Galerians, in.

A/N: Ada seorang reviewer yang penasaran tentang sekuat apa sih Jiraiya. Baiklah, mari hamba kasih fakta yang sudah disebutkan di manga aslinya.

Fakta pertama, Kisame dan Itachi pernah berkata bahwa kalau mereka akan kalah kalau melawan Jiraiya, atau paling bagus, pertarungan itu akan berakhir seri, dan itupun kalau mereka berdua dapat bala bantuan. Ingatlah yang ngomong ini adalah Kisame, shinobi yang disebut [Bijuu Tanpa Ekor] dan bisa menyatu dengan Samehada, dan Itachi yang notabene punya Mangekyo Sharingan hingga bisa memakai Tsukuyomi, Amaterasu, dan Susano'o.

Fakta kedua, Jiraiya adalah orang yang berhasil menghentikan Kyuubi!Naruto yang sudah dalam fase [Ekor Empat] SETELAH dia mendapat luka parah (anda tahu sendiri sebesar apa bekas luka yang ada di dadanya).

Fakta ketiga, Pein (atau Nagato, terserahlah) juga pernah mengatakan bahwa dia takkan mungkin bisa mengalahkan bekas gurunya kalau saja Jiraiya sudah terlebih dahulu mengetahui tentang rahasia kemampuan Pein.

Fakta terakhir, apa anda tahu bahwa Jiraiya adalah shinobi yang PALING BANYAK menyelesaikan misi di seantero Elemental Countries? Detilnya adalah 1.839 misi, 58 D-rank, 345 C-rank, 684 B-rank, 614 A-rank, dan 138 S-rank.

Setelah membaca info di atas, apa masih ada yang meragukan kemampuan Jiraiya?

Here is the BGM to keep you company for this chapter:

1. Naruto Shippuuden OST - Nightfall

Warning:

Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!

Selamat membaca!

~••~

When The Sun Averts a War

Chapter 2

(The Start of Another Trouble?! Someone Unexpected Comes to Visit!)

Entah berapa lama waktu berlalu sejak [Protokol 3H] diimplementasi, tapi ketika langit sudah mulai memerah, pemandangan tanah kosong di tengah-tengah hutan yang terletak di pinggiran kota itu telah dihiasi oleh tubuh-tubuh yang semuanya memiliki dua pasang sayap. Sosok mereka yang dibungkus jubah berkudung hitam panjang menyembunyikan fakta bahwa tubuh mereka telah remuk redam, dan satu-satunya hal yang membuat mereka tak harus merasakan malu karena telah dipecundangi oleh seorang manusia adalah fakta bahwa mereka kini terkapar di tanah dalam keadaan tak sadarkan diri.

Di tengah-tengah tanah kosong itu, berdiri seorang laki-laki remaja. Sebuah luka sayatan memanjang dapat dilihat menghiasi pipinya, mengalirkan darah yang berkumpul di ujung dagu sebelum jatuh menetes ke permukaan bumi. Tangan kanannya terkepal di sisi tubuh dan nampak dibungkus oleh Chakra yang memiliki pendar biru muda, sedangkan tangan kirinya dipakai untuk mencekal kerah jubah musuh terakhir yang masih mampu mempertahankan kesadaran, mengangkatnya cukup tinggi di udara hingga kakinya tak lagi menyentuh tanah.

Dia tersenyum tipis dan mengucapkan satu kalimat singkat. "Tidur yang nyenyak."

Remaja berambut pirang yang memiliki pekerjaan asli sebagai seorang shinobi itu melepaskan cekalannya, dan menyarangkan pukulan tepat di ulu hati sang musuh sebelum kaki orang itu sempat mencapai tanah. Serangan yang disertai cukup Chakra untuk menghancurkan batu karang sekalipun itu membuat darah menyembur dari arah wajah sang musuh yang tertutup kudung jubah, mementalkan tubuhnya belasan meter ke belakang di mana dia mendarat dan terguling-guling sebelum akhirnya berhenti dalam keadaan telungkup.

Naruto memandang berkeliling dengan kuda-kuda yang masih ada dalam posisi siap tempur, menunggu apakah sosok-sosok yang bertebaran di sekelilingnya ini akan memberikan pertanda bahwa mereka masih sadar dan mampu melanjutkan pertarungan. Mungkin dia memang agak terlalu paranoid, tapi fakta bahwa kelompok Datenshi ini berhasil melucuti Ryuujin dari tangannya, bahkan setelah dia memakai Hiraishin secara beruntun, sudah menjadi alasan bagi Naruto untuk tidak meremehkan mereka lagi.

Akan tetapi, setelah dua menit berlalu tanpa reaksi apapun, Naruto akhirnya menyimpulkan bahwa pertarungan kali ini memang benar-benar sudah berakhir. "Hm," suaranya menyimpan sedikit nada kecewa. "Kurasa cuma sampai situ."

Yakin bahwa nyawanya kini sudah tak terancam lagi, Naruto menyantaikan postur tubuhnya dan menarik napas dalam-dalam. Adrenalin yang secara konstan bersirkulasi dalam sistem tubuhnya sepanjang pertempuran mulai menurun, membuat Naruto meringis ketika dia akhirnya menyadari rasa sakit yang berasal dari kedua tangannya.

Satu hal lain yang ia temukan tentang lawan-lawannya kali ini adalah fakta bahwa mereka memiliki durabilitas yang benar-benar patut diacungi jempol. Bayangkan, saat Naruto mengamati tangannya, dia sampai diserang rasa shock kecil saat mendapati bahwa buku jarinya telah sedikit membengkak dengan kulit yang memerah.

"Ampun, tebal sekali sih kulit mereka ini…" dia menggerutu pelan sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir rasa sakit. "Rasanya sudah seperti memukuli dinding besi saja."

'Tidak usah mengeluh seperti itu, Goshujin-sama. Malaikat-malaikat buangan ini memang kuat, tetap saja mereka masih jauh lebih lemah daripada musuh-musuh yang sudah pernah Goshujin-sama lawan dulu. Masih ingat latih tanding 'serius' yang Goshujin-sama lakukan dengan guru mesum Goshujin-sama?'

Dia tak menyanggah karena teguran Kurama memang benar adanya. Kalau diingat baik-baik, lawan-lawan yang sudah dia hadapi sebelum dia tiba di Kuoh memang cenderung jauh lebih kuat daripada makhluk-makhluk yang memiliki empat sayap berbulu hitam ini, dan salah satu satu contoh terbaik untuk itu adalah gurunya sendiri.

'Kau benar, Kurama,' Naruto menyahut. Sang remaja berambut pirang jabrik berantakan meringis saat mengingat bagaimana di sesi latih tanding terakhir kali mereka jalani, ruas-ruas tulang tangan dan kaki Naruto selalu mengalami retak kalau dipakai untuk menyerang fisik Jiraiya yang sudah ditempa selama puluhan tahun, dan diperkuat lagi dengan jurus [Yousai Kabe] beberapa level lebih tinggi dari apa yang Naruto bisa lakukan. Bahkan di akhir sesi latihan 'serius' yang berlangsung selama dua hari penuh itu, di mana Naruto dan Jiraiya sukses membuat pemerintah setempat harus mengubah gambaran peta karena mereka berhasil meratakan tiga bukit yang menjadi korban saat mereka beradu Jutsu, tangan dan kaki Naruto sudah berada dalam kondisi yang sebegitu parah sampai-sampai Jiraiya harus menggendongnya ke rumah sakit di kota terdekat.

Naruto takkan pernah mengakui ini pada siapapun, kecuali mungkin pada Kurama, tapi alasan kenapa dia selalu bersemangat setiap kali melakukan latih tanding yang selalu berakhir dengan tubuhnya yang remuk redam itu adalah karena dia bisa mendapatkan gendongan dari Jiraiya.

…Ahh, sial. Sekarang dia jadi kangen pada petapa mesum yang hobi mengintip pemandian wanita itu.

Naruto menggeleng-gelengkan kepala untuk membersihkan pikirannya yang mulai meleng ke mana-mana. Remaja itu mengangkat tangannya dengan telapak tangan terbuka, dan tak sampai satu detik kemudian, Ryuujin yang tadi telah menghilang di balik rimbun pepohonan yang memagari tanah kosong itu melayang berputar di udara sebelum kembali digenggam oleh tangan majikannya.

Dia mencabut bola permata putih yang terpasang di pedang itu dan berbisik, "Terima kasih."

Sebuah dengkuran senang bergemuruh di kepala Naruto sebelum bola itu melayang dan kembali memasuki tubuh majikannya.

"Nah," setelah menyimpan kembali Ryuujin ke dalam Fuuin penyimpanan yang ada di pergelangan tangannya, Naruto melirik musuh-musuhnya yang tak sadarkan diri. "Harus kuapakan kalian sekarang?"

Akan tetapi, baru saja dia memutar otak, perhatian Naruto teralih oleh suara yang terdengar dari belakangnya, dan dia kenal siapa pemilik suara yang memanggil namanya itu.

"Naruto-kun?!"

Naruto tertegun sesaat sebelum mendongak ke langit. Entah bagaimana, dia bisa mendengar harapan untuk bisa meneruskan tidur yang terkandung dalam hatinya pecah berkeping-keping. 'Kenapa, Kami-sama…?' dia menyampaikan protes dari lubuk hati terdalam. 'Kenapa…?!'

Tahu bahwa nasib apesnya kali ini takkan berubah walau dia bersujud sambil menghiba-hiba, Naruto memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik untuk menghadapi takdirnya.

"Y-yo!" dia menyapa sambil berusaha agar suaranya terdengar menyenangkan. "Lama nggak ketemu ya, Ojou-sama…! Apa kabar…?!"

Namun gadis Iblis berdarah murni itu sama sekali tidak tertipu. "Dasar—" dia berjalan ke arah Naruto dengan kaki yang dientakkan dan sorot mata yang tajam. "—cowok—" gadis dengan kacamata berbingkai ungu itu mengangkat tangannya. "—BEGO!"

Satu telapak tangan melayang, dan suara 'plak' nyaring bergema di telinga semua yang mendengarkan.

~•~

"Empat hari," Gadis Iblis remaja dengan rambut sehitam malam itu mendesis sambil menepuk-nepukkan kakinya ke lantai ruang OSIS. "Empat hari, Naruto-kun." Iblis berdarah murni dengan nama lengkap Sona Sitri itu melempar delikan tertajam yang ia bisa. "Kau lenyap tanpa kabar apa-apa, tak ketahuan juntrungannya ada di mana. Kau tahu kau sudah membuatku sekhawatir apa?"

Naruto meringis, dan entah untuk yang keberapa kali, bertanya dalam hati dosa apakah gerangan yang telah ia perbuat hingga dia layak mendapat nasib seapes ini.

Hampir lima belas menit telah berlalu dia berhasil menang melawan lima Datenshi bersayap empat yang berusaha membunuhnya dan kini telah dikirim ke instalasi penjara di Meikai (Naruto cukup kaget saat mendengar kalau di dimensi kediaman para Iblis ternyata juga punya penjara) oleh Sona. Sekarang, Naruto telah berada di Akademi Kuoh, atau tepatnya di ruang OSIS, dan tengah bersimpuh di lantai dengan kepala sedikit tertunduk dan wajah yang agak kemerahan menahan malu.

Dia bisa mengerti kalau bolos beberapa hari seperti itu memang kurang baik mengingat dia sekarang juga memegang status sebagai 'anak sekolahan', tapi apakah dia benar-benar harus diperlakukan seperti ini? Bahkan anggota-anggota OSIS yang tadi sebenarnya sedang sibuk ketika Naruto diseret masuk ke ruangan itupun kini telah menghentikan pekerjaan mereka untuk menonton episode sial yang entah kenapa selalu mendominasi kehidupan Naruto.

Satu-satunya hal yang bisa Naruto syukuri dari konfrontasi ini adalah fakta bahwa Rias dan Peerage-nya tak ada di depannya. Jujur saja, Naruto tak bisa mengira rasa malu sebesar apa yang akan dia rasakan kalau sampai Issei dan Asia turut menyaksikan situasinya ini.

Di depan Naruto, berdiri seorang gadis berambut hitam yang panjangnya hanya mencapai leher, dengan tangan bersidekap dan mata violet yang tersembunyi di balik kacamata yang kini berkilap menakutkan. Suaranya kalem dan tenang, namun menyimpan racun mematikan. "Bukannya memberitahu kami bahwa kau baik-baik saja, apa yang pertama kau lakukan setelah bolos sekolah selama itu? Kau malah terlibat perkelahian. Perkelahian. Dan kau masih berani menyapaku sambil senyam-senyum seakan-akan semuanya baik-baik saja?"

"Bagus, Kaichou! Marahi saja dia!" Saji menambahkan. Naruto tak tahu kenapa, tapi anak remaja berambut cokelat muda itu tampak senang sekali melihat Naruto yang diomeli. "Anak nakal yang suka bolos sepertinya tidak patut dikasih ampun!"

Naruto menahan keinginan untuk mendesah panjang, dan berusaha menenangkan diri dengan satu tarikan napas. "E-em, kalau aku boleh membela diri, sebenarnya hal pertama yang kulakukan setelah pulang ke kota ini adalah tidur," Naruto mencoba berargumen. "D-dan lagi, apa kalian pikir aku tidak masuk sekolah selama itu untuk rekreasi atau liburan?! Aku keluar kota karena ada kerjaan! Sumpah!"

"Oh?" kacamata Sona berkilat. "Dan kerjaan macam apa yang kau lakukan sampai-sampai kau tak punya waktu untuk mengabari kami?"

"…Em," Naruto berdecap-decap sambil mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang sudah terjadi di kota sebelah itu tanpa harus memberi detil lengkap tentang bagaimana misi mencari anak hilang malah membuat Naruto harus membabat habis sebuah organisasi pengedar narkoba. "A-anu…"

Sial bagi Naruto, Sona menghampiri meja kerjanya, membuka dan mengambil sesuatu dari laci, sebelum memampangkannya untuk semua mata yang memandang. "Apakah kerjaan itu ada hubungannya dengan berita ini?"

Semua pasang mata yang tadi mengamati berita utama di halaman depan koran itu berpindah ke arah shinobi yang bersimpuh di lantai dan kini tersenyum kikuk dengan wajah berkeringat dingin. "Eh…? Jadi ternyata peristiwa itu masuk koran ya…?" mulut Naruto tiba-tiba terkatup seakan-akan baru sadar apa yang baru dia katakan. "M-maksudku, aku nggak tahu kau sedang ngomong apa, O-Ojou-sama…!

Satu karakteristik menarik tentang diri Naruto adalah walaupun cowok berusia lima belas tahun itu sebenarnya cukup pintar berbohong dan memutar balik fakta, keahlian itu hanya berlaku kalau dia sedang berhadapan dengan orang asing atau orang yang tidak ia sukai. Kalau Naruto mencoba berbohong pada orang yang sudah dia anggap sebagai teman, maka kemampuan itu akan menurun drastis, dan bukti untuk itu bisa terlihat dari wajah semua penghuni ruangan yang menandakan bahwa mereka sama sekali tak mempercayai kata-kata Naruto.

Merasa bahwa usahanya menyembunyikan kenyataan berujung tak efektif, Naruto melepaskan hembusan panjang sambil menundukkan kepalanya. "Oke, oke, aku mengaku. Aku memang turut punya andil dalam penggerebekan itu." Dia melirik Sona. "Puas?"

"Belum." Sona menyahut cepat. "Aku masih ingin tahu kenapa seorang anak SMA sepertimu sampai terlibat dengan masalah seperti ini."

"Oke, ini memang kedengarannya susah dipercaya, tapi aku bukan orang yang suka berlagak jadi pahlawan dan membersihkan sampah masyarakat seperti itu demi menjaga kedamaian atau semacamnya. Aku cuma mendapat misi dari salah satu tetanggaku untuk mencari anak mereka yang lari dari rumah hampir satu bulan lalu. Bukan salahku kan kalau ternyata anak itu memutuskan untuk membayar hutangnya pada seorang gembong narkoba dengan bekerja sebagai pengedar, dan lari dari rumah karena tak ingin melibatkan orangtuanya."

"Lalu kenapa kau tidak batalkan saja misi itu?" Sona bertanya meletakkan koran yang ia pegang di atas meja panjang yang ada di tengah ruangan itu sebelum bersidekap lagi. "Kau cuma dapat permintaan mencari tahu ke mana perginya anak yang lari dari rumah itu kan? Kau bisa menyelesaikan misi itu cukup dengan memberitahu klienmu di mana anak mereka tanpa harus melibatkan dirimu sampai sejauh itu."

"Kau tidak melihat bagaimana kondisi mereka, Ojou-sama. Anak itu sudah lari dari rumah hampir satu bulan lamanya. Gara-gara itu, ibunya kehilangan nafsu makan dan jatuh sakit karena khawatir. Dia bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur saat aku menemui mereka. Aku tak punya hati untuk menemui mereka lagi tanpa membawa anak mereka pulang." Naruto menghembuskan napas lagi. "Lagipula, misi yang berubah proporsi dengan sangat drastis seperti itu sudah bukan cerita baru untukku."

"Eh? Apa maksudmu, Namikaze-san?" Tsubaki bertanya. "Apa itu berarti kau sudah sering menerima misi seperti ini?"

"Yah, nggak sering-sering amat sih. Cuma beberapa kali," Naruto mengangkat tangan kanan dan mengacungkan jari kelingkingnya. "Sebagai contoh, kurang lebih satu setengah tahun yang lalu aku mendapat misi untuk mencari binatang peliharaan dari seorang pemimpin rombongan karavan. Misi yang satu ini membuatku harus berurusan dengan seorang Shogun dari daratan seberang yang mencari batu sakti bernama Batu Gelel. Awalnya dia mengaku mencari batu sakti itu demi membangun sebuah surga dunia di mana tak ada perang dan penderitaan, tapi ujung-ujungnya, aku dan Shishou harus menjatuhkan Shogun itu karena ternyata dia hanyalah seorang psikopat haus kekuasaan yang berniat membuat orang-orang lemah yang tak bisa melawan menjadi budaknya."

"Tidak berapa bulan kemudian, aku dan Shisho disewa oleh seorang pangeran dari Tsuki no Kuni, untuk menjadi bodyguard dalam perjalanan pulang ke negaranya setelah pesiar dunia mereka. Tapi bukannya selesai dan dapat bayaran setelah kami tiba di tempat tujuan, misi itu berubah haluan menjadi misi menghentikan usaha kudeta ketika salah satu bangsawan negeri itu mengkhianati raja penguasa Tsuki no Kuni dengan dibantu oleh tiga Nukenin (Rouge Ninja) dan sekelompok besar prajurit bayaran."

Kecuali Naruto, saat ini semua orang yang ada di ruangan OSIS itu sudah membisu, bungkam seribu bahasa sambil menatap sang remaja pirang dengan mata membeliak lebar, walaupun semua itu tak disadari oleh Naruto yang masih terlalu sibuk mengingat-ingat misinya yang lampau.

"Hm, masih ada nggak ya? Oh, benar juga," Naruto mengusap-usap dagunya dengan tangan kiri sebelum jari tengah di tangan kanannya turut teracung di samping jari manis dan jari kelingking. "Belum sampai setengah tahun yang lalu, aku pernah dapat misi menjadi bodyguard seorang aktris tenar selama syuting yang akan dijalankan di Yuki no Kuni. Usut punya usut, ternyata aktris itu adalah seorang tuan putri, anak mantan Daimyo yang dulu berkuasa di negeri itu dan terbunuh dalam kudeta yang dilancarkan oleh saudaranya. Aku dan Shishou-ku akhirnya harus menjatuhkan pemerintahan tiran yang mendapat bekingan dari sekitar tiga ratus lebih shinobi Yukigakure."

"Tepat setelah misi itu, aku dan Shishou diutus ke Oni no Kuni (Demon Country) untuk mengawal seorang Miko dalam perjalanannya ke sebuah kuil rahasia demi membasmi seorang Iblis dari dunia lain bernama Mouryou yang terbebas dari segelnya. Tapi karena satu dan lain hal, usaha itu gagal, hingga aku dan Shishou akhirnya harus berperang melawan pasukan prajurit batu yang tak bisa mati dan Mouryou sendiri."

"Empat misi yang semuanya berubah proporsi dengan drastis menjadi level S, dan itupun belum semuanya," Naruto mengangkat bahu dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Setelah misi-misi seperti itu, kalian sekarang mengerti kan kenapa aku nggak terlalu protes saat misi dengan deskripsi 'mencari anak yang lari dari rumah' berubah jadi 'membabat habis sebuah organisasi pengedar narkoba'?"

"…Wauw," gadis dengan rambut yang dikuncir kembar dan dihiasi sebuah ahoge, salah satu korban 'pelecehan seksual' yang Naruto lakukan kurang dari sebulan lalu, berdecak kagum. "Aku tak menyangka kalau kehidupanmu ternyata… semenarik itu, Namikaze-kun."

"Daripada menarik, kurasa lebih tepat kalau kisah hidup Namikaze-kun disebut apes, Tomoe-chan." Gadis yang berdiri di sebelahnya tertawa kecil. Naruto mengenali gadis dengan rambut dikepang kembar itu sebagai Kusaka Reya, korbannya yang lain. "Atau kalau kau mau lebih puitis, boleh dibilang [Nasib] Namikaze-kun ini sudah pernah terguling dari lereng gunung tercuram, terpental menyeberangi daratan, meluncur menembus awan, menghantam permukaan bulan, sebelum akhirnya jatuh lagi ke Bumi sebelum tenggelam ke dasar lautan."

Naruto hanya tersenyum masam. Kalau misi-misi yang ia jalankan selama mengembara bersama Jiraiya saja sudah diberi deskripsi semacam itu, Naruto tak ingin tahu deskripsi macam apa yang akan Reya berikan kalau dia sampai tahu kehidupan macam apa yang sudah Naruto jalani di Konoha setelah dia menjadi seorang Jinchuuriki.

"Kalau saja kau memberitahuku semua ini satu bulan yang lalu, mungkin aku takkan mempercayaimu, Namikaze-san," Tsubaki nampak seperti menahan tawa. "Aku jadi bertanya-tanya, dosa macam apa yang sudah kaulakukan sampai hidupmu jadi sesial itu?"

"Aku juga sudah sering menanyakan hal yang sama, tahu!" Naruto menyahut sebal dengan bibir dimanyunkan.

"Naruto-kun," tidak seperti bawahan-bawahannya, suara Sona masih berisi nada tidak senang. "Setelah cerita pengalaman-pengalamanmu tadi, kuakui kau memang bisa dibilang kompeten kalau sudah menyangkut hal-hal seperti itu. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa kau sekarang sudah menjadi seorang siswa, Naruto-kun. Sebagai seorang siswa, tugas utamamu adalah menerima pendidikan, dan tugas itu takkan bisa kau laksanakan dengan baik kalau kau sering bolos sekolah seperti ini."

"Tapi bagaimana dengan kebutuhan sehari-hariku, Ojou-sama? Kalau aku tidak kerja, dari mana aku dapat uang untuk menafkahi diriku sendiri?"

"Alah, 'kebutuhan sehari-hari' apanya? Kau kan pasti dapat uang saku dari orangtuamu. Atau jangan-jangan uang yang mereka berikan itu kau habiskan untuk hal-hal yang nggak berguna?" Saji mendengus. "Dasar preman jaman sekarang. Aku jadi ingin mendengar apa yang akan orangtuamu katakan saat tahu bahwa anak yang sudah susah-payah mereka sekolahkan ternyata malah keluyuran nggak jelas—"

"Saji!"

Sang sekretaris OSIS itu tersentak saat Sona menghardiknya dengan suara tajam. Saji sebenarnya ingin tahu ada apa, tapi batal bertanya saat melihat bahwa perhatian Sona, serta semua anggota OSIS lainnya, sedang tak tertuju padanya. Dan saat Saji mengikuti arah pandangan mereka, apa yang dia temukan langsung memberitahunya bahwa ada sesuatu yang sangat salah.

Remaja yang mengenakan kaos putih berlengan panjang dan celana kain hitam itu masih bersimpuh di lantai. Akan tetapi, ekspresi kikuk dan agak sedikit gugup yang semula menghiasi wajahnya kini sudah tak ada lagi. Tak ada satupun orang di ruang OSIS itu yang bisa membaca apa arti ekspresi itu karena memang tak ada yang bisa dibaca, baik itu rasa bahagia, malu, sedih, atau bahkan marah.

Namun jika ada satu hal yang paling jelas memberitahu mereka bahwa ada sesuatu yang salah, maka hal itu adalah mata Naruto. Karena biru langit yang senantiasa hangat itu kini telah berubah menjadi biru beku, kosong dan menerawang, serta membuat mereka merinding walaupun tatapan dingin itu tengah tak tertuju pada siapapun.

"Naruto-kun…?" Sona mencoba memanggil namanya, namun Naruto tidak merespon. Sona sendiri tak yakin apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi satu hal yang Sona tahu pasti adalah dia sama sekali tak suka melihat Naruto seperti ini. "Naruto-kun…!"

Panggilan yang sedikit lebih nyaring itu berhasil merenggut Naruto dari entah hal apa yang membuatnya seperti hilang kontak dengan dunia luar. "E-eh…?" Naruto mengerjap, dan walaupun sinar matanya masih tetap biru beku, setidaknya tatapannya yang tadi menerawang sekarang sudah terfokus kembali. "A-apa yang—"

"Naruto-kun," Sona kembali memanggil nama pemuda itu dengan nada terlembut yang ia bisa. "Ada apa?"

Naruto mendongak, dan saat dia membalas tatapan Sona, sang ketua OSIS merasa dia bisa melihat sesuatu dalam sinar mata Naruto yang mungkin bisa memberitahunya tentang apa gerangan yang membuat shinobi remaja itu bereaksi begitu buruk pada kata-kata yang dilontarkan oleh Saji.

Namun belum sempat dia menyimpulkan hal apa itu, sesuatu tiba-tiba saja menarik perhatian mereka berdua.

Satu manusia dan delapan Iblis menoleh ke satu arah secara bersamaan ketika mereka merasakan ledakan energi yang berasal dari arah bangunan sekolah tua Akademi Kuoh. Sona berhasil mengendalikan rasa terkejutnya tepat waktu untuk melihat Naruto yang berdiri dengan ekspresi wajah keras dan tubuh menegang seakan-akan bersiap terjun ke dalam sebuah pertempuran.

Tubuh Naruto mulai dibungkus oleh cahaya keemasan, namun sebelum sempat jurus teleportasi itu benar-benar diaktifkan, Sona telah lebih dulu meraih tangannya dengan gerakan sangat cepat yang dimungkinkan oleh fisiknya sebagai seorang Iblis. "Naruto-kun!"

"Kenapa kau menghentikanku, Ojou-sama?" Naruto menggeram. "Kau juga merasakan ledakan energi tadi kan? Bagaimana kalau—"

"Apa kau sudah lupa apa yang terjadi dengan Riser?" Sona menyela dengan sebuah pertanyaan sambil mencengkeram lengan Naruto lebih keras agar shinobi yang suka panas hati itu tak bisa melepaskan diri. "Kita tidak tahu situasinya seperti apa, dan bertindak gegabah di saat seperti ini bukanlah sesuatu yang bijaksana, Naruto-kun."

Naruto tak menyahut dan hanya terus memandang mata Sona. Namun ketika Sona tidak kunjung bergeming meskipun beberapa saat telah berlalu, Naruto akhirnya menyerah dan mengangguk kaku.

"Beri aku satu menit, lalu kau bisa menyusulku," kata Sona cepat sebelum berbalik. "Tsubaki, Saji, ikut aku!"

Sebuah lingkaran sihir bercahaya biru muncul di bawah kaki Sona sementara Tsubaki dan Saji berjalan ke sisinya. Ahli waris Klan Sitri itu memberi satu tatapan terakhir pada Naruto sebelum mereka bertiga lenyap, meninggalkan sang shinobi yang kini harus menelan kekhawatirannya dan memaksa dirinya untuk mematuhi instruksi Sona.

Beruntung bagi Naruto, dia menemukan hal untuk mengalihkan perhatiannya dalam bentuk suara Kurama yang terdengar dari dalam benaknya. 'Apa Goshujin-sama baik-baik saja?'

Dahi Naruto berkerut saat mendengar suara Kurama yang jauh lebih pelan daripada biasanya. Nada percaya diri dan sedikit angkuh yang senantiasa menyertai suara Bijuu terkuat itupun kini tak bisa terasa. Lalu Naruto tersadar. Naruto telah berulang kali memberitahu Kurama bahwa apa yang terjadi di ulang tahun Naruto sepuluh tahun lalu tersebut bukanlah salahnya, mengingat apa yang Kurama lakukan hari itu terjadi karena pria bertopeng itulah yang memberi perintah terakhir agar Kurama mengamuk sejadi-jadinya sebelum Minato berhasil membebaskan sang Kyuubi no Youko dari kontrolnya.

Akan tetapi, itu tak mengubah fakta bahwa semenjak hubungan antara mereka berdua menjadi semakin dekat, Kurama tak pernah berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Minato dan Kushina yang telah memberi trauma hebat pada Naruto.

'Tentu saja.' Naruto mencoba membuat suara hatinya terdengar menyenangkan. 'Kenapa kau bertanya seperti itu?'

'Goshujin-sama…' alih-alih menghibur Kurama, usaha Naruto malah membuat suara Bijuu itu semakin sedih. 'Tolong jangan bohong pada Kurama…'

'Aku—' Naruto memulai, sebelum memotong kalimatnya sendiri. Kenapa dia lupa kalau dia sudah tak pernah lagi bisa bohong pada Kurama? 'Aku sendiri tak yakin, Kurama…' dia memberi jawaban terjujur yang ia bisa. 'Lagipula, sekarang ada hal lebih penting yang harus kukhawatirkan. Nanti kita bisa bicara lagi, oke?'

Kurama tak menjawab, namun Naruto bisa membayangkan bagaimana gadis personifikasi makhluk mistis itu menganggukkan kepalanya.

Naruto melirik jam dinding di ruangan itu dan menyadari bahwa hanya jarum terpanjang sudah hampir mengalami satu putaran penuh. Pemuda itu menegakkan tubuh dan baru saja mau membakar Chakra untuk memakai Hiraishin ketika sebuah suara menarik perhatiannya.

"Namikaze-kun," Naruto menoleh dan mendapati kalau panggilan itu berasal dari Reya. "Hati-hati."

Tomoe yang berdiri di sebelahnya mengangguk dan menambahkan, "Dan kalau di sana memang benar-benar ada bahaya, tolong jaga Kaichou ya?"

Naruto terdiam untuk sepersekian detik sebelum menjawab. "Tentu saja." Dia menyunggingkan sebuah senyuman tipis. "Serahkan padaku."

Dia kembali memandang ke depan, dan menghilang dalam satu kilatan sinar keemasan.

~•~

Saat dia tiba di pinggir tanah kosong itu, sosoknya tersembunyi oleh pepohonan dan rimbun semak, mata biru langitnya telah bersinar, mengindikasikan bahwa dia telah mengaktifkan kemampuan membaca [Aksara Semesta] dan mengekstrak [Data] dari apapun yang ada dalam lingkup penglihatannya. Informasi relevan pertama yang ia sisihkan dari ratusan [Data] yang merangsek masuk ke dalam otaknya adalah sebuah lubang besar berbentuk kawah yang ada di bagian kanan tanah kosong berluas kurang lebih empat puluh enam kali tiga puluh empat meter persegi itu.

Info relevan kedua ia dapatkan ketika tatapannya menangkap sosok Kiba yang terkapar di tanah di dekat lubang tersebut sambil memegangi perutnya, dan nampaknya Ksatria itu telah menerima sebuah luka dalam yang entah mengapa terlihat lebih parah dari kelihatannya.

'Goshujin-sama, luka dalam Iblis itu mengandung aura suci.' Rasa penasaran Naruto terjawab dengan bantuan Kurama. 'Dan Goshujin-sama tahu sendiri kalau kekuatan suci adalah kelemahan terbesar bangsa Iblis.'

'…Tunggu dulu. Kalau Kiba-san terluka karena kekuatan suci, maka itu berarti—'

"Boost!"

Naruto tak jadi menyelesaikan pikirannya saat mendengar dentingan nyaring yang berasal dari tengah-tengah tanah kosong. Mata Naruto melebar saat mendapati bahwa di sana, Issei tengah menghadapi dua gadis secara sekaligus, dan terpental jauh ke belakang setelah mengadu Boosted Gear dengan pedang besar yang ada di tangan gadis berambut biru. Otak Naruto berputar cepat dan menghubungkan identitas dua gadis tak dikenal itu dengan info yang ia dapat dari Azazel beberapa jam lalu, membuat sang shinobi menyimpulkan bahwa mereka pastilah Xenovia dan Shidou Irina, dua agen Gereja yang diutus ke Kuoh untuk merebut kembali Excalibur yang telah dicuri oleh Kokabiel.

Tak sampai sepersekian detik kemudian, napas Naruto tiba-tiba tercekat saat menyadari bahwa di tubuh Issei telah terdapat beberapa luka sayatan yang semuanya mengeluarkan semacam uap miasma berwarna ungu kehitaman.

Lalu dia sadar bahwa luka-luka yang sebenarnya tidak dalam itu pasti jauh lebih berbahaya dari kelihatannya karena dibuat oleh Pedang Suci yang ada di genggaman tangan Xenovia dan Irina.

"Issei-san!" Naruto menoleh, dan mendapati bahwa panggilan itu berasal dari Asia yang sedang berdiri di pinggiran lain tanah kosong itu, sama seperti semua Iblis lainnya. "Issei-san! Kumohon, hentikan!"

"Issei!" Rias yang berdiri di samping Asia turut berteriak. "Kenapa kau tidak mau berhenti?! Kau sudah mendapat terlalu banyak luka dari Pedang Suci itu!"

"Hyoudou-kun, tolong dengarkan kami!" kali ini, suara yang Naruto dengar berasal dari suara Sona. "Aku mengerti kalau kau sedang marah, tapi kalau kau terus bersikeras melanjutkan pertarungan ini, maka nyawamu akan terancam!"

Apa yang ada dalam perkataan Sona serta-merta langsung membuat Naruto mengerti apa yang membuat Issei bertingkah seperti ini. Dan dari apa yang Naruto ketahui tentang watak Issei, maka akan sangat sulit untuk menghentikan remaja berambut cokelat itu hanya dengan kata-kata.

Karena itulah, saat Issei bangkit lagi dan menggeram, tubuhnya menegang seperti bersiap untuk kembali menyerang, Naruto membuat keputusan. Sosok sang shinobi lenyap dalam kilatan sinar keemasan dan muncul di depan sang Pion, sebelum melayangkan kepalan tangannya untuk memberi sebuah bogem mentah di pipi sahabatnya itu.

Ada hening sejenak yang tercipta sementara tertegun karena kinerja otaknya masih dipengaruhi rasa terkejut. Matanya langsung melebar saat Pion itu akhirnya menyadari siapa orang yang baru saja menghajarnya. "Naruto-sa—!"

Naruto menyela perkataan Issei dengan menghadiahi sebuah bogem mentah lagi untuk pipi remaja berusia tujuh belas tahun itu. "Sudah tenang?"

Issei meringis sambil memandang Naruto lagi. "Naruto-san, apa yang—?!"

Bogem mentah lagi-lagi ia dapatkan sementara Naruto kembali bertanya dengan suara datar. "Sudah tenang?"

"Kenapa kau—?!"

Bogem mentah. "Sudah tenang?"

"Tolong hentika—!"

Bogem.

"Kenap—?!"

Boge—

"Aaaahhh!" pukulan Naruto meleset karena Issei tiba-tiba melompat mundur sambil memegangi pipi kirinya yang kini membengkak. "Aku mengerti, aku mengerti! Aku sudah tenang, jadi tolong jangan pukul aku lagi!"

"Bagus." Naruto berkomentar singkat sambil bersidekap, sebelum mengedikkan dagunya ke arah Kiba. "Sekarang, papah si cowok ikemen yang lagi asyik baring-baring di situ dan minta tolong pada Asia untuk menyembuhkan luka kalian."

"T-tapi, Naruto-san—"

"Issei," Naruto menyela lagi, dan kali ini, suaranya sudah tinggal berupa geraman. "Aku. Bilang. SEKARANG."

Issei memekik saat melihat ekspresi seram dan delikan tajam yang memberitahunya bahwa akan ada hukuman sangat berat kalau dia berani membangkang, membuatnya langsung ngacir untuk mematuhi perintah Naruto selagi shinobi itu memutar tubuhnya dan berjalan menghampiri para Iblis yang menonton interaksi antara Issei dan Naruto dengan mulut sedikit ternganga.

"Yo," Naruto menyapa singkat, tangannya meraih dagu Sona dan Rias dan mendorongnya agar mulut mereka tertutup lagi. "Kalau kalian menganga seperti itu, nanti ada lalat yang nyelonong masuk lho."

Teguran Naruto akhirnya membuat Rias sadar, benar-benar sadar, siapa yang berdiri di depannya. "N-N-Naruto!" gadis Iblis yang merupakan ahli waris Klan Gremory itu meraih lengan Naruto dan mencengkeramnya, seakan-akan ingin meyakinkan diri bahwa pemuda itu bukanlah produk imajinasinya. "Kemana saja kau empat hari ini?! Kapan kau pulang?! Apa saja yang kau lakukan?! Kenapa kau tidak memberiku kabar—Kyah…!"

Gadis Iblis berambut merah itu memekik pelan ketika Naruto menjentik ujung hidungnya. "Kita bisa bicara soal itu nanti, Rias. Sekarang, beritahu aku kenapa kau membiarkan pertarungan hidup-mati seperti ini terjadi di lingkungan sekolah."

"Kau keliru, Naruto-kun. Ini bukan pertarungan hidup-mati," Sona yang telah berhasil menguasai dirinya menjadi orang yang memberi jawaban. "Kalau apa yang Rias beritahu padaku tadi memang benar, maka ini sebenarnya hanya dimaksudkan sebagai pertandingan tidak resmi karena adalah perbedaan pendapat antara Hyoudou-kun dan Kiba-kun dengan… dua agen Gereja itu" Sona melirik Xenovia dan Irina, dan Naruto bisa mendeteksi ada sedikit rasa tak senang dalam sinar mata sang ketua OSIS. "Atau setidaknya, itulah yang seharusnya terjadi sampai Hyoudou-kun dan Kiba-kun lepas kendali."

"Oh, oke. Lalu kenapa—"

"Tunggu, tunggu, tunggu," Naruto disela, dan saat dia menoleh, Naruto mendapati kalau suara itu berasal dari Irina. "Siapa orang ini? Dan selagi aku bertanya, apa dia juga seorang Iblis?"

"Apa aku terlihat seperti—" Naruto memotong perkataannya sendiri, melirik para Iblis yang berdiri di belakangnya, sebelum memandang ke depan lagi. "Sori, aku tahu kalau penampilan kaum-kaum Akhirat memang tak bisa dibedakan dengan manusia kalau hanya dilihat dengan mata telanjang. Tapi apa aku terasa seperti seorang Iblis?"

"Hah?" Irina bertanya bingung. "Apa maksudmu, 'terasa'?"

"Yang dia maksud adalah saat ketika dia berteleportasi ke tempat ini," Xenovia menjawab pertanyaan Irina. "Energi yang bisa kurasakan darimu tadi bukan Youki maupun Tengeki." Dia menunjuk Naruto. "Itu artinya kau adalah seorang manusia, seperti kami."

"Tepat sekali," Naruto menyingsing lengan kaosnya, menyentuhkan telunjuk dan jari tengahnya ke simbol berbentuk wajik yang ada di pergelangan tangan kanan tersebut sebelum mengalirkan sedikit Chakra. Sebuah kepulan asap kecil tercipta, dan detik berikutnya, Naruto sudah menyodorkan sebuah kartu pada Irina dan Xenovia. "Silakan."

Sementara Irina menerima kartu itu dengan ekspresi yang masih bingung, Rias meraih lengan Naruto untuk meraih perhatian pemuda itu. "Kartu apa itu, Naruto?"

"Kau ingat selebaran yang dulu kutunjukkan padamu? Kartu itu fungsinya kurang lebih sama." Sahut Naruto. "Jumlah klien yang makin meningkat, bahkan sampai ada permintaan yang datang dari luar kota, membuatku berinisiatif bikin kartu sekalian supaya lebih praktis dan mudah disimpan." Dia melirik Rias. "Kau juga mau? Isinya juga sudah kuperbaharui."

"'Namikaze Naruto, Ninja'." Irina mulai membaca nyaring-nyaring isi kartu itu. "'Menerima pekerjaan apa saja, mulai dari mencari sesuatu yang hilang, memperbaiki peralatan rusak, pengawalan/bodyguard, atau bahkan sampai ke urusan berbau supernatural'." dia mengakhirinya dengan sebuah pertanyaan. "Serius? Kau menerima pekerjaan apa saja?"

"Yep. Asalkan tidak menjurus ke arah kejahatan." Naruto mengangguk. "Dan ngomong-ngomong soal pekerjaan…" Pemuda itu bersidekap. Sikapnya yang tadi cukup kalem dan santai berubah, dibarengi dengan sorotan matanya yang menajam. "Tolong koreksi kalau aku salah, tapi kalian adalah Xenovia dan Shidou Irina kan? Agen Gereja yang dikirim ke kota ini untuk merebut kembali tiga Excalibur yang sudah dicuri?"

Hampir semua orang yang ada di tempat itu terkesiap, Irina dan Xenovia sendiri langsung mengeraskan postur tubuh dan meraih gagang senjata mereka masing-masing. Semua orang di tanah kosong itu memikirkan pertanyaan yang sama, tapi Xenovia mendahului mereka semua. "…Bagaimana kau bisa tahu itu?"

"Salah satu spesialisasiku sebagai seorang shinobi adalah [Ahli Informasi]," Naruto menjawab datar. "Satu pertanyaan lagi. Kalian berdua pergi menemui Rias untuk meminta agar dia tak mencampuri urusan kalian, serta memastikan kalau Rias takkan berpihak pada kubu Datenshi yang sudah mencuri tiga Pedang Suci itu kan? Lalu kenapa tujuan yang seperti itu berakhir dengan hal seperti…" Naruto mengibaskan tangannya ke arah tanah kosong yang masih menyisakan bekas-bekas pertempuran. "Ini?"

Xenovia dan Irina saling pandang untuk sesaat. Xenovia mengembalikan tatapannya pada Naruto sebelum memberi isyarat dengan memiringkan kepalanya ke arah samping. "Kau bisa tanya dia."

Naruto menoleh dan mendapati kalau Issei yang telah selesai disembuhkan Asia telah berdiri lima langkah di sampingnya. "Issei?"

"…Perempuan ini," Issei menggeram sambil terus melempar delikan berisi kemarahan pada Xenovia. "Sudah menghina Asia."

Sorot mata Naruto langsung menajam. Tapi belum sempat dia mengatakan apa-apa, Xenovia telah lebih dulu buka suara. "Menghina?" gadis berambut biru pendek itu mendengus. "Aku hanya memanggilnya penyihir, dan itu adalah sebuah sebutan yang pantas ia sandang. Menghina di mananya?"

Kali ini, alis Naruto bertaut. Cukup dari kata-kata dan tingkah itu saja, Naruto sudah bisa menduga kalau agen Gereja yang satu ini kelihatannya punya sifat yang tidak menyenangkan. Tapi dia masih heran, karena Naruto juga mengenal Issei, dan dia yakin kalau sahabatnya itu takkan sampai mengamuk kalau Asia hanya mendapat hinaan.

"Sebenarnya, aku bisa menahan diri kalau kau hanya menghina Asia," Issei menggeram sambil mengepalkan tangannya. "Tapi itu sebelum kau mengancam akan membunuh Asia."

Apa yang Issei katakan membuat jantung Naruto sempat berhenti berdetak.

"Lalu memangnya kenapa?" Xenovia kembali bicara dengan suara bernada merendahkan. "Apa salahnya kalau aku melakukan itu? Bagi seorang gadis suci yang diusir dari Gereja, mengkhianati Tuhannya sendiri, dan bahkan bersedia mengubah dirinya menjadi seorang Iblis seperti penyihir ini, kematian adalah hukuman yang pantas dia terima."

Mata Issei semakin menajam dan mulutnya terbuka untuk kembali menghardik Xenovia, hal yang batal terjadi ketika suara tawa terdengar memenuhi tanah kosong itu. Dari nadanya yang sinis, bisa terlihat jelas bahwa pemilik suara itu tertawa bukan karena dia merasa ada sesuatu yang lucu.

"Pantas? Pantas?" Naruto perlahan-lahan mengarahkan tatapan pada Xenovia sambil mulai berjalan mengitarinya dan Irina. "Tolong koreksi kalau aku salah, tapi bukannya Asia dipanggil [Gadis Suci] karena kalian yang memberikan julukan itu padanya?"

Dahi Xenovia berkerut. Dia tak tahu kenapa, tapi cara shinobi itu mengitarinya membuat dia terasa seperti seorang predator yang sedang mengincar mangsa. "Hal itu memang benar—"

"Jadi dengan kata lain, Asia tidak pernah meminta julukan seperti itu." Naruto menyela tanpa menghentikan langkahnya. "Sekali lagi, tolong koreksi kalau aku salah. Setahuku, Asia diusir karena dia sudah menyembuhkan seorang Iblis, tapi bukannya saat itu Asia tidak tahu kalau yang disembuhkannya adalah seorang Iblis? Karena, oh aku tak tahu, penampilan Iblis sama sekali tak ada bedanya dengan penampilan manusia?"

"Itu tak ada hubungannya. Dia sudah menyembuhkan seorang Iblis di lingkungan Gereja yang suci…!"

Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Oh, jadi maksudmu itu juga salah Asia, begitu? Apakah penjaga Gereja kalian sebegitu tidak kompeten, sampai-sampai seorang Iblis yang sudah terluka bisa dengan mudahnya masuk ke lingkungan Gereja, dan tidak ada orang lain yang menemukannya selain Asia? Maksudku, Asia seorang Gadis Suci kan? Bukankah seharusnya dia selalu diawasi dan mendapat perlindungan ketat?"

Irina yang berdiri di samping Xenovia mulai bergerak tak nyaman, sementara partnernya itu masih memasang ekspresi tak mau mengalah sembari turut memutar arah tubuhnya agar dia bisa terus menghadap Naruto. "Itu tidak mengubah fakta bahwa kekuatan penyembuhan yang dia miliki juga bisa digunakan pada kaum Iblis dan Datenshi!"

"Hoo, benar, benar." Naruto manggut-manggut, sebelum dengan sengaja memasang ekspresi terkejut di wajahnya, lengkap dengan mata yang melebar. "Oh, tapi tunggu dulu! Bukannya kekuatan penyembuhan Asia itu datang dari Sacred Gear-nya yang bernama Twilight Healing?! Dan bukannya nama lain untuk Sacred Gear adalah [God's Artifact], yang berarti kemampuan penyembuhan Asia yang juga bisa digunakan pada kaum Iblis dan Datenshi itu adalah kemampuan yang diberikan oleh Tuhan?!" Naruto mengembalikan tatapannya pada Xenovia dan Irina sambil berdecak kagum. "Wahh, orang-orang Gereja jaman sekarang hebat ya! Padahal jelas-jelas kemampuan penyembuhan Asia adalah pemberian Tuhan yang kalian sembah, tapi hanya karena Asia menyembuhkan seseorang yang dia tidak tahu adalah seorang Iblis, kalian masih memberinya julukan [Penyihir] dan mengusirnya dari Gereja!"

Pada saat ini, wajah Xenovia dan Irina sudah sama-sama memucat, merasa terpojok karena sama sekali tak bisa membuat kalimat untuk menyanggah kata-kata Naruto.

Namun sial bagi mereka, shinobi tersebut masih belum selesai bicara.

"Kalian bahkan tidak memberi kesempatan bagi Asia untuk bertobat! Karena sebuah perbuatan tidak sengaja, kalian mengusir dan membuang Asia ke jalanan, di mana dia ditemukan oleh seorang Datenshi yang tak hanya sudah menyakiti dan memanfaatkan Asia, tapi juga hampir saja berhasil membuatnya terbunuh! Hanya karena satu perbuatan yang sama sekali bukan salahnya!"

Naruto tertawa keras, sebuah tawa yang sama sekali tak enak didengar karena penuh nada sinis.

Tawa Naruto tiba-tiba berhenti.

"Kalian benar-benar membuatku muak."

Suasana tanah kosong itu langsung menjadi sunyi senyap ketika sang pemilik suara melepaskan kekang atas Chakranya, menciptakan gelombang kejut yang tak hanya cukup kuat untuk menggetarkan debu dan batu kerikil di permukaan bumi, tapi juga memancarkan nafsu membunuh dengan intensitas tak tertahankan yang seakan mengusir semua udara dari ruang terbuka itu.

Remaja berambut pirang perlahan-lahan memusatkan seluruh nafsu membunuhnya pada sang pemburu setan, sampai wajah gadis berambut biru itu kini telah pucat pasi.

"Dan kalian tahu kenapa?" Naruto bicara dengan nada yang datar dan sama sekali tidak terburu-buru, namun seiring setiap suku kata yang terlepas dari bibir shinobi berambut pirang itu, Xenovia merasa seakan-akan ada sebuah pisau tajam yang diletakkan tepat di permukaan kulit lehernya. "Karena setelah semua yang kalian lakukan padanya, setelah bagaimana kalian membuatnya menderita, kalian masih berpikir bahwa kalian punya hak untuk menghukum Asia."

"Naruto," Rias yang merasakan gelagat buruk mencoba menghentikan shinobi berambut pirang itu. "Naruto, kurasa itu sudah cuku—"

Namun Naruto sama sekali tidak menggubris panggilan Rias. "Jadi aku akan memberimu satu peringatan. Kalau kau berani menyentuh Asia, atau bahkan menghinanya satu kali lagi saja, maka aku akan menghajarmu habis-habisan." Didera dengan nafsu membunuh yang terkonsentrasi hanya pada dirinya itu, pupil Xenovia mengalami dilatasi total. "Mengerti?"

Ketika Sona melihat bagaimana Xenovia membuka mulut dan mencoba menyahut, tanpa ada suara yang keluar seakan-akan tenggorokannya sudah tersumbat, ahli waris Klan Sitri itu turut bisa merasakan gelagat buruk. "Naruto-kun…!"

Walaupun mentalnya telah dilatih sedemikian rupa sebagai seorang pendekar pedang yang mendapat kehormatan untuk memakai satu dari tujuh pecahan Excalibur, rasa takut yang Xenovia terima saat itu membuat semua latihannya seakan-akan menjadi tidak berguna, tak ubahnya seperti menara debu yang dihadapkan dengan angin topan.

"JAWAB!"

Untuk sesaat, tak lebih dari sepersekian detik, mata Naruto berubah. Sclera yang semula putih berganti warna jadi hitam, dan iris matanya yang seharusnya berwarna biru langit berubah menjadi kuning keemasan.

"Naruto-kun!/Naruto!"

"Naruto-san!/Onii-san!"

'Goshujin-sama!'

Naruto tersentak ketika mendengar dirinya dipanggil, tak hanya dari telinga tapi juga dari dalam alam pikirannya. Shinobi itu mengerjapkan mata, dan baru menyadari bahwa wajah gadis berambut biru itu telah menjadi pucat pasi, dan dengan mata membeliak selebar-lebarnya seakan-akan dia bukan sedang menatap seorang manusia, tapi seorang Iblis yang datang langsung dari Neraka.

Naruto berjalan mundur. "A-a-aku…" dia memandang berkeliling, dan dengan rasa ngeri yang meningkat di tiap detiknya, shinobi yang masih remaja itu mendapati bahwa semua Iblis yang merupakan hampir semua bawahan Sona dan Rias telah berdiri menjauhinya dengan rasa takut yang sangat jelas terpancar dari sinar mata mereka.

Jantung Naruto kembali berhenti berdetak ketika dia menoleh ke arah empat orang yang tadi memanggilnya. Karena walaupun sinar mata mereka mengandung kekhawatiran, di sana juga tersimpan rasa takut yang sama.

Untuk sesaat, Naruto seakan-akan kembali ke masa kecilnya, ke hari-hari setelah dia menjadi seorang Jinchuuriki. Naruto teringat bagaimana dia dijauhi oleh semua anak di taman bermain yang semula telah menjadi temannya, dan bagaimana mereka melempar tatapan penuh rasa takut yang sama persis dengan apa yang ia terima sekarang.

Diserang rasa trauma yang sangat hebat, ditambah insting yang tercipta setelah puluhan kali diejek dan dihina oleh anak seumurannya, dan bahkan dilempari batu oleh para orangtua yang tak ingin Naruto mendekati anak mereka, membuat Naruto tak lagi bisa berpikir rasional.

Naruto berbalik dan melarikan diri dari tanah kosong itu tanpa menoleh ke belakang lagi.

~•~

(Play Naruto Shippuuden OST – Nightfall)

Saat Kurama memisahkan diri dari Shiki Fuujin dan mematerialisasikan tubuh aslinya di dunia luar, apa yang ia lihat membuat hati gadis personifikasi makhluk mistis itu hampir hancur. Majikannya, orang yang Kurama sayangi lebih dari apapun di alam semesta ini, kini duduk tersandar di bangku reyot dan tua yang ada di sebuah taman terbengkalai yang terletak di sudut kota. Kepalanya tertunduk dalam hingga wajahnya tersembunyi oleh bayangan dari rambutnya, dan bahunya merosot lemas seakan-akan tubuhnya telah kehilangan semua tenaga. Kekuatan dan keteguhan hati yang biasanya menjadi definisi terbesar dalam karakteristik seorang Namikaze Naruto kini tak bisa terlihat lagi, dan apa yang tersisa hanyalah seorang anak manusia yang telah didera terlalu banyak penderitaan dan kini tengah diserang trauma yang membuatnya seakan kembali ke masa-masa terburuknya.

Namun Kurama menahan isakan yang hampir membuncah dari dalam dirinya. Sebagai orang yang merupakah salah satu penyebab utama penderitaan Naruto, tak peduli meskipun semua peristiwa sepuluh tahun lalu itu terjadi di luar kendali Kurama, dia punya tanggung jawab untuk meringankan beban yang majikannya rasakan, walau hanya secercah saja.

"Goshujin-sama…" Kurama membungkuk dan menyentuh pipi majikannya. "Goshujin-sama, tolong tatap Kurama…"

Naruto mendongak dengan perlahan-lahan, menunjukkan wajah yang kembali membuat Kurama merasa seperti ada tangan tak berbentuk yang mencengkeram jantungnya sekuat tenaga dan memaksa gadis itu untuk kembali menahan tangisannya. Karena mereka adalah dua [Eksistensi] yang berbagi satu [Nyawa] dan satu [Jiwa], Kurama tak perlu indera keenam atau mata magis untuk mengetahui bahwa di balik wajah yang kosong tanpa ekspresi itu tersembunyi seorang anak yang sedang terisak pilu, dan paras yang kering menjadi bukti bahwa Naruto adalah seorang manusia yang telah lama kehilangan kemampuan untuk mengungkapkan rasa sedih dan pedih di hatinya dalam bentuk air mata.

Dan Kurama juga tahu bahwa pada saat ini, tak ada apapun, baik itu kata-kata, bujukan, atau hiburan, yang bisa dia ucapkan untuk merenggut kembali majikannya yang kini terjebak dalam memori hari-hari masa kecil penuh kesepian dan penderitaan.

Tak ada apapun, kecuali tindakan.

Karena itulah, Kurama meraup dan mendekap kepala Naruto ke dadanya. Memberinya sebuah janji sunyi dan jaminan tanpa suara bahwa tak peduli kata-kata apapun yang Naruto ucapkan, tak peduli perbuatan apapun yang Naruto lakukan, Kurama takkan pernah mengubah pandangannya dan takkan pernah meninggalkan sisi majikannya.

Waktu berlalu tanpa pemberitahuan, matahari sore yang tadi membasahi dunia dengan warna jingga kemerahan telah lama terbenam dan taman terbengkalai tempat mereka berada telah dibungkus oleh kegelapan. Tapi Kurama tak peduli. Satu-satunya hal yang kini mengisi seluruh seluk beluk pikiran gadis personifikasi makhluk mistis itu hanyalah keadaan Naruto, karena bagi Kurama, tak ada yang lebih penting di dunia ini daripada majikannya.

Ketika tangan Naruto yang sedari tadi terus terkulai terangkat dan mengitari pinggang Kurama, sang gadis siluman menyunggingkan sebuah senyum tipis karena itu adalah pertanda bahwa Naruto telah pulang kembali padanya.

Kurama menurunkan wajah dan mengecup puncak kepala Naruto sembari berbisik lirih. "…Okaerinasai, Goshujin-sama."

"…Tadaima."

~•~

Naruto membuka pagar, berjalan menyeberangi halaman, dan sudah memegang kenop pintu rumah sewaan yang sudah ia diami selama beberapa bulan terakhir ketika dia menyadari ada sesuatu yang salah. 'Hei, Kurama?'

'Hm?' Kurama mengumbang pelan. 'Ada apa, Goshujin-sama?'

'Emm, kau bisa melihat lewat mataku kan?'

'Tentu saja. Tapi memangnya ada yang ane—' suara Kurama terdengar bingung untuk sesaat sebelum dia mengerti apa yang sedang majikannya bicarakan. '…Oh.'

'Yep,' Naruto menyahut sambil membuka pintu sedikit, menunjukkan bahwa lampu rumah itu sudah menyala terang. 'Jadi.. apa kita didatangi Datenshi lagi?'

'Hmm, Kurama tidak bisa merasakan energi Tengeki, ataupun Youki,' jawab Kurama. 'Jadi siapapun yang ada di dalam sana, dia atau mereka pasti tidak berasal dari tiga kaum Akhirat, Goshujin-sama.'

Menggunakan seluruh keahliannya sebagai seorang ninja terlatih, Naruto mengendap masuk dan menutup pintu tanpa membuat suara sedikitpun. Setelah satu tarikan napas panjang, Naruto menghambur ke ruang tengah sambil berteriak, "Oke, aku tidak tahu dan tidak peduli kau siapa, tapi asal tahu saja, di rumahku tidak ada barang berharga yang bisa dicur—!"

Akan tetapi, perkataan Naruto tak pernah selesai. Karena apa yang dia lihat di ruang tengah membuat seluruh tubuh shinobi Konoha itu mengeras dan jalur pikirannya mengalami macet total.

Hal pertama yang tertangkap oleh garis penglihatannya adalah meja makan dan benda yang terletak di atasnya, sebuah pedang chokutou dengan sarung dan gagang yang sama-sama berwarna hitam. Namun yang paling membuat Naruto diserang rasa shock berat sampai mulutnya terbuka dan rahangnya tergantung, adalah fakta bahwa seseorang telah dengan santainya duduk di kursi meja makan, sebuah tomat merah segar dengan satu bekas gigitan tergenggam di tangannya.

Remaja lelaki berambut hitam itu menoleh, dan dengan kekaleman yang amat sangat Naruto kenali, dia memberi tatapan datar dan menaikkan sebelah alisnya pada sang shinobi yang hanya bisa terus tertegun, seakan-akan baginya itu sudah lebih dari cukup sebagai sapaan.

Otak Naruto mengalami konslet.

To be Continued...

A/N: Penulis amatiran ini memohon kesediaan dan kemurahan hati readers untuk memberi reviews yang selalu bisa mencerahkan hari hamba.

Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.

Thanks a zillion for reading!

Galerians, out.