Standar Disclaimer Applied
.
.
.
.
Love & Choice © Tsurugi De Lelouch
-Part 10-
.
.
.
.
Sasuke Uchiha & Sakura Haruno
.
.
.
Enjoying Reading and Reviewing
I don't any profit from this story
.
.
.
Ketika cinta datang padanya
Hal yang indah menemani dalam hidupnya
Namun, saat pilihan ditentukan
Akankah cinta berpihak padanya?
.
.
- 10-
Semua yang terjadi sangatlah tanpa terencana, awalnya acara berlangsung khidmat berubah menjadi mencekam ketika putra bungsu Fugaku mengalami kecelakaan—dan membuat acara tersebut dibatalkan mendadak. Bersamaan itupula calon pengantin perempuan mengalami guncangan hebat dalam hidupnya hingga jatuh pingsan. Sebernanya tujuan Fugaku sendiri adalah menikahkan anak bungsunya bukan—anak sulungnya. Tapi rencananya yang ia kira berhasil nyatanya berubah. Kini Ayah dari dua putra ini tengah menyesali keputusan yang sengaja menjodohkan putra sulungnya dengan Sakura—dengan tujuan si bungsu sadar akan perasaannya.
Tapi, ini sudah terlambat. Sekarang ia hanya melihat putra bungsu kebanggaannya tengah terbaring tenang dalam alam mimpinya. Mungkin nanti setelah dirinya menceritakan rencana itu—mungkin anaknya itu akan membencinya—karena mempermainkan dua perasaan sekaligus. Kemudian ia gulirkan ke samping mendapati putra sulungnya tengah menunduk, lalu sebelah kanan kosong. Ah, dirinya tahu kalau istrinya menemani calon menantunya di kamar—kebetulan bersebelahan dengan anak bungsunya. Bagaimana tidak khawatir kalau calon menantunya yang tengah mengandung tiba-tiba pingsan—dan beruntungnya segera ditangani oleh dokter. Dan, juga yang melebihi ekspetasinya—Konan membawa Sakura dengan cepat ke rumah sakit. Sempat mereka saling kontak mata lalu karena keadaan Sakura pingsan—Konan langsung memutuskan pandangan pada Ayah mantan kekasihnya.
Dokter yang memeriksa keadaan anak bungsunya keluar hingga dirinya berdiri dan berbicara pada—pria berjas putih itu.
"Bagaimana dengan keadaan anakku, dok?"
Dengan helaan napas pendek, "Tuhan berpihak pada keluarga Tuan. Sebernanya kecelakaan yang menimpa anak anda lumayan parah. Tangan kirinya nyaris patah lalu beruntungnya tidak mengalami luka fatal pada organ vitalnya. Kemudian karena kepala anak ada terbentur cukup kuat—hal terburuk akan Tuan terima adalah gegar otak. Tapi kami belum mengonfirmasi itu terjadi, " jelas dokter itu lalu menghembuskan napasnya panjang, "keluarga anda harus berdoa supaya anak anda segera siuman." Kemudian dokter itupun segera meninggalkan Fugaku dan masuk ke kamar lain.
Sebetulnya ia lega dengan penjelasan dokter itu, namun kemungkinan terburuk belum dapat dipastikan. Dirinya harus berdoa agar anaknya baik-baik saja. Dirinya pun meminta Itachi—anak sulungnya masuk untuk menjaga adik bungsunya. Tanpa disuruh Ayahnya, Itachi menundukkan kepala pada Ayahnya lalu masuk ke kamar adiknya dirawat. Ia pun harus menyampaikan pada istrinya di dalam kamar Sakura dan berjalan ke kamar tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dirinya terbangun dan mendapati kalau ia tengah tertidur di padang rerumputan. Ia mengenggam tangannya dan memeriksa keadaan tubuhnya. Ia bernapas lega karena tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Tapi ia bertanya-tanya. Dimana dia? Seingatnya ia mengalami benturan cukup keras di kepalanya—karena kecelakaan. Kecelakaan? Berarti ia berada di alam mimpi. Ia baru menyadari akan hal itu. Ia ingat panggilan yang tertuju padanya—dan ucapan lembut yaitu…
Sasuke-kun…
Deg…
Suara siapa itu? Ucapan itu berulang kali bergema dalam indra pendengarannya. Seketika kepalanya terasa pusing. Lalu ia memejamkan mata sejenak dan memikirkan siapa yang memanggilnya itu. Ketika ia berusaha mengingat siapa gerangan perempuan yang memanggil saat terakhir ia kehilangan kesadarannya, ia mendengar suara…
Tou-chan…
Ia gulirkan matanya mencari sosok yang memanggil dengan sebutan… Ayah—padanya. Memang ia sudah menikah dan punya anak? Dan ia membulat tak percaya melihat dua sosok yang suaranya menganggu otaknya. Satu sosok perempuan berambut merah muda dan bocah versi mini dirinya tengah berlari ke arahnya. Dirinya tidak siap dengan kenyataan yang menimpanya dan bocah itu langsung memeluknya bersamaan dengan perempuan itu. Dan mengucapkan satu kata serempak
Pulanglah… kami menunggumu
Pulanglah… kami menunggumu
.
.
.
ARGHHH…
.
.
.
Aroma obat memenuhi indra penciumannya, mata hitamnya ia gulirkan ke sana kemari—dia berusaha memastikan ini kenyataan atau tidak. Ketika ia berusaha sadar, dirinya terkejut melihat sang kakak dengan setia menunggunya tertidur di kursi. Ia tersenyum miris karena mungkin—
Arghh…
Ia memegang kepalanya dan membuat Itachi—sang kakak sadar akan tidurnya mendengar suaranya.
"Ototou…"
"…Nii-san…"
Itachi langsung berdiri dan mengusap kepala adiknya dengan helaan napas lega. "Syukurlah kau cepat sadar, Ototou. Kami sudah menunggumu seharian dan kau membuat semua orang khawatir," ungkapnya panjang lebar.
"Ba… bagaimana dengan acara per—"
Putra sulung dari Fugaku Uchiha ini menggelengkan kepalanya, "jangan membicarakan apapun tentang pernikahan, ototou. Yang jelas nanti aku akan memberi pelajaranmu nanti…," ia menghembuskan napasnya, "selamat datang kembali ototou."
Sasuke—adik dari Itachi berdecih. "Hn, kenapa tidak sekarang memberiku pelajarannya, baka Nii-san?" ejeknya.
Itachi langsung mengcak rambut adiknya. "Nanti setelah Sakura sadar, baru kakak memberimu pelajaran. Tenang saja tidak akan menghancurkan tubuhmu yang lemah itu, Sasuke."
"Brengsek!"Sasuke menepis tangan kakaknya itu.
Lalu Itachi melambaikan tangannya dan keluar dari kamar tersebut—meninggalkan Sasuke sendiri disana. Putra bungsu Fugaku itu bergumam pelan dan menatap langit-langit kamar. 'bagaimana dengan keadaanmu, Sakura?'.
Sedikit berdecih lagi, "seharusnya keinginanku mati. Kenapa aku masih ada disini?" ungkap Sasuke.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Fugaku, apakah Sasuke sudah siuman?"
Fugaku menggelengkan kepalanya atas pertanyaan dari sang istri. Sudah dua puluh tiga jam, mereka menunggu kesadaran Sasuke setelah kecelakaan itu. Begitu juga dengan keadaan Sakura yang belum sadar semenjak kejadian itu. Terkadang sebagai orangtua merasa bersalah memaksa keinginan untuk menjodohkan anak mereka. Sebernanya tujuan mereka adalah membuat mereka sadar akan perasaan. Apalagi diperuntukkan dua putra kebanggaan Fugaku itu yang sulit menyadari perasaan mereka masing-masing.
Cklek
Itachi—putra sulung Fugaku masuk ke dalam dengan wajah yang sumringah dan berbicara hal yang membuat—lega semua penghuni di dalam kamar tersebut.
"Sasuke sudah siuman sekarang."
Seakan tak percaya dengan ucapan putra sulungnya itu, Fugaku memegang bahu Itachi dan menatap iris yang sama dengannya. Senyum mengembang pada bibir Itachi membuat Ayah dari dua anak ini sangat lega. Segera Fugaku keluar dari kamar itu diikuti oleh Mikoto—sang Ibu, dan meninggalkan dirinya bersama orang tua Sakura disana. Melihat gelagat Itachi membuat Kizashi memberi kesempatan untuk tetap berada bersama mereka.
"Paman sebernanya maksud kalian menjodohkanku dengan Sakura itu… maksudnya apa?" Tanya Itachi segera menduduki kursi yang sempat diduduki oleh Ayahnya.
Baik Kizashi dan Mebuki saling berpandangan lalu menatap Itachi. Sembari menatap putri tunggalnya yang masih belum sadar, Kizashi kemudian menjelaskan apa yang menjadi rahasia antara dirinya dan Fugaku.
"Begini Itachi. Awalnya Ayahmu yang merencanakan perjodohan antara anakku dan adikmu saat di restoran beberapa bulan yang lalu. Tapi—melihat gelagat adikmu terkesan cuek lalu kau tidak merespon. Maka, Ayahmu sengaja menjodohkanmu dengan Sakura. Maksudnya adalah membuat anak kami dan adikmu sadar. Namun tak semudah kami kira ternyata," jelas Kizashi dengan panjang lebar.
Seakan itu hanya lelucon, Itachi sedikit tertawa kecil lalu menatap orangtua Sakura lagi. "Apa kalian tahu aku nyaris saja jatuh cinta pada anakmu, paman—jika adik bodohku tidak menantangku untuk memperebutkan Sakura," ujar Itachi.
"Maafkan kami nak Itachi. Tujuan kami sebetulnya untuk kebahagiaan kalian, nyatanya membuat semuanya kacau," ucap Mebuki penuh nada penyesalan.
Itachi menghela napasnya berat, "aku tak bisa menyalahkan kalian karena semuanya telah terjadi. Tidak ada yang perlu disalahkan. Yang penting mereka berdua akan bersatu, itu saja."
"Bagaimana denganmu, nak Itachi?" Tanya Mebuki.
Putra sulung itu mengusap rambut—mantan calon istrinya, "setelah kejadian ini… aku sudah berjanji pada satu wanita yang kucintai bahwa aku akan membahagiakan adikku—dengan menyerahkan Sakura padanya." Itachi tersenyum sangat tipis, "karena anak yang berada didalam rahim Sakura membutuhkan Ayah kandung… siapa lagi kalau bukan baka ototou-ku," lanjutnya.
Sontak pernyataan Itachi membuat Mebuki terkejut, "j-jadi bukan kau y-yang…?" serunya.
"Itu benar, bibi. Maafkan aku, aku tak bisa menjelaskan saat itu. Kalau bibi tidak percaya, bisa bertanya dengan anakmu sendiri," Itachi menatap perempuan yang sudah sadar, "bukankah begitu, Sakura?" ujarnya.
Mebuki dan Kizashi melihat anaknya yang sudah siuman—membuat sang Ibu, Mebuki memeluk anak kesayangannya itu. "Syukurlah… kau sudah sadar, Sakura," ucap Mebuki penuh syukur.
"Ayah… Ibu… bagaimana aku berada disini?" Tanya Sakura yang masih menyesuaikan keadaannya itu, lalu matanya bersirobok dengan mata kelam milik Itachi, "I-itachi-san…"
Sedikit tertawa kecil, "tak perlu terkejut, Sakura-chan. Mungkin kau akan memanggilku Niisan nanti," kekeh Itachi.
"Maksud dari Itachi-san?"
"Ah, nanti bisa dijelaskan. Aku mau ke kamar sebelah dulu," ucap Itachi.
"Apakah Sasuke-kun baik-baik saja, Itachi-san?" Tanya Sakura cemas.
Dengan senyuman tipis, "baka ototou-ku sudah sadar sepuluh menit yang lalu. Memang kenapa?" seru Itachi sembari bangkit dari kursinya lalu perlahan meninggalkan mereka.
"Bisakah aku bertemu dengan Sasuke-kun sekarang?" pinta Sakura.
Kizashi menahan pergerakan anak kesayangannya dari tempat tidur, "nak, kamu baru sadar. Jadi nanti saja menemui Sasuke,"tuturnya.
Sakura memaksakan dirinya bangkit dan sedikit oleng, beruntungnya Itachi sigap menahan tubuh perempuan itu. "Keras kepala sekali, kau perlu merenggangkan badanmu—baru menemui ototou-ku, Sakura?" ucapnya.
"Aku tidak peduli." Sembari mengusap perutnya, "anaknya… anaknya rindu dengan Ayahnya, Itachi-san. Kau tahu aku… aku sangat ingin bertemu dengan adikmu. Aku mohon…" pinta Sakura memelas.
"Baiklah, tapi kau harus duduk di kursi roda dan kali ini menurut, Sakura," ucap Itachi tegas.
"Ya."
Kemudian Kizashi mendorong kursi roda lalu Sakura duduk disana. "Nak, apa perlu kami temani kesana?" Tanyanya.
"Kalian boleh ikut, paman… bibi. Ayo," ajak Itachi lalu mendorong kursi roda menuju kamar adik kesayangannya yang bersebelahan dengan kamar Sakura.
.
.
.
.
.
.
Keheningan sempat tercipta diantara anak dan orangtua di dalam ruangan itu. Sang anak hanya diam lalu menoleh ke samping. Dari sikapnya, mungkin dirinya disebut anak durhaka—karena tak mendengar pembicaraan orangtuanya. Tapi, ada rasa kecewa ketika dirinya mendengar beberapa kalimat dari orangtuanya.
"Sebernanya perjodohan Sakura itu untuk kau, anakku. Tapi karena tidak ada gerakanmu merespon keadaan itu. Maka, Ayah berbalik menjodohkannya pada kakakmu. Maksud dari tujuan kami adalah menyadarkanmu akan perasaanmu pada Sakura."
Otak Uchiha bungsu kini terasa pening ketika mendapatkan fakta yang mengejutkan. Sebetulnya ia tidak ingin menyalahkan siapapun akibat dari perubahan sikapnya sekarang. Hal terkonyol perjodohan hanya untuk menyadarkan perasaannya saja. Kenapa tidak langsung saja dijodohkan pada dirinya—sehingga hal seperti ini tak terjadi. Bukan dirinya saja menjadi korban, tapi kakaknya dan… Sakura.
Memang dirinya tak pernah mudah peka terhadap kejadian, tapi setidaknya jangan memutuskan yang membuatnya stress dan selalu diam-diam berhubungan dengan Sakura, serta perang dingin dengan kakaknya sendiri. Sampai-sampai dirinya nyaris melakukan bunuh diri—beruntungnya percobaan itu dihentikan oleh sahabatnya, Naruto.
Siapa yang pantas disalahkan? Dia memikirkan kalau saja saat ia menginjak sekolah menengah pertama dulu—dia menyatakan cinta pada Sakura. Semua ini tidak akan terjadi dan berubah menjadi indah. Tapi, memang rencana tak sesuai dengan kenyataan. Hanya penyesalan dan akhir yang menyedihkan didapat.
"Sasuke…"
"Sas—"
"Sasuke, kau mendengar suara kami, nak?"
Laki-laki itu tersentak lamunannya dan menatap orangtua tercinta. "Hn, maafkan aku… Tousan… Kaasan," ungkap Sasuke.
Mikoto segera berdiri dan memeluk anak bungsunya dengan kasih sayang. "Kami yang seharusnya yang minta maaf padamu, nak. Kami salah persepsi atas keputusan itu. Kami kira akan berhasil, tapi nyatanya tidak berhasil. Kami bersyukur kau selamat, nak."
"Tidak ada yang disalahkan disini, Ibu."
"Maafkan Ayah, Sasuke," ungkap Fugaku.
Sasuke melepas pelukan lalu menghapuskan air mata yang mengalir dari kelopak mata Ibunya, kemudian menatap Fugaku—Ayahnya. "Tousan tak perlu minta maaf."
"—Karena ini membuatmu stress, Sasuke. Gara-gara Ayah, kalian semua menderita… karena Ayah—"
"Cukup Ayah, tak perlu menyalahkan diri sendiri. Yang terpenting aku masih hidup, bukan?" kilah Sasuke.
Cklek…
Suara kenop pintu terbuka hingga tiga pasang mata kelam menoleh kesana. Muncul empat sosok yakni Kizashi, Mebuki, Itachi dan Sakura—yang berada di kursi roda. Sontak membuat ketiganya kaget terutama Sasuke yang menatap iris teduh milik Sakura… lagi.
"Sakura…," ucap Sasuke sangat pelan.
Sedikit berdeham, Itachi menggaruk kepalanya. "Apakah kami menganggu kalian?" Tanyanya.
"Ah, tidak Itachi." Mikoto menatap Sakura, "yookata… Sakura-chan…" lalu ibu dari dua anak itu mendekat dan mengenggam tangan Sakura.
"Bibi, maaf membuat kalian khawatir," sesal Sakura.
"Daijobu… Daijobu… nak," timpal Mikoto.
Anak bungsu dari Fugaku Uchiha menghela napasnya, "bisakah aku berbicara dengan Sakura. Hanya berdua saja," pinta Sasuke.
Itachi mengetahui perihal yang akan dibicarakan adiknya, maka dirinya segera menambahkan perkataan dari adiknya. "Aku juga ikut, karena diriku juga terlibat dalam permasalahan ini."
"Baiklah, kami akan keluar," ucap Fugaku.
Mereka pun satu persatu keluar dari kamar tersebut, dan meninggalkan ketiga anak muda di dalam sana. Kesunyian sempat melanda mereka bertiga hingga Sasuke memulai pembicaraan diantara mereka.
"Bagaimana dengan keadaanmu sekarang… Sakura?" Tanya putra bungsu Fugaku Uchiha pada satu-satunya perempuan di dalam ruangan itu.
Perempuan musim semi itu hanya menatap sekeliling tanpa berkontak mata langsung dengan Sasuke. Ia takut ini hanya mimpi semata, "keadaanku baik-baik saja."
"Tatap aku saat berbicara, Sakura," pinta Sasuke.
"Ngh—aku…"
"—Sasuke, tadi aku sudah bilang akan memberi pelajaran padamu, bukan?" potong Itachi.
Sasuke memandang kakaknya, "jangan memotong pembicaraan kami berdua, Baka Niisan," geramnya.
"Mau tak mau. Suka atau tidak suka. Aku terlibat dalam masalah ini, Sasuke. Jadi—" Itachi mengepalkan tangannya lalu mendekat pada adiknya itu.
Sakura melihatnya itu tak mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh Itachi. Namun, ketika melihat tangan Itachi mengepal membuat perempuan musim semi terkejut dan menghentikan pergerakan anak sulung Fugaku Uchiha—dengan memegang tangan Itachi.
"Itachi-san…"
"Sakura, untuk kali ini saja. Aku harus memberi pelajaran pada adikku. Tolong lepaskan tanganmu sekarang," pinta Itachi tegas.
Segera Sakura melepaskan pegangan tangan itu dan sepersekian detik…
Buaagh…
Itachi melepaskan pukulan yang cukup kuat pada wajah adiknya, akibat perbuatan itu—membuat Sakura tak percaya dan menutup mulutnya. Sedangkan, Sasuke merasa perih akibat pukulan kakaknya bersamaan dengan luka pada kepalanya. Lalu Itachi sendiri melepaskan seluruh amarah yang dipendamnya hanya menghela napasnya panjang dan menatap adiknya tersebut.
"Brengsek, kau mau membuatku mati sekarat hah!" umpat Sasuke mengusap wajahnya bersamaan melayangkan tatapan tajam pada Itachi.
Itachi hanya mendengus, "permintaanmu ingin mati, bukan? Aku bersedia menjadi malaikat mautmu, ototou," balasnya.
"Kau melakukan ini didepan Sakura, baka!" seru Sasuke.
"Ooh…, jadi kau malu dengan Sakura dan calon anakmu, Sasuke?" Tanya Itachi meniupkan tangannnya kemudian menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Itachi-san, perbuatanmu benar-benar keterlaluan. Bagaimana kalau Sasuke-kun kembali tak sadarkan diri?" cecar Sakura.
Anak sulung Fugaku ini menoleh lalu menatap Sakura. "Tenang saja, calon adik iparku. Dia harus merasakan bagaimana penderitaanku menjalani pertunangan tak kuinginkan lalu… menahan perasaanku pada perempuan yang kucintai, Sakura?" ungkap Itachi.
Sasuke menyeringai kecil, "seharusnya kau tidak menahan perasaanmu itu, baka Niisan. Kenapa malah diam saja saat perjodohan itu? Malah kau menerima dengan suka cita," ejeknya.
"Harus aku? Harus aku yang menyadarinya," ucap Itachi menyentilkan dahi Sasuke hingga laki-laki itu meringis kesakitan, "—kita seharusnya yang sama-sama sadar, baka ototou."
"Lalu bagaimana denganku?" Tanya Sakura memotong perkataan mereka berdua.
Itachi dan Sasuke menatap perempuan musim semi itu, hingga si bungsu menjawab pertanyaan dari Sakura. "Kalau kau bersikeras. Seharusnya kita sama-sama sadar akan hal ini."
"—mungkin tentang kejadian ini, kita menyadari kalau menahan perasaan itu akan menyakiti semua orang."
Sakura pun menyambung perkataan kedua laki-laki itu, "maka dari itu, pilihan yang tepat adalah jujur pada perasaan masing-masing." Kemudian perempuan musim semi itu tertawa kecil, "kita ini lucu. Bagaikan menjalani sebuah permainan dan kita sama-sama kalah," kekehnya.
"Sebuah permainan. Lalu bagaimana dengan perkelahian kita dulu, Niisan?" seru Sasuke.
"Perkelahian yang mana, Sasuke-chan?" ejek Itachi.
Sasuke langsung mengambil bantal dan melempar tepat pada wajah kakaknya. "Itu hukuman untukmu karena mengucapkan kata laknat itu didepan Sakura dan calon anakku, baka!"
"Sudahlah… kalian berdua," seru Sakura lalu menutup mulutnya menahan tawanya.
"Dengar Sakura, dia pernah bilang kalau dia menyukaimu. Jadi kuhukum dia karena menyukaimu padahal mencintai Konan-nee. Dasar plin-plan," timpal Sasuke.
"Hei, kau yang plin-plan, adikku yang bodoh!" Itachi mengusap wajahnya dan melempar balik bantal tepat pada wajah Sasuke.
Sasuke sedikit menggeram, "kau mau membunuhku hah! Lukaku belum sembuh, dasar kakak tidak tahu diri!" balasnya.
"Dasar adikku yang pengecut!"
"Kakak yang tidak tegas!"
Mereka saling berbalas ejekan dan tak menyadari kalau Sakura tengah tertawa melihat tingkah konyol kakak beradik itu. Perempuan musim semi itu bersyukur kalau hubungan mereka berdua kembali akur dan hangat sebagai saudara. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi sekarang.
"Itachi-nii, bisa aku berbicara pada adikmu sekarang?" pinta Sakura.
Sedikit tersenyum tipis, "baiklah adik iparku." Itachi kemudian menatap adik satu-satunya, "Sasuke, jangan macam-macam pada Sakura. Ingat adik iparku sedang mengandung calon keponakanku." Setelah ucapan itu, Itachi langsung meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan tersebut.
Sasuke hanya menggeram pelan akan ucapan kakaknya itu, "dasar. Bilang saja mau bertemu dengan Konan-nee…" serunya.
"An-ano, Sasuke-kun…"
"Hn, ada apa Sakura?"
Sakura mendorong kursi rodanya hingga dirinya dekat dengan Sasuke. "Bisa kau merunduk sebentar saja?"
Tanpa berlangsung lama, Sasuke merunduk hingga wajah sejajar dengan wajah perempuan musim semi itu.
Chuu
Satu kecupan manis mendarat di bibir Sasuke, lalu dengan cepat Sakura menjauhkan wajahnya—namun tangan kanan pria itu menahan pergerakan Sakura. Satu hadiah—ciuman manis di dahi dan sangat lama—membuat keduanya sama-sama memejamkan matanya. Mereka berdua saling meresapi perasaan yang muncul secara tiba-tiba.
Lalu Sasuke melepaskan ciuman di dahi Sakura dan berbisik di telinga kekasihnya, "I'm still love you, Sakura."
Perempuan musim semi itu menahan tangisan haru, "please, replay again your sentence…" pinta Sakura.
"Aku akan mengulang ucapanku sampai kau puas, Sakura." Sasuke menarik napasnya dan mengelus pucuk kepala Sakura, "aku cinta kamu… aku cinta kamu… aku cinta kamu… aku cinta kamu… aku cinta kamu sampai akhir, Sakura."
"Ulangi lagi, Sasuke-kun…" kekeh Sakura.
"Hei, itu sudah cukup, Sakura," gerutu Sasuke.
Sakura lalu mengusap perutnya, "ucapkan cintamu pada calon anak kita, Sasuke-kun."
Tangan kanan Sasuke mengelus perut Sakura dan mengucapkan kalimat singkat namun mengandung makna yang tersirat. "Maafkan Ayah, nak. Sekarang Ayah akan melindungimu dan… Ayah sangat mencintaimu sama seperti Ibumu."
"Hm, coba kau lamar aku, Sasuke-kun."
"Hah?"
Sakura langsung mengerucutkan bibirnya, "huh, kau tidak romantis dan tidak peka! Bagaimana kau mau menikah denganku kalau—kau tidak melamarku, Sasuke-kuun…" ucapnya kesal.
"Yang penting aku mencintaimu, itu sudah cukup kan," kilah Sasuke.
"Heiii, aku mau kau lamar aku, Sasuke-kun. Kau tidak mau anak kita memiliki orangtua utuh?" pinta Sakura memelas.
Sasuke menutup wajahnya, "Sakura, melamar seorang perempuan membutuhkan persiapan dan keberanian yang cukup. Kau lihat sendiri aku baru kecelakaan, jadi nanti saja."
"Nanti kapan?" gerutu Sakura.
"Secepatnya. Maka dari itu, doakan aku sembuh dulu," ungkap Sasuke.
"Sekarang atau tidak sama sekali," ucap Sakura setengah memaksa.
Lamat-lamat Sasuke menghela napasnya. "Baiklah, aku hanya mengucapkan satu kalimat sekali saja. Jadi dengarkan baik-baik."
Kemudian Sakura menatap lurus-lurus kekasihnya, Sasuke menggigit bibirnya dan menarik satu tarikan napas. "Sakura… will you ma—"
Cklek… brak
"TEMEEE…"
Dahi Sasuke berkedut jengkel mendengar suara cempreng khas sahabatnya itu. Akibatnya mood pria itu menjadi kacau seketika lalu memberikan tatapan mematikan pada Naruto. Tapi, bukan hanya Naruto saja tapi—ada Hinata, Neji, Shikamaru, Ino, Sai dan Shion seraya membawa bingkisan buah-buahan.
"Ah, kalian…" seru Sakura.
Ino langsung berlari dan memeluk sahabat sejak kecil, "Sakuraaa… kau membuat kami cemas~"
"Tenang saja sekarang aku sudah baik-baik saja kok," balas Sakura.
Bersamaan itupula, Sasuke langsung mengepalkan tangannya dan berniat meninju kepala sahabat pirangnya itu dengan jitakan maut—namun segera dihentikan oleh Sai. "Kau tak berniat membuat tanganmu tambah cidera, Sasuke?"
"Hn."
"Maafkan aku, Teme. Habisnya sahabatmu ini khawatir tahu dengan keadaanmu," seru Naruto.
Sasuke sedikit menyeringai, "apa kau kuanggap sahabatku? Kukira teriakanmu tadi tak membuat orang-orang sekarat, heh?" ejeknya.
"Aaaah… temee. Aku sudah bersusah payah mengucapkan maaf padamu dengan menundukkan kepala. Kau tahu ini menurunkan harga diriku…" dengus Naruto.
"Oh, jadi kau punya harga diri?" Tanya Shikamaru.
"Kenapa kau ikut-ikut, Shikamaru?" ucap balik Naruto.
Neji ikut menimpali. "Kupikir aku harus mengetesmu sebagai calon adik iparku."
"Heiii, Nejii. Kenapa kau juga?"
Keributan Naruto membuat suasana menjadi hangat dan Sasuke sendiri—menatap dalam perempuan musim seminya. Mereka seakan memberi sinyal tertentu.
"Nanti saja. Biarkan seperti ini dulu."
"Tentu saja, akan kutunggu."
.
.
.
.
.
.
.
.
"The Only thing we're allowed to do is to believe that we won't regret the choice we made"
-[Rivaille – Shingeki no Kyojin]-
.
.
.
.
.
*To be continued*
Wulanz Aihara Notes
Akhirnya karyaku selesai juga, mungkin satu atau dua chapter lagi. Untuk karyaku ini seakan ngebut dan alurnya- ngerush, kalau menurut pemikiranku sih. Tapi, karena ide sudah nyampe kesini. Jadi yaa apa boleh buat. Endingnya mungkin sudah ketebak ya. Memang aku nggak pinter bikin ending super mengejutkan. Namun untuk selanjutnya akan lebih baik lagi.
Aku menulis chapter ini ada alasan tertentu, karena untuk satu bulan ini saya free alias tanpa kegiatan sedikitpun. Karena, jadwal penelitianku terundur sampai bulan Juli. Dan, Insya Allah, saya akan mengejar wisuda bulan November. Untuk bulan Agustus tidak terkejar lagi. Ini targetku, semoga diperlancar.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
Palembang, 04 Juni 2014
Tsurugi De Lelouch
