa Shishou-ku memang benar saat dulu dia mengatakan bahwa penyakit ADHD (Attention Deficit Hyperkinetic Disorder) yang dulu kuidap masih tersisa sampai sekarang, sampai aku sering lupa mengamati sekeliling."

Namun Sona tahu bahwa itu tidak benar. Naruto yang sekarang bukanlah orang yang perhatiannya terlalu pendek dan serabutan, ketika pada kenyataannya, Naruto tak pernah sekalipun lupa mengamati sekelilingnya dengan ketelitian yang mengagumkan. Hanya saja, kehidupan yang keras membuat shinobi itu selalu saja menggunakan kemampuan pengamatannya untuk mencari bahaya dan ancaman, dan bukannya keindahan pemandangan.

Sona tiba-tiba mendapat sebuah ide. Gadis Iblis dengan rambut hitam itu berjalan ke tepi kolam sambil melepaskan selopnya, menyingsing ujung gaun tidur berwarna putihnya yang kemudian ia ikatkan ke pinggang sebelum melangkah ke dalam kolam.

Sona berbalik. "Naruto-kun."

"Hm?" lamunan Naruto buyar dan matanya yang tadi menerawang kembali fokus. "Ada apa, Ojou-sam—" Naruto hanya bisa tertegun ketika sebuah bola air menabrak dan membasahi wajahnya. "Buh…?"

Sona mengambil beberapa langkah mundur ke arah tengah kolam sambil tersenyum tipis, namun sinar di mata violetnya yang mengatakan hal lain. "Airnya segar lho."

"Ohhh, jadi begitu ya?" Naruto melepaskan sepatu dan menyingsingkan celana panjangnya sebelum mengikuti Sona ke dalam kolam. "Jadi rupanya Ojou-sama lagi kepingin main-main—Heit!"

Naruto harus melengkungkan tubuhnya ke belakang untuk menghindari dua bola air hasil sihir khusus Klan Sitri yang melesat dan hampir saja mengenai wajahnya lagi.

Lengkungan bibir Sona bertambah lebar sampai menjadi sebuah senyuman nakal. "Aku nggak tahu kau lagi ngomong apa, Naruto-kun."

"Ojou-sama~" Naruto menggeram, walaupun sengiran di wajahnya menyiratkan bahwa shinobi berusia lima belas tahun itu sama sekali tidak marah. "Kesini kau!"

Sona berbalik dan mencoba melarikan diri, langkah-langkahnya membuat permukaan air berkecipak-kecipak. Sial bagi Sona, kegesitan dan kemampuan fisik Naruto yang jauh lebih tinggi membuat usaha sang ketua OSIS gagal, namun sang ketua OSIS sama sekali tak merasa keberatan saat tangan Naruto meraup dan mendekap pinggangnya dari belakang. Dia hanya tertawa ceria, dengan rasa senang yang teramat sangat memenuhi dadanya saat mendengar Naruto yang juga turut tertawa saat dia mengangkat tubuh Sona dan mulai membalas kejahilan Sona dengan memutar-mutarnya.

Ide dalam kepala Sona membulat menjadi sebuah keputusan. Dia tak bisa mengubah kenyataan bahwa kehidupan Naruto memang memiliki aspek-aspek yang tidak menyenangkan. Karena itulah, setidaknya, dia akan berusaha sebisa mungkin agar Naruto bisa tertawa dan merasakan rasa senang serta kebahagiaan saat dia sedang ada bersama Sona.

Dan mungkin dengan begitu, suatu hari nanti Naruto akan menyadari dan membalas perasaan yang Sona simpan untuk pemuda berotak bego dan bebal, namun juga punya sikap polos tersendiri yang sangat menggemaskan itu.

~•~

(Play Highschool DxD OST – Study x Study)

"Met pagi—"

"Naruto-kun/Naruto!" Naruto yang baru saja masuk satu langkah ke ruang tengah langsung berjalan mundur lagi sampai punggungnya menghantam daun pintu, ketika Sona dan Rias tiba-tiba saja sudah muncul di depannya dengan tatapan setajam belati sebelum mulai bicara dalam waktu bersamaan. "Apa kau mau pergi ke pemandian denganku/Kau mau mandi bersamaku kan?!"

Kinerja mesin otak Naruto langsung mengalami macet dan gir-gir di dalamnya ambrol dengan suara derak nyaring. "…Eh?"

"Naruto-kun," Sona meraih tangan kanan Naruto dan menggenggamnya erat-erat. "Antara aku dan Rias, kau pasti akan lebih memilih untuk masuk ke pemandian denganku kan?"

"Ahh, Sona curang!" Rias berseru kesal meraih dan memeluk tangan kiri Naruto sampai tungkai tersebut terselip di antara payudaranya yang bohai. "Naruto, daripada dengan cewek bermata minus seperti ini, kau pasti lebih memilih untuk mandi bersamaku kan?!"

"Eh?" Naruto yang masih belum mampu mencerna situasi hanya mengulangi pertanyaannya tadi sekali lagi.

"Kalau kau mau, aku bersedia menggosok punggungmu, Naruto-kun." Sona memberikan tawaran sebagai pemanis.

Rias tak mau kalah. "Kalau kau memilihku, maka kau kuperbolehkan mengobok-obok dadaku sesuka hati!"

Jauh di balik punggung kedua gadis Iblis yang kini mendesak Naruto sampai punggung sang pemuda menempel ke daun pintu itu, terlihat muncratan cairan merah lengket, diiringi oleh suara teriakan Asia yang memanggil nama Issei dengan khawatir.

Pada saat ini, otak Naruto sudah mengalami proses shutdown dan reboot sampai lebih dari lima kali, tapi setelah semua itupun, dia masih tidak bisa menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Karena itulah, dia lagi-lagi hanya bisa berucap bego. "…Eh?"

"Ara, ara," Akeno tertawa kecil. "Kalau saja setiap hari ada kejadian begini, maka aku nggak perlu menonton opera sabun di televisi lagi."

"Bruengsuek~!" Saji berlutut dan memukul-mukul lantai sambil mewek-mewek nggak jelas. "Kenapa aku harus kalah pada ninja preman berotak bebal seperti orang ini~?!"

"Jangan patah semangat, Saji-kun." Kiba mencoba menghibur sekretaris OSIS itu sambil menepuk bahunya, walaupun nada prihatin dalam suara Iblis berambut pirang itu sedikit rusak gara-gara usahanya menahan tawa.

"…So much drama." Koneko berkomentar singkat.

"Issei-san, bertahanlah!" Asia berlutut di samping Issei sambil mengaktifkan Twilight Healing untuk menyembuhkan Pion yang masih kejang-kejang dengan hidung bercucuran darah itu. "Jangan menyerah, Issei-san! Hidupmu masih panjang!"

"Kaichou, Rias-sama," Tsubaki mendekati dan menarik perhatian dua Iblis berdarah murni yang kini sudah melototkan mata dengan begitu tajam pada satu sama lain sampai ada percikan listrik di antara wajah mereka itu. "Kurasa ada baiknya kalian berhenti dulu. Kalau begini terus, aku takut otak Namikaze-san bisa benar-benar rusak permanen."

Mendengar itu, Sona dan Rias dengan cepat menyabetkan kepala mereka untuk kembali memandang Naruto, hanya untuk melihat bahwa mata shinobi berambut pirang itu telah kosong, ditambah dengan lubang telinga dan puncak kepalanya yang mengepulkan asap.

"Naruto-kun/Naruto!"

"…Kami-sama…" Naruto berbisik sambil mendongakkan kepalanya ke arah langit. Dia bahkan tidak mengerti apa yang menjadi awal argumen Sona dan Rias kali ini. Dia hanya tahu kalau dia sudah menjadi korban lagi. "Kumohon, tidak bisakah Kau memberiku satu hari normal?! Satu hari saja, cuma itu yang kuminta!"

Issei menghirup habis kuah dashi yang masih tersisa di mangkuknya sebelum bersandar ke punggung kursi. "Ampun…" dia melenguh panjang. "Aku sudah nggak tahan lagi. Perutku sudah mau pecah nih…"

"Bah, dasar payah. Baru sepuluh mangkuk aja sudah nyerah."

"Apa kau bilang?!" Issei berteriak kesal tanpa mampu mengubah posisi karena perutnya yang kini telah menggembung. "Itu sih bukannya aku yang payah, tapi memang kau yang abnormal, Naruto-san!"

"Perkataan Issei ada benarnya, Namikaze-san," Kiba melirik teman sekelas Issei yang duduk di sebelahnya itu. "…Kadang aku bertanya-tanya apa kau benar-benar manusia tulen."

"Hm?" Naruto menurunkan mangkuk yang tadi ia angkat di depan wajah. "Apa maksudmu?"

"Aku mengerti kalau kau sangat lapar…" kali ini mata Kiba berpindah ke tumpukan mangkuk yang sudah hampir mencapai tinggi setengah meter. "Tapi kau sudah menghabiskan lima belas mangkuk. Kapan kenyangnya?"

"Yah, aku kan sudah dua hari belum makan…" Naruto mengusap-usap tengkuknya malu-malu. "Lagipula, daripada nanti ada sisa, lebih baik kalau aku yang menghabiskan kan?"

"Ara? Apa kau yakin hanya itu alasannya, Namikaze-kun?" tanya Akeno yang duduk di seberang meja. "Atau jangan-jangan, karena udon ini buatan Sona-kaichou?"

"Oh ya, benar juga!" Naruto mengalihkan perhatiannya pada Sona yang, seperti semua orang lain yang duduk di meja tersebut, sudah lama selesai makan. "Kuakui, makanan yang paling kusukai tetaplah ramen, tapi udon ini benar-benar enak, Ojou-sama!"

Pujian itu menciptakan sebuah senyuman di wajah Sona yang dari tadi hanya terus mengamati. "Terima kasih, Naruto-kun. Aku senang kau suka udon buatanku." Dia tertawa kecil sebelum menoleh ke arah Rias. "Rias, apa kau tidak sadar kalau udonmu sudah jadi lembek? Mau kubuatkan yang baru?"

Rias yang dari awal tadi terus memain-mainkan makanannya hanya memanyunkan bibir sambil menggerutu-gerutu tidak jelas.

"Rias?"

"Tenang saja, Kaichou. Buchou cuma lagi mengambek karena gagal mendapatkan kesempatan memasakkan makanan untuk Naruto setelah kalah suit padamu." Akeno yang duduk di samping Rajanya menepis kekhawatiran Sona.

"Aku nggak lagi ngambek!" Rias berseru sebal sambil menggebrak meja, mengejutkan Naruto yang masih asyik melahap makanan sampai pemuda itu akhirnya tersedak dan harus memukul-mukul dada. "Memangnya siapa juga yang mau memasakkan makanan untuk kepala duren bego seperti orang ini?!"

"Oi!" Naruto berdiri dari kursinya. "Kuakui rambutku memang sudah jabrik dari kecil, tapi itu nggak berarti aku layak dapat julukan 'kepala duren', sompret!" dia berseru balik dengan nada tersinggung. "Lagipula, kalau kau memang nggak bersedia, ya aku juga nggak bakal minta! Nggak usah mengejekku seperti itu dong!"

"Apa kau bilang?!" Rias turut berdiri sebelum menghampiri sang shinobi pirang sampai ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Jadi maksudmu masakan buatan Sona lebih enak daripada buatanku?! Dasar cowok tidak sopan!"

"Oi, siapa yang kau panggil tidak sopan?! Dan lagi, kenapa kau memutar-mutar omonganku seperti itu sih?!" pada saat ini, Issei dan Kiba yang duduk di samping kanan kiri Naruto sudah beringsut menjauh karena tidak mau terlibat pertengkaran yang lagi-lagi terjadi antara sang Raja dan si remaja pirang. "Kapan juga aku mengatakan kalau masakan Ojou-sama lebih enak dari buatanmu?! Wong aku aja belum pernah nyoba kok!"

"J-jadi—!" Rias menundukkan kepala dan mulai memain-mainkan kedua jari telunjuknya sebelum bicara dengan suara yang jauh lebih pelan. "J-jadi… kalau aku membuatkan sarapan buatmu, kau pasti mau memakannya kan…?" sikap Rias kembali berubah seratus delapan puluh derajat, karena satu detik kemudian, ahli waris Klan Gremory itu sudah mengacungkan jari telunjuknya tepat ke hidung Naruto sambil berteriak dengan wajah merah padam. "T-t-tapi aku cuma akan melakukan itu karena aku nggak rela kalah dari Sona! Jadi kau jangan salah paham, kepala duren bego!"

"Kenapa kau memanggilku dengan sebutan itu lagi sih?! Perasaan aku tadi nggak ada salah ngomong apa-apa deh!"

Sementara semua Iblis lain yang duduk di meja makan itu mulai terkikik dan terkekeh-kekeh melihat perang mulut antara Rias yang susah sekali bicara jujur pada orang yang ia sukai dan Naruto yang terlalu bebal sampai dia tidak mampu mengidentifikasi sifat tsundere seorang gadis, Sona hanya bisa mengurut pelipis dan menghela napas entah untuk yang sudah keberapa kali.

"Jadi kenapa kalian menyeretku kemari? Aku belum selesai makan nih." tanya Naruto sambil kembali menyeruput lembaran-lembaran mi udon.

Melihat urat-urat yang bermunculan di pelipis Rias, Sona dengan cepat bertindak sebelum kedua remaja itu terlibat cekcok verbal lagi. "Kau sudah menghabiskan dua puluh mangkuk, jadi kau pasti bisa berhenti sejenak kan, Naruto-kun?"

Dari ekspresi wajahnya, kelihatannya Naruto benar-benar tidak rela berpisah dengan udon yang masih tersisa setengah itu. "Tapi aku kan—"

Merasa bahwa membujuk tidak berhasil, Sona terpaksa memakai nada yang lebih tegas. "Naruto-kun, singkirkan mangkuk itu."

"Tapi—"

"Jangan membantah."

Air muka Naruto masih menunjukkan ekspresi gundah selama hampir setengah menit, sampai akhirnya dia menyerah. "Ohh, baiklah." Naruto meletakkan mangkuk itu di atas tanah sebelum menoleh ke arah Rias. "Jadi ada apa?"

Rias mengernyitkan dahinya untuk beberapa saat. "Oke, aku tak bisa menemukan kata-kata yang baik untuk memberitahumu hal ini, jadi aku jujur saja." Gadis Iblis berambut merah itu menatap Naruto lurus-lurus. "Selama dua hari terakhir ini, kami sudah mengetes Issei berkali-kali, tapi penampilan Issei masih mengecewakan. Dia tak pernah sekalipun menang melawan Kiba atau Koneko."

Tepat setelah kalimat itu selesai, Naruto telah memejamkan mata dan mencubit dagunya. Semua Iblis yang berdiri di tanah kosong di samping vila Rias itu serasa bisa mendengar suara gir dan mesin yang berputar di kepala Naruto.

"…Oke, kurasa aku tahu alasannya. Tapi supaya aku yakin dulu," kata Naruto sambil membuka mata yang kemudian ia arahkan pada Kiba. "Kiba-san, bisa aku melihat bagaimana kau melawan Issei?"

"Tentu saja, Namikaze-san."

Kiba dan Issei berjalan ke tengah tanah kosong sebelum saling hadap. Namun baru saja Kiba mengangkat pedang kayunya, Naruto sudah buka suara lagi. "Oke, cukup sampai di situ." Naruto melirik Rias. "Rias, kalian ini benar-benar mau mengetes kemampuan Issei atau nggak sih? Tes dimananya kalau nggak serius seperti ini?"

Rias tertegun. "…Eh?"

"Apa maksudmu dengan 'nggak serius', Namikaze-kun?" tanya Akeno.

"Pertama-tama, kenapa Kiba-san pakai pedang kayu?" Naruto balik bertanya sambil menunjuk Kiba. "Dan kenapa aku juga sama sekali nggak bisa merasakan nafsu membunuh darinya?"

"N-Nafsu membunuh?!" Rias berseru kaget. "Kami cuma ingin mengetes kemampuan, dan bukannya membunuh Issei!"

Naruto menatap Rias dengan satu alis terangkat selama beberapa saat sebelum dia menghembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya. "Tuh kan dugaanku bener..."

"…Apa maksudmu, Naruto-senpai?"

Naruto menatap Iblis yang masih duduk di kelas satu SMA itu. "Masalahnya bukan ada pada Issei, tapi pada metode tes kalian." Dia memandang berkeliling. "Kalian sama sekali nggak tahu gaya bertarung Issei, ya kan?"

"…Metode bertarung?"

Naruto mengangguk. "Biar kujelaskan dulu." Shinobi pirang itu menarik napas. "Normalnya, gaya bertarung itu ada dua. Ofensif atau defensif. Menyerang atau bertahan. Hanya saja," tangan Naruto terangkat untuk menunjuk Issei. "Gaya bertarung bocah kunyuk ini tidak termasuk dalam dua kategori itu."

"Kelebihan kata 'kunyuk' tuh, Naruto-san…" Issei menggerutu pelan dengan bibir manyun karena sebal.

Naruto tidak menggubris protes itu. "Hal itu berarti Issei tidak akan menyerang atau bertahan dalam artian sederhana. Dia [Bereaksi], bukan dengan otak tapi dengan insting. Jadi kalau kalian tidak benar-benar menyerang Issei dengan niat untuk menyakiti atau membunuhnya, Issei juga secara tak sadar takkan melawan kalian dengan seluruh kemampuannya."

"T-tapi…" Rias sedikit terbata. "Aku tidak mau kalau sampai Issei terluka parah."

Naruto tidak langsung menyahut pernyataan itu. Dia hanya menunjuk ke arah Asia.

"Ada yang masih lupa kalau Asia punya Twilight Healing?" dia bertanya dengan nada datar, walaupun rasa sinis pemuda itu bisa terlihat dari wajahnya yang total tidak berekspresi.

Ketika tak ada jawaban dari Rias yang kini buang muka sambil memilin-milin ujung bajunya, Naruto mendengus dan mengembalikan tatapannya ke arah Kiba. "Baiklah, bisa kita mulai lagi? Dengan serius, kali ini?" dia berhenti sebentar. "Dan enyahkan pedang kayu itu. Kau punya pedang asli kan?"

Kiba memandang pedang bokken-nya dengan ragu. "Tapi—"

"Kiba-san, kau tidak melihat sudah sekeras apa Issei berlatih di bawah bimbinganku. Jadi tolong, jangan permalukan muridku lebih dari ini." Kiba sedikit tersentak ketika mendengar nada tajam yang mulai terasa dalam suara Naruto. "Karena kalau kau masih menahan diri, maka itu sama saja dengan mengatakan bahwa kau tidak bisa mempercayai Issei, rekan yang akan bertarung di sisimu dalam Rating Game nanti."

"…Aku mengerti, Namikaze-san." Kiba menyahut setelah beberapa lama. "Sword Birth."

Berbagai macam pedang bermunculan dengan suara gemerincing besi, tertancap di tanah dan mengelilingi Kiba. Iblis berambut pirang lurus itu mencabut dua pedang yang paling dekat dengannya sebelum senjata lain hilang dari pandangan. "Kau siap, Issei-kun?"

Issei menjawab pertanyaan tersebut dengan mengangkat tangan kirinya dan berucap pelan. "Boosted Gear."

"Boost!"

Kiba langsung melihat kebenaran dari penjelasan Naruto. Tidak seperti yang sudah-sudah, postur tubuh sang Pion kini telah mengeras dan mata coklatnya menajam, walaupun sebenarnya Kiba baru sedikit mengerahkan nafsu membunuhnya. Kiba menjadi penasaran. Dan seperti saran Naruto, kelihatannya dia memang harus serius dari awal.

Sosok pendekar pedang itu lenyap dari pandangan, dan tak sampai setengah detik kemudian, dia sudah berdiri di samping kanan Issei dengan senjata yang siap ditebaskan.

Mata Kiba melebar ketika Issei menepis serangan yang terarah ke lehernya itu dengan Boosted Gear, tanpa sedikitpun menoleh.

"Boost!"

Kiba menggertakkan gigi, sebelum mulai memakai taktik hit-and-run, mengerahkan kecepatannya yang jauh lebih superior untuk berpindah posisi dan melancarkan serangan dari berbagai arah. Namun berapa kalipun ia menebaskan pedang, Issei terus saja mampu menepis semua serangan Kiba tanpa pernah sekalipun berpindah dari tempatnya berdiri semula.

"Boost!"

Rasa tak percaya dan kagum mulai menyeruak perlahan-lahan dalam hati Kiba ketika dia tiba di samping Issei untuk memberi serangan yang kesekian kali, hanya untuk berubah menjadi rasa panik ketika Pion itu berkelebat dengan begitu mendadak dan menjepit kedua pergelangan tangan Kiba di ketiaknya, dengan efektif membuatnya tak bisa menebaskan pedang dan menghentikan gerakan sang Ksatria secara sekaligus.

"Explosion!"

"Partial Transformation!" Rasa panik di hati Kiba semakin menjadi-jadi saat telinganya menangkap kalimat yang selanjutnya keluar dari mulut Issei. "Equip: Left Leg!"

"Steel Smasher!"

Mata Kiba melebar sempurna dan dunianya tiba-tiba dipenuhi rasa sakit ketika lutut kaki kiri Issei yang kini sudah dibungkus armor berwarna merah menghantam dada sang pendekar pedang, membuat pegangan pada senjatanya terlepas dan mementalkan tubuh sang Ksatria ke tepi tanah kosong yang menjadi arena pertempuran.

"Reset!"

Terkecuali Naruto, semua kaum Iblis yang menjadi penonton pertarungan berkecepatan tinggi dan berdurasi tak lebih dari dua menit tersebut hanya bisa melongo dengan bibir terbuka dan rahang tergantung.

"…B-bagaimana bisa…?" Koneko mengungkapkan apa yang ada di kepala mereka semua.

"Itulah hasil dari pengkondisian reflek bertarung," Naruto memberikan jawaban, membuat wajah Issei yang mendengarnya menjadi sedikit pucat dan tubuhnya merinding karena harus diingatkan pada pengalaman yang hampir saja membuatnya trauma itu. "Kau juga akan bisa melakukan itu kalau kau menghabiskan empat puluh delapan jam dengan dikeroyok dan diserang dari semua arah, Toujou-san."

"Dikeroyok? Cuma itu?" Saji bertanya dengan nada skeptis.

"Oh," Naruto memiringkan kepala. "Apa aku lupa mengatakan kalau di penghujung latihan yang berlangsung selama dua hari penuh itu, aku sudah membuat Issei harus melawan seratus musuh sekali jalan?"

"S-s-s-seratu—" Rasa terkejut dan tidak percaya yang naik sampai ke ubun-ubun membuat Saji terjatuh ke belakang dan langsung pingsan.

"Aku nggak bercanda," kata Naruto ketika Rias menoleh padanya tanpa suara sambil menunjuk Issei dengan jari yang gemetaran. "Nah, kalian sudah melihat sendiri kan? Seperti itulah gaya bertarung Issei. Bukan ofensif atau defensif, tapi [Reaktif]. Dengan kata lain, Issei akan dan hanya akan mengerahkan seluruh kemampuan kalau musuhnya memang benar-benar berniat mengancam keselamatannya."

"Kalau sudah nggak ada protes lagi," Naruto meraih mangkuk yang tadi ia letakkan di tanah. "Aku belum selesai makan, jadi permisi."

"Hm," mereka samar-samar mendengar suara gumaman Naruto yang sudah memulai perjalanannya ke vila sambil kembali melahap udon yang tadi baru setengah dia habiskan. "Minya sudah jadi agak lembek."

"Bah, peduli setan. Yang penting rasanya enak."

~•~

Sekitar satu jam sebelum Rating Game antara Rias Gremory dan Riser Phenex dimulai, seorang gadis muda dengan rambut pirang panjang telah berdiri di depan pintu sebuah kamar dan mengetuknya.

"Issei-san, apa aku boleh masuk?"

Walau sudah menunggu beberapa lama, Asia tak kunjung mendengarkan jawaban. Gadis biarawati itu membuka pintu dan mengintip ke dalam. "Issei-san?"

Di dalam kamar yang agak gelap karena semua lampunya dimatikan hingga kini hanya mendapat penerangan dari sinar bulan yang merembes dari jendela itu, Asia mendapati bahwa remaja berambut cokelat yang telah menyelamatkan nyawanya itu kini sedang duduk di pinggiran ranjang dengan kepala sedikit tertunduk, dan nampak tengah tenggelam dalam lamunan karena dia sama sekali tak bereaksi bahkan ketika Asia sudah menghampirinya.

"Issei-san?" Asia mencoba memanggilnya lagi, dan dia mulai ketakutan saat melihat bahwa mata cokelat remaja Iblis itu tetap terarah ke lantai dengan tatapan yang kosong. "Issei-san…!"

"A-ah…? E-eh, apa…?" Issei tersentak. Dan kalau melihat ekspresi terkejut yang terpasang di wajah Issei, Asia bisa menduga bahwa dia sama sekali tidak menyadari kalau Asia telah duduk di sebelahnya. "A-Asia…? Sejak kapan kau ada di sini…?"

"Kenapa kau tidak menjawab panggilanku, Issei-san?" Asia bertanya khawatir. "Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Ah, aku hanya…" Issei mengeluarkan tawa kikuk sambil mengusap-usap tengkuknya. "Aku hanya agak gugup, dan lagi berpikir-pikir apa seperti ini rasanya orang yang sedang mengalami demam panggung…"

Dari bagaimana tawanya yang terdengar sedikit dipaksakan, serta bagaimana pemuda itu tak membalas tatapan Asia dan malah melirik ke arah lain, sang gadis biarawati langsung tahu kalau Issei hanya sedang membuat-buat alasan dan berusaha mengalihkan perhatian Asia.

"Issei-san," Asia meraih dan memeluk lengan kiri Issei. "Kau ingat kalau aku sudah bersumpah untuk mendampingimu selama-lamanya kan?"

Seluruh tubuh Issei langsung mengeras, sebelum pemuda itu buang muka seakan-akan sedang merasa bersalah.

"Jadi kumohon…" Tapi Asia hanya memeluk lengannya dengan lebih erat seperti tak mau membiarkan pemuda itu melarikan diri. "Kumohon… jangan sembunyikan apapun dariku, Issei-san…"

Issei terus bungkam selama hampir satu menit penuh, dan ketika akhirnya dia kembali bicara, suaranya terdengar pelan dan gundah.

"Menurutmu, orang seperti apa aku ini, Asia?"

"E-eh? A-ah…!" tak menyangka akan dilempari pertanyaan seperti itu, Asia sempat sedikit terbata. "M-menurutku, Issei-san adalah orang yang ramah dan sangat baik hati!"

"'Ramah' dan 'baik hati' ya…?" mata Issei tertuju ke lantai lagi.

"Aku tidak berpendapat sama."

"…Eh?" Asia mengerjap. "A-apa maksudmu, Issei-san?"

"Apa kau tahu, Asia? Di penghujung latihan kami, aku dan Naruto-san menghabiskan dua hari penuh hanya dengan berlatih tanding. Tapi seperti yang kau ketahui sendiri, latih tanding yang [Serius] versi Naruto-san adalah latih tanding di mana kami berdua harus benar-benar berniat untuk saling bunuh."

"Saat itu, aku menyadari sesuatu." Suara Issei berubah getir. "Walaupun setiap serangannya memang dipenuhi nafsu membunuh, Naruto-san tak pernah sekalipun kehilangan kontrol. Dia selalu bisa menahan diri, karena kalau tidak, aku yakin pasti saat ini aku sudah tidak bernyawa."

"Tapi aku?" Issei tertawa. Dan entah mengapa, Asia merasa bahwa saat itu Issei sedang menertawakan dirinya sendiri. "Saat itu, aku benar-benar berniat untuk membunuh Naruto-san."

Pengakuan itu membuat Asia tertegun.

"Kuakui, aku merasa ngeri ketika awalnya Naruto-san memberitahuku latih tanding macam apa yang akan kujalani. Tapi semakin lama kami bertarung, samar-samar kusadari bahwa rasa ngeri sudah tak bersisa lagi. Kau mau tahu hal macam apa yang kurasakan setelah rasa ngeri itu menghilang?"

"Aku merasa [Bersemangat]," Issei meneruskan tanpa menunggu jawaban Asia. "Bayangkan itu, Asia. Aku sadar bahwa kami sedang berusaha sekuat tenaga untuk saling bunuh, tapi tidak seperti Naruto-san, aku kehilangan kendali atas nafsu membunuhku dan malah jadi [Bersemangat] untuk memutus nyawa Naruto-san."

Asia melihat tangan Issei yang bebas terangkat dan mencengkeram wajahnya sendiri. Issei menggertakkan giginya kuat-kuat sampai rahangnya terlihat mengeras dan giginya gemeletuk.

"Tapi kalau itu benar, maka orang seperti apa aku ini…?" Issei mendesis dengan suara tercekat, penuh rasa jijik yang ia tujukan pada dirinya sendiri. "Apakah aku sebenarnya hanya seorang maniak yang sangat menyukai pertarungan hidup-mati? Apakah aku sebenarnya hanya seorang psikopat yang langsung jadi haus darah setiap kali mendapat kesempatan untuk membunuh orang, bahkan ketika aku sadar bahwa orang yang kulawan saat itu adalah sahabatku sendiri?"

Kepala Issei menunduk kian dalam, dan bahunya kini telah jadi gemetaran. "Aku takut, Asia…" dia mengangkat kepala dengan tiba-tiba dan menatap Asia. "Bagaimana kalau sebenarnya aku benar-benar orang yang sakit seperti itu?! Bagaimana kalau suatu saat nanti, aku tak lagi bisa membedakan yang mana kawan dan yang mana lawan?!"

Ketika melihat bahwa mata Issei mulai bersinar liar, intuisi Asia membuat gadis biarawati itu meraih kepala Issei dan mendekapnya erat-erat ke dada. Tubuh Issei kembali mengeras sesaat, sebelum lengannya mengalungi tubuh Asia erat-erat seakan-akan gadis itulah satu-satunya hal yang membuat Issei masih bisa mempertahankan kewarasan.

"…Aku benar-benar takut, Asia…" Issei berbisik dengan suara tertahan karena seluruh wajahnya yang terbenam di dada Asia. "Bagaimana kalau suatu saat nanti, tiba hari di mana aku malah menyakiti Buchou, Akeno-san, Koneko-chan, dan Kiba…?" Asia terus mengeratkan pelukannya demi meredam bahu Issei yang masih berguncang. "Dan yang paling kutakutkan, adalah bagaimana kalau suatu saat nanti… tiba hari di mana aku benar-benar lupa diri dan menyakitimu…?"

Asia tidak langsung menjawab, dan memilih untuk terus mengelus kepala Issei.

"Itu tak mungkin terjadi, Issei-san."

Entah sudah untuk yang keberapa kali, bahasa tubuh Issei mengeras lagi.

"Issei-san bukan seorang maniak, apalagi psikopat." Asia meneruskan. "Dan Issei-san juga takkan pernah menyakitiku, Buchou-san, Akeno-san, Koneko-chan, dan Kiba-san."

"…Kenapa…?" Issei berbisik. "Setelah semua yang kukatakan, kenapa kau masih bisa seyakin itu, Asia…?"

Asia meraih pipi Issei dan menggerakkan kepala pemuda itu agar mereka bisa saling tatap. "Karena Issei-san adalah Issei-san."

Asia memejamkan mata dan menyentuhkan dahi mereka berdua.

"Dan walau apapun yang terjadi, pada akhirnya Issei-san hanyalah orang yang mesum dan bego, tapi juga ramah, dan sangat baik hati."

Issei tak mengatakan apa-apa sebagai respon, namun ketika Asia kembali memeluk kepala Issei ke dadanya, bahu remaja berambut cokelat itu sudah tak lagi berguncang.

~•~

"Naruto-san!"

Naruto baru saja menuruni tangga batu di halaman depan bangunan sekolah lama Akademi Kuoh ketika sebuah suara menghentikan gerakannya. "Issei?" Dia menoleh, dan mendapati bahwa Issei tengah berlari ke arahnya. "Ada apa?"

Issei menghampiri Naruto dan terengah sesaat sebelum mengeluarkan isi pikirannya. "Jadi kau benar-benar tidak akan menonton pertandingan kami, Naruto-san?"

"…Astaga," Naruto menepuk dahinya keras-keras. "Berapa kali harus kujelaskan, Issei? Kau mungkin sudah lupa, tapi Rating Game adalah event yang diperuntukkan khusus bagi kaum Iblis, sedangkan aku ini cuma seorang manusia."

Issei mengecurutkan bibirnya. "Tapi aku yakin Buchou dan Kaichou pasti tidak akan keberatan kalau kau ikut menonton. Bahkan Sirzechs-sama juga setuju."

"Lalu? Kaupikir apa yang akan terjadi kalau penghuni Meikai tahu bahwa seorang Maou memberi perlakuan spesial pada seorang manusia sepertiku?" tanya Naruto sambil bersidekap. "Kuingatkan sekali lagi, aku adalah seorang shinobi. Aku tak keberatan mengungkap identitas dan memberitahu kalian beberapa hal mengenai diriku karena kalian adalah teman-temanku, tapi itu tidak berlaku untuk Iblis-Iblis yang lain."

Dia sebenarnya cukup senang saat mendengar bahwa mereka adalah satu-satunya kaum Iblis pada siapa Naruto bersedia membuka diri, tapi itu tetap tak bisa seluruhnya menepis rasa kecewa Issei.

Karena walaupun hanya sebentar dan bersifat tidak formal, Naruto tetaplah orang yang sudah melatih Issei dengan segenap kemampuannya. Dan sebagai orang yang menganggap dirinya sebagai murid Naruto, Issei ingin gurunya itu bisa menyaksikan pertarungannya. Bahkan kalau mungkin, Issei ingin Naruto melihat sendiri bahwa semua latihan yang telah ia berikan tidak sia-sia.

Lamunan Issei tiba-tiba buyar ketika Naruto mengacak-acak rambutnya.

"N-Naruto-san?"

"Tidak usah pasang muka seperti itu. Aku sudah minta Ojou-sama untuk menghubungiku saat kalian selesai nanti." Naruto menegurnya dengan sebuah senyuman tipis. "Lagipula, aku yakin kau sudah tahu apa yang harus kaulakukan untuk membuatku bangga, Issei."

Issei tertegun sesaat. Perlahan-lahan, sebuah sengiran ganas mulai menghiasi wajahnya. "Aku harus menang."

Naruto mencondongkan tubuhnya ke depan dengan senyuman yang makin melebar. "Walau kau harus muntah darah. Walau seluruh tubuhmu remuk redam."

Issei mengambil satu langkah maju dan menghantamkan dahinya ke dahi Naruto. "Ossu!"

"Ossu!"

"Ossu!"

"Ossu!"

"OSSU!"

"OSSU!"

Di lantai dua, dua orang Iblis berdarah murni nampak sedang mengamati interaksi antara guru dan murid dadakan itu melalui jendela ruang klub Occult Kenkyu-bu. Tapi tak seperti gadis berambut hitam dan berkacamata ungu yang mengamati mereka berdua dengan sebuah senyuman tipis, Iblis berambut merah yang berdiri di sebelahnya nampak memasang ekspresi cemberut.

"Rias?" dahi Sona berkerut saat melihat Rias yang nampak kurang senang. Lalu dia sadar apa yang sedang terjadi pada sahabatnya itu. "Rias, tolong jangan katakan padaku kalau kau sedang cemburu pada Issei."

"A-ap—!" Rias berhasil menghentikan diri sebelum teriakannya benar-benar keluar dan terdengar oleh seisi ruangan. "A-aku nggak cemburu, oke…?! Siapa juga yang mau diperlakukan dengan lebih baik oleh si kepala duren bego itu…?!" dia mendesis.

…Padahal Sona sama sekali tak mengatakan apa-apa soal 'diperlakukan dengan lebih baik'.

Sona menahan keinginan untuk menepuk dahinya keras-keras. Karena walaupun Rias mengatakan itu, wajahnya yang merah padam menunjukkan kalau kecurigaan Sona memang benar adanya.

Andai saja Sona bukan seorang Iblis, maka dia pasti sudah berdoa dan meminta bantuan pada Tuhan. Karena jujur saja, meladeni tingkah seorang cewek tsundere yang sedang kesengsem berat seperti Rias benar-benar sebuah kegiatan yang menguras energi.

~•~

"A-anu…" Issei mengusap-usap tengkuknya. "Sejujurnya, aku tidak mau memukul perempuan, jadi bisa nggak kalian menyerah saja?"

"Hah~?" si kembar yang rambutnya sama-sama hijau berkoor bersamaan.

"Jangan bercanda." gadis dengan rambut biru, seorang Pion yang bersenjatakan tongkat kayu, menggeram kesal. "Kaupikir kami akan menyerah begitu saja hanya karena kau minta?"

Issei tertawa masam karena permohonannya sudah ditolak mentah-mentah. "Uwah..." dia menghela napas dengan bahu yang merosot. "Harusnya aku tahu kalau aku bakal dapat jawaban seperti itu."

"Ddraig."

Permata hijau yang ada di punggung tangan Boosted Gear menyala. 'Ada apa, Aibou?'

Issei tidak menggubris tatapan ketiga musuh yang sepertinya menganggap Issei sudah gila karena ngomong sendiri dan kembali bicara pada sang Naga Surgawi yang tersegel dalam Sacred Gear-nya. "Boleh kupakai jurus yang 'itu'?"

'Kau yakin, Aibou?' cahaya di permata hijau itu nampak berkedip-kedip seiring setiap kata Ddraig yang berbunyi di kepala Issei. 'Apa kau sadar kalau memakai jurus itu dari awal malah bisa merugikanmu?'

"Yah, cepat atau lambat kan pasti akan kupakai juga. Lagipula, aku tidak pintar seperti Buchou atau Naruto-san, jadi daripada bikin rencana rumit-rumit, mending kulabrak dari depan saja sekalian."

'Ahahaha! Aku suka cara berpikirmu, Aibou!' Ddraig tertawa. 'Baiklah, aku mengerti!'

"Terima kasih," Issei mengangguk satu kali sebelum mengangkat Boosted Gear-nya ke depan dada sembari memejamkan mata. Saat Issei membuka matanya lagi, di tengah-tengah iris sang Pion yang berwarna cokelat tua tersebut telah terlihat warna hijau jamrud Youki yang menyala. "Override."

(Play Kakumeiki Valvrave 2 OST – Kakumei Dualism)

"Control Override: Granted!"

"Jadi…" dia menatap ketiga musuhnya secara bergantian. "Kapan kita mau mulai?"

Nel, Ile, dan Mira tersentak dari lamunan. Ketiga Pion itu saling tatap, mengangguk, sebelum sama-sama menyerbu musuh mereka dengan sebuah teriakan lantang.

Dalam sekejab, senyuman di wajah Issei menghilang, digantikan oleh ekspresi keras dan mata yang menajam. Issei memasang kuda-kuda dan memberi perintah pada Ddraig dalam hati.

"Manual Boost: Speed!"

Ketiga Pion Riser mengayunkan senjata mereka secara bersamaan, namun sebelum serangan itu tiba di sasaran, mereka dibuat terperangah ketika sosok Issei sudah tak ada di depan mereka lagi. Dan baru saja mereka berniat memandang berkeliling untuk mencari ke mana perginya sang musuh, tiga tendangan beruntun menghajar punggung dan membuat tiga gadis Iblis itu tersungkur ke lantai.

Pada saat-saat seperti inilah, Issei sangat bersyukur karena Naruto yang telah melatihnya. Walau metode pelatihan shinobi itu kadang sangat tidak manusiawi, Issei tak bisa menyangkal fakta bahwa dia takkan bisa menguasai jurus ini kalau bukan karena Naruto yang punya ide agar Issei mengontak dan meminta bantuan secara langsung pada Ddraig.

Bayangkan, kalau cerita Ddraig memang benar adanya, maka cukup banyak pengguna Boosted Gear di masa lalu yang tidak tahu bahwa kemampuan [Boost] masih memiliki beberapa sub-kategori, yang hanya bisa dilakukan kalau mereka bekerja sama dengan Ddraig hingga bisa mendapat kontrol penuh atas Boosted Gear dari sang Naga Surgawi.

[Boost] adalah pelipatgandaan kekuatan yang meningkatkan semua aspek kemampuan fisik pengguna Boosted Gear secara merata, baik itu serangan, pertahanan, kecepatan, kelincahan, bahkan kelenturan tubuh dan lain sebagainya. Tapi dengan memakai [Override], Issei bisa menyalurkan semua peningkatan itu ke satu aspek saja, hingga efektivitasnya pun lebih tinggi dari [Boost] yang biasa.

Dan contohnya adalah [Manual Boost: Speed] ini.

Tak seperti Ile dan Nel yang masih mengerang kesakitan, Mira dengan cepat menoleh ke belakang, matanya yang melebar tak percaya menangkap sosok sang lawan yang kini telah berdiri di sana. "K-kau—bukannya kau cuma seorang Pion?! Bagaimana kau bisa bergerak secepat itu?!"

Issei menahan diri agar tidak mendengus. Cepat di mananya? Gerakannya tadi bahkan tidak mencapai setengah kecepatan penuh Kiba. Dan lagi, apa Pion Riser itu mengira Issei akan menjelaskan tentang mekanisme jurusnya hanya karena dia bertanya?

"Oh, sudah sepuluh detik," cetus Issei singkat sebelum kembali mengangkat Boosted Gear. "Sekali lagi!"

"Manual Boost: Speed!"

Kecepatan yang lagi-lagi meningkat membuat sosok Issei benar-benar seperti memburam menjadi bayangan saat dia berkelebat. Namun saat ketiga musuhnya itu mengernyit dan menunggu rasa sakit, satu-satunya yang mereka rasakan hanyalah sebuah sentuhan pelan.

Saat Issei kembali muncul, berdiri kurang lebih sepuluh meter di depan mereka, Pion Rias Gremory itu hanya mengatakan dua kata sambil menjentikkan jarinya. "Dress Break."

Ile, Nel, dan Mira kontan menjerit senyaring-nyaringnya ketika pakaian mereka, dari baju luar sampai pakaian dalam, hancur menjadi serpihan-serpihan kecil hingga mereka kini telanjang bulat.

"Cowok jahanam!"

"Binatang!"

"Musuh wanita!"

"Ehe, ehe, ehehehehe…" Issei memandang ketiga gadis yang kesopanannya tak terlindungi apa-apa itu sambil terkekeh-kekeh nggak jelas dan hidung yang kembang-kempis. "Kan di awal tadi kalian sudah kuperingatkan? Salah kalian sendiri karena nggak mendengarkan."

"…Aku sudah salah menilaimu, Senpai."

"Koneko-chan~!"

~•~

Issei terus mengamati gedung olahraga yang kini hanya tinggal berbentuk puing-puing mengepulkan asap tanpa mengucapkan apa-apa.

"…Senpai?"

"Hei, Koneko-chan…" Issei berkata tanpa menoleh ke arah sesama anggota Peerage milik Rias tersebut. "Menurutmu, mereka tidak sempat menderita kan…?"

"…Eh?"

"Ah, maaf. Tidak usah dipikirkan," Issei menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksakan sambil mulai berjalan. "Ayo pergi. Kita tidak mau membuat Kiba menunggu kan?"

Akan tetapi, tak sampai sepuluh hitungan kemudian, Issei tiba-tiba berhenti berjalan dengan postur tubuh yang mengeras. Tanpa peringatan, Pion berambut cokelat itu tiba-tiba berbalik dan langsung berlari ke arah Koneko dengan wajah yang dihiasi ekspresi panik. "Ddraig! Override!"

"Control Override: Granted!" Boosted Gear yang Issei miliki memberi respon dengan deklarasi pelepasan semua energi yang telah terakumulasi di dalamnya. "Manual Explosion: Speed Blast!"

Tepat setelah Issei meraup tubuh Koneko yang kecil dengan kedua tangannya, sosok kedua Iblis itu langsung lenyap dalam lesatan yang tak terlihat mata sebelum tempat mereka berdiri sebelumnya dilahap habis oleh sebuah ledakan besar yang mengguncang tanah dan memekakkan telinga.

"Koneko?! Issei?! Apa yang terjadi?! Apa kalian baik-baik saja?!"

Walau ia mendengar panggilan khawatir Rias, Koneko hanya mampu mengerjapkan mata, sedikit terdisorientasi dan belum benar-benar menyadari bahwa Issei tidak hanya telah membawanya ke tepi lapangan ini, tapi juga menyelamatkannya dari bahaya maut. Koneko mendongak, dan napasnya jadi tercekat ketika melihat Issei yang memandang ke arah tengah lapangan, di mana sesosok wanita dengan rambut panjang bergelombang terbang di udara, dengan gigi gemeletuk dan wajah berkeriut menahan amarah. "Senpa—"

Panggilan Koneko tak sempat terselesaikan karena Issei telah terlebih dahulu berdiri dengan sebuah raungan murka. "KAU~!"

Bahasa tubuh Issei menyiratkan bahwa Pion itu sudah siap berlari, namun belum sempat ia melesat, gerakannya terhenti karena Akeno yang mendarat di depannya. "Akeno-san, minggir!"

"Issei-kun, tenanglah. Walau dengan levelmu yang sekarang, melawan seorang Ratu bukanlah hal yang bijaksana."

"Aku tidak peduli!" Issei berteriak panas. "Dia sudah berani mencoba menyakiti Koneko-chan! Dia tak pantas dimaafkan!"

Akeno berbalik, dan dia dibuat berjengit saat melihat sinar liar yang kini memenuhi mata Issei, dan cahaya hijau kecil yang ada di tengah-tengah iris cokelat tua sang Pion menyala semakin terang.

"Issei!"

'Aibou, kendalikan dirimu!'

Namun Issei sama sekali tak menggubris panggilan Rias dan Ddraig, dan malah mengambil satu langkah maju. "Akeno-san," dia menggeram, dan di telinga semua yang mendengarkan, geraman itu tak ada bedanya dengan geraman seekor hewan buas. "Minggir."

Dan entah kenapa, Akeno yang notabene memiliki pangkat tertinggi dari semua anggota Peerage Rias merasa bahwa saat ini dia tak ubahnya seekor mangsa yang siap diterkam. "I-Issei-kun—"

"Minggir!"

Akan tetapi, tepat sebelum situasi benar-benar tak terkontrol lagi, sebuah suara lain terdengar melalui transceiver di telinga mereka.

"Issei-san!"

Mata Issei melebar sempurna dan seluruh tubuhnya mengeras total seakan-akan berubah menjadi patung batu. Kepalanya menunduk, dan napasnya menjadi cepat seperti orang yang sedang menderita hiperventilasi.

"Issei-san?"

Tubuh Issei mengeras untuk yang kedua kali. Koneko dan Akeno bisa melihat jelas bagaimana sang Pion memaksa diri agar jadi tenang kembali.

"…Aku tidak apa-apa," dia akhirnya bersuara setelah beberapa lama. "Aku sudah tidak apa-apa, Asia…" dia mendongak, dan melempar sebuah senyuman menyesal kepada Akeno. "Kurasa aku tak pantas mengatakan ini setelah apa yang terjadi tadi, tapi aku benar-benar minta maaf, Akeno-san."

"T-tidak apa-apa," sahut Akeno dengan sedikit terbata. Satu tarikan napas kemudian, Iblis yang dibangkitkan sebagai Ratu itu telah berhasil mengendalikan diri dan berbalik untuk menghadapi Yubelluna lagi. "Seperti yang kubilang tadi, sebaiknya kau dan Koneko-chan mundur dulu, Issei-kun. Aku bisa menghadapi perempuan ini sendirian."

"Aku mengerti," Issei ikut berbalik dan berjalan menghampiri Koneko, sebelum mengulurkan tangannya pada gadis berpangkat Benteng itu. "Ayo, Koneko-chan."

"…B-baik."

Yubelluna yang dari tadi mengamati peristiwa itu akhirnya buka suara. "Jadi pada akhirnya, aku tetap akan melawanmu, Ikazuchi no Miko-san (Priestess of Thunder)." Mata Yubelluna melirik ke arah Koneko dan Issei yang mulai meninggalkan lapangan. "Tapi sejujurnya, sebenarnya aku juga ingin mencoba seperti apa kemampuan pemilik Boosted Gear itu."

"Ara, ara," Akeno mengeluarkan kata-kata favoritnya. "Tolong jangan bercanda."

Melihat ekspresi bingung Yubelluna, Akeno meneruskan. "Melawan Issei-kun yang sudah jadi seperti itu tidak ada bedanya dengan sengaja mencari bahaya."

"Oh?" Yubelluna mengangkat alisnya. "Apa kau yakin kau sedang tidak melebih-lebihkan? Bukankah dia cuma seorang Pion?"

Akeno hanya menyunggingkan sebuah senyum menyenangkan. "Tapi itu sebelum kau membuatnya marah, Bomb Queen-san."

"Percayalah padaku, kau tidak mau melawan Issei-kun saat dia sedang [Marah]."

~•~

"Buchou?!" mata Issei makin melebar saat melihat siapa yang juga ada bersama sang Iblis berdarah murni. "ASIA!"

"Boost!"

Kekhawatiran yang teramat sangat membuat Issei langsung berlari ke arah bangunan utama Akademi Kuoh, namun tak sampai berapa langkah, jalannya tiba-tiba dihalangi oleh Ravel dan kelompoknya. "Kaukira aku akan membiarkanmu pergi begitu saj—"

"MINGGIR!" kalimat Ravel dihentikan olah suara raungan Issei yang garang. "DDRAIG!"

"Explosion!"

"Partial Transformation! Equip: Right Leg!"

Dengan peningkatan kemampuan fisik yang sangat pesat, berasal dari pelepasan akumulasi energi dari lima belas kali [Boost], Issei berkelebat hingga tubuhnya lenyap dari pandangan. Dan saat ia muncul kembali, sang Pion itu telah ada di udara, tepat di atas Siris, Ni, dan Li yang berdiri paling depan. "Earth Crusher!"

Suara dentuman luar biasa nyaring bergema memenuhi lapangan olahraga yang sepertiga luas totalnya langsung hancur berantakan ketika didera jurus sang Sekiryuutei. Belum sempat kepulan asap dan debu itu pupus, sosok Issei sudah menembusnya dan kali ini melesat ke arah Isabela, yang tadi masih dalam proses melawan Koneko dan merupakan satu-satunya Benteng Riser yang masih tersisa.

Isabela sebenarnya ingin melawan, tapi ketika dia melihat ekspresi buas yang terpasang di wajah Issei, hatinya diliputi rasa takut hingga reaksinya menjadi terlambat.

Dan bagi seorang Hyoudou Issei yang telah dilatih oleh Naruto, hal itu adalah kesempatan emas yang harus ia manfaatkan habis-habisan.

Tapak kiri Issei yang dilapisi armor merah menghantam perut Isabela sampai sang Benteng kehabisan napas dan kakinya meninggalkan tanah. Issei yang tak sudi menyia-nyiakan kesempatan langsung melanjutkan dengan salah satu jurusnya. "Dragon Shot!"

Isabela bahkan tak sempat menjerit ketika seluruh tubuhnya terdisintegrasi oleh jurus berbentuk cahaya merah dengan daya penghancur yang susah dicari bandingannya itu.

'Aibou, bergegaslah! Energi yang sudah kau akumulasi akan habis dalam lima detik lagi!'

"Aku tahu!" Issei meraung. Dan kali ini, perhatiannya jatuh pada Mihae, salah seorang Menteri Riser selain Ravel. "Partial Transformation! Equip: Left Leg!"

Mihae hanya sempat melebarkan mata dan membuka mulutnya tanpa suara sebelum Issei muncul di hadapannya, dengan lutut yang sudah dilapisi armor berwarna merah terlihat di depan perut sang Menteri. "Steel Smasher!"

Gadis Iblis yang memakai kimono itu terpental jauh ke belakang, tubuhnya menghantam dan melubangi dinding bangunan sekolah utama sampai menghasilkan kepulan debu. Dan tak lama kemudian, dari lubang tersebut terlihat cahaya putih kebiruan.

"Dua Pion, satu Ksatria, satu Benteng, dan satu Menteri Riser-sama telah mengundurkan diri."

Pengumuman Grayfia seakan mematri apa yang mereka lihat menjadi kenyataan, namun semua yang menyaksikan [Pembantaian] itu hanya bisa melebarkan mata tanpa bisa mengucapkan apa-apa dengan rasa tak percaya memenuhi hati mereka. Karena tak cuma mengagumkan, atau bahkan mengerikan saat dipandang, peristiwa yang berlangsung dengan sangat dahsyat itu juga hanya memakan waktu tak lebih dari setengah menit, yang juga merupakan batas waktu total pemakaian kemampuan [Explosion].

"Reset!"

Issei jatuh berlutut dengan wajah bersimbah keringat dan mulai terengah-engah hebat. Dia baru mulai memaksa tubuhnya yang gemetaran untuk bangkit lagi ketika terdengar gema ledakan yang dilanjutkan oleh suara Grayfia.

"Ratu Rias-sama telah mengundurkan diri."

"AKENO-SAN!" Issei meraung saat menyaksikan sosok Akeno yang bertarung melawan Yubelluna di lapangan tenis jatuh ke bumi dan buyar menjadi cahaya putih bernuansa kebiruan sebelum dia mencapai tanah, namun tubuhnya yang belum benar-benar pulih, tak hanya dari efek samping [Boost] tapi juga kemampuan [Override] yang sangat membebani tubuh, hanya bisa kembali jatuh berlutut.

"Issei-kun!" Kiba yang sudah berniat berlari menghampiri dan membantu rekan satu Peerage-nya itu tiba-tiba mendapati dirinya tak bisa bergerak.

"Kalau sudah begini, aku tak punya cara lain lagi!" Karlamine yang kini telah menahan gerakan Kiba dengan menjepit kedua lengan Iblis berambut pirang lurus itu mendongak dan berteriak. "Yubelluna!"

Issei bahkan tak sempat memanggil nama Kiba ketika sosok kedua Ksatria dari kubu berbeda itu ditelan ledakan besar yang mengguncang tanah. Dia sebenarnya ingin berteriak, meraung, atau bahkan terisak, namun instingnya yang telah dilatih sedemikian rupa oleh latihan neraka rancangan guru dadakannya memberi peringatan bahwa dia sudah hampir melewatkan satu hal.

Kepala Issei menyabet ke atas, dan melihat bahwa kini Yubelluna yang terbang di atas lapangan olahraga telah mengacungkan tongkatnya ke arah lain.

"Koneko-chan!" kali ini, tak peduli tubuhnya mau protes seperti apa, Issei tetap memaksanya untuk berdiri. "Override!"

"Control Override: Granted!"

"Manual Boost: Speed!"

Namun walau ia sudah memakai peningkatan kemampuan fisik yang seluruhnya difokuskan pada kecepatan itu, Issei tahu bahwa dia takkan sempat menjauhkan Koneko dari lingkup serangan Yubelluna. Karena itulah, dia mendorong sang Benteng ke tanah, lalu melingkupi tubuh kecil gadis itu dengan tubuhnya sendiri.

Issei telah mengerahkan [Yousai Kabe] sebisanya, namun bahkan dengan jurus defensif itupun, dunianya tetap dipenuhi derita ketika ledakan yang memekakkan telinga tersebut menghantam punggungnya, sangat dan sangat sakit sampai pandangan sang Pion sempat memburam dan dia hampir saja hilang kesadaran.

"…Senpai…!" Koneko terisak ketika tubuh Issei terguling ke samping, napasnya yang sudah putus-putus tiba-tiba tercekat dan mulutnya menyemburkan darah segar ke tanah. "Issei-senpai!"

"…K-Koneko…chan…" Issei terengah, bibir dan dagunya kini telah basah dengan cairan merah lengket. "K-kau—kau baik-baik saja kan…?"

Koneko yang merasa tenggorokannya sedang tersumbat hanya bisa mengangguk.

"Syukurlah…" sambil terhuyung-huyung, remaja berambut cokelat itu mulai bangkit. Dan ketika dia berhasil berdiri lagi setelah mencoba beberapa kali, mata Koneko melebar dan mulai mengalirkan air mata saat melihat luka bakar yang memenuhi hampir seluruh bagian punggung Issei, luka yang masih mengalirkan darah.

Kedua Iblis itu mendongak, hanya untuk melihat bahwa Yubelluna telah didampingi Ravel yang terbang dengan sayap apinya.

"Kuakui, aku cukup kaget melihat kekuatanmu tadi," Ravel mengangkat tangannya, dan menciptakan sebuah bola api dengan jari-jari yang bahkan melebihi tinggi tubuhnya sendiri. "Tapi cukup sampai di sini!"

Ketika Ravel melancarkan serangannya, Koneko membuat keputusan.

"…Senpai," dia berbisik sunyi. "…Berjanjilah kau akan memenangi pertarungan ini."

Perhatian Issei yang tadi masih terfokus pada bola api yang mendekat dengan kecepatan tinggi teralihkan saat Koneko mengangkat tubuh Pion tersebut dengan kedua tangan dan melemparnya sekuat tenaga ke arah atap sekolah Akademi Kuoh.

Issei yang masih ada di udara hanya sempat melihat senyum tipis di wajah Koneko sebelum tubuh sang Benteng ditelan seluruhnya oleh bola api Ravel.

"…Koneko-chan…"

Mata Issei berputar ke belakang sebagai pertanda bahwa dia telah hilang kesadaran.

"Issei/Issei-san!"

Asia menangkap Issei yang sudah pingsan, dan hampir saja terjungkal hingga jatuh dari atap kalau saja Rias tidak menopangnya dari belakang. Tanpa buang waktu, Rias dengan segera membaringkan tubuh sang Pion itu dalam posisi telungkup, membuatnya harus menahan rasa mual ketika melihat luka bakar teramat parah yang menghiasi sebagian besar punggung Pionnya tersebut, sementara Asia langsung mengerahkan Twilight Healing dengan wajah yang sudah dibasahi oleh air mata.

"Maafkan aku, Onii-sama," Rias yang mendengar suara Ravel mendongak, dan melihat kalau adik Riser itu telah terbang di samping kiri Rajanya. "Aku gagal mengurus Pion itu."

"Tidak masalah," Riser menepis permintaan maaf adik yang juga memegang peranan Menteri dalam Peerage-nya itu dengan santai. "Toh dia sekarang sudah tidak berguna lagi."

"Apa yang harus kami lakukan sekarang, Riser-sama?" Yubelluna, yang terbang di samping kanan Riser, bertanya. "Kalau anda mau, saya bisa membereskan Pion dan Menteri itu."

"Tunggu sebentar, aku mau mengatakan sesuatu pada Rias dulu," Riser melangkah maju. "Bagaimana, Rias?! Kau sudah siap untuk menyerah?!"

"Jangan bercanda!" Rias berdiri dan turut melangkah maju. "Jangan kira kau sudah menang, Riser! Selama aku masih berdiri, aku takkan sudi menyerah padamu!"

"Rupanya kau masih keras kepala." Riser menghembuskan napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Baiklah, mau bagaimana lagi. Yubelluna, lakukan."

"Baik, Riser-sama."

Yubelluna terbang dan berhenti beberapa meter di depan Rias sebelum mengacungkan tongkatnya ke depan. Rias yang sudah bersiap menahan serangan tiba-tiba dikejutkan oleh suara pekik tertahan yang datang dari belakang.

Ketika menoleh dan melihat bahwa di bawah tubuh Issei dan Asia telah terdapat sebuah lingkaran sihir bercahaya ungu, Rias tersadar bahwa yang diincar Yubelluna bukanlah dirinya.

Dia berbalik dan langsung mencoba berlari. Akan tetapi, Rias tahu bahwa dia telah terlambat ketika tubuh kedua pelayannya itu lenyap ditelan ledakan sihir yang menjadi ciri khas Yubelluna.

Tapi dia tidak tahu, bahwa pada saat itu mata Issei telah menjeblak terbuka.

"Issei! Asia!"

Rias jatuh berlutut karena mengira bahwa satu detik kelengahan telah membuatnya kehilangan dua anggota Peerage-nya yang terakhir. Seiring debu yang berjatuhan ke permukaan atap, air mata mulai mengalir di pipi Rias dan suara isakan tertahan terdengar dari sela kedua bibirnya.

"Dragon Shot."

Namun ketika rasa pilu dan putus asa baru merundung hatinya selama beberapa detik, Rias mendengar sebuah suara dari balik kepulan asap.

Cahaya sihir menyerupai laser merah menembus permukaan asap, jauh lebih kecil daripada apa yang sudah pernah Rias lihat. Namun ketika dia menoleh, sang ahli waris Klan Gremory mendapati bahwa sekecil apapun ukurannya, jurus itu tetap tak kehilangan daya penghancurnya saat dia melihat dada Yubelluna telah dihiasi sebuah lubang sebesar kepalan tangan yang menembus tubuhnya.

Tanpa menggubris tubuh sang Ratu yang sudah mulai dibungkus cahaya putih kebiruan, Rias kembali memandang ke depan dengan sebuah senyuman, dan ketika asap itu pupus seluruhnya, dia mendapati bahwa Pionnya telah berdiri lagi walau tubuhnya sedikit terbungkuk, dengan tangan berlapis Boosted Gear terentang ke depan.

"Issei!" Rias berlari dengan niat menghampiri sang Pion, namun dia membatalkan niat untuk menyentuh remaja berambut cokelat itu ketika ia melihat Issei menoleh ke belakang, dan saat pemuda itu mendapati bahwa di bahu Asia telah terdapat sebuah luka bakar, wajahnya langsung menjadi keras, kosong tanpa ekspresi.

Dan Rias mengenalinya karena ekspresi tersebut sangat mirip dengan apa yang dulu terpasang di wajah Naruto sepuluh hari yang lalu.

Issei kembali menatap ke depan dan berjalan melewati Rias tanpa mengucapkan apa-apa, namun dia berhenti setelah beberapa langkah seakan ragu.

Bahu Issei nampak berguncang. "Asia… aku—"

"Aku mengerti, Issei-san." Asia menyela sebelum Issei selesai bicara.

"Kau boleh [Marah]."

Bahasa tubuh Issei mengeras sesaat, dan walaupun pemuda itu berdiri membelakangi mereka, Rias dan Asia sangat yakin bahwa sebuah ekspresi lega telah menghiasi wajahnya.

"Terima kasih, Asia…" Issei mendesah. "Tutup mata dan telingamu rapat-rapat, oke…?"

(Play Black Lagoon OST – Red Fraction)

"Apa yang mau kau lakukan?" Riser bertanya dengan nada meremehkan. "Dengan tubuh yang sudah hancur seperti itu, apa kau masih punya cara untuk bisa menang?"

Issei menjawab pertanyaan Riser hanya dengan mengucapkan dua kata.

"Promotion: Queen."

Sebuah bidak pion Evil Pieces muncul di depan dada Issei seakan tercipta dari udara kosong dan bertransformasi menjadi bidak ratu, sebelum terbang ke belakang punggung remaja berambut cokelat tersebut dan mulai melayang dalam pola melingkar.

Ravel yang kini sudah mendarat di atap dan berdiri sedikit di belakang Riser tertawa. "Cuma itu?! Apa kaukira kau bisa menang melawan kami berdua hanya dengan kemampuan itu—"

"Promotion: Queen."

Jalur pikiran kedua Iblis yang berasal dari Klan Phenex itu mengalami macet total ketika mereka mendengar pengulangan kata Issei, rasa kaget berubah menjadi rasa tak percaya ketika garis penglihatan mereka menangkap biji bidak Pion kedua, dan seperti yang pertama, benda tersebut berubah bentuk menjadi bidak Ratu dan turut melayang dalam pola melingkar.

"Promotion: Queen…!"

Mata semua Iblis di tempat itu, dan bahkan semua kaum Iblis lain yang menonton pertandingan tersebut di dunia luar, melebar ketika bidak ketiga muncul.

"Promotion: Queen!"

Ketika bidak Pion keempat telah bertransformasi menjadi Ratu, Issei akhirnya mengangkat kepala dan meneriakkan nama kemampuan yang di kemudian hari akan mengguncang seluruh dunia Iblis.

"Quadruplet Promotion!"

Keempat bidak Evil Pieces itu yang sudah berubah bentuk itu kembali merasuki tubuh sang Pion.

"HAAA~!"

Issei mendongak dengan sebuah raungan membahana, memekakkan telinga dan menembus langit, sebelum tubuhnya mengeluarkan sebuah gelombang kejut teramat kuat yang memecahkan semua kaca jendela bangunan sekolah tiruan yang ia pijak dan membuat udara semilir di tempat itu berubah menjadi amukan angin topan yang mengibarkan baju dan rambut mereka semua.

Di dunia luar, Tsubaki yang membantu mengorganisir penayangan Rating Game antara Rias dan Riser menoleh ke arah Rajanya dengan wajah pucat dan mata membulat tak percaya. "K-Kaichou, i-itu?!"

"A-aku juga tidak tahu!" Sona balik berseru. "S-secara teknis, karena Hyoudou-kun adalah Iblis yang dibangkitkan dengan delapan biji bidak Pion Evil Pieces, hal itu memang mungkin dilakukan karena kemampuan [Promotion] hanya mempengaruhi satu bidak Pion yang tersimpan di dalam tubuhnya!" mata violetnya yang juga sudah melebar tak pernah meninggalkan layar yang melayang di depannya. "Tak hanya itu, dia juga sama sekali tidak melanggar peraturan Rating Game karena memang tak ada peraturan yang menyatakan bahwa [Promotion] hanya boleh dipakai sekali dalam satu pertandingan! Tapi, kalau ingatanku benar, hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Rating Game yang sudah berlangsung selama ratusan tahun!"

Lalu Sona tersadar.

"T-tunggu dulu…" sang ahli waris Klan Sitri yang biasanya selalu kalem kembali terbata, sebuah bukti bahwa apa yang baru saja dia saksikan telah membuatnya sangat terguncang. "Kalau peraturan itu tak ada, maka itu berarti—"

Napas Sona tercekat.

"Peraturan itu tidak dibuat karena tubuh seorang Pion memang tidak dimaksudkan untuk menampung kekuatan [Promotion] lebih dari satu kali."

Di antara suara amukan angin yang mengelilinginya, Rias tiba-tiba dikagetkan oleh suara derak-derak nyaring yang berasal dari tubuh Issei. Wajah sang ahli waris Klan Gremory memucat saat menyadari bahwa suara itu adalah suara tulang Issei yang mulai retak dan patah, karena sebagai seorang Iblis berpangkat Pion, tubuh Issei tak bisa menampung semua energi yang ia dapatkan dari [Quadruplet Promotion] hingga kelebihan muatan dan mulai hancur perlahan-lahan.

"ISSEI!"

Akan tetapi, alih-alih menggubris kekhawatiran Rias, Issei malah hanya menggertakkan giginya sekuat tenaga sebelum berteriak. "Ddraig!"

"Dragon Booster Second Liberation!"

Tepat setelah deklarasi tersebut, Issei langsung mengangkat Boosted Gear-nya yang sudah berubah bentuk tinggi-tinggi ke udara.

"Boosted Gear's Forbidden Technique!" dia meraung nyaring. "Rapid Boost: Activate!"

"Boost! Boost! Boost!"

Riser dan Ravel yang masih terlalu dilanda shock sampai tak bisa bergerak hanya bisa menyaksikan sementara kekuatan Issei terus berlipat ganda sampai level yang tak bisa dipercaya.

"Boost! Boost! Boost!"

Pada saat ini, Issei sudah diserang rasa sakit yang begitu hebat sampai membuat penderitaan yang dulu ia rasakan saat memakai Sanshoku no Gan'yaku pemberian Naruto seakan-akan hanya berasal dari luka goresan kecil. Raungan yang lepas dari mulutnya tak hanya mengungkapkan amarah dan murka, namun juga penuh berisi derita, sesuatu yang jelas terlihat alasannya ketika hidung, telinga, bahkan mata Issei mulai mengalirkan cairan merah kental pertanda pembuluh-pembuluh darah di dalam tubuhnya mulai meledak satu demi satu dengan kecepatan pesat.

"Kalian…!" dia menggeram sambil mengarahkan matanya pada Riser dan Ravel, menunjukkan retina yang menjadi merah karena pembuluh-pembuluh darah di dalamnya telah pecah. "Kalian tak hanya sudah berani membunuh Kiba, Akeno-san, dan Koneko-chan!"

"Boost! Boost! Boost!"

"Kalian tak hanya sudah berani menyakiti Buchou!"

"Boost!"

Pada saat ini, suara geraman Issei yang sudah terdengar sangat garang mengirim teror ke hati siapapun yang mendengarnya. "Partial Transformation! Equip: Right Hand!"

"Explosion!" Bahkan suara Ddraig yang terdengar melalui deklarasi Boosted Gear juga terdengar jauh lebih buas, seakan-akan Naga Surgawi itu bisa merasakan dan turut mengekspresikan amarah sang partner.

Issei melipat kedua tangannya ke dada, dan tak sampai lima detik kemudian, di tengah-tengah kedua telapak tangan yang ada dalam posisi setengah cengkeraman tersebut telah tercipta sebuah energi merah hasil kondensasi Youki yang dari awal sudah berukuran berkali-kali lipat dari biasanya.

Ravel hanya bisa membuka mulutnya dalam sebuah jeritan ngeri tanpa suara, menyadari bahwa kemampuan regenerasi yang membuat anggota Klan Phenex dijuluki Iblis Abadi takkan bisa berbuat apa-apa di hadapan Youki super padat yang masih terus bertambah besar itu.

"H-hentikan…!" Riser berteriak sambil mengambil beberapa langkah mundur. "Hentikan!"

"Tapi lebih dari itu…!" Namun Issei tak menggubris permohonan Riser, tak hanya karena gendang telinganya telah lama pecah, tapi juga karena dia memang terlalu marah untuk peduli. "Kalian juga sudah berani menyakiti Asia!"

"DAN SIAPAPUN YANG BERANI MENYAKITI ASIA—!"

Ketika jurus yang dia siapkan mencapai kekuatan penuh, Issei menarik kedua tangannya ke belakang, membuat suara derak dan keretak nyaring terdengar dari tulang lengannya yang telah retak total.

"—HARUS SIAP MERASAKAN AKIBATNYA!"

Issei memukulkan kedua tangannya yang sudah terkepal ke depan.

"DRAGON BLASTER!"

Ketika matanya melihat sinar merah yang memenuhi seluruh pandangannya itu, Rias hanya bisa terpana, dan hanya samar-samar menyadari bahwa jurus pamungkas sang Pion tak hanya mengguncang seluruh alam di sekelilingnya, tapi juga meretakkan dan hampir saja menghancurkan dinding pembatas dimensi artifisial tempat Rating Game itu berlangsung.

Saat itu, tak ada keraguan lagi dalam hati Rias bahwa Pionnya benar-benar pantas mendapat julukan sebagai [Red Dragon Emperor].

~•~

Ketika mata Issei terbuka untuk kali berikutnya, sang Sekiryuutei mendapati bahwa dia telah kembali ada di ruang klub Occult Kenkyubu yang berpenerangan remang-remang seperti biasa.

"Issei-san?"

Issei menelengkan kepalanya ke kiri, dan saat melihat posisi Asia, dia mulai tersadar perlahan-lahan apa yang sedang terjadi padanya.

"Bisa berbaring di pangkuan Asia…." Dengan lemah, Issei mengangkat tangan kanan dan mengepalkannya. "Aku bisa mati hari ini tanpa penyesalan—Auw…!"

"Dasar murid mesum," suara itu membuat Issei menyadari siapa yang baru saja menjentik dahinya. "Tapi kurasa kalau kau sudah bisa mengatakan itu, artinya kau memang baik-baik saja, Issei."

"Naruto-san…" Issei mendongak sedikit dan melihat kalau shinobi berambut pirang itu ada di samping Asia, dan kini sedang duduk di lengan sofa dengan tangan bersidekap dan mata biru langit yang memandang ke arahnya.

"Kau menang." Naruto mengacungkan ibu jarinya. "Kerja bagus."

Entah kenapa, ucapan selamat itu malah membuat Issei buang muka, wajahnya berkeriut dengan sebuah ekspresi getir. Namun Naruto yang selalu jeli kalau sudah dihadapkan pada seseorang yang sedang sedih langsung tahu apa yang kini tengah membebani hati murid dadakannya itu.

"Kau tahu nggak, Issei? Kematian yang terjadi dalam Rating Game itu nggak permanen."

Issei tertegun, dan langsung kembali menatap Naruto dengan mata melebar. "…Eh?"

"Himejima-san, Kiba-san, dan Toujou-san baik-baik saja kok," Naruto tersenyum tipis. "Jadi jangan pasang muka seperti itu, oke?"

Rasa lega yang teramat sangat membuat kendali diri Issei lenyap tak bersisa dan membuat matanya mulai berkaca-kaca.

"…Syukurlah…" Tak lama kemudian, kelopak mata Issei telah tertutup dan dia mulai terisak perlahan. "Syukurlah…"

"Sekarang aku mengerti kenapa kau bisa jadi sangat marah sampai nekat memakai jurus terlarang itu," Naruto meraih kepala Issei dan mulai mengacak-acak rambut cokelatnya. "Tapi lain kali, cari tahu kebenarannya dulu dan jangan langsung bikin kesimpulan sendiri, oke?"

Issei tak menjawab, dia hanya mengangguk sambil terus menyeka air mata yang sudah membasahi pipinya. Sementara Asia hanya diam saja, tangannya bergerak untuk mengelus kepala Issei dengan sayang.

Perlu hampir lima menit, dan berpuluh-puluh elusan tangan Asia, sampai akhirnya Issei berhenti menangis.

"N-Ngomong-ngomong…" suara Issei sedikit tercekat karena sisa isakan. "Kenapa kita cuma bertiga? Yang lain ada di mana?"

"Ah, soal itu…" Naruto melirik ke arah lain sambil menggaruk-garuk pipinya. "Issei… em, kau ingat nggak soal kemampuan [Quadruplet Promotion] yang kau pakai di Rating Game tadi?"

Dahi Issei berkerut untuk beberapa saat, sebelum matanya mulai melebar dan wajahnya sedikit memucat. "…Tolong jangan katakan—"

"Yep," Naruto menyela dengan suara pasrah. "Selamat, Issei. Dalam waktu kurang dari satu bulan, kau sudah dua kali membuat seluruh penghuni Meikai gempar." Naruto bersidekap lagi. "Itulah alasannya kenapa mereka nggak ada di sini, karena walaupun kemenangan kalian tidak dibatalkan, mereka masih harus meredam situasi."

Issei menepuk dahinya keras-keras. "…Oh, sial."

Pion itu tiba-tiba berdiri seperti mendapat nyawa baru dan menunjuk hidung Naruto dengan penuh emosi. "Semua ini salahmu, Naruto-san!"

"Oi," Naruto turut berdiri sembari mengerutkan dahinya karena merasa sedikit tersinggung. "Aku cuma bikin ide. Pelakunya kan tetap kau."

"Persetan!" Issei berteriak balik dengan panas. "Kalau saja kau nggak ngasih ide, aku juga nggak bakal melakukan hal itu, kampret!" dia mulai menarik-narik rambutnya penuh frustrasi. "Aaagh~, apa yang harus kulakukan sekarang?!"

"Yah…" Naruto mengangkat bahu. "Kita bisa pasrah… mungkin?"

"Naruto-san~!" Issei merengek, tangannya mencekal kerah Naruto dan mengguncang-guncang tubuh guru dadakannya itu sambil mewek-mewek lucu. "Jangan langsung menyerah begitu dong! Kau masih sayang nyawa kan?! Paling nggak bikin rencana apa kek gitu!"

Asia hanya bisa sweatdrop berat sembari tertawa kecil melihat tingkah konyol kedua cowok yang saat ini sudah menduduki dua peringkat paling atas dalam hatinya itu.

Naruto mencubit dagunya. "Hm, kurasa kita bisa—" perkataan Naruto tak sempat selesai karena sebuah lingkaran sihir besar telah muncul di lantai di tengah-tengah ruang klub Occult Kenkyu-bu. "Yah telat."

Wajah Issei menjadi benar-benar pasi ketika sosok Rias, Sona, dan semua anggota Peerage mereka muncul di ruangan tersebut. Bahkan yang lebih buruk lagi, di sana juga ada Sirzechs dan Grayfia.

"Issei," Rias memanggil namanya dengan nada menyenangkan, walau entah kenapa, mata sang ahli waris Klan Gremory yang menyipit itu mengatakan hal lain. "Kenapa aku baru tahu malam ini kalau kau punya kemampuan untuk memakai [Promotion] lebih dari satu kali?"

"Aha, aha, ahahahaha." Issei hanya bisa salah tingkah dan tertawa kikuk.

"Naruto-kun," tubuh Naruto yang berdiri di sebelah Issei langsung mengeras. "Salahkah kalau aku berasumsi bahwa kau sudah mengetahui soal hal ini, dan memilih untuk tidak memberitahu kami?"

"E-ehem, anu, O-Ojou-sama—" shinobi berambut pirang yang entah kenapa kehidupannya selalu dirundung apes itu berhenti bicara dan menelan ludah saat melihat kilatan tajam di mata 'Ojou-sama'nya. "…Cetar membahana."

Naruto dan Issei saling tatap, lalu sama-sama menganggukkan kepala. Kedua cowok itu melesat ke samping, sebelum masing-masing menjebol jendela ruang klub dengan sebuah teriakan membahana.

"Lari Terbirit-birit no Jutsu!"

Mereka berdua mendarat di halaman depan bangunan sekolah lama Akademi Kuoh itu dan langsung berlari sekuat tenaga tanpa lirik kanan-kiri-depan-belakang-atas-bawah lagi.

Suara teriakan Rias dan Sona terdengar dari arah belakang mereka. "Kembali ke sini, dasar cowok-cowok [Bego]!"

Issei memejamkan mata karena tak berani melihat apa yang mengejar mereka tanpa sedikitpun memperlambat laju larinya. "Aku masih sayang nyawa~!"

Naruto mendongakkan kepala dan menyampaikan protesnya senyaring yang ia bisa. "Dosa apa aku kemarin, Kami-sama~?!"

Arc II – Final Chapter

The End

A/N: Satu hal sebelum kita tutup Arc II ini. Bagi readers yang merasa bingung dengan sifat Issei yang berubah sedikit, maka ingatlah lagi bahwa sifat seorang remaja biasanya tergantung seperti apa pergaulannya. Dan di fic ini ada Naruto, orang yang tak hanya merupakan sahabat Issei, tapi juga orang yang Issei hormati dan kagumi. Jadi silakan tanya diri anda sendiri, apakah aneh kalau Iblis mesum itu mulai mencontoh beberapa sifat Naruto?

And that is all. I will see you again in Arc III. Do remember to leave me reviews.

Cheers, brothers and sisters.

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.