Galerians, in.
A/N: Pertama-tama, hamba mau memberitahu bahwa Omake kali ini memang hamba bagi menjadi tiga bagian, dan setiap Part memiliki genre-nya masing-masing. Sebagai contoh, Part 1 kemarin bergenre Humor, sedangkan Part 2 kali ini akan lebih berfokus pada Fluff dan Drama, ditaburi Friendship dan Romance, serta jauh lebih serius karena Naruto sudah tidak panik lagi hingga bisa lebih tenang dalam mengontrol dan merespon situasi.
Lalu, hamba juga mau minta maaf kalau ada readers yang tidak suka dengan tema Omake kali ini (terlihat dari beberapa review chapter yang lalu). Namanya juga hamba ini author payah, ya pastilah cerita bikinan hamba juga payah.
BTW, bagi anda yang penasaran seperti apa tepatnya penampilan Naruko, silakan akses akun hamba karena di sana hamba sudah menyediakan gambar yang hamba jadikan contoh sebelum menulis Omake ini.
BGM for this Chapter:
1. Sakura Drops – Piano Cover by Ludo
Warning:
Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!
Selamat membaca!
~••~
Omake
When The Sun Meets Girl
(Hiraishin Snafu?!)
Pt. 2 of 3
(We are the Same, Yet We are Different)
Petunjuk pertama yang membantu Naruko untuk membuat kesimpulan bahwa pemuda tak bernama ini sama sekali tidak seperti apa yang dia duga pada awalnya, dia dapatkan tepat setelah dia selesai menghajar cowok itu.
Hampir sepuluh menit Naruko habiskan untuk menghukum cowok yang mesum, tidak tahu sopan santun, dan entah mengapa terasa sangat familier baginya itu, menghajarnya dengan begitu ganas dan tanpa ampun sampai-sampai lantai batu bata yang menjadi tempat berpijak mereka sekarang remuk karena serangannya.
Akan tetapi, untuk alasan yang Naruko sendiri tidak ketahui, cowok yang sudah dia hajar habis-habisan itu hanya mengerang singkat, sebelum kembali berdiri seakan-akan serangan Naruko tidak memberinya cidera serius sedikitpun.
Lalu dia tersenyum. Dia tidak mendelik kesal, menghardik dengan marah, ataupun mendesis murka, seperti yang pasti Naruko akan lakukan kalau saja dia yang berada dalam posisi cowok itu. Tidak, pemuda yang masih Naruko tidak ketahui namanya itu hanya tersenyum pada Naruko, mengangkat tangan untuk menepuk dan mengelus kepala Naruko satu kali sambil mengucapkan satu kalimat singkat, namun menyimpan cukup makna yang membuat seluruh tubuh kunoichi itu mengeras total.
"Kau benar-benar mirip Kaa-chan."
Naruko membuka mulutnya untuk menyahut, namun perhatian mereka berdua teralihkan oleh suara tapak kaki yang terdengar dari arah samping. Pria paruh baya dengan rambut berwarna putih perak yang dikuncir itu menegakkan tubuhnya sebelum bicara dengan suara pelan. "Hei, anak muda yang ada di sana," menilik nada dingin yang terkandung dalam suara Jiraiya, tak perlu seorang jenius untuk mengetahui siapa yang dia ajak bicara. "Kalau kau berani macam-macam dengan muridku, maka kuharap kau siap menerima akibatnya."
Naruko melihat rasa pedih melintas dalam sinar mata pemuda yang berdiri di depannya itu untuk sesaat, begitu kuat namun juga cepat dan singkat sampai-sampai Naruko tak yakin apakah hal tersebut memang benar-benar terjadi atau cuma imajinasinya belaka.
Cowok itu mengerjap, dan matanya kembali menjadi hangat. Setelah menepuk kepala Naruko satu kali lagi, shinobi remaja itu memutar tubuh dan mengangkat tangannya sembari mengucapkan hanya dua kata.
"Aku menyerah."
…
"Bagaimana kondisi ninja-ninja di luar? Apa mereka perlu perawatan intensif?"
"Tidak, Tsunade-sama. Mereka cuma menderita pendarahan ringan dengan tingkat kehilangan darah rata-rata sebesar sembilan persen. Lalu, hampir sepertiga dari jumlah total korban sudah sadarkan diri, dan saya memperkirakan mereka sudah bisa bertugas kembali setelah istirahat penuh selama satu hari." Shizune menyampaikan laporannya.
Tsunade mencubit dagunya. "Hemoragi kelas I seperti ini tidak perlu transfusi darah, tapi beri saja mereka Zouketsugan (Blood Increasing Pill) untuk jaga-jaga." Dia memberi instruksi sebelum ekspresi wajahnya menggelap. "Oh, satu lagi, Shizune. Tolong sampaikan pada mereka kalau aku sudah menyiapkan hukuman untuk kegagalan mereka ini."
"B-baik, Tsunade-sama." Shizune terbata, membungkuk sebentar sebelum melangkah ke pintu untuk meninggalkan ruangan dan melaksanakan perintah pemimpin desanya sembari berdoa semoga shinobi-shinobi itu tidak mendapat hukuman yang terlalu berat dari gurunya, namun tidak sebelum melempar sebuah lirikan penasaran ke arah pemuda berambut pirang yang berdiri dengan tubuh tegak dan tangan bersidekap di tengah ruangan, gestur yang dibalas oleh cowok itu dengan sebuah lambaian tangan dan sengiran lebar.
Ada hening yang berlangsung cukup lama setelah itu.
"Jadi…" Tsunade memulai sambil mengamati pemuda di depannya itu. Sang Godaime menjilat bibirnya saat menyadari bahwa dengan penampilannya, sama sekali tak mengherankan ketika para shinobi Konoha mengira cowok dengan rambut pirang jabrik yang agak sedikit gondrong di depannya adalah Yondaime, membuat kunoichi yang memakai Genjutsu khusus agar penampilannya tetap terlihat muda itu harus menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering. "Apa kau sudah siap memberitahu kami siapa kau sebenarnya?"
"Oh, ayolah, Baa-chan." Cowok yang memakai jaket berpola warna sama persis seperti jaket Naruko namun dengan celana yang seluruhnya berwarna hitam itu melempar sebuah sengiran miring pada Tsunade. "Apa kau masih perlu bertanya?"
Tsunade sebenarnya ingin menyahut, tapi membatalkan niatnya saat seseorang lebih dulu buka suara. "J-jadi…" Naruko terbata sambil mengambil satu langkah maju. "J-jadi kau adalah—k-kau dan aku—kita berdua—" Naruko mengerang sambil mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. "Aaahh, aku benar-benar bingung, ttebayo!"
Naruto tertawa. "Yah, penjelasan paling sederhananya sih kurang lebih seperti ini," Dia menatap Naruko lurus-lurus. "Kita berdua adalah [Orang yang Sama], tapi datang dari dua [Alam Semesta yang Berbeda]."
Ekspresi Naruko menjadi bersemangat seperti anak kecil yang mendapat mainan dambaannya sebagai hadiah ulang tahun. "B-benarkah?! Kalau begitu—!"
"Tunggu dulu," Jiraiya menyela meraih bahu Naruko yang sudah mulai bergerak maju untuk menghampiri cowok itu. "Kenapa kami harus percaya padamu? Bukti apa yang bisa kau berikan?"
"Yah… tadinya aku ingin menyarankan agar kau membandingkan penampilan kami berdua. Tapi kalau itu belum cukup untuk kalian…" Naruko melihat cowok itu menarik turun retsleting jaketnya, sebelum memasukkan tangan ke balik baju kaos dalamannya dan mengeluarkan sesuatu yang membuat mata semua orang di dalam ruangan itu melebar. "Bagaimana kalau ni?"
"I-itu—Itu kalung yang dulu diberikan oleh Baa-chan, ttebayo!" Naruko dengan cepat merogoh ke balik jaketnya sendiri, mengeluarkan kalung yang identik dengan yang ada di pegangan cowok itu. "Lihat?! Sama persis!"
"T-tapi…" Tsunade memandang kalung di tangan kedua remaja berbeda gender itu bolak-balik dengan wajah memucat. "Kalung itu seharusnya cuma ada satu di dunia ini…"
Cowok itu memandang berkeliling dengan sengiran yang terus bertambah cemerlang ketika melihat orang-orang yang menatapnya dengan mata terbuka lebar. "Nah, kalau bukti itu sudah cukup untuk kalian, sekarang biarkan aku memperkenalkan diri."
Dia membiarkan tangannya terkulai santai di samping tubuh.
"Namaku adalah Namikaze Naruto, dan aku datang dari dunia lain."
~•~
"Aku masih kesulitan mempercayai semua ini." Gadis dengan rambut merah muda sebahu itu bersidekap sambil menatap cowok yang berjalan di sebelahnya, cowok yang mengaku sebagai kembaran Naruko dan datang dari dunia lain. "Bagaimana mungkin ada dunia lain di samping dunia ini? Memangnya ada berapa dunia di luar sana?"
"Kurasa jawaban tersingkat untuk pertanyaanmu itu adalah 'Tak terbatas'." Naruto menjawab singkat sembari melempar sebuah senyuman kecil ke arah Sakura. "Dan sebelum aku menjelaskan panjang lebar, aku mau tanya dulu. Apa kau mengenal Efek Kupu-Kupu?"
"Efek Kupu-Kupu?" cewek dengan rambut pirang lurus yang dikuncir kembar dan berjalan di samping kanan Naruto bertanya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, sebuah tanda tanya melayang di atas kepalanya. "Apa itu?"
"Efek Kupu-Kupu… itu istilah yang menyatakan bahwa perubahan kecil di satu aspek peristiwa, bisa menyebabkan perubahan besar di aspek-aspek peristiwa lain yang terjadi kemudian dengan probabilitas yang hampir tidak terbatas, iya kan?" Sakura menjawab sambil mencubit dagunya. "Tapi apa hubungannya istilah itu dengan topik yang kita bicarakan tadi?"
"Yah, aku sendiri lupa dari buku mana, tapi aku pernah membaca teori seseorang yang mengatakan bahwa alam semesta yang kita hidupi ini bisa diibaratkan seperti sebuah pohon. Dengan kata lain, seperti Efek Kupu-Kupu yang menyatakan bahwa setiap perubahan dalam aspek-aspek realita—sekecil apapun perubahan itu—bisa menyebabkan perbedaan yang sangat drastis dalam kehidupan umat manusia, setiap [Pilihan] yang diambil oleh masing-masing manusia dapat menyebabkan munculnya sebuah tumbuhnya [Dunia Lain] sebagaimana tumbuhnya dahan dan ranting."
Orang lain mungkin bertanya-tanya kenapa Naruto memiliki pengetahuan yang cukup ekstensif soal teori yang levelnya cukup tinggi untuk anak remaja seumurannya itu. Alasannya mudah. Walaupun sekarang dia menggunakan dua teori itu untuk menjelaskan keberadaan [Multiverse], alasan asli Naruto mengetahui Teori Chaos dan Efek Kupu-Kupu adalah karena dua teori itu merupakan salah satu tolak ukur yang harus dia pelajari sebelum dia mulai berlatih dalam seni Fuuinjutsu aliran Namikaze, sebagaimana yang tertulis di instruksi yang ditinggalkan oleh Minato padanya. Karena pada hakikinya, Fuuinjutsu aliran Namikaze adalah seni ninja yang berurusan dengan manipulasi aspek-aspek [Kenyataan] itu sendiri. Akan tetapi, sebagaimana yang telah dinyatakan dalam salah satu contoh Efek Kupu-Kupu, setiap perubahan di dunia ini memiliki potensi untuk menciptakan perbedaan besar, sehingga Naruto harus jaga diri dan berhati-hati agar setiap Fuuin yang dia ciptakan dan gunakan melalui Fuuinjutsu aliran Namikaze tidak sampai terlalu mendistorsi hukum alam yang vital dan menyebabkan terjadinya konsekuensi yang tidak menyenangkan.
Dulu, Jiraiya menekankan satu hal sebelum dia mulai membimbing Naruto dalam Fuuinjutsu aliran Namikaze. Seperti api, Fuuinjutsu aliran Namikaze pedang bermata dua dengan kaliber tertinggi. Jika diaplikasikan dengan benar, Fuuinjutsu aliran Namikaze adalah alat yang sangat berguna karena memiliki kegunaan yang tidak terbatas, baik itu di dalam medan pertempuran atau bahkan di kehidupan sehari-hari. Tapi kalau sampai Naruto menggunakannya tanpa kehati-hatian dan kewaspadaan, maka Fuuinjutsu aliran Namikaze bisa menjadi sebuah bom tidak stabil yang bisa meledak kapan saja dan menciptakan musibah di mana-mana.
Itulah kenapa Fuuinjutsu aliran Namikaze adalah seni ninja yang sangat ditakuti, namun juga sekaligus sangat didambakan dan dihormati oleh dunia shinobi.
"Dengan kata lain—" Naruto menghentikan penjelasannya ketika menyadari bahwa salah satu orang yang mendampinginya dalam eksplorasi [Konoha yang Lain] ini sudah tak lagi ada di sampingnya. Dia menoleh dengan rasa heran, matanya melebar sedikit saat mendapati bahwa gadis telah berhenti berjalan, sebuah pola spiral nampak berputar di mata biru langitnya dan uap tipis menguar dari puncak kepalanya. "Naruko?"
Naruto menghampiri gadis itu, rasa bingungnya berubah menjadi cemas ketika gadis itu sama sekali tak menjawab pertanyaannya. "Hei, Naruko?! Ada apa?!"
"Ahh," Naruto menoleh ketika ia mendengar Sakura menghembuskan napas, melihat bagaimana gadis berambut merah muda itu mendekati mereka berdua sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pasti otaknya kelebihan muatan karena semua penjelasan level tinggimu tadi."
"AAHH!" Naruto baru saja mau menyahut ketika Naruko tiba-tiba berteriak, matanya yang tadi berputar-putar kini terfokus kembali. "KAU!" Naruko menunjuk Naruto sampai ujung jari telunjuknya hampir menyentuh hidung pemuda itu. "Bukannya kau bilang kalau kita adalah orang yang sama?! Lalu kenapa kau bisa sepintar itu sih?! Apa rahasiamu?! Obat pintar?! Jampi-jampi?! Atau—!"
Naruko memekik kesakitan saat Sakura menjitak kepalanya sambil menghardik nyaring. "Jangan teriak-teriak di tengah jalan, dasar cewek bego!"
"T-tapi, Sakura-chan~!" Naruko yang berjongkok mengerang miris sambil memegangi kepalanya yang benjol. "Dia sudah bohong padaku! Padahal dia bilang kalau kami adalah orang yang sama, tapi buktinya dia jauh lebih pintar dariku! Memangnya salah ya kalau aku merasa dikhianati?!"
"Dikhianati apanya, hah?! Kau itu terlalu berlebihan! Lagipula, memangnya salah dia kalau dia lebih pintar darimu?!" Sakura berteriak balik sebelum bersidekap dan mendengus sebal. "Dasar! Padahal setelah tidak bertemu tiga tahun, aku kira kau sudah berubah! Ternyata harapanku tidak terkabul, kau masih saja bego seperti du—!"
"Sakura-chan."
Sakura berhenti bicara saat suara itu terdengar, karena tidak seperti sebelumnya, suara itu tak lagi terdengar hangat dan ramah. Naruko membuka mata dan mendongak, di hatinya muncul rasa terkejut ketika dia melihat bahwa di mata biru langit itu kini terpancar sinar dingin yang membuat jantungnya sempat berhenti berdetak untuk sesaat.
"Sakura-chan," Naruko melihat Naruto tersenyum. Dan meskipun senyuman itu terlihat menyenangkan, entah mengapa Naruko merasa bahwa di baliknya tersembunyi sebuah ancaman. "Aku tahu kalau aku tak punya hak untuk menuntut apa-apa darimu, tapi aku akan sangat berterimakasih kalau kau tidak mengejek Naruko di depanku lebih dari ini."
"T-tapi—"
"Lagipula," Naruto menyela lagi. "Di dunia shinobi, hanya pintar dalam teori bukanlah prestasi yang patut dibanggakan. Dan setelah mendengar bagaimana Naruko membuat rencana yang membuat kalian berhasil mengambil bel dari Kakashi-sensei, kurasa itu sudah cukup sebagai bukti bahwa Naruko sama sekali tidak mengalami defisiensi intelegensi di waktu-waktu penting."
Ada hening yang berlangsung selama beberapa saat sementara Sakura memikirkan dan menyadari kebenaran kata-kata Naruto. "…A-ah," Dengan malu, Sakura menundukkan wajahnya yang sedikit merona. "K-kurasa tadi aku memang sudah sedikit berlebihan."
Akan tetapi, ketika Sakura menghadapinya dan meminta maaf, Naruko hanya bisa memberi jawaban setengah hati. Bukan karena dia tidak senang mendapat permintaan maaf itu, tapi karena saat ini Naruko masih berusaha mencerna fakta bahwa dia baru saja dibela dengan begitu protektif, seakan-akan Naruto merasa tersinggung karena ejekan Sakura yang sebenarnya tertuju pada Naruko, dan saat Naruko melihat senyuman yang kini terarah padanya itu, Naruko langsung tahu bahwa Naruto siap membelanya kapan saja.
Naruto berbalik. "Nah, kalau kalian tidak keberatan, bisa kita pergi ke tujuan kita sekarang? Aku masih penasaran apakah ramen Teuchi-occhan versi dunia ini beda dengan yang ada di duniaku."
Naruko tak tahu kenapa, tapi saat dia melihat punggung Naruto yang lebar, jantung Naruko berdetak sedikit lebih cepat.
…
"Ah…! Hei, Shikamaru, Temari-san!" ketika mereka tiba di sebuah persimpangan, Sakura melambai sebelum menunjuk ke sampingnya. "Lihat siapa yang sudah pulang!"
"Hei, itu Naruko kan?!" ekspresi Shikamaru yang biasanya kalem berubah cerah saat ia melihat bahwa temannya yang sudah tiga tahun meninggalkan Konoha.
"Shikamaru!" Naruko menyunggingkan sengiran lebar sambil menghampiri teman yang sudah lama tidak ia temui itu. "Lama tak jumpa! Bagaimana kabarmu?! Masih pemalas seperti dulu?!"
"Hoi, punya hak apa kau bertanya seperti itu padaku?" Shikamaru memprotes, walaupun nada suara dan senyuman di wajahnya menyiratkan bahwa dia sama sekali tidak tersinggung. "Kau sendiri masih saja berisik dan hiperaktif seperti dulu."
"Oi, apa maksudmu?! Sekedar informasi ya, aku—!"
"Benar," Sakura menyela sambil mengangguk-angguk. "Isinya masih sama. Sama sekali nggak ada perbedaan."
Semangat Naruko lenyap, bahunya merosot dan wajahnya dibanjiri air mata buaya. "Sakura-chan~!"
"Entahlah," Temari buka mulut untuk pertama kalinya. "Kalau menurutku sih, dia sudah berubah," kunoichi dari Suna itu mencubit dagunya sembari mengamati Naruko dari puncak kepala sampai ke mata ujung kaki. Dia berjalan ke belakang Naruko. "Permisi sebentar ya."
Naruko mengerutkan dahinya sambil menoleh ke samping untuk bertanya, hanya untuk memekik ketika Temari tiba-tiba menarik bagian punggung jaketnya hingga bagian depan pakaian gadis itu menjadi lebih ketat. "O-oi, Temari, kau lagi ngapain sih?!" Temari tidak menggubris protesnya dan terus saja menarik jaket itu hingga Naruko menjadi agak sesak napas.
"Hei, Sakura-chan, tolong aku—!" Merasa bahwa dia perlu mencari bantuan, Naruko berpaling pada rekan satu timnya, hanya untuk mendapati bahwa sang gadis berambut merah muda kini juga memandangi Naruko sebelum tatapannya berhenti di dada temannya yang baru pulang kampung itu. "Sakura-chan?"
"Uwah~" kepala Naruko berpaling lagi ketika suara Temari yang kini melongok melewati pundak kanan Naruko. "Ini sih bukan 'bukit' lagi namanya. Sudah masuk kategori 'gunung' nih."
"…Eh?"
"…Gunununu," Sakura menggeram pelan sambil menggigit ibu jarinya dengan iri.
"Ahem," Shikamaru berdeham, membuang muka untuk menyembunyikan rona merah tipis di pipinya sembari berusaha menyangkal bahwa dia juga setuju dengan pendapat Temari.
"…Eh?" Naruko memiringkan kepalanya dengan bingung, secara tak sadar membuatnya terlihat semakin imut di mata orang-orang yang sedang menatapnya. "Eh? Eh?"
"…Yep," Temari mengangguk khidmat. "Sangat berbeda." Kunoichi itu tersenyum sebelum menepuk kepala Naruko. "Yah, sayangnya, tinggimu nggak nambah-nambah amat sih. Cuma nambah sepuluh senti."
"Ah!" komentar itu membuat Naruko baru sadar kalau dia harus sedikit mendongak untuk bisa menatap wajah Temari. "Mngh, kalau begitu…!" dia melangkah ke depan Shikamaru, dan kembali dibuat terkejut saat mendapati bahwa puncak kepalanya hanya mencapai dagu Chuunin tersebut. "Shikamaru, kau juga sudah lebih tinggi dariku?!" dia merengutkan wajahnya dengan sebal. "Ini nggak adil! Kenapa kalian semua tumbuh lebih pesat dariku sih?! Aku bahkan masih kalah tinggi dibanding dengan Sakura-chan!"
Shinobi dengan gaya rambut seperti buah nenas itu tergelak. "Mungkin itu karena menu makanmu yang hanya berisi ramen, ramen, dan ramen?"
"Muuu~" Naruko memanyunkan bibir. "Memangnya salah ya kalau aku suka ramen?! Ramen itu makanan kaum dewa, tahu nggak?!" dia lalu teringat sesuatu. "Oh ya, aku hampir lupa. Kami tadi mau pergi ke kedai Teuchi-occhan. Kalian mau ikut?"
"Naruko," Sakura menepuk bahu temannya itu. "Kau nggak bisa lihat ya kalau mereka lagi kencan? Mana mungkin mereka mau—"
"H-hei, Sakura-san!" Temari menyela dengan wajah yang mulai memerah sementara Shikamaru hanya melenguh sambil mengusap wajahnya.
"Dasar kau ini, Sakura…" kata Shikamaru dengan nada sebal. "Kau ini harus kuberitahu berapa kali sih? Kuulangi lagi, kami tidak pacaran. Satu-satunya alasan aku menemui perempuan ini adalah karena alasan pekerjaan. Tidak kurang, tidak leb—AUW!" Shikamaru tiba-tiba mengaduh dan mulai meloncat-loncat dengan satu kaki sambil memegangi kakinya yang lain. "Oi! Kenapa kau tiba-tiba menginjak kakiku sih?!"
Temari buang muka. "…Baka."
"Pekerjaan?" Naruko bertanya bingung. "Pekerjaan apa maksudmu, Shikamaru?"
"Ujian Chuunin," jawab Shikamaru dengan wajah meringis. "Dia duta yang diutus dari Suna, dan karena aku ditunjuk sebagai salah satu penguji tahun ini, mereka menyuruhku untuk memandu dan mengawal perempuan merepotkan in—Adoh!" Chuunin itu kembali meloncat-loncat dengan satu kaki. "Kenapa kakiku diinjak lagi sih?! Kau mau ngajak aku berkelahi ya?!"
"Berisik! Siapa yang kau panggil perempuan merepotkan, hah?!"
"Memangnya kau kira siapa lagi?!"
Naruko tidak menggubris kedua shinobi berbeda desa kelahiran yang mulai bertengkar itu dan memilih untuk menoleh ke arah Sakura. "Ujian Chuunin?"
"He eh," Sakura mengangguk. "Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu, Naruko?"
"Eh? Bagaimana apanya?"
"Ah, benar juga, kau masih belum tahu ya?" Entah kenapa, senyuman Sakura saat itu terlihat sedikit mengasihani. "Dari angkatan kita, cuma kau yang masih berpangkat Genin."
Untuk sejenak, Naruko hanya bisa terdiam sementara otaknya berusaha mencerna informasi itu.
"EEEHH~?!" sang kunoichi pirang berteriak tak percaya. "C-cuma aku yang masih Genin?! Jadi, jadi, itu artinya kau sekarang juga sudah jadi Chuunin, Sakura-chan?!"
Sakura nyengir lebar sambil membuat gestur 'peace' dengan tangannya. "Yep!"
"Tidak cuma itu, Neji dari angkatan di atas kita, serta Kankurou dari Suna dan Temari ini juga sudah menjadi Jounin." Shikamaru menimpali.
"EEHH~?!" Naruko berteriak sekali lagi. "Tunggu dulu…! Gaara… bagaimana dengan Gaara?!"
Temari menjawab pertanyaan itu hanya dengan satu kata. "Kazekage."
Mata Naruko melebar sempurna.
"…Ahh, jadi begitu ya…" dia menggumam dengan suara pelan setelah beberapa lama. "Dia—dia sudah berhasil jadi Kazekage…"
"Naruko?" aura murung yang bisa terasa ketika Naruko kembali terdiam mulai membuat Sakura khawatir. "Naruko, kau baik-baik saja?"
"…E-eh? A-ah…!" Naruko mengerjap dan ekspresinya menjadi cerah lagi. "Tentu saja! Kenapa kau bertanya?!"
Mereka tak perlu menjadi cenayang untuk mengetahui bahwa senyum yang kini terpasang di wajah gadis remaja itu adalah sebuah senyuman yang dipaksakan.
Sakura menghembuskan napas sebelum mengangkat salah satu tangannya untuk meraih dan mengacak-acak rambut sang gadis yang sudah menjadi temannya sejak dari Akademi Ninja. "Tidak usah pasang muka seperti itu," dia menasihatinya dengan lembut. "Jangan patah semangat hanya karena kau masih seorang Genin. Kau masih ingat kalau rencanamulah yang membuat kita berdua bisa mengalahkan Kakashi-sensei kan?"
"Sakura-chan…"
"Lagipula, kau masih ingat Ujian Chuunin pertama kita tidak?" Sakura bertanya. "Dulu kau bilang bahwa kau pasti akan jadi Hokage, walaupun kau harus jadi Genin selamanya." Dia tersenyum. "Kau belum lupa kata-katamu sendiri kan?"
"…benar…" sinar mata Naruko yang tadi meredup kini mulai menyala lagi. "Kau benar, Sakura-chan! Aku tak peduli apapun yang terjadi, aku pasti akan menjadi Hokage yang berikutnya, ttebayo!"
"Hah~" Shikamaru menghembuskan napas. "Apa itu artinya kita harus menerima kenyataan bahwa kita akan mendapat Rokudaime yang kecanduan ramen?"
"Jangan lupa bego, hiperaktif, serta berisik." Temari menimpali.
"Dan juga punya selera fashion yang buruk." Sakura menambahkan.
"Sakura-chan~!" Naruko mewek-mewek jelek lagi, membuat tiga orang yang mengelilinginya tertawa lepas. "Naruto, Sakura-chan mengusiliku lagi nih—!"
Naruko menghentikan kata-katanya sendiri ketika dia sadar kalau dari tadi dia sama sekali tidak mendengar suara Naruto.
"'Naruto'?" Shikamaru mengerutkan dahinya. "Siapa itu?"
"…Naruto?" Naruko berbalik tanpa menggubris pertanyaan Shikamaru, memilih untuk terus mencari, namun tetap gagal menemukan pemuda itu. "Naruto!"
"Naruto?!" Naruko tak tahu kenapa, tapi ketika menyadari bahwa pemuda itu telah menghilang, pergi entah ke mana, dia tiba-tiba diserang rasa takut dan panik yang sama sekali tidak rasional, begitu kuat sampai-sampai napasnya tercekat dan jantungnya serasa seperti dicengkeram oleh sebuah tangan tak berbentuk yang kejam dan tak berperasaan.
Dia bahkan sama sekali tidak sadar kalau kakinya sudah mulai berlari. "Naruto!"
"H-hei, Naruko!" Sakura berseru. "Naruko, tunggu!"
Akan tetapi, Naruko seakan-akan tak bisa mendengar panggilan rekan satu timnya, dan terus berlari sembari mengedarkan pandangannya dengan mata liar. Apa yang terjadi? Kenapa Naruto tiba-tiba saja menghilang seperti itu? Apakah sesuatu terjadi padanya? Apa dia tersesat? Atau jangan-jangan dia memutuskan untuk meninggalkan Konoha, dan pergi ke suatu tempat di mana Naruko tak bisa menemuinya lagi?
"Naruto!" Naruko tak mau itu. Padahal mereka baru saja bertemu. Dia tak bisa pulang begitu saja… dia tak boleh pergi sekarang ketika Naruko masih punya banyak pertanyaan untuknya! "Naru—!"
"Naruko?" Lari sang gadis, beserta tiga orang yang mengejarnya, serta merta berhenti saat ia mendengar suara itu dari belakang Naruko. "Oi, Naruko!"
Dengan rasa takut, gugup, dan cemas yang bercampur aduk dalam hatinya, gadis remaja itu menoleh, hanya untuk mendapati bahwa dia sudah berlari melewati kedai ramen Teuchi-occhan dari mana. Dan dari balik tirai noren kedai tersebut, kepala dengan rambut pirang jabrik yang sedikit gondrong melongok keluar.
Tanpa menyadari apa yang sudah dia sebabkan, sang cowok yang kelihatannya tadi sedang sibuk makan, menilik bibirnya yang masih basah dengan kuah berminyak khas ramen, melangkah keluar dari kedai. "Kau ini kenapa sih? Lari sambil teriak-teriak seperti kucing habis kecebur begitu?"
Naruko tak menjawab. Dia cuma berjalan menghampiri Naruto dengan langkah cepat, sebelum memegang bahu cowok itu seakan-akan memastikan agar dia tidak bisa bergerak. Kepalanya yang tertunduk membuat tiga remaja yang menyaksikan peristiwa tersebut penasaran dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin Naruko lakukan… hanya untuk dibuat ternganga ketika Naruko menyarangkan lututnya ke perut Naruto tanpa peringatan.
Sakura, Shikamaru, dan Temari hanya mampu menonton dengan wajah melongo sementara Naruko menunggangi perut Naruto yang jatuh terkapar di tanah sebelum mulai menghajarnya tanpa ampun sambil meneriakkan umpatan-umpatan penuh warna yang dijamin bisa menyaingi perbendarahaan kata para narapidana di penjara.
Celetukan pendek yang Temari ucapkan kemudian bisa mendeskripsikan apa yang mereka bertiga pikirkan. "…Apa-apaan?"
…
"Aku tidak percaya kau bisa meninggalkan kami begitu saja dan pergi makan sendirian!" Naruko mengeluh untuk kesekian kali di antara suapannya. "Dan kalau itu masih belum cukup, kau pergi tanpa bilang apa-apa!"
"Naruko, aku kan sudah bilang kalau aku cuma tidak mau mengganggu obrolan kalian…" Naruto menyahut, juga untuk yang kesekian kali. "Aku sudah minta maaf lebih dari dua puluh kali nih. Apa itu masih belum cukup?"
"Belum!" Naruko menghardik sambil menghempaskan mangkok yang sudah kosong ke atas meja dan hampir saja memecahkannya. "Kau tahu nggak kau sudah membuatku sekhawatir apa?! Gara-gara tingkahmu itu, aku hampir panik, tahu!"
"Yah, kalau menurutku sih, itu sudah bukan 'hampir panik' lagi," Shikamaru yang duduk paling ujung menggumam pelan. "Itu sih sudah panik sepanik-paniknya."
"Berisik!" Naruko yang sudah mulai melahap ramen mangkok kelimanya menyemprot marah. "Siapa yang tanya pendapatmu, Shikamaru?!"
"Ah, ada potongan narutomaki di pipimu." Naruto meraih selembar kertas tisu. "Sini, biar kubersihkan."
"Oh, terima kasih." Naruko berucap pelan sementara Naruto mengelap mulutnya, sebelum menyadari apa yang sedang terjadi. "Hei, jangan perlakukan aku seperti anak kecil!"
"Iya, iya."
"Aku benar-benar bingung dengan situasi ini," Temari berkomentar sambil menoleh ke arah Sakura. "Sakura-san, kau tadi bilang kalau mereka adalah orang yang sama, dan cowok itu adalah 'Uzumaki Naruko' yang datang dari dunia lain, ya kan? Tapi apa kau yakin kalau mereka ini bukan kakak-adik yang terpisah dari kecil?" Dia merenung sesaat lagi. "Atau ayah-anak, mungkin?"
"Yah…" Sakura menoleh untuk mengamati dinamika hubungan dua remaja berambut pirang yang entah kenapa bisa jadi begitu familier itu, ketika pada kenyataannya mereka baru berinteraksi kurang dari satu hari penuh.
"'Iya'nya cukup sekali aja, ttebayo!"
"Oke, oke."
"Kau ini mau kuhajar lagi ya?!"
"Tidak, tidak."
"Muu~!"
Sakura mengembalikan tatapannya pada Temari. "Jujur, aku sendiri nggak yakin…"
…
"Sudah kubilang, tidak usah bantu aku, ttebayo!" Naruko bersikeras. "Aku sudah gede, jadi aku bisa jalan sendiri—Hrk!"
"Gede di mananya kalau nasihat orang lain saja tidak kau dengarkan?!" sahut Naruto dengan sebal, tubuhnya masih dalam postur siaga kalau-kalau dia perlu membawa Naruko ke selokan terdekat agar kembarannya itu bisa muntah sesuka hati. "Padahal kau sudah kenyang setelah makan sepuluh porsi! Kenapa kau masih saja memaksa nambah dua mangkok lagi sih?!"
"Tapi kau bisa menghabiskan dua puluh lima mangkok!" Naruko memprotes nyaring. "Yang semuanya ukuran jumbo!"
"Dan memakan setengah jumlah itu saja sudah membuatmu jadi seperti wanita hamil." Sakura nimbrung sambil tertawa kecil. Sejak kemunculan cowok ini, entah kenapa tingkah bego dan kekanak-kanakan Naruko malah jadi terlihat lucu dan imut alih-alih menyebalkan, hingga mengganggu dan menggoda gadis itu jadi terasa lebih menyenangkan dari biasanya. "Serius deh, Naruko. Dia kan cowok. Ya jelaslah kapasitas perutnya lebih besar darimu."
"Atau dia bukan manusia." Shikamaru menimpali, menatap Naruto dengan satu alis terangkat. Dia masih tidak tahu ke mana perginya semua makanan itu, melihat bagaimana perut Naruto yang sama sekali tak berubah ukuran. Metabolisme tingkat super tinggi, mungkin?
"Oi," Naruto memprotes. "Aku kan sudah bilang kalau aku bisa menghabiskan sebanyak itu karena aku sudah tiga hari belum makan?"
"Tapi, tapi, kita sama-sama doyan ramen kan?! Lalu kenapa aku nggak—Urf!"
Melihat Naruko yang terbungkuk sambil menutup mulutnya, Naruto menghembuskan napas panjang. Dia melangkah ke depan gadis itu, lalu berlutut membelakanginya sambil memberi satu perintah singkat. "Naik."
"Sudah kubilang kan, jangan perlakukan aku seperti anak ke—!"
"Naruko," Naruto menyela dengan nada suara yang menyiratkan bahwa dia sudah tak mau mendengar argumen lagi. "Aku bilang, naik."
"…Muu," Naruko menggerutu pelan, sebelum akhirnya dia mematuhi perintah yang dia dapatkan dan membiarkan kembarannya itu menggendongnya. "Asal tahu saja ya, aku bisa jalan sendiri kalau aku mau, ttebayo."
Akan tetapi, meskipun dia berkata demikian, Naruko masih saja mengalungkan lengannya erat-erat ke leher Naruto dan membenamkan wajahnya di tengkuk sang pemuda, membuat Sakura dan Temari harus menahan diri untuk tidak ber-'aaww~' ria melihat tingkah imut gadis remaja yang sudah lama mereka kenal itu.
"Iya, iya," Naruto memberi jawaban yang kelihatannya mulai menjadi rutinitas di antara mereka berdua, dan terkekeh ketika dia merasakan Naruko mengeratkan pelukannya di leher pemuda itu. Naruto menoleh ke arah tiga orang itu. "Nah, selamat malam, semuanya. Terima kasih sudah menemani kami hari ini." Setelah mendapatkan jawaban, pemuda itu mengangguk sekali lagi sebelum mulai berjalan pergi.
"Aku berubah pikiran," Temari tiba-tiba berkata setelah sosok Naruto dan Naruko sudah cukup jauh dari mereka. "Daripada 'kakak-adik' atau 'ayah-anak', tingkah mereka berdua itu lebih cocok kalau disebut 'suami-istri'."
"…Kau sadar kan kalau mereka orang yang sama?" Shikamaru bertanya dengan satu alis terangkat.
"Ya," Temari menjawab. "Lalu memangnya kenapa?"
Shikamaru memandangi gadis yang berasal dari Sunagakure itu untuk beberapa saat ekstra, sebelum menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pasrah. "Dasar perempuan berselera aneh." Dan tentu saja, dia harus membayar komentar itu dengan kaki yang diinjak lagi. "Auw!"
Sakura terkekeh melihat tingkah dua orang yang masih tidak bisa jujur satu sama lain itu, sebelum menoleh ke belakang ke arah sosok Naruto dan Naruko yang sudah makin mengecil. Ini mungkin hanya pendapatnya saja, tapi walaupun cowok itu tiba di dunia ini dengan tidak sengaja, Sakura sama sekali tidak bisa berpikir bahwa kedatangan Naruto adalah sesuatu yang buruk.
Sakura tahu bahwa dia tidak seharusnya bersikap egois, tapi kalau bisa, dia ingin Tuhan membiarkan cowok itu ada di dunia ini untuk waktu yang lama, karena dengan begitu, Sakura bisa melihat senyuman Naruko yang entah mengapa terlihat sedikit lebih jujur, serta jauh lebih ceria setiap kali dia ada bersama Naruto.
Sementara jalur pikiran Sakura lebih terfokus pada sahabatnya, pikiran Shikamaru berada di jalur yang lain.
Setelah melihat sendiri seperti apa Naruto, apa yang tersirat dari gerak-gerik, ekspresi wajah, cara bicara, bahkan sampai infleksi terkecil dalam nada suaranya, Shikamaru menyimpulkan bahwa meskipun Naruto punya sikap yang lebih dewasa, otak yang lebih pintar, dan kemampuan bertarung yang lebih tinggi daripada Naruko, mereka berdua tetaplah orang dengan [Inti] yang sama dengan Naruko. Dan kemampuan mereka untuk merasakan bahwa mereka adalah orang yang sama itulah yang membuat Shikamaru dan Sakura, bahkan Temari, bisa berinteraksi dengan Naruto tanpa sedikitpun rasa tak nyaman, meskipun mereka baru pertama kali bertemu hari ini.
Namun alih-alih membuatnya tenang, fakta itu malah membuat Shikamaru penasaran. Karena kalau menilik apa yang dia lihat dari Naruto dan Naruko, Shikamaru juga bisa menyimpulkan bahwa [Inti] atau [Origin] yang serupa tidak lantas berarti mereka berdua tumbuh menjadi dua orang [Sama Persis]. Tapi… lalu apa? Apa yang membuat Naruto berbeda dengan Naruko? Kenapa Naruto bisa menjadi orang yang lebih dewasa, lebih pintar, dan lebih kuat daripada Naruko?
Apa yang sudah terjadi padanya? Kehidupan macam apa yang sudah dia jalani, sampai umur mental Naruto bisa lebih dewasa daripada umur fisiknya? Cobaan dan kesulitan macam apa gerangan yang harus dia hadapi, hingga dia harus tumbuh begitu pesat, hingga menjadi orang yang lebih pintar dan kuat daripada Naruko, ketika pada kenyataannya mereka memiliki waktu latihan yang sama, serta dilatih oleh orang yang sama?
Sekeras apapun Shikamaru mengerahkan kejeniusannya, sebanyak apapun kesimpulan yang bisa dia tarik, pada akhirnya, Shikamaru tahu bahwa hanya ada satu alasan yang bisa dia berikan untuk merasionalisasi perbedaan antara Naruto dan Naruko.
Dan alasan itu menyatakan bahwa Naruto telah mengalami [Kehidupan] yang jauh lebih sulit, [Cobaan] yang jauh lebih berbahaya, serta [Penderitaan]yang jauh lebih dalam, daripada apa yang telah dialami oleh Naruko.
Shikamaru menghembuskan napas. Tak ada orang yang tahu lebih dari Shikamaru sendiri bahwa dia adalah seseorang yang sangat tidak menyukai hal-hal yang merepotkan. Ditambah dengan tugasnya sebagai penguji di Ujian Chuunin, Shikamaru sebenarnya tak ingin buang tenaga percuma untuk mengurus hal-hal selain kewajiban utamanya.
Meskipun demikian, kalau sudah menyangkut orang yang Shikamaru anggap sebagai [Teman]…
Itu lain lagi urusannya.
~•~
Naruko tahu bahwa hampir sepanjang hidupnya, dia bukanlah gadis yang terlalu pedulian dengan penampilan. Dia tak pernah membeli produk-produk kecantikan, baik produk bertipe perawatan kulit seperti lotion, pelembab kulit, krim anti keriput, ataupun produk tipe perias wajah seperti lipstik, foundation, perona wajah, dan lain sebagainya.
Bagi Naruko, tampil rapi dan bersih sudah cukup bagi gadis yang masih berumur lima belas tahun itu, apalagi kalau mengingat dia punya prinsip bahwa kalau suatu saat nanti dia disukai seseorang, Naruko ingin hal itu terjadi karena sifatnya, bukan karena penampilan luarnya.
Akan tetapi, itu tak mengubah fakta bahwa sehabis mandi malam ini, Naruko telah menghabiskan hampir lima belas menit hanya berdiri menghadapi cermin yang ada di kamarnya, menyisir rambutnya untuk kesekian kali dan mengerang panjang saat sikat rambut yang tergenggam di tangannya tersangkut, menandakan bahwa ada bagian rambutnya yang masih kusut.
Naruko menghentikan erangannya karena sadar bahwa dia tak punya hak untuk protes, apalagi mengingat hal ini disebabkan oleh kesalahannya sendiri.
…
Tsunade yang tiba-tiba merasa kelelahan seakan-akan dia sudah bekerja tanpa henti selama beberapa hari duduk terhenyak di kursi. Rasa lega karena semua salah paham yang telah diluruskan dan penjelasan juga telah diberikan tidak mengubah fakta bahwa peristiwa yang terasa hampir tidak bisa dipercaya ini telah membuat sang Godaime diserang rasa sakit kepala. Tangannya bergerak memijit pelipisnya untuk beberapa saat sebelum memandang remaja yang mengaku sebagai orang bernama Namikaze Naruto itu. "Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Tergantung," pemuda itu kembali bersidekap. "Apa aku masih dalam masalah? Karena kalau begitu maka jawabanku adalah 'lari'."
"Tenang saja," Tsunade mengibaskan tangannya. "Setelah penjelasanmu tadi, aku tahu bahwa apa yang terjadi antara kita hari ini hanyalah salah paham. Jadi kau tidak usah khawatir."
"Oh, baguslah kalau begitu! Kukira aku akan menghabiskan waktu di penjara selama aku ada di dunia ini!" Naruto menyahut dengan sebuah sengiran lebar yang sangat mengingatkan orang-orang dewasa di ruangan itu pada Naruko, sebelum ekspresinya berubah menjadi ragu. "Dan untuk jawaban pertanyaanmu tadi… mengingat aku masih belum tahu pasti apa yang membuatku terdampar di dunia ini, dan menemukan kesalahan apa yang sudah kubuat dalam Jutsu-shiki Hiraishin itu pasti tidak akan memakan waktu yang singkat, kurasa itu berarti aku harus mencari hotel atau penginapan yang bisa kudiami selama beberapa hari."
"Ah, tapi…" rona merah tipis mewarnai wajah Naruto selagi dia mengusap tengkuknya dengan sedikit kikuk. "Bisa tidak kalian bantu aku menemukan penginapan yang harganya terjangkau? Kondisi dompetku saat ini lagi rada kempis soalnya, dan mengingat aku berasal dari dunia lain, aku nggak yakin apakah buku tabunganku berlaku untuk bank yang ada di dunia ini."
Tsunade baru saja mau mengatakan bahwa Naruto bisa menyerahkan permasalahan penginapan itu padanya tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun, namun belum sempat ada secercah suara yang keluar dari mulut sang Godaime, dia telah didahului oleh seseorang.
"Kalau begitu kau menginap di apartemenku saja!"
Tak ada bunyi yang terdengar dalam Kantor Hokage sebelum semua pasang mata terarah ke gadis remaja berambut pirang yang merupakan pemilik suara itu, membuat Naruko yang sama sekali tak tahu apa yang merasuki dirinya saat itu mulai merasa malu hingga wajahnya diwarnai rona merah secara perlahan-lahan.
Akan tetapi, kesempatan apapun yang Naruko miliki untuk mengubah pernyataan itu lenyap tak bersisa ketika Naruto bertanya dengan sebuah ekspresi cerah menghiasi wajahnya. "Benarkah?"
Dihadapkan dengan suara yang penuh harap seperti itu, tentu saja Naruko tahu bahwa dia takkan tega untuk menarik kembali kata-katanya.
…
Kadang, Naruko benar-benar membenci mulutnya yang sangat suka berkaok sebelum otaknya sempat berpikir baik-baik, karena sekarang dia dihadapkan dengan sebuah dilema yang sangat membingungkan.
Naruko sendiri tak mengerti apa tepatnya yang membuat bertingkah seperti ini, tapi saat dia memikirkan siapa yang akan dia temui ketika dia keluar dari kamar mandi, Naruko jadi ingin memastikan bahwa penampilannya ada dalam kondisi terbaik.
"Umu!" Naruko memutar tubuhnya, sebelum mendengus puas saat melihat bahwa rambutnya kini benar-benar lurus sempurna. Dengan sebuah senyuman lebar, gadis yang hanya memakai bra dan celana dalam itu berjalan menghampiri lemari pakaian, hanya untuk berhenti ketika tangannya baru menggenggam gagang pintu lemari itu ketika dia menyadari bahwa dia telah melupakan sesuatu.
Naruko benar-benar lupa kalau semua baju yang ada di lemari itu pasti sudah tak lagi pas di tubuhnya yang sekarang.
Dengan panik, gadis itu mengalihkan perhatiannya ke aras tas besar di atas ranjang yang menjadi alat penyimpanannya selama latihan intensif bersama Ero-sennin dan mulai menggali isinya. Rasa paniknya semakin bertambah ketika dia menyadari bahwa selera fashion-nya yang berada di bawah rata-rata membuat cewek remaja itu tidak memiliki baju berkualitas yang bisa mengagumkan orang yang memandangnya, dan dia hampir saja putus asa ketika tangannya tiba-tiba menyentuh sebuah benda yang terbenam hampir di dasar tasnya.
Naruko mengeluarkan benda itu, yang ternyata merupakan sebuah kotak berlapis kertas kado, sebelum ingat bahwa benda itu adalah hadiah ulang tahun kelima belas yang ia dapat dari Ero-sennin dan belum pernah ia buka karena mengira guru mesumnya itu kembali memberinya sesuatu yang tidak senonoh.
Dengan perlahan-lahan, Naruko mulai membuka kotak tersebut, melepaskan plesternya satu-persatu alih-alih merobeknya dengan harapan bahwa kalau dia melakukannya dengan baik-baik, maka Tuhan juga akan berbaik hati dan memberinya sesuatu yang bisa menjadi solusi dilemanya ini.
Apa yang dia temukan di dalam membuat Naruko hampir saja bersorak girang, sembari memutuskan untuk mengumpulkan uang agar dia bisa membeli hadiah yang sepadan untuk ulang tahun Ero-sennin yang berikutnya.
…
Naruto meraih cangkir yang terbuat dari tanah liat dan kini berisi teh hijau dari sudut meja ketika suara pintu penghubung antara ruangan yang merangkap ruang tengah, ruang makan, dan dapur sekaligus dengan lorong utama kamar apartemen itu terbuka dengan suara derit pelan.
"Oh, hei, Naruko. Sudah selesai mandi?" Naruto bertanya sambil mengangkat cangkir tehnya. Mata biru langit sang pemuda yang kini menyala terarah ke depan, atau tepatnya, ke arah sebuah kunai bercabang tiga yang ada di permukaan meja makan. "Aku bikin teh. Kalau kau mau, tekonya masih ada di atas kompor."
Naruto menyeruput tehnya masih cukup panas dengan tatapan penuh konsentrasi mendalam yang masih seluruhnya terfokus ke arah formula Fuuin Hiraishin untuk mencoba mencari penyebab kecelakaan yang membuatnya sampai di dunia lain, konsentrasi yang kemudian teralih ketika dia mendengar Naruko memanggil namanya. "Naruto."
"Hmm—BRUUH?!"
Diserang rasa terkejut yang hebat, teh yang tadi sudah siap mengalir ke kerongkongan hampir saja berubah arah ke tenggorokan, membuat pemuda itu terpaksa mengambil respon situasi gawat darurat dengan memalingkan wajah ke samping agar dia tidak menyembur gadis yang berdiri di depannya.
Keberuntungan karena tak ada teh yang masuk ke paru-parunya hampir tidak terlintas di kepala Naruto, karena saat ini, seluruh perhatiannya hanya tertuju pada penampilan gadis yang memiliki [Origin] yang sama dengan Naruto itu.
Gadis itu memakai sebuah yukata dengan warna kesukaan mereka berdua, jingga terang mulai dari bagian kerah dan terus menggelap sampai akhirnya menjadi merah delima di tepian bawahnya. Ketiadaan motif khusus yang menghiasi pakaian tradisional itu memang sedikit mengurangi kemewahannya, tapi aura informal yang diproyeksi oleh pakaian tersebut malah membuat gadis pemakainya diselimuti aura keibuan yang biasanya hanya bisa dirasakan pada wanita atau ibu rumah tangga. Dan kalau itu masih belum cukup, meskipun yukata itu membungkus hampir seluruh tubuh Naruko hingga hanya menunjukkan tangan, kaki, serta leher dan wajahnya, Naruto bisa melihat bahwa tidak seperti Naruto yang memiliki kulit sedikit sawo matang dan rambut jabrik berantakan, Naruko memiliki kulit putih langsat mulus dan rambut luar biasa lurus, yang semakin terlihat karena dia membiarkannya terurai tanpa kuncir, adalah bukti mati bahwa kembaran Naruto itu memang mewarisi sebagian besar ciri genetik Kushina dari segi penampilan.
Naruto tahu kalau gadis itu memiliki umur yang sama dengannya, tapi pada saat ini dan dengan penampilan ini, shinobi remaja yang sedang terdampar di dunia lain itu tidak akan heran kalau dia melihat sebuah cincin tersemat jari manis tangan kiri Naruko karena sumpah, gadis itu kini benar-benar terlihat seperti seorang istri muda!
"A-a-a—!" dengan mata membeliak selebar-lebarnya, Naruto mengacungkan jari telunjuk tangannya yang bebas ke arah Naruko, sadar betul bahwa wajahnya yang mulai memanas adalah pertanda darah mulai berkumpul di kepala dan membuat pipinya mulai memerah. "A-apa-apaan…?!"
"Naruto…" Naruko bercetus pelan sambil menundukkan kepalanya sedikit hingga matanya tersembunyi di balik poni rambutnya seakan-akan malu karena dipandangi dengan sangat intens seperti itu. "Baju ini… cocok buatku nggak…?"
Dihadapkan dengan sikap tersipu dengan wajah yang dihiasi rona merah halus itu, suara geledek nyaring terdengar dari dalam jiwa Naruto yang terguncang karena menyadari bahwa dia tak punya kata-kata yang cukup dalam vokabularinya untuk mendeskripsikan penampilan Naruko yang membuat hati sang pemuda diserang emosi campur aduk laksana kapal nelayan yang terjebak dalam badai samudra menggelora.
Sial—atau beruntung—bagi Naruto, Tuhan merasa bahwa shinobi remaja yang sudah hidup terisolasi selama pengembaraan bersama gurunya hingga tak punya cukup kontak dengan kaum-kaum Hawa itu tidak punya cukup pengalaman atau persiapan untuk menerima pengaruh penuh seorang makhluk menawan yang memiliki nama lengkap Uzumaki Naruko, hingga Dia memutuskan untuk membuat otak Naruto konslet seperti mesin kelebihan muatan, hidungnya memuncratkan darah yang memancar seperti air keran, dan kesadarannya menghilang seperti api lilin kecil yang ditiup angin kencang.
Naruko menatap cowok yang kini terbaring pingsan di lantai itu, lengkap dengan wajah merah padam dan hidung yang mimisan, sebelum akhirnya sebuah tawa kecil terlepas dari sela bibirnya yang berwarna merah muda, matanya kini menunjukkan sinar nakal yang tadi disembunyikan.
Naruko tak habis pikir kenapa, tapi lebih dari kesuksesannya membalas dendam untuk kelancangan Naruto yang memakai tubuh Naruko untuk jurus mesumnya siang tadi, hal yang benar-benar membuat gadis remaja itu senang adalah melihat bagaimana cowok yang bisa mengalahkan hampir lima puluh personel militer Konoha hanya dengan sebuah jurus mesum dan bisa menerima hajarannya tanpa mengaduh satu kalipun itu bisa sampai kehabisan kata-kata dan jatuh pingsan hanya karena melihat penampilan Naruko malam ini.
…
Naruto mencoba kembali memfokuskan perhatian ke formula Hiraishin yang harus ia analisa untuk mencari kesalahannya, fokus yang kemudian buyar lagi ketika suara tawa kecil, namun menyebalkan terdengar dari orang yang kini duduk di sebelahnya.
"Oi!" Naruto berseru dengan suara sedikit sengau karena dua lubang hidungnya yang disumbat gulungan kertas tisu. "Sampai kapan kau mau wahaha-wahehe begitu sih?! Aku lagi nyoba konsentrasi nih!"
"T-tapi… tapi…!" Naruko tertawa lagi, satu tangan memegangi perutnya sementara satu tangan lagi dipakai untuk memukul-mukul bahu Naruto. "Wajahmu tadi benar-benar…! Benar-benar—!" Gadis itu membuka matanya yang sudah berair, dan kata-katanya kembali dipotong oleh tawa saat dia melihat wajah Naruto yang, menurutnya, terlihat sangat konyol.
"Oi!"
Butuh waktu yang cukup lama sampai akhirnya suara tawa berhenti menggema di ruang tengah apartemen tersebut. "M-maaf… maaf…" Naruko menggunakan bahu Naruto sebagai penopang, napasnya masih terengah dan tubuhnya terasa sedikit lemah karena terlalu banyak tertawa. "Tapi, wajahmu saat kau pingsan tadi itu…! Reaksimu tadi itu benar-benar lucu…!"
"Ya sori kalau aku lemah di hadapan cewek yang memakai baju tradisional!" Naruto bersidekap dengan wajah yang sedikit memerah. "Sekarang, bisa tenang sedikit nggak? Aku perlu konsentrasi nih."
"Ah, iya, soal itu," Naruko mengikuti arah pandangan Naruto. "Kau sebenarnya lagi ngapain sih?"
"Menguraikan Jutsu-shiki Hiraishin ini," jawab Naruto selagi dahinya kembali berkerut dalam konsentrasi, tangannya bergerak mencabut gulungan tisu di lubang hidungnya dan melempar benda itu ke bak sampah di sudut ruangan. "Siang tadi sudah kujelaskan kan? Aku datang ke dunia ini secara tidak sengaja saat aku menguji coba jurus ini, jadi sekarang aku harus mencari tahu apakah penyebabnya datang dari formula Fuuin ini atau dari faktor lain."
"Menguraikan?" Naruko bertanya bingung. "Bukannya dari tadi kunai itu cuma kau liatin saja? 'Menguraikan' di mananya?" Dia lalu menatap wajah Naruto. "Ah, apa itu ada hubungannya dengan matamu yang menyala?"
Naruto membuka mulutnya seperti mau menyahut, namun menutupnya kembali seakan-akan tersadar akan sesuatu. "…Tunggu dulu," Naruto memutar kepalanya perlahan-lahan. "Kenapa kau tidak tahu apa yang sedang kubicarakan? Bukannya kau juga punya kemampuan [Membaca Aksara Semesta]?"
"Membaca? Aksara Semesta?" Naruko memiringkan kepalanya dengan bingung. "Apa itu?"
"Kemampuan yang kita warisi dari Tou-chan! Harusnya kau juga—!" mata Naruto tiba-tiba melebar sempurna. Dia kembali menatap ke depan dan mencubit dagunya sembari mulai menggumam-gumam dengan suara yang begitu rendah sampai Naruko sama sekali tak menangkap apa yang ia katakan.
"Naruto?" Naruko mencoba memanggil, namun dia tidak diacuhkan. "Oi, Naruto! Kenapa kau malah cuma ngedumel begitu sih?! Jelasin dong apa yang kau maksud tadi, aku masih nggak menger—!"
"Naruko," Naruto menyela sambil memutar arah kursinya. "Hadap sini."
"Eh? Apa yang—?"
"Naruko, tolong turuti saja dulu kata-kataku."
Walau bibirnya yang dimanyunkan menjadi pertanda bahwa Naruko sedang agak kesal, nada suara Naruto yang sangat serius membuat gadis itu menurut saja tanpa protes lebih lanjut. Ketika kursi mereka sudah berhadapan, Naruko melihat Naruto memejamkan mata dengan ekspresi seram seakan-akan dia sedang berpikir keras.
Mata Naruto terbuka, dan sinar biru langit yang menyala begitu intens tersebut membuat napas Naruko sedikit tercekat.
Setelah beberapa lama Naruto tak juga membuat suara, Naruko mulai merasa khawatir. "N-Naruto?"
"Tunggu sebentar," Naruto menyahut tanpa mengalihkan perhatiannya. Matanya sedikit menyipit, sementara warna biru langit itu terus menjadi semakin terang sampai-sampai Naruko merasa dia tidak akan heran kalau ada lampu yang dinyalakan di balik mata kembarannya itu. "Aku masih harus—Ngh…!"
Jantung Naruko hampir meloncat ke tenggorokannya saat dia melihat darah menetes dari lubang hidung Naruto, dan kalau melihat ekspresi pemuda itu, Naruko sangat yakin kalau mimisan itu bukan disebabkan oleh sesuatu yang mesum. "Naruto!"
"Tunggu! Tunggu sebentar lagi!" dengan ekspresi mengernyit seakan menahan sakit, Naruto berseru ketika Naruko mencoba berdiri untuk mengecek keadaan kembarannya. "Aku tidak bisa berhenti sekarang! Tinggal sedikit lagi dan aku bisa—Ah, dapat!"
Naruto menutup matanya dan mengerang panjang, sementara Naruko meraih kotak tisu di tengah-tengah meja dan segera menghampiri pemuda itu. "Dasar cowok bego!" dia mengomel cemas sambil berusaha membersihkan darah yang mengotori bibir dan dagu Naruto. Rasa cemas dalam hati gadis itu semakin bertambah saat dia melihat tangan Naruto yang terkulai dan sedikit gemetaran. "Kau ngapain sih tadi?! Dan kenapa apapun yang kau lakukan tadi itu bisa membuatmu sampai mimisan begini?!"
"Penjelasan paling singkat yang bisa kuberikan soal kemampuan [Membaca Aksara Semesta], adalah kemampuan itu membuatku bisa mengekstrak informasi secara menyeluruh, sampai ke detil terkecil, dari benda atau makhluk apapun yang ada dalam lingkup penglihatanku," Naruto berkata sambil membuka kelopak matanya kembali, menunjukkan pada Naruko bahwa mata kembarannya itu sudah tak menyala lagi. "Itu yang tadi kulakukan. Aku mencari tahu kenapa kau tak mewarisi kemampuan [Membaca Aksara Semesta] sepertiku dengan menganalisa informasi yang tersimpan di tubuhmu."
Naruko memikirkan penjelasan itu untuk sesaat, sebelum ekspresinya berubah sangar. "Kau melihat tubuhku?!"
"…Hah?"
"Kau tadi bilang kalau kau menganalisa tubuhku kan?! Apa itu berarti kau juga melihat bentuk badanku?! Dasar cowok mesum!"
"Hah? Kenapa kau—Oh, bukan itu yang kulakukan, bego!" Naruto berteriak balik saat dia akhirnya sadar apa yang dimaksud Naruko. "Yang kuanalisa itu bagian dalamnya, oke?! Dan yang kumaksud itu tidak hanya daging, tulang, atau organ dalam, tapi desain genetikmu!" Naruto buang muka dan bersidekap. "Lagipula, apa kau lupa jurus yang kupakai siang tadi? Aku sudah tahu seperti apa tepatnya bentuk badanmu, bego."
Pada saat-saat seperti inilah kemampuan Naruto untuk mengatakan hal yang salah di waktu yang tidak tepat benar-benar bersinar.
Ketika Naruko sama sekali tak menyahut, Naruto merasa bingung dan melirik ke depan. Tubuhnya langsung mengeras dan napasnya tersangkut di tenggorokan saat sang pemuda melihat kembarannya yang berbeda gender itu mulai mengepal-ngepalkan tangan hingga tulangnya berderak, membuat tersadar bahwa dia sudah salah ngomong.
'Ah.' Naruto menelan ludah sementara ujung rambut Naruko mulai bergerak naik melawan gravitasi. 'Jadi dia juga mewarisi mode 'Habanero' dari Kaa-chan…'
Menerima bahwa peristiwa yang akan terjadi disebabkan oleh kesalahannya sendiri. Naruto hanya duduk diam dengan sebuah senyuman pasrah sementara tinju Naruko melayang ke arah wajahnya.
"DASAR COWOK MESUM!"
…
"Jadi apa yang ketahui setelah kau menganalisa… apalah yang sebut tadi?"
"…Desain genetik." Naruto berdeham sambil berusaha untuk tidak mempedulikan rasa sakit dari pipi kanannya yang membengkak dan hidungnya yang miring ke kiri. "Aku bisa menjelaskan padamu soal teori Kekkei Genkai, hereditas, desain DNA, dan segala macam tetek bengek lain soal ilmu genetik, tapi mari kusingkatkan saja jadi seperti ini." Dia menatap Naruko lurus-lurus. "Kau tidak memiliki kemampuan [Membaca Aksara Semesta] sepertiku karena kau memang tidak mewarisi kemampuan itu dari Tou-chan."
Naruko mencerna informasi itu untuk beberapa saat sebelum sinar matanya meredup. "…Oh."
"Hei, hei, jangan murung dulu. Aku belum selesai menjelaskan," Naruto menjentik dahi gadis remaja itu sebelum nyengir lebar. "Kau memang tidak mewarisi kemampuan [Membaca Aksara Semesta], tapi karena gen Uzumaki dalam dirimu yang boleh dibilang sangat dominan, kau mewarisi semua Kekkei Genkai yang bisa dimiliki oleh seorang keturunan Klan Uzumaki."
"…E-eh? B-benarkah?! Jadi aku—!" Naruko menyadari kalau ada yang aneh di kalimat Naruto tadi. "T-tunggu dulu… Naruto, kenapa kau tadi bilang 'semua'? Apa itu berarti...?"
"Yep." Sengiran Naruto menjadi semakin lebar. "Jumlah total Kekkei Genkai Klan Uzumaki itu ada tiga, dan kau mewarisi ketiga-tiganya dari Kaa-chan."
Aura murung yang tadi hampir menyelimuti Naruko lenyap tanpa sisa, digantikan oleh ekspresi teramat cerah dan mata yang berbinar-binar. "Jadi, jadi?! Naruto, cepat jelaskan!"
"Oke, oke." Naruto mengangkat tangannya. "Kemampuan pertama yang kau warisi adalah [Rantai Chakra]. Sederhananya, kau bisa membuat Chakramu menjadi semacam rantai energi jasmaniah yang bisa digunakan untuk menyerang, mengekang, bahkan menciptakan Kekkai (Barrier)."
"Lalu?! Lalu?! Bagaimana supaya aku bisa memakainya?!"
"Sayangnya, aku sendiri tidak mewarisi Kekkei Genkai yang satu ini, dan aku cuma pernah melihat Kaa-chan memakainya beberapa kali, jadi aku juga nggak yakin bagaimana cara mengerahkannya." Naruto mencubit dagunya. "Hm, kalau kuingat-ingat lagi, aku pernah mendengar Kaa-chan mengatakan kalau [Rantai Chakra] ini punya hubungan besar dengan imajinasi. Bagaimana kalau kau coba konsentrasikan Chakra ke telapak tanganmu, lalu bayangkan energi itu berubah jadi rantai—Uwah!"
Dengan sebuah seruan kaget, Naruto menjatuhkan dirinya ke lantai, membuat energi berwarna keemasan dalam bentuk rantai berujung tajam yang tadi tiba-tiba saja memburu wajahnya meleset dan terus melesat hingga menembus dinding.
"Ooohh!" kalau tadi Naruko sudah berbinar-binar, kali ini mata gadis itu berkerlip-kerlip seperti dipenuhi bintang. "Naruto, lihat! Aku bisa menggunakannya!"
"B-baguslah kalau begitu. Sekarang, berhentilah sebelum kau—"
"Ei!"
"Heit!" Naruto berguling ke samping ketika Rantai Chakra itu kembali melesat ke arahnya, sebelum mulai jumpalitan dan koprol ke sana kemari untuk menghindari serangan. "Naruko—Uwah!—hentikan—Hup!—itu—Hiat!—sekarang—Heah!—juga!" shinobi remaja itu melompat ke depan, meraih pergelangan tangan Naruko, dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Naruko!"
"Eheh… ehehehe…" Naruko tertawa kikuk. "Maaf, aku cuma terlalu bersemangat..."
"Aku bisa lihat itu," Naruto melepaskan tangan Naruko dan mulai berjalan kembali ke kursinya sambil menghembuskan napas panjang. "Tapi bukan berarti kau harus menggunakanku sebagai kelinci percobaan kan?"
"Aku kan sudah minta maaf…" Naruko berkata sambil menggaruk pipinya dengan malu-malu. Namun kelihatannya gadis itu memang bisa cepat ceria lagi, dan itu terbukti dari wajahnya yang kembali cerah ketika dia menghampiri Naruto. "Lalu?! Apa kemampuan khususku yang selanjutnya?!"
"Ah, em… kalau yang itu sih, anu…" Naruto buang muka dan ekspresinya berubah jadi agak kikuk. "Uwah, lihat! Ini sudah jam sembilan malam! Bagaimana kalau kita lanjutkan besok saja, aku yakin—!"
Naruto yang sudah setengah berdiri memekik pelan ketika tangan Naruko meraih pundaknya dan mendorongnya duduk sekali lagi. "Naruto?" senyuman itu terlihat manis, amat manis, dan buku tangan yang berderak itu juga terlihat amat berbahaya. "Kau tidak berpikir untuk kabur selagi aku masih penasaran, ya kan?"
Ampun, gadis ini benar-benar memiliki sifat yang sama dengan Kaa-chan.
"Em, a-anu…" ketika Naruko terus saja menyunggingkan senyuman manis yang membuat Naruto merasa seperti sedang berdiri di depan tiang gantungan itu, dia menyerah dan menarik napas dalam-dalam. "…Oke, biar kuberitahu."
"Nah, begitu dong!" Naruko bertepuk tangan dengan senang.
Naruto menghembuskan napas. "Kemampuan ini bisa disebut sebagai [Chakra Restoratif]. Dengan kata lain, kau bisa menyembuhkan orang lain dengan membiarkannya menghisap Chakramu."
Naruto berdiri, meraih kunai bercabang tiga yang terletak di meja makan, dan dengan sangat kalem, dia menusuk telapak tangannya sendiri.
Dihadapkan dengan peristiwa yang sama sekali tak disangka seperti itu, Naruko hanya bisa melongo untuk beberapa lama.
"A-apa yang sudah kau lakukan?!" Naruko berteriak cemas sambil merenggut tangan Naruto yang kini berlubang. "Apa kau sudah gila?! Kenapa kau melukai dirimu sendiri seperti itu sih?!"
"Karena cara ini adalah cara yang paling cepat untuk menunjukkannya padamu," Naruto meletakkan kunai tersebut kembali ke atas meja sebelum menadahkan tangannya ke depan. "Sini tanganmu."
Walaupun masih bingung, Naruko menuruti saja permintaan itu. Dahinya berkerut ketika wajah Naruto mulai memerah, dan dia baru saja berniat bertanya ketika cowok yang datang dari dunia lain itu tiba-tiba saja menggigit ujung jari telunjuknya.
"Hei! Kenapa kau—Mnnnhh!" Akan tetapi, bukannya menerima rasa sakit, Naruko malah merasakan kenikmatan hebat yang menjalar dari kulit kepala sampai ke ujung kaki, membuat tubuhnya terasa menggelenyar, dan menyebabkan sebuah rintihan nyaring terlepas dari mulutnya.
Untungnya, Naruto melepaskan gigitannya sebelum tubuh Naruko sempat melemas total. Gadis itu mengambil satu langkah mundur, dan dia pasti sudah menghajar Naruto lagi andai saja dia tidak melihat bagaimana wajah sang cowok yang kini juga sudah merah padam, membuat wajah Naruko sendiri turut meledak dalam warna delima.
Mereka berdua kembali duduk di kursi masing-masing dalam diam, menciptakan sebuah kesunyian tak tertahankan yang membuat rona merah di wajah Naruko terus bertambah hebat sampai menjalar ke telinganya.
"A-aku minta maaf, oke…?" Naruto memecah hening di antara mereka berdua. "Aku tidak mengira kalau reaksimu akan sekuat itu, t-tapi aku tidak bermaksud untuk…" pemuda itu menghembuskan napas frustrasi sambil mengusap wajahnya yang masih merah padam. "Pokoknya aku minta maaf, oke?"
"U-um…" Naruko mengangguk. "J-jadi… apa aku memang punya kemampuan itu?"
"Ya pastilah." Naruto membersihkan darah di tangannya dengan tisu sebelum mengangkatnya, menunjukkan bahwa luka tusukan yang tadi ia buat sendiri kini sudah lenyap tak bersisa. "Lihat? Sembuh total."
Dua pasang mata biru langit bertemu, dan entah mengapa, wajah mereka lagi-lagi memerah yang membuat mereka berdua buang muka karena malu.
"A-ahem," Naruto berdeham. "Jadi seperti itulah kemampuan [Chakra Restoratif] yang juga kau warisi. Sebagai informasi tambahan, aku tidak memiliki kemampuan ini sepertimu, karena entah mengapa kemampuan ini hanya dimiliki oleh keturunan Klan Uzumaki yang bergender perempuan.
"Sekarang kita sampai pada Kekkei Genkai Klan Uzumaki yang ketiga dan terakhir," Naruto bersidekap. "Kemampuan yang bernama Mugen Saisei (Infinite Rebirth), dan yang satu ini merupakan satu-satunya Kekkei Genkai Klan Uzumaki yang juga kuwarisi. Kemampuan ini mendesain tubuhmu hingga memiliki kapabilitas regenerasi, atau sederhananya bisa disebut kemampuan penyembuhan alami tubuh, belasan kali lipat lebih kuat dari manusia biasa."
"Eh?" Naruko memiringkan kepalanya. "Kemampuan penyembuhan, katamu? Tapi bukannya lukaku bisa sembuh dalam sekejab seperti itu karena aku seorang Jinchuuriki?"
"Bukan, kemampuan itu kita miliki karena kita adalah keturunan Klan Uzumaki, bukan karena kita adalah Jinchuuriki. Lagipula—" kata-kata Naruto berhenti di tengah jalan, mulutnya terkatup dan matanya melebar perlahan-lahan. "Tunggu dulu… Naruko, apa yang kau maksud dengan 'lukamu bisa sembuh dalam sekejab'?"
"…?" Naruko tersenyum bingung. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Yang kumaksud ya itu tadi, lukaku sembuh dalam sekejab." Dia menggigit ibu jarinya sebelum menunjukkannya pada Naruto. Mata pemuda itu melebar sempurna ketika luka kecil itu sembuh total hanya dalam tempo tiga detik. "Lihat?"
"T-tapi itu mustahil!" Naruto berseru tak percaya. "Secepat-cepatnya kapabilitas regenerasi yang diberikan oleh kemampuan Mugen Saisei, kau seharusnya masih butuh waktu setidaknya seperempat jam sampai luka kecil benar-benar sembuh sempurna! Bahkan Kaa-chan yang merupakan keturunan tulen Klan Uzumaki sekalipun butuh waktu yang lebih lama daripada 'sekejab'! Jadi bagaimana kau—!" Naruto batal melanjutkan perkataannya sendiri untuk kesekian kali, sebelum matanya berpindah perlahan-lahan ke arah perut Naruko. "…Astaga."
"A-apa? Ada ap—Hii!" Naruko memekik kaget ketiga Naruto bergerak maju dan berlutut di depannya sambil memegangi pinggang gadis itu. "Naruto! Kau mau kuhajar lagi ya?!"
Anehnya, pemuda itu tidak merespon ancaman Naruko, dan setelah ia lihat baik-baik, mata Naruto kini sudah kembali menyala terang.
Ahh, ternyata ada sesuatu yang perlu dia analisa lagi toh. Padahal Naruko sudah mengira kalau Naruto akan melakukan sesuatu padanya.
Sayang sekali…
…Tunggu dulu, apa yang baru saja dia pikirkan?! Bukannya bagus kalau cowok itu tidak berniat mesum?! Kenapa dia malah jadi merasa kecewa seperti ini sih?!
"Ya Tuhan…" bisikan Naruto merenggut Naruko dari lamunannya. "Tou-chan, kau benar-benar jenius…"
"Naruto? Kau lagi ngomong apa sih?"
"…Kau tahu segel Shiki Fuujin yang ada di perutmu?" dia bertanya. "Selain segel itu, Tou-chan juga menambahkan Hakke no Fuuin Shiki (Eight Trigrams Sealing Style), tapi tidak seperti yang kupunyai, formula Fuuin khusus yang ada di perutmu ini sudah dimodifikasi habis-habisan, hingga kegunaan aslinya yang hanya untuk menciptakan sebuah penjara atau pembatas antara makhluk yang disegel dengan jiwa tubuh inangnya berubah jadi… jadi…" Naruto mengusap wajahnya. "Oh Tuhan, aku tidak punya perbendaharaan kata yang cukup untuk mendeskripsikan seberapa luar biasa modifikasi yang ada pada Fuuin ini."
Memang, Naruto bisa [Membaca] fungsinya, tapi dia sama sekali tak punya keyakinan apakah keahlian Fuuinjutsu-nya sendiri cukup untuk membuat modifikasi yang sama, apalagi kalau mengingat metode penyusunan Aksara Semesta itu sangat berbeda dengan penyusunan huruf abjad biasa. Dan untuk setiap fungsi yang ditambahkan Minato dengan modifikasinya, Naruto bisa melihat ratusan susunan-susunan frasa Aksara Semesta yang membentuk sistem paling rumit yang pernah ia temui dalam sebuah Fuuin.
"Naruto—"
"Ah, maaf, maaf. Aku terlalu bersemangat." Naruto berdiri dengan ekspresi yang masih dipenuhi kekaguman. "Penjelasan simpelnya kurang lebih begini… Fuuin ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa hingga mampu memurnikan Youki seekor Bijuu hingga berubah menjadi energi murni yang akan diasimilasikan ke koil-koil Chakra dalam tubuhmu, dengan fungsi jangka pendek sebagai semacam charger yang akan terus mengisi energimu secara pasif, dan fungsi jangka panjang memperbesar kapasitas total Chakramu. Tidak hanya itu, karena yang kita bicarakan ini adalah Youki Bijuu, itu berarti energi murni itu juga akan memperkuat hampir semua aspek jasmanimu!"
"Naruto—"
"Stamina, durabilitas tubuh, potensi pengembangan otot, sistem imun, metabolisme… semuanya diperkuat! Dan yang masih lebih hebat lagi, energi yang berasal dari proses pemurnian Hakke no Fuuin Shiki ini tak hanya mempengaruhi fisik, tapi sudah sampai ke tahap genetik, hingga kekuatan Kekkei Genkai-mu juga jadi berlipat ganda! Tadinya aku heran, tapi sekarang aku mengerti kenapa [Rantai Chakra]mu tadi sudah mencapai hampir setengah level Kaa-chan ketika pada kenyataannya kau baru pertama kali menggunakan teknik itu! Lihat, [Chakra Restoratif]mu yang kuhisap tadi sebenarnya hanya sedikit, tapi bahkan dosis sekecil itupun sudah cukup untuk menyembuhkan semua luka dan memar yang kudapat sejak siang tadi! Itu juga alasan kenapa kemampuan [Mugen Saisei]mu jauh lebih hebat dari normalnya!" dia mendongak. "Astaga, Tou-chan~! Level kerumitan dan kreatifitas modifikasi segel yang kau buat di dunia ini benar-benar susah dipercaya! Aku tahu kalau kau memang jenius, tapi aku tak pernah menyangka kalau kau sejenius ini!"
"NARUTO!"
Mulut Naruto terkatup seketika, dan sebuah ekspresi malu mewarnai wajahnya. "M-maaf, sekali lagi aku terlalu bersemangat. Aku memang suka lupa diri kalau sudah menyangkut urusan Fuuinjutsu, makanya—" Naruto mengerjap, menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh pada Naruko. "…Naruko? Ada apa?"
Keceriaan Naruko tak terlihat lagi, dan entah mengapa, aura yang menyelimuti gadis itu membuat sosoknya terasa lebih mungil daripada sebelumnya. "A-aku sebenarnya sudah ingin bertanya sejak siang tadi…" dia bertanya dengan suara kecil, sembari memilin-milin ujung lengan yukatanya. "Kau… kau bilang kalau 'aku benar-benar mirip Kaa-chan', iya kan?"
"…Benar," Naruto menjawab, keanehan dan perubahan sikap drastis pada gadis itu membuat alarm di kepalanya berbunyi. "Tapi kenapa kau tiba-tiba—"
"Lalu," Naruko menyela sambil mendongak. "T-tadi, kau tadi juga bilang kalau 'segel yang ada di perutku ini adalah segel yang dimodifikasi oleh Tou-chan', iya kan?"
Ada sesuatu dalam sinar mata Naruko yang membuat lidah Naruto terasa kelu, hingga dia hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan kembarannya itu.
"J-jadi, aku mau bertanya…" suara Naruko semakin mengecil sampai hanya berupa bisikan. "Kau—apa kau tahu siapa Tou-chan dan Kaa-chan?"
"…Apa?" Naruto bertanya dengan suara menyipit. "Naruko, kau sedang bicara apa? Kenapa kau bertanya seakan-akan kau tidak mengenal Tou-chan dan Kaa-chan?"
Lalu Naruko menceritakan semuanya. Dia menceritakan bagaimana dia telah tinggal di panti asuhan sejak dia lahir. Bagaimana selalu dimarahi dengan kata-kata pedas dan dihukum tak diberi makan oleh pengurus panti asuhan setiap kali dia berbuat kesalahan sekecil apapun, dan selalu dilempar ke panti-panti asuhan lain seperti barang yang tidak diinginkan sampai akhirnya dia dipindahkan untuk hidup sendirian di apartemen ini.
Bagaimana semua penduduk desa yang selalu bersikap seakan-akan dia tak pernah ada, atau kalau tidak, mencercanya dengan hinaan-hinaan menyakitkan dan julukan-julukan kejam seperti monster, setan, siluman, iblis, bahkan sampah masyarakat yang seharusnya tak pernah dibiarkan hidup.
"Karena itulah, aku tidak pernah mengenal siapa mereka…" Dia berbisik dengan suara hampir pecah seakan dia sedang menahan diri agar tidak menangis. "S-sejak kecil, penduduk desa ini selalu memanggilku setan atau iblis… j-jadi aku kira mereka membuangku ke panti asuhan karena mereka pasti tak ingin memiliki anak sepertiku…"
Naruko menunggu, namun Naruto hanya terus bungkam.
"N-Naruto…?" Naruko berbisik lagi. "Naruto, kenapa kau hanya diam saja…? K-kenapa kau tidak mengatakan apa-ap—"
Naruko hampir saja memekik ketakutan ketika dia mendongak, hanya untuk melihat bahwa ekspresi di wajah kembarannya telah menjadi kosong, seakan-akan dia telah kehilangan segala macam emosi. Tatapannya yang semula selalu ramah kini berubah dingin, biru langit yang senantiasa hangat berubah menjadi biru beku yang menusuk sampai ke dalam tulang.
Dalam detik itu juga, Naruko langsung tahu bahwa Naruto sedang [Marah].
~•~
"Yo, Hime," Jiraiya menyapa dari jendela, jalan masuk ke Kantor Hokage yang paling disukainya. "Kenapa kau memanggilk—"
Apapun yang ingin dikatakan oleh shinobi berusia paruh baya itu takkan pernah selesai karena lidahnya dibuat kelu oleh nafsu membunuh teramat kuat yang membuatnya langsung siaga, dan yang makin mengejutkan lagi, nafsu membunuh itu datang dari seorang anak muda dengan rambut pirang dan bentuk wajah yang mengingatkannya pada Minato.
"Jiraiya…" Tsunade memanggilnya. Suara Hokage Kelima itu terdengar sedikit lebih pelan dari biasanya. "Masuklah. Ada sesuatu yang—" dia melirik anak muda yang berdiri di tengah ruangan. "—ingin Naruto bicarakan denganmu."
Jiraiya melompat turun dari daun jendela, samar-samar menyadari kalau Fuuin pengedap suara di ruangan itu telah diaktifkan. Jiraiya melihat kalau Naruko juga ada di ruangan itu dan berdiri beberapa langkah di belakang Naruto, dan dia mungkin akan mengomentari penampilan sang murid yang memakai yukata pemberiannya itu andai saja dia sedang tidak berada dalam situasi yang aneh dan sangat tidak mengenakkan.
Dengan sebuah senyum menyenangkan yang ia harap bisa meringankan suasana, Jiraiya berjalan menghampiri pemuda yang masih menatapnya dengan mata tanpa emosi itu. "Jadi? Apa yang mau kau bicarakan denganku, gaki?"
Dia sama sekali tidak bisa mengantisipasi apa yang terjadi kemudian.
Naruto menjawab pertanyaan itu dengan sebuah pukulan, menghantam pipi Jiraiya dengan begitu keras sampai sang Gama Sennin terpental ke seberang ruangan dan menabrak rak buku yang sejajar dengan dinding.
"Jiraiya!" Tsunade berseru sambil berdiri dari kursinya.
"Naruto!" Naruko meraih lengan Naruto ketika kembarannya itu seperti masih ingin menghajar gurunya lagi. "Kau ini sedang apa sih?! Kenapa kau memukul Ero-sennin seperti itu?!"
Tapi Naruto sama sekali tak menggubris Naruko. Ketika dia bicara lagi, suaranya yang sedingin gletser hanya tertuju pada Jiraiya.
"…Kenapa kau tak pernah memberitahu Naruko siapa Tou-chan dan Kaa-chan?"
…
Malam itu, Naruko menyaksikan bagaimana satu pertanyaan berlanjut menjadi salah satu luapan kemarahan paling mengerikan dalam ingatannya. Dengan setiap kalimat yang keluar dari mulut Naruto, diucapkan dengan nada dingin yang semakin lama semakin bertambah nyaring, wajah sang guru yang dalam ingatan Naruko selalu bisa tenang dalam segala macam situasi kini berkeriut seakan-akan menahan rasa bersalah yang semakin dan semakin besar seiring tiap detiknya.
"Dan jangan berani memakai alasan 'karena Naruko mungkin bisa membocorkan informasi itu' denganku! Kalau kau mengenal Naruko, benar-benar mengenal Naruko, maka kau harusnya tahu bahwa kau hanya perlu membuatnya berjanji untuk tidak membeberkannya pada siapa-siapa, dan masalah akan selesai! Tapi tidak, kau merasa bahwa menjaga kerahasiaan itu masih lebih penting daripada kebahagiaan muridmu sendiri!"
"Kau tahu sudah semenderita apa Naruko selama ini?! Sepilu apa, sesakit apa, sepedih apa kehidupan yang harus dia jalani?! Sedalam apa rasa sedih dalam hatinya, karena mengira dia adalah anak yang tidak diinginkan dan dibuang oleh Tou-chan dan Kaa-chan?!" hardikan Naruto membuat Jiraiya berjengit seakan-akan diserang sebuah kunai tajam yang menyerang jiwanya secara langsung. "Dan kau tahu apa yang membuat semua ini semakin buruk?! Naruko tidak hanya murid pribadimu, dia juga adalah anak walimu! Orang yang seharusnya kau urus sebaik-baiknya setelah dia jadi sebatang kara! Orang yang seharusnya kau buat bahagia setelah dia kehilangan ayah dan ibunya!"
Naruto melangkah maju dan mencekal kerah Jiraiya sampai shinobi yang memiliki gelar Gama Sennin itu tak punya pilihan selain membalas tatapan yang kini hanya berisi kemurkaan dan mendengarkan geraman ganas yang membuat pemilik suara itu terasa seperti binatang buas. "Sebegitu susahkah melakukan itu, hah? Sebegitu rumitkah memberi segenggam kebahagiaan untuk seorang anak yang sudah harus tumbuh tanpa kasih sayang orangtua?"
Naruto melepaskan cekalan dengan sentakan kasar yang membuat Jiraiya mengambil dua langkah mundur. Kemarahannya telah habis, dan kini yang tersisa hanyalah rasa muak. "Kalian mungkin memiliki wajah yang sama…" dia mendesis dingin, sedingin es yang menusuk sampai ke dalam sumsum tulang. "Tapi kau… kau takkan pernah kuakui sebagai orang yang sama dengan Shishou-ku."
Dengan itu, Naruto berjalan ke arah pintu Kantor Hokage, namun berhenti ketika tangannya baru menggenggam gagang pintu. "Dan kalau kau tidak menceritakan semuanya pada Naruko malam ini juga, aku bersumpah …" Naruto memalingkan kepalanya tanpa memutar tubuh, menunjukkan mata biru beku yang kini bersinar mengerikan.
"Semua tulangmu akan kupatahkan."
Naruto keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan selamat tinggal.
Pagi berikutnya, seorang Anbu yang mendapat kewajiban untuk berpatroli di lingkungan sekitar Konoha datang ke Kantor Hokage dengan sebuah laporan yang menyatakan bahwa Area Latihan No. 41, area latihan terluas yang letaknya terpisah hampir sejauh satu kilometer di arah timur dari dinding pembatas Konohagakure, sudah takkan layak lagi digunakan tanpa perbaikan total setelah seseorang tiba di sana, membuat lebih dari tiga ribu Kagebunshin, sebelum berperang melawan mereka semua seorang diri malam tadi.
~•~
(Play Sakura Drops – Piano Cover by Ludo)
Ketika Naruto akhirnya pulang ke apartemen Naruko, jam menunjukkan bahwa waktu telah lewat tengah malam. Sebagian besar rumah penduduk di sekitar bangunan apartemen itu telah mematikan lampunya, dan satu-satunya suara yang bisa ia dengar hanyalah nyanyian serangga serta hembusan angin yang membelai kulitnya yang kini dikotori debu dan percikan darah.
Lampu yang semuanya telah dimatikan membuat Naruto mengira bahwa Naruko telah lama pergi tidur. Karena itulah, ketika dia agak terkejut saat membuka ruangan tengah, di mana gadis itu kini berdiri sendirian di depan jendela, hanya ditemani kesunyian kamar apartemen yang telah bertahun-tahun hanya ia hidupi sendirian.
"Naruko?"
Tanpa menjawab, gadis yang masih mengenakan yukata jingga polosnya itu berbalik perlahan-lahan, menunjukkan air mata yang masih mengalir di pipi dengan tanda lahir seperti yang ada di pipi Naruto sendiri.
Mereka berdua adalah dua orang dengan [Origin] yang sama, dan itu memberitahu Naruto bahwa hanya ada satu hal yang bisa ia lakukan untuk Naruko sekarang. Pemuda itu mengangkat tangan kanan dan menyingsingkan lengan jaketnya, sebelum menyentuhkan dua jari di simbol lingkaran di pergelangan tangan tersebut dan memunculkan sebuah foto berbingkai. Dia meraih tangan Naruko, lalu meletakkan benda yang dulu turut ia bawa ketika dia meninggalkan Konoha untuk latihan intensif bersama Jiraiya itu di permukaan tangannya.
Di foto itu, satu pria dan satu wanita dewasa nampak tersenyum lebar dengan kebahagiaan yang memancar dari mimik wajah mereka berdua. Dibuai dalam pelukan di tengah-tengah kedua orang itu, adalah seorang bayi dengan rambut pirang yang sedang tertidur pulas, wajahnya yang kecil penuh akan kedamaian seakan-akan dia berada di tempat paling aman yang bisa ditemukan di dunia ini.
"Jangan pernah lagi berpikir bahwa kau tidak diinginkan," Naruto berucap pelan ketika Naruko mendongak untuk menatapnya. "Dan jangan pernah lupa, bahwa tak peduli apapun yang orang lain katakan, kau adalah anak Tou-chan dan Kaa-chan, dan mereka mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini."
Bibir Naruko mulai gemetaran, membuatnya harus menundukkan kepala untuk berusaha menahan tangisan yang hampir lepas dari mulutnya. Namun ketika bahunya mulai berguncang, Naruko merasakan Naruto melangkah maju dan detik berikutnya, dia telah dilingkupi oleh sebuah pelukan terhangat yang pernah dia terima.
"Satu hal lagi." Naruto berbisik sambil mengeratkan dekapannya. "Kau tak perlu menahan diri di depanku, Naruko."
Dengan satu kalimat itu, semua pertahanan yang telah Naruko bangun di sekeliling hatinya rubuh seketika. Gadis itu membenamkan wajahnya dalam-dalam ke dada Naruto, aliran air mata dan teriakan pilu yang membuncah dari gadis itu adalah luapan emosi seorang anak yang telah terlalu lama hidup dalam kesendirian, kesedihan karena mengetahui bahwa dia benar-benar sebatang kara dan kebahagiaan karena mengetahui bahwa dia memang dicintai oleh ayah dan ibunya menyatu dalam sebuah isakan yang bisa menghancurkan hati siapapun yang mendengarnya.
Tapi Naruto hanya terus berdiri diam, tanpa satupun kata-kata, tanpa satupun keluhan. Setelah semua yang ia alami, Naruko pantas mendapatkan seseorang yang mampu memungut dan menyatukan kembali hatinya yang pecah berkeping-keping, serta seseorang yang bisa menjadi tempat di mana dia bisa mencurahkan semua nestapa yang disebabkan oleh malangnya kehidupan dan pedihnya kesepian yang telah bertahun-tahun ia jejalkan di lubuk jiwa terdalam.
Dan setidaknya, selama dia ada di dunia ini, Naruto bersedia menjadi orang itu.
To be Continued...
A/N: Kalau ada yang merasa penasaran dengan… ahem, 'ukuran dada' Naruko (yang sudah bikin Sakura iri), silakan akses gambar nomor tiga dari seksi 'Naruto x Naruko' yang sudah hamba sediakan di akun hamba. Sekali lagi, kalau berkenan, tolong kasih komentarnya ya.
Oke... Drama dan Fluff sudah selesai, jadi di Part 3 nanti mungkin akan hamba isi dengan [Badass and Epic Action]. Bagaimana?
Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.
Thanks a zillion for reading!
Galerians, out.
