Standar Disclaimer Applied

.

.

.

.

.

.

.

.

Love & Choice © Tsurugi De Lelouch

Part 11

.

.

.

.

.

.

.

Sasuke Uchiha & Sakura Haruno

.

.

.

.

.

.

.

Enjoying to reading and reviewing

I don't get any profit from this story


.

.

.

.

Setelah kejadian beberapa minggu yang membuat pernikahan keturunan dari Fugaku dan Mikoto Uchiha batal. Dikarenakan kecelakaan yang dialami oleh anak bungsu dari mereka berdua memunculkan beberapa berita yang tidak mengenakkan. Padahal pihak-pihak yang terkait dalam permasalahan ini sudah tutup mulut—dan enggan memberikan komentar mengenai musibah yang dialami oleh keluarga yang terkenal di dunia bisnis ini. Ada yang mengatakan kalau putra bungsu dari Fugaku dan Mikoto bukan kecelakaan melainkan menabrakan diri di tengah jalan, adapaun calon pengantin perempuan yang strees, lalu putra sulung mereka dianggap tidak bertanggungjawab dikarenakan tertangkap kamera bersama perempuan lain.

Berbagai spekulasi itu akhirnya mulai mereda ketika kedua anak dari Fugaku dan Mikoto ini mengadakan konferensi pers di depan para media—yang seakan mengejar mereka dimanapun. Maka ide dari Itachi Uchiha untuk meluruskan masalah yang sudah besar ini cukup diterima oleh para keturunan Uchiha yang lain. Sikap bijaksana yang keluar dari dalam diri Itachi membuat orangtuanya luluh untuk membuka rahasia masalah ini—walau tidak sampai dalam.

Di depan kamera, kedua laki-laki yang berpengaruh di kota tersebut sangat tenang dan menjawab dengan jelas setiap pertanyaan yang—menimbulkan gosip-gosip yang muncul baik di meda cetak maupun media visual.

"… terus bagaimana dengan isu tentang hubungan kalian dengan Sakura Haruno?" tanya salah satu reporter kepada mereka berdua.

Sedikit berdeham pelan, Sasuke Uchiha—putra bungsu Fugaku dan Mikoto ini menjawab pertanyaan tersebut. "Sebelumnya mengenai hubungan kami dengan Sakura ada benarnya, namun hanya sebatas teman. Ketika Sakura ditunangkan oleh kakakku, maka aku menjauhkan diri dari mereka supaya tidak dianggap perusak hubungan mereka berdua," ungkapnya dengan tegas.

"Apakah ini tidak ada sangkutpautnya dengan anda dan Sakura menjalin hubungan lebih dari teman, Sasuke-san?"

Kini Itachi Uchiha mengambil alih dalam menjawab pertanyaan tersebut di depan para awak media. "Memang mereka berdua satu sekolah saat SMP, akan tetapi pada saat SMA, kami berdua pindah ke luar negeri untuk menyelesaikan studi hingga Sasuke sendiri mencapai gelar Strata satu disana. Pertemuan kami berdua dengan Sakura pertama kali pada saat makan malam bersama keluarga."

"…Lalu bagaimana dengan pernikahan sebelumnya yang batal akibat musibah yang mengalami anda, Sasuke-san?"

Menghela napas sejenak. Sasuke menatap para pencari berita itu dengan pandangan tajam. "Mengenai pernikahan yang sebelumnya batal. Itu sebernanya ditunda—bukan dibatalkan karena kecelakaan saya. Maka dari itu, tak akan lama lagi akan ada dua pernikahan sekaligus kami berdua," jawabnya singkat.

"—untuk pasangan kami berdua, akan kami beritahu dua minggu sebelum pernikahan kami," tambah Itachi Uchiha.

"Kalau Sakura Haruno akan menjadi pasangan siapa diantara anda berdua,… Itachi-san… Sasuke-san?"

Dengan raut wajah yang tegas dan menjadi idola di kalangan para kalangan muda, keduanya saling bertatap beberapa detik lalu memandangi para pencari berita tersebut.

"Untuk masalah itu, tunggu satu minggu lagi akan kami umumkan siapa yang menjadi calon suami Sakura," ditambah senyuman tipis dari kedua keturunan duo Uchiha ini mengakhiri konferensi pers tersebut.

Beberapa detik kemudian, Itachi dan Sasuke meninggalkan ruangan pers tersebut dengan para awal media masih memberondongi berbagai pertanyaan. Beruntungnya penjagaan ketat untuk keturunan murni dari Fugaku dan Mikoto ini membuat para pencari berita tak mampu mendekati mereka berdua.

Dan, masalah mengenai isu-isu yang beredar perlahan memudar seiring pengakuan dari keduanya…

Sama halnya dengan salah satu perempuan bernama Sakura Haruno yang menyaksikan konferensi pers secara langsung di televisi hanya tersenyum tipis—seraya mengusap perut yang berisi janin dua bulan.

"Lihat Ayahmu sayang, dia menjawab hubungan antara Ibu dan Ayah hanya teman biasa. Dia pintar dalam berkata-kata di depan para pencari berita. Semoga kamu menjadi pembisnis yang hebat seperti Ayahmu."

Sakura—wanita yang menjadi salah satu kunci dimana hubungan antara dia, Itachi dan Sasuke ini hanya menghela napasnya panjang. Beberapa minggu yang lalu, dia juga dikejar para awak media sampai nyaris kesehatan turun dan membuat hampir stress gara-gara pertanyaan-pertanyaan dari para reporter. Dia salah satu alasan, Itachi dan Sasuke memutuskan untuk membuka konferensi pers secara langsung.

"Jaga kesehatan kalian berdua, nak. Tinggal tiga minggu lagi pernikahanmu dan Sasuke Uchiha, Sakura?" ucap Ibu dari Sakura—Mebuki Haruno menyodorkan segelas air putih pada anaknya.

Wanita musim semi ini menerima dan meneguk sampai habis air putih di gelas tersebut. "Ibu?"

"Ya, nak. Ada apa?"

"Ketika anak ini lahir lebih cepat dari pernikahan kami berdua. Apakah akan muncul gosip-gosip tak mengenakkan lagi?" gumam Sakura.

Mebuki mengelus kepala anak perempuan satu-satunya itu lalu mengusap perut Sakura berisi calon cucunya. "tenang saja, itu tidak akan terjadi. Karena ada calon suamimu yang meluruskan masalah ini kembali."

"Tapi—" Sakura merasa tidak enak karena melimpahkan semua pada Sasuke.

"Dengar, ini sebagai bentuk pertanggungjawaban sebagai seorang laki-laki. Walau Ibu sempat tidak menerima perlakuannya padamu, namun bayi yang kau kandung sekarang adalah anaknya. Mau tak mau, Ibu harus merestui hubungan kalian berdua," potong Mebuki dengan jawaban panjang lebar.

"Ibu marah?" ucap Sakura takut-takut.

Mebuki mengulum senyuman tipisnya, "Ibu tidak marah. Hanya aja, kenapa kalian tidak jujur satu sama lain. Huum… apakah benar Sasuke itu cinta pertamamu, ne Sakura?" tanya sekaligus godaan Mebuki pada anaknya.

Seketika wajah Sakura merona merah, "…Ibuuuuu…"

"Ara… ara… ternyata benar. Pantas saja tidak pacaran? Ooh begitu…" gumam Mebuki.

"Ibu, tahu darimana sih?" setahu Sakura, dia tidak pernah memberitahu tentang hal ini pada siapapun.

"Naluri seorang Ibu."

"Masa sih bu?"

Mebuki tertawa pelan, "naluri Ibu kuat, sayaang… sekarang kamu istirahat. Besok fitting gaun pernikahan bukan?" ucapnya seraya mengingatkan pada Sakura.

"Iya buuu…"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

.

Tiga minggu sudah berlalu, pernikahan yang digadang-gadang memakan sejumlah uang yang cukup fantastis—karena akan dua pasangan sekaligus yang akan dinikahkan hari ini. Setelah dua minggu yang lalu Sasuke Uchiha secara langsung menjawab siapa yang akan menjadi calon istrinya, dengan tegas ia mengatakan nama Sakura Haruno. Memang para awak media bertanya-tanya, kenapa harus Sakura? Dan berbagai pertanyaan lain. Namun putra bungsu tersebut menjawabnya dengan singkat.

"Cinta kami yang sebelumnya pudar bersemi kembali."

Tak dipungkiri kalau berbagai kalangan memahami hubungan mereka bertiga antara Itachi, Sakura dan Sasuke. Namun karena tidak ingin memperkeruh suasana—maka lebih baik disimpan saja. Sama halnya dengan Itachi sendiri, ia mengatakan jawaban yang sama persis seperti adiknya. Karena bersamaan itupula dia mengatakan calon istrinya pada saat itu juga. Ia adalah tak lain adalah Konan. Perempuan yang menjadi cinta pertamanya—yang dulunya ia memilih ke dunia permodelan, dan menolak cinta dari Itachi.

Kini mereka berempat semua akan mengecap kebahagiaan yang selama ini diidamkan. Sebelumnya mereka ditengah-tengah ambang kebimbangan dan keraguan yang membuat kerumitan di berbagai pihak. Memang semua berawal dari kesalahan, maka akan ketahuan dimana letak kekeliruan dari pemikiran mereka masing-masing. Itulah manusia, semua berawal dan belajar dari kesalahan yang mereka lakukan. Manusia tidak ada yang sempurna.

Masa lalu membuat mereka berempat belajar bahwa mengambil keputusan yang tepat—adalah berpikir matang-matang. Karena pilihan itu pasti ada resiko. Dunia harus memilih antara dua pilihan berat. Maka sama halnya dengan mereka, walau sempat ragu dan segera ditepis hingga mereka mengambil keputusan yang benar-benar dari dalam hatinya dan tidak akan menyesal nantinya. Masa lalu adalah bayangan, dan yang sekarang mereka tatap adalah masa depan—yakni adalah cahaya

Pernikahan yang bertempat di salah satu gereja yang terkenal di kota tersebut membuat banyak orang ingin menyaksikan secara langsung—janji suci mereka disana. Walau dulunya ada yang tidak suka, namun seiring berjalannya waktu semua orang masing-masing menerimanya. Mereka lebih memilih menyaksikan acara bahagia keempat insan yang tak lain adalah kedua putra dari Fugaku dan Mikoto yang menjadi calon mempelai pria.

Di luar gereja sangatlah ramai dan dihiasi para awak media di beberapa stasiun telivisi lokal mengabadikan momen bahagia secara langsung pada kedua laki-laki ini. Tak sampai disitu juga, para tamu-tamu bukan dari saja dari keluarga di ketiga pihak melainkan para kolega bisnis yang berhubungan langsung dengan Uchiha.

Sungguh di luar perkiraan, banyak yang antusias menyaksikan keempat insan yang akan mengarungi bahtera rumah tangga ini. Bukan dari kota itu saja, melainkan dari beberapa kota dan Negara lain yang berhubungan dengan Uchiha melihat acara tersebut yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi lokal disana.

.

.

.

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

.

.

Sama halnya dengan kedua calon mempelai perempuan yang tampak gugup. Mereka berdua akan melepas status menjadi istri dari laki-laki yang mereka cintai. Kesetiaan cinta mereka sangat kuat sehingga muncul dan menyadarkan pada kedua lelaki itu bahwa mereka memiliki rasa yang sama. Cinta itu memiliki banyak arti salah satunya membawa kebahagiaan. Membuat semua orang tersenyum, memancarkan kehangatan dan suka cita diantara mereka. Bukan dari mereka saja, melainkn banyak pihak-pihak yang merasakan kebahagiaan diantara mereka.

Semua orang bahagia melihat mereka bahagia. Kedua perempuan cantik ini memakai gaun pengantin berwarna putih dengan mode dan aksen berbeda-beda—walau dari perancang busana pengantin yang sama. Kain penutup tule kepala mereka senada dengan warna gaun yang mereka kenakan masing-masing dihiasi tiara cantik yang melekat disana.

Tanpa menyadari mereka telah berada di gereja—tempat berlangsungnya janji suci mereka bersama kedua laki-laki yang keduanya cintai. Kedatangan mereka sudah ditunggu-tunggu oleh banyak pihak yang hadir dalam acara ini. Ketika pintu mobil pertama dibuka, menampilkan salah satu calon pengantin perempuan dengan disambut oleh Ayahnya. Tak lain adalah Konan ditemani oleh Ayahnya menuju ke dalam gereja.

Begitu juga dengan mobil kedua, calon pengantin tak lain adalah Sakura Haruno disambut oleh Ayahnya—Kizashi Haruno. Dengan senyuman tipis, ia keluar dan disambut berbagai pihak yang mengabadikan momen kebahagiaan acara ini. Sakura dan Konan saling melirik satu sama lain lalu berjalan perlahan melewati karpet merah yang membentang sampai ke dalam gereja.

Kilatan blitz membuat suasana semakin ramai, namun tak memungkiri rona kebahagiaan terpancar dari kedua calon mempelai perempuan ini. Dan Mars pernikahan mengalunkan melodi-melodi merdu—mensakralkan janji suci mereka. Ketika kedua calon pengantin mempelai perempuan sudah memasuki gereja. Semua para tamu segera berdiri menyambut kedatangan keduanya.

Rona kebahagiaan bukan dari calon mempelai perempuan, melainkan calon mempelai pria. Dengan senyuman tipis, kakak beradik ini berbalik untuk menyambut calon mempelai perempuan mereka masing-masing. Kelopak-kelopak bunga yang disebar oleh kedua pengiring menambah suasana menjadi meriah namun sakral ini.

Ketika kedua calon mempelai perempuan masing-masing diserahkan langsung dari Ayah kedua belah pihak—kepada pria yang akan menjadi suami dari anak perempuan mereka. Dengan penuh kerelaan, kedua Ayah ini menyerahkan anak perempuan mereka kepada calon mempelai pria. Ayah keduanya berharap inilah kebahagiaan yang ditunggu dan bangga bisa menyerahkan secara langsung putri kesayangan kepada laki-laki yang dicintai anaknya.

Dengan mengenggam erat, keempat mempelai menghadap kepada pemimpin pernikahan—Pendeta di gereja tersebut. Sedikit berdeham pelan, Pendeta itu memulai memimpin acara sakral ini. Dengan tenang dan khidmat, mereka menghayati di setiap perkataan dari Pendeta itu—sampai ucapan janji suci mereka masing-masing dihadapan semuanya.

"Saya Itachi Uchiha, menerima Konan Yahiko sebagai pasangan hidup saya di dalam suka dan duka, sehat dan sakit hingga ajal menjemput dan memisahkan kami."

Perkataan tegas Uchiha sulung dari Fugaku dan Mikoto ini disambut oleh Konan dengan lancarnya mengucapkan janji sucinya.

"Saya Konan Yahiko, menerima Itachi Uchiha sebagai pasangan hidup saya di dalam suka dan duka, sehat dan sakit hingga ajal menjemput dan memisahkan kami."

Pendeta kemudian mengucapkan selamat kepada kedua insan yang berbahagia ini telah sah menjadi suami istri. Lalu dilanjutkan kepada putra bungsu dari Fugaku dan Mikoto ini. Dengan tegas dan lancar sama halnya dengan kakak kandungnya, ia mengucapkan janji sucinya.

"Saya Sasuke Uchiha, menerima Sakura Haruno sebagai pasangan hidup saya di dalam suka dan duka, sehat dan sakit hingga ajal menjemput dan memisahkan kami."

Kemudian disambut dengan tenang tanpa gugup sekalipun dari Sakura, wanita yang dicintai oleh adik bungsu dari Itachi Uchiha ini.

"Saya Sakura Haruno, menerima Sasuke Uchiha sebagai pasangan hidup saya di dalam suka dan duka, sehat dan sakit hingga ajal menjemput dan memisahkan kami."

Tepuk tangan meriah menghiasi acara janji suci mereka berempat, bersamaan ketika Pendeta mengucapkan selamat pada Sasuke dan Sakura sah menjadi suami istri. Acara penuh keharuan dan isak tangis bahagia di keluarga mereka masing-masing mewarnai pernikahan mereka berempat.

Pendeta mempersilahkan kepada mempelai pria masing-masing membuka kain tule gading yang menutupi wajah istri mereka. Rona kemerahan mewarnai di wajah mempelai perempuan masing-masing, lalu dilanjutkan dengan acara pemasangan cincin pada jari manis mereka,

Dengan senyum bahagia terpancar dari keempat anak manusia ini, baik Itachi dan Sasuke memasangkan cincin putih di jari manis masing-masing istri mereka berdua. Kemudian dibalas dengan Konan dan Sakura memasangkan cincin di jari manis pada suami mereka masing-masing. Lalu mereka berempat memamerkan cincin yang telah disemat di jari manis mereka—dan menunjukkan bahwa mereka berempat telah menikah.

Siulan-siulan meramaikan suasana ketika Pendeta mempersilahkan kepada mempelai pria untuk mencium pasangan mereka masing-masing. Rona gugup terpancar dari wajah Konan dan Sakura. Karena dia mengingat ciuman sebelumnya bersama laki-laki yang keduanya cintai tidak bisa dikata-kata. Dengan seringai kecil terlihat di wajah kakak beradik ini kemudian menrik istri mereka masing-masing—lalu mencium bibir dengan lembut dihadapan semua orang.

Mereka berempat menghayati ciuman mereka sampai siulan kembali membuat—keempat manusia itu melepaskan ciumannya dan menghadap ke belakang seraya menatap para tamu. Tanpa tak terduga Sasuke menarik dagu istrinya dan mengatakan secara tegas hingga rona merah tipis menghiasi wajah Sakura.

"Aku mencintaimu, Sakura."

Dibalas dengan ucapan yang sama oleh Sakura. "A-aku juga mencintaimu Sasuke-kun."

Seakan tak mau kalah dengan adik kandungnya sendiri, kakaknya merendahkan tubuhnya dan menatap istrinya—dan mengucapkan kata sakral kepada Konan.

"I love you, konan."

Dengan senyuman tipis, Konan menyambut dan membalasnya dengan ucapan yang sama. "I love you too, Itachi-kun."

Kebahagiaan memang muncul seteah perjuangan yang sangat berat. Ketahuilah memang masa lalu itu ada yang pahit dan ada yang manis. Namun itulah adalah bayangan semata, yang sekarang dikejar adalah masa depan yang cerah. Pilihan memang membuat manusia bingung memilih yang mana tepat, akan tetapi ketika dipikirkan baik-baik maka akan ada kebahagiaan yang menantinya.

Cinta dan pilihan memang berbeda, namun apabila dipikirkan baik-baik dan berasal dari hati maka—akan suatu saat mendapatkan apa yang diinginkan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

*The End*


Wulanz Aihara Notes

Akhirnya satu karya telah selesai dan tamat pada part ke sebelas. Maaf bila lama diupdate karena urusan RL yang mendesak. Kini setelah selesai pendidikan Strata satu pada dua hari yang lalu, maka saya berusaha untuk melanjutkan karya-karya yang saya tinggalkan. Juga meminta maaf apabila ada kesalahan kata, ataupun plot ceritanya terlalu terburu-buru atau alasannya. Karena mungkin ini adalah memang akhir dari karya satu ini.

Terima kasih yang telah menunggu karya ini, mereview, mengfollow dan mengfavoritkan karya ini. Saya ucapkan sekali lagi terima kasih :*

Salam

Wulanz Aihara Phantomhive

Palembang, 25 Oktober 2014.