Galerians, in.
A/N: Setelah semua action, drama, serta angst yang terjadi di dua chapter lalu, hamba merasa bahwa ada baiknya kita menghela napas sejenak dengan Omake yang ringan dan (mudahan) humoris. Tapi hamba sendiri nggak yakin apakah Omake kali ini patut dimasukkan ke alur kronologis fic TOTRS & TRSOKA, karena jujur saja, Omake ini hamba buat karena ada ide yang tidak bisa dibuang jadi hamba tuangkan saja ke kertas. BTW, hamba dapat inspirasi buat menulis fic ini setelah membaca fic berjudul The Lives and Times of Kaleido Shirou Schweinorg by Angry Santo dan fic Ghost by cywscross. Bagi anda yang bisa membaca bahasa Inggris dan menyukai serial Fate/Stay Night dan Naruto, hamba sangat merekomendasikan dua fic itu.
Satu lagi, bagi anda yang merasa kalau gambar yang hamba sediakan di akun hamba masih tidak cukup untuk membayangkan seperti apa penampilan Kurama, kemarin sobat hamba yang seringkali juga berperan mengkritik fic ini sebelum di-post memberi hamba salah satu deskripsi teraneh, namun entah kenapa terasa cocok mengenai penampilan Kurama.
Menurut dia, Kurama itu punya wajah, proporsi tubuh, dan suara seperti Holo dari Spice and Wolf (tapi beda gaya ngomong sih), mata sebagaimana mata Kurama di manga/anime aslinya, memakai kimono dengan warna seperti warna hakama yang dipakai oleh Inuyasha, rambut panjang seperti Uzumaki Kushina, tapi dengan warna merah seperti rambut Erza Scarlet dari Fairy Tail, dan terakhir, telinga lancip dan berbulu seperti Jibril dari No Game No Life (walau untuk Kurama warna bulunya itu merah).
Yeah, it's weird. Trust me, I know. Tapi seperti yang hamba bilang tadi, deskripsi di atas cukup bisa diterima (meskipun sebenarnya hamba tidak pernah menonton Spice and Wolf sekalipun) untuk penampilan Kurama, jadi hamba nggak protes.
EDIT: Hamba mau mengingatkan sekali lagi bahwa hamba sudah membuat forum untuk berdiskusi dengan hamba. Forum itu adanya di situs FFN ini, dan bisa dicapai dengan tiga cara.
1. Link-nya: fanfiction(titik)net/forum/TOTRS-TRSOKA-Discussion-Thread/160052/
2. Akses akun hamba karena di sana juga tersedia link-nya.
3. Atau anda bisa juga men-google dengan Keyword: 'TOTRS & TRSOKA Discussion Thread'
2ND EDIT: Agar mudah membayangkan seperti apa sosok Naruto dan Naruko di Omake ini, hamba sudah menyediakan link-nya (seperti biasa, link-link ini juga tersedia di akun hamba).
1. imgur(titik)com/3ttGUdG
2. imgur(titik)com/cUbcfvj
3. imgur(titik)com/nkO6Sk9
Anyway, without further ado, let's get on with the Omake!
Warning:
Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!
Selamat membaca!
~••~
Omake
When The Sun Meets Girl
(Hiraishin Snafu?!)
Pt. 1 of 3
(Hell Hath No Fury Like a Woman Scorned!)
"Kenapa formulanya sampai bisa sebesar dan serumit ini sih, gaki?" pak tua berusia lima puluh tahunan itu bersidekap sambil menatap gulungan luar biasa besar yang tergelar di tanah. "Aku masih ingat saat Minato pertama kali menciptakan Hiraishin, dan aku sangat yakin kalau Jutsu-shiki (Technique Formula) yang dia buat dulu itu tidak sekompleks ini."
"Itu karena aku dan Tou-chan punya [Origin] yang berbeda, Shishou." Naruto meraih gagang kuas yang dia gigit sambil menghembuskan napas. "Sebagai contoh, Tou-chan adalah keturunan Klan Namikaze tulen, sedangkan aku juga mewarisi darah Klan Uzumaki. Tak hanya itu, aku juga seorang Jinchuuriki, jadi aku juga harus merekalibrasi ulang salah satu unsur Fuuin ini agar bisa mengenali bahwa di dalam tubuhku ini tersimpan dua [Eksistensi] yang berbagi satu [Nyawa]. Lalu—"
"Oke, oke. Aku mengerti kalau Jutsu-shiki ini perlu banyak spesifikasi dan kalibrasi tambahan. Kau tidak usah mengulangi semua jargon teknismu yang terlalu susah dimengerti itu lagi," Jiraiya menyela, sambil berusaha untuk tidak menggubris bagaimana murid kesayangannya itu merengut sebal karena tidak dibiarkan menyelesaikan penjelasannya. "Yang ingin kutahu cuma satu hal, apa yang membuatmu yakin kalau uji coba ini akan berhasil?"
"Di situlah letak masalahnya, Shishou. Aku nggak yakin," Naruto menggigit bibirnya, matanya yang kini bercahaya mengamati susunan [Aksara Semesta] yang terlukis di gelaran gulungan kertas tersebut. "Walau aku sudah memasukkan setiap kalibrasi serta semua spesifikasi yang diperlukan sampai sedetil yang kubisa, itu masih belum menjamin kalau rekonstruksi Hiraishin yang kulakukan kali ini sudah sempurna." Naruto menatap gurunya lagi dan tersenyum masam. "Tapi itulah gunanya uji coba kan? Kalau tidak begini, aku juga nggak bisa tahu apakah Jutsu-shiki Hiraishin ini sudah bekerja sebagaimana mestinya."
"Baiklah," Naruto berlutut dan menancapkan sebuah kunai bercabang tiga di tengah-tengah formasi Aksara Semesta itu. "Fuuin!"
Jutsu-shiki yang terhampar di gulungan kertas tersebut mengeluarkan cahaya terang. Campuran darah dan tinta yang menjadi medium Fuuin itu mulai bergerak seakan-akan menjadi hidup, menjalar ke arah kunai yang tertancap di sana, sebelum berubah menjadi deretan huruf kanji yang menghiasi gagangnya.
Jiraiya menghampiri muridnya dan turut mengamati simbol-simbol yang menghiasi senjata di tangan murid pribadinya. "…Kelihatannya bagus."
"Memang, tapi cuma penampilan luarnya," Naruto menyahut sambil menggandakan senjata unik itu dengan Kunai Kagebunshin no Jutsu. Yang asli ia simpan di tas pinggang, sedangkan yang hasil Kunai Kagebunshin ia lemparkan ke salah satu bagian tanah kosong berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat dia berdiri. "Tapi kegunaannya? Itu masih patut dipertanyakan."
"…Gaki," Jiraiya menarik perhatian Naruto sekali lagi sebelum muridnya itu memulai uji coba. "Kau benar-benar yakin mau melakukan ini?"
Naruto tertawa. "Oh, ayolah, Shishou. Kalo nggak dicoba, mana bisa aku menguasai jurus ini?" dia mulai membakar Chakra sebagai persiapan, merasakan bagaimana energi itu mengalir dan disambut oleh Fuuin yang terlukis di kunai spesial di dalam tas pinggangnya. "Lagipula, memangnya masalah apa sih yang bisa terjadi?"
Alarm di kepala Jiraiya langsung berbunyi. Dia baru saja mau menyuruh Naruto agar menarik kembali kata-kata yang seperti menantang takdir itu, namun muridnya telah lebih dulu mengucapkan nama jurus yang menjadi pusat uji coba. "Hiraishin!"
Jiraiya terpaksa menutup mata ketika cahaya keemasan yang membungkus tubuh Naruto menyala begitu terang sampai tak tertahankan. Ketika dia membuka mata, Naruto sudah lenyap entah ke mana, tidak lagi kelihatannya batang hidungnya.
Jiraiya harus menahan diri untuk tidak melolong frustrasi. "…Astaganaga."
~•~
Kali berikutnya Namikaze Naruto membuka mata, dia harus mengerjapkan matanya berkali-kali.
"…Ngh…" pemuda itu melenguh kesakitan. Kepalanya diserang rasa pusing yang begitu berat sampai Naruto merasa dunia seperti berputar dan bergoyang-goyang, serta sukses membuat cowok remaja itu tak menyadari fakta bahwa dia telah jatuh menimpa seseorang yang kini terbaring telentang. Dia bahkan sadar-tidak-sadar kalau kedua tangannya menyentuh gumpalan kenyal yang dibarengi dengan suara rintihan lirih ketika dia mencoba berdiri.
Setelah berkali-kali oleng, Naruto akhirnya meyakini bahwa keseimbangannya masih belum bisa diajak kompromi. Naruto meraih dan berpegangan pada bahu orang yang berdiri paling dekat dengannya agar dia tak jatuh terkapar lagi. "Uuhh…" dia mengerang lagi, sambil melirik orang yang ia jadikan penopang. Apa yang semula berupa permintaan maaf karena sudah menyusahkan berubah menjadi kebingungan ketika ia mengetahui identitas orang yang kini menatap Naruto dengan mata yang membeliak lebar-lebar itu. "…Eh? Sakura-chan?"
Naruto memandang berkeliling. "Kakashi-sensei? Tsunade-baachan?" tatapan Naruto berhenti pada orang terakhir, seorang lelaki berusia paruh baya dengan rambut putih jabrik yang dikuncir. "Ero-sennin? Kenapa kita ada di Konoha? Apa yang terjadi?"
Shinobi berusia lima puluh tahunan yang konon dianggap sebagai anggota terkuat dari tiga Sannin legendaris itu hanya membuka dan menutup mulutnya sebanyak dua kali, sebelum mengucapkan, "Hah?"
Naruto mendecak sebal. "Oi, Ero-sennin, kenapa kau pasang tampang cengok seperti itu sih? Aku lagi nanya serius nih." Dengan langkah sedikit goyah, Naruto melangkah dan menghampiri gurunya itu. "Bukannya kita sudah sepakat kalau kita akan mengembara untuk setidaknya setengah tahun lagi sebelum pulang ke Konoha? Lalu kenapa kita ada di sini?" dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik. "Atau jangan-jangan kau membawaku kemari karena ada yang salah dengan uji coba yang kulakukan?"
Jiraiya yang terus saja terlihat bingung hanya kembali mengucapkan, "…Hah?"
"Oh, ayolah, Ero-sennin…! Kenapa kau bertingkah pikun seperti ini…?!" Naruto mendesis. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa bapak walinya itu terus saja bertingkah seakan-akan dia tidak mengerti apa yang Naruto bicarakan. "Masa kau sudah lupa sih…?! Kau kan menyaksikan sendiri uji coba Hiraishin yang baru-baru saja kulakukan…?!"
"…Tunggu dulu," Naruto langsung tahu kalau dia sudah mengucapkan sesuatu yang sangat benar, atau sangat salah, karena postur tubuh Jiraiya langsung menegang dan matanya menajam tepat setelah dia mendengar kata 'Hiraishin'. "Apa tadi kau bilang?"
Pada saat ini, Naruto benar-benar tidak habis pikir tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia tidak mengerti kenapa Jiraiya bertingkah seakan-akan dia tidak mengenal Naruto, anak walinya sendiri.
Naruto memandang berkeliling, dan firasat buruk yang sudah mulai menyerang dirinya makin bertambah besar saat dia melihat bahwa Kakashi, Sakura, dan bahkan Tsunade juga melempar tatapan yang menyiratkan bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui siapa Naruto.
'Goshujin-sama…' perhatian Naruto teralih oleh panggilan Kurama. Dahi shinobi berambut pirang itu berkerut saat dia menyadari bahwa suara gadis personifikasi makhluk mistis itu tidak menyimpan nada percaya diri seperti biasanya. 'Kurama rasa ada baiknya kalau Goshujin-sama mengamati sekeliling Goshujin-sama dengan lebih teliti…'
'…Apa maksudmu? Memangnya ada ap—' Naruto mulai bertanya, namun dia menghentikan perkataannya sendiri ketika dia akhirnya mengetahui kenapa Kurama memberi saran seperti itu. "…Eh…?"
Naruto memandang berkeliling, dan apa yang dia temukan, atau tepatnya, apa yang tidak dia temukan, membuat kegelisahan dalam hatinya semakin menjadi-jadi. Di atas meja Tsunade, Naruto tak melihat set komputer yang selalu digunakan oleh sang Godaime untuk memudahkan pekerjaannya. Di dinding sebelah kiri, Naruto tidak melihat air conditioner yang selalu menyejukkan ruangan karena iklim tropis Hi no Kuni yang berlangsung sepanjang tahun. Di dinding sebelah kanan, Naruto tidak melihat brankas elektrik mutakhir yang dipakai untuk menyimpan dokumen-dokumen penting. Naruto bahkan tidak melihat kulkas yang Tsunade pakai untuk menyimpan minuman-minuman dingin (dan kadang-kadang sake) yang ada di sudut ruangan!
Dengan wajah memucat dan dahi mulai dibasahi keringat dingin, Naruto berjalan ke jendela. Naruto kembali menelan ludah saat menyadari bahwa ia sama sekali tidak mengenali bangunan-bangunan yang terhampar di luar sana. Dan apa itu? Kenapa shinobi-shinobi itu dengan santainya berjalan di antara penduduk-penduduk sipil sambil mengenakan seragam ninja dan hitai-ate mereka? Bukankah shinobi jaman sekarang seharusnya menjaga kerahasiaan status mereka kalau berada di tengah-tengah masyarakat awam?
Dengan rasa panik yang sudah hampir tak tertahankan, Naruto berbalik dengan niat mencari tahu di mana dia sedang berada sekarang. Namun belum sempat pertanyaan itu terlepas dari mulutnya yang terbuka, rasa heran dan penasaran hebat yang Naruto rasakan sudah lebih dulu terjawab ketika orang yang tadi ia timpa berdiri sambil mengerang kesakitan. Lidah pemuda itu berubah kelu saat ia melihat rambut pirang panjang yang dikuncir kembar, dengan tanda lahir menyerupai kumis kucing menghiasi pipinya.
Tubuh Naruto mengeras total ketika orang itu membuka mata dan menoleh untuk menatap Naruto. Kini dia sudah tak lagi bisa mengelak dari kenyataan. Karena orang yang dia lihat adalah seorang gadis dengan paras berpipi sedikit tembem serta gaya rambut lurus dan halus yang dimiliki oleh Kaa-chan, dan dihiasi oleh mata biru secerah warna langit di puncak musim semi dan warna rambut kuning keemasan yang dimiliki oleh Tou-chan.
…Oh Kami-sama. J-jadi—kalau begitu… benda lembut dan kenyal yang sempat dia remas-remas ketika ia baru sadar tadi adalah… a-adalah…
Darah Naruto naik dan berkumpul di kepala. Rona wajahnya terus bertambah merah ketika anak muda yang masih berusia lima belas tahun itu menyadari kalau tubuhnya mulai menunjukkan reaksi-reaksi khas anak lelaki yang sedang menjalani masa puber.
Hormon remaja terkutuk!
'G-Goshujin-sama…'
Walaupun kini dirinya sedang diserang rasa shock hebat, suara Kurama yang terdengar terguncang membuat pemuda itu berhasil merenggut dirinya dari rasa terkejut dan memusatkan seluruh perhatian pada gadis siluman yang memiliki ikatan nyawa dengannya itu. 'Ada apa, Kurama?'
'P-perempuan itu…' rasa khawatir Naruto makin menjadi-jadi ketika dia sama sekali tak bisa merasakan nada percaya diri yang biasanya selalu mewarnai suara Kurama. 'Di dalam diri perempuan itu… ada seorang Kurama yang lain…'
Dan dengan satu informasi itu, semua teka-teki mengenai di mana dia berada sekarang akhirnya terkuak.
Pada hakikinya, Hiraishin adalah sebuah hibrid Ninjutsu dan Fuuinjutsu yang memungkinkan pengguna jurus itu untuk menciptakan sebuah [Pintu] dengan mengaplikasikan konsep Gyaku Kuchiyose (Reverse Summoning) yang mampu mendistorsi hukum fisika, hingga perjalanan antara [Poin A] dan [Poin B] sama sekali tidak dipengaruhi oleh hukum ruang dan waktu.
Akan tetapi, entah kenapa, atau lebih tepatnya entah bagaimana, Naruto membuat kesalahan teknis yang begitu fatal dalam rekonstruksi Jutsu-shiki itu, hingga Naruto justru menciptakan sebuah [Pintu] yang memindahkan Naruto begitu jauh karena apa yang dia distorsi bukan lagi hukum fisika, tapi hukum alam semesta.
Dengan kata lain, dia sekarang sedang terdampar di [Dunia Lain].
…Cetar membahana.
Sementara Naruto mulai merutuki nasib apesnya, Naruko terus memandang pemuda itu dan mengamati bagaimana ekspresinya terus berubah-ubah seakan-akan pemilik wajah itu tak tahu harus merasa seperti apa. Naruko tak tahu kenapa, tapi cowok di depannya ini terasa sangat asing, tapi sekaligus sangat familier, seakan-akan mereka berdua telah kenal sangat lama, tapi baru pertama kali ini bertemu.
"…Hei, orang tak tahu sopan santun yang ada di situ! Ngapain kau di sini?! Kau tahu nggak kalau Tim Kakashi, tim yang akan jadi tim terhebat di Konoha, baru saja mau diresmikan, ttebayo?!" Sial bagi Naruko, cowok itu sama sekali tak menggubris panggilannya. Tapi seorang Uzumaki Naruko takkan mungkin menyerah begitu saja hanya karena gagal satu kali kan? "Hei, kau denger aku nggak sih?! Hei!" cowok itu terus saja tidak mengacuhkannya, hingga gadis remaja berusia lima belas tahun yang semakin sebal itu akhirnya menghampiri cowok tak dikenal itu dan berteriak tepat di depan wajahnya.
"HEI!"
Akan tetapi, rupanya cara gadis itu menarik perhatian Naruto malah menciptakan reaksi yang tak diinginkan. Naruko tak tahu bahwa dengan mendekat seperti itu, dia telah menunjukkan wajahnya yang sangat mirip dengan wanita yang sangat Naruto sayangi dan rindukan, membuat pemuda itu kehilangan logika dan rasionalitasnya, dan menyerahkan semuanya pada insting.
Naruko bahkan tak sempat mengucapkan satu katapun lagi ketika matanya disilaukan oleh kilatan cahaya keemasan, dan ketika dia kembali bisa melihat dengan normal, cowok tak dikenal itu sudah menghilang dari kantor Hokage tersebut.
~•~
'Kurama tahu kalau selama ini insting Goshujin-sama memang telah sering menyelamatkan Goshujin-sama dari berbagai macam bahaya dan masalah,' Kurama memulai dengan suara dengan nada menasihati. 'Tapi untuk kali ini, Kurama rasa mempercayakan segalanya pada insting bukanlah keputusan terbaik yang pernah Goshujin-sama ambil.'
…Sial.
'Seperti yang Goshujin-sama tahu sendiri, di mata shinobi-shinobi Konoha, baik di dunia kita yang asli atau di dunia yang ini, Hiraishin adalah teknik andalan yang membuat Yondaime sangat dihormati oleh kawan dan ditakuti oleh lawan, sebuah jurus unik yang dianggap sebagai salah satu teknik paling mematikan dan tersohor di seantero Genso no Kuni (Elemental Countries).'
Sial.
'Tapi walaupun Goshujin-sama sudah tahu tentang semua hal itu, Goshujin-sama malah menggunakan Jutsu yang seharusnya tak pernah berhasil diduplikasi atau bahkan diimitasi oleh ninja manapun di dunia shinobi itu untuk kabur, tepat di depan orang yang memiliki pangkat tertinggi di Konohagakure.'
Sial. Sial.
'Dan kalau itu masih belum cukup buruk, Kurama bisa melihat kalau Desa Tersembunyi versi dunia ini adalah Desa Tersembunyi yang sama sekali tidak merahasiakan status para shinobinya. Lihat saja, nenek tua bertampang muda itu bisa dengan terang-terangan dan begitu mudahnya mengisukan situasi darurat militer dan memobilisasi semua kekuatan militer desa ini untuk memburu Goshujin-sama.'
Sial. Sial. Sial.
'Tapi Kurama masih bisa maklum. Goshujin-sama hanya seorang manusia, jadi kecerobohan seperti itu masih bisa ditolerir karena Kurama mengerti kalau manusia yang sedang panik memang susah untuk berpikir lurus.' Kurama berhenti sejenak. 'Tapi kalau ada satu hal yang Kurama tidak mengerti—'
Kurama tidak jadi menyelesaikan kalimatnya karena dari koneksi panca indera mereka, Naruto dan Kurama tiba-tiba sesuatu dari arah belakang Naruto, membuat tubuh sang shinobi mengeras total karena panggilan itu diucapkan dengan suara bariton yang dimanis-maniskan, lengkap dengan nada yang genit bukan kepalang. "Masboy~"
SialsialsialsialsialSIALSIALSIAL!
'…Kalau ada satu hal yang Kurama tidak mengerti,' Kurama mengulangi perkataannya, dan dari suaranya yang penuh kekesalan dan terus bertambah nyaring, Naruto bisa membayangkan kalau personifikasi Bijuu terkuat di seantero daratan Genso no Kuni itu sedang berkacak pinggang sambil mendelik tajam-tajam. 'Kenapa… dari semua tempat yang ada di desa sebesar ini, kenapa Goshujin-sama malah bersembunyi di tempat yang penuh bencong seperti ini sih?!'
"AKU JUGA TIDAK TAHU!" Naruto menjawab dengan teriakan penuh rasa frustrasi, sebelum menampar mulutnya sendiri saat menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Rasa takut menyerang diri sang Genin saat mendengar suara grasah-grusuh yang ada di luar ruangan kecil itu berhenti secara bersamaan. Dia tak perlu mata yang bisa melihat menembus dinding untuk mengetahui kalau semua perempuan jadi-jadian yang sudah memburunya sejak dia pertama kali masuk ke bangunan itu telah bisa mengakhiri pencarian mereka, karena dengan kecerobohannya sendiri, Naruto sudah memberitahu mereka di mana dia bersembunyi.
"Mas~boy~!"
Jantung Naruto meloncat ke tenggorokannya ketika suara yang demi-Tuhan-demi-Bumi-demi-Langit-dan-demi-seluruh-alam sangat mengerikan itu terdengar tepat di luar pintu.
'…Dasar Goshujin-sama bego.' Kurama menepuk dahi dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mata Naruto bergerak untuk melakukan dua lirikan. Pertama, ke arah jalanan Konoha yang kini sudah dipenuhi shinobi-shinobi dengan berbagai pangkat yang memburunya. Kedua, ke arah pintu yang kini gagangnya sudah mulai berputar perlahan-lahan.
Pergi keluar dan diuber ninja satu kelurahan, atau tetap diam di dalam dan jadi mainan para lelaki yang memiliki jiwa perempuan?
Naruto mendongak dan memejamkan mata, sembari bersumpah dalam hati bahwa jika suatu saat nanti dia mati dan bertemu Tuhan, maka hal pertama yang akan dia lakukan adalah bertanya pada Sang Pencipta mengenai alasan yang menjadi sebab musabab kenapa Dia menganugerahkan nasib seapes ini padanya, serta kalau bisa, meminta kompensasi atas semua peristiwa yang sudah menimpanya selama ini.
Naruto menghirup satu tarikan napas tajam, melakukan gerakan balik kanan, mengambil ancang-ancang, sebelum melesat dan menembus kaca jendela demi menghadapi kehidupannya yang penuh kesialan.
~•~
Fakta penting lain mengenai Hiraishin adalah ukuran energi yang diperlukan untuk jurus itu bersifat relatif dengan jarak yang harus ditempuh ketika Ninjutsu teleportasi itu diaktivasi. Dengan kata lain, jurus yang membawa Naruto sampai di dunia yang asing sekaligus familier ini telah hampir menguras habis kapasitas Chakra sang Genin mengingat bagaimana jurus itu tak hanya memindahkan Naruto dari [Poin A] ke [Poin B], tapi juga dari [Dunia A] ke [Dunia B].
Sial bagi Naruto, kepanikan dan ketegangan yang terus-terusan menderanya sejak tiba di dunia ini membuat remaja berambut pirang itu sama sekali tidak sadar kalau dia hampir kehabisan tenaga. Lihat saja buktinya, meladeni kejaran para shinobi Konoha untuk kurang dari setengah jam seperti ini saja sudah membuatnya kewalahan dan hampir kehabisan napas.
'Goshujin-sama, kenapa Goshujin-sama tidak hajar saja mereka semua?' suara Kurama terdengar dalam benak Naruto sambil membawa sebuah saran.
'Jangan bercanda dong, Kurama. Masalah kita sudah cukup besar nih, jadi bisa nggak kau ngasih ide yang nggak bakal bikin situasi jadi makin runyam?' Balas Naruto. 'Lagipula, apa kau pikir aku akan bisa menang melawan mereka ketika aku sendiri sudah hampir tekor seperti ini?'
'Kalau begitu, kenapa Goshujin-sama tidak minta bantuan Kurama saja? Mengingat kali terakhir Goshujin-sama meminjam kekuatan Kurama adalah seminggu yang lalu, jadi Youki yang Kurama murnikan sudah terkumpul cukup banyak. Goshujin-sama tidak perlu khawatir soal kekurangan energi.'
'Jujur, tawaranmu itu benar-benar menggiurkan. Tapi untuk saat ini, aku terpaksa harus menolak,' sahut Naruto yang mengernyitkan matanya karena menyesal. 'Ingat, kita jadi ada dalam situasi ini karena mereka melihatku memakai Hiraishin. Aku nggak mau membayangkan apa yang akan mereka lakukan kalau mereka sampai tahu bahwa aku juga seorang Jinchuuriki.'
Naruto berhenti sebentar. '…Ralat sedikit. Aku sendiri nggak yakin apakah identitasku sebagai Jinchuuriki bakal terbongkar mengingat Youki-mu yang dimurnikan itu akan menjadi [Chakra Keemasan]. Tapi seperti orang bilang, 'Guru kencing berdiri, murid kencing berlari'.'
'…Goshujin-sama,' Kurama menepuk dahinya. 'Yang benar itu, 'Lebih baik mencegah daripada mengobati'.'
Ada hening sejenak. '…Oh,' semburat merah tipis mewarnai pipi remaja itu. 'E-er, benar. Itu yang kumaksud tadi.'
Hening yang kembali terjadi membuat wajah Naruto makin memerah karena dia tahu Kurama sama sekali tidak tertipu. 'Lalu cara apalagi yang bisa Goshujin-sama pakai agar kita terbebas dari situasi ini?' Untungnya, gadis personifikasi makhluk mistis itu tidak mempermalukan majikannya lebih jauh lagi. 'Karena Kurama sangat yakin kalau ninja-ninja itu sudah siap menyergap Goshujin-sama tuh.'
Peringatan Kurama kembali mengingatkan Naruto pada problema yang sedang dia hadapi. Dengan napas yang terengah dan wajah yang bersimbah keringat, Naruto memandang berkeliling sambil berpikir bahwa sepertinya hari ini instingnya benar-benar tak bisa dipercaya. Malah bisa dibilang, instingnya sudah berkhianat dan malah menjerumuskan majikannya ke dalam kubangan masalah yang lebih pekat dari sebelumnya.
Mungkin anda sekalian bertanya-tanya, kenapa Naruto berpikir seperti itu? Jawabannya cukup mudah, yaitu karena sekarang dia sekarang sedang dikelilingi oleh lebih dari lima puluh shinobi yang mengepungnya dari segala arah.
Dan yang makin membuatnya gregetan adalah fakta bahwa pada saat ini, satu-satunya hal yang memisahkannya dari kebebasan hanya tinggal dinding yang menjulang tinggi mengelilingi Konoha. Naruto bahkan tidak paham kenapa mereka harus membuat dinding setinggi ini!
…Oke, dia bisa mengerti kalau dinding ini sepertinya bisa cukup berguna sebagai perlindungan kalau Desa Tersembunyi itu diserang. Tapi apa mereka memang harus membuatnya sampai setinggi puluhan meter begini sih?! Konoha yang ada di dunia tempat asal Naruto saja tidak pernah punya sejarah punya kandang raksasa seperti ini! Apa mereka—!
"…Nak," rutukan hati Naruto terhenti ketika salah satu Anbu yang mengenakan topeng bermotif rubah memanggilnya. "Kau sudah tak punya jalan kabur lagi, mengerti? Kalau kau menyerah sekarang, maka kami juga tidak akan menyakitimu."
Naruto menahan diri untuk tidak mendengus. Memang, Naruto mengakui kalau dunia ini bukanlah dunianya, tapi rasanya tidak muluk-muluk amat kalau dia berasumsi bahwa mereka juga punya protokol yang mirip seperti Konoha-nya. Dan kalau melihat bagaimana Tsunade sudah mengisukan situasi darurat militer, maka itu berarti orang yang menjadi penyebab situasi tersebut sampai tertangkap, maka dia akan diborgol tangan dan kakinya, dibekap mulutnya, disegel Chakranya, sebelum akhirnya dilempar ke dalam penjara khusus yang berada dua puluh meter di bawah lantai dasar Markas Anbu.
Naruto jadi merinding saat mengingat bahwa kalau cuma dikurung dalam penjara seperti itupun masih bisa dikategorikan sebagai 'beruntung'.
Mengingat bagaimana semua masalah ini terjadi karena Naruto, orang yang sama sekali tak dikenal di mata para penghuni Konoha dunia ini, telah memakai salah satu jurus yang paling dirahasiakan oleh Konoha. Naruto takkan kaget kalau setelah setelah masuk penjara nanti, dia akan mendapat 'kunjungan menyenangkan' dari Morino Ibiki yang notabene merupakan kepala Konoha Gomon/Jinmon Butai (Konoha's Torture and Interrogation Force).
Tapi apa yang bisa dia lakukan? Mencoba lari lagi? Dikepung dari segala arah sudah membuat pilihan itu tak bisa diambil. Memanjat dinding ini? Dia bakal langsung dihujani kunai oleh lima puluh lebih shinobi kalau begitu. Mencoba memakai Rasengan dan membuat lubang di dinding? Naruto tadi sudah sempat [Membaca Aksara Semesta] dan mendapati puluhan Fuuin peningkat durabilitas pada dinding kayu raksasa itu. Memakai Hiraishin lagi? Hiraishin yang dia pakai saat kabur dari Kantor Hokage sepenuhnya terjadi secara tidak sengaja. Naruto juga tidak yakin apakah memakai jurus itu adalah keputusan yang bijaksana, apalagi kalau mengingat Naruto belum mendapat kesempatan untuk mencari tahu kesalahan kalibrasi atau spesifikasi apa gerangan yang sampai membuat hibrid Ninjutsu/Fuuinjutsu mengirim Naruto ke dunia ini. Kemungkinan terburuk, kalau sampai Fuuin itu akan kembali mengalami malfungsi dan mengirim Naruto ke dunia yang lain lagi, maka Naruto pasti akan langsung tewas karena seluruh Chakra di tubuhnya akan habis sampai ke tetes terakhir.
Jadi apa? Pilihan apa yang bisa dia ambil untuk kabur dari [Desa yang bukan Desanya] ini tanpa harus melakukan sesuatu yang menyebabkan jatuhnya korban nyawa?
'Goshujin-sama, kalau dilihat-lihat lagi, para shinobi yang mengepung Goshujin-sama sekarang ini semuanya laki-laki lho. Jadi meskipun Chakra Goshujin-sama tidak tersisa banyak, masih ada satu kombinasi jurus yang bisa Goshujin-sama pakai untuk melumpuhkan mereka tanpa mengorbankan siapapun.'
Naruto tertegun sesaat. Suara Kurama yang seperti menahan tawa membuat Naruto tahu hal macam apa yang sedang dipikirkan oleh gadis personifikasi makhluk mistis itu.
Perlahan-lahan, bibir Naruto mulai melengkung. Dia terkekeh pelan, sebelum akhirnya mendongak dan tertawa lepas.
'Kau benar, Kurama!' Naruto mendongakkan wajahnya sambil terus terbahak-bahak. 'Aku mungkin sudah sering mengatakan hal ini, tapi kau benar-benar jenius!'
'Hmph.' Kurama menepuk dadanya dengan sebuah dengusan bangga. 'Tentu saja Kurama benar. Kurama selalu benar.'
Naruto menurunkan wajah dan membuka mata. Dalam jangka waktu yang ia gunakan untuk berdiskusi dengan Kurama, jumlah shinobi yang mengepungnya telah bertambah sebanyak hampir dua puluh orang. Dan mungkin karena mendengar tawa Naruto, wajah mereka kini menunjukkan sedikit rasa waswas dan bingung, seakan-akan mereka tidak mengerti kenapa orang yang harusnya sudah terpojok itu masih bisa tertawa ketika dia sudah dikepung oleh puluhan musuh.
Setelah menarik napas dalam-dalam, kedua tangan Naruto terangkat dan membuat sebuah Insou (Hand Seals) menyilang untuk jurus favoritnya. "Tajuu Kagebunshin no Jutsu!"
Ekspresi gugup para shinobi Konoha semakin menjadi-jadi saat melihat bahwa lawan yang harus mereka hadapi kini telah bertambah jumlah dari satu menjadi dua ratus hanya dalam tempo beberapa detik, perasaan resah ikut muncul dalam hati mereka ketika dua ratus orang itu melompat tinggi dalam waktu bersamaan.
Namun bukannya menyerang dengan pukulan, senjata tajam, atau jurus mematikan, musuh mereka itu malah melanjutkan serbuan mereka dengan sebuah Jutsu yang sama sekali tidak pernah mereka antisipasi sebelumnya. "Henge!"
Para shinobi Konoha hanya sempat melihat sebuah sengiran lebar terpasang di wajah dua ratus remaja berambut pirang dengan penampilan identik itu lenyap ditelan kepulan asap putih sebelum tubuh mereka semua lenyap dalam kepulan asap putih.
"Harem no Jutsu!"
Sekitar sepuluh detik kemudian, kepulan asap kembali menghalangi pandangan, sebelum pupus dan menunjukkan bahwa satu-satunya orang yang masih berdiri di area tersebut hanyalah Naruto seorang. Meski tubuhnya nampak terbungkuk dan keringat menetes dari wajahnya yang tertunduk, remaja berusia lima belas tahun itu masih berdiri dengan kedua kakinya sendiri, tidak seperti lawan-lawannya yang kini bertebaran seperti dedaunan layu dengan wajah merah padam dan darah bercucuran dari lubang hidung, sebuah ekspresi damai nan bahagia menghiasi wajah mereka semua.
"H-ha—Hhh—HA!" Naruto menunjuk ke arah musuh-musuhnya sambil mengeluarkan suara campuran tersengal dan tertawa. "Sekarang kalian tahu seperti apa dahsyatnya Harem no Jutsu!"
Naruto baru saja mau berseru dan bersorak untuk merayakan kemenangan itu ketika sekonyong-konyong sosok seseorang mendarat di depannya.
"K-kau…!" Orang itu mendesis dengan tangan yang terkepal dan gemetaran, serta suara sedikit terbata karena menahan murka. Naruto mengerjap, informasi yang datang dari mata dan akhirnya tiba di otak memberitahu sang remaja bahwa orang itu memliki rambut pirang lurus panjang yang dikuncir kembar, dengan mata biru langit yang kini mendelik ke arahnya dengan kilatan setajam pisau belati. "Kau!"
…Ah.
Napas Naruto tercekat ketika dia akhirnya bisa menyimpulkan kenapa gadis yang memiliki tanda lahir menyerupai kumis kucing itu terlihat semarah ini.
Naruto baru sadar kalau sosok gadis telanjang yang selalu ia pakai dalam jurus Oiroke maupun Harem no Jutsu-nya, mulai dari paras, rambut, bahkan sampai lingkar dada, pinggang, dan pinggul, hampir tidak ada bedanya dengan sosok gadis yang kini berjalan ke arahnya itu.
Naruto menelan ludah. Dengan rasa ngeri karena menerima sorot mata penuh nafsu membunuh dengan kaliber yang menandingi semua musuh terkuat yang pernah dia hadapi sampai saat itu, serta dengan kesadaran bahwa apa yang terjadi kali ini sepenuhnya adalah kesalahan Naruto sendiri, ketika matanya menangkap sebuah bogem mentah yang melayang ke arah wajahnya, Naruto hanya pasrah sambil menerima fakta bahwa dia memang ditakdirkan untuk menjadi seorang manusia dengan nasib yang sangat, sangat, sangat sial.
"DASAR COWOK MESUM!"
…Cetar membahana.
To be Continued...
A/N: Basically, [Alternate Konoha] yang Naruto datangi dalam cerita di atas itu terdapat di Universe sebagaimana yang digambarkan dalam manga dan anime aslinya, tapi dengan [Uzumaki Naruto] yang memiliki jenis kelamin perempuan sehingga dia menjadi [Uzumaki Naruko]. Lalu, dari sisi [Namikaze Naruto], Omake ini terjadi tepat setelah misi ke Yuki no Kuni (yang ada di Omake 2), sedangkan dari sisi [Uzumaki Naruko], Omake ini terjadi tepat setelah dia dan Sakura menyelesaikan tes Kakashi dan baru saja mau diresmikan sebagai Tim Kakashi.
Hamba sebenarnya punya rencana untuk melanjutkan Omake ini sampai Naruto kembali pulang ke dunianya sendiri. Tapi apakah rencana itu akan jadi kenyataan atau nggak, itu masih misteri.
Akhir kata, tolong kasih komentar anda untuk Omake kali ini.
Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.
Thanks a zillion for reading!
Galerians, out.
