Galerians, in.
A/N: Hamba mau minta maaf dulu pada readers sekalian. Jujur saja, chapter ini sebenarnya sudah selesai dari setengah bulan lalu, tapi hamba kurang puas dengan isinya. Setelah melalui proses koreksi dan tulis ulang berkali-kali yang membuat 20.000 kata lebih harus dihapus, inilah hasil akhir yang setidaknya sesuai dengan selera hamba. Hamba harap readers sekalian bersedia memaafkan penulis amatiran yang agak kurang waras dan rada kuper ini.
Here are BGM to keep you company for this chapter:
1. Gintama OST – Wonderful Days
2. Guilty Crown OST – Euterpe
3. RWBY OST – I Burn Album Version
Warning:
Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!
Selamat membaca!
~••~
When The Sun Averts a War
Chapter 1
(My Daily Life Can't be This Complicated!)
(Play Gintama OST - Wonderful Days)
Pagi, adalah waktu di mana manusia bangun dari tidur mereka, entah itu dilanjutkan dengan mandi, cuci muka dan sikat gigi, atau malah hanya mengerjap beberapa kali sebelum molor lagi. Pagi, adalah waktu di mana sebagian besar aktivitas manusia bermula, baik itu pergi sekolah, berangkat ke kantor, membuka toko, dan lain sebagainya, kecuali untuk para pengangguran dan hikikomori, tentu saja.
Singkat cerita, pagi adalah waktu di mana manusia memulai hari mereka.
Sayang, untuk pagi hari kali ini, norma tak tertulis itu tak berlaku untuk seorang shinobi remaja dengan nama lengkap Namikaze Naruto. Dia tak perlu jam tangan untuk mengetahui bahwa waktu sudah menunjukkan hampir pukul jam delapan, waktu di mana bumi mulai diterangi oleh cahaya sebagai pertanda bahwa matahari telah kembali menduduki tahtanya di singgasana langit. Dan tidak seperti orang kebanyakan yang bersiap meninggalkan rumah mereka untuk pergi ke tujuan masing-masing, di pagi hari yang cerah ini Naruto justru terlihat melangkah gontai menuju pintu depan rumahnya, menandakan bahwa shinobi berambut pirang itu baru saja pulang setelah menyelesaikan dua misi beruntun yang membuatnya harus tidak masuk sekolah selama empat hari berturut-turut karena lokasi kerja yang ada di luar kota.
Naruto tahu bahwa aksi tak masuk sekolah seperti itu pasti akan membuatnya dapat masalah lagi, tapi apa mau dikata? Misi-misi itu harus ia ambil gara-gara uang yang telah Naruto kumpulkan selama hampir dua bulan telah habis untuk membeli ponsel baru, hingga dia harus mencari nafkah lagi untuk bisa membayar sewa rumah dan membeli kebutuhan rumah tangga lainnya untuk satu bulan ke depan.
Pembelian ponsel baru itu membawa keberuntungan dan kesialan sekaligus bagi Naruto. Beruntung, karena setelah memasang kartu SIM-nya yang lama, Naruto langsung mendapat dua tawaran misi secara sekaligus. Dan sial, karena Tuhan sepertinya benar-benar berniat untuk memberi ujian pada makhluk ciptaanNya yang satu ini, dalam bentuk misi-misi Naruto yang lagi-lagi berubah proporsi dengan sangat drastis. Hasilnya bisa diduga dengan mudah. Empat hari bekerja tanpa henti telah membuat tenaga Naruto benar-benar terkuras.
Saking sibuknya merutuki nasib apes yang entah kenapa sangat bernafsu memburunya ke manapun dia pergi, Naruto hampir tidak merasakan sensasi kait di belakang kulit perutnya. Remaja yang kelelahan itu baru menyadari bahwa Kurama telah membebaskan diri dari Shiki Fuujin ketika dia tiba di ruang tengah dan langsung menuju kulkas untuk mengambil air minum.
"Jadi…" Kurama buka suara sambil memperhatikan bagaimana Naruto menghabiskan sebotol air mineral sekali jalan. "Bagaimana pendapat Goshujin-sama tentang misi kali ini?"
Naruto membuang botol yang sudah kosong itu ke bak sampah, melangkah ke pintu kamar mandi untuk melempar jaketnya tepat ke dalam keranjang yang ada di samping mesin cuci hingga kini ia hanya tinggal mengenakan sebuah kaos biru gelap berlengan panjang dan celana jins, sebelum berbalik menghadap Kurama dengan muka yang total tanpa ekspresi. "Maksudmu kau masih belum bisa menduga-duga dari wajahku yang masih penuh keringat dingin ini?"
"Yah, Kurama kan khawatir." Kurama tersenyum simpul. "Mengingat di misi yang pertama—"
…
"Permisi!" Naruto membuka pintu depan sebuah gudang terbengkalai sambil memberi salam. "Anu, apa di sini ada anak yang bernama—?!"
Naruto tak jadi menyelesaikan kalimatnya ketika matanya menangkap pemandangan tumpukan bungkusan-bungkusan plastik bening berukuran kecil dan berisi serbuk putih yang langsung ia kenali sebagai substansi berbahaya dengan nama ilmiah diamorfin hidroklorida, atau dari pengalaman Naruto berurusan dengan dunia kriminal, lebih terkenal dengan nama heroin atau putaw. Di meja di sampingnya, ada satu jenis lagi yang nampak seperti tumbuhan dengan warna coklat kehijauan, atau yang lebih diketahui sebagai ganja bagi para pencandunya.
Naruto memindahkan tatapannya. Di bagian lain ruangan, penglihatan Naruto menangkap dua meja panjang di mana terdapat hampir dua puluh personil yang bekerja membungkus substansi yang dikenal luas bisa menyebabkan kecanduan itu ke dalam bungkusan-bungkusan kecil yang siap untuk diedarkan, personil-personil yang perhatiannya teralihkan dan kini tertuju pada pendatang baru berambut pirang yang masih terlongo-longo dongo di pintu.
Secara serentak dan perlahan-lahan, semua orang yang masih memakai saputangan sebagai penutup wajah itu menghentikan pekerjaan mereka dan meraih senjata mereka masing-masing. Mulai dari pemukul baseball, tongkat kayu yang penuh paku, pisau, parang, bahkan pedang.
"Em… a-anu…" Shinobi berambut pirang itu mengusap-usap tengkuknya sembari tersenyum kikuk. "Apa kita tidak bisa membicarakan ini dengan baik-baik?"
Ketika kedua puluh orang itu berlari menyerbu Naruto dengan teriakan lantang, Naruto hanya bisa menepuk dahinya dan menghela napas panjang. "…Sudah kuduga begitu."
…
"—permintaan untuk mencari seorang anak remaja yang lari dari rumah malah membuat Goshujin-sama harus berurusan dengan dunia kriminal." Kurama menggeleng-gelengkan kepala.
"Paling nggak aku berhasil membawa pulang anak tak tahu diuntung itu kembali ke orangtuanya." Naruto memijit-mijit pelipisnya karena teringat rasa sakit kepala yang ia derita kemarin. Bagaimana tidak pusing? Walau Naruto akhirnya berhasil menemukan anak remaja itu setelah sebuah operasi recon besar yang ia lakukan dengan bantuan tiga puluh Kagebunshin yang dilengkapi dengan Henge dan disebar di seisi kota, nasib Naruto yang apes membuat masalahnya belum selesai sampai di situ.
Selidik punya selidik, ternyata anak itu punya hutang besar pada bos bandar dan memutuskan untuk meninggalkan rumah karena tak mau melibatkan orangtuanya. Dan gara-gara itu, Naruto yang tidak tega menghadapi kliennya tanpa membawa pulang anak mereka, ujung-ujungnya harus membabat habis sebuah jaringan pengedar narkoba sampai ke akar-akarnya.
Mulai dari menginfiltrasi markas mereka dengan bantuan Fuuin: Meimei Mensou (Invisible Countenance), mengumpulkan bukti-bukti otentik dalam bentuk foto dan video yang kemudian ia kirim ke badan polisi, sebelum akhirnya diam-diam membantu operasi besar-besaran yang dilaksanakan oleh pihak berwenang dengan menghajar gembong-gembong organisasi kriminal itu sebelum mereka sempat melarikan diri, semua itu Naruto lakukan hanya untuk memastikan agar remaja yang usianya masih enam belas tahun itu bisa pulang ke orangtuanya tanpa perlu khawatir bahwa organisasi yang telah menjeratnya ke dunia narkoba akan mengejarnya lagi.
Sungguh, Naruto ingin tahu apakah ini memang benar-benar takdirnya, ataukah ada semacam dosa besar yang dia lakukan di kehidupan sebelumnya sampai Tuhan membuat kehidupan Naruto sampai sesulit ini.
"Paling nggak aku dapat bonus setelah aku menjelaskan duduk permasalahannya pada mereka," Naruto mendesah. "Dan lagi, mengurus organisasi bandar narkoba yang nggak gede-gede amat seperti itu masih bisa dibilang mudah kalau dibandingkan dengan misi yang selanjutnya."
Naruto mengerang penuh derita saat mengingat seperti apa tepatnya misi kedua yang jauh lebih singkat, namun juga jauh lebih mengguncang jiwa bagi Naruto itu.
Misi kedua tersebut bermula dengan sebuah panggilan telepon ketika dia baru saja tiba di stasiun kereta api. Dia mendapat permintaan untuk memeriksa sebuah rumah kosong yang mau dijual, dan karena merasa bahwa misi itu cukup simpel, Naruto membatalkan niatnya untuk pulang dan membeli tiket yang membawanya ke kota lain.
Akan tetapi, melihat gerak-gerik sang agen yang gugup dan kurang normal saat Naruto menemuinya membuat sang pemuda menjadi curiga. Karena tak ingin dikejutkan lagi seperti misinya yang sebelumnya, Naruto memutuskan untuk mengumpulkan informasi terlebih dahulu sebelum melaksanakan misinya yang dia lakukan dengan membaca koran-koran lama di perpustakaan lokal, bertanya-tanya pada para penduduk yang tinggal di sekeliling rumah tersebut, bahkan sampai menyelinap ke ruang arsip kepolisian setempat.
Apa yang dia temukan membuat Naruto sangat beryukur karena telah memutuskan untuk mencari informasi terlebih dahulu. Usut punya usut, rumah tersebut telah berkali-kali menjadi pusat perhatian karena orang-orang yang mendiaminya selalu saja meninggal dengan cara yang mengerikan. Dan puncaknya terjadi kurang lebih satu bulan yang lalu, saat rumah tersebut menjadi pusat perhatian lagi setelah semua penghuninya dibunuh dengan sadis oleh sang kepala keluarga yang kemudian bunuh diri.
Sebagai konsekuensinya, Naruto harus berurusan dengan penampakan supranatural yang benar-benar mengguncang jiwa. Dia sangat benci hal seperti itu. Jujur, Naruto lebih memilih melawan Mouryou atau Satori lagi, atau bahkan dua-duanya secara sekaligus kalau perlu, daripada urusan-urusan arwah gentayangan yang selalu saja membuat Naruto hampir kencing di celana. Bahkan, kalau saja dia tidak ditemani oleh Kurama, Naruto sangat yakin kalau dia sudah pasti akan jadi korban kasus kerasukan!
Renungan Naruto buyar ketika ia mendengar Kurama tertawa kecil. "Oh iya, Goshujin-sama ingat tidak bagaimana tengah-tengah misi tadi Goshujin-sama sempat pingsan berdiri?"
Naruto merengut. "Itu gara-gara makhluk itu tiba-tiba muncul tepat di depan wajahku!"
…
"Goshujin-sama," Kurama menghela napas, membatalkan niat untuk memutar kenop pintu yang akan membuka kamar di depannya. "Kalau Goshujin-sama memang takut, lebih baik Goshujin-sama tunggu di luar saja. Kurama bisa mengurus ini sendirian."
"A-apa maksudmu? S-siapa yang takut…?! A-aku cuma siap-siap kok…!" Orang yang hanya mengekor di belakang Kurama sejak mereka pertama kali memasuki rumah kosong itu menyahut dengan suara yang tercekat dan lebih tinggi dari biasanya. "A-aku harus menyiapkan diri untuk segala macam situasi…! Kita sedang berurusan dengan hantu, dan walau luas rumah ini memang tidak seberapa, ada terlalu banyak blind spot di tempat ini…! Dia bisa muncul dari mana saja…!"
"Kurama sudah tahu itu, Goshujin-sama," Kurama menoleh. "Yang ingin Kurama tanyakan, 'siap-siap' seperti apa yang sedang Goshujin-sama bicarakan kalau dari tadi Goshujin-sama bergelantungan di tangan Kurama begitu?"
Naruto membalas tatapan Kurama untuk sesaat sebelum mata mereka berdua mengarah ke bawah, hanya untuk menemukan kalau Naruto memang telah memeluk lengan kanan Kurama seerat yang ia bisa. Dengan sangat perlahan, Naruto melepaskan pegangannya dan menoleh ke samping dengan rona merah di wajahnya. "…Aku nggak tahu kau sedang ngomong apa, Kurama. Aku yakin itu cuma imajinasimu saj—"
Belum selesai Naruto bicara, pintu yang ada di ujung lorong rumah tersebut mengeluarkan suara seperti sedang ada orang yang menggedornya. Kurama mengerjap, dan detik berikutnya, dia tersadar bahwa Naruto sudah berlutut di belakangnya sambil memeluk pinggang Kurama sekuat tenaga dan menyembunyikan wajahnya di punggung gadis personifikasi makhluk mistis itu.
Dengan sebuah senyum pasrah, Kurama memutar tubuhnya agar dia bisa menghadap Naruto. "Sudah, sudah." Kurama memeluk dan mulai menepuk-nepuk kepala majikannya yang sedang menderita guncangan jiwa. "Hantunya belum keluar kok."
"…Aku benci misi ini." Suara Naruto yang agak teredam terdengar dari arah perut Kurama. "Demi Tuhan, Langit, Bumi, dan seluruh alam, aku benar-benar benci misi ini."
"Kurama tahu, Goshujin-sama." Kurama mengelus rambut Naruto dengan sayang. "Tapi kalau begini terus, misi ini tidak akan selesai-selesai."
Merasa bahwa kebenaran perkataan Kurama tak terbantahkan, Naruto menghirup aroma harum tubuh Kurama yang sejak dulu sudah menjadi obat terapi tersendiri baginya sekali lagi sebelum berdiri. "…Kau benar, Kurama." Naruto berdiri dan menepuk pipinya keras-keras. "Aku adalah Namikaze Naruto, Konoha no Koganei Senkou! Dan aku tak rela kalau sampai misiku gagal hanya karena aku tak bisa mengendalikan rasa takutku!"
"Ehehe, begitu dong." Kurama berjinjit dan menepuk puncak kepala Naruto. "Itu baru majikan Kuram—"
Alis Naruto bertaut karena mendengar Kurama yang tak jadi menyelesaikan kalimatnya. "Apa? Ada apa?" menyadari bahwa tatapan Kurama kini tak tertuju padanya, Naruto mengikuti garis penglihatan Kurama dan berbalik ke belakang. "Kenapa kau melihat ke belakang…ku…"
Tepat di depan Naruto, telah berdiri seorang wanita dengan rambut hitam yang kusut dan berantakan. Terpisah kurang dari setengah meter di depan wajah Naruto, adalah wajah sepucat kapur dengan satu mata yang sudah hanya terlihat bagian putihnya, sedangkan satunya lagi hanya tinggal rongga kosong yang mengalirkan darah dan nanah. Mulutnya menyunggingkan sebuah senyuman lebar hingga gigi-giginya terpampang, disertai darah yang mengotori bibir dan menetes dari ujung dagunya.
"Aaa'…aa'…aa'…" Naruto membuka mulutnya lebar-lebar secara reflek, namun alih-alih jeritan, entah mengapa yang bisa keluar dari mulutnya hanyalah suara tertahan seperti orang yang sedang tercekik. "Ahh…" ketika otak Naruto memutuskan bahwa dia telah menderita cukup trauma untuk satu hari, seluruh tubuh remaja berambut pirang itu mengeras total sebelum bola matanya berputar ke belakang.
Kurama melangkah ke samping Naruto dan melirik wajah majikannya yang hilang kesadaran dengan mulut berbusa dalam keadaan berdiri itu untuk beberapa detik sebelum menepuk dahinya. "…Dasar Goshujin-sama payah."
Mata merah Kurama menyala ketika ia tiba-tiba mengarahkan tatapan kepada hantu perempuan yang masih ada di depannya. Tanpa mengucapkan apa-apa, Kurama dengan cepat menjulurkan tangan ke depan dan menyentuh dada arwah gentayangan itu. Mata sang wanita yang masih utuh melebar ketika dia melihat aura hitam, pekat dan kotor dan terasa sangat tak menyenangkan. Baik itu kesedihan, penyesalan, amarah, dan bahkan dendam, semuanya berubah menjadi semacam cairan hitam yang mengalir dan menjalar seperti ular di sepanjang tangan Kurama. Perlahan-lahan, wujudnya yang mengerikan, berlumuran darah dan nanah, kembali menjadi hanya seorang ibu rumah tangga sebagaimana asalnya.
Kurama menurunkan tangan pelan-pelan. "Sekarang, kau bisa istirahat dengan damai."
Arwah itu nampak bingung sesaat, sebelum menyadari bahwa Kurama telah membersihkan dan menyerap habis semua emosi negatif yang menjangkarnya ke dunia, emosi-emosi negatif yang membuatnya terpaksa terus berkeliaran tanpa bisa pergi ke alam barzah. Dengan mata yang berkaca-kaca, wanita berambut hitam itu memberikan sebuah senyuman terharu dan penuh terima kasih pada personifikasi makhluk mistis di depannya. '…terima kasih…'
Kurama membalas ungkapan terima kasih yang dia dapatkan hanya dengan sebuah anggukan singkat sambil mengamati bagaimana sosok arwah yang telah terbebas dari kekangnya itu pudar perlahan-lahan, sampai akhirnya lenyap tak bersisa.
"…Nah," Kurama berbalik dan menghadap Naruto. "Sekarang Kurama cuma perlu membangunkan Goshujin-sama."
…
"Di! Depan! Wajahku!" Naruto berargumen sambil menggunakan empasis yang dibarengi dengan mengentakkan kakinya ke lantai berkali-kali. "Mana ada orang yang nggak keder kalau dikejutkan seperti itu?!"
"Eh? Cuma itu? Apa Goshujin-sama nggak melihat kalau usus hantu itu bergantungan dari perutnya yang berlubang? Dan kalau tidak salah, seingat Kurama dia juga membawa janin berlumuran darah dalam gendongannya—" Kurama berhenti bicara ketika kilat menyambar, suara gunturnya begitu nyaring sampai kaca pintu teras berguncang dan cahaya kilatnya menembus jendela hingga menerangi ruang tengah untuk sesaat.
Kurama mengamati bulir-bulir air yang mulai jatuh menghujani bumi sebelum kembali memandang ke depan, hanya untuk mengerutkan dahinya ketika dia mendapati bahwa Naruto telah terduduk dengan punggung merapat ke dinding, serta mata yang melebar dan napas yang cepat.
Kurama menghela napas sebelum melangkah menghampiri majikannya. "Goshujin-sama?" tak ada jawaban. "Goshujin-sama!"
Ketika Naruto masih terus saja bungkam, Kurama menghela napas sekali lagi sebelum tangannya melayang untuk menampar pipi sang majikan.
Efeknya langsung bisa terlihat. Naruto mengerjapkan matanya berkali-kali, dan ketika pandangannya kembali fokus, ia dihadapkan dengan pemandangan wajah Kurama yang terlihat cemberut. "Kurama?"
Tanpa mengucapkan apa-apa, Kurama duduk di pangkuan Naruto dan menghempaskan punggungnya ke tubuh sang remaja. Kedua tangan Naruto secara otomatis melingkari tubuh sang gadis personifikasi makhluk mistis, memeluknya erat-erat seakan-akan mencari kekuatan untuk menenangkan diri. Cemberut di wajah gadis dengan telinga berujung lancip yang dipenuhi bulu merah itu mulai berkurang ketika dia menggosok-gosokkan pipinya ke pipi sang majikan, sampai akhirnya sebuah dengkuran halus mulai terdengar dari tenggorokannya.
"…Aku pasti benar-benar terlihat menyedihkan sekarang, ya kan Kurama?" Naruto bertanya dengan suara sedikit teredam karena seluruh wajahnya terbenam di pundak sang gadis siluman. "Jadi setakut ini hanya karena mengurus arwah pendendam…"
"Yah, itu kan karena Goshujin-sama mengidap phasmophobia." dengan sentuhan lembut, tangan Kurama bergerak untuk mengusap kepala Naruto, terus dan terus begitu sampai getaran di bahu sang majikan mulai berkurang. "Jadi nggak aneh kalau Goshujin-sama ciut nyali kalau sudah berhadapan dengan hantu."
"Sumpah, padahal tiga tahun terakhir ini aku sudah pernah menghadapi segala macam hal mulai dari menangkap penjahat, memburu kriminal, menghentikan aksi teroris, bahkan sampai melawan Youkai dan Iblis tanpa gentar sedikitpun. Aku bahkan sudah pernah melawan naga. Naga!" Naruto mengerang miris. "Shinobi macam apa aku ini kalau menghadapi hantu saja sudah membuatku pingsan berdiri?"
"Shinobi juga manusia, Goshujin-sama. Dan di dunia ini, tidak ada manusia yang sempurna." Kurama menyahut, bibirnya membentuk sebuah senyum tipis sementara tangannya menepuk-nepuk ubun-ubun Naruto. "Lagipula, setiap kali Goshujin-sama menemui masalah yang tak bisa Goshujin-sama atasi sendirian, ingatlah kalau Goshujin-sama selalu bisa minta bantuan pada Kurama."
"…Ngomong-ngomong soal itu," Naruto mengangkat kepalanya. "Kau juga mendapatkan kilasan memori saat kau menyerap emosi negatifnya kan? Boleh aku tahu apa yang membuat wanita itu jadi hantu gentayangan?"
"…Goshujin-sama yakin?" Kurama terlihat ragu.
Naruto mengangguk pasti, membuat Kurama menghela napas.
Usut punya usut, kurang lebih satu tahun lalu kepala keluarga yang awalnya menghuni rumah itu telah dipecat dari pekerjaannya, dan ketidakmampuan sang ayah untuk mendapat pekerjaan baru memaksa istrinya untuk bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran.
Untuk beberapa bulan, pekerjaan sang istri terbukti cukup untuk menafkahi keluarga mereka yang saat itu sudah diberkahi dua anak. Namun semuanya berubah ketika perut sang istri mulai membesar, ketika pada kenyataannya dia dan suaminya sudah tak pernah lagi berhubungan badan semenjak pria itu di-PHK, dan kalau itu belum cukup buruk, sang suami kemudian mendapat kabar bahwa istrinya mendapat pekerjaan sebagai pelayan hanya karena pemilik restoran itu tergugah oleh kecantikan dan kemolekan istrinya. Menyadari bahwa janin yang kini dikandung oleh istrinya kemungkinan besar bukanlah anaknya membuat pria itu menghabiskan satu tahun terakhir sebagai pengangguran stres yang suka mabuk-mabukan dengan ketergantungan pada obat-obatan.
Semua masalah itu mencapai puncaknya sekitar setengah tahun lalu. Setelah sebuah pertengkaran hebat, kesehatan mental sang ayah yang patut dipertanyakan membuatnya kalap, hingga dia membunuh keluarganya sendiri dengan cara yang sangat sadis dan mengakhirinya dengan gantung diri. Sang ibu yang dipenuhi oleh amarah dan dendam pada saat kematiannya berubah menjadi hantu yang menggentayangi rumah itu, membuat siapapun yang mendiaminya selalu mati dengan cara mengenaskan.
(Play Guilty Crown OST – Euterpe)
Setelah Kurama menyelesaikan penjelasannya, untuk sejenak tak ada kata-kata yang terlontar antara mereka berdua.
"Goshujin-sama?"
"…Kau tahu, Kurama, hal seperti inilah yang mengingatkanku bahwa sejahat apapun Iblis dan makhluk halus yang pernah kita hadapi selama ini, manusia juga punya potensi untuk menjadi sesuatu yang lebih buruk lagi." Naruto meletakkan dagunya di puncak kepala Kurama sambil menghembuskan napas panjang. "Maksudku, aku sudah pernah bertemu dengan Youkai yang gemar memakan manusia, terutama anak-anak kecil dan bayi. Bahkan aku juga sudah menghadapi Iblis yang bisa dengan mudahnya membunuh penduduk seisi desa dan menggunakan mayat mereka seperti boneka. Tapi manusia yang tega membantai keluarganya? Tak hanya istrinya yang sedang hamil, tapi bahkan anak-anaknya sendiri?" Naruto memejamkan mata dan mendesah getir. "Sebagai seorang manusia, kadang aku khawatir—"
"Khawatir bahwa dalam diri Goshujin-sama juga tersimpan potensi untuk kejahatan seperti itu?" Kurama memutar tubuhnya agar dia bisa menatap sang majikan. "Karena kalau itu pertanyaan Goshujin-sama, Kurama bisa dengan pasti mengatakan bahwa jawabannya adalah tidak."
"Bagaimana kau bisa seyakin itu, Kurama?" Naruto bertanya dengan suara yang penuh rasa gundah. "Kau tahu sendiri kan kalau aku—"
"Tidak sepenuhnya waras?" Kurama kembali menyela. Ketika Naruto mengangguk, dia segera melanjutkan. "Tentu saja Kurama tahu. Kurama selalu tahu." Kurama menangkupkan telapak tangannya di pipi Naruto. "Tapi ada satu hal yang harus Goshujin-sama sadari. Fakta bahwa Goshujin-sama belum menjadi psikopat sampai saat ini merupakan bukti bahwa Goshujin-sama adalah orang yang kuat. Tak banyak orang di dunia ini yang bisa melalui penderitaan-penderitaan seperti yang telah Goshujin-sama alami dengan mental yang masih utuh."
Naruto membalas tatapan Kurama untuk beberapa saat sebelum memejamkan mata dan mempertemukan dahi mereka. "…Kenapa kau selalu saja bisa mengatakan hal-hal yang tepat untuk membuat perasaanku lebih baik, Kurama?"
"Hmph," Kurama mendengus dengan sebuah senyuman bangga sambil turut memejamkan mata dan mengelus pipi Naruto. "Sebagai Bijuu terkuat yang dijuluki Kyuubi no Youko, serta sebagai orang yang telah berjanji untuk menjaga dan mengurus Goshujin-sama selamanya, apa kata dunia kalau Kurama sampai tidak bisa menghibur Goshujin-sama?"
Naruto terkekeh, dan kali ini, suara yang keluar dari mulutnya adalah suara bahagia.
~•~
Naruto mengerjapkan mata, dan untuk sesaat, dia tidak tahu dia ada di mana. Namun otaknya yang mulai ngeh membuatnya menyadari bahwa dia sedang menatap langit-langit kamarnya, tapi saat dia memutar kepala untuk memandang jam weker digital yang ada di lantai di samping futonnya, Naruto kembali dibuat bingung karena jarum pendek pada jam itu masih menunjukkan pukul dua siang.
"Hmh…?" Naruto menyipitkan mata untuk memastikan bahwa dia tidak salah lihat. Ini benar-benar aneh. Padahal dia sudah empat hari belum sempat memicingkan mata, tapi kenapa dia sudah terbangun ketika dia baru tidur selama enam jam?
Pertanyaan Naruto langsung terjawab ketika telinganya menangkap bunyi bel dari pintu depan, membuat sang shinobi menyadari apa tepatnya yang membuat dia bangun jauh lebih awal dari seharusnya. Melihat bahwa gadis berambut merah di sampingnya masih tertidur nyenyak, Naruto beringsut dan memisahkan dirinya dari futon dengan sangat perlahan, memperlihatkan bahwa dia pergi tidur dengan piyama yang terdiri dari celana kain panjang dan kaos putih polos berlengan panjang.
Dengan mata sayu dan langkah yang gontai, Naruto keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu depan sambil membuat niat untuk langsung menghempas pintu itu kalau sampai dia lagi-lagi dibangunkan oleh salesman yang entah kenapa selalu saja menawarinya barang-barang yang tidak ia butuhkan. Hanya saja, siapa yang dia temukan saat pintu terbuka membuat Naruto terpaksa membatalkan niat itu.
"Selamat siang, shinobi-kun," pria berambut hitam dan poni pirang keemasan, serta selalu memakai yukata hitam keabu-abuan setiap kali ia berkunjung ke rumah Naruto itu menyapa dengan senyum ramah. "Lama tidak jumpa."
"...Met siang, Azazel-san," Naruto mengucek-ngucek matanya sambil membalas sapaan itu dengan anggukan. "Dan tolong jangan melebih-lebihkan seperti itu. Aku kerja di luar kota cuma empat hari, bukannya empat bulan."
"Tetap saja kau kejam sekali, shinobi-kun. Kau tiba-tiba saja pergi tanpa kabar, padahal kau baru membawaku kencan satu kali."
Bulu kuduk Naruto langsung merinding. "Oi! Aku cuma membawamu pergi main game ding-dong karena kau bilang kau bosan! 'Kencan' di mananya, pak tua mesum?!"
Azazel tertawa. "Ahaha, aku cuma bercanda, shinobi-kun. Cuma bercanda."
"Candaanmu itu sama sekali tidak lucu, Azazel-san." sahut Naruto sambil merinding sekali lagi.
"Iya, iya, aku mengerti. Aku minta maaf." Orang yang dianggap sebagai Datenshi terkuat itu menyunggingkan sebuah senyum miring. "Kau itu kadang terlalu serius, shinobi-kun. Mungkin itulah alasannya kenapa menjahilimu seperti ini rasanya sangat menyenangkan."
Naruto menghela napas dan menghembuskannya. "Jadi kenapa kau berkunjung ke rumahku kali ini?" Naruto menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri dalam usaha menghilangkan rasa kaku dengan membuat sendi tulang lehernya berderak. "Dan kalau kau datang kemari hanya untuk mengajakku pergi main ding-dong lagi, aku mau minta maaf karena aku terpaksa harus menolak. Jujur saja, aku masih kecapekan."
"Tenang saja, aku ke sini bukan untuk alasan itu." tepis Azazel dengan ringan. "Aku kemari untuk memberimu peringatan."
Mata Naruto yang tadi masih agak sayu langsung menajam. "…Peringatan?"
Tak kurang dari lima menit kemudian, walau rasa kantuk memang masih bersisa, ekspresi Naruto telah menjadi keras. Mata pemuda itu terpejam dan dahinya berkerut selagi otaknya bekerja keras untuk mengkategorisasi info yang baru dia terima secara kronologis agar lebih mudah dimengerti.
Pertama, adalah info bahwa Excalibur telah hancur di masa lalu, dan ditempa kembali menjadi tujuh pedang dengan kekuatan magis yang berbeda-beda.
Kedua, enam dari tujuh Pedang Suci yang ditempa dari pecahan Excalibur tersebut dipegang oleh kubu Gereja, dua di Gereja Katolik Vatikan, dua di Gereja Protestan, dan dua lagi di Gereja Ortodoks. Sedangkan satu fragmen yang terakhir masih belum ditemukan sampai saat ini.
Ketiga, tiga dari enam pecahan Excalibur di tangan kubu Gereja tersebut telah dicuri oleh tetinggi dari pihak Datenshi, salah satu pemegang jabatan Cadre dalam Organisasi Grigori pimpinan Azazel. Datenshi yang bernama Kokabiel itu telah melarikan diri ke negeri Jepang, atau tepatnya, kota yang Naruto diami sekarang ini.
Keempat, dua gadis muda bernama Xenovia dan Shidou Irina, anggota Gereja yang berperan sebagai penegak hukum sekaligus pemburu setan, telah dikirim ke Kuoh untuk mengambil kembali, atau kalau tak bisa, menghancurkan ketiga Excalibur yang telah dicuri agar kubu Datenshi tak bisa mendapatkan keuntungan darinya.
Kelima, Xenovia dan Irina datang menemui Rias untuk memastikan kalau Iblis berdarah murni itu tidak akan mencampuri urusan mereka, serta memastikan kalau Rias takkan berpihak pada kubu Datenshi yang telah mencuri ketiga artefak dari Gereja tersebut.
Rasa sakit kepala mulai menyerang sang shinobi yang kembali diingatkan pada fakta bahwa kehidupan seorang Namikaze Naruto selalu saja ditimpa apes dan dikelilingi masalah, tak peduli kapan atau di mana dia berada.
"Aku benar-benar heran dengan kota ini…" kata Naruto sambil mengurut dahi untuk membantu mengurangi rasa sakit kepalanya. "Sumpah, padahal Rating Game antara Rias dan si Phenex sialan itu baru saja selesai setengah bulan yang lalu, tapi sekarang sudah ada masalah lagi?!" Naruto mendelik ke arah Gubernur Datenshi yang berdiri di depannya. "Dan kau! Kau tadi bilang kalau Kokabiel adalah bawahanmu kan?! Kenapa kau malah membiarkan masalah seperti ini sampai terjadi?! Apa kau tidak bisa mengontrol bawahanmu sendi—?!" Naruto tiba-tiba menampar mulutnya sendiri. Beberapa tarikan napas kemudian, dia kembali bicara dengan suara yang lebih tenang. "…Tidak. Tidak adil kalau aku menyalahkanmu untuk sesuatu yang dilakukan oleh orang lain. Maafkan kata-kataku tadi, aku memang sering rada emosian kalau baru bangun tidur."
"Apa yang kau katakan tidak sepenuhnya salah, shinobi-kun. Aku dan Kokabiel memang tak pernah sepandang, dan harusnya aku tahu bahwa cepat atau lambat, orang yang terlalu menikmati pertikaian sepertinya akan berbuat sesuatu yang akan membahayakan gencatan senjata antara Tiga Kubu Akhirat."
"Jadi bagaimana kau akan mengatasi masalah ini?" tanya Naruto sambil bersidekap. "Jujur saja, aku tidak tahu sekuat apa dua agen yang sudah dikirim oleh Gereja itu, tapi entah kenapa aku ragu apakah mereka bisa mengalahkan Kokabiel atau tidak."
"Memang itulah yang kutakutkan. Lebih dari itu, aku sangat yakin ahli waris Klan Gremory dan Klan Sitri yang tinggal di kota ini juga takkan mampu mengalahkan Kokabiel, bahkan dengan bantuan semua anggota Peerage mereka sekalipun," Azazel mengaku. "Dan itulah alasan kenapa aku datang menemuimu."
"…Hah?" Naruto tertegun sesaat. "Apa maksudny—tunggu dulu," mata Naruto membeliak. "Oi, oi… kau sedang bercanda kan, Azazel-san…? Kau tidak berniat menyuruhku mengurus hal ini… ya kan?"
Setelah hampir setengah menit berlalu tanpa ada jawaban dari Azazel, Naruto sadar bahwa kecurigaannya telah menjadi kenyataan. "…Cetar membahana," dia menepuk dahinya keras-keras sebelum mengusap wajahnya. "Apa maksudnya ini, Azazel-san? Padahal tadi kau baru saja memberitahuku bahwa Rias dan Sona-ojousama saja takkan bisa menang melawan bawahanmu itu, lalu kenapa kau malah berpikir bahwa aku bisa mengalahkannya? Apa kau lupa kalau aku ini cuma seorang manusia?!" seiring setiap kata-katanya, suara Naruto turut bertambah nyaring. "Lagipula, kalau Kokabiel memang benar bawahanmu, itu berarti kau lebih kuat darinya kan?! Kenapa kau harus meminta bantuanku segala sih?!"
"Ada dua alasan untuk itu," Azazel menyahut protes Naruto tanpa sedikitpun kehilangan ketenangannya. "Pertama, kalau aku memburunya sendiri, maka Kokabiel akan melawanku dengan kekuatan penuh dari awal. Dan dengan level kekuatan kami yang sekarang, kaupikir apa yang akan terjadi kalau kami bertarung?"
Tak butuh waktu lebih dari lima detik sampai akhirnya kesadaran mulai mewarnai raut wajah Naruto. "…Oh."
"Tepat sekali. Aku tak punya sedikitpun keraguan bahwa pertarungan kami akan menghasilkan kerugian material dan korban jiwa yang sangat besar. Aku bahkan sangat yakin bahwa walaupun aku pasti bisa menang, kota ini hanya akan tinggal puing dan debu di akhir pertempuran kami." Azazel mengangguk. "Dan untuk alasan yang kedua, satu hal yang harus kauketahui adalah walau kami sering berselisih, aku sangat mengenal karakter Kokabiel. Dia adalah orang yang kelewat percaya diri dengan kekuatannya, arogan, dan sangat memandang rendah kaum lain. Kokabiel tak pernah menganggap serius lawan yang ia anggap lebih lemah darinya, dan sebagai seorang manusia yang tak punya afiliasi apapun dengan Tiga Kubu Akhirat, itu akan memberimu elemen kejutan. Dengan begitu, kau punya kesempatan untuk menyarangkan serangan mematikan sebelum dia sempat sadar apa yang sedang terjadi."
Naruto mencubit dagunya dan nampak berpikir keras. "Kau masih belum menjawab satu pertanyaanku, Azazel-san." Dia menatap sang Gubernur Datenshi. "Kenapa aku?"
"Karena aku tahu bahwa kau adalah orang yang juga telah melihat kengerian macam apa yang bisa dibawa oleh sebuah peperangan, shinobi-kun," Azazel menjawab tanpa sedikitpun keraguan, dan dengan keseriusan yang cukup mengejutkan Naruto. "Aku tak tahu hal macam apa yang direncanakan Kokabiel. Yang kutahu, dia selalu berniat untuk menyalakan kembali api peperangan antara Tiga Kubu Akhirat. Dan aku khawatir kalau sampai hal itu benar-benar terjadi andai kita gagal menghentikannya."
"Tapi lebih dari itu," Azazel melanjutkan sebelum Naruto sempat membuat respon. "Aku tahu, bahwa sehebat apapun kekuatan yang kau tunjukkan dalam pertarunganmu melawan Riser Phenex, kau masih belum menunjukkan seperti apa kekuatanmu yang sebenarnya, shinobi-kun."
Naruto tertegun untuk beberapa saat sebelum mendengus. "Kurasa keahlianku sebagai seorang ninja memang patut dipertanyakan kalau sampai ada orang yang bisa melihat menembus kedokku semudah itu."
Azazel tertawa renyah. "Tak usah berkata seperti itu. Walau penampilanku memang semuda ini, faktanya tak berubah bahwa usiaku sudah ribuan tahun. Aku jauh lebih bijaksana dari apa yang kaukira, shinobi-kun."
Naruto tersenyum masam. "Yah, dari apa yang kulihat, sepertinya salah satu hal yang bisa menandingi kebijaksanaanmu adalah sifat narsismu."
"Dan dari apa yang kulihat, salah satu hal yang bisa menandingi kekuatanmu adalah mulutmu yang suka kurang ajar itu." Azazel membalas dengan sebuah sengiran lebar.
Naruto mengangkat salah satu alisnya. "Memangnya ada gunanya kalau aku bersikap sopan pada Gubernur Datenshi yang suka main game ding-dong sepertimu?"
"Yah, kurasa itu ada benarnya juga sih." Azazel memiringkan kepala sembari menyahut santai.
Mereka berdua saling tatap, sebelum sama-sama terkekeh.
"Aku tak bisa menjamin bahwa aku akan berhasil memenuhi permintaanmu, Azazel-san," kata Naruto setelah tawa mereka berhenti. "Tapi setidaknya, aku bisa berjanji untuk mencoba sebaik yang kubisa."
"Itu sudah cukup untukku." sahut Azazel sambil berbalik. Ketika dia tiba di pagar yang memisahkan jalan dan halaman depan rumah Naruto, Azazel berhenti melangkah untuk menoleh sekali lagi. "Oh, shinobi-kun?"
"Hm?"
"Kau terlalu suka merendah," kata Azazel sambil menyunggingkan sebuah senyuman. "Jiraiya adalah salah satu manusia terkuat yang pernah kuhadapi, dan kau adalah murid yang telah berlatih di bawah panduan pribadinya. Kau mungkin tak setuju dengan pendapatku ini, tapi kau jauh lebih kuat dari apa yang kaupikir."
Sepeninggal Azazel, Naruto sempat dibuat termenung, sebelum akhirnya memutuskan bahwa tiap orang punya hak untuk memiliki pendapat berbeda. Sembari mengangkat bahu, shinobi berambut pirang itu berbalik, meraih kenop pintu dan masuk kembali ke dalam rumah, hanya untuk mendapati seorang gadis dengan rambut merah yang sangat panjang dan tampak agak berantakan.
"Oh, hei, Kurama," dia menyapa gadis personifikasi makhluk mistis yang mengerjapkan-ngerjapkan mata sayunya itu. "Bagaimana tidurmu?"
"Awal dan tengahnya enak, akhirnya nggak," Kurama menggerutu sembari berjalan maju dan memeluk sang majikan. "Kenapa Goshujin-sama nggak membangunkan Kurama juga?"
"Yah…" Naruto menggaruk kepalanya dengan ekspresi sedikit bersalah. "Soalnya kau tadi kelihatan nyenyak banget sih. Kan nggak enak kalau aku—"
"Mou, Goshujin-sama no baka! Berapa kali harus Kurama bilang?! Kurama cuma mau tidur kalau sama-sama Goshujin-sama!" Kurama mendongak untuk berteriak sebelum kembali membenamkan wajahnya di dada Naruto. "Goshujin-sama jahat! Tega-teganya Goshujin-sama meninggalkan Kurama hanya untuk dengan ngobrol dengan bekas malaikat tua bangka itu!"
"Iya, iya. Aku minta maaf. Nggak akan kuulangi lagi," Naruto tertawa sambil meletakkan dagu di ubun-ubun Kurama dan mengelus rambut merahnya. "Ngomong-ngomong, itu artinya kau tadi juga mendengar apa yang Azazel-san katakan tadi kan? Apa pendapatmu?"
"Hmph, walau si tua bangka bertampang muda itu sok bertingkah bijaksana, dia masih saja keliru tentang satu hal."
"Oh?" Naruto memundurkan kepalanya agar dia bisa menatap Kurama. "Yang mana?"
"Satu-satunya hal yang bisa menandingi kekuatan Goshujin-sama adalah kebebalan Goshujin-sama!"
Ada hening yang berlangsung cukup lama antara mereka berdua, sampai akhirnya Naruto menepuk dahinya keras sambil melenguh keras.
"Goshujin-sama?" Kurama mendongak, sebuah tanda tanya melayang di atas kepalanya yang sedikit dimiringkan.
"Nggak nyambung, Kurama." Naruto mengerang. "Sangat nggak nyambung." sebuah suara aneh membuat Naruto tak jadi menyelesaikan kalimatnya.
"Ehehe~" Kurama mulai menggosok-gosokkan wajahnya di dada Naruto, sebuah dengkuran halus terdengar dari tenggorokannya. "Goshujin-sama~"
Naruto mengusap wajahnya sebelum tersenyum tipis. Kadang dia lupa bahwa dia dan Kurama memiliki satu kebiasaan yang sama, yaitu sama-sama suka nggak ngeh kalau baru bangun tidur.
Naruto melepaskan pelukannya dan meraih tangan Kurama. Dia baru saja berniat menggandeng gadis itu kembali ke kamar agar mereka bisa tidur lagi sampai puas, namun belum berapa langkah dia ambil, Naruto dihentikan oleh suara telepon rumah yang berdering.
Naruto menghampiri meja yang ada di lorong rumah itu dan mengangkat gagang telepon yang terletak di atasnya ke telinga. "Halo?"
"Halo, shinobi-kun." Dahi Naruto berkerut, namun Azazel telah lebih dulu melanjutkan sebelum dia sempat menyuarakan kebingungannya. Naruto langsung tahu kalau ada yang tidak benar saat suara Azazel berubah serius. "Aku cuma ingin memberitahumu bahwa sejak dua hari yang lalu, rumahmu sudah diawasi oleh beberapa Datenshi. Dan sebelum kau bertanya, aku tak pernah menyuruh mereka untuk melakukan itu."
Hanya perlu tak lebih dari dua detik bagi Naruto untuk mengetahui apa implikasi kabar itu. Tapi baru saja membuat kesimpulan, sang shinobi tiba-tiba merasakan sumber energi yang mengelilingi rumahnya. "…Tolong jangan bilang kalau kau tidak memberitahuku soal ini di kunjunganmu tadi karena kau lupa, Azazel-san."
"Hei, aku kan sudah tua. Wajar kan kalau aku sedikit pelupa?" Azazel tertawa, membuat Naruto mengerang untuk yang kesekian kali. "Hati-hati dan semoga beruntung, shinobi-kun."
Suara statis yang terdengar di telinga Naruto menjadi pertanda bahwa sang Gubernur Malaikat Jatuh telah memutus sambungan teleponnya. "…Kenapa sih kehidupanku harus serumit ini?" Dia menggerutu sambil menoleh ke samping. "Kurama?"
Mata gadis personifikasi makhluk mistis yang semula sayu karena mengantuk itu kini telah menajam. "Ada lima sumber energi Tengeki (Divine Energy), Goshujin-sama." Dia memandang berkeliling. "Mereka sudah mengepung rumah ini." Kurama melirik majikannya. "Jadi… seperti biasa?"
"Seperti biasa." Naruto mengangguk sebelum melangkah ke rak yang ada di dekat pintu depan untuk mengambil sepatunya. Dia tak perlu menoleh untuk mengetahui bahwa Kurama telah lenyap dari dunia luar dan masuk kembali ke dalam jiwanya.
Remaja itu pergi ke pintu yang ada di ruang tengah sambil menderakkan tulang lehernya. 'Kurama?'
'Kurama bisa merasakan emosi negatif dari mereka, Goshujin-sama,' seperti biasa, Kurama selalu bisa tahu apa yang Naruto tanyakan. 'Dan kalau melihat bagaimana nafsu membunuh mereka tertuju pada Goshujin-sama, Kurama rasa Goshujin-sama bisa menyimpulkan sendiri apa yang mereka inginkan.'
'Oke.' Naruto memasang sepatunya dan turun ke halaman samping. Tangannya terangkat untuk menunjuk ke satu arah. "Kurang lebih satu kilometer di barat, ada sebuah hutan. Di tengah-tengahnya ada tanah kosong." Dia bersidekap. "Akan kutunggu kalian di sana."
Satu kilatan sinar keemasan kemudian, sosok Naruto lenyap dari pandangan dan muncul kembali di sebuah tempat yang dipagari oleh pepohonan lebat.
Naruto memejamkan mata dan mulai menghitung dalam hati. 'Satu, dua, tiga, empat.' Naruto membuka mata, mendapati bahwa lima sosok dengan jubah berkudung yang panjangnya hampir sampai ke mata kaki telah mengelilinginya. "Hm, empat detik. Lumayan cepat juga."
Fakta bahwa sihir transportasi mereka hampir delapan kali lebih lambat dari Hiraishin yang Naruto pakai tidak lantas membuat shinobi itu menjadi sombong dan meremehkan musuhnya. Walaupun mereka telah dibuang dari surga, itu tak mengubah fakta bahwa lima orang yang mengepungnya ini merupakan bekas makhluk suci yang dulu bekerja langsung di bawah perintah Sang Pencipta.
Dan kalau melihat empat sayap yang ada di punggung mereka, Naruto bisa menyimpulkan bahwa Datenshi-Datenshi ini pasti satu tingkat lebih kuat kalau dibandingkan dengan Mittelt, Kalawarner, dan Dohnaseek.
Naruto berhenti bersidekap dan membiarkan tangannya terkulai santai di sisi tubuh. "Apa yang kalian inginkan?"
Datenshi yang berdiri sepuluh langkah di depan Naruto memberikan sebuah jawaban singkat. "Nyawamu."
Alis Naruto terangkat. Jujur, dia tidak mengantisipasi jawaban yang sangat pendek, blak-blakan, dan sama sekali tidak disertai basa-basi ataupun tawaran-tawaran manis untuk menyuap agar Naruto mau bergabung dengan pihak mereka. Agak jarang juga Naruto bertemu musuh yang cukup profesional dan tidak menyempatkan diri untuk bermulut besar seperti ini.
Kalau saja mereka bukan musuh yang mau membunuhnya, sebuah niat yang tak sedikitpun berusaha mereka sembunyikan kalau menilik bagaimana mereka mulai mengeluarkan senjata mereka yang memiliki warna berbeda-beda, maka Naruto mungkin sudah akan memuji orang-orang yang cukup perseptif untuk menyimpulkan bahwa Naruto bukanlah orang yang bisa diajak kompromi kalau sudah menyangkut hal-hal berbau kejahatan ini.
(Play RWBY OST – I Burn Album Version)
Tahu bahwa tak lama lagi dia akan menjalani pertarungan untuk mempertahankan hidupnya, Naruto mengangkat tangan kanan dan menyingsing lengan baju kaos putih polosnya, di mana sebuah simbol hitam berbentuk wajik terlukis di pergelangan tangannya. Dengan sejumput Chakra, Fuuin penyimpanan itu teraktivasi dan sebuah benda muncul di genggaman tangan kanannya.
Benda itu adalah sebuah pedang dengan desain menyerupai kunai, berwarna biru muda dan dihiasi tiga lubang berbentuk wajik di antara dua mata pisaunya. Gagang dan mata pedang dipisahkan oleh sebuah cincin, dan di ujung gagang yang diukir dengan desain menyerupai sisik itu terdapat sebuah hiasan dalam bentuk untaian tali tambang berwarna jingga.
Dada Naruto memancarkan sinar dan mengeluarkan lima bola permata dengan warna merah, biru, hijau, kuning, dan jingga. Lima objek itu terbang dan melayang di depan dada Naruto dalam formasi melingkar, sebelum menyatu dan menciptakan satu bola dengan pendar putih yang Naruto raih dan pasang ke dalam cincin di pedangnya.
Naruto mengangkat pedang yang kini memancarkan cahaya putih itu ke dekat mulutnya dan berbisik, "…Bantu aku, [Ryuujin]."
Napas lawan-lawan Naruto tiba-tiba tercekat saat mereka mendengar raungan seekor naga, bukan dengan telinga tapi dengan pikiran mereka. Begitu nyaring dan membahana. Buas dan menggetarkan jiwa siapapun yang mendengarnya.
"I-itu—apa itu Sacred Gear?!"
Naruto mengangkat sebelah alis sambil menahan keinginan untuk mendengus. Seingat Naruto, Sacred Gear adalah artifak sakti yang hanya dianugrahkan pada manusia-manusia tertentu dan telah tersimpan dalam tubuh mereka sejak mereka lahir. Tapi pedang ini? Naruto harus jungkir balik dulu melawan lima naga secara berturut-turut, sebelum berduel hidup-mati dengan raja naga yang merupakan pergabungan dan wujud sesungguhnya dari lima naga itu, sebelum akhirnya pedang magis ini mengakui Naruto sebagai pemiliknya yang sah.
…Yah, tapi dia maklum juga sih kalau mereka salah paham. Apalagi kalau melihat bagaimana dunia orang-orang ini sepertinya sangat sempit, hingga mereka mengira bahwa semua senjata pusaka yang ada di Bumi adalah Sacred Gear.
"Bos, bagaimana ini?!" Salah satu Datenshi, kali ini yang berdiri di sebelah kanan Naruto, bertanya pada orang yang berdiri di depan Naruto. Bahasa tubuhnya menyiratkan kalau dia sudah mulai diserang rasa ragu dan takut. "Kita bisa ada dalam masalah besar kalau dia punya Sacred Gear!"
"Diam kau! Ini tak mengubah apa-apa!" Datenshi yang berdiri di depan Naruto, orang yang mulai Naruto curigai sebagai pemimpin kelompok ini, menghardik bawahannya. "Kokabiel-sama mungkin tidak berpikir bahwa manusia ini bisa membuat masalah, tapi kita tetap saja tak bisa membiarkan siapapun mengganggu rencana beliau! Dan walaupun dia memiliki Sacred Gear, itu justru semakin memperkuat fakta bahwa dia harus dibasmi sekarang juga!"
"Tapi—!"
Protes Datenshi itu tak pernah selesai karena Naruto telah lebih dulu melesat dan menendang pipinya, membuat malaikat buangan itu terpental ke pinggir tanah kosong dan menabrak sebuah pohon, sebelum jatuh terkapar di tanah tanpa bergerak lagi.
"Orang yang pingsan nggak mungkin protes. Masalah selesai kan?" tanya Naruto sambil menurunkan kaki yang tadi ia pakai untuk menyerang. "Bisa kita mulai sekarang? Jujur saja, aku sedang capek dan masih perlu tidur nih."
"Manusia jahanam!"
Terjangan yang lurus dan tak menyimpan gerak tipu itu membuat Naruto menghela napas, karena dia hanya perlu mengambil dua langkah ke samping untuk menghindarinya. "Ohh, umpatan yang bagus. Sangat, sangat kreatif. Aku yakin kau sudah menyiapkan itu selama berhari-hari kan?"
'Goshujin-sama ini kenapa sih? Pake ngomong sinis seperti itu segala,' suara Kurama terdengar dalam benak Naruto selagi shinobi itu jumpalitan ke sana kemari untuk menghindari tombak-tombak cahaya yang dilemparkan padanya. 'Dari tadi nggak serius melulu kerjaannya. Bukannya tadi Kurama sudah bilang kalau mereka berniat membunuh Goshujin-sama?'
'Oh, ayolah, Kurama. Aku sudah lama tidak berkelahi dikeroyok seperti ini!'
Naruto merunduk ketika sebuah tendangan mengincar kepalanya, sebelum meraih kaki itu dan melempar pemiliknya ke arah musuh yang lain. 'Boleh Kurama ingatkan kalau Goshujin-sama dikeroyok tak kurang dari dua puluh pengedar narkoba dua hari yang lalu?'
Insting Naruto membunyikan alarm peringatan. Shinobi itu bersalto, mendarat tepat di belakang Datenshi yang sudah siap menyerang punggung Naruto dengan sihir cahaya berbentuk kapak, dan menjatuhkan lawannya itu dengan sebuah Rasengan bertenaga rendah yang dia hantamkan tepat di antara tulang belikatnya. 'Tapi mereka kan cuma manusia biasa. Biar mereka pake senjata macam apapun juga, tetap saja mereka sudah tepar sekali hajar. Mana mungkin aku puas kalau hanya melawan ikan teri macam itu!'
Insting Naruto kembali menyuarakan pertanda bahaya. Tanpa menoleh, shinobi itu menyilangkan Ryuujin ke belakang untuk menangkis serangan yang dilancarkan ke lehernya sebelum berbalik dan mulai beradu ilmu pedang dengan musuhnya. 'Dan lihat orang-orang ini. Cara bertarung mereka cukup pintar. Setelah sadar kalau menyerangku dari depan bukan cara yang efektif, mereka berganti strategi dan mulai menyerangku dari luar jalur penglihatanku! Ini baru namanya bertarung tak hanya pakai otot, tapi juga otak!'
Setelah satu peraduan senjata yang sangat ganas, Naruto menendang salah satu kaki Datenshi yang memiliki empat sayap itu dan menggoyahkan keseimbangannya, lalu berputar dan memberikan tendangan ke sisi kepala hingga membuatnya terpental sampai jatuh terjerembab.
Naruto seakan tak diberi kesempatan untuk bernapas ketika serbuan datang dari dua arah secara sekaligus dan memaksa sang shinobi untuk mengeluarkan sebuah kunai yang langsung ia aliri dengan Chakra berelemen angin agar dia bisa menangkisnya. Tapi baru beberapa detik ia beradu kekuatan dengan dua musuh itu, Datenshi yang tadi seharusnya sudah ia jatuhkan dengan Rasengan tiba-tiba bangkit lagi dan langsung berusaha menusuk kepala Naruto dari depan.
Nafsu bertarung yang makin membesar membuat sebuah senyum lebar tercipta di wajah shinobi berusia lima belas tahun itu. Dia memiringkan kepalanya ke samping, membuat tombak cahaya yang dimaksudkan untuk menembus tengkorak Naruto gagal memenuhi tujuannya, walau masih sukses membuat sebuah luka sayatan memanjang di pipi sang shinobi. Dan belum sempat Naruto membebaskan diri, kaki Datenshi itu telah lebih dulu melayang dan terbenam ke perut Naruto, membuat shinobi itu terpental belasan meter ke belakang.
"Ah—Ahak…!" Naruto berguling dan memuntahkan darah segar ke tanah sebelum menggeleng-gelengkan kepala untuk memulihkan pandangannya yang sempat memburam. Dengan memakai Ryuujin sebagai penopang, shinobi itu bangkit dan memicingkan matanya untuk mengamati situasi, hanya untuk kembali diingatkan tentang fakta bahwa musuhnya ini memang berasal dari kaum yang berkali-kali lebih kuat dari manusia kembali terlihat ketika Datenshi yang sudah Naruto jatuhkan di awal pertarungan tersadar dari pingsannya dan kembali terjun ke medan pertempuran.
Naruto menyunggingkan sebuah sengiran lebar sambil menyeka darah yang menetes di sudut bibirnya. 'Lihat, Kurama? Musuh yang tidak langsung kalah dengan sekali hajar, punya strategi jempolan, dan kerjasama klop seperti inilah yang baru bisa disebut tantangan!'
'Iya, iya,' Naruto bisa membayangkan kalau personifikasi makhluk mistis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Sekarang, fokus ke pertarungan, Goshujin-sama. Mereka sudah menyerbu Goshujin-sama lagi tuh.'
Naruto berdiri tegak, dan melepaskan kekang atas Chakra-nya yang membuat udara berhenti bergerak seakan-akan waktu tak lagi berputar untuk sesaat. Detik berikutnya, angin tiba-tiba meledak dari tubuh sang shinobi, mengejutkan dan membuat serbuan musuhnya sedikit melambat ketika melihat Naruto mendongak dan menunjukkan bahwa mata biru langitnya telah menyala.
Tanpa melepaskan dua senjata yang ia genggam, Naruto membuat sebuah Insou dengan jari yang menyilang. "Kagebunshin no Jutsu!"
Empat kepulan asap tercipta di samping musuh mereka, yang dilanjutkan dengan kemunculan empat kembaran identik yang juga memegangi replika senjata yang ada di genggaman tuan mereka.
Naruto melirik empat bawahannya itu. "Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan?!"
"Tentu saja, Taichou!" keempat kembaran Naruto menjawab bersamaan sambil memasang kuda-kuda.
"Laksanakan [Protokol 3H]!" Naruto berteriak dan turut mengambil posisi sembari menyunggingkan sebuah sengiran ganas.
"Hajar Habis-Habisan!"
Mereka semua lenyap dalam kilatan sinar keemasan, dan tak sampai satu detik kemudian, suara gedebak-gedebuk nyaring telah memenuhi tanah kosong yang ada di tengah-tengah hutan itu.
To be Continued...
A/N: Chapter ini adalah bukti bahwa kehidupan Naruto tidak selalu berputar di sekeliling intrik-intrik yang ada dalam plot Highschool DxD, karena dia tetaplah seorang anak indekos tanpa penghasilan tetap yang harus menafkahi dirinya sendiri. Walaupun memang, belum satu hari penuh dia pulang ke rumah, nasib yang apes kembali menjerat Naruto dalam masalah lagi.
Lalu, bagi anda yang merasa romansa di chapter ini rada kurang, hamba cuma ingin mengingatkan sekali lagi bahwa gaya menulis hamba kurang lebih bisa diberi deskripsi 'shounen manga tertulis'.
Hamba harap readers sekalian bisa memberikan komentar atas chapter kali ini.
Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.
Thanks a zillion for reading!
Galerians, out.
